Perilaku Kesehatan pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakrta Angkatan 2012 pada tahun2015

Teks penuh

(1)

i

DOKTER UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF

HIDAYATULLAH JAKARTA ANGKATAN 2012 PADA

TAHUN 2015

Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

Disusun Oleh:

Mohammed J.M. Shabat

NIM : 1112103000102

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERISYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

Assalamu’alikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, karunia, kasih saying dan ridho-Nya kepada kita semua. Sholawat beserta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang karena rahmat dan ridho-Nya saya dapat menyelesaikan penelitian dan laporan penelitian dengan judul “Perilaku Kesehatan pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakrta Angkatan 2012 pada tahun2015.”

Penyusunan laporan penelitian ini dapat terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ingiin mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM., M.Kes. Selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta yang selalu membimbing kami dalam segala hal untuk menjadi lebih baik.

2. dr. Achmad Zaki, M.Epid., SpOT selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dokter beserta segenap dosen program studi pendidikan dokter yang selalu memberikan bimbingan dan ilmu kepada saya selama menjalani masa pendidikan di Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. dr. Nouval Shahab, SpU, PhD, FICS,FACS selaku penanggung jawab Modul Riset Program Studi Pendidikan Dokter 2012 yang selalu membimbing dan memberikan motivasi dalam pelaksaan penelitian ini. 4. dr. Risahmawati, PhD selaku pembimbing pertama yang telah banyak

sekali memberikan ilmu dan waktu beliau serta memberikan arahan, motivasi dan semangatkepada saya untuk selalu membimbing dengan penuh kesabaran dan kasih sayang sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

(6)

vi

6. dr. M. Djauhari Widjajakusumah, AIF, PFK dan dr. MaritaFadhilah, Ph.D selaku penguji sidang laporan penelitian ini.

7. Bu Pipit dan Pak Ajip selaku petugas administrasi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bagian akademik yang membantu dalam proses perijinan sidang skripsi.

8. Kedua orang tua saya tercinta, kakak serta adik kandung saya serta seluruh keluarga besar saya yang telah turut serta dan selalu memberikan dorongan , motivasi, do’a dan kasih sayang yang tak terhingga selama penelitian ini. Tanpa do’a dan dukungan mereka penelitian ini tidak akan berjalan lancar.

9. Terimakasihkepada Kiki Rosmayanti yang

telahmemberidukungandanmotivasisehinggapenelitianinidapatterselesaika n.

10.Teman – Teman keluarga besar PSPD 2012 UIN Syarif Hidayatullah untuk waktu yang telah dilalui bersama selama masa pendidikan saya di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

11.Semua pihak yang telah memebrikan dukungan dan do’a kepada saya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Laporan penelitian ini kemungkinan besar masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran untuk dapat memperbaiki laporan penelitian ini menjadi lebih baik lagi. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti, masyarakat serta yang membaca penelitian ini. Segala bentuk/’ bantuan dan kebaikan yang telah dilakukan demi selesainya laporan penelitian ini, semoga mendapatkan balasan dari Allah SWT.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 14 September 2015

(7)

vii

Mohammed Jamal Mohammed Shabat. Program Studi Pendidikan Dokter. Gambaran Perilaku Kesehatan pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 pada Tahun 2015.

(8)
(9)

ix

of Health behavior among Medical Students at Faculty of Medicine and Health

SciencesSyarifHidayatullah Islamic State University.

In line with increasing developments of the era globalization, as well as the demographic transition and the epidemiology of the disease,therefore health problems due to the behavior and lifestyle changes relating to the socio-cultural behavior tends to be more complex. The improvement is not just carried on aspects of health care, improvements of the environment and manipulate the population or hereditary factors,but the need to pay attention to behavior factors that theoretically has contributed 30-35% of the health status. The purpose of this study is to describe the health behavior among medical students. The collection of data through questionnaires. The sample used were all the Medical students of Faculty of Medicine and Health SicencesSyarifHidayatullah State Islamic University (UIN) 3rd year in 2015. This study is andescriptive Study using cross-sectional design. Obtained data was presented in table form. The results of this study are the respondents who have a good health status as much as 54.2% and the poorly as much as 45.8%. The respondents who have good hygiene behavior as much as 59.4% and the poorly as much as 40.6%.The respondents who have good dietary behavior and poorly as much as 43.8% as much as 56.3. The respondents who have good risk behavior as much as 55.2% and who have Bad risk behavior as much as 44.8%. The respondents who have good physical activity behavior as much as 55.2% and the poorly as much as 44.8%. Several parameters then processed to divide the population of the study into two groups. With the results of the respondents who have good health behavior as much as 49.0% and the poorly health behavior as much as 51.0%.

(10)

x

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Hipotesis ... 2

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Landasan Teori ... 5

2.1.1 Kesehatan………..……….5

2.1.1.1Definisi Sehat….………...………...…...5

2.1.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan…….7

2.1.2 Konsep Sehat Menurut Islam ... 10

2.1.3 Perilaku ... 17

2.1.3.1 Batasan Perilaku ………...17

2.1.3.2Tingkatan Perilaku………...….20

2.1.3.3 Perilaku Kesehatan ...………….22

2.1.4 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat……….25

(11)

xi

2.4Definisi Operasional ... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 33

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 33

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 33

3.3.1 Populasi ... 33

3.3.2 Sampel ... 33

3.4 Cara Kerja Penelitian ... 34

3.4.1 Kriteria Penelitian…….………..…..…………...35

3.4.2 Metode Pengumpulan Data……….…..…...35 3.5 Manajemen Data ... 35

3.5.1 Pengolahan Data... 35

3.5.2 Penilaian Kuesioner ... 37

3.5.3 Etika Penelitian ... 39

3.5.4 Biaya Penelitian ... 39

3.5.5 Time Table……...………..39 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Hasil ... 40

4.1.1 Analisis Univariant... 40

4.1.2 Karakteristik Responden ... 40

4.1.3Distribusi Frekuensi Responden ... 41

4.1.4 Sebaran responden berdasarkan status kesehatan, Hygiene behavior, Dietary behavior, Risk behavior danPysical activity behavior………43

4.1.5 Gambaran Antar Variabel ... 45

4.1.5.1 Chi-Square dan Uji Fisher……….,,,45

4.2 Pembahasan ... 47

4.2.1 Status Kesehatan ... 47

4.2.2 Hygiene behavior ... 48

4.2.3 Dietary behavior ... 48

4.2.4 Risk behavior ... 49

(12)

xii

5.2 Saran ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 53

(13)

xiii

Jenis Kelamin………33

Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian……….………..39

Tabel 4.1Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Sosio-Ekonomi ... 40

Tabel 4.2Distrbusi Frekuensi Responnden Berdasarkan Perilaku Kesehatan Mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 .. 41

Tabel 4.3Sebaran responden berdasarkan status kesehatan, status kebersihan, status gizi, perilaku berisiko dan aktivitas fisik ... 44

Tabel 4.4Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Kesehatan (Health Behaviour) pada Mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 ... 43

Tabel 4.5Hubungan Usia dengan Perilaku Kesehatan ... 46

Tabel 4.6Hubungan Jenis Kelamin dengan Perilaku Kesehatan ... 46

Tabel 4.7Hubungan Status Kesehatan dengan Beberapa Variabel ... 47

Tabel 4.8Hubungan Status Kebersihan dengan Tempat Tinggal Sekarang ... 48

Tabel 4.9Hubungan Perilaku Berisiko dengan Tempat Tinggal Sekarang ... 49

Tabel 4.10Hubungan Status Gizi dengan Uang Saku Perbulan ... 50

Tabel 4.11Hubungan Tempat Tinggal Sekarang dengan Beberapa Variabel ... 50

(14)

xiv

Lampiran 1 Lembar Kesediaan Responden Penelitian( Informed Consent ) ... 62

Lampiran 2 Kuesioner Penelitian ... 64

Lampiran 3 Ethical Aprove…...…...………..…….66

(15)

1

1.1. Latar Belakang

Rencana pembangunan jangka panjang bidang kesehatan RI tahun 2005 – 2025 atau “Indonesia Sehat 2025” disebutkan bahwa perilaku masyarakat yang diharapkan dalam Indonesia Sehat 2025 adalah perilaku yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan; mencegah risiko terjadinya penyakit; melindungi diri dari ancaman penyakit dan masalah kesehatan lainnya; sadar hukum; serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat, termasuk menyelenggarakan masyarakat sehat dan aman (safe community)1.

Seiring dengan cepatnya perkembangan dalam era globalisasi, serta adanya transisi demografi dan epidemiologi penyakit, maka masalah penyakit akibat perilaku dan perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya cenderung akan semakin kompleks. Perbaikannya tidak hanya dilakukan pada aspek pelayanan kesehatan, perbaikan pada lingkungan dan merekayasa kependudukan atau faktor keturunan, tetapi perlu memperhatikan faktor perilaku yang secara teoritis memiliki andil 30 - 35 % terhadap derajat kesehatan.1

Tahun 2002, World Health Organisation mengatakan bahwa di negara-negara industri di Amerika Utara, Eropa dan Asia “Alkohol, Merokok, konsumsi buah-buahan dan sayuran yang rendah serta kurangnya aktivitas fisik merupakan 29% dari beban dan penyebab suatu

penyakit”.

(16)

tersebut adalah kebiasaan merokok, alkohol dan Dietary behavior, meskipun kebiasaan merokok, alkohol dan kebiasaan makan mahasiswa kesehatan dalam kondisi baik (masing-masing 95,1%, 89,7%, 48,9%)2. Namun, masih terdapat beberapa mahasiswa kesehatan yang memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik meskipun persentasenya kecil. Dengan latar belakang mahasiswa kesehatan yang mendapatkan pendidikan yang cukup tentang kesehatan, diharapkan presentase tersebut dapat diturunkan lagi, hingga ilmu pengetahuan yang didapat semasa pendidikan dapat diamalkan di kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, peneliti bermaksud melakukan penilitian ilmiah untuk menggambarkan perilaku kesehatan pada mahasiswa kesehatan. Sehingga dapat diperoleh data yang menunjang penetapan strategi yang lebih tepat untuk memperbaiki perilaku kesehatan pada mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 yang dijadikan subjek penelitian. Penelitian ini diberi judul Gambaran Perilaku Kesehatan pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakrta Angkatan 2012 pada tahun 2015.

1.1.Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Gambaran perilaku kesehatan pada mahasiswa PSPD tingkat 3 di FKIK UIN Syarif HidayatullahJakarta.

1.2.Hipotesis

(17)

1.3.Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui dan memahami gambaran perilaku kesehatan mahasiswa PSPD tingkat 3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2015.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui gambaran Status kesehatan, Perilaku Gizi, Aktivitas Fisik, Hygiene behavior dan Perilaku Berisiko pada mahasiswa PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2015.

1.4.Manfaat Penelitian

1. Bagi Subjek Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang valid tentang beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan pada mahasiswa kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2015.

2. Bagi Institusi

a. Dalam rangka memberikan informasi yang akan bermanfaat bagi pengembangan kebijakan fakultas, pengarahan, dan pencegahan kegiatan mahasiswa yang mengarah pada perilaku kesehatan yang berisiko buruk.

b. Selain itu, promosi kesehatan ini sejalan dengan reformasi strategi Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional, yaitu 'pencegahan lebih baik daripada pengobatan.

(18)

3. Bagi Peneliti

a. Menambah pengetahuan peneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kesehatan yang buruk pada mahasiswa PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1.Kesehatan

2.1.1.1. Definisi Sehat

Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakitakan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Menurut WHO (2005) Sehat itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.3 Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif:

1. Memperhatikan individu sebagai sebuah system yang menyeluruh. 2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan

eksternal.

3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.4

Kata health berasal dari hal, yang berarti “hale, sound, whole” (kuat, baik, utuh). Berkaitan dengan kesehatan manusia, kata health (kesehatan) telah didefinisikan dengan sejumlah cara. Definisi kesehatan yang dipublikasikan. World Health Oraganization (WHO) di tahun 1974

(20)

intelektual, spiritual dan dimensi okupasional. Penulis buku kesehatan masyarakat suatu pengantar memutuskan untuk menggabungkan definisi kesehatan tersebut dengan definisi yang diciptakan sendiri yaitu kesehatan sebagai keadaan atau kondisi dinamis yang sifatnya multidimentional dan merupakan hasil dari adaptasi seseorang terhadap lingkungannya. Kesehatan merupakan sumber untuk kehiudpan danada dalam berbagai

tingkatan. “banyak orang yang menikmati suatu konidis sehat walau orang

lain mungkin memandang kondisi tersebut sebagai kondisi sakit”.5

Health is a state of complete physical, mental and social wellbeing and not merely an absence of disease or infirmity”. Kesehatan adalah sebuah pernyataan tentang keadaan fisik, mental dan sosial yang baik (sejahtera), tidak hanya semata-mata berkenaan dengan tidak adanya penyakit atau kelemahan. Oleh karena itu secara lebih operasional, kesehatan dirumuskan sebagai berikut:” Health is condition or qualityof the human organism expressing the adequate functioning of the organism in given condititon, genetic or environmental. Health means there is no obvious evidence of disease, and that a person and organs of the body are functioning normally”. Kesehatan adalah keadaan atau kualitas organisme manusia yang mampu menjalankan fungsinya dengan baik, dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor genetika dan lingkungan.6

(21)

bahwa pribadi yang sehat secara holistic meliputi sehat fisik, sehat jiwa, sehat sosial dan sehat spiritual.5,7

Empat dimensi sehat ini telah diadopsi oleh American Psychiatric Association pada tahun 1992 dalam konsep sehat biopsikososial spiritual. Konsep sehat ini tidak berdiri sendiri secara terpisah, tetapi saling kait-berkait dan menunjang.7

Dengan dimikian, kesehatan adalah totalitas yang menunjukkan tidak adanya penyakit, dan bahwa organ-organ tubuh berfungsi secara normal. Konsep kesehatan secara holistic meliputi berbagai dimensi seperti dimensi fisik, mental, sosial, spiritual, emosi, pekerjaan, filosofi, kultural, sosial ekonomi, pendidikan, nutrisi, kuratif dan preventif.8

2.1.1.2.Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesehatan sehingga status kesehatan setiap individu berlainan. Faktor tersebut diantaranya adalah:

1. Faktor fisik

Faktor- faktor fisik mencakup pengaruh geografi dan lingkungan. Masalah kesehatan akibat faktor geogafi dapat dipengaruhi secara langsung oleh ketinggian, letak dan iklimnya. Di Negara tropis yang iklimnya hangat, lembab dan hujan turun sepanjang tahun, penyakit parasite dan infeksius merupakan masalah kesehatan yang utama. Sedangkan faktor lingkungan ini berkaitan dengan kepedulian kita terhadap lingkungan.7

(22)

Faktor-faktor sosial merupakan faktor yang muncul dari interaksi antara individu. Contohnya masyarakat yang hidup di daerah kota dengan kehiduapan serba cepat, memiliki angka kesakitan terkait stress yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang hidup di desa dimana kehidupan disana lebih tenang. Faktor-faktor budaya muncul dari petunjuk (baik eksplisit maupun implisit) yang diwariskan kepada seseorang sebagai bagian dari kelompok lingkungan tertentu. Petunjuk ini akan mengarahkan mereka bagaimana berperilaku di dalamnya berkaitan dengan hubungan dengan orang lain, dengan kekuatan supranatural atau Tuhan dan/dengan lingkungan alamnya.7

3. Faktor kepercayaan, tradisi dan praduga

Kepercayaan, tradisi dan praduga dari anggota masyarakat dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat itu. Kepercayaan masyarakat terhadap perilaku kesehatan khusus seperti merokok dapat mempengaruhi pembuatan kebijakan dalam memutuskan untuk menggunakan atau tidaknya aturan dilarang merokok. Tradisi dari kelompok etnik tertentu dapat mempengaruhi jenis makanan dan layanan yang tersedia di masyarakat.7

4. Faktor ekonomi

Baik situasi ekonomi setempat maupun nasional dapat mempengaruhi kesehatan melalui penurunan pelayanan kesehatan dan sosial. Penurunan kondisi ekonomi berarti bahwa pemasukan pajak yang rendah.7

(23)

Pada besar atau kecilnya partisipasi pemerintah dalam isu-isu kesehatan. Contohnya, telah menjadi pembicaraan lama di AS untuk memutuskan sejauh mana pemerintah terlibat dalam layanan kesehatan.7

6. Faktor agama

Sejumalah agama mengambil sikap tersendiri terhadapa layanan kesehatan. Contohnya, beberapa komunitas keagamaan membatasi jenis perlakuan medis yang dapat diterima anggotanya.Sebagiantidak membolehkan imunisasi,lainnya tidakmembolehkan anggota mereka diobati oleh dokter. Jelas bahwa agama dapat mempengaruhi kesehatan suatu komunitas baik secara positif maupun negatif.7

7. Norma Sosial

Pengaruh norma sosial dapat bersifat positif maupun negatif dan dapat berubah kapan saja. Merokok, misalnya. Selama tahun 1940-an, 1950-an dan 1960-an , merokok di kebanyakan tempat dapat diterima. Kenyataannya, pada tahun sekitar 1960-an , sekitar 53% pria Amerika dan 32% wanita Amerika merokok. Dengan begitu, di tahun 1960-an, perokok dapat diterima masyarakat, apalagi biloa perokok itu pria. Di akhir abad ke-20, persentase perokok mnurun menjadi 27.6% untuk pria dan 2.1% untuk wanita, dan di kebanyakan tempat umum merokok tidak dapat lagi diterima. Tuntutan hukum terhadap perusahaan tembakau baik oleh pihak kejaksaan ataupun perorangan memberikan bukti lebih jauh bahwa merokok tidak dapat lagi diterima oleh masyarakat. Karena perubahan norma sosial ini, makin sedikit asap rokok sekunder di banyak tempat umum, dan sebagai akibatnya kesehatanpun membaik.7

(24)

Baik di Amerika serikat maupun di Eropa Barat, kesenjangan antara status kesehatan dan kematian antara mereka yang menguasai dan tidak menguasai kekuatan ekonomi dan sumber daya sosial semakin melebar. Ini berarti merka yang status sosial ekonominya paling rendah, status kesehatannya pun paling rendah dan paling sulit mendapatkan akses layanan kesehatan. Gerbang menjuju system layanan kesehatan untuk kebanyakan orang Amerika adalah doker keluarga. Kaum tak berpunya jarang memiliki dokter keluarga. Bagi mereka, gerbang menuju system layanan kesehatan adalah ruang gawat darurat rumah sakit setempat. Selain mendapatkan akses menuju layanan kesehatan, pendapatan lebih tinggi menumngkinakan seseorang untuk memiliki rumah lebih baik, tinggal di pemukiman yang lebih aman dan menngkatkan peluangnya untuk menerapkan perilaku yang meningkatkan kesehatan.7

2.1.2. Konsep Sehat Menurut Islam

Dalam Bahasa arab kata sehat diungkapakan dengan kata as-sihhah yaitu keadaan baik, bebas dari penyakit dan kekurangan serta dalam keadaan normal.9

(25)

sesuatu yang terbebas dan selamat dari segala yang tercela. Sehat dapat pula erarti segar, tak sakit, betul, tak salah, selamat dan terpakai.8

Kata-kata sehat selanjutnya menjadi sifat atau keadaan yang menggambarkan bukan hanya yang menjangkau kesehatan jasmani dan rohani saja, melainkan juga kesehatan sosial kesehatan lingkungan, kesehatan kerja dan kesehatan gizi. Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya dalam Musyawarah Nasional Ulama tahun 1983 merumuskan

kesehatan sebagai “kesehatan jasmani, kesehatan ruhaniah dan sosial yang

dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengemalkan dan memelihara serta mengembangkannya. Pengertian dan luang lingkup dari masing-masing kesehatan ini dapat dikemukakan sebagai berikut:10

1. Kesehatan Jasmani/Fisik

Dalam konteks kesehatan jasmani atau kesehatan fisik, misalnya ditemukan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “ sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu” (H.R. Bukhari)11

Kesehatan jasmani ini erat kaitannya dengan:

a. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik yaitu makanan dan minuman yang dinyatakan boleh dimakan dan diminum dan juga haru dalam keadaan baik.

(26)

yang ada di tempat tersebut itupun akan kotor dan mudah terserang penyakit.

c. Kebersihan, suci dan bersih adalah dasar dan sendi segala peraturan agama islam dan dibagi-bagi atas kebersihan rumah, kebersihan pakaian dan badan. Kebersihan tubuh yang lahir adalah suatu syarat mutlak untuk memperoleh kesucian batin.

Agar tubuh tetap sehat, al-Qur’an memeberikan beberapa petunjuk dan tuntutan. Baik berupa pemeliharaan maupun pencegahan dan pengobatan, antara lain sebagai berikut:

1. Mengkonsumsi makanan yang bergizi

2. Larangan mengkonsumsi makanan dan minuman yang berbahaya.

3. Larangan makan dan minum secara berlebihan 4. Urgensi gerak dn olahraga bagi kesehatan tubuh

Dengan demikian, tampak bahwa ajaran Islam sangat mementingkan kesehatan jasmani dan fisik yang dilakukan dengan cara memelihara keersihan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan seterusnya yang secara keseluruhan terintegrasi dalam pelaksanaan ibadah.9

2. Kesehatan Rohani

(27)

yang berat menyebabkan ia tidak nafsu makan, badannya lemas dan pada akhirnya jatuh sakit.

Nabi Muhammad SAW menenunjuk bahwa keluhan fisik yang terjadi kemungkinan karena adanya gangguan mental. Seseorang datang mengeluhkan penyakit perut yang diderita saudaranya setelah diberi obat berkali-kali, tetapi tidak kunjung sembuh, hingga dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa perut saudaramu berbohong ( H.R. Bukhari )11.hadits ini memperlihatkan bahwa antara kesehatan rohani memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan jasmani. Sakit perut dalam hadits tersebut adalah disebebkan karena perut orang tersebut suka berbohong.

Al-Qur’an karim memang anyak berbicara tentang penyakit jiwa. Mereka yang lemah Imani dinilai oleh al-Qur’an sebagai orang yang memiliki penyakit didalam dadanya yang dimaksudkan dengan hal itu bahwa mereka tidak dapat hidayat dan telah memilih jalan yang saloah serta hati mereka sakit.

Penyakit-penyakit kejiwaan pun beraneka ragam dan ertingkat-tingkat. Sikap angkuh, benci, dendam, fanatisme dan kikir yang antara lain disebebakan karena bentuk keberlebihan seseorang. Sedangkan rasa takut, cemas, pesimusme, rendah diri adalah karena kekurangannya.

(28)

rasa lemah kemauan, malas, penegecut, kikir, terlilit hutang dan diisolir oleh orang lain”.( H.R. Abu Umamah)12

3. Kesehatan sosial

Hidup bermasyarakat dalam arti yang seluas-luasnya adalah merupakan salah satu naluri manusia. Ia tidak bisadan tidak mungkin mampu hidup sendirian. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, komunikasi, kesehatan, pendidikan dan sebagainya tidak mungkin dapat dipenuhi sendiri. Semua itu dicapai dengan jalan berinteraksi dan berkomunikasi serta bekerjasama dengan orang lain. Upaya ini mau tidak mau membawa manusia harus hidup bermasyarakat.

Berdasrakan petunjuk dan isyarat al-Qur’an dan al-hadist kita menjumpai ajaran etika bermasyarakat tersebut anatar lain ajaran tentang saling tolong menolong, saling hormat menghormati, saling nasehat menasehati, saling asah, dan saling asih dan saling asuh. Sesuai dengan ayat Al-Qur’an Surat al -Maidah:2 yang artinya :

“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebijakan dan takwa, dan janganlah tolng menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”13

Selain dengan memperhatikan dan mengamalkan ajaran

(29)

menghormati, paham agama dan keyakinan masing-masing. Melalui nilai-nilai inilah kesehatan masyarakat dapat diwujudkan.

4. Kesehatan lingkungan

Dilihat dari segi bentuknya kita menjumpai dua macam lingkungan. Pertama, lingkungan fisik dan kedua adalah lingkungan non fisik. Lingkungan fisik adalah lingkungan yang terdiri dari benda-benda yang tidak bernyawa dan bernyawa, seperti langit, matahari, bumi, sungai, laut, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Selanjutnya lingkungan yang bersifat non fisik dapat berupa lingkungan rumah tangga, lingkungan kerja, lingkungan ibadah, lingkungan pendidikan, lingkungan ekonomi, lingkungan politik dan sebagainya. Lingkungan dalam pengertian non spesifik ini selanjutnya dapat dikatakan ebagai situasi atau kondisi.

Lingkungan fisik yang sehat dapat ditandai oleh adanya penghijauan yang asli, hutan dan segenap isinya terjaga dengan baik, laut dengan segala isinya dapat dipelihara kejernihan dan kelestariannya, jalan-jalan raya dapat dipelihara kebersihan, ketertiban, keamanan, kenyamanan, dan keindahannya. Lingkungan yang sehat juga ditandai oleh tersedianya air yang jernih dan mencukupi, udara yang segar, bersih dan tidak tercemar oleh polusi dan sebagainya.

(30)

manusia dalam upaya mewujudkan kesehatan jasmani dan rohaninya sebagaimana tersebut di atas.

5. Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja dapat diartikan sebagai kesehatan tempat kerja, dan dapat pula berartisuatu keadaan dimana seluruh aspek yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan berada dalam keadaan sehat. berbagai aspek tersebut antara lain adanya ruangan kerja yang bersih, berkomunikasi dalam jumlah dan kualitas yang cukup dan berfungsi dengan baik, pimpinan yang bijaksana, demokratis, adil penuh perhatian, kasih saying kepada anak buahnya dan memberikan imbalan yang memadai. Sebagai imbangannya, lingkungan kerja yang baik adalah lingkungan kerja yang karyawannya disiplin, jujur, semangat, hormat kepada atasan, bertanggung jawab dan bersahabat dengan seas am rekan kerja lainnya.

Kesehatan kerja juga dapat berarti kerja yang dipotong oleh penguasaan wawasan, ketrampilan serta akhlak dan kepribadian yang agung. Dengan perpaduan tiga kompetensi tersebut, maka pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik.

6. Kesehatan Gizi

Kesehatan gizi juga diartikan sebagai kesehatan yang berkaitan dengan kualitas dan kadar protein, mineral dan khasiat lainnya dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia. Makanan dan minuman tersebut kemudia diteliti unsur khasiat dan manfaatnya bagi kebutuhan manusia, kemudian dinyatakan sebagai makanan dan minuman yang baik dan halal.

(31)

dan minuman tersebut. Makanan dan minuman tersebut misalnya harus diolah hingga benar-benar masak dan disajikan dengan menggunakan wadah dan tempat yang bersih. Kesehatan gizi ini selanjutnya dapat berfungsi dalam menpang kesehatan jasmani dan rohani manusia. Sebagaimana al-Qur’an menyatakan dalam surat al-Baqarah:186, al-Maidah: 88 dan al-Nahl: 144 ahwa islam memerintahkan kepada manusia memakan sesuatu yang berasla dari bumi, makanan dan minuman yang benar-benar halal dan baik.

2.1.3. Perilaku

2.1.3.1.Batasan Perilaku

Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan, tidak hanya badan atau ucapan, sedangkan batasan-batasan perilaku (behavior) menurut Chaplin adalah respon (reaksi, tanggapan, jawaban, balasan ) yang dilakukan suatu organisme, secara khusus merupakan bagian dari kesatuan pola reaksi suatu perbuatan atau aktivitas, suatu gerak atau kompleks gerak-gerik.14

Masalah kesehatan merupakan masalah yang kompleks yang berupa resultan dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Derajat keehatan masyarakat yang disebut sebagai Psycho-Socio Somatic Health Well Being, merupakan resultan dari 4 faktor yaitu :

a. Environment atau lingkungan

b. Behaviour atau perilaku baik perilaku kesehatan maupun perilaku-perilaku lainnya, antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.

(32)

d. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.

Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kelas sosial, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama, bergantung dari variable-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien.15

Selanjutnya lewrence Green mejelaskan bahwa perilaku itu dilator belakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:

a. Faktor Predisposisi ( predisposing factors) seperti pengetahuan, sikap dan sebagainya.

b. Faktor- faktor yang mendukung (enabling factors ) seperti ketersediaan sumber/ fasilitas.

c. Faktor- faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factors ) seperti sikap dan perilaku petugas.16

(33)

Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hiudp ) yang bersangkutan. Oleh sebab itu , dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud dengan perliaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari masnusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku manusia adalah semua kegiatan ataupun aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.18

Skinner 1938 seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus ( rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap oraganisme,k dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus Organisme Respons. Skinner membedakan adanya dua respons:

a. Respondent respons atau Reflexive, yakni respons yang

ditimbulkan oleh rangsangan- rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut elictitng stimulation karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap. Misalnya, makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan,cahaya teranga menyebabkan mata tertutup dan sebagainya. Respondent respons ini juga mencakup perilaku emosional, misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraan dengan mengadakan pesta dan sebagainya.

(34)

stimulaton atau reinforce, karena memperkuat respons. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksankan tugasnya dengan baik (respons terhadaptugasnya) kemudian memperoleh penghargaan dari atasannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanaan tugasnya.18

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua:

a. Perilaku tertutup (covert behavior)

Respons sesorang terhadap stimulus dalam bentuk terselebung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengerahuan/kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

b. Perilaku terbuka ( overt behaviour)

Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.18

(35)

2.1.3.2. Tingkatan Perilaku

Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perubahan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas, praktik atau tindakan memiliki beberapa tindakan, sebagi berikut:

a. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.

b. Respon terpimpin (guided response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh yang daapt merupakan indicator praktik tingkat dua.

c. Mekanisme ( mechanisme)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.

d. Adopsi ( adoption)

Adospi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan tersebut sudah dimodifikasitanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.18

2.1.3.3. Perilaku kesehatan

(36)

a. Perilaku pemeliharaan kesehatan ( health maintenance)

Adalah perilaku atau usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bila sakit. Oleh sebab itu, perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri atas 3 aspek yaitu

1) Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit, seerta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.

2) perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorng dalam keadaan sehat.

3) perilaku gizi (makanan dan minuman), makanan dan minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan dapat mendatangkan penyakit.

b. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior).

Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini di mulai dari menobati sendiri(self treatemnet) sampai mencari pengobatan ke luar negri.

c. perilaku kesehatan lingkungan

(37)

Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri. Perilaku ini antara lain mencakup:

1) Perilaku sehubungan dengan air bersih.

2) Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor. 3) Perilaku sehubungan dengan limbah.

4) Perilaku sehubungan dengan rumah sehat.

5) Perilaku sehubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk.

Seseorang ahli lain (Becker, 1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini:

a. Perilaku hidup sehat

Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antara lain:

i. Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang disini dalam arti kualitas (mengandung zat-zat gizi yang diperlukan tubuh), dan kuantitas dalam arti jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh (tidak kurang, tetapi juga tidak lebih). Secara kualitas mungkin di Indonesia dikenal dengan ungkapan Empat Sehat Lima Sempurna

(38)

iii. Menghindari perilaku berisiko yang terdiri atas merokok yang merupakan kebiasaan buruk yang mengakibatkan berbagai macam penyakit. Ironisnya kebiasaan merokok ini, khususnya di Indonesia, seolah-olah sudah membudaya. Hampir 50% penduduk Indonesia usia dewasa merokok. Bahkan dari hasil suatu penelitian,dapat disimpulkan bahwa sekitar 15% remaja Indonesia merokok. Inilah tantangan pendidikan kesehatan di Indonesia. Kebiasaan minum minuman keras dan mengkonsumsi narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya lainnya, juga cenderung meningkat. Sekitar 1% penduduk Indonesia dewaswa diperkirakan sudah mempunyai kebiasaan minum minuman keras. Dan mencegah perilaku seks yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan sosialisasi seseorang baik di masa sekarng maupun di masa depan.

iv. Istirahat yang cukup. Dengan meningkatnya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk penyesuaian dengan lingkungan modern, mengharuskan seseorang untuk bekerja keras dan berlebihan, sehingga waktu istirahat berkurang. Hal ini juga dapat membahayakan kesehatan.

(39)

mengendalikan atau mengelola stress dengan kegiatan-kegiatan yang positif.

vi. Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya tidak berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks, penyesuaian diri kita terhadap lingkungan dan sebagainya.

b. Perilaku sakit ( Illnes Behaviour)

perilaku sakit ini mencakup respons seseorang terhadap sakit dan penyakit serta presepsinya terhadap sakit itu, pengetahuan tentang penyebab dan gejal penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya.

c. Perilaku peran sakit ( The Sick Role Behaviour)

Dari segi sosiologi, orang sakit mempunyai peran yang mencakup hak-hak orang sakit dan kewajiban sebagai orang sakit. Hal dan kewajiban ini harus diketahui oleh orang sakitsendiri maupun orang lain (terutama kularganya). Yang selanjutnya disebut perilaku peran orang sakit.18,21

2.1.4. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat ( PHBS ) 2.1.4.1. Definisi PHBS

(40)

upaya untuk memabntu masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri dalam atanan masing-masing agar dapat menerapkan cara-cara hdiup sehat dalam rangka menjaga, memelihara, dan meningkatkan kesehatan.22 PHBS juga didefinisikan sebagai sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.23

PHBS adalah bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya hidup perorangan, keluarga, dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memilihara, dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental, spiritual maupun sosial.22,23

Dalam kaitannya dengan “ Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan” sebagai strategi Pembangunan Nasional untuk mewujudkan “Indonesia Sehat 2010”. Paradigm sehat perlu dijabarkan dan

dioperasionalkan antara lain dalam bentuk PHBS.20

2.1.4.2. Sasaran PHBS

Dalam program PHBS ini dilakukan pada sasaran utama yaitu PHBS tatanan Rumah Tangga yaitu seluruh anggota keluarga yaitu pasangan Usia Subur, bumil, anak, remaja, lansia, dan pengasuh anak yang selanjutnya diharapkan akan berkembang kea rah Desa/ Kelurahan. Kecamatan/Puskesmas dan Kabupaten/kota sehat.24

Ada beberapa hal yang sangat perlu diterapkan sasaran PHBS dengan memperhatikan hal-hal itu untuk mengurangi prevalensi keadaan yag buruk terkait kesehatan, hal-hal itu sebagai berikut:

a. Kebersihan Kulit

Memelihara kebersihan kulit, harus memperhatikan kebiasaan berikut ini:

(41)

ii. Mandi pakai sabun.

iii. Menjaga kebersihan pakaian. iv. Menjaga kebersihan lingkungan.

b. Kebersihan Rambut

Untuk selalu memelihara rambut dan kulit kepala dan kesan cantik serta tidak berbau apek, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

i. Memperhatikan kebersihan rambut dengan mencuci rambut sekurang-kurangnya dua kali seminggu.

ii. Mencuci rambut dengan shampoo/ bahan pencuci rambut lainnya.

iii.Menggunakan alat-alat pemeliharaan rambut sendiri.25

c. Kebersihan Gigi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kebersihan gigi adalah sebagai berikut:

i. Menggosok gigi secara benar dan teratur dianjurkan setiap habis makan.

ii. Memakai sikat gigi sendiri.

iii. Menghindari makanan yang merusak gigi.

iv. Membiasakan makan buah-buahan yang menjaga kesehatan gigi.

v. Memeriksakan gig secara rutin.25

d. Kebersihan Tangan, kaki dan kuku

(42)

dengan sabun yang benar dan di saat yang tepat dapat menjadi peran penting dalam mengurangi kemungkinan adanya bakteri penyebab diare melekat pada tangan, tapi praktik cuci tangan harus dilakukan dengan benar dan pada saat yang tepat. Waktu yang tepat untuk mencuci tangan dengan sabun adalah ketika sebelum makan, sebelum memberi makan anak, sebelum menyiapkan makanan, setelah buang air besar dan setelah membantu anak membuang air besar.26

Menurut Siti Khadijah 2007, kebersihan kaki sama halnya dengan kebersihan tangan yaitu dalam kebersihan nya harus menggunakan sabun sehingga kulit kaki bersih dan bebas dari penyakit terutama pnyakit kulit.27

Kuku yang bersih menghindarkan kita dari berbagai penyakit dan juga secara estetika akan lebih indah. Oleh karena itu kuku yang kotor dapat menyebabkan penyakit tertentu antara lain :

1. Pada kuku sendiri i. Cantengan ii. Jamur kuku

2. Pada tempat lain

i. luka dan infeksi tempat garukan ii. cacingan

menurut Odang, 1995 yang dikutip oleh siti Khadijah 2007 menyatakan bahwa dalam menghindari penyakit akibat kuku yan kotor maka perlu diperhatikan hal berikut:

1. membersihkan tangan sebelum makan. 2. memotong kuku secara teratur.

3. membersihkan lingkungan. 4. mencuci kaki sebelum tidur.

(43)

olah raga yang teratur mencakup kualitas gerakan dan kuantitas dalam arti dan frekuensi yang digunakan untuk berolahraga. Dengan demikian akan menentukan status kesehatan seseorang khususnya anak-anak pada masa pertumbuhan.18

dorongan berolahraga secara teratur dapat memelihara jantung, peredaran darah dan frekuensi nadi. Macam-macam olah raga yang dapat kita lakukan antara lainnya seperti bersepeda,lari,berenang dan senam.25

f. Gizi dan Menu Seimbang

Keadaan gizi setiap individu merupakan faktor yang amat penting karena zat gizi kehidupan yang esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia sepanjang hayatnya. Gizi seimbang adalah salah satu faktor pecepatan pada pertumbuhan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, aktif dan produktif. Sebaliknya, kekurangan gizi pada anak-anak dan dewasa akan mengakibatkan lemahnya kemampuan belajar, sepat lelah dan sakit-sakitan.

(44)

2.2. Kerangka Teori

2.3. Kerangka Konsep

Perilaku Kesehatan yang baik atau yang kurang baik Perilaku Kesehatan

1. Jenis kelamin

2. Karakteristik keluarga dan sosioekonomi

3. Tempat tinggal

4. Pendapatan orang tua

5. Uang saku

6. Usia

Hygiene Behavior Dietary behavior Risk behavior Physical activity behavior

Dietary Behavior Perilaku kebersihan Perilaku Berisiko Aktivitas fisik

Alkohol Narkoba Perilaku seksual

(45)

2.4. Definisi Operasional

No Nama Variable Definisi Operasional Skala Ukur Hasil Ukur Alat dan cara ukur

1. Perilaku kesehatan

Adalah tanggapan

atau reaksi individu

yang terwujud dalam

adalah suatu kegiatan

atau aktivitas

2. Jenis kelamin Status gender seorang yang dapat diketahui

dengan

sejak tahun kelahiran

(46)

7. Dietary behavior

Yaitu respon

seseorang terhadap

makanan sebagai

kebutuhan vital bagi

kehidupan

setiap perilaku atau

tindakan yang

10. Aktivitas fisik Setiap gerakan tubuh

yang dihasilkan oleh

(47)

33

3.1. Desain Penelitian

Penelitian Descrtptive ini mengunakan desain cross-sectional.

3.2. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Agustus 2015.

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi penelitian ini yaitu mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012.

3.3.2. Sampel

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah total sampling, yaitu semua mahasiswa PSPD Alasan memilih total sampling dikarenakan adanya perbedaan antara satu angkatan dengan yang lain yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang memungkinkan perbedaan hasil bila menggunakan random sampling.

Tabel 3.1 Jumlah Mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki 35

Perempuan 61

(48)

3.4. Cara Kerja Penelitian

Menentukan sampel penelitian

Datang ke Angkatan yang terpilih sebagai sampel

Permintaan izin kepada responden

sekaligus menjelaskan mengenai penelitian

Pembagian kuesioner kepada seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2012

Pengumpulan dan pengolahan data dengan

SPSS versi 22 Drop out 0

(49)

3.4.1. Kriteria Penelitian a. Kritera Inklusi

Mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012.

b. Kriteri Eksklusi

1. Mahasiswa/i yang menolak untuk dijadikan sebagai subjek penelitian 2. Mahasiswa/i yang tidak mengisi salah satu pertanyaan kuesioner

c. Kriteria Drop Out

1. Mahasiswa/i yang menolak untuk dijadikan sebagai subjek penelitian 2. Mahasiswa/i yang tidak mengisi salah satu pertanyaan kuesioner

3.4.2. Metode Pengumpulan Data 1. Pengarhan pengisisan kuesioner

Pada saat wawancara terdapat beberapa formulir yang meliputi:

a. Surat Pesetujuan kesediaan ikut penelitian.

b. Kuesioner yang berisikan pertanyaan mengenai status kesehatan, Hygiene behavior, Dietarybehavior,Risk behavior, dan Physical activity behavior

3.5. Manajemen Data 3.5.1. Pengolahan Data

Data hasil penelitian akan diolah dengan menggunakan SPSS (Statistic Package for Social Science) versi 22,0.

Tahapan pengolahan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Editing Data

(50)

lain : pengisian kuesioner harus lengkap dalam arti semua pertanyaan dalam kuesioner harus dijawab atau diisi oleh responden sesuai dengan ketentuan cara menjawab yang telah ditetapkan.

b. Koding

Setelah data diolah, selanjutnya adalah memberi kode terhadap jawaban agar roses pengolahan data lebih mudah.

c. Membuat struktur data dan file data

d. Memasukkan data ke komputer dan mengecek data

e. Membersihkan data dan memeriksa data yang sudah dientry ke dalam komputer.

Dengan mengacu pada kuesioner yang telah diisi, maka dilakukan pemilihan variabel yang sesuai dengan tujuan penelitian ini. kemudian variabel-variabel tersebut diberi kode tertentu sesuai dengan analisa.

f. Analisis Data

Setelah data terkumpul, maka data dapat dinilai ( mean), lalu diolah dengan komputer menggunakan program SPSS (Statistic Package for Social Science) versi 22,0

1. Uji Univariat

(51)

3.5.2. Penilaian Kuesioner29 1. Status Kesehatan

Status kesehatan dalam penelitian ini meliputi pertanyaan-pertanyaan mengenai riwayat masalah kesehatan, riwayat berobat ke dokter, riwayat kecelakaan, riwayat dirawat di rumah sakit, riwayat penyakit keluarga, dan riwayat gangguan tidur dengan skor Ya= 2, tidak =1.

2. Hygiene behavior

Hygiene behavior dalam penelitian ini meliputi pertanyaan-pertanyaan mengenai kebiasaan membersihkan kamar pribadi, kebiasaan mencuci tangan sesuai prosedur yang dipelajari, keteraturan menyikat gigi, frekuensi mandi dalam sehari, bahan apa saja yang digunakan untuk membersihkan tubuh selama mandi, apakah mencuci baju sendiri atau dengan menggunakan jasa laundri, frekuensi mencuci pakaian dan frekuensi mengganti pakaian (termasuk pakaian dalam). Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian dilakukan penilian yang berkaitan dengan kesetujuan, yakni sebagai berikut sangat tidak setuju= 1, tidak setuju= 2, ragu-ragu= 3, setuju = 4, sangat setuju= 5, dan berkaitan dengan frekuensi, yakni sebagai berikut 1 kali = 1, 2 kali= 2, 3 kali= 3, >3 kali = 4, mencuci sendiri = 1, laundry =2, tidak pakai sabun/shampo =1, sabun = 2, shampo = 3, sabun dan shampo = 4.

3. Kebiasaan makan (Dietry behavior)

(52)

responden dengan skor sangat jarang = 1, jarang = 2, kadang-kadang = 3, sering = 4, selalu = 5)

*penilaian konsumsi lemak (Sangat jarang = 5, jarang = 4, kadang-kadang =3, sering =2, selalu =1)

4. Perilaku Berisiko (Risk Behaviour)

Perilaku berisiko dalam penelitian ini meliputi pertanyaan-pertanyaan mengenai kebiasaan merokok atau dekat dengan perokok, konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan narkotika/steroid dan Hubungan seksual dengan skor Tidak Pernah = 4, pernah =3, kadang-kadang =2, sering =1.

5. Physical activity behavior

Physical activity behavior dalam penelitian ini meliputi pertanyaan-pertanyaan mengenaiberapa jam waktu luang yang dimiliki responden pada hari biasa dan hari libur, kegiataan saat waktu luang ( membaca buku, menonton TV, bermain/mendengar musik, keluar bersama teman, olah raga, tidak ada kegiatan, kegiatan saat libur ( di rumah/kos (personal activity), jalan-jalan bersama keluarga atau teman, belajar, aktivitas lain (organisasi dll), yang menghalangi kegiataan saat libur, cara berangkat/kembali dari kampus, kemampuan melakukan aktivitas fisik, aktivitas fisik yang sering dilakukan, frekuensi melakukan aktivitas fisik, alasan melakukan aktivitas fisik dan tingkat kondisi fisik. (Skor : penilaian sangat bergantung pada pilihan jawaban pada masing-masing pertayaan. Skor ini dapat dilihat di bab lampiran mengenai isi kuesioer ).

(53)

bertujuan agar nilai standar yang diambil dalam penilaian adalah nilai yang sesuai dengan rata-rata yang ada di lapangan.

3.5.3. Etika Penelitian

Penelitian dimulai dengan usulan penelitian yang disetujui oleh komisi etik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif Hidayatullah Jakarta.

Responden penelitian diberi penjelasan mengenai tujuan dan cara penelitian yang akan dilakukan, dan dimintai persetujuan secara tertulis (informed concent).

3.5.4. Biaya Penelitian

Biaya yang diperlukan untuk penelitian ini sebesar Rp. 300.000. biaya ini digunakan untuk memfotokopi kuesioner.

3.5.5. Time Table

Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan Minggu

ke-1

Minggu ke-2

Minggu ke-3

Minggu ke-4

Minggu ke-5

1. Pembuatan Proposal X - - - -

2. Diskusi dengan

pembimbing X - - - -

3. Pengambilan data - - X - -

4. Pengolahan data - - - X -

(54)

40

4.1. Hasil

4.1.1. Analisis Univariat

4.1.2. Karakteristik Responden

Karakteristik sosio-ekonomi dipelihatkan pada tabel 4.1 Responden sebagian besar berjenis kelamin perempuan (63,5%) dan berusia 20 tahun atau lebih (88,5%). Responden paling banyak lahir di daerah perkotaan (72,9%) dan kos/asrama/kontrakan menjadi tempat yang banyak ditinggali responden (86,5%). Untuk status ekonomi, uang saku perbulan responden sebagian besar antara Rp. 500-000 hingga Rp. 2.000.000 (79,2%).

Tabel 4.1 Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Sosio-Ekonomi.

Variabel Kategori Frekuensi (N) Presentase (%)

(55)

4.1.3. Distribusi Frekuensi Responden

Tabel 4.2 Distrbusi Frekuensi Responnden Berdasarkan Gambaran Perilaku Kesehatan Mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012

Variabel Frekuensi (N) Presentase (%)

Gangguan Tidur

Tidak 60 62,5

Ya 36 37,5

Kebiasaan Mencuci Tangan

Sangat tidak setuju 4 4,2

Tidak setuju 15 15,6

Rau-ragu 38 39,6

Setuju 30 31,3

Sangat setuju 9 9,4

Keteraturan Makan

Jarang 28 29,2

Kadang-kadang 44 45,8

Sering 24 25,0

Sarapan Pagi

Sangat jarang 12 2,5

Jarang 27 28,1

Kadang-kadan 32 33,3

Sering 25 26,0

Makanan Berlemak

Sangat Jarang 1 1,0

Jarang 13 13,5

Kadang-kadang 43 44,8

Sering 39 40,6

Minum Kopi / Soda

Sangat jarang 13 13,5

(56)

Kadang-kadang 31 32,3

Sering 24 25,0

Rokok

Tidak Pernah 79 82,3

Pernah 9 9,4

Kadang-kadang 4 4,2

Sering 4 4,2

Minum Alkohol

Tidak Pernah 88 91,7

Pernah 6 6,3

Kadang-kadang 1 1,0

Sering 1 1,0

Obat Narkotika/Steroid

Tidak pernah 93 96,9

Pernah 3 3,1

Hubungan Seksual

Tidak pernah 88 91,7

Pernah 7 7,3

Kadang-kadang `1 1,0

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa angkatan 2012 tidak memiliki gangguan tidur (62,5%), ragu-ragu dalam melakukan cuci tangan yang benar sesuai prosedur yang telah dipelajari (39,6%), kadang-kadang dalam keteraturan pola makan (45,8%), kadang-kadang dalam mengkonsumsi sarapan pagi (33,3%), kadang-kadang dalam menkonsumsi lemak (44,8%), dan kadang-kadang dalam mengkonsumsi minuman kopi maupun bersoda (32,3%).

(57)

mahasiswa angkatan 2012 tidak pernah merokok (82,3%), namun sekitar 4,2% mahasiswa sering menghisap rokok, sisanya 4,2 % kadang-kadang menghisap rokok dan 9,4% pernah menghisap rokok.

Sebagian besar mahasiswa PSPD angkatan 2012 tidak pernah mengkonsumsi alkohol (91,7%). Namun, sekitar 1% mahasiswa angkatan 2012 sering mengkonsumsi alkohol. Sisanya 6,3% mahasiswa pernah mengkonsumsi alkohol dan 1% kadang-kadang mengkonsumsi alkohol.

Sebagian besar mahasiswa PSPD angkatan 2012 tidak pernah mengkonsumsi obat narkotika atau steroid (96,9%). Sisanya 3% mahasiswa pernah mengkonsumsi obat narkotika atau steroid.

Sebagian besar mahasiswa PSPD angkatan 2012 tidak pernah melakukan hubungan seksual (91,7%). Namun, terdapat 1% mahasiswa kadang-kadang melakukan hubungan seksual. Sisanya 7,3% Pernah memiliki riwayat hubungan seksual.

4.1.4. Sebaran responden berdasarkan status kesehatan, Hygiene behavior, Dietary behavior, Risk behavior, Physical activity behavior

(58)

Tabel 4.3 Sebaran responden berdasarkan status kesehatan, Hygiene behavior, Dietarybehavior,Risk behavior, Physical activity behavior

Variabel Kategori Frekuensi (N) Presentase

(%)

(59)

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Kesehatan (Health Behaviour) pada Mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012

Perilaku Kesehatan (Health Behaviour)

Frekuensi Presentase

N %

Kurang Baik 49 51,0

Baik 47 49,0

Total 96 100,0

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki perilaku kesehatan (Health Behaviour) yang baik (49,0%)

4.1.5. Gambaran Antar Variabel 4.1.5.1. Chi-Square dan Uji Fisher

Uji ini bertujuan untuk melihat hubungan kedua variabel yang bersifat kategorik dan tidak saling berhubungan. Uji ini dikatakan signifkan bila p value< 0,05.

Tabel 4.5 Gambaran Usia dengan Perilaku Kesehatan

Kelompok usia

Perilaku kesehatan

Kurang Baik Baik P value

N % N %

≥ 20 tahun 41 83,7 44 93,6

< 20 tahun 8 16,3 3 6,4

Total 49 100,0 47 100,0

*Pearson Chi-Square

(60)

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa responden yang memiliki perilaku kesehatan baik sebagian besar dimiliki oleh mahasiswa dengan usia≥ 20 tahun yakni berjumlah 44 mahasiswa dari 47 mahasiswa yang berperilaku baik (93,6%). Di lain sisi, responden yang memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik juga sebagian besar dimiliki oleh mahasiswa dengan usia ≥ 20 tahun dengan jumlah 44 mahasiswa dari 49 mahasiswa yang memiliki perilaku kesehatan kurang baik (83,7%). Dari hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas (p value) 0,126 (>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku kesehatan dengan bertambahnya usia.

Tabel 4.6 Gambaran Jenis Kelamin dengan Perilaku Kesehatan

Jenis Kelamin

Perilaku kesehatan

Kurang Baik Baik P value

N % N %

Laki-laki 21 42,8 14 29,8

Perempuan 28 57,2 33 70,2

Total 49 100,0 47 100,0

*Pearson Chi-Square

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa mahasiswa dengan perilaku kesehatan baik sebagian besar dimiliki oleh mahasiswa perempuan dengan jumlah 33 dari 47 mahasiswa yang memiliki perilaku kesehatan yang baik (70,2%). Disisi lain, mahasiswa dengan perilaku kesehatan yang kurang baik sebagian besar juga dmiliki oleh mahasiswa perempuan dengan jumlah 28 dari 49 mahasiswa yang memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik (57,2%).hasil uji statistik memperoleh nilai probabilitas (p value) 0,184 (>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku kesehatan dengan perbedaan jenis kelamin.

4.2. Pembahasan

(61)

Penelitian ini bersifat descriptive study dengan menggunakan desain cross-sectional, yang pada prinsinya hanya memperlihatkan gambaran tentang suatu keadaan yang umumnya terjadi saat sekarang secara objektif, tidak mencari adanya hubungan sebab akibat. Hasil penelitian ini merupakan gambaran suatu keadaan pada saat tertentu, artinya gambaran perilaku kesehatan yang meliputi status kesehatan, Hygiene behavior, Dietary behavior, Risk behavior, Physical activity behavior pada mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2012 dapat berubah pada saat yang akan datang. Dengan demikian hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan pada waktu dan tempat berbeda.

Pembahasan yang dikemukakan pada penelitian ini dibandingkan dengan teori yang ada.

4.2.1 Status Kesehatan

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.3, didapatkan 52 mahasiswa (54,2%) memiliki status kesehatan yang baik dan 44 mahasiswa (45,8%) memilki status kesehatan yang kurang baik. Pada penelitian ini tidak mengukur tingkat pengetahuan responden dikarenakan responden merupakan mahasiswa kesehatan angkatan 2012 yang kini merupakan tingkat tiga di PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Oleh karena itu, semua responden dianggap memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan. Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki status kesehatan yang baik hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo pada tahun 2007 menyebutkan bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik maka kemungkinan besar memiliki perilaku yang baik17.

(62)

makan seseorang yang kemudian berpengaruh pada status kesehatan seseorang. Hal ini dikemukakan oleh Simanjuntak tahun 1998 yang menyebutkan bahwa pola makan mahasiswa yang bertempat tinggal di kos/asrama/kontrakan bergantung pada kondisi keuangan mereka yang tidak tentu pada waktu-waktu tertentu20, sehingga tidak jarang pola makan mahasiswa yang bertempat tinggal dikos/asrama/kontrakan menjadi tidak teratur dan kemudian berpenaruh terhadap status kesehatan.

Salah satu perilaku hidup sehat yang dipaparkan oleh Becker tahun 1979 adalah istirahat yang cukup, sehingga gangguan tidur tentu akan berakibat pada kesehatan seseorang8.

4.2.2 kebiasaan Kebersihan (Hygiene behavior)

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.3, didapatkan 57 mahasiswa (59,4%) memiliki Hygiene behavior yang baik dan 39 mahasiswa (40,6%) memilki Hygiene behavior yang kurang baik.

4.2.3. Kebiasaan Makan ( Dietry Behaviour)

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.3, didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah angkatan 2012 pada tahun 2015 memiliki kebiasaan makan kurang baik dengan presentase 56,3%.

Penelitian ini berusaha menghubungkan antara kebiasaan makan dengan uang saku perbulan. Dengan uji bivariat didapatkan nilai signifikansinya adalah 0,629 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut.

(63)

4.2.4. Perilaku Berisiko (Risk Behaviour)

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.3, didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki perilaku berisiko yang baik (good risk behaviour) dengan presentase 55.2%.

4.2.5. Perilaku Kesehatan (Health Behavior)

parameter-parameter yang diteliti seperti status kesehatan, Hygiene behavior, Dietary behavior, Risk behavior, Physical activity behavior kemudian dilakukan pengolahan lebih lanjut untuk membagi responden menjadi dua kelompok. Hasil pengolahan parameter-parameter tersebut disajikan pada tabel 4.4 yang menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angakatan 2012 tahun 2015 memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik yakni dengan persentase 51,0%. Persentase ini tidak jauh berbeda dengan mahasiswa yang memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik (49%).

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki perilaku

kesehatan yang baik sebagian besar dimiliki oleh mahasiswa dengan usia ≥

20 tahun. Namun, disisi lain mahasiswa dengan perilaku kesehatan yang kurang baik sebagian besar juga dimiliki oleh mahasiswa dengan usia ≥ 20 tahun. Hubungan ini tidak bermakna (p value 0,126 ) karena jumlah

mahasiswa dengan usia ≥ 20 tahun lebih banyak dibandingkan dengan usia <20 tahun (88,5%).

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa mahasiswa dengan perilaku

(64)
(65)

51

A. Kesimpulan

1. Sebagian besar mahasiswa Program Studi Pendidian Dokter (PSPD) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 pada tahun 2015 memiliki status kesehatan yang baik dengan presentase 54,2%.

2. Sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 pada tahun 2015 memiliki Hygiene behavior yang baik dengan presentase 59,4%.

3. Sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 pada tahun 2015 memiliki kebiasaan makan ( dietary behavior) yang kurang baik dengan presentase 56,3%.

4. Sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 pada tahun 2015 memiliki perilaku berisiko yang baik (good risk behaviour) dengan presentase 55,2%.

5. Sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 pada tahun 2015 memiliki Physical activity behavior yang baik dengan presentase 55,2%.

6. Sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2012 pada tahun 2015 memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik dengan presentase 51,0%.

B. Saran

1. Penelitian ini dianjurkan dilakukan pada bulan Januari hingga Agustus karena penelitian ini meneliti aktivitas mahasiswa di kampus. Bulan-bulan tersebut dianggap Bulan-bulan aktif mahasiswa dalam proses belajar-mengajar di kampus.

(66)

3. Diharapkan Program Studi Pendidikan Dokter dapat memberikan pemahaman yang lebih mengenai kesehatan, kebersihan, gizi, serta aktivitas fisik yang baik untuk menunjang karir mahasiswa sebagai dokter di masa depan dan meningkatkan kualitas perilaku kesehatan mahasiswa. 4. Diharapkan Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif

Figur

Tabel 3.1 Jumlah Mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah
Tabel 3 1 Jumlah Mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah . View in document p.47
Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian
Tabel 3 2 Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian . View in document p.53
tabel 4.1
tabel 4.1 . View in document p.54
Tabel 4.2 Distrbusi Frekuensi Responnden Berdasarkan Gambaran Perilaku
Tabel 4 2 Distrbusi Frekuensi Responnden Berdasarkan Gambaran Perilaku . View in document p.55
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa angkatan
Tabel 4 2 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa angkatan . View in document p.56
Tabel 4.3 menggambarkan sebaran responden berdasarkan tingkat
Tabel 4 3 menggambarkan sebaran responden berdasarkan tingkat . View in document p.58
Tabel 4.5 Gambaran Usia dengan Perilaku Kesehatan
Tabel 4 5 Gambaran Usia dengan Perilaku Kesehatan . View in document p.59
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku
Tabel 4 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku . View in document p.59
Tabel 4.6 Gambaran Jenis Kelamin dengan Perilaku Kesehatan
Tabel 4 6 Gambaran Jenis Kelamin dengan Perilaku Kesehatan . View in document p.60
GAMBARAN KEDOKTERANPERILAKU KESEHATAN PADA MAHASISWA  TINGKAT  3 DI FKIK UIN  SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA PADA TAHUN 2015
GAMBARAN KEDOKTERANPERILAKU KESEHATAN PADA MAHASISWA TINGKAT 3 DI FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA PADA TAHUN 2015 . View in document p.70
GAMBARAN PERILAKU KESEHATAN PADA MAHASISWA
GAMBARAN PERILAKU KESEHATAN PADA MAHASISWA . View in document p.72

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (81 Halaman)