• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.4. Resiprositas dan Solidaritas

Setiap masyarakat mempunyai tatanan yang keberadaannya merupakan keniscayaan pada setiap kebudayaan. Tatanan hidup yang senantiasa disosialisasikan dalam komunitas di hulu DAS Cidanau adalah kelembagaan pipeling110 seperti silih asah, silih asih dan silih asuh. Silih asah mengandung makna, setiap orang dituntut untuk senantiasa saling memberi, mengasah dan bertukar pengalaman dan pengetahuan. Silih asih berarti setiap orang harus selalu saling mencintai dan silih asuh berarti saling membimbing sesuai posisinya dalam bermasyarakat.

110Kelembagaan pipeling merupakan tradisi, norma dan nilai budaya dalam kehidupan masyarakat

pada ketiga. Kelembagaan pipeling berisi sembilan puluh sembilan kata larangan dan sembilan puluh sembilan kata anjuran yang berfungsi sebagai pedoman hidup dan terciptanya keharmonisan dan kebersamaan dalam masyarakat.

Melalui kelembagaan pipeling, kehidupan masyarakat senantiasa dalam keseimbangan antara aspek jasmani rohani, dunia akhirat, pribadi dan sosial, privasi dan publik dan hubungan manusia dengan Maha Kuasa dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Kelembagaan pipeling terlembagakan dalam proses interaksi sosial laki-laki-perempuan, orang tua-anak/remaja dan antar sesama di tempat tinggal dan ajang sosial kehidupan sehari-hari. Nilai silih asah, silih asih dan silih asuh

dalam kehidupan komunitas termanifestasikan dalam resiprositas dan solidaritas. Kelembagaan pipeling juga termanifestasikan dalam struktur pemukiman penduduk, di mana satu rumah dengan rumah warga lainnya tidak dibatasi oleh pagar. Pagar pembatas antar rumah warga, tidak berbentuk fisik tetapi bersifat abstrak berupa trust, kebersamaan dan kerukunan. Hubungan sosial antar warga berlangsung dalam suasana keterbukaan dan kehangatan. Demikian pula halnya dengan fungsi mesjid dan pemandian umum di sekitar Masjid, merupakan (1) sarana sosialisasi kelembagaan pipeling (2) ajang sosial, pertukaran informasi dan bercerita kaum perempuan dalam urusan rumah tangganya.

Dalam kehidupan warga, resiprositas dan solidaritas bagai dua sisi dari mata uang, saling mengisi dan melengkapi. Solidaritas mempunyai makna bila diwujudkan dalam bentuk tolong menolong, sebaliknya resiprositas mempunyai arti bila diletakkan dalam bingkai solidaritas. Bentuk resiprositas dalam kehidupan komunitas, dipengaruhi ikatan kerabat dan kekerabatan sosiologis.111 Praktik resiprositas biasanya diutamakan pada kaum kerabat dekat yang kurang mampu, disusul kerabat sosiologis, kemudian kerabat luas, dan baru kepada orang lain jika masih ada sisa peluang. Dalam resiprositas, ada faktor-faktor tertentu yang dipertimbangkan, kepada siapa “individu” paling berhak’ untuk turut serta, berbagi dan memperoleh manfaat dari hasil aktivitas produksi pertanian dan kehutanan.

Dalam kehidupan warga, resiprositas dan solidaritas terpelihara melalui pertalian kerabat, ketetanggaan dan ikatan salembur. Ikatan ketetanggaan dan ikatan

salembur, menimbulkan rasa bangga, cinta lembur, keengganan meninggalkan

lembur dan kerinduan untuk kembali ke lembur setelah ngumbara (merantau) dan

nyaba (mengunjungi kerabat lain). Di wilayah pedesaan, ikatan kerabat sosiologis

111Koentjaraningrat menyebut pengelompokkan sosial atas dasar kesamaan wilayah teritorial dengan

istilah kesatuan hidup setempat/kerabat sosiologis atau kinship affiliations(pergaulan kekerabatan).

memiliki arti penting bagi kehidupan sosial ekonomi warga dan menjadi dasar bagi terbangunnya ikatan sosial yang lebih luas, seperti terlihat dari ungkapan jauh-jauh oge dulur dan dulur-dulur oge jauh.

Ikatan lain yang sederajat dengan ikatan genealogis dan kerabat sosiologis adalah ikatan hak milik yang bersifat fungsional. Perpaduan ikatan genealogis dan ikatan sosiologis bersifat laten, menjadi aktual bila diperkuat dengan ikatan hak milik.112 Perpaduan ketiga ikatan yang berlangsung lama melahirkan praktik tata kelola sumberdaya agraria bersifat khas. Untuk Desa Citaman perpaduan ketiganya disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Sebaran Ikatan Hak Milik, Ikatan Kerabat Sosiologis dan Ikatan Kerabat Genealogis Dalam Komunitas Desa Citaman

No Lembur/Kampung Ikatan Hak Milik Ikatan Kerabat Sosiologis Ikatan Kerabat Genealogis 1 Citaman - + + 2 Cibarugbug + - + 3 Sibopong Landeuh + + + 4 Sibopong Girang + - + 5 Sibopong Tengah + + - 6 Pamatang + - + 7 G. Sumbul Girang + + + 8 G.Sumbul Landeuh. + + +

Catatan: Tanda + dan – tidak bersifat absolut, hanya mengindikasikan faktor dominan.

Diolah dari wawancara dengan informan kunci.

Pemilikan dan penguasaan sumberdaya yang berhimpitan dengan ikatan kerabat sosiologis dan kerabat genealogis, mengakibatkan akses terhadap sumberdaya tidak sepenuhnya individual dan tertutup. Terdapat mekanisme yang bersifat sosial dan redistributif atas sumber-sumber ekonomi dan nafkah hidup yang berada di dalam wilayah lembur atau desa, baik sederhana maupun yang relatif besar dari ukuran dan nilai sumberdaya yang dikorbankan. Hasil panen padi dan buah- buahan (kopi, durian, cengkeh, petai, jengkol, dukuh, rambutan dan kelapa) selain untuk dijual ke pedagang pengumpul/tengkulak, pemiliknya senantiasa berbagai dan mengalokasikan hasil panennya untuk warga yang dipandang pantas.113

112 Lihat Thorns, David & Willmott, Bill. 1983. “Class, Locality and Family: Bases of Communion in

a Locality”. Dalam Crow, Graham (Ed.). 1986. The Sociology Of Rural Communities. Vol. II. US: Edward Elgar Publishing Company.

113 Pelaksanaan mekanisme redistributif dilakukan atas dasar “konsensus”, tidak berlaku atas seluruh

komoditas hasil kebun/sawah terutama komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti buah durian, cengkeh dan petai. Pemilik mengutamakan distribusi hasil panen komoditas tersebut berdasarkan jasa yang diberikan dan derajat hubungan sosialnya. Diolah dari sumber primer.

Resiprositas antar kuren (rumah tangga) tidak satu berbanding satu, tetapi bersifat proporsional, mutualistis dan berlangsung secara periodik (bulanan dan tahunan) sesuai dengan siklus kehidupan komunitas (tujuh bulanan, khitanan, perkawinan, kematian). Resiprositas dan solidaritas warga, bentuknya bervariasi sesuai dengan status sosial dan kemampuannya, dapat berbentuk curahan tenaga maupun materi. Dalam acara siklus tahunan berbagai kelompok sosial berperan serta baik jalma boga/jalma beunghar (berstatus sosial ekonomi tinggi) atau jalma teu boga (berstatus sosial ekonomi rendah atau miskin).

Dalam analisis Scott, resiprositas dan solidaritas sebagai karakteristik dari kehidupan komunitas pra-kapitalis.114 Di hulu DAS Cidanau, resiprositas dan solidaritas bersifat fungsional dan berperan sebagai sarana pencapaian tujuan bersama dan jaminan keamanan subsistensi minimum. Resiprositas dan solidaritas merupakan modal sosial komunitas,115 dan menjadi solusi masalah ketika warga menghapi kesulitan ekonomi. Sejalan dengan meluasnya komoditifikasi sumberdaya agraria di wilayah pedesaan, resiprositas dan solidaritas mengalami transisi, seperti halnya proses transisi elit yang berlangsung pada ketiga desa, yang gambarannya dapat disimak pada uraian selanjutnya.