Model ini menggunakan sistem pembelian bertangga, sehingga sering menimbulkan masalah dalam pembelian oleh perusahaan besar atau industri, terutama dalam hal mutu dan waktu pengiriman yang tidak sesuai.
Model-model bentuk kerjasama (kemitraan) di atas terus dikembangkan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Dari sisi petani budidaya, masalah yang sering dihadapi adalah:
1) Problem dari manajemen Sponsor yang tidak efisien mengakibatkan pengurangan kuota dan tidak semua hasil panen diserap sesuai kesepakatan.
2) Manajemen Sponsor bertindak semena-mena pada posisi monopoli yang kuat, dan pembagian kuota sering menjadi ajang korupsi oleh para staf perusahaan Sponsor. 3) Petani budidaya seringkali mempunyai hutang yang tidak terbayar akibat kegagalan
panen dan uang muka ke berbagai pihak (benih, pupuk) yang menumpuk. Dari sisi Sponsor juga masih dihadapi banyak masalah antara lain:
1) Petani seringkali mengingkari kesepakatan dengan menjual hasil produksinya ke pihak lain, terutama karena harga saat itu yang lebih tinggi dengan pembayaran tunai.
2) Petani cenderung melaksanakan sistem budidaya tradisional sehingga tidak dapat memenuhi ketentuan mutu yang dipersyaratkan.
3) Manajemen pengelolaan dari Sponsor yang buruk menyebabkan tidak terlaksananya forum komunikasi dan konsultasi yang baik dengan petani, berakibat petani tidak dapat memenuhi kewajibannya, baik waktu, mutu, maupun volume.
4) Khusus untuk petani dengan lahan sewa, seringkali dihadapi masalah kontrak yang tidak berkesinambungan sehingga menyulitkan stabilnya tingkat pasokan bagi Sponsor.
Pola-pola pengembangan wilayah dalam kawasan pertanian terpadu terus dikembangkan. Pola yang baru dikenal dengan konsep Agropolitan. Konsep ini dilandaskan pada pengembangan infrastruktur sebagai sarana penghubung dan pengkait antara wilayah perdesaan dengan wilayah perkotaan. Infrastruktur yang meliputi jaringan jalan, komunikasi, dan tenaga listrik dimaksud untuk menjadi katalisator penyeimbang distribusi nilai tambah guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan, serta mencegah terjadinya urbanisasi (Hamenda, 2003; Mutizwa, 1993).
Departemen Pertanian (2005) juga telah meluncurkan program Prima Tani sebagai Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian. Lingkup Prima Tani meliputi satu atau dua desa, yang disebut Laboratorium Agribisnis.
Tujuan utama dari Prima Tani adalah untuk mempercepat diseminasi dan adopsi inovasi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, serta untuk memperolah umpan balik mengenai karakteristik teknologi tepat guna spesifik pengguna dan lokasi. Prima tani diharapkan dapat berfungsi sebagai jembatan penghubung langsung antara Badan Litbang sebagai penghasil inovasi dengan lembaga penyampaian (delivery system) maupun pelaku agribisnis (receiving system) sebagai pengguna inovasi.
Pola-pola pengembangan kawasan terpadu yang telah ada diatas hingga saat ini tidak cukup memadai untuk menjadikan sektor pertanian terintegrasi maupun sebagai upaya pemberdayaan ekonomi rakyat. Model Nucleus Estate dengan konsep satellite
farming di Indonesia diterjemahkan dalam Pola PIR masih menghadapi berbagai
kendala dan lingkupnya dirancang hanya untuk produk perkebunan (kelapa sawit) yang hanya meliputi pekebun dalam jumlah yang relatif sedikit dibanding masyarakat petani. Pola Agropolitan tidak berbasis komoditi spesifik, melainkan meliputi semua komiditi dan jasa (multi product) yang ada di wilayah pengembangan karena konsepnya memang ditekankan kepada pengembangan kota untuk mendukung daerah perdesaan sebagai upaya distribusi nilai tambah. Dalam pelaksanaannya Agropolitan juga menghadapi kendala kelembagaan karena dengan adanya Otonomi Daerah, kewenangan Pemerintah Kota dan wilayah Kabupaten disekitarnya dipisahkan secara otonom (Rustiani et.al. 1967). Demikian pula pengembangan Kawasan Industri yang berbasis komersial terbatas untuk berbagai jenis (pertanian dan non-pertanian) dan ukuran industri. Pola pengelolaan Kawasan Industri dapat dipandang paling maju dan terkoordinasi dengan baik, namun karena landasan utamanya adalah komersial maka tidak dapat digunakan sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat marginal di wilayah perdesaan
Dengan mempertimbangkan berbagai masalah dan kelemahan dari pola pengelolaan kawasan pertanian terpadu yang telah ada dan dikembangkan hingga saat ini maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan pengembangan lebih lanjut yang lebih menyeluruh, termasuk sub-sektor agroniaga, serta berkaitan langsung dengan upaya peningkatan sektor pertanian dan pemberdayaan masyarakat petani di perdesaan. Hal ini menjadi tujuan dari rekayasa sistem Agroestat yaitu menciptakan suatu kawasan pertanian terpadu yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi khususnya di daerah perdesaan (Breschi dan Malerba, 2001).
Bentuk Agroestat Hortikultura harus dirancang secara berbeda. Pengembangan Agroestat akan menjadi lebih bermakna sebagai upaya pemberdayaan ekonomi rakyat karena dilandaskan pada model keterpaduan dan memilih hortikultura yang spesifik lokal (Saragih, 2001; USAID, 2006). Komoditi unggulan hortikultura ditetapkan dan disepakati bersama sebagai pilihan masyarakat, sesuai dengan kondisi wilayah, pada hakekatnya merupakan tanaman kebun (tuinbouw) yang melibatkan petani dalam jumlah yang besar serta merupakan potensi masyarakat perdesaan (Porter, 2000; Saragih, 2001; Pietrobelli dan Rabelloti, 2003). Pengembangan kawasan pertanian terpadu yang berlokasi pada sentra budidaya pertanian ini akan menjadikan usahatani terintegrasi secara vertikal dengan agroindustri (Eriyatno et al. 1995; IBRD, World Bank, 2000; Haeruman, 2000; Haeruman dan Eriyatno, 2001; Sadjad et al. 2001).
Pada hakekatnya Agroestat yang diperlukan harus direkayasa secara holistik, mencakup seluruh rangkaian nilai tambah (value chain) agribisnis, mulai tahap usahatani, agroindustri, dan agroniaga domestik maupun ekspor (Carroll dan Stanfield, 2004). Sistem Agroestat harus mengambil manfaat dari adanya saling ketergantungan dan keterkaitan multi-dimensi (sosial, budaya, ekonomi) antar-sektor (pertanian, industri, dan perdagangan). Rekayasa ini dimaksud untuk menjadikan struktur sektor pertanian terintegrasi dalam satu manajemen. Pengelolaan menjadi peran yang penting dalam menjalankan operasionalisasi kawasan, dan koordinasi antar para pelaku dengan Pemerintah (Brown, 1994; Lowe, 2001).
Metodologi Soft System Methodology (SSM) dengan paradigma Systems Thinking merupakan pendekatan yang layak untuk merekayasa Agroestat sebagai bentuk pengembangan wilayah yang demikian kompleks secara holistik (Checkland, 1981; Jackson, 2000). Rekayasa ini harus memenuhi tiga persyaratan yang mendasar, yaitu (Carroll dan Stanfield, 2004):
1) Berorientasi pada keterpaduan dan menyeluruh (system approach). 2) Berbasis sumberdaya yang tersedia di wilayah lokal (local specific). 3) Cakupan wilayah mempunyai batas-batas yang jelas (regionalisation).
Pendekatan rekayasa Agroestat berbasis keterpaduan dengan pewilayahan multi- sektoral dan plural, sehingga digunakan pola Integrated Area Development (IAD) sebagai program pengembangan wilayah fungsional. Hakekat dari pola pengembangan
IAD mencakup faktor jaringan (network), bisnis/agroniaga (economic activity), dan peran serta masyarakat (social). Dasar pemikiran penerapannya menekankan pada upaya integrasi sumberdaya dan keterkaitan pasar (niaga) dengan berpatokan (UN, 1989):
1) Fokus pada wilayah yang dicakup.
2) Mencakup beberapa komponen fungsi dan sektor.
3) Menerapkan partisipasi masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pada pelaksanaan proyek.
Pendekatan program IAD membagi wilayah dalam beberapa sub-wilayah untuk mempertajam analisa dalam perancangan. Perbedaan nyata dalam sub-wilayah diatasi dengan melakukan penelusuran hubungan keterkaitan spesifik antar simpul (nodes/poles) yang ada di dalam sub-wilayah tersebut (Richardson, 1979).
Implementasi dari konsep pengembangan wilayah yang telah disusun atas dasar perekonomian lokal secara menyeluruh dan terpadu, dilakukan dengan konsep tata ruang. Tata ruang merupakan model pengendalian pembangunan, baik yang diselenggarakan oleh masyarakat maupun Pemerintah. Tata ruang membentuk struktur keruangan wilayah yang kompleks dan memberi arti khusus bagi penampilan spasial wilayah tersebut (Johara, 1999).
Proses peralihan ke arah pasar dan persaingan bebas, menurut Stiglitz (2002) harus dipersiapkan dengan baik dan dilaksanakan secara bertahap, karena itu pengelolaan agroniaga dalam pola Agroestat mengacu pada mekanisme harga sesuai keseimbangan supply-demand. Pengembangan Agroestat tetap menerapkan adanya subsidi tidak langsung dari Pemerintah Daerah dalam bentuk komitmen, penyiapan jaringan infrastruktur, dan regulasi dalam penataan ruang. Peran lain dari Pemerintah yang juga penting adalah menjaga kesetaraan pelaku pasar, terutama petani yang menjadi pelaku yang paling lemah dalam agroniaga pertanian. Penyediaan kredit bersubsidi dari Pemerintah untuk usahatani, khususnya petani, sangat dibutuhkan untuk membebaskan petani dari keterikatan hutang kepada tengkulak, pedagang besar, dan industri.
Pemberdayaan masyarakat sebagai landasan pengembangan wilayah diupayakan dengan cara meningkatkan produksi sumberdaya lahan pertanian, sehingga petani
budidaya mendapatkan tambahan penghasilan. Peningkatan produksi budidaya yang mampu mendukung agroindustri dengan pasokan bahan baku dalam volume dan harga yang pasti akan mensinergikan usahatani dan agroindustri, meningkatkan nilai tambah dari keseluruhan proses pengembangan kawasan pertanian. Petani juga didorong untuk melakukan proses industri (mikro/rumah tangga) hasil pertanian, sehingga diperoleh nilai tambah secara nyata dari agroindustri oleh petani. Melalui cara ini distribusi nilai tambah dapat berlangsung secara wajar ke semua pihak (Lewis, 1966; Arsyad, 1999; Ary, 1999).