• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PEMBELAJARAN

DI PERGURUAN TINGG

STRATEGI PEMBELAJARAN

Problem Based Learning (PBL) pada mata kuliah kewirausahaan mampu mening- katkan hasil belajar dan softskill dalam berwirausaha mahasiswa.

STRATEGI PEMBELAJARAN

Dalam dunia pendidikan strategi belajar memiliki keterkaitan yang kuat dengan tujuan pembelajaran. Eggen mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pendekatan umum mengajar yang berlaku dalam berbagai bidang materi dan digunakan untuk memenuhi berbagai tujuan pembelajaran. (Eggen, 2012). Pendapat lain mengatakan bahwa

strategi pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang berisi serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Sanjaya, 2013).

Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah perencanaan mengajar yang berlaku pada setiap jenjang pendidikan baik pendidikan dasar sampai perguruan tinggi pada setiap materi dan semua topik untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Setiap strategi pembelajaran tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, tidak ada satupun strategi pembelajaran yang paling sesuai untuk semua kondisi dan situasi pembelajaran yang berbeda, kalaupun tujuan pembelajaran yang dicapai sama. Oleh karena itu sangat dibutuhkan kreatifitas dan ketrampilan pengajar dalam memilih dalam menggu- nakan strategi pembelajaran. (Muhibbin Syah, 2013).

Strategi pembelajaran di Perguruan Tinggi selama ini masih diwarnai pada penekanan aspek kemampuan kognitif, padahal diharapkan pembelajaran juga mengembangkan kemampuan afektif (Bloom, 1956). Pembelajaran yang dapat mengembangkan aspek kemampuan kognitif yaitu pembelajaran yang melihat pada kenyataan di lapangan atau pembelajaran yang berbasis masalah secara nyata. Pandangan ini berakar dari

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 59

John Dewey, dalam bukunya The School and Society yang menyatakan bahwa sekolah mestinya mencerminkan masya- rakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk meme- cahkan masalah kehidupan nyata.(Dewey, 1909). Begitu juga pandangan Vygostsky dalam bukunyan Educational Psychology, bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru yang menantang dan ketika mereka berusaha untuk meme- cahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman.(L.S Vygotsky, 1997). Albert Bandura dengan Social leraning theory , pada teori konteks sosial (social context) ini dinyatakan bahwa seorang belajar dari orang lain (Albert Bandura, 1977). Dan Jean Piaget tokoh pengembang konstruktivisme-kognitif menyatakan bahwa pembelajaran dalam segala usianya secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuannya sendiri. (Jean Piaget, 1969).

Dari paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi pembelajaran yang tepat adalah ketika pebelajar akan memperoleh pengetahuan dengan mem- bangunnya sendiri dari pengalaman dan masalah yang ada.

Konsep Problem Based Learning (PBL) PBL adalah strategi pembelajaran yang menyuguhkan berbagai situasi

permasalahan yang autentik dan bermakna kepada pebelajar, yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan. (Arends, 2008). Dengan strategi ini diharapkan pebelajar dapat mengembangkan pengetahuan secara mandiri karena strategi ini berfokus pada pembelajaran aktif, menemukan masalah, kemampuan berfikir dan proses peme- cahan masalah. (Eggen, 2012).

Dalam buku Strategi Pembelajaran (Eggen, 2012) PBL ada 2 (dua) tahap yang harus dilakukan :

1. Merencanakan pembelajaran untuk pembelajaran PBL

Gambar 1. Pembelajaran PBL

a. Mengidentifikasi Topik

Topik dalam PBL lebih abstrak dan komplek bila dibandingkan bila mengajarkan satu konsep tentang himpunan dalam pembelajaran matematika atau kita membahas soal ide utama dalam cerita bahasa Indonesia.

b. Menentukan tujuan belajar

Merencanakan dalam PBL harus ada tujuan yang akan dicapai. Misalnya dalam pembelajaran bertujuan untuk

Merencanakan pembelajaran PBL Mengindentifikasi Topik Menentukan Tujuan Belajar Mengindentifikasi masalah Mengakses Materi

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 60

mengembangkan kemampuan maha- siswa dalam memecahkan suatu masalah yang sulit dan rumit dan juga sekaligus mempelajari kemandirian mahasiswa. Jadi tujuan yang dicapai bisa lebih dari satu. Yang tujuan lainnya bisa merupakan tujuan jangka panjang yang memerlukan penga- laman yang terus menerus diasah untuk mencapai tujuan.

c. Mengidentifikasi Masalah

Dalam PBL memerlukan satu masalah untuk dipecahkan bersama. Dan masalah itu akan efektif jika masalah itu kongkrit dan dekat dengan dunia nyata. Dan kemampuan awal maha- siswa dalam memecahkan masalah harus cukup, karena ini berhubungan dengan pengembangan strategi- strategi yang dihadapi.

d. Mengakses Materi

Stategi pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik bila mahasiswa memahami apa yang mereka akan capai, meskipun pada awalnya ketercapaian ini tidak maksimal karena mereka harus memiliki akses pada materi-materi pendukung dan penunjang. Maka dari itu mengakses materi merupakan hal yang sangat penting dan diperhatikan oleh mahasiswa baik secara kelompok maupun individu karena berhubungan

dengan keefektifan waktu, kerja dan hasil.

2. Menerapkan pembelajaran untuk pem- belajaran PBL, terdapat 4 fase :

Tabel 1. Menerapkan Pembelajaran Untuk Pembelajaran PBL Fase Diskipsi Fase 1 Mereview dan Menyajikan Masalah Pembelajar mereview pengetahuan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dan memberi pebelajar masalah yang spesifik dan konkret untuk dipecahkan • Menarik perhatian pebelajar dan menarik mereka ke dalam pembelajaran • Secara informasi menilai pengetahuan awal • Memberi fokus konkrit untuk materi pembelajaran Fase 2 Menyusun Strategi Pebelajar menyusun strategi untuk menyelesaikan masalah dan pembelajar memberi umpan balik soal strategi Memastikan sebisa mungkin bahwa pebelajar menggunakan pendekatan berguna untuk memecahkan masalah Fase 3 Menerapkan Strategi Pebelajar menerapkan strategi mereka saat pembelajaran secara cermat dan pembelajar memonitor dan memberikan umpan balik Memberi pebelajar pengalaman untuk memecahkan masalah Fase 4 Membahas dan Mengevaluasi Hasil Pembelajar Memberi pebelajar umpan balik untuk usaha mereka

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 61

membimbing diskusi tentang upaya pebelajar menyelesaikan masalah dan hasil yang mereka dapatkan

Menurut Arends (Arends, 2008) ciri- ciri pembelajaran PBL sebagai berikut : a. Pertanyaan atau masalah pendorong.

PBL menyusun pengajaran berda- sarkan pertanyaan atau masalah secara sosial penting dan secara personal bermakna bagi pebelajar.

b. Fokus antar disiplin

PBL dapat berpusat pada pelajaran tertentu. Masalah aktual yang dise- lidiki, dipilih karena solusinya mengharuskan pebelajar untuk menyelidiki banyak pelajaran.

c. Penyelidikan autentik.

PBL menuntut pebelajar melakukan penyelidikan autentik dan mencari solusi bagi masalah yang nyata.

d. Penyelidikan produk.

PBL mengharuskan pebelajar untuk membuat produk yang menjelaskan atau mewakili solusi-solusi mereka. e. Kolaborasi.

PBL ditandai dengan pebelajar saling bekerja sama dengan pebelajar lain, seringkali secara berpasangan atau kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk keter- libatan yang berkelanjutan dalam tugas-tugas kompleks dan mening-

katkan kesempatan dalam menemukan dan dalam dialog bersama, dan untuk perkembangan ketrampilan sosial.

Arends juga membuat hasil tujuan dari strategi PBL sebagai berikut :

Gambar 2. Hasil Tujuan Strategi PBL 3. Sintaks PBL yang dikembangkan oleh

Arends

Tabel 2. Sintaks PBL oleh Arends

Fase Prosedur Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran 1 Memberi orientasi tentang permasalahan pada pebelajar Pembelajar mempersiapkan pebelajar untuk fokus pada materi pembelajaran, menyampaikan tema dan membahas tujuan pembelajaran, membahas materi secara garis besar, memberikan orientasi permasaahan. 2 Mengorganisasi kan pebelajar untuk meneliti Pembelajar memberikan keleluasaan untuk memilih permasalahan, ruang sesuai tema, berkeliling Pembelajaran

PBL

Ketrampilan untuk belajar secara mandiri

Ketrampilan berpikir dan mengatasi masalah

Perilaku dan ketrampilan sosial sesuai contoh nyata

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 62 membantu pebelajar dalam kelompok untuk memahami dan mengorganisasi tugas yang terkait dengan permasalahan 3 Membantu investigasi mandiri dan kelompok Pembelajar mendampingi kelompok secara bergantian untuk merumuskan berbagai instrumen yang diperlukan, mendamingi dan mengarahkan kelompok untuk mencari informasi dari berbagai sumber untuk menyelesaikan masalah. 4 Mengembang- kan dan mempresentasik an artefak dan exhibit Pembelajar membantu pebelajar untuk mengolah berbagai hasil observasi atau pengamatan, membantu menuliskan laporan dan mengatur jalannya diskusi 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses mengatasi masalah Pembelajar membantu pebelajar untuk merefleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan Arends (2008) Konsep Diskusi

Diskusi adalah situasi ketika pebelajar dan pembelajar berkomunikasi untuk berbagi informasi, ide, atau pendapat, juga untuk menjelaskan masalah. (Cruicshank, 2009). Pendapat lain mendefiniskan diskusi merupakan pertukaran ide dan pandangan antar pebelajar, dan antara pebelajar dengan pembelajar. (Smaldino, 2005). Eggen mengatakan bahwa diskusi adalah strategi pembelajaran atau pengajaran yang melibatkan pebelajar untuk berbagi ide tentang satu topik umum. Diskusi melibatkan interaksi pebelajar dengan pebelajar, serta diskusi juga bisa dikombinasikan dengan kerja kelompok dan pembelajaran kooperatif (Eggen, 2012). Selanjutnya Eggen juga mengatakan bahwa dalam pembelajaran dengan strategi diskusi perlu adanya perencanaan yang matang supaya bisa terlaksana dengan baik, mempunyai makna, serta tidak membuang waktu.

Membuat perencanaan untuk diskusi melibatkan 4 langkah, yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3. Perencanaan Diskusi Perencanaan untuk Diskusi Mengindentifikasi Topik Menentukan Tujuan Belajar Mengembangkan Pengetahuan pebelajar Membangun Struktur

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 63

1. Mengidentifikasi Topik

Sebagaimana strategi dan model, perencanaan untuk diskusi bermula dari memilih topik diskusi paling efektif saat topiknya kontroversial atau membuka ruang bagi perbedaan interpretasi antara pebelajar dengan pebelajar, bahkan antara pebelajar dengan pembelajar.

2. Menentukan tujuan belajar

Jenis tujuan saat melibatkan pebelajar dalam diskusi pembelajaran ada 3 cara, yaitu :

a. Pembelajar ingin pebelajar untuk memikirkan 1 topik secara mendalam dan lebih analitis dibandingkan jika pebelajar hanya membacanya.

b. Diskusi memberikan ruang pada pebelajar untuk berfikir kritis. Saat pebelajar menawarkan interpretasi, pembelajar bisa meminta pebelajar untuk memberikan bukti bagi opini mereka

c. Diskusi dapat berkontribusi banyak pada perkembangan sosial pebelajar. Pembelajar mempelajari ketrampilan sosial seperti: mendengarkan ide, gagasan dari pebelajar dan pembelajar dengan penuh perhatian, menunggu giliran, mengekspresikan ide dengan jernih dan jelas, mengembangkan ide orang lain, dan membaca petunjuk- petunjuk non verbal

3. Mengembangkan Pengetahuan Pembelajar

Pebelajar harus memiliki penge- tahuan mendalam sebelum mereka memulai diskusi sudahlah jelas. Karena kita bisa membahas suatu topik jika kita tahu soal topik tersebut. Diskusi harus selalu diadakan pada pembelajaran yang berfokus pada pengetahuan dan memahami topik. Kurangnya pengetahuan awal menyebabkan diskusi terkadang tidak sukses, membahasa 1 topik tanpa pengetahuan awal bisa yang akan menyebabkan kekeliruan dan membuang waktu pembelajaran. Apabila pebelajar tidak mengetahui atau memahami suatu topik yang akan dijadikan bahan pembahasan, maka pebelajar akan merasa kesulitan untuk memulai langkahnya dari mana, apa yang menjadi tujuan, bagaimana proses cara mencari informasi, dan dengan siapa dia akan bekerja sama. Bila dari awal sudah mengalami keraguan, kebimbangan, maka untuk selanjutnya pembelajaran tidak bisa terarah, maka hasilnya tidak akan bisa maksimal.

Pengetahuan awal pebelajar perlu dikembangkan secara bertahap mulai sejak awal pembelajaran dikenalkan pada hal yang sederhana dahulu kemudian semakin meningkat dan semakin kompleks. Sehingga pengetahuan pebelajar semakin

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 64

lama semakin meningkat dengan dibarengi pemahaman konsep yang lebih matang. 4. Membangun Struktur

Diskusi bisa sangat efektif kalau tertata dan terstruktur. Pembelajaran diskusi sama dengan pembelajaran yang lain perlu perencanaan yang matang supaya pembelajar bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Bila perencanaan tidak matang maka diskusi tidak akan membuah hasil yang maksimal.

Pada pelaksanaan diskusi, diterapkan

3 fase menurut Eggen dan Kauchak. (Eggen, 2012)

Tabel 3. Menerapkan Pembelajaran Untuk Diskusi

Fase Tujuan

Fase 1 Perkenalam

Pembelajar

memberikan satu isu dan pembuka diskusi

• Menarik perhatian • Memberikan fokus pada diskusi • Mengaktifkan pengetahuan latar belakang Fase 2 Eksplorasi Pembelajar mengeksplorasi topik, memperjelas pemikiran mereka, dan mengambil satu posisi • Mendorong keterlibatan pebelajar • Mendorong pemahaman mendalam terhadap topik • Mengembangkan pemikiran kritis dan perkembangan sosial

Fase 3 Penutup

Point point utama dalam diskusi akan diringkasnya

• Menjernihkan poin- poin kesepakatan dan perdebatan

Tujuan Diskusi (Arends, 2013). Seperti nampak pada gambar dibawah ini :

Gambar 4. Hasil Tujuan Diskusi

Penjelasan bagan diatas adalah sebagai berikut :

a. Diskusi meningkatkan pemikiran pebelajar dan membantu pebelajar untuk membangun pemahaman mereka sendiri mengenai konten akademis yang dilaksanakan dalam pembelajaran.

b. Diskusi meningkatkan keterlibatan pebelajar.

Menggunakan strategi diskusi merupakan satu cara memberikan kesempatan publik kepada pebelajar untuk membicarakan dan bermain dengan gagasan mereka sendiri dan memberikan motivasi untuk terlibat dalam percakapan diluar kelas.

c. Diskusi digunakan oleh pembelajar untuk melatih ketrampilan komunikasi dan yang penting dapat mengem- bangkan proses pemikiran yang lebih efektif.

Diskusi Keterlibatan Pemahaman konseptual

Ketrampilan komunikasi dan proses berfikir

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 65

Ada 3 fase dalam pembelajaran diskusi yaitu :

a. Merencanakan diskusi

Anggapan yang salah bahwa merencanakan pembelajaran diskusi, tidak memerlukan persiapan yang matang dibandingkan strategi pembe- lajaran yang lain, karena meren- canakan pembelajaran diskusi sama dengan pembelajaran yang lain yaitu harus mempertimbangkan tujuan pembelajaran, karakteristik pebelajar, karakteristik materi dan memilih pendekatam yang cocok

b. Melaksanakan diskusi

Kemampuan ketrampilan berkomu- nikasi dan pola interaksi yang baik dibangun agar diskusi dalam kelas berjalan dengan baik. Hal ini juga membutuhkan norma yang mendu- kung interaksi terbuka dan rasa saling hormat menghormati sesama pebelajar dan juga pembelajar

c. Penilaian dan evaluasi

Setelah melaksanakan diskusi pembelajar mempunyai tugas untuk memikirkan cara menindaklanjuti suatu diskusi dalam pelajaran selanjutnya, kemudian menentukan nilai. Dalam memikirkan tindak lanjut pembelajar menggunakan informasi yang pebelajar peroleh selama diskusi, yaitu mengenai kekuatan dan kelemahan proses pemikiran pebelajar

serta kemampuan kelompok untuk terlibat dalam dialog yang bertujuan.

Pelajaran yang mendatang selan- jutnya dapat direncanakan untuk memper- kuat bidang yang ditargetkan untuk ditingkatkan. Sintaks dalam diskusi terdiri atas 5 tahap. (Arends, 2013)

Tabel 4. Sintaks Diskusi Langkah Perilaku Pembelajar Membuka pembelajaran, memfokuskan pebelajar, menyampaikan tujuan dan mengatur lingkungan belajar Pembelajar memberikan apersepsi dan juga motivasi untuk mempersiapkan pebelajar dalam rangka mengikuti pembelajaran yang akan dilaksanakan, menyampaikan tujuan dan membentuk kelompok secara heterogen

Memfokuskan diskusi

Pembelajar menggali pengetahuan awal dengan mengajukan beberapa pertayaan, menejelaskan garis besar materi, dan memberikan permasalahan pada tiap kelompok untuk didiskusikan Melaksanakan dan mengendalikan diskusi Pembelajar mendampingi dan memantau jalannya diskusi dalam kelompok, mengatur jalannya diskusi, mengamati interaksi pebelajar yaitu cara mereka mengungkapkan ide dan pendapatnya serta mengorganisasikan pertanyaan Mengakhiri diskusi Pembelajar membantu pebelajar untuk membuat ringkasan hasil dari diskusi Mengadakan tes

pemahaman hasil diskusi

Pembelajar memberikan pertanyaan lisan untuk menguji pemahaman dan proses berpikir pebelajar.

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 66

Dari paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi pembelajaran baik diskusi maupun PBL mengajak mahasiswa untuk memperoleh penge- tahuan dengan membangunnya sendiri dari pengalaman dan masalah yang ada.

Strategi Pembelajaran Pada Mata Kuliah Kewirausahaan

Dalam proses pembelajaran di kelas dalam hal ini di Perguruan Tinggi seorang dosen penting untuk memperhatikan keaktifan mahasiswa. Hal ini perlu dipikirkan sejak dosen menyusun Rencana Persiapan Pembelajaran. Dosen harus benar-benar memilih strategi pembelajaran sehingga mahasiswa antusias dalam proses perkuliahan. Dan diharapkan dalam pembelajaran ini mahasiswa memperoleh pengetahuan dengan membangun sendiri dari pengalaman dan masalah yang ada sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan softskill mahasiswa dalam berwira- usaha.

Strategi PBL dan diskusi mempunyai tujuan, bahwa mahasiswa mampu berpikir kritis dan bisa mengatasi masalah tentang langkah-langkah untuk memulai berwirausaha, juga mampu menunjukkan prilaku dan mempunyai ketrampilan sosial sesuai contoh nyata para pelaku wirausaha.

Adapun prosedur pembelajaran untuk masing-masing strategi, baik PBL maupun diskusi dideskripsikan sebagai berikut :

Tabel 5. Prosedur Pembelajaran

PBL Diskusi

Dosen pengampu mata kuliah mempersiapkan mahasiswa untuk fokus pada materi pembelajaran,

menyampaikan tema dan membahas tujuan pembelajaran,

membahas materi secara garis besar, memberikan orientasi permasaahan.

Dosen pengampu mata kuliah memberikan apersepsi dan juga motivasi untuk mempersiapkan

mahasiswa dalam rangka mengikuti pembelajaran yang akan dilaksanakan, menyampaikan tujuan dan membentuk kelompok secara heterogen

Dosen pengampu mata kuliah memberikan keleluasaan untuk memilih permasalahan, ruang sesuai tema, berkeliling membantu mahasiswa dalam kelompok untuk memahami dan mengorganisasi tugas yang terkait dengan permasalahan

Dosen pengampu mata kuliah menggali pengetahuan awal dengan mengajukan beberapa pertayaan, menejelaskan garis besar materi, dan memberikan

permasalahan pada tiap kelompok untuk didiskusikan

Dosen pengampu mata kuliah mendampingi kelompok secara bergantian untuk merumuskan berbagai instrumen yang diperlukan, mendamingi dan mengarahkan kelompok untuk mencari informasi dari berbagai sumber untuk menyelesaikan masalah.

Dosen pengampu mata kuliah mendampingi dan memantau jalannya diskusi dalam kelompok, mengatur jalannya diskusi, mengamati interaksi mahasiswa yaitu cara mereka mengungkapkan ide dan pendapatnya serta mengorganisasikan pertanyaan

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 67

Dosen pengampu mata kuliah membantu mahasiswa untuk mengolah berbagai hasil observasi atau pengamatan,

membantu menuliskan laporan dan mengatur jalannya diskusi

Dosen pengampu mata kuliah membantu mahasiswa untuk membuat ringkasan hasil dari diskusi

Dosen pengampu mata kuliah membantu mahasiswa untuk merefleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan

Dosen pengampu mata kuliah memberikan pertanyaan lisan untuk menguji pemahaman dan proses berpikir mahasiswa.

(Arends, 2013)

PENUTUP

Problem Based Learning (PBL) dan diskusi adalah bentuk pendekatan pembelajaran yang student center learning. PBL adalah belajar dengan menggali/ mencari informasi (inquiry) serta memanfaatkan informasi tersebut untuk memecahkan masalah faktual / yang dirancang oleh dosen. Problem Based Learning dan diskusi adalah bentuk pendekatan pembelajaran yang sangat tepat digunakan pada mata kuliah kewirausahaan karena mahasiswa mencari pemecahan masalah dengan turun langsung ke lapangan untuk menjawab permasalahan.

Diharapkan dengan Problem Based Learning dan diskusi mahasiswa akan mempunyai pijakan dalam memulai berwirausaha sesuai kemampuan dan pengalaman mereka ketika berdiskusi

bersama di kelas, turun di lapangan dan pembuatan perencanaan bisnis atau business plan

DAFTAR PUSTAKA

Chayatun M, Y. (2016). Integrasi Virus Entepreneurship pada mata Kuliah Kewirausahaan. Edupedia, Vol. 3 (1).

Chayatun M, Y. (2017). Problem Based Learning (PBL) on Entepreneurship Course of Social Sciences Education Departement of STKIP PGRI Lamongan. Surabaya: Adi Buana University Press.

Cruicshank, D. (2009). The Act of Teaching (Fifth Edit). Boston: MsGraw-Hill Higher Education.

Dewey, J. (1909). The School and Society. Chicago: Chicago III, University of Chicago Press.

Dikti. (2013). Modul Pembelajaran Kewirausahaan. Jakarta : Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kementrian Dirjen Perguruan Tinggi.

Eggen, P. & K. (2012). Strategi dan Model Pembelajaran. Jakarta: Permata Puri Media.

Harms, R. (2015). Self-regulated Learning, Team Learning and Project Performance in Entrepreneurship Education : Learning in a Lean Startup Environment. Technological Forecasting and Social Change, 100, 21–28.

https://doi.org/https://doi.org/10.101 6/j.techfore.2015.02.007

Jean Piaget, B. I. (1969). The Psychology Of The Child. Michigan Universuty.

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 68

L.S Vygotsky. (1997). Educational Psychology. Florida: CRC Press LLC.

Lonappan, J, Devaraj, K. (2011). Pedagogical Innovations in Teaching Entrepreneurship. In Eighth AIMS International Conference on Management (Vol. pp 513-518).

Manaf, N. A. A., Ishak, Z., & Hussin, W. N. W. (2011). Application of Problem Based Learning (PBL) in a Course on Financial Accounting Principles. Learning and Instruction, 8, 21–47.

Muhibbin Syah. (2013). Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sakernas. Survei Angkatan Kerja Nasional (2013).

San Tan, S., & Ng, C. K. F. (2006). A Problem Based Learning Approach to Entrepreneurship Education. Education + Training, 48(6), 416– 428.

https://doi.org/10.1108/0040091061 0692606

Sanjaya. (2013). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Fajar Interpratama Mandiri.

Smaldino. (2005). Intructional Technology

and Media for Learning (Eight Edit). New Jersey: Allyn and Bacon.

Wee, K. N. L. (2004). A Problem-Based

Learning Approach in

Entrepreneurship Education:

Promoting Authentic

Entrepreneurial Learning.

International Journal of Technology Management, 28 (7/8) 68. https : // doi.org / 10.1504 / IJTM. 2004.005777

Prosiding Semnas Pendidikan: Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 69

INOVASI PEMBELAJARAN UNTUK MEMBERI MAKNA SERTA