• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori yang menentukan modus belajar siswa.

Dalam dokumen PEMBAHASAN KAPITA FIKS DI INDONESIA (Halaman 58-63)

RAGAM TEORI DAN GAYA BELAJAR DALAM OPTIMALISASI HASIL BELAJAR

C. TEORI DAN GAYA BELAJAR MENENTUKAN MODUS BELAJAR INDIVIDU

3. Teori yang menentukan modus belajar siswa.

a. Aplikasi teori belajar behavioristik dalam kegiatan pembelajaran

Aliran psikologi belajar sangat besar mempengaryuhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah

59 aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responya, mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilku tertentu dapat di bentuk karena kondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila di berikan reinforcement, dan akan menghilang bila dimulai hukuman (Budiningsih, 2012: 27).

Istilah seperti stimulus-respon antara individu atau siswa pasif, karena siswa sebagai perilaku hasil belajar yang tampak , pembentukan perilaku dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur –unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti kelompok bermain, taman kanak kanak, sekolah dasar, sekolh menengah, bahkan sampai perguruan tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill(pembiasan) disertai dengan reinformance atau hukuman masih sering dilakukan.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah tersusun dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa di harapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang di ajarkan. Artinya, apa yang di pahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus di pahami oleh murid.

Fungsi mind atau pikiran untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat di analisis dan di pilah, sehingga makna yang di hasilkan dari proses berfikir seperti ini di tentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut, karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata telah terstruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus di hadapkan pada aturan – aturan yang

60 jelas dan di tetapkan dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak di kaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai suatu kesalahan yang perlu di hukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan di kategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas di beri hadiah. Demikian juga ketaatan pada aturan di pandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa atau peserta didik adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus di pegang oleh sistem yang berada dari luar siswa.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik dikenakan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivis yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah di pelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau metri pelajarn menekankan pad ketrampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak di dasarkan pada teks/buku wajib dengan penekanan ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku/teks wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

b. Aplikasi teori belajar kognitif dalam kegiatan pembelajaran

Hakekat belajar menurut teori belajar kognitif di jelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak di gunakan. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran , menggambarkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang di lakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat di perhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa (Budiningsih, 2012: 48). Proses pembelajaran mengikuti prinsip sebagai berikut:

1) Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses berfikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu. 2) Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan

61 3) Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat di pentingkan, karena dengan hanya mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.

4) Untuk menarik minat dan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah di miliki si belajar.

5) Pemahaman dan retensi akan mengingat jika materi pekajaran di susun dengan menggunakan pola atau logika tertentu , dari sederhana ke kompleks.

6) Belajar memahami akan lebih bermakna daripada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus di sesuaikan dan di hunumgkan dengan pengetahuan yang telah di miliki siswa. Tugas guru adalah menunjukan hubungan antara apa yang sedang di peljari dan apa yang telah di miliki oleh siswa.

7) Adanya perbedaan individu pad diri siswa perlu di perhatikan, karena faktor ini sangat sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya motivasi, persepsi, kemampuanberpikir, pengetahuan awal , dan sebagainya.

Terdapat ketiga tokoh yang secara umum memiliki pandangan tentang tiga teori belajar kognitif pada siswa yaitu Piaget, Bruner, Ausubel. Ketiga tokoh aliran kognitif di atas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut Piaget, hanya dengan mengaktifkan siswa secara optimal mka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara itu, Bruner lebih banyak memberikan kebebasan pada siswa untuk belajar sendiri melalui aktifitas menemukan. Cara demikian akan mengarah siswa pada bentuk belajar induktif, yang menuntut banyak dilakukan banyak pengulangan. Hal ini tercermin dari model kurikulum spiral yang di kemukakanya. Brbed dengan Bruner, Ausubel lebih mementingkan struktur disiplin ilmu . dalam proses belajar lebih banyak menekan pada cara berfikir deduktif . hal ini tampak dari

62 konsepsinya mengenai Advance Organizer sebagai kerangka konseptual tentang isis pelajaran yang akan di pelajari oleh siswa.

Dari pemahaman di atas, maka langkah-langkah pembelajaran pembelajaran yang dikemukakan oleh masing masing tokoh tersebut berbeda . secara garis besar langkah langkah pembelajaran yang di kemukakan Suciati & Prasetya (2001) dalam Budiningsih(2012) dapat di gunakan. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

Langkah langkah pembelajaran menurut Piaget: 1) Menentukan tuijuan pembelajaran.

2) Memilih materi pembelajaran.

3) Menentukan topik-topik yang dapat di pelajari siswa secara aktif.

4) Menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut, misalnya penilitian, memecahkan masalah, diskusi, simulasi, dan sebagainya.

5) Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berfikir siswa.

6) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

Langkah langkah pembelajaran menurut Bruner: 1) Menentukan tujuan pembelajaran.

2) Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar dan sebagainya).

3) Memilih materi pelajaran.

4) Menentukan topik-topik yang dapat di pelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh ke generalisasi).

5) Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya.

6) Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke absttrak, atau dari tahap enaktif , ikonik, ke simbolik. 7) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

63 Langkah-langkah pembelajaran menurut Ausubel:

1) Menentukan tujuan pembelajaran.

2) Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan sebagainya).

3) Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti.

4) Menentukan topi-topik dan menampilkanya dalam bentuk advance organizer yang akan di pelajari oleh siswa.

5) Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkanya dalam bentuk nyata.

6) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

Dalam dokumen PEMBAHASAN KAPITA FIKS DI INDONESIA (Halaman 58-63)