ANALISIS
ABNORMAL RETURN
SEBELUM DAN SESUDAH
PERISTIWA PEMBERIAN SAHAM BONUS
DI BURSA EFEK INDONESIA
TAHUN 2007 - 2010
(Skripsi)
Oleh
Rusdi Agus Saputra
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
ANALISIS ABNORMAL RETURN SEBELUM DAN SESUDAH PERISTIWA PEMBERIAN SAHAM BONUS
DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2007 – 2010
Oleh
Rusdi Agus Saputra
Pasar modal merupakan salah satu sarana yang efektif untuk mempercepat
pembangunan suatu Negara. Keberadaan pasar modal akan memudahkan perusahaan-perusahaan memperoleh dana, sehingga kegiatan eknomi di berbagai sektor dapat ditingkatkan. Saham bonus merupakan salah satu yang terkait langsung dengan aktivitas ekonomi dan bisnis. Peristiwa ini merupakan salah satu informasi yang diserap oleh para pelaku pasar modal dan digunakan untuk memperoleh keuntungan masa mendatang. Peristiwa yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah
pemberian saham bonus.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak abnormal return yang signifikan sebelum dan sesudah peristiwa pemberian saham bonus di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 – 2010.
Dalam penelitian ini objek yang akan diteliti adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2010. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan yang mengeluarkan saham bonus pada tahun 2007-2010. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
perhitungan expected return dengan menggunakan Model Indeks Tunggal (Single Index Model).Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian saham bonus tahun 2007-2010 (0.007376 > 0.004814).
ANALISIS ABNORMAL RETURN SAHAM SEBELUM DAN SESUDAH PERISTIWA PEMBERIAN SAHAM BONUS
DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2007-2010
Oleh
Rusdi Agus Saputra
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI
Pada
Program Studi Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
SURAT PERNYATAAN
Nama : Rusdi Agus Saputra
NPM : 0711011111
Program Studi : Manajamen
Konsentrasi : Manajemen Keuangan
Angkatan : 2007
Jenjang : Strata Satu (S1)
Menyatakan bahwa saya tidak melakukan plagiat dalam penulisan skripsi saya
yang berjudul :
Analisis Abnormal Return Sebelum dan Sesudah Peristiwa Pemberian Saham Bonus di Buursa Efek Indonesia Tahun 2007-2010
Apabila suatu saat nanti terbukti melakukan tindakan plagiat maka saya akan
menerima sanksi yang telah ditetapkan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Bandar Lampung, 15 Februari 2013
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Taman Rejo, Bernung Gedongtataan, Pesawaran pada
tanggal 06 Agustus 1989, sebagai anak kesembilan dari sembilan bersaudara dari pasangan Ayahanda Paimin dan Ibunda Tukirah Alm.
Jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis dimulai dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Taman Sari pada tahun 1995-2001, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 1 Gedongtataan pada tahun 2001-2004, dan
Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Gedongtataan pada tahun 2004-2007.
Pada tahun 2007 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Strata Satu (S1) Reguler Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung melalui jalur Seleksi
Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di organisasi Intra kampus sebagai Anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)
MOTTO
Puaslah dengan apa yang Allah berikan, dan engkau akan menjadi orang yang paling bahagia.
Karya kecilku ini aku dedikasikan kepada :
Ayahanda dan Ibunda yang selalu memberikan senyum yang paling indah,
Keluarga besarku yang selalu memberikan semangat kepada penulis,
Seseorang yang penulis sayang yang selalu memberikan semangat pada
SANWACANA
Puji dan syukur kehadirat Allah Subhannahuwata’ala, Rabb semesta alam atas
nikmat iman ilmu amal sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.
Sholawat beriring salam kepada Rasulullah Sholallahualaihiwasalam, tokoh
inspirator penulis dan kita semua sebagai ummatnya.
Dalam proses penyusunan skripsi dengan judul “Analisis Abnormal Return
Sebelum dan Sesudah Peristiwa Pemberian Saham Bonus di Bursa Efek Indonesia
Tahun 2007-2010”, penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan, untuk
itu penulis mengharapkan kritik beserta saran yang konstruktif untuk kebaikan
dikemudian hari. Selain itu, penulis sadar bahwa hasil karya ini dapat lahir dari
rahim fikir penulis dengan dongkrakan motivasi, harapan dan dorongan semangat
dari berbagai pihak. Untuk itu, melalui tulisan ini penulis ingin mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Satria Bangsawan, S.E., M.Si., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
2. Ibu Hj. Aida Sari, S.E., M.Si., selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
3. Ibu Yuningsih, S.E., M.M., selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Fakultas
yang telah banyak memberikan ide, inspirasi dan sumbangan pemikiran
dalam karya skripsi ini
6. Ibu Ernie Hendrawaty, S.E., M.Si., selaku pembimbing pendamping
skripsi ini, terima kasih atas gagasan dan bimbingan selama penulis
menyelesaikan skripsi ini
7. Bapak Dr. Mahatma Kufepaksi, S.E., M.B.A., selaku penguji utama
skripsi yang telah memberikan banyak bimbingan dan saran
8. Bapak Prakarsa Panji Negara, S.E., M.Si., yang telah bersedia menjadi
pendamping saat penulis menjalankan ujian
9. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
yang telah memberi ilmu, wawasan dan kerangka fikir yang bermanfaat
bagi penulis, semoga Allah senantiasa meridhoi perjuangan kita
10.Keluarga tercinta yang senantiasa memberikan naungan dalam kehidupan
penulis, Ibunda Tukirah Alm dan Ayahanda Paimin serta mbak-mbak, dan
mamas-mamas yang senantiasa memberi motivasi, semangat dan doa.
11.Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJ
Manajemen) FE Unila Periode 2009/2010 sebagai langkah awal penulis
menjejaki dunia organisasi kemahasiswaan
12.Sahabat-sahabat angkatan 2007 yang unforgetable
13.Seluruh karyawan, staff gedung, staff keamanan, serta ayuk ani dan mang
jum sebagai bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan kampus,
Begitu besar perannya bagi penulis hingga detik ini dan menjadi warna
tersendiri dalam lembar kehidupan penulis. Semoga silaturahmi dan hubungan
baik ini senantiasa terjalin serta menjadi amal ibadah dalam mendapatkan
segaa bentuk nikmat dari Allah Subhannahuwata’ala. Amin.
Bandarlampung, 15 Februari 2013
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR …….……… i
DAFTAR ISI ……….. ii
DAFTAR TABEL ………... iii
DAFTAR GAMBAR ………... iv
DAFTAR LAMPIRAN ……… v
I. PENDAHULUAN ……… 1
I.1 Latar belakang ………. 1
I.2 Permasalahan ……….. 6
I.3 Pembatasan Masalah ………... 6
I.4 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ………. 6
I.5 Kerangka Pemikiran ……… 7
I.6 Hipotesis ……….. 10
II. LANDASAN TEORI ………... 11
II.1 Pasar Modal ………. 11
II.1.1 Pengertian Pasar Modal ………... 11
II.1.2 Fungsi Pasar Modal ………... 12
II.1.3 Instrumen Pasar Modal ………... 15
II.2 Corporate Action ……… 18
II.3 Saham Bonus ……….. 19
II.5 Return Saham ………. 26
II.6 Abnormal Return ……… 27
II.7 Return Ekspektasi (Expected Return) ……… 31
III. METODELOGI PENELITIAN ………. 36
III.1 Sifat Penelitian ……….. 36
III.2 Jenis Data ……….. 36
III.3 Metode Pengumpulan Data ……….. 37
III.4 Objek Penelitian ……… 37
III.5 Devinisi Operasional Variabel ……….. 41
III.6 Alat Analisis ……….. 41
III.7 Pengujian Hipotesis ………... 45
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. 47
IV.1 Analisis Pendahuluan ...……….. 47
IV.2 Analisis Abnormal Return ……….…………. 48
IV.2.1 Data Abnormal Return Sebelum Pemberian Saham Bonus Tahun 2007-2010 ……….. 48
IV.2.2 Data Abnormal Return Sesudah Pemberian Saham Bonus Tahun 2007-2010 ……….….. 50
IV.3 Analisis Average Abnormal Return Saham……… 53
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Tinjauan Empiris Penelitian Terdahulu ……….……….. 5
2. Emiten yang memberikan saham bonus tahun 2007-2010 …..………… 38
3. Jumlah saham yang dimiliki oleh emiten sebelum saham bonus dibagikan, banyaknya saham bonus yang dibagikan, dan jumlah saham yang dimiliki emiten sesudah saham bonus dibagikan ……….……. 39
4. Uji Normalitas Abnormal Return………..… 47
5. Data Abnormal Return sebelum pemberian saham bonus
tahun 2007-2010 ………..… 49
6. Data Abnormal Return sesudah pemberian saham bonus
tahun 2007-2010 ………...……….… 51
7. Hasil Average Abnormal Return sebelum Pemberian Saham Bonus
tahun 2007-2010 ………. 53
8. Hasil Average Abnormal Return sesudah Pemberian Saham Bonus
tahun 2007-2010 ………...……….. 54
9. Hasil uji beda dua rata-rata dengan paired sample t test
sebelum dan sesudah pemberian saham bonus tahun 2007-2010
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Pemikiran ……….….. 9
2. Periode estimasi dan periode jendela ……….…. 29
3. Periode event window penelitian ……… 40
4. Kurva Normal ……….… 48
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Lampiran1
Daftar Harga Saham Harian Sebelum dan Sesudah
Pembagian Saham Bonus ………. 63 2. Lampiran 2
Data IHSG Periode Pengamatan ………..……. 65 3. Lampiran 3
Return Saham Sebelum Pemberian Saham Bonus Tahun 2007-2010 …. 67 4. Lampiran 4
Return Saham Sesudah Pemberian Saham Bonus Tahun 2007-2010 ..… 68 5. Lampiran 5
Expected Return Sebelum Pemberian Saham Bonus Tahun 2007-2010 .. 69 6. Lampiran 6
Expected Return Sesudah Pemberian Saham Bonus Tahun 2007-2010 .. 70 7. Lampiran 7
Abnormal Return Sebelum Pemberian Saham Bonus Tahun 2007-2010 71 8. Lampiran 8
Abnormal Return Sebelum Pemberian Saham Bonus Tahun 2007-2010 72 9. Lampiran 9
Uji One Sample Test ………. 73 10. Lampiran 10
Average Abnormal Return Sebelum dan Sesudah Pemberian
Saham Bonus Tahun 2007-2010 ………... 75 10. Lampiran 10
Uji Normalitas ………...……... 77 11. Lampiran 11
Uji Beda Paired Sample T Test ……….... 80 12. Lampiran 12
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pasar modal merupakan salah satu sarana yang efektif untuk mempercepat
pembangunan suatu negara. Hal ini karena pasar modal merupakan sarana yang dapat menggalang perolehan dana jangka panjang dari masyarakan untuk disalurkan ke
sektor-sektor produktif, selain itu instrumen di pasar modal mempunyai sifat liquiditas yang tinggi. Keberadaan pasar modal akan memudahkan perusahaan-perusahaan memperoleh dana, sehingga kegiatan eknomi di berbagai sektor dapat
ditingkatkan, selain itu peningkatan kegiatan ekonomi akan menciptakan dan
mengembangkan lapangan kerja yang luas, dengan sendirinya akan menyerap tenaga kerja, dan secara langsung dapat berpengaruh dalam mengurangi jumlah
pengangguran, serta kemiskinan di Indonesia.
Jogiyanto Hartono (2003) menyebutkan bahwa fungsi pasar modal merupakan tempat bertemu antara penjual dan pembeli dengan resiko untung dan rugi. Pasar modal merupakan sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham dan obligasi. Pasar modal juga mempunyai fungsi sarana
penerima pinjaman. Alokasi dana yang produktif terjadi jika individu yang mempunyai kelebihan dana dapat meminjamkannya ke individu lain yang lebih produktif yang membutuhkan dana. Pasar modal menyediakan fasilitas transfer dana
diantara peminjam dan pemberi pinjaman.
Pandji Anorage dan Piji Pakarti (2001) menyebutkan bahwa pasar modal dikatakan efisien bila informasi dapat diperoleh dengan mudah dan murah oleh pemakai modal,
sehingga semua informasi yang relevan dan terpercaya telah tercermin dalam harga-harga saham. Investor memiliki ekspektasi yang rasional dan informasi yang relevan dan dapat dengan mudah diakses oleh setiap pelaku pasar, artinya setiap terdapat
informasi baru maka mereka akan segera mengantisipasi informasi tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan untuk membeli atau menjual asetnya.
Jogiyanto Hartono (2005) menyatakan bahwa studi tentang kandungan informasi bertujuan untuk melihat kandungan dari suatu peristiwa yang terjadi. Jika peristiwa yang terjadi membawa (convey) informasi, maka dikatakan bahwa peristiwa tersebut
mempunyai kandungan informasi (information content). Sebaliknya, jika suatu peristiwa tidak membawa informasi, maka dikatakan bahwa peristiwa tersebut tidak mempunyai kandungan informasi. Studi tentang kandungan informasi merupakan dari bagian studi peristiwa (event study). Studi peristiwa adalah studi yang
3
pengumuman dan dapat dilanjutkan untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat.
Kandungan dan efisiensi pasar adalah dua hal yang sangat berhubungan. Pengujian
kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat suatu reaksi dari pengumuman. Jika pengumuman mengandung informasi, pasar diharapkan akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukan dengan adanya
perubahan harga sekuritas bersangkutan. Reaksi ini dapat diukur menggunakan abnormal return. Jika abnormal return digunakan, maka dapat dikatakan bahwa suatu
pengumuman yang mempunyai kandungan informasi akan memberikan abnormal return kepada pasar. Sebaliknya, yang tidak mengandung informasi tidak
memberikan abnormal return kepada pasar.
Jogiyanto Hartono (2005) menyatakan bahwa pengujian kandungan informasi hanya
menguji seberapa cepat pasar itu bereaksi.
Corporate action merupakan suatu bentuk dari aktivitas emiten yang dapat
mempengaruhi jumlah saham yang beredar maupun terhadap harga saham. Corporate action adalah berita yang umumnya menyedot perhatian dari pihak yang terkait di
pasar modal khususnya para pemegang saham. Keputusan corporate action harus
disetujui dalam suatu rapat umum pemegang saham baik RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) maupun RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa). Persetujuan pemegang saham adalah mutlak, untuk berlakunya suatu corporate
action, sesuai dengan peraturan di pasar modal. Beberapa contoh corporate action
Initial Publik Offering dan Additional Listing seperti Private Placement, konversi
saham baik dari warrant, right ataupun obligasi. (www.bapepam.com)
Salah satu corporate action yang dilakukan emiten adalah saham bonus.
M. Paulus Situmorang (2008) menyatakan bahwa Saham bonus merupakan bonus pembagian saham baru untuk para pemegang saham lama, dimana pemberian saham bonus ini dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan (reward) atas keberhasilan
perusahaan. Saham yang diberikan secara cuma-cuma oleh emiten kepada pemegang saham tersebut dapat berasal dari kapitalisasi agio saham, atau bisa berasal dari selisih penilaian kembali aktiva tetap. Sebagian besar penelitian event study yang
dilakukan terdahulu menggunakan berbagai event yang terkait langsung dengan aktivitas ekonomi dan bisnis. Sebagian penelitian tersebut dilakukan untuk menguji efisiensi suatu pasar modal.
Saham bonus yang dibagikan oleh emiten akan mengakibatkan meningkatnya jumlah saham yang beredar. Dengan kata lain, saham bonus berakibat pada meningkatnya
faktor penawaran saham, dengan asumsi permintaan tetap maka dapat berakibat pada turunnya harga saham. Faktor koreksi ini akan mempengaruhi pasar saat masa cum-date (tanggal terakhir yang menunjukan bahwa sampai dengan tanggal tersebut
5
Tabel 1. Tinjauan Empiris Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian
1 Alibri Yuniarto Reaksi Harga Saham dan Perubahan Likuiditas Terkait dengan Pengumuman Saham Bonus (Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2002-2007)
Tidak ditemukan bukti empiris yang menunjukan kondisi sebelum dan sesudah pengumuman saham bonus oleh seluruh emiten yang
mengeluarkan saham bonus periode 2002-2007 merupakan signal informasi yang membawa pengaruh yang beda baik pada harga saham dan perubahan likuiditas. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa selama periode 2002-2007,
penanam modal menganggap kabar pembagian saham bonus oleh emiten kelompok industri keuangan tidak mempunyai kandungan
Ada perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pengumuman saham bonus. Reaksi mempunyai kecenderungan negative dengan rata-rata volume perdagangan saham sebelum pengumuman saham bonus lebih besar daripada rata-rata sesudah peristiwa pengumuman saham bonus.
3 Lia Indah Palupi Analisis Pengaruh Pemberian Saham Bonus Terhadap Harga Saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) Selama Tahun 2006
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “Analisis Abnormal Return Sebelum dan Sesudah Peristiwa Pemberian Saham Bonus di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 - 2010”.
1.2Permasalahan
Dari latar belakang masalah yang ada, maka permasalahan yang akan dibahas pada
penelitian ini adalah “ Apakah terdapat abnormal return yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian saham bonus pada 8 perusahaan yang mengeluarkan
saham bonus di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 - 2010 ?”.
1.3Pembatasan Masalah
Agar permasalahan yang diteliti tidak meluas, maka penulis membatasi penulisan ini pada :
1. Perusahaan yang diteliti hanyalah perusahaan yang memberikan saham bonus dan tidak melakukan corporate action yang lain.
2. Harga saham yang digunakan adalah harga saham penutupan.
3. Pembagian dividen saham dan volume transaksi saham diabaikan.
1.4Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
Setiap penelitian yang sifatnya ilmiah mempunyai tujuan, begitu juga dengan
7
return yang signifikan sebelum dan sesudah peristiwa pemberian saham bonus di
Bursa Efek Indonesia tahun 2007 - 2010”.
1.4.2 Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang diharapkan diperoleh dalam penelitian ini adalah :
1. Memberikan masukan kepada investor sebagai salah satu pertimbangan dalam
mengambil keputusan berinvestasi.
2. Memberikan bahan pertimbangan kepada manajemen perusahaan dalam
menetapkan keputusan yang berkaitan dengan harga saham pada pasar modal di
Indonesia.
3. Memberikan sumbangan pengetahuan kepada kalangan akademis dan dunia penelitian dalam memberikan referensi serta meningkatkan pemahaman mengenai penelitian event study, khususnya yang memiliki pengaruh kuat terhadap pasar
modal di Indonesia.
1.5Kerangka Pemikiran
Event study menggambarkan sebuah teknik riset yang memungkinkan peneliti untuk
menilai dampak dari suatu peristiwa tertentu terhadap harga saham dari perusahaan. Event study dapat dikatakan juga sebagai analisa yang dilakukan untuk mengetahui
apakah ada reaksi yang signifikan dalam pasar financial terhadap kejadian yang
return yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian saham bonus di Bursa Efek
Indonesia tahun 2007 - 2010, abnormal return saham diteliti menggunakan event study.
Dalam penelitian ini model yang digunakan untuk mencari return saham adalah
model disesuaikan pasar (market-adjusted model). Jangka waktu pengamatan terbagi kedalam dua periode, yaitu periode estimasi dan periode event window. Periode estimasi dimanfaatkan untuk menghitung return saham dari sampel dalam keadaan
normal. Yang dimaksud dengan keadaan normal adalah tidak terjadi keadaan tertentu yang berpengaruh terhadap sampel saham pada periode estimasi dan periode event window dimanfaatkan untuk menghitung abnormal return dari sampel pada saat suatu
peristiwa itu berlangsung. Periode ini merupakan periode didekat peristiwa itu terjadi. Jangka waktu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 61 hari dengan periode jendela 30 hari sebelum pemberian saham bonus tahun 2007-2010, saat event date dan 30 hari sesudah pemberian saham bonus tahun 2007-2010, dalam event study
reaksi pasar diukur dengan menggunakan abnormal return.
9
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Pasar Modal Indonesia (BEI)
Pemberian Saham Bonus
Data Harga Saham pada saat t
Harga Saham Harian
pada saat t-30 Harga Saham Harian pada saat t+30
Abnormal Return pada saat t
AbRit = Rit – E (Rit)
AR Sebelum Pemberian Saham Bonus
AR Sesudah Pemberian Saham Bonus
Abnormal Return Signifikan/ Tidak Signifikan
Uji t-test proporsi AR > 0.05 tidak terdapat perubahan
Abnormal Return
Uji t-test proporsi AR < 0.05 terdapat perubahan Abnormal
1.6 Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah peristiwa pemberian saham bonus tahun 2007-2010 memberikan abnormal return kepada investor, dimana
abnormal return merupakan actual return terhadap expected return. Expected return
merupakan imbalan hasil yang diharapkan investor dan merupakan imbalan hasil yang terjadi pada saat tidak terjadi suatu peristiwa. Apabila sesudah dilakukan pengujian rata-rata abnormal retun saham pada perusahaan yang diteliti menunjukan
pola meningkat atau menurun, maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh peristiwa pemberian saham bonus tahun 2007-2010 terhadap return saham perusahaan yang
diteliti di pasar modal Indonesia.
Berdasarkan penjelasan latar belakang dan permasalahan yang telah dirumuskan, maka hipotesis yang diajukan adalah “Terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan sebelum dan sesudah peristiwa pemberian saham bonus pada emiten yang
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pasar Modal
2.1.1 Pengertian Pasar Modal
Pasar modal adalah tempat untuk memobilisasi dana, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Pasar modal juga didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen
keuangan jangka panjang yang dapat diperjualbelikan dalam bentuk hutang maupun
modal yang diterbitkan oleh pemerintah, BUMN, maupun swasta. Berdasarkan aliran
baru, pasar modal adalah wahana untuk menghimpun dana guna pembiayaan
pembangunan yang merupakan wujud nyata peran serta masyarakat. Dalam UU No. 8
tahun 1995 tentang pasar modal, pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan
dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan
dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan
efek. (Tjipto Darmadji dan Hendy M. Fakhrudin, 2001)
Secara formal pasar modal didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen
keuangan atau sekuritas jangka panjang yang diperjual belikan, baik dalam bentuk
hutang atau modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan
memperdagangkan surat-surat berharga jangka panjang, khususnya saham dan obligasi. Berdasarkan pengertian diatas, pasar modal dapat dibedakan menjadi pasar
primer (primery market), pasar sekunder (secondary market), pasar ketiga (third
market) dan pasar keempat (fourth market). Pasar primer adalah pasar tempat
penerbitan perdana surat-surat berharga, sedangkan pasar sekunder adalah pasar
tempat surat-surat berharga yang sudah beredar atau bukan emisi baru
diperdagangkan. Pasar ketiga adalah pasar perdagangan surat berharga pada saat
pasar kedua ditutup. Pasar ketiga biasanya dijalankan oleh wali amanat atau pialang
yang mempertemukan antara pembeli dan penjual setelah pasar kedua ditutup. Pasar
keempat adalah pasar modal yang dilakukan antara institusi berkapasitas besar untuk
menghindari komisi untuk para wali amanat dengan melakukan transfer langsung
blok saham antara lembaga investasi tanpa melalui wali amanat. Pasar keempat
biasanya menggunakan jaringan komunikasi untuk memperdagangkan saham dalam
jumlah blok besar. (Suad Husnan, 1994)
2.1.2 Fungsi Pasar Modal
Pasar modal merupakan alternatif sumber pendanaan bagi pihak yang membutuhkan
modal (borrowers) diluar sektor perbankan untuk melaksanakan usahanya. Disisi lain
adanya pasar modal merupakan sarana investasi bagi pihak yang kelebihan dana
(lenders). Dimana bagi investor, pasar modal merupakan sarana yang dimanfaatkan
13
Jogiyanto Hartono (2003) menyebutkan bahwa fungsi pasar modal merupakan tempat
bertemu antara penjual dan pembeli dengan resiko untung dan rugi. Pasar modal
merupakan sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang
dengan menjual saham dan obligasi. Pasar modal juga mempunyai fungsi sarana
alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman ke
penerima pinjaman.alokasi dana yang produktif terjadi jika individu yang mempunyai
kelebihan dana dapat meminjamkannya ke individu lain yang lebih produktif yang
membutuhkan dana. Pasar modal menyediakan fasilitas transfer dana diantara
peminjam dan pemberi pinjaman.
Sri Handaru Yulianty (1996) membedakan fungsi pasar modal menjadi fungsi makro
dan mikro. Dari sudut pandang makro, fungsi pasar modal adalah sebagai suatu
alternatif sumber pembiayaan investasi atau pembangunan nasional (disamping yang
berasal dari perbankan dan lembaga keuangan bukan bank) baik yang dilakukan oleh
sektor pemerintah maupun sektor swasta, sebagai suatu instrumen moneter melalui
pelaksanaan open market policy dan sebagai sarana untuk mengikutsertakan kalangan
pemodal kecil dalam kegiatan pembangunan di sector pemerintah maupun swasta.
Sedangkan dari sudut pandang mikro, fungsi pasar modal adalah untuk memperbaiki
struktur permodalan emiten, merupakan sarana bagi perusahaan untuk mewujudkan
atau menunjukkan kemampuannya dalam membangun usaha dan wahana Go Public
dijadikan salah satu cara untuk menaikkan nilai perusahaan.
Berdasarkan Keppres No. 52 tahun 1976 adanya pasar modal bertujuan untuk
perusahaan swasta guna menuju pemerataan pendapatan masyarakat dan untuk lebih
menggairahkan partisipasi masyarakat dalam mengerahkan dan menghimpun dana
untuk digunakan secara produktif dalam pembiayaan pembangunan nasional.
Suad Husnan (1998) menyebutkan bahwa dalam kegiatannya pasar modal
menjalankan dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Fungsi ekonomi
pasar modal adalah untuk menyediakan fasilitas dalam memindahkan dana dari para
investor (lenders) kepada emiten (borrowers) di pasar modal. Lenders mengharapkan
mendapatkan imbalan atas penyerahan dana tersebut, sedangkan dari sisi borrowers,
tersedianya dana dari pihak luar memungkinkan melakukan investasi tanpa harus
menunggu tersedianya dana dari internal perusahaan. Sedangkan fungsi keuangan
pasar modal adalah merupakan sarana bagi pihak lenders yang menyediakan dana
tanpa harus terlibat langsung dalam kepemilikan aktiva riil yang diperlukan untuk
investasi serta sarana menyediakan dana yang diperlukan oleh borrowers.
Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa fungsi
pasar modal meliputi:
a. Untuk pihak perusahaan, pasar modal menjadi alternatif penghimpunan dana
selain sektor perbankan. Apabila perusahaan memenuhi kebutuhan dananya
melalui perbankan maka perusahaan akan memperoleh dana dalam bentuk
kredit.
b. Untuk pihak investor, Pasar modal memungkinkan pemodal untuk melakukan
diversifikasi dan membentuk portofolioinvestasi sesuai dengan resiko dan
15
akan diterima semakin tinggi pula. Pemodal dapat mengubah portofolio setiap
saat, hal itu dikarenakan investasi pada sekuritas di pasar modal mempunyai
likuiditas yang tinggi ditunjukkan dengan mudah dan cepatnya proses jual beli
di pasar modal.
c. Untuk pihak pemerintah, pasar modal menunjang pelaksanaan pembangunan
nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat,
karena pasar modal berfungsi sebagai sarana untuk memobilisasi dana yang
bersumber dari masyarakat ke berbagai sektor. Adanya mobilisasi dana akan
memunculkan hubungan saling menguntungkan antara pihak masyarakat yang
kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana, sehingga meningkatkan
kemakmuran secara keseluruhan.
2.1.3 Instrumen Pasar Modal
Instrumen pasar modal adalah semua surat-surat berharga (securities) yang
diperdagangkan dibursa. Instrumen pasar modal ini umumnya bersifat jangka
panjang. (Tjipto Darmadji dan Hendy M. Fakhrudin, 2001)
Saat ini instrumen pasar modal yang sudah ada terdiri dari saham, obligasi, opsi,
right, warrant dan sertifikat reksadana. (Tjipto Darmadji dan Hendy M. Fakhrudin,
2001)
2.1.3.1 Saham
Saham adalah tanda penyertaan atau pemilikan seseorang maupun badan dalam suatu
perusahaan atau emiten. Pemilik saham merupakan pemilik sebagian dari perusahaan
atas tunjuk. Sekarang ini, saham yang diperdagangkan di Indonesia adalah saham atas
nama, yaitu saham yang nama pemilik tertera di atas saham tersebut. Jenis saham ada
2 yaitu saham biasa dan saham preferen, dimana saham biasa merupakan saham yang
menempatkan pemiliknya paling junior jika terdapat pembagian dividen, dan hak atas
harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi. Sedangkan saham
preferen merupakan saham yang memiliki karateristik gabungan antara obligasi dan
saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi),
tetapi juga bisa tidak mendapatkan hasil yang dikehendaki investor.
Karateristik saham preferen, yaitu memiliki hak yang lebih dahulu memperoleh
dividen, dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan
pengurus perusahaan, memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal
saham lebih dahulu setelah kreditor apabila perusahaan tersebut dilikuidasi,
kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian laba perusahaan
disamping penghasilan yang diterima secara tetap, memiliki hak memperoleh
pembagian kekayaan perusahaan di atas pemegang saham biasa setelah semua
kewajiban perusahaan dilunasi apabila perusahaan dilikuidasi.
2.1.3.2 Obligasi
Obligasi pada dasarnya merupakan surat hutang atau pinjaman yang diterima oleh
perusahaan penerbit obligasi dari masyarakat. Jangka waktu obligasi yang ditetapkan
berdasarkan perjanjian, obligasi diterbitkan oleh pemerintah, BUMN, BUMD
17
2.1.3.3 Opsi
Opsi (option) merupakan suatu produk efek turunan yang diturunkan dari berbagai
efek sebenarnya. Sebagai efek derifatif, opsi akan mempunyai nilai selagi terhubung
ke aset finansial yang bersangkutan. Aset finansial ini bisa berupa saham biasa,
obligasi atau obligasi konversi. Nilai opsi tergantung dari nilai hidup pasarnya. Jika
masa hidup pasarnya habis, maka efek derivatif tersebut tidak ada nilainya.
2.1.3.4 Right
Right menunjukkan bukti hak memesan terlebih dahulu yang melekat pada saham
yang memungkinkan para pemegang saham untuk membeli saham baru yang akan
diterbitkan oleh emiten, sebelum saham-saham tersebut ditawarkan kepada pihak
lain.
2.1.3.5 Warrant
Waran adalah efek yang diterbitkan oleh emiten yang memberi hak kepada pemegang
saham untuk memesan saham dari emiten yang bersangkutan pada harga tertentu,
umumnya masa hidup warrant adalah selama 6 bulan hingga 5 tahun.
2.1.3.6 Reksadana
Reksadana (mutual fund) merupakan portofolio yang dibentuk oleh perusahaan
reksadana dan dijual kembali kepada masyarakat dalam bentuk unit penyertaan. Salah
satu tujuan dari reksadana adalah meminimumkan risiko tidak sistematik (dengan
2.2 Corporate Action
Corporate action adalah tindakan atau aksi korporasi emiten (perusahaan go public) yang berpengaruh terhadap jumlah saham yang beredar maupun terhadap harga
saham perusahaan yang bersangkutan dibursa. Corporate action merupakan berita
yang umumnya menarik perhatian pihak-pihak yang terkait di pasar modal,
khususnya para pemegang saham.
Tujuan corporate action adalah untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu seperti
ekspansi, akuisisi, peningkatan modal perusahaan, peningkatan liquiditas
perdagangan saham, dan tujuan-tujuan lainnya. (M. Paulus Situmorang, 2008)
Corporateaction adalah berita yang umumnya menyedot perhatian dari pihak yang
terkait di pasar modal khususnya para pemegang saham. Keputusan corporate action
harus disetujui dalam suatu rapat umum pemegang saham baik RUPS (Rapat Umum
Pemegang Saham) maupun RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa).
Persetujuan pemegang saham adalah mutlak, untuk berlakunya suatu corporate
action, sesuai dengan peraturan di pasar modal. Beberapa contoh corporate action
antara lain stock split, right issue, saham bonus, pengumuman pembagian deviden,
Initial Publik Offering dan Additional Listing seperti Private Placement, konversi
saham baik dari warrant, right ataupun obligasi.
Pada umumnya corporate action mempengaruhi secara signifikan terhadap
kepentingan pemegang saham, jumlah saham yang dimiliki pemegang saham, serta
19
memperhatikan dampak dari corporate action, sehingga pemegang saham akan mendapatkan keuntungan dengan melakukan keputusan yang tepat. Untuk
mendapatkan haknya sebagai pemegang saham atas corporate action, maka saham
tersebut harus terdaftar atas nama pemegang saham tersebut. Dengan kata lain,
pemodal terlebih dahulu harus melakukan regestrasi atas saham yang dipegangnya
agar hak atas suatu corporate action dapat terpenuhi.
2.3 Saham Bonus
Ketentuan mengenai saham bonus diatur dalam Peraturan Nomor IX.D.5 yang dimuat
dalam lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor :
KEP-35/PM/2003 tentang saham bonus sebagai berikut : (www.idx.co.id)
1. Definisi
a. Agio saham adalah selisih lebih setoran pemegang saham diatas nilai
nominalnya dalam hal saham dikeluarkan dengan nilai nominal.
b. Kekayaan bersih adalah selisih antara total aktiva dengan total kewajiban.
c. Saldo laba adalah akumulasi hasil usaha periodik setelah
memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba rugi periode lalu.
d. Saham bonus adalah saham yang diberikan secara cuma-cuma kepada
para pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang dimiliki.
e. Deviden saham adalah bagian laba yang dibagikan kepada pemegang
saham dalam bentuk saham.
f. Deviden kas adalah bagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham
g. Selisih kembali penilaian aktiva tetap adalah selisih antara nilai revaluasi
dengan nilai buku (nilai tercepat) aktiva tetap.
2. Peraturan ini berlaku bagi emiten yang melakukan penawaran umum efek bersifat
ekuitas atas perusahaan publik.
3. Pembagian saham bonus harus proporsional dengan kepemilikan saham dari setiap
pemegang saham.
4. Pelaksanaan pembagian saham bonus harus telah selesai dilakukan
selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari setelah pelaksanaan Rapat Umum
Pemegang Saham yang menyetujui pembagian saham bonus tersebut.
5. Emiten atau perusahaan publik wajib menyampaikan kepada BAPEPAM laporan
penjatahan saham bonus yang telah diperiksa oleh Akuntan yang terdaftar di
BAPEPAM sebanyak 2 (dua) eksemplar selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari
setelah pembagian saham bonus dilaksanakan.
6. Saham bonus yang merupakan dividen saham, berasal dari kapitalisasi saldo laba.
7. Saham bonus yang bukan merupakan deviden saham, berasal dari kapitalisasi
a. Agio saham, dan atau
b. Unsur ekuitas lainnya
8. Jumlah saham yang dibagikan dalam rangka saham bonus yang merupakan
dividen saham ditentukan berdasarkan hal-hal sebagai berikut
a. Dalam hal harga pasar saham pada penutupan perdagangan 1 (satu) hari
sebelum Rapat Umum Pemegang Saham dibawah nilai nominal saham,
maka jumlah saham yang dibagikan ditentukan berdasarkan
21
b. Dalam hal harga pasar saham sama atau lebih tinggi dari nilai nominal
saham, maka jumlah saham yang dibagikan ditentukan berdasarkan harga
pasar saham pada penutupan perdagangan 1(satu) hari sebelum Rapat
Umum Pemegang Saham.
9. Jumlah saham yang dibagikan dalam rangka saham bonus yang bukan
merupakan dividen saham ditentukan berdasarkan nilai nominal saham.
10. Dengan memperhatikan ketentuan nomor 8 dan nomor 9 peraturan ini, dalam hal
terdapat lebih dari satu nilai nominal saham, maka yang digunakan sebagai dasar
pembagian saham bonus adalah dengan nilai nominal terendah.
11. Pembagian saham bonus hanya dapat dilaksanakan apabila asal saham bonus
tersebut telah dimuat dalam laporan keuangan tahunan terakhir yang telah diaudit
oleh Akuntan yang terdaftar di BAPEPAM.
12. Dalam hal saham bonus berasal dari kapitalisasi agio saham maka nilai yang
dapat dikapitalisasi adalah jumlah agio saham setelah dikurangi biaya emisi efek
ekuitas.
13. Emiten atau perusahaan publik atau pelaku pasar modal lainnya dalam hubungan
dengan para pemodal dilarang memberikan informasi yang menyesatkan
mengenai rencana pembagian saham bonus oleh emiten atau perusahaan publik
tertentu. Informasi yang termasuk menyesatkan tersebut antara lain pernyataan
bahwa :
a. Saham bonus merupakan pengganti dari deviden kas yang dijanjikan oleh
b. Saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham dan atau unsur
ekuitas lainnya merupakan indikasi kemampuan emiten atau perusahaan
publik dalam memperoleh laba,
c. Harga saham pada saat penawaran umum menjadi lebih rendah dengan
adanya rencana pembagian saham bonus, dan
d. Pembagian saham bonus sama dengan hasil deviden (deviden yield),
seperti :
1) Menggunakan pembagian saham bonus sedemikian rupa sehingga
menimbulkan kesan sama dengan hasil deviden kas,
2) Menambahkan persentase pembagian saham bonus dengan hasil
deviden dan menyatakannya sebagai pembayaran deviden atau sebagai
hasil investasi, dan
3) Deviden yield tidak berubah berkaitan dengan diubahnya deviden kas
menjadi deviden saham.
14. Emiten atau perusahaan publik yang akan membagikan saham bonus wajib
menginformasikan kepada BAPEPAM selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari
sebelum pengumuman Rapat Umum Pemegang Saham. Informasi mengenai
pembagian saham bonus tersebut wajib diumumkan kepada publik
selambat-lambatnya 28 (dua puluh delapan) hari sebelum pelaksanaan Rapat Umum
Pemegang Saham.
15. Informasi sebagaimana dimaksud dalam nomor 14 sekurang-kurangnya wajib
23
a. Penjelasan terperinci mengenai sumber dari kapitalisasi modal yang
menjadi saham bonus,
b. Nilai dari masing-masing sumber kapitalisasi saham bonus,
c. Rasio pembagian saham bonus,
d. Dasar penetapa harga yang digunakan sebagai dasar pembagian saham
bonus sebagaimana dimaksud dalam nomor 8, nomor 9 dan nomor 10
peraturan ini,
e. Penjelasan mengenai perlakuan pajak atas saham bonus, baik pengaruhnya
kepada pemegang saham maupun kepada perusahaan. Jika pengenaan
pajak atas saham bonus kurang menguntungkan bagi pemegang saham
daripada jika pembagian diberikan dalam bentuk deviden kas, maka fakta
tersebut wajib diungkapkan dan alasan tidak membayarkan deviden kas
wajib dijelaskan, dan
f. Prosedur administratif yang berkaitan dengan pembagian saham bonus.
16. Semua pelaku pasar modal yang terlibat dalam persiapan data historis mengenai
harga saham dan informasi keuangan per saham wajib menyesuaikan informasi
tersebut terhadap pengaruh dari pembagian saham bonus dan menjelaskan
metode yang digunakan dalam penyesuaian tersebut.
17. Dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan pidana dibidang pasar modal,
bapepam berkenan mengenai sanksi terhadap setiap pelanggaran ketentuan
peraturan ini, termasuk kepada pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran
Buku pengantar pasar modal yang ditulis oleh Tjiptono Darmadji dan Hendy M.
Fakhrudin (2001) menyebutkan bahwa, saham bonus merupakan bonus pembagian
saham baru untuk para pemegang saham, dimana pembagian bonus itu ditunjukan
sebagai bentuk reward. Saham uang diberikan secara cuma-cuma oleh emiten kepada
pemegang saham tersebut dapat berasal dari kapitalisasi agio saham, atau dapat pula
berasl dari selisih kembali penilaian aktiva tetap. Besarnya bonus ditentukan dalam
rapat pemegang saham, dimana besarnya dinyatakan dalam satuan rasio berapa
pemegang saham lama mendapatkan tambahan saham baru.
Dampak dari saham baru adalah meningkatnya jumlah saham yang beredar. Dengan
kata lain, saham bonus berakibat pada meningkatnya faktor penawaran saham.
Dengan asumsi permintaan tetap, maka pembagian saham bonus ini berakibat pada
turunnya harga saham atau terjadi koreksi atas harga saham sesuai dengan faktor
koreksinya.
Faktor koreksi merupakan perbandingan saham lama dibandingkan dengan jumlah
saham baru setelah penambahan jumlah saham bonus yang diberikan oleh
perusahaan. Faktor koreksi akan mempengaruhi pasar saat mas cum-date terlewati
(ex-date). Keberhasilan saham bonus akan terlihat bila harga setelah ex-date berada
diatas harga teoritis. Demikian juga sebaliknya, apabila harga cenderung turun
dibawah harga teoritis, maka saham bonus itu dianggap tidak menguntungkan
investor. Harga teoritis adalah perkiraan suatu harga saham pada saat pembukaan
ex-date setelah saham bonus dibagikan. Harga teoritis diperoleh dengan cara mengalikan
25
2.4 Studi Peristiwa (Event Study)
Studi peristiwa (event study) merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu
pengumuman. Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi
(information content) dari suatu pengumuman dan dapat juga digunakan untuk
menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat. (Jogiyanto, 2000)
Pengujian kandungan informasi dan pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat
merupakan dua pengujian yang berbeda. Pengujian kandungan informasi
dimaksudkan untuk melihat reaksi dari suatu pengumuman. Jika pengumuman
mengandung informasi (information content), maka diharapkan pasar akan bereaksi
pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukan
dengan adanya perubahan harga dari sekuritas yang bersangkutan. Reaksi ini dapat
diukur dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau dengan
menggunakan abnormal return. Jika menggunakan abnormal return, maka dapat
dikatakan bahwa suatu pengumuman yang mempunyai kandungan informasi akan
memberikan abnormal return kepada pasar.
Pengujian kandungan informasi hanya menguji reaksi dari pasar, tetapi tidak menguji
seberapa cepat pasar itu bereaksi. Jika pengujian melibatkan kecepatan reaksi dari
pasar untuk menyerap informasi yang diumumkan, maka pengujian ini merupakan
pengujian efisiensi pasar secara informasi (informational market) bentuk setengah
memperoleh abnormal return dari informasi yang diumumkan atau jika memang ada abnormal return, maka pasar harus bereaksi dengan cepat (quickly) untuk menyerap
abnormal return, untuk menuju harga keseimbangan yang baru.
2.5 Return Saham
Return merupakan tingkat pengembalian yang diperoleh dari investasi. Return dapat
berupa return realisasian yang sudah terjadi atau return ekspektasian yang belum
terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi dimasa mendatang. (Jogiyanto, 2009).
Return realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi. Return
realisasi dihitung menggunakan data historis. Return realisasi digunakan sebagai
salah satu pengukur kinerja perusahaan, selain itu juga berguna sebagai dasar
penentuan return ekspektasi (expected return) dan risiko dimasa datang.
Sedangkan return ekspektasi (expected return) adalah return yang diharapkan akan
diperoleh oleh investor dimasa yang akan datang. Return ekspektasi sifatnya belum
terjadi.
Untuk mendapatkan tingkat pengembalian atau keuntungan dapat dicari dengan
menggunakan rumus sebagai berikut : ( Van Horne and Wachawicz Jr, 1998)
(Pt – Pt-1) R =
Pt-1 Keterangan :
R = tingkat pengembalian (return) saham
27
Pt-1 = harga saham pada periode t-1 (sebelumnya)
2.6 Abnormal Return
Menurut Jogiyanto (2005), abnormal return merupakan kelebihan dari return yang
sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Return normal merupakan return
ekspektasi (return yang diharapkan oleh investor) dan merupakan return yang terjadi
pada keadaan dimana tidak terjadi suatu peristiwa. Jika terjadi suatu peristiwa, maka
return normal akan naik (bila peristiwanya adalah peristiwa baik atau good news)
atau akan turun (bila peristiwanya adalah peristiwa buruk atau bad news). Dengan
demikian abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dan
return ekspektasi.
Perhitungan abnormal return dapat dirumuskan sebagai berikut :
ARi,t = Ri,t – E (Ri,t)
Keterangan :
ARi,t = return tidak normal (abnormal return) sekuritas ke-i pada periode
peristiwa ke-t
Ri,t = return sesungguhnya yang terjadi untuk sekuritas ke-i pada periode
peristiwa ke-t
E (Ri,t) = return ekspektasi sekuritas ke-i untuk periode peristiwa ke-t
Menurut Jogianto (2005), efisiensi pasar diuji dengan melihat return tidak normal
pelaku pasar dapat menikmati return yang tidak normal dalam jangka waktu yang
cukup lama.
Abnormal return diperoleh dari selisih return sesungguhnya dengan return
ekspektasi. Return sesungguhnya merupakan return yang terjadi pada waktu ke-t
yang merupakan selisih harga sekarang relatif terhadap harga sebelumnya. Sedangkan
return ekspektasi merupakan return yang harus diestimasi.
Brown dan Warner (1985) mengestimasi return ekspektasi menggunakan model
estimasi sebagai berikut :
1. Mean-adjusted Model
Model disesuaikan rata-rata (mean-adjusted model) ini menganggap bahwa return
ekspektasi yang bernilai konstan sama dengan rata-rata return realisasi sebelumnya
selama periode estimasi (estimation period) :
E [Ri,t]
=
∑
,
Keterangan :
E [Ri,t] = return ekspektasi sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t
Ri,j = return realisasi sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-j
T = lamanya periode estimasi, yaitu dari t1 sampai dengan t2
Peride estimasi (estimation period) umumnya merupakan periode sebelum periode
peristiwa. Periode peristiwa (event period) disebut juga periode pengamatan atau
29
Periode estimasi dan periode jendela dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
t
1t
2t
3t
0t
4Gambar 2. Periode estimasi dan periode jendela
Pada gambar 1, t1 sampai dengan t2 merupakan periode estimasi, t3 sampai dengan t4
merupakan periode jendela dan t0 merupakan saat terjadinya peristiwa. Panjang dari
periode jendela ini bervariasi. Lama dari periode jendela yang umum digunakan
berkisar 3 hari sampai dengan 121 hari untuk data harian dan 3 bulan sampai dengan
121 bulan untuk data bulanan.
Lamanya periode jendela tergantung dari jenis peristiwanya. Jika peristiwanya
merupakan merupakan peristiwa yang dinilai ekonomis (seperti pengumuman right
issue, pengumuman laba, dan pengumuman pembagian dividen) dapat ditentukan
dengan mudah oleh investor, periode jendela dapat pendek, disebabkan karena
investor dapat bereaksi dengan cepat. Sebaliknya untuk peristiwa yang nilai
ekonomisnya sulit (misalnya merger), investor akan membutuhkan waktu yang lama
untuk bereaksi.
2. Market Model
Perhitungan return ekspektasi dengan model pasar (market model) ini dilakukan
data realisasi selama periode estimasi dan (2) menggunakan model ekspektasi ini untuk mengestimasi return ekspektasi diperiode jendela. Model ekspektasi dapat
dibentuk menggunakan teknik regresi OLS (Ordinary Least Square) dengan
persamaan :
Ri,j = αi + β1 • Rmj + εi,j
Keterangan :
Ri,j = return realisasi sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-j
αi = intercept untuk sekuritas ke-i
β1 = koefisien slope yang merupakan Beta dari sekuritas ke-i
Rmj = return indeks pasar pada periode estimasi ke-j
εi,j = kesalahan residu sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-j
3. Market-Adjusted Model
Model disesuaikan pasar (Market-Adjusted Model) menggangap bahwa penduga yang
terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada
saat tersebut. Dengan menggunakan model ini, kita tidak perlu menggunakan peride
estimasi untuk membentuk model estimasi karena return sekuritas yang diestimasi
adalah sama dengan return indeks pasar. Return indeks pasar dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
E (Rm,t)
=
Keterangan :
E (Rm,t) = Return Pasar
31
IHSGt-1 = Indeks Harga Pasar pada periode sebelumnya
2.7 Return Ekspektasi (expected return)
Return ekspektasi (expected return) merupakan return yang digunakan untuk
mengambil keputusan investasi. Return ini penting bola dibandingkan dengan return
historis karena return ekspektasi merupakan return yang diharapkan dari investor
yang akan dilakukan.
Menurut Jogiyanto (2003) Return ekspektasi (expected return) dapat dihitung
berdasarkan beberapa cara :
1. Berdasarkan nilai estimasi masa depan.
Return ekspektasi cara ini dihitung dengan metode nilai ekspektasi (expected
value) yaitu mengalikan hasil-hasil masa depan (outcome) dengan probabilitas
kejadiannya dan menjumlah semua produk perkalian tersebut. Return
ekspektasi dapat dirumuskan sebagai berikut :
( ) = ( • )
Keterangan :
E(Ri) = retun ekspektasi suatu aktiva atau sekuritas ke-i,
Rij = hasil masa depan ke-j untuk sekuritas ke-i
Pj = probabilitas hasil masa depan ke-j (untuk sekuritas ke-i)
2. Berdasarkan nilai-nilai return historis.
Menghitung hasil masa depan dan probabilitasnya merupakan hal yang tidak
mudah dan bersifat subyektif. Akibat dari perkiraan yang subyektif ini,
ketidak akuratan akan terjadi. Untuk mengurangi ketidak akuratan data
historis dapat digunakan sebagai dasar ekspektasi.
Ada tiga metode yang dapat diterapkan untuk menghitung return ekspektasi
dengan menggunakan data historis, yaitu :
1. Metore rata-rata (mean method)
Metode rata-rata mengasumsikan bahwa return ekspektasi dapat dianggap
sama dengan rata-rata nilai historisnya.
2. Metode tren (trend method)
Beranggapan bahwa distribusi data return bersifat acak sehingga sulit
digunakan untuk memprediksi, sehingga diperkirakan return terakhir akan
terulang di masa depan.
3. Metode jalan acak (random walk method)
Jika distribusi data return tidak mempunyai pola dan acak, maka random
walkmethod akan menghasilkan return ekspektasi lebih tepat.
3. Berdasarkan model return ekspektasi
Model yang tersedia dan banyak digunakan adalah Single Index Model dan
model CAPM.
Selain itu juga terdapat model lain untuk mengestimasi reurn ekspektasi, yaitu model
33
Model Indeks Tunggal (Single Index Model) pertama kali dikembangkan oleh Willian
Sharp (1963). Pendapatan saham yang diharapkan (expected return) adalah
pendapatan yang diharapkan dari satu saham dimasa datang, yang sesuai dengan
tingkat risiko dari saham tersebut. Sebelum menghitung expected return terlebih
dahulu mencari besarnya koefisien nilai alfa dan beta untuk masing-masing saham
dengan cara meregresikan Ri,t dengan Rmt selama periode yang diteliti. Menghitung
normal return dengan menggunakan nilai alfa dan beta yang dihitung sebelumnya,
sedangkan market return yang digunakan adalah market return selama periode
penelitian. Dihitung dengan menggunakan single Index Model, yaitu dengan rumus :
E (Ri,t) = αi + βi * Rmt
Keterangan :
E (Ri,t) = expected return untuk sekuritas ke- i pada peristiwa ke- t
αi = intercept untuk sekuritas ke-i
β1 = koefisien slope yang merupakan Beta dari sekuritas ke-i
Rmt = return pasar
Capital Asset Pricing Model (CAPM) Bentuk CAPM pertama kali dikembangkan
oleh Sharpe (1964), Linter (19665) dan Mossin (1969).
Model CAPM menggunakan beta dalam mengestimasi return. Untuk portofolio,
tambahan return ekspektasi terjadi diakibatkan oleh tambahan risiko dan portopolio
bersangkutan. Untuk sekuritas individual, tambahan return ekspektasi diakibatkan
Menurut Jogianto (2009), beta menentukan besarnya tambahan return ekspektasi
untuk sekuritas individual dengan argumentasi bahwa untuk portofolio yang
didiversifikasikan dengan sempurna, risiko tidak sistematik (nonsystematicrisk)
cenderung menjadi hilang dan risiko yang relevan hanya risiko sistematik yang
diukur oleh beta.
Beta untuk portofolio pasar bernilai satu (1). Suatu sekuritas yang mempunyai beta
lebih kecil dari 1 dikatakan berisiko lebih kecil dari risiko portofolio pasar.
Sebaliknya, suatu sekuritas yang mempunyai nilai beta lebih dari 1 dikatakan
mempunayai risiko sistematik yang lebih besar dari risiko pasar. Jika sekuritas
memiliki beta sama dengan beta portofolio pasar atau sama dengan 1 maka
diharapkan sekuritas ini mempunyai return ekspektasi yang sama dengan return
ekspektasi portofolio pasar atau E(Rm). Untuk sekuritas individual yang mempunyai
beta lebih kecil (besar) dari 1, maka diharapkan akan mendapatkan return ekspektasi
lebih kecil (besar) dibandingkan dengan return ekspektasi portofolio.
Persamaan dari model CAPM adalah :
E(Ri) = Rf + β (Rm – Rf)
Keterangan :
E(Ri) = Expected Return
Rf = Return aktiva bebas risiko
E(Rm) = Return Pasar
35
Untuk mengaplikasikan model CAPM ke persamaan regresi, maka nilai Rf perlu
dipindahkan dari ruas kanan ke ruas kiri persamaan, sehingga didapat persamaan
sebagai berikut :
Ri – Rf = β (Rm – Rf)
Dari persamaan tersebut, dependen variabel sebesar (Ri – Rf), dan independent
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Sifat Penelitian
Penelitian ini merupakan event study yaitu salah satu desain statistik yang popular di
bidang keuangan yang menggambarkan sebuah teknik riset yang memungkinkan
peneliti untuk menilai dampak dari suatu peristiwa tertentu terhadap harga saham dari
perusahaan. Untuk faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi harga saham seperti
tingkat suku bunga bank, peraturan dan kebijakan pemerintah serta pengaruh makro
lainnya tidak diamati, hal ini dilakukan agar penelitian tidak terpengaruh oleh
faktor-faktor lain yang mempengaruhi harga saham. Penelitian ini dilakukan dalam jangka
waktu 61 hari dengan periode jendela selama 30 hari sebelum, saat event date, dan 30
hari sesudah peristiwa pemberian saham bonus, periode jendela dilakukan untuk
menganalisis apakah ada perbedaan return harian sebelum dan sesudah pemberian
saham bonus.
3.2 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapat
melalui internet untuk memperoleh data harga saham harian yang diperoleh melalui
37
bahkan dari pihak-pihak seterusnya, sehingga tidak diperoleh langsung dari pihak
pertama. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari data harga
penutupan saham harian (closing price) serta data indeks harga saham gabungan
(IHSG) selama periode pengamatan.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode sebagai
berikut :
1. Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan dengan
mempelajari buku-buku dan literatur-literatur yang berkaitan dengan
penelitian ini.
2. Penelitian Lapangan
Penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder yaitu
mengambil laporan keuangan dan gambar umum perusaan di Bursa Efek
Indonesia yang mengeluarkan saham bonus tahun 2007-2010, dan juga
mencari data pada Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM).
3.4Objek Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2007-2010. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah
perusahaan yang mengeluarkan saham bonus pada tahun 2007-2010.
1. Perusahaanlisting di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2010
2. Perusahaan memiliki historical price yang lengkap tahun 2007-2010
3. Perusahaan tidak melakukan corporate action lain selain saham bonus
4. Dalam menghitung return saham di pasar. Dividen tidak diperhitungkan, atau
diasumsikan nol.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 8
perusahaan. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan yang listing di
Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2010. Sampel dalam penelitian ini dapat dilihat
pada tabel 2 berikut :
Tabel 2. Emiten yang memberikan saham bonus tahun 2007-2010
No Nama Emiten Bonus
Rasio Tanggal Pemberian Saham Bonus 1 PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) 1 : 3 21 Mei 2010 2 PT Kokoh Inti Arebama Tbk (KOIN) 100 : 15 25 Agustus 2010
3 PT Ancora Indah Resources Tbk(OKAS) 50 : 21 15 Januari 2010
4 PT Bank Mega Tbk (MEGA) 70 : 67 30 Juni 2009 5 PT Asuransi Ramayana (ASRM) 5 : 2 29 September 2008
6 PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) 10 : 3 7 Agustus 2008 7 PT Duta Anggada Reality (DART) 1 : 1 10 Agustus 2007
39
Tanggal pemberian saham bonus adalah tanggal yang menunjukkan kapan saham
bonus dibagikan kepada pemegang saham yang berhak atas saham bonus. Jumlah
saham yang dimiliki oleh emiten sebelum saham bonus dibagikan, banyaknya saham
bonus yang dibagikan, dan jumlah saham yang dimiliki emiten setelah saham bonus
dibagikan dapat dilihat dalam Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah saham yang dimiliki oleh emiten sebelum saham bonus
dibagikan, banyaknya saham bonus yang dibagikan, dan jumlah saham yang dimiliki emiten sesudah saham bonus dibagikan
No Emiten 1 BHIT 7.236.933.545 21.710.800.635 28.947.734.180 2 KOIN 850.000.020 127.500.005 977.500.025 3 OKAS 1.234.611.111 522.316.666 1.756.927.777 4 MEGA 1.593.630.942 1.555.781.337 3.149.412.279 5 ASRM 22.799.961 56.999.982 79.799.943 6 PWON 7.718.850.000 2.315.365.500 10.032.505.000 7 DART 1.430.695.481 1.430.695.481 2.861.390.962 8 BBLD 998.702.494 441.297.506 1.440.000.000 Sumber : www.idx.co.id, 2011 (data diolah)
Penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu 61 hari dengan periode jendela selama
30 hari sebelum, saat event date, dan 30 hari sesudah pemberian saham bonus.
H-30 hari H+30 hari
0
(Pemberian Saham Bonus)
Periode event window
Gambar 3. Periode event window penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan periode jendela karena untuk
mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian
saham bonus. Hal ini juga dilakukan untuk melihat apakah ada kebocoran informasi,
apakah pasar sudah mendengar informasinya sebelum informasi itu sendiri
diumumkan sehingga mempengaruhi para investor dalam mengambil keputusan.
Periode jendela sebagai pengamatan merupakan periode yang akan dihitung nilai
abnormal return-nya. (Jogiyanto, 2003) lamanya periode jendela tergantung dari
jenis peristiwanya, jika peristiwanya merupakan peristiwa yang nilai ekonomisnya
dapat ditentukan dengan mudah oleh investor periode jendela dapat pendek,
sebaliknya apabila peristiwanya merupakan peristiwa yang nilai ekonomisnya sulit
ditentukan oleh investor maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk bereaksi
dapat menggunakan periode jendela yang panjang. Pemberian saham bonus
merupakan salah satu jenis penelitian yang nilai ekonomisnya dipandang mudah
41
yakni 61 hari (30 hari sebelum tanggal pemberian saham bonus, saat event date, dan
30 hari setelah tanggal pemberian saham bonus).
Untuk menghindari agar tidak terpengaruh oleh informasi yang lain maka peneliti
menggunakan sampel yang hanya mengeluarkan saham bonus dan tidak melakukan
corporate action yang lain selain saham bonus. Selain itu peristiwa lain yang terjadi
pada periode peristiwa diasumsikan tidak berpengaruh.
3.5Definisi Operasional Variabel
1. Abnormal return adalah kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi
terhadap return yang diharapkan oleh investor. Dengan kata lain abnormal
return adalah selisih dari actual return saham dengan expected return
saham (Jogiyanto, 2000)
2. Return pasar diperoleh dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
3. Return saham diperoleh dari perkembangan harga saham harian.
4. Expected return diperoleh dari data harga saham harian dengan
menggunakan Model Indeks Tunggal (Single Index Model).
3.6Alat Analisis
3.6.1 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif dilakukan dengan pendekatan teoritis yang berhubungan
dengan penelitian ini, yaitu berdasarkan teori pasar modal khususnya yang
3.6.2 Analisis Kuantitatif
Langkah-langkah dalam mencari abnormal return saham adalah sebagai berikut :
1. Menghitung return saham 30 hari sebelum, saat event date, dan 30 hari
sesudah pemberian saham bonus yakni menghitung Raw Performance Return
saham (Rit) dengan asumsi dividen tidak dihitung atau dianggap nol. Adapun
rumus yang digunakan adalah sebagai berikut (jogiyanto, 2000) :
Rit=( − P ) +
t-1
Keterangan :
R = tingkat pengembalian (return) saham
Pt = harga saham pada periode t
Pt-1 = harga saham pada periode t-1 (sebelumnya)
D = dividen kas pada akhir periode t
2. Menghitung return saham indeks harga saham gabungan yang dihitung
berdasarkan market-adjustedmodel dengan asumsi dividen pasar tidak
dihitung atau dianggap nol.
= −
Keterangan :
43
IHSGt = Indeks Harga Pasar sekuritas ke-i pada periode ke-i
IHSGt-1 = Indeks Harga Pasar sekuritas ke-i pada periode ke-j
sebelumnya
3. Menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan investor (Expected
Return) yang dihitung menggunakan Model Indeks Tunggal (Single Index
Model).
E (Ri,t) = αi + βi * Rmt
Keterangan :
E (Ri,t) = expected return untuk sekuritas ke- i pada peristiwa ke- t
αi = intercept untuk sekuritas ke-i
β1 = koefisien slope yang merupakan Beta dari sekuritas ke-i
Rmt = return pasar
4. Menghitung Abnormal Return saham
ARi = Ri – E(Rit)
Keterangan :
Ari = Abnormal Return sekuritas ke-i pada periode kebijakan ke-t
Ri = Return yang terjadi untuk sekuritas ke-i pada periode
kebijakan ke-t
5. Menghitung rata-rata Abnormal return atau Avarage abnormal return (AAR)
selama periode peristiwa.
=∑ ,
Keterangan :
AARt = Avarage abnormal return pada hari ke-t
AR i,t = Abnormal return untuk sekuritas ke-i pada periode ke-t
K = Jumlah sekuritas yang terpengaruh oleh peristiwa
6. Uji Normalitas
Uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah data sudah tersebar secara
normal. Untuk uji asumsi normalitas dapat dilihat melalui uji
Kolmogorov-Smirnov.
7. Uji t test
Pengujian statistik dilakukan untuk melihat signifikansi abnormal return
tersebut serta berfungsi untuk menghitung apakah terdapat abnormalreturn
sama dengan nol (0).
8. Uji Beda Dua Rata-rata
a. Dalam penelitian ini menggunakan uji beda dua rata-rata dengan uji
paired sample t test yakni dengan membandingkan antara return sebelum
45
adanya perbedaan abnormal return akibat dari pemberian saham bonus.
Proses penguji uji 2 rata-rata dalam penelitian ini yakni menggunakan
program SPSS.
Dihitung dengan rumus :
= ( − )( ) + ( −− )( )
+ − +
Keterangan :
X1 = rata-rata abnormal return sebelum pemberian saham bonus
X2 = rata-rata abnormal return sesudah pemberian saham bonus
SD1 = standard deviasi sebelum pemberian saham bonus
SD2 = standard deviasi sesudah pemberian saham bonus
N = jumlah sampel yang digunakan
b. Menentukan wilayah penerimaan dan penolakan hipotesis nol (0).
c. Membandingkan t-hitung dengan t-tabel dapat ditarik kesimpulan
berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan.
3.7Pengujian Hipotesis
Langkah-langkah dalam melakukan pengujian hipotesis secara statistik :
a. Menyusun formulasi hipotesis
Ho : Tidak terdapat abnormal return yang signifikan sebelum dan sesudah
Ha : Terdapat abnormal return yang signifikan sebelum dan sesudah
pemberian saham bonus di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2007-2010
b. Menentukan pilihan uji statistik
1. Uji t test
Pengujian statistik dilakukan untuk melihat signifikansi abnormal return
tersebut dan menghitung apakah terdapat abnormal return sama dengan
nol (0).
2. Uji Beda Dua Rata-rata
Dalam penelitian ini menggunakan uji beda dua rata-rata dengan uji
paired sample t test yakni dengan membandingkan antara return sebelum
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis yang
menyatakan bahwa “Terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan sebelum
dan sesudah peristiwa pemberian saham bonus pada emiten yang membagikan saham
bonus tahun 2007-2010” tidak terbukti karena tidak terdapat abnormal return
sebelum, saat event date, dan sesudah peristiwa pemberian saham bonus tahun
2007-2010. Hal ini menunjukkan bahwa harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan
semua informasi yang tersedia sehingga para investor tidak ada yang mendapatkan
abnormal return lebih karena memiliki informasi privat tentang pemberian saham
bonus tahun 2007-2010. Para investor sudah memprediksi dengan baik informasi
yang ada sehingga pemberian saham bonus tidak terlalu mempengaruhi pasar modal
5.2 Saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai
berikut :
1. Bagi perusahaan, dalam penelitian ini tidak terdapat perbedaan abnormal
return sebelum dan sesudah pemberian saham bonus penulis menyarankan
agar perusahaan mempertimbangkan dengan baik dalam memberikan suatu
pengumuman kepada investor supaya para investor tidak mengambil
keuntungan lebih dari informasi yang diberikan, perusahaan juga harus
mempertimbangkan dampak yang terjadi saat pemberian saham bonus
khususnya apabila terdapat abnormal return yang negatif sehingga berakibat
pada penurunan harga saham.
2. Bagi para investor dan calon investor yang akan mengambil keputusan untuk
berinvestasi, penulis menyarankan agar menahan saham yang mengeluarkan
saham bonus karena dalam penelitian ini tidak terdapat perbedaan abnormal
return sebelum dan sesudah pemberian saham bonus, sedangkan untuk
saham-saham yang lain yang tidak diteliti penulis menyarankan agar investor
perlu meneliti terlebih dahulu saham-saham yang akan diinvestasikan supaya
hasil yang diperoleh seperti yang diinginkan.
3. Bagi penelitian selanjutnya Penelitian ini masih memiliki banyak kelemahan
khususnya karena keterbatasan sampel dan observasi. Pada penelitian selanjutnya
61
banyak serta dapat menggunakan lebih banyak variabel serta analisa-analisa