• Tidak ada hasil yang ditemukan

SBY Dianggap Tidak Serius Selesaikan Pelanggaran HAM

Dalam dokumen 2012 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 153-161)

Elsam memandang selama masa pemerintahan SBY hampir tidak ada inisiatif yang sungguh-sungguh dan nyata untuk menyelesaikan pelanggaran HAM

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai tidak mempunyai itikad baik untuk

menyelesaikan sejumlah kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu di Indonesia.

Hal itu dikatakan oleh Deputi Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Zainal Abidin dalam konferensi pers bertajuk "Presiden Harus Segera Menyelesaikan Pelanggaran HAM Masa Lalu", hari ini, di Jakarta.

"Elsam memandang selama masa pemerintahan SBY hampir tidak ada inisiatif yang sungguh-sungguh dan nyata untuk menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu," kata Zainal.

Zainal menceritakan penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu di jaman pemerintahan SBY justru mandeg.

Menurut Zainal, SBY menjadi orang yang menghambat penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu. SBY, kata Zainal, tidak menindaklanjuti rekomendasi-rekomendasi yang dibuat oleh DPR dan Komisi Nasional (Komnas) HAM terkait penyelesaian sejumlah kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Dia mencontohkan terkait kasus penghilangan paksa aktivis 1997/1998, DPR dan Komnas HAM sudah memberikan empat rekomendasi.

Presiden diminta membentuk pengadilan HAM Ad Hoc, memerintahkan pencarian terhadap 13 orang yang dinyatakan hilang, merehabilitasi dan memerikan kompensasi terhadap keluarga korban dan meratifikasi konvensi anti penghilangan paksa.

Hal ini berbeda jauh dengan presiden-presiden lainnya. Zainal mengatakan Habibie, Megawati Soekarno Putri dan Abdurahman Wahid masing-masing pernah membuat gebrakan dalam hal

kliping

ELSAM

penyelesaian kasus pelanggaran HAM.

Habibie pernah menginisiasi pelanggaran HAM di Aceh sekaligus meminta maaf kepada korban pelanggaran HAm di Aceh. Selain itu, Habibie juga berinisiatif meminta maaf pada korban tragedi Mei 1998.

Sementara Gus Dur, merealisasikan Undang-Undang tentang Pengadilan HAM No.26/2000 dan memberikan pernyataan minta maaf atas pelanggaran HAM.

"Megawati berhasil menggelar dua pengadilan HAM untuk kasus pelanggaran HAM tahun 1999 di Timor-Timur dan Tanjung Priok tahun 1984," kata Zainal.

Elsam, kata Zainal, mendesak agar SBY segera melakukan tindakan nyata terhadap kasus pelanggaran HAM masa lalu. Hal itu bisa dilakukan dengan menindaklanjuti semua rekomendasi DPR.

Kemudian, Presiden juga harus memerintahkan Kejaksaan Agung untuk menindakalanjuti semua laporan Komnas HAM soal kasus pelanggaran HAM di masa lalu yang berlum terselesaikan.

Selain itu, Zainal mengatakan kunci keberhasilan penyelesaian kasus pelanggaran HAM adalah adanya pengawasan yang aktif dari DPR terhadap kinerja Presiden.

"Masyarakat juga harus proaktif agar semua penyelidikan kasus pelanggaran HAM masa lalu tidak mandek," kata Zainal.

Berdasarkan hasil penyelidikan Komnas HAM, terdapat sejumlah kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu yang belum ditindaklanjuti oleh presiden.

Pertama adalah Tragedi penembakan mahasiswa Universitas Trisaksi di Semanggi I dan II yang terjadi tahun 1998 dan 1999. Kedua, peristiwa Mei 1998 berupa pembunuhan, penghilangan paksa dan pembakaran. Ketiga penghilangan orang secara paksa tahun 1997-1998. Keempat peritiwa pembunuhan, penyiksaan, penganiayaan dan penghilangan paksa di Talangsari, Lampung tahun 1989. Kelima, peristiwa pelanggaran HAM tahun 1965.

kliping

ELSAM

http://nasional.sindonews.com/read/2012/09/23/13/674307/presiden-didesak-selesaikan-kasus-ham Presiden didesak selesaikan kasus HAM

Lili Sunardi - Sindonews

Senin, 24 September 2012 − 01:36 WIB

Ilustrasi (Istimewa)

Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didesak untuk segera

menyelesaikan beberapa kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang pernah terjadi di Indonesia dengan membentuk komite independen yang secara khusus menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM.

Direktur eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Indriaswati Saptaningrum mengatakan, Presiden SBY harus segera menindaklanjuti rekomendasi DPR terkait penghilangan orang secara paksa tahun 1997-1998, dengan memastikan keberadaan, dan status orang-orang yang dinyatakan masih hilang.

"Sudah sepatutnya presiden menginstruksikan kepada Jaksa Agung agar segera menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan dan penuntutan," katanya melalui siaran pers yang diterima wartawan di Jakarta, Minggu 23 September 2012.

Menurutnya, pelaksanaan rekomendasi tersebut juga harus disertai dengan pengawasan dari DPR dengan cara pro-aktif melahirkan kebijakan legislasi yang mendukung penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu.

Selain itu menurutnya, Komnas HAM juga harus terus mendorong Kejagung untuk segera mengambil tindakan, untuk menyelesaikan pelanggaran HAM di masa lalu, khususnya tindak lanjut atas hasil penyelidikan Komnas HAM.

"Peran LPSK dalam hal ini juga penting, kaitannya dengan pemberian bantuan bagi korban pelanggaran HAM yang berat, khususnya pemberian bantuan medis, dan rehabilitasi psiko-sosial," tandasnya.

kliping

ELSAM

kliping

ELSAM

http://pik.kompas.co.id/tark/detail.cfm?item=1&startrow=1&style=advanced&session=134 9148973890

Pelanggaran HAM: "Kami Takkan Pernah Melupakannya"

KOMPAS(Nasional) - Senin, 01 Oct 2012 Halaman: 1,15 Penulis: IRMA TAMBUNAN

Ukuran: 5750 Pelanggaran HAM

”Kami Takkan Pernah Melupakannya”

Perjalanan dari Stasiun Oranienburg menuju Memorial Sachsenhausen hanya butuh waktu 20 menit berjalan kaki. Namun, Annette sejak awal mewanti-wanti kami untuk berhati-hati. ”Jangan memisahkan diri dari kelompok,” ujarnya mengingatkan kami.

Oleh IRMA TAMBUNAN

Annette adalah Project Manager International Institute for Journalism of GIZ. Ia jadi

penanggung jawab keselamatan kami, 10 jurnalis yang semuanya berasal dari Asia dan Afrika, selama di Jerman.

Ia khawatir kami rentan mengalami provokasi saat berada di sekitar kawasan bekas kamp konsentrasi penyiksaan korban Nazi di Memorial Sachsenhausen, sekitar 35 kilometer di utara Berlin, Jerman. Dengan tetap bersama memudahkan kami untuk saling menjaga satu sama lain. Nasihat serupa datang dari warga Jerman lainnya, Andre Walter (67). Dia mengingatkan agar jangan berjalan sendirian di sejumlah tempat di bekas wilayah timur lewat dari pukul 21.00. ”Membahayakan keselamatanmu,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Kami mengira nasihat itu berlebihan. Selama dua bulan berada di Berlin, sejak Juli lalu, kami belum pernah mengalami bentuk provokasi apa pun sewaktu menyusuri malam di kawasan bekas wilayah Jerman Timur yang dibatasi Sungai Media Spree. Justru lebih aman di sini ketimbang di Jakarta yang marak oleh tindak kekerasan. Kawasan bekas perbatasan Jerman Barat dan Jerman Timur ini merupakan salah satu tempat favorit untuk menghabiskan waktu luang bersama teman. Di sanalah kami menikmati indahnya senja, berhubung selama musim panas tahun ini langit Berlin hampir selalu cerah.

Kembalikan kekuatan lama

Walter bercerita, belakangan ini ada semacam gerakan yang menginginkan kembalinya kekuatan lama, entah itu pada masa kekuasaan Nazi hingga berdirinya tembok tinggi Berlin. Pada intinya, mereka bermaksud membentengi Jerman dari dunia luar. Ada yang menyebutnya sebagai gerakan Nazi baru (new nazism movement). Ada pula keinginan kelompok tertentu membangun tembok baru Berlin. ”Mereka tidak menghendaki keadaan seperti sekarang di mana begitu banyak pendatang masuk ke Berlin. Mereka tidak lagi merasa nyaman,” ujarnya.

Dia mencontohkan, di kawasan Kreuzberg, salah satu konsentrasi penduduk pendatang dari Turki, sering terjadi provokasi terhadap pendatang yang sesekali berujung pada kekerasan fisik.

kliping

ELSAM

Walter prihatin dan merasa perlu bertanggung jawab menjaga keselamatan warga pendatang yang dia kenal.

Terlepas dari nasihat itu, saya berpikir ada baiknya menurut demi keselamatan diri sendiri. Terlebih saat memasuki kamp konsentrasi Nazi Brandenburgische Gedenkstatten, suasana mencekam masa lalu masih terasa. Padahal, pelanggaran HAM berupa pembantaian yang dialami oleh lebih dari 50.000 warga sipil dalam kamp itu sudah puluhan tahun silam terjadi. Secara keseluruhan, korban tewas semasa kekuasaan Nazi lebih dari 7 juta jiwa. Korban tersebar di sejumlah kamp serupa di penjuru Eropa.

Kamp seluas 5 hektar ini telah menjadi arena kunjungan wisata. Sepuluh barak dijadikan arena museum, masih lengkap dengan perlengkapan rekonstruksi. Pada salah satu barak penyiksaan korban yang ditempatkan di sisi sayap museum, ratusan tempat tidur berderetan dalam satu ruangan besar. Lalu, ada ruangan lain yang menjadi tempat mandi dan buang air secara massal. Bisa dibayangkan, setiap hari sekitar 400 tahanan Nazi memenuhi ruang berukuran hanya sekitar 6 meter x 8 meter. Mereka memiliki kesempatan mandi dan buang air hanya dalam waktu 30 menit.

Dalam ruangan itu terdapat delapan toilet duduk yang berimpitan sehingga tahanan terpaksa membuang air berbarengan dengan yang lain. Di ruangan lain terdapat empat bak mandi air dingin dan ruangan terbuka hanya bersekat rendah untuk membersihkan badan, tentunya juga digunakan secara massal. Fasilitas ini sebenarnya bisa disebut bagian dari penyiksaan bagi korban Nazi.

Barak lain berlorong panjang dengan sel berukuran 2 meter x 3 meter adalah tempat bagi tentara yang menjadi tahanan. Sel ini hanya berisi sebuah dipan kecil usang untuk tempat beristirahat dan sebuah jendela.

Suasana horor masa lalu juga kami rasakan saat menyusuri jalan sekitar kompleks kamp. Ada gambar dan rekonstruksi para korban yang ditembak, digantung di tiang kayu, dibiarkan kelaparan hingga mati dalam kondisi tubuh yang teramat kurus. Sebagian korban yang tewas dibiarkan terbaring di jalanan.

Seorang tahanan asal Rusia yang mampu bertahan dan akhirnya bebas dari kamp, Mark Tilevitch, memberikan sebuah testimoni dalam surat yang menyebutkan besarnya tekanan menyaksikan temannya ditembak dan dibiarkan membusuk, tahun 1945. Peristiwa itu

menciptakan teror bagi tahanan lain. ”Even in our worst nightmares we could not have imagined the horror that awaited us.... We heard shots.... We realised that anyone who couldn’t go on any further was being shot, right there on the spot.... Imagine, they didn’t pick up the bodies.... It was a horrific march”.

Situs The Atlantic pada edisi November 2011 menyebutkan, gerakan Neonazi tumbuh dan kian mengkhawatirkan pemerintah setempat. Gerakan ini muncul akibat kekhawatiran semakin banyaknya imigran baru masuk Jerman serta krisis ekonomi Eropa yang membebani keuangan

kliping

ELSAM

negara ini.

Akankah gerakan itu diamini masyarakat Jerman seutuhnya? Walter mengatakan peristiwa kelam itu adalah kesalahan masa lalu. ”Kami takkan pernah melupakannya sebagai bagian dari sejarah negeri ini, tetapi juga tidak akan pernah memaafkannya. Jangan sampai gerakan serupa terulang kembali,” tuturnya. Namun, tak semua orang di Jerman berpikir seperti Walter. Seperti di negeri ini, ada juga yang merindukan kembalinya kekuasaan represif masa lalu.

kliping

ELSAM

http://pik.kompas.co.id/tark/detail.cfm?item=1&startrow=1&style=advanced&session=1353395145470 Kilas Politik & Hukum: SBY Diminta Akui Ada Pelanggaran

KOMPAS(Nasional) - Senin, 01 Oct 2012 Halaman: 2 Penulis: ATO Ukuran: 999 Kilas Politik & Hukum: SBY Diminta Akui Ada Pelanggaran

Sebagai Kepala Negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai perlu mengakui adanya praktik kekerasan dan pelanggaran HAM berat setelah terjadi peristiwa 30 September 1965. ”Negara mengakui bahwa dulu ada pelanggaran HAM berat. Ada rakyat Indonesia yang disiksa, dibunuh, ditangkap, dan dipenjara tanpa melalui proses pengadilan. Negara dahulu gagal

melindungi rakyatnya. Jadi, yang perlu dilakukan adalah pengakuan adanya pelanggaran HAM, bukan permintaan maaf,” ujar sejarawan dan Pemimpin Redaksi Majalah Historia Bonnie Triyana, Minggu (30/9) di Jakarta. Ia menilai, Presiden sebenarnya tidak perlu menghadiri upacara Kesaktian Pancasila yang biasanya digelar pada 1 Oktober di Monumen Lubang Buaya, Jakarta. Alasannya, Peristiwa 30 September yang melatarbelakangi Peringatan 1 Oktober

merupakan peristiwa politik yang sangat kontroversial. Ada begitu banyak versi yang saling bertolak belakang terkait Peristiwa 30 September. (ATO)

kliping

ELSAM

Dalam dokumen 2012 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 153-161)