• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAYO LUES, PESONA NEGERI SERIBU BUKIT

2.6 Sistem Kemasyarakatan dan Organisasi Sosial

Desa Tetingi dipimpin oleh seorang geuchik (kepala desa). Guechik dipilih oleh masyarakat secara langsung setiap lima tahun sekali. Geuchik

mempunyai peran penting dalam menyelesaikan urusan desa, baik yang bersifat administratif maupun non­administratif, seperti menyelesaikan masalah masyarakat yang berkaitan dengan pembangunan dan pene­ rapan aturan dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Dalam men-jalankan tugasnya sebagai kepala desa, geuchik dibantu oleh seorang se­ kretaris desa, kepala dusun, imam, kepala urusan pembangunan, kepala urusan pe merintah, kepala urusan umum, dan tokoh-tokoh masyarakat se tempat.

Dasar pengorganisasian desa berpedoman pada Qanun nomor 9 tahun 2004 tentang Pembentukan Kecamatan di Kabupaten Gayo Lues. Menurut geuchik, sekretaris desa, dan beberapa pegawai kantordi keca­ matan, struktur pemerintahan desa yang berjalan sekarang ini adalah seperti skema berikut ini.

Bagan 2.1 Sistem pemerintahan Desa Tetingi.

Pemerintahan desa yang diterbitkan SK­nya oleh Bupati adalah kepala desa, sekdes, imam desa, dan BPK (Badan Pengawas Kampung), sedangkan yang lain ditetapkan oleh pimpinan kampung melalui kepala desa. Sementara itu, di atas geuchik ada seorang mukim yang dipilih oleh geuchik­geuchik yang akan berada dalam mukim tersebut. Mukim berada pada level kecamatan. Dalam Kecamatan Blang Pegayon, terdapat dua orang mukim. Satu mukim membawahi enam desa. Mukim dibantu oleh sekretaris dan bendahara mukim. Peran mukim adalah menyelesaikan masalah antardesa dan membantu camat dalam pembangunan desa.

Pemuda Masyarakat

Ormas BPK Desa

Tetingi Geuchik Imam

Desa Tetingi Kadus Arul Sirep Kadus Tamak Nunang Sekdes Kaur Pembangunan n Kaur Umum Kaur Pemerintah

Menurut beberapa tokoh masyarakat setempat, walaupun struktur desa telah ditetapkan dengan Qanun dan Surat Keputusan Bupati, tetapi budaya kepemimpinan desa masih tetap menggunakan sistem dalam budaya Gayo yang biasa disebut jema opat. Jema opat pada masa sekarang sudah disesuaikan dengan struktur baru, seperti reje disamakan dengan geuchik, pegawe disamakan dengan sekdes, kaur, dan kadus, orang tue disamakan dengan imam dan BPK, dan saudere disamakan dengan cerdik pandai dan tokoh masyarakat.

Pendapat ini dipertegas juga oleh Pak Am yang merupakan salah seorang pegawai BPS Kabupaten Gayo Lues, yang juga menulis tentang sejarah Gayo Lues dalam skripsinya. Beliau menambahkan bahwa gelar pejabat disebut kejuron. Istilah kejuron berbeda dalam setiap masyarakat. Dalam masyarakat Gayo Lues dinamakan kejuron pejabah, dalam masyarakat Takengon (Aceh Tengah) disebut kejuron sibanyak linge, dalam masyarakat Lokop disebut kejuron nabok, dan dalam masyarakat Kutacane (Aceh Tenggara) disebut kejuron nampak. Pak Am juga menjelaskan tentang semboyan jema opat yang mempunyai makna sebagai berikut.

1. Saudere

“Saudere pong mupakat, lepas berule taring beraing, salah ber­ tegak benar berpapah.” Artinya, saudara merupakan tempat bermu­ syawarah, tempat meminta, dan saling membantu.

2. Urang tue

“Urang tue musidik sasat.” Artinya, orang tua akan menganggap anak sendiri apabila menemukan ada anak yang salah. Untuk itu, mereka akan menyelidiki dan memberi nasihat, kemudian dikembalikan pada orang tuanya.

3. Pegawe

“Pegawe mu perlu sunet.” Artinya, orang yang mengetahui hukum adat, pemerintahan, haram, halal, dan lain-lain.

4. Reje

2.6.2 Kelompok Sosial

Menurut informasi dari masyarakat, tidak ada kelompok sosial dalam masyarakat Desa Tetingi, seperti arisan, PKK, kelompok pengajian, atau kelompok-kelompok sosial lainnya. Menurut mereka, hanya ada kelompok pengajian ibu­ibu yang diadakan setiap malam Jumat, tetapi kelompok tersebut sudah tidak aktif lagi karena tidak ada yang memeloporinya. Sementara itu, kelompok sosial pemuda hanya ada jika ada kegiatan Tari Saman atau Tari Bines yang akan dipentaskan di Desa Tetingi, di desa lain, atau di tempat lain. Jika ada kegiatan Tari Saman dan Tari Bines, para pemuda tersebut berkumpul untuk latihan bersama dan menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan.

2.6.3 Organisasi Sosial (Sistem Kekerabatan)

Dalam masyarakat Gayo terdapat beberapa terminologi kekerabatan yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari­hari. Istilah kekerabatan tersebut menunjukkan peran dan status sosial seseorang. Keluarga inti (nuclear family) yang terdiri atas bapak, ibu, dan anak mempunyai pang­ gilan tersendiri dalam keluarga. Misalnya, seorang bapak dipanggil apak oleh anaknya, sedangkan seorang ibu dipanggil amak oleh anaknya. Anak laki­laki akan dipanggil win oleh orang yang lebih tua, sedangkan anak perempuan akan dipanggil etek oleh orang yang lebih tua. Seorang adik akan memanggil aka untuk kakak perempuannya dan abang untuk kakak laki-lakinya.

Panggilan win untuk anak laki-laki dan etek untuk anak perempuan akan berubah jika sudah menikah. Apabila sudah menikah dan belum mempunyai anak, panggilan etek akan berubah menjadi inen mayak dan win menjadi aman mayak. Panggilan inen mayak dan aman mayak akan berubah lagi jika mereka sudah mempunyai anak. Nama anak pertama akan mengikuti nama panggilan mereka, misalnya nama anak pertama mereka adalah Dewi maka inen mayak akan dipanggil menjadi Inen Dewi dan aman mayak menjadi Aman Dewi. Jadi, melalui panggilan tersebut dapat diketahui pasangan suami istri yang belum mempunyai anak dan siapa nama anak pertama mereka.

Panggilan Inen Dewi dan Aman Dewi akan berubah lagi ketika anak­ nya menikah dan mempunyai seorang anak. Misalnya, nama anak Dewi adalah Sultan. Sultan adalah cucu pertama bagi Inen Dewi dan Aman Dewi. Maka itu, Inen Dewi dan Aman Dewi akan dipanggil Empun Sultan

oleh masyarakat setempat, yang berarti kakek atau nenek Sultan. Namun, panggilan Inen Mayak, Aman Mayak, Inen Dewi, Aman Dewi, atau Empun Sultan hanya boleh dilakukan oleh orang yang lebih tua daripada mereka. Apabila ada orang yang lebih muda memanggil dengan istilah tersebut maka dianggap tidak sopan oleh masyarakat setempat. Namun, panggilan tersebut sering digunakan dalam penyebutan secara tidak langsung (bu­ kan panggilan) oleh masyarakat setempat, meskipun usianya lebih muda. Berdasarkan istilah tersebut dapat diketahui warga masyarakat yang sudah mempunyai anak atau cucu dan yang belum mempunyai anak atau cucu.

Selain panggilan dalam keluarga inti (nuclear family), juga ada pang­ gilan dalam keluarga luas (extended family) yang terdiri atas adik dan kakak bapak dan ibu. Adik perempuan ibu dipanggil yu dan suami yu dipangil pakcik, sedangkan adik laki­laki ibu dipanggil pun dan istri pun dipanggil inepun. Kakak perempuan ibu dipanggil we’ dan suami we’ dipanggil we’, sedangkan kakak laki­laki ibu dipanggil pun dan istri pun dipanggil inepun. Adik perempuan bapak dipanggil ebik dan suami ebik dipanggil kail, sedangkan adik laki­laki bapak dipanggil ujang dan istri ujang dipanggil makcik. Kakak perempuan bapak dipanggil ebik dan suami ebik dipanggil kail. Kakak laki­laki bapak dipanggil we’ dan istri we’ dipanggil we’.

Selain terminologi panggilan dalam hubungan kekerabatan, juga ada terminologi status dalam hubungan kekerabatan, misalnya hubung­ an kakak­adik yang mempunyai jenis kelamin yang sama disebut se­ rinen, sedangkan jika berbeda jenis kelamin disebut impal. Serinen juga merupakan istilah untuk menyebutkan hubungan sepupu yang mempunyai jenis kelamin yang sama, sedangkan hubungan jenis kelamin yang berbeda disebut dengan.

Dalam sistem perkawinan, anak dari hubungan impal boleh menikah. Perkawinan tersebut disebut perkawinan impal. Sebagai contoh, Ardi mempunyai seorang adik perempuan bernama Dewi. Hubungan Ardi dan Dewi tersebut disebut impal. Setelah dewasa, Ardi menikah dengan pasangannya dan Dewi pun menikah dengan pasangannya. Setelah me­ nikah, Ardi dan istrinya mempunyai anak laki-laki, dan Dewi dan suaminya mempunyai anak perempuan. Hubungan anak Dewi dan anak Ardi disebut dengan. Anak Dewi dan Ardi tersebut boleh menikah, disebut perkawinan impal. Untuk lebih lanjut, sistem perkawinan akan dibahas pada bab selanjutnya.

Bagan 2.2 Pohon kekerabatan dalam hubungan keluarga.