BAB V HUBUNGAN TANAH DENGAN AKTOR SOSIAL
5.2 Peran Tanah Bagi Kehidupan Masyarakat Tani
Tanah merupakan salah satu jenis sumber agraria. Tanah menjadi sumberdaya yang strategis dimana memiliki beragam fungsi bagi kehidupan manusia. Tanah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tanah pertanian yang terdiri dari lahan sawah dan ladang. Peran tanah yang ditemukan pada penelitian ini adalah peran ekonomis dan peran sosiologis. Peran ekonomis dapat dipahami
dalam peranannya dalam membangun kesejahteraan keluarga. Adapun peran sosiologis bagi masyarakat tani, tanah erat kaitannya dengan hubungan masyarakat.
5.2.1 Peran Ekonomis
Tanah sangat bernilai secara ekonomis, baik bagi petani yang tidak memiliki tanah maupun petani lain yang memiliki tanah dan menguasai tanah garapan di Kampung Cibereum Sunting, Kelurahan Mulyaharja. Peran ekonomis tanah ditandai adanya pandangan bahwa tanah merupakan sumber hidup manusia dan tanah dianggap sebagai aset dan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada intinya, tanah dianggap sebagai landasan eksistensial bagi kelangsungan hidup masyarakat tani kampung Cibereum Sunting. Peran tanah secara ekonomis dapat dipahami dalam peranannya untuk membangun kesejahteraan keluarga petani. Membangun kesejahteraan keluarga dalam arti memberi kontribusi dalam memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, menjadi sumber simpanan pada waktu yang diperlukan, dan jaminan bagi kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Bapak H. IYD (petani):
‘….Ari, taneuh mah penting pikeun wargi, trutami digunakeun pikeun nyumponan kabutuhan ekonomi keluargi, jeung oge pikeun ngarekatkeut tali silaturohim’.
‘….Tanah penting bagi warga, terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan juga untuk mempererat tali silaturahmi’.
Secara khusus, peran tanah dalam memberi kontribusi memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukan oleh para petani di Kampung Cibereum Sunting, Kelurahan Mulyaharja dalam mengelola tanah pertaniannya. Tanah yang dikelola untuk lahan pertanian dilakukan pada dua tempat, yaitu pada lahan basah (sawah) dan lahan kering (ladang). Lahan basah (sawah) secara produktif terutama digunakan untuk menanam padi. Selain diperuntukkan menanam padi, ternyata lahan yang dijadikan sawah oleh penduduk Kampung Cibereum Sunting juga diyakini merupakan cara efektif untuk melindungi sumberdaya. Sawah itu sendiri telah
dikenal sejak zaman nenek moyang dulu. Dapat diperkirakan pada waktu itu sawah masih sederhana, atau bahkan mungkin padi masih terdapat secara liar atau setengah liar. Namun sekarang, perkembangan sawah di Kampung Cibereum Sunting mengalami perubahan, yakni dari segi teknologi yang makin berkembang, seperti telah menggunakan berbagai jenis pupuk dan mengenal berbagai varietas padi.
Berbeda halnya dengan tanah yang dijadikan lahan pertanian kering (ladang), ladang biasanya ditanami oleh tanaman palawija. Pengetahuan berladang juga sudah diketahui oleh penduduk Kampung Cibereum Sunting secara turun temurun. Menurut informan, perkembangan pengetahuan tentang bercocok tanam ladang itu berproses, yakni terjadi melalui observasi manusia terhadap biji atau batang yang jatuh ke tanah dan proses tumbuhnya batang-batang pepohonan yang ditancapkan di tanah. Untuk hasil pertanian lahan basah (sawah) semisal padi yang dipanen oleh petani, biasanya tidak untuk diperjualbelikan namun dipergunakan sendiri untuk kebutuhan hidupnya sebagai pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Sementara itu, komoditas yang ditanam di ladang umumnya dijual ke pasar. Kalaupun ada yang dikonsumsi oleh petani, maka besarnya tidak melebihi bagian yang harus dijual di pasar.
Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas pengelolaan tanah pertanian yang dilakukan oleh para petani di Kampung Cibereum Sunting, Kelurahan Mulyaharja menghasilkan pendapatan yang tergolong rendah. Pendapatan yang diperoleh petani didapatkan per musim, yakni kisaran Rp.500.000,00-Rp.1.000.000,00. Meskipun begitu, petani tetap menganggap tanah pertanian yang dimiliki berperan penting bagi kelangsungan hidup petani. Menurut pengakuan responden, dengan mengelola lahan pertanian, petani tidak perlu membeli kebutuhan pokok seperti beras di warung, toko, atau pasar sehingga petani tidak perlu membayar mahal untuk membeli kebutuhan pokok (beras) tersebut. Peran penting tanah bagi petani dipertegas pula oleh pernyataan petani yang mengungkapkan bahwa pendapatan di sektor pertanian memang rendah dibandingkan di sektor industri, yakni di industri pendapatan yang diperoleh dapat mencapai Rp.890.000,00-Rp. 990.000,00. Meskipun begitu, petani memperoleh informasi bahwa pengeluaran masyarakat yang bekerja di sektor industri juga besar sehingga kalau
dihitung-hitung pendapatan bersih antara bekerja di sektor pertanian dengan di sektor industri tidak berbeda jauh. Terdapat pula petani yang mengungkapkan, bahwa petani tidak memiliki keahlian di sektor industri sehingga petani di Kampung Cibereum Sunting tidak tergiur bekerja di sektor industri dan lebih memilih untuk mengelola dan memanfaatkan lahan pertanian yang tersisa seefektif mungkin..
Peran ekonomis tanah sebagai sumber simpanan pada waktu yang diperlukan adalah tanah dinilai sebagai bentuk harta. Tanah yang dianggap sebagai harta dapat dipinjamkan (sewa) untuk digarap oleh orang lain atau dijual kepada orang lain. Tanah yang disewakan kepada petani lain dapat memberikan kesempatan memperoleh uang tunai atau mendapatkan beras dari petani yang menyewanya. Sementara itu, peran ekonomis tanah sebagai jaminan bagi kelangsungan hidup generasi yang akan datang, yakni tanah dianggap sebagai harta atau materi yang dapat diwariskan secara turun temurun kepada anak-anak. Petani beranggapan, dengan tanah pertanian yang dimiliki anak-anak dapat terus hidup dan bertahan. Lain kata, tanah dianggap sebagai bekal anak-anak untuk melangsungkan kehidupan di masa depan. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Bapak H. WWN (petani):
’petani-petani di dieu mah pada nyieun waris taneuh pikeun putra-putrana, saurna pikeun bekel hirup kaluargi engkeuna. Salain eta teh, taneuh oge tiasa disebut harta simpenan kitu. Janteun upami butuh teh, taneuh tani tiasa disewakeun atawa diical ka batur supados janteun artos’.
’petani-petani di sini membuat waris tanah untuk anak-anaknya, katanya untuk bekal hidup berkeluarga nantinya. Selain itu, tanah juga dapat dibilang sebagai harta simpanan. Jadi kalau membutuhkan, tanah pertanian dapat disewakan atau dijual kepada orang lain supaya menjadi uang’.
Ketergantungan secara ekonomis terhadap lahan terlihat jelas di Kampung Cibereum Sunting. Eratnya ketergantungan petani terhadap tanahnya, menunjukkan bahwa penduduk Kampung Cibereum Sunting tidak dapat dilepaskan dari tanah pertanian. Seiring berjalannya waktu, setelah masuknya pihak swasta yang membangun areal kompleks perumahan, masyarakat juga mengalami perubahan dalam pandangan terhadap sumber agraria tanah. Fakta di lapangan menunjukkan adanya peralihan penggunaan tanah, yakni dengan adanya
kompleks perumahan, penduduk di Kampung Cibereum Sunting menggeser keberadaan tanah pertanian. Hal ini mengindikasikan tanah bukan lagi menjadi fungsi produksi melainkan ke arah pemanfaatan fungsi reproduksi.
5.2.2 Peran Sosiologis Tanah
Peran tanah secara sosiologis, menurut penelitian ini memiliki fungsi sosial, yaitu sebagai perekat hubungan sosial atau kohesi sosial pada komunitas di Kampung Cibereum Sunting. Peran tanah secara sosiologis pun menyangkut hubungan manusia dengan masyarakat lain yang dicirikan dengan adanya simbol status sosial yang dilekatkan pada seseorang berdasarkan tanah yang dimilikinya. Tanah pun dapat dijadikan sarana untuk mengikat kekerabatan dan ikatan keluarga melalui pola pewarisan tanah yang terjadi dalam keluarga.
Peran tanah secara sosial dapat berkaitan dengan status sosial yang dilekatkan pada seseorang berdasarkan tanah yang dimilikinya. Di Kampung Cibereum Sunting luas lahan tidak menentukan secara langsung status sosial seseorang. Adapun status sosial melekat berkaitan dengan effect penguasaan tersebut, yakni tingginya tingkat kesejahteraan akibat penguasaan lahan tersebut. Seseorang yang memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi akibat penguasaan lahan yang lebih luas dibanding yang lainnya, mendapatkan perlakuan yang berbeda dibanding yang lainnya.
Peran tanah secara sosial dalam peranannya sebagai perekat ikatan kekerabatan, ditunjukkan tidak hanya di kalangan keluarga saja tetapi mencakup petani-petani lain yang tidak memiliki ikatan keluarga. Tanah merupakan aset yang diwariskan kepada anggota keluarga dan memiliki nilai sosial. Tanah yang diwariskan bagi sebagian warga tidak boleh diperjualbelikan kepada orang lain, hal ini karena menyangkut tali ikatan keluarga. Sementara itu, tanah sebagai ikatan kekerabatan yang terjalin dengan pihak di luar keluarga dibuktikan dengan adanya keterbukaan petani berlahan luas untuk mempekerjakan petani yang tidak memiliki lahan atau berlahan sempit untuk menggarap lahan yang dimilikinya. Ikatan kekerabatan ini masih terlihat, dari adanya kegiatan bersama dan mereka mengenal satu sama lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Bapak. H. DYT (petani):
’ Ari taneuh teh tiasa ngarekatkeun tali sodara, lantaran manusa hirup di bumi teh kudu hablum minannas oge. Janteun, upami aya nu butuh kudu saling ngabantos, misalna ngabantos urang dina kajadian kamaotan jeung hajatan kawinan’.
’Kalau di sini tanah dapat digunakan sebagai alat untuk mempererat tali persaudaraan. Karena hidup manusia di bumi harus hablum minannas juga. Jadi, kalau ada yang membutuhkan harus saling membantu, misalnya membantu dalam peristiwa kematian dan perkawinan’.
Peran sosiologis tanah sebagai perekat ikatan kekerabatan memiliki maksud tersendiri di dalamnya, yakni dilakukan demi terciptanya ketertiban, keharmonisan, dan ketentraman dalam kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, hampir dalam seluruh aktivitas kehidupan sosial yang erat kaitannya dengan tanah menekankan arti pentingnya kekeluargaan dan kerjasama yang diwujudkan dalam bentuk tolong menolong dan gotong royong. Kegiatan tolong menolong dan gotong royong ini menjadi landasan moral dan semangat solidaritas masyarakat. Sistem kerjasama antar masyarakat terlihat dari pola patron-client dalam penggarapan lahan pertanian di masyarakat. Sistem kerjasamanya berlandaskan kekeluargaan tanpa adanya konflik dalam pertanian. Sistem maro dan mertelu yang dilakukan penduduk pun merupakan sistem bagi hasil yang meneguhkan sikap saling tolong menolong dalam masyarakat.