• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERENCANAAN KINERJA

PELAKSANAAN KEBIJKAN

2.2 Perjanjian Kinerja

Perjanjian Kinerja Kementerian PUPR Tahun 2015 mencakup 15 sasaran strategis yang didukung oleh 26 sasaran program. Program Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Pengelolaan Sumber Daya Air, Penyelenggaraan Jalan, serta Pembinaan dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman dilaksanakan untuk mendukung masing-masing dua sasaran strategis. Sebaliknya Program Perumahan dan Pengembangan Pembiayaan Perumahan dilaksanakan untuk mewujudkan satu sasaran strategis. Enam program lainnya, yaitu Program Pembinaan Konstruksi, Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya, Peningkatan Sarana dan Prasarana Kementerian PUPR, Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Kementerian PUPR, Pengembangan Sumber Daya Manusia Bidang PUPR, serta Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR dilaksanakan untuk mendukung masing-masing satu sasaran strategis.

Secara garis besar terdapat tiga pengelompokan berdasarkan perspektif dalam sasaran strategis untuk memudahkan pengukuran pencapaian tujuan, yakni perspektif customer/stakeholder

expectation, internal process, dan learning and growth. Pengelompokan perspektif ini didukung

oleh sasaran strategis yang kemudian dijabarkan dalam sasaran program. Dengan demikian untuk pengukuran kinerja dapat dilakukan dari target dan sasaran yang tercantum di dalam Perjanjian Kinerja Kementerian PUPR Tahun 2015 berdasarkan pengelompokan sasaran strategis dengan indikator kinerja dari setiap sasaran program sebagaimana tabel II.1.

II-10

Tabel II.1. Perjanjian Kinerja

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

1 Meningkatnya keterpaduan pembangunan infrastruktur PUPR antardaerah, antar sektor dan antar tingkat pemerintahan

Indeks rasio dukungan infrastruktur PUPR terhadap keterpaduan

pengembangan kawasan 80,00%

2 Meningkatnya dukungan untuk

kedaulatan pangan dan energi

Tingkat dukungan kedaulatan pangan

dan ketahanan energi 45,83%

3 Meningkatnya dukungan konektivitas

bagi penguatan daya saing

Tingkat konektivitas jalan nasional

73,00% 4 Meningkatnya dukungan layanan

infrastruktur dasar permukiman dan perumahan

Tingkat layanan infrastruktur dasar

permukiman dan perumahan 81,00%

CUSTOMER/STAKEHOLDER EXPECTATION 69,96%

5 Meningkatnya keterpaduan perencanaan, pemrograman, dan

penganggaran

Tingkat keterpaduan kebijakan, perencanaan, pemrograman terhadap penganggaran pembangunan bidang PUPR

80,00%

6 Meningkatnya ketahanan air

Tingkat dukungan ketahanan air nasional 28,95% 7 Meningkatnya kemantapan jalan

nasional

Tingkat kemantapan jalan nasional

86,00% 8 Meningkatnya kualitas dan cakupan

pelayanan infrastruktur permukiman

Tingkat kualitas dan cakupan

pelayanan infrastruktur permukiman 77,00% 9 Meningkatnya penyediaan dan

pembiayaan perumahan

Tingkat pemenuhan perumahan yang layak huni bagi rumah tangga berpenghasilan rendah

84,00% 10 Meningkatnya pengendalian dan

pengawasan pelaksanaan kebijakan dan rencana program dan anggaran pembangunan bidang PUPR

Tingkat pengendalian pelaksanaan program dan anggaran pembangunan

bidang PUPR 51,00%

11 Meningkatnya kapasitas dan kualitas

konstruksi nasional

Tingkat pengendalian pelaksanaan

konstruksi nasional 75,00%

INTERNAL PROCESS 68,85%

12 Meningkatnya SDM yang kompeten

dan berintegritas

Prosentase sumber daya manusia yang

kompeten dan berintegritas 10,00%

13 Meningkatnya budaya organisasi yang berkinerja tinggi dan berintegritas

Tingkat kinerja dan integritas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

72,25% 14 Meningkatnya inovasi teknis terapan

bidang PUPR

Tingkat penyediaan dan pemanfaatan hasil inovasi teknis terapan bidang PUPR

67,00% 15 Meningkatnya pengelolaan regulasi

dan layanan hukum, data dan informasi publik, serta sarana dan prasarana

Tingkat pengelolaan regulasi dan layanan hukum, data dan informasi

publik, serta sarana dan prasarana 80,00%

II-11

2.3

Metode Pengukuran

Pengukuran 15 (lima belas) sasaran strategis Kementerian PUPR tahun 2015 dilakukan melalui survei tersendiri dan pengukuran berbasis outcome (outcome based), dengan rincian cara pengukuran sebagai berikut:

2.3.1 Meningkatnya keterpaduan pembangunan infrastruktur PUPR antardaerah, antar sektor dan antar tingkat pemerintahan

Kementerian PUPR menjadikan konsep tiga pilar utama kerangka pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan ekonomi yang berdaya saing, pembangunan sosial yang inklusif, dan pelestarian lingkungan hidup melalui ketepaduan Infrastruktur bidang PUPR dengan Pengembangan Wilayah antarsektor, antardaerah dan antarpemerintahan sebagai fokus bagi sasaran program dalam Rencana Strategis Kementerian PUPR 2015-2019,yaitu :

1. Meningkatnya keterpaduan Infrastruktur bidang PUPR dengan Pengembangan Wilayah antarsektor, antardaerah dan antarpemerintahan.

2. Meningkatnya keterpaduan perencanaan, pemrograman dan penganggaran.

Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur bidang PUPR dengan Pengembangan Wilayah yang menjamin keterpaduan antar sektor, antardaerah,dan antarpemerintahan untuk mengurangi disparitas dan meningkatkan pertumbuhan dengan cara:

1. Menyusun kebijakan dan strategi dan rencana Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur bidang PUPR dengan Pengembangan Wilayah.

2. Mengembangkan rencana Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur bidang PUPR dengan Pengembangan Wilayah / kawasan strategis baik perkotaan maupun non perkotaan.

3. Menterpadukan dan mensinkronkan program Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur bidang PUPR dengan Pengembangan Wilayah.

4. Melaksanakan Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur bidang PUPR dengan Pengembangan Wilayah.

Sehingga dengan prinsip keterpaduan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan seluruh masyarakat diberi ruang yang seluas-luasnya dalam proses menterpadukan,maupun meningkatkan kualitas hasil keterpaduan pembangunan.

Hasil Keterpaduan infrastruktur PUPR dengan Pengembangan Wilayah adalah berkurangnya disparitas dan meningkatnya pertumbuhan kawasan proporsional yang dirasakan oleh masyarakat secara terus menerus, berkelanjutan, dan global untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkan Keterpaduan infrastruktur PUPR diperlukan

II-12

sinergitas dan efisiensi baik dalam proses perencanaan, pemrograman maupun pelaksanaan dan terukurnya dampak ekonomi keterpaduan perlu perbaikan berkelanjutan dalam:

1. Peningkatan kapasitas kelembagaan (pembagian kewenangan dan peran). 2. Penyediaan skema dan sumber pembiayaan (non APBN) dan investasi. 3. Harmonisasi Regulasi (kerangka regulasi untuk menterpadukan). 4. Evaluasi dampak manfaat infrastruktur yang telah terpadu. Sasaran Pengukuran:

Dengan mengukur keterpaduan pembangunan infrastruktur PUPR antardaerah, antar sektor dan antar tingkat pemerintahan, maka akan diketahui efektifitas program-program Kementerian PUPR yang ditujukan untuk menterpadukan pembangunan Infrastruktur masing- masing sektor di bidang PUPR di dalam kawasan, antar kawasan maupun antar WPS sesuai dengan daya dukung dan daya tampung kawasan serta fungsional lingkungan fisik terbangun yang terpadu dalam lokasi, besaran dan waktu.

Cara Pengukuran:

Membandingkan infrastruktur PUPR yang berhasil diterpadukan di dalam kawasan di tahun 2015 dibandingkan total infrastruktur PUPR di dalam Kawasan yang telah dibangun sebelumnya hingga akhir tahun 2015, serta dikombinasikan melalui pembobotan dengan faktor-faktor non fisik antara lain aspek keterpaduan perencanaan (termasuk regulasi, kesinkronan pemrograman, keterpaduan pelaksanaan serta manfaat ekonomi (berkurangnya disparitas dan meningkatnya pertumbuhan kawasan).

Target : 80% (pada 35 WPS) Periode Pengukuran : setiap tahun

Lead / Lag? : Lag

Data Source :

Data dari masing-masing Kawasan Strategis baik perkotaan maupun non perkotaan pada 35 WPS yang diterpadukan (dari Kementerian PUPR dan Pemerintah Daerah)

Asumsi :

Ketersediaan data eksiting infrastruktur bidang PUPR yang telah terbangun lengkap baik dari direktorat Jenderal di bawah Kementerian PUPR maupun pemerintah daerah terkait bidang PUPR

II-13

Contoh :

Di dalam kawasan/kluster industri yang diterpadukan pembangunan infrastrukturnya berdasarkan daya tampung dan potensi kawasan, Ditjen Bina Marga melakukan preservasi jalan lintas timur di Sumsel sepanjang 50KM, total (dari 200KM yang diperlukan) dan berhasil memperpendek waktu tempuh menjadi 2.5 H/100KM.dari 2.7H/100KM), sementara itu Ditjen SDA membangun sarana prasarana air baku 250 m3/det, suplai air baku dan Ditjen CK

membangun SPAM kota untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan meningkatkan aksesibilitas pada kawasan pelabuhan dan industri. Ditjen Penyediaan Perumahan menyediakan 200 rumah khusus untuk di urban area, dll, kemudian dijumlahkan dengan pembobotan 17 variabel sehingga diperoleh angka 78%.

2.3.2 Meningkatnya dukungan untuk kedaulatan pangan dan energi

Sasaran strategis meningkatnya dukungan untuk kedaulatan pangan dan energi dengan Indikator kinerja Tingkat Dukungan Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Energi diukur dari rata- rata capaian outcome yang dihasilkan (outcome based), yang meliputi: 1) Pemenuhan Kebutuhan Air Baku untuk Layanan Irigasi dan 2) Peningkatan Potensi Sumber Energi. Komponen pengukuran tersebut dijabarkan sebagai berikut:

Tabel II.2. Komponen Pengukuran Tingkat Dukungan Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Energi

No Outcome/Indikator Kinerja Baseline 2014 Target 2015 1) Pemenuhan kebutuhan air baku untuk

layanan irigasi

a.Peningkatan layanan jaringan irigasi 1.844.066 Ha 182.017 Ha b.Pengembalian fungsi dan layanan

jaringan irigasi

5.141.407 Ha 480.533,57 Ha

2) Peningkatan potensi sumber energi 8.706 MW 113,19 MW

2.3.3 Meningkatnya dukungan konektivitas bagi penguatan daya saing

Konektivitas nasional merupakan salah satu kunci dalam penguatan daya saing. Kegiatan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari peran infrastruktur jalan sebagai prasarana yang melayani pergerakan baik orang maupun barang. Peningkatan cakupan pelayanan maupun kualitas pelayanan jalan merupakan salah satu upaya dalam memperkuat daya saing nasional.

Konektivitas Jalan Nasional diukur melalui persentase simpul-simpul yang dapat terhubung yang dihasilkan dari kegiatan pembangunan jalan nasional terutama pada Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

II-14

2.3.4 Meningkatnya dukungan layanan infrastruktur dasar permukiman dan perumahan Sasaran strategis ini merupakan penjumlahan capaian subbidang cipta karya (penurunan luasan permukiman kumuh perkotaan dan peningkatan cakupan pelayanan akses sanitasi) dan subbidang perumahan rakyat (pemenuhan perumahan yang layak huni bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.

Tabel II.3. Komponen Pengukuran Tingkat Dukungan Layanan Infrastruktur Dasar Permukiman dan Perumahan

No Outcome/Indikator Kinerja Target Keterangan

1) Subbidang Cipta Karya 78,00% Rata-rata outcome penurunan

Dalam dokumen LaKIP Kementerian PUPR 2015 (Halaman 57-62)