• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV Membongkar Garinian Time-Image : Menuju Estetika Baru dan

C. Suara, Bunyi dan Musik: Monotonitas Dinamis, Simultanitas dan

Dalam movement-image, suara, bunyi maupun musik biasanya membentuk kesatuan audiovisual dengan gambar filmis. Yang sebaliknya justru mengemuka dalam Puisi Tak Terkuburkan. Musik tidak lagi sekedar menjadi double atau

background yang visual13. Ia tidak merespon secara langsung apa yang sedang

terjadi supaya penonton merespon secara ‗benar‘ atau menjadi pintu masuk ke

dalam masalah yang sedang dihadapi pemain. Ia juga tidak secara langsung

12

Di bagian sebelumnya, kita menyebutnya Juwita.

13

Ini merupakan persoalan yang sangat krusial dalam Deleuze. Seperti katanya, ―From the outset, the problem of sound was: how could sound and speech be used so that they were not simply an unnecessary addition to what was seen? This problem was not a denial that sound and talking were a component of the visual image; on the contrary: it was because it a a specific component that sound did not have to be unnecessary in relation to what was seen in the visual. The famous Soviet manifesto already proposed that sound referred to a source out-of-field, and would therefore be a visual counterpoint, and not the doule os a seen point: the noise of boots is all the more interesting when they are not seen‖. Gagasan ini mengakar dalam Nietzsche. Dalam the Birth of Tragedy, yang visual berasal dari Apollo yang menyebabkan yang visual bergerak menurut kaidah tertentu dan membuatnya merepresentasikan keseluruhan secara tidak langsung namun diintermediasi lewat puisi liris ataupun drama. Namun begitu, keseluruhan tersebut juga ―…capable of a direct presentation, of an ‗immediate image‘ incommensurable with the first, and this time musical, Dionysian: closer to an inexhaustible Will (Vouloir sans fond) than to a movement.‖ (Gilles Deleuze, Op. Cit., hlm. 235–239)

mengiringi dinamika tonalitas dan emosionalitas pemain baik ke dalam atau secara internal maupun secara eksternal. Interaksi antar pemain tidak serta-merta mengisyaratkan warna musik tertentu. Respon musik terhadap ruang, waktu atau ruang-waktu pun tidak mengandaikan logika setting secara linear.

Kita sudah melihat bagaimana pemain diemansipasi untuk menjadi dirinya sendiri dan berproses secara intens baik itu pada tingkat personal maupun kolektif. Ruang pun mengalami disparitas koneksi dengan respon motorik-sensorik para pemain. Akibatnya, kamera menjadi semacam penangkap atau bahkan penampung fenomena atau intensitas momen, bukan lagi sekedar melihat tapi menyaksikan. Ruang menjadi semacam gumpalan energi yang bergulung melampaui setting. Diskontinuitas ini melempar musik ke dalam dirinya sendiri mencapai kemandirian audiofilmis yang memancarkan pesannya ke seluruh arah dan ke dalam segenap dimensi ruang. Musik menjadi kehadiran egosentris yang secara simultan bertemu, bertabrakan, mengalami simultanitas dengan dimensi-dimensi lainnya namun terus mendesakkan geraknya, totalitas yang sedang mencari jati dirinya. Ia menjadi sound-image pada dirinya sendiri.

Konsekuensinya, musik selayaknya sedikit, pendek atau bahkan sangat pendek serta monoton penuh nada-nada tinggi. Ia tidak mengiba tapi melengking dan menjerit seketika itu juga dengan komposisi yang sama. Kombinasi monoton-repetitif-simultan baik itu komposisi, warna nada, instrumen, durasi serta momen yang diperdengarkan ini berhasil memaksa telinga mencondongkan perhatian

pada dirinya yang sedang mengurai ‗sabda‘. Pada titik ini, musik menjadi soal

masalah pendengaran tapi juga visual dan rasa. Ia getir, pahit dan penuh kata, kasat mata yang hadir secara penuh untuk proyek eksistensinya tanpa harus tergantung pada tayangan visual. Musik melengking begitu saja jatuh melayang mengisi kekosongan ruang dan ruang pendengaran penonton, warna musik yang

sama (dan terus-menerus sama di setiap kemunculannya, utuh atau sepenggal atau penggalan-penggalan) seakan tak peduli jiwa-jiwa yang meradang tercampak ideologi.

Kehadiran musik sebagai yang asing (foreign body14) terhadap yang visual ini berlangsung secara simultan dengan kehadiran suara dan bunyi lainnya. Sejenak sebelum musik meradang, kita bisa mendapati lamat-lamat dendang lagu yang mengalun lembut masuk dari dalam sel-sel lainnya yang tak terekspos ke dalam ketiga ruang terekspos (yang harus dibedakan dengan senandung syair yang serta-merta diproduksi dalam sel pria maupun wanita). Kadang dendangan syair-syair itu berdiri sendiri seakan menjadi perpisahan kepada para tereksekusi. Kadangkala, lagu-lagu itu seakan merespon peristiwa yang sedang terjadi sebelum akhirnya bermetamorfosis menjadi aktivitas berdendang di antara para tahanan. Di lain waktu pula, syair-syair itu berlangsung dalam satu kontinuum disharmonis dengan musik. Mereka mengalun lambat dan lamat, bergerak mendekat lebih cepat lebih keras sebelum dipungkas dengan musik yang jatuh mendadak menguasai segenap pelataran penjara tanpa kendali visual kecuali oleh

14 ―…cinema music must be abstract and autonomous, a true ‗foreign body‘ in the visual image, rather like a speck of dust in the eye, and must accompany ‗something that is in the film without being shown or suggested in it‖. (Ibid., hlm. 239)

kemauannya sendiri. Musik di sini untuk mencabik-cabik, menggelisahkan dan menggugat untuk dirinya sendiri15.

Dendangan yang bercerita ini seringkali ditampung kamera dengan seksama dengan durasi yang cukup panjang, menjadi peristiwa (event yang melampaui dinamika internal shot atau frame yang harus ada seturut logika keutuhan cerita) yang memukau sekaligus bagi penonton maupun para pemain di dalam film. Ambil adegan pelajaran mengolah padi dan mengirim ‗sandi asmara‘

bagi sang buah hati. Kamera close-up wajah-wajah pria yang merasakan sesuatu yang mengusik sensibilitas mereka pada kehidupan. El Manik yang menutup mata perlahan duduk menatap searah tatapan teman-temannya. Penutup telinga tak

urung melepaskan kedua ‗katup‘ di telinganya. Lilin yang nyaris padam mendapat

siraman minyak baru. Sayup-sayup terdengar sesuatu.

Mak Tua bergerak gemulai sambil memaparkan tehnik memisahkan bulir dari biji-biji padi yang kosong. Senyum kecil perlahan kuncup di wajah Jelita. Dan seperti tunas yang bertumbuh di atas tanah gembur, gairah seyum itu menjadi geliat penuh hasrat gerak mengikuti arahan kedua tangan si Mak di atas bahunya.

Selampir selendang Mak Tua dan dendang ‗ibu‘ bagi sang anak menyusupi

sanubari Jelita membuat bibirnya turut merangkai syair. Gemulai mereka kian cepat seiring kombinasi gerak-suara tua-muda yang memenuhi dapur dan akhirnya

kamera yang ‗mengintip‘ (lewat celah antara kedua sel) dan hinggap di sekujur

15―There is certainly a relation, but it is not an external correspondence nor even an internal one

which would lead us back to an imitation; it is a reaction between the musical foreign body and the completely different visual images, or rather an interaction independent of any common structure….there no movement common to the visual and to sound, and music does not act as movement, but as ‗stimulant to movement without being its double‘ (that is, as will)‖. (Ibid., hlm. 239–240)

wajah dan tubuh para tahanan wanita yang serentak berteriak, ―Ahoy...uuuy..!‖

(menyoraki merah pipi sang Jelita). Waktu yang muncul ke permukaan layar terdeteksi lewat gerombolan uap panas yang menerobos tutup periuk bertabrakan dengan panah-panah mentari yang menggelitik lewat celah-celah jendela kayu seakan hendak mencegah mereka meloloskan diri dari dapur.

Seketika itu juga, penonton sadar bahwa ini adalah pengalaman bersama dengan kaum terpidana atau pada level tertentu penonton pun ternyata berada di dalam penjara karena kamera hanya mengikuti energi suara yang sedang mendekat. Kalau boleh kita menyebutnya, ini adalah tehnik Doppler Effect yang mengemansipasi partisipasi penonton secara utuh sekaligus menghasilkan efek intensifikasi dan ekstensifikasi ruang dan emosi secara intens.

Maka saling bertukar kisahlah mereka, kisah-kisah manis yang mencegah opresi penjara menghancurkan hasrat manusiawi mereka. Ruang-ruang personal dan sosial berhamburan menambah pengetahuan kontekstual penonton. Kenangan percintaan yang sudah mengendap terangkat dengan sendirinya. Yang lampau menjadi kekinian. Yang tadinya terlupakan, terkubur, bangkit kembali menjadi yang hidup, aktif dan partisipatif, serta revelan seketika. Telusur kilas ini melahirkan simultanitas kehadiran, sebuah ko-eksistensi dengan kenangan-kenangan para tahanan. Dan ketika kenangan-kenangan memuncak, tubuh tak sanggup lagi menahan vibrasi energi yang begitu besar yang hanya mungkin tertumpah dalam nyanyi dan tari perayaan kehidupan. Kamera yang sejak tadi mengintip tanpa kedip kini menangkap pantulan kinetik suara yang memasuki sel laki-laki.

Doppler effect juga dimainkan dengan manis lewat bunyi-bunyi lainnya. Yang terutama adalah kombinasi suara truk yang mendekat, berhenti lalu pintu yang dihempas. Pada saat yang sama, sayup-sayup teriakan Sipir memasuki sel diiringi isak dan jeritan kecil para tahanan di sel-sel lainnya (yang tak terekspos). Kadangkala hardikan ini bergerak kian dekat kian keras hingga begitu jelas ke dalam sel pria maupun perempuan saat beberapa tahanan dari situ sedang dikarungi di dapur.