• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEREMPUAN GAYO, DARI REMAJA SAMPAI

3.4 Persalinan: Bidan Kampung (Masih) Menjadi Idola

Bidan kampung adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat se­ tempat untuk menyebut dukun kampung perempuan, sedangkan dukun kampung laki­laki tetap disebut dengan istilah dukun kampung. Oleh sebab itu, apabila masyarakat berbicara mengenai bidan, hal tersebut perlu dicerna kembali, bidan siapa yang dimaksud dalam pembicaraan tersebut, apakah bidan kampung atau bidan desa. Namun, bidan desa disebut oleh masyarakat setempat dengan sebutan mentri atau doktor. Dalam tulisan ini akan digunakan istilah bidan kampung untuk menjelaskan dukun kampung, sedangkan bidan desa tetap menggunakan istilah bidan desa. Sementara itu, dukun kampung pria dan pengobat tradisional lainnya tetap menggunakan istilah dukun kampung.

Di Desa Tetingi terdapat dua orang bidan kampung yang terkenal, satu bidan kampung terdapat di Dusun Arul Sirep, sedangkan satu bidan kampung lagi terdapat di Dusun Tamak Nunang. Namun sebenarnya, selain dua bidan kampung tersebut, masih ada perempuan Gayo yang bisa melakukan tindakan seperti bidan kampung, termasuk membaca mantra. Salah satu contohnya adalah Inen Ti. Namun, Inen Ti tidak mau dipanggil bidan kampung, sebab menurutnya masih ada Empun (Nenek) Ar yang lebih senior daripada dirinya. Oleh sebab itu, jarang ada masyarakat yang mengetahui bahwa Inen Ti juga bisa bertindak sebagai bidan kampung, kecuali orang­orang terdekatnya.

Selain bidan kampung yang berasal dari Desa Tetingi itu sendiri, masyarakat setempat juga memanggil bidan kampung yang berada di desa lain untuk menolong persalinan. Biasanya bidan kampung yang berasal dari desa tetangga dan dipanggil untuk menolong persalinan atau mengatasi masalah kehamilan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan ibu hamil atau ibu bersalin. Jadi, bidan kampung yang menolong persalinan di Desa Tetingi bukan hanya berasal dari Desa Tetingi, melainkan juga berasal dari desa lain.

Masyarakat Desa Tetingi lebih cenderung memilih bidan kampung daripada bidan desa untuk menolong persalinan. Hal ini terlihat pada saat penelitian selama dua bulan di Desa Tetingi, terdapat lima ibu yang melakukan persalinan dan semuanya memanggil bidan kampong untuk menolong persalinan, baik bidan kampung yang berasal dari Desa Te­ tingi maupun bidan kampung dari desa lain. Bidan kampung dipilih oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan karena adanya hubung­

Inen Ar ditolong oleh bidan kampung yang adalah ibu kandungnya sendiri. Meskipun jarak rumah Inen Ar dengan poskesdes sama dekatnya dengan jarak rumahnya dengan rumah ibunya, namun Inen Ar lebih memilih dito-long oleh ibunya karena ibunya adalah seorang bidan kampung yang telah menolong persalinan selama bertahun­tahun. Demikian pula dengan Inen So. Dia ditolong oleh bibinya yang tinggal di Desa Kong Bur yang jaraknya kira­kira tiga kilometer dari rumahnya, padahal jarak poskesdes dengan rumahnya jauh lebih dekat, hanya sekitar 500 meter. Selain Inen Ar dan Inen So, ada juga Inen Sa, Kak My, dan Ka Su yang ditolong oleh bidan kampung. Mereka memanggil bidan kampung untuk menolong persali-nan karena masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka.

Hubungan kekerabatan antara ibu bersalin dan bidan kampung ini-lah tampaknya yang menjadi faktor utama mengapa bidan kampung atau dukun kampung dipilih oleh masyarakat sebagai penolong persalinan daripada bidan desa. Hal ini berbeda dengan bidan desa yang notabene adalah seorang pendatang di Desa Tetingi dan tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan masyarakat Desa Tetingi. Hampir setiap keluarga luas (extended family) di Desa Tetingi mempunyai bidan kampung atau dukun kampung. Sebagai contoh, berikut akan ditampilkan pohon kekerabatan antara ibu bersalin dan bidan kampung dalam beberapa keluarga berikut ini.

Bagan 3.1. Pohon kekerabatan antara ibu hamil atau ibu bersalin dengan dukun kampung dalam beberapa keluarga di Desa Tetingi.

Keterangan : : Laki-laki : Perempuan : Dukun/Dukun kampung : Ibu Hamil/Bersalin : Balita

Inen Ar ditolong oleh bidan kampung yang adalah ibu kandungnya sendiri. Meskipun jarak rumah Inen Ar dengan poskesdes sama dekatnya dengan jarak rumahnya dengan rumah ibunya, namun Inen Ar lebih memilih dito-long oleh ibunya karena ibunya adalah seorang bidan kampung yang telah menolong persalinan selama bertahun­tahun. Demikian pula dengan Inen So. Dia ditolong oleh bibinya yang tinggal di Desa Kong Bur yang jaraknya kira­kira tiga kilometer dari rumahnya, padahal jarak poskesdes dengan rumahnya jauh lebih dekat, hanya sekitar 500 meter. Selain Inen Ar dan Inen So, ada juga Inen Sa, Kak My, dan Ka Su yang ditolong oleh bidan kampung. Mereka memanggil bidan kampung untuk menolong persali-nan karena masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka.

Hubungan kekerabatan antara ibu bersalin dan bidan kampung ini-lah tampaknya yang menjadi faktor utama mengapa bidan kampung atau dukun kampung dipilih oleh masyarakat sebagai penolong persalinan daripada bidan desa. Hal ini berbeda dengan bidan desa yang notabene adalah seorang pendatang di Desa Tetingi dan tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan masyarakat Desa Tetingi. Hampir setiap keluarga luas (extended family) di Desa Tetingi mempunyai bidan kampung atau dukun kampung. Sebagai contoh, berikut akan ditampilkan pohon kekerabatan antara ibu bersalin dan bidan kampung dalam beberapa keluarga berikut ini.

Bagan 3.1. Pohon kekerabatan antara ibu hamil atau ibu bersalin dengan dukun kampung dalam

Selain faktor hubungan kekerabatan, faktor lain yang menyebabkan mengapa masyarakat lebih memilih bidan kampung untuk menolong persalinan daripada bidan desa adalah karena sistem kepercayaan. Se-perti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya pada bagian sistem kepercayaan, meskipun mayoritas masyarakat Desa Tetingi beragama Islam, tetapi kepercayaan pada hal­hal yang gaib dan magis masih ada. Hal yang gaib dan magis tersebut juga dapat mengganggu ibu hamil dan ibu bersalin. Oleh sebab itu, bidan kampung atau dukun kampung membaca mantra untuk menghilangkan hal yang gaib dan magis tersebut. Mantra inilah yang menjadi daya tarik bidan kampung dan dukun kampung sehingga masih menjadi “idola” untuk menangani masalah kehamilan dan menolong persalinan. Sementara itu, bidan desa dianggap tidak bisa mengusir setan dan magis yang terdapat pada ibu hamil dan ibu bersalin.

“… kalau di sini melahirkan masih banyak dengan bidan kampung, Dik. Karena kalau bidan kampung ada mantra­man­ tranya, kalau di mentri (bidan) itu enggak ada mantranya …,” jelas Inen Je.

“… bidan kampung masih dipanggil karena dia tahu ada setan­ nya atau nggak. Kalau doktor kan nggak tau …,” kata Kak Se.

3.4.1 Pengetahuan Ibu Bersalin Mengenai Tanda-tanda Persalinan

Masih ada ibu hamil di Desa Tetingi yang belum mengetahui tanda­ tanda persalinan sehingga terjadi persalinan tanpa ditolong oleh bidan kampung atau bidan desa. Hal ini seperti yang dialami oleh Inen Ar yang mengira bahwa sakit perut yang dialaminya karena masuk angin, seperti yang diceritakan pada cerita berikut ini.

Pada suatu malam, pada pertengahan bulan Juni 2012, saat semua orang tengah tidur lelap, Inen Ar mengalami sakit perut. Pada saat itu, jam menunjukkan pukul 00.00 malam hari. Inen Ar menduga sakit perut yang dideritanya disebabkan masuk angin karena menurut perkiraannya dia tidak mungkin melahirkan pada malam itu. Sebab, berdasarkan pada peng­ alaman persalinan anak sebelumnya, dia melahirkan pada saat usia kehamilannya sepuluh bulan, padahal pada saat itu usia kehamilannya sembilan bulan. Oleh sebab itu, Inen Ar beranggapan bahwa sakit perut yang dideritanya karena

Untuk mengurangi rasa sakit itu, Inen Ar pun mengambil balsam untuk dioleskan ke perutnya yang sudah membesar agar rasa sakit itu berkurang. Namun, ternyata rasa sakit itu tetap terasa. Inen Ar pun mengambil air hangat yang ditaruh di dalam botol. Botol air hangat tersebut ditaruh di atas perutnya untuk mengurangi rasa sakit. Namun, rasa sakit itu tetap belum berkurang. Akhirnya, dia pun membangunkan suaminya yang sedang tidur lelap. Melihat istrinya mengeluh sakit di bagian perut, suaminya pergi ke rumah Empun (Nenek) Ar, seorang bidan kampung yang juga ibu kandung Inen Ar. Pada saat suaminya pergi ke rumah ibunya tersebut, Inen Ar berjuang sendiri untuk melawan rasa sakit itu. Tak lama berselang setelah suaminya pergi memanggil ibunya, lahirlah seorang bayi mungil dari rahim Inen Ar. Untungnya, tak lama setelah bayi tersebut lahir, Empun (Nenek) Ar pun datang bersama suaminya. Melihat si bayi telah lahir, Empun (Nenek) Ar pun segera memotong tali pusar bayi tersebut dengan semilu (sebilah bambu).

Keesokan harinya, salah satu anggota keluarga Inen Ar da­ tang ke poskesdes yang letaknya tak jauh dari rumah Inen Ar, kira­kira 100 me ter, untuk memberitahukan kepada bidan desa bahwa Inen Ar telah melahirkan. Setelah mendapatkan informasi mengenai kelahiran anak ke empat Inen Ar, bidan desa pun bergegas datang ke rumah Inen Ar untuk memeriksa keadaan Inen Ar dan menimbang bayinya. Berat bayi Inen Ar yang berjenis kelamin perempuan tersebut adalah 3,4 kilogram. Setelah menimbang bayinya, bidan desa pun menyuntik bagian paha Inen Ar dan memberikan obat dan kassa untuk pusar si bayi kepada Inen Ar. Kemudian bidan desa pun pamit untuk pulang.

Selain Inen Ar, ada juga Inen So yang melakukan persalinan sendiri tanpa dibantu oleh bidan kampung atau bidan desa. Pada saat itu dia mengira anak yang dikandungnya belum tiba waktunya untuk lahir, karena menurut perhitungannya, usia kandungannya baru berusia tujuh bulan. Hal ini seperti yang diceritakan pada cerita berikut ini.

Inen So yang berusia sekitar 30­an tahun telah melahirkan anak keempatnya pada bulan Mei 2012. Ia tidak menyangka anaknya akan lahir

pada bulan itu. Menurut perkiraannya, dia akan melahirkan dua bulan lagi, karena menurut perhitungannya, usia kandungannya pada saat itu masih tujuh bulan. Namun, pagi yang cerah pada bulan Mei 2012 telah memberinya seorang anak laki­laki. Pada saat itu waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi hari, waktu yang tepat bagi ibu­ibu di Desa Tetingi untuk melakukan aktivitas rumah tangga, seperti mencuci baju, membersihkan rumah, dan sebagainya. Pada saat itu, Inen So baru selesai mencuci pakaian di sumur yang terletak kira­kira 100 meter dari rumah Inen So. Setelah mencuci pakaian, Inen So mengalami sakit perut. Dia pun segera pulang untuk istrihat sejenak. Namun, rasa sakit itu semakin terasa. Melihat sang istri mengalami kesakitan, suami Inen So yang pada saat itu masih berada di rumah, segera memanggil bibinya yang juga seorang bidan kampung di Desa Kong (sekarang berganti nama Kong Bur). Jarak Desa Kong Bur dengan Desa Tetingi sekitar tiga kilometer. Bibinya tersebut adalah adik kandung bapak suami Inen So.

Ketika suaminya memanggil bibinya, rasa sakit perut yang dialami oleh Inen So semakin terasa. Tak lama berselang setalah suaminya pergi memanggil bibinya, rasa sakit di perut yang dialami Inen So semakin terasa. Tak lama kemudian, keluarlah seorang bayi lucu dari rahim Inen So. Untung tak disangka, tak lama kemudian bibi dan suaminya pun datang. Melihat sang bayi telah keluar dari rahim Inen So, bibinya pun langsung memotong tali pusar anaknya dengan semilu dan memandikannya dengan air dingin.

Kabar kelahiran putra keempat Inen So tidak diketahui oleh sebagian masyarakat Desa Tetingi, bahkan ada yang tidak tahu akan kehamilan Inen So. Hal ini seperti yang dialami oleh seorang anggota tim peneliti ketika memastikan informasi kepada salah satu warga bahwa Inen So telah melahirkan, warga tersebut berkata “O, yah? Banyak yang enggak tahu kalau dia itu hamil. Badannya juga kecil, nggak keliatan,” jelas salah satu warga tersebut dengan ekspresi sedikit kaget. Tim peneliti mengetahui bahwa Inen So telah melahirkan seorang anak laki­laki dari Empun (Nenek) Ar, seorang dukun kampung yang dekat dengan salah satu anggota tim peneliti. Empun (Nenek) Ar memberitahukan kepada salah seorang anggota tim peneliti tersebut pada hari kedua setelah Inen So melahirkan, pada saat mereka bertemu di MCK milik Empun (Nenek) Ar. Meskipun Empun (Nenek) Ar dikenal sebagai bidan kampung di Desa Tetingi, tetapi Inen So tidak memanggilnya, karena Inen So mempunyai bibi yang juga

bibinya yang tinggal di Desa Kong Bur mempunyai hubungan kekerabtan lebih dekat daripada dengan Empun (Nenek) Ar, meskipun rumah Empun (Nenek) Ar lebih dekat daripada rumah bibinya.

Keesokan harinya atau pada hari ketiga setelah Inen So melahirkan, salah satu anggota tim peneliti bertandang ke poskesdes untuk mena­ nyakan keadaan Inen So kepada bidan desa. Namun rupanya Bidan desa tidak mengetahui bahwa Inen So telah melahirkan tiga hari yang lalu, bahkan dia baru mendapatkan kabar tentang Inen So dari tim peneliti pada saat itu. Setelah mendapat informasi mengenai kelahiran anak Inen So dari tim peneliti, bidan desa tersebut pun datang ke rumah Inen So untuk memeriksa Inen So dan anaknya. Ketika tiba di rumah Inen So, bidan desa memeriksa Inen So, menyuntiknya, dan memberinya obat­obatan. Selain itu, bidan desa juga menimbang anak Inen So. Setelah ditimbang, berat bayi Inen So 2,8 kilogram. Bidan desa tersebut hanya menimbang bayi Inen So, karena menurutnya pada saat dia ingin merawat tali pusar bayi tersebut dan memberinya kassa, Inen So berkata bahwa anaknya sedang buang air besar. Akhirnya, bidan desa tersebut mengurungkan niatnya untuk memeriksa bayi dan memberi kassa pada pusar bayi Inen So. Oleh sebab itu, bidan desa tersebut hanya memberikan perlengkapan kassa untuk pusar bayi dan menjelaskan pada Inen So cara menggunakan kassa tersebut.

Setiba di poskesdes, peneliti pun bertanya kepada bidan desa apa­ kah benar usia kehamilan Inen So belum mencapai 7 bulan seperti yang telah dijelaskan oleh Inen So sebelumnya pada peneliti. Bidan desa tersebut menjawab bahwa usia kehamilan Inen So tersebut sudah 9 bulan dan memang sudah waktunya melahirkan. Menurut bidan desa tersebut, memang masih banyak ibu hamil yang salah menghitung usia kehamilannya. Untuk itu, pada saat pemeriksaan pertama atau pada saat bertemu dengan ibu hamil, bidan desa bertanya kapan terakhir kali si ibu mengalami menstruasi.

Inen So telah melahirkan empat orang anak. Menurutnya, empat orang anaknya tersebut tidak ada yang dilahirkan dengan bantuan bidan desa, bahkan anaknya yang ketiga yang sekarang berumur 6 tahun tidak dibantu oleh bidan desa maupun bidan kampung, melainkan dibantu oleh tetangganya, karena pada saat itu bibinya yang berada di Desa Kong terlambat datang untuk memotong tali pusar anaknya. Tetangga Inen So yang membantu persalinan anak ketiganya adalah Inen NA yang rumahnya di depan rumah Inen So. Inen NA bukanlah seorang bidan kampung dan

juga bukan seorang bidan desa, namun karena hal itu harus dilakukan, Inen NA akhirnya memotong tali pusar anak Inen So. Menurut Inen So, dia tidak mau memanggil bidan desa untuk membantu persalinannya karena takut dibedah. “Nggak ah, nanti dibedah. Masih bisa sendiri,” ujar Ibu So ketika salah seorang peneliti menanyakan mengapa dia tidak memanggil bidan desa untuk membantu persalinannya.

Berdasarkan dua cerita dari ibu bersalin di atas, dapat diketahui bahwa masih ada ibu hamil di Desa Tetingi yang tidak mengetahui tanda­tanda persalinan. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya (1) adanya kesalahan dalam menghitung bulan kehamilan, (2) adanya kesalahan dalam memprediksi persalinan karena berdasarkan pada pengalaman persalinan sebelumnya, dan (3) masih ada ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan kepada tenaga kesehatan, seperti yang diceritakan sebelumnya. Ketidaktahuan ibu hamil akan tanda­tanda persalinan dapat menyebabkan ketidaksiapan seorang ibu untuk menghadapi persalinan sehingga terjadi persalinan yang dilakukan sendiri oleh ibu hamil seperti dalam cerita Inen Ar dan Inen So.

Selain Inen Ar dan Inen So, ada juga Inen Ti yang melakukan per­ salinan sendiri di tengah persawahan. Menurut cerita Inen Ti yang telah mempunyai tujuh orang anak, tiga orang anaknya, yaitu anak kelima, keenam, dan ketujuh dilahirkan di tengah sawah tanpa pertolongan bidan kampung maupun bidan desa. Pada saat itu, Inen Ti sedang bekerja di sawah. Pada saat bekerja, dia mengalami kesakitan pada perutnya. Me­ lihat sang istri mengalami sakit perut, sang suami yang pada saat itu sedang bekerja segera pergi ke pemukiman penduduk untuk mencari pertolongan bidan kampung atau bidan desa. Namun, untung tak dapat diraih. Bidan kampung dan bidan desa tidak ada di tempat. Kemudian, suami Inen Ti pun memanggil bibinya yang bukan seorang bidan kampung untuk menolong Inen Ti yang sedang mengalami kesakitan.

Ketika suami Inen Ti pergi ke pemukiman penduduk untuk mencari pertolongan, Inen Ti berjuang sendiri melawan rasa sakit. Tak lama waktu berselang, Inen Ti melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu, sebelum suaminya datang membawa bibinya untuk menolong. Tak lama kemudian, suaminya datang bersama bibinya. Melihat Inen Ti telah melahirkan seorang bayi, bibinya yang bukan seorang bidan kampung maupun bidan desa segera memotong tali pusar dan merawat bayinya. Menurut Inen Ti, dia sudah tiga kali mengalami persalinan sendiri di tengah sawah tanpa

3.4.2 Metode Bidan Kampung Menolong Persalinan

Bidan kampung di Desa Tetingi mempunyai cara atau metode tersendiri untuk menolong persalinan. Cara atau metode tersebut dipelajari secara turun­temurun dari ibunya, neneknya, dan nenek moyangnya, seperti menggunakan kunyit dan minyak goreng untuk mengurut atau memijat perut ibu hamil, menggunakan semilu untuk memotong tali pusar bayi, dan sebagainya. Namun, kadang kala cara pertolongan persalinan satu bidan kampung dengan bidan kampung yang lain berbeda, begitu pula antara bidan kampung dan dukun kampung.

Menurut Empun (Nenek) Ma, salah seorang bidan kampung yang terkenal di Desa Tetingi, apabila ibu hamil sudah sering sakit dan diperkirakan sudah tiba waktunya untuk melahirkan, ia diberi air kopi yang dicampur kuning telur untuk diminum. Air kopi dan kuning telur tersebut merupakan “suntikan pemanas” atau perangsang agar cepat melahirkan. Pendapat Empun (Nenek) Ma tersebut sama dengan yang disampaikan oleh Empun (Kakek) Sn pada saat istrinya akan melahirkan anak­anaknya yang kini telah dewasa. Pada saat itu, istrinya diberi air kopi yang telah dicampur kuning telur oleh dukun kampung.

Selain kopi dan kuning telur sebagai perangsang agar cepat me­ lahirkan, Empun (Nenek) Ma juga menjelaskan bahwa ada bawang putih, mungkur (jeruk perut), dan minyak goreng yang dioleskan pada lubang pintu lahir (vagina). Sebelum dioleskan, bahan­bahan tersebut dicampur terlebih dulu. Ramuan ini diberikan agar vagina cepat melebar sehingga bayi dapat keluar dengan mudah. Setelah mengoleskan bawang putih, mungkur, dan minyak goreng tersebut, Empun (Nenek) Ma akan menggoyang­goyangkan pinggang ibu yang akan melahirkan dengan kain panjang agar bayi cepat keluar.

Berbeda dengan Empun (Nenek) Ma, Empun (Nenek) Ar, seorang bidan kampung terkenal di Desa Tetingi, mempunyai cara yang berbeda untuk membantu persalinan. Pada saat seorang ibu hamil akan mela­ hirkan, Empun (Nenek) Ar akan mengurut perut ibu tersebut dengan menggunakan minyak goreng dan bawang putih yang sudah didoakan terlebih dulu, kemudian dioleskan ke perut ibu hamil yang akan melahirkan. Minyak goreng dan bawang putih digunakan sebagai minyak urut untuk membantu persalinan karena diyakini dapat menghilangkan blis (setan) yang dapat masuk ke dalam tubuh ibu bersalin. Oleh sebab itu, menurut Empun (Nenek) Ar, minyak goreng tidak bisa diganti dengan minyak yang lain, seperti minyak telon dan minyak kayu putih, karena minyak­minyak

tersebut tidak bisa menghilangkan atau mengusir setan yang akan masuk ke dalam tubuh ibu bersalin. Minyak goreng yang digunakan bisa minyak goreng yang sudah dipakai untuk menggoreng atau yang belum dipakai untuk menggoreng.

Apabila mengurut dengan minyak goreng dan putih tidak mampu membantu ibu bersalin melahirkan anaknya, Empun (Nenek) Ar masih mempunyai cara lain. Kedua kaki ibu bidan kampung akan masuk di antara kedua paha ibu bersalin sampai ujung kaki bidan kampung menyentuh pangkal paha ibu yang akan melahirkan. Dua kaki bidan kampung ter

-sebut akan membuka dua paha ibu yang melahirkan secara perlahan. Sementara itu, bidan kampung akan memasukkan tangannya ke dalam vagina ibu bersalin untuk mengambil si bayi. Sebelum dimasukkan, tangan bidan kampung terlebih dulu diolesi dengan minyak goreng dan tidak menggunakan sarung tangan seperti tenaga kesehatan. Hal ini dilakukan agar lebih mudah mengambil si bayi yang berada di dalam perut. Selain