• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panjang jalan Nasional ( Km) 60,81 60,81 60,

Dalam dokumen rkpd kabupaten rembang tahun 2012 (Halaman 33-42)

2008 2009 2010 Bina Marga

3 Panjang jalan Nasional ( Km) 60,81 60,81 60,

Kondisi jalan baik 16,85 30,65 40,81

Kondisi sedang 20,50 18,36 5,00

Kondisi jalan rusak ringan 15,47 10,58 6,00

Kondisi jalan rusak berat 7,99 1,22 9,00

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum, 2010

Berdasarkan fungsinya, jaringan jalan di Kabupaten Rembang terdiri dari :

1. Jalan Arteri Primer

Jalan arteri melayani angkutan jarak jauh dengan kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien. Jalan arteri primer di Kabupaten Rembang yaitu jalan antar propinsi yang melintasi Kabupaten Rembang di sepanjang jalur pantai utara melalui Kecamatan Kaliori – Rembang – Lasem – Sluke – Kragan - Sarang. 2. Jalan Kolektor Primer

Jalan kolektor melayani angkutan perjalanan jarak dekat dengan kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk dibatasi. Di Kabupaten Rembang Jalan kolektor primer menghubungkan Kabupaten Rembang dengan Kabupaten Blora melalui Kecamatan Rembang – Sulang – Bulu dan menghubungkan Kabupaten Rembang dengan Kabupaten Bojonegoro Propinsi Jawa Timur, melalui Kecamatan Lasem – Pancur - Pamotan – Sedan – Sale.

3. Jalan Lokal Primer

Jalan lokal melayani angkutan setempat dengan perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. Jalan lokal primer di Kabupaten Rembang yaitu jalan-jalan yang melalui kota-kota kecamatan.

Ruas jalan arteri khususnya di Kota Rembang dan Lasem tidak hanya menghubungkan kota atau jalur regional namun saat ini juga berfungsi sebagai jalur internal kota. Hal ini menyebabkan jalan tersebut sangat padat dan berkecepatan rendah.

Untuk panjang jembatan di Kabupaten Rembang selama kurun waktu 3 tahun terakhir tidak mengalami perubahan. Walaupun sebagian besar jembatan masih dalam kondisi baik, namun perlu diwaspadai karena sebagian jembatan telah berusia tua. Perbaikan kondisi jembatan, tidak hanya di wilayah perkotaan, tetapi juga di wilayah perdesaan sangat diperlukan untuk mendukung aktivitas perekonomian masyarakat.

Tabel 2.34

Jumlah dan Panjang Jembatan di Kabupaten Rembang Tahun 2008 – 2010

No Uraian Tahun

2008 2009 2010

1 Jembatan Kabupaten

Kondisi Jembatan baik (unit) 96 96 96

Kondisi Jembatan rusak ringan (unit) 26 26 30 kondisi Jembatan rusak berat (unit) 4 4 0 2 Panjang jembatan kabupaten (m) 1.239,90 1.239,90 1.239,90 3 Panjang jembatan Propinsi (m) 398,80 398,80 398,80 4 Panjang jembatan Nasional (m) 627,60 627,60 627,60

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum, 2010

Kabupaten Rembang memiliki sumber daya air yang potensial untuk dikelola dengan baik melalui pembangunan prasarana pengairan agar dapat terus menerus memberikan manfaat dalam jangka panjang. Prasarana pengairan utamanya digunakan untuk irigasi dan penyediaan air bersih. Prasarana pengairan tersebut meliputi : bendungan, bendung, waduk, embung, checkdam, saluran irigasi, dan bangunan pelengkapnya.

Wilayah Kabupaten Rembang memiliki 5 (lima) Daerah aliran Sungai (DAS) besar yang mempunyai beberapa anak sungai mulai dari hulu sampai hilir yaitu : (1) DAS Randugunting; (2) DAS Karanggeneng; (3) DAS Babagan; (4) DAS Kalipang dan (5) DAS Kali Kening/Semen.

Pemanfaatan sumber daya air untuk irigasi didukung dengan saluran irigasi primer, sekunder dan tersier. Panjang saluran irigasi primer Kabupaten Rembang tiga tahun terakhir adalah 130,953 Km, dimana sebesar 45% ( 52,929 Km) dalam baik, 15% (19,643 Km) mengalami rusak ringan, dan sisanya 40% (52,381 Km) mengalami kerusakan berat. Sedangkan saluran irigasi sekunder selama tiga tahun terakhir memiliki panjang 119,495 Km dimana sebesar 45% (53.772 Km) dalam kondisi baik, 10% (11.950 Km) mengalami rusak ringan dan 45% (53.773 Km) mengalami kerusakan berat. Untuk saluran irigasi tersier sepanjang 36.567 Km dimana sebesar 2,65% (0,968 Km) dalam kondisi baik, 7,35% (2.689 Km) mengalami kerusakan ringan dan sisanya 90% (32,910Km) mengalami kerusakan berat. Dari luas persawahan sebesar 29.172 ha, sawah yang terairi dengan sarana pengairan teknis sebanyak 18%, sedangkan yang menggunakan sarana pengairan setengah teknis sebanyak 11,3%, dan lainnya (60,94%) masih tergantung dengan air hujan (tadah hujan).

Sampai dengan tahun 2010 Kabupaten Rembang memiliki embung sebanyak 16 unit , bendungan 105 unit dan rawa 1 unit, baik skala besar maupun kecil. Embung yang ada di Kabupaten Rembang meliputi embung Jatihadi, embung Banyukuwung, embung Lambangan, embung Jatimudo, embung Kerep, embung Kemendung, embung Rowosetro, embung Padaran, embung Kasreman, embung Brogo, embung Lodan, embung Kasur, embung Precet, embung Surutan, embung Sumbreng, dan rawa Bolodewo.

Melihat kondisi diatas, maka pengelolaan prasarana pengairan perlu terus ditingkatkan baik secara kuantitas maupun kualitas guna meningkatkan luas wilayah tangkapan air, sehingga dapat menambah volume pasokan/simpanan air. Peningkatan pengelolaan prasarana sumberdaya air juga dilakukan melalui Program Pengembangan Sungai Terpadu (PPST) yang bertujuan agar sungai lebih lama menampung air sehingga tidak cepat mengalir ke laut dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tabel 2.35

Sumberdaya Air dan Panjang Saluran Irigasi di Kabupaten Rembang Tahun 2008-2010

No Uraian Tahun

2008 2009 2010

1 Jumlah Sumber Air 43 43 40

Jumlah sumber air yang dilindungi 43 43 40 2 Panjang saluran irigasi primer ( Km) 125,870 130,953 130,953 a. kondisi rusak ringan (Km) 21,398 19,643 19,643 b. kondisi rusak berat (Km) 60,418 52,381 52,381 3 Panjang saluran irigasi sekunder Km 119,423 119,495 119,50 a. kondisi rusak ringan (Km) 17,913 11,950 11,95 b. kondisi rusak berat (Km) - 53,74 53,78 4 Panjang saluran irigasi tersier ( Km) 36,567 36,567 36,57 a. kondisi rusak ringan (Km) 1,828 2,689 2,69 b. kondisi rusak berat (Km) 50,785 32,910 32,91

Sumber : Dinas Pekerjaan Bidang Sumber Daya Air 2010

Kondisi permukiman di wilayah Kabupaten Rembang berada pada kawasan di luar kawasan lindung sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian di daerah perkotaan atau perdesaan. Kriteria kawasan permukiman adalah kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk permukiman yang aman dari bahaya bencana alam, sehat, dan mempunyai akses untuk kesempatan berusaha. Secara keruangan, kawasan permukiman ini terdiri dari permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan. Kawasan permukiman perdesaan pada dasarnya adalah tempat tinggal yang tidak dapat dipisahkan (atau letaknya tidak boleh terlalu jauh) dengan tempat usaha. Oleh karenanya, pengembangan permukiman atau rumah tempat tinggal di desa yang bersangkutan, dengan jarak maksimum dari pusat desa 250 meter. Kawasan permukiman yang saat ini belum terbangun, diutamakan peruntukkannya bagi perluasan permukiman penduduk yang tinggal di perkampungan terdekat. Kawasan permukiman perkotaan dapat terdiri atas bangunan rumah tempat tinggal, baik berskala besar, sedang, atau kecil; bangunan

rumah campuran tempat tinggal/usaha; dan tempat usaha.

Pengembangan permukiman pada tempat-tempat yang menjadi pusat pelayanan penduduk di sekitarnya, seperti pada pusat desa, ibukota kecamatan, ibukota kabupaten yang dialokasikan di sekitar kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan yang bersangkutan atau merupakan perluasan areal permukiman eksisting yang telah ada.

Kawasan permukiman terkoneksi dalam struktur ruang wilayah kabupaten yang terimplementasikan dalam sistem pusat kegiatan dan sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten. Sistem pusat kegiatan wilayah kabupaten terbagi atas sistem perkotaan dan sistem perdesaan sebagai berikut :

a. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah Perkotaan Rembang. b. Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) meliputi:

1. Perkotaan Lasem;

2. Perkotaan Pamotan; dan 3. Perkotaan Kragan.

c. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) meliputi: 1. Perkotaan Sulang; 2. Perkotaan Sluke; 3. Perkotaan Kaliori; 4. Perkotaan Pancur; 5. Perkotaan Sumber; 6. Perkotaan Bulu; 7. Perkotaan Gunem; 8. Perkotaan Sedan; 9. Perkotaan Sale; dan 10. Perkotaan Sarang.

d. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL), memiliki fungsi utama sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi skala lingkungan meliputi:

1. PPL Desa Padaran Kecamatan Rembang; 2. PPL Desa Mojorembun Kecamatan Kaliori; 3. PPL Desa Landoh Kecamatan Sulang; 4. PPL Desa Sudo Kecamatan Sulang; 5. PPL Desa Krikilan Kecamatan Sumber; 6. PPL Desa Kedungasem Kecamatan Sumber; 7. PPL Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber; 8. PPL Desa Lambangan Wetan Kecamatan Bulu; 9. PPL Desa Kajar Kecamatan Lasem;

10. PPL Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur; 11. PPL Desa Japerejo Kecamatan Pamotan; 12. PPL Desa Kepohagung Kecamatan Pamotan; 13. PPL Desa Sendangmulyo Kecamatan Sluke; 14. PPL Desa Tahunan Kecamatan Sale;

15. PPL Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem;

16. PPL Desa Pandangan Wetan Kecamatan Kragan; 17. PPL Desa Sendangwaru Kecamatan Kragan; 18. PPL Desa Lodan Wetan Kecamatan Sarang; dan 19. PPL Desa Gandrirejo Kecamatan Sedan.

Di bidang perumahan, sebagian besar masyarakat di Kabupaten Rembang dalam memenuhi kebutuhan perumahan secara swadaya yang dilaksanakan secara gotong royong. Dari data Pokjanis sejumlah 114.327 unit rumah diperoleh dengan cara membangun sendiri, 1.278 unit diperoleh dengan cara membeli dari pengembang dan 68.597 unit membeli dari perorangan, sedang perumahan yang diperoleh dengan cara lainnya sejumlah 44.462 unit.

Kabupaten Rembang memiliki 7 kompleks perumahan, meliputi perumahan Permata Hijau, RSS. Mondoteko, RS. Puri Mondoteko, RSS. Sumber Mukti Indah, Perumnas ABRI (Desa Sumberejo), Madina Asri, Perumnas ABRI (Desa Turusgede). Jumlah total unit rumah yang

disediakan sebanyak 1.498 unit. Sedangkan data perumahan dan permukiman di Kabupaten Rembang dilihat dari status kepemilikan rumah yaitu rumah milik sendiri sebesar 249.446 unit rumah pada tahun 2010. Untuk rumah sewa sebanyak 3.291 unit rumah. Sementara untuk penyediaan rumah oleh Perumnas tahun 2010 sebanyak 1.419 unit, dan penyediaan rumah oleh KPR/BTN sebanyak 1.141 unit.

Perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Rembang yang terus naik secara signifikan, maka perlu adanya peran pemerintah yang dapat membantu menyediakan lahan dan pembangunan rumah, dengan demikian harga rumah akan menjadi relatif lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat. Pembangunan perumahan tersebut tentunya diharapkan dapat merata disesuaikan dengan RTRW Kabupaten Rembang guna menjaga integrasi pembangunan yang berkelanjutan. Namun demikian perkembangan sarana hunian berupa rumah ini sebagian besar status lahannya tidak memiliki IMB sesuai norma pertanahan.

Di bidang layanan perhubungan, untuk memperlancar kegiatan transportasi pada simpul-simpul jalur transportasi disediakan fasilitas terminal. Berdasarkan jenis angkutannya maka terminal dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

1. Terminal angkutan penumpang 2. Terminal angkutan barang

Terminal yang tersedia terdiri dari dua terminal kelas B yaitu Terminal Lasem dan Terminal Rembang, dan tujuh terminal kelas C yang menghubungkan wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan di Kabupaten Rembang, yaitu Rembang, Lasem, Sulang, Gunem, Sarang, Pamotan, dan Sumber. Sampai saat ini pelayanan terminal di Kabupaten Rembang sudah berfungsi sesuai dengan peruntukkannya, meskipun masih memerlukan perbaikan.

Sedangkan antar daerah dilayani dengan armada Antar Kota Antar Propinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) dan kendaraan umum berupa angkutan kota dan angkutan perdesaan. Jumlah pergerakan arus lalu lintas di Terminal Rembang untuk bus AKDP sebanyak 1.024 trip, bus AKAP sebanyak 1.628 trip. Sementara itu, di Lasem banyaknya perjalanan (trip) bus AKDP sebanyak 4.683 trip, AKAP sebanyak 35.217 trip dan Angkudes sebanyak 41.219 trip.

Selain angkutan umum dan kendaraan pribadi, di Kabupaten Rembang juga banyak dilintasi kendaraan angkutan barang. Angkutan barang ini sangat berkontribusi terhadap kerusakan jalan dan jembatan, serta kemacetan lalu lintas. Selama ini kontrol terhadap angkutan barang masih kurang, masih banyak angkutan barang yang membawa muatan melebihi daya angkut yang ditetapkan, dimana kewenangan dimiliki oleh Provinsi Jawa Tengah. Banyak pula angkutan barang yang berhenti di pangkalan truk ilegal di Desa Manggar, Sumbersari Kragan, Cikalan Lasem, Pancur, dan Wuwur. Selain itu banyak pula yang berhenti di sembarang tempat, sehingga menghambat arus lalu lintas jalan raya. Dengan melihat kondisi tersebut, diperlukan peningkatan pelayanan terhadap angkutan barang dengan melakukan pengontrolan beban muatan angkutan barang, khususunya angkutan barang yang melalui jaringan jalan Kabupaten Rembang kelas II dan kelas III. Selain itu, diperlukan pula pengembangan rest area atau pool truck yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat istirahat pengendara angkutan barang.

Kondisi perhubungan laut di Kabupaten Rembang dimana Pelabuhan Rembang eksisting merupakan pelabuhan pengumpan yang berada di Desa Tasik Agung Kecamatan Rembang yang berada pada posisi strategis terletak di antara dua pelabuhan besar yaitu Tanjung Mas (Semarang) dan Tanjung Perak (Jawa Timur). Pelabuhan Tasik Agung tersebut digunakan untuk kegiatan bongkar muat hasil penangkapan ikan. Pada tahapan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang, Pelabuhan Rembang dikembangkan melalui pembangunan terminal pelabuhan Sluke sebagai pelabuhan pengumpan yang selanjutnya diproyeksikan menjadi pelabuhan pengumpul dan pelabuhan utama. Pengembangan terminal pelabuhan Sluke di Desa Sendangmulyo Kecamatan Sluke diharapkan menjadi infrastruktur pemicu bagi pertumbuhan ekonomi wilayah dengan membuka pintu gerbang akses transportasi laut guna mengangkut arus barang komoditas dan hasil olahan hinterland Kabupaten Rembang dengan peluang kegiatan antara lain :

1. Mendorong pengembangan industri berbasis bahan galian tambang dan pengolahan produk pertanian.

2. Mengoptimalkan terminal pelabuhan niaga antar pulau dan ekspor impor.

3. Penyediaan fasilitas terminal curah cair dalam rangka pengolahan dan distribusi minyak Blok Cepu dan Blok Randugunting Rembang.

4. Pengembangan pelabuhan terintegrasi dengan pembangunan kawasan industri Kabupaten Rembang.

Potensi penanaman modal di bidang pertambangan, antara lain: pasir kuarsa, batu gamping, bentonite, tanah liat/lempung, di bidang industri Perikanan dan kelautan antara lain: galangan kapal kayu, garam krosok/rakyat, teri nasi dan rajungan, pengolahan ikan kering, di bidang industri pengolahan mebel kayu, kerajinan kuningan/tembaga maupun batik tulis. Di bidang industri pengolahan hasil perkebunan antara lain industri pengalengan buah mangga, pengolahan mete, tebu, siwalan, kelapa. Peluang penanaman modal di bidang lainnya adalah pembangunan fasilitas umum seperti pasar, mall, hotel dan restoran, mengingat letak strategis Kabupaten Rembang yang berada pada Jalur Pantai Utara. Diharapkan dimasa mendatang besarnya penanaman modal lebih banyak berasal dari kalangan swasta/ BUMN dan hanya sebagian kecil dari pemerintah.

Dibidang ketenagakerjaan, pada tahun 2009 jumlah pencari kerja di Kabupaten Rembang didominasi oleh lulusan SMA yang mencapai 1.218 orang, dan 1.023 orang pada tahun 2010. Untuk meningkatkan kualitas pencari kerja, Balai Latihan Kerja mengadakan berbagai jenis pelatihan. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.36

Jenis dan jumlah Peserta pelatihan di BLK Kabupaten Rembang Tahun 2008-2010 No Jenis Ketrampilan/ Kejuruan 2008 2009 2010 L P Jml L P Jml L P Jml 1 Menjahit 6 42 48 - 16 16 4 12 16

2 Montir Sepeda Motor 32 - 32 - - - 36 36

3 Operator Komputer 28 36 64 16 16 32 6 30 36 4 Las Listrik 32 - 32 - - - 16 16 6 Radio/TV - - - 32 - 32 - - - 7 Mobil Bensin - - - 16 - 16 - - - 8 Ukir Kayu 32 - 32 - - - - 9 Bordir - - - - 32 32 - - -

10 Tata Rias Pengantin - - - -

11 Tata Rias Rambut - 32 32 - 16 16 - - -

12 Teknik Pendingin 32 - 32 - - - - 13 Mebeleir 32 - 32 - - - - 14 Elektro 16 - 16 - - - 5 - 5 16 Weekel - - - 32 - 32 - - - 17 Prosesing Pertanian - 32 32 - 32 32 - - - 18 Prosesing Perternakan - - - - 19 Ukir Kayu 16 - 16 32 - 32 - - - 20 Menjahit - - - - 32 32 - - - 21 Teknik Pendingin 16 - 16 - - - - 22 Mebeleir 32 - 32 - - - - 23 Las Karbit 16 - 16 - - - - 24 Elektro 16 - 16 - - - - 25 Teknik Batik - 16 16 - - - 10 6 16 26 Ternak Kambing 16 - 16 - - - - Jumlah 338 158 496 128 144 272 77 48 125

Sumber : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Kab. Rembang Tahun 2010

Dibidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, Total Fertility Rate (TFR) pada tahun 2008 sebesar 2,03% dan pada tahun 2010 TFR tetap dan tidak mengalami perubahan peserta KB tahun 2008 – 2010 mengalami penurunan dan partisipasi laki-laki dalam mengikuti KB mengalami peningkatan. Berikut gambaran perkembangan pembangunan di bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera di Kabupaten Rembang tahun 2008 – 2010:

Tabel 2.37

Perkembangan Pembangunan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Tahun 2008 – 2010

I ndikator 2008 2009 2010

Total Fertility rate (TFR) 2.03 1.95 2.03

Prevalensi peserta KB aktif 81.109 82.54 83.07 Keluarga Pra Sejahtera 99,102 98,363 97,352

Keluarga Sejahtera I 12,973 13,270 12,965

% Laki-laki ber KB 0.84 1.36 1.29

Persentase Unmetneed 8.03 7.96 7.81

Jumlah peserta KB baru 10,301 14,187 5,359

Jumlah peserta KB Drop Out 10,275 11,563 4,854

Terkait dengan penyelenggaraan pos dan telekomunikasi, saat ini di Kabupaten Rembang terdapat 10 kantor pos yang melayani pengiriman surat dan paket pos baik lokal di daerah maupun hingga ke luar daerah dalam lingkup nasional. Perkembangan pelayanan telekomunikasi dilihat dari jumlah satuan sambungan telepon yang terpasang dan terpakai, sampai tahun 2010 telah terpasang sebayak 4.823 unit dan yang terpakai sebanyak 4.463 SST. Arus informasi juga semakin berkembang pesat seiring dengan pemakaian layanan internet yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. pada tahun 2008 layanan internet 2 unit, tahun 2009 meningkat menjadi 23 unit warnet, sedang di Tahun 2010 sebanyak 43 warnet. Sedangkan pelayanan di bidang kelistrikan, telah menjangkau seluruh desa di Kabupaten Rembang meskipun tidak semua rumah tangga terlayani.

Di bidang kependudukan, cakupan layanan administrasi

kependudukan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.38

Cakupan Pelayanan Administrasi kependudukan Kabupaten Rembang Tahun 2008 - 2010

Uraian 2008 2009 2010

Jumlah Kepala Keluarga 160.053 168.182 187.718 Persentase penduduk memiliki KTP Dan KK 55,90% 57,30% 57,50% Jumlah KTP yang dikeluarkan 161.990 100.063 64.199 Jumlah KK yang dikeluarkan 51.885 82.983 50.892

Akta Kelahiran 35.171 15.010 17.210

Akta Perkawinan 44 44 46

Akta Perceraian 3 5 3

Akte kematian 48 53 52

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2010

Dalam pembinaan organisasi kepemudaan dilakukan dengan melakukan pendampingan dan pemberdayaan kelembagaan/organisasi kepemudaan di Kabupaten Rembang seperti KNPI, AMPI, Pemuda Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Karang Taruna, Pramuka dan organisasi kepemudaan lainnya. Pada tahun 2010 jumlah organisasi kepemudaan sebanyak 93 organisasi yang terdiri dari KNPI sebanyak 1 organisasi, AMPI, Pemuda Ansor, Pemuda Muhamadiyah, Pramuka, Karang Taruna dan Kosgoro masing-masing sejumlah 15. Organisasi olahraga ada 15 yaitu PSSI, PASI, IPSI, PERCASI, GABSI, PBVSI, PERBASI, PBSI, Tae Kwondo, Wusu, PERPANI, PTMSI, FORKI, FPTI dan PSTI.

Dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), dilibatkan segenap partisipasi sosial masyarakat yang tercakup dalam Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). PSKS tersebut meliputi Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Karang Taruna (KT), Organisasi Sosial (ORSOS), Wanita Pemimpin Kesejahteraan Sosial (WPKS), Dunia Usaha serta Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM).

Dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan desa, pada tahun 2010 telah dibentuk 10 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), 25 pasar desa dan 70 kelompok lembaga ekonomi masyarakat. Sedangkan upaya untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pengelolan sumber daya alam telah dilakukan pembentukan Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) di 14 kecamatan dan pelatihan 16 kelompok usaha khusus perempuan dalam penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG).

Di Kabupaten Rembang sampai dengan tahun 2010 terdapat koperasi aktif meliputi 16 KUD, 334 Koperasi Primer dan 42 Koperasi Simpan Pinjam. Sedangkan yang tidak aktif terdiri dari 1 KUD dan 180 koperasi primer. Sedang untuk jumlah UMKM selama kurun waktu tahun 2008-2010 mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah UMKM sebanyak 11.800 meningkat menjadi 31.324 tahun 2009 dan menjadi 34.054 pada tahun 2010.

b. Layanan Urusan Pilihan

Aspek pelayanan umum khususnya pada layanan urusan pilihan dapat dilihat dari beberapa urusan pilihan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Rembang yaitu urusan pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, pariwisata, perdagangan dan industri, energi dan sumberdaya mineral, serta ketransmigrasian.

Dibidang pertanian, produksi gabah di Kabupaten Rembang selama periode 2008-2010 mengalami trend peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 25,73% dengan rata-rata produktifitas sebesar 5,06 ton perhektar. Konsumsi beras di Kabupaten Rembang selama periode tersebut rata-rata sebesar 39.704 ton dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,07%. Produksi beras lebih besar daripada konsumsi beras berarti terjadi surplus beras di Kabupaten Rembang.

Luas panen tanaman jagung selama periode 2008 – 2010 rata-rata seluas 28.360 ha. Produksi jagung tahun 2008 menjadi 87.778 ton, Tahun 2009 sebanyak 135.967 ton, meningkat menjadi 172.520 ton pada tahun 2010 Produksi jagung yang cukup besar tersebut merupakan potensi yang perlu dikembangkan kearah peningkatan nilai tambah produk melalui introduksi teknologi prosesing jagung untuk mengolah jagung menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi sehingga produksi olahan komoditas jagung memiliki nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha pertanian lainnya.

Luas panen tanaman kedelai selama periode 2008 – 2010 rata- rata seluas 3.440 ha. Produksi kedelai tahun 2008 sebanyak 3.697 ton, Tahun 2009 sebanyak 5.941 ton, meningkat sebanyak 9.128 ton pada tahun 2010.

Luas panen tanaman ubi kayu selama periode 2008 – 2010 rata- rata seluas 3.039 ha dengan rata-rata produksi sebesar 38.609 ton dan rata-rata peningkatan pertumbuhan produksi sebesar 30,69% dan rata- rata produktifitas sebesar 12,75 ton perhektar. Trend luas panen dan produksi ubi kayu selalu meningkat dalam periode tersebut. Sebagian besar produksi untuk memenuhi kebutuhan pembuatan tepung tapioka di luar daerah.

Luas panen tanaman kacang tanah selama periode 2008 – 2010 rata-rata seluas 3.605 ha dengan rata-rata produksi sebesar 3.740 ton dan rata-rata peningkatan pertumbuhan produksi sebesar 11,13% dan rata- rata produktifitas sebesar 1,03 ton perhektar. Trend luas panen dan produksi ubi kayu selalu meningkat dalam periode tersebut. Sebagian besar produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah dan untuk memasok kebutuhan bahan baku pabrik kacang di luar daerah.

Komoditas perkebunan yang potensial di Kabupaten Rembang hingga tahun 2010 adalah kelapa, tebu dan kopi. Ketiga komoditas tersebut juga merupakan komoditas unggulan Jawa Tengah. Diantara ketiga jenis perkebunan tersebut, hanya tebu yang produksinya melebihi kebutuhan konsumsi masyarakat Rembang. Luas perkebunan tebu selama periode 2008-2010 rata-rata seluas 7.278 ha yang dapat menghasilkan rata-rata produksi sebesar 29.253 ton, sedang jumlah konsumsi rata-rata sebesar 6.270 ton. Untuk produksi kelapa rata-rata sebesar 3.711 ton dengan rata-rata luas area perkebunan seluas 7.240 ha. Jumlah produksi tersebut baru memenuhi kurang dari separuh kebutuhan konsumsi masyarakat yaitu sebesar 9.901 ton. Perkebunan kopi rata-rata luas area sebesar 86 ha dengan produksi rata-rata sebesar 16,83 ton, Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan konsumsi masyarakat yang mencapai 204,72 ton, sehingga pada tahun-tahun mendatang perlu diupayakan peningkatan produksinya.

Pada sektor peternakan, pada kelompok ruminansia di Kabupaten Rembang didominasi oleh usaha peternakan sapi potong, dimana Jumlah populasinya terus meningkat dengan pertumbuhan sebesar 4,03%. produksi daging sapi sebanyak 628,36 ton pada tahun 2009, meningkat menjadi 824,25 ton pada tahun 2010. Peternakan lain yang cukup berkembang adalah ternak kambing dan ternak domba. Jumlah ternak kambing pada tahun 2010 mencapai 126,372 ekor atau terjadi peningkatan populasi sebesar 7,79%. sementara itu, jumlah populasi ternak domba mencapai 97,314 ekor atau meningkat 10,00%.

Jenis peternakan unggas yang cukup berkembang dan cenderung mengalami peningkatan baik jumlah populasi maupun produksi adalah ayam pedaging. Jumlah populasi ayam pedaging pada tahun 2010 adalah sebesar 367,200 ekor atau meningkat 4,26% dari tahun sebelumnya Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.39

Perkembangan sektor Peternakan Kabupaten Rembang Tahun 2009-2010

No Uraian 2009 2010

Dalam dokumen rkpd kabupaten rembang tahun 2012 (Halaman 33-42)