• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KOTA SURABAYA & KOMUNITAS TIONGHOA PADA AWAL

C. Aktivitas Komunitas Tionghoa

3. Surat Kabar

Salah satu media untuk membangkitkan semangat nasionalisme Tiongkok kepada kelompok Tionghoa secara meluas adalah dengan menggunakan surat kabar. Hal ini disebabkan karena surat kabar merupakan media yang paling efektif dalam sistem komunikasi yang terbuka untuk menyampaikan gagasan-gagasan mengenai pentingnya nasionalisme bagi komunitas Tionghoa. Seperti yang dikatakan Anderson bahwa munculnya kapitalisme cetak dapat memberikan dampak yang begitu besar dalam memberikan kabar secara luas tanpa bertemu langsung. Hal inilah yang ingin dicapai oleh perkembangan surat kabar Tionghoa yang mulai berkembang pada awal abad XX.

Pada awal abad XX perkembangan surat kabar Tionghoa-Melayu dimanfaatkan sebagai bisnis bagi para pedagang Tionghoa. Pada awalnya surat kabar Tionghoa digunakan sebagai media iklan-iklan perdagangan milik Tionghoa sehingga yang membacanya dapat menarik pembeli. Namun, perkembangan nasionalisme Tiongkok membuat surat kabar Tionghoa tidak hanya berhenti pada iklan-iklan perdagangan tetapi justru dapat membentuk opini publik. Ketidakpuasan orang Tionghoa terhadap pemerintah Hindia Belanda yang

77

merugikan perekonomian pedagang Tionghoa dikabarkan melalui surat kabar.78 Dari sinilah muncul kesadaran nasionalisme Tionghoa yang diperjuangkan lewat surat kabar.

Perkembangan surat kabar Tionghoa tidak dapat dilepaskan dari kaum nasionalis Tionghoa dari kalangan THHK. Hal ini disebabkan karena melalui perkumpulan inilah satu-satunya cara mengembangkan ideologi nasionalisme Tiongkok. Maka pada abad XX surat kabar Tionghoa mencerminkan suatu perwujudan kesadaran kelompok nasionalis yang ingin sama-sama dirintis oleh THHK yakni menanamkan kebudayaan Tionghoa. Hal ini bertepatan dengan perkembangan di Tiongkok pada akhir abad XIX dan awal abad XX memunculkan usaha percetakan yang dimiliki sendiri oleh orang Tionghoa.79

Pada waktu itu berkembang gerakan pan-Tionghoa di mana komunitas Tionghoa mulai menyadari pentingnya posisi mereka di Hindia Belanda karena sistem diskriminatif pemerintah.80 Gerakan inilah yang pada awalnya dirintis oleh kelompok totok yang menginginkan modernisasi sesuai dengan semangat revolusioner Tiongkok.81 Maka secara perlahan-lahan surat kabar Tionghoa tidak hanya menjadi wadah iklan dagang Tionghoa saja melainkan mengabarkan peristiwa-peristiwa di Tiongkok, kebudayaan-kebudayaan Tiongkok, sastra Tiongkok, bahkan orang Tionghoa sudah mulai bekerja sebagai wartawan.

78

Ahmat Adam. 2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, Jakarta: Hasta Mitra, hlm. 301-304.

79

Leo. 1988. Op. cit., hlm. 76.

80

Ibid., hlm. 77.

81

Pada awal perkembangannya surat kabar Tionghoa dipimpin oleh redaktur yang berasal dari Indo-Belanda karena untuk melegalkan perkembangan pendirian surat kabar ini, namun apabila sudah dapat berdiri secara mandiri maka akan diambil alih secara penuh oleh orang Tionghoa.82 Terkait dengan masalah bahasa surat kabar Tionghoa lebih menggunakan bahasa Melayu karena saat itu belum banyak yang bisa menggunakan bahasa Mandarin dan bahasa Belanda hanya dikuasai oleh kaum terpelajar. Hal ini dimaksudkan agar tulisan-tulisan dalam surat kabar dapat tersampaikan kepada masyarakat luas terutama kelompok peranakan maka disebut surat kabar Tionghoa-Melayu. Meskipun demikian pada perkembangan selanjutnya juga terdapat surat kabar berbahasa Mandarin.

Pada awal abad XX muncul surat kabar Li Po (1901) di Sukabumi sebagai pelopor berkembangnya surat kabar Tionghoa-Melayu, kemudian muncul

Pewarta Soerabaia (Surabaya, 1902), Warna Warta (Semarang, 1902), Chabar Perniagaan (Batavia, 1903), Ik Po (Surakarta, 1904), Djawa Tengah (Semarang,

1909), Sin Po (Batavia, 1910), Tjahaja Timoer (Malang, 1914), dan Tjhoen Tjhioe (Surabaya, 1914).83 Kemudian muncul dan berkembanglah surat-surat kabar Tionghoa-Melayu lainnya di berbagai wilayah di Jawa dan luar Jawa seperti Keng

Po, Sin Jit Po, Sin Tit Po, Soara Poebliek, Bintang Tionghoa, dan lain sebagainya.

Bahkan menurut studi dari Leo Suryadinata surat kabar Tionghoa-Melayu kemudian terpecah menjadi tiga golongan politik seperti Sin Po yang mewakili

82

Leo Suryadinata. 2010. Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia Sebuah Bunga Rampai 1965-2008. Jakarta: Kompas, hlm. 17.

83

Leo Suryadinata. 1971. “The Pre-World War II Peranakan Chinese Press of Java”, dalam Papers in International Studies Southeast Asia Series No. 18, Ohio: Ohio University Center for International Studies Southeast Asia Program, hlm. 10.

kelompok nasionalis Tionghoa, Siang Po sebagai organ tidak resmi Chung Hwa Hui kelompok pro Hindia Belanda, dan Sin Tit Po sebagai corong tidak resmi Partai Tionghoa Indonesia.84

Surat kabar Sin Po merupakan surat kabar yang paling dikenal dengan sikapnya yang teguh dalam memperjuangkan nasionalisme Tionghoa. Harian Sin

Po memiliki pendirian yang teguh “sekali Tionghoa tetap Tionghoa” dengan

mempertegas statusnya sebagai orang Tionghoa yang tidak boleh bergantung pada penguasa Hindia Belanda dan berusaha sendiri dalam memperbaiki sosial-ekonominya berdasarkan kebudayaan Tionghoa.85 Saking radikalnya kelompok

Sin Po dianggap sebagai pahlawan Tionghoa di Hindia Belanda yang dengan

berani dan lantang menyerukan gagasan nasionalisme Sun Yat Sen di surat kabarnya.

Surat kabar Tionghoa-Melayu di Surabaya cukup beragam dan bahkan memiliki ideologi yang bervariasi seperti Pewarta Soerabaia, Sia Hoe Po, Sin Jit

Po, Sin Tit Po, dan Tjhoen Tjhioe.86 Meskipun begitu surat kabar Pewarta

Soerabaia dan Sin Jit Po yang kemudian berganti nama menjadi Sin Tit Po yang

memiliki banyak pembaca. Namun, Pewarta Soerabaia merupakan surat kabar yang cukup besar dan memiliki pembaca yang cukup banyak dikalangan komunitas Tionghoa di Surabaya. Bahkan ketika surat kabar Sin Po Oost Java

84

Leo. 1988. Op. cit., hlm. 81.

85

Siauw. Op. cit., hlm. 35.

86

Editie diterbitkan tidak berlangsung lama dan gulung tikar karena kalah dengan Pewarta Soerabaia.87

Surat kabar Pewarta Soerabaia merupakan surat kabar tertua yang memuat iklan-iklan perdagangan Tionghoa yang cukup lengkap sehingga tidak mengherankan bahwa surat kabar ini disebut koran perdagangan.88 Maka ketertarikan orang Tionghoa Surabaya yang didominasi oleh kelompok Hokkian membuat Pewarta Soerabaia menjadi surat kabar nomor satu di Surabaya. Meskipun begitu harian Pewarta Soerabaia memiliki prinsip dan ideologi yang sama dengan kelompok Sin Po yakni berhaluan nasionalisme Tionghoa. Meskipun

Pewarta Soerabaia tidak seradikal Sin Po melainkan surat kabar ini menjadi

cerminan orang-orang Tionghoa Surabaya yang berhaluan nasionalisme Tiongkok seperti yang tertulis dalam harian Pewarta Soerabaia ini “Satoe soerat kabar jang bisa membela kapentingannja kebangsa‟an, adalah itoe soerat kabar jang berdiri tegoeh dan soedah dapet banjak kapertjaia‟an dari pembatjanja.”89

Tidak mengherankan setiap harinya tulisan-tulisan yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme lewat kebudayaan Tionghoa dan kabar dari Tiongkok dimuat.

Surat kabar Pewarta Soerabaia menjadi kelompok nasionalis Tionghoa yang menyerupai kelompok Sin Po di Batavia. Keberadaan mereka sebagai surat kabar tertua dan surat kabar perdagangan memudahkan mereka dalam

87

Leo. 1971. Op. cit., hlm. 20; Leo. 2010. Op. cit., hlm. 21.

88

Leo. 1971. Ibid., hlm. 11.

89

“Soerat Kabar jang Bisa Membela Bangsa dan jang Tida Mampoe Membela Bangsa”, Pewarta Soerabaia pada Jumat, 1 November 1930, hlm. 6.

menyebarkan semangat nasionalisme. Bahkan memasuki tahun 1930-an ketika berkecamuk perang Tiongkok-Jepang surat kabar Pewarta Soerabaia setiap hari mengabarkan situasi di Tiongkok sekaligus mengajak orang Tionghoa Surabaya untuk bersolidaritas kepada keluarga mereka. Bahkan tidak segan-segan pada tahun tersebut Pewarta Soerabaia membangkitkan semangat anti Jepang dan menyerukan boikot Jepang.