• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Infrastruktur Wilayah

Dalam dokumen LaKIP Kementerian PUPR 2015 (Halaman 39-45)

1.5 Isu Strategis

1.5.8 Pengembangan Infrastruktur Wilayah

Pembangunan infrastruktur memiliki kontribusi yang besar dalam mewujudkan pemenuhan hak dasar rakyat, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan daya saing global. Dalam hal ini, pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) memiliki kontribusi besar dalam pembangunan wilayah karena menjadi tulang punggung dari suatu wilayah. Oleh karena itu, aktualisasi dari pembangunan infrastruktur PUPR harus menjadi pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan selalu memperhatikan daya dukung agar hasil pembangunan dapat dimanfaatkan olehgenerasi sekarang dan diwariskan pada generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan menjadi dasar keterpaduan pembangunan infrastruktur bidang PUPR dengan pengembangan wilayah.

Pembangunan infrastruktur bidang PUPR perlu diarahkan untuk mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi wilayahdan bersinergi dengan kelestarian lingkungan. Pembangunan infrastruktur merupakan pemicu terciptanya pusat-pusat pertumbuhan baru. Kota-kota atau pusat permukiman baru dapat menjadi penyeimbang pertumbuhan ekonomi wilayah dan mengurangi disparitas antarwilayah. Selain itu, pembangunan infrastruktur diarahkan untuk mengurangi laju urbanisasi, meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar dan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga stabilitas dan kesatuan nasional. Untuk dapat memenuhi hal tersebut, pembangunan bidang PUPR harus berlandaskan pada pendekatan pengembangan wilayah secara terpadu oleh seluruh sektor. Poin penting dari keterpaduan tersebut adalah adanya sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang juga melibatkan badan usaha dan masyarakat. Sinergi tersebut juga perlu mengacu kepada aktivitas ekonomi, sosial, keberlanjutan lingkungan hidup, potensi wilayah dan kearifan lokal, dan rencana tata ruang wilayah, atau dengan kata lain pembangunan wilayah.

Meskipun keterpaduan sektor-sektor di bawah Kementerian PUPR maupun di luar Kementerian PUPR telah tertuang dalam Rencana-rencana Strategis sebelumnya, tetapi perencanaan belum terpadu terhadap pengembangan wilayah. Parameter penyaringan program masih didasarkan pada kriteria kesiapan pembangunan masing-masing sektor. Selain itu, penganggarannya pun

I-24

masih dengan kriteria sektor. Perencanaan, pemrograman, dan penganggaran pembangunan belum spesifik kepada keterpaduan pembangunan infrastruktur bidang PUPR dengan pengembangan wilayah antarsektor, antardaerah, dan antarpemerintahan. Konsekuensinya, capaian secara spesifik belum dapat disajikan. Kebijakan dan strategi pembangunan infrastruktur PUPR sebelumnya masih belum terpadu dengan pengembangan wilayah yang memperhatikan rencana tata ruang.

Isu pengentasan kemiskinan dan rendahnya laju pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan oleh dikotomi dan disparitas antara Kawasan Barat Indonesi (KBI) dengan Kawasan Timur Indonesia (KTI) merupakan kendala yang masih harus dihadapi dalam mewujudkan target-target nasional. Salah satu penyebabnya adalah intervensi pemerintah dalam pembangunan infrastruktur dan jaringan transportasi lebih besar di Kawasan Barat Indonesia (Jawa, Sumatera, dan Bali) dibandingkan KawasanTimur Indonesia. Akibatnya, disparitas pembangunan infrastruktur sangat besar. Kontribusi Kawasan Barat Indonesia terhadap PDB nasional lebih besar daripada Kawasan Timur Indonesia yang kayasumber daya alam, laut, dan mineral. Selain itu, penyelengaraan pembangunan infrastruktur PUPR juga menghadapi beberapa tantangan terutama dalam menyeimbangkan pertumbuhan dan pembangunan.

Pengukuran kinerja keterpaduan Infrastruktur bidang PUPR dengan pengembangan wilayah pada perwakilan kawasan dari 35 Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) telah mulai dilakukan untuk menentukan dasar pengukuran kinerja berkala setiap tahun. Dalam pengukuran tersebut, beberapa kendala ditemui dan akan terus diperbaiki. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa keterpaduan infrastruktur baik di dalam kawasan, antar kawasan, dan antar WPS masih rendah. Pengembangan wilayah merupakan strategi memanfaatkan dan mengombinasikan faktor internal dan eksternal. Faktor internal berupasumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya teknologi. Sementara, faktor eksternal dapat berupa peluang dan ancaman yang muncul seiring dengan interaksinya dengan wilayah lain. Konsep pengembangan wilayah dapat memberikan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pengembangan wilayahmemberikan kemudahan prasarana dan pelayanan logistik serta menciptakan pusat- pusat produksi. Sedangkan dalam konteks jangka panjang, pengembangan wilayah dapat mendorong pemanfaatanpotensi sumber daya alam dan potensi pengembangan lokal. Lebih lanjut, pengembangan wilayah mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial, termasuk pengentasan kemiskinan, serta upaya mengatasi kendala pembangunan di daerah dalam rangka mencapai tujuan pembangunan.

Potensi dan keunggulan kawasan dapat memberikan nilai tambah dan kapasitas produksi unggulan di kawasan. Pemberdayaan masyarakat, yang berpotensi mendorong akselerasi investasi industri melalui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan dengan kawasan penyangga, dapat lebih memperoleh dukungan. Selama ini, masyarakat petani, nelayan, peternak, pengrajin kesulitan memasarkan produknya serta kuantitas produk relatif rendah.

I-25

Namun demikian, masih terdapat permasalahan yang mengemuka pada konsep pengembangan wilayah, di antaranya:

1) Kebijakan, peraturan, standar dan manual dalam perencanaan, pemrograman dan penganggaran pembangunan infrastruktur bidang PUPR dengan pengembangan wilayah masih belum terpadu dan sinergis dengan mempertimbangkan aktivitas ekonomi, sosial dan keberlanjutan lingkungan serta kearifan lokal sebagai keunggulan kompetitif;

2) Kepadatan penduduk di Pulau Jawa-Bali merupakan yang tertinggi dengan kepadatan rata- rata diatas 500 Jiwa/Km2;

3) Secara spasial, wilayah dengan proporsi penduduk miskin yang tinggi terdapat di wilayah Papua dan Nusa Tenggara (diatas 30%) sementara terendah di Kalimantan (dibawah 10%); 4) Distribusi ekonomi wilayah Jawa dan Bali mendominasi hingga mencapi 58,8% terhadap

nasional, Sumatera 23%, dan Kalimantan 9,3% sisanya kurang dari 10%;

5) Keterpaduan antarprogram/antarsektor yang berbeda sumber pendanaan masih belum optimal;

6) Minimnya akses serta anggaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk pembangunan pada kawasan yang baru bertumbuh terutama pada kawasan perbatasan/terpencil/tertinggal;

7) Belum efektifnya pemanfaatan Rencana Tata Ruang sebagai basis pembangunan wilayah; 8) Belum ada penetapan kawasan yang akan dikembangkan dan dukungan fungsi yang

dibutuhkan dikaitkan dengan daya dukung, daya tampung, dan lingkungan fisik pendukung fungsi;

9) Belum terbangunnya sistem pendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi kawasan baik industri maupun perdagangan yang berbasis potensi sumber daya kawasan serta pemberdayaan masyarakat;

10) Belum terpadunya pengelolaan dan pembangunan kawasan baik dalam perencanaan, pemrograman, penganggaran, dan pelaksanaan pembangunan;

11) Kurangnya dukungan lintas sektor, lintas daerah, dan lintas pemerintahan terkait kompleksitas kawasan dari berbagai dimensi baik sosial, budaya, ekonomi, pertahanan, dan keamanan; dan

12) Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan yang tinggi dengan indikasi hampir seluruh fasilitas terakumulasi di kawasan perkotaan, sehingga cenderung menimbulkan arus urbanisasi.

I-26

1.5.9 Penelitian dan Pengembangan

Pada periode 2015-2019, Badan Litbang PUPR dituntut untuk meningkatkan kinerja dari lima tahun sebelumnya. Hal tersebut berarti bahwa karya-karya yang dihasilkan, baik dari segi kuantitas, maupun kualitas, harus lebih baik dari sebelumnya. Untuk mendukung pencapaian target tersebut dibutuhkan peningkatan kualitas kelembagaan, ketatalaksanaan, dan manajemen sumber daya litbang untuk acuan perencanaan strategis kedepan. Dalam rangka mendukung terciptanya mutu penyelenggaraan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman yang andal, Badan Litbang PUPR telah diarahkan untuk berperan sebagai the

technostructure atau scientific backbone, yaitu memberikan saran dan masukan maupun

pertimbangan ilmiah dalam perumusan kebijakan-kebijakan Kementerian. Beberapa kegiatan litbang yang menonjol meliputi layanan konsultasi pada kasus-kasus strategis dan kegiatan advis teknis yang dilakukan kepada pemerintah daerah maupun kepada direktorat jenderal terkait. Kegiatan prioritas lainnya adalah melakukan pembinaan aparat pelaksana di daerah terkait dengan standar yang diperlukan, baik melalui TOT, maupun upaya pemenuhan permintaan advis teknis, dan pendampingan teknis yang semakin bertambah. Sebagai pelopor di bidang penelitian dan pengembangan teknologi, Badan Litbang berperan dalam mencari terobosan-terobosan baru dalam pengembangan teknologi untuk diaplikasikan dalam pembangunan infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rayat. Badan Litbang secara tidak langsung berperan dalam mengedukasi masyarakat agar mampu menjaga infrastruktur terbangun dengan cara, antara lain melakukan pelatihan kepada masyarakat dalam mencari modul pembangunan partisipatif, pelatihan terhadap tenaga-tenaga laboran di laboratorium daerah, dan perkuatan SDM ke-litbang-an. Tersedianya pilihan IPTEK siap pakai, peningkatan akses pemangku kepentingan terhadap keberadaannya, serta layanan administrasi dan manajemen untuk meningkatkan kualitas layanan publik merupakan faktor-faktor penentu keberhasilan pemberian dukungan Badan Litbang PUPR terhadap penyediaan infrastruktur berkualitas. Ketidakmerataan atau disparitas ketersediaan infrastruktur kawasan/wilayah, penurunan kualitas lingkungan permukiman, kekuranghandalan jaringan infrastruktur, dan faktor kesiapan masyarakat untuk menerima dan mengelola infrastruktur PUPR, menjadi tantangan pengembangan inovasi IPTEK PUPR di masa datang.

Tantangan penelitian dan pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Litbangrap IPTEK) bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ke depan berhubungan dengan aspek-aspek antara lain: 1) Kualitas perencanaan pembangunan infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rayat, dan pengendalian pemanfaatan ruang bagi terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan (termasuk adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim); 2) Keandalan sistem (jaringan) infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, ketahanan pangan, dan daya saing; 3) Kualitas lingkungan permukiman dan cakupan pelayanan (dasar) infrastruktur pekerjaan umum dan

I-27

permukiman untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat; 4) Pembangunan kawasan strategis, wilayah tertinggal dan perbatasan, dan penanganan kawasan rawan bencana untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah; dan 5) Optimalisasi peran (koordinasi, sistem informasi, data, SDM, kelembagaan dan administrasi) dan akuntabilitas kinerja aparatur untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi pelayanan publik infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman.

Berdasarkan aspek aspek litbang tersebut, maka tantangan dan isu-isu strategis pelaksanaan kegiatan Litbangrap IPTEK lima tahun kedepan adalah sebagai berikut:

1)Tantangan bidang Penelitian, Pengembangan dan Penerapan (Litbangrap) IPTEK Menyediakan IPTEK siap pakai untuk (i) meningkatkan akses masyarakat terhadap upaya upaya pengendalian pemanfaatan ruang termasuk mitigasi dan adaptasi terhadap bencana, (ii) meningkatkan efisiensi dan efektifitas pendayagunaan air irigasi, (iii) mengurangi kelangkaan air baku, (iv) memperbaiki kualitas air baku, (v) menurunkan Biaya Operasi Kendaraan (Aplikasi UU Jalan), (vii) meningkatkan kualitas lingkungan permukiman, (viii) meningkatkan cakupan pelayanan prasarana dasar (aplikasi UU Permukiman, UU Sampah), (ix) pemanfaatan bahan lokal dan potensi wilayah;

2)Mempercepat proses standardisasi untuk menambah jumlah SNI maupun pedoman di bidang bahan konstruksi bangunan dan rekayasa sipil yang dapat mengantisipasi semakin meningkatnya proteksi produk dan standar oleh negara lain.

3)Memperluas simpul pemasyarakatan IPTEK PU, Standar bahan konstruksi bangunan dan rekayasa sipil termasuk memperluas kontribusi perguruan tinggi, assosiasi, dan media informasi dalam proses pelaksanaannya.

4)Memanfaatkan peluang riset insentif untuk meningkatkan pengalaman dan keahlian para calon peneliti dan perekayasa sehingga dapat mengurangi kesenjangan keahlian akibat kebijakan zero growth.

5)Melakukan kerjasama dengan lembaga lembaga litbang internasional dalam rangka meningkatkan kompetensi lembaga maupun SDM litbang dalam mengantisipasi dampak pemanasan dan perubahan iklim global, khususnya terhadap penyediaan dan kualitas pelayanan infrastruktur bidang PU dan permukiman.

6)Memenuhi tuntutan Reformasi Birokrasi penyelenggaraan Litbangrap IPTEK yang meliputi (i) perbaikan struktur organisasi agar tepat fungsi dan tepat ukuran, (ii) perbaikan proses kerja untuk meningkatkan kinerja Litbangrap IPTEK (termasuk SOP verifikasi kualitas teknologi bidang PU dan Permukiman), dan (iii) memperbaiki sistem manajemen SDM untuk meningkatkan kompetensi peneliti dan perekayasa Bidang PU dan permukiman. (iv) keseimbangan antara beban, tanggungjawab, dan insentif masih perlu diperbaiki. (v) pelaksanaan pengarusutamaan gender.

I-28

Selain itu, terdapat beberapa tantangan/permasalahan, diantaranya adanya tuntutan penyediaan IPTEK siap pakai untuk:

1) Meningkatkan akses masyarakat terhadap upaya pengendalian pemanfaatan ruang termasuk mitigasi dan adaptasi terhadap bencana;

2) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pendayagunaan sumber daya air; 3) Mengurangi kelangkaan air baku;

4) Memperbaiki kualitas air baku;

5) Menurunkan biaya operasional Kendaran (Aplikasi UU Jalan); 6) Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman;

7) Meningkatkan cakupan pelayanan prasarana dasar (aplikasi UU Permukiman, UU Sampah); 8) Pemanfaatan bahan lokal dan potensi wilayah;

9) Perlunya mempercepat proses standarisasi untuk menambah jumlah SNI maupun pedoman di bidang bahan konstruksi bangunan dan rekayasa sipil, untuk mengantisipasi semakin meningkatnya proteksi produk dan standar oleh negara lain;

10) Perlunya memperluas simpul-simpul pemasyarakatan IPTEK PU dan Perumahan Rakyat, standar bahan konstruksi bangunan dan rekayasa sipil, termasuk memperluas kontribusi perguruan tinggi, asosiasi dan media informasi;

11) Perlunya memanfaatkan peluang riset insentif (kegiatan riset yang didanai oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi) untuk meningkatkan pengalaman dan keahlian para calon peneliti dan perekayasa, sehingga dapat mengurangi kesenjangan keahlian akibat zero growth;

12) Tuntutan untuk melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga litbang internasional dalam rangka meningkatkan kompetensi lembaga maupun sumber daya manusia litbang dalam mengantisipasi dampak pemanasan dan perubahan iklim global, khususnya terhadap penyediaan dan kualitas pelayanan infrastruktur bidang pekerjaan umum dan perumahan rakyat;

13) Tuntutan Reformasi Birokrasi penyelenggaraan Litbangrap IPTEK;

14) Percepatan pembangunan sejuta rumah (rumah tapak dan rumah susun) dan 15) Jaminan mutu penyelenggaraan infrastruktur PUPR.

I-29

Dalam dokumen LaKIP Kementerian PUPR 2015 (Halaman 39-45)