• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman Guru A

Dalam dokumen Contoh Penelitian Kualitatif dalam Pendi (Halaman 85-93)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pemahaman Guru A

Guru A memperoleh pengetahuan tentang Standar Proses Kurikulum 2013

dari workshop kurikulum sekolah dan workshop kurikulum pusat, serta membaca

langsung teks Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 yang didownload secara

mandiri melalui internet. Guru A mengungkapkan bahwa pemerintah pusat tidak

memberikan panduan berupa buku khusus yang memuat konsep pembelajaran

berbasis Standar Proses Kurikulum 2013 (Wan/D1/GA/18-04-2015/T1). Guru A mengaku telah mengikuti workshop kurikulum sebanyak tiga kali, dengan rincian

workshop yang diadakan sekolah sebanyak dua kali dan workshop yang diadakan

pusat sebanyak satu kali. Guru A mengungkapkan bahwa hal yang dibahas ketika

mengikuti workshop adalah teknis evaluasi pembelajaran. Hal ini dikarenakan

kebanyakan guru mengalami permasalahan dalam melakukan evaluasi, seperti

permasalahan dalam menyusun rubrik penilaian dan teknis pelaksanaannya

(Wan/D1/GA/18-04-2015/T2).

Guru A memahami bahwa perbedaan Kurikulum 2013 dengan Kurikulum

2006 terletak pada spesifikasi pengembangan aspek kepribadian siswa. Pada

dan sederhana, sedangkan pada Kurikulum 2013, pengembangannya dituntut

secara eksplisit dan terperinci. Namun demikian, tuntutan penerapan pendekatan

saintifik dan model pembelajaran discovery learning, problem based learning, dan

project based learning pada Kurikulum 2013 dinilai bukan merupakan hal yang

baru dalam pembelajaran fisika. Guru A percaya bahwa tuntutan penerapan

pendekatan saintifik tidak akan menjadi permasalahan bagi guru mata pelajaran

IPA karena sebagian besar guru IPA sudah terbiasa menerapkan model

pembelajaran kooperatif yang juga memuat kegiatan mengamati, menanya,

mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Guru A berikut. “Kalau untuk guru IPA, pendekatan saintifik mungkin nggak terasa. Tapi bagi orang IPS, proses belajarnya jadi berbeda. Saya sering pakek problem based learning dan project based learning. Jadi, ada Kurikulum 2013 yang merekomendasikan tiga model, problem based learning, inquiry, sama project. Ya udah, sudah biasa bagi guru IPA” (Wan/D1/GA/18-04-2015/T26).

Guru A menilai proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 tidak jauh

berbeda dengan Kurikulum 2006. Guru A memahami karakteristik pembelajaran

berbasis Kurikulum 2013 sebagai suatu proses bagi siswa untuk memperoleh

pengetahuan melalui pendekatan saintifik. Menurut Guru A, pendekatan saintifik

adalah sebuah proses pembelajaran yang mengadaptasi langkah-langkah ilmuan

dalam melakukan penelitian, yaitu menemukan masalah, menanya, merumuskan

hipotesis, mengeksplorasi sumber, mengelaborasi, dan mengkomunikasikan.Guru

A memahami bahwa langkah-langkah pembelajaran berbasis pendekatan saintifik

tersebut secara implisit telah termuat dalam model pembelajaran 5E dan

pendekatan-pendekatan ilmiah lain yang diterapkan guru IPA pada Kurikulum

2006 (Wan/D1/GA/18-04-2015/T4).

Guru A memahami bahwa perencanaan pembelajaran berbasis Kurikulum

2013 lebih terperinci dibandingkan dengan perencanaan pembelajaran Kurikulum

2006. Hal ini dikarenakan dalam Kurikulum 2013, guru diwajibkan menggunakan

pendekatan saintifik dalam merencanakan kegiatan pembelajaran, dengan

didukung oleh model-model pembelajaran yang direkomendasikan oleh pusat.

Dengan demikian, perencanaan kegiatan pembelajaran pada RPP yang dibuat oleh

guru harus memunculkan langkah-langkah pendekatan saintifik tersebut. Berbeda

dengan Kurikulum 2006, di mana model pembelajaran tidak ditentukan oleh

pusat, sehingga guru bebas memilih model pembelajaran yang akan diterapkan

(Wan/D1/GA/18-04-2015/T5).

Guru A menyatakan bahwa teknis penyusunan RPP antara Kurikulum 2013

dan Kurikulum 2006 tidak jauh berbeda. Menurut Guru A, yang membedakan

teknis pengembangan RPP Kurikulum 2013 dan RPP Kurikulum 2006 adalah

sistem penyusunan silabus serta istilah KI dan SK yang termuat pada silabus.

Pada Kurikulum 2013, silabus sudah disediakan oleh pusat, sehingga guru tidak

perlu membuat silabus, sedangkan pada Kurikulum 2006, guru harus

mengembangkan silabus secara mandiri atau berkelompok. Pada silabus

Kurikulum 2013, istilah yang digunakan adalah Kompetensi Inti, sedangkan pada

Kurikulum 2006, istilah yang digunakan adalah Standar Kompetensi.

Perbedaannya adalah KI pada Kurikulum 2013 menekankan aspek ketuhanan,

langkah-langkah penyusunan RPP, menurut Guru A tidak terdapat perbedaan yang

signifikan (Wan/D1/GA/18-04-2015/T6). Guru A juga mengungkapkan bahwa prinsip-prinsip penyusunan RPP Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 tidak jauh

berbeda (Wan/D1/GA/18-04-2015/T7).

Ditinjau dari segi komponen RPP, Guru A mengungkapkan bahwa terdapat

beberapa perbedaan antara Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006. Perbedaan yang

dimaksud terletak pada komponen KI-KD, komponen materi, dan komponen

penilaian. KI-KD dalam Kurikulum 2013 memuat aspek ketuhanan, sedangkan

SK-KD dalam Kurikulum 2006 tidak. Komponen materi dalam Kurikulum 2013

dikategorikan ke dalam fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Sedangkan dalam

Kurikulum 2006, komponen materi dijabarkan sesuai dengan urutan materi yang

akan disampaikan di kelas. Guru A menyatakan bahwa komponen penilaian dalam

Kurikulum 2013 jauh berbeda dengan Kurikulum 2006. Disamping itu, Guru A

juga menilai bahwa penilaian dalam Kurikulum 2013 lebih berat dibandingkan

dengan penilaian dalam Kurikulum 2006 (Wan/D1/GA/18-04-2015/T8).

Pemahaman Guru A tentang pelaksanaan pembelajaran berbasis Standar

Proses Kurikulum 2013 dipaparkan berdasarkan pandangan Guru A terhadap

standar proses kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup

pembelajaran yang ideal sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013, serta

perbandingannya dengan Standar Proses Kurikulum 2006. Pemahaman Guru A

terhadap standar proses kegiatan pendahuluan adalah sebagai berikut. Menurut

Guru A, hal terpenting yang harus dilakukan pada saat membuka pembelajaran

adalah memberikan apersepsi. Guru A menyatakan bahwa kegiatan apersepsi

dengan materi yang akan dipelajari siswa. Guru A tidak setuju bahwa apersepsi

merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengulas materi pembelajaran

sebelumnya. Guru A memandang apersepsi sebagai suatu kegiatan yang bertujuan

untuk mengarahkan siswa agar mengetahui manfaat materi yang akan dipelajari,

sehingga siswa akan tertarik untuk mempelajarinya. Jika siswa tertarik dengan

materi pembelajaran tersebut, maka siswa akan bertanya dan mengajukan

hipotesis, sehingga akan merangsang siswa untuk mengumpulkan informasi,

mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Dengan demikian, semua aspek

pendekatan saintifik yang dituntut dalam Kurikulum 2013 dapat berjalan dengan

baik. Namun, jika kegiatan apersepsi yang disampaikan guru merupakan ulasan

dari materi pembelajaran sebelumnya, maka menurut Guru A, siswa tidak akan

tertarik karena tidak menangkap manfaat materi pembelajaran dalam kehidupan

nyata. Akibatnya, aspek-aspek pendekatan saintifik tidak akan berjalan dengan

baik dan pembelajaran akan didominasi oleh guru (Wan/D1/GA/18-04-2015/T9). Pada kegiatan inti, Guru A memahami bahwa kegiatan pembelajaran harus

dilaksanakan sesuai dengan aspek-aspek pendekatan saintifik, yaitu mengamati,

menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

Guru A berpandangan bahwa kegiatan mengumpulkan informasi tidak hanya

dilakukan dengan membaca buku, namun juga dapat dilakukan dengan praktikum

dan mencari informasi dari internet. Guru A memahami bahwa model

pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan inti harus sesuai dengan model

pembelajaran yang direkomendasikan oleh pusat. Pemilihan model pembelajaran

dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik materi dan kondisi kelas

Guru A memahami bahwa penerapan pendekatan saintifik tidak hanya

bertujuan untuk mengembangkan aspek pengetahuan, namun juga bertujuan untuk

mengembangkan aspek sosial dan keterampilan siswa. Guru A memahami bahwa

proses pengembangan kompetensi siswa melalui pendekatan saintifik berawal dari

pengembangan aspek pengetahuan. Pengembangan aspek pengetahuan tersebut

akan berdampak pada pengembangan aspek sosial dan keterampilan siswa.

Kompetensi sosial dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran berkelompok,

sedangkan kompetensi keterampilan dikembangkan melalui kegiatan komunikasi

dan mengerjakan sesuatu, seperti praktikum dan proyek (Wan/D1/GA/18-04-2015/T11).

Guru A percaya bahwa aspek religius tidak hanya dilihat dari hubungan

siswa dengan Tuhan, melainkan juga hubungan siswa dengan orang lain, dan

hubungan siswa dengan lingkungannya (Tri Hita Karana). Berdasarkan

pemahaman tersebut, Guru A menilai bahwa aspek religius tidak dapat

dikembangkan hanya dengan mengajak siswa berdoa sebelum dan sesudah

pembelajaran. Guru A meyakini bahwa pengembangan aspek religius dapat

dilakukan dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan fenomena fisis dalam

kehidupan keseharian siswa, sehingga siswa dapat menyadari kebesaran Tuhan

dan bersyukur dengan hal tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guru A

berikut. “Secara detail, saya masih kurang paham dengan religius, karena pusat melihatnya religius siswa dikembangkan dengan berdoa sebelum belajar, saya nggak. Level religiusnya orang Indonesia sampai berdoa, gitu. Jadi, rajin berdoa sudah religius. Kalau orang sering membantu, tapi nggak pernah berdoa, bukan orang religius, gitu?” (Wan/D1/GA/18-04-2015/T12).

Guru A memahami bahwa kegiatan penutup pembelajaran dalam Standar

Proses Kurikulum 2013 tidak berbeda dengan Standar Proses Kurikulum 2006

(Wan/D1/GA/18-04-2015/T14). Menurut Guru A, yang harus dilakukan pada kegiatan penutup adalah mengulas kembali konsep-konsep yang telah dipelajari

dan memberikan gambaran materi yang akan dipelajari pada pertemuan

selanjutnya agar siswa dapat mempersiapkan materi tersebut di rumah. Guru A

tidak setuju bahwa kegiatan merangkum materi pembelajaran merupakan bagian

dari kegiatan penutup. Menurut Guru A, kegiatan merangkum materi

pembelajaran seharusnya dilakukan di akhir fase kegiatan inti, sebelum guru

melakukan evaluasi. Guru A juga memahami bahwa pemberian kuis dan PR

merupakan bagian akhir dari kegiatan inti. Menurut Guru A, yang dilakukan pada

kegiatan penutup hanya menyampaikan gambaran kegiatan dan materi yang akan

dipelajari pada pertemuan selanjutnya, serta menyampaikan salam penutup

(Wan/D1/GA/18-04-2015/T13).

Guru A memahami bahwa penilaian pembelajaran dalam Standar Proses

Kurikulum 2013 mencakup penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Penilaian sikap dilakukan dengan metode observasi, penilaian jurnal, penilaian

diri, dan penilaian antar siswa. Penilaian aspek pengetahuan dilakukan dengan tes

tulis dan tes lisan, sedangkan penilaian aspek keterampilan dilakukan dengan

penilaian proyek dan penilaian portofolio (Wan/D1/GA/18-04-2015/T15). Guru A mengungkapkan bahwa penilaian pembelajaran sebaiknya dilakukan secara

bertahap bukan serentak. Menurut Guru A, jika guru melakukan penilaian secara

serentak untuk semua jenis penilaian setiap pertemuan, maka guru hanya akan

terganggu. Menurut Guru A, penilaian secara serentak mungkin dapat dilakukan

jika guru mengajar secara berkelompok (Wan/D1/GA/18-04-2015/T16).

Guru A menyatakan bahwa Standar Penilaian Kurikulum 2013 berbeda

dengan Kurikulum 2006. Ditinjau dari segi penilaian aspek pengetahuan,

Kurikulum 2013 memuat penilaian lisan, sedangkan Kurikulum 2006 tidak

memuat hal tersebut. Dari segi penilaian sikap, Kurikulum 2006 tidak memuat

penilaian jurnal, penilaian diri, dan penilaian antar siswa, hanya penilaian

observasi. Sedangkan dalam Kurikulum 2013, semua jenis penilaian sikap

tersebut wajib dilaksanakan oleh guru. Terakhir, dari segi penilaian aspek

keterampilan, dalam Kurikulum 2006, guru diberikan kebebasan untuk

menentukan jenis penilaian aspek keterampilan yang akan digunakan. Sedangkan

dalam Kurikulum 2013, jenis penilaian aspek keterampilan sudah ditentukan oleh

pusat, yaitu penilaian proyek dan portofolio (Wan/D1/GA/18-04-2015/T17). Guru A memahami bahwa teknis remedial dalam Kurikulum 2013 dan

Kurikulum 2006 tidak berbeda. Guru A menjelaskan bahwa remedial adalah

sebuah upaya perbaikan terhadap materi yang belum dipahami siswa. Dengan

demikian, sebelum memberikan ujian remedi, guru seharusnya membahas materi

yang belum dipahami siswa tersebut, bukan langsung mengadakan ujian ulang.

Sedangkan untuk pengayaan, Guru A memahaminya sebagai upaya memperkaya

pengetahuan siswa dengan materi yang tingkat kesulitannya lebih tinggi.

Pengayaan diberikan kepada siswa yang nilai ulangannya telah memenuhi KKM

Dalam dokumen Contoh Penelitian Kualitatif dalam Pendi (Halaman 85-93)