Isu Pelayanan Publik Kinerja USAID
C. Tata Kelola yang Baik di Bidang Perizinan Usaha
Mengingat pentingnya usaha mikro, kecil dan menengah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran di daerah maka Pemerintah Indonesia memberikan perhatian besar pada peningkatan sektor iklim usaha yang baik.
Meskipun peraturan-peraturan Kemendagri mendukung pembentukan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) pada tahun 2006 dan 2008, dari 530 kabupaten/ kota yang ada di Indonesia, hanya sekitar 400 kabupaten/kota yang telah membentuk PTSP. Selain itu, hanya sedikit yang melaksanakan prinsip- prinsip Pelayanan Satu Pintu sebagaimana mestinya, yaitu mengintegrasikan pelayanan semua jenis perizinan yang dibutuhkan untuk mendirikan usaha. Diantaranya seringkali memberikan pelayanan yang kurang berkualitas; banyak yang hanya beroperasi sebagai satu atap atau bahkan - yang memiliki pengertian sebaliknya daripada fungsi sebagai perizinan usaha yang terpadu, lebih sederhana dan efektif. Persyaratan administrasi masih harus dipenuhi melalui berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Kegiatan yang dilaksanakan mencakup dukungan kajian kebijakan dan perbandingan kinerja (benchmarking) tata kelola ekonomi; memperkuat pemantauan anggaran dan pengawasan oleh warga masyarakat terhadap alokasi sumber daya pemerintah daerah dan mendukung pembentukan jaringan di daerah.
Kegiatan utama yang dilaksanakan adalah:
1. Dialog Pemerintah-Swasta; dan
2. Pendirian Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di bidang perizinan usaha.
Pemerintah daerah dan masyarakat sipil/pemangku kepentingan membutuhkan data yang sama sebagai dasar untuk pembahasan kebijakan. Bagi masyarakat sipil dan pemangku kepentingan, data dapat menjadi alat advokasi yang kuat dalam pembahasan dengan pemerintah daerah.
1. Kajian partisipatif mendalam terhadap PTSP di kabupaten. Organisasi-organisasi penyelenggara pelayanan masyarakat di daerah yang didukung oleh penerima hibah Kinerja memfasilitasi kajian partisipatif melalui serangkaian pertemuan dan lokakarya bersama pemangku kepentingan di daerah. Proses partisipatif ini membangun kesadaran pemangku kepentingan tentang permasalahan perizinan usaha serta dampaknya terhadap perekonomian daerah, dan memperkuat komitmen daerah untuk melaksanakan agenda reformasi.
Mengembangkan Dialog Pemerintah- Swasta. Dialog adalah sarana strategis untuk melaksanakan reformasi perizinan usaha. Agar pihak swasta dapat dilibatkan secara berkelanjutan dalam proses pengambilan keputusan dan reformasi kebijakan maka Kinerja akan memfasilitasi serangkaian per temuan dengan tokoh- tokoh dunia usaha untuk mengembangkan
Kajian terhadap mekanisme kerja PTSP. Sebagian besar keterlambatan pelayanan perizinan usaha disebabkan oleh buruknya kualitas mekanisme kerja, seperti kualitas Standard Operating Procedure (SOP), tidak adanya standar pelayanan minimum, dan buruknya kualitas sistem pengawasan dan penanganan pengaduan. Kinerja sedang mengkaji mekanisme kerja PTSP. Kajian ini memberikan beberapa opsi perbaikan: strategi dan rekomendasi seperti merevisi SOP untuk mengurangi jumlah langkah dalam pelayanan perizinan usaha; tindakan-tindakan strategis untuk mencapai standar pelayanan minimum; pelimpahan wewenang pelayanan perizinan usaha dari SKPD kepada PTSP; dan pengembangan kapasitas staf untuk mencapai target- target
Sepintas cerita dari lapangan
Upaya-upaya untuk meningkatkan iklim usaha menuai keberhasilan di Kabupaten Barru (SulSel) dan Kabupaten Simeulue (Aceh). Di kedua lokasi tersebut, staf lokal dan mitra pelaksana Kinerja telah bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengubah pola pikir sehubungan dengan pelimpahan wewenang.
Melalui kerjasama yang berkelanjutan dengan unit- unit teknis, pemerintah daerah Kabupaten Barru dan Kabupaten Simuelue sekarang telah mengeluarkan
keputusan-keputusan penting yang mengatur agar pelayanan perizinan usaha dilimpahkan kepada PTSP. yakni:
• No 121/KP3M/1/2012 (Barru), tanggal 26 Januari 2012 dan
• No 121/KP3M/2/2012 (Simeulue), tanggal 13 Februari 2012
Pemda Barru juga telah mengeluarkan SK penting lain yaitu No. 122/KP3M/1/2012 tanggal 26 Januari 2012 tentang formasi tim teknis dan pembagian tugas yang akan membantu mempercepat pelimpahan wewenang. Beberapa SK penting lain diperkirakan akan dikeluarkan pada bulan April- Mei 2012, termasuk SK tentang Pembentukan Tim Teknis di Kabupaten Simeulue, dan SK tentang Prosedur Operasi Standar di Kabupaten Melawi.
Bagaimana media mengangkat isu terkait program ini?
Penjelasan mengenai program di atas belum tentu memberi daya tarik bagi jurnalis maupun media untuk mengangkat. Oleh karenanya, diperlukan melihat lebih jauh lagi apa dampak jika program ini tidak dijalankan, ataupun dijalankan namun tidak sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan publik.
Dampak yang dikehendaki adalah:
1. Semua proses pengurusan perizinan dikenakan biaya yang terukur dan terjangkau.
2. Semua proses pengurusan perizinan dapat dipantau oleh pengaju izin.
3. Proses pengurusan untuk mendapatkan izin mudah dipahami jelas dan terukur.
4. Pencari izin usaha memiliki akses untuk bertanya dan mengajukan keluhan dan pelaksana memiliki kewajiban untuk merespon dan memberi informasi yang sesuai dan dibutuhkan.
Beberapa isu diatas dalam implementasinya selain dalam bentuk pemberian bantuan teknis juga promosi kepada publik mengenai bagaimana institusi tersebut melakukan pembenahan dan menawarkan pelayanan yang lebih baik. Di dalam proses menuju kesana, juga diperlukan masukan- masukan dari publik atas pelayanannya selama ini. Apa yang dirasakan oleh publik atas layanan tersebut. Beberapa pertanyaan kunci di bawah ini dapat lebih memberi gambaran dan pemahaman kepada peserta untuk dapat mendorong lebih jauh pemikiran dan pemahaman mengenai dampak jika program di atas tidak dijalankan ataupun jika meskipun dijalankan namun tidak sesuai dengan tujuannya.
Peserta perlu diajak untuk melihat dampak khususnya kepada penerima manfaat program, misalnya dalam hal ini kualitas layanan perizinan selama ini.
1. Apakah regulasi daerah yang sekarang ada untuk perizinan sudah menonjolkan perizinan yang mudah diakses, transparan, akuntabel, cepat dan murah?
2. Apakah ada proses evaluasi terhadap kondisi perizinan usaha yang melibatkan publik? Jika ya, mekanisme bagaimana yang digunakan? Dan apakah mekanisme tersebut berjalan dengan baik?
3. Adakah pengalaman baik dari pencari izin usaha di dalam mengajukan izin usaha kepada institusi perizinan (PTSP)? 4. Apa publik melihat pemberian izin usaha
kepada pengusaha berjalan dengan proses yang adil, tidak berbelit-belit, dilayani dengan baik dan sebagainya?
5. Masih adakah praktik pungutan liar didalam pelayanan perizinan?
6. Bagaimana waktu pelayanan untuk mendapatkan izin?
7. Apakah proses mendapatkan izin usaha masih bertele-tele?
8. Apakah informasi mengenai prosedur mendapatkan izin mudah diakses dan diketahui oleh publik?
9. Apa saja keluhan yang sering muncul terhadap layanan perizinan yang sekarang berjalan?
10. Apakah sudah ada mekanisme penyampaian keluhan oleh pengguna layanan? Jika sudah, apakah hal tersebut sudah berjalan efektif?
11. Adakah pihak-pihak lain yang masih ingin menghambat perizinan yang cepat dan
(Artikel #3)