KAWASAN BROMO TENGGER SEMERU
3. STUDI LITERATUR
Peran Wanita dalam Pariwisata
Tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata memberikan kesempatan bagi wanita untuk memiliki panggungnya sendiri. Jika diibaratkan pada seni peran, wanita tidak hanya mendapatkan peran pengganti namun tidak sedikit yang menjadi pemeran utama. Di Bali contohnya, peranan wanita
56 terhadap pengembangan kuliner lokal terbukti berimplikasi positif terhadap pembentukan atribut baru sebuah destinasi (Pitanatri 2016, Pitanatri & Putra 2016).
Dalam perspektif partisipatif, wanita di Bali memberikan manfaat pada aktor-aktor yang berinteraksi; baik dalam lingkungan keluarga maupun sosial. Semakin tinggi manfaat dari tindakan partisipatif ini maka relasi akan berlangsung semakin kuat. Partisipasi wanita dalam pekerjaan sebagai sebuah peranan dalam aspek ekonomi, menurut Fakih (1996; 2005) berkaitan dengan demokrasi politik, kultur, dan gender.
Kegiatan pariwisata dan pengelolaan homestay di kawasan BTS memberikan kesempatan dan peluang kepada wanita untuk berpartisipasi dalam memberikan layanan pada wisatawan. Dari kegiatan tersebut, wanita di kawasan BTS tidak hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun memiliki profesi tambahan sebagai pengelola maupun pemilik homestay.
Dari kegiatan tersebut, wanita kemudian mendapatkan manfaat baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Hal ini tentu selaras dengan konsep the three elements of susutainability (UNWTO 2015) dimana disebutkan bahwa setiap kegiatan pariwisata setidaknya harus memiliki prinsip-prinsip keberlanjutan terhadap sosial budaya (socio cultural sustainability), lingkungan (environmental
sustainability) serta kesejahteraan (economic viability).
Pemikiran Rush dan Althoff (1971; 2008) mengenai partisipasi politik kemudian dimodifikasi untuk mengetahui tingkat partisipasi wanita pada kegiatan wisata. Keempat sudut pandang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakan bentuk partisipasi yang dilakukan? 2. Seberapa luaskah partisipasi tersebut?
3. Siapakah yang ikut berpartisipasi dan siapa tidak?
4. Mengapa mereka turut berpartisipasi dan mengapa sebagaian tidak?
Lebih lanjut, berikut disampaikan Tabel 1 yang merupakan ringkasan pemikiran Rush dan Althoff (1971; 2008: 121-180) tentang materi dan isi dari masing-masing sudut pandang.
Tabel 1. Sudut Pandang dan Materi Terkait
Sudut Pandang Materi Terkait
a. Bentuk Partisipasi
a. Posisi atau jabatan yang diduduki, apakah mereka berperan sebagai pemimpin atau anggota, dan sebagainya.
b. Tugas, fungsi, dan peran atas posisi atau jabatan masing-masing.
c. Partisipasi dapat dilihat dari bentuknya yang aktif dan pasif. Partisipasi aktif terjadi secara terus menerus dan
berkontribusi maksimal, sedangkan yang tidak aktif hanya berpartisipasi sewaktu-waktu saja.
b. Luas partisipasi a. Bagaimana mereka memandang pentingnya partisipasi tersbut
b. Sistem sosial budaya dan berbagai faktor lainnya dapat berpengaruh terhadap tingkat partisipasi.
c. Minat dan tingkat partisipasi. c. Siapa saja yang berpartisipasi dan siapa
yang tidak
a. Identifikasi terhadap mereka yang tidak berpartisipasi.
b. Mereka yang berpartisipasi tinggi seringkali merupakan minoritas dalam masyarakat
c. Karakteristik ekonomi dan sosial budaya dapat dikaitkan dengan tingkat dan minat partisipasi
57 d. Mengapa ada yang berpartisipasi dan
mengapa ada yang tidak
Pengelompokkan ke dalam empat sikap atas orang-orang yang tidak berpartisipasi yaitu: apati, sinisme, alienasi, dan anomi dengan pengertian sebagai berikut:
a. Apati: “tidak punya minat atau tidak punya perhatian terhadap orang lain, situasi, atau gejala-gejala pada umumnya atau pada khususnya”. b. Sinisme: “perasaan yang menghayati
tindakan dan motif orang lain dengan rasa kecurigaan, bahwa pesimisme adalah lebih realistis dari pada optimisme”
c. Alienasi: ”perasaan keterasingan seseorang”
d. Anomi: “perasaan kehilangan nilai dan arah”
Sumber: Ringkasan Pemikiran Michael Rush dan Phillip Althoff (1971;2008: 121-180);
Wanita dan pengembangan pariwisata memang bukan menjadi sebuah dikotomi lagi. Banyak peneltian yang mengulas tentang keterlibatan wanita dengan pengembangan sebuah destinasi pariwisata. Pitanatri dan Putra (2016) dalam bukunya telah mengkaji wanita dalam perspektif pengembangan atribut baru wisata kuliner di Ubud. dalam perspektif yang berbeda, disampaikan bagaimana sebuah destinasi yang begitu kental akan budaya patrialisme membuka ruang bagi wanita untuk berkembang dan berkontribusi di dalamnya.
Studi tentang wanita Bali dalam aspek gender dan pariwisata (gender and tourism) dipublikasikan oleh Long dan Kindon (1997). Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa ideologi, tipe, dan skala pariwisata sangat menentukan adanya pembagian pekerjaan yang digeluti oleh laki-laki maupun wanita. Perbedaan pembagian kerja tersebut diterima baik oleh masyarakat.
“…ideologi, gender, tipe, dan skala pariwisata berkaitan sangat erat dengan pembagian kerja yang diakui dan ditentukan oleh masyarakat yang terjadi dalam pembangunan formal dan skala besar.” (Long dan Kindon, 1997:111).
Long dan Kindon (1997) dalam kesimpulannya juga mengasumsikan bahwa pariwisata skala kecil memberikan manfaat yang lebih besar dalam hal partisipasi wanita. Pariwisata skala kecil menyediakan lebih banyak pekerjaan sektor informal yang memungkikan dikerjakan wanita Bali dengan tetap menjalankan pekerjaan domestik maupun kewajiban agama dan budaya.
Transformasi Homestay di Indonesia
Perkembangan industri pariwisata di Indonesia, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sangatlah pesat. Pariwisata merupakan komoditas yang paling berkelanjutan dan menyentuh hingga ke level bawah masyarakat. Setiap tahun, performa pariwisata Indonesia menanjak di saat beberapa komoditas lain, seperti minyak, gas, batu bara, serta kelapa sawit terus merosot. Diprediksikan oleh The Telegraph (2017) pariwisata akan menjadi core economy negara ini ke depan. Perusahaan media di Inggris tersebut mencatat Indonesia menjadi salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan paling cepat di sektor pariwisata. Pertumbuhan pariwisata Indonesia dinilai empat kali lebih tinggi dibanding pertumbuhan regional dan global. Ada pun pertumbuhan pariwisata Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mencapai 25,68 persen, sedangkan industri plesiran di kawasan ASEAN hanya tumbuh 7 persen dan di dunia hanya 6 persen.
Dalam rilis yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata, sektor ini diproyeksikan mampu menyumbang produk domestik bruto sebesar 15%, Rp 280 triliun untuk devisa negara, 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara, 275 juta perjalanan wisatawan nusantara dan menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019 (detik.finance, 2017; Ekbis.sindonews 2017; Suara NTB, 2017)
58 Lebih jauh, sektor pariwisata oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh negeri ini. Pariwisata diproyeksikan menjadi penghasil devisa tertinggi di 2019 (Tribun News, 2017). Pada 2016, devisa pariwisata sudah mencapai 13,5 miliar dollar AS per tahun. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) yang sebesar US$ 15,9 miliar per tahun. Padahal pada 2015 lalu, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar. Saat itu pariwisata ada di bawah sektor migas sebesar US$ 18,5 juta, CPO US$16,4 juta, dan batubara US$14,7 juta. Namun akibat jatuhnya harga migas dan batu bara, konstelasi sektor penyumbang devisa berubah. CPO menjadi raja dan pariwisata menyodok ke atas sektor migas dan batubara.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kemenpar adalah mendorong pertumbuhan pariwisata di destinasi-destinasi lainnyadi Indonesia adalah dengan menciptakan 10 destinasi baru atau disebut sebagai “Bali Baru”. Di BTS dilakukan melalui percepatan pembangunan homestay. Hal ini sejalan dengan tiga program prioritas untuk menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yakni melalui program pemasaran go digital, air connectivity, dan homestay.
Target jumlah homestay baru di 2019 ada di angka 100.000 tersebar di seluruh Indonesia, atau 10 Destinasi Prioritas. Program homestay Desa Wisata yang dilaksanakan mulai tahun ini (2017) merupakan kontribusi Kemenpar terhadap pendukungan program satu juta rumah terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dibuat Kementerian PUPR. Dalam konsep dasar pariwisata menurut Cooper dkk (2005), destinasi membutuhkan sekurang-kurangnya 4A (attractions,
accessibilities, amenities dan ancillary) untuk dapat berkembang. Getz (1992) menjelaskan bahwa
model pengembangan pariwisata mempunyai peranan penting dalam mendeskripsikan dan memahami kompleksitas lingkungan hidup dan memprediksi fenomena yang terjadi dalam dunia pariwisata. Peran model pengembangan pariwisata memiliki dampak untuk dapat memahami, meng-identifikasi serta memprediksi faktor yang mem-pengaruhi strategi pengembangan pariwisata diantaranya physical
location and atribute, human agents, transport and access, local control and benefits dan Planning and Management (Ryan, 2009). MElihat beberapa teori tersebut pembangunan homestay mempunyai
nilai strategis, terutama untuk memperkuat unsur amenitas keterlibatan masyarakat lokal dalam mendukung pengelolaan sebuah destinasi pariwisata.
Konsep pengembangan wisata pedesaan dan perkotaan mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025; sebagai daya tarik wisata budaya (culture tourism) antara lain wisata perkotaan dan pedesaan, selain itu wisata sejarah dan religi serta kuliner, seni dan tradisi. Indonesia memiliki 74.745 desa yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air. Dari jumlah desa yang ada tersebut, sebanyak 1.902 berpotensi untuk dikembangkan sebagai desa wisata yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata untuk dikunjungi wisatawan.
Selain itu, homestay menjadi gerbang peluang bisnis jasa yang baru. Peluang tersebut diikuti dengan bisnis lain seperti penyewaan kendaraan, jasa kuliner, jasa parkir, jasa pemandu wisata, jasa binatu dan cindera mata khas. Semua peluang tersebut membutuhkan SDM, sehinga homestay dinilai sebagai bisnis yang mampu membuka lowongan kerja dengan sendirinya.
Keterlibatan masyarakat merupakan kunci sukses pengembangan destinasi, namun perlu dipertimbangkan keterlibatan masyarakat, sehingga pengembangan destinasi tidak mengganggu kualitas masyarakat dimana destinasi dikembangkan. Bentuk keterlibatan masyarakat berupa pertimbangan isu-isu yang berhubungan dengan keramaian di tempat tradisi, perubahan tatanan masyarakat, peningkatan komoditas dan perubahan lingkungan alam (Gutierrez, 2010).
4. PEMBAHASAN
Kondisi Homestay di Kawasan Bromo Tengger Semeru
Penelitian ini mengkaji kondisi homemstay di kawasan BTS dari beberapa aspek sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa homestay di kawasan tersebut memenuhi syarat dasar kebutuhan. Dari perspektif pemilik, 94,17% menyatakan bahwa rumah mereka cukup representatif untuk dijadikan homestay. Studi observasi yang dilakukan di kawasan tersebut juga menunjukan hal yang sama.
Yang menarik adalah ketersediaan amenitas dasar seperti meja, kursi, soket listrik, air minum, kipas angin, dan sebagainya juga direspon positif oleh responden (94.17%). Survey juga menunjukkan
59 hampir seluruh responden memiliki fasilitas dasar toilet/kamar mandi yang dilengkapi dengan amenitas penunjang seperti handuk, sikat gigi, sabun dan sebagainya (90.29%). Hali ini menunjukkan dari segi produk, homestay di kawasan BTS telah cukup representatif untuk memuhi kebutuhan dasar wisatawan.
Sebanyak 84,47% responden menyatakan bahwa Wisatawan tinggal bersama dengan pemilik dan sebanyak 85,44% memanfaatkan kamar lebih pemilik. Hal ini berarti ada sebagian kecil homestay yang khusus membuat bangunan baru sehingga wisatawan mendapat privasi yang lebih. Hal ini tentu tidak sepenuhnya sesuai dengan konsep homestay yang menyatakan bahwa wisatawan tinggal bersama pemilik rumah (host). Secara garis besar, berikut disampaikan kondisi homestay di kawasan BTS
Gambar 1. Kondisi Homestay di Kawasan BTS. Hasil Penelitian 2017.
Homestay menjadi akomodasi favorit karena aktivitas wisatawan yang banyak dilakukan di desa tempat homestay tersebut berada (71.84%). Sayangnya baru 59,22% yang menyatakan bahwa ada paket khusus yang melibatkan wisatawan dengan keunikan lokal di desa ini (budaya, heritage/warisan/pusaka, alam). Padahal jika merujuk pada potensi yang dimilki, paket khusus sebenarnya sangat mudah untuk dibuat untuk wisatawan.
Partisipasi Wanita dalam Pengelolaan Homestay di Kawasan BTS
Hubungan resiporkal antara perkembangan homestay di kawasan BTS dengan wanita sangat kuat. Hal ini dapat dilihat dari besarnya tingkat partisipasi wanita dalam pengelolaan, Dalam penelitian ditemukan bahwa terdapat porsi wanita yang cukup besar dalam pengelolaan homestay. Hal ini tentu menarik mengingat homestay biasanya dikelola oleh kaum pria yang mengerti tata laksana pengelolaan sebuah akomodasi pariwisata. Dari total 103 kuesioner yang disebarkan, sebesar 44% dari keselruhan total homestay dikelola oleh wanita.
Hal ini tentu selaras dengan upaya pemberdayaan masyarakat khususnya pemberdayaan wanita .Terkait dengan konsep partisipasi ini Soewando (1984) menyebutkan bahwa peranan atau partisipasi wanita dalam pembangunan itu dapat dilihat dari dua sudut pandangan, yaitu : (a) wanita sebagai warga Negara dalam hubunganya dengan hak-hak dalam bidang sipil, politik, dan lain-lain, termasuk perlakuan pada wanita dalam partisipasi tenaga kerja, yang disebut sebagai fungsi eksteren, dan (b) wanita sebagai ibu dalam keluarga dan sebagai istri dalam hubungan rumah tanggah, yang disebut fungsi interen.
Di kawasan BTS wanita tidak hanya memiliki fungsi interen namun juga fungsi eksteren yang berimplikasi terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga tersebut. Pemberdayaan dalam perspektif gender adalah pembangunan bagi wanita dalam pengertian kemandirian dan kekuatan internal, serta menekankan kesetaraan laki-laki dan wanita (Moose dalam Anwar, 2007). Dalam arti ada pengakuan makna produkti terhadap aktifitas wanita meskipun dilakukan dalam rumah tangga sepanjang dapat menambah pendapatan rumah tangga, pembangunan organisasi wanita, peningkatan kesadaran, dan pendidikan masyarakat seagai syarat penting perubahan sosial bagi kelompok wanita. Konsep
Rumah ini cukup representa f untuk dijadikan
homestay
Desain dan bahan bangunan mencerminkan arsitektur dan
iden tas lokal.
Persediaan air bersih di dalam rumah memadai
Tersedianya amenitas dasar (meja, kursi, soket listrik, air minum, kipas angin, dll).
Tersedianya fasilitas dasar toilet/kamar mandi (handuk,
sikat gigi, sabun dll).
Wisatawan nggal bersama dengan pemilik
Homestay sengaja dibuat ataukah memanfaatkan kamar lebih pemilik
YA 94.17% 80.58% 97.09% 94.17% 90.29% 84.47% 85.44% TIDAK 5.83% 19.42% 2.91% 5.83% 9.71% 15.53% 14.56% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00% P e rs e n ta se
60 pemberdayan wanita ini lebih ditekankan pada keinginan atau tuntutan membagi kekuasaan, representasi dan partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan.
Merujuk pada Pitanatri (2017), penelitian ini juga menemukan adanya manfaat yang muncul dari resiprokalitas wanita dengan pengembangan homestay di kawasan BTS yaitu (1) menciptakan perluasan lapangan kerja, (2) mengurangi biaya transaksi, (3) mendorong pengusaha kreatif dan (4) penciptaan destinasi yang kompetitif. Penelitian ini menunjukkan adanya peran serta wanita yang kuat, tidak hanya berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyrakat namun juga terhadap penciptaan keunggulan destinasi yang kompetitif dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menunjukan bahwa wanita terbukti memiliki kemampuan untuk berperan ganda baik sebagai ibu Rumah Tangga sekaligus sebagai encari nafkah tambahan untuk menghidupi keluarga.
5. KESIMPULAN
Sektor pariwisata telah mampu menciptakan kesempatan kerja melalui berbagai jenis usaha yang terkait dengan kepariwisataan yang dapat dimanfaatkan oleh pekerja baik laki-laki maupun wanita. Utamanya di kawasan BTW, pengembangan homestay telah memberi ruang bagi wanita untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga termasuk mengurangi dampak marjinalisasi diskriminasi dan subordinasi yang tercermin pada kesenjangan upah atau gaji. Pengelolaan homestay di kawasan ini memberi bukti riil bahwa potensi wanita sebagai bagian dalam menunjang pembangunan sektor pariwisata sangatlah besar.
Adanya peran serta dan resiprokal wanita terhadap pengelolaan hometay menjadikan rumah tinggal ini tidak hanya sebagai amenitas (akomodasi), tetapi juga sebagai atraksi wisata. Homestay memiliki daya tarik budaya yang sekaligus memungkinkan interaksi turis dengan penduduk setempat. Sementara sebagai amenitas, wanita berperan dengan menjadikan homestay dapat dijadikan tempat tinggal yang sehat, bersih, dan aman, bagi masyarakat sekaligus wisatawan, dengan pengelolaan berstandar internasional.
DAFTAR PUSTAKA
AntaraNews. 2016. Menpar: Pariwisata Diproyeksi Penghasil Devisa Terbesar 2019.
https://www.antaranews.com/berita/659116/menpar-pariwisata-diproyeksi-penghasil-devisa-terbesar-2019
Anwar. 2007. Manajemen Pemberdayaan Perempuan. Bandung : Alfabeta.
Bisnis.Temp. 2016. Bisnis Homestay di Bromo Tengger Semeru NAik Signifikan https://bisnis.tempo.co/read/853235/bisnis-homestay-di-bromo-tengger-semeru-naik-signifikan
Cooper, C., Fletcher, J., Gilbert, D.G. and Wanhill, S, (2005). Tourism; Principle and Practive, Third Edition, Harlow. Prentice Hall.
Fakih, Mansour. 1996, 2005. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Getz (1992). The Tourism Area Lyfe Cycle Vol.1, Applications and Modifications. Channel View
Publications.
Gutierrez, E., Lamoureux, K., Matus S., dan Sebunya, K (2005). Linking communities, Tourism & Conservation. Conservation International and The George Washington University.
Ritchie, Brent and Geoffry I. Crouch. A Model of Destination Competitiveness. Revista De Administracao Publica
Long dan Kindon. 1997. Gender and Tourism Development in Baliese Villages, dalam: Gender, Work and Tourism (editor: M. Thea Sinclair), London: Routlegde.
OECD. 2011. Women‟s Economic Empowerment: Issues paper. Paris: DAC Network on Gender Equality (GENDERNET).
Pitana, I Gede dan Surya Diarta, I Ketut (2009). Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta. Andi
Pitanatri, Putu Diah Sastri. 2017. Treat or Threat: Developing Local Homestay through Sharing Economy in Ubud Bali. Proceeding: World Conference on Business and Management. ISSN: 2384-3586
61 ---. 2016. No Longer Invincible: Women‟s Role in Promoting Ubud as Culinary Destination in Bali. Journal of Tourism and Hospitality Management, May-June 2016, Vol. 4, No. 3, 114-122. doi: 10.17265/2328-2169/2016.06.002
---.. 2016. Inovasi Dalam Kompetisi: Usaha Kuliner Lokal Menciptakan Keunggulan Kompetitif di Ubud. JUMPA Volume 3 Nomor 1 Juli 2016
---.dan I Nyoman Darma Putra. 2016. Wisata Kuliner: Atribut Baru Destinasi Ubud. Jagat Press: Denpasar
Putra, I Nyoman Darma. Empat Srikandi Kuliner Bali: Peran Wanita Dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan. JUMPA Volume 01, Nomor 01, Juli 2014
Rush, M. dan Althoff, P. (1971, 2008). Pengnatar Sosiologi Politik (An Introduction to Political Sociology), Alih bahasa: Kartini Kartono. Jakarta: Rajawali Pers.
Sutrisna, Endang. 2011. Problematika Wanita Bekerja di Sektor Pariwisata (Studi Kasus Perhotelan). Jurnal Aplikasi Bisnis Vol. 1 No. 2, April 2011. 97-102
TribunNews. 2017. Pertumbuhan Sektor Pariwisata Indonesia Kalahkan Malaysia
http://www.tribunnews.com/nasional/2017/10/18/pertumbuhan-sektor-pariwisata-indonesia-kalahkan-malaysia?page=2
Finance.Detik 2017. Tiga Tahun Jokowi-JK Pariwiwata Sumbang Devisa Terbesar Kedua.
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3687715/tiga-tahun-jokowi-jk-pariwisata-sumbang-devisa-terbesar-kedua
SindoNews. 2017. Kontribusi Pertumbuhan Pariwisata di Sektor Ekonomi TErbesar dan Tercepat.
https://ekbis.sindonews.com/read/1231216/34/kontribusi-pertumbuhan-pariwisata-di-sektor-ekonomi-terbesar-dan-tercepat-1502940648
SuaraNTB. 2017. Pertumbuhan PAriwisata Tercepat di Dunia.
http://www.suarantb.com/news/2017/10/23/247386/Pertumbuhan.Pariwisata.Indonesia.Tercepat .Didunia
Soewondo, Nani. 1984. Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Dan Masyarakat. Ghalia: Indonesia, Jakarta.
TheTelegraph. 2017. The Surprising Places Where Tourism is Growing Fastest.
http://www.telegraph.co.uk/travel/lists/the-surprising-places-where-tourism-is-growing-fastest/
---. 2017. Surprising Countries Where Tourism is Blooming in 2017.
http://www.telegraph.co.uk/travel/news/surprising-countries-where-tourism-is-booming-in-2017/
UNWTO dan UN Women. 2011. Global Report on Women in Tourism 2010: Preliminary Findings. Madrid: World Tourism Organization (UNWTO) and the United Nations Entity for Gender Equality and the Employment of Women (UN Women).
62