• Tidak ada hasil yang ditemukan

Soehar to dan Rezim Ant i-Par t a

Dalam dokumen TEMPO EDISI KHUSUS SOEHARTO (Halaman 48-52)

Sai ful Mujani

Di r ekt ur Eksekut i f Lembaga Sur vei I ndonesi a ( LSI ) / Peneli t i Fr eedom I nst i t ut e

agaimana mengint egrasikan kelompok-kelompok masyarakat ke dalam sist em besar yang disebut negara-bangsa sepert i Indonesia? Bagaimana keinginan masyarakat dikomunikasikan kepada elit e pemerint ah dan sebaliknya kebijakan dari pemerint ah disampaikan kepada masyarakat dalam negara yang kompleks pada zaman modern ini? Part ai polit ik, w alaupun bukan sat u-sat unya, adalah jaw aban t erhadap pert anyaan- pert anyaan besar t ersebut .

Selain berfungsi mengart ikulasikan kepent ingan rakyat dalam polit ik nasional, part ai polit ik juga berfungsi mengint egrasikan kelompok masyarakat dari Sabang sampai M erauke. Dengan kat a lain, part ai polit ik, dalam st udi Bill Liddle t ahun 1960-an, punya fungsi unt uk int egrasi nasional. Individu-individu, kelompok suku, agama, kelas sosial, dan sent imen kedaerahan yang begit u besar di negeri kit a, dimediasi dan dipert emukan dalam unit -unit lebih besar dalam part ai polit ik. Part ai polit ik juga mendekat kan jarak polit ik dari pusat kekuasaan kepada rakyat .

Fungsi int egrat if dan art ikulat if part ai polit ik inilah yang diabaikan sepanjang sejarah kekuasaan Soehart o. Kebut uhan rezim Orde Baru Soehart o unt uk int egrasi nasional dan unt uk memperant arai rakyat dengan elit e pemerint ahan dipenuhi t erut ama lew at kekuat an angkat an bersenjat a dan oleh Golongan Karya (Golkar)-kelom pok fungsional yang dicipt akan elit e t ent ara sendiri.

Sifat dasar part ai adalah refleksi dari pembelahan sosiologis masyarakat -apakah it u karena perbedaan ideologis, kelas sosial, at aupun perbedaan primordial (agama, suku, at au kedaerahan). Karena it u, sejak aw al, oleh para pendirinya, Golkar didefinisikan bukan sebagai part ai polit ik, t api sebagai kelompok fungsional lint as sosiologis. Karena it u Golkar t idak berideologi, t idak merepresent asikan kelompok prim ordial at au kelas sosial t ert ent u. Ia berpret ensi mew akili semuanya. Kalaupun mau disebut berideologi polit ik, ideologi yang dimaksud adalah Pancasila. Ia dicipt akan bagi lint as golongan at aupun lint as kelompok sosial. Golkar sepert i negara; negara dalam negara, at au bent uk lain dari negara.

Akar dari gagasan Golongan Karya, sebagai organisasi non-part ai, ini dapat dit arik jauh ke belakang. Set idaknya sampai pada gagasan Soekarno t ahun 1920-an yang menghendaki adanya kelompok nasional yang mencerminkan lint as golongan dan kelompok, bukan part ai polit ik yang beragam sebagai cerminan dari keragaman golongan at au kelompok masyarakat .

Set elah merdeka, elit e polit ik lain sepert i M ohammad Hat t a menolak gagasan semacam it u. Yang mengisi pent as polit ik adalah part ai-part ai polit ik dengan ideologi yang

B

ht t p:/ / Semaraks.blogspot .com

berw arna-w arni sepert i um umnya dit emukan di negara demokrasi. Tapi set elah Soekarno " mengubur part ai-part ai polit ik" lew at pidat onya, bersamaan dengan berakhirnya Demokrasi Parlement er, t ahun 1958, gagasan t ersebut direalisasikan. Rekrut men t erhadap golongan-golongan ini (buruh, t ani, pegaw ai pemerint ah, guru agama, kelompok profesional, dan TNI) dilakukan lew at apa yang oleh Soekarno disebut Front Nasional. Golongan-golongan ini mendapat kursi di M PR Demokrasi Terpimpin Soekarno. Lew at w adah inilah TNI secara formal masuk polit ik. Keinginan Jenderal Nasut ion agar t ent ara juga berperan dalam polit ik nasional t ert ampung di sana. Sebelumnya TNI, dan presiden sendiri, di luar arena polit ik karena sist em parlement er yang dianut dalam demokrasi w akt u it u t idak memberikan t empat polit ik pada presiden sebagai kepala negara dan TNI sebagai pengaw al keamanan negara. Akibat nya, Soekarno dan t ent ara sama-sama ant i-part ai polit ik.

Pada zaman Demokrasi Terpim pin, t ent ara juga membent uk organisasi-organisasi di berbagai sekt or unt uk menyaingi PKI, yang w akt u it u sangat berpengaruh. Yang paling menonjol di ant ara organisasi ini adalah Sarekat Pekerja, yang t erdiri dari organisasi pekerja di perusahaan perkebunan pemerint ah. Organisasi bikinan t ent ara inilah kemudian yang menjadi cikal-bakal Golongan Karya.

Secara hist oris, Golkar lahir sebagai w ujud dari sent imen ant i-part ai. Berkat kerja t ent ara at as inst ruksi Soehart o, organisasi-organisasi yang bernaung di baw ah Golkar ini bert ambah dalam w akt u singkat : dari 64 pada 1965 menjadi 252 pada 1967. Sekret ariat bersama Golkar yang mengkoordinasi kekuat an-kekuat an golongan ini sepenuhnya di baw ah kendali t ent ara.

Sent imen ant i-part ai polit ik di kalangan pet inggi t ent ara w akt u it u mengemuka dengan jelas dalam seminar yang diselenggarakan di Seskoad Bandung pada 1966. Dalam seminar it u diusulkan agar sist em pemilu diubah dari proporsional menjadi dist rik. M ot if di balik usul ini: mencegah part ai yang ada kembali mendominasi dan agar t okoh-t okoh part ai nasional t idak punya pengaruh t erhadap perolehan suara. Usul t ent ang perubahan sist em pemilu oleh Angkat an Darat ini dit olak DPR t api Soehart o mencari jalan t engah: sist em proporsional dipert ahankan t api t ent ara dikasih jat ah kursi lew at pengangkat an. Di samping it u juga ada kursi di M PR yang mew akili golongan. Yang t erakhir ini juga diangkat oleh presiden.

Sent imen ant i-part ai pada masa aw al kekuasaan Soehart o t erlihat misalnya dari perat uran M ent eri Dalam Negeri Am ir M ahm ud pada 1969, yang melarang pegaw ai pemerint ah berafiliasi dengan part ai polit ik t api boleh menjadi anggot a Golkar, karena Golkar bukan part ai polit ik. Ini kemudian menjadi t radisi sepanjang sejarah polit ik Indonesia di baw ah Soehart o.

Pemilihan umum pert ama t erselenggara pada 1971. Sebanyak 10 part ai polit ik ikut sert a. M asjumi dan Part ai Sosialis yang dibubarkan Soekarno t idak direhabilit asi. Tapi Soehart o mempersilakan membent uk part ai baru sebagai w adah bagi keluarga besar

ht t p:/ / Semaraks.blogspot .com

M asjumi: Part ai M uslimin Indonesia (Parm usi) dengan cat at an pemimpin M asjumi, M uhammad Nat sir, t idak boleh kembali t erjun di gelanggang polit ik.

Hasil pemilihan umum pert ama Orde Baru 1971 menunjukkan kemenangan mut lak kekuat an golongan ant i-part ai polit ik, yang diorganisasi di dalam Golkar, dengan perolehan suara 65 persen. Unt uk sukses besar ini, serangkaian rekayasa polit ik dilakukan. Di ant aranya dengan kebijakan agar part ai polit ik t idak punya hubungan langsung dengan konst it uen mereka. Pengurus part ai dan kant ornya hanya sampai t ingkat kabupat en. Tidak boleh sampai kecamat an apalagi desa-desa. Sedangkan Golkar, sebagai kekuat an bukan part ai polit ik, dapat memobilisasi massa langsung lew at birokrasi pemerint ah hingga t ingkat desa, dan bahkan RW/ RT.

Hasil akhir dari polit ik pem ilu ini adalah t ergerusnya kekuat an part ai polit ik. Penggerusan t erhadap part ai ini t idak berhent i sampai di sit u. M enjelang Pemilihan Umum 1977, Soehart o melakukan penyederhanaan sist em kepart aian, dari sist em dengan sepuluh menjadi hanya t iga part ai. Penyederhanaan dilakukan bukan secara lazim , misalnya dengan diserahkan pada hasil pemilu dan peningkat an elect oral t hreshold, t api dengan cara sew enang-w enang.

Part ai yang berlat ar belakang Islam sepert i Part ai NU, Parmusi, PSII, dan Pert i disat ukan menjadi Part ai Persat uan Pembangunan (PPP). Part ai berlat ar belakang nasionalis sepert i PNI, dan non-Islam sepert i Part ai Krist en Indonesia (Parkindo), disat ukan menjadi Part ai Demokrasi Indonesia (PDI). Dua kelompok part ai ini bersaing menghadapi kekuat an " negara" , yakni Golkar. M ereka selalu kalah selam a enam kali pemilu Orde Baru.

Soehart o lalu membuat keput usan baru bahw a semua organisasi polit ik, sepert i part ai polit ik, harus berasas sama, yakni Pancasila. Jika sebelumnya masih sedikit ada aroma part ai di part ai polit ik t ersebut , dengan keput usan polit ik baru t ersebut part ai-part ai it u menjadi kurang lebih sama dengan Golkar sebagai kekuat an bukan part ai polit ik, melainkan bent uk lain dari negara.

Deparpolisasi oleh rezim Soehart o ini berlanjut dengan mengont rol part ai-part ai yang sudah t idak berbent uk it u dengan mendukung figur-figur yang bisa dipercaya oleh pemerint ah. Biasanya figur yang kurang punya akar kuat di masyarakat , at au yang cenderung independen dari pengaruh pemerint ah.

Di PPP, misalnya, pemerint ah lebih cenderung pada orang M uslimin Indonesia karena dukungan massa t erhadap t okoh-t okoh ini umumnya sudah m ulai pudar berkat sukses pemerint ah mencegah rehabilit asi M asjumi dan t okoh-t okohnya. Juga berkat sukses Golkar menggerogot i massa konst it uennya.

Kalaupun t okoh dari unsur NU yang didukung, biasanya bukan dari NU Jaw a Timur yang punya hubungan sangat kuat dengan massa yang lebih besar. Akibat nya, PB NU yang didom inasi para kiai Jaw a Timur, t ermasuk Gus Dur, menyat akan t idak lagi mendukung PPP.

ht t p:/ / Semaraks.blogspot .com

Bagi Soehart o ini adalah bent uk pembangkangan, dan kit a t ahu Gus Dur adalah t okoh NU yang dikucilkan Soehart o. Demikian juga unt uk kepemimpinan PDI: M egaw at i t idak didukung karena punya hubungan langsung dengan Soekarno.

Secara umum ret orika yang membenarkan deparpolisasi polit ik Indonesia pada zaman Soehart o t ersebut adalah unt uk mencipt akan polit ik nasional lebih st abil dan t erbebas dari konflik dan kekerasan. M eski bert ujuan luhur, deparpolisasi t ernyat a bukan cara unt uk mencapai t ujuan t ersebut . St abilit as polit ik t idak bisa dicipt akan dengan depluralisasi polit ik.

Bukt inya sangat nyat a. Rezim Soehart o yang dibangun di at as sent imen dan program polit ik ant i-part ai t ernyat a berujung rusuh bahkan t umbang secara t idak hormat . Begit u Soehart o t umbang, rat usan part ai polit ik muncul. Golkar yang begit u perkasa menciut menjadi part ai yang kurang lebih seimbang dengan part ai-part ai lain. Set idaknya ia t idak bisa memerint ah sendiri. M unculnya t iga pemilu yang bebas plus rat usan part ai pasca- deparpolisasi Soehart o t ernyat a t idak mencipt akan inst abilit as polit ik dan konflik sosial. Ini menunjukkan bahw a ret orika deparpolisasi Orde Baru Soehart o palsu.

Kepalsuan yang t ak boleh t erulang. It u juga pelajaran bagi siapa pun yang kurang peduli t erhadap part ai. Tak t erbayangkan sebuah negara yang besar dan kompleks, apalagi kalau harus demokrat is, t anpa kehadiran part ai polit ik yang kuat .

ht t p:/ / Semaraks.blogspot .com

Dalam dokumen TEMPO EDISI KHUSUS SOEHARTO (Halaman 48-52)