• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENDAPATAN MASYARAKAT

5.4. Sintesa pendapatan

Hasil kajian menunjukkan bahwa mayoritas rumah tangga mempunyai pendapatan yang rendah dan berada pada kisaran garis kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara atau Kabupaten Nias.

Bab V Pendapatan Masyarakat

118

Sebagian besar rumah tanga yang disurvei mempunyai pendapatan kurang dari Rp 500.000. Kelompok terbesar adalah rumah tangga yang mempunyai pendapatan antara Rp 200.000 – Rp 300.000.

Sumber pendapatan masyarakat P Hinako berasal dari sektor jasa, perikanan, pertanian dan peternakan. Sektor yang memberikan sumbangan terbesar bagi pendapatan rumah tangga terbesar adalah sektor jasa, diikuti oleh sektor perikanan, peternakan dan pertanian. Jenis pekerjaan penduduk yang bekerja di sektor ini antara lain adalah guru, perawat, pedagang/warungan dan peternakan. Jumlah rumah tangga yang pendapatannya disumbangkan oleh sektor jasa jumlahnya relatif kecil, sekitar 18 dari 92 KK yang disurvei. Sektor perikanan memberikan kontribusi pada pendapatan rumah tangga pada urutan kedua dengan jumlah rumah tangga yang mempunyai pendapatan dari kegiatan kenelayanan sekitar 19 KK. Sementara itu sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian mayoritas masyarakat di P. Hinako, memberikan kontribusi yang sangat rendah terhadap pendapatan penduduk.

Pendapatan penduduk sebagai indikator keberhasilan COREMAP dalam studi dapat dilihat dari pendapatan rata-rata rumah tangga dan pendapatan per-kapita. Pendapatan rata-rata rumah tangga adalah pendapatan dari semua anggota rumah tangga yang bekerja, sedangkan pendapatan per-kapita adalah pendapatan rumah tangga dibagi dengan semua anggota rumah tangga (yang bekerja dan tidak bekerja).

Berikut ini adalah rangkuman pendapatan rumah tangga dan pendapatan per-kapita di lokasi COREMAP di P . Hinako, Kecamatan Sirombu:

• Pendapatan rata-rata rumah tangga dan pendapatan per-kapita. Pendapatan rata-rata rumah tangga dan pendapatan per-kapita masyarakat di P. Hinako sebesar Rp 324.068 dan Rp 89.920. Pendapatan per-kapita ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan ukuran garis kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS yaitu sebesar Rp.108. 535.

• Pendapatan dari kegiatan kenelayanan

Hasil survei menunjukkan bahwa dari 92 rumah tangga yang ada di ketiga desa penelitian di P. Hinako (Hinako, Sineneeto dan Halamona), hanya sekitar 20 rumah tangga yang memperoleh pendapatan dari kegiatan kenelayanan. Pendapatan rata-rata rumah tangga dari kegiatan kenelayanan di ketiga lokasi desa tersebut sebesar Rp 330.600.

Pendapatan nelayan sangat dipengaruhi oleh musim. Pada musim gelombang lemah, pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan sebesar Rp 558.670. Pendapatan rumah tangga nelayan menurun drastis pada musim gelombang kuat, menjadi Rp 185.900. Pada musim pancaroba, pendapatan rumah tangga nelayan sebesar Rp 289.600.

Tingkat pendapatan penduduk di lokasi COREMAP P. Hinako dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dikategorikan menjadi internal, eksternal dan struktural faktor. Berikut ini uraian faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan penduduk di lokasi Coremap: 1. Faktor Internal

Faktor-faktor internal yang mempengaruhi pendapatan penduduk di lokasi COREMAP diantaranya adalah: sumber pendapatan, teknologi dan kualitas SDM dan biaya produksi.

• Sumber pendapatan

Sumber pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan penduduk di lokasi COREMAP. Di Kep. Hinako, sumber pendapatan utama penduduk pada awalnya adalah pertanian (usaha perkebunan kelapa). Namun dalam dasawarsa terakhir pendapatan yang bersumber dari usaha perkebunan kelapa mulai berkurang secara drastis karena menurunnya hasil panen per rumah tangga. Berkurangnya hasil perkebunan kelapa dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah menurunnya kepemilikan jumlah pohon kelapa, karena pewarisan dari orang tua ke anak; kurangnya

Bab V Pendapatan Masyarakat

120

pemeliharaan dan peremajan pohon kelapa. Menurunnya hasil panen kelapa ini menyebabkan kontribusi hasil perkebunan pada pendapatan rumah tangga menurun dan ada pada tingkatan terendah dibandingkan sektor lainnya, seperti jasa dan perikanan.

• Teknologi

Faktor penguasaan teknologi juga berpengaruh terhadap pendapatan. Secara umum teknologi penangkapan nelayan di Kep. Hinako masih sederhana. Keadaan ini dapat diketahui dari armada tangkap yang digunakan penduduk, termasuk kapasitas perahu, motor/mesin dan peralatan tangkapnya. Lebih dari separuh nelayan masih menggunakan perahu tanpa motor, sedangkan sisanya adalah perahu motor. Ukuran mesin/motor sangat homogin yaitu jenis Honda 5.5 PK dan Robin 7,7 PK. Sesuai dengan kapasitas mesinnya, body perahu juga berukuran kecil, yaitu sekitar 2,8 meter sampai 5 meter. Adapun alat tangkap yang umum digunakan adalah pancing. Dengan teknologi yang sederhana ini wilayah tangkap para nelayan menjadi terbatas dan tidak dapat bersaing dengan nelayan dari luar. Akibatnya hasil tangkapan para nelayan kurang optimal yang pada akhirnya mempengaruhi pendapatan.

o Keterbatasan modal

Keterbatasan modal menjadi kendala utama nelayan untuk mengembangkan usaha perikanan tangkap bagi sebagian besar nelayan. Kondisi ini jelas terlihat dari kepemilikan armada dan alat tangkap yang umumnya masih sangat sederhana. Armada dan alat tangkap yang masih sederhana ini membatasi wilayah tangkap dan waktu tangkap (melaut) nelayan. Kondisi ini semakin sulit dengan adanya kenaikan harga bahan bakar, karena biaya melaut yang semakin tinggi. Di lain pihak, karena keterbatasan pemasaran para nelayan tidak memfokuskan pada jenis biota laut yang bernilai ekonomi tinggi. Jenis ikan yang ditangkap adalah jenis ikan segar yang untuk konsumsi penduduk lokal yang nilai ekonominya tidak terlalu tinggi.

• Biaya produksi

Tingkat pendapatan nelayan di lokasi COREMAP P. Hinako sangat dipengaruhi oleh biaya produksi. Komponen biaya produksi nelayan yang meliputi BBM, kebutuhan pokok (sembako) dan rokok harganya cukup tinggi, dibandingkan dengan harga di beberapa wilayah di P. Nias. Sebagai contoh harga liter bensin campur mencapai Rp 7.000 sampai dengan Rp 8.000, sementara harga di P Nias sekitar Rp 5.000 sampai Rp 6.000. Jika biaya produksi dapat ditekan, maka pendapatan nelayan kan lebih meningkat.

2. Faktor Eksternal

Selain dipengaruhi faktor internal, pendapatan nelayan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang meliputi: sarana dan prasarana, pemasaran dan kompetisi dalam pemanfaatan sumber daya laut. • Musim

Secara umum pendapatan nelayan di lokasi COREMAP di Kep. Hinako sangat dipengaruhi oleh musim. Hasil baseline menunjukkan adanya perbedaan pendapatan nelayan yang sangat signifikan antara musim gelombang lemah, musim pancaroba dan musim gelombang kuat. Pada saat gelombang kuat (angin selatan) yang berlangsung antara bulan Juni sampai Oktober pendapatan nelayan merosot drastis menjadi hanya seperlimanya dari pendapatan pada musim angin tenang. Pada musim pancaroba pendapatan nelayan sekitar separoh dari pendapatan pada musim gelombang kuat.

• Degradasi sumber daya laut dan pesisir

Dampak kerusakan sumber daya laut, khususnya terumbu karang terhadap pendapatan masyarakat di Kep. Hinako sudah mulai dirasakan. Kerusakan terumbu karang selain terjadi karena penggunaan alat tangkap yang merusak terumbu karang juga disebabkan oleh terjadinya gempa bumi pada bulan April tahun 2005.

Bab V Pendapatan Masyarakat

122

Gempa bumi tersebut telah menyebabkan sebagian pantai di beberapa Pulau di Hinako terangkat keatas. Akibatnya luas pantai menjadi bertambah antara 100 hingga 150 meter dari garis pantai. Gugusan terumbu karang yang ada di sekitar pantai menjadi terangkat. Kerusakan terumbu karang ini sangat mempengaruhi perolehan pendapatan nelayan. Dampak dari kerusakan tersebut adalah mulai menurunnya hasil tangkapan nelayan. Perolehan nelayan setelah terjadi gempa menurun drastis, menjadi hanya sekitar separuhnya. • Pemasaran

Pemasaran merupakan faktor eksternal yang cukup berpengaruh terhadap tingkat pendapatan penduduk di lokasi COREMAP. Hasil tangkapan nelayan di Kep. Hinako umumnya hanya dipasarkan di sekitar wilayah desa. Di wilayah ini belum ada pedagang yang menampung ikan segar hasil tangkapan nelayan. Terbatasnya pemasaran mengakibatkan para nelayan tidak tertarik untuk meningkatkan hasil tangkapannya atau menangkap jenis biota laut yang bernilai ekonomi tinggi, karena khawatir tidak terjual semuanya karena pemasaran yang sangat terbatas. Sebagian nelayan ada yang mencoba memasarkan sendiri ke wilayah daratan P. Nias, yaitu ke kecamatan Sirombu. Namun sistim pemasaran yang langsung ini tidak menguntungkan karena biaya transportasi yang cukup tinggi. • Prasarana dan sarana

Prasarana dan sarana ekonomi berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut masih terbatas. Fasilitas TPI tidak tersedia di P. Hinako dan pedagang penampung juga belum ada. Para nelayan memilih untuk menjual ikan segar langsung ke konsumen. Keterbatasan sarana pasar yang bisa menampung ikan segar ini membuat para nelayan tidak mempunyai alternatif lain, kecuali menjual ikan segar keliling kampung.

Para nelayan juga belum ada yang mempunyai sarana boks pendingin (cool box) yang dapat dipakai untuk mengawetkan ikan. Hal ini mengakibatkan nelayan harus menjual ikan segar langsung ke

konsumen. Jika nelayan mempunyai sarana boks pendingin, maka ikan segar bisa dijual ke Sirombu dalam jumlah besar sehingga keuntungan lebih besar karena biaya transportasi bisa ditekan yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan nelayan.

• Kompetisi dalam pemanfaatan SDL

Para nelayan di kampung-kampung lokasi Coremap secara umum masih menggunakan sarana dan alat tangkap yang sederhana, yaitu perahu ketinting (5 PK) dan alat tangkap pancing. Dengan alat sarana dan alat tangkap yang masih sederhana tersebut maka wilayah tangkapnya terbatas, sehingga hasil tangkapannya tidak bisa optimal. Sementara itu nelayan dari luar, umumnya memakai armada kapal berkekuatan mesin lebih besar, alat tangkap yang lebih lengkap dan dilengkapi dengan cool box, sehingga hasil tangkapan jauh lebih besar.

Persaingan dalam memperebutkan SDL antara nelayan lokal dan nelayan dari luar sudah mulai dirasakan, bahkan dalam berbagai kasus sudah terjadi konflik terbuka. Konflik tersebut dipicu oleh pelanggaran wilayah tangkap nelayan luar yang memasuki wilayah tangkap nelayan lokal. Selain itu, konflik juga disebabkan oleh penggunaan alat tangkap yang merusak (bom dan potasium) oleh nelayan dari luar. Persaingan yang tidak seimbang ini mengakibatkan nelayan lokal semakin berkurang hasil tangkapannya yang berdampak pada menurunnya pendapatan. Menurunnya hasil tangkapan nelayan ini dirasakan oleh para nelayan kurang lebih sejak lima tahun terakhir. 3. Faktor Struktural

• COREMAP

Kegiatan COREMAP yang sudah dilakukan di desa ini belum mempunyai pengaruh terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Hal ini terkait dengan belum dimulainya kegiatan mata pencaharian alternatif yang dilaksanakan di tingkat masyarakat. Kegiatan pengelolaan berbasis masyarakat (PBM) yang ada baru sebatas

Bab V Pendapatan Masyarakat

124

kegiatan demplot rumput laut. Pada saat penelitian dilakukan kegiatan ini sudah tidak ada lagi, karena demplot rumput laut rusak diterjang ombak.

Selain kegiatan PBM demplot rumput laut, COREMAP juga memberikan bantuan kapal untuk transportasi Sirombu-Hinako. Pada saat penelitian ini dilakukan pengelolaan kapal dilakukan oleh perorangan, bukan kelompok masyarakat. Pengelola kapal tersebut adalah perorangan yang telah mengeluarkan biaya untuk perbaikan kapal. Perbaikan perlu dilakukan karena kondisi kapal yang rusak setelah diserahkan dan dipergunakan oleh masyarakat selama beberapa waktu. Karena tidak ada biaya operasional untuk perbaikan kapal dari pemerintah desa mapun COREMAP, maka terdapat salah seorang penduduk desa yang bersedia membiayai perbaikan kapal dengan mendapat kompensasi mengelola kapal untuk transportasi umum. Dengan adanya bantuan kapal tersebut mobilitas penduduk Hinako - Sirombu dan sebaliknya menjadi lebih lancar karena dilayani oleh dua kapal transportasi, yaitu kapal bantuan COREMAP dan kapal milik penduduk desa Hinako. Lancarnya transportasi akan semakin mendorong kegiatan ekonomi masyarakat yang pada gilirannya diharapkan dapat lebih meningkatkan pendapatan masyarakat.

o Pembangunan Rekonstruksi Aceh

Berkaitan dengan pembangunan paska gempa Nias, terdapat sebuah LSM yang mempunyai kegiatan yang bertujuan memberdayakan ekonomi masyarakat Kep Hinako. Kegiatan yang dilakukan LSM tersebut diantaranya adalah memberikan bantuan perahu untuk beberapa nelayan Hinako. Pembuatan perahu dilakukan oleh pengelola LSM dengan melibatkan penduduk desa Hinako yang akan menerima bantuan kapal. Dalam mengerjakan pembuatan perahu tersebut, penduduk desa mendapatkan upah harian dari pengelola LSM. Setelah pembuatan perahu selesai maka langsung bisa dipakai oleh penduduk yang menerima bantuan. Pada saat penelitian ini dilakukan terdapat beberapa perahu yang telah diserahkan kepada masyarakat Kep Hinako.

Selain pemberian bantuan kapal, LSM ini juga mempunyai kegiatan memproduksi Virgin Coconut Oil (VCO). Kegiatan ini melibatkan beberapa anggota masyarakat Kep Hinako sebagai pekerjanya dengan mendapat upah tetap. Kelapa sebagai bahan baku pembuatan VCO ini dibeli dari masyarakat Kep. Hinako.

Meskipun masih dalam skala kecil kegiatan LSM ini memberikan pengaruh pada kegiatan ekonomi penduduk. Sebagian anngota masyarakat yang sebelumnya tidak mempunyai pekerjaan dapat menjadi pekerja di LSM ini. Demikian pula dengan pemberian bantuan perahu, jika digunakan secara baik oleh masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Bab V Pendapatan Masyarakat

126

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Perairan di sekitar Kabupaten Nias pada umumnya dan wilayah Kep. Hinako pada khususnya memiliki kandungan sumber daya laut yang potensial untuk dikembangkan. Hamparan terumbu karang di wilayah ini cukup luas dan kaya akan berbagai jenis ikan karang dan biota lainnya. Kekayaan akan sumber daya laut di wilayah ini tidak hanya dimanfaatkan oleh nelayan setempat, tetapi juga oleh nelayan dari luar daerah, bahkan luar propinsi. Wilayah perairan ini sudah lama dijadikan ‘fishing ground’ oleh berbagai nelayan dari luar, terutama perusahaan besar yang menangkap ikan kerapu hidup, Napoleon dan ikan hias. Selain itu, pantai-pantai di gugusan pulau-pulau di wilayah ini mempunyai pasir putih dan celukan-celukan yang sangat indah dan ombak yang bagus untuk melakukan selancar yang berpotensi dikembangkan menjadi tempat wisata.

Dari penelitian ini terungkap bahwa terdapat ketimpangan dalam pemanfaatan sumber daya laut antara nelayan setempat dengan nelayan yang datang dari luar. Ketimpangan tersebut diantaranya tercermin dari segi teknologi yang digunakan dan cara penangkapan. Nelayan lokal pada umumnya hanya memakai sarana dan alat tangkap yang sederhana, seperti perahu tanpa motor, perahu motor dengan mesin tempel 5 PK dan alat tangkap pancing dan jaring. Sementara nelayan dari luar menggunakan peralatan penangkapan dengan teknologi yang telah maju, misalnya kapal bermotor ukuran besar serta memakai alat tangkap (jaring besar, bom dan potas). Dalam kapal juga dilengkapi sarana penyimpanan ikan (cool box). Ketimpangan teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya laut ini telah mengakibatkan perbedaan jumlah hasil tangkapan dan nilai ekonominya.

Bab VI Kesimpulan dan Saran