• Tidak ada hasil yang ditemukan

WISATAWAN MANCANEGARA DALAM PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI WISATA DI BALI

PULL FACTOR 1

destination-spesific atributes (Richardson dan Fluker dalam Pitana dan Gayatri, 2005). Adapun untuk

indikator push factor terdiri dari 6 (enam) indikator dan untuk indikator pull factors terdiri dari 10 indikator. Berikut akan diuraikan secara jelas mengenai hasil dari faktor-faktor yang mempengaruhi wisman dalam pemilihan moda transportasi wisata di Bali, baik dari dimensi push factor maupun pull

factor pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Wisman Dalam Pemilihan Moda Transportasi Wisata di Bali

NO PERNYATAAN TS KS S SS

PUSH FACTOR

1. Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan

pada daya tarik wisata yang dituju 6% 11% 55% 28%

2. Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan

pada waktu perjalanan (pagi, siang, sore, malam) 6% 14% 55% 25% 3. Pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada

jumlah keluarga/teman dalam perjalanan 9% 15% 52% 24% 4.

Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan pada kesenangan/ketertarikan terhadap jenis moda transportasi tertentu

5% 25% 45% 25%

5.

Pemilihan moda transportasi berdasarkan pada pemilihan alternative rute yang digunakan menuju ke daya tarik wisata

7% 18% 42% 33%

6. Pemilihan jenis moda transportasi didasarkan pada

kenyamanan dalam penggunaanya 5% 13% 38% 44%

PULL FACTOR 1.

Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan pada jarak dari tempat menginap menuju ke daya tarik wisata

2% 13% 42% 43%

2. Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan

pada lamanya perjalanan menuju ke daya tarik wisata 2% 11% 51% 36% 3. Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan

pada biaya yang dikeluarkan 4% 15% 45% 36%

4. Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan

pada ketersediaan/kemudahan dalam memperolehnya 3% 19% 43% 35% 5. Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan

pada keandalan dan ketepatan waktu sampai di tujuan 4% 23% 39% 34% 6. Pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan

pada kesediaan lahan dan tarif parkir 20% 42% 21% 17% 7.

Pemilihan moda transportasi yang digunakan ke daya tarik wisata ini berdasarkan atas keamanan penggunaannya

4% 30% 44% 22%

8. Pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada

kepadatan lalu lintas / rute menuju ke daya tarik wisata 5% 24% 46% 25% 9.

Pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada topografi daya tarik wisata yang dituju (gunung,laut/pantai,perkotaan)

125 10.

Pemilihan jenis moda transportasi didasarkan pada fasilitas dan pelayanan yang dimiliki oleh jenis moda transportasi

8% 17% 47% 28%

Sumber : Data yang telah diolah, 2017

Dari data yang tersaji pada Tabel 3 mengenai faktor–faktor yang mempengaruhi motivasi Wisman dalam pemilihan moda transportasi di Bali dengan mengambil empat lokasi berdasarkan topografi destinasi wisata yakni Kuta dan Sanur (daerah pesisir), Ubud (daratan) dan Kintamani (pegunungan) dapat ditarik kesimpulan bahwa dari ketiga variabel motivasi wisatawan dalam pemilihan moda transportasi di wilayah tersebut memperoleh hasil variabel Push Factor yang terbagi kedalam 6 indikator, yang pertama pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan pada daya tarik wisata yang dituju dengan hasil 55% wisatawan menyatakan setuju, 28% wisatawan menyatakan sangat setuju, 11% wisatawan menyatakan kurang setuju sedangkan sisa 6% wisatawan menyatakan tidak setuju. Untuk indikator kedua yaitu pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada waktu perjalanan (pagi, siang, sore, atau malam) dengan hasil 55% wisatawan menyatakan setuju, 25% wisman yang menyatakan sangat setuju dan 14% wisatawan menyatakan kurang setuju. Adapun wisman yang menyatakan tidak setuju ialah sebesar 6%. Indikator ketiga dengan pernyataan pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada jumlah keluarga atau teman dalam perjalanan dengan hasil 52% wisman menyatakan setuju, 24% wisman menyatakan sangat setuju dan 15% wisman menyatakan kurang setuju. Sedangkan wisman yang menyatakan tidak setuju ialah sebesar 9%. Indikator selanjutnya pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada kesenangan ataupun ketertarikan terhadap jenis moda transportasi tertentu. Indikator tersebut memperoleh hasil yaitu 45% wisman menyatakan setuju, 25% wisman menyatakan sangat setuju dan 25% wisman menyatakan kurang setuju. Sedangkan wisman yang menyatakan tidak setuju ialah 5%. Selanjutnya pernyataan bahwa pemilihan moda transportasi berdasarkan pada pemilihan alternative rute yang digunakan menuju ke daya tarik memperoleh hasil bahwa 42% wisman menyatakan setuju, 33% wisman menyatakan sangat setuju, 4% wisman menyatakan kurang setuju dan sisanya ialah 2% menyatakan tidak setuju. Indikator keenam yaitu pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada kenyamanan dengan hasil 44% wisman menyatakan sangat setuju, 38% wisman menyatakan setuju dan 14% wisman menyatakan kurang setuju. Sedangkan wisman yang menyatakan kurang setuju ialah 13% dan sisanya memilih tidak setuju dengan presentase 5%.

Berdasarkan pada hasil data yang tersaji pada Tabel 3 di atas, untuk dimensi pull factors dibagi ke dalam sepuluh indikator. Untuk indikator pertama pada dimensi pull factor ialah pemilihan jenis moda transportasi wisata didasarkan pada jarak dari tempat menginap menuju daya tarik wisata diperoleh hasil bahwa 43% wisman menyatakan sangat setuju, 42% wisman menyatakan setuju, 13% wisman menyatakan kurang setuju dan 2% wisman menyatakan tidak setuju. Sementara untuk indikator pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada lamanya perjalanan menuju ke daya tarik wisata dengan hasil bahwa 51% wisman menyatakan setuju, 36% wisman menyatakan sangat setuju, 11% wisman menyatakan kurang setuju dan 2% wisman menyatkan tidak setuju. Indikator ketiga pada pull factor yaitu pemilihan jenis moda transportasi didasarkan pada jenis biaya yang dikeluarkan. Dari penilaian terhadap 200 responden yang tersebar di beberapa wilayah Bali diperoleh hasil bahwa 45% wisman menyatakan setuju, 36% menyatakan sangat setuju, 15% menyatakan kurang setuju dan sisanya sebesar 4% memilih tidak setuju Sementara untuk indikator pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada ketersediaan atau kemudahan dalam memperolehnya dengan hasil bahwa 43% wisman menyatakan setuju, 35% wisman menyatakan sangat setuju,19% wisman menyatakan kurang setuju dan 3% wisman menyatakan tidak setuju. Selanjutnya yaitu indikator pemilihan jenis moda transportasi didasarkan pada keandalan dan ketepatan waktu sampai di tujuan dengan hasil bahwa 39% wisman menyatakan setuju, 34% wisman menyatakan sangat setuju, 23% wisman menyatakan kurang setuju dan 4% menyatakan tidak setuju. Indikator keenam indikator pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada ketersediaan lahan dan tarif parkir dengan hasil

126 bahwa 42% wisman menyatakan kurang setuju, 21% wisatawan menyatakan setuju, 17% wisatawan menyatakan sangat setuju dan sisanya 20% menyatakan sangat setuju. Selanjutnya mengenai pernyataan bahwa pemilihan moda transportasi wisata yang digunakan ke daya tarik wisata ini didasarkan pada keamanan penggunaannya dengan hasil 44% wisman menyatakan setuju, 30% wisman menyatakan kurang setuju dan 22% wisman menyatakan sangat setuju. Sedangkan wisman yang menyatakan tidak setuju ialah 4%. Sementara untuk indikator pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada kepadatan lalu lintas menuju ke daya tarik wisata dengan hasil bahwa 46% wisman menyatakan setuju, 25% wisman menyatakan sangat setuju, 24% wisman menyatakan kurang setuju dan wisatawan yang menyatakan tidak setuju ialah 5%. Indikator selanjutnya ialah pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada topografi daya tarik wisata yang dituju dengan hasil bahwa 36% wisatawan menyatakan setuju, 30% wisatawan menyatakan kurang setuju, 24% wisman menyatakan sangatsetuju dan sisanya 10% menyatakan tidak setuju. Sementara untuk pernyataan pemilihan moda transportasi wisata didasarkan pada fasilitas dan pelayanan yang dimiliki oleh jenis moda transpotasi dengan hasil bahwa 47% wisman menyatakan setuju, 28% wisman menyatakan sangat setuju, 17% wisman menyatakan kurang setuju dan sisanya 8% menyatakan tidak setuju.

Berdasarkan pada hasil data yang diperoleh, dari dimensi push factors, tiga faktor yang dominan menjadi faktor yang mempengaruhi wisman dalam pemilihan moda transportasi berdasarkan jumlah persentase terbesar pada kategori sikap sangat setuju terletak pada tiga indikator yakni: 1) Pemilihan jenis moda transportasi didasarkan pada kenyamanan dalam penggunaanya sebesar 43%, 2) alternative rute yang akan digunakan sebesar 33% dan 3) daya tarik wisata yang dituju sebesar 28%. Berdasarkan pada faktor penarik (pull factors) tiga faktor yang mendominasi antara lain: 1) jarak dari akomodasi menuju daya tarik wisata sebesar 44%, 2) lamanya perjalanan menuju daya tarik wisata dan biaya yang dikeluarkan memperoleh persentase yang sama yakni sebesar 36%, 3) ketersediaan/kemudahan dalam memperolehnya sebesar 35%.

Apabila dianalisis lebih lanjut, maka data ini menunjukkan bahwa kenyamanan dalam berkendara menjadi faktor pendorong (push factors) terpenting bagi wisman yang dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk menggunakan salah satu moda transportasi wisata selama berwisata di Bali. Jika kita kaitkan dengan karaktersitik wisman yang menjadi responden, maka dapat disimpulkan bahwa wisman first timer yang berkunjung ke Bali lebih memilih untuk menggunakan moda trasnportasi ringan (mobil) dalam melakukan perjalanan wisata disebabkan oleh kenyamanan dalam penggunaannya. Kemacetan lalu lintas dan udara yang cukup panas membuat mereka memutuskan untuk menggunakan mobil sebagai moda transportasi yang mereka gunakan, yang mana faktor utamanya adalah mencari kenyamanan selama perjalanan.

Masih dalam dimensi push factors, indikator kedua yang menjadi faktor penting bagi wisman dalam memilih moda transportasi wisata di Bali adalah alternative rute yang akan digunakan untuk mencapai suatu destinasi atau daya tarik wisata yang diinginkan. Untuk mencapai suatu destinasi atau daya tarik wisata, tidak hanya terpaku pada jalur-jalur umum yang sudah terbiasa digunakan, namun tidak menutup kemungkinan bagi wisman untuk menempuh jalur baru dalam perjalanan ke suatu destinasi atau daya tarik wisata. Berdasarkan pada karakteristik wisman pada dimensi trip descriptor, dari data yang menunjukkan bahwa didominasi oleh penggunaan moda transportasi dengan operator sewa. Jika dikaitkan dengan hasil wawancara terhadap beberapa wisman yang menggunakan moda transportasi sewa mobil dengan sopir, dikatakan bahwa menyewa mobil dan sopir selama di Bali memberikan mereka beberapa keuntungan, salah satunya mereka dapat mengetahui rute-rute baru menuju suatu destinasi sesuai dengan saran dari sopir yang mengantarkan mereka. Biasanya rute-rute yang dipilihkan disesuaikan dengan keinginan dari wisman dan menghindari kemacetan.

Faktor pendorong ketiga yang mendominasi wisman dalam memilih moda trasnportasi wisata selama berlibur di Bali pada dimensi push factor adalah faktor daya tarik wisata yang ingin dituju. Pemilihan daya tarik wisata yang ingin dikunjungi juga menjadi pertimbangan ketiga yang mempengaruhi wisman dalam memilih jenis moda transportasi yang digunakan.

127 Faktor pendorong (pull factors) merupakan faktor yang berasal dari luar diri wisman, yang jika dikaitkan dengan tulisan ini maka faktor ini berasal dari moda transportasi wisata itu sendiri. Adapun dari sepuluh indikator yang ada dalam dimensi ini, terdapat tiga faktor utama yang berpengaruh bagi wisman untuk menentukan pilihan mereka terhadap salah satu jenis moda transportasi yakni 1) jarak dari akomodasi menuju ke daya tarik wisata yang ingin dikunjungi, 2) lamanya perjalanan menuju daya tarik wisata dan biaya yang dikeluarkan memperoleh persentase yang sama yakni sebesar, 3) ketersediaan / kemudahan dalam memperolehnya.

Indikator faktor yang menjadi paling dominan dalam dimensi pull factor ini terletak pada indikator jarak. Jarak menjadi faktor terpenting yang dipertimbangkan oleh wisman dalam memilih jenis moda transportasi yang akan digunakan untuk berwisata. Hal ini dapat diperkuat dengan hasil wawancara dengan beberapa wisman yang ditemui dilokasi yang menyatakan bahwa, jarak yang jauh ataupun dekat akan sangat menentukan jenis moda transportasi yang mereka pilih. Jika jarak dari akomodasi menuju daya tarik wisata yang dituju cukup dekat, maka mereka lebih memilih untuk menggunakan transportasi motor ataupun sepeda bahkan berjalan kaki.

Indikator faktor penarik (pull factors) kedua yang menjadi faktor yang mempengaruhi pemilihan moda transportasi wisata wisman di Bali adalah lamanya perjalanan menuju daya tarik wisata yang akan dikunjungi. Hal ini disebabkan karena lamanya perjalanan menuju suatu daya tarik wisata juga dapat berpengaruh pada waktu lamanya wisman berada di atas kendaraan. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat tujuan juga akan berpengaruh pada biaya yang akan dikeluarkan terutama pada bahan bakar yang akan dihabiskan.

Indikator faktor penarik (pull factors) ketiga yang menjadi faktor yang mempengaruhi wisman dalam memilih moda transportasi yang akan digunakan adalah ketersediaan atau kemudahan dalam memperolehnya. Ketersediaan atau kemudahan bagi wisman dalam memperoleh transportasi menjadi salah satu dari tiga faktor utama yang menjadi pertimbangan wisman dalam memilih jenis moda. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa wisman yang diwawancara, menyatakan bahwa memilih untuk menggunakan transportasi mobil sewa berbasis aplikasi atau online dikarenakan kemudahan dalam memperolehnya. Selain itu, dominasi pemilihan moda transportasi ringan yakni berjenis mobil dengan operator sewa oleh wisman selama berwisata di Bali disebabkan pula kemudahan dalam perolehannya, hal ini disebabkan hampir di setiap Tourist Information Center (TIC) yang tersebar di seluruh Bali, menyediakan informasi mengenai penyewaan mobil atau yang disebut dengan rent car. 4. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Tiga faktor pendorong (push factors) yang dominan yakni indikator 1) kenyamanan dalam penggunaan sebesar 43%, 2) alternative rute yang akan digunakan sebesar 33%, dan 3) daya tarik wisata yang dituju sebesar 28%.

2. Tiga faktor penarik (pull factors) antara lain: 1) jarak dari akomodasi menuju daya tarik wisata sebesar 44%, 2) lamanya perjalanan menuju daya tarik wisata dan biaya yang dikeluarkan memperoleh persentase yang sama yakni sebesar 36%, 3) ketersediaan/kemudahan dalam memperolehnya sebesar 35%.

Ucapan Terima Kasih

Melalui artikel ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih, atas dukungan moral dan material kepada kami guna penyelesaian artikel ini yaitu:

1. Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menganugerahkan kesehatan kepada kami guna menyelesaikan artikel ini,

2. Keluarga kami yang telah dengan sabar memberikan dukungan moral dalam penyelesaian artikel ini,

128 3. Civitas akademika Fakultas Parwisata, Universitas Udayana atas dukungan berupa ide-ide dalam

diskusi guna penyempurnaan artikel ini,

4. Seluruh responden atas kerelaannya memberikan informasi kepada kami yang dapat kami tampilkan dalam artikel ini,

5. Serta seluruh panitia CFP yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menampilkan tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Djakfar, Ludfi, Amelia Kusuma Indriastuti, Akhmad Sya‟ban Nasution. 2010. “Studi Karakteristik Dan Model Pemilihan Moda Angkutan Mahasiswa Menuju Kampus (Sepeda Motor atau Angkutan Umum)”, Jurnal Rekayasa Sipil, Vol. 4, No. 1, Hal. 37-51.

Pitana, I. G. Dan P. G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit ANDI Seaton, A.V, Bennet. 1996. Marketing Tourism Product. UK: Cengage Leaming

Widiarta. 2010. “Analisis Pemilihan Moda Transportasi Untuk Perjalanan Kerja. (Studi Kasus: Desa Dalung, Kecamaan Kuta Utara, Badung, Bali)”. Jurnal Ilmiah Teknik Sipil, Vol 14, No. 2, Hal. 218-226

Artikel Website

http://www.tribunnews.com/travel/2016/01/06/tiga-keluhan-yang-paling-sering-disampaikan-wisatawan-soal-pariwisata-bali (diakses pada Rabu, 1 Febuari 2017, pkl. 20.00 WITA)

129

MEMBANGKITKAN SENI-BUDAYA DAN WIRAUSAHA RAKYAT DI