• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Program Ronde Klinis Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengembangan Program Ronde Klinis Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN PROGRAM RONDE KLINIS

KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH KOTA PADANGSIDIMPUAN

TESIS

Oleh

ROSMADANI HASIBUAN

117046031/ ADMINISTRASI KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PENGEMBANGAN PROGRAM RONDE KLINIS

KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH KOTA PADANGSIDIMPUAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Keperawatan (M.Kep) dalam Program Studi Magister Ilmu Keperawatan

Minat Studi Administrasi Keperawatan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Oleh

ROSMADANI HASIBUAN

117046031/ ADMINISTRASI KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)
(4)

Telah diuji

Pada tanggal : 26 Agustus 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Setiawan, S.Kp., MNS., Ph.D

Anggota : 1. Salbiah, S.Kp., M.Kep

(5)

PERNYATAAN

PENGEMBANGAN PROGRAM RONDE KLINIS

KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH KOTA PADANGSIDIMPUAN

Tesis

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar akademis di suatu perguruan

tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis

diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 26 Agustus 2013

(6)

Judul Tesis : Pengembangan Program Ronde Klinis

Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota

Padangsidimpuan

Nama Mahasiswa : Rosmadani Hasibuan

Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan

Minat Studi : Administrasi Keperawatan

Tahun : 2013

ABSTRAK

Ronde klinis keperawatan merupakan suatu proses proaktif dimana

perawat melakukan kunjungan kepada pasien secara rutin untuk memenuhi

kebutuhan pasien baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan untuk mendapatkan

informasi tentang penyakitnya dan melibatkan pasien dalam pengambilan

keputusan terkait proses perawatannya. Ronde keperawatan bertujuan untuk

memenuhi kebutuhan pasien secara rutin dan memastikan keselamatan pasien

ronde keperawatan juga bertujuan agar pasien mendapatkan informasi mengenai

penyakitnya, pemeriksaan lanjutan dan proses keperawatan yang akan dijalaninya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program ronde klinis

keperawatan di RSUD Kota Padangsidimpuan. Penelitian ini dilakukan selama 8

minggu dan merupakan 1 siklus action research yang terdiri reconnaissance,

planning, acting & observing dan reflecting. Metode pengumpulan data adalah

(7)

Discussion (FGD). Partisipan dalam penelitian berjumlah 19 orang perawat di

ruang rawat inap VIP Khusus RSUD Kota Padangsidimpuan.

Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif

dianalisa dengan menggunakan teknik content analysis. Data kuantitatif berupa

kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan disajikan dalam tabel distribusi

frekuensi. Data kuantitatif berupa kepuasan kerja perawat dianalisa dengan

menggunakan uji wilcoxon dengan hasil pvalue = 0,02 yang menunjukkan adanya

perbedaan kepuasan kerja perawat sebelum dan sesudah aplikasi ronde klinis

keperawatan.

Penelitian ini menghasilkan program ronde klinis keperawatan yang terdiri

dari struktur dan uraian tugas tim ronde keperawatan, kerangka acuan ronde klinis

keperawatan, SOP ronde klinis keperawatan dan alur pelaksanaan ronde klinis

keperawatan yang sudah sesuai dengan kondisi di RSUD Kota Padangsidimpuan.

penelitian ini berdampak pada peningkatan kepuasan pasien terhadap pelayanan

keperawatan dan peningkatan kepuasan kerja perawat.

Penelitian ini merekomendasikan kepada pimpinan keperawatan supaya

melakukan supervisi ronde klinis keperawatan di ruang rawat inap untuk

meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

(8)

Thesis Title : Development of Clinical Nursing Round Program

in Padangsidimpuan General Hospital

Name : Rosmadani Hasibuan

Study Program : Master of Nursing

Field of Specialization : Nursing Administration

Year : 2013

ABSTRACT

Nursing clinical round is a proactive process in which nurses visit patients

routinely in order to fulfill patients’ basic need. The objective is to get information

about the patients’ illness and to make the patients involved in decision making

related to their nursing process. Nursing round is aimed to fulfill the patients’

need routinely and to make sure about their safety, and they can get information

about their illness, the following examination, and the treatment process.

The objective of the research was to develop clinical nursing round

program in Padangsidimpuan General Hospital. The research was conducted

within 8 weeks, and it was one action research cycle which consisted of

reconnaissance, planning, acting & observing, and reflecting. The data were

gathered by conducting interviews, participant observation, questionnaire

distribution, and Focus Group Discussion (FGD). Participants in the research were

19 nurses in the Inpatient VIP Specific Room of Padangsidimpuan General

(9)

The data were analyzed quantitatively and qualitatively. Qualitative data

were analyzed by using content analysis technique, while quantitative data were

patients’ satisfaction with nursing service which was presented in frequency

distribution tables. Quantitative data were nurses’ work satisfaction which were

analyzed by using wilcoxon test with pvalue = 0.02 which indicated that there was

the difference in nurses’ work satisfaction before and after the application of

nursing clinical round.

This research produced nursing clinical round which consisted of structure

and job description of nursing clinical round, reference framework of nursing

clinical round, Standard Operating Procedure (SOP) of nursing clinical round, and

the workflow of nursing clinical round which was in line with the condition of the

hospital. The research had an impact on the increase in patients’ satisfaction with

the nursing service and the increase in the nurses’ work satisfaction.

It is recommended that the nursing management perform supervision for

nursing clinical round in the inpatient rooms in order to improve the quality of

nursing service.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan

berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul

“Pengembangan Program Ronde Klinis Keperawatan di Rumah Sakit Umum

Daerah Kota Padangsidimpuan.” Tesis ini disusun untuk memenuhi sebagian dari

syarat memperoleh Magister Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini tidak akan dapat

diselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada

kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang

sedalam-dalamnya kepada Bapak dr. Dedi Ardinata, M. Kes., selaku Dekan Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan

bagi penulis untuk mengikuti pendidikan Magister Keperawatan di Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Setiawan,

S.Kp, MNS, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Keperawatan

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan sebagai Pembimbing I

yang telah meluangkan waktu untuk memberikan ilmu yang sangat bermanfaat

dari sejak awal penelitian hingga selesainya penulisan tesis ini. Selain itu penulis

juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Salbiah, S.Kp, M.Kep, selaku

Pembimbing II yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis

(11)

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Heru Santosa,

MS., PhD dan Bapak Ikhsanuddin A. Harahap, SKp, MNS selaku tim penguji

yang telah memberikan kritik dan saran untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.

Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pimpinan Rumah

Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan yaitu Bapak dr. H. Aminuddin yang

telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian. Ucapan terima

kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Bidang Keperawatan yaitu Bapak

Maskun Siregar, AMK beserta jajarannya, Kepala ruang rawat inap VIP Khusus

beserta stafnya yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini.

Penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ibunda Hj. Masrodiah

Harahap yang telah memberikan motivasi selama penulis mengikuti pendidikan.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada suami tercinta Rahmat

Hidayat Lubis, AMd, yang senantiasa mendukung dan memberikan motivasi

kepada penulis, juga kepada ananda Syifa Annisa Lubis atas kesabaran dan

kemandiriannya yang luar biasa.

Akhirnya tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada

rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara Angkatan I 2011/2012 khususnya Ririn,

Kak Afni, Kak Sri dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang

telah banyak membantu dan memberi dorongan untuk menyelesaikan tesis ini.

Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari sempurna dan membutuhkan

masukan yang sangat bermanfaat untuk kesempurnaan tesis ini. Oleh karena itu,

(12)

penulis semoga tesis ini bermanfaat demi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya

profesi keperawatan.

Medan, Juli 2013

(13)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Rosmadani Hasibuan

Tempat/Tanggal Lahir : Padangsidimpuan, 24 September 1981

Alamat : Jl. Persatuan No. 45 Kel. Panyanggar Padangsidimpuan

No. Telp./Hp : 08126477212

Riwayat Pendidikan :

Jenjang Pendidikan Nama Institusi Tahun Lulus

SD SDN 06 Padangsidimpuan 1993

SLTP MTsN Padangsidimpuan 1996

SMU SMUN 1 Padangsidimpuan 1999

Sarjana PSIK Fakultas Kedokteran USU 2004

Ners PSIK Fakultas Kedokteran USU 2005

Magister Fakultas Ilmu Keperawatan USU 2013

Riwayat Pekerjaan:

Staf Dosen di Akper Syuhada Padangsidimpuan mulai Tahun 2005 – 2008.

Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap III (Penyakit Dalam) RSUD Kota

Padangsidimpuan mulai tahun 2006 – 2008.

Kepala Ruang Rawat Inap I (Umum, THT dan Neurologi) RSUD Kota

Padangsidimpuan mulai tahun 2008-2010.

Kepala Seksi Pendidikan dan Pengembangan Profesi RSUD Kota

(14)

Kegiatan Akademik Selama Studi:

1. Peserta pada acara “Seminar Sehari Caring Science Sebagai Landasan

Aplikasi dalam Pendidikan, Pelayanan dan Penelitian Keperawatan”, 17

Desember 2011, Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Peserta pada acara “Seminar Penelitian Kualitatif Sebagai Landasan

Pengembangan Pengetahuan Disiplin Ilmu Kesehatan & Workshop

Analisis Data dengan Content Analysis & Weft-QDA”, 31 Januari 2012,

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

3. Peserta pada acara Seminar Optimalisasi Kolaborasi Perawat –Dokter

dalam Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan, 20 Juli 2012,

RSUP H. Adam Malik Medan.

4. Peserta 3rd International Nursing Conference “Bringing Current Research

into Nursing Practice for Improving uality of Care”, 21 – 22 Maret 2012,

Rumah Sakit Pendidikan Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat.

5. Peserta Overseas Study Visit Master Of Nursing Program Faculty Of

Nursing University Of Sumatera Utara (USU), Thailand dan Malaysia,

18 – 22 Februari 2013.

6. Oral presenter pada 2013 MEDAN INTERNATIONAL NURSING

CONFERENCE “The Application of Nursing Education Advanced

Research and Clinical Practice”, 1 – 2 April 2013, Hotel Garuda Plaza,

(15)

7. Peserta “Seminar & Workshop Aplikasi Knowledge Management Dalam

Administrasi Keperawatan di Rumah Sakit”, 13 – 14 Mei 2013, RSU Dr.

Pirngadi Medan, Sumatera Utara.

Publikasi

Hasibuan, R., Setiawan., Salbiah. (2013). Pengembangan Program Ronde

Klinis Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan.

Jurnal Riset Keperawatan Indonesia, 1 (2).

Proceeding :

Hasibuan, R., Setiawan., Salbiah. (2013). Nursing Round in Hospital :

Systematic review. Presentasi oral pada 2013 Medan International Nursing

Confrence on The Application of Caring Science on Nursing Education Advanced

(16)

DAFTAR ISI

BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 28

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28

3.3. Partisipan Penelitian ... 29

3.4. Pengumpulan Data ... 30

3.5. Prosedur Penelitian ... 36

3.6. Variabel dan Defenisi Operasional ... 38

3.7. Metode Analisis Data ... 39

3.8. Keabsahan Data ... 40

3.9. Pertimbangan Etik ... 41

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 43

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 49

4.2. Data Demografi Partisipan ... 50

4.3. Proses Pengembangan Program Ronde Klinis Keperawatan ... 50

4.4. Outcomes dari proses action research ... 70

4.5. Dampak Pelaksanaan Program Ronde Klinis Keperawatan 70 BAB 5. PEMBAHASAN ... 73

5.1. Proses Pelaksanan Action Research... 73

(17)

5.3. Pelajaran yang Diperoleh dari Penelitian Action Research . 79

5.3. Keterbatasan Penelitian ... 79

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

6.1. Kesimpulan... 81

6.2. Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Data Demografi Partisipan ... 49

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Kepuasan Pasien Sebelum

Aplikasi ... 58

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Kepuasan Kerja Perawat Sebelum Aplikasi ... 58

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Kepuasan Pasien Sebelum dan Sesudah Aplikasi ... 71

(19)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Siklus Action Research Kemmis dan Mc

Taggart (1988) ... 25

Gambar 4.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 28

Gambar 4.2. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum

Daerah Kota Padangsidimpuan ... 46

Gambar 4.3. Struktur Organisasi Tim Pengendali Mutu Pelayanan Keperawatan RSUD Kota

Padangsidimpuan ... 48

Gambar 4.4. Denah Ruang Rawat Inap VIP Khusus RSUD

Kota Padangsidimpuan ... 51

Gambar 4.5. Struktur Organisasi Ruang Rawat Inap VIP

Khusus RSUD Kota ... 52

Gambar 4.6. Proses Action Research Pengembangan

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Instrumen Penelitian ... 88

a. Informed consent ... 89

b. Panduan Wawancara ... 90

c. Panduan FGD ... 91

d. Format Checklist Untuk Observasi ... 92

e. Kuesioner Kepuasan Pasien ... 95

f. Kuesioner Kepuasan Kerja Perawat ... 99

Lampiran 2. Biodata Expert ... 101

Lampiran 3. Izin Penelitian ... 103

a. Surat izin penelitian dari Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara ... 104

b. Surat izin penelitian dari Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan ... 105

c. Surat Ethical Clereance ... 106

(21)

Judul Tesis : Pengembangan Program Ronde Klinis

Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota

Padangsidimpuan

Nama Mahasiswa : Rosmadani Hasibuan

Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan

Minat Studi : Administrasi Keperawatan

Tahun : 2013

ABSTRAK

Ronde klinis keperawatan merupakan suatu proses proaktif dimana

perawat melakukan kunjungan kepada pasien secara rutin untuk memenuhi

kebutuhan pasien baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan untuk mendapatkan

informasi tentang penyakitnya dan melibatkan pasien dalam pengambilan

keputusan terkait proses perawatannya. Ronde keperawatan bertujuan untuk

memenuhi kebutuhan pasien secara rutin dan memastikan keselamatan pasien

ronde keperawatan juga bertujuan agar pasien mendapatkan informasi mengenai

penyakitnya, pemeriksaan lanjutan dan proses keperawatan yang akan dijalaninya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program ronde klinis

keperawatan di RSUD Kota Padangsidimpuan. Penelitian ini dilakukan selama 8

minggu dan merupakan 1 siklus action research yang terdiri reconnaissance,

planning, acting & observing dan reflecting. Metode pengumpulan data adalah

(22)

Discussion (FGD). Partisipan dalam penelitian berjumlah 19 orang perawat di

ruang rawat inap VIP Khusus RSUD Kota Padangsidimpuan.

Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif

dianalisa dengan menggunakan teknik content analysis. Data kuantitatif berupa

kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan disajikan dalam tabel distribusi

frekuensi. Data kuantitatif berupa kepuasan kerja perawat dianalisa dengan

menggunakan uji wilcoxon dengan hasil pvalue = 0,02 yang menunjukkan adanya

perbedaan kepuasan kerja perawat sebelum dan sesudah aplikasi ronde klinis

keperawatan.

Penelitian ini menghasilkan program ronde klinis keperawatan yang terdiri

dari struktur dan uraian tugas tim ronde keperawatan, kerangka acuan ronde klinis

keperawatan, SOP ronde klinis keperawatan dan alur pelaksanaan ronde klinis

keperawatan yang sudah sesuai dengan kondisi di RSUD Kota Padangsidimpuan.

penelitian ini berdampak pada peningkatan kepuasan pasien terhadap pelayanan

keperawatan dan peningkatan kepuasan kerja perawat.

Penelitian ini merekomendasikan kepada pimpinan keperawatan supaya

melakukan supervisi ronde klinis keperawatan di ruang rawat inap untuk

meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

(23)

Thesis Title : Development of Clinical Nursing Round Program

in Padangsidimpuan General Hospital

Name : Rosmadani Hasibuan

Study Program : Master of Nursing

Field of Specialization : Nursing Administration

Year : 2013

ABSTRACT

Nursing clinical round is a proactive process in which nurses visit patients

routinely in order to fulfill patients’ basic need. The objective is to get information

about the patients’ illness and to make the patients involved in decision making

related to their nursing process. Nursing round is aimed to fulfill the patients’

need routinely and to make sure about their safety, and they can get information

about their illness, the following examination, and the treatment process.

The objective of the research was to develop clinical nursing round

program in Padangsidimpuan General Hospital. The research was conducted

within 8 weeks, and it was one action research cycle which consisted of

reconnaissance, planning, acting & observing, and reflecting. The data were

gathered by conducting interviews, participant observation, questionnaire

distribution, and Focus Group Discussion (FGD). Participants in the research were

19 nurses in the Inpatient VIP Specific Room of Padangsidimpuan General

(24)

The data were analyzed quantitatively and qualitatively. Qualitative data

were analyzed by using content analysis technique, while quantitative data were

patients’ satisfaction with nursing service which was presented in frequency

distribution tables. Quantitative data were nurses’ work satisfaction which were

analyzed by using wilcoxon test with pvalue = 0.02 which indicated that there was

the difference in nurses’ work satisfaction before and after the application of

nursing clinical round.

This research produced nursing clinical round which consisted of structure

and job description of nursing clinical round, reference framework of nursing

clinical round, Standard Operating Procedure (SOP) of nursing clinical round, and

the workflow of nursing clinical round which was in line with the condition of the

hospital. The research had an impact on the increase in patients’ satisfaction with

the nursing service and the increase in the nurses’ work satisfaction.

It is recommended that the nursing management perform supervision for

nursing clinical round in the inpatient rooms in order to improve the quality of

nursing service.

(25)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Industri pelayanan kesehatan saat ini semakin berkembang pesat. Tidak

hanya rumah sakit milik pemerintah, rumah sakit swasta juga mengalami

pertumbuhan yang terus meningkat. Berdasarkan data dari Dirjen Bina Upaya

Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) jumlah rumah sakit di Indonesia

sudah mencapai 2.083 unit pada bulan Januari 2013 dengan rincian 813 unit

merupakan rumah sakit milik pemerintah dan 1270 lainnya merupakan rumah

sakit swasta dengan rata-rata pertumbuhan rumah sakit pertahun sekitar 1,14%

(Kemenkes, 2013). Tingginya angka pertumbuhan rumah sakit mengindikasikan

adanya persaingan industri rumah sakit yang semakin ketat. Persaingan yang

semakin ketat mendorong rumah sakit baik swasta maupun pemerintah untuk

mampu mengembangkan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.

Beberapa penelitian menemukan bahwa pelayanan keperawatan sangat

penting dalam menentukan mutu pelayanan sebuah rumah sakit. Penelitian

Wagner dan Bear (2009) menemukan adanya hubungan yang positif antara

lingkungan kerja keperawatan dengan kepuasan pasien yang merupakan salah satu

indikator mutu pelayanan keperawatan. Hal ini juga diperkuat dengan penelitian

Otani, Kurz dan Barney (2004) mengidentifikasi 6 atribut yang dinilai

berhubungan dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yakni (1)

(26)

teman pasien, (4) pelayanan keperawatan, (5) kenyamanan lingkungan dan (6)

proses perencanaan pemulangan. Hasil penelitian menunjukkan atribut pelayanan

keperawatan mempunyai pengaruh paling besar (53%) untuk menentukan

kepuasan pasien terhadap pelayanan pelayanan kesehatan di rumah sakit, diikuti

dengan proses administrasi (15%), kenyamanan lingkungan (11%), perlakuan

terhadap teman/keluarga (10%), pelayanan medis (5%), dan proses perencanaan

pemulangan (3%). Dengan demikian peningkatan pelayanan keperawatan

merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan mutu pelayanan di rumah

sakit..

Salah satu strategi yang disarankan untuk meningkatkan mutu pelayanan

keperawatan adalah dengan pelaksanaan program ronde keperawatan yang

merupakan salah satu implementasi dari Relationship Based Care (Woolley et al.,

2012). Salah satu konsep yang mendasari Relationship Based Care adalah konsep

Human Care yang dikembangkan oleh Watson dengan berfokus kepada hubungan

timbal balik antara perawat dan pasien (Watson, 1999). Ronde keperawatan

memungkinkan perawat untuk melakukan hubungan timbal balik dengan pasien

secara teratur dan sistematis untuk menunjukkan keberadaan perawat dalam

membantu mengantisipasi kebutuhan dan memberikan kenyamanan serta

perlindungan bagi pasien (Woolley et. al., 2011).

Laporan dari Studer Group (2007) menyatakan berdasarkan hasil temuan

pada tahun 2006 bahwa institusi yang melaksanakan ronde keperawatan secara

(27)

12 rumah sakit yang menerapkan ronde keperawatan secara berkala dan sistematis

memperoleh peningkatan rating pelayanan yang excellent mencapai 41,85%.

Penelitian lain terkait ronde keperawatan dipublikasikan oleh Meade,

Bursell dan Ketelsen pada tahun 2006 yang mengistilahkan ronde keperawatan

dengan “hourly rounding”. Penelitian ini mengembangkan protokol ronde

keperawatan berupa kegiatan apa saja yang dilakukan perawat selama ronde

berlangsung yang berfokus kepada pain, position, potty dan placement. Protokol

ini kemudian diistilahkan dengan “4Ps Rounding Protokol”, dan ronde yang

sistematik ini terbukti secara statistik mampu menurunkan penggunaan bel untuk

memanggil perawat, mengurangi kemungkinan pasien jatuh dan meningkatkan

kepuasan pasien. Selain itu dengan pelaksanaan ronde keperawatan pelayanan

keperawatan menjadi lebih efisien, komunikasi antara perawat menjadi lebih baik

dan berkurangnya stress kerja perawat sehingga akan meningkatkan kepuasan

kerja dari perawat.

Selain itu penelitian Saleh, Nusair, Al Zubadi, Al Shloul dan Saleh (2011)

juga mempublikasikan hasil pengaruh penerapan sistem ronde keperawatan

terhadap angka kejadian pasien jatuh, angka kejadian luka tekan dan kepuasan

pasien. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa angka pasien jatuh menurun

secara drastis dari 25 angka kejadian menjadi 4 angka kejadian, sedangkan angka

kejadian luka tekan menurun hingga mencapai 50 % dan kepuasan pasien

(28)

Dudley Group of Hospital pada tahun 1970 memperkenalkan 4 tipe ronde

keperawatan yakni matrons’ rounds, nurse management rounds, patient comfort

rounds dan teaching rounds (Close & Castledine, 2005). Matrons’ rounds adalah

proses dimana seorang perawat berkeliling ke ruangan-ruangan, menanyakan

kondisi pasien sesuai dengan jam rondenya. Nurse management rounds adalah

ronde manajerial yang melihat pada rencana pengobatan dan implementasi pada

sekelompok pasien. Patients comfort rounds adalah ronde yang berfokus pada

kebutuhan utama yang diperlukan pasien dirumah sakit. Teaching rounds

dilakukan antara teacher nurse dengan perawat atau siswa perawat, dimana terjadi

proses pembelajaran. Semua jenis ronde ini secara ilmiah memberikan konstribusi

yang positif terhadap peningkatan mutu pelayanan keperawatan (Close &

Castledine, 2005).

Ronde keperawatan merupakan komponen kunci dari program service

excellent yang akan menghasilkan peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.

Peningkatan kualitas pelayanan keperawatan tersebut dapat dilihat dari beberapa

outcomes yaitu peningkatan kepuasan pasien, peningkatan kepuasan perawat,

penurunan penggunaan bel panggil, penurunan angka pasien jatuh dan penurunan

angka kejadian luka tekan. Untuk itu rumah sakit perlu mempertimbangkan ronde

keperawatan sebagai salah satu program yang dapat diteraplan di ruang rawat

inap.

RSUD Kota Padangsidimpuan merupakan salah satu rumah sakit

(29)

dikunjungi oleh masyarakat tidak hanya dari dalam Kota Padangsidimpuan namun

juga dari luar Kota Padangsidimpuan. Terlebih lagi RSUD Kota Padangsidimpuan

merupakan salah satu rumah sakit rujukan di wilayah Tapanuli Bagian Selatan

(Tabagsel) dan sudah lulus uji Akreditasi 5 pelayanan oleh Badan Komite

Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Tingginya kunjungan masyarakat ini

ditunjukkan dengan tingginya angka capaian BOR 85 % pada tahun 2012. (RSUD

Kota Padangsidimpuan, 2012)

Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai perawat di RSUD Kota

Padangsidimpuan, ditemukan bahwa pelaksanaan ronde klinis keperawatan di

ruang rawat inap belum optimal. Ronde keperawatan hanya dilaksanakan pada

pagi hari oleh perawat shift pagi dan dipimpin oleh kepala ruangan. Kegiatan yang

dilakukan hanya pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan obat-obatan. Ronde

yang dilaksanakan juga belum didasari oleh kebijakan berupa program yang dapat

menjadi panduan bagi perawat dalam melaksanakan ronde tersebut.

Mempertimbangkan besarnya peran ronde keperawatan dalam

meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, maka diperlukan suatu penelitian

yang diharapkan dapat mengembangkan pedoman ronde keperawatan di Rumah

Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan. Penelitian pengembangan program

ronde klinis keperawatan dilakukan dengan pendekatan action research, karena

action research memungkinkan terjadinya perubahan dari kondisi nyata (Polit &

Beck, 2008). Penelitian action research juga memungkinkan peneliti melakukan

metode pengambilan data yang beragam untuk mendapatkan data yang

(30)

(Webb, 1989). Penelitian ini menghasilkan suatu program ronde keperawatan dan

menjadikan ronde keperawatan sebagai aktivitas rutin perawat sehingga dapat

menghasilkan outcomes yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan

keperawatan.

1.2. Permasalahan

Bagaimana pengembangan program ronde klinis keperawatan di RSUD

Kota Padangsidimpuan?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan program ronde klinis

keperawatan di RSUD Kota Padangsidimpuan dengan pendekatan action

research.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan konstribusi positif baik secara

teoritis untuk pengembangan keilmuan maupun secara praktis bagi praktisi

keperawatan. Hasil penelitian ini memberikan manfaat bagi perkembangan

praktek keperawatan, pendidikan keperawatan dan riset keperawatan.

1.4.1. Bagi Praktek Keperawatan (Nursing Practice)

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam membuat kebijakan

(31)

Padangsidimpuan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai persiapan untuk

menghadapi akreditasi yang harus dipenuhi oleh institusi pada tahun 2015.

1.4.2. Bagi Pendidikan Keperawatan (Nursing Education)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi positif bagi

Institusi Pendidikan Fakultas Keperawatan khususnya Magister Ilmu

Keperawatan Universitas Sumatera Utara, sebagai bahan referensi kepustakaan

sehingga dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik terkait konsep ronde

klinis keperawatan.

1.4.3. Bagi Perkembangan Riset Keperawatan (Nursing Research)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dan

dapat dijadikan panduan untuk mengadakan penelitian selanjutnya terutama dalam

pengembangan ronde keperawatan sehingga budaya ronde keperawatan ini

(32)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bagian ini akan dipaparkan teori-teori serta pustaka yang dipakai

sebagai dasar penelitian yakni teori tentang ronde keperawatan, Watson’s theory

of human care dan teori penelitian action research.

2.1. Konsep Ronde Keperawatan

Pelayanan keperawatan memiliki peran yang sangat strategis dalam

mewujudkan kualitas pelayanan sebuah rumah sakit yang excellent. Salah satu

strategi yang disarankan untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan

adalah dengan pelaksanaan program ronde keperawatan secara berkala dan

sistematis (Studer Group, 2007). Berikut akan dijelaskan konsep terkait ronde

keperawatan

2.1.1. Defenisi Ronde Keperawatan

Secara bahasa ronde keperawatan terdiri dari 2 kata yaitu ronde dan

keperawatan. Ronde berasal dari Bahasa Inggris yaitu “round” yang memiliki

makna sama dengan around. Sebagai kata keterangan, jika round digunakan untuk

menjelaskan objek atau tempat, memiliki makna bahwa tempat dan objek tersebut

dikelilingi atau berada disemua sisi. Sebagai preposisi, round memiliki makna

(33)

Keperawatan adalah diagnosis dan penanganan respon manusia terhadap

masalah kesehatan aktual maupun potensial (ANA, 2003). Dari pengertian diatas

terdapat 2 komponen kunci dalam defenisi keperawatan yakni diagnosis dan

respon manusia. Diagnosis yang dimaksud adalah diagnosa yang menyangkut

aspek yang berada dalam lingkungan keperawatan, sedangkan respon manusia

dilihat dari responnya terhadap gangguan atau penyakit.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa defenisi ronde

keperawatan secara bahasa adalah suatu kegiatan mengelilingi orang demi orang

dalam suatu grup dengan tujuan untuk mendiagnosis dan menangani respon

manusia terhadap masalah kesehatan aktual maupun potensial.

Beberapa ahli mengungkapkan pengertian tentang ronde keperawatan.

Meade et al. (2006) menyatakan ronde keperawatan sebagai kesempatan untuk

melibatkan pasien dalam proses keperawatan, dan menunjukkan kepedulian

perawatan terhadap kesehatan dan kesembuhan pasien. Swansburg (2001)

menyatakan bahwa ronde keperawatan merupakan prosedur dimana dua atau lebih

perawat mengunjungi pasien untuk mendapatkan informasi yang akan membantu

dalam merencanakan pelayanan keperawatan dan memberikan kesempatan kepada

pasien untuk mendiskusikan masalah keperawatannya serta mengevaluasi

pelayanan keperawatan yang telah diterima pasien.

Ford (2010), mendefenisikan ronde keperawatan sebagai salah satu tehnik

untuk mengorganisasikan pelayanan keperawatan secara proaktif yang berfokus

(34)

sebagai proses yang dilakukan perawat secara proaktif untuk memenuhi

kebutuhan pasien dengan mengunjungi pasien secara rutin keruangannya dan

memeriksa hal-hal yang spesifik dan melakukan pekerjaan untuk memenuhi

kebutuhan dasar pasien secara konsisten.

Dari beberapa defenisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ronde

keperawatan merupakan suatu proses proaktif dimana perawat melakukan

kunjungan kepada pasien secara rutin untuk memenuhi kebutuhan pasien baik

kebutuhan dasar maupun kebutuhan untuk mendapatkan informasi tentang

penyakitnya dan melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan terkait proses

perawatannya.

2.1.2. Tujuan Ronde Keperawatan

Ronde keperawatan merupakan hal yang penting dalam memberikan

pasien pelayanan yang berkualitas, ronde keperawatan yang bertujuan agar pasien

mendapatkan informasi mengenai penyakitnya, pemeriksaan lanjutan dan proses

keperawatan yang akan dijalaninya (Benniskova, 2007). Ronde keperawatan juga

berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pasien secara rutin dan memastikan

(35)

2.1.3. Perkembangan Ronde Keperawatan

2.1.3.1.Ronde Keperawatan Tradisional (tahun 1950-1970 M)

Ronde keperawatan tradisional merupakan proses dimana 2 orang perawat

mengunjungi masing-masing pasien untuk memastikan tempat tidur pasien dalam

kondisi rapi, melakukan dan melakukan pijatan pada area yang mengalami

tekanan (Bates, 2011). Ronde keperawatan ini dilakukan secara rutin setiap hari

oleh perawat senior pada awal shift dan pada saat jam kunjungan dokter. Perawat

berjalan mengelilingi bangsal untuk memeriksa standar pelayanan dan kemajuan

tindakan perawatan. Perawat juga menjelaskan informasi terkait pemeriksaan dan

tindakan medis serta memberi kesempatan kepada pasien dan keluarganya untuk

bertanya tentang masalah kesehatannya.

Sebelum melakukan ronde, perawat menyiapkan menyiapkan trooley yang

berisi baskom air panas, sabun, handuk, sprei, bedak, zinc dan minyak jarak.

Kemudian dua orang perawat ditugaskan untuk mengunjungi masing-masing

pasien untuk memeriksa dan melakukan massage pada area tekan, merubah posisi

dan memberikan tindakan yang dapat meningkatkan kenyamanan pasien seperti

mengganti sarung bantal dan sprei pasien. Pada “Back Rounds” juga terjadi proses

pembelajaran antara perawat senior dengan perawat junior dan mahasiswa

(36)

2.1.3.2. Ronde Keperawatan Modren (setelah tahun 1970 M)

Menurut Close dan Castledine (2005) ada 4 tipe ronde keperawatan

modern yaitu matrons’ rounds, nurse management rounds, patient comfort rounds

dan teaching rounds.

Matrons’ rounds adalah proses dimana seorang perawat berkeliling ke

ruangan-ruangan, menanyakan kondisi pasien sesuai dengan jam rondenya.

Memeriksa standar pelayanan, kebersihan dan kerapihan serta menilai penampilan

dan kemajuan perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien.

Nurse management rounds adalah ronde manajerial yang melihat pada

rencana pengobatan dan implementasi pada sekelompok pasien. Untuk melihat

prioritas tindakan yang dilakukan serta melibatkan pasien dan keluarga pada

proses interaksi. Pada ronde ini tidak terjadi proses pembelajaran antara perawat

dan head nurse.

Patients comfort rounds adalah ronde yang berfokus pada kebutuhan

utama yang diperlukan pasien dirumah sakit. Fungsi perawat dalam ronde ini

adalah memenuhi semua kebutuhan pasien. Misalnya ketika ronde dilakukan pada

malam hari, perawat menyiapkan tempat tidur yang nyaman untuk pasien.

Teaching rounds dilakukan antara teacher nurse dengan perawat atau

siswa perawat, dimana terjadi proses pembelajaran. Teknik ronde ini biasa

dilakukan untuk perawat atau siswa perawat. Dengan pembelajaran langsung,

perawat atau siswa dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat langsung

(37)

2.1.4. Komponen Ronde Keperawatan

Ronde keperawatan merupakan satu set tindakan yang diatur secara

spesifik untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien. Umumnya tindakan ini dibagi

kedalam 4 komponen dasar yaitu Pain, Personal needs, Positioning dan

Placement (Meade et al., 2006).

Pain. Perawat menanyakan “bagaimana nyeri anda?”. Setelah nyeri

terindentifikasi kemudian dilakukan beberapa tindakan untuk mengatasi nyeri

seperti perubahan posisi, guided imagery, latihan nafas dalam, pengalihan

perhatian dan obat-obatan. Hal lain terkait rasa nyaman juga dinilai seperti

kebersihan oral dan pemenuhan cairan.

Personal needs. Perawat menanya pasien “apakah anda ingin ke kamar

mandi?” waktu toileting diatur oleh perawat bersama dengan pasien dengan

bantuan selama dibutuhkan.

Positioning. Perawat mengecek posisi pasien dan bertanya “bagaimana

caranya agara anda lebih merasa nyaman?”. Jadwal reposisi diobservasi terumata

terhadap pasien yang tidak dapat melakukannya secara mandiri.

Placement. Perawat memverifikasi ketersediaan dan keterjangkauan dan

bertanya “apakah anda ingin kami memindahkan call light, telepon, meja dan

(38)

2.1.5. Protokol Ronde Keperawatan

Berdasarkan komponen dasar dari ronde keperawatan diatas maka

beberapa penelitian telah berhasil menyusun protokol dalam pelaksanaan ronde

keperawatan. Meade et al. (2006) mengembangkan “The 4 Ps Rounding

Protokol”. Protokol tersebut terdiri dari 12 tindakan yang dimulai sejak perawat

memasuki ruangan dan menjelaskan kepada pasien bahwa perawat akan

melakukan ronde keperawatan. kemudian perawat akan melakukan pengkajian

nyeri dan melakukan tindakan untuk mengatasi nyeri baik tindakan keperawatan

maupun tindakan medikasi. Setelah nyeri teratasi perawat akan mengontrol

obat-obatan pasien apakah sudah diberikan sesuai jadwal. Lalu kemudian perawat

menawarkan bantuan ke toilet dan membantunya jika pasien membutuhkannya.

Setelah itu perawat memberikan posisi yang nyaman bagi pasien serta

memastikan bahwa posisi pasien dapat menjangkau lampu panggil, telepon,

remote TV, switch lampu, meja, kotak tisu, air minum dan tong sampah. Sebelum

meninggalkan ruangan, perawat kembali menanyakan apakah ada hal lain yang

diinginkan oleh pasien dan memberitahu pasien bahwa akan ada ronde selanjutnya

akan dilaksanakan oleh perawat.

Penelitian Meade et al. (2006) kemudian diulangi kembali oleh beberapa

peneliti lainnya seperti Blakley, Kroth dan Gregson (2011); Olrich, Kalman dan

Nigolian (2012); Berg, Sailors, Reimer, O’Brien dan Ward-Smith (2011); Kessler,

Claude-Gutekunst, Donchez, Dries dan Snyder (2012) dengan menggunakan “The

(39)

Karla et al. tidak menyertakan kebutuhan “Placement” berdasarkan asumsi bahwa

perlengkapan yang berada diluar jangkauan bukanlah merupakan fokus perawatan

Comfort Round Protokol dikembangkan oleh Gardner et al. (2009) yang

distandarisasi untuk semua pasien pada bangsal yang dilakukan penelitian. Pada

protokol ini ronde keperawatan dilaksanakan oleh asisten perawat yang sudah

menerima pelatihan dengan sertifikat 3 in Aged Care. Asisten perawat

mengunjungi pasien dan menanyakan apakah pasien membutuhkan bantuan ke

toilet, control nyeri, reposisi dan selimut. Kemudian asisten perawat akan

meletakkan telefon, kotak tissue, meja dan remote TV di tempat yang mudah

dijangkau oleh pasien. Setelah itu asisten perawat akan melakukan perawatan

mulut jika dibutuhkan serta memenuhi kebutuhan cairan pasien dengan

memberinya minum. Sebelum meninggalkan pasien, asisten perawat menanyakan

apakah pasien membutuhkan hal lain yang dapat membuatnya merasa nyaman.

2.1.6. Implikasi ronde keperawatan terhadap praktek keperawatan

Penerapan ronde keperawatan berimplikasi terhadap penurunan

penggunaan call light, penurunan angka pasienjatuh, penurunan angka luka tekan

(decubitus), peningkatan tingkat kepuasan pasien dan peningkatan tingkat

kepuasan perawat.

Penggunaan call light. Penerapan ronde keperawatan berimplikasi

terhadap penurunan pada penggunaan call light memungkinkan perawat memiliki

(40)

kamar ke kamar memenuhi panggilan yang diberikan oleh pasien. Hasil penelitian

Meade et al. (2006), menemukan bahwa penggunaan lampu panggil yang paling

tinggi adalah dengan alasan yang dibuat-buat. Dengan pelaksaan ronde

keperawatan maka ditemukan penurunan penggunaan lampu panggil terutama

penggunaan lampu panggil tanpa alasan yang jelas dari pasien.

Pasien jatuh. mengalami penurunan pada institusi yang melaksanakan

ronde keperawatan. Saat perawat melakukan ronde terhadap pasien setiap jam dan

memenuhi kebutuhan dasarnya seperti toileting dan penempatan barang-barang

pribadi maka resiko jatuh akan berkurang. Meade et al. (2006), menemukan

penurunan angka pasien jatuh secara signifikan selama dilakukan ronde

keperawatan. Saleh et al. (2011), menemukan penurunan angka pasien jatuh

secara drastis setelah dilaksakan ronde keperawatan dari 25 kasus menjadi 4

kasus.

Luka tekan (decubitus). Ronde keperawatan memungkinkan reposisi

secara regular terhadap pasien sehingga angka decubitus pada pasien dapat

diturunkan. Pada pasien dengan kasus luka, reposisi secara regular juga

berkonstribusi terhadap proses healing. Saleh et al. (2011), menemukan

penurunan angka luka decubitus setelah dilaksanakan ronde keperawatan dari 2

insiden menjadi 1 insiden.

Kepuasan pasien. Kehadiran perawat secara rutin dan penggunaan

protokol yang spesifik dalam ronde keperawatan memungkinkan kebutuhan dasar

(41)

(2006), menemukan peningkatan kepuasan pasien selama pelaksanaan ronde

keperawatan hingga mencapai 91,9 dari 100 skala yang diberikan. Saleh et al.

(2011), juga menemukan peningkatan pasien setelah dilaksanakan ronde

keperawatan mencapai 7,5 %.

Kepuasan perawat. Dengan ronde keperawatan pelayanan keperawatan

menjadi lebih efisien dan berkurangnya stress kerja perawat sehingga akan

meningkatkan kepuasan kerja dari perawat (Meade et al., 2006). Survey kepuasan

kerja dilakukan di Lehigh Valley Health Network yang berlokasi di Kota

Betlehem Negara Bagian Pennsylvania Amerika Serikat. Survey ini dilakukan

pada tahun 2007, 2009 (sebelum implementasi ronde keperawatan) dan tahun

2011 (setelah implementasi ronde keperawatan). Hasilnya menunjukkan bahwa

terdapat peningkatan kepuasan kerja perawat dari 3.78 pada tahun 2007 dan 3.77

pada tahun 2009 menjadi 3.83 pada tahun 2011. Selain itu angka kepuasan pasien

ini lebih tinggi 0.18 poin dari angka kepuasan perawat secara nasional. (Kessler et

al., 2012).

2.2. Watson’s Theory of Transpersonal Caring

Teori ini dikembangkan oleh Jean Watson pada tahun 1979, dikenal juga

dengan istilah Theory of Human Caring. Teori ini terus dikembangkan dari tahun

ke tahun, namun pemikiran dasar dari teori ini tidak berubah yakni menekankan

(42)

Menurut Watson (1999), Transpersonal caring relationship

berkarakteristikkan hubungan khusus manusia yang tergantung pada moral

perawat yang berkomitmen, melindungi, dan meningkatkan martabat manusia

seperti dirinya atau lebih tinggi dari dirinya. Perawat merawat dengan kesadaran

yang dikomunikasikan untuk melestarikan dan menghargai spiritual, tidak

memperlakukan seseorang sebagai sebuah objek.

Teori utama yang dikembangkan mencakup Carative Factor,

Transpersonal Caring Relationship dan Caring Occation Moment. Terkait

konteks penelitian maka peneliti hanya akan membahas teori tentang Carative

Factor yang mempunyai kaitan dengan pelaksanaan ronde klinis keperawatan

yakni carative factor yang ke 4 (membangun helping-trust relationship), yang ke

8 (menciptakan lingkungan mental, fisik, sosial budaya dan spiritual yang

mendukung) dan yang ke 9 (membantu pemenuhan kebutuhan pasien)

2.2.1. Membangun helping-trust relationship

Keperawatan sebagai ilmu yang didasari konsep caring harus

mempertimbangkan konsep pembangunan helping-trust relationship antara

perawat dan pasien. Pasien akan merasa bahwa perawat peduli terhadapnya jika

perawat tersebut memperhatikan kebutuhan dasarnya sebagai individu sehingga

menumbuhkan rasa percaya, keyakinan dan harapan terhadap pelayanan

keperawatan. Perawat yang mempunyai kompetensi dalam bersikap caring akan

mampu menghasilkan outcomes yang bernilai dalam pelayanan keperawatan.

(43)

dengan perawat akan mengindikasikan tingginya kualitas pelayanan keperawatan.

Agar dapat membangun helping-trust relationship, perawat terlebih harus

menanamkan sikap tertentu yaitu congruence, empathy dan non-possesive Warmth

(Watson, 1979).

Congruence, didasarkan pada keinginan perawat ingin menjadi apa dan

terlihat seperti apa. Congruence melibatkan keterbukaan dalam perasaan dan

sikap yang diberikan saat interaksi. Congruence dapat juga disamakan dengan

genuineness yang berarti terasa nyata, jujur dan otentik. Dengan kata lain

pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat akan terasa nyata, jujur dan

otentik bagi pasien.

Emphaty, merupakan konsep yang penting dalam pembangunan

helping-trust relationship. Empathy mengacu pada kemampuan perawat untuk ikut

mengalami dunia dan perasaan orang lain, sehingga mampu berkomunikasi

berdasarkan pemahamannya tentang dunia atau perasaan orang lain tersebut.

Kemampuan perawat untuk berespon terhadap perasaan orang lain adalah dasar

dalam emphaty. Jika perawat mampu merasakan perasaan pasien maka pasien dan

perawat akan akan mempunyai hubungan emosional yang baik. Perawat yang

emphaty akan mampu mengenali dan menerima perasaan orang lain tanpa merasa

tidak nyaman, takut, marah atau konflik dalam dirinya sehingga perawat akan

mampu untuk berkomunikasi tentang perasaan pasien tanpa menganalisa atau

menghakimi.

Non-possessive Warmth, merupakan kondisi interpersonal dalam

(44)

efektif akan memberikan pelayanan yang tidak mengancam, aman, terpercaya

dengan menunjukkan penerimaan, penghargaan positif dan keramahan yang tidak

posesif. Beberapa sikap non verbal yang dapat ditunjukkan perawat dalam

mewujudkan non-possesive warmth antara lain adalah dengan mempertahankan

kontak mata selama interaksi, menggunakan volume suara yang sesuai, terlihat

nyaman dan santai, bertatap muka dengan orang lain, menunjukkan sikap fostur

tubuh yang terbuka, mencondongkan tubuh ke arah lawan bicara dan memberikan

ekspresi wajah yang sesuai dengan kondisi emosionalnya.

2.2.2. Menciptakan lingkungan mental, fisik, social budaya dan spiritual yang

mendukung.

Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan eksternal

pasien terhadap kesehatan kondisi penyakit pasien. Adanya hubungan yang saling

terkait antara lingkungan internal dan eksternal sangat berpengaruh terhadap

kondisi sehat dan sakit dari manusia. Lingkungan internal berupa biologis dan

fisiologis akan mempengaruhi pola atau gaya hidup seseorang, selain itu gaya

hidup eksternal seseorang juga akan mempengaruhi keseimbangan (homeostatis)

internalnya. Lingkungan eksternal yang perlu diperhatikan perawat yang

berhubungan dengan stress antara lain : kenyamanan, privasi, keamanan dan

lingkungan yang bersih dan indah.

Comfort (Kenyamanan), merupakan variabel eksternal yang dapat

dikendalikan oleh perawat. Adanya stress pada pasien yang diakibatkan proses

(45)

berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental pasien. Perawat dapat

melakukan berbagai cara atau prosedur untuk memberikan dan meningkatkan

kenyamanan pasien seperti perawatan personal hygiene, kebersihan tempat tidur

dan penempatan obat-obatan yang rapi. Cara lain yang dapat dilakukan perawat

untuk mendukung dan meningkatkan kenyaman pasien antara lain: memindahkan

peralatan yang berbahaya bagi pasien; melakukan perubahan posisi; membuat

tempat tidur yang nyaman; menurunkan ketegangan otot dengan massage,

memberikan prosedur teraupetik seperti obat-obatan pengurang nyeri;

mengidentifikasi implikasi dari penyakit pasien dan meminimalkan implikasi dari

penyakit tersebut; dan memodifikasi pelayanan keperawatan kepada pasien.

Privacy (Privasi) adalah faktor utama yang perlu dipertimbangkan untuk

dapat meningkatkan lingkungan fisik, sosiokultural dan spiritual pasien. Privasi

dapat dinterpretasikan kedalam beberapa pengertian yaitu : hak pasien untuk tidak

mengikutsertakan orang lain terkait informasi tentang penyakitnya; kesadaran dan

penghargaan dari perawat bahwa setiap pasien memiliki hak yang sama untuk

mengambil keputusan bagi dirinya; faktor yang berpengaruh terhadap waktu,

tempat, masalah dan sejumlah informasi; dan upaya untuk menjauhkan pasien dari

hal-hal yang mempengaruhi kondisi fisik dan psikologisnya.

Safety (Keselamatan). Budaya keselamatan adalah fitur utama dari seorang

perawat. Safety merupakan tindakan yang dilakukan perawat untuk mendukung,

melindungi dan memperbaiki lingkungan yang dapat menyebabkan bahaya.

Perawat harus mampu mengkaji variabel yang berpengaruh terhadap keselamatan

(46)

disorientasi, restrain, kaki palsu dan peralatan pendukung lainnya. Pengawasan

mendasar terhadap keselamatan antara lain control infeksi dengan mencuci

tangan, perawatan kulit, teknik isolasi dan teksik sterilisasi. Beberapa bahaya yang

dapat terjadi selama proses hospitalisasi pada anak antara lain pasien jatuh, luka

bakar, terhirup benda asing, mainan yang berbahaya, keracunan, dan kurangnya

imunisasi.

Clean-esthetic surroundings (lingkungan yang bersih dan indah). Perawat

harus mempertimbangkan bahwa makna keindahan berbeda pada masing-masing

orang, namun keindahan dan kebersihan lingkungan selalu memberikan efek

positif terhadap peningkatan kesehatan seseorang, namun upaya untuk memenuhi

kebersihan dan keindahan lingkungan tersebut tetap memperhatikan privasi,

kenyamanan dan gaya hidup pasien.

2.2.3. Membantu pemenuhan kebutuhan pasien

Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif yaitu kebutuhan

biofisik, psikososial, psikofisikal dan interpersonal klien. Pemenuhan kebutuhan

yang paling mendasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat yang selanjutnya.

Nutrisi, eliminasi, dan ventilasi adalah contoh dari kebutuhan biofisik yang paling

rendah. Pencapaian dan hubungan merupakan kebutuhan psikososial yang tinggi,

(47)

2.3. Konsep Action Research

2.3.1. Pengertian Action Research

Action research merupakan suatu bentuk kegiatan penelitian yang

didasarkan pada prinsip kolektif dan reflektif yang dilakukan oleh partisipan

dalam situasi sosial untuk meningkatkan praktek sosial atau kependidikan

(Kemmis & McTaggart, 1988).

Action research juga memungkinkan adanya keterlibatan antara peneliti

dengan partisipan dalam bentuk kolaborasi dan menitikberatkan terhadap

pendekatan naturalistic dan humanistic (Holter & Schwartz-Barcott, 1993),

Action research menuntut seorang peneliti untuk tidak hanya mengumpulkan

informasi atau pengetahuan tentang situasi tertentu, namun juga diharapkan untuk

mampu membantu memperbaiki situasi yang ditemui pada saat penelitian (Polit &

Beck, 2008).

Metode penelitian action research berlangsung bersama kolaborasi dan

dialog yang dapat memotivasi, meningkatkan harga diri dan menghasilkan

solidaritas yang kuat antara partisipan dan peneliti. Strategi pengumpulan data

yang digunakan tidak hanya metode tradisional seperti wawancara dan observasi,

tetapi bisa juga dilakukan bercerita, drama komedi, menggambar dan melukis,

bermain peran dan kegiatan lain yang mendorong partisipan mengenali kekuatan

sendiri dan menemukan cara-cara kreatif untuk mengeksplorasi kehidupan mereka

(48)

2.3.2. Proses Action Research

Kemmis dan McTaggart (1988) menjelaskan bahwa dalam melaksanakan

AR memerlukan beberapa langkah tindakan yaitu reconnaissance, planning,

acting and observing dan reflection.

Langkah pertama Reconnaisance.merupakan tahap awal dalam mencari

permasalahan yang ada. Tahap ini dapat di sebut juga tahap preliminary studi,

yaitu mempelajari masalah yang ada dan menentukan tema yang penting. Tahap

ini menggambarkan apa yang terjadi sekarang dan apa yang kita lakukan

sekarang. Pernyataan-pernyataan tentang masalah yang ada mulai dimunculkan

pada tahap ini. Selain menentukan masalah yang akan diteliti, tahap ini juga

menentukan group action berupa kumpulan orang-orang yang terlibat dalam

penelitian dan memastikan bahwa orang-orang tersebut sudah mendapatkan

informasi tentang penelitian dan mempunyai komitmen untuk bekerjasama dalam

proyek penelitian.

Langkah kedua: planning merupakan perencanaan yang bersifat untuk

perbaikan. Tahap ini beorientasi pada peneliti tentang bagaimana kolaborasi

dengan partisipan. Pada tahap ini peneliti harus memutuskan bersama dengan

group action kemungkinan tindakan perbaikan yang dapat dilakukan dan

hambatan dalam penelitian. Peneliti merumuskan apa yang dapat dilakukan pada

situasi atau kondisi tempat penelitian. Perencanaan meliputi rencana untuk

merubah dengan menggunakan bahasa, aktivitas dan praktik, hubungan antara

(49)

menjawab pertanyaan : Apa yang akan dilakukan, oleh siapa, kapan dan

bagaimana?

Langkah ketiga: acting dan observing adalah mengimplementasikan

rencana dan mengobservasi pekerjaan yang dilakukan. Tahap ini adalah

melaksanakan rencana yang sudah di tetapkan, meliputi melaksanakan rencana

untuk berubah dengan menggunakan bahasa, aktivitas dan praktik, hubungan

antara manusia dan organisasi, dan mengobservasi hasil dari implementasi yang

telah di lakukan. Hal yang harus diperhatikan oleh peneliti pada tahap ini adalah,

setelah peneliti melakukan kegiatan maka peneliti harus segera memonitor apa

yang terjadi setelah dilakukan tindakan.

Langkah keempat: reflection merupakan waktu untuk memberikan analisa,

sintetis, interpretasi dan menyimpulkan hal yang penting. Pada tahap ini refleksi

berfokus pada hasil yang telah di capai kemudian di buat analisa untuk perbaikan

pada cycle berikutnya.

Berikut akan digambarkan proses action research menurut Kemmis dan

McTaggart (1988) :

(50)

2.4. Kerangka Konseptual

Penyusunan kerangka konseptual dilakukan berdasarkan landasan teori

keperawatan Watson’s Theory of Transpersonal Caring yang dikaitkan dengan

program ronde keperawatan klinis di rumah sakit. Dalam penyusunan prosedur

ronde klinis keperawatan peneliti mengacu kepada kegiatan yang dapat

meningkatkan perilaku caring pada perawat, untuk peneliti mengembangkan

program ronde klinis keperawatan berdasarkan carative faktor yang ke 4

(membangun helping-trust relationship terdiri dari congruence, empathy,

non-possesive warmth), carative factor yang ke 8 (menciptakan lingkungan yang

mendukung terdiri dari comfort, privacy, safety dan clean-esthetics surrounding)

dan carative factor yang ke 9 (bantuan pemenenuhan kebutuhan dasar terdiri dari

survival, functional, integrative dan growth-seeking).

Selain menggunakan teori Watson Transpersonal Caring peneliti juga

menggunakan 4P’s Rounding protokol yang terdiri dari Pain, Personal Needs,

Position, dan Placemet (Meade et al., 2006). Agar dapat mengembangkan

program ronde klinis keperawatan di RSUD Kota Padangsidimpuan maka peneliti

menggunakan penelitian action research yang terdiri dari tahap planning, acting

& observing dan reflecting (Kemmis & Taggart, 1988). Pelaksanaan program

ronde klinis keperawatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pasien

terhadap pelayanan keperawatan dan kepuasan kerja perawat. Kesimpulan tentang

(51)

Diagram 2.2. Kerangka Konsep Penelitian

(52)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah action research (AR) untuk

mengembangkan program ronde klinis keperawatan di RSUD Kota

Padangsidimpuan. Pemilihan rancangan ini karena action research merupakan

suatu bentuk kegiatan penelitian yang didasarkan pada prinsip kolektif dan

reflektif yang dilakukan oleh partisipan dalam situasi sosial untuk meningkatkan

praktek sosial atau kependidikan (Kemmis & McTaggart, 1988). Action research

juga memungkinkan adanya keterlibatan antara peneliti dengan partisipan dalam

bentuk kolaborasi dan menitikberatkan terhadap pendekatan naturalistic dan

humanistic (Holter & Schwartz-Barcott, 1993), action research menuntut seorang

peneliti untuk tidak hanya mengumpulkan informasi atau pengetahuan tentang

situasi tertentu, namun juga diharapkan untuk mampu membantu memperbaiki

situasi yang ditemui pada saat penelitian (Polit & Beck, 2008).

Penelitian ini merupakan 1 siklus action research dan dibagi kedalam 4

tahapan yang disusun berdasarkan konsep four ‘moments’ of action research

Kemmis dan McTaggart (1988). Keempat tahapan tersebut terdiri dari planning,

acting, observing dan reflecting. Namun karena penelitian ini merupakan

penelitian action research yang pertama dilakukan di RSUD Kota

Padangsidimpuan, maka peneliti memerlukan tahap reconnaissance (persiapan)

(53)

untuk meninjau situasi sebagai dasar dalam mengidentifikasi permasalahan yang

pada setting penelitian.

3.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di ruang rawat inap Super VIP Khusus Rumah

Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padangsidimpuan. Ruang rawat inap ini

dijadikan sebagai tempat penelitian mengingat ruangan ini merupakan ruangan

yang baru dibuka pada bulan Januari 2013 sehingga masih membutuhkan banyak

pengembangan dalam pelayanan keperawatannya. Selain itu sebagian besar

(84,2%) perawat pelaksana di ruangan ini berpendidikan DIII sehingga

memungkinkan mereka untuk mampu terlibat dalam proses penelitian nantinya.

Pengambilan data dan kegiatan penelitian berdasarkan siklus action

research dilaksanakan selama 10 minggu sejak April hingga Juni 2013.

3.3. Partisipan Penelitian

Partisipan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang terlibat langsung

dalam program ronde keperawatan yaitu administrator keperawatan, perawat

pelaksana dan pasien sebagai objek dalam ronde keperawatan. Pemilihan subjek

penelitian ini sejalan dengan pendapat Polit dan Beck (2008) yang menyatakan

bahwa pada penelitian kualitatif subjek penelitian atau dikenal dengan partisipan

adalah subjek yang pernah mengalami substansi yang akan diteliti.

Seluruh perawat yang bertugas di ruang rawat inap VIP Khusus menjadi

(54)

kepala ruangan, 1 orang wakil kepala ruangan, 4 ketua tim dan 13 perawat

pelaksana.

3.4. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan yang beragam (eclectical

approach) yaitu menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hal ini

memungkinkan dilakukan karena action research merupakan penelitian yang unik

dan kompleks sehingga dapat menggunakan tools yang beragam dalam proses

pengumpulan data (Webb, 1989). Kompleksitas penelitian action research ini

juga terlihat dari beragamnya pengumpulan data pada setiap tahap action

research. Selanjutnya akan diuraikan tentang alat dan metode pengumpulan data

yang digunakan dalam penelitian ini.

3.4.1. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5

instrumen yaitu (1) panduan wawancara, (2) panduan focus group discussion, (3)

lembar observasi partisipan, (4) kuisioner kepuasan pasien terhadap pelayanan

keperawatan, (5) kusioner kepuasan kerja perawat. Pengembangan alat

pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti dengan

terlebih dahulu melakukan studi literatur. Instrumen yang telah disusun kemudian

dilakukan uji validitas dan instrument akan dinyatakan valid apabila Content

Validity Index berada diatas > 0.78 (Polit & Beck, 2008). Selanjutnya akan

(55)

(1) Panduan wawancara

Panduan wawancara terdiri dari 7 pertanyaan terbuka tentang persepsi

partisipan terhadap ronde klinis keperawatan. Pertanyaan dalam panduan

wawancara ditujukan untuk menggali informasi terkait pemahaman partisipan

tentang ronde klinis keperawatan, manfaat ronde klinis keperawatan, hambatan

yang dijumpai dalam pelaksanaan ronde klinis keperawatan, hal yang dilakukan

untuk mengatasi hambatan dan harapan partisipan terhadap pelaksaan ronde klinis

keperawatan di ruang rawat inap.

Instrumen panduan wawancara telah diuji validitasnya oleh 3 orang expert

dalam manajemen keperawatan (lihat lampiran 4). Uji validitas memperoleh hasil

bahwa 2 dari 3 expert menyatakan pertanyaan nomor 6 (pertanyaan tentang hal

yang dilakukan untuk mengatasi hambatan) tidak relevan dengan penelitian

sehingga item tersebut dihapus. Nilai Content Validity Index (CVI) adalah 0,95.

hasil ini menunjukkan bahwa instrumen sudah valid

(2) Panduan Focus Group Discussion (FGD)

Panduan Focus Group Discussion (FGD) terdiri dari 6 pertanyaan terbuka

tentang evaluasi pelaksanaan ronde klinis keperawatan di ruangan. Pertanyaan

ditujukan untuk menggali informasi tentang persepsi perawat terhadap ronde

klinis keperawatan setelah dilakukan aplikasi di ruang rawat inap. Pertanyaan juga

ditujukan untuk menggali informasi tentang faktor pendukung dan penghambat

serta manfaat yang dirasakan partisipan dalam mengaplikasikan ronde klinis

(56)

Instrumen Panduan Focus Group Discussion (FGD) telah diuji validitas

oleh 3 orang expert dalam manajemen keperawatan (lihat lampiran 4). Uji

validitas memperoleh hasil bahwa ketiga expert menyatakan seluruh pertanyaan

sudah relevan dan Content Validity Index adalah 1,00. Hasil ini menunjukkan

bahwa instrumen sudah valid.

(3) Lembar Observasi

Lembar observasi terdiri dari 31 pernyataan terkait kegiatan yang harus

dilakukan oleh perawat saat pelaksanaan ronde klinis keperawatan. Pernyataan 1

sampai 4 tentang kegiatan persiapan ronde klinis keperawatan, pernyataan 5

sampai 7 tentang kegiatan sebelum memasuki ruangan pasien, pernyataan 8

sampai 28 tentang kegiatan saat melakukan ronde klinis keperawatan dan 29

sampai 31 tentang kegiatan saat mengakhiri ronde klinis keperawatan. Skor 1

diberikan kegiatan dalam pernyataan dilakukan dan skor 0 apabila kegiatan dalam

pernyataan tidak dilakukan

Uji validitas instrumen panduan Focus Group Discussion (FGD) telah

dilakukan oleh 3 orang expert dalam manajemen keperawatan (lihat lampiran 4).

Uji validitas ini memperoleh hasil bahwa pernyataan 4, 5, dan 8 perlu dirubah

kalimatnya. Nilai Content Validity Index adalah 0.93, sehingga diambil

(57)

(4) Kuisioner Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Keperawatan

Kuisioner Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Keperawatan

dikembangkan berdasarkan Watson’s Theory of Transpersonal Caring terdiri dari

21 item yang menggambarkan sikap dan perilaku caring perawat yang sesuai

dengan carative factor yang ke 4, 8 dan 9.

Uji validitas instrumen Kuisioner Kepuasan Perawat Terhadap Pelayanan

Keperawatan telah dilakukan oleh 3 orang expert dalam manajemen keperawatan

(lihat lampiran 4). Uji validitas memperoleh hasil bahwa pernyataan 4, 8, 10 dan

16 perlu dirubah kalimatnya. Nilai Content Validity Index adalah 0.90, sehingga

diambil kesimpulan bahwa instrument ini sudah valid.

(5) KuisionerKepuasan Kerja Perawat

Kuisioner Kepuasan Kerja Perawat terdiri dari 10 pernyataan tentang

kepuasan perawat terhadap pekerjaannya. Pernyataan terdiri dari kepuasan kerja

perawat pernyataan tentang hubungan perawat dengan pasien (pernyataan nomor

1 sampai 4) dan pernyataan tentang kepuasan partisipan terhadap pekerjaannya

sebagai perawat (pernyataan nomor 5 sampai 10).

Uji validitas terhadap instrumen Kuisioner Kepuasan Kerja Perawat telah

dilakukan oleh 3 orang expert dalam manajemen keperawatan (lihat lampiran 4).

Uji validitas memperoleh hasil bahwa pernyataan 3 dan 5 perlu dirubah

kalimatnya. Perhitungan Content Validity Index adalah 0.86, sehingga diambil

Gambar

Tabel 4.1.
Gambar 2.1. Siklus action research Kemmis dan McTaggart (1988)
Gambar 4.2. Struktur Organisasi Tim Pengendali Mutu Pelayanan Keperawatan RSUD Kota Padangsidimpuan
Tabel 4.1. Data Demografi Partisipan (n=19)
+5

Referensi

Dokumen terkait

Dalam proses perencanaan kebutuhan obat di instalasi farmasi RSUD Kota padangsidimpuan, kepala instalasi menyusun rencana kebutuhan obat yang akurat untuk satu tahun, mengurangi

Hasil analisis data menunjukkan pengaruh reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepuasan pasien rawat inap di RSUD Kota Padangsidimpuan tahun 2014,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan ronde keperawatan terhadap kinerja perawat dalam pemberian asuhan keperawatan di rumah sakit Royal Prima

Menguji pengaruh pelatihan ronde keperawatan terhadap kinerja perawat dalam pemberian asuhan keperawatan di Rumah Sakit Royal

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendokumentasian keperawatan berdasarkan kelengkapan diagnosis keperawatan di RSUD Kabupaten Mamuju yang masuk dalam kategori kurang lengkap yaitu

Artikel ini membahas tentang analisis tulang ikan yang diterapkan di rumah sakit untuk meningkatkan manajemen dan pengalaman ronde

Dokumen ini membahas hubungan antara motivasi kerja perawat dengan pelaksanaan ronde keperawatan di ruang rawatcetamol RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh tahun

Dokumen ini membahas tentang pentingnya pengetahuan perawat dalam pelaksanaan ronde keperawatan di ruang ASTER dan ICCU RSUD dr. Doris