HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pemahaman Guru A
Guru A memperoleh pengetahuan tentang Standar Proses Kurikulum 2013
dari workshop kurikulum sekolah dan workshop kurikulum pusat, serta membaca
langsung teks Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 yang didownload secara
mandiri melalui internet. Guru A mengungkapkan bahwa pemerintah pusat tidak
memberikan panduan berupa buku khusus yang memuat konsep pembelajaran
berbasis Standar Proses Kurikulum 2013 (Wan/D1/GA/18-04-2015/T1). Guru A mengaku telah mengikuti workshop kurikulum sebanyak tiga kali, dengan rincian
workshop yang diadakan sekolah sebanyak dua kali dan workshop yang diadakan
pusat sebanyak satu kali. Guru A mengungkapkan bahwa hal yang dibahas ketika
mengikuti workshop adalah teknis evaluasi pembelajaran. Hal ini dikarenakan
kebanyakan guru mengalami permasalahan dalam melakukan evaluasi, seperti
permasalahan dalam menyusun rubrik penilaian dan teknis pelaksanaannya
(Wan/D1/GA/18-04-2015/T2).
Guru A memahami bahwa perbedaan Kurikulum 2013 dengan Kurikulum
2006 terletak pada spesifikasi pengembangan aspek kepribadian siswa. Pada
dan sederhana, sedangkan pada Kurikulum 2013, pengembangannya dituntut
secara eksplisit dan terperinci. Namun demikian, tuntutan penerapan pendekatan
saintifik dan model pembelajaran discovery learning, problem based learning, dan
project based learning pada Kurikulum 2013 dinilai bukan merupakan hal yang
baru dalam pembelajaran fisika. Guru A percaya bahwa tuntutan penerapan
pendekatan saintifik tidak akan menjadi permasalahan bagi guru mata pelajaran
IPA karena sebagian besar guru IPA sudah terbiasa menerapkan model
pembelajaran kooperatif yang juga memuat kegiatan mengamati, menanya,
mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Guru A berikut. “Kalau untuk guru IPA, pendekatan saintifik mungkin nggak terasa. Tapi bagi orang IPS, proses belajarnya jadi berbeda. Saya sering pakek problem based learning dan project based learning. Jadi, ada Kurikulum 2013 yang merekomendasikan tiga model, problem based learning, inquiry, sama project. Ya udah, sudah biasa bagi guru IPA” (Wan/D1/GA/18-04-2015/T26).
Guru A menilai proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 tidak jauh
berbeda dengan Kurikulum 2006. Guru A memahami karakteristik pembelajaran
berbasis Kurikulum 2013 sebagai suatu proses bagi siswa untuk memperoleh
pengetahuan melalui pendekatan saintifik. Menurut Guru A, pendekatan saintifik
adalah sebuah proses pembelajaran yang mengadaptasi langkah-langkah ilmuan
dalam melakukan penelitian, yaitu menemukan masalah, menanya, merumuskan
hipotesis, mengeksplorasi sumber, mengelaborasi, dan mengkomunikasikan.Guru
A memahami bahwa langkah-langkah pembelajaran berbasis pendekatan saintifik
tersebut secara implisit telah termuat dalam model pembelajaran 5E dan
pendekatan-pendekatan ilmiah lain yang diterapkan guru IPA pada Kurikulum
2006 (Wan/D1/GA/18-04-2015/T4).
Guru A memahami bahwa perencanaan pembelajaran berbasis Kurikulum
2013 lebih terperinci dibandingkan dengan perencanaan pembelajaran Kurikulum
2006. Hal ini dikarenakan dalam Kurikulum 2013, guru diwajibkan menggunakan
pendekatan saintifik dalam merencanakan kegiatan pembelajaran, dengan
didukung oleh model-model pembelajaran yang direkomendasikan oleh pusat.
Dengan demikian, perencanaan kegiatan pembelajaran pada RPP yang dibuat oleh
guru harus memunculkan langkah-langkah pendekatan saintifik tersebut. Berbeda
dengan Kurikulum 2006, di mana model pembelajaran tidak ditentukan oleh
pusat, sehingga guru bebas memilih model pembelajaran yang akan diterapkan
(Wan/D1/GA/18-04-2015/T5).
Guru A menyatakan bahwa teknis penyusunan RPP antara Kurikulum 2013
dan Kurikulum 2006 tidak jauh berbeda. Menurut Guru A, yang membedakan
teknis pengembangan RPP Kurikulum 2013 dan RPP Kurikulum 2006 adalah
sistem penyusunan silabus serta istilah KI dan SK yang termuat pada silabus.
Pada Kurikulum 2013, silabus sudah disediakan oleh pusat, sehingga guru tidak
perlu membuat silabus, sedangkan pada Kurikulum 2006, guru harus
mengembangkan silabus secara mandiri atau berkelompok. Pada silabus
Kurikulum 2013, istilah yang digunakan adalah Kompetensi Inti, sedangkan pada
Kurikulum 2006, istilah yang digunakan adalah Standar Kompetensi.
Perbedaannya adalah KI pada Kurikulum 2013 menekankan aspek ketuhanan,
langkah-langkah penyusunan RPP, menurut Guru A tidak terdapat perbedaan yang
signifikan (Wan/D1/GA/18-04-2015/T6). Guru A juga mengungkapkan bahwa prinsip-prinsip penyusunan RPP Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 tidak jauh
berbeda (Wan/D1/GA/18-04-2015/T7).
Ditinjau dari segi komponen RPP, Guru A mengungkapkan bahwa terdapat
beberapa perbedaan antara Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006. Perbedaan yang
dimaksud terletak pada komponen KI-KD, komponen materi, dan komponen
penilaian. KI-KD dalam Kurikulum 2013 memuat aspek ketuhanan, sedangkan
SK-KD dalam Kurikulum 2006 tidak. Komponen materi dalam Kurikulum 2013
dikategorikan ke dalam fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Sedangkan dalam
Kurikulum 2006, komponen materi dijabarkan sesuai dengan urutan materi yang
akan disampaikan di kelas. Guru A menyatakan bahwa komponen penilaian dalam
Kurikulum 2013 jauh berbeda dengan Kurikulum 2006. Disamping itu, Guru A
juga menilai bahwa penilaian dalam Kurikulum 2013 lebih berat dibandingkan
dengan penilaian dalam Kurikulum 2006 (Wan/D1/GA/18-04-2015/T8).
Pemahaman Guru A tentang pelaksanaan pembelajaran berbasis Standar
Proses Kurikulum 2013 dipaparkan berdasarkan pandangan Guru A terhadap
standar proses kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup
pembelajaran yang ideal sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013, serta
perbandingannya dengan Standar Proses Kurikulum 2006. Pemahaman Guru A
terhadap standar proses kegiatan pendahuluan adalah sebagai berikut. Menurut
Guru A, hal terpenting yang harus dilakukan pada saat membuka pembelajaran
adalah memberikan apersepsi. Guru A menyatakan bahwa kegiatan apersepsi
dengan materi yang akan dipelajari siswa. Guru A tidak setuju bahwa apersepsi
merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengulas materi pembelajaran
sebelumnya. Guru A memandang apersepsi sebagai suatu kegiatan yang bertujuan
untuk mengarahkan siswa agar mengetahui manfaat materi yang akan dipelajari,
sehingga siswa akan tertarik untuk mempelajarinya. Jika siswa tertarik dengan
materi pembelajaran tersebut, maka siswa akan bertanya dan mengajukan
hipotesis, sehingga akan merangsang siswa untuk mengumpulkan informasi,
mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Dengan demikian, semua aspek
pendekatan saintifik yang dituntut dalam Kurikulum 2013 dapat berjalan dengan
baik. Namun, jika kegiatan apersepsi yang disampaikan guru merupakan ulasan
dari materi pembelajaran sebelumnya, maka menurut Guru A, siswa tidak akan
tertarik karena tidak menangkap manfaat materi pembelajaran dalam kehidupan
nyata. Akibatnya, aspek-aspek pendekatan saintifik tidak akan berjalan dengan
baik dan pembelajaran akan didominasi oleh guru (Wan/D1/GA/18-04-2015/T9). Pada kegiatan inti, Guru A memahami bahwa kegiatan pembelajaran harus
dilaksanakan sesuai dengan aspek-aspek pendekatan saintifik, yaitu mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.
Guru A berpandangan bahwa kegiatan mengumpulkan informasi tidak hanya
dilakukan dengan membaca buku, namun juga dapat dilakukan dengan praktikum
dan mencari informasi dari internet. Guru A memahami bahwa model
pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan inti harus sesuai dengan model
pembelajaran yang direkomendasikan oleh pusat. Pemilihan model pembelajaran
dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik materi dan kondisi kelas
Guru A memahami bahwa penerapan pendekatan saintifik tidak hanya
bertujuan untuk mengembangkan aspek pengetahuan, namun juga bertujuan untuk
mengembangkan aspek sosial dan keterampilan siswa. Guru A memahami bahwa
proses pengembangan kompetensi siswa melalui pendekatan saintifik berawal dari
pengembangan aspek pengetahuan. Pengembangan aspek pengetahuan tersebut
akan berdampak pada pengembangan aspek sosial dan keterampilan siswa.
Kompetensi sosial dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran berkelompok,
sedangkan kompetensi keterampilan dikembangkan melalui kegiatan komunikasi
dan mengerjakan sesuatu, seperti praktikum dan proyek (Wan/D1/GA/18-04-2015/T11).
Guru A percaya bahwa aspek religius tidak hanya dilihat dari hubungan
siswa dengan Tuhan, melainkan juga hubungan siswa dengan orang lain, dan
hubungan siswa dengan lingkungannya (Tri Hita Karana). Berdasarkan
pemahaman tersebut, Guru A menilai bahwa aspek religius tidak dapat
dikembangkan hanya dengan mengajak siswa berdoa sebelum dan sesudah
pembelajaran. Guru A meyakini bahwa pengembangan aspek religius dapat
dilakukan dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan fenomena fisis dalam
kehidupan keseharian siswa, sehingga siswa dapat menyadari kebesaran Tuhan
dan bersyukur dengan hal tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guru A
berikut. “Secara detail, saya masih kurang paham dengan religius, karena pusat melihatnya religius siswa dikembangkan dengan berdoa sebelum belajar, saya nggak. Level religiusnya orang Indonesia sampai berdoa, gitu. Jadi, rajin berdoa sudah religius. Kalau orang sering membantu, tapi nggak pernah berdoa, bukan orang religius, gitu?” (Wan/D1/GA/18-04-2015/T12).
Guru A memahami bahwa kegiatan penutup pembelajaran dalam Standar
Proses Kurikulum 2013 tidak berbeda dengan Standar Proses Kurikulum 2006
(Wan/D1/GA/18-04-2015/T14). Menurut Guru A, yang harus dilakukan pada kegiatan penutup adalah mengulas kembali konsep-konsep yang telah dipelajari
dan memberikan gambaran materi yang akan dipelajari pada pertemuan
selanjutnya agar siswa dapat mempersiapkan materi tersebut di rumah. Guru A
tidak setuju bahwa kegiatan merangkum materi pembelajaran merupakan bagian
dari kegiatan penutup. Menurut Guru A, kegiatan merangkum materi
pembelajaran seharusnya dilakukan di akhir fase kegiatan inti, sebelum guru
melakukan evaluasi. Guru A juga memahami bahwa pemberian kuis dan PR
merupakan bagian akhir dari kegiatan inti. Menurut Guru A, yang dilakukan pada
kegiatan penutup hanya menyampaikan gambaran kegiatan dan materi yang akan
dipelajari pada pertemuan selanjutnya, serta menyampaikan salam penutup
(Wan/D1/GA/18-04-2015/T13).
Guru A memahami bahwa penilaian pembelajaran dalam Standar Proses
Kurikulum 2013 mencakup penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Penilaian sikap dilakukan dengan metode observasi, penilaian jurnal, penilaian
diri, dan penilaian antar siswa. Penilaian aspek pengetahuan dilakukan dengan tes
tulis dan tes lisan, sedangkan penilaian aspek keterampilan dilakukan dengan
penilaian proyek dan penilaian portofolio (Wan/D1/GA/18-04-2015/T15). Guru A mengungkapkan bahwa penilaian pembelajaran sebaiknya dilakukan secara
bertahap bukan serentak. Menurut Guru A, jika guru melakukan penilaian secara
serentak untuk semua jenis penilaian setiap pertemuan, maka guru hanya akan
terganggu. Menurut Guru A, penilaian secara serentak mungkin dapat dilakukan
jika guru mengajar secara berkelompok (Wan/D1/GA/18-04-2015/T16).
Guru A menyatakan bahwa Standar Penilaian Kurikulum 2013 berbeda
dengan Kurikulum 2006. Ditinjau dari segi penilaian aspek pengetahuan,
Kurikulum 2013 memuat penilaian lisan, sedangkan Kurikulum 2006 tidak
memuat hal tersebut. Dari segi penilaian sikap, Kurikulum 2006 tidak memuat
penilaian jurnal, penilaian diri, dan penilaian antar siswa, hanya penilaian
observasi. Sedangkan dalam Kurikulum 2013, semua jenis penilaian sikap
tersebut wajib dilaksanakan oleh guru. Terakhir, dari segi penilaian aspek
keterampilan, dalam Kurikulum 2006, guru diberikan kebebasan untuk
menentukan jenis penilaian aspek keterampilan yang akan digunakan. Sedangkan
dalam Kurikulum 2013, jenis penilaian aspek keterampilan sudah ditentukan oleh
pusat, yaitu penilaian proyek dan portofolio (Wan/D1/GA/18-04-2015/T17). Guru A memahami bahwa teknis remedial dalam Kurikulum 2013 dan
Kurikulum 2006 tidak berbeda. Guru A menjelaskan bahwa remedial adalah
sebuah upaya perbaikan terhadap materi yang belum dipahami siswa. Dengan
demikian, sebelum memberikan ujian remedi, guru seharusnya membahas materi
yang belum dipahami siswa tersebut, bukan langsung mengadakan ujian ulang.
Sedangkan untuk pengayaan, Guru A memahaminya sebagai upaya memperkaya
pengetahuan siswa dengan materi yang tingkat kesulitannya lebih tinggi.
Pengayaan diberikan kepada siswa yang nilai ulangannya telah memenuhi KKM