KOMPAS(Nasional) - Selasa, 11 Dec 2012 Halaman: 1,15 Penulis: WHY; ATO; FER; IAM; ABK; HAN; JON; SEM Ukuran: 3775
Pelanggaran HAM
Presiden Diusulkan agar Minta Maaf
Jakarta, Kompas — Pemerintah diminta segera menuntaskan pengusutan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia pada masa lalu. Pemerintah juga harus bertanggung jawab menyelesaikan pelanggaran HAM akhir-akhir ini yang muncul akibat maraknya gejala intoleransi.
”Persoalan HAM masa lalu perlu diselesaikan dan dicarikan jalan keluar. Ketentuan HAM di konstitusi harus dilaksanakan dengan baik sehingga tidak ada lagi pelanggaran HAM di masa mendatang,” kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum AlbertHasibuan, Senin (10/12), di Jakarta.
Berkait dengan pelanggaran HAM pada masa lalu, Albert menyatakan akan mengusulkan kepada Presiden untuk mewakili pemerintah menyampaikan penyesalan dan meminta maaf atas kejadian pada masa lalu. Langkah itu merupakan penyelesaian secara politik, sekaligus bentuk rekonsiliasi untuk melepaskan bangsa dari beban sejarah yang kelam. Namun, usulan itu sepenuhnya keputusan Presiden.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam puncak peringatan Hari HAM di Istana Negara, Senin, mengatakan, pelanggaran HAM yang dilakukan negara kepada rakyat kini menurun drastis. Meski demikian, persoalan HAM tetap mengemuka karena pelanggaran HAM yang dilakukan sesama warga masyarakat masih terjadi. ”Pelanggaran HAM dari negara kepada rakyat menurun, tapi pelanggaran HAM horizontal masih terjadi,” kata Presiden.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad serta Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin hadir dalam acara itu. Dalam peringatan Hari HAM Ke-64, sejumlah lembaga swadaya masyarakat menyelenggarakan upacara duka atas matinya penegakan HAM di Indonesia. Aksi juga digelar di beberapa daerah.
”Kita harus jujur, bandingkan dengan 10 tahun lalu, banyak kemajuan,” kata Yudhoyono soal berkurangnya pelanggaran yang dilakukan negara kepada rakyat. Namun, pelanggaran HAM antarwarga masih terjadi. ”Masih banyak yang salah mengartikan kebebasan,” katanya.
Presiden menjelaskan, penegakan HAM merupakan bagian dari konstitusi dan juga merupakan roh reformasi dan nilai utama demokrasi. Namun, demokrasi tidak melulu berkait kebebasan. ”Demokrasi berkaitan dengan kebebasan dan pranata hukum, berkaitan dengan hak dan kewajiban warga negara. Mari kita pasangkan masing-masing bagian itu,” katanya.
Dengan demikian, HAM tidak boleh digunakan semaunya sampai mengganggu HAM orang lain. ”Penggunaan hak juga dibatasi, dengan moral, agama, keamanan, dan ketertiban umum. Jadi, itu tidak absolut,” kata Yudhoyono.
kliping
ELSAM
Seiring dengan membaiknya penegakan HAM di Indonesia dibandingkan masa silam, menurut Presiden, Indonesia pun kini lebih aktif mendorong pengembangan HAM di kawasan. ”Kita sangat aktif dan berkontribusi dalam pengembangan HAM di kawasan, di ASEAN,” katanya. Amir Syamsuddin menilai, penegakan HAM saat ini sudah baik. ”Kalau mau jujur, belum pernah rakyat Indonesia menikmati dengan baik hak asasinya seperti saat sekarang ini,” katanya.
Dalam kajian The Habibie Center (THC), kekerasan selama Mei-Agustus 2012 masih tetap tinggi, yaitu 2.344 kasus dengan 291 korban tewas. Ribuan kasus itu banyak terkait konflik persinggungan harga diri dan main hakim sendiri, serta masalah kriminalitas.
”Dibanding periode sebelumnya, ada peningkatan isu identitas sampai lebih dari dua kali lipat. Dampak tewas dalam isu sumber daya meningkat sekitar empat kali lipat. Dampak kekerasan akibat isu separatisme dan kekerasan pelajar meningkat dua kali lipat,” kata Inggrid Galuh Mustikawati, peneliti THC.
kliping
ELSAM
http://pik.kompas.co.id/tark_detail.cfm?item=6&startrow=1&style=advanced&session=1356064955630 Tajuk Rencana: HAM Tetap Jadi Isu SentralKOMPAS(Nasional) - Selasa, 11 Dec 2012 Halaman: 6 Penulis: - Ukuran: 2800 Tajuk Rencana: HAM Tetap Jadi Isu Sentral
Enam puluh empat tahun lalu, 10 Desember 1948, Majelis Umum PBB mengeluarkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.
Deklarasi yang berisi pernyataan semesta mengenai hak asasi manusia itu sering disebut John Humprey, mantan Direktur HAM PBB, sebagai Magna Charta Umat Manusia. Deklarasi HAM
itu disahkan tanpa ada suara penolakan, meski ada beberapa negara abstain.
Adalah sebuah kenyataan, peringatan hari hak asasi manusia ditandai dengan seremoni. Ada diskusi, ada unjuk rasa, ada pernyataan pers, juga ada imbauan dan pernyataan dari berbagai pihak soal kondisi hak asasi manusia di Tanah Air. Namun, pada sisi lain, kendati konstitusi telah menjamin penghormatan atas hak asasi manusia, impunitas masih ada, orang hilang masih belum ditemukan, kebebasan beragama masih ada gangguan, hak kelompok minoritas masih terabaikan, dan penguasaan lahan oleh kelompok tertentu masih menciptakan pelanggaran hak ekonomi dan sosial.
Gerakan Reformasi 1998 telah mengadopsi sebagian besar Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Nilai hak asasi manusia telah diakomodasi oleh konstitusi. Kebebasan berpendapat, kebebasan berorganisasi, dan kebebasan berekspresi betul-betul sedang menikmati bulan madu. Di Indonesia saat ini, bicara apa pun boleh, unjuk rasa apa pun boleh. Namun, pertanyaan kemudian, apakah pemenuhan hak sipil dan politik itu saja sudah mencukupi?
Jawabannya tentu tidak! Kita kutip pernyataan mantan Presiden Senegal Leopold Senghor, hak asasi manusia dimulai dengan sarapan pagi. Jika pernyataan itu kita refleksikan sekarang, itu berarti kelangsungan hidup manusia butuh makanan yang cukup, air bersih, papan, dan akses terhadap kesehatan. Wajah kemiskinan masih bisa kita saksikan, termasuk di Ibu Kota. Hak asasi manusia haruslah dilihat secara utuh antara hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial dan budaya. Memperhatikan setengah dari hak asasi manusia sama dengan memperhatikan setengah kemanusiaannya. Kebebasan sipil dan politik tetap membutuhkan roti.
Tahap akhir konsolidasi demokrasi Indonesia, minimal secara teoretis, di tahun 2014 seharusnya merampungkan pekerjaan rumah kita menghomati HAM. Berbagai pelanggaran hak asasi masa lalu harus dirampungkan agar masalah itu tidak terus hanya menyandera perjalanan kehidupan bangsa. Hak asasi tetap menjadi isu sentral.
Pemerintah harus mengambil peran signifikan untuk mempromosikan hak asasi manusia, menghormati, melindungi, dan menyediakan pemenuhan hak asasi manusia yang dijamin
konstitusi. Kesejahteraan manusia haruslah menjadi tujuan sesuai lahirnya Deklarasi HAM. Apa saja yang menyimpang dari kesejahteraan manusia harus dipertanyakan, terlepas dari
pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi, kekuasaan politik, dan kestabilan politik sebuah wilayah.
kliping
ELSAM
http://pik.kompas.co.id/tark_detail.cfm?item=7&startrow=1&style=advanced&session=13 56064955646Hak Asasi Manusia: Kohesi Sosial Bangsa Makin Rapuh
KOMPAS(Nasional) - Rabu, 12 Dec 2012 Halaman: 4 Penulis: ONG Ukuran: 2254 hak Asasi manusia
Kohesi Sosial Bangsa Makin Rapuh
JAKARTA, KOMPAS — Toleransi dan kohesi sosial bangsa Indonesia merosot sepanjang 2012 dan pemerintah membiarkan kekerasan terus terjadi. Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Otto Syamsudin Ishak dalam jumpa pers akhir tahun di Jakarta, Selasa (11/12), menjelaskan, bangsa Indonesia semakin tidak toleran dan kohesi sosial bangsa semakin rapuh.
”Kita melihat kasus Lampung, Sampang di Madura, dan lain-lain. Sentimen keagamaan,
kecemburuan sosial, dan etnisitas meletup dalam kekerasan. Aparat keamanan, yakni polisi dan negara, mengabaikan kekerasan dan kekerasan dibiarkan terjadi meski seharusnya bisa dicegah,” kata Otto.
Kekerasan yang dibiarkan berlarut-larut terjadi oleh aparat akan membuat rapuh semangat kebangsaan. Polisi juga menjadi aktor negara yang paling banyak dilaporkan ke Komnas HAM
atas tindakan penahanan, penangkapan, diskriminasi, dan penyiksaan fisik.
Menurut Otto, banyak titik api kerusuhan sosial di Lampung tidak sekadar kasus Bali Nuraga. Sejauh ini tidak terlihat antisipasi terhadap kemungkinan konflik sosial di Lampung dan daerah lain di Indonesia. Konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan menjadi persoalan besar kedua sepanjang tahun 2012 yang dicatat Komnas HAM.
Kasus besar lainnya adalah impunitas pelaku kejahatan HAM terhadap kasus-kasus
pelanggaranHAM berat di masalalu. Komisioner Komnas HAM baru masa tugas 2012-2017 saat ini juga berusaha melanjutkan penuntasan kasus 1965 dan penembakan misterius tahun 1980-an.
Ketua Subkomisi Pengkajian Komnas HAM Roichatul Aswidah mengatakan, Komnas HAM
periode 2012-2017 berkomitmen melanjutkan kerja Komnas HAM periode sebelumnya terutama
pelanggaranHAMmasa silam dengan menghasilkan rekomendasi politik dan dibahas menyeluruh.
Sementara itu, Ketua Subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan PelanggaranHAM Natalius Pigai mengatakan, pihaknya sudah menemui Kapolda Papua Inspektur Jenderal Tito Karnavian terkait kekerasan terhadap masyarakat di Papua.
”Menurut Kapolda, sekarang muncul aktivis bersenjata OPM generasi baru. Mereka berusaha mencari eksistensi. Kita berusaha agar aparat memilah tindakan terhadap masyarakat dan gerakan bersenjata,” kata Pigai. (ONG)