• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Morfologi Vertikal Skeletal Wajah Berdasarkan Analisis Steiner Dan Jefferson

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Gambaran Morfologi Vertikal Skeletal Wajah Berdasarkan Analisis Steiner Dan Jefferson"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN MORFOLOGI VERTIKAL SKELETAL

WAJAH BERDASARKAN ANALISIS

STEINER DAN JEFFERSON

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh

WILLIAM WIJAYA

NIM : 090600037

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Ortodonsia

Tahun 2013

William Wijaya

Gambaran Morfologi Vertikal Skeletal Wajah Berdasarkan Analisis Steiner

dan Jefferson

x + 34 halaman

Analisis sefalometri digunakan untuk menentukan morfologi skeletal fasial

seorang pasien. Ada beberapa analisis sefalometri yang dapat digunakan dokter gigi

antara lain analisis Steiner dan analisis Jefferson. Analisis Steiner menggunakan

parameter besar sudut, sedangkan analisis Jefferson menggunakan pengukuran linear.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran morfologi vertikal skeletal wajah

berdasarkan analisis Steiner dan Jefferson.

Jenis penelitian ini merupakan rancangan penelitian deskriptif untuk

mengetahui gambaran morfologi skeletal vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner

dan Jefferson. Sampel dalam penelitian ini adalah foto sefalometri pasien yang datang

ke klinik spesialis departemen ortodonti RSGMP FKG USU periode 2004-2008 dan

praktek swasta ortodontis yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

berjumlah 45 sefalogram.

Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan analisis Steiner persentase tipe

vertikal wajah pendek sebanyak 20%, 51,1% tipe normal, dan 28,9% tipe panjang.

(3)

tipe panjang. Kesesuaian antara analisis Steiner dan Jefferson yaitu tipe pendek pada

analisis Steiner mempunyai persentase 100% tipe pendek pada analisis Jefferson.

Tipe normal pada analisis Steiner mempunyai persentase 56,5% tipe pendek; 39,1%

tipe normal; dan 4,3% tipe panjang pada analisis Jefferson. Tipe panjang pada

analisis Steiner mempunyai persentase 23,1% tipe pendek; 38,5% tipe normal; dan

38,5% tipe panjang pada analisis Jefferson.

Perbedaan yang diperoleh antara tipe vertikal wajah berdasarkan kedua

analisis tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan parameter yang digunakan yaitu

linear dan sudut. Steiner mengklasifikasikan tipe vertikal wajah yang diperoleh dari

besar sudut MP-SN sedangkan Jefferson menggunakan jarak age 18 vertical arc

terhadap menton. Selain perbedaan parameter, perbedaan titik referensi jugadapat

mengakibatkan perbedaan hasil pada kedua analisis tersebut. Titik referensi pada

analisis Steiner yaitu titik S, N, Gn, dan Go, sedangkan pada analisis Jefferson titik

referensi adalah titik ANS, SOr dan Menton. Selain itu, variasi nilai MP-SN terhadap

tipe hyperdivergent (wajah panjang) dapat menyebabkan perbedaan penggolongan tipe vertikal wajah.

(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan

di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 31 Januari 2013

Pembimbing Tanda Tangan

Muslim Yusuf, drg., Sp.Ort (K) ………

(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji

pada tanggal 07 Februari 2013

TIM PENGUJI

KETUA : Muslim Yusuf, drg., Sp. Ort (K)

ANGGOTA : 1. Nurhayati Harahap, drg., Sp.Ort (K)

(6)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, skripsi ini telah

selesai disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana

Kedokteran Gigi.

Dalam penulisan skripsi ini penulis mendapat bimbingan, bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. H. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort., selaku Dekan Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Muslim Yusuf, drg., Sp.Ort. (K), selaku dosen pembimbing skripsi yang

telah banyak meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

3. Nurhayati Harahap, drg., Sp.Ort. (K), selaku dosen tim penguji skripsi

yang telah banyak meluangkan waktu dan memberikan saran dalam menyelesaikan

skripsi.

4. Ervina Sofyanti, drg., Sp.Ort, selaku dosen tim penguji skripsi yang

telah banyak meluangkan waktu dan memberikan saran dalam menyelesaikan

skripsi.

5. Hilda Fitria Lubis, drg., Sp.Ort, selaku staf pengajar FKG USU yang telah

banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Dr. Surya Dharma, MPH., selaku dosen FKM yang telah banyak

memberikan bimbingan mengenai bidang statistik.

7. Seluruh staf pengajar FKG USU terutama staf pengajar dan pegawai di

(7)

8. Teman-teman seperjuangan skripsi di Departemen Ortodonsia FKG

USU yakni Ade, Shieny, Sylvia, Yurika, Adicakra, Han, Dewi, Beka, Feby, Nina dan

Lia.

9. Sahabat-sahabat terkasih yakni David, Steven, Calvin, Simon, Chris, dan

Silvia Tok yang telah banyak membantu, mendukung dan memberikan semangat

untuk menyelesaikan skripsi ini.

Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih yang teristimewa kepada kedua

orangtua tercinta yakni Ayahanda Sutrisno dan Ibunda Lina atas segala kasih sayang,

doa dan dukungannya serta kepada yang tersayang saudara-saudara penulis yakni

Willius Wijaya dan Winna Wijaya yang selalu mendukung dan membantu penulis

kapan pun dan dimana pun berada.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penulisan

skripsi ini dan penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk

menghasilkan karya yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Akhir kata penulis megharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat

memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi pengembangan disiplin ilmu di

Fakultas Kedokteran Gigi khususnya Departemen Ortodonti.

Medan, 06 Februari 2013

Penulis,

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ...

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...

(9)

3.1 Jenis Penelitian ... 18

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 18

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 18

3.4 Variabel ... 19

3.5 Definisi Operasional ... 20

3.6 Alat dan Bahan ... 20

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 22

3.8 Pengolahan dan Analisis Data ... 22

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 23

BAB 5 PEMBAHASAN ... 26

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 30

6.2 Saran ... 31

DAFTAR PUSTAKA ... 32

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Distribusi Tipe Vertikal Wajah Berdasarkan Analisis Steiner……… 23

2. Distribusi Tipe Vertikal Wajah Berdasarkan Analisis Jefferson………… 24

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. (A) Sefalogram Frontal, (B) Sefalogram Lateral……….. 9

2. Titik – titik sefalometri pada jaringan keras………... 10

3. (A) Sudut SNA, (B) Sudut SNB, (C) Sudut ANB, (D) Sudut MP-SN , (E) Sudut Bidang Oklusal………. 13

4. Titik referensi pada analisis Jefferson……….. 15

5. Empat dataran pada analisis Jefferson………. 16

6. (A) Wajah yang pendek, (B) wajah yang panjang………... 17

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1 Kerangka teori

2 Kerangka konsep

3 Hasil uji intraoperator

4 Distribusi tipe vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner dan Jefferson

5 Kesesuaian tipe vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner dan Jefferson

6 Hasil pengukuran analisis Steiner dan Jefferson

(13)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Ortodonsia

Tahun 2013

William Wijaya

Gambaran Morfologi Vertikal Skeletal Wajah Berdasarkan Analisis Steiner

dan Jefferson

x + 34 halaman

Analisis sefalometri digunakan untuk menentukan morfologi skeletal fasial

seorang pasien. Ada beberapa analisis sefalometri yang dapat digunakan dokter gigi

antara lain analisis Steiner dan analisis Jefferson. Analisis Steiner menggunakan

parameter besar sudut, sedangkan analisis Jefferson menggunakan pengukuran linear.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran morfologi vertikal skeletal wajah

berdasarkan analisis Steiner dan Jefferson.

Jenis penelitian ini merupakan rancangan penelitian deskriptif untuk

mengetahui gambaran morfologi skeletal vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner

dan Jefferson. Sampel dalam penelitian ini adalah foto sefalometri pasien yang datang

ke klinik spesialis departemen ortodonti RSGMP FKG USU periode 2004-2008 dan

praktek swasta ortodontis yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

berjumlah 45 sefalogram.

Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan analisis Steiner persentase tipe

vertikal wajah pendek sebanyak 20%, 51,1% tipe normal, dan 28,9% tipe panjang.

(14)

tipe panjang. Kesesuaian antara analisis Steiner dan Jefferson yaitu tipe pendek pada

analisis Steiner mempunyai persentase 100% tipe pendek pada analisis Jefferson.

Tipe normal pada analisis Steiner mempunyai persentase 56,5% tipe pendek; 39,1%

tipe normal; dan 4,3% tipe panjang pada analisis Jefferson. Tipe panjang pada

analisis Steiner mempunyai persentase 23,1% tipe pendek; 38,5% tipe normal; dan

38,5% tipe panjang pada analisis Jefferson.

Perbedaan yang diperoleh antara tipe vertikal wajah berdasarkan kedua

analisis tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan parameter yang digunakan yaitu

linear dan sudut. Steiner mengklasifikasikan tipe vertikal wajah yang diperoleh dari

besar sudut MP-SN sedangkan Jefferson menggunakan jarak age 18 vertical arc

terhadap menton. Selain perbedaan parameter, perbedaan titik referensi jugadapat

mengakibatkan perbedaan hasil pada kedua analisis tersebut. Titik referensi pada

analisis Steiner yaitu titik S, N, Gn, dan Go, sedangkan pada analisis Jefferson titik

referensi adalah titik ANS, SOr dan Menton. Selain itu, variasi nilai MP-SN terhadap

tipe hyperdivergent (wajah panjang) dapat menyebabkan perbedaan penggolongan tipe vertikal wajah.

(15)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya, perawatan ortodonti adalah usaha pengawasan untuk

membimbing dan mengoreksi struktur dentofasial yang sedang tumbuh atau yang

sudah dewasa. Perawatan ortodonti yang dilakukan seperti mengkoreksi posisi gigi,

malrelasi dan malformasi struktur dentokraniofasial, serta mengatur oklusi antara gigi

yang satu dan lainnya.1 Tujuan dari perawatan ortodonti bukan hanya untuk kebutuhan estetis wajah, tetapi juga harus memperhatikan fungsi dan keseimbangan

struktur dentokraniofasial.2 Tsunori dkk. melaporkan bahwa setiap tipe wajah (wajah pendek / hypodivergent, normal atau panjang / hyperdivergent) mempunyai karakteristik morfologi yang berbeda-beda. Hal ini menjadi faktor penting dalam

merencanakan perawatan ortodonti.

Ricketts (cit, Jefferson 2004) menyatakan pentingnya meramalkan proporsi

normal wajah dan pengaruhnya terhadap kesehatan., seperti sendi temporomandibula,

gangguan pernafasan maupun gangguan tidur. Jefferson menyatakan orang yang

memiliki profil normal (proporsi wajahnya baik) jarang mengalami masalah nyeri

kraniofasial dan sakit kepala.

3

4

Pasien dengan tipe wajah panjang cenderung

mengalami masalah hambatan jalan nafas bagian atas, seperti pasien dengan wajah

adenoid .5,6 Sedangkan pasien dengan tipe wajah pendek cenderung mengalami masalah nyeri myofasial dan nyeri pada sendi temporomandibular.

Radiografi sefalometri lateral banyak digunakan dalam penelitian-penelitian

untuk menganalisa perubahan dimensi vertikal dan sagital terhadap maksila dan

mandibula.

4,6,7

8

Besar derajat inklinasi bidang mandibula terhadap basis kranium

menunjukkan rotasi mandibula dan menentukan dimensi vertikal wajah seseorang

apakah panjang, normal atau pendek.5,8,9 Mandibula dengan sudut gonium yang tinggi ( >37° ) menghasilkan dimensi vertikal wajah yang panjang dan pada kasus yang

(16)

sudut gonium yang rendah (<27°) menghasilkan dimensi vertikal wajah yang lebih

pendek.

Pertumbuhan wajah terdiri dari pertumbuhan dalam arah vertikal dan sagital.

10

9

Pertumbuhan vertikal wajah dipengaruhi oleh rotasi pertumbuhan mandibula.11,12 Jika pertumbuhan wajah bagian posterior yaitu pada pertumbuhan kondilus dalam keadaan

seimbang dengan pertumbuhan wajah bagian anterior yaitu pada pertumbuhan sutura

fasial dan pertumbuhan alveolar, maka diperoleh pertumbuhan vertikal wajah yang

sejajar tanpa melibatkan rotasi mandibula. Pertambahan pertumbuhan di regio

anterior menyebabkan rotasi mandibula searah jarum jam yaitu arah pertumbuhan

vertikal, sedangkan pertambahan pertumbuhan di regio posterior menyebabkan rotasi

mandibula yang berlawanan jarum jam yaitu arah pertumbuhan horizontal.9,13 Snodell dkk (cit, Bishara 1998) melakukan evaluasi longitudinal tentang perubahan

pertumbuhan dimensi transversal dan vertikal pada pasien yang berusia antara 4

sampai 20 tahun ditemukan bahwa pertumbuhan vertikal wajah lebih mendominasi

pertumbuhan wajah dibandingkan pertumbuhan wajah dalam arah transversal.

Pertumbuhan vertikal wajah meningkat antara 32% - 40% selama pertumbuhan pada

pria dan 19% - 20% selama pertumbuhan pada wanita.

Schudy menyatakan bahwa inklinasi bidang mandibula merupakan indikator

yang baik dalam menentukan rotasi mandibula. Sudut MP-SN yang kecil

mengindikasikan mandibula rotasi ke depan, sedangkan sudut yang besar

mengindikasikan mandibula rotasi ke belakang. Bjork menunjukkan batas bawah

mandibula mengalami perubahan selama pertumbuhan sehingga menutupi rotasi

rahang. Isaacson dkk (cit, Karlsen 1995) dalam studi yang dilakukannya menyatakan

orang dengan besar sudut MP-SN yang lebih kecil dari 26° tergolong hypodivergent

dan sudut lebih besar dari 38° tergolong tipe hyperdivergent. Lowe dkk menyatakan pasien dengan besar sudut MP-SN 37° atau lebih dari 37° digolongkan sebagai

hyperdivergent atau wajah panjang. Karlsen juga menyatakan hypodivergent

mempunyai besar sudut MP-SN 26° atau dibawahnya dan hyperdivergent mempunyai besar sudut MP-SN 35° atau diatasnya.

14

(17)

Studi analisis JCO tahun 2002 melaporkan prosedur diagnosis dan perawatan

ortodonti yang digunakan oleh para dokter gigi di Amerika Serikat pada tahun 1986,

1990, dan 1996. Hasil studi tersebut menunjukan bahwa 45% dari dokter gigi tersebut

memilih menggunakan analisis Steiner dibandingkan dengan analisis sefalometri

lainnya. Sementara itu, 58 % dokter gigi di Belanda menggunakan analisis Steiner,

22% menggunakan analisis Down dan sisanya menggunakan analisis sefalometri

lainnya.

Analisis sefalometri dapat membantu menentukan ketidakharmonisan antara

fasial dengan skeletal. Ada banyak analisis yang dapat digunakan, seperti Downs,

Steiner, Koski, Ricketts dan sebagainya. Menurut Jefferson, analisis-analisis tersebut

bermanfaat, tetapi kebanyakan tidak memberikan informasi yang cukup untuk

membantu menentukan diagnosis skeletal yang akurat. Selain itu, kebanyakan

analisis tersebut menentukan morfologi ideal wajah berdasarkan ras tertentu dan tidak

berdasarkan proporsi biologis.

16

17

Untuk mendiagnosis hubungan fasial-skeletal dengan baik dan akurat, analisis

yang digunakan harus dapat menilai hubungan anterior-posterior antara maksila dan

mandibula dengan basis kranial, dan juga hubungan vertikal antara mandibula dengan

basis kranial. Menurut Jefferson, analisis sefalometri yang ideal harus mudah

ditracing, mudah mendiagnosis, efisien, universal (dapat digunakan pada individu siapapun tanpa melihat ras, jenis kelamin dan umur), akurat, dan sesuai dengan

proporsi biologis. Analisis yang memenuhi kriteria tersebut adalah analisis Jefferson.

Analisis ini merupakan modifikasi dari analisis Sassouni.

4,17

Analisis Jefferson dapat

membantu mendiagnosis dan mengarahkan perawatan untuk memperoleh profil

wajah yang baik, posisi sendi temporomandibula yang baik, dan kesehatan

fisiologis.

Steiner menggunakan sudut MP-SN dalam analisis dimensi vertikal dengan

interpretasi sudut MP-SN yang lebih kecil mengindikasikan pola pertumbuhan wajah

ke arah depan dan berlawanan arah jarum jam menyebabkan wajah pendek

(hypodivergent) sedangkan nilai sudut MP-SN yang lebih besar mengindikasikan

(18)

pola pertumbuhan wajah ke arah bawah dan searah jarum jam menyebabkan wajah

panjang (hyperdivergent). Nilai normal rata-rata sudut MP-SN adalah 32° 2,9,18 Tipe vertikal wajah menurut Steiner dibagi menjadi 3 yaitu tipe pendek dengan besar sudut

MP-SN <27°, tipe normal dengan MP-SN 27°-37° dan tipe panjang dengan MP-SN

>37°. Jefferson menggunakan panduan busur umur dalam analisis vertikalnya yaitu

age 4 vertical arc dan age 18 vertical arc. Pasien yang berusia 18 tahun keatas dikatakan berwajah pendek apabila menton tidak mencapai age 18 vertical arc

dengan jarak > 2mm, berwajah panjang apabila menton melewati age 18 vertical arc

dengan jarak > 2mm dan berwajah normal apabila menton berada pada age 18 vertical arc dengan jarak ± 2 mm.

Di Indonesia, analisis Steiner merupakan analisis yang umum digunakan,

termasuk di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU, sedangkan analisis

Jefferson masih belum begitu diaplikasikan penggunaaannya. Berdasarkan uraian di

atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran morfologi

skeletal wajah dalam dimensi vertikal berdasarkan analisis Steiner dan Jefferson.

4,17

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran morfologi vertikal skeletal wajah berdasarkan

analisis Steiner?

2. Bagaimana prevalensi tipe vertikal skeletal wajah berdasarkan analisis

Steiner dan Jefferson?

3. Bagaimana prevalensi kesesuaian deskripsi tipe vertikal skeletal wajah

antara analisis Jefferson dan analisis Steiner?

(19)

Secara umum tujuan melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui

gambaran morfologi skeletal vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner dan analisis

Jefferson.

Tujuan khusus dalam melakukan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui prevalensi tipe vertikal skeletal wajah berdasarkan

analisis Steiner dan Jefferson.

2. Untuk mengetahui prevalensi kesesuaian deskripsi tipe vertikal skeletal

wajah antara analisis Steiner dan Jefferson.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai penunjang dalam diagnosis.

2. Sebagai pedoman dalam menyusun rencana perawatan.

(20)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pertumbuhan Skeletal Vertikal Wajah

Basis kranii anterior (Sella-Nasion) sering digunakan sebagai garis acuan

untuk menentukan kemiringan bidang mandibula (MP). Individu dengan sudut

MP-SN yang lebih besar akan cenderung memiliki wajah panjang karena rotasi mandibula

menjauhi maksila sehingga menghasilkan pertambahan panjang vertikal wajah.

Sebaliknya, individu dengan sudut MP-SN yang lebih kecil cenderung mempunyai

wajah yang lebih pendek karena rotasi mandibula mendekati maksila.

Rotasi mandibula dapat terjadi dalam dua arah, yaitu searah jarum jam atau

berlawanan arah jarum jam. Rotasi mandibula yang searah jarum jam mengarahkan

pertumbuhan mandibula ke bawah dan ke belakang. Ini menyebabkan pengurangan

overbite atau bahkan menjadi anterior open bite. Rotasi pertumbuhan mandibula

yang berlawanan arah jarum jam mengarahkan pertumbuhan mandibula ke atas dan

ke depan. Ini menyebabkan pertambahan overbite.

9,12

12,19

2.2. Tipe Pertumbuhan Vertikal Wajah

Schudy membagi tipe pertumbuhan vertikal wajah atas 2, yaitu :

a. Hypodivergent

Tipe pertumbuhan ini memiliki ciri wajah yang pendek dan lebar, biasanya

terdapat sudut bidang mandibular datar dan sudut gonial tertutup. Gigitan dalam

(deep bite) sering dijumpai pada pasien dengan jenis wajah ini. Contoh dari jenis wajah yang mempunyai kepala yang pendek dan lebar adalah maloklusi klas II

divisi 2.

b. Hyperdivergent 20,21

Tipe pertumbuhan ini memiliki ciri wajah yang panjang dan sempit. Ini

disebabkan rahang atas menunjukkan pertumbuhan vertikal yang berlebihan dan

(21)

terbuka (open bite). Pola pertumbuhan ini akan mengakibatkan lengkung dentoalveolar yang panjang dan sempit pada lengkung rahang atas dan menghasilkan

rotasi searah jarum jam mandibula selama pertumbuhan. 20,21

2.3. Radiografi Sefalometri

Radiografi sefalometri adalah metode standar untuk mendapatkan gambaran

radiografi tulang tengkorak yang bermanfaat untuk membuat rencana perawatan dan

memeriksa perkembangan dari pasien yang sedang menjalani perawatan ortodonti.2

2.3.1. Sejarah radiografi sefalometri

Penemuan sinar-X pada tahun 1985 oleh Rontgen berpengaruh terhadap

perkembangan ilmu kedokteran gigi. Penemuan tersebut telah memfasilitasi metode

untuk memperoleh gambaran kranio fasial dengan akurasi yang baik. Pada tahun

1922, Paccini membuat suatu standarisasi posisi pengambilan foto radiografi kepala

yaitu dengan memposisikan subjek terhadap kaset film sejauh 2 meter dari tabung

sinar-X.17,22,23 Pada tahun 1931, Boardbent di Amerika Serikat dan Hofrath di Jerman mempresentasikan suatu teknik sefalometri dengan menggunakan mesin sinar-X

berkekuatan tinggi dan sebuah penopang kepala yang disebut cephalostat. Hasil dari

foto sefalometri disebut sefalogram.17,22

2.3.2. Kegunaan radiografi sefalometri

Sefalometri merupakan salah satu pilar dalam diagnosis ortodontik dan dalam

penentuan rencana perawatan. Adapun kegunaan sefalometri dalam bidang ortodonti

yaitu:

a. Studi pertumbuhan kraniofasial. Sefalogram telah membantu menyediakan

informasi tentang beragam pola pertumbuhan, gambaran struktur kraniofasial yang

baik, memprediksi pertumbuhan, dan memprediksi kemungkinan dampak dari

rencana perawatan ortodontik.

(22)

b. Diagnosis kelainan kraniofasial. Sefalogram digunakan dalam

mengidentifikasi, menentukan gambaran dan melihat kelainan dentokraniofasial.

Permasalahan utama dalam hal ini adalah perbedaan antara malrelasi skeletal dan

dental.

c. Rencana Perawatan. Sefalogram digunakan untuk mendiagnosis dan

memprediksi morfologi kraniofasial serta kemungkinan pertumbuhan di masa yang

akan datang. Hal tersebut dilakukan dengan menyusun rencana perawatan yang baik

dan benar.

d. Evaluasi Pasca Perawatan. Sefalogram yang diperoleh dari awal hingga

akhir perawatan dapat digunakan dokter gigi spesialis ortodonti untuk mengevaluasi

dan menilai perkembangan perawatan yang dilakukan serta dapat digunakan sebagai

pedoman perubahan perawatan yang ingin dilakukan.

e. Studi kemungkinan relaps. Sefalometri membantu untuk mengidentifikasi

penyebab relapse nya perawatan ortodonti dan stabilitas dari maloklusi yang telah

dirawat.

2.3.3. Tipe sefalogram

Ada 2 jenis sefalogram yang dapat diperoleh yaitu:

a. Sefalogram Frontal

2

Gambar 1A menunjukkan gambaran tulang tengkorak kepala dari depan.

b. Sefalogram Lateral

Gambar 1B menunjukkan gambaran tulang tengkorak kepala dari samping

(lateral). Sefalogram lateral ini diambil dengan posisi kepala berada pada jarak

(23)

( A ) ( B )

Gambar 1. (A)Sefalogram Frontal, (B) Sefalogram Lateral2

2.3.4. Penggunaan titik-titik sefalometri dalam analisis jaringan keras

Gambar 2 menunjukkan titik-titik sefalometri pada jaringan keras yang biasa

digunakan dalam analisis sefalometri, yaitu:

a. Sella ( S ) : titik pusat geometric dari fossa pituitary.

2,22-24

b. Nasion ( N ) : titik yang paling anterior dari sutura fronto nasalis atau

sutura antara tulang frontal dan tulang nasal.

c. Orbitale ( Or ) : titik paling rendah dari dasar rongga mata yang terdepan.

d. Sub-spina ( A ): titik paling cekung di antara spina nasalis anterior dan

prosthion, biasanya dekat apeks akar gigi insisivus sentralis maksila.

e. Supra-mental ( B ) : titik paling cekung di antara infra dental dan pogonion

dan biasanya dekat apeks akar gigi insisivus sentralis mandibula.

f. Pogonion ( Pog ) : titik paling depan dari tulang dagu.

g. Gnathion ( Gn ) : titik di antara pogonion dan menton.

h. Menton ( Me ) : titik paling bawah atau inferior dari tulang dagu.

i. Articulare ( Ar ) : titik perpotongan antara batas posterior ramus dan batas

(24)

j. Gonion ( Go ) : titik bagi yang dibentuk oleh garis bagi dari sudut yang

dibentuk oleh garis tangen ke posterior ramus dan batas bawah dari mandibula.

k. Porion ( Po ) : titik paling superior dari meatus acusticus externus.

l. Pterygomaxilary ( PTM ) : Kontur fissura pterygomaxilary yang dibentuk

di anterior oleh tuberositas retromolar maksila dan di posterior oleh kurva anterior

dari prosesus pterygoid dari tulang sphenoid.

m. Spina Nasalis Posterior ( PNS ) : Titik paling posterior dari palatum

durum.

n. Anterior nasal spine ( ANS ) : Ujung anterior dari prosesus maksila pada

batas bawah dari cavum nasal.

o. Basion ( Ba ) : Titik paling bawah dari foramen magnum.

p. Bolton : Titik paling tinggi pada kecekungan fosa di belakang kondil

osipital.

(25)

2.4. Analisis Sefalometri

Ada banyak analisis sefalometri dapat membantu menentukan hubungan

antara fasial dengan skeletal, seperti Downs, Steiner, Koski, Ricketts dan sebagainya.

Analisis yang digunakan harus dapat menilai hubungan anterior-posterior antara

maksila dan mandibula dengan basis kranial, dan juga hubungan vertikal antara

mandibula dengan basis kranial sehingga diagnosis yang dihasilkan akurat. Menurut

Jefferson, analisis sefalometri yang ideal harus mudah di-tracing, mudah untuk mendiagnosis, efisien, universal (dapat digunakan pada individu siapapun tanpa

melihat ras, jenis kelamin, umur, dan sebagainya), akurat, dan sesuai dengan proporsi

biologis.2,4,17

2.4.1. Analisis Steiner

Steiner (cit, Singh 2007) mengembangkan analisis ini untuk memperoleh

informasi klinis dari pengukuran sefalometri lateral. Steiner membagi analisisnya atas

3 bagian yaitu skeletal, dental dan jaringan lunak.2

1. Analisis skeletal mencakup hubungan rahang atas dan rahang bawah

terhadap tulang tengkorak.

2. Analisis dental mencakup hubungan insisivus rahang atas dan rahang

bawah.

3. Analisis jaringan lunak mencakup keseimbangan dan estetika profil wajah

bagian bawah.

Gambar 3 menunjukkan analisis skeletal Steiner dengan 5 sudut pengukuran

yang digunakan antara lain:2 a. Sudut SNA

Sudut ini terbentuk dari pertemuan garis Sella - Nasion dan garis Nasion -

titik A. Besar sudut SNA menyatakan hubungan anteroposterior maksila terhadap

basis kranium. Nilai normal rata-rata SNA adalah 82° ± 2°. Apabila nilai SNA lebih

besar, maka maksila diindikasikan mengalami prognasi. Apabila nilai SNA lebih

(26)

b. Sudut SNB

Sudut ini terbentuk dari pertemuan garis Sella - Nasion dan garis Nasion -

titik B. Besar sudut SNB menyatakan hubungan antero-posterior mandibula terhadap

basis kranium. Nilai normal rata-rata SNB adalah 80° ± 2°. Apabila nilai SNB lebih

besar, maka mandibula diindikasikan mengalami prognasi. Apabila nilai SNB lebih

kecil, maka mandibula diindikasikan mengalami retrognasi.

c.Sudut ANB

Sudut ini terbentuk dari pertemuan garis Nasion - titik A dan garis Nasion -

titik B. Besar sudut ANB menyatakan hubungan maksila dan mandibula. Nilai

normal rata-rata ANB adalah 2° ± 2°. Apabila nilai ANB lebih besar, maka

diindikasikan kecenderungan hubungan klas II skeletal. Apabila nilai ANB lebih

kecil, maka diindikasikan kecenderungan hubungan klas III skeletal.

d. Sudut MP-SN

Sudut ini terbentuk dari pertemuan garis Sella - Nasion dan dataran mandibula

(Gonion-Gnathion). Nilai normal rata-rata sudut MP-SN adalah 32° ± 5°. Besar sudut

MP- SN menyatakan indikasi pola pertumbuhan wajah seseorang. Nilai sudut MP-

SN yang lebih kecil mengindikasikan pola pertumbuhan wajah ke arah horizontal

sedangkan nilai sudut MP-SN yang lebih besar mengindikasikan pola pertumbuhan

wajah ke arah vertikal. Inklinasi bidang mandibula sangat menentukan dimensi

vertikal wajah (tinggi, sedang atau pendek). Tipe vertikal wajah menurut Steiner

dibagi menjadi 3 yaitu tipe pendek dengan besar sudut MP-SN <27°, tipe normal

dengan MP-SN 27°-37° dan tipe panjang dengan MP-SN >37°.

e. Sudut Dataran Oklusal

Sudut ini terbentuk dari pertemuan garis Sella-Nasion dan dataran oklusal

Nilai normal rata-rata sudut ini adalah 14,5°. Besar sudut ini menyatakan hubungan

dataran oklusal terhadap kranium dan wajah serta mengindikasikan pola pertumbuhan

(27)

Gambar 3. ( A ) Sudut SNA, ( B ) Sudut SNB, ( C ) Sudut ANB, ( D ) Sudut MP-SN,

(28)

2.4.2. Analisis Jefferson

Analisis Jefferson merupakan modifikasi dari analisis Sassouni, yang disebut

juga analisis skeletal archial. Analisis ini diperkenalkan pada bulan Maret tahun 1990. Jefferson mengatakan bahwa analisis yang dibuatnya lebih praktis, cepat dan

mudah dilakukan.

Gambar 4 menunjukkan batas anatomi pada analisis ini hampir sama dengan

analisis Steiner. Landmarks yang digunakan yaitu:

4,17

d. Greater wing of sphenoid

e. Ethmoid cribiform plate

f. Lateral wall of orbit

Setelah semua batas anatomi telah digambar, kemudian ditentukan titik-titik

sefalometri yang digunakan. Gambar 4 menunjukkan titik tersebut antara lain :17 1. SOr ( Supra Orbitale ) : titik paling anterior dari perpotongan bayangan

roof dengan kontur orbital lateralnya.

2. SI ( Sella Inferior ) : titik paling bawah dari sella tursica.

3. N ( Nasion ) : titik paling superior sutura frontonasal pada

cekungan batang hidung.

4. ANS : titik paling anterior dari maksila.

5. PNS : titik paling posterior dari maksila pada dataran sagital.

6. P ( Pogonion ) : bagian paling anterior dari dagu.

7. M ( Menton ) : titik paling inferior dari dagu.

8. CG ( Constructed Gonion ) : perpotongan 2 garis yaitu, garis dari artikular sejajar tangen posterior ramus dan garis dari menton sejajar tangen batas

(29)

Gambar 4. Titik referensi pada analisis Jefferson17

Dalam analisisnya Jefferson menggunakan 4 dataran sebagai patokan

pengukuran, sama dengan analisis Sassouni. Perbedaannya, Jefferson tidak

menggunakan dataran paralel tetapi digantikan dengan dataran kranial. Adapun 4

dataran yang digunakan, yaitu:17

1. Dataran Kranial : dataran yang dibentuk dari garis dari SOr menuju SI. (gambar 5)

2. Dataran Palatal : dataran yang dibentuk dari garis dari ANS menuju

PNS.

3. Dataran Oklusal : dataran yang dibentuk dari dataran oklusal fungsional

melalui titik kontak premolar dan molar.

4. Dataran Mandibula : dataran yang dibentuk dari menton melalui tangen

(30)

Gambar 5. Empat dataran pada analisis Jefferson17

Analisis Jefferson menggunakan 3 busur referensi untuk menentukan

disharmoni hubungan skeletal dan wajah. Tiga busur tesebut adalah anterior arc, age 4 vertical arc, dan age 18 vertical arc. Anterior arc digunakan untuk menilai posisi antero-posterior maksila dan mandibula. Age 4 vertical arc menggambarkan tinggi vertikal wajah dari mandibula pada saat umur 4 tahun. Age 18 vertical arc

menggambarkan tinggi vertikal wajah dari mandibula pada umur 18 tahun.

Dalam analisis anteroposterior Jefferson, perpanjangan keempat garis dataran

kranial, palatal, oklusal dan mandibula akan diperoleh titik sentral “O”. Titik sentral

“O” diperoleh dengan menentukan jarak vertikal yang paling dekat antara garis paling

superior dan inferior yang dibentuk dari keempat dataran tersebut. Titik tengah dari

jarak vertikal yang telah ditentukan tersebut adalah titik Center “O”. Anterior arc

diperoleh dengan bantuan jangka yaitu meletakkan bagian tajam jangka pada titik O

dan bagian pensil pada nasion kemudian rotasikan jangka sampai melewati dagu.

4,17 Dataran Kranial

Dataran Palatal

Dataran Oklusal

Dataran Mandibula Center

(31)

Dalam analisis vertikalnya, Jefferson menggunakan age 4 vertical arc dan age 18 vertical arc. Pertumbuhan vertikal wajah dimulai dari umur 4 tahun, dimana terjadi kenaikan tinggi wajah bagian bawah sebesar 0,75 mm setiap tahunnya dan

berhenti pada saat umur 18 tahun. Age 4 vertical arc diperoleh dengan meletakkan bagian metal jangka pada titik ANS dan bagian pensil jangka pada titik SOr,

kemudian rotasikan jangka ke bagian menton dan buat garis arc. Age 18 vertical arc

diperoleh dengan menambahkan jarak 10 mm dari age 4 vertical arc.

Interpretasi vertikal dari analisis Jefferson adalah tinggi vertikal wajah

dikatakan ideal apabila menton berada pada age 4 vertical arc ketika pasien berumur 4 tahun. Dan ketika pasien berumur 18 tahun atau di atas 18 tahun, menton berada

pada age 18 vertical arc .

4,17

4,7,17

1. Tipe Pendek : apabila menton berada di atas age 18 vertical arc dengan jarak >2mm terhadap age 18 vertical arc.

Jefferson membagi tipe vertikal wajah menjadi 3.

yaitu:

2. Tipe Normal : apabila menton berada tepat atau masih dalam rentang jarak ± 2mm

terhadap age 18 vertical arc.

3. Tipe Panjang : apabila menton berada di bawah age 18 vertical arc dengan jarak >2mm terhadap age 18 vertical arc.

Tipe vertikal wajah pendek dan panjang ditunjukkan pada gambar 6.

( A ) ( B )

(32)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Merupakan rancangan penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran

morfologi skeletal vertikal wajah berdasarkan analisis Jefferson dan Steiner.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di klinik Ortodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut

Pendidikan FKG USU, Jalan Alumni No. 2 Kampus USU Medan. Penelitian

dimulai dar i bulan Juli 2012 sampai dengan Desember 2012.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah foto sefalometri pasien yang hendak

melakukan perawatan ortodonti di Klinik Spesialis Departemen Ortodonti RSGMP

FKG USU dan praktek swasta ortodontis Medan.

Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan rumus:

n = ( 2.p.q d

Keterangan:

2

n = Jumlah sampel minimum

Zα = Confidence Level, untuk α = 95 %  Zα = 1,96 p = proporsi penelitian  0,5

q = 1 – p = 0,5

(33)

sehingga, n = (1,96)2. 0,5. 0,5 0,15

n = 42.6844  43

Jumlah sampel minimum yang dibutuhkan adalah 43.

2

Pada penelitian ini sampel dipilih dengan purposive sampling yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria inklusi sampel yaitu:

1. Adanya foto sefalometri lateral pasien.

2. Usia pasien di atas 18 tahun.

3. Pasien memiliki oklusi gigi molar lengkap.

Kriteria eksklusi sampel yaitu:

1. Foto sefalometri lateral tidak dapat terbaca

3.4. Variabel

a. Steiner : tipe wajah pendek, normal dan panjang

b. Jefferson : tipe wajah pendek, normal dan panjang

3.4.3. Variabel terkendali

a. Foto sefalometri diambil di Laboratorium Pramita.

b. Teknik pengambilan rontgen.

3.4.4. Variabel tidak terkendali

a. Jenis Kelamin

(34)

3.5 Definisi Operasional

3.5.1. Sudut MP-SN adalah besar sudut yang dibentuk dari garis sella ke

nasion dan garis bidang mandibular (gonion-gnathion).

3.5.2. Age 4 vertical arc adalah arc yang diperoleh dengan putaran jangka ke bawah dari pusat titik ANS ke supraorbital menuju menton.

3.5.3. Age 18 vertical arc adalah arc yang diperoleh dengan putaran jangka ke bawah dari pusat titik ANS ke supraorbital menuju menton dan

tambahkan 10 mm.

3.5.4. ANS adalah titik paling anterior dari prosesus maksila pada batas

bawah dari cavum nasal.

3.5.5. SOr adalah titik paling anterior dari perpotongan bayangan roof orbita

dengan kontur orbital lateralnya.

3.5.6 Menton adalah titik paling inferior dari dagu.

3.6. Alat dan Bahan

3.6.1. Alat penelitian yang digunakan :

a. Pensil 4H merek Faber Castle

3.6.2. Bahan penelitian yang digunakan :

a. Sefalogram lateral pasien yang datang ke klinik spesialis Departemen

Ortodonti RSGMP FKG USU dan praktek swasta ortodontis Medan.

(35)

(A) (B)

(C) (D)

(E) (F)

Gambar 7. Alat dan bahan yang digunakan; (A) Tracing Box (B) Penghapus, Pensil 4H,

(36)

3.7. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengukuran pada setiap

sefalogram lateral dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

1. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan tracing sefalogram lateral

yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di bagian klinik spesialis departemen

ortodonti RSGMP FKG USU dan praktek swasta ortodontis Medan.

2. Tracing dilakukan menggunakan kertas asetat di atas tracing box.

3. Penentuan dan penarikan titik-titik yang akan digunakan pada analisis

Steiner dan analisis Jefferson.

4. Pengukuran besar sudut pada analisis Steiner (sudut MP-SN).

5. Pengukuran linear pada analisis Jefferson (vertical arc).

6. Sebelum melakukan pengukuran, peneliti melakukan uji intraoperator

untuk mengetahui ketelitian peneliti dalam melakukan pengukuran. Hal ini

dikarenakan setiap pengulangan pengukuran belum tentu mendapatkan hasil yang

sama dengan pengukuran pertama. Uji intraoperator dilakukan dengan mengambil 5

sampel secara acak dari pengukuran pertama dan pengukuran kedua kemudian dicari

standar deviasi dari kedua pengukuran tersebut. Uji T kemudian dilakukan untuk

melihat apakah ada perbedaan bermakna antara pengukuran pertama dengan kedua.

Jika tidak ada perbedaan bermakna, maka peneliti dapat melanjutkan pengukuran

dengan melakukan satu kali pengukuran saja.

7. Hasil pengukuran kemudian ditabulasi dan dikelompokan.

3.8. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer untuk

menghitung prevalensi tipe wajah berdasarkan analisis Steiner dan analisis Jefferson

(37)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Sampel penelitian berjumlah 45 foto sefalometri lateral pasien yang diperoleh

dari rekam medik milik klinik spesialis RSGMP FKG USU periode 2004-2008 dan

praktek swasta ortodontis di Medan yang memenuhi kriteria yang telah

ditetapkan.Pengukuran analisis sefalometri dilakukan menggunakan analisa Steiner

dan Jefferson. Kemudian hasil pengukuran dikategorikan menurut tipe vertikal wajah

apakah pendek, normal atau panjang.

Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan terhadap sefalogram, dapat

dilihat prevalensi tipe vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner dan Jefferson dan

juga kesesuaian antara analisis Steiner dan Jefferson pada tabel 1,2, dan 3.

Tabel 1. DISTRIBUSI TIPE VERTIKAL WAJAH BERDASARKAN ANALISIS STEINER

No. Tipe Vertikal Wajah Jumlah (n=45) Persentase (%)

1 Pendek 9 20.0

2 Normal 23 51.1

3 Panjang 13 28.9

Tabel 1 menunjukkan prevalensi tipe vertikal wajah berdasarkan analisis

Steiner yang diperoleh dari hasil penelitian adalah pendek (20,0%), normal (51,1%)

(38)

Tabel 2. DISTRIBUSI TIPE VERTIKAL WAJAH BERDASARKAN ANALISIS JEFFERSON

No. Tipe Vertikal Wajah Jumlah (n=45) Persentase (%)

1 Pendek 25 55.6

2 Normal 14 31.1

3 Panjang 6 13.3

Tabel 2 menunjukkan prevalensi tipe vertikal wajah berdasarkan analisis

Jefferson yang diperoleh dari hasil penelitian adalah pendek (55,6%), normal (31,1%)

dan panjang (13,3%).

Tabel 3. PREVALENSI KESESUAIAN DESKRIPSI TIPE VERTIKAL WAJAH

ANTARA ANALISIS STEINER DENGAN JEFFERSON

Tipe Vertikal Wajah

Jefferson

Pendek Normal Panjang

Jumlah Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Steiner Pendek 9 9 100.0 0 .0 0 .0

Normal 23 13 56.5 9 39.1 1 4.3

Panjang 13 3 23.1 5 38.5 5 38.5

(39)

Tabel 3 menunjukkan prevalensi kesesuaian deskripsi antara tipe vertikal

wajah antara analisis Steiner dengan Jefferson. Dari 9 sampel yang tergolong tipe

wajah pendek berdasarkan analisis Steiner mempunyai kesesuaian 100% dengan

analisis Jefferson. Dari 23 sampel yang tergolong tipe wajah normal berdasarkan

analisis Steiner, hanya 9 sampel yang termasuk kategori tipe wajah normal

berdasarkan analisis Jefferson. Dari 13 sampel yang tergolong tipe wajah panjang

berdasarkan analisis Steiner, hanya 5 sampel yang termasuk tipe wajah panjang

berdasarkan analisis Jefferson. Prevalensi kesesuaian deskripsi untuk tipe wajah

(40)

BAB 5

PEMBAHASAN

Penentuan tipe vertikal wajah merupakan salah satu faktor penting dalam

merencanakan perawatan ortodonti.3 Tujuan dari perawatan ortodonti bukan hanya untuk kebutuhan estetis wajah, tetapi juga harus memperhatikan fungsi dan

keseimbangan struktur dentokraniofasial.2 Ada banyak analisis sefalometri yang dapat menentukan analisis vertikal wajah, namun dalam penelitian ini hanya menggunakan

2 analisis yakni analisis Steiner dan Jefferson. Alasan pemilihan analisis Steiner

adalah dikarenakan analisis ini merupakan analisis yang paling umum dan sering

digunakan oleh praktisi ortodonti untuk menentukan pertumbuhan vertikal wajah

sedangkan analisis Jefferson baru digunakan oleh kalangan tertentu.16,17 Kelebihan dari analisis Jefferson adalah analisis ini mudah diterapkan dan tidak dipengaruhi ras

individu dan pengukuran sudut tetapi lebih kepada kesesuaian morfologi wajah tiap

individu untuk memperoleh suatu analisis vertikal wajah yang baik.

Tipe vertikal wajah dapat ditentukan dengan melakukan tracing dan

pengukuran pada sefalometri lateral menggunakan analisis Steiner dan Jefferson.

Steiner menggunakan pengukuran sudut dalam penentuannya dan Jefferson

menggunakan pengukuran linear sehingga hasil penentuan tipe vertikal wajah antar

kedua analisis tersebut belum tentu sama.

17

2,17

Gambaran morfologi skeletal vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner dan

Jefferson mempunyai metode pengukuran yang berbeda. Steiner menggunakan

pengukuran sudut yaitu besar sudut yang dibentuk oleh pertemuan titik MP

(Gonion-Gnathion) dan SN (Sella Turcica-Nasion).

Penelitian ini bertujuan untuk melihat

prevalensi kesesuaian deskripsi tipe vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner dan

Jefferson. Penelitian ini diharapkan dapat menunjang diagnosis ortodonti dalam

menyusun rencana perawatan serta sebagai informasi dalam bidang ortodonti.

2

Dari hasil besar sudut tersebut kemudian

dikelompokkan ke dalam tipe vertikal wajah apakah pendek, normal atau panjang.

(41)

vertical arc terhadap menton.17

Tabel 1 menunjukkan hasil pengukuran dimana dari 45 sampel yang

dikelompokkan berdasarkan analisis Steiner, terdapat 9 sampel dengan tipe vertikal

wajah pendek, 23 sampel dengan tipe vertikal wajah normal, dan 13 sampel dengan

tipe vertikal wajah panjang.

Dari besar nilai jarak tersebut kemudian

dikelompokkan ke dalam tipe vertikal wajah pendek, normal atau panjang.

Karlsen menyatakan bahwa pertumbuhan vertikal wajah yang berlebihan pada

kasus hyperdivergent terjadi karena sudut bidang mandibula yang curam (>37°) mendorong pertumbuhan korpus lebih kearah bawah.12 Isacsson dkk menyatakan rotasi mandibula pada masa pertumbuhan merupakan faktor utama dalam

perkembangan maloklusi. Rotasi mandibula se arah jarum jam terlihat pada kasus

retrognasi dan gigitan terbuka tipe skeletal, rotasi berlawanan jarum jam pada kasus

prognasi dan gigitan dalam tipe skeletal. Variasi arah pertumbuhan yang ditimbulkan

oleh rotasi mandibula tidak hanya merupakan faktor dalam perkembangan maloklusi

tetapi juga memegang peranan penting dalam hasil perawatan.

Snodell dkk (cit, Bishara 1998) menyatakan pertumbuhan vertikal wajah

meningkat antara 32% - 40% selama pertumbuhan pada pria dan 19% - 20% selama

pertumbuhan pada wanita.

13

14

Arwelli juga menyatakan sudut MP-SN menunjukkan

perbedaan pola wajah vertikal (wajah pendek atau tinggi) yang berperan pada

pertumbuhan dan bentuk dasar apikal maksila dan mandibula.

Tabel 2 menunjukkan hasil pengukuran dimana dari 45 sampel yang

dikelompokkan berdasarkan analisis Jefferson, terdapat 25 sampel dengan tipe

vertikal wajah pendek, 14 sampel dengan tipe vertikal wajah normal, dan 6 sampel

dengan tipe vertikal wajah panjang. Hasil ini menunjukkan tipe vertikal wajah yang

dianalisis dengan analisis Jefferson sebagian besar dikelompokkan menjadi tipe

vertikal wajah pendek. Hal ini dimungkinkan karena parameter yang digunakan

dalam analisis Jefferson merupakan pengukuran linear dan penentuan idealnya

vertikal wajah ditentukan titik supraorbita, ANS, menton dan age 18 vertical arc.

(42)

Bjork menyatakan bahwa rotasi mandibula ke arah depan pada pasien dengan

tipe wajah pendek mempengaruhi erupsi gigi dan pada kasus tertentu bahkan dapat

meningkatkan kemungkinan timbul gigitan dalam yang lebih parah serta gigi anterior

mandibula berjejal.27 Jefferson menyatakan individu dengan tipe wajah pendek sering terjadi penekanan sendi temporomandibula akibat tidak ada ruang yang cukup antara

artikular sendi temporomandibula dan fossa glenoid. Ini dapat menyebabkan

timbulnya popping, clicking, sakit kepala, dan migrain.6 Roy dkk menyatakan bahwa tipe vertikal wajah dapat dihubungkan dengan pola morfologi dentoalveolar maksila

dan mandibula. Penentuan hubungan ini dapat membantu diagnosis maupun kuratif

masalah-masalah maloklusi dari aspek vertikal.

Tabel 3 menunjukkan prevalensi kesesuaian deskripsi tipe vertikal wajah

berdasarkan analisis Steiner dan Jefferson. Steiner dan Jefferson mengkategorikan

tipe vertikal wajah menjadi 3 yaitu pendek, normal dan panjang. Dari hasil penelitian

diperoleh 9 sampel tipe wajah pendek berdasarkan analisis Steiner ketika dicocokkan

juga termasuk tipe wajah pendek berdasarkan analisis Jefferson. Namun dari 23

sampel yang tipe vertikal wajahnya normal berdasarkan analisis Steiner ketika

dikelompokkan menurut Jefferson diperoleh 13 sampel dengan tipe wajah pendek, 9

sampel dengan tipe wajah normal dan 1 sampel dengan tipe wajah panjang. 13

sampel yang tipe vertikal wajahnya panjang menurut Steiner ketika dikelompokkan

menurut Jefferson diperoleh 3 sampel dengan tipe wajah pendek, 5 sampel dengan

tipe wajah normal dan 5 sampel dengan tipe wajah panjang. Prevalensi kesesuaian

deskripsi untuk tipe wajah pendek adalah 100%, tipe wajah normal 39,1% dan tipe

wajah panjang 38,5%.

28

Perbedaan yang diperoleh antara tipe vertikal wajah berdasarkan kedua

analisis tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan parameter yang digunakan yaitu

linear dan sudut. Steiner mengklasifikasikan tipe vertikal wajah yang diperoleh dari

besar sudut MP-SN sedangkan Jefferson menggunakan jarak age 18 vertical arc

terhadap menton. Selain perbedaan parameter, perbedaan titik referensi juga dapat

mengakibatkan perbedaan hasil pada kedua analisis tersebut. Titik referensi pada

(43)

referensi adalah titik ANS, SOr dan Menton. Selain itu, variasi nilai MP-SN terhadap

pertumbuhan hyperdivergent (wajah panjang) dalam beberapa penelitian dapat menyebabkan perbedaan penggolongan tipe vertikal wajah. Isaccson menyatakan

hyperdivergent apabila besar sudut MP-SN >38°, Lowe menyatakan hyperdivergent

apabila besar sudut MP-SN >37°, dan Karlsen menyatakan hyperdivergent apabila besar sudut MP-SN >35°.15

Dari hasil penelitian ditemukan beberapa ketidaksesesuaian deskripsi

morfologi skeletal vertikal wajah antara analisis Steiner dan Jefferson sehingga ada

baiknya dilakukan penelitian menggunakan sampel yang lebih homogen yaitu sampel

dengan tipe ras yang sama dan tipe wajah normal (MP-SN 27°-37°). Penelitian

tentang analisis Jefferson ini dapat digunakan untuk mendiagnosa dini permasalahan

vertikal wajah pada tahap awal pertumbuhan anak sehingga dapat dilakukan

perawatan interseptif yaitu dengan memodifikasi pertumbuhan dan perkembangan. Peneliti sendiri menggunakan besar sudut MP-SN >37°

(44)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Distribusi tipe vertikal wajah berdasarkan analisis Steiner adalah 20%

pendek, 51.1% normal dan 28,9% panjang. Sedangkan distribusi tipe vertikal wajah

berdasarkan analisis Jefferson adalah 55,6% pendek, 31,1% normal dan 13,3%

panjang.

2. Prevalensi kesesuaian deskripsi untuk tipe wajah pendek adalah 100%, tipe

wajah normal 39,1% dan tipe wajah panjang 38,5%.

3. Perbedaan tipe vertikal wajah tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan

parameter dan titik referensi yang digunakan. Selain itu, variasi nilai MP-SN terhadap

pertumbuhan hyperdivergent (wajah panjang) dapat menyebabkan perbedaan penggolongan tipe vertikal wajah.

4. Penelitian tentang analisis Jefferson ini dapat digunakan untuk

mendiagnosa dini permasalahan vertikal wajah pada tahap awal pertumbuhan anak

sehingga dapat dilakukan perawatan interseptif yaitu dengan memodifikasi

pertumbuhan dan perkembangan.

5. Gambaran morfologi skeletal vertikal wajah lebih mudah dibaca

menggunakan analisis Jefferson dibandingkan dengan analisis Steiner disebabkan

dalam analisis Steiner ada penggolongan nilai normal berdasarkan jenis kelamin dan

ras sedangkan dalam analisis Jefferson tidak ada pengaruh jenis kelamin dan ras.

Selain itu, hasil gambaran morfologi skeletal vertikal wajah dengan menggunakan

analisis Jefferson lebih memudahkan peneliti untuk melihat kecenderungan tipe

vertikal wajah pasien, Hal ini yang menjadi dasar mengapa peneliti lebih memilih

(45)

6.2Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel

yang lebih homogen agar didapatkan validitas yang lebih tinggi dan lebih spesifik.

2. Perlu dilakukan penelitian terhadap hubungan antara tinggi vertikal wajah

(46)

DAFTAR PUSTAKA

1. Mokhtar M. Dasar-Dasar Ortodonti. Medan: Bina Insani Pustaka, 2002. 2. Singh G. Textbook of Orthodontics. 2nd

3. Tsunori M, Mashita M, Kasai K. Relationship between facial types and tooth and bone characteristics of the mandible obtained by CT scanning. Angle Orthod 1998; 68: 557-62.

Ed. New Delhi: Jaypee Brothers

Medical Publishers,2007.

4. Jefferson Y. Facial beauty-establishing a universal standard. IJO. 2004; 15(1): 9-22.

5. Suminy D, Zen Y. Hubungan antara maloklusi dengan hambatan saluran pernafasan. Maj Ked Gi. 2007; 22(1): 32-40.

6. Jefferson Y. Temporomandibular disorder and sleep apnea treatment. 2009.

7. Jefferson Y. Jefferson philosophy on facial beauty. 2009. www.facialbeauty.com.

8. Chen F, Terada K, Wu L, Saito I. Dental arch widths and

mandibular-maxillary base width in class III malocclusions with low, average and high

MP-SN angles. Angle Orthodont. 2007; 77(1): 36-41.

9. Arwelli D, Hardjono S. Pengukuran sudut bidang mandibula pada analisa sefalometri. Maj Ked Gi. 2008; 15(1): 55-60.

10.Foster TD. Buku Ajar Ortodonsi. Alih Bahasa: drg. Lilian Yuwono. Jakarta: EGC, 1993: 73.

(47)

12.Karlsen AT. Association between facial height development and mandibular growth rotation in low and high MP-SN angle faces: A Longitudinal study. Angle Orthodont. 1997; 67(2): 103-110.

13.Isaacson JR, Isaacson RJ, Speidel TM, Worms FW. Extreme variation in vertical facial growth and associated variation in skeletal and dental relations. Angle Orthodont. 1971; 41(3): 219-229.

14.Bishara SE, Jakobsen JR. Changes in overbite and face height from 5 to 45 years of age in normal subjects. Angle Orthodont. 1998; 68(3): 209-216. 15. Karlsen AT. Craniofacial growth differences between low and high MP-SN

angle males: a longitudinal study. Angle Orthodont. 1995; 65(5): 341-350. 16.Abdullah RTH, Kuijpers MAR, Berge SJ, Katsaros C. Steiner cephalometric

analysis: predicted and actual treatment outcome compared. Orthod craniofacial. 2006; 9: 77-83.

17.Jefferson Y. Skeletal types: key to unraveling the mystery of facial beauty and its biologic significance. JGO. 1996; 7(2): 7-25.

18.Ferrario VF, Sforza C, Franco DJD. Mandibular shape and skeletal divergency. European Journal of Orthodontist. 1999; 21: 145-153.

19.Gill DS, Naini FB. Orthodontics Principles and Practice. Oxford: Wiley-Blackwell, 2011.

20.Premkumar S. Textbook of Craniofacial Growth. St. Louis : Jaypee Brothers Medical Publishers, 2011.

21.Enlow. Facial type. www.dentalpedia.ca/orthodontic-diagnosis/patient-orthodontic-examination/509-2/facial-type/. 20 Agustus 2012.

22.Athanasiou AE. Orthodontic Cephalometry. New York: Mosby-Wolfe, 1995. 23.Ghom AG. Textbook of Oral Radiology. New Delhi: Elsevier, 2008.

24.Moyers RE. Handbook of Orthodontics. 4th

25.Jacobson A. Radiographic Cephalometry: From Basics to Videoimaging. London: Quintessence Publishing Co, 1995.

Ed. London: Year Book Medical

Publishers, 1988.

(48)

27.Bjork, A. Prediction of Mandibular Growth. Am. J. Orthodontics. 1969; 55(6): 585-599.

(49)

LAMPIRAN 1

Kerangka Teori

Transversal Vertikal Sagital

Analisa Sefalometri Morfologi Skeletal

Prevalensi

Hypodivergent

(Wajah Pendek)

 Wajah Normal

Hyperdivergent

(Wajah Panjang)

Steiner Jefferson

 Wajah Pendek

 Wajah Normal

 Wajah Panjang

Sudut Bidang Mandibula (MP-SN)

Age 18 Vertical Arc

Age 4 Vertical Arc

(50)

LAMPIRAN 2

Kerangka Konsep

Variabel bebas

a. Sudut MP-SN

b. Jarak Age 18 vertical

arc terhadap menton

Variabel terikat

a. Steiner : tipe wajah pendek,

normal dan panjang

b. Jefferson : tipe wajah pendek,

normal dan panjang

Variabel terkendali

a. Alat foto sefalometri lateral

b. Teknik pengambilan rontgen

Variabel tidak terkendali

a. Jenis Kelamin

Gambar

Gambar 1. (A)Sefalogram Frontal, (B) Sefalogram Lateral2
Gambar 2. Titik – titik sefalometri pada jaringan keras26
Gambar 3. ( A ) Sudut SNA, ( B ) Sudut SNB, ( C ) Sudut ANB, ( D ) Sudut MP-SN,
Gambar 4. Titik referensi pada analisis Jefferson17
+5

Referensi

Dokumen terkait

Distribusi tipe vertikal wajah pasien Suku Batak berdasarkan analisis

persentase tipe morfologi vertikal skeletal wajah pada pasien Suku Batak di RSGMP. FKG USU berdasarkan

mengenai morfologi vertikal skeletal wajah pasien Suku Batak di RSGMP

Distribusi tipe vertikal wajah suku Batak Klas III skeletal adalah 100% tipe pendek/ hypodivergent , 0% tipe normal/ normodivergent , dan 0% tipe panjang/

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa distribusi tipe vertikal skeletal wajah pada ras-ras di Indonesia khususnya suku Batak belum cukup banyak. Berdasarkan uraian

Titik tengah “O” diperoleh dengan menentukan jarak vertikal yang paling dekat antara garis superior dan inferior yang dibentuk dari keempat dataran tersebut. Titik tengah dari

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer untuk menghitung persentase tipe vertikal skeletal wajah dengan relasi rahang Klas I, II, III pada pasien Suku Batak

Klas III yang mempunyai nilai ANB lebih kecil dari nilai normal ( ANB &lt; 0 ) dan profil wajah cembung. Nilai ANB yang lebih besar ini dapat disebabkan oleh 3 hal, yaitu maksila