KETENAGALISTRIKAN 7.1 Potensi Energi Terbarukan
E. PLTU Sampah
PLTU sampah dipertimbangkan sebagai salah satu kandidat pembangkit dalam sistem ketenagalistrikan di Indonesia, terutama di Jawa, mengingat potensinya yang cukup besar. Di Jakarta saja, sampah yang berasal dari rumah tangga sekitar 10 ribu ton/hari. Jumlah ini menurut Seghers Group,
Ketenagalistrikan
perusahaan asal Belgia yang bergerak dalam pengolahan sampah, memiliki potensi yang bisa membangkitkan listrik sekitar 5 x 35 MW. Tahap pertama pengolahan sampah dilakukan proses penghancuran sekaligus pemilihan. Dari suatu drum berputar dihasilkan salah satunya adalah sampah tercacah yang disebut refuse deviced fuel (RDF). Kelompok ini merupakan jenis cacahan sampah yang bisa dijadikan bahan bakar boiler, sebab memiliki kalori yang tinggi dan tidak mengandung metal serta homogen. Setelah dibentuk menjadi paket-paket bahan bakar, sampah jenis RDF dilewatkan ke dalam multi stage
grade. Disinilah sampah mengalami pembakaran sembari menjalani proses grading atau diayak. Pembakaran sambil diayak ini memungkinkan proses
pembakaran yang mampu membakar setiap RDF. Panas yang dihasilkan dari pembakaran inilah yang digunakan untuk membangkitkan proses di boiler. Pada dasarnya setelah proses pemanfaatan panas dalam boiler, selanjutnya tidak begitu berbeda dengan proses yang berlangsung di dalam unit-unit pembangkit listrik lainnya.
F. PLTN
Indonesia dimasa yang akan datang rencananya akan menerapkan PLTN dengan menggunakan reaktor tipe pressurized water reactor (PWR). Teknologi PWR ini mempunyai tingkat keselamatan tinggi serta belum ada kecelakaan fatal dan telah diterapkan di Amerika, Jepang, Korea, dan China.
Saat ini di dunia dikenal beberapa jenis reaktor, diantaranya adalah reaktor termal. Reaktor termal merupakan reaktor nuklir dengan proses reaksi fisi yang diakibatkan oleh neutron termal dan memerlukan moderator untuk mengurangi energi neutron cepat menjadi neutron termal. Reaktor termal ini adalah reaktor berpendingin air ringan (light water reactor, LWR) dan reaktor berpendingin air berat (heavy water reactor, HWR). Ada dua tipe LWR yaitu
pressurized water reactor (PWR) dan boiling water reactor (BWR). HWR untuk
tujuan komersil ada dua tipe; pressurized heavy water reactor (PHWR) dan
boiling light water reactor (BLWR). Reaktor berjenis LWR (PWR dan BWR)
memiliki kinerja baik, andal, dan mempunyai sistem keamanan reaktor yang mapan. Pada tahun 2000 sekitar 60% dari pembangkit tenaga nuklir dunia terdiri dari reaktor PWR, BWR 21%. Berdasarkan informasi diatas terlihat bahwa teknologi LWR di dunia masih terdepan dalam pembangkitan listrik tenaga nuklir abad ini.
Dari sisi limbah, kini ada teknologi yang meningkatkan pembakaran (burn up) sehingga dengan tingkat pembakaran lebih besar, hasil limbah nuklirnya kecil. Dengan asumsi 1000 MW dari reaktor yang dioperasikan selama 40 tahun, limbahnya hanya sebesar lapangan tenis. Penampungan limbah itu berbentuk seperti kolam berupa dried cell atau sel penyimpanan kering.
Awal tahun 2006 di seluruh dunia telah beroperasi 443 PLTN yang tersebar di 30 negara dengan total kapasitas 370 GW. Sekitar 60% dari kapasitas nuklir global berada di negara Amerika Serikat, Perancis, dan Jepang, sementara 25% lainnya berada di Rusia, Inggris, Korea, dan India. Sisanya tersebar di Eropa, Asia, Afrika Selatan, dan Amerika Latin. Di Perancis, 77,8% kebutuhan
Ketenagalistrikan
Outlook Energi Indonesia 2009 7-23
listriknya dipasok dari PLTN. Sedangkan di Jepang dan Amerika Serikat, PLTN memasok kebutuhan listrik negara-negara tersebut berturut–turut dengan pangsa 22,9% dan 19,3%.
7.5 Rekomendasi Kebijakan
Pemerintah perlu mempertegas kebijakan sektor ketenagalistrikan agar tidak terjadi kekurangan bahan bakar untuk pembangkit. Kebijakan yang perlu direalisasi antara lain kewajiban memenuhi pasokan batubara di dalam negeri dan pengalokasian gas alam cair untuk kebutuhan pembangkit di Indonesia. Hal ini perlu ditekankan mengingat kebijakan pemerintah sendiri tidak mendukung tercukupinya energi listrik nasional dengan biaya murah. Misalnya saat ini banyak pembangkit listrik terpaksa masih menggunakan bahan bakar solar, meski pembangkit yang bersangkutan sebenarnya sudah didesain untuk memakai bahan bakar gas. Langkah ini dilakukan PLN karena pasokan gas sering tidak lancar.
Dalam hal kontrak jual beli gas, PLN juga kesulitan. Kontrak gas selama ini selalu merugikan PLN karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengganti bahan bakar gas ke BBM akibat suplai gas yang terhenti dari produsen gas ke PLN. Apabila gas sudah siap tetapi PLN belum siap menerima, PLN tetap harus membayar sesuai klausul take or pay. Tetapi yang tidak fair, kalau pasokan gas tidak ada atau terhenti di tengah jalan, PLN tidak mendapat kompensasi atau ganti rugi. Hal itu karena produsen gas selalu berkelit dengan menyatakan apa yang mereka lakukan adalah best practice atau upaya terbaik. Tidak ada yang tahu apa yang ada di isi perut bumi sehingga produsen gas merasa tidak bisa disalahkan bila tidak ada gas alam yang dapat diproduksi. Kontrak dan klausul seperti itu jelas merugikan PLN. Di satu sisi, produsen bisa dengan bebasnya melenggang dari tanggung jawab bila tidak ada pasokan gas, padahal konsumen atau pelanggan PLN selalu menuntut pasokan listrik selalu terjamin. Jadi mekanisme dari kontrak ini harus diubah.
Seperti diketahui bahan bakar batubara untuk pembangkit tenaga listrik jauh lebih murah apabila dibandingkan BBM. Namun, untuk menggunakan batu bara-dalam hal ini batubara muda sebagai bahan bakar pembangkit-perlu ada pendekatan khusus, masalahnya karena ada faktor kendala, yaitu kandungan air dan sulfur yang tinggi. Untuk itu harus ada kebijakan khusus dalam hal pembangunan PLTU berbahan bakar batubara muda, yaitu membangun instalasi pembangkit listrik dekat daerah pertambangan batubara (PLTU mulut tambang), sehingga biaya transportasi minimal. Selain itu juga dikembangkan teknis proses pembakaran batubara muda yang dapat mereduksi gas sulfur ke udara sehingga pencemaran gas ini pun dapat ditekan.
Pembangunan sektor ketenagalistrikan belum berjalan optimal antara lain terkendala harga listrik serta struktur industri ketenagalistrikan yang monopolistik, menjadikan kurang dapat meningkatkan daya saing dan efisiensi usaha sehingga peningkatan konsumsi tenaga listrik belum dapat diimbangi
Ketenagalistrikan
oleh pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang memadai. Demikian pula belum optimalnya pemanfaatan energi terbarukan karena biaya investasi tinggi dan harga jual listrik yang dihasilkannya belum dapat bersaing dengan energi komersial.
Khusus mengenai PLTP, saat ini sudah mendapatkan beberapa kemudahan seperti pembebasan bea masuk atas impor barang untuk kegiatan pengusahaan panas bumi dan pemberian insentif fiskal. Insentif tersebut untuk menindaklanjuti UU No. 27, 2003 tentang panas bumi dalam rangka mendorong pemanfaatannya. Insentif tersebut diantaranya adalah:
(a) pembebasan pajak impor pada peralatan pengusahaan sumberdaya panas bumi (Keppres No. 49/1991, Keputusan Menteri Keuangan No. 766/1992), (b) pembebasan bea masuk atas impor barang untuk kegiatan pengusahaan
panas bumi (Peraturan Menteri Keuangan No. 78/PMK.010/2005),
(c) pemberian kemudahan fiskal dan pajak (PMK No. 177/2008 dan PMK No. 178/2008),
(d) penetapan patokan harga jual listrik di sisi tegangan tinggi dan sisi tegangan rendah (Permen ESDM No. 14/2008), dan
(e) penetapan patokan biaya produksi pembangkitan (BPP) tenaga listrik semua pembangkit (Keputusan Menteri ESDM No. 269-12/26/600.3/2008). Namun meskipun sudah ada insentif dari pemerintah, listrik dari energi panas bumi belum dapat berkembang secara optimal, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah:
- dukungan pemerintah dalam hal capital expenditure dalam kegiatan yang terkait dengan pengusahaan panas bumi
- regulasi tarif yang mampu menjamin kemampuan investor untuk memenuhi
debt service ratio di awal-awal pelaksanaan proyek
- kebijakan yang ditujukan untuk pemberdayaan perusahaan manufaktur lokal yang menunjang kegiatan energi terbarukan, melalui regulasi/peraturan perbankan untuk mengakomodasi dan memberikan kemudahan skema pendanaan.