• Tidak ada hasil yang ditemukan

Synectics yang dikembangkan oleh Willam J Gordon, memang tidak sepopuler brainstorming tetapi mempunyai

Dalam dokumen Kepemimpinan dalam Revolusi Mental (Halaman 46-70)

44

nilai potensial lebih besar sebagai tehnik kreatif dalam pengambilan keputusan. Synectics didasarkan pada asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan, dan dimaksudkan untuk meningkatkan keluaran (output) kreatif individual dan kelompok. Tehnik ini mencakup dua tahap dasar, pertama membuat yang aneh menjadi lazim dan kedua membuat yang lazim menjadi yang aneh. Tahap aneh lazim terutama bersifat analitis dan biasanya tidak ada penyelesaian. Sedangkan tahap kedua membuat yang lazim menjadi aneh suatu upaya sengaja dilakukan untuk melihat masalah dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda.

Ada 4 tipe analogi umum yang digunakan untuk menstimulasi kreatifitas pada pembuatan yang lazim menjadi aneh yaitu :

1. analogi pribadi, 2. langsung, 3. simbolik dan 4. fantasi.

Tidak semua manajer harus secara otomatis menganggap bahwa mereka dapat menggunakan synectics untuk membantu dalam pengambilan keputusan kreatif.

Untuk mengimplementasikan synectics secara tepat memerlukan seleksi hati-hati terhadap kemampuan personalia, latihan yang mamadai untuk penguasaan tehnik dan integrasi dengan lingkungan pengambilan keputusan. Meskipun synectics seperti hanya

45

ini lebih cocok untuk masalah keputusan yang kompleks.

Synectics sangat membantu dalam pengambilan keputusan

dasar atau mengandung resiko dan ketidakpastian yang memerlukan penyelesaian kreatif.

Selain itu terdapat pula teknik partisipasi sebagai suatu tehnik berarti bahwa individu atau kelompok dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Ini dapat bersifat formal atau informal dan menyangkut keterlibatan intelektual dan emosional seperti halnya keterlibatan phisik. Besarnya partisipasi dalam pengambilan keputusan bervariasi dari satu sisi ekstrim dimana ada partisipasi berarti setiap orang yang berhubungan dengan dan dipengaruhi oleh keterlibatan dalam pengambilan keputusan. Dalam praktek derajat partisipasi ditentukan oleh beberapa faktor seperti :

(1) siapa yang mengajukan gagasan,

(2) berapa proporsi bawahan melaksanakan setiap tahan pengambilan keputusan diagnosis, pengembangan alternatif, evaluasi dan estimasi konsekuensi masing-masing alternatif dan pembuatan pilihan

(3) berapa bobot seorang pelaksana mempengaruhi gagasan yang dia terima. Semakin besar adanya masing-masing faktor ini, akan semakin tinggi besarnya partisipasi.

Ada aspek positif dan negatif pada teknik pengambilan keputusan partisipatif misalnya kecenderungan terjadinya partisipasi semu (pseudo

46

participation) dimana manajer mencoba untuk melibatkan

bawahan dalam tugas tetapi bukan pada proses pengambilan keputusan. Ini dapat menjadi bumerang yang terpengaruh pada kepuasan karyawan. Bila atasan menyatakan ingin memperoleh partisipasi dari bawahan tetapi tidak pernah membiarkan mereka terlibat secara intelektual dan emosional dan memanfaatkan saran mereka, hasilnya mungkin berupa “malapetaka”. Partisipasi juga dapat sangat memakan waktu bertele-tele dan sebagainya. Tetapi dari sudut pandangan keperilakuan, bagaimanapun juga keuntungan dengan adanya partisipasi jauh lebih besar dibanding kejelekannya. Barangkali keuntungan terbesar adalah bahwa tehnik partisipasi menyadari bahwa setiap orang dapat memberikan sumbangan (konstribusi) yang sangat berarti kepada pencapaian tujuan-tujuan organisasi.

Analisis keputusan. Analisis ini didasarkan pada pola berfikir penentuan pilihan. Dengan proses ini kita dapat mengevaluasi berbagai alternatif yang ada dan memilih alternatif terbaik. Langkah-langkah analisis keputusan dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Merumuskan pernyataan keputusan (decision

statement), menentukan sasaran-sasaran yaitu hal-hal

atau persyaratan penting yang harus dipenuhi alternatif demi hasil yang diharapkan dengan memperhatikan sumber daya yang membatasi dan ketersediaan data. Sasaran ini kemudian dikatagorikan menjadi berbagai sasaran mutlak yang

47

harus dipenuhi (must) dan berbagai sasaran keinginan (wants) dengan bobot yang berbeda-beda.

2. Mengembangkan dan mengevaluasi alternatif-alternatif. Berbagai alternatif dievaluasi terhadap sasaran mutlak dan sasaran keinginan. Alternatif yang tidak memenuhi sasaran mutlak digugurkan dan tidak dimasukkan dalam pertimbangan selanjutnya. Pilihan sementara ditentukan atas dasar apakah alternatif memenuhui sasaran mutlak atau tidak dan niai total tertinggi hasil perkalian bobot masing-masing sasaran keinginan dan hasil penilaian alternatif terhadap sasaran-sasaran tersebut.

3. Menganalisa konsekuensi atau resiko yang merugikan untuk setiap alternatif, yang menyangkut kegawatan resiko. Pilihan terakhir ditentukan atas dasar hasil evaluasi alternatif dan analisis konsekuensinya.

Analisis persoalan potensial. Adalah proses

rasional yang didasarkan pada antisipasi kita terhadap peristiwa yang mungkin terjadi dan yang dapat terjadi dimasa yang akan datang. Memang tak seorangpun dapat mengetahui dengan pasti apa masalah yang akan terjadi tetapi juga tak seorangpun dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi masalah diwaktu yang akan datang. Proses ini memungkinkan organisasi bertindak lebih aktif menentukan masa depannya, dengan menggunakan apa yang kita ketahui atau dapat kita asumsikan untuk menghindari kosekuensi negatif yang mungkin timbul. Analisis persoalan dilandasi pemikiran bahwa mencegah

48

timbulnya persoalan adalah lebih effisien daripada memecahkan suatu persoalan yang dibiarkan berkembang.

Langkah-langkah proses analisis persoalan potensial secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Mengidentifikasikan daerah-daerah kritis, atau

bagian-bagian dalam rencana yang dianggap lemah atau menurut dugaan kita kemungkinan terjadinya penyimpangan dalah lebih besar. Penentuan daerah kritis ini dapat berdasarkan pengalaman dan informasi dari pihak lain atau faktor-faktor lain yang relevan. Kemudian kita menentukan perioritas di antara daerah-daerah kritis tersebut dan memusatkan perhatian pada daerah yang paling kritis.

2. Mengidentifikasikan persoalan-persoalan potensial yaitu meramalkan hal-hal yang mungkin menyimpang dalam daerah kritis periorits. Berdasarkan tingkat kegawatannya, kita menyusun persoalan potensial menurut perioritas

3. Megidentifikasikan sebab-sebab yang mungkin. Dari persoalan potensial diidentifikasikan masalahnya dan ditentukan penyebab yang kemungkinannya sangat tinggi. Dalam tahap ini kita juga mengidentifikasikan tindakan pencegahan agar persoalan tidak terjadi. 4. Mengidentifikasikan tindakan-tindakan

penanggulangan. Bila tindakan pencegahan gagal atau

tidak mungkin dilakukan, tindakan penanggulangannya harus dilakukan untuk mengurangi akibat penyimpangan.

49

Elemen Kunci dari Berpikir Kreatif dan Pengambilan Keputusan

1. Analisis

Kemampuan untuk memecah keseluruhan menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dikelola, membedah masalah kompleks menjadi elemen-elemen sederhana. Analitis, berpikir logis adalah kemampuan untuk bisa menarik kesimpulan yang tepat dari informasi yang tersedia. Sebuah pikiran analitis dapat membentuk hubungan antara bagian dan keseluruhan menemukan akar penyebab dari masalah.

Mengidentifikasi masalah yang dipertaruhkan, kemampuan analisa ditambah dengan pengetahuan tentang bagaimana untuk mengembangkan dan menggunakan teknik analisis tidak cukup untuk pencapaian nyata sebagai seorang pemikir kreatif. Kita juga memerlukan bakat, ketekunan dan motivasi diri untuk menjadi benar-benar berhasil. Analisis memainkan peran penting dalam pemecahan masalah. Hal ini membantu untuk menyaring melalui fakta dan opini, membedah masalah menjadi bagian-bagian dan menggerakkan kepada pemecahanmasalah.

Keunggulan dari pikiran analitis adalah: kesederhanaan, orisinalitas, kejelasan. Dan kemampuan analitis dapat ditingkatkan dengan : bekerja dari prinsip-prinsip pertama, membentuk fakta dan memisahkan mereka dari pendapat, asumsi atau anggapan, terus-menerus memeriksa langkah-langkah logis yang dapat merusak penalaran yang baik,

50

berpikir kembali dari hasil yang diinginkan, mengorganisir fakta, melihat masalah sebagai solusi yang akan ditemukan.

Secara umum kreativitas seseorang dapat diformulasikan sebagai berikut;

1. Kreativitas dimiliki oleh setiap orang (baik pada tingkat kemampuan yang kecil maupun besar)

2. Kreativitas memerlukan pencapaian dari suatu prespektif yang baru. Paling tidak baru untuk orang tersebut.

3. Persperktif yang baru ini, dicapai dengan membawa bersama pengalaman yang tidak berhubungan sebelumnya.

4. Kreativitas mendambakan sesuatu yang lebih berkualitas. 5. Seseorang harus mendekati lingkungannya dengan cara

yang holistic.

6. Orang yang kreatif harus berfantasi, bermain, dan berpikir. 7. Orang yang kreatif bersikap spontan, fleksibel, dan terbuka

terhadap pengalaman.

8. Spontanitas dari manusia adalah sumber dari kreativitas.

Atribut orang kreatif (Roe, dikutip dari Kao, 1989) adalah; 1. Terbuka terhadap pengalaman.

2. Suka memperhatikan melihat sesuatu dengan cara yang tidak biasa.

3. Kesungguhan.

4. Menerima dan merekonsiliasi sesuatu yang bertentangan. 5. Toleransi terhadap sesuatu yang tidak jelas.

6. Independen dalam mengambil keputusan, berpikir, dan bertindak.

51

7. Memerlukan dan mengasumsikan otonomi. 8. Percaya diri.

9. Tidak menjadi subjek dari standard dan kendali kelompok. 10. Rela mengambil resiko yang diperhitungkan.

Raudsepp menambahkan lebih lanjut atribut orang kreatif sebagai berikut;

1. Sensitif terhadap permasalahan.

2. Lancar –kemampuan untuk men-generik ide-ide yang banyak.

3. Fleksibel. 4. Keaslian.

5. Responsif terhadap perasaan.

6. Terbuka terhadap fenomena yang belum jelas. 7. Motivasi.

8. Bebas dari rasa takut gagal. 9. Berpikir dalam imajinasi. 10. Selektif.

Kreativitas dan Inovasi dalam Pengambilan Keputusan

Kreativitas dengan inovasi itu berbeda. Kreativitas merupakan pikiran untuk menciptakan sesuatu yang baru, sedangkan inovasi adalah melakukan sesuatu yang baru. Hubungan keduanya jelas. Inovasi merupakan aplikasi praktis dari kreativitas. Dengan kata lain, kreativitas dapat merupakan variabel bebas, sedangkan inovasi adalah variabel tak bebas. Dalam praktek bisnis sehari-hari, ada perencanaan yang meliputi strategi, taktik, dan eksekusi. Dalam pitching

52

konsultansi atau agency, sering terdengar keluhan bahwa secara konseptual apa yang disodorkan agency bagus, tetapi strategi itu tak berdampak pada perusahaan karena mandek di tingkat eksekusi.

Mengapa? Sebab, strategi bisa ditentukan oleh seseorang, tetapi eksekusinya harus melibatkan banyak orang, mulai dari atasan hingga bawahan. Di sinilah mulai ada gesekan antar karyawan, beda persepsi hingga ke sikap penentangan. Itulah sebabnya, tak ada perusahaan yang mampu berinovasi secara konsisten tanpa dukungan karyawan yang dapat memenuhi tuntutan persaingan. Hasil pengamatan kami menunjukkan, perusahaan-perusahaan inovator sangat memperhatikan masalah pelatihan karyawan, pemberdayaan, dan juga sistem reward untuk meng-create daya pegas inovasi.

Benih-benih inovasi akan tumbuh baik pada perusahaan-perusahaan yang selalu menstimulasi karyawan, dan mendorong ke arah ide-ide bagus. Melalui program pelatihan, sistem reward, dan komunikasi, perusahaan terus berusaha untuk mendemokratisasikan inovasi.

Manajer yang baik mencoba untuk meneliti masalah, perlu imajinatif dan berhati-hati mengenai fakta yang mereka gunakan untuk memastikan dan menyimpulkan solusi. Mereka harus berpikir imajinatif namun harus jelas dan masuk akal, sesuai metode dan berhubungan dengan kenyataan dan situasi yang terjadi. Imajinasi tidak dijadikan sebagai skill atau kemampuan nomor satu dalam berpikir kreatif, tapi seharusnya dijadikan sabagai ciri khas dari kemampuan. Menjadi imajinatif

53

dapat menyebabkan kita menjadi inovatif, inventif, mengembangkan, mengambil risiko dan berpetualang. Ini adalah untuk berpikir kreatif tetapi kita harus ingat untuk tetap berhubungan dengan fakta-fakta yang benar dari situasi atau masalah yang ada.

Dalam hal ini kreativitas diartikan sebagai penggunaan imaginasi dan kecerdikan untuk mencapai sesuatu atau untuk mendapatkan solusi yang unik dalam mengatasi persoalan (Sahid Susanto, 1999: 3). Kreatif bukan bawaan dari lahir melainkan sesuatu yang dapat diciptakan dan dilatih dengan memberikan stimulus atau pancingan kepada otak. Permainan, atau membuat gambar-gambar dapat merangsang otak untuk berpikir kreatif.

Dengan berlatih berpikir kreatif, maka inspirasi untuk melakukan, membuat, dan menciptakan sesuatu terbuka lebar sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang inovatif. Inovasi merupakan proses mengembangkan ide baru atau memasukkan ide baru dalam kegiatan praktis sehingga terjadi konversi ide baru dalam aplikasi yang bermanfaat. Aplikasi ide baru terjadi dalam bentuk proses inovasi yang menghasilkan cara atau metode yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu akan menghasilkan sesuatu yang inovatif.

Hasil studi Berelson dan Steiner menyimpulkan bahwa sangat relative sedikit orang yang kreatif. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penentu yang membedakan kualitas suatu organisasi dengan organisasi lain. Anderson menjelaskan bahwa dari hasil beberapa studi yang pernah dilakukan para ahli, ada beberapa tahap dan indikator yang perlu dipahami

54

oleh manajer yang ingin mengembangkan proses kreatif sebagai proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yaitu :

1. Motivasi

Motivasi yang ada pada diri personil yang terlibat dalam pemecahan masalah merupakan problem yang cukup esensial, oleh karena prestasi seseorang adalah hasil perpaduan dari dorongan usahanya dengan kemampuannya.

2. Kesungguhan

Pemecahan masalah secara kreatif akan terealisir bila personil yang terlibat benar-benar mampu mengenali problem yang dihadapi.

3. Pertimbangan yang dalam

Orang yang kreatif akan selalu mencoba dan mencoba, berpikir dan berbuat atas dasar pertimbangan sebab akibat, dan apa yang seharusnya dipikirkan dan diperbuat. 4. Kebebasan waktu dan kebebasan berpikir

Orang yang kreatif memerlukan kebebasan waktu, kebebasan berpikir, serta kebebasan untuk mewujudkan isi hati dan isi pikirannya untuk merangsang timbulnya kreativitas.

5. Ide kreatif yang tiba

Ide kreatif akan muncul bagaikan kehidupan pemikiran yang memperoleh cahaya dari kegelapan.

55

Proses penyesuaian adalah proses pertimbangan terhadap sampai sejauh mana kesungguhan ide yang muncul itu mampu mengatasi problem yang ada.

Keefektifan seorang pemimpin memang diukur oleh kepandaiannya atau kemampuannya dalam mengambil keputusan yang rasional. Keputusan dapat dikatakan rasional dan mempunyai makna jika dapat dioperasionalkan dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi. Untuk itu dibutuhkan kemampuan seorang pemimpin untuk menggabungkan pendekatan ilmiah dan pemikiran yang kreatif, inovatif serta daya intuitif dalam mengambil keputusan.

Proses pengambilan keputusan akan rasional jika didalamnya mempertimbangkan faktor obyektif (data obyektif) factor subyektif yang berhubungan dengan pribadi pemimpin itu sendiri, yang meliputi kepribadian, gaya manajemen dan berpikir kreatif. Dengan mempertimbangkan kedua faktor tersebut seorang pemimpin dapat melakukan proses pengambilan keputusan yang rasional dan efektif.

Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan cara-cara baru dalam pemecahan masalah dan menemukan peluang (thinking new thing). Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka pemecahan masalah dan menemukan peluang (doing new thing).

Dengan adanya inovasi dan kreativitas pengambil keputusan dapat memproduksi gagasan-gagasan baru yang bermanfaat. Selain itu, juga memungkinkan untuk lebih menghargai

56

dan memahami masalah, termasuk masalah yang tidak dapat dilihat orang lain.

57

BAB 3

Menciptakan Visi Organisasi yang Efektif

Buku ini bertujuan untuk mengembangkan uraian atau ciri yang jelas dan ringkas tentang bagaimana seharusnya organisasi setelah mampu mengimplimentasikan strategi dan potensinya. Buku ini merupakan gambaran kesuksesan suatu organisasi. Sebuah visi akan berjalan dengan lancar jika dituntun oleh misi dan tujuan yang jelas. Sementara banyak organisasi telah mengembangkan statemen visi dan misi yang jelas namun sangat sedikit yang memiliki misi kesuksesan yang jelas, ringkas dan bemanfaat. Menjadi pertanyaan adalah mengapa sedikit organisasi yang memiliki visi kesuksesan yang jelas, ringkas dan bermanfaat. Jawaban atas pertanyaan ini adalah proses perumusan dan kompetensi diri pembuatnya.

Para pengambil keputusan harus berani dan bijak dalam merumuskan visi kesuksesan. Mereka harus mampu memprediksi dan benar-benar mau mendengar hati nurani sendiri dalam membentuk visi kesuksesasn organisasinya, dan mereka juga harus disiplin untuk segera menetapkan visi, bekerja keras untuk membuatnya agar menjadi nyata, pada masa yang akan datang. Sungguh sulit dibayangkan bahwa sebuah perusahaan/organisasi dapat bertahan dalam waktu yang lama tanpa visi yang menginspirasinya. Sulit dibayangkan suatu organisasi yang memiliki performance sangat tinggi yang tidak berdasar kepada konsep yang jelas dan luas (menyeluruh) terhadap pandangan seperti apa sebuah kesuksesan itu dan bagaimana meraihnya pada

58

masa yang akan datang. Maka sangatlah diperlukan membangun visi organisasi yang efektif.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia; efektif adalah; 1) ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya); 2) manjur atau mujarab (tt obat); 3) dapat membawa hasil; berhasil guna (ttg usaha, tindakan); mangkus; 4) mulai berlaku (tt undang-undang, peraturan). Sedangkan menurut Sondang P. Siagian,efektif adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektif menunjukan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil kegiatan semakin mendekati sasaran, berarti makin tinggi efektivitasnya.

Dengan demikian visi organisasi yang efektif berarti visi yang memberikan pengaruh atau efek yang sangat besar untuk mencapai sasaran dan tujuan yang diinginkan pada masa yang akan datang (future).

Visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistik dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Visi adalah pernyataan yang diucapkan atau ditulis hari ini, yang merupakan proses manajemen saat ini yang menjangkau masa yang akan datang (Akdon, 2006:94). Sebuah visi akan berjalan dengan lancar jika dituntun oleh misi atau tujuan yang jelas, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sedikit organisasi yang memiliki visi kesuksesan yang jelas, ringkas dan bermanfaat?. Salah satu penyebabnya adalah kompetensi diri yang perlu dipertanyakan, hal kedua adalah visi memerlukan disiplin dan kerja keras, yang mana kita sendiri tidak sanggup melakukan dalam jangka waktu yang panjang

59

Visi adalah suatu cita-cita pandangan jauh ke depan yang didasari oleh keyakinan tentang tujuan organisasi dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang dinginkan pada masa yang akan datang. Visi itu tidak dapat dituliskan secara jelas dalam menerangkan gambaran rinci tentang sistem yang ditujunya, hal tersebut karena adanya perubahan ilmu serta situasi yang sulit diprediksi selama masa yang panjang tersebut. Hax dan Majluf dalam Akdon (2006:95) menyatakan bahwa visi adalah pernyataan yang merupakan sarana untuk:

1. Mengkomunikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.

2. Memperlihatkan framework hubungan antara organisasi dengan stakeholders (sumber daya manusia organisasi, konsumen/citizen, pihak lain yang terkait).

3. Menyatakan sasaran utama kinerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan.

Para pengambil keputusan harus berani dan bijak dalam merumuskan visi kesuksesan. Mereka harus mampu memprediksi dan benar-benar mau mendengar hati nurani sendiri dalam membentuk visi kesuksesan organisasinya, dan mereka juga harus disiplin untuk segera menetapkan visi, bekerja keras untuk membuatnya agar menjadi nyata, baik di saat sekarang maupun di masa yang akan datang. Perlu juga dipahami bahwa kesepakatan dalam strategi jauh lebih penting daripada visi ataupun tujuan. Strategi yang akan dilakukan tentunya mengacu kepada visi organisasi. Sungguh sulit dibayangkan bahwa sebuah perusahaan atau organisasi dapat bertahan/survive dalam waktu yang lama tanpa visi yang menginspirasinya.

60

Visi hendaknya memberi penekanan pada maksud dan tujuan, tingkah laku, kriteria dan kinerja, aturan-aturan pengambilan keputusan serta standar-standar yang semuanya lebih difokuskan pada pelayanan publik atau pelanggan dari pada organisasi itu sendiri. Tuntunan yang ditawarkan harus spesifik dan masuk akal. Pernyataan visi harus meliputi sebuah janji atau harapan organisasi, mendukung usaha para anggotanya dalam menjalankan visi organisasi. Selanjutnya, visi harus menjelaskan tujuan dan maksud organisasi yang berorientasi kedepan, merefleksi ambisi ideal dan menantang, dan harus mampu meraih kompetensi khas dan hak organisasi serta harapan dari latar belakang (sejarah), budaya dan nilainya.

Visi harus diketahui serta dipahami secara luas diantara anggota organisasi dan para pimpinan, direview dan disahkan. Sebuah visi kesuksesan akan memiliki efek kecil jika tidak diketahui oleh seluruh anggotanya. Maka sosialisasi visi ke semua lini mutlak dilakukan untuk menyamakan persepsi akan visi tersebut. Visi juga dapat digunakan untuk menginformasikan keputusan, kebijakan, dan tindakan organisasi baik yang prioritas maupun yang bukan prioritas. Visi akan sia-sia jika tidak memberi efek pada tingkah laku, tetapi jika visi selalu dipakai dasar atau acuan pada setiap para pengambil keputusan terutama sistem pengukuran kinerja, dalam hal ini visi dapat berpengaruh kepada kinerja organisasi.

Pernyataan visi, baik yang tertulis atau diucapkan perlu ditafsirkan dengan baik, tidak mengandung multi makna sehingga dapat menjadi acuan yang mempersatukan semua pihak dalam sebuah organisasi. Contoh; bagi sekolah visi adalah imajinasi moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa

61

datang. Imajinasi ke depan seperti itu akan selalu diwarnai oleh peluang dan tantangan yang diyakini akan terjadi di masa datang. Dalam menentukan visi tersebut, sekolah harus memperhatikan perkembangan dan tantangan masa depan.

Bagi suatu organisasi visi memiliki peranan yang penting dalam menentukan arah kebijakan dan karakteristik organisasi tersebut. Visi adalah suatu pernyataan tentang gambaran impian keadaan dan karakteristik yang ingin di capai oleh suatu lembaga pada jauh dimasa yang akan datang. Banyak intepretasi yang dapat keluar dari pernyataan keadaan ideal yang ingin dicapai lembaga tersebut. Visi itu sendiri tidak dapat dituliskan secara lebih jelas menerangkan detail gambaran sistem yang ditujunya, oleh kemungkinan kemajuan dan perubahan ilmu serta situasi yang sulit diprediksi selama masa yang panjang tersebut. Pernyataan Visi tersebut harus selalu berlaku pada semua kemungkinan perubahan yang mungkin terjadi sehingga suatu Visi hendaknya mempunyai sifat atau fleksibel. (Lewis & Smith,1994)

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan sebuah visi menurut Bryson (2001:213) antara lain:

1. Visi harus dapat memberikan panduan atau arahan dan motivasi.

2. Visi harus disebarkan di kalangan anggota organisasi (stakeholder)

3. Visi harus digunakan untuk menyebarluaskan keputusan dan tindakan organisasi yang penting.

Menurut Akdon (2006:96), terdapat beberapa kriteri dalam merumuskan visi, antara lain:

62

1. Visi bukanlah fakta, tetapi gambaran pandangan ideal masa depan yang ingin diwujudkan.

2. Visi dapat memberikan arahan, mendorong anggota organisasi untuk menunjukkan kinerja yang baik.

Dalam dokumen Kepemimpinan dalam Revolusi Mental (Halaman 46-70)