Peran Modal Sosial dalam Mendorong Sektor Pendidikan dan Pengembangan Wilayah di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara

132  29  Download (6)

Full text

(1)

PERAN MODAL SOSIAL DALAM MENDORONG SEKTOR

PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH

DI KECAMATAN GAR0GA KABUPATEN

TAPANULI UTARA

TESIS

Oleh

RUDYANTO SINAGA

097003046/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2011

S

E K

O L A

H

P A

S C

A S A R JA

N

(2)

PERAN MODAL SOSIAL DALAM MENDORONG SEKTOR

PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH

DI KECAMATAN GAR0GA KABUPATEN

TAPANULI UTARA

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

RUDYANTO SINAGA

097003046/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : PERAN MODAL SOSIAL DALAM MENDORONG SEKTOR PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN GAROGA KABUPATEN TAPANULI UTARA

Nama Mahasiswa : Rudyanto Sinaga Nomor Pokok : 097003046

Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Badaruddin, MS) Ketua

(Dr. Murni Daulay, SE. M.Si) (Kasyful Mahalli, SE. M.Si) Anggota Anggota

Ketua Program Studi, Direktur,

(Prof. Dr.lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE) (Prof.Dr.Ir. A. Rahim Matondang, MSIE)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 18 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Badaruddin, MS

Anggota : 1. Dr. Murni Daulay, M.Si

2. Kasyful Mahalli, SE, M.Si

3. Drs. Rujiman, MA

(5)

PERAN MODAL SOSIAL DALAM MENDORONG SEKTOR PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN GAROGA

KABUPATEN TAPANULI UTARA

ABSTRAK

Dalam meningkatkan sumber daya manusia di Kabupaten Tapanuli Utara, masyarakat di Kecamatan Garoga Desa Saribu Gonting Garoga dan Desa Parinsoran masing-masing telah memberikan hibah lokasi tanah seluas 2 ha secara cuma-cuma kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, dimana telah didirikan 1 (satu) unit Sekolah Baru SMA tahun 2007 di Desa Saribu Gonting Garoga dan tahun 2008 1 (satu) unit Sekolah Baru SMP di Desa Parinsoran, yang dananya berasal dari APBN dengan pekerjaan sistem swakelola dengan melibatkan masyarakat setempat.

Pembangunan gedung sekolah dilakukan oleh masyarakat setempat dengan upah relatif lebih sedikit dari upah biasa seorang pekerja bangunan. Kerjasama dan partisipasi masyarakat Kecamatan Garoga dalam memberikan lokasi tanah dan bergotong royong dalam pembangunan gedung sekolah menunjukkan adanya suatu bentuk peran modal sosial. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis peran modal sosial terhadap pendidikan dan pengembangan wilayah. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif dan uji regresi sederhana.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran modal sosial yang ditemukan dalam sektor pendidikan adalah : 1) saling percaya (kejujuran dan kemurahan hati). 2) jaringan sosial (partisipasi, solidaritas dan kerjasama) dan 3) pranata sosial. Disamping itu, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Batak merupakan sarana yang efektif untuk menumbuh kembangkan keswadayaan masyarakat dalam pembangunan sekolah dan pendidikan yang berkualitas, sehingga ketergantungan akan peran pemerintah dalam pembangunan akan semakin berkurang dan akan mampu menciptakan kemandirian masyarakat. Peran modal sosial secara nyata memberi pengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah,

(6)

THE ROLE OF SOCIAL CAPITAL IN PROMOTING EDUCATION SECTOR AND REGIONAL DEVELOPMENT AT GAROGA SUB REGENCY IN NORTH

TAPANULI REGENCY

ABSTRACT

In improving human resources in North Tapanuli, people at Garoga sub regency, at Saribu Gonting Garoga Village and Parinsoran Village each has given grants of land area of 2 ha site free of charge to the Government of North Tapanuli, which has been established one unit New High School in 2007 at Saribu Gonting Garoga village and one unit Junior High School in Parinsoran Village in 2008 which funds come from the state budget to work with self-management system involving the local community.

Construction of school buildings carried out by local people with relatively fewer wages than the wages of an ordinary construction worker. Cooperation and community participation in providing location Garoga sub regency land and worked together in the construction of school buildings suggests a role of social capital. The purpose of this study is to analyze the role of social capital to education and regional development. The research method using descriptive analysis and simple regression test.

The results showed that the role of social capital found in the education sector are: 1) mutual trust (honesty and generosity). 2) social networks (participation, solidarity and cooperation) and 3) social institutions. In addition, cultural values and local wisdom Batak society is an effective means to cultivate self-supporting community in school development and quality education, so that dependence on the government's role in development will be minor and will be able to create a community self-reliance. The role of social capital is significantly positive influence significantly to the development of the region,

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena

berkat rahmat dan hidayah-Nya tesis ini dapat terselesaikan. Tesis yang berjudul

“Peran Modal Sosial dalam Mendorong Sektor Pendidikan dan Pengembangan

Wilayah di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara” merupakan syarat dalam

memperoleh gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Wilayah dan

Pedesaan (PWD) pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Tesis ini merupakan sebuah karya yang mendapat dukungan dan bantuan dari

berbagai pihak, oleh karena itu tidak lupa penyusun sampaikan ucapan terima kasih

yang tulus kepada Bapak Prof. Dr. Badaruddin, MS selaku Ketua Komisi

Pembimbing dan Ibu Dr. Murni Daulay, SE.M.Si., dan Bapak Kasyful Mahalli,

S.E. M.Si., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberi saran,

dukungan, pengetahuan dan bimbingan kepada penyusun hingga tesis ini selesai.

Pada kesempatan ini penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara, Medan.

2. Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE selaku Ketua Program Studi Perencanaan

Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Sekolah Pascasarjana Universitas

Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Bachtiar Hassan Miraza, selaku mantan Ketua Program Studi

Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak/Ibu Dosen Pembanding yang telah memberikan banyak masukan dan

(8)

5. Seluruh Dosen Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah dan

Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas segala

keikhlasannya dalam memberikan ilmu pengetahuan dan pengalamannya.

6. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam hal Bappeda Provinsi Sumatera

Utara yang telah memberikan dukungan pembiayaan melalui program Beasiswa

bagi Staf Perencana Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara

7. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, dalam hal ini Bupati Tapanuli Utara

Bapak Torang Lumbantobing, Sekdakab Tapanuli Utara Bapak Drs. Sanggam

Hutagalung, MM, Kepala Bappeda Kabupaten Tapanuli Utara, Drs. Parsaoran

Hutagalung dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Utara Drs.

Joskar, yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti program pendidikan

pascasarjana dengan memberikan izin belajar serta kelonggaran waktu kepada

penulis dalam pekerjaan guna mengikuti perkuliahan

8. Seluruh mahasiswa PWD Kelas Khusus Bappeda Angkatan 2009 yang sudah

seperti satu komunitas keluarga serta staf administrasi atas keramah tamahan,

bantuan dan kerjasama yang telah diberikan selama ini.

9. Isteriku tercinta Herta Ulima Manurung dan anak-anak tersayang yang selama

ini dengan penuh kesabaran telah memberi dukungan dan semangat kepada

penyusun.

10. Ibunda tersayang Rumata Hutauruk yang juga telah banyak membantu dalam

memberikan semangat moril dan material serta doa

11. Saudara-saudaraku, Muller Tambunan/kel, Apet Sipahutar/kel dan Tagor

Sirait/kel yang juga telah banyak memberikan bantuan moril dan material

sehingga penulis lebih semangat dalam menyelesaikan pendidikan

12. Keluargaku dari pihak Istri, Mertua serta abang ipar dan kakak ipar yang juga

(9)

Penyusun menyadari bahwa tesis yang dikerjakan sebatas kemampuan ini

masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritikan sehat,

saran dan masukan dari semua pihak. Akhir kata, semoga hasil penelitian ini dapat

bermanfaat bagi semua kalangan.

Medan, Agustus 2011 Penulis

(10)

RIWAYAT HIDUP

Rudyanto Sinaga lahir di Tarutung pada tanggal 5 Mei 1970, dari Ayah Herry

Sinaga (alm) dan Ibunda Rumata Hutauruk, anak ke-3 dari 5 bersaudara dengan

saudara Parlindungan Sinaga, Margaretha Sinaga, Taruli Megawaty Sinaga dan

Robertha Sinaga.

Menyelesaikan pendidikan pada SD Nomor 174530 Siambolas Kecamatan

Siborongborong tahun 1983, SMP Negeri 3 Siborongborong pada tahun 1986 dan

SMA Negeri Siborongborong tahun 1989. Meraih gelar Sarjana Ekonomi

(Manajemen) di Universitas Sisingamangaraja Tapanuli pada tahun 1999.

Menikah pada bulan September 2001 dengan istri tercinta Herta Ulima

Manurung, A.Md.Keb., dan telah dikarunia 3 orang anak yang cantik dan ganteng

yaitu Celindita Yemima Sinaga, Jens Jeremias Sinaga dan Lidya Juliana Sinaga.

Pada tahun 1991 menerima SK sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil pada

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dan ditempatkan pada Kantor Departemen

Pendidikan Kabupaten Tapanuli Utara.

Pada tahun 2009 mendapat beasiswa dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara

di Sekolah Pascasarjana Program Studi Perencanaan Wilayah dan Perdesaan (PWD)

Universitas Sumatera Utara Medan. Sampai saat ini masih aktif sebagai Pegawai

(11)

DAFTAR ISI

2.8. Modal Sosial dalam Pengembangan Wilayah ... 32

2.9. Penelitian Sebelumnya ... 36

(12)

2.11. Hipotesis ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

3.1. Lokasi Penelitian ... 40

3.2. Populasi dan Sampel ... 43

3.3. Teknik Pengambilan Sampel ... 43

3.4. Jenis dan Sumber Data ... 44

3.5. Teknik Analisis Data ... 44

3.6. Definisi Operasional ... 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Tapanuli Utara ... 46

4.2. Gambaran Umum Kecamatan Garoga ... 52

4.3. Peran Modal Sosial terhadap Pendidikan ... 57

4.4. Peran Modal Sosial terhadap Pengembangan Wilayah ... 73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 77

5.1. Kesimpulan ... 77

5.2. Saran ... 78

(13)

DAFTAR TABEL

Populasi dan Sampel Responden ………...

Luas Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Berdasarkan Tingkat Ketinggian di Atas Permukaan Laut ……….

Luas Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Berdasarkan Tingkat Kemiringan/Lereng Tanah ………

Banyaknya Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk di Kabupaten Tapanuli Utara ………..

Angka Indeks Kemiskinan per Kecamatan di Kabupaten

Tapanuli Utara ………...

Banyaknya Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk di Kabupaten Garoga Tahun 2009 …..

Jumlah Sekolah Menurut Desa dan Jenjang Sekolah di

Kecamatan Garoga Tahun 2010 ………

Jumlah Lulusan, Siswa Mengulang dan Putus Sekolah Siswa SD, SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2006/2007 ………..

Jumlah Lulusan, Siswa Mengulang dan Putus Sekolah Siswa SD, SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2009/2010 ………..

Tanggapan Masyarakat tentang Saling Percaya Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah Kecamatan Garoga ………...

Tanggapan Masyarakat tentang Kejujuran Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah Kecamatan Garoga ………...

Tanggapan Masyarakat tentang Kemurahan Hati Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah

(14)

4.12.

Tanggapan Masyarakat tentang Partisipasi Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah Kecamatan Garoga ………....

Tanggapan Masyarakat tentang Solidaritas Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah Kecamatan Garoga ………....

Tanggapan Masyarakat tentang Kerjasama Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah Kecamatan Garoga……….

Tanggapan Masyarakat tentang Nilai-nilai Agama Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah

Kecamatan Garoga ……….

Tanggapan Masyarakat tentang Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah

Kecamatan Garoga ……….

Tanggapan Masyarakat tentang Norma-norma Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah Kecamatan Garoga ………

Tanggapan Masyarakat tentang Kearifan Lokal Masyarakat Desa terhadap Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah

Kecamatan Garoga ……….

Tanggapan Masyarakat tentang Peran Masyarakat Desa Bila Ada Sekolah yang Rusak di Daerah Kecamatan Garoga ……….

Tanggapan Masyarakat tentang Keinginan Masyarakat Desa dalam Memajukan Wilayahnya di Sektor Pendidikan …………..

Tanggapan Masyarakat tentang Peran Masyarakat Desa dapat Meningkatkan Pendidikan di Kecamatan Garoga ………

Tanggapan Responden tentang Modal Sosial pada Pembangunan Pendidikan ……….

Hasil Analisis Regresi Sederhana ………..

(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1.

3.1.

4.1.

4.2.

4.3.

Kerangka Pemikiran ………..………

Peta Lokasi Penelitian ………..

Peta Administrasi Kabupaten Tapanuli Utara ………..

Peta Administrasi Kecamatan Garoga ………..

Rangkuman Hasil Wawancara dengan Responden ………..

39

42

47

53

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1.

2.

3.

4

5

Kuesiner Penelitian ………...

Tabulasi Data ………

Tabulasi Data Interval ………..

Hasil Analisis Regresi Linier ………

Dokumentasi Penelitian ………

82

87

89

92

(17)

PERAN MODAL SOSIAL DALAM MENDORONG SEKTOR PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN GAROGA

KABUPATEN TAPANULI UTARA

ABSTRAK

Dalam meningkatkan sumber daya manusia di Kabupaten Tapanuli Utara, masyarakat di Kecamatan Garoga Desa Saribu Gonting Garoga dan Desa Parinsoran masing-masing telah memberikan hibah lokasi tanah seluas 2 ha secara cuma-cuma kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, dimana telah didirikan 1 (satu) unit Sekolah Baru SMA tahun 2007 di Desa Saribu Gonting Garoga dan tahun 2008 1 (satu) unit Sekolah Baru SMP di Desa Parinsoran, yang dananya berasal dari APBN dengan pekerjaan sistem swakelola dengan melibatkan masyarakat setempat.

Pembangunan gedung sekolah dilakukan oleh masyarakat setempat dengan upah relatif lebih sedikit dari upah biasa seorang pekerja bangunan. Kerjasama dan partisipasi masyarakat Kecamatan Garoga dalam memberikan lokasi tanah dan bergotong royong dalam pembangunan gedung sekolah menunjukkan adanya suatu bentuk peran modal sosial. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis peran modal sosial terhadap pendidikan dan pengembangan wilayah. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif dan uji regresi sederhana.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran modal sosial yang ditemukan dalam sektor pendidikan adalah : 1) saling percaya (kejujuran dan kemurahan hati). 2) jaringan sosial (partisipasi, solidaritas dan kerjasama) dan 3) pranata sosial. Disamping itu, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Batak merupakan sarana yang efektif untuk menumbuh kembangkan keswadayaan masyarakat dalam pembangunan sekolah dan pendidikan yang berkualitas, sehingga ketergantungan akan peran pemerintah dalam pembangunan akan semakin berkurang dan akan mampu menciptakan kemandirian masyarakat. Peran modal sosial secara nyata memberi pengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah,

(18)

THE ROLE OF SOCIAL CAPITAL IN PROMOTING EDUCATION SECTOR AND REGIONAL DEVELOPMENT AT GAROGA SUB REGENCY IN NORTH

TAPANULI REGENCY

ABSTRACT

In improving human resources in North Tapanuli, people at Garoga sub regency, at Saribu Gonting Garoga Village and Parinsoran Village each has given grants of land area of 2 ha site free of charge to the Government of North Tapanuli, which has been established one unit New High School in 2007 at Saribu Gonting Garoga village and one unit Junior High School in Parinsoran Village in 2008 which funds come from the state budget to work with self-management system involving the local community.

Construction of school buildings carried out by local people with relatively fewer wages than the wages of an ordinary construction worker. Cooperation and community participation in providing location Garoga sub regency land and worked together in the construction of school buildings suggests a role of social capital. The purpose of this study is to analyze the role of social capital to education and regional development. The research method using descriptive analysis and simple regression test.

The results showed that the role of social capital found in the education sector are: 1) mutual trust (honesty and generosity). 2) social networks (participation, solidarity and cooperation) and 3) social institutions. In addition, cultural values and local wisdom Batak society is an effective means to cultivate self-supporting community in school development and quality education, so that dependence on the government's role in development will be minor and will be able to create a community self-reliance. The role of social capital is significantly positive influence significantly to the development of the region,

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Pembangunan merupakan suatu proses terencana dilakukan oleh golongan

tertentu dengan tujuan tertentu seperti meningkatkan kesejahteraan, menciptakan

perdamaian. Ciri yang paling mendasar dalam pembangunan yakni direncanakan dan

adanya campur tangan dari pihak tertentu. Kalau dalam negara pihak yang merancang

konsep, melaksanakan, intervensi terhadap pembangunan yakni Pemerintah dengan

objek pembangunan masyarakat.

Pembangunan selama ini, modal ekonomi sudah banyak yang diinvestasikan

bangsa ini baik, natural resources maupun capital resources. Namun hasilnya tidak

optimal. Bahkan, return on invesment-nya tidak memadai melihat kondisi ini, ada

sebuah keyakinan bahwa bangsa ini masih memerlukan modal lain yaitu modal

manusia dan modal sosial. Dalam konteks modal manusia adalah mengoptimalkan

kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Dalam hal ini

pendidikan merupakan proiritas, di mana pendidikan masih diyakini salah satu media

dalam mencerdaskan sebuah bangsa. Melalui pendidikan yang holistik, Indonesia

sebagai suatu bangsa akan mampu dalam meningkatkan kualitas sumber daya

manusianya. Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas bangsa ini tidak akan

(20)

Selain itu pendidikan juga mampu membangun kesadaran akan hakekat

pembangunan modal sosial. Negara-negara yang yang memiki modal sosial yang kuat

terbukti sangat mementingkan pendidikan bagi rakyatnya. Selanjutnya, modal sosial

yang baik akan mendukung pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Pembanguan sosial yang dilakukan oleh Pemerintah dengan melibatkan

partisipasi masyarakat sehingga bersifat demokratis dan sesuai dengan issu politik

global dalam pembangunan. Badaruddin (2008) menyebutkan bahwa sebagai

makhluk sosial, setiap masyarakat atau komunitas seharusnya memiliki modal sosial,

tentu dengan derajat modal sosial yang berbeda antara satu masyarakat (komunitas)

dengan satu masyarakat (komunitas) yang lainnya.

Membangun pendidikan berkualitas sangat berperan besar dalam membentuk

kualitas individu ataupun masyarakat dan bangsa secara keseluruhan. Dalam ruang ini

pendidikan perlu didudukkan sebagai sebuah nilai yang tumbuh dan berkembang di

masyarakat. Jika nilai pengetahuan menjadi dominan dalam setiap gerak masyarakat,

dengan sendirinya masyarakat akan termotivasi dalam menuntut dan

mengembangkan ilmu pengetahuan. Bila keinginan untuk mendapatkan pengetahuan

demikian tinggi di masyarakat, akan berakibat pada motivasi anak untuk memasuki

lembaga pendidikan dengan bekal, keinginan untuk mengetahui yang mengakar.

Disisi lain, membangun motivasi guru sebagai pendidik untuk terpanggil sebagai

media dalam proses pendidikan.

Dahulu proses pendidikan sangat melibatkan peran dari masyarakat mulai dari

proses pendirian gedung, penyediaan fasilitas-fasilitas pendukung, pemberian

(21)

masyarakat secara bergantian mengolah kebun atau ladang yang hasilnya secara rutin

digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan. Apabila terjadi kerusakan pada

bangunan sekolah atau terjadi sarana pendukung yang belum tersedia, maka

masyarakat sekitar lokasi sekolah bergotong-royong memberikan bantuan yang

diperlukan untuk memastikan bahwa sekolah tersebut bisa berjalan sebagaimana

mestinya.

Namun demikian, proses pembangunan selama ini tampaknya telah

menyebabkan pemisahan peran serta masyarakat atas tanggung jawab dalam

penyelenggaraan proses pendidikan dan kemudian diambil alih oleh pemerintah.

Akibatnya ketika sekolah mengalami masalah, masyarakat sekitar mengabaikan

masalah tersebut karena merasa bukan tanggung jawab mereka lagi. Kondisi

semacam ini harus diubah total. Masyarakat setempat harus ikut bertanggung jawab

atas proses pendidikan dan penyelenggaraan sekolah yang berlangsung di sekitar

mereka.

Strategi kebijakan pembangunan pemerintah harus diarahkan bagaimana

modal sosial masyarakat harus ditingkatkan, karena mengingat kekayaan alam yang

terus dieskploitasi akan habis pada suatu saat, maka penyiapan secara dini untuk

membangun karakter masyarakatnya harus dilakukan segera. Kualitas sumber daya

manusia yang berkarakter, mempunyai spirit kerja tinggi, mandiri, adalah bekal yang

membawa kejayaan bangsa di masa depan. Spirit budaya bangsa seperti ini tidak akan

(22)

Pendidikan yang berkualitas di Indonesia hanya dapat diwujudkan, jika semua

elemen bangsa, khususnya pemerintah, masyarakat, swasta secara sadar

menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama, hal ini beralasan dengan sektor

pendidikan memperoleh anggaran 20% dari anggaran pendapatan belanja Negara

(APBN).

Dalam hal ini yang paling penting adalah bagaimana menyusun prioritas

penggunaan anggaran tersebut sedemikian rupa sehingga tidak hanya sekedar

bangunan fisik yang kurang berguna, atau bahkan menjadi terbuang percuma karena

tidak didasarkan pada kebutuhan yang nyata bagi rakyat. Hal terpenting yang harus

disadari adalah bagaimana pembangunan modal sosial (sosial capital), sebagai kunci

utama bagi pembangunan berkelanjutan, dapat sepenuhnya dilaksanakan, sehingga

tercapai masyarakat yang cerdas dan sejahtera. Banyak bukti menunjukkan bahwa

masyarakat yang makmur adalah masyarakat yang modal sosialnya tinggi, yaitu

tercermin dari kehidupan sosialnya yang harmonis, saling memberi, ada kebersamaan

dan saling percaya serta terdapat tingkat toleransi yang tinggi dalam kehidupan

bermasyarakat. Hal yang mirip dilontarkan oleh Francis Fukuyama, yang

memfokuskan kepada ciri budaya sebuah masyarakat yang mempunyai keunggulan

dalam persaingan global. Dalam bukunya Fukuyama percaya bahwa keunggulan

suatu masyarakat dan negara yang dapat survive dalam abad ke-21, adalah ditentukan

oleh faktor sosial capital (modal sosial) yang tinggi, yaitu high trust society. Negara

yang mempunyai modal sosial tinggi adalah masyarakat yang mempunyai rasa

(23)

saling memberi. Selanjutnya dikatakan bahwa hal ini bisa terwujud kalau

masing-masing individu dan golongan masyarakat menjunjung tinggi rasa saling hormat,

kebersamaan, toleransi, kejujuran dan menjalankan kewajibannya.

Dalam suatu pembangunan sosial, modal sosial (sosial capital) adalah salah

satu faktor penting yang menentukan pembangunan pendidikan masyarakat. Daryanto

(2004) menyatakan bahwa pembentukan modal sosial dapat menyumbang pada

pembangunan pendidikan karena adanya jaringan (networks), norma (norms), dan

kepercayaan (trust) didalamnya yang menjadi kolaborasi (koordinasi dan kooperasi)

sosial untuk kepentingan bersama.

Kabupaten Tapanuli Utara secara geografis didiami suku batak (homogen)

yang sarat dengan kearifan-kearifan lokal. Dengan kearifan lokal ini diharapkan

bagaimana Pemerintah Kabupaten dapat menuangkannya dalam strategi kebijakannya

dalam bidang pendidikan dan pembangunan masyarakat lainnya, yang terfokus dalam

meningkatkan modal sosial masyarakat Kabupaten Tapanuli Utara.

Pendidikan merupakan sektor yang sangat menentukan dalam meningkatkan

sumber daya manusia (SDM). Dengan SDM yang ada baik dari segi kualitas dan

kuantitas yang tinggi diharapkan menjadi motor penggerak dan pelaksana

pembangunan di Kabupaten Tapanuli Utara. Dalam mewujudkannya indikator dari

keberhasilan sektor pendidikan salah satunya dapat dilihat dari peningkatan angka

partisipasi sekolah dari tahun ke tahun. Peningkatan ini harus didukung oleh

(24)

Untuk menjawab peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten

Tapanuli Utara, khususnya di Kecamatan Garoga, Pemerintah Kabupaten Tapanuli

Utara telah mendirikan SD/MI sebanyak 29 unit, SMP/MTs sebanyak 6 unit dan

SMA sebanyak 2 unit.

Hal ini sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar, Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun

2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan

Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara merupakan indikasi yang

sangat nyata sebagai upaya Pemerintah Indonesia dalam peningkatan mutu

sumberdaya manusia agar mampu bersaing dalam era keterbukaan dan globalisasi.

Dalam meningkatkan sumber daya manusia di Kabupaten Tapanuli Utara, masyarakat

di Kecamatan Garoga Desa Saribu Gonting Garoga dan Desa Parinsoran

masing-masing telah memberikan hibah lokasi tanah seluas 2 ha secara cuma-cuma kepada

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, untuk mendirikan 1 (satu) Unit Sekolah Baru

SMA tahun 2007 di Desa Saribu Gonting Garoga dan tahun 2008 1 (satu) unit

Sekolah Baru SMP di Desa Parinsoran, yang dananya berasal dari APBN dengan

pekerjaan sistem swakelola dengan melibatkan masyarakat setempat.

Pembangunan gedung sekolah dilakukan oleh masyarakat setempat dengan

upah relatif lebih sedikit dari upah biasa seorang pekerja bangunan. Kerjasama dan

(25)

bergotong royong dalam pembangunan gedung sekolah menunjukkan adanya suatu

bentuk peran modal sosial.

I.2. Perumusan Masalah

Untuk mendudukkan modal sosial sebagai pilar dalam mendorong sektor

pendidikan dalam konteks pengembangan wilayah di Kabupaten Tapanuli Utara,

maka disusun beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana peran modal sosial dalam mendorong sektor pendidikan di Kecamatan

Garoga Kabupaten Tapanuli Utara.

2. Bagaimana peran modal sosial dalam pengembangan wilayah di Kecamatan

Garoga Kabupaten Tapanuli Utara.

I.3. Tujuan Penelitian.

1. Untuk menganalisis peran modal sosial dalam mendorong sektor pendidikan di

Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara.

2. Untuk menganalisis peran modal sosial dalam pengembangan wilayah di

Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara.

I.4. Manfaat Penelitian

1. Secara akademis penelitian ini berkaitan dengan studi tentang modal sosial yang

dimiliki oleh perkumpulan adat/budaya lokal di Kabupaten Tapanuli Utara.

Diharapkan penelitian ini bermanfaat dalam memberikan kontribusi terhadap

(26)

2. Secara praktis diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan atau

sumbangan dalam bentuk data-data yang dapat digunakan bagi kajian-kajian atau

penelitian yang berkaitan.

3. Bagi peneliti hasil penelitian diharapkan dapat memperdalam dan memperkaya

wawasan dan pengetahuan khususnya tentang modal sosial dalam mendorong

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Modal Sosial

Semua kelompok masyarakat (suku bangsa) di Indonesia pada hakekatnya

mempunyai potensi-potensi sosial budaya yang kondusif dan dapat menunjang

pembangunan (Berutu, 2002). Potensi ini terkadang terlupakan begitu saja oleh

kelompok masyarakat sehingga tidak dapat difungsionalisasikan untuk tujuan-tujuan

tertentu. Tetapi banyak juga kelompok masyarakat yang menyadari akan

potensi-potensi sosial budaya yang dimilikinya, sehingga potensi-potensi-potensi-potensi tersebut dapat

dimanfaatkan secara arif bagi keperluan kelompok masyarakat itu sendiri. Salah satu

potensi sosial budaya tersebut adalah modal sosial. Secara sederhana modal sosial

merupakan kemampuan masyarakat untuk mengorganisir diri sendiri dalam

memperjuangkan tujuan mereka.

Modal sosial bisa dikatakan sebagai sumber daya sosial yang dimiliki oleh

masyarakat. Sebagai sumber daya, modal sosial ini memberi kekuatan atau daya

dalam beberapa kondisi-kondisi sosial dalam masyarakat.

Sebenarnya dalam kehidupan manusia dikenal beberapa jenis modal, yaitu

natural capital, human capital, physical capital dan financial capital. Modal sosial

akan dapat mendorong keempat modal di atas dapat digunakan lebih optimal lagi.

Konsep modal sosial yang dijadikan fokus kajian, pertama kali dikemukakan

(28)

struktur hubungan antar individu yang memungkinkan mereka menciptakan

nilai-nilai baru. Putnam dalam (Lubis, 2001) menyebutkan bahwa modal sosial tersebut

mengacu pada aspek-aspek utama dari organisasi sosial, seperti kepercayaan (trust),

norma-norma (norms) dan jaringan-jaringan (networks) yang dapat meningkatkan

efisiensi dalam suatu masyarakat.

Portes (2000) menyebutkan bahwa modal sosial ini sebenarnya memiliki dua

arti berbeda, yakni modal sosial dalam arti individual dan modal sosial dalam arti

kolektif. Menurutnya seorang individu bisa juga memiliki suatu modal sosial yang

berguna bagi aktualisasi dirinya, begitu juga dengan kelompok masyarakat, juga

memiliki modal sosial yang dapat dipakai dalam mengoptimalkan potensi terbaiknya.

Putnam dalam Lubis (2001) mendefinisikan modal sosial mengacu pada

organisasi sosial dengan jaringan sosial, norma-norma dan kepercayaan sosial yang

dapat menjembatani terciptanya kerjasama dalam komunitas sehingga terjalin

kerjasama yang saling menguntungkan.

Putnam dalam Lubis (2001) menemukan bahwa modal sosial berkorelasi

positif dengan kehidupan demokrasi di negara Amerika Serikat. Norma-norma dan

jaringan sosial yang disepakati bersama telah mempengaruhi kualitas kehidupan

masyarakat dan kualitas kinerja lembaga-lembaga sosial. Hubungan sosial yang telah

tercipta tersebut menghasilkan baiknya mutu sekolah, pembangunan ekonomi yang

pesat, penurunan tingkat kejahatan dan bahkan berpengaruh terhadap kinerja

(29)

Dalam pandangan ilmu ekonomi, modal adalah segala sesuatu yang dapat

menguntungkan atau menghasilkan. Modal itu sendiri dapat dibedakan atas (1) modal

yang berbentuk material seperti uang, gedung atau barang; (2) modal budaya dalam

bentuk kualitas pendidikan; kearifan budaya lokal; dan (3) modal sosial dalam bentuk

kebersamaan, kewajiban sosial yang diinstitusionalisasikan dalam bentuk kehidupan

bersama, peran, wewenang, tanggungjawab, sistem penghargaan dan keterikatan

lainnya yang menghasilkan tindakan kolektif. Modal sosial menjadi perekat bagi

setiap individu, dalam bentuk norma, kepercayaan dan jaring kerja, sehingga terjadi

kerjasama yang saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan bersama. Modal sosial

juga dipahami sebagai pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki bersama oleh

komunitas, serta pola hubungan yang memungkinkan sekelompok individu

melakukan satu kegiatan yang produktif. Menurut Lesser (2000), modal sosial ini

sangat penting bagi komunitas karena (1) memberikan kemudahan dalam mengakses

informasi bagi anggota komunitas; (2) menjadi media pembagian kekuasaan dalam

komunitas; (3) mengembangkan solidaritas; (4) memungkinkan mobilisasi sumber

daya komunitas; (5) memungkinkan pencapaian bersama; dan (6) membentuk

perilaku kebersamaan dan berorganisasi komunitas. Modal sosial merupakan suatu

komitmen dari setiap individu untuk saling terbuka, saling percaya, memberikan

kewenangan bagi setiap orang yang dipilihnya untuk berperan sesuai dengan

tanggungjawabnya. Sarana ini menghasilkan rasa kebersamaan, kesetiakawanan, dan

(30)

Sebagaimana dikatakan Jamaluddin Ancok, bahwa tanpa adanya kerukunan

dan kerja sama yang sinergistik akan semakin sulit bagi berkembangnya ekonomi

suatu masyarakat. Modal sosial secara umum dapat dikategorikan dalam dua

kelompok. Pertama, yang menekankan pada jaringan hubungan sosial (network) yang

diikat antara lain oleh kepemilikan informasi, rasa percaya, saling memahami, dan

kesamaan nilai serta saling mendukung. Kedua, lebih menekankan pada karakteristik

(traits) yang melekat (embedded) pada diri individu manusia yang terlibat dalam

interaksi sosial sebagai kemampuan orang untuk bekerja bersama untuk satu tujuan

bersama di dalam grup dan organisasi.

Keberadaan kedua jenis modal sosial tersebut telah ada dalam masyarakat

Indonesia dalam bentuk gotong royong dan solidaritas kolektif. Bila analisis

dilanjutkan pada dimensi yang lebih dalam, modal sosial tersebut sesungguhnya juga

dapat menciptakan ketahanan pangan yaitu berupa usaha mandiri dan solidaritas

kolektif dalam menghadapi problem kemiskinan dan lemahnya ketahanan pangan

yang dihadapi masyarakat tersebut. Inilah konsep yang selama ini kurang dipahami

oleh berbagai introduksi kebijakan pembangunan yang selama ini ada.

Di era globalisasi (globalisation) dan perekonomian dunia yang pro pasar

bebas (freemarket) dewasa ini, mulai tampak semakin jelas bahwa peranan

non-human capital di dalam sistem perekonomian cenderung semakin berkurang oleh

Coleman (Portes, 2000). Para stakeholder yang bekerja di dalam sistem

perekonomian semakin yakin bahwa modal tidak hanya berwujud alat-alat produksi

(31)

capital. Sistem perekonomian dewasa ini mulai didominasi oleh peranan human

capital, yaitu ‘pengetahuan’ dan ‘ketrampilan’ manusia.

Kandungan lain dari human capital selain pengetahun dan ketrampilan adalah

‘kemampuan masyarakat untuk melakukan asosiasi (berhubungan) satu sama lain’.

Kemampuan ini akan menjadi modal penting bukan hanya bagi kehidupan ekonomi

akan tetapi juga bagi setiap aspek eksistensi sosial yang lain. Modal yang demikian

ini disebut dengan ‘modal sosial’ (social capital), yaitu kemampuan masyarakat

untuk bekerja bersama demi mencapai tujuan bersama dalam suatu kelompok dan

organisasi oleh Coleman (Portes, 2000). Oleh karena itu tidak salah apabila Bourdieu

mengemukakan kritiknya terhadap terminologi modal (capital) di dalam ilmu

ekonomi konvensional. Dinyatakannya modal bukan hanya sekedar alat-alat

produksi, akan tetapi memiliki pengertian yang lebih luas dan dapat diklasifikasikan

kedalam 3 (tiga) golongan, yaitu: (a) modal ekonomi (economic capital), (b) modal

kultural (cultural capital), dan (c) modal sosial (social capital). Modal ekonomi,

dikaitkan dengan kepemilikan alat-alat produksi. Modal kultural, terinstitusionalisasi

dalam bentuk kualifikasi pendidikan. Modal sosial, terdiri dari kewajiban - kewajiban

sosial.

Sejumlah kejanggalan dan kegagalan tersebut muncul di permukaan karena

para ekonom penganut mazab neo-klasik menganggap bahwa faktor-faktor kultural

dari perilaku (behavior) manusia sebagai makluk rasional dan memiliki kepentingan

(32)

Tingkat kehidupan ekonomi tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan, dimana

kebudayaan membentuk seluruh aspek manusia, termasuk perilaku ekonomi dengan

sejumlah cara yang kritis.

Ditegaskan oleh Smith bahwa motivasi ekonomi sebagai sesuatu yang sangat

kompleks tertancap dalam kebiasaan - kebiasaan serta aturan - aturan yang lebih luas.

Oleh karenanya aktivitas ekonomi merepresentasikan bagian yang krusial dari

kehidupan sosial dan diikat bersama oleh varietas yang luas dari norma-norma,

aturan-aturan, kewajiban-kewajiban moral, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang

bersama-sama membentuk masyarakat (Muller, 2002). dan organisasi (Coleman,

2009). Secara lebih komperehensif Burt (2002) mendefinsikan, modal sosial adalah

kemampuan masyarakat untuk melakukan asosiasi (berhubungan) satu sama lain dan

selanjutnya menjadi kekuatan yang sangat penting bukan hanya bagi kehidupan

ekonomi akan tetapi juga setiap aspek eksistensi sosial yang lain.

Fukuyama (2005) mendifinisikan, modal sosial sebagai serangkaian nilai-nilai

atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu

kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka. Adapun Cox

(2005) mendefinisikan, modal sosial sebagai suatu rangkian proses hubungan antar

manusia yang ditopang oleh jaringan, norma-norma, dan kepercayaan sosial yang

memungkinkan efisien dan efektifnya koordinasi dan kerjasama untuk keuntungan

dan kebajikan bersama.

Sejalan dengan Fukuyama dan Cox, Partha dan Ismail S. (2009)

(33)

norma-norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat

dalam spektrum yang luas, yaitu sebagai perekat sosial (social glue) yang menjaga

kesatuan anggota kelompok secara bersama-sama. Pada jalur yang sama Solow

(2009) mendefinisikan, modal sosial sebagai serangkaian nilai-nilai atau

norma-norma yang diwujudkan dalam perilaku yang dapat mendorong kemampuan dan

kapabilitas untuk bekerjasama dan berkoordinasi untuk menghasilkan kontribusi

besar terhadap keberlanjutan produktivitas.

Adapun menurut Cohen dan Prusak L. (2001), modal sosial adalah sebagai

setiap hubungan yang terjadi dan diikat oleh suatu kepercayaan (trust), kesaling

pengertian (mutual understanding), dan nilai-nilai bersama (shared value) yang

mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama dapat

dilakukan secara efisien dan efektif. Senada dengan Cohen dan Prusak L., Hasbullah

(2006) menjelaskan, modal sosial sebagai segala sesuatu hal yang berkaitan dengan

kerja sama dalam masyarakat atau bangsa untuk mencapai kapasitas hidup yang lebih

baik, ditopang oleh nilai-nilai dan norma yang menjadi unsur-unsur utamanya seperti

trust (rasa saling mempercayai), ketimbal-balikan, aturan-aturan kolektif dalam suatu

masyarakat atau bangsa dan sejenisnya.

2.1.1. Dimensi Modal Sosial

Modal sosial (social capital) berbeda definisi dan terminologinya dengan

human capital (Fukuyama, 2005). Bentuk human capital adalah ‘pengetahuan’ dan

‘ketrampilan’ manusia. Investasi human capital kovensional adalah dalam bentuk

(34)

programmer komputer, atau menyelenggarakan pendidikan yang tepat lainnya.

Sedangkan modal sosial adalah kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum di

dalam sebuah masyarakat atau bagian-bagian tertentu darinya. Modal sosial dapat

dilembagakan dalam bentuk kelompok sosial paling kecil atau paling mendasar dan

juga kelompok-kelompok masyarakat paling besar seperti halnya negara (bangsa).

Modal sosial ditransmisikan melalui mekanisme - mekanisme kultural seperti

agama, tradisi, atau kebiasaan sejarah (Fukuyama, 2000). Modal sosial dibutuhkan

untuk menciptakan jenis komunitas moral yang tidak bisa diperoleh seperti dalam

kasus bentuk-bentuk human capital. Akuisisi modal sosial memerlukan pembiasaan

terhadap norma-norma moral sebuah komunitas dan dalam konteksnya sekaligus

mengadopsi kebajikan-kebajikan. Menurut Burt (2002), kemampuan berasosiasi ini

sangat tergantung pada suatu kondisi dimana komunitas itu mau saling berbagi untuk

mencari titik temu norma-norma dan nilai-nilai bersama. Apabila titik temu

etis-normatif ini diketemukan, maka pada gilirannya kepentingan-kepentingan individual

akan tunduk pada kepentingan-kepentingan komunitas kelompok.

Bank Dunia (2005) meyakini modal sosial adalah sebagai sesuatu yang

merujuk ke dimensi institusional, hubungan-hubungan yang tercipta, dan

norma-norma yang membentuk kualitas serta kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat.

Modal sosial bukanlah sekedar deretan jumlah institusi atau kelompok yang

menopang (underpinning) kehidupan sosial, melainkan dengan spektrum yang lebih

luas. Yaitu sebagai perekat (social glue) yang menjaga kesatuan anggota kelompok

(35)

Dimensi modal sosial tumbuh di dalam suatu masyarakat yang didalamnya

berisi nilai dan norma serta pola-pola interaksi sosial dalam mengatur kehidupan ke

seharian anggotanya (Woolcock dan Narayan, 2000). Oleh karena itu Adler dan

Kwon (2000) menyatakan, dimensi modal sosial adalah merupakan gambaran dari

keterikatan internal yang mewarnai struktur kolektif dan memberikan kohesifitas dan

keuntungan-keuntungan bersama dari proses dinamika sosial yang terjadi di dalam

masyarakat.

Dimensi modal sosial menggambarkan segala sesuatu yang membuat

masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan, serta

didalamnya diikat oleh nilai-nilai dan norma-norma yang tumbuh dan dipatuhi

(Dasgupta dan Serageldin, 1999).

Demensi modal sosial inheren dalam struktur relasi sosial dan jaringan sosial

di dalam suatu masyarakat yang menciptakan berbagai ragam kewajiban sosial,

menciptakan iklim saling percaya, membawa saluran informasi, dan menetapkan

norma-norma, serta sanksi-sanksi sosial bagi para anggota masyarakat tersebut

(Coleman, 1999). Namun demikian Fukuyama (1995, 2000) dengan tegas

menyatakan, belum tentu norma-norma dan nilai-nilai bersama yang dipedomani

sebagai acuan bersikap, bertindak, dan bertingkah-laku itu otomatis menjadi modal

sosial. Akan tetapi hanyalah norma-norma dan nilai-nilai bersama yang dibangkitkan

oleh kepercayaan (trust). Dimana trust ini adalah merupakan harapan-harapan

terhadap keteraturan, kejujuran, dan perilaku kooperatif yang muncul dari dalam

(36)

bersama oleh para anggotanya. Norma-norma tersebut bisa berisi

pernyataan-pernyataan yang berkisar pada nilai-nilai luhur (kebajikan) dan keadilan.

Setidaknya dengan mendasarkan pada konsepsi-konsepsi sebelumnya, maka

dapat ditarik suatu pemahaman bahwa dimensi dari modal sosial adalah memberikan

penekanan pada kebersamaan masyarakat untuk mencapai tujuan memperbaiki

kualitas hidupnya, dan senantiasa melakukan perubahan dan penyesuaian secara terus

menerus. Di dalam proses perubahan dan upaya mencapai tujuan tersebut, masyarakat

senantiasa terikat pada nilai-nilai dan norma-norma yang dipedomani sebagai acuan

bersikap, bertindak, dan bertingkah-laku, serta berhubungan atau membangun

jaringan dengan pihak lain.

Beberapa acuan nilai dan unsur yang merupakan roh modal sosial antara lain:

sikap yang partisipatif, sikap yang saling memperhatikan, saling memberi dan

menerima, saling percaya mempercayai dan diperkuat oleh nilai-nilai dan

norma-norma yang mendukungnya. Unsur lain yang memegang peranan penting adalah

kemauan masyarakat untuk secara terus menerus proaktif baik dalam

mempertahankan nilai, membentuk jaringan kerjasama maupun dengan penciptaan

kreasi dan ide-ide baru. Inilah jati diri modal sosial yang sebenarnya.

Oleh karena itu menurut Hasbullah (2006), dimensi inti telah dari modal

sosial terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat untuk bekerjasama

membangun suatu jaringan guna mencapai tujuan bersama. Kerjasama tersebut

diwarnai oleh suatu pola inter relasi yang timbal balik dan saling menguntungkan

(37)

sosial yang positif dan kuat. Kekuatan tersebut akan maksimal jika didukung oleh

semangat proaktif membuat jalinan hubungan diatas prinsip-prinsip sikap yang

partisipatif, sikap yang saling memperhatikan, saling memberi dan menerima, saling

percaya mempercayai dan diperkuat oleh nilai-nilai dan norma-norma yang

mendukungnya.

2.1.2. Tipologi Modal Sosial

Mereka yang memiliki perhatian terhadap modal sosial pada umumnya

tertarik untuk mengkaji kerekatan hubungan sosial dimana masyarakat terlibat

didalamnya, terutama kaitannya dengan pola-pola interaksi sosial atau hubungan

sosial antar anggota masyarakat atau kelompok dalam suatu kegiatan sosial.

Bagaimana keanggotaan dan aktivitas mereka dalam suatu asosiasi sosial merupakan

hal yang selalu menarik untuk dikaji.

Dimensi lain yang juga sangat menarik perhatian adalah yang berkaitan

dengan tipologi modal sosial, yaitu bagaimana perbedaan pola-pola interaksi berikut

konsekuensinya antara modal sosial yang berbentuk bonding/exclusive atau bridging

atau inclusive. Keduanya memiliki implikasi yang berbeda pada hasil-hasil yang

dapat dicapai dan pengaruh-pengaruh yang dapat muncul dalam proses kehidupan

dan pembangunan masyarakat.

2.2. Kepercayaan

Unsur terpenting dalam modal sosial adalah kepercayaan (trust) yang

(38)

Dengan kepercayaan (trust) orang-orang akan bisa bekerja sama secara lebih efektif

(Fukuyama, 2002). Menurut Pretty dan Ward (Lubis, 2001) sikap saling percaya

merupakan unsur pelumas yang sangat penting untuk kerjasama, yang oleh Putnam

dipercaya sebagai melicinkan kehidupan sosial.

Fukuyama (2002) membahas tentang modal sosial di negara-negara yang

kehidupan sosial dan ekonominya sudah modern dan kompleks. Elemen modal sosial

yang menjadi pusat kajian Fukuyama adalah kepercayaan (trust) karena menurutnya

sangat erat kaitannya antara modal sosial dengan kepercayaan. Fukuyama mengurai

secara mendalam tentang bagaimana kondisi kepercayaan dalam komunitas di

beberapa negara dan mencoba mencari korelasinya dengan tingkat kehidupan

ekonomi negara bersangkutan.

Sukses ekonomi masyarakat negara yang menjadi sampelnya tersebut

disebabkan oleh etika kerja yang mendorong perilaku ekonomi kooperatif. Apa yang

hendak ditegaskan oleh Fukuyama adalah bahwa kita tidak bisa lagi memisahkan

antara kehidupan ekonomi dengan kehidupan budaya. Fukuyama berpendapat bahwa

sekarang ini faktor modal sosial sudah sama pentingnya dengan modal fisik, hanya

masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan sosial yang tinggi yang akan mampu

menciptakan organisasi-organisasi bisnis fleksibel berskala besar yang mampu

bersaing dalam ekonomi global.

Solidaritas adalah salah satu faktor perekat dalam gerakan modal sosial.

Karena rasa solidaritas masyarakat bisa menyatukan persepsinya tentang hal yang

(39)

Berdasarkan teori Durkheim (Ritzer, 2003) jenis solidaritas pada gerakan

modal sosial bisa saja pada keduanya. Pada solidaritas organis kondisi masyarakat

cenderung sudah sangat kompleks dan heterogen, modal sosial muncul bukan karena

kesamaan pekerjaan, tetapi lebih pada tujuan lain misalnya perjuangan memperoleh

pendidikan yang layak. Fukuyama (2002) juga berpendapat bahwa jenis solidaritas

yang umum didapati dalam modal sosial dewasa ini adalah solidaritas organis, karena

karakteristik masyarakat sekarang ini cenderung sudah kompleks.

Fukuyama (2002) berpendapat bahwa kepercayaan adalah pengharapan yang

muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku normal, jujur dan kooperatif

berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama, demi kepentingan anggota yang

lain dari komunitas itu. Ada tiga jenis perilaku dalam komunitas yang mendukung

kepercayaan ini, yaitu perilaku normal, jujur dan kooperatif.

Perilaku normal yaitu perilaku yang sesuai asas dan norma-norma yang dianut

bersama. Jika dalam komunitas terdapat perilaku deviant (menyimpang) dari

beberapa anggotanya, maka akan sulit mendapat adanya kejujuran dan sifat

kooperatif. Adanya jaminan tentang kejujuran dalam komunitas dapat memperkuat

rasa solidaritas dan sifat kooperatif dalam komunitas.

Fukuyama (2002) yang mengkaji modal sosial dan trust dalam masyarakat

ekonomi kompleks menyebutkan bahwa kepercayaan bermanfaat bagi penciptaan

tatanan ekonomi unggul, karena bisa diandalkan untuk mengurangi biaya. Karena,

(40)

bekerja menurut serangkaian norma-norma etis bersama, maka berbisnis hanya

memerlukan sedikit biaya.

Kepercayaan sosial, termasuk kejujuran, keteladanan kerjasama dan rasa

tanggung jawab terhadap orang lain sangat penting untuk menumbuhkan

kebajikan-kebajikan individual (Fukuyama, 2002). Hal itulah yang menjadi argumen sentral dari

Weber (2000) tentang etika protestan yang menunjukkan bahwa kaum puritan

memperoleh kekayaan material sebagai hasil dari kepercayaan religiusnya dan telah

mengembangkan kebajikan-kebajikan tertentu seperti kejujuran dan sikap hemat yang

sangat membantu bagi akumulasi modal.

2.3. Jaringan Sosial

Jaringan sosial terjadi berkat adanya keterkaitan (connectedness) antara

individu dan komunitas. Keterkaitan mewujud di dalam beragam tipe kelompok pada

tingkat lokal maupun di tingkat lebih tinggi. Jaringan sosial yang kuat antara sesama

anggota dalam kelompok mutlak diperlukan dalam menjaga sinergi dan kekompakan.

Apalagi jika kelompok sosial kapital itu bentuknya kelompok formal. Adanya

jaringan-jaringan hubungan sosial antara individu dalam modal sosial memberikan

manfaat dalam konteks pengelolaan sumberdaya milik bersama, karena ia

mempermudah koordinasi dan kerjasama untuk keuntungan yang bersifat timbal

balik, itulah yang dikatakan Putnam dalam Lubis (2001) tentang jaringan sosial

(41)

Badaruddin (2005), menyatakan dengan pelibatan warga dalam jaringan sosial

yang akan menjadi satuan sosial/organisasi lokal, maka terciptalah apa yang disebut

dengan kemampuan warga kolektif mengalihkan kepentingan ‘saya’ menjadi ‘kita’

terbangunlah kekompakan dan solidaritas antar warga. Jaringan sosial terdiri dari

lima unsur yang meliputi: adanya partisipasi, pertukaran timbal balik, solidaritas,

kerjasama dan keadilan (Lubis, 2001).

Konsep partisipasi menurut Mikkelsen (Susiana, 2002) dapat diartikan

sebagai alat untuk mengembangkan diri sekaligus tujuan akhir. Keduanya merupakan

satu kesatuan dan dalam kenyataan sering hadir pada saat yang sama meskipun status,

strategi serta pendekatan metodologinya berbeda. Partisipasi akan menimbulkan rasa

harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapat turut serta dalam keputusan penting

yang menyangkut masyarakat banyak. Partisipasi juga menghasilkan pemberdayaan,

di mana setiap orang berhak menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan

yang menyangkut kehidupannya. Dalam jaringan sosial, partisipasi memegang

peranan yang cukup penting, karena kerjasama yang ada dalam komunitas dapat

terjadi karena adanya partisipasi individu-individu.

Solidaritas adalah faktor utama dalam merekatkan hubungan sosial dalam

sebuah komunitas. Karena rasa solidaritaslah masyarakat bisa menyatukan

persepsinya tentang hal yang ingin mereka perjuangkan, Merujuk pada teori Emile

Durkheim (Ritzer, 2003), solidaritas itu terdiri dari dua jenis, yaitu mechanical

(42)

adalah sumber dari solidaritas mereka, atau hal apa yang telah menyatukan mereka.

Kuncinya adalah pembagian kerja.

Pada solidaritas organis kondisi masyarakat cenderung sudah sangat

kompleks, masing-masing orang memiliki spesialisasi pekerjaan yang banyak

jumlahnya, modal sosial muncul bukan karena kesamaan pekerjaan/penghidupan,

tetapi lebih pada tujuan lain misalnya perjuangan memperoleh pendidikan yang layak.

Pada solidaritas mekanis, pekerjaan masyarakat cenderung sama dan modal sosial

muncul karena tujuan-tujuan yang berhubungan dengan pekerjaan mereka, misalnya

pada masyarakat petani atau nelayan. Collective Conscience adalah argumen yang

dipakai Durkhein dalam mempertegas perbedaan antara solidaritas mekanis dan

solidaritas organis. Collective Conscience adalah kesadaran kolektif dari anggota

masyarakat bahwa mereka adalah bagian dari kelompok, suku atau bangsa. Apa yang

menyatukan mereka adalah perasaan bahwa pengetahuan dan ide orang perorang

tidak akan menghasilkan manfaat yang signifikan, berangkat dari hal tersebut mereka

menyatukan diri bersama, dengan asumsi bahwa kekuatan pikiran dan ide-ide

bersama akan lebih bermanfaat dan mempunyai presure yang lebih efektif daripada

secara individual.

Unsur lainnya dalam jaringan sosial adalah kerjasama. Kerjasama adalah

jaringan sesuatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia

untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Hampir pada semua kelompok

manusia dapat ditemui adanya pola-pola kerjasama. Kerjasama timbul karena

(43)

Cooley (Soekanto, 2003) menggambarkan kerjasama sebagai berikut:

Kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai

kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup

pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi

kepentingan-kepentingan tersebut kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan-kepentingan-kepentingan yang sama dan

adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerjasama yang

berguna.

2.4. Pranata Sosial

Pranata sosial merupakan salah satu elemen penting dan modal sosial selain

dari kepercayaan dan jaringan sosial. Pranata (institution) terdiri dari nilai-nilai yang

dimiliki bersama (shared values), norma-norma dan sanksi-sanksi (norms and

sanctions) dan aturan-aturan (rules) (Lubis, 2001).

Pranata atau lembaga adalah sistem-sistem yang menjadi wahana yang

memungkinkan warga masyarakat itu untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi

(Soekanto, 2003). Di dalam pranata warga masyarakat dapat berinteraksi satu sama

lain, tetapi sudah diikat oleh aturan-aturan yang telah disepakati bersama.

Pranata sosial ini sangat bermacam ragam bentuknya, mulai dari yang

tradisional seperti masyarakat adat, sampai pada pranata yang modern seperti partai

politik, koperasi, perusahaan, perguruan tinggi dan lain-lain. Menurut

(44)

1. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan kehidupan kekerabatan yang

sering disebut domestic institution.

2. Pranata-pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia untuk mata

pencaharian hidupnya.

3. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan pendidikan.

4. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan ilmiah manusia, atau sering disebut

scientific institution.

5. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk menghayatkan rasa

keindahan.

6. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk berbakti kepada

Tuhan.

7. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk mengatur

keseimbangan kekuasaan dalam masyarakat.

8. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan fisik dan kenyamanan hidup

manusia.

Summer (Soekanto, 2003) mengartikan pranata ini sebagai perbuatan,

cita-cita, sikap dan perlengkapan kebudayaan bersifat kekal serta bertujuan untuk

memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Sosiolog tersebut menyebutkan bahwa

ada 3 (tiga) fungsi pranata ini, yaitu:

1. Memberikan pedoman pada anggota masyarakat bagaimana mereka harus

bertingkah laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah-masalah dalam

(45)

2. Menjaga keutuhan masyarakat.

3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem

pengendalian sosial.

Suatu pranata supaya dapat tercipta kerjasama, maka harus ada norma-norma

yang mengatur. Norma-norma yang ada pada sebuah pranata dapat terbentuk secara

sengaja maupun secara tidak sengaja. Norma-norma yang ada di dalam masyarakat

mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda, ada yang lemah dan ada pula

yang kuat ikatannya (Soekanto, 2003).

Norma-norma tersebut di atas akan mengalami suatu proses seiring dengan

perjalanan waktu dan pada akhirnya norma-norma itu akan menjadi bagian tertentu

dan pranata sosial. Soekanto (2003) mengatakan proses itu disebut dengan istilah

institutionalization atau proses pelembagaan, yaitu suatu proses yang dilewati oleh

suatu norma yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu pranata sosial. Pranata

sosial dianggap sebagai peraturan apabila norma-norma tersebut membatasi serta

mengatur perilaku orang-orang di dalam lingkungan pranata itu berada (Soekanto,

2003). Proses pelembagaan sebenarnya tidak berhenti demikian saja, akan tetapi

dapat berlanjut lebih jauh lagi hingga suatu norma kemasyarakatan tidak hanya

melembaga saja dalam kehidupan masyarakat, namun telah menginternalisasi di

dalam kehidupannya. Norma hukum pada dasarnya bertujuan untuk mencapai

kedamaian hidup bersama, yang merupakan keserasian antara ketertiban dan

(46)

Hubungan antara manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana

diharapkan, maka diciptakanlah norma-norma yang mempunyai kekuatan mengikat

yang berbeda-beda. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma-norma

tersebut dikenal ada empat pengertiannya, yaitu: Cara, kebiasaan, tata kelakuan dan

adat (Soekanto, 2003). Masing-masing pengertian tersebut mempunyai dasar yang

lama, yakni merupakan norma-norma kemasyarakatan yang memberikan petunjuk

bagi tingkah laku seseorang di dalam kehidupannya dengan masyarakat.

Dalam masyarakat Batak, onan merupakan pranata yang sudah mapan. Selain

sebagai fungsi perdagangan (tempat transaksi jual beli), juga berfungsi sebagai wadah

pergaulan sosial di antara anggota kelompok suku dan di antara wilayah yang saling

bermusuhan dan bahkan yang secara formal berperang, ditegakkan dan dipertahankan

melalui “kedamaian pasar (onan)”.

2.5. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan dari asal kata “daya”. Daya artinya “kekuatan”. Jadi

pemberdayaan adalah “penguatan”, yaitu penguatan yang lemah. Pemberdayaan

masyarakat menurut versi Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

adalah: a) penguatan masyarakat yang lemah, dan b) pengembangan aspek

pengetahuan, sikap mental dan ketrampilan masyarakat melalui pemberdayaan,

bagaimana masyarakat secara bertahap dapat bergerak dari kondisi tidak tahu, tidak

mau dan tidak mampu menjadi tahu, mau dan mampu.

Menurut Kartasasmita (2000) yang dimaksud dengan pemberdayaan

(47)

masyarakat kita yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri

dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, memberdayakan

adalah memampukan dan memandirikan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang

merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru

pembangunan, yakni yang bersifat "people-centered, participatory, empowering, and

sustainable" (Chambers, 1995 dalam Kartasasmita, 2001).

Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar

(basic needs) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih

lanjut (safety net), yang pemikirannya belakangan ini banyak dikembangkan sebagai

upaya mencari alternatif terhadap konsep-konsep pertumbuhan di masa yang lalu.

Konsep ini berkembang dari upaya banyak ahli dan praktisi untuk mencari apa

yang antara lain oleh Friedman (Kartasasmita, 2001)) disebut alternative

development, yang menghendaki “inclusive democracy, appropriate economic

growth, gender equality and intergenerational equity”.

Menurut Pranarka (2006) mengemukakan pemberdayaan dapat diartikan

sebagai upaya untuk mengubah keadaan seseorang atau kelompok agar yang

bersangkutan menjadi lebih berdaya. Pemberdayaan mendorong terjadinya suatu

proses perubahan sosial yang memungkinkan orang-orang pinggiran yang tidak

berdaya untuk memberikan pengaruh yang lebih besar di arena politik secara lokal

(48)

2.6. Kearifan Lokal

Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata:

kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols

dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama

dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat

dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh

kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam

disiplin antropologi dikenal istilah local genius

Gobyah (2003), mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah

kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal

merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang

ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat

maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya

masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun

bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung didalamnya dianggap sangat universal.

Menurut Caroline Nyamai-Kisia (2010), kearifan lokal adalah sumber

pengetahuan yang diselenggarakan dinamis, berkembang dan diteruskan oleh

populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan

budaya sekitarnya.

Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan kebijakkan pada level lokal di

bidang kesehatan, pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam dan kegiatan

(49)

Dalam kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Kearifan budaya

lokal sendiri adalah pengetahuan lokal yang sudah sedemikian menyatu dengan

sistem kepercayaan, norma, dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos

yang dianut dalam jangka waktu yang lama.

Jadi untuk melaksanakan pembangunan di suatu daerah, hendaknya

pemerintah mengenal lebih dulu seperti apakah pola pikir dan apa saja yang ada pada

daerah yang menjadi sasaran pembangunan tersebut. Adalah sangat membuang

tenaga dan biaya jika membuat tempat wisata tanpa memberi pembinaan kepada

masyarakat setempat bahwa tempat wisata tersebut adalah "ikon" atau sumber

pendapatan yang mampu mensejahterakan rakyat di daerah itu. Atau lebih

sederhananya, sebuah pembangunan akan menjadi sia-sia jika pemerintah tidak

mengenal kebiasaan masyarakat atau potensi yang tepat untuk pembangunan didaerah

tersebut.

2.7. Peran Pendidikan dalam Pembangunan

Salah satu tujuan berdirinya negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan

kehidupan bangsa (Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat). Untuk mencapai tujuan

ini diperlukan pembangunan dunia pendidikan yang berkualitas di Indonesia. Dalam

arti sederhana, pendidikan diartikan sebagai usaha manusia untuk membina

kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.

Dalam perkembangannya pendidikan atau paedagogi berarti bimbingan atau

(50)

dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh

seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat

hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental (Sudirman, 2004).

Tujuan utama yang akan dicapai dalam pendidikan adalah membentuk

manusia secara utuh (holistic) yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik,

emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual secara optimal serta lifelong

learners (pembelajar sejati). Dalam pengembangan pendidikan yang berkualitas

terdapat Sembilan (9) pilar karakter yang terkandung dalam nilai-nilai universal,

antara lain:

1. Cinta Tuhan dan Alam Semesta beserta isinya

2. Tanggung jawab Kedisiplinan dan Kemandirian

3. Kejujuran

4. Hormat dan Santun

5. Kasih Sayang, Kepedulian dan Kerjasama

6. Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras dan Pantang Menyerah

7. Keadilan dan Kepemimpinan

8. Baik dan Rendah Hati

9. Toleransi, Cinta Damai dan Persatuan (Megawangi, 2004)

Pendidikan yang berkualitas sangat berperan besar dalam menentukan kualitas

individu ataupun masyarakat bangsa secara keseluruhan. Di sini perlu mendudukkan

pendidikan sebagai sebuah nilai yang tumbuh di masyarakat. Jika nilai pengetahuan

(51)

berjuang untuk menuntut ilmu tanpa mengenal kata berhenti. Hal tersebut merupakan

cikal bakal terbangunnya semangat toleransi, keinginan untuk saling berbagi

(reciprosity) dan semangat kemanusiaan (altruism) untuk membangun keselamatan,

muncul perasaan berharga (sense of efficacy), merangsang keinginan untuk menjalin

hubungan dengan orang lain (networking) dan saling mempercayai (trust).

2.8. Modal Sosial dalam Pengembangan Wilayah

Kualitas masyarakat perlu untuk mewujudkan kemampuan dan prestasi

bersama. Hal ini mencakup ciri-ciri yang berhubungan dengan kelangsungan

masyarakat itu sendiri. Dahlan, (2003) kualitas masyarakat ditelaah atas beberapa

kelompok dengan detail sebagai berikut:

1. Perihal kehidupan bermasyarakat yang dilihat dari keserasian sosial,

kesetiakawanan sosial, disiplin sosial dan kualitas komunikasi sosial.

2. Kehidupan sosial politik melalui level demokrasi, keterbukaan akses untuk

partisipasi politik, kepemimpinan yang terbuka, ketersediaan sarana dan prasarana

komunikasi politik, serta keberadaan media massa.

3. Kehidupan kelompok

4. Kualitas lembaga dan pranata kemasyarakatan dengan mempelajari kemutakhiran

institusi dan kualitas, kemampuan institusi menumbuhkan kemandirian

masyarakat dan menjalankan fungsi yang baik, kualitas pemahaman terhadap hak

Figure

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1.

Kerangka Pemikiran p.58
Gambar 3.1. Peta Lokasi Penelitian

Gambar 3.1.

Peta Lokasi Penelitian p.61
Tabel 3.1. Populasi dan Sampel Responden

Tabel 3.1.

Populasi dan Sampel Responden p.62
Gambar 4.1. Peta Administrasi Kabupaten Tapanuli Utara

Gambar 4.1.

Peta Administrasi Kabupaten Tapanuli Utara p.66
Tabel 4.1. Luas Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Berdasarkan Tingkat                     Ketinggian di Atas Permukaan Laut

Tabel 4.1.

Luas Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Berdasarkan Tingkat Ketinggian di Atas Permukaan Laut p.67
Tabel 4.2. Luas Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Berdasarkan Tingkat

Tabel 4.2.

Luas Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Berdasarkan Tingkat p.68
Tabel 4.3. Banyaknya Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan        Kepadatan Penduduk di Kabupaten Tapanuli Utara

Tabel 4.3.

Banyaknya Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk di Kabupaten Tapanuli Utara p.69
Tabel 4.4. Angka Indeks Kemiskinan per Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara

Tabel 4.4.

Angka Indeks Kemiskinan per Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara p.70
Gambar 4.2. Peta Administrasi Kecamatan Garoga

Gambar 4.2.

Peta Administrasi Kecamatan Garoga p.72
Tabel 4.6. Jumlah Sekolah Menurut Desa dan Jenjang Sekolah di Kecamatan Garoga Tahun 2010

Tabel 4.6.

Jumlah Sekolah Menurut Desa dan Jenjang Sekolah di Kecamatan Garoga Tahun 2010 p.74
Tabel 4.5. Banyaknya Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan        Kepadatan Penduduk di Kecamatan Garoga Tahun 2009

Tabel 4.5.

Banyaknya Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Garoga Tahun 2009 p.74
Tabel 4.7. Jumlah Lulusan, Siswa Mengulang, Putus Sekolah Siswa SD, SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2006/2007

Tabel 4.7.

Jumlah Lulusan, Siswa Mengulang, Putus Sekolah Siswa SD, SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2006/2007 p.75
Tabel 4.8. Jumlah Lulusan, Siswa Mengulang, Putus Sekolah Siswa SD, SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2009/2010

Tabel 4.8.

Jumlah Lulusan, Siswa Mengulang, Putus Sekolah Siswa SD, SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2009/2010 p.76
Tabel 4.11.  Tanggapan Masyarakat tentang Kemurahan Hati Masyarakat Desa

Tabel 4.11.

Tanggapan Masyarakat tentang Kemurahan Hati Masyarakat Desa p.79
Tabel 4.12. Tanggapan Masyarakat tentang Partisipasi Masyarakat Desa

Tabel 4.12.

Tanggapan Masyarakat tentang Partisipasi Masyarakat Desa p.80
Tabel 4.15. Tanggapan Masyarakat tentang Nilai-nilai Agama Masyarakat Desa dalam Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah Kecamatan Garoga

Tabel 4.15.

Tanggapan Masyarakat tentang Nilai-nilai Agama Masyarakat Desa dalam Pembangunan Gedung Sekolah di Daerah Kecamatan Garoga p.81
Tabel 4.16. Tanggapan Masyarakat tentang Nilai-nilai Budaya Masyarakat Desa

Tabel 4.16.

Tanggapan Masyarakat tentang Nilai-nilai Budaya Masyarakat Desa p.82
Tabel 4.19. Tanggapan Masyarakat tentang Peran Masyarakat Desa Bila Ada

Tabel 4.19.

Tanggapan Masyarakat tentang Peran Masyarakat Desa Bila Ada p.84
Tabel 4.20. Tanggapan Masyarakat tentang Keinginan Masyarakat Desa dalam                     Memajukan Wilayahnya di Sektor Pendidikan

Tabel 4.20.

Tanggapan Masyarakat tentang Keinginan Masyarakat Desa dalam Memajukan Wilayahnya di Sektor Pendidikan p.84
Tabel 4.21. Tanggapan Masyarakat tentang Peran Masyarakat Desa Dapat

Tabel 4.21.

Tanggapan Masyarakat tentang Peran Masyarakat Desa Dapat p.85
Gambar 4.3. Rangkuman Hasil Wawancara dengan Responden

Gambar 4.3.

Rangkuman Hasil Wawancara dengan Responden p.86
Tabel 4.22. Tanggapan Responden tentang Modal Sosial pada Pembangunan                    Pendidikan

Tabel 4.22.

Tanggapan Responden tentang Modal Sosial pada Pembangunan Pendidikan p.86
Tabel 4.23. Hasil Analisis Regresi Sederhana

Tabel 4.23.

Hasil Analisis Regresi Sederhana p.93

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in