SEBAGAI WUJUD PENGEMBANGAN POTENSI DIR
B. RANAH DAN RAGAM HASIL BELAJAR KOGNITIF
Ranah kognitif berkaitan dengan dua aspek dalam pancadaya yaitu daya takwa dan daya cipta. Menurut Prayitno (2009:19), daya takwa merupakan basis dan kekuatan pengembangan secara hakiki ada pada diri manusia (masing-masing ndividu) untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Pendidikan sebelum mengawali proses pembelajaran maupun setelah melaksanakan pembelajaran, siswa selalu dibimbing untuk selalu berdoa terlebih dahulu. Sehingga ketakwaan siswa kepada Tuhan Yang Maha Esa semakin meningkat.Hasil dari peningkatan ketakwaan siswa tersebut berupa peningkatan motivasi untuk mencari ilmu yang telah disediakan Tuhan Yang Maha Esa.Sedangkan daya cipta bersangkut-paut dengan kemampuan akal, pikiran, fungsi kecerdasan, fungsi otak. Dalam hal ini kemampuan dalam diri siswa tersebut dikembangkan secara optimal dalam proses pembelajaran. Sehingga kemampuan-kemampuan siswa semakin meningkat khususnya dalam hal berpikir dan penyelesaian masalah. Sehingga kedua aspek dalam pancadaya ini apabila dikembangkan secara maksimal dalam diri siswa maka akandidapatkan
31 hasil yang berupa hasil belajar. Anderson dan Krathwohl (dalam Gunawan, 2015: 11) menggolongkan hasil belajar ranah kognitif berdasarkan enam jenis perilaku, yakni.
1. Mengingat
Hasil balajar pada jenis ini merupakan tingkat terendah yang berupa ingatan yang telah lampau tentang pengetahuan yang pernah diajarkan.Mengingat meliputi mengenali (recognition), dan memanggil kembali (recalling).Contohnya dalam mengenali, yaitu siswa mampu untuk memilih salah satu dari dua atau lebih pilihan jawaban (Arikunto dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013: 202).Caranya yaitu dengan memberikan pertanyaan pilihan ganda (multiple-choice question) kepada siswa agar siswa dapat mengenali ilmu dari soal yang diberikan.Bentuk pertanyaan model ini dalam tampilan formatnya telah menyediakan beberapa alternatif jawaban dan responden diminta untuk memilih satu dari alternatif pilihan jawaban yang paling sesuai menurut resposnden (Mukhadis, 2013:207).
Sedangkan dalam memanggil kembali contohnya yaitu siswa mampu untuk mengingat kembali satu atau lebih fakta-fakta yang sederhana (Arikunto dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013: 202).Caranya yaitu dengan memberikan soal berupa materi yang pernah diajarkan dengan metode isian yang bertujuan untuk melatih ingatan siswa. Proses ini membutuhkan pengenalan masa lampau secara cepat dan tepat.
2. Memahami/mengerti
Hasil belajar pada jenis ini merupakan tingkat berikutnya dari ranah kognitif berupa kemampuan memahami atau mengerti dari berbagai sumber seperti pesan, bacaan, dan komunikasi.Dalam pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep (Arikunto dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013: 203). Diantaranya dengan memberikan soal berupa gambar pilihan ganda yang berguna untuk membuktikan pemahaman siswa terhadap suatu konsep.Dengan tes ini hasil belajar yang didapatkan oleh siswa yakni berupa pemahaman pasti tentang sebuah konsep.
3. Menerapkan
Hasil belajar pada jenis ini merupakan kemampuan menggunakan atau memanfaatkan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan atau menyelesaikan
32 permasalahan.Untuk penggunaan atau penerapannya, siswa dituntut untuk memiliki kemampuan menyeleksi atau memilih generalisasi atau abstraksi tertentu (konsep, hukum, dalil, atursn, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar (Arikunto dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013: 203).
Contohnya dengan pemberian soal berupa penggambaran sebuah hasil dari konsep untuk menunjukkan penerapan dari konsep tersebut.Hasil dari tes ini adalah siswa mampu menerapkan konsep yang telah diajarkan oleh pendidik.
4. Menganalisis
Hasil belajar pada jenis ini merupakan kemampuan memecahkan suatu permasalahan dengan memisahkan tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-tiap bagian tersebut dan mencari tahu bagaimana keterkaitan tersebut dapat menimbulkan permasalahan.Contohnya dengan memberikan soal pertanyaan yang mencakup 5W+1H yang materinya telah disampaikan sebelumnya.Hasil dari tes ini adalah siswa mampu menganalisis suatu kejadian-kejadian atau konsep dari situasi yang ditanyakan.
5. Mengevaluasi
Hasil belajar pada jenis ini merupakan uji kemampuan menilai isi pelajaran untuk suatu maksud atau tujuan tertentu(Davies dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013: 204).
Contohnya dengan memberikan soal yang memiliki kandungan benar atau salah tentang penerapan suatu konsep yang telah diajarkan sebelumnya.Hasilnya adalah siswa mampu menilai sebuah konsep yang ditawarkan tersebut adalah benar atau salah.
6. Menciptakan
Hasil belajar pada jenis ini dapat berupa cara peletakan unsur-unsur secara bersama-sama untuk membentuk kesatuan yang koheren dan mengarahkan siswa untuk menghasilkan suatu produk baru.Contohnya yaitu dengan menyuruh siswa untuk membuat karya dari barang-barang bekas sesuai dengan keinginan mereka sendiri.Hasilnya adalah siswa mampu menciptakan suatu produk baru dari barang bekas yang sudah tidak digunakan lagi.
33 C.RANAH DAN RAGAM HASIL BELAJAR PSIKOMOTOR
Ragam hasil belajar psikomotor berhubungan dengan pancadaya manusia yaitu pada aspek daya karya.Prayitno (2009: 20) menyatakan bahwa daya karya mengarah kepada dihasilkannya produk-produk nyata secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Namun hasil yang lain juga dapat berupa keterampilan siswa dalam mengolah materi pembelajaran. Ragam hasil belajar psikomotorik berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi benda atau kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan koordinasi badan (Davies dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013: 207). Jadi hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.
Kibler, Barket, dan Miles (dalam Dimyati dan Mudjiono,2013:207) mengemukakan taksonomi ranah hasil belajar psikomotorik sebagai berikut.
1. Gerakan tubuh yang mencolok
Hasil belajar pada jenisini merupakan salah satu uji kemampuan gerakan tubuh yang menekankan kepada kekuatan, kecepatan, dan ketepatan tubuh yang mencolok (Gage dan Berliner dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013 : 207).Untuk gerakan tubuh yang mencolok siswa harus mampu menunjukkan gerakan yang menggunakan kekuatan tubuh, gerakan yang memerlukan kecepatan tubuh, gerakan yang memerlukan posisi tubuh atau gerakan yang memerlukan kekuatan, kecepatan, dan atau ketepatan gerakan tubuh.
Contohnya dengan memberikan soal praktik yang harus dikerjakan siswa tersebut dengan menggunakan gerakan tubuh yang tepat dan kekuatan yang terkontrol.Misal dengan memberikan tugas memasukkan bola basket ke keranjang dengan jarak 5 m dan 15 derajat dari kanan keranjang.Hal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan gerak tubuh secara cepat, kuat, dan tepat.
2. Ketepatan gerakan yang dikoordinasikan
Hasil belajar pada jenisini merupakan keterampilan yang berhubungan dengan urutan atau pola dari gerakan yang dikoordinasikan, biasanya berhubungan dengan gerakan mata, telinga, dan badan (Gage dan Berliner dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013 : 207).Dalam gerakan yang dikoordinasikan, siswa harus mampu menunjukkan gerakan-gerakan berdasarkan gerakan yang
34 dicontohkan, dan atau gerakan yang diperintahkan secara lisan.Contohnya dengan memberikan soal praktik yang harus dikerjakan siswa tersebut dengan menggunakan gerakan tubuh yang dikoordinasikan.Misal dengan memberikan tugas untuk mengikuti gerakan yang dilakukan oleh instruktur sesuai dengan perintah dan hitungan yang diberikan.Hal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan koordinasi antara mata, telinga, dan badan.
3. Perangkat komunikasi nonverbal
Hasil belajar pada jenisini merupakan kemampuan mengadakan komunikasi tanpa kata (Gage dan Berliner dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013: 207). Dalam perangkat komunikasi nonverbal ini, siswa diminta untuk menunjukkan kemampuan berkomunikasi menggunakan bantuan gerakan tubuh dengan atau tanpa menggunakan alat bantu. Komunikasi yang dilakukan benar-benar tidak menggunakan bantuan kemampuan verbal.
Contohnya dengan melakukan pantomim yang mencerminkan suatu keadaan seseorang.Hal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan nonverbal dari siswa.
4. Kemampuan berbicara
Hasil belajar pada jenisini merupakan yang berhubungan dengan komunikasi secara lisan (Gage dan Berliner dalam Dimyati dan Mudjiono, 2013 : 208).Untuk kemampuan berbicara siswa harus mampu menunjukkan kemahirannya memilih dan menggunakan kata atau kalimat sehingga informasi, ide atau yang dikomunikasikannya dapat diterima secara mudah oleh pendengarnya.Contohnya dengan menyuruh anak berpidato dengan topik tertentu selama 5-10 menit di depan kelas. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berbicara dari siswa.