Kamis , 27 September 2012 17:12:45 Oleh : Benny Hermawan
KBRN, Surabaya : Pemerintah harus mewaspadai, gaya Komunis baru jika tidak ingin
terkungkung dalam bahaya laten yang disinyalir hingga kini diyakini masih ada di Indonesia. Menurut Sejararawan Univeristas Negeri Surabaya (Unesa) Aminudin Kasdi dengan adanya globalisasi yang dijiwai demokratisasi dan hak azasi manusia (HAM) sekarang ini, komunisme
akan lebih mudah masuk dan berafiliasi.
"Budaya tawuran, prilaku-prilaku menyimpang dari organisasi negara, seperti budaya korupsi, tindakan-tindakan anarkis, dan pemikiran pemikiran radikal tokoh-tokoh politik, adalah kondisi real yang sadar atau tidak, sudah mengarah pada prilaku komunis," ungkap Aminudin disela-sela Seminar Mewaspadai bahaya laten komunisme di Indonesia yang di gelar fakultas humum-UM Surabaya- forum Masyarakat Cinta Damai (Formacida) Jatim, Kamis (27/9).
kliping
ELSAM
Dijelaskan Aminudin Kasdi dengan demikian, pengaruh komunis akan terus hidup, meski hanya sekadar pemikiran yang akan mendorong klas-klas baru dalam masyarakat Indonesia
"Dalam pandangan-pandangan sosialis, sistem kapitalisme merasuk ke dalam masyarakat Indonesia, yang mendorong lahirnya klas-klas baru dalam masyarakat Indonesia, yaitu klas proletar, intelektual dan borjuasi Indonesia," tambahnya.
Lahirnya klas proletar, kata Aminudin, mendorong berdirinya organisasi serikat buruh. Dibanyak tempat di Indonesia berdiri serikat buruh, seperti serikat buruh pelabuhan, serikat buruh kereta-api, serikat buruh percetakan dan serikat buruh di pabrik-pabrik lainnya.
Percepatan pembangunan dengan konsep-konsep politik, seperti konsep biaya sekolah gratis, kesehatan gratis, penguasaan sumber-sumber alam dan sebagainya itu, menurut Aminudin, sekali-kali bukanlah untuk memajukan Indonesia, melainkan untuk mengintensifkan penghisapan atau penguasaan terhadap rakyat Indonesia.
Sementara itu Rektor Universitas Muhamadiyah Surabaya Prof dr Zainuddin Maliki
menambahkan, komunis tidak akan pernah mati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Entah itu dalam bentuk pemikiran maupun dalam kehidupan nyata.
Komunis di Indonesia, dengan bendera PKI-nya, mampu membawa perubahan besar. Tokoh-tokoh besar seperti Syahrir, Amir Syarifudin, Tan Malaka dan beberapa Tokoh-tokoh lainnya, yang menginginkan Indonesia merdeka 100 persen, mampu menciptakan konsep-konsep kenegaraan yang begitu luar biasa.
"Tapi, konsep-konsep ini tidak sesuai dengan Pancasila, karena tidak dilandasi oleh pemikiran agama," tambah Zainuddin.
Saat ini, faham komunis masih terus hidup. Prilaku komunis secara real, adalah para koruptor. "Sebab, apa yang diambilnya, itu adalah miliknya, adalah hak materi yang harus dikuasai tanpa memikirkan halal haram. Inilah yang kemudian menjadi bahaya laten yang patut diwaspadai. Karena sesungguhnya, komunis itu lahir bukan atas dasar konsep agama," pungkas Zainuddin. (Benny/WDA)
kliping
ELSAM
http://www.pasfmpati.com/101/index.php?option=com_content&view=article&id=3771:pemuda -pancasila-ajak-masyarakat-tangkal-waspadai-bahaya-latent-komunis&catid=1:latest-news PEMUDA PANCASILA AJAK MASYARAKAT TANGKAL WASPADAI BAHAYA LATENT KOMUNIS
Ditulis oleh Agus Pambudi
Selasa, 25 September 2012 19:00
pasfmpati.com (Pati, Kota) - Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasilan Kabupaten Pati, mengajak masyarakat mewaspadai bahaya laten yang berusaha mengikis keamanan negara. Salah satunya mengikut sertakan generasi muda dan ormas
kepemudaan dalam Seminar Pencegahan Bahaya Latent Komunis Di Era Globalisasi.
Derasnya arus globalisasi yang bersifat destruktif, seperti unjuk rasa yang anarkhi, kenakalan remaja, dan terorisme, perlu membentengi warganya dengan menanamkan dan membangun ketahanan nasional, utamanya kepada generasi mampu.
“Karena di era globalisasi ini banyak muncul indikasi yang seakan-akan destruktif. Artinya apa, Pemuda Pancasila Kabupaten Pati perlu untuk membentengi, seperti demontrasi yang berlebihan , anarkhi, dan arogansi,” katanya
Demikian ungkap Wakil Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Pati, Ali Rozikin kepada PAS Pati disela-sela Seminar sehari bertajuk “Pencegahan Bahaya Latent Komunis Di Era Globalisasi”, di Aula Bakorwil Pati, Selasa pagi, 25 September 2012.
Ali Rozikin berharap, hasil dari seminar yang digelar dapat memfilter (menyaring) generasi muda terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari luar. Sehingga tercipta kondusifitas wilayah, untuk mengamankan pembangunan didaerah, khususnya di Kabupaten Pati.
“Harapan dari Pemuda Pancasila ini, hasil seminar ini untuk bekal atau mengamankan daerah Pati,” tutur Wakil MPC Pemuda Pancasila Pati.
Perwakilan pelajar, mahasiswa, utusan omas kepemudaan, dan LSM se Kabupaten Pati, hadir mengikuti seminar sehari MPC Pemuda Pancasila bersama Kantor Kesbangpolinmas Pati.(*) KOMENTAR (0)
kliping
ELSAM
http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=262057:plt-gubsu-komunisme-harus-dihempang&catid=14:medan&Itemid=27
Thursday, 27 September 2012 22:10
Plt Gubsu: Komunisme harus dihempang
RIDIN WASPADAONLINE
(Ilustrasi)
MEDAN - Kegiatan Sarasehan maupun seminar tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila akhir-akhir ini sudah semakin jarang dilaksanakan, malah tidak bergema lagi sehingga para generasi muda, pelajar, siswa/siswi dan mahasiswa/mahasiswi dikhawatirkan rasa masionalisme, kesetiaan dan kecintaannya terhadap Pancasila semakin menurun. Padahal pancasila adalah sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia yang harus kita junjung tinggi setiap saat dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut diungkapkan oleh Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Gatot Pujo Nugroho, dalam sambutannya yang dibacakan Sekdaprov Sumut, Nurdin Lubis saat menghadiri acara Sarasehan dalam Rangka Hari Kesaktian Pancasila Provsu Tahun 2012, di Gedung Binagraha Pemprovsu.
Plt Gubsu berharap semua komponen bisa bersatu padu dan bergotong royong dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga kemungkinan bangkitnya bahaya latin komunisme di negeri nusantara ini bisa dicegah.
Sejarah membuktikan bahwa komunis telah beberapa kali memaksakan kehendak yang nyata-nyata bertentangan dengan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia.
"Untuk itu jika ada upaya untuk menghambat tujuan dan cita-cita bangsa indonesia patut ditumpas dan diantisipasi sedini mungkin tanpa memberikan ruang gerak kepada pihak-pihak lain yang ingin menumbangkan NKRI yang kita cintai ini," kata Nurdin mengutip sambutan Plt Gubsu, hari ini.
Pancasila tercantum untuh dalam Aline ketiga Pembukaan UUD 1945, berbunyi sebagai berikut "Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan dan berkebangsaan yang bebas, maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 ini memberika penegasan apa yang menjadi motivasi bangsa Indonesia menyatakan Kemerdekaannya dan sekaligus yakin sepenuhnya, Kemerdekaan itu adalah berkat Rahmat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa dan pernyataan ini menunjukkan
kliping
ELSAM
ketaqwaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Jika mau dicermati, perebutan kekuasaan oleh PKI yang terjadi tanggal 19 September 1948 dan kup berdarah 30 September 1965, nada dan iramanya serupa.Keduanya sama-sama dilakukan dengan melakukan infiltrasi ke berbagai organisasi bahkan juga masuk ke angkatan bersenjata. Kedua pemberontakan itu juga terbukti cukup sadis dan tidak berperikemanusiaan. Dengan tujuan mengganti Pancasila sebagai ideologi negara dengan mengorbankan putra putri terbaik bangsa terdiri dari Letnan Jenderal A. Yani, Mayor Jenderal Suprapto, Mayor Jenderal S.
Parman, Brigadir Jenderal DI Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo siswomihardjo, sedangkan tiga orang lagi terbunuh Kapten Piere Tandean, Kolonel Sugiono, Aipda Karel Satsuitubun.
Jauh sebelum melancarkan gerakan 30 September, Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi pendukungnya telah melakukan berbagai macam teror, penganiayaan, pembunuhan dan mengadakan demonstrasi serta berbagai aksi, baik di kota sampai ke desa-desa.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Provinsi Sumatera Utara Tahun 2012 dirangkaikan dengan pelaksanaan sarasehan pada hari ini, bertujuan untuk melestarikan, membina dan
mengembangkan nilai-nilai perjuangan khususnya perjuangan para pahlawan revolusi sekaligus untuk meningkatkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupaan berbangsa dan bernegara, dengan harapan kiranya tragedi pengkhianatan terhadap pancasila tersebut merupakan bahaya latin dan tidak terulang kembali.
Generasi muda tidak boleh melupakan sejarah kelam terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan harus dijadikan pelajaran berharga bagi semua pihak terutama bagi para generasi muda harapan bangsa kedepan.
Nilai-nilai luhur pancasila perlu dibumikan kembali melalui sosialisasi dibangku sekolah maupun dilingkungan masyarakat, karena pada era reformasi ini pengenalan dan pengajaran nilai-nilai luhur Pancasila merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa yang majemuk. Ketua Panitia Acara Sarasehan dalam rangka Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Provinsi Sumatera Utara 2012 Sakhira Zandi mengatakan, acara yang berlangsung satu hari di Gedung Binagraha Pemprovsu mempunyai maksud dan tujuan untuk menumbuhkan semangat rasa nasionalisme, kesetiaan dan kecintaan terhadap Pancasila sebagai Dasar dan Falsafah Negara RI Kegiatan juga untuk melestarikan, membina dan mengembangkan nilai-nilai sekaligus untuk meningkatkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan memotivasi anak bangsa guna memperkokoh kesatuan dan persatuan dalam mempertahankan NKRI.
kliping
ELSAM
Kegiatan ini diikuti sekitar 190 orang yang yang terdiri dari organisasi kepemudaan 36 orang, karang taruan 10 orang, mahasiwa/i perguruan tinggi negeri/swasta 45 orang, pelajar siswa/i SMU/Sederajat 91 orang dan media massa 8 orang.
Sedangkan narasumber berasal dari Dewan Harian Angkatan 45 Sumut Nina Karina, Pengurus Forum Eksponen 66 Sumut H.Sugeng Iman Soepomo, Legiun Veteran RI Sumut H.Muhammad TWH, Forum Anti Komunis Sumut Abu Sofyan dan nara sumber dari LPPM Unimed Majda L Muhtaj.
Editor: SASTROY BANGUN (dat06/wol)
kliping
ELSAM
http://www.antarajatim.com/lihat/berita/96019/sejarawan-masyarakat-harus-waspada-munculnya-paham-komunis