ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK BABI, dan MARJIN
PEMASARAN BABI DI KECAMATAN LINTONG NIHUTA
KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
SKRIPSI
OLEH
BENNY.G.MULYA 080306016
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK BABI, dan MARJIN
PEMASARAN BABI DI KECAMATAN LINTONG NIHUTA
KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
SKRIPSI
OLEH
BENNY.G.MULYA 080306016
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
Judul Skripsi : Analisis Pendapatan Peternak Babi dan Marjin Pemasaran Babi di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan Nama : Benny G. Mulya
NIM : 080306016 Program Studi : Peternakan
Di setujui Oleh,
Dosen Pembimbing
(Prof. Dr. Ir. Hasnudi, Ms) (Usman Budi, S.Pt, Msi) Ketua Anggota
Mengetahui,
(Dr. Ir. Ristika Handarini, MP) Ketua Program Studi
ABSTRAK
BENNY G. MULYA: Analisa Pendapatan Peternak Babi dan Marjin Pemasaran Ternak Babi di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Penelitian ini dibimbing oleh HASNUDI dan USMAN BUDI.
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, Propinsi Sumatera Utara yang dimulai tanggal 10 Juli sampai 24 Agustus 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh profil peternak terhadap pendapatan dalam ternak babi di kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan dan menghitung perbedaan harga ternak babi di peternak maupun di pasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan unit responden keluarga yang memelihara ternak babi. Metode penarikan sampel yang digunakan adalah Proportional Stratified Random Sampling yaitu dengan cara memilih 3 desa yaitu Desa Sigompul, Desa Hutasoit 2, Desa Nagasaribu 4. Sampel dari penelitian ini berjumlah 60 keluarga peternak babi yang didapat dari 30% peternak masing- masing desa, yaitu desa Sigompul (14 peternak), Desa Hutasoit 2 (21 peternak), desa Nagasaribu 4 (25 peternak).
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa skala usaha, pengalaman beternak, dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan peternak babi. Sedangkan umur peternak, tingkat pendidikan, dan jumlah tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap pendapatan peternak babi di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan
ABSTRACT
BENNY G. MULYA: Farmer Profile Analysis of Income on Pig Farmer and Marketing Margin in Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan. The research was supervise by HASNUDI and USMAN BUDI. The research was conducted at the Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan of North Sumatra, which began on 10 July to 24 August 2012. The purpose of this study was to analyze the income pig farmers, and at Humbang Hasundutan Kecamatan Lintong Nihuta. The research methods use is survey methods with a unit that maintains a family pig farmer. The sampling method used is Proportional Stratified Random Sampling is by way of selecting three village is the Desa Sigompul, Desa Hutasoit 2, Desa Nagasaribu 4. Samples from this study amounted to 60 families of pig cattle breeders obtained from 30% of farmers in each village, the Desa Sigompul (14 farmers), Desa Hutasoit 2 (21 farmers) and Desa Nagasaribu 4 (25 farmers).
Based on research results obtained that business scale, farming experience, and number of dependents has a positive effect on pig cattle breeders. Where as the breeder age, educational level, and the amount of labor has a negative effect on Pig cattle breeders in the Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Kabupaten Humbang Hasundutan.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 31 oktober 1990, putra dari
bapak Patar dan ibu Dermiana. Penulis merupakan anak pertama dari empat
bersaudara.
Tahun 2002 penulis lulus dari SD Swasta St.Antonius IV Medan, tahun
2005 penulis lulus dari SMP P.Cahaya Medan, tahun 2008 penulis lulus dari SMA
St.Thomas 2 Medan dan lulus seleksi masuk Universitas Sumatera Utara melalui
jalur UMB pada tahun 2008. Penulis memilih program studi Produksi Ternak
Departemen Peternakan Fakultas Pertanian.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai asisten praktikum
Ilmu Produksi Ternak Potong. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan
(PKL) pada tahun 2011 di Kabupaten Serdang Bedagai dan Kotamadya Tebing
Tinggi Desa Paya Lombang. Pada tahun 2012 melaksanakan penelitian di
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang maha Esa yang
memberikan rahmat serta karunia Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Skripsi ini. Skripsi ini berjudul “Analisis Pendapatan Peternak Babi dan Marjin
Pemasaran Babi di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang
Hasundutan”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku atas doa,
semangat dan pengorbanan material dan moril yang telah diberikan selama ini.
Secara khusus kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Hasnudi, Ms selaku ketua komisi
pembimbing dan Bapak Usman Budi, S.Pt, M.Si, selaku anggota komisi
pembimbing yang telah memberikan arahan dalam menyelesaikan penulisan
Skripsi ini beserta semua pihak yang ikut membantu saya ucapkan banyak terima
kasih.
Semoga skripsi ini dapat membantu memberikan informasi yang
bermanfaaat bagi penelitian dan ilmu pengetahuan serta peternak Babi di
Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan dalam menganalisis
pendapatan dan pemasaran.
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN Latar belakang ... 1
Identifikasi Masalah ... 3
Tujuan Penelitian ... 4
Kegunaan Penelitian ... 4
Hipotesis Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Daerah Humbang Hasundutan ... 5
Ternak Babi ... 6
Usaha Peternakan Rakyat ... 9
Skala Kepemilikan ... 10
Panca Usaha Ternak ... 10
Pendapatan Usaha Ternak ... 12
Analisis Usaha ... 12
Marjin Pemasaran ... 14
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 15
Penentuan Responden Penelitian ... 15
Metode Pengumpulan data ... 16
Metode Analisis Data ... 16
Marjin Pemasaran ... 18
Parameter Penelitian ... 19
HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Perkandangan Pada Usaha Ternak Babi di Daerah Penelitian ... 21
Karakteristik Responden ... 24
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 35 Saran ... 36
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Hal.
1. Populasi Ternak Babi di Kecamatan Lintong Nihuta ... 2
2. Populasi Ternak Babi di Kabupaten Humbang Hasundutan ... 5
3. Data sistem kandang di Kecamatan Lintong Nihuta ... 20
4. Karakteristik Responden di daerah penelitian tahun 2012 ... 23
5. Karakteristik Marjin Pemasaran di daerah penelitian tahun 2012 ... 24
6. Analisis varian pendapatan dan hasil penduga variabel ... 27
DAFTAR LAMPIRAN
Hal.
1. Karakteristik Sosial Responden ... 39
2. Karakteristik Ekonomi Responden ... 41
3. Karakteristik Marjin Pemasaran Babi ... 43
4. Kuesioner Peternak Babi ... 44
ABSTRAK
BENNY G. MULYA: Analisa Pendapatan Peternak Babi dan Marjin Pemasaran Ternak Babi di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Penelitian ini dibimbing oleh HASNUDI dan USMAN BUDI.
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, Propinsi Sumatera Utara yang dimulai tanggal 10 Juli sampai 24 Agustus 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh profil peternak terhadap pendapatan dalam ternak babi di kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan dan menghitung perbedaan harga ternak babi di peternak maupun di pasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan unit responden keluarga yang memelihara ternak babi. Metode penarikan sampel yang digunakan adalah Proportional Stratified Random Sampling yaitu dengan cara memilih 3 desa yaitu Desa Sigompul, Desa Hutasoit 2, Desa Nagasaribu 4. Sampel dari penelitian ini berjumlah 60 keluarga peternak babi yang didapat dari 30% peternak masing- masing desa, yaitu desa Sigompul (14 peternak), Desa Hutasoit 2 (21 peternak), desa Nagasaribu 4 (25 peternak).
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa skala usaha, pengalaman beternak, dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan peternak babi. Sedangkan umur peternak, tingkat pendidikan, dan jumlah tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap pendapatan peternak babi di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan
ABSTRACT
BENNY G. MULYA: Farmer Profile Analysis of Income on Pig Farmer and Marketing Margin in Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan. The research was supervise by HASNUDI and USMAN BUDI. The research was conducted at the Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan of North Sumatra, which began on 10 July to 24 August 2012. The purpose of this study was to analyze the income pig farmers, and at Humbang Hasundutan Kecamatan Lintong Nihuta. The research methods use is survey methods with a unit that maintains a family pig farmer. The sampling method used is Proportional Stratified Random Sampling is by way of selecting three village is the Desa Sigompul, Desa Hutasoit 2, Desa Nagasaribu 4. Samples from this study amounted to 60 families of pig cattle breeders obtained from 30% of farmers in each village, the Desa Sigompul (14 farmers), Desa Hutasoit 2 (21 farmers) and Desa Nagasaribu 4 (25 farmers).
Based on research results obtained that business scale, farming experience, and number of dependents has a positive effect on pig cattle breeders. Where as the breeder age, educational level, and the amount of labor has a negative effect on Pig cattle breeders in the Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Kabupaten Humbang Hasundutan.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ternak merupakan komponen penting dalam suatu sistem usaha tani di
berbagai tempat di Indonesia. Walaupun kebutuhan hidup pokok bagi keluarga
peternak dipenuhi oleh tanaman pangan, namun produksi ternak sering kali
merupakan suatu yang penting bagi peternak untuk bisa memperoleh uang tunai,
tabungan, modal, penyediaan pupuk kandang, tenaga hewan, dan merupakan
bahan makanan berkualitas tinggi bagi anggota rumah tangga itu sendiri
( Hardjosworo dan Levine, 1987).
Jenis Ternak yang biasa diternakkan di Indonesia adalah salah satunya
ternak babi. Babi diklasifikasikan sebagai omnivora (pemakan tumbuhan dan
daging) sejenis hewan yang ungulata (Hewan yang berkuku), Babi juga
merupakan hewan mamalia karena menyusui anak-anaknya, dan juga hewan yang
memiliki sangat banyak anak yang dilahirkan di kelas mamalia. Rata-rata babi
memiliki 6 hingga 12 ekor anak setiap melahirkan.
Dalam pemeliharaan ternak babi sama dengan ternak lainnya
membutuhkan pakan yang baik. Daging sangat besar manfaatnya bagi pemenuhan
gizi berupa protein dan hewani, tetapi ada juga kelebihan daging babi ini yaitu
banyaknya kadar lemak didalamnya yang membuat orang kebanyakan menderita
penyakit kolestrol lemak.
Pada pemasaran ternak babi di Sumatera utara memiliki harga yang
berbeda-beda pada suatu tempat di daerah Sumatera Utara, khususnya pada daerah
Pada masyarakat Sumatera Utara babi sebagian besar dipelihara sebagai
usaha sampingan dengan usaha pokok adalah bertani. Demikian halnya fenomena
di Sumatera Utara sehingga menimbulkan pertanyaan dengan populasi ternak babi
dan pemasaran harga ternak babi baik di peternak maupun di pedagang yang tidak
merata.
Sehubungan dengan hal di atas maka penulis mencoba untuk meneliti dan
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak babi dan
marjin pemasaran pada suatu daerah berdasarkan jumlah kepemilikan ternak babi
di Kecamatan Lintong Nihuta.
Kecamatan Lintong Nihuta merupakan salah satu daerah penyebaran
populasi ternak Babi di Kabupaten Humbang Hasundutan. Kabupaten Humbang
Hasundutan memiliki populasi ternak babi mencapai 34.163 ekor babi dan
Kecamatan Lintong Nihuta memiliki populasi sebanyak 4.702 ekor babi, Jenis
babi yang banyak dijumpai di Kecamatan Lintong Nihuta adalah Duroc,
Landshire, dll.
Berikut ini penyebaran populasi ternak babi, luas wilayah dan jumlah KK
(Kepala Keluarga) di Kecamatan Lintong Nihuta menurut desa
Tabel 1. Luas wilayah, Jumlah KK, dan Populasi ternak babi di kecamatan Lintong Nihuta menurut desa.
No. Nama Desa
Luas wilayah (Ha)
Populasi Ternak Babi
(Ekor)
Kepadatan Per Ekor
1 Hutasoit I 940,08 168 0,18
2 Lobutua 867,32 163 0,19
3 Pargaulan 780,59 182 0,23
4 Nagasaribu I 689,13 179 0,26
5 Nagasaribu II 725,40 177 0,24
6 Siharjulu 1235,03 225 0,18
7 Sibuntuon Parpea 630,78 213 0,34
8 Sibuntuon 502,25 224 0,45
9 Sitolu Bahal 1031 219 0,21
10 Tapian Nauli 1576,96 217 0,14
12 Dolok Margu 1261,77 203 0,16
13 Sitio II 541,13 214 0,40
14 Hutasoit II 729,54 153 0,21
15 Bonan Dolok 709,64 164 0,23
16 Sigompul 638,67 292 0,46
17 Nagasaribu IV 688,58 395 0,57
18 Nagasaribu V 617,15 215 0,35
19 Nagasaribu III 906,75 207 0,23
20 Sigumpar 972,72 187 0,19
21 Parulohon 761,32 246 0,32
22 Habeahan 687,34 111 0,16
JUMLAH 18126,03 6314 0,22
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2011
Identifikasi masalah
Usaha ternak babi dalam bentuk usaha ternak dengan peranan ekonomi
yang relatif terbatas. Usaha ternak babi merupakan usaha yang dilakukan sebagian
besar masyarakat Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Usaha peternakan ini ada yang dijadikan sebagai pekerjaan utama maupun
sampingan.
Permasalahan umum yang perlu diketahui antara lain berkaitan dengan
hal-hal penting yang menyangkut segi ekonomi peternak babi di Kecamatan Lintong
Nihuta. Berdasarkan hal itu, maka penelitian ini dilakukan dengan menjawab
pertanyaan :
- Adakah pengaruh skala usaha (Jumlah ternak babi), umur peternak, tingkat
pendidikan, pengalaman peternak, jumlah tanggungan keluarga, motivasi
beternak, jumlah tenaga kerja, dan sistem pemeliharaannya terhadap
pendapatan peternak babi di Kecamatan Lintong Nihuta, kabupaten Humbang
Hasundutan.
- Berapa rata-rata perbedaan pemasaran ternak babi di pasar dengan kalangan
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh analisis
pendapatan peternak babi dan mengetahui perbedaan harga pemasaran tenak babi
di peternak itu sendiri dengan yang di pasarkan di kecamatan lintong nihuta,
kabupaten Humbang hasundutan.
Kegunaan Penelitian
1. Menjadi acuan bagi para peternak babi dalam melakukan pemeliharaan babi,
guna meningkatkan pendapatan.
2. Menjadi acuan untuk pemasaran babi dalam penjualan babi bagi para
peternak.
3. Menjadi sumber informasi bagi kalangan akademik dan peternak lainnya.
Hipotesis Penelitian
Adakah pengaruh skala usaha, umur peternak, tingkat pendidikan,
pengalaman beternak, jumlah tanggungan keluarga, jumlah tenaga kerja terhadap
pendapatan peternak dan terdapat perbedaaan marjin pemasaran ternak babi antara
di pasar dengan di peternak babi di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten
TINJAUAN PUSTAKA
Karakteristik Daerah Humbang Hasundutan
Letak Wilayah
Secara geografis Kabupaten Humbang Hasundutan terletak pada 2˚ 1” - 2˚
28” LU dan 98˚ 10” - 98˚ 58” BT. Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki
area seluas 2335,33 Km2, Kabupaten ini terletak di ketinggian antara 330-2075 m
diatas permukaan laut, Secara administratif, Kabupaten Humbang Hasundutan
berbatasan dengan beberapa daerah, yaitu sebelah utara: Kabupaten Samosir;
sebelah timur: Kabupaten Tapanuli Utara; sebelah barat: Kabupaten Dairi;
Sebelah Selatan : Kabupaten Tapanuli Tengah.
Berikut ini tabel penyebaran populasi ternak babi di Kabupaten Humbang
Hasundutan
Tabel 2. Populasi dan sebaran ternak Kabupaten Humbang Hasundutan
No Kecamatan Sapi Kerbau Kuda Kambing Babi Ayam Buras
Itik
1 Pakkat 124 607 - 550 2989 38940 8915
2 Onan
Panjang 65 1013 4 58 2845 13673 2990 3 Sijampolang 300 743 - - 966 7250 4258 4 Lintong
Nihuta 4 2078 34 - 4702 29481 2918 5 Paranginan - 1157 8 - 4389 18023 761 6 Dolok
Sanggul 14 3094 540 143 6597 50542 1628
7 Pollung 27 2037 46 22 6985 15022 1266 8 Parlilitan 31 607 22 95 1867 16383 8915 9 Tarabintang - 209 - 655 1627 6630 1663 10. Baktiraja - 103 - 22 1096 10250 1750 Jumlah 566 12378 654 1545 34163 206194 30694
Sumber: BPS Peternakan Kabupaten Humbang Hasundutan, 2011
Ternak Babi
Menurut Ruhyat (2003) klasifikasi ternak babi secara zoologis adalah
sebagai berikut : Phylum : Chordata, Class : Mamalia, Ordo : Artiodactyla, Family : Suidae, Genus : Sus, Species : Sus scrofa.
Menurut Sihombing (2006), kelebihan ternak babi dibandingkan ternak
lainnya adalah: babi cepat berkembang biak, cepat tumbuh, memiliki banyak anak
sekali melahirkan mencapai 6-12 ekor anak, dan memberikan keuntungan
pemasukan pendapatan yang besar.
Babi merupakan jenis ternak potong yang tergolong hewan ternak
monogastrik dan hewan yang menghasilkan anak yang banyak sekali melahirkan
(Prolific), disamping penghasil daging yang baik dan besar (Cahyono, 1998).
Keberhasilan usaha peternakan babi tidak terbatas pada usaha pengembangan
populasi ternak yang dipelihara. Perawatan dan pengawasan terhadap
kemungkinan terkena serangan penyakit perlu mendapatkan penanganan yang
serius. Penyakit yang sulit ditanggulangi atau disembuhkan serta berbahaya bagi
ternak yang lain harus dijauhkan. Dari segi ekonomi, apabila biaya pengobatan
lebih tinggi dibandingkan nilai ternaknya maka dianjurkan ternak tersebut harus
Beberapa karakteristik sosial ekonomi peternak yang diduga berpengaruh
terhadap pendapatan ternak, yaitu :
1. Skala Usaha
Keberhasilan dalam pendapatan usaha beternak sangat dipengaruhi oleh
skala usaha atau jumlah kepemilikan ternak oleh peternak itu sendiri. Skala usaha
memberikan keuntungan pada peternak, semakin banyak ternak yang dimiliki
peternak, makin besar keuntungan dan menaikkan pendapatan peternak tersebut
(Tohir, 1991).
2. Pengalaman Beternak
Pengalaman seseorang dalam berusaha tani berpengaruh terhadap
penerimaan inovasi dari luar. Dalam melakukan penelitian, lamanya pengalaman
diukur mulai sejak kapan peternak itu aktif secara mandiri mengusahakan usaha
taninya tersebut sampai diadakan penelitian, faktor penghambat berkembangnya
peternakan pada suatu daerah tersebut berasal dari faktor-faktor topografi, iklim,
keadaan sosial, tersedianya bahan-bahan makanan rerumputan dan penguat.
Disamping itu, faktor pengalaman yang dimiliki peternak masyarakat sangat
menentukan pula berkembangnya peternakan di daerah itu
(Fauzia dan Tampubolon, 1991).
3. Tingkat Pendidikan
Model pendidikan yang digambarkan dalam pendidikan petani bukan
pendidikan formal yang acap kali mengasingkan pertanian dan realitas.
Pendidikan petani dikembangkan adalah pendidikan yang memungkinkan
tiap-tiap pribadi berkontak dengan orang lain, pekerjaan dan dengan dirinya sendiri
mendengarkan). Model pendidikan ini mengarah pada suatu sasaran agar petani
memiliki mentalitas yang baik disertai dengan penguasaan manajemen dasar serta
memiliki skill dalam bertani, yang akhirnya membawa petani untuk memperoleh
produksi yang optimal tentu merupakan suatu langkah penting untuk memenuhi
kebutuhan, tingkat pendidikan peternak cenderung mempengaruh cara berpikir
dan tingkat penerimaan mereka terhadap inovasi dan pada teknologi baru
(Wiryono, 1997).
4. Umur/usia
Semakin muda usia peternak (usia produktif 20-45 tahun) umumnya rasa
keingintahuan terhadap sesuatu semakin tinggi dan minat untuk mengadopsi
terhadap introduksi teknologi semakin tinggi (Chamdi, 2003).
5. Jumlah Tanggungan Keluarga
Semakin besarnya jumlah anggota petani atau peternak akan semakin besar
pula tuntutan kebutuhan keuangan rumah tangga. Hal demikian besarnya jumlah
anggota keluarga akan mempengaruhi keputusan petani dalam berusaha tani.
Keluarga yang memiliki sebidang tanah tetap saja jumlahnya semakin sempitnya
dengan pertambahan anggota secara terus-menerus, sementara kebutuhan akan
diproduksi termasuk pangan semakin bertambah (Daniel, 2002).
6. Tenaga kerja
Menurut Hernanto (1993), tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja pria dan
wanita dan tenaga kerja anak-anak yang berasal dari dalam keluarga dan luar
keluarga. Satu hari kerja setara pria (1 HKP) menggunakan jumlah jam kerja
selama 8 jam dengan standard :
Tenaga kerja wanita dewasa > 15 tahun = 0,8 HKP = 6,4 jam
Tenaga kerja anak-anak 10-15 tahun = 0,5 HKP = 4 jam
Usaha ternak telah memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan
keluarga peternak. Peningkatan pendapatan keluarga peternak tidak dapat
dilepaskan dengan cara mereka menjalankan dan mengelola usaha ternaknya yang
sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor sosial dan ekonomi (Soekartawi, 1995).
Usaha Peternakan Rakyat
Usaha peternakan rakyat mempunyai ciri-ciri antara lain: Skala usaha kecil
dengan cabang usaha, teknologi sederhana, produktivitas rendah, mutu produk
kurang terjamin belum sepenuhnya berorientasi pasar dan kurang peka terhadap
perubahan-perubahan (Cyrilla dan Ismail, 1988).
Usaha tani dapat berupa usaha bercocok tanam atau memelihara ternak.
Pada umumnya ciri-ciri usaha tani yang ada di Indonesia berlahan sempit, modal
terbatas, tingkat pengetahuan petani yang terbatas dan kurang dinamis, serta
pendapatan petani yang rendah (Soekartawi et al,1986).
Didalam pertanian rakyat, hampir tidak ada usaha tani yang memproduksi
satu macam hasil saja. Disamping hasil-hasil tanaman, usaha pertanian rakyat
meliputi pula usaha-usaha peternakan, perikanan, dan kadang-kadang usaha
pencarian hasil hutan (Mubyarto, 1991).
Usaha tani atau peternakan memiliki ciri khas yang mempengaruhi
prinsip-prinsip manajemen dan teknik-teknik yang digunakan. Usaha tani dan usaha
peternakan sering dianggap sebagai usaha yang lebih banyak resiko dalam hal
output dan perubahan harga serta pengaruh cuaca terhadap keseluruhan proses
Skala Kepemilikan
Menurut Sodiq dan Abidin (2002), berdasarkan skala usaha dan tingkat
pendapatan peternak usaha di klasifikasikan sebagai berikut :
Peternakan sebagai usaha sambilan yaitu tingkat pendapatan usaha tani
dari usaha ternaknya tidak lebih tinggi daripada 30% total pendapatannya,
Peternakan sebagai cabang usaha yaitu tingkat pendapatan petani dari
usaha ternaknya antara 30-70% dari usaha total pendapatannya,
Peternakan sebagai usaha pokokyaitu tingkat pendapatan petani dari usaha
ternaknya antara 70-100% dari usaha total pendapatannya,
Peternakan sebagai usaha industri yaitu tingkat pendapatan petani dari
usaha ternaknya mencapai 100% dari usaha ternaknya.
Panca Usaha Ternak
1. Bibit
Menurut Sugeng (2000) dalam hal penelitian bibit dengan cara seleksi dan
penyingkiran ternak yang kurang baik dari kelompok yang dipelihara tidak perlu
dilakukan. Laju pertumbuhan ternak yang bagaimana tidak perlu dihiraukan, yang
terpenting bagi peternak adalah ternak yang dipelihara itu tetap bisa berkembang
biak.
2. Pakan
Keberhasilan suatu ternak hanya mungkin tercapai apabila faktor-faktor
penunjang memperoleh perhatian yang penuh. Salah satu faktor utamanya adalah
makanan disamping genetik dan manajemen. Oleh karena itu, bibit ternak yang
baik pula. Jenis Pakan babi adalah : Dedak Jagung, sayur-sayuran,pakan yang
telah busuk, dll (Ensminger, 1991).
3. Kandang
Konstruksi kandang menurut Sugeng (2000) harus dibangun dengan
perencanaan yang benar akan menjamin kenyamanan hidup ternak sebab
bangunan kandang erat hubungannya dengan kehidupan ternak.
Perencanaan bangunan kandang yang perlu diperhatikan adalah iklim,
konstruksi, dan bahan-bahan pembuat bangunan tersebut. Tiga faktor ini perlu
diperhatikan karena faktor-faktor tersebut akan membawa kenyamanan bagi
ternak apabila semua hal tersebut dipadu dengan baik (Wahyu, 2002).
4. Pencegahan dan Pengobatan Penyakit
Pencegahan terhadap timbulnya penyakit lebih penting daripada
mengobati, oleh karena itu para peternak selalu menjaga kesehatan pada ternak.
Ternak-ternak akan mudah tertular penyakit apabila manajemennya sangat kurang
(Abidin dan Simanjuntak, 1997).
5. Pemasaran
Penambahan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan pengetahuan
masyarakat tentang gizi berpengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat kearah
gizi berimbang sehingga memberikan peluang pemasaran hasil-hasil peternakan.
Disamping itu, terbukanya perdagangan internasional mengakibatkan
kemungkinan ekspor ternak dan akan semakin meningkat bila diikuti peningkatan
Pendapatan Usaha Ternak
Menurut Boediono (1998), biaya mencakup suatu pengukuran nilai Sumber
Daya yang harus dikorbankan sebagai akibat dari aktivitas-aktivitas yang
bertujuan mencari keuntungan. Berdasarkan volume kegiatan, biaya dapat
dibedakan atas biaya tetap dan variabel.
Analisis pendapatan berfungsi untuk mengukur berhasil tidaknya suatu
kegiatan usaha, menentukan komponen utama pendapatan dan apakah komponen
itu masih dapat ditingkatkan atau tidak. Kegiatan usaha dikatakan berhasil apabila
pendapatannya memenuhi syarat cukup untuk memenuhi semua sarana produksi.
Analisis usaha tersebut merupakan keterangan yang rinci tentang penerimaan dan
pengeluaran selama jangka waktu tertentu (Aritonang, 1993)..
Soeharjo dan Patong (1973), menyebutkan bahwa dalam analisis
pendapatan diperlukan dua keterangan pokok yaitu keadaan penerimaan dan
pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan, selanjutnya disebutkan bahwa
tujuan analisis pendapatan adalah untuk menggambarkan keadaan sekarang
maupun keadaan akan datang dari kegiatan usaha. Dengan kata lain, analisis
pendapatan bertujuan untuk mengukur keberhasilan dari usaha.
Analisis Usaha
Menurut Riyanto (1998), analisis ekonomi peternakan adalah usaha untuk
mengetahui keadaan finansial usaha. Dengan kata lain, analisis ekonomi tersebut
dapat diketahui darimana datangnya dana, untuk apa dana itu digunakan dan
sejauh mana keuntungan yang dicapai. Disamping itu, pimpinan perusahaan dapat
juga mengetahui laba yang diperoleh atau kerugian yang akan diderita dengan
Usaha peternakan, khususnya ternak babi tidak sekedar usaha sampingan,
tetapi lebih sebagai usaha pokok yang dapat membutuhi kebutuhan keluarga,
Untuk itu para peternak harus mencatat semua kebutuhan produksi seperti biaya
pembibitan, pengadaan pakan, tenaga kerja yang dikeluarkan maupun hasil yang
diperoleh.
Menurut Hernanto (1996), menyatakan bahwa analisis usaha dimaksudkan
untuk mengetahui kinerja usaha secara menyeluruh. Ada 3 laporan utama yang
berkaitan dengan analisis usaha yaitu:
(1) Arus biaya dan penerimaan (Cash flow) yaitu biaya operasional (2) Neraca (balance sheet ), yaitu berupa harta, utang ,dan modal
(3) Pernyataan pendapatan (income statement), yaitu menyangkut laporan laba- Rugi berupa pendapatan dikurangi oleh beban (biaya).
Menurut Suharto dan Nazaruddin (1994), gambaran mengenai usaha ternak
yang memiliki prospek cerah dapat dilihat dari usahanya. Hernanto (1996)
menyatakan bahwa analisis usaha dimaksudkan untuk mengetahui kinerja usaha
menyeluruh.
Marjin Pemasaran
Marjin Pemasaran atau tata niaga menunjukkan selisih harga dari dua tingkat
rantai pemasaran. Marjin tataniaga hanya mempresentasikan perbedaan harga
yang dibayarkan ke konsumen dengan harga yang diterima petani, tetapi tidak
menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. Pengertian ekonomi nilai
marjin pemasaran adalah harga dari sekumpulan jasa pemasaran / tata niaga yang
merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk-produk
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten
Humbang Hasundutan. Penelitian ini dilaksanakan 1 bulan sekitar bulan Juli 2012.
Metode Penentuan Responden Penelitian
Responden terdiri dari para peternak babi dan para pedagang di pasar
Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Metode responden
yang digunakan adalah metode survei dengan unit analisis keluarga yang
memelihara ternak babi dan pemasaran . Metode penarikan responden yang
digunakan adalah sebagai berikut :
1. Pada tahap pertama pemilihan 3 desa dari beberapa desa yang ada
di Kecamatan Lintong Nihuta yaitu : Desa Nagasaribu IV,
Sigompul dan Hutasoit II dengan metode penarikan responden
secara Proportional Stratified Random Sampling menurut Wirartha,2006.
2. Pada tahap kedua pemilihan responden secara acak sederhana,
diambil masing-masing 30% dari seluruh peternak dari setiap desa
sampel.
3. Pada tahap ketiga memilih pedagang babi di pasar kecamatan
lintong nihuta kabupaten humbang hasundutan, agar mengetahui
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data Primer
maupun sekunder,
1. Data primer diperoleh dari monitoring terhadap kegiatan usaha ternak babi
melalui wawancara dan pengisian kuesioner,
2. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi yang terkait seperti Badan
Pusat Statistik Medan, Kantor Kecamatan Lintong Nihuta.
Metode Analisis data
Data yang diperoleh dari hasil wawancara responden di lapangan yang
diolah dan ditabulasikan, kemudian data dianalisis dengan menggunakan metode
analisis pendapatan dan diolah dengan menggunakan model pendekatan
ekonometri dan dijelaskan secara deskriptif. Menurut Soekartawi (1995), untuk
menghitung keuntungan atau total pendapatan dari kegiatan beternak babi dapat
dihitung sebagai berikut :
Pd = TR – TC
Keterangan :
Pd = Total keuntungan yang diperoleh peternak babi (Rupiah/tahun)
TR = Total revenue atau penerimaan (Rupiah/tahun)
TC = Total cost atau pengeluaran yang dikeluarkan oleh peternak babi (Rupiah/tahun)
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka untuk memperoleh faktor-faktor
yang mempengaruhi pendapatan dapat dilihat dengan menggunakan metode
pendekatan teknik Ekonometri dengan analisis Regresi Linear Berganda (Alat
Menurut Djalal dan Usman (2002), model pendugaan yang digunakan
adalah :
Ϋ = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + µ
Keterangan :
Ϋ = pendapatan peternak ( rupiah )
a = koefisien intercept (konstanta)
b1,2,3,4,5,6,7,8 = koefisien regresi
X1 = skala usaha (jumlah ternak babi)
X2 = umur peternak (tahun)
X3 = tingkat pendidikan (tahun)
X4 = pengalaman beternak (tahun)
X5 = jumlah tanggungan keluarga (jiwa)
X6 = jumlah tenaga kerja (jiwa)
µ = variabel lain yang tidak diteliti
Variabel-variabel pada hipotesis diuji serempak dan parsial untuk
mengetahui apakah variabel tersebut memiliki dominan atau tidak. Jika variabel
tersebut berpengaruh secara serempak maka digunakan dengan uji F yakni :
F= r2 / k
(1-r2)/ (n-k-1)
Keterangan :
r2 = Koefisien determinasi
n = Jumlah responden
n-k-1 = Derajat bebas penyebut
Kriteria uji :
F hitung ≤ F tabel……… H0 diterima (H1 ditolak) F hitung > F tabel……… H0 ditolak (H1 diterima)
Menurut Sudjana (2002), jika variabel berpengaruh secara parsial, maka dapat
diuji:
Thit = b1 S
2y123 =
∑ (
-y)
2Sb1 n-k-1
Keterangan :
b = Parameter (i = 1,2,3,4) n-k-1 = Derajat bebas
S2b1 = Standard eror parameter b S2y1234 = Standard eror estimates Xi = Variabel bebas (i = 1,2,3,4)
Kriteria uji :
F-hit ≤ F-tabel………. H0 diterima (H1ditolak) F-hit > F-tabel………. H0 ditolak (H1diterima)
Marjin Pemasaran
Pada pemasaran ternak babi di daerah penelitian yaitu pemasaran berat
bobot hidup yang terdiri dari pemasaran anakan dan indukan, tetapi memiliki
perbedaan. Pemasaran anakan memperhitungkan harga per ekor nya tanpa
memperhitung bobot kilogram ternak, tetapi pemasaran indukan
memperhitungkan per kilogram nya.
Marjin pemasaran anakan dirumuskan dengan cara menghitung perbedaan
antara harga di tingkat Pasar dengan harga di tingkat Peternak. Marjin Pemasaran
dalam penelitian ini di rumuskan sesuai petunjuk Sudiyono (2002) sebagai
berikut:
M = He – Hp
Keterangan :
He = Harga pada pasar (Rp…/ekor)
Hp = Harga padapeternak (Rp…/ekor)
Marjin pemasaran indukan dirumuskan dengan cara menghitung perbedaan antara
harga di tingkat Pasar dengan harga di tingkat Peternak. Marjin Pemasaran dalam
penelitian ini di rumuskan sesuai petunjuk Sudiyono (2002) sebagai berikut:
M = He – Hp
Keterangan :
He = Harga pada pasar (Rp…/Kg)
Hp = Harga peternak (Rp…/Kg)
Parameter Penelitian
Analisis Pendapatan
1. Skala usaha adalah jumlah ternak babi yang dipelihara (ekor),
2. Umur peternak yang memelihara ternak babi adalah umur yang masih
tergolong produktif yaitu umur 16-60 tahun,
3. Tingkat pendidikan adalah lama pendidikan yang ditempuh peternak
( SD,SMP,SMA),
4. Pengalaman beternak adalah lamanya peternak dalam memelihara ternak
babi ( tahun),
5. Jumlah tanggungan keluarga adalah jumlah tanggungan yang ditanggung
6. Jumlah tenaga kerja adalah Jumlah suatu tenaga kerja dalam keluarga atau
upahan yang dibiayai oleh peternak (jiwa).
Marjin Pemasaran Ternak Babi :
1. Harga pasar adalah Harga jual ternak indukan dan anakan yang ditawarkan
oleh pasar kepada peternak (Pola 1),
2. Harga peternak adalah Harga jual ternak indukan dan anakan yang
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sistem Perkandangan Pada Usaha Ternak Babi Di Daerah Penelitian
Sistem pemeliharaan ternak dan manajemen yang baik adalah kunci dari
keberhasilan suatu usaha ternak babi. Umumnya sistem perkandangan babi di
Kecamatan Lintong Nihuta adalah bersifat bersifat intensif dimana ternak
dikandangkan setiap hari.
Sistem Perkandangan babi di Kecamatan Lintong Nihuta dapat
diterangkan sebagai berikut :
Tabel 3. Data sistem kandang di daerah Lintong Nihuta
Data Sistem Kandang Keterangan
Keadaan Kandang
Kurang bersih dan basah,
hanya sedikit peternak yang keadaan kandang yang bersih dan kering.
Ventilasi Kandang
Memiliki banyak udara untuk masuk dengan kata lain ventilasi kandang baik.
Drainase Kandang
Memiliki drainase hanya ada diluar kandang.
Ukuran Kandang
Anakan Babi : 2,5 x 1,5 m/ekor Indukan babi : 3 x 2 m/ekor.
Adapun kegiatan–kegiatan yang dilakukan peternak babi yang terdapat di
daerah penelitian sebagai berikut :
1. Pemberian Pakan dan Minum
Babi akan tumbuh sehat dan berkembang biak dengan baik bila volume
pakan yang diperoleh cukup dan bergizi dan dilakukan manajemen pemeliharaan
yang baik. Pakan merupakan unsur yang sangat vital dalam usaha peternakan.
Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak dapat
penyakit. Ketersediaan pakan yang cukup akan menghasilkan ternak yang sehat
dan produktif. Jenis pakan babi ada dua macam yaitu pakan pokok yang terdiri
dari Sayur-sayuran, Dedak, dan Pakan yang telah membusuk dan pakan penguat
(Mineral seperti jenis Mineral-10).
Air untuk minum ternak juga mempunyai fungsi yang vital untuk proses
pertumbuhan dan perkembangan tubuh ternak. Penyediaan air minum harus terus
menerus untuk semua kelompok umur ternak.
Pemberian pakan dan minum ternak di daerah penelitian dilakukan oleh
peternak sendiri yang dibantu oleh anggota keluarganya seperti ibu dan
anak-anaknya.
2. Pembersihan kandang
Kandang adalah tempat tinggal ternak sehingga kandang menjadi salah
satu faktor penting dalam beternak. Dimana kebersihan kandang dapat
menghindarkan ternak dari serangan penyakit. Kandang sangat berpengaruh
terhadap kesehatan ternaknya, terutama faktor kelembaban, kebecekan, dan sarang
lalat yang dapat mengganggu kenyamanan serta keleluasaan ternak. Letak
kandang harus terpisah dari rumah namun di daerah penelitian masih ada beberapa
responden yang membuat kandangnya menyatu dengan rumahnya.
Di daerah penelitian kebersihan kandang dilakukan tidak tiap hari, hanya
ketika kandang telah sangat kotor dengan menggunakan sapu lidi, sekop, cangkul.
Kotoran dibersihkan dengan menggunakan sekop yang kemudian diangkat dengan
menggunakan angkong. kotoran tersebut dikumpulkan di lubang sementara yang
biasanya berada di belakang kandang. Setelah dikumpulkan beberapa hari, feses
melainkan volume feses di dalam kereta sorong (angkong). Pada umunya peternak
tidak melakukan penyemprotan desinfektan pada kandangnya yang bertujuan
untuk membunuh kuman-kuman pembawa penyakit.
3. Pembersihan Ternak babi
Tujuan pembersihan ternak babi adalah untuk mencegah timbulnya
berbagai macam penyakit dari parasit yang dapat membuat produktivitas ternak
menurun. Di daerah penelitian pembersihan ternak dilakukan dengan cara
memandikan ternak. Kegiatan ini dilakukan bila tubuh ternak sudah kelihatan
kotor. Namun tidak semua peternak yang ada di daerah penelitian memandikan
ternaknya mereka membiarkan tubuh ternak dalam keadaan kotor hal ini dapat
mengakibatkan ternak terserang penyakit .
4. Pengendalian Penyakit
Serangan penyakit dapat menimbulkan masalah yang berkepanjangan,
seperti menghambat pertumbuhan ternak sehingga dapat mengurangi keuntungan
peternak. Penyakit yang sering menyerang ternak babi di daerah penelitian adalah
penyakit mencret.
Penyakit mencret pada ternak babi biasanya diberikan desinfektan (Lysol dan
creolin) pada kandang agar kandang itu bersih dan kering, tetapi pada anak babi
biasanya perlakuannya agak berbeda yaitu makanan yang mengandung jenis obat
Karakteristik responden
Masyarakat di Kecamatan Lintong Nihuta cenderung menjadikan usaha
ternak babi sebagai usaha sampingan sehingga hanya memberikan kontribusi
dibawah 30% terhadap pendapatan peternak. Masyarakat di Kecamatan Lintong
Nihuta pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani, sehingga pendapatan
mereka berasal dari hasil-hasil pertanian.
Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi karakteristik sosial
dan ekonomi. Karakteristik sosial peternak yang dianalisis meliputi skala usaha,
umur peternak, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, jumlah tanggungan
keluarga, dan jumlah tenaga kerja. Sedangkan karakteristik ekonomi responden
yang dianalisis meliputi: total penerimaan dari usaha ternak dan total biaya
produksi. Karakteristik responden di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel
[image:37.595.99.524.458.603.2]berikut :
Tabel 4. Karakteristik responden di daerah Lintong Nihuta tahun 2012
Pada pemasaran ternak babi di daerah penelitian yaitu pemasaran berat
bobot hidup yang terdiri dari pemasaran anakan dan indukan, tetapi memiliki
perbedaan. Pemasaran anakan memperhitungkan harga per ekor nya tanpa
memperhitungkan bobot kilogramnya, tetapi pemasaran indukan
memperhitungkan per kilogram nya.
Karakteristik peternak Babi satuan Rentang (*) Rataan
Skala usaha Umur peternak Tingkat pendidikan
Ekor Tahun Tahun
5-33 29-59
6-12
11 48 12
Pengalaman beternak Tahun 2-10 5
Jumlah Tanggungan Keluarga Jumlah tenaga kerja Total penerimaan dari usaha
ternak
Jiwa Jiwa Rp
5-9 1-4
7.290.000-25.200.000
6 3 12.281.416,67
Total biaya pengeluaran Rp 3.053.000-23.494.000 9.158.100
Sedangkan karakteristik pada marjin pemasaran yang saya teliti di
Kecamatan Lintong Nihuta adalah jumlah pedagang, rata-rata jumlah anakan
hidup yang diperjualkan oleh pedagang, rata-rata harga jual anakan oleh
pedagang, rata jumlah indukan hidup yang diperjualkan oleh pedagang,
rata-rata harga jual indukan oleh pedagang, rata-rata-rata-rata jumlah anakan hidup yang
diperjualkan oleh peternak, rata-rata harga jual anakan oleh peternak, rata-rata
jumlah indukan hidup yang diperjualkan oleh peternak, rata-rata harga jual
indukan oleh peternak, rata-rata marjin pemasaran anakan, dan rata-rata marjin
[image:38.595.114.515.352.761.2]pemasaran indukan.
Tabel 5. Karakteristik Marjin Pemasaran didaerah Lintong Nihuta
Karakteristik peternak sampel Satuan Rentang (*) Rataan
Jumlah pedagang Jiwa - 14
Rata-rata jumlah ternak anakan hidup yang
diperjualkan oleh pedagang Ekor 3-5 4
Rata-rata harga jual anakan
oleh pedagang Rp 615000-650000 635.000
Rata-rata jumlah ternak indukan hidup yang
diperjualkan oleh pedagang Ekor 2-5 3
Rata-rata harga jual indukan
oleh pedagang Rp/Kg 32000-35000 30.300
Rata-rata jumlah ternak anakan hidup yang diperjualkan oleh peternak
Ekor 6-10 8
Rata-rata harga jual anakan
oleh peternak Rp 500000-600000 576.000
Rata-rata jumlah ternak indukan hidup yang
diperjualkan oleh peternak Ekor 1-4 2
Rata-rata harga jual indukan
oleh peternak Rp/Kg 26000-29000 27.400
Rata-rata marjin pemasaran
indukan Rp/Kg
- 2.900
Skala usaha beternak babi menyebar antara 5 sampai 33 ekor dengan
rataan 11 ekor. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa jumlah
kepemilikan ternak babi dalam usaha beternak babi cendrung sedikit.
Pengalaman beternak babi menyebar antara 2 sampai 10 tahun dengan
rataan 5 tahun. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat
pengalaman beternak responden cukup lama, tetapi kurang menguasai tentang
teknik pengelolaan usaha ternaknya.
Tingkat pendidikan peternak babi menyebar antara 6 sampai 12 tahun
dengan rataan 12 tahun. Hal ini menunjukan bahwa tingkat pendidikan responden
rata-rata sudah tamat SMA, sehingga tingkat pendidikan responden digolongkan
rendah. Pendidikan non formal di daerah penelitian yang khusus mengenai usaha
ternak babi tidak begitu berjalan dengan baik.
Umur peternak menyebar antara 29 sampai 59 tahun dengan rataan 48
tahun. Hal ini menunujukan bahwa responden masih berada dalam kategori umur
produktif (20 sampai 45 tahun), sehingga potensi untuk bekerja dan mengelola
usaha ternaknya masih besar.
Jumlah tenaga kerja menyebar antara 1 sampai 4 orang dengan rataan 4
orang. Hal ini menunujukan bahwa responden memiliki tenaga kerja yang cukup
untuk beternak babi.
Jumlah tanggungan keluarga menyebar antara 4 sampai 9 orang dengan
rataan 6 orang, Hal ini menunjukkan bahwa di dalam keluarga tersebut cukup
Pada usaha ternak babi di daerah penelitian diperoleh total penerimaan
dari usaha ternak babi selama 1 (satu) tahun adalah berkisar antara Rp 7.290.000
sampai dengan Rp 25.200.000 / peternak dengan rataan sebesar Rp.
12.281.416,67 /peternak.
Total biaya pengeluaran pada usaha ternak babi meliputi biaya pakan,
obat-obatan, tenaga kerja, dan biaya lainnya .Menurut data yang diperoleh selama
1 (satu) tahun dari usaha ternak babi per responden adalah berkisar antara Rp.
3.053.000 / peternak sampai dengan Rp 19.260.000 /peternak dengan nilai
pengeluaran rata-rata adalah Rp. 9.158.100 /peternak.
Untuk pendapatan bersih setiap responden dari usaha ternak babi selama 1
(satu) tahun berkisar antara Rp 570.000 sampai dengan Rp 6.400.000 dengan
rataan sebesar Rp. 3.123.316,67,- /peternak. Dari nilai rata-rata pendapatan
keluarga dari usaha ternak babi ini dapat digambarkan bahwa responden kurang
termotivasi untuk melakukan pengembangan usaha ternak babi nya, Mereka
belum melihat dengan baik bahwa ternak babi yang mereka usahakan ini dapat
mendatangkan pendapatan yang lebih besar lagi apabila dilakukan dengan serius.
Biaya lain-lain yang dikeluarkan oleh peternak untuk usaha ternak
mencakup biaya perbaikan kandang, biaya pembelian peralatan pendukung usaha
ternak seperti kereta sorong (angkong), cangkul, sapu lidi, dan biaya bahan bakar. Jumlah pedagang babi di daerah penelitian memiliki rentangan 12-15 ekor
dengan rataan sebanyak 14 ekor.
Jumlah rataan anakan hidup yang dijual oleh pedagang rentangan 3-5 ekor
Jumlah rataan anakan hidup yang dijual oleh peternak rentangan 6-10 ekor
dengan rataan 8 ekor.
Jumlah rataan harga jual anakan oleh pedagang memiliki rentangan
Rp.615000 – 650000 dengan rataan Rp. 635.000,-.
Jumlah rataan harga jual anakan oleh peternak memiliki rentangan
Rp.500000-600000 dengan rataan Rp. 576.000,-.
Jumlah rataan indukan hidup yang dijual pedagang rentangan 2-4 ekor
dengan rataan 3 ekor.
Jumlah rataan indukan hidup yang dijual pedagang rentangan 1-3 ekor
dengan rataan 2 ekor.
Jumlah rataan harga jual indukan oleh pedagang memiliki rentangan Rp
32000-35000 dengan rataan Rp. 30.300,- /Kg.
Jumlah rataan harga jual indukan oleh peternak memiliki rentangan Rp
24000-28000 dengan rataan Rp. 27.400,- /Kg.
Rata-rata marjin pemasaran anakan memiliki rentangan Rp 59.000, dan
rata-rata marjin pemasaran indukan memiliki rentangan Rp. 2.900,-/Kg.
Pengaruh variabel terhadap pendapatan peternak babi
Untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak babi
di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan digunakan
analisis regresi linier berganda, dimana yang menjadi variabel bebas
(independent) adalah pengalaman beternak (X1), umur peternak (X2), tingkat
pendidikan (X3) dan pengalaman beternak (X4), jumlah tanggungan keluarga (X5),
jumlah tenaga kerja (X6). Sedangkan yang menjadi variabel terikat/tidak bebas
Tabel 6. Analisis varian pendapatan dan hasil penduga variabel
Sumber Derajat Bebas F tabel F hitung Tingkat Signifikansi
Regresi 6 2,436 2,054 tn 0.075a
Residual 53
Total 59
Adapun hasil pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
peternak babi di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan
dapat di lihat pada tabel berikut :
Tabel 7. Analisis regresi linier berganda pengaruh pengalaman beternak, tingkat pendidikan, umur dan sistem pemeliharaan terhadap pendapatan peternak babi di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan
Variabel Koefisien Regresi Std. Error t- hitung Signifikan Konstanta X1 X2 X3 X4 X5 X6 R square Regresion Residual F-tabel (α=0,05) 9.060.648 96.390,03 - 47.108,1 - 459.757 365.091,5 135.339,4 - 271.323 0,189 1,9E+13 8,4E+13 2,436 6.341.444,6 42784,316 30665,015 539555,5 140599,6 162054,9 335496,2 1,429 0,023 -1,536 -0,852 1,597 0,835 -0,809 0,159 0,982 0,130 0,398 0,012 0,407 0,422
T-tabel(α=0,05) 1,856
Berdasarkan Tabel di atas di peroleh persamaan sebagai berikut:
Ŷ = 9.060.648 + 96.390,03X1 - 47.108,1X2 - 459.757X3 + 365.091,5X4 + 135.339,4X5– 271.323X6 + µ
Keterangan:
[image:42.595.115.506.317.608.2]X1 : Skala usaha (ekor)
X2 : Umur peternak (tahun)
X3 : Tingkat pendidikan (tahun)
X4 : Pengalaman beternak (tahun)
X5 : Jumlah tanggungan keluarga (jiwa)
X6 : Jumlah tenaga kerja (jiwa)
Berdasarkan Hasil Regresi di atas dapat diketahui:
Nilai Konstanta/Intersept adalah sebesar 9.060.648, Artinya apabila variabel bebas yaitu, pengalaman beternak, tingkat pendidikan, umur peternak dan sistem
pemeliharaan dilakukan maka peternak babi akan menerima pendapatan sebesar
nilai konstanta yaitu Rp 9.060.648/tahun.
1. R Square bernilai 18,9%, artinya bahwa semua variabel bebas pengalaman
beternak tingkat pendidikan,umur peternak dan sistem pemeliharaan
mempengaruhi variabel terikat sebesar 18,9% dan selebihnya yaitu sebesar
81,1% dijelaskan oleh variabel lain (µ) yang tidak diteliti dalam penelitian
ini.
2. Secara serempak nilai F-hitung (2,054) lebih kecil daripada F-tabel (2,436).
Hal ini menunjukkan bahwa secara serempak semua variabel tersebut yaitu
skala usaha, umur peternak, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan
keluarga, jumlah tenaga kerja berpengaruh secara tidak nyata terhadap
pendapatan peternak babi dengan taraf signifikansi 0.075a dan pada taraf
kepercayaan 95%.
3. Secara partial nilai t-hitung variabel yang mempengaruhi adalah variabel
pengalaman beternak (1.597), jumlah tanggungan keluarga (0.835), jumlah
tenaga kerja (-0.809).
a. Variabel skala usaha berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan
peternak babi, jika diukur pada tingkat kepercayaan 95% yang
ditunjukkan oleh angka koefisien 96.390,03. Sifat hubungan dari
koefisien regresi bertanda positif, berarti setiap kenaikan umur sebesar 1
tahun, maka mengalami kenaikan sebesar Rp. 96.390,03,- dari
pendapatan peternak. Hal ini sesuai pernyataan Tohir (1991) bahwa
skala usaha memberikan keuntungan pada peternak, semakin banyak
ternak yang dimiliki peternak, makin besar keuntungan dan menaikkan
pendapatan peternak.
b. Variabel umur berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan peternak
babi, jika diukur pada tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan oleh
angka koefisien -47.108,1. Sifat hubungan dari koefisien regresi
bertanda negatif, berarti setiap kenaikan umur sebesar 1 tahun maka
akan menurunkan pendapatan peternak sebesar Rp 47.108,1 Faktor umur
biasanya lebih diidentikkan dengan produktivitas kerja, dan jika
seseorang masih tergolong usia produktif ada kecenderungan
produktivitasnya juga tinggi, Chamdi (2003) mengemukakan, semakin
muda usia peternak (usia produktif 20-45 tahun) umumnya rasa ingin
tahu terhadapsesuatu semakin tinggi dan minat untuk mengadopsikan
terhadap introduksi teknologi semakin tinggi.
c. Variabel tingkat pendidikan berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan
tunjukkan pada koefisien -459757, Koefisien tersebut berimplikasi bahwa
kenaikan tingkat pendidikan peternak sebesar 1 tahun dengan asumsi
variabel lain tetap maka akan diikuti penurunan peternak sebesar Rp
459757,-. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wiryono (1997), yang
menyatakan bahwa tingkat pendidikan peternak cenderung mempengaruhi
cara berpikir dan tingkat penerimaan mereka terhadap inovasi dan pada
teknologi baru.
c. Variabel pengalaman beternak tidak berpengaruh nyata terhadap
pendapatan peternak babi, jika diukur pada tingkat kepercayaan 95%
yang ditunjukkan oleh angka koefisien 365.091,5 Sifat hubungan dari
koefisien regresi bertanda positif maka dapat diasumsikan bahwa
kenaikan pengalaman peternak sebesar 1 tahun dengan asumsi variabel
lain diikuti kenaikan pendapatan peternak sebesar Rp.365.091.5,-. faktor
pengalaman yang dimiliki peternak masyarakat sangat menentukan pula
berkembangnya peternakan di daerah itu (Fauzia dan Tampubolon,
1991).Hal ini disebabkan bahwa dengan pengalaman beternak yang
cukup lama memberikan indikasi bahwa pengetahuan dan keterampilan
peternak terhadap manajemen pemeliharaan ternak mempunyai
kemampuan yang lebih baik.
d. Variabel jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap
pendapatan peternak babi, jika diukur pada tingkat kepercayaan 95%
yang ditunjukkan oleh koefisien 135.339,4. Sifat hubungan dari
koefisien regresi bertanda positif, maka dapat diasumsikan bahwa
variabel lain diikuti kenaikan pendapatan peternak sebesar
Rp.135.339,4,-. Hal ini sesuai pernyataan Daniel (2002) menyatakan
dengan pertambahan anggota secara terus-menerus, sementara
kebutuhan akan diproduksi termasuk pangan semakin bertambah.Hal ini
disebabkan karena peternak tersebut menjual banyak hasil pertanian dan
perkebunan, tetapi mereka mengeluarkan sedikit pendapatan mereka
kepada keluarga karena hasil kebutuhan pokok mereka banyak terdapat
di tempat, seperti padi, kopi, sayur-sayuran, dll yang mereka jadikan
bahan pokok peternak tersebut. Dengan kata lain, peternak dapat
menaikkan pendapatan mereka.
e. Variabel jumlah tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap
pendapatan peternak babi jika diukur tingkat kepercayaan 95% yang
ditujukan oleh koefisien – 271323. Sifat hubungan dari koefisien regresi
bertanda negatif, maka dapat diasumsikan bahwa kenaikan jumlah
tenaga kerja sebesar 1 tahun dengan asumsi variabel lain diikuti
penurunan pendapatan peternak sebesar Rp. 271.323,-. Hal ini
disebabkan bahwa tenaga kerja memerlukan biaya lain-lain untuk
dirinya, sehingga mengurangi pendapatan peternak. Hal ini menurut
pernyataan Soekartawi (1995) bahwa Peningkatan pendapatan keluarga
peternak tidak dapat dilepaskan dengan cara mereka menjalankan dan
mengelola usaha ternaknya yang sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor sosial dan ekonomi.
Arti dari nilai persamaan berikut adalah :
Ŷ = 9.060.648 + 96.390,03X1 - 47.108,1X2 - 459.757X3 + 365.091,5X4 +
Berdasarkan model persamaan diatas dapat diinterpretasi bahwa:
a. Apabila variabel bebas skala usaha (X1) mengalami kenaikan sebesar 1 ekor,
maka akan terjadi kenaikan pendapatan (Y) sebesar Rp. 96.390,03,-.
b. Apabila variabel bebas umur (X2) mengalami kenaikan sebesar 1 tahun, maka
akan terjadi penurunan pendapatan (Y) sebesar Rp. 47.108,1,-.
c. Apabila variabel bebas pendidikan (X3) mengalami kenaikan sebesar 1 tahun
maka akan terjadi penurunan pendapatan (Y) sebesar Rp. 459.757,-.
d. Apabila variabel bebas pengalaman beternak (X4) mengalami kenaikan sebesar
1 tahun, maka akan terjadi kenaikan pendapatan (Y) sebesar Rp. 365.091,5,-.
e. Apabila variabel bebas jumlah tanggungan keluarga (X5) mengalami kenaikan 1
jiwa, maka akan terjadi kenaikan pendapatan (Y) sebesar Rp. 135.339,4,-.
f. Apabila variabel bebas jumlah tenaga kerja (X6) mengalami kenaikan 1 jiwa ,
maka akan terjadi penurunan pendapatan (Y) sebesar Rp. 271.323,-.
g. Apabila variabel X1, X2, X3, X4, X5 dan X6 yang dianalisis dianggap nol (tidak
melakukan aktivitas), maka peternak babi akan menanggung biaya sebesar Rp
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian analisis profil peternak terhadap pendapatan
dan marjin pemasaran peternak babi di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten
Humbang Hasundutan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Skala usaha, Pengalaman beternak, dan Jumlah tanggungan keluarga dapat
menaikkan pendapatan di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang
Hasundutan.
2. Umur peternak, Pendidikan peternak, dan jumlah tenaga kerja dapat
menurunkan pendapatan di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang
Hasundutan.
3. Rata-rata marjin pemasaran anakan memiliki rentangan Rp 59.000, dan
rata-rata marjin pemasaran indukan memiliki rentangan Rp 2.900,-/Kg.
Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah :
Untuk Peternak :
Untuk meningkatkan pendapatan peternak babi di daerah penelitian
diharapkan para peternak pemula dapat meningkatkan pengetahuan dalam
beternak dengan cara mempelajari inovasi dan teknologi baru.
Untuk Pemerintah :
Peningkatan pengalaman beternak dan pengetahuan beternak dapat
pengalaman turun temurun, sehingga pendapatan peternak belum maksimal. Oleh
sebab itu diharapkan intoduksi teknologi dari dinas terkait agar peternak dapat
lebih meningkatkan pendapatannya.
Dalam upaya meningkatkan pendapatan peternak Babi di daerah
Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang hasundutan diantaranya adalah
mengatasi masalah permodalan yang masih sedikit maka untuk itu dibutuhkan
peran pemerintah setempat untuk membuka kucuran modal dari semua sumber
daya yang dapat meningkatkan pendapatan peternak seperti lembaga keuangan
mikro misalnya koperasi simpan pinjam, lembaga kredit pedesaan dan lembaga
non formal baik perorangan maupun bentuk perkumpulan (lembaga kelompok
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, A. dan Simanjuntak,D, 1997., Ternak Potong. Direktorat Jenderal Peternakan, Jakarta.
Aritonang, D., 1993. Perencanaan dan Pengelolaan Usaha. Penebar Swadaya. Jakarta.
Aswar, 2001., Budidaya Ternak Babi. Penerbit Kasuari, Semarang.
Badan Pusat Statistik, 2011., Kecamatan Humbang Hasundutan, BPS Sumatera Utara, Medan.
Boediono, 1998., Ekonomi Mikro Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No.1, BFFE Yogyakarta, Yogyakarta
Cahyono, B, 1998., Beternak Babi dan Kerbau, Kanisius, Jakarta.
Chamdi, A.N, 2003., Kajian Profil Sosial Ekonomi Usaha Babi di Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobongan, Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Bogor 29-30 September 2003, Bogor: Puslitbang Peternakan Departemen Pertanian, Bogor.
Cyrilla, L., dan Ismail, A, 1998., Usaha Peternakan, Diktat Kuliah, Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Dahl, 1997., Digestive Physiology in the pig, Procceding of the 3rd International Seminar on Digestiobin the pig, Copenhagen.
Daniel, M, 2002., Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta.
Ensminger,1991., Digestive of pig, Procceding of the 3rd International Seminar on Digesty the pig, Berlin.
Fathoni, A,H, 2004., Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Fauzia, dan Tampubolon, 1991., Pengaruh Keadaan Sosial Ekonomi Petani Terhadap Keputusan Petani Dalam Penggunaan Sarana Produksi, USU Press, Medan.
Gunawan, Pamungkas, D., Affandhy, L., 1993, Peternakan Babi dan Nilai Ekonomis, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Hernanto, F, 1993., Ilmu Usaha Tani, Penebar Swadaya, Jakarta.
Kay, R.D dan Edward, W.M., 1994., Farm Management, Third Edition, Mc. Graw- Hill, inc. Singapore.
Kidder, D.E dan M.J Manners, 1978., Digestion in the pig, Scientechnica, Bristol.
Mubyarto, 1991., Pengantar Ekonomi Pertanian, LP3ES, Jakarta.
Mulyono, S, dan Sarwono, B, 2007, Penggunaan Ternak Potong, Penebar Swadaya, Jakarta.
Riyanto, 1978, Pemeliharaan ternak babi secara efisien. IPB, Bogor.
Ruhyat, 2003, Taksonomi dan Zoologis Hewan Ternak, UGM Press, Yogyakarta
Sihombing, D.T.H, 2006, Petunjuk Praktis Beternak Babi. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Sodiq, A., dan Z, Abidin., 2002, Penggemukan Ternak, (Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis), Agromedia Pustaka, Jakarta.
Soekartawi, A., Soeharjo, Dillon, J.L.,Hardaker,J.B., 1986, Ilmu Usaha Tani dan Penelitian Untuk Perkembangan Peternak Kecil, UI Press, Jakarta.
Soekartawi, 1995., Analisis Usaha Tani, UI, Jakarta.
Sugeng, Y.B, 2000., Ternak Babi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suharno, B dan Nazaruddin., 1994, Ternak Komersial, Penebar Swadaya, Jakarta.
Tohir, K. A., 1991. Pengantar Ekonomi Pertanian. Penerbit Sumur Bandung. Bandung.
Wahyu, 2002., Pemasaran Ternak Babi, IPB, Bogor.
Widjaja, K., 1999, Analisis Pengambilan Keputusan Usaha Produksi Peternakan, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, IPB, Bogor.
Wirartha,I. Made, 2006, Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi, Penerbit Andi, Yogyakarta.
LAMPIRAN
D. Sirait M. Siregar N. Lumbantoruan Endra Hutasoit K. Nababan T. Siregar D. Sihombing N. Silaban Jonni Lumbantoruan Harlo Sitinjak Edison Hutasoit L. Sihombing Viktor Purba O. Nababan A. Silaban Chandra Hutasoit L. Siregar Franky Silaban H. Purba E. Sihombing 9 11 9 10 8 11 8 9 11 7 9 8 8 10 8 12 7 10 11 10 54 51 38 40 57 54 53 52 45 41 39 51 36 57 55 39 54 34 52 55 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 5 5 4 5 6 5 6 3 7 5 6 3 5 6 5 4 6 5 5 4 4 5 4 4 7 5 7 6 5 5 4 6 4 7 5 5 6 4 7 6 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 4 3
N. Lumbantoruan Endra Hutasoit K. Nababan T. Siregar D. Sihombing N. Silaban Jonni Lumbantoruan Harlo Sitinjak Edison Hutasoit L. Sihombing Viktor Purba O. Nababan A. Silaban Chandra Hutasoit L. Siregar Franky Silaban H. Purba E. Sihombing 10.800.000 10.450.000 9.450.000 11.250.000 9.450.000 12.400.000 13.670.000 9.110.000 10.150.000 9.880.000 9.450.000 12.700.000 10.400.000 13.200.000 8.350.000 11.800.000 13.700.000 10.270.000 8.500.000 8.970.000 7.860.000 8.900.000 7.130.000 9.750.000 10.870.000 5.240.000 7.960.000 7.430.000 6.790.000 9.870.000 8.250.000 10.870.000 5.940.000 9.600.000 9.740.000 7.700.000 2.300.000 1.480.000 1.590.000 2.350.000 2.320.000 2.650.000 2.800.000 3.870.000 2.190.000 2.450.000 2.660.000 2.830.000 2.150.000 2.330.000 2.410.000 2.200.000 3.960.000 2.570.000
Lampiran 3. Karakteristik Marjin Pemasaran
Nama Pedagang Rata-rata jumlah anakan yang dijual (Ekor) Rata-rata jumlah indukan yang dijual (Ekor) Harga Jual Anakan hidup (Rp/Ekor) Harga Jual Indukan hidup (Rp/Kg)
L.Situmeang 4 3 615.000 32.000
Reza Nababan 3 3 620.000 33.500
P. Hutahaean 4 5 635.000 32.000
Siska Siringo-ringo 4 4 635.000 32.000
Dario Hutasoit 5 2 620.000 34.000
M. Marbun 4 2 635.000 33.000
C.Silaban 3 3 635.000 32.000
Wati Rumapea 4 3 635.000 33.000
E. Hutasoit 4 3 620.000 32.500
F. Singarimbun 4 5 615.000 33.000
K. Sihombing 5 2 650.000 34.000
S. Hutasoit 4 4 635.000 32.500
Barba Hutasoit 3 3 635.000 33.000
Nirta Lbn.Toruan 4 2 615.000 32.000
Rataan 4 3 635.000 30.321,43
(30.300)
Nama Peternak Rata-rata jumlah anakan yang dijual (Ekor) Rata-rata jumlah indukan yang dijual (Ekor) Harga Jual Anakan hidup (Rp/Ekor) Harga Jual Indukan hidup (Rp/Kg)
P. Nababan 8 3 580.000 27.000
A.Sianturi 6 2 580.000 26.000
Bonar Nababan 8 2 585.000 27.000
T. Simamora 6 2 580.000 27.000
A. Hutasoit 7 2 570.000 28.000
Raka Hutasoit 8 2 565.000 27.000
E. Nababan 8 4 580.000 27.000
S. Panjaitan 9 2 570.000 29.000
M. Sihombing 9 3 580.000 27.000
P. Sianipar 7 1 565.000 28.000
Sardion Sihombing 9 4 580.000 27.000
F. Hutasoit 6 2 580.000 27.000
Bonar Nababan 8 2 570.000 28.000
Hardo Sihombing 9 1 580.000 28.000
Rataan 7,7 (8) 2,3 (2) 576.071,43
(576.000)