• Tidak ada hasil yang ditemukan

OSAMAH BIN LADEN MASIH HIDUP

KALAU MATAHARI TELAH TERBIT DARI BARAT BARULAH SAYA AKAN BERPALING DARI AL-IRSYAD !!

SURURI AMERIKA SURURI INDONESIA, APA BEDANYA? Di sana berlindung di belakang tazkiyah Syaikh Yordan, di sini?

18.1 OSAMAH BIN LADEN MASIH HIDUP

Itulah judul “menantang” yang dirilis oleh situs resmi Al-Irsyad yang mengaku berdakwah di atas jalan Salafus Shalih sekaligus pengundang Masyayikh Yordan ke Indonesia. Berita “gembira” ini dapat ditemukan di halaman depan situs alirsyad.or.id dengan alamat email: [email protected] di bulan Juni 2005 yang silam. Berita selengkapnya:

Al-Irsyad – Pemimpin Al-Qaidah Osamah bin Ladin dan Pemimpin Taliban Mulla Muhammad Umar masih hidup, demikian dikatakan salah satu pemimpin Taliban, Akhtar Utsmani. "Osamah dalam keadaan sehat. Begitu pula dengan Mulla Umar, ia masih hidup dan memimpin gerakan," ujarnya dalam wawancara dengan Geo TV Pakistan. Sebelumnya, Presiden Pakistan Perez Musharraf dalam kunjungannya ke Australia mengatakan, Osamah masih hidup dan berada di perbatasan Afghanistan dan Pakistan. PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah

Tentu saja, penyebarluasan suatu berita memiliki sebuah tujuan. Kalau untuk memperingatkan kaum Muslimin, maka tidak sulit (dan harus!) bagi mereka untuk memberikan catatan tambahan betapa orang yang memiliki pemikiran dan gerakan ala- Khawarij ini harus tetap diwaspadai karena dia masih hidup dan terus menyebarkan pemahaman berbahayanya. Adapun untuk menyebarkan berita gembira yang dapat membikin hati lega bagi seluruh pembela dan simpatisan Usamah bin Laden Al-Khariji, apakah perlu sebuah catatan peringatan?! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Bertolak belakang dengan propaganda “gembira” yang disebarkan oleh situs pengundang Masyayikh Yordan, Majalah Asy-Syari’ah justru memaparkan bukti pemikiran takfiri yang diyakini oleh Usamah bin Laden :

“Sebagaimana dimuat dalam Koran Ar-Ra’yil ‘Am Al-Kuwaity edisi 11-11-2001 M, Usamah bin Laden menjawab: “Hanya Afghanistan sajalah Daulah Islamiyyah itu. Adapun Pakistan dia memakai undang-undang Inggris. Dan saya tidak menganggap Saudi itu sebagai Negara Islam…”

Jika para teroris itu telah menghukumi Negara Arab, terkhusus Saudi Arabia yang telah diterapkan syi’ar-syi’ar Islam secara umum dan menyeluruh bahkan ditegakkan pula hukum- hukum had dan hukum Islam lainnya, maka apakah kiranya penilaian mereka terhadap Negara seperti Indonesia ini? (Asy-Syari’ah no.16/11/1426/2005, hal.13).

Inilah Imam Samudra Al-Khariji yang dengan bangga mengaku sebagai pelaku “Jihad Bom Bali” yang mengikuti jejak idolanya, Usamah bin Laden :

“Dalam masalah jihad aku berpegang pada fatwa para ulama mujahid, yang mereka terjun langsung dan terlibat dalam jihad seperti, Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri, Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Usamah bin Laden, Syaikh Hamud Uqola’ Asy-Syu’aby rahimahullah” (Aku Melawan Teroris, hal.64)

Imam Samudra tidak lebih dari “cloning” Usamah bin Laden dalam keyakinan dan amal “takfiri” yang dia miliki. Lihat pengkafirannya terhadap pemerintah Indonesia :

“Merekalah; mereka; Megawati dan seluruh kaki-tangan pemerintahannya yang seharusnya menyesal. Mereka wajib menyesal karena telah hidup di atas jalan yang salah, mereka hidup dalam way of life yang sesat, jalan hidup jahiliyyah” Selanjutnya dia bawakan ayat Al-Maidah:50 sebagai pembenaran. Setelah itu:

“Hukum di Indonesia tak ada bedanya dengan hukum Ilyasiq, yaitu hukum yang berlaku di zaman Jengis-Khan…..Aku di jalan Islam, di jalan Allah, sedangkan mereka di atas jalan jahiliyyah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq…….Adapun aku –alhamdulillah- dengan hidayah dan rahmat Allah aku berada di dalam Islam. Hidup di atas Islam….lalu siapakah yang pantas takut, akukah? Atau mereka itu para penegak hukum kafir?....Maka, sampai sepersekian mikro detik sebelum hukuman mati syahid –insya Allah- itu dijalankan kepadaku, sampai saat itu pula aku tidak akan pernah menyesali Jihad Bom Bali dan jihad-Jihad Bom lainnya. Tidak pula aku memohon grasi kepada hukum kafir Neo-Ilyasiq” (Aku Melawan Teroris, hal.200-201)

Betapa Imam Samudra Al-Khariji berada di jurang kesesatan karena sangat yakin bahwa pengeboman dan pembunuhan yang dilakukannya adalah fardhu ‘ain sebagaimana kewajiban ibadah lainnya seperti shalat dan puasa :

“Keluar dari Polda Jatim, beberapa wartawan berkerumun. Sesungguhnya tak habis kufikir, berita apa yang hendak mereka cari? Bukankah kami hanya menjalankan satu fardhu ‘ain yang disebut Jihad Fi Sabilillah, yang tak berbeda hukumnya dengan shalat, shaum Ramadhan dan fardhu ‘ain lainnya?” (ibid, hal.270) Demikianlah, pengeboman dan pembantaian yang dilakukan kelompok Khariji-Takfirinya adalah fardhu ‘ain bagi mereka, kenapa demikian? Karena di belahan dunia lainnya kaum Muslimin juga dibantai oleh Amerika dan sekutunya! Sehingga dia bersya’ir :

“…Ini aku, saudaramu…ini aku, datang dengan secuil Bombing…kan kubalaskan sakit hatimu…kan kubalaskan Darah-darahmu…darah dengan darah…

Ya dan engkau jangan lupa wahai teroris biadab! Saudara-saudara kami dari kaum Muslimin yang terbunuh oleh ulah biadabmu juga akan menuntut qishash kepada kalian!!...darah dengan darah… Nyawa dengan nyawa!...qishash!! Kalian mengira bahwa permintaan ma’afmu akan menyelesaikan hutang nyawa ini?! Dapat menghapuskan hutang darah ini?! Sungguh kalian adalah pendusta! Ketika kalian meminta ma’af kepada saudara- saudara kami yang kalian bunuh, di saat yang sama kalian melalui buku ini (Aku Melawan Teroris) dan melalui situs-situs takfiri serta majelis-majelis pengkafiranmu nyata-nyata terus mengajak kelompok Takfiri kalian untuk melanjutkan pengeboman-pengeboman biadab yang kalian yakini sebagai fardhu ‘ain!! Betapa berulangkali kalian telah melakukan perbuatan bom biadab itu! Dan setiap kali jatuh korban kaum Muslimin, kalian selalu dan selalu –dengan ringan- menyampaikan permintaan ma’af kalian!! Sungguh perbuatan ma’af ini tidaklah keluar kecuali dari barisan pendusta takfiri biadab!! Teroris biadab!! Semoga Allah menghinakan dan menghancurkannya.

Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya, selain mencetak dan menjual buku “Panduan Menjadi Teroris”, mereka ini juga membikin situs yang sama persis dengan judul buku tersebut, lengkap dengan gambar sang Terorisnya (www.akumelawan.teroris.or.id). Di situs ini anda akan menemukan artikel antara lain :”Sekilas Ustadz Abu Bakar Ba’asyir” bersumber dari situs majelis.mujahidin.or.id. Situs teroris ini adalah kembaran situs Majelis Mujahidin Indonesia, Insya Allah pada uraian selanjutnya akan kami buktikan keterkaitan Al-Irsyad, L- DATA dan Hizbut Tahrir Indonesia, Al-Sofwa serta At-Turots!!

Bagaimana pandangan Ba’asyir terhadap Usamah bin Laden dan Al-Qaeda yang dipublikasikan “nafas kehidupannya” oleh situs Al-Irsyad?

“Sebenarnya kalau saya bisa menjadi anggota Al-Qaeda pimpinan Usamah bin Laden, saya sangat bersyukur karena saya setuju dengan visi dan misi yang diperjuangkan oleh Usamah, yaitu menegakkan syari’at Islam di tingkat lembaga Negara.” (Abubakar Ba’asyir dan Tuduhan Teroris, Fauzan Al-Anshari, majelis.mujahidin.or.id)

Demikianlah “nafas teladan hidup” yang dihirup oleh Al-Irsyad, Ba’asyir dan Fauzan Al- Anshari. Allahul Musta’an.

Pengkafiran rupanya sudah menjadi jalan hidup Imam Samudra –na’udzubillah-, keyakinannya bahwa penjara tersebut dibuat oleh penguasa Thoghut :

“Di tempat itu justru kurasakan imanku makin mantap dan “menjadi”, meski aku di sarang thaghut” (ibid, hal.267).

“Kami semua under pressure! Semoga generasi di belakang hari nanti tidak berbuat sebodoh dan selemah kami dalam menghadapi tipu daya dan tekanan thaghut” (ibid, hal.269)

Selanjutnya dengan mantap dia kafirkan polisi :

“Kini giliran mereka -orang-orang kafir dan dzalim itu- membungkus seluruh muka kami sebegitu rupa” (ibid, hal.269).

Sungguh Teroris ini tidak memiliki pendirian yang tegas sebagaimana yang dia ucapkan: “Tidak pula aku memohon grasi kepada hukum kafir Neo-Ilyasiq”(ibid,hal.201),

tidak cukup itu, diapun menulis :

“Memohon grasi berarti pula membenarkan hukum kafir, KUHP adalah jelas produk kafir, mengakui ada “kebenaran” di luar Islam adalah suatu sikap yang membatalkan syahadat, tsumma na’udzubillahi min dzalik!…Merekalah, mereka; Megawati dan seluruh kaki-tangan pemerintahannya yang seharusnya menyesal. Mereka wajib menyesal karena hidup di atas jalan yang salah, mereka hidup dalam way of life yang sesat, jalan hidup jahiliyyah…..Adapun aku –Alhamdulillah, dengan hidayah dan rahmat Allah aku berada di dalam islam Hidup di atas Islam….lalu…siapakah yang pantas takut, akukah? Atau mereka itu para penegak hukum kafir?” (ibid, hal.199-201)

Padahal anda sekalian –wahai saudaraku- melihat kenyataan betapa dia didampingi oleh para pembela dan dengan tekun mengikuti persidangan-persidangan yang diyakininya: “mereka itu para penegak hukum kafir” Di sisi lain, dia menerima dan mengakui keberadaan Tim Pengacara : “Sebagian diantara lembaran-lembaran itu kuamanahkan pada Pak Qadhar, Pak Mirzen,dan Pak Rusdianto (TPM)” (Aku Melawan Teroris, hal.277)

Bukankah para pengacara, peraturan dan tata cara persidangan yang dia ikuti selama ini dijalankan berdasarkan KUHP yang dia sendiri menulisnya sebagai sesuatu yang membatalkan syahadat?! Membenarkan hukum kafir?! Produk kafir?!

Mana konsistensi dia?! Mestinya dia dengan lantang berkata: “Saya tidak mau diadili oleh pengadilan yang menggunakan hukum KUHP yang berlaku di zaman Jengis-Khan…..Aku di jalan Islam, di jalan Allah, sedangkan mereka di atas jalan jahiliyyah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq…! Saya tidak mau diadili oleh “mereka yang hidup di dalam

way of life yang sesat, jalan hidup jahiliyyah”! Saya tidak mau didampingi oleh para pembela yang berbicara dan membela kami dengan undang-undang KUHP neo-Ilyasiq!” Mana konsistensimu wahai teroris? Ataukah engkau sedang “berusaha” mengkafirkan dirimu sendiri? Sungguh, para teroris ini memiliki pemikiran yang kacau balau.. Tidaklah mereka berani menjalankan teror fisik kecuali mereka telah dibinasakan oleh teror pemikiran terlebih dahulu. Dan lihatlah wahai saudaraku sekalian, para teroris ini dan dimanapun mereka berada tidak lebih merupakan pengekor gembong-gembong Ikhwanul Muslimin! Hasan Al- Banna, Sayyid Quthb, Abul A’la Al-Maududi, Abdullah Azzam, Yusuf Qaradhawi, Usamah bin Laden, Salman Al-Audah, Aidh Al-Qarni dan gembong Ikhwani lainnya. Itulah idola mereka. Dan tidak ketinggalan pula untuk membumbui nama-nama tersebut dengan gelar Asy-Syahid kalau telah mati!! Bagaimana mungkin mereka memastikannya sebagai Syahid?! Kita telah mengenal para shahabat yang dipuji oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan dijamin kebaikannya oleh Rasulullah yang mereka itu –Radhiyallahu ‘Anhum- meninggal dalam peperangan-peperangan bersama Nabi-Nya, adakah anda pernah mendengar Rasulullah menyematkan gelar kepada mereka sebagai “Asy-Syahid Hamzah”? Assy- Syahid shahabat fulan dan shahabat fulan?! walaupun kita sama sekali tidak ragu bahwa kematian mereka adalah kematian yang sangat mulia di sisi Allah. Ya, Ikhwanul Muslimin adalah produsen gerakan pengkafiran dan setelah para tokoh-tokoh pengkafiran tersebut mati, maka mereka hiasi namanya dengan gelar Asy-Syahid!!. Saudaraku, janganlah tertipu oleh slogan “kampanye simpatik”,”demonstrasi damai” dan berbagai istilah indah-menipu lainnya, sedikit ada kekuatan dan kesempatan, gerakan revolusioner, kudeta dan penggulingan kekuasaan akan menjadi agenda berikutnya!

Allahul Musta’an.

Kalau untuk dirinya mereka bisa berkilah:”Sungguhpun dalam keadaan terpaksa (darurat) dibolehkan bagiku untuk menerima makanan ransum dari thaghut dan antek-anteknya…” (ibid, hal.277) Kenapa untuk orang lain mereka tidak memberikan udzur? Apakah mereka – para teroris takfiri- bisa memastikan bahwa orang-orang yang mereka sebut sebagai thaghut itu (dan seluruh kaum Muslimin dapat menyaksikan bukti-bukti secara dhahir bahwa mereka adalah penguasa Muslim! Dan kita tidak pernah diajari oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menghukumi batin-batin mereka!) memiliki keyakinan bahwa hukum buatan manusia adalah lebih baik, lebih mulia dan lebih selamat daripada hukum Allah yang dengannya seseorang bisa dikafirkan? Ataukah mereka menjalankannya dalam keadaan terpaksa/ tidak memiliki keyakinan bahwa hukum buatan manusia lebih baik dari pada hukum Allah? Kalau kalian wahai para teroris takfiri bisa memberikan keringanan “darurat” pada diri-diri kalian sendiri, kenapa ketika berbicara tentang kaum Muslimin lainnya kalian menjadi sangat beringas dan biadab menvonis mereka sebagai thaghut! Orang-orang kafir dan Dzalim! Jalan hidup Jahiliyyah!! Apakah ini yang disebut adil?!

Ataukah mereka justru tidak peduli dengan kedua keadaan itu, yang penting orang yang tidak menjalankan hukum Allah berarti kafir?! Kalau demikian keadaannya bagaimana dengan kalian wahai para teroris yang hadir mengikuti persidangan dan didampingi para pembela itu? Di dalam aturan perundang-undangan, seorang pengacara/pembela bisa mendampingi terdakwa jika mendapatkan surat kuasa darinya. Kehadiran seorang/lebih pengacara di persidangan adalah bukti riil persetujuan terdakwa untuk mendampingi/membelanya. Di sini, tentu saja system dan praktek persidangan serta kepengacaraan haruslah berdasarkan KUHP yang ada. Apakah hukum Allah yang sedang kalian ikuti? Kalau kalian bisa dengan yakin dan mantap menghukumi “seluruh kaki-tangan pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Allah, mulai dari para menteri, seluruh pejabat Negara, para hakim, para jaksa, para polisi dan seluruh unsur yang telah terlibat membela dan menegakkan hukum Belanda…” (ibid, hal.200) Lalu bagaimana cara kalian menghukumi diri-diri kalian sendiri di persidangan yang kalian lalui dan “nikmati” fasilitas dan sistemnya?

Sesungguhnya pengkafiran kalian ini sama persis dan hanyalah mengekor dari pengkafiran Sayyid Quthb kepada masyarakatnya ketika itu! Masyarakat yang dia sebut sebagai masyarakat jahiliyyah!! Pengkafiran made in Ikhwanul Muslimin! Setelah tertanam fase pengkafiran ini, tentu saja mereka memiliki keyakinan bahwa darah “para thoghut itu dan antek-anteknya menjadi halal di sisi mereka”, sungguh pemikiran yang sangat mengerikan. Apalagi kalau “sekedar” merampok dan membobol harta dan kekayaan orang kafir, apa artinya? Inilah perampokan yang dihalalkan oleh gerombolan teroris takfiri :

“Sedangkan soal carding, jika digunakan untuk pribadi, sebagai muslim lebih baik tinggalkan saja hal itu. Dan jika untuk kepentingan perjuangan juga ragu, tinggalkan saja. Tetapi jika

telah yakin setelah anda mengetahui dalil (dasar hukum)nya, faham dan meyakininya. Maka Go On! Allah pasti memudahkan urusan Anda selagi Ikhlas karena Allah” (ibid, hal.266) Sebenarnya, bahasa sederhana yang ingin diucapkan oleh para teroris perampok biadab ini adalah :”Merampoklah kalian asal untuk jihad fi sabilillah dan ikhlas karena Allah”, “Silakan kalian membobol kredit card orang kafir asal bukan untuk pribadi, maka Go On! Allah pasti memudahkan urusan Anda selagi ikhlas karena Allah!” Astaghfirullah. Jika demikian keadaannya, apakah anda menjadi heran bahwa -di negeri ini- salah satu komplotan teroris itu tertangkap karena merampok harta yang dikatakannya sebagai harta orang kafir untuk keperluan jihad mereka? Dan "jihad" yang mereka maksudkan adalah "PEMBERONTAKAN" sebagaimana tulisan pembesar NII-Khawarij-Ngruki Irfan S.Awwas yang menuliskan dalam sebuah buku berjudul "Menelusuri Jejak Perjalanan Jihad SM.Kartosuwiryo" yang diterbitkan oleh Wihdah Press Jogjakarta. Bentuk "Jihad" lainnya adalah menyebarkan teror dan ketakutan di negeri-negeri kaum Muslimin -sepertihalnya Indonesia- dengan aksi bombing bunuh diri dan seruan untuk terus melakukan perbuatan terkutuk itu sebagaimana tertuang dengan jelas di buku Imam Samudra Teroris. Tidak sedikit darah kaum Muslimin yang tertumpah akibat aksi biadab Jama'atut Takfir maupun Jama'atul Jihad yang telah menganggap halal darah kaum Muslimin. Untuk "tugas suci" yang membutuhkan biaya logistik dan akomodasi yang tidak sedikit, hasil rampokan adalah salah satu sumber dananya!! Hal serupa (merampok) juga terjadi di Malaysia dan Singapura sehingga nama Ba’asyir dikaitkan dengan KMM, inilah pengakuannya :

“Setelah saya (Ba’asyir-peny) telusuri apa sebab nama saya disebut-sebut, ternyata karena sebagian orang KMM yang membobol bank milik pengusaha Cina di sana pernah mendengarkan dan mengikuti pengajian saya sehingga saya dianggap orang yang membina mereka sampai menjadi militan. Demikian pula yang terjadi di Singapura. Orang-orang yang ditangkap konon menyebut nama saya sebagai pemimpin spiritual mereka” (Abubakar Ba’asyir dan Tuduhan Teroris, ditulis oleh Fauzan Al-Anshari, Rabu, 11 Pebruari 2004, (majelis.mujahidin.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=21&Itemid=2).

Dan jangan engkau lupakan bahwa para teroris Jama'atut Takfir wal Jihad yang berasal dari Malaysia, Singapura dan Indonesia yang telah tertembak mati maupun yang telah tertangkap hidup-hidup itu hampir kesemuanya memiliki "sanad Ngruki", baik secara langsung maupun tidak langsung!! Bukan semata-mata opini "menyesatkan" yang hendak kalian tanamkan:"Apakah karena engkau pernah berceramah/berkhutbah di sebuah Masjid maka semua hadirin yang hadir di masjid tersebut adalah teroris? Dan saya (Ba'asyir) harus menanggung semua perbuatan jama'ah tersebut?!" Permasalahannya tidaklah sesederhana itu wahai Ba'asyir!! Sebagaimana sederhananya anggapan orang-orang yang mengenal dirimu "di penjara" dengan melihat akhlakmu yang "berpeci haji" dan "bersorban putih" dengan tutur kata nasehat yang lembut maka mereka berkesimpulan bahwa dirimu bukanlah teroris!! Engkau tentu kenal dan punya hubungan dengan Irfan Awwas yang menjadikan pemberontakan Kartosuwiryo sebagai Perjalanan Jihad!! Engkaupun tentu tahu dan memiliki hubungan dengan awak kapal situs "teroris" Majelis.mujahidin.or.id!! Engkaupun jangan berpura-pura tidak memiliki hubungan dengan Fauzan Teroris Al-Anshar(i).net!! KOMPAK adalah binaanmu!! Laskar Mujahidin adalah pasukanmu!! Bisa saja engkau menipu umat dan menunggangi DDII dan sumber pendanaannya terhadap mantel militernya yaitu "KOMite PenanggulangAn Krisis"!! Tetapi engkau -wahai penasehat KOMPAK!!- tidak akan mampu mengecoh Salafiyyin bahwa KOMPAK tidak lebih dari "KOMplotan PemAncing Kekacauan"!!! Setelah itu??!! Pergi melarikan diri dan menjadikan kaum Muslimin lainnya yang menanggung akibat gaya pengecut kalian!! Rupanya, sikap pengecut telah mendarah daging dan menjadi manhaj penakut kalian!! Lihatlah para Pejuang bombing yang bersanad Ngruki itu!! Sungguh "keberanian" mereka patut untuk diacungi jempol kaki untuk ukuran kelompok yang memiliki persenjataan Kompak (baca:lengkap) namun hanya memiliki keberanian "membunuh orang- orang yang tidak bersenjata!!" Apakah karena Amerika bersikap pengecut sehingga kalian juga ikut "tergila-gila" untuk "Tasyabbuh" dengan sikap pengecut mereka?! Kita tidaklah sedang membuktikan keterkaitan jaringan Teroris biadab itu dengan dirimu ataupun keterlibatannya dengan KOMPAK. Namun umat sekarang telah mengetahui bahwa para teroris itu memiliki "sanad Ngruki" dengan gaya pengecutnya!! Umat menjadi tahu bahwa KOMPAKnya DDII didominasi dan dikuasai oleh gaya "Laskar Ngruki-mu" dengan bau "Suka Cari Gara-Gara" dan tugas ini diselesaikan dengan sikap "lari tunggang-langgang" bak (lagi- lagi) sekelompok pengecut meninggalkan arena "permainan yang telah dibuatnya" dan menjadikan kaum Muslimin lain sebagai "tumbalnya"!! Ingatlah wahai Ba'asyir bahwa di kalangan kelompok pengecut itu dirimu memiliki jabatan yang terhormat sebagai "Penasehat"

KOMplotan PemAncing Kekacauan"!! Dan jangan engkau berkelit tentang keterlibatan aktivis MMI-mu dalam bom Bali ke-1!! Apakah engkau masih "berani" untuk menyatakan bahwa mereka-mereka itu hanyalah orang-orang yang kebetulan pernah mendengarkan ceramahmu di sebuah masjid sehingga mereka dicap sebagai teroris??!!" Allahu yahdikum.

Sebenarnya, Syaikh Muqbil Rahimahullah telah menyingkap "jalan Iblis" yang ditempuh oleh para teroris perampok itu ketika beliau menasehatkan kepada kaum Muslimin untuk memiliki sikap antusias dalam menjaga nama baik Islam. Diantara ucapan beliau dalam masalah ini:"Negara-negara kafir itu adalah harbi (harus diperangi) di zaman ini, karena mereka tidak menyerahkan pajak (jizyah). Namun tidak boleh mengambil harta mereka karena perbuatan itu artinya berbuat buruk terhadap Islam. Mereka akan mengira bahwa Islam adalah dien yang mengajarkan penipuan, pencurian dan khianat. Dan karena hal ini, orang-orang yang jauh dari Islam akan mengatakan:"Kamu pencuri, penipu, pengkhianat. Kamu berjanji tapi kamu mengingkari."

Bahkan perlu ditegaskan:"Islam berlepas diri dari perbuatan seperti ini. Jika ditemukan di kalangan Muslimin yang berbuat seperti ini, maka mereka itu justru merusak diri sendiri"(Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah Ayahanda Al-'Allamah Muqbil bin Hadi Al- Wadi'I, Ummu 'Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i, Pustaka Haura, hal.121). Sesungguhnyalah bahwa mereka –para teroris takfiri- ini sedang mengekor prinsip seorang Yahudi terlaknat Machiavelli “Tujuan menghalalkan segala cara”, salah satu prinsip Iblis yang dibisikkan kepadanya. Adapun Islam? Tidaklah kebaikan bisa ditempuh dan diperjuangkan kecuali dengan cara yang baik dan halal pula. Islam berlepas diri dari cara-cara yang dibisikkan oleh Iblis, walaupun mereka berkilah dengan seribusatu tujuan yang baik. Demikianlah sekelumit kerusakan jalan fikiran para teroris biadab yang menjadikan Usamah bin Laden sebagai figure pujaannya. Bagaimana situs pengundang Masyayikh Yordan? 18.2 PUJIAN AHMAD SURKATI TERHADAP GEMBONG SI MERAH/PKI-PARTAI

KOMUNIS INDONESIA (SEMAUN MURTAD) KARENA KETEGUHAN SIKAPNYA

Garis besar

Dokumen terkait