• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kamal Bangkalan Madura

KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PIKIR

2.2 Landasan Teor

2.2.10 Parameter Kualitas Terjemahan

Sebagaimana dinyatakan di dalam subbab 2.2.3 bahwa makna dan gaya merupakan hal yang sangat penting dalam penerjemahan dan merupakan hal yang mendasar yang ingin dilakukan di dalam menerjemahkan. Dalam kegiatan

commit to user

gaya dalam bahasa sasaran yang sedekat-dekatnya sama dengan makna yang ada dalam bahasa sumber.

Di dalam usaha mencari padanan makna dan gaya tersebut perlu dirumuskan suatu parameter penilaian kualitas terjemahan. Parameter ini digunakan untuk memberikan kriteria-kriteria yang objektif mengenai kualitas hubungan antara Tsu dengan Tsa.

Parameter kualitas penerjemahan dapat dilihat dari berbagai sudut atau perspektif. Menurut Gerzymisch (2001:229) parameter kualitas terjemahan dapat dilihat dari perspektif individual (an itemized perspective), perspektif pola

hubungan (a relational pattern perspective), dan perspektif pola keseluruhan (a holistic perspective). Perspektif individual melihat masalah-masalah secara satu per satu yang ada di dalam suatu teks dan mengidentifikasi fenomena tekstual lokal seperti metafora, makna leksikal, makna gramatikal, makna ambigu, dan sebagainya. Perspektif pola hubungan menggambarkan pola-pola yang dapat diidentifikasi sebelumnya dengan unsur-unsur yang dapat diidentifikasi

berikutnya di dalam suatu teks dan kita dapat mengidentifikasi titik awal masalah yang dapat ditelusuri di dalam perkembangannya terhadap keseluruhan teks dan yang dapat digambarkan sebagai rangkaian fenomena individual. Perspektif pola keseluruhan melihat pola-pola holistik sebagai entitas fungsional yang

membentuk teks yang dengan perspektif tersebut kita dapat mengidentifikasi pola- pola di dalam suatu teks yang tidak ada titik awal yang dapat diidentifikasi sebelumnya. Pola-pola holistik tersebut dibentuk oleh unsur-unsur yang secara fungsional saling berhubungan dengan salah satu unsur fungsional yang

commit to user

kemudian menjadi suatu unsur di dalam entitas fungsional yang besar. Contoh- contoh dari perspektif ini adalah hubungan-hubungan budaya, pola pengetahuan, dan sebagainya.

Sementara itu, Al-Qinai (2000:499) menyatakan bahwa parameter penilaian penerjemahan dapat digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi suatu teks dengan melihat pada fungsi sintaktik, semantik, dan pragmatik dalam kerangka budaya yang ada baik dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran. Menurut Al-Qinai, parameter tersebut adalah:

a) Tipologi Teks dan Tenor: misalnya, struktur naratif dan kebahasaan dari Tsu dan Tsa, fungsi teks (didaktif, informatif, instruksional, persuasif, dan sebagainya).

b) Hubungan Formal: keseluruhan makna dan bentuk teks, pembagian paragraf, tanda baca, kuotasi, dan sebagainya.

c) Koherensi Struktur Tematik: Tingkat kesimetrisan tematik bahasa sumber dengan bahasa sasaran.

d) Kohesi: Referensi (ko-referensi, anapora, katapora), substitusi, elipsis, deiksis, dan konjungsi.

e) Kesepadanan Teks Pragmatik (Dinamik): Tingkat kedekatan Tsa dengan maksud Tsu (misal, kepuasaan atau penyimpangan harapan pembaca) dan fungsi ilokusioner Tsu dan Tsa.

f) Register: jargon, idiom, kata pinjaman, kolokasi, parafrase, konotasi, dan aspek emotif dari makna leksikal.

commit to user

Parameter bahwa suatu terjemahan sudah sepadan makna dan gayanya bila terjemahan yang bersangkutan dapat mencapai padanan makna dan gaya yang optimal antara teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran. Kalimat dikatakan mempunyai padanan makna bila semua kata atau kelompok kata di dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran memiliki makna leksikal, gramatikal, tekstual,

kontekstual, sosiokultural, dan/atau makna implisit yang sama. Kalimat dikatakan mempunyai padanan gaya bila semua kata atau kelompok kata di dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran memiliki kategori yang sama dalam unsur-unsur gayanya, yaitu pilihan kata, ekspresi idiomatik, gaya bahasa, jenis kata/struktur kata tertentu, dan tanda baca dalam upaya bagaimana menyajikan atau

mengkomunikasikan hasil terjemahannya dalam bentuk tulisan.

Sementara itu, keterbacaan, keakuratan, dan kewajaran sangatlah penting di dalam menilai kualitas terjemahan. Sebuah terjemahan yang akurat tidak akan dapat memenuhi tujuan praktisnya sebagai alat komunikasi antara penulis teks bahasa sumber dan pembaca teks bahasa sasaran apabila terjemahan yang

bersangkutan sulit dipahami oleh pembaca, begitu pula bahwa sebuah terjemahan yang mudah dipahami bukanlah terjemahan yang baik apabila pesannya

menyimpang dari pesan teks bahasa sumber.

Parameter bahwa suatu terjemahan sudah memenuhi unsur keterbacaan bila suatu teks tersebut dapat dipahami oleh para pembaca dan seberapa besar usaha yang dilakukan para pembaca terhadap teks tersebut, suatu terjemahan memenuhi unsur keakuratan bila pembaca bahasa sasaran dapat memahami pesan secara akurat seperti yang dimaksud oleh penulis asli (makna dan gaya yang

commit to user

diterjemahkan sudah sepadan dan berterima secara optimal), dan suatu terjemahan memenuhi unsur kewajaran bila pesan dapat dikomunikasikan dalam bentuk yang sealami mungkin, sehingga pembaca Tsa merasa bahwa teks yang dibaca adalah teks yang asli atau tidak tampak seperti suatu terjemahan.

Menurut Machali (2000: 108) pentingnya penilaian hasil terjemahan karena dua alasan, yaitu untuk menciptakan hubungan dialektik antara teori dan praktek penerjemahan dan untuk kepentingan kriteria dan standar dalam menilai kompetensi penerjemah. Penilaian hasil penerjemahan ini mengacu pada produk atau karya terjemahan itu sendiri. Menurut Nababan (2000: 121) ada dua arah penelitian dalam penerjemahan, yaitu penelitian yang berorientasi pada produk dan penelitian yang berorientasi pada proses. Penelitian yang berorientasi pada produk inilah yang bisa dinilai dan dievaluasi oleh seorang penilai terjemahan, sedangkan penelitian yang mengacu pada proses sangat sulit untuk dinilai karena yang dikaji mengarah pada proses ketika aktivitas penerjemahan dilakukan oleh penerjemah.

Hal pokok dalam penilaian karya terjemahan adalah rambu-rambu atau kriteria penilaian karya terjemahan. Kriteria penilaian ini ditentukan untuk menjaga validitas dan reliabilitas hasil penilaian. Namun demikian, perlu dipahami bahwa tidak ada hasil terjemahan yang sempurna sehingga penilaian pun bersifat relatif dan berdasarkan kriteria kurang lebih karena penilaian terhadap padanan semua tataran satuan lingual secara objektif sulit dicapai (Machali, 2000:115 dan Nababan, 2004:60) sehingga penentuan kriteria dan

commit to user

indikator pun tidak dapat bersifat objektif, ketat, dan tetap terpengaruh pada sujektifitas penilai.

Machali (2000:119) menyampaikan kriteria penilaian hasil terjemahan sebagai berikut:

Tabel 2.1 Kriteria Penilaian Terjemahan (Machali, 2000)

Kategori Nilai Indikator

Terjemahan hampir sempurna Terjemahan sangat bagus Terjemahan baik Terjemahan cukup Terjemahan kurang 86-90 (A) 76-85 (B) 61-75 (C) 46-60 (D) 20-45 (E)

Penyampaian wajar, hampir tidak terasa seperti terjemahan, tidak ada kesalahan ejaan, tidak ada kesalahan/penyimpangan tata bahasa, tidak ada kekeliruan penggunaan istilah.

Tidak ada distorsi makna, tidak ada terjemahan harfiah yang kaku, tidak ada kekeliruan

penggunaan istilah, ada satu-dua kesalahan tata bahasa, ada satu-dua kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca/ejaan.

Tidak ada distorsi makna, ada terjemahan harfiah yang kaku tetapi relatif tidak lebih dari 15 % dari keseluruhan teks sehingga tidak terlalu terasa

seperti terjemahan, kesalahan tata bahasa dan idiom relatif tidak lebih dari 15% dari keseluruhan teks, ada satu-dua penggunaan istilah yang tidak baku/umum, ada satu-dua kesalahan ejaan. Terasa sebagai terjemahan, ada beberapa

terjemahan harfiah yang kaku tetapi relatif tidak lebih dari 25% keseluruhan teks, ada beberapa kesalahan idiom dan/tata bahasa, tetapi relatif tidak lebih dari 25% keseluruhan teks, ada penggunaan istilah yang tidak baku/umum dan atau tidak jelas. Sangat terasa sebagai terjemahan, terlalu banyak terjemahan harfiah yang kaku (relatif lebih dari 25% dari keseluruhan teks), terdapat distorsi makna, dan kekeliruan penggunaan istilah lebih dari 25% keseluruhan teks.

commit to user

Apabila kita cermati, kriteria yang diberikan oleh Rochayah mempunyai sedikit kekurangan. Pada kategori terjemahan hampir sempurna terdapat sedikit kekurangan pada kriteria indikatornya. Kekurangan tersebut adalah tidak adanya indikator ‘tidak ada distorsi makna’ seperti pada kategori terjemahan sangat bagus dan terjemahan baik. Indikator tidak ada distorsi makna ini seharusnya

ditambahkan di dalam indikator terjemahan hampir sempurna karena dalam penerjemahan yang dilakukan adalah pencarian padanan makna yang seoptimal mungkin.

Nababan (2004) dalam disertasinya yang berjudul Translation Processes, Practices, and Products of Professional Indonesian Translators menggunakan dua instrumen untuk menilai kualitas terjemahan. Instrumen tersebut adalah Accuracy-Rating Instrument yang diadaptasi dari Nagao, Tsujii dan Nakamura (1998) yang didasarkan pada skala 1 sampai 4 sebagaimana yang ditunjukkan berikut ini:

Tabel 2.2 Skala dan Definisi Kualitas Terjemahan (Nababan, 2004)

Scale Definition

1 The content of the source sentence is accurately conveyed into the target sentence. The translated sentence is clear to the evaluator and no rewriting is needed.

2 The content of the source sentence is accurately conveyed into the target sentence. The translated sentence can be clearly understood by the evaluator, but some rewriting and some change in word order are needed.

3 The content of the source sentence is accurately conveyed into the target sentence. There are some problems with the choice of lexical items and with the relationship, between phrase, clause, and sentence elements.

4 The source sentence is not translated all into target sentence, i.e., it is omitted or deleted.

commit to user

Kriteria atau rambu-rambu penilaian hasil terjemahan yang dinyatakan oleh Nababan menunjukkan suatu kemudahan, keefektifan indikator dibanding yang telah dinyatakan oleh Machali, dan hal ini juga ditunjukkan dengan penggunaan skala 1 sampai 4. Namun demikian, perlu dipertimbangkan bahwa dalam menilai terjemahan harus dilihat apa yang akan dinilai, apakah itu teks ilmiah ataukah teks susastra, dan kepada sasaran pembaca yang mana.

Lebih lanjut Machali menyatakan bahwa di samping makna dan kriteria, hal pokok dalam menilai karya terjemahan adalah cara menilai hasil terjemahan. Machali (2000:117-123) membagi ke dalam dua cara yaitu cara umum dan cara khusus. Cara umum digunakan untuk teks yang umum, yakni teks yang tidak mempunyai ciri tertentu yang beda dengan yang lain secara universal. Misalnya ciri penggunaan bahasa dalam teks ilmiah mempunyai ciri universal, yaitu efektif, lugas, tidak taksa, dan formal. Ciri tersebut berlaku untuk semua teks ilmiah, misalnya jurnal, makalah, artikel, disertasi, dan lain-lain.

Penilaian secara umum dapat dimulai dari asumsi umum bahwa tidak ada terjemahan yang sempurna, penerjemahan semantik dan komunikatif merupakan reproduksi pesan yang umum, dan penilaian bersifat umum dan relatif. Penilaian karya terjemahan dapat dilakukan dengan tahapan penilaian fungsional, penilaian berdasarkan makna dan kriterai, dan penilaian berdasarkan indikator dan nilai untuk menentukan kesepadanan pesan hasil terjemahan, yakni terjemahan yang hampir sempurna, terjemahan sangat bagus, terjemahan baik, terjemahan cukup dan terjemahan buruk.

commit to user

Sementara itu, cara penilaian khusus digunakan untuk menilai teks yang mempunyai ciri penggunaan yang khusus atau tidak mempunyai ciri penggunaan bahasa yang universal dengan teks lainnya, misalnya puisi. Di samping makna, bentuk puisi harus dipertimbangkan oleh penerjemah sehingga dalam

menerjemahkan harus dapat memasukkan minimal dua unsur tersebut agar keindahan bentuknya juga dapat terhubung dalam karya terjemahan puisi. Oleh karena itu, penilaian khusus harus mempertimbangkan bentuk, sifat, dan fungsi.

Lebih lanjut Machali (2000:121-122) menjelaskan bahwa kriteria yang dapat digunakan dalam penilaian khusus adalah berubah atau tidak berubah, menyeluruh atau lokal, jelas atau tidak jelas, baku atau tidak baku, wajar atau tidak wajar (misalnya puisi yang mengandung metaforik), benar atau tidak. Namun demikian cara yang dilakukan tidak berbeda dengan cara penilaian umum, yakni penilaian fungsional, penilaian berdasarkan makna dan kriteria, dan

penilaian berdasarkan indikator dan nilai untuk menentukan keberterimaan, kesepadanan pesan hasil terjemahan, dan kualitas terjemahan, yakni terjemahan hampir sempurna, terjemahan sangat bagus, terjemahan baik, terjemahan cukup, dan terjemahan buruk.

Senada dengan cara penilaian khusus yang disampaikan oleh Machali, Zhonggang (2006: 45) menilai suatu karya terjemahan susastra, baik puisi maupun novel, dengan menggunakan skala relevansi. Menurut Zhonggang, yang dimaksud dengan skala relevansi adalah suatu tingkat relevansi yang mana pembaca memahami suatu teks tergantung pada jumlah pengaruh kontekstual terhadap teks dan upaya untuk memahami teks tersebut. Semakin banyak

commit to user

pengaruh kontekstual, semakin relevan teks tersebut; semakin sedikit upaya yang dilakukan pembaca dalam memahami suatu teks, semakin relevan teks tersebut. Skala relevansi ini dikelompokkan menjadi: relevansi optimal, relevansi kuat, relevansi lemah, dan tidak ada relevansi, sebagaimana tersaji berikut:

Tabel 2.3 Skala Relevansi (Zhonggang, 2006: 45)

Relevance Contextual implication Processing effort

Optimal relevance Fully comprehensible Without unnecessary effort

Strong relevance Relatively clear With some necessary effort

Weak relevance Implied Considerable effort taken

Irrelevance Vague and unclear All the effort is in vain

Ketiga cara penilaian yang telah disampaikan oleh Machali, Nababan, dan Zhonggang di atas merupakan rambu-rambu penilaian hasil terjemahan yang, menurut hemat peneliti, lebih mengutamakan pada keakuratan makna. Di dalam penelitian ini, selain makna, penggunaan gaya dalam penerjemahan novel ini juga sama pentingnya dengan makna. Sebagaimana diuraikan di dalam sub-bab 2.1.3. bahwa makna dan gaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam penerjemahan (Siad Shiyab, 2003:5). Penerjemahan atau pencarian padanan makna tanpa penerjemahan gaya yang sesuai, hasil terjemahan akan menjadi tidak lengkap dan tidak efisien. Makna adalah apa yang dikomunikasikan ke pembaca terjemahan, sedangkan gaya adalah cara bagaimana mengkomunikasikan makna tersebut ke pembaca terjemahan.

commit to user

Selain itu, hal penting lainnya adalah tingkat pemahaman pembaca atau unsur keterbacaan terjemahan. Keterbacaan, menurut para pakar terjemahan, mengacu pada seberapa mudah teks tulis dapat dibaca dan dipahami oleh

pembaca. Keterbacaan merupakan keseluruhan unsur dalam sebuah teks tulis yang mempengaruhi keterpahaman pembaca (dalam Nababan; 2004, 29). Sementara itu, Suryawinata (1982: 104-105) menyatakan bahwa keterbacaan adalah berpusat pada masalah mudah tidaknya suatu teks untuk dibaca dan dipahami oleh

pembacanya dan tidak mempermasalahkan kesetiaan suatu teks terjemahan terhadap sumber aslinya.

Dari beberapa pendapat para pakar terjemahan tersebut dapat disimpulkan bahwa keterbacaan adalah suatu kriteria mengenai sejauh mana suatu teks dapat dipahami oleh para pembaca dan seberapa besar usaha yang dilakukan para pembaca terhadap teks tersebut. Jadi, keterbacaan suatu teks sangatlah tergantung pada pembaca karena pada dasarnya suatu teks tidak dapat dibaca sendiri oleh teks tersebut. Di sini jelas bahwa tingkat keterbacaan ditentukan oleh pembaca dengan tingkat kemampuan, pengetahuan, dan konsentrasi pembaca dalam memahami teks terjemahan, meskipun keterbacaan itu sendiri juga dipengaruhi oleh fitur-fitur teks sebagaimana dikutip dalam Nababan (2004: 29) bahwa keterbacaan sebuah teks dapat diukur secara empirik, yang didasarkan pada panjang rata-rata kalimat, kompleksitas struktur kalimat, jumlah kata baru yang digunakan dalam teks, kosa kata, konstruksi kalimat yang digunakan penulis, penggunaan kata asing dan daerah, penggunaan kata dan kalimat taksa, penggunaan kalimat tak lengkap, dan alur pikir yang tidak runtut.

commit to user

Oleh karena itu, berdasarkan perpaduan dari kriteria-kriteria penilaian hasil terjemahan yang telah disampaikan oleh Machali, Nababan, Zhonggang di atas, dan juga parameter penggunaan unsur-unsur gaya yang ada dalam

penerjemahan dan unsur pemahaman pembaca, maka kriteria penilaian hasil terjemahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 2.4 Kriteria Penilaian Terjemahan dalam Penelitian ini

Kategori Nilai Indikator

Terjemahan hampir sempurna Terjemahan sangat bagus Terjemahan baik Terjemahan cukup Terjemahan kurang 86-90 (A) 76-85 (B) 61-75 (C) 46-60 (D) 20-45 (E)

Makna dalam bahasa sumber diterjemahkan secara akurat ke dalam bahasa sasaran; penyampaian wajar dan hampir tidak terasa seperti terjemahan; teks sangat jelas, tidak perlu upaya keras untuk memahaminya; secara keseluruhan tidak ada kesalahan/penyimpangan gaya: pilihan kata, ekspresi idiomatik, gaya bahasa, jenis kata/struktur kata tertentu, dan tanda baca.

Makna dalam bahasa sumber diterjemahkan secara akurat ke dalam bahasa sasaran; tidak ada terjemahan harfiah yang kaku dan tidak terasa seperti terjemahan; teks sangat jelas dan dengan sedikit upaya untuk memahaminya; ada satu-dua kesalahan/penyimpangan gaya: pilihan kata, ekspresi idiomatik, gaya bahasa, jenis kata/struktur kata tertentu, dan tanda baca.

Makna dalam bahasa sumber diterjemahkan secara akurat ke dalam bahasa sasaran; ada terjemahan harfiah yang kaku namun tidak terlalu terasa seperti terjemahan; teks jelas tetapi dengan sedikit upaya untuk memahaminya; ada satu-dua kesalahan/penyimpangan gaya: pilihan kata, ekspresi idiomatik, gaya bahasa, jenis kata/struktur kata tertentu, dan tanda baca.

Makna dalam bahasa sumber diterjemahkan secara akurat ke dalam bahasa sasaran; terasa sebagai terjemahan; teks lumayan jelas namun dengan upaya yang agak keras untuk memahaminya; ada beberapa terjemahan harfiah yang kaku, kesalahan idiom dan/tata bahasa, penggunaan istilah yang tidak baku/umum, gaya bahasa, dan tanda baca. Makna dalam bahasa sumber tidak diterjemahkan sama sekali ke dalam bahasa sasaran; sangat terasa sebagai terjemahan; teks sangat kabur dan tidak jelas, dengan upaya yang susah payah untuk memahaminya; terlalu banyak terjemahan harfiah yang kaku, dan kekeliruan penggunaan istilah, idiom, gaya bahasa, dan tanda baca.

commit to user 2.2.11 Pendekatan Kritik Holistik

Pendekatan kritik holistik merupakan pendekatan yang digunakan untuk penelitian evaluasi kualitatif yang didasari dengan pola pikir keberkaitan semua variabel pokok yang terlibat (Sutopo, 2006: 114). Penelitian evaluasi bertujuan untuk menggali, menemukan, dan memahami, baik kekuatan maupun kelemahan dari semua variabel pokok yang terlibat dalam suatu kegiatan, peristiwa,

pelaksanaan program, atau suatu karya tertentu.

Pendekatan kritik holistik dianggap lengkap karena memandang berbagai masalah selalu di dalam kesatuannya, tidak terlepas dari kondisi yang lain menyatu dalam suatu konteks. Dengan kata lain bahwa suatu karya, program, atau peristiwa dan kondisi tertentu, kualitasnya harus dipandang dari perspektif latarbelakangnya (faktor genetik), kondisi formal yang berupa kenyataan objektifnya (faktor objektif), dan hasil atau dampaknya (output, product, outcome) yang juga meliputi persepsi orang yang berinteraksi dengan program atau karya yang dievaluasi tersebut (faktor afektif) (Sutopo, 2006: 142-143). Simpulan akhir dari model ini dilakukan dengan membuat sintesis dari informasi yang bersumber dari tiga faktor tersebut. Tidak ada satu pun faktor yang memiliki otoritas atau dominan dalam pendekatan kritik holistik. Variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable) saling terkait dan berkelanjutan. Dalam penelitian ini, penerjemah, terjemahan, dan pembaca yang memahami terjemahan saling terkait dan mempengaruhi.

Berbeda dengan pendekatan kritik yang lain, misalnya kritik historis yang mementingkan faktor latarbelakangnya saja, kritik objektif yang lebih

commit to user

mementingkan faktor objektifnya atau kondisi formalnya, dan model kritik

emosional yang lebih mementingkan faktor afektifnya, sehingga secara keseluruhan simpulan makna dari tiga model tersebut dipandang berat sebelah, memihak dan setengah-setengah. Atas dasar itu pendekatan kritik yang dipandang paling lengkap dan tepat adalah pendekatan kritik holistik. Dalam pendekatan ini beragam

informasi dikelompokkan ke dalam tiga jenis faktornya, yaitu (1) faktor genetik, (2) faktor objektif, (3) faktor afektif. Dari tiga jenis informasi tersebut dibahas secara menyeluruh dan saling terkait sehingga bisa dilakukan sintesis sebagai suatu simpulan makna akhir dari penelitiannya. Adapun faktor-faktor tersebut

digambarkan di dalam bagan sebagai berikut:

Bagan 2.8 Pendekatan Kritik Holistik (Sutopo, 2006: 145) Faktor Genetik Sintesis Faktor Afektif Faktor Objektif

commit to user 2.3 Kerangka Pikir

Penelitian ini diawali dari pemikiran bahwa menerjemahkan novel tidaklah mudah. Seorang penerjemah novel diharapkan untuk memahami bahasa sumber dengan sebaik-baiknya, karena pada dasarnya karya susastra lebih mengandung unsur ekspresi pengarang dan kesan khusus yang ingin

ditimbulkannya terhadap si pembaca. Karya susastra juga mengandung unsur- unsur emosional, efek keindahan kata dan ungkapan, efek keindahan bunyi, dengan segala nuansa yang mengiringinya.

Sebuah terjemahan yang akurat tidak akan dapat memenuhi tujuan praktisnya sebagai alat komunikasi antara penulis teks bahasa sumber dan pembaca teks bahasa sasaran apabila terjemahan yang bersangkutan sulit dipahami oleh pembaca, begitu pula bahwa sebuah terjemahan yang mudah dipahami bukanlah terjemahan yang baik apabila pesannya menyimpang dari pesan teks bahasa sumber. Oleh sebab itu penerjemah karya susastra perlu mempunyai pengetahuan yang luas tentang latar belakang sosiokultural dari bahasa sumber tersebut, memiliki pengetahuan dan kualitas khusus

(kesususastraan dan estetika, dan artistika kebahasaan), harus dapat

mengidentifikasi unsur-unsur susastra dan memiliki pemahaman budaya dan nilai- nilai karya susastra yang diterjemahkan, serta memahami karya susastra secara menyeluruh, memandang karya susastra sebagai suatu wacana yang mengandung unsur informasi, amanat, ekspresi pengarang, dan unsur fiksi.

Di dalam menerjemahkan novel, sangat mungkin penerjemah

commit to user

kesulitan penerjemah dalam mencari padanan istilah yang berkaitan dengan materi dan peristiwa budaya, kesulitan dalam aspek susastra, misalnya penerjemahan karakterisasi tokoh yang sepadan dengan keadaan masyarakat pembaca novel penerjemahan, dan juga kesulitan dalam aspek kebahasaan, misalnya dalam menerjemahkan struktur kalimat yang sangat panjang dan tata bahasa yang rumit. Padanan istilah yang berhubungan dengan kebiasaan serta pemahaman sosiokultural yang muncul dalam cerita, kata-kata khusus yang ada dalam Tsu, unsur-unsur susastra, dan gaya yang muncul di dalam keseluruhan teks novel perlu dikaji lebih mendalam. Hal ini dimaksudkan untuk mencari hubungan