• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendistribusian BBM

Dalam dokumen OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2009 (Halaman 98-102)

MINYAK BUMI DAN BBM 4.1 Cadangan Minyak Bumi (Crude Oil)

B. Pengolahan minyak mentah menjadi BBM

4.5.2 Pendistribusian BBM

Pola pendistribusian BBM secara umum adalah pengangkutan BBM hasil kilang atau BBM impor ke seafed depot tujuan. Pengangkutan BBM tersebut dapat dilakukan berbagai sarana seperti pipa, kapal tanker, mobil tanki dan kereta api. Distribusi BBM melalui kapal tanker dari kilang ke seafed depot dan/atau pihak ke III dibedakan atas beberapa pola distribusi sesuai dengan kapasitas kapal yang mengangkut BBM, yaitu:

• Pola distribusi dari kilang ke floating storage; • Pola distribusi dari kilang ke terminal transit;

• Pola distribusi dari kilang langsung ke seafed depot dan/atau pihak ke III; • Pola distribusi dari floating storage ke terminal transit;

• Pola distribusi dari floating storage ke seafed depot dan/atau pihak ke III; • Pola distribusi dari terminal transit ke seafed depot dan/atau pihak ke III. Jalur distribusi BBM dari produksi kilang dan impor ke seafed depot dan/atau pihak ke III melalui kapal tanker dapat dilihat pada Gambar 4.11.

Indonesia selain memproduksi BBM melalui kilang nasional, juga mengimpor BBM, terutama minyak solar yang ditampung pada dua titik penampungan, yaitu pada floating storage Teluk Semangka yang terletak di Selat Sunda dan Outlook Energi Indonesia 2009

Minyak Bumi dan BBM

floating storage Kalbut Situbondo yang terdapat di perairan Situbondo, Jawa

Timur. Impor minyak solar yang ditampung di floating storage Teluk Semangka, digunakan untuk memenuhi kebutuhan minyak solar di Bengkulu, Lampung, Pontianak, dan sebagian kebutuhan pembangkit listrik (PLTGU) di Jawa. Sedangkan impor minyak solar melalui floating storage Kalbut Situbondo diperuntukkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan minyak solar di Surabaya dan sekitarnya, Bali, NTB, NTT, Ambon, dan Papua Barat.

Berdasarkan wilayah pemasaran BBM, Indonesia terbagi atas 8 unit pemasaran dalam negeri (UPDN), dengan pusatnya di kota Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Surabaya, Balikpapan, Ujung Pandang, dan Jayapura. Sesuai dengan kondisi wilayah UPDN, lokasi kilang minyak, storage, terminal transit, depot (seafed atau inland), maka distribusi BBM dapat dilakukan melalui truk tanki, kereta api, pipa, kapal tanker dan pesawat terbang.

Gambar 4.11 Jalur distribusi BBM dari kilang dan impor

BBM yang didistribusikan dengan kapal tanker hanya BBM yang diproduksi oleh kilang Dumai, Sungai Pakning, Musi, Cilacap, Balikpapan, dan Kasim. Distribusi BBM melalui kapal tanker, merupakan sistem distribusi utama, dimana BBM yang didistribusi mencapai sekitar 87 juta kilo liter setiap tahunnya atau sekitar 80% dari total BBM yang didistribusikan oleh Pertamina. Kapal tanker yang digunakan untuk pendistribusian BBM tersebut adalah milik Pertamina atau merupakan sewaan yang bobotnya bervariasi mulai dari 3500 DWT hingga 80.000 DWT. Sejumlah kecil BBM juga didistribusikan melalui pesawat terbang yaitu ke Timika dan Jayapura.

Minyak Bumi dan BBM Perlu diketahui, bahwa pola distribusi BBM dari kilang ke depot tersebut akan berubah apabila terdapat pembangunan kilang minyak baru yang lokasinya terpisah dari 9 lokasi kilang yang sudah ada.

Selanjutnya sistem distribusi BBM ke konsumen dimulai dari tempat penyimpanan dan penimbunan sampai ke konsumen. Berdasarkan karakteristik konsumennya, maka dikenal sistem distribusi yang berbeda untuk bensin, minyak solar dan minyak tanah yang dijual secara eceran ke konsumennya. A. Sistem Distribusi Bensin

Sistem distribusi bensin merupakan sistem yang cukup sederhana, mengingat penggunaan bensin pada umumnya adalah untuk kendaraan baik darat maupun kapal kecil. Sistem ini dibagi dua sesuai dengan jenis konsumen akhir yaitu kendaraan melalui SPBU dan industri yang dikirimkan secara langsung oleh transporter. Diagram alir sistem distribusi bensin dapat dilihat pada Gambar 4.12.

Gambar 4.12 Diagram sistem distribusi bensin

Dari gambaran tersebut terlihat adanya satu komponen yang bukan merupakan unit atau komponen resmi dalam sistem distribusi yaitu pengecer. Pengecer bensin pada umumnya menjual bensin secara eceran kepada konsumen, seperti sepeda motor, serta angkutan umum perkotaan. Pengecer masih berperan dalam distribusi bensin karena keberadaannya memberikan kemudahan bagi konsumen dalam memperoleh bensin, yang antara lain disebabkan oleh lokasi SPBU yang jauh, adanya fleksibilitas dalam hal volume penjualan dan sistem pembayaran komoditas bensin yang diperjualbelikan, dan seringkali SPBU mengalami kelangkaan stok bensin pada lokasi tertentu. Permasalahan terkait dengan sistem distribusi BBM adalah sering terjadinya keterlambatan penyaluran bensin ke daerah yang sulit dijangkau kendaraan. B. Sistem Distribusi Solar

Sistem distribusi minyak solar merupakan sistem distribusi yang cukup kompleks. Bila dilihat dari struktur harga ada dua jenis distribusi, yaitu solar bersubsidi yang diperjualbelikan di SPBU untuk kendaraan, usaha industri kecil, menengah, serta solar tanpa subsidi untuk industri, termasuk Outlook Energi Indonesia 2009

Minyak Bumi dan BBM

pembangkit listrik. Dilihat dari penggunaannya terdapat berbagai sektor pemakaian energi antara lain sebagai bahan bakar kendaraan pribadi, bus truk, kapal, pembangkit listrik diesel, industri, dan lain-lain. Sedangkan dari distribusinya, dibagi menjadi SPBU, industri, SPBN/SPDN, SPBB, agen bunker,

bunker service, serta dermaga bunker. Secara ringkas diagram alir sistem

distribusi minyak solar dapat dilihat pada Gambar 4.13.

Permasalahan terkait dengan sistem distribusi minyak solar adalah sering terjadinya keterlambatan penyaluran bensin ke daerah terpencil yang sulit dijangkau kendaraan. Selain itu, masalah utama dari distribusi minyak solar adalah adanya harga jual minyak solar yang berbeda antara minyak solar untuk kebutuhan umum yang diperjualbelikan di SPBU dengan minyak solar untuk konsumen tertentu (industri dan pembangkit listrik). Meskipun selisih harga yang tidak begitu besar, namun peluang penyalahgunaan alokasi minyak solar mungkin terjadi karena sebagian pengusaha SPBU juga memiliki industri.

Gambar 4.13 Diagram sistem distribusi minyak solar C. Sistem Distribusi Minyak Tanah

Berbeda dengan sistem distribusi minyak yang lain, konsumen minyak tanah sebagian besar adalah konsumen rumah tangga dan usaha kecil. Sedangkan dari pemanfaatannya, minyak tanah sebagian besar digunakan untuk memasak dan sebagian lainnya untuk penerangan. Disamping konsumen rumah tangga dan usaha kecil, minyak tanah juga dipergunakan oleh nelayan sebagai bahan bakar untuk penerangan dan bahan bakar mesin penggerak kapal.

Berbeda dengan minyak solar dan bensin yang distribusi sampai ke SPBU merupakan tanggung jawab Pertamina, maka untuk minyak tanah, mulai dari depo sudah menjadi tanggung jawab agen minyak tanah. Bila harga solar dan bensin mudah dipantau, maka harga minyak tanah sampai ke konsumen rumah tangga sulit dikontrol, karena harga eceran tertinggi (HET) hanya ditentukan sampai tingkat pangkalan, selebihnya tergantung dari pengecer serta jarak

Minyak Bumi dan BBM konsumen dengan pangkalan minyak tanah. Sistem distribusi minyak tanah secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 4.14.

Gambar 4.14 Diagram sistem distribusi minyak tanah

Permasalahan terkait dengan sistem distribusi minyak tanah adalah kenyataan bahwa sampai saat ini masih sering terjadi kelangkaan minyak tanah pada daerah yang terletak agak terpencil. Kelangkaan ini disebabkan selain memang terjadi keterlambatan dalam pengiriman dari kilang/depot/ pangkalan juga sering terjadi penyalahgunaan yang dilakukan oleh agen minyak tanah yakni melakukan penyaluran minyak tanah yang seharusnya diperuntukkan untuk sektor rumah tangga tetapi disalurkan ke pada pihak lain (industri). Hal ini terjadi karena adanya selisih harga yang cukup signifikan karena harga minyak tanah (perangko depot) ditetapkan sebesar Rp 2.000 per liter, sedangkan harga minyak tanah untuk industri adalah sesuai dengan harga pasar.Penyalahgunaan alokasi minyak tanah untuk kebutuhan konsumen rumah tangga dan usaha kecil ke sektor industri biasanya digunakan baik sebagai kebutuhan pokok atau untuk dicampur dengan BBM lainnya.

Dalam dokumen OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2009 (Halaman 98-102)