PENGEMBANGAN PROGRAM RONDE KLINIS
KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH KOTA PADANGSIDIMPUAN
TESIS
Oleh
ROSMADANI HASIBUAN
117046031/ ADMINISTRASI KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PENGEMBANGAN PROGRAM RONDE KLINIS
KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH KOTA PADANGSIDIMPUAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Keperawatan (M.Kep) dalam Program Studi Magister Ilmu Keperawatan
Minat Studi Administrasi Keperawatan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Oleh
ROSMADANI HASIBUAN
117046031/ ADMINISTRASI KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Telah diuji
Pada tanggal : 26 Agustus 2013
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Setiawan, S.Kp., MNS., Ph.D
Anggota : 1. Salbiah, S.Kp., M.Kep
PERNYATAAN
PENGEMBANGAN PROGRAM RONDE KLINIS
KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH KOTA PADANGSIDIMPUAN
Tesis
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar akademis di suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 26 Agustus 2013
Judul Tesis : Pengembangan Program Ronde Klinis
Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Padangsidimpuan
Nama Mahasiswa : Rosmadani Hasibuan
Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan
Minat Studi : Administrasi Keperawatan
Tahun : 2013
ABSTRAK
Ronde klinis keperawatan merupakan suatu proses proaktif dimana
perawat melakukan kunjungan kepada pasien secara rutin untuk memenuhi
kebutuhan pasien baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan untuk mendapatkan
informasi tentang penyakitnya dan melibatkan pasien dalam pengambilan
keputusan terkait proses perawatannya. Ronde keperawatan bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan pasien secara rutin dan memastikan keselamatan pasien
ronde keperawatan juga bertujuan agar pasien mendapatkan informasi mengenai
penyakitnya, pemeriksaan lanjutan dan proses keperawatan yang akan dijalaninya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program ronde klinis
keperawatan di RSUD Kota Padangsidimpuan. Penelitian ini dilakukan selama 8
minggu dan merupakan 1 siklus action research yang terdiri reconnaissance,
planning, acting & observing dan reflecting. Metode pengumpulan data adalah
Discussion (FGD). Partisipan dalam penelitian berjumlah 19 orang perawat di
ruang rawat inap VIP Khusus RSUD Kota Padangsidimpuan.
Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif
dianalisa dengan menggunakan teknik content analysis. Data kuantitatif berupa
kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi. Data kuantitatif berupa kepuasan kerja perawat dianalisa dengan
menggunakan uji wilcoxon dengan hasil pvalue = 0,02 yang menunjukkan adanya
perbedaan kepuasan kerja perawat sebelum dan sesudah aplikasi ronde klinis
keperawatan.
Penelitian ini menghasilkan program ronde klinis keperawatan yang terdiri
dari struktur dan uraian tugas tim ronde keperawatan, kerangka acuan ronde klinis
keperawatan, SOP ronde klinis keperawatan dan alur pelaksanaan ronde klinis
keperawatan yang sudah sesuai dengan kondisi di RSUD Kota Padangsidimpuan.
penelitian ini berdampak pada peningkatan kepuasan pasien terhadap pelayanan
keperawatan dan peningkatan kepuasan kerja perawat.
Penelitian ini merekomendasikan kepada pimpinan keperawatan supaya
melakukan supervisi ronde klinis keperawatan di ruang rawat inap untuk
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Thesis Title : Development of Clinical Nursing Round Program
in Padangsidimpuan General Hospital
Name : Rosmadani Hasibuan
Study Program : Master of Nursing
Field of Specialization : Nursing Administration
Year : 2013
ABSTRACT
Nursing clinical round is a proactive process in which nurses visit patients
routinely in order to fulfill patients’ basic need. The objective is to get information
about the patients’ illness and to make the patients involved in decision making
related to their nursing process. Nursing round is aimed to fulfill the patients’
need routinely and to make sure about their safety, and they can get information
about their illness, the following examination, and the treatment process.
The objective of the research was to develop clinical nursing round
program in Padangsidimpuan General Hospital. The research was conducted
within 8 weeks, and it was one action research cycle which consisted of
reconnaissance, planning, acting & observing, and reflecting. The data were
gathered by conducting interviews, participant observation, questionnaire
distribution, and Focus Group Discussion (FGD). Participants in the research were
19 nurses in the Inpatient VIP Specific Room of Padangsidimpuan General
The data were analyzed quantitatively and qualitatively. Qualitative data
were analyzed by using content analysis technique, while quantitative data were
patients’ satisfaction with nursing service which was presented in frequency
distribution tables. Quantitative data were nurses’ work satisfaction which were
analyzed by using wilcoxon test with pvalue = 0.02 which indicated that there was
the difference in nurses’ work satisfaction before and after the application of
nursing clinical round.
This research produced nursing clinical round which consisted of structure
and job description of nursing clinical round, reference framework of nursing
clinical round, Standard Operating Procedure (SOP) of nursing clinical round, and
the workflow of nursing clinical round which was in line with the condition of the
hospital. The research had an impact on the increase in patients’ satisfaction with
the nursing service and the increase in the nurses’ work satisfaction.
It is recommended that the nursing management perform supervision for
nursing clinical round in the inpatient rooms in order to improve the quality of
nursing service.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan
berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul
“Pengembangan Program Ronde Klinis Keperawatan di Rumah Sakit Umum
Daerah Kota Padangsidimpuan.” Tesis ini disusun untuk memenuhi sebagian dari
syarat memperoleh Magister Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini tidak akan dapat
diselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang
sedalam-dalamnya kepada Bapak dr. Dedi Ardinata, M. Kes., selaku Dekan Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan
bagi penulis untuk mengikuti pendidikan Magister Keperawatan di Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Setiawan,
S.Kp, MNS, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Keperawatan
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan sebagai Pembimbing I
yang telah meluangkan waktu untuk memberikan ilmu yang sangat bermanfaat
dari sejak awal penelitian hingga selesainya penulisan tesis ini. Selain itu penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Salbiah, S.Kp, M.Kep, selaku
Pembimbing II yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Heru Santosa,
MS., PhD dan Bapak Ikhsanuddin A. Harahap, SKp, MNS selaku tim penguji
yang telah memberikan kritik dan saran untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.
Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pimpinan Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan yaitu Bapak dr. H. Aminuddin yang
telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian. Ucapan terima
kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Bidang Keperawatan yaitu Bapak
Maskun Siregar, AMK beserta jajarannya, Kepala ruang rawat inap VIP Khusus
beserta stafnya yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini.
Penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ibunda Hj. Masrodiah
Harahap yang telah memberikan motivasi selama penulis mengikuti pendidikan.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada suami tercinta Rahmat
Hidayat Lubis, AMd, yang senantiasa mendukung dan memberikan motivasi
kepada penulis, juga kepada ananda Syifa Annisa Lubis atas kesabaran dan
kemandiriannya yang luar biasa.
Akhirnya tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara Angkatan I 2011/2012 khususnya Ririn,
Kak Afni, Kak Sri dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang
telah banyak membantu dan memberi dorongan untuk menyelesaikan tesis ini.
Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari sempurna dan membutuhkan
masukan yang sangat bermanfaat untuk kesempurnaan tesis ini. Oleh karena itu,
penulis semoga tesis ini bermanfaat demi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya
profesi keperawatan.
Medan, Juli 2013
RIWAYAT HIDUP
Nama : Rosmadani Hasibuan
Tempat/Tanggal Lahir : Padangsidimpuan, 24 September 1981
Alamat : Jl. Persatuan No. 45 Kel. Panyanggar Padangsidimpuan
No. Telp./Hp : 08126477212
Riwayat Pendidikan :
Jenjang Pendidikan Nama Institusi Tahun Lulus
SD SDN 06 Padangsidimpuan 1993
SLTP MTsN Padangsidimpuan 1996
SMU SMUN 1 Padangsidimpuan 1999
Sarjana PSIK Fakultas Kedokteran USU 2004
Ners PSIK Fakultas Kedokteran USU 2005
Magister Fakultas Ilmu Keperawatan USU 2013
Riwayat Pekerjaan:
Staf Dosen di Akper Syuhada Padangsidimpuan mulai Tahun 2005 – 2008.
Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap III (Penyakit Dalam) RSUD Kota
Padangsidimpuan mulai tahun 2006 – 2008.
Kepala Ruang Rawat Inap I (Umum, THT dan Neurologi) RSUD Kota
Padangsidimpuan mulai tahun 2008-2010.
Kepala Seksi Pendidikan dan Pengembangan Profesi RSUD Kota
Kegiatan Akademik Selama Studi:
1. Peserta pada acara “Seminar Sehari Caring Science Sebagai Landasan
Aplikasi dalam Pendidikan, Pelayanan dan Penelitian Keperawatan”, 17
Desember 2011, Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
2. Peserta pada acara “Seminar Penelitian Kualitatif Sebagai Landasan
Pengembangan Pengetahuan Disiplin Ilmu Kesehatan & Workshop
Analisis Data dengan Content Analysis & Weft-QDA”, 31 Januari 2012,
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
3. Peserta pada acara Seminar Optimalisasi Kolaborasi Perawat –Dokter
dalam Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan, 20 Juli 2012,
RSUP H. Adam Malik Medan.
4. Peserta 3rd International Nursing Conference “Bringing Current Research
into Nursing Practice for Improving uality of Care”, 21 – 22 Maret 2012,
Rumah Sakit Pendidikan Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat.
5. Peserta Overseas Study Visit Master Of Nursing Program Faculty Of
Nursing University Of Sumatera Utara (USU), Thailand dan Malaysia,
18 – 22 Februari 2013.
6. Oral presenter pada 2013 MEDAN INTERNATIONAL NURSING
CONFERENCE “The Application of Nursing Education Advanced
Research and Clinical Practice”, 1 – 2 April 2013, Hotel Garuda Plaza,
7. Peserta “Seminar & Workshop Aplikasi Knowledge Management Dalam
Administrasi Keperawatan di Rumah Sakit”, 13 – 14 Mei 2013, RSU Dr.
Pirngadi Medan, Sumatera Utara.
Publikasi
Hasibuan, R., Setiawan., Salbiah. (2013). Pengembangan Program Ronde
Klinis Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan.
Jurnal Riset Keperawatan Indonesia, 1 (2).
Proceeding :
Hasibuan, R., Setiawan., Salbiah. (2013). Nursing Round in Hospital :
Systematic review. Presentasi oral pada 2013 Medan International Nursing
Confrence on The Application of Caring Science on Nursing Education Advanced
DAFTAR ISI
BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 28
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28
3.3. Partisipan Penelitian ... 29
3.4. Pengumpulan Data ... 30
3.5. Prosedur Penelitian ... 36
3.6. Variabel dan Defenisi Operasional ... 38
3.7. Metode Analisis Data ... 39
3.8. Keabsahan Data ... 40
3.9. Pertimbangan Etik ... 41
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 43
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 49
4.2. Data Demografi Partisipan ... 50
4.3. Proses Pengembangan Program Ronde Klinis Keperawatan ... 50
4.4. Outcomes dari proses action research ... 70
4.5. Dampak Pelaksanaan Program Ronde Klinis Keperawatan 70 BAB 5. PEMBAHASAN ... 73
5.1. Proses Pelaksanan Action Research... 73
5.3. Pelajaran yang Diperoleh dari Penelitian Action Research . 79
5.3. Keterbatasan Penelitian ... 79
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 81
6.1. Kesimpulan... 81
6.2. Saran ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 85
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Data Demografi Partisipan ... 49
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Kepuasan Pasien Sebelum
Aplikasi ... 58
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Kepuasan Kerja Perawat Sebelum Aplikasi ... 58
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Kepuasan Pasien Sebelum dan Sesudah Aplikasi ... 71
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Siklus Action Research Kemmis dan Mc
Taggart (1988) ... 25
Gambar 4.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 28
Gambar 4.2. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum
Daerah Kota Padangsidimpuan ... 46
Gambar 4.3. Struktur Organisasi Tim Pengendali Mutu Pelayanan Keperawatan RSUD Kota
Padangsidimpuan ... 48
Gambar 4.4. Denah Ruang Rawat Inap VIP Khusus RSUD
Kota Padangsidimpuan ... 51
Gambar 4.5. Struktur Organisasi Ruang Rawat Inap VIP
Khusus RSUD Kota ... 52
Gambar 4.6. Proses Action Research Pengembangan
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Instrumen Penelitian ... 88
a. Informed consent ... 89
b. Panduan Wawancara ... 90
c. Panduan FGD ... 91
d. Format Checklist Untuk Observasi ... 92
e. Kuesioner Kepuasan Pasien ... 95
f. Kuesioner Kepuasan Kerja Perawat ... 99
Lampiran 2. Biodata Expert ... 101
Lampiran 3. Izin Penelitian ... 103
a. Surat izin penelitian dari Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara ... 104
b. Surat izin penelitian dari Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan ... 105
c. Surat Ethical Clereance ... 106
Judul Tesis : Pengembangan Program Ronde Klinis
Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Padangsidimpuan
Nama Mahasiswa : Rosmadani Hasibuan
Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan
Minat Studi : Administrasi Keperawatan
Tahun : 2013
ABSTRAK
Ronde klinis keperawatan merupakan suatu proses proaktif dimana
perawat melakukan kunjungan kepada pasien secara rutin untuk memenuhi
kebutuhan pasien baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan untuk mendapatkan
informasi tentang penyakitnya dan melibatkan pasien dalam pengambilan
keputusan terkait proses perawatannya. Ronde keperawatan bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan pasien secara rutin dan memastikan keselamatan pasien
ronde keperawatan juga bertujuan agar pasien mendapatkan informasi mengenai
penyakitnya, pemeriksaan lanjutan dan proses keperawatan yang akan dijalaninya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program ronde klinis
keperawatan di RSUD Kota Padangsidimpuan. Penelitian ini dilakukan selama 8
minggu dan merupakan 1 siklus action research yang terdiri reconnaissance,
planning, acting & observing dan reflecting. Metode pengumpulan data adalah
Discussion (FGD). Partisipan dalam penelitian berjumlah 19 orang perawat di
ruang rawat inap VIP Khusus RSUD Kota Padangsidimpuan.
Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif
dianalisa dengan menggunakan teknik content analysis. Data kuantitatif berupa
kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi. Data kuantitatif berupa kepuasan kerja perawat dianalisa dengan
menggunakan uji wilcoxon dengan hasil pvalue = 0,02 yang menunjukkan adanya
perbedaan kepuasan kerja perawat sebelum dan sesudah aplikasi ronde klinis
keperawatan.
Penelitian ini menghasilkan program ronde klinis keperawatan yang terdiri
dari struktur dan uraian tugas tim ronde keperawatan, kerangka acuan ronde klinis
keperawatan, SOP ronde klinis keperawatan dan alur pelaksanaan ronde klinis
keperawatan yang sudah sesuai dengan kondisi di RSUD Kota Padangsidimpuan.
penelitian ini berdampak pada peningkatan kepuasan pasien terhadap pelayanan
keperawatan dan peningkatan kepuasan kerja perawat.
Penelitian ini merekomendasikan kepada pimpinan keperawatan supaya
melakukan supervisi ronde klinis keperawatan di ruang rawat inap untuk
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Thesis Title : Development of Clinical Nursing Round Program
in Padangsidimpuan General Hospital
Name : Rosmadani Hasibuan
Study Program : Master of Nursing
Field of Specialization : Nursing Administration
Year : 2013
ABSTRACT
Nursing clinical round is a proactive process in which nurses visit patients
routinely in order to fulfill patients’ basic need. The objective is to get information
about the patients’ illness and to make the patients involved in decision making
related to their nursing process. Nursing round is aimed to fulfill the patients’
need routinely and to make sure about their safety, and they can get information
about their illness, the following examination, and the treatment process.
The objective of the research was to develop clinical nursing round
program in Padangsidimpuan General Hospital. The research was conducted
within 8 weeks, and it was one action research cycle which consisted of
reconnaissance, planning, acting & observing, and reflecting. The data were
gathered by conducting interviews, participant observation, questionnaire
distribution, and Focus Group Discussion (FGD). Participants in the research were
19 nurses in the Inpatient VIP Specific Room of Padangsidimpuan General
The data were analyzed quantitatively and qualitatively. Qualitative data
were analyzed by using content analysis technique, while quantitative data were
patients’ satisfaction with nursing service which was presented in frequency
distribution tables. Quantitative data were nurses’ work satisfaction which were
analyzed by using wilcoxon test with pvalue = 0.02 which indicated that there was
the difference in nurses’ work satisfaction before and after the application of
nursing clinical round.
This research produced nursing clinical round which consisted of structure
and job description of nursing clinical round, reference framework of nursing
clinical round, Standard Operating Procedure (SOP) of nursing clinical round, and
the workflow of nursing clinical round which was in line with the condition of the
hospital. The research had an impact on the increase in patients’ satisfaction with
the nursing service and the increase in the nurses’ work satisfaction.
It is recommended that the nursing management perform supervision for
nursing clinical round in the inpatient rooms in order to improve the quality of
nursing service.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Industri pelayanan kesehatan saat ini semakin berkembang pesat. Tidak
hanya rumah sakit milik pemerintah, rumah sakit swasta juga mengalami
pertumbuhan yang terus meningkat. Berdasarkan data dari Dirjen Bina Upaya
Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) jumlah rumah sakit di Indonesia
sudah mencapai 2.083 unit pada bulan Januari 2013 dengan rincian 813 unit
merupakan rumah sakit milik pemerintah dan 1270 lainnya merupakan rumah
sakit swasta dengan rata-rata pertumbuhan rumah sakit pertahun sekitar 1,14%
(Kemenkes, 2013). Tingginya angka pertumbuhan rumah sakit mengindikasikan
adanya persaingan industri rumah sakit yang semakin ketat. Persaingan yang
semakin ketat mendorong rumah sakit baik swasta maupun pemerintah untuk
mampu mengembangkan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.
Beberapa penelitian menemukan bahwa pelayanan keperawatan sangat
penting dalam menentukan mutu pelayanan sebuah rumah sakit. Penelitian
Wagner dan Bear (2009) menemukan adanya hubungan yang positif antara
lingkungan kerja keperawatan dengan kepuasan pasien yang merupakan salah satu
indikator mutu pelayanan keperawatan. Hal ini juga diperkuat dengan penelitian
Otani, Kurz dan Barney (2004) mengidentifikasi 6 atribut yang dinilai
berhubungan dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yakni (1)
teman pasien, (4) pelayanan keperawatan, (5) kenyamanan lingkungan dan (6)
proses perencanaan pemulangan. Hasil penelitian menunjukkan atribut pelayanan
keperawatan mempunyai pengaruh paling besar (53%) untuk menentukan
kepuasan pasien terhadap pelayanan pelayanan kesehatan di rumah sakit, diikuti
dengan proses administrasi (15%), kenyamanan lingkungan (11%), perlakuan
terhadap teman/keluarga (10%), pelayanan medis (5%), dan proses perencanaan
pemulangan (3%). Dengan demikian peningkatan pelayanan keperawatan
merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan mutu pelayanan di rumah
sakit..
Salah satu strategi yang disarankan untuk meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan adalah dengan pelaksanaan program ronde keperawatan yang
merupakan salah satu implementasi dari Relationship Based Care (Woolley et al.,
2012). Salah satu konsep yang mendasari Relationship Based Care adalah konsep
Human Care yang dikembangkan oleh Watson dengan berfokus kepada hubungan
timbal balik antara perawat dan pasien (Watson, 1999). Ronde keperawatan
memungkinkan perawat untuk melakukan hubungan timbal balik dengan pasien
secara teratur dan sistematis untuk menunjukkan keberadaan perawat dalam
membantu mengantisipasi kebutuhan dan memberikan kenyamanan serta
perlindungan bagi pasien (Woolley et. al., 2011).
Laporan dari Studer Group (2007) menyatakan berdasarkan hasil temuan
pada tahun 2006 bahwa institusi yang melaksanakan ronde keperawatan secara
12 rumah sakit yang menerapkan ronde keperawatan secara berkala dan sistematis
memperoleh peningkatan rating pelayanan yang excellent mencapai 41,85%.
Penelitian lain terkait ronde keperawatan dipublikasikan oleh Meade,
Bursell dan Ketelsen pada tahun 2006 yang mengistilahkan ronde keperawatan
dengan “hourly rounding”. Penelitian ini mengembangkan protokol ronde
keperawatan berupa kegiatan apa saja yang dilakukan perawat selama ronde
berlangsung yang berfokus kepada pain, position, potty dan placement. Protokol
ini kemudian diistilahkan dengan “4Ps Rounding Protokol”, dan ronde yang
sistematik ini terbukti secara statistik mampu menurunkan penggunaan bel untuk
memanggil perawat, mengurangi kemungkinan pasien jatuh dan meningkatkan
kepuasan pasien. Selain itu dengan pelaksanaan ronde keperawatan pelayanan
keperawatan menjadi lebih efisien, komunikasi antara perawat menjadi lebih baik
dan berkurangnya stress kerja perawat sehingga akan meningkatkan kepuasan
kerja dari perawat.
Selain itu penelitian Saleh, Nusair, Al Zubadi, Al Shloul dan Saleh (2011)
juga mempublikasikan hasil pengaruh penerapan sistem ronde keperawatan
terhadap angka kejadian pasien jatuh, angka kejadian luka tekan dan kepuasan
pasien. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa angka pasien jatuh menurun
secara drastis dari 25 angka kejadian menjadi 4 angka kejadian, sedangkan angka
kejadian luka tekan menurun hingga mencapai 50 % dan kepuasan pasien
Dudley Group of Hospital pada tahun 1970 memperkenalkan 4 tipe ronde
keperawatan yakni matrons’ rounds, nurse management rounds, patient comfort
rounds dan teaching rounds (Close & Castledine, 2005). Matrons’ rounds adalah
proses dimana seorang perawat berkeliling ke ruangan-ruangan, menanyakan
kondisi pasien sesuai dengan jam rondenya. Nurse management rounds adalah
ronde manajerial yang melihat pada rencana pengobatan dan implementasi pada
sekelompok pasien. Patients comfort rounds adalah ronde yang berfokus pada
kebutuhan utama yang diperlukan pasien dirumah sakit. Teaching rounds
dilakukan antara teacher nurse dengan perawat atau siswa perawat, dimana terjadi
proses pembelajaran. Semua jenis ronde ini secara ilmiah memberikan konstribusi
yang positif terhadap peningkatan mutu pelayanan keperawatan (Close &
Castledine, 2005).
Ronde keperawatan merupakan komponen kunci dari program service
excellent yang akan menghasilkan peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
Peningkatan kualitas pelayanan keperawatan tersebut dapat dilihat dari beberapa
outcomes yaitu peningkatan kepuasan pasien, peningkatan kepuasan perawat,
penurunan penggunaan bel panggil, penurunan angka pasien jatuh dan penurunan
angka kejadian luka tekan. Untuk itu rumah sakit perlu mempertimbangkan ronde
keperawatan sebagai salah satu program yang dapat diteraplan di ruang rawat
inap.
RSUD Kota Padangsidimpuan merupakan salah satu rumah sakit
dikunjungi oleh masyarakat tidak hanya dari dalam Kota Padangsidimpuan namun
juga dari luar Kota Padangsidimpuan. Terlebih lagi RSUD Kota Padangsidimpuan
merupakan salah satu rumah sakit rujukan di wilayah Tapanuli Bagian Selatan
(Tabagsel) dan sudah lulus uji Akreditasi 5 pelayanan oleh Badan Komite
Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Tingginya kunjungan masyarakat ini
ditunjukkan dengan tingginya angka capaian BOR 85 % pada tahun 2012. (RSUD
Kota Padangsidimpuan, 2012)
Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai perawat di RSUD Kota
Padangsidimpuan, ditemukan bahwa pelaksanaan ronde klinis keperawatan di
ruang rawat inap belum optimal. Ronde keperawatan hanya dilaksanakan pada
pagi hari oleh perawat shift pagi dan dipimpin oleh kepala ruangan. Kegiatan yang
dilakukan hanya pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan obat-obatan. Ronde
yang dilaksanakan juga belum didasari oleh kebijakan berupa program yang dapat
menjadi panduan bagi perawat dalam melaksanakan ronde tersebut.
Mempertimbangkan besarnya peran ronde keperawatan dalam
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, maka diperlukan suatu penelitian
yang diharapkan dapat mengembangkan pedoman ronde keperawatan di Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan. Penelitian pengembangan program
ronde klinis keperawatan dilakukan dengan pendekatan action research, karena
action research memungkinkan terjadinya perubahan dari kondisi nyata (Polit &
Beck, 2008). Penelitian action research juga memungkinkan peneliti melakukan
metode pengambilan data yang beragam untuk mendapatkan data yang
(Webb, 1989). Penelitian ini menghasilkan suatu program ronde keperawatan dan
menjadikan ronde keperawatan sebagai aktivitas rutin perawat sehingga dapat
menghasilkan outcomes yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan
keperawatan.
1.2. Permasalahan
Bagaimana pengembangan program ronde klinis keperawatan di RSUD
Kota Padangsidimpuan?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan program ronde klinis
keperawatan di RSUD Kota Padangsidimpuan dengan pendekatan action
research.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan konstribusi positif baik secara
teoritis untuk pengembangan keilmuan maupun secara praktis bagi praktisi
keperawatan. Hasil penelitian ini memberikan manfaat bagi perkembangan
praktek keperawatan, pendidikan keperawatan dan riset keperawatan.
1.4.1. Bagi Praktek Keperawatan (Nursing Practice)
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam membuat kebijakan
Padangsidimpuan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai persiapan untuk
menghadapi akreditasi yang harus dipenuhi oleh institusi pada tahun 2015.
1.4.2. Bagi Pendidikan Keperawatan (Nursing Education)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi positif bagi
Institusi Pendidikan Fakultas Keperawatan khususnya Magister Ilmu
Keperawatan Universitas Sumatera Utara, sebagai bahan referensi kepustakaan
sehingga dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik terkait konsep ronde
klinis keperawatan.
1.4.3. Bagi Perkembangan Riset Keperawatan (Nursing Research)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dan
dapat dijadikan panduan untuk mengadakan penelitian selanjutnya terutama dalam
pengembangan ronde keperawatan sehingga budaya ronde keperawatan ini
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bagian ini akan dipaparkan teori-teori serta pustaka yang dipakai
sebagai dasar penelitian yakni teori tentang ronde keperawatan, Watson’s theory
of human care dan teori penelitian action research.
2.1. Konsep Ronde Keperawatan
Pelayanan keperawatan memiliki peran yang sangat strategis dalam
mewujudkan kualitas pelayanan sebuah rumah sakit yang excellent. Salah satu
strategi yang disarankan untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan
adalah dengan pelaksanaan program ronde keperawatan secara berkala dan
sistematis (Studer Group, 2007). Berikut akan dijelaskan konsep terkait ronde
keperawatan
2.1.1. Defenisi Ronde Keperawatan
Secara bahasa ronde keperawatan terdiri dari 2 kata yaitu ronde dan
keperawatan. Ronde berasal dari Bahasa Inggris yaitu “round” yang memiliki
makna sama dengan around. Sebagai kata keterangan, jika round digunakan untuk
menjelaskan objek atau tempat, memiliki makna bahwa tempat dan objek tersebut
dikelilingi atau berada disemua sisi. Sebagai preposisi, round memiliki makna
Keperawatan adalah diagnosis dan penanganan respon manusia terhadap
masalah kesehatan aktual maupun potensial (ANA, 2003). Dari pengertian diatas
terdapat 2 komponen kunci dalam defenisi keperawatan yakni diagnosis dan
respon manusia. Diagnosis yang dimaksud adalah diagnosa yang menyangkut
aspek yang berada dalam lingkungan keperawatan, sedangkan respon manusia
dilihat dari responnya terhadap gangguan atau penyakit.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa defenisi ronde
keperawatan secara bahasa adalah suatu kegiatan mengelilingi orang demi orang
dalam suatu grup dengan tujuan untuk mendiagnosis dan menangani respon
manusia terhadap masalah kesehatan aktual maupun potensial.
Beberapa ahli mengungkapkan pengertian tentang ronde keperawatan.
Meade et al. (2006) menyatakan ronde keperawatan sebagai kesempatan untuk
melibatkan pasien dalam proses keperawatan, dan menunjukkan kepedulian
perawatan terhadap kesehatan dan kesembuhan pasien. Swansburg (2001)
menyatakan bahwa ronde keperawatan merupakan prosedur dimana dua atau lebih
perawat mengunjungi pasien untuk mendapatkan informasi yang akan membantu
dalam merencanakan pelayanan keperawatan dan memberikan kesempatan kepada
pasien untuk mendiskusikan masalah keperawatannya serta mengevaluasi
pelayanan keperawatan yang telah diterima pasien.
Ford (2010), mendefenisikan ronde keperawatan sebagai salah satu tehnik
untuk mengorganisasikan pelayanan keperawatan secara proaktif yang berfokus
sebagai proses yang dilakukan perawat secara proaktif untuk memenuhi
kebutuhan pasien dengan mengunjungi pasien secara rutin keruangannya dan
memeriksa hal-hal yang spesifik dan melakukan pekerjaan untuk memenuhi
kebutuhan dasar pasien secara konsisten.
Dari beberapa defenisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ronde
keperawatan merupakan suatu proses proaktif dimana perawat melakukan
kunjungan kepada pasien secara rutin untuk memenuhi kebutuhan pasien baik
kebutuhan dasar maupun kebutuhan untuk mendapatkan informasi tentang
penyakitnya dan melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan terkait proses
perawatannya.
2.1.2. Tujuan Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan merupakan hal yang penting dalam memberikan
pasien pelayanan yang berkualitas, ronde keperawatan yang bertujuan agar pasien
mendapatkan informasi mengenai penyakitnya, pemeriksaan lanjutan dan proses
keperawatan yang akan dijalaninya (Benniskova, 2007). Ronde keperawatan juga
berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pasien secara rutin dan memastikan
2.1.3. Perkembangan Ronde Keperawatan
2.1.3.1.Ronde Keperawatan Tradisional (tahun 1950-1970 M)
Ronde keperawatan tradisional merupakan proses dimana 2 orang perawat
mengunjungi masing-masing pasien untuk memastikan tempat tidur pasien dalam
kondisi rapi, melakukan dan melakukan pijatan pada area yang mengalami
tekanan (Bates, 2011). Ronde keperawatan ini dilakukan secara rutin setiap hari
oleh perawat senior pada awal shift dan pada saat jam kunjungan dokter. Perawat
berjalan mengelilingi bangsal untuk memeriksa standar pelayanan dan kemajuan
tindakan perawatan. Perawat juga menjelaskan informasi terkait pemeriksaan dan
tindakan medis serta memberi kesempatan kepada pasien dan keluarganya untuk
bertanya tentang masalah kesehatannya.
Sebelum melakukan ronde, perawat menyiapkan menyiapkan trooley yang
berisi baskom air panas, sabun, handuk, sprei, bedak, zinc dan minyak jarak.
Kemudian dua orang perawat ditugaskan untuk mengunjungi masing-masing
pasien untuk memeriksa dan melakukan massage pada area tekan, merubah posisi
dan memberikan tindakan yang dapat meningkatkan kenyamanan pasien seperti
mengganti sarung bantal dan sprei pasien. Pada “Back Rounds” juga terjadi proses
pembelajaran antara perawat senior dengan perawat junior dan mahasiswa
2.1.3.2. Ronde Keperawatan Modren (setelah tahun 1970 M)
Menurut Close dan Castledine (2005) ada 4 tipe ronde keperawatan
modern yaitu matrons’ rounds, nurse management rounds, patient comfort rounds
dan teaching rounds.
Matrons’ rounds adalah proses dimana seorang perawat berkeliling ke
ruangan-ruangan, menanyakan kondisi pasien sesuai dengan jam rondenya.
Memeriksa standar pelayanan, kebersihan dan kerapihan serta menilai penampilan
dan kemajuan perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien.
Nurse management rounds adalah ronde manajerial yang melihat pada
rencana pengobatan dan implementasi pada sekelompok pasien. Untuk melihat
prioritas tindakan yang dilakukan serta melibatkan pasien dan keluarga pada
proses interaksi. Pada ronde ini tidak terjadi proses pembelajaran antara perawat
dan head nurse.
Patients comfort rounds adalah ronde yang berfokus pada kebutuhan
utama yang diperlukan pasien dirumah sakit. Fungsi perawat dalam ronde ini
adalah memenuhi semua kebutuhan pasien. Misalnya ketika ronde dilakukan pada
malam hari, perawat menyiapkan tempat tidur yang nyaman untuk pasien.
Teaching rounds dilakukan antara teacher nurse dengan perawat atau
siswa perawat, dimana terjadi proses pembelajaran. Teknik ronde ini biasa
dilakukan untuk perawat atau siswa perawat. Dengan pembelajaran langsung,
perawat atau siswa dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat langsung
2.1.4. Komponen Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan merupakan satu set tindakan yang diatur secara
spesifik untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien. Umumnya tindakan ini dibagi
kedalam 4 komponen dasar yaitu Pain, Personal needs, Positioning dan
Placement (Meade et al., 2006).
Pain. Perawat menanyakan “bagaimana nyeri anda?”. Setelah nyeri
terindentifikasi kemudian dilakukan beberapa tindakan untuk mengatasi nyeri
seperti perubahan posisi, guided imagery, latihan nafas dalam, pengalihan
perhatian dan obat-obatan. Hal lain terkait rasa nyaman juga dinilai seperti
kebersihan oral dan pemenuhan cairan.
Personal needs. Perawat menanya pasien “apakah anda ingin ke kamar
mandi?” waktu toileting diatur oleh perawat bersama dengan pasien dengan
bantuan selama dibutuhkan.
Positioning. Perawat mengecek posisi pasien dan bertanya “bagaimana
caranya agara anda lebih merasa nyaman?”. Jadwal reposisi diobservasi terumata
terhadap pasien yang tidak dapat melakukannya secara mandiri.
Placement. Perawat memverifikasi ketersediaan dan keterjangkauan dan
bertanya “apakah anda ingin kami memindahkan call light, telepon, meja dan
2.1.5. Protokol Ronde Keperawatan
Berdasarkan komponen dasar dari ronde keperawatan diatas maka
beberapa penelitian telah berhasil menyusun protokol dalam pelaksanaan ronde
keperawatan. Meade et al. (2006) mengembangkan “The 4 Ps Rounding
Protokol”. Protokol tersebut terdiri dari 12 tindakan yang dimulai sejak perawat
memasuki ruangan dan menjelaskan kepada pasien bahwa perawat akan
melakukan ronde keperawatan. kemudian perawat akan melakukan pengkajian
nyeri dan melakukan tindakan untuk mengatasi nyeri baik tindakan keperawatan
maupun tindakan medikasi. Setelah nyeri teratasi perawat akan mengontrol
obat-obatan pasien apakah sudah diberikan sesuai jadwal. Lalu kemudian perawat
menawarkan bantuan ke toilet dan membantunya jika pasien membutuhkannya.
Setelah itu perawat memberikan posisi yang nyaman bagi pasien serta
memastikan bahwa posisi pasien dapat menjangkau lampu panggil, telepon,
remote TV, switch lampu, meja, kotak tisu, air minum dan tong sampah. Sebelum
meninggalkan ruangan, perawat kembali menanyakan apakah ada hal lain yang
diinginkan oleh pasien dan memberitahu pasien bahwa akan ada ronde selanjutnya
akan dilaksanakan oleh perawat.
Penelitian Meade et al. (2006) kemudian diulangi kembali oleh beberapa
peneliti lainnya seperti Blakley, Kroth dan Gregson (2011); Olrich, Kalman dan
Nigolian (2012); Berg, Sailors, Reimer, O’Brien dan Ward-Smith (2011); Kessler,
Claude-Gutekunst, Donchez, Dries dan Snyder (2012) dengan menggunakan “The
Karla et al. tidak menyertakan kebutuhan “Placement” berdasarkan asumsi bahwa
perlengkapan yang berada diluar jangkauan bukanlah merupakan fokus perawatan
Comfort Round Protokol dikembangkan oleh Gardner et al. (2009) yang
distandarisasi untuk semua pasien pada bangsal yang dilakukan penelitian. Pada
protokol ini ronde keperawatan dilaksanakan oleh asisten perawat yang sudah
menerima pelatihan dengan sertifikat 3 in Aged Care. Asisten perawat
mengunjungi pasien dan menanyakan apakah pasien membutuhkan bantuan ke
toilet, control nyeri, reposisi dan selimut. Kemudian asisten perawat akan
meletakkan telefon, kotak tissue, meja dan remote TV di tempat yang mudah
dijangkau oleh pasien. Setelah itu asisten perawat akan melakukan perawatan
mulut jika dibutuhkan serta memenuhi kebutuhan cairan pasien dengan
memberinya minum. Sebelum meninggalkan pasien, asisten perawat menanyakan
apakah pasien membutuhkan hal lain yang dapat membuatnya merasa nyaman.
2.1.6. Implikasi ronde keperawatan terhadap praktek keperawatan
Penerapan ronde keperawatan berimplikasi terhadap penurunan
penggunaan call light, penurunan angka pasienjatuh, penurunan angka luka tekan
(decubitus), peningkatan tingkat kepuasan pasien dan peningkatan tingkat
kepuasan perawat.
Penggunaan call light. Penerapan ronde keperawatan berimplikasi
terhadap penurunan pada penggunaan call light memungkinkan perawat memiliki
kamar ke kamar memenuhi panggilan yang diberikan oleh pasien. Hasil penelitian
Meade et al. (2006), menemukan bahwa penggunaan lampu panggil yang paling
tinggi adalah dengan alasan yang dibuat-buat. Dengan pelaksaan ronde
keperawatan maka ditemukan penurunan penggunaan lampu panggil terutama
penggunaan lampu panggil tanpa alasan yang jelas dari pasien.
Pasien jatuh. mengalami penurunan pada institusi yang melaksanakan
ronde keperawatan. Saat perawat melakukan ronde terhadap pasien setiap jam dan
memenuhi kebutuhan dasarnya seperti toileting dan penempatan barang-barang
pribadi maka resiko jatuh akan berkurang. Meade et al. (2006), menemukan
penurunan angka pasien jatuh secara signifikan selama dilakukan ronde
keperawatan. Saleh et al. (2011), menemukan penurunan angka pasien jatuh
secara drastis setelah dilaksakan ronde keperawatan dari 25 kasus menjadi 4
kasus.
Luka tekan (decubitus). Ronde keperawatan memungkinkan reposisi
secara regular terhadap pasien sehingga angka decubitus pada pasien dapat
diturunkan. Pada pasien dengan kasus luka, reposisi secara regular juga
berkonstribusi terhadap proses healing. Saleh et al. (2011), menemukan
penurunan angka luka decubitus setelah dilaksanakan ronde keperawatan dari 2
insiden menjadi 1 insiden.
Kepuasan pasien. Kehadiran perawat secara rutin dan penggunaan
protokol yang spesifik dalam ronde keperawatan memungkinkan kebutuhan dasar
(2006), menemukan peningkatan kepuasan pasien selama pelaksanaan ronde
keperawatan hingga mencapai 91,9 dari 100 skala yang diberikan. Saleh et al.
(2011), juga menemukan peningkatan pasien setelah dilaksanakan ronde
keperawatan mencapai 7,5 %.
Kepuasan perawat. Dengan ronde keperawatan pelayanan keperawatan
menjadi lebih efisien dan berkurangnya stress kerja perawat sehingga akan
meningkatkan kepuasan kerja dari perawat (Meade et al., 2006). Survey kepuasan
kerja dilakukan di Lehigh Valley Health Network yang berlokasi di Kota
Betlehem Negara Bagian Pennsylvania Amerika Serikat. Survey ini dilakukan
pada tahun 2007, 2009 (sebelum implementasi ronde keperawatan) dan tahun
2011 (setelah implementasi ronde keperawatan). Hasilnya menunjukkan bahwa
terdapat peningkatan kepuasan kerja perawat dari 3.78 pada tahun 2007 dan 3.77
pada tahun 2009 menjadi 3.83 pada tahun 2011. Selain itu angka kepuasan pasien
ini lebih tinggi 0.18 poin dari angka kepuasan perawat secara nasional. (Kessler et
al., 2012).
2.2. Watson’s Theory of Transpersonal Caring
Teori ini dikembangkan oleh Jean Watson pada tahun 1979, dikenal juga
dengan istilah Theory of Human Caring. Teori ini terus dikembangkan dari tahun
ke tahun, namun pemikiran dasar dari teori ini tidak berubah yakni menekankan
Menurut Watson (1999), Transpersonal caring relationship
berkarakteristikkan hubungan khusus manusia yang tergantung pada moral
perawat yang berkomitmen, melindungi, dan meningkatkan martabat manusia
seperti dirinya atau lebih tinggi dari dirinya. Perawat merawat dengan kesadaran
yang dikomunikasikan untuk melestarikan dan menghargai spiritual, tidak
memperlakukan seseorang sebagai sebuah objek.
Teori utama yang dikembangkan mencakup Carative Factor,
Transpersonal Caring Relationship dan Caring Occation Moment. Terkait
konteks penelitian maka peneliti hanya akan membahas teori tentang Carative
Factor yang mempunyai kaitan dengan pelaksanaan ronde klinis keperawatan
yakni carative factor yang ke 4 (membangun helping-trust relationship), yang ke
8 (menciptakan lingkungan mental, fisik, sosial budaya dan spiritual yang
mendukung) dan yang ke 9 (membantu pemenuhan kebutuhan pasien)
2.2.1. Membangun helping-trust relationship
Keperawatan sebagai ilmu yang didasari konsep caring harus
mempertimbangkan konsep pembangunan helping-trust relationship antara
perawat dan pasien. Pasien akan merasa bahwa perawat peduli terhadapnya jika
perawat tersebut memperhatikan kebutuhan dasarnya sebagai individu sehingga
menumbuhkan rasa percaya, keyakinan dan harapan terhadap pelayanan
keperawatan. Perawat yang mempunyai kompetensi dalam bersikap caring akan
mampu menghasilkan outcomes yang bernilai dalam pelayanan keperawatan.
dengan perawat akan mengindikasikan tingginya kualitas pelayanan keperawatan.
Agar dapat membangun helping-trust relationship, perawat terlebih harus
menanamkan sikap tertentu yaitu congruence, empathy dan non-possesive Warmth
(Watson, 1979).
Congruence, didasarkan pada keinginan perawat ingin menjadi apa dan
terlihat seperti apa. Congruence melibatkan keterbukaan dalam perasaan dan
sikap yang diberikan saat interaksi. Congruence dapat juga disamakan dengan
genuineness yang berarti terasa nyata, jujur dan otentik. Dengan kata lain
pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat akan terasa nyata, jujur dan
otentik bagi pasien.
Emphaty, merupakan konsep yang penting dalam pembangunan
helping-trust relationship. Empathy mengacu pada kemampuan perawat untuk ikut
mengalami dunia dan perasaan orang lain, sehingga mampu berkomunikasi
berdasarkan pemahamannya tentang dunia atau perasaan orang lain tersebut.
Kemampuan perawat untuk berespon terhadap perasaan orang lain adalah dasar
dalam emphaty. Jika perawat mampu merasakan perasaan pasien maka pasien dan
perawat akan akan mempunyai hubungan emosional yang baik. Perawat yang
emphaty akan mampu mengenali dan menerima perasaan orang lain tanpa merasa
tidak nyaman, takut, marah atau konflik dalam dirinya sehingga perawat akan
mampu untuk berkomunikasi tentang perasaan pasien tanpa menganalisa atau
menghakimi.
Non-possessive Warmth, merupakan kondisi interpersonal dalam
efektif akan memberikan pelayanan yang tidak mengancam, aman, terpercaya
dengan menunjukkan penerimaan, penghargaan positif dan keramahan yang tidak
posesif. Beberapa sikap non verbal yang dapat ditunjukkan perawat dalam
mewujudkan non-possesive warmth antara lain adalah dengan mempertahankan
kontak mata selama interaksi, menggunakan volume suara yang sesuai, terlihat
nyaman dan santai, bertatap muka dengan orang lain, menunjukkan sikap fostur
tubuh yang terbuka, mencondongkan tubuh ke arah lawan bicara dan memberikan
ekspresi wajah yang sesuai dengan kondisi emosionalnya.
2.2.2. Menciptakan lingkungan mental, fisik, social budaya dan spiritual yang
mendukung.
Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan eksternal
pasien terhadap kesehatan kondisi penyakit pasien. Adanya hubungan yang saling
terkait antara lingkungan internal dan eksternal sangat berpengaruh terhadap
kondisi sehat dan sakit dari manusia. Lingkungan internal berupa biologis dan
fisiologis akan mempengaruhi pola atau gaya hidup seseorang, selain itu gaya
hidup eksternal seseorang juga akan mempengaruhi keseimbangan (homeostatis)
internalnya. Lingkungan eksternal yang perlu diperhatikan perawat yang
berhubungan dengan stress antara lain : kenyamanan, privasi, keamanan dan
lingkungan yang bersih dan indah.
Comfort (Kenyamanan), merupakan variabel eksternal yang dapat
dikendalikan oleh perawat. Adanya stress pada pasien yang diakibatkan proses
berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental pasien. Perawat dapat
melakukan berbagai cara atau prosedur untuk memberikan dan meningkatkan
kenyamanan pasien seperti perawatan personal hygiene, kebersihan tempat tidur
dan penempatan obat-obatan yang rapi. Cara lain yang dapat dilakukan perawat
untuk mendukung dan meningkatkan kenyaman pasien antara lain: memindahkan
peralatan yang berbahaya bagi pasien; melakukan perubahan posisi; membuat
tempat tidur yang nyaman; menurunkan ketegangan otot dengan massage,
memberikan prosedur teraupetik seperti obat-obatan pengurang nyeri;
mengidentifikasi implikasi dari penyakit pasien dan meminimalkan implikasi dari
penyakit tersebut; dan memodifikasi pelayanan keperawatan kepada pasien.
Privacy (Privasi) adalah faktor utama yang perlu dipertimbangkan untuk
dapat meningkatkan lingkungan fisik, sosiokultural dan spiritual pasien. Privasi
dapat dinterpretasikan kedalam beberapa pengertian yaitu : hak pasien untuk tidak
mengikutsertakan orang lain terkait informasi tentang penyakitnya; kesadaran dan
penghargaan dari perawat bahwa setiap pasien memiliki hak yang sama untuk
mengambil keputusan bagi dirinya; faktor yang berpengaruh terhadap waktu,
tempat, masalah dan sejumlah informasi; dan upaya untuk menjauhkan pasien dari
hal-hal yang mempengaruhi kondisi fisik dan psikologisnya.
Safety (Keselamatan). Budaya keselamatan adalah fitur utama dari seorang
perawat. Safety merupakan tindakan yang dilakukan perawat untuk mendukung,
melindungi dan memperbaiki lingkungan yang dapat menyebabkan bahaya.
Perawat harus mampu mengkaji variabel yang berpengaruh terhadap keselamatan
disorientasi, restrain, kaki palsu dan peralatan pendukung lainnya. Pengawasan
mendasar terhadap keselamatan antara lain control infeksi dengan mencuci
tangan, perawatan kulit, teknik isolasi dan teksik sterilisasi. Beberapa bahaya yang
dapat terjadi selama proses hospitalisasi pada anak antara lain pasien jatuh, luka
bakar, terhirup benda asing, mainan yang berbahaya, keracunan, dan kurangnya
imunisasi.
Clean-esthetic surroundings (lingkungan yang bersih dan indah). Perawat
harus mempertimbangkan bahwa makna keindahan berbeda pada masing-masing
orang, namun keindahan dan kebersihan lingkungan selalu memberikan efek
positif terhadap peningkatan kesehatan seseorang, namun upaya untuk memenuhi
kebersihan dan keindahan lingkungan tersebut tetap memperhatikan privasi,
kenyamanan dan gaya hidup pasien.
2.2.3. Membantu pemenuhan kebutuhan pasien
Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif yaitu kebutuhan
biofisik, psikososial, psikofisikal dan interpersonal klien. Pemenuhan kebutuhan
yang paling mendasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat yang selanjutnya.
Nutrisi, eliminasi, dan ventilasi adalah contoh dari kebutuhan biofisik yang paling
rendah. Pencapaian dan hubungan merupakan kebutuhan psikososial yang tinggi,
2.3. Konsep Action Research
2.3.1. Pengertian Action Research
Action research merupakan suatu bentuk kegiatan penelitian yang
didasarkan pada prinsip kolektif dan reflektif yang dilakukan oleh partisipan
dalam situasi sosial untuk meningkatkan praktek sosial atau kependidikan
(Kemmis & McTaggart, 1988).
Action research juga memungkinkan adanya keterlibatan antara peneliti
dengan partisipan dalam bentuk kolaborasi dan menitikberatkan terhadap
pendekatan naturalistic dan humanistic (Holter & Schwartz-Barcott, 1993),
Action research menuntut seorang peneliti untuk tidak hanya mengumpulkan
informasi atau pengetahuan tentang situasi tertentu, namun juga diharapkan untuk
mampu membantu memperbaiki situasi yang ditemui pada saat penelitian (Polit &
Beck, 2008).
Metode penelitian action research berlangsung bersama kolaborasi dan
dialog yang dapat memotivasi, meningkatkan harga diri dan menghasilkan
solidaritas yang kuat antara partisipan dan peneliti. Strategi pengumpulan data
yang digunakan tidak hanya metode tradisional seperti wawancara dan observasi,
tetapi bisa juga dilakukan bercerita, drama komedi, menggambar dan melukis,
bermain peran dan kegiatan lain yang mendorong partisipan mengenali kekuatan
sendiri dan menemukan cara-cara kreatif untuk mengeksplorasi kehidupan mereka
2.3.2. Proses Action Research
Kemmis dan McTaggart (1988) menjelaskan bahwa dalam melaksanakan
AR memerlukan beberapa langkah tindakan yaitu reconnaissance, planning,
acting and observing dan reflection.
Langkah pertama Reconnaisance.merupakan tahap awal dalam mencari
permasalahan yang ada. Tahap ini dapat di sebut juga tahap preliminary studi,
yaitu mempelajari masalah yang ada dan menentukan tema yang penting. Tahap
ini menggambarkan apa yang terjadi sekarang dan apa yang kita lakukan
sekarang. Pernyataan-pernyataan tentang masalah yang ada mulai dimunculkan
pada tahap ini. Selain menentukan masalah yang akan diteliti, tahap ini juga
menentukan group action berupa kumpulan orang-orang yang terlibat dalam
penelitian dan memastikan bahwa orang-orang tersebut sudah mendapatkan
informasi tentang penelitian dan mempunyai komitmen untuk bekerjasama dalam
proyek penelitian.
Langkah kedua: planning merupakan perencanaan yang bersifat untuk
perbaikan. Tahap ini beorientasi pada peneliti tentang bagaimana kolaborasi
dengan partisipan. Pada tahap ini peneliti harus memutuskan bersama dengan
group action kemungkinan tindakan perbaikan yang dapat dilakukan dan
hambatan dalam penelitian. Peneliti merumuskan apa yang dapat dilakukan pada
situasi atau kondisi tempat penelitian. Perencanaan meliputi rencana untuk
merubah dengan menggunakan bahasa, aktivitas dan praktik, hubungan antara
menjawab pertanyaan : Apa yang akan dilakukan, oleh siapa, kapan dan
bagaimana?
Langkah ketiga: acting dan observing adalah mengimplementasikan
rencana dan mengobservasi pekerjaan yang dilakukan. Tahap ini adalah
melaksanakan rencana yang sudah di tetapkan, meliputi melaksanakan rencana
untuk berubah dengan menggunakan bahasa, aktivitas dan praktik, hubungan
antara manusia dan organisasi, dan mengobservasi hasil dari implementasi yang
telah di lakukan. Hal yang harus diperhatikan oleh peneliti pada tahap ini adalah,
setelah peneliti melakukan kegiatan maka peneliti harus segera memonitor apa
yang terjadi setelah dilakukan tindakan.
Langkah keempat: reflection merupakan waktu untuk memberikan analisa,
sintetis, interpretasi dan menyimpulkan hal yang penting. Pada tahap ini refleksi
berfokus pada hasil yang telah di capai kemudian di buat analisa untuk perbaikan
pada cycle berikutnya.
Berikut akan digambarkan proses action research menurut Kemmis dan
McTaggart (1988) :
2.4. Kerangka Konseptual
Penyusunan kerangka konseptual dilakukan berdasarkan landasan teori
keperawatan Watson’s Theory of Transpersonal Caring yang dikaitkan dengan
program ronde keperawatan klinis di rumah sakit. Dalam penyusunan prosedur
ronde klinis keperawatan peneliti mengacu kepada kegiatan yang dapat
meningkatkan perilaku caring pada perawat, untuk peneliti mengembangkan
program ronde klinis keperawatan berdasarkan carative faktor yang ke 4
(membangun helping-trust relationship terdiri dari congruence, empathy,
non-possesive warmth), carative factor yang ke 8 (menciptakan lingkungan yang
mendukung terdiri dari comfort, privacy, safety dan clean-esthetics surrounding)
dan carative factor yang ke 9 (bantuan pemenenuhan kebutuhan dasar terdiri dari
survival, functional, integrative dan growth-seeking).
Selain menggunakan teori Watson Transpersonal Caring peneliti juga
menggunakan 4P’s Rounding protokol yang terdiri dari Pain, Personal Needs,
Position, dan Placemet (Meade et al., 2006). Agar dapat mengembangkan
program ronde klinis keperawatan di RSUD Kota Padangsidimpuan maka peneliti
menggunakan penelitian action research yang terdiri dari tahap planning, acting
& observing dan reflecting (Kemmis & Taggart, 1988). Pelaksanaan program
ronde klinis keperawatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pasien
terhadap pelayanan keperawatan dan kepuasan kerja perawat. Kesimpulan tentang
Diagram 2.2. Kerangka Konsep Penelitian
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah action research (AR) untuk
mengembangkan program ronde klinis keperawatan di RSUD Kota
Padangsidimpuan. Pemilihan rancangan ini karena action research merupakan
suatu bentuk kegiatan penelitian yang didasarkan pada prinsip kolektif dan
reflektif yang dilakukan oleh partisipan dalam situasi sosial untuk meningkatkan
praktek sosial atau kependidikan (Kemmis & McTaggart, 1988). Action research
juga memungkinkan adanya keterlibatan antara peneliti dengan partisipan dalam
bentuk kolaborasi dan menitikberatkan terhadap pendekatan naturalistic dan
humanistic (Holter & Schwartz-Barcott, 1993), action research menuntut seorang
peneliti untuk tidak hanya mengumpulkan informasi atau pengetahuan tentang
situasi tertentu, namun juga diharapkan untuk mampu membantu memperbaiki
situasi yang ditemui pada saat penelitian (Polit & Beck, 2008).
Penelitian ini merupakan 1 siklus action research dan dibagi kedalam 4
tahapan yang disusun berdasarkan konsep four ‘moments’ of action research
Kemmis dan McTaggart (1988). Keempat tahapan tersebut terdiri dari planning,
acting, observing dan reflecting. Namun karena penelitian ini merupakan
penelitian action research yang pertama dilakukan di RSUD Kota
Padangsidimpuan, maka peneliti memerlukan tahap reconnaissance (persiapan)
untuk meninjau situasi sebagai dasar dalam mengidentifikasi permasalahan yang
pada setting penelitian.
3.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di ruang rawat inap Super VIP Khusus Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padangsidimpuan. Ruang rawat inap ini
dijadikan sebagai tempat penelitian mengingat ruangan ini merupakan ruangan
yang baru dibuka pada bulan Januari 2013 sehingga masih membutuhkan banyak
pengembangan dalam pelayanan keperawatannya. Selain itu sebagian besar
(84,2%) perawat pelaksana di ruangan ini berpendidikan DIII sehingga
memungkinkan mereka untuk mampu terlibat dalam proses penelitian nantinya.
Pengambilan data dan kegiatan penelitian berdasarkan siklus action
research dilaksanakan selama 10 minggu sejak April hingga Juni 2013.
3.3. Partisipan Penelitian
Partisipan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang terlibat langsung
dalam program ronde keperawatan yaitu administrator keperawatan, perawat
pelaksana dan pasien sebagai objek dalam ronde keperawatan. Pemilihan subjek
penelitian ini sejalan dengan pendapat Polit dan Beck (2008) yang menyatakan
bahwa pada penelitian kualitatif subjek penelitian atau dikenal dengan partisipan
adalah subjek yang pernah mengalami substansi yang akan diteliti.
Seluruh perawat yang bertugas di ruang rawat inap VIP Khusus menjadi
kepala ruangan, 1 orang wakil kepala ruangan, 4 ketua tim dan 13 perawat
pelaksana.
3.4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan yang beragam (eclectical
approach) yaitu menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hal ini
memungkinkan dilakukan karena action research merupakan penelitian yang unik
dan kompleks sehingga dapat menggunakan tools yang beragam dalam proses
pengumpulan data (Webb, 1989). Kompleksitas penelitian action research ini
juga terlihat dari beragamnya pengumpulan data pada setiap tahap action
research. Selanjutnya akan diuraikan tentang alat dan metode pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini.
3.4.1. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5
instrumen yaitu (1) panduan wawancara, (2) panduan focus group discussion, (3)
lembar observasi partisipan, (4) kuisioner kepuasan pasien terhadap pelayanan
keperawatan, (5) kusioner kepuasan kerja perawat. Pengembangan alat
pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti dengan
terlebih dahulu melakukan studi literatur. Instrumen yang telah disusun kemudian
dilakukan uji validitas dan instrument akan dinyatakan valid apabila Content
Validity Index berada diatas > 0.78 (Polit & Beck, 2008). Selanjutnya akan
(1) Panduan wawancara
Panduan wawancara terdiri dari 7 pertanyaan terbuka tentang persepsi
partisipan terhadap ronde klinis keperawatan. Pertanyaan dalam panduan
wawancara ditujukan untuk menggali informasi terkait pemahaman partisipan
tentang ronde klinis keperawatan, manfaat ronde klinis keperawatan, hambatan
yang dijumpai dalam pelaksanaan ronde klinis keperawatan, hal yang dilakukan
untuk mengatasi hambatan dan harapan partisipan terhadap pelaksaan ronde klinis
keperawatan di ruang rawat inap.
Instrumen panduan wawancara telah diuji validitasnya oleh 3 orang expert
dalam manajemen keperawatan (lihat lampiran 4). Uji validitas memperoleh hasil
bahwa 2 dari 3 expert menyatakan pertanyaan nomor 6 (pertanyaan tentang hal
yang dilakukan untuk mengatasi hambatan) tidak relevan dengan penelitian
sehingga item tersebut dihapus. Nilai Content Validity Index (CVI) adalah 0,95.
hasil ini menunjukkan bahwa instrumen sudah valid
(2) Panduan Focus Group Discussion (FGD)
Panduan Focus Group Discussion (FGD) terdiri dari 6 pertanyaan terbuka
tentang evaluasi pelaksanaan ronde klinis keperawatan di ruangan. Pertanyaan
ditujukan untuk menggali informasi tentang persepsi perawat terhadap ronde
klinis keperawatan setelah dilakukan aplikasi di ruang rawat inap. Pertanyaan juga
ditujukan untuk menggali informasi tentang faktor pendukung dan penghambat
serta manfaat yang dirasakan partisipan dalam mengaplikasikan ronde klinis
Instrumen Panduan Focus Group Discussion (FGD) telah diuji validitas
oleh 3 orang expert dalam manajemen keperawatan (lihat lampiran 4). Uji
validitas memperoleh hasil bahwa ketiga expert menyatakan seluruh pertanyaan
sudah relevan dan Content Validity Index adalah 1,00. Hasil ini menunjukkan
bahwa instrumen sudah valid.
(3) Lembar Observasi
Lembar observasi terdiri dari 31 pernyataan terkait kegiatan yang harus
dilakukan oleh perawat saat pelaksanaan ronde klinis keperawatan. Pernyataan 1
sampai 4 tentang kegiatan persiapan ronde klinis keperawatan, pernyataan 5
sampai 7 tentang kegiatan sebelum memasuki ruangan pasien, pernyataan 8
sampai 28 tentang kegiatan saat melakukan ronde klinis keperawatan dan 29
sampai 31 tentang kegiatan saat mengakhiri ronde klinis keperawatan. Skor 1
diberikan kegiatan dalam pernyataan dilakukan dan skor 0 apabila kegiatan dalam
pernyataan tidak dilakukan
Uji validitas instrumen panduan Focus Group Discussion (FGD) telah
dilakukan oleh 3 orang expert dalam manajemen keperawatan (lihat lampiran 4).
Uji validitas ini memperoleh hasil bahwa pernyataan 4, 5, dan 8 perlu dirubah
kalimatnya. Nilai Content Validity Index adalah 0.93, sehingga diambil
(4) Kuisioner Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Keperawatan
Kuisioner Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Keperawatan
dikembangkan berdasarkan Watson’s Theory of Transpersonal Caring terdiri dari
21 item yang menggambarkan sikap dan perilaku caring perawat yang sesuai
dengan carative factor yang ke 4, 8 dan 9.
Uji validitas instrumen Kuisioner Kepuasan Perawat Terhadap Pelayanan
Keperawatan telah dilakukan oleh 3 orang expert dalam manajemen keperawatan
(lihat lampiran 4). Uji validitas memperoleh hasil bahwa pernyataan 4, 8, 10 dan
16 perlu dirubah kalimatnya. Nilai Content Validity Index adalah 0.90, sehingga
diambil kesimpulan bahwa instrument ini sudah valid.
(5) KuisionerKepuasan Kerja Perawat
Kuisioner Kepuasan Kerja Perawat terdiri dari 10 pernyataan tentang
kepuasan perawat terhadap pekerjaannya. Pernyataan terdiri dari kepuasan kerja
perawat pernyataan tentang hubungan perawat dengan pasien (pernyataan nomor
1 sampai 4) dan pernyataan tentang kepuasan partisipan terhadap pekerjaannya
sebagai perawat (pernyataan nomor 5 sampai 10).
Uji validitas terhadap instrumen Kuisioner Kepuasan Kerja Perawat telah
dilakukan oleh 3 orang expert dalam manajemen keperawatan (lihat lampiran 4).
Uji validitas memperoleh hasil bahwa pernyataan 3 dan 5 perlu dirubah
kalimatnya. Perhitungan Content Validity Index adalah 0.86, sehingga diambil