KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE POKOK PARAGRAF PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 PRINGSEWU TAHUN PELAJARN 2013/2014

Teks penuh

(1)

KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE POKOK PARAGRAF PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 PRINGSEWU

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

(Skripsi)

Oleh NUR AISAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE POKOK PARAGRAF PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 PRINGSEWU

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh Nur Aisah

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah kemampuan menemukan ide pokok paragraf siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menemukan ide pokok paragraf pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014.

(3)

kelipatan dari bilangan tertentu. Adapun jenis tes yang digunakan adalah tes objektif, yaitu siswa diberi soal yang berjumlah 40 soal.

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Siliwangi kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu pada 12 Desember 1990 sebagai anak pertama dari empat bersaudara, buah hati pasangan Bapak Muhtadin dan Ibu Cucu Wijayanti.

Pada tahun 2002, penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri 1 Siliwangi, kecamatan Sukoharjo, kabupaten Pringsewu. Pada tahun 2005, penulis menyelesaikan pendidikan tingkat pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sukoharjo pada tahun 2005. Kemudian, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Pringsewu dan lulus pada tahun 2008.

(9)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur dan cinta kepada Allah Subanahu wa Taala pencipta alam semesta, dengan nikmat dan ridho-Nya skripsi ini dapat terselesaikan.

Aku persembahkan karyaku ini untuk:

Ayahandaku Muhtadin dan Ibundaku Cucu Wijayanti yang dengan penuh kasih, kesabaran dan perjuangan membesarkan dan mendidikku serta dengan doa yang

tidak pernah henti untuk keberhasilanku.

Adik-adikku tercinta Zur Yani, Yeni Apriani, Regi Elando. Seseorang yang kelak akan mendampingi dan menjadi imamku.

(10)

MOTO

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS Al-Insyirah 6)

Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga

(HR. Muslim)

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin

dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat, dan siapa yang memudahkan orang yang

(11)

SANWACANA

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf pada Siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014”. Shalawat teriring salam tercurah kepada seorang penunjuk jalan lurus, yaitu Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, semoga keluarga dan sahabat serta pengikutnya mendapatkan syafaatnya kelak di hari pembalasan.

Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Lampung. Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan , bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Drs. Kahfie Nazaruddin, M. Hum., Pembimbing I yang selama ini telah banyak membantu, membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran kepada penulis dengan penuh kesabaran dalam penulisan skripsi ini;

(12)

ix

3. Drs. Iqbal Hilal, M. Pd., Penguji Utama yang telah memberikan nasihat, arahan, saran dan motivasi kepada penulis;

4. Eka Sofia Agustina, S. Pd., M. Pd., Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan dukungan, pengarahan, nasihat, bantuan dan saran-saran dari mulai pengajuan judul, penyusunan proposal hingga skripsi ini selesai; 5. Drs. Kahfie Nazaruddin, M. Hum., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa

dan Sastra Indonesia yang telah membimbing penulis selama menempuh studi di Universitas Lampung;

6. Dr. Muhammad Fuad, M. Hum., Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung;

7. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberi penulis ilmu yang bermanfaat;

8. Ayahanda Muhtadin dan Ibunda tercinta Cucu Wijayanti, yang selalu memberikan kasih sayang, motivasi dalam bentuk moral maupun material dan untaian doa yang tiada terputus untuk keberhasilan penulis;

9. Adik-adik tersayang Zur Yani, Yeni Apriani, Regi Elando yang selalu memberikan semangat kepada penulis;

10. Keluarga besar yang senantiasa menantikan kelulusan dengan memberikan dorongan, semangat, dan doa kepada penulis;

11. Sahabat-sahabat tercinta: Reka Umami, Ni Ketut Ria Wantini,

(13)

12. Teman-teman Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2008, terima kasih atas persahabatan, doa serta kebersamaan yang telah teman-teman berikan;

13. Kakak dan adik tingkat, terima kasih atas dukungan, persahabatan dan kebersamaan yang telah kalian berikan;

14. Jumiran, S. Pd., kepala SMA Negeri 2 Pringsewu atas izin yang telah diberikan pada penulis untuk melakukan penelitian;

15. Desma Wati, S. Pd. guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 2 Pringsewu yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian; 16. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang turut

mendukung penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Semoga Allah Subhanahu wa Taala memberikan balasan yang lebih besar untuk Bapak, Ibu, dan rekan-rekan. Semoga skripsi ini bermanfaat untuk kemajuan pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Wassalamualaikum Warrahmatullahhi Wabarrakatuh.

Bandar Lampung, November 2014 Penulis,

(14)
(15)

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 30 3.5 Teknik Analisis Data ... 31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian ... 33 4.1.1 Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf pada

Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 34 4.1.2 Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf pada

Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran

2013/2014 Ditinjau dari Masing-masing Indikator ... 35 4.1.2.1 Kemampuan Siswa Menemukan 4.1.2.5 Kemampuan Siswa Menemukan

Ide Pokok di Seluruh Paragraf ... 38 4.2 Pembahasan Penelitian ... 39

4.2.1 Persentase Kemampuan Siswa Menemukan

Ide Pokok Paragraf ... 39 4.3 Kemampuan Siswa Menemukan Ide Pokok Paragraf ... 59 BAB V SIMPULAN DAN SARAN

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Jumlah Populasi Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 28 3.2 Jumlah dan Sampel Penelitian Kemampuan Menemukan

Ide Pokok Paragraf Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 29 3.3 Rincian Instrumen Penelitian Kemampuan Menemukan

Ide Pokok Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 30 3.4 Indikator Penilaian Kemempuan Menemukan Ide Pokok Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun

Pelajaran 2013/2014 ... 32 3.5 Tolok Ukur Penilain ... 32 4.1 Data Skor kemampuan menemukan ide pokok paragraf pada siswa

kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014 ... 33 4.2 Kemampuan menemukan ide pokok paragraf pada siswa

kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014 ... 34 4.3 Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Awal Paragraf pada Siswa

Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 35 4.4 Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Tengah Paragraf pada Siswa SMA

Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014. ... 36 4.5 Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Akhir Paragraf pada Siswa

Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 37 4.6 Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Awal dan di Akhir Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun

(17)

Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 39

4.8 Distribusi Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Awal Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 40 4.9 Distribusi Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Tengah Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 44 4.10 Distribusi Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Akhir Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 48 4.11 Distribusi Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Awal dan di Akhir

Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 52 4.12 Distribusi Frekuensi Menemukan Ide Pokok di Seluruh Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 55 4.13 Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf Tiap Indikator

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran

2013/2014 ... 60 4.14 Persentase Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf Setiap Indikator

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran

(18)

ix

DAFTAR GRAFIK

Grafik Halaman

4.1 Persentase Tingkat Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 40 4.2 Persentase Kemampuan Menemukan Ide Pokok di Awal Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 41 4.3 Persentase Kemampuan Menemukan Ide Pokok di Tengah Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 45 4.4 Persentase Kemampuan Menemukan Ide Pokok di Akhir Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 50 4.5 Persentase Kemampuan Menemukan Ide Pokok di Awal dan di Akhir

Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 53 4.6 Persentase Kemampuan Menemukan Ide Pokok di Seluruh Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 57 4.7 Perbandingan Rata-rata Menemukan Ide Pokok Paragraf

pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu

(19)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi, untuk menyampaikan pesan dari sesorang kepada orang lain, atau dari penulis kepada pembaca, dari pembaca kepada pendengar. Seandainya manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa, manusia akan kesulitan mengungkapkan perasaan, ide, dan pendapatnya. Dengan bahasa manusia dapat menyampaikan pikiran dan gagasan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa terangkai dalam kalimat yang saling berkaitan. Rangkaian kalimat tersebut disusun berdasarkan aturan tertentu sehingga makna yang dikandung dapat dibatasi, diperluas, dan diperjelas. Bentuk-bentuk kalimat inilah yang dapat dipelajari dalam bahasa Indonesia.

Pembelajaran bahasa Indonesia berperan dalam menentukan perkembangan intelektual dan emosional seseorang. Dalam pendidikan di sekolah, peserta didik diarahkan untuk dapat berbahasa secara baik dan benar. baik secara lisan maupun tulisan. Selain itu, kemahiran berbahasa Indonesia diperlukan peserta didik agar dapat menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia harus mendapat prioritas dalam kegiatan belajar-mengajar.

(20)

2

bahasa Indonesia pada SMA dilaksanakan sejak kelas X sampai dengan kelas XII. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia adalah, untuk melatih siswa agar terampil berbahasa Indonesia. Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek yaitu keterampilan menyimak atau mendengarkan (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills). Siswa dikatakan terampil berbahasa jika mengusai empat aspek tersebut, setiap keterampilan mempunyai hubungan yang erat dengan tiga keterampilan lainnya karena pada prinsipnya keterampilan-keterampilan berbahasa itu merupakan satu kesatuan. Keterampilan berbahasa yaitu menyimak dan berbicara terjadi dalam komunikasi lisan, sedangkan dua keterampilan berbahasa berikutnya yaitu membaca dan menulis terjadi dalam komunikasi tulis.

Salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa SMA kelas X adalah keterampilan membaca, selain keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis. . Keterampilan membaca merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif, yaitu suatu keterampilan untuk menangkap, menerima, menyerap, dan memperoleh pesan berupa pikiran, gagasan, perasaan, kemauan dan fakta yang diungkapkan oleh pihak lain melalui bahasa tulis. Membaca merupakan sebuah kegiatan atau keterampilan berbahasa yang banyak dilakukan oleh kalangan intelektual, termasuk oleh kaum peserta didik.

(21)

Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Nurhadi (1987:13) mendefinisikan membaca pada hakikatnya adalah proses berpikir yang mengaktifkan daya nalar dengan melibatkan aspek-aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membedakan, membandingkan, menemukan, menganalisis, mengorganisasi, dan pada akhirnya menerapkan apa-apa yang terkandung dalam bacaan. Dengan kata lain, ketepatan dan kecepatan membaca yang memadai sangat dibutuhkan. Membaca bukan hanya merupakan upaya menafsirkan lambang-lambang tertulis, tetapi lebih jauh dari itu yakni adanya upaya memahami makna dari lambang-lambang tersebut. Seperti dalam membaca suatu teks atau karangan.

Suatu karangan dapat dikatakan sebagai suatu yang abstrak. Untuk memahami hal tersebut, karangan itu harus dibagi menjadi bagian kecil yang kita kenal dengan paragraf. Paragraf adalah satuan pengembangan terkecil dari suatu karangan (Tampubolon, 1986: 86). Dengan demikian, paragraf merupakan satuan terkecil dari sebuah karangan. Kalimat-kalimat dalam paragraf menunjukan kesatuan suatu pikiran yang saling berkaitan baik isinya maupun bentuknya.

(22)

4

paragraf yang dibacanya. Dengan demikian seorang dapat mengungkapkan pikiran atau gagasannya kepada pembaca malalui sebuah paragraf.

Bicara mengenai paragraf, tidak akan pernah dapat dipisahkan dengan ide pokok. Ide pokok merupakan intisari sebuah bacaan. Ide pokok dapat ditemukan di semua bagian buku. Buku keseluruhan mempunyai ide pokok yang umum, kemudian tiap bab mempunyai ide pokok yang sedikit khas, setiap bab terbagi lagi menjadi bagian bab yang yang mempunyai ide pokok yang lebih khas lagi dan setiap bagian bab terbagi menjadi paragraf yang mengandung ide pokok yang sangat khas.

Berkenaan dengan hal tersebut, Soedarso (2005: 66-67) mengungkapkan, lazimnya ide pokok berada di akhir paragraf, di tengah paragraf, di awal paragraf, di awal dan di akhir paragraf, atau adakalanya di seluruh paragraf. Dalam satu paragraf ada kalimat pokok dan atau kalimat kunci.

Kalimat tersbut mengandung ide pokok paragraf, kalimat lainnya adalah kalimat pendukung yang memaparkan, menjelaskan, melukiskan, menjabarkan, mendiskripsikan atau menyajikan contoh-contoh ide pokok. Dalam membaca paragraf, yang terutama harus ditemukan ialah pikiran pokok (Tampubolon, 1986: 87).

(23)

nonsastra dengan teknik membaca cepat (250 kata/menit), dan indikator yang harus dicapai siswa SMA/MA kelas X adalah menemukan ide pokok paragraf dalam teks (Depdiknas: 2006).

Untuk dapat menemukan ide pokok paragraf, siswa harus memahami keseluruhan teks terutama ide pokok atau pikiran pokok yang disampaikan. Selain itu untuk dapat menemukan ide pokok paragraf, pembaca tidak akan terbebas dari kalimat satu dengan kalimat yang lain yang saling berkaitan, karena kalimat yang satu dengan kalimat yang lain tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat ditafsirkan tiap kalimat. Dengan demikian, siswa dapat menemukan informasi secara utuh dari yang disampaikan oleh penulis. Berdasarkan hal yang telah disampaikan tersebut, penulis merasa perlu melakukan penelitian mengenai kemampuan menemukan ide pokok paragraf pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014.

(24)

6

Penelitian yang berkaitan dengan ide pokok paragraf pernah dilakukan oleh Neli Soraya (2006), mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dengan judul “Kemampuan Mengidentifikasi Ide Pokok Paragraf Pada Siswa Kelas X SMA Tri Sukses Natar Tahun Pelajaran 2010/2011”.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Neli Soraya, subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Tri Sukses Natar, sedangkan subjek yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu. Berdasarkan sumber yang telah disebutkan di atas, penulis ingin mengetahui bagaimanakah kemampuan menemukan ide pokok paragraf pada subjek yang lain yaitu siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian tentang “Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran

2013/2014”.

1.2Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, munculah beberapa permasalahan dalam penelitian yang akan dilakukan penulis.

1.2.1 Rumusan Masalah

(25)

1.2.2 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam penelitian ini.

1. Bagaimana kemampuan siswa menemukan ide pokok paragraf dari lima indikator yang diteliti?

2. Bagaimana tingkat kemampuan menemukan ide pokok paragraf yang dicapai siswa dari masing-masing indikator?

1.3Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menemukan ide pokok paragraf pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014 ditinjau dari indikator menemukan ide pokok di awal paragraf, menemukan ide pokok di tengah paragraf, menemukan ide pokok di akhir paragraf, menemukan ide pokok di awal dan di akhir paragraf, menemukan ide pokok di seluruh paragraf.

1.4 Manfaat Penelitian

(26)

8

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut.

1. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014.

2. Objek penelitian ini adalah kemampuan menemukan ide pokok paragraf pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014. Aspek yang diteliti yaitu sebagai berikut.

a) ide pokok di awal paragraf; b) ide pokok di tengah paragraf; c) ide pokok di akhir paragraf;

d) ide pokok di awal dan di akhir paragraf; e) ide pokok di seluruh paragraf.

3. Tempat penelitian adalah SMA Negeri 2 Pringsewu yang beralamat di jalan Mekarsari No. 288 Rejosari, kabupaten Pringsewu.

(27)

II. LANDASAN TEORI

2. 1 Konsep Dasar Paragraf

Mendengar istilah paragraf atau alinea di telinga sudah tidak asing, karena sudah sangat akrab sekali dengan istilah tersebut. Yang digunakan dalam percakapan baik tulis maupun lisan. Akan tetapi, jika disinggung apa itu yang disebut atau dimaksud dengan paragraf, maka jawaban yang dituturkan akan beragam. Beberapa pendapat di bawah ini akan memperjelas tentang pengertian paragraf.

2.1.1 Pengertian Paragraf

Paragraf merupakan jalan yang ditempuh oleh penulis untuk menyampaikan buah pikirannya (Soedarso, 2005: 66). Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup (Akhadiah, 1988: 144).

(28)

10

Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah dijabarkan di atas, penulis menyimpulkan bahwa paragraf adalah gabungan kalimat yang menyampaikan sebuah pikiran yang mengandung pikiran pokok.

Contoh Paragraf

Sampah selamanya selalu memusingkan. Berkali-kali masalahnya diseminarkan dan berkali-kali pula jalan pemecahannya dirancang. Namun, keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki tetap menjadikan sampah sebagai masalah yang pelik. Pada waktu seminar-seminar itu berlangsung, penimbunan sampah terus terjadi. Hal ini mengundang keprihatinan kita karena masalah sampah banyak sedikitnya mempunyai kaitan dengan masalah pecemaran air dan banjir. Selama pengumpulan, pengangkutan, pembuangan akhir, dan pengolahan sampah itu belum dapat bilaksanakan dengan baik, selama itu pula sampah menjadi masalah.

Paragraf di atas terdiri dari enam kalimat, dan semua kalimat membicarakan soal sampah. Oleh sebab itu, paragraf tersebut mempunyai topik “masalah sampah” karena pokok permasalahan dalam paragraf itu adalah sampah.

Topik paragraf adalah pikiran utama atau dikenal juga dengan ide pokok paragraf. Semua pembicaraan dalam paragraf tersebut terpusat pada pikiran utama atau ide pokok. Ide pokok itu lah yang menjadi topik persoalan atau pokok pembicaraan. Dengan demikian, apa yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah paragraf, itulah topik paragraf. Topik dijabarkan dalam kalimat topik atau kalimat utama.

2.1.2 Ide Pokok

Ide pokok atau pikiran pokok paragraf ialah kesimpulan yang ditarik dari isi kalimat-kalimat yang membentuk paragraf itu (Tampubolon, 1986: 87).

(29)

bagian bab yang mempunyai ide pokok lebih khas lagi dan setiap bagian bab terbagi menjadi paragraf yang mengandung ide pokok yang sangat khas (Soedarso, 2005: 66). Paragraf merupakan jalan yang ditempuh oleh penulis untuk menyampaikan buah pikirannya. Hal ini dimaksukan untuk memudahkan membaca. Dalam satu paragraf ada kalimat kunci. Kalimat itu mendukung ide pokok paragraf. Kalimat lainnya adalah kalimat pendukung, yang menguraikan, menjelaskan, melukiskan, menjabarkan, atau menyajikan contoh-contoh ide pokok.

Dalam paragraf terdapat struktur, organisasi, dan tujuan. Bila Anda membaca, hendaklah Anda perhatikan paragraf secara spesifik serta ikutilah organisasi buah fikirannya, carilah ide pokoknya, dan detail yang mengikutinya.

Tiap penulis mempunyai gaya tersendiri dalam meletakan ide pokoknya. Jika Anda mengenalinya akan mudah memahaminya. Lazimnya ide pokok berada di awal paragraf, di tengah paragraf, di awal dan di akhir paragraf serta di seluruh paragraf (Soedarso, 2005: 66-67).

Tipe Paragraf

(30)

12

Contoh Paragraf

Dua buah satuan waktu yang utama kita pakai sekarang ini ialah hari dan tahun. Kedua pengukuran waktu itu berasal dari ketentuan yang didasarkan pada gerakan yang dibuat oleh bumi. Cara bumi berputar pada sumbunya memberikan kepada kita hari-hari yang berdasarkan kedudukan matahari dipandang dari segi berpijak di bumi. Perjalanan yang ditempuh bumi berkeliling matahari memberikan kepada kita perhitungan tahun berdasarkan letak matahari dipandang dari arah bumi. (Tampubolon, 1986: 88).

Paragraf di atas memperlihatkan bahwa kalimat pertama merupakan kalimat topik yang mendukung ide pokok atau gagasan utama “satuan waktu yang utama kita

pakai”. Kalimat-kalimat selanjutnya hanya merupakan perincian dan penjabaran lebih lanjut dari ide pokok tersebut.

Gambar 2.4 Ide Pokok di Akhir Paragraf Contoh Paragraf:

(31)

Paragraf di atas memperlihatkan bahwa ide pokok atau gagasan utama terdapat pada kalimat terakhir, yang sekaligus menjadi kalimat topiknya. Kalimat-kalimat senelumnya merupakan penjelasan atau pokok-pokok pikiran yang lebi kecil yang disusun sedemikian rupa, sehingga berangsur-angsur menuju kepada klimaks atau

gagasan utamanya pada akhir kalimat, yaitu “melalui manusia kita mendekati

dunia kebendaan”.

Gambar 2.5 Ide Pokok di Tengah Paragraf

Contoh Paragraf:

Teman-teman sekelas Tono yang tergolong pandai dan sangat rajin belajar diterima di SMA 1. Teman-teman Tono yang telah lulus SMP dengan nilai rata-rata tujuh diterima di SMA 2. Semua teman-teman Tono merasa senang dan bergembira karena cita-cita mereka setahap tercapai. Sedangkan Tono belum bisa mencapai setahap cita-citanya. Tono gagal menempuh EBTA di SMP. Kegagalan Tono karena Tono malas belajar dan sangat nakal di sekolah. Kini, kehampaanlah yang diterima dan dialami Tono. Kesedihanlah yang dirasakan Tono.

Paragraf di atas memperlihatkan bahwa ide pokok atau gagasan utama terletak di tengah paragraf maka pikiran penjelas menguraikan lebih dahulu sampai

(32)

14

merasa senang dan gembira”, kemudian ide pokok atau gagasan utama diuraikan

kembali.

Gambar 2.6 Ide Pokok di Awal dan Akhir Paragraf Contoh Paragraf:

Program bimbingan dan penyuluhan tidak hanya bersifat penyembuhan, melainkan juga pencegahan dan pengembangan yang diberikan kepada semua siswa di sekolah yang bersangkutan. Pelayanan bimbingan dilakukan untuk lebih menjamin tercapainya perkembangan siswa secara optimal sehingga mereka dapat mengembangkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menjadi individu yang mampu mandiri. Kemandiriannya ini kemudian dapat digunakan untuk memberi sumbangan yang berarti kepada masyarakatnya serta membina hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk takwa kepada-Nya. Jadi, pelayanan bimbingan ini tidak berbatas pada bimbingan belajar, melainkan mencakup perkembangan pribadi dan kesejahteraan siswa di sekolah, linhkungan keluarga dan masyarakat. Analisis Pendidikan (dalam Tampubolon, 1986: 91).

(33)

Gambar 2.7 Ide Pokok di Seluruh Paragraf Contoh Paragraf:

Baru jam lima waktu Tokyo. Kereta api paling cepat pada jam enam nanti baru akan tiba, setelah kereta terakhir dari Pekanbaru tiba dan berangkat menuju Sijunjung. Orang-orang pada tiduran atau mengorok di bawah pohon karet, melupa-lupakan puasa. Beberapa pedagang Minang kelihatan bermain domino. Anis kembali berjalan ke warung Haji Usman. Dan Perangpun Usai (Tampubolon, 1986: 92).

Paragraf di atas memperlihatkan bahwa ide pokok atau gagasan utama terletak di seluruh paragraf. Dalam hal ini tidak terdapat kalimat yang khusus yang menjadi kalimat topiknya. Paragraf semacam ini terutama di jumpai dalam uraian-uraian yang bersifat deskripsi atau naratif.

2.1.2.1 Menemukan Ide Pokok

(34)

16

Jadi ide pokok dapat ditemukan pada. 1. Buku keseluruhan.

2. Ide pokok bab.

3. Ide pokok bagian bab/sub-bab. 4. Ide pokok paragraf.

Tahap 1

2 3 4

Gambar 2.2 Menemukan Ide Pokok

Dari empat ide pokok yang dapat ditemukan pada setiap buku meliputi: ide pokok buku keseluruhan, ide pokok bab, ide pokok bagian bab/subbab, dan ide pokok paragraf, penulis hanya membatasi pada ide pokok paragraf saja.

2.1.2.2Cara Menemukan Ide Pokok

Ada beberapa cara atau langkah-langkah yang harus ditempuh pembaca untuk menemukan ide pokok pada sebuah paragraf. Menurut (Soedarso, 2005: 65) ada enam langkah dalam menemukan ide pokok, yaitu sebagai berikut.

(35)

seraplah idenya dan bergeraklah lebih cepat, tetapi jangan kehilangan pengertian.

2. Hendaklah Anda membaca dengan cepat, dan cepatlah mengerti idenya, serta teruskan Anda membaca ke bagian lain.

3. Anda harus melecut diri untuk cepat mencari arti sentral. Hendaklah Anda kurangi kebiasaan menekuni detail kecil. Cepatlah Anda bereaksi terhadap pokok suatu karangan dengan cermat.

4. Anda memang harus melakukan dengan cepat tetapi Anda harus ingat terhadap kefleksibelan sehingga cara membaca adakalanya diperlambat. Janganlah Anda terlalu cepat membaca di luar yang normal, sehingga kehilangan pemahaman.

5. Rasakan bahwa Anda membaca lebih cepat dari biasanya. Yang tidak layak diperhatikan hendaklah Anda pandang cepatdan alihkan perhatian Anda ke pokok. Janganlah Anda terlalu menghiraukan detail kecil. Selesaikan bacaan Anda tanpa membuang waktu.

6. Cepat Anda dapatkan buah pikiran pengarang tetapi jangan Anda tergesa-gesa hingga mengakibatkan ketegangan. Ketegangan dan ketergesaan tidak akan membantu memahami dengan cepat.

2.1.3 Fungsi Paragraf

(36)

18

fungsi paragraf yaitu sebagai alat yang digunakan oleh penulis untuk menyampaikan pikiran atau gagasan.

2.1.4 Ciri-ciri Paragraf

Paragraf memiliki ciri atau karakteristik, dan ciri tersebut yaitu sebagai berikut. 1) Setiap paragraf mengandung makna, pesan, pikiran, atau pada umumnya

paragraf baru dibangun oleh sejumlah kalimat. 2) Umumnya paragraf dibangun oleh sejumlah kalimat. 3) Paragraf adalah satu kesatuan yang koheren dan padat. 4) Paragraf adalah satu kesatuan ekspresi pikiran.

5) Kalimat-kalimat dalam paragraf tersusun secara logis dan sistematis (Suyanto, 2011: 66-67).

Berdasarkan fungsinya, kalimat yang membangun paragraf atau alinea pada umumnya dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu (1) kalimat topik/kalimat pokok, dan (2) kalimat penjelas/pendukung. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi ide pokok atau ide utama alinea.

2.2 Unsur-unsur Paragraf

(37)

1) transisi (penghubung) 2) kalimat topik

3) kalimat pengembang 4) kalimat penegas

unsur transisi

kalimat topik

akalimat pengembang

kalimat penegas

Gambar 2.1 Unsur-unsur Paragraf

Keempat unsur paragraf tersebut, kehadirannya kadang-kadang hanya sebagian, kadang-kadang secara bersamaan dalam satu paragraf (Suyanto, 2011: 68).

2.2.1 Transisi (Penghubung)

Transisi ialah penanda atau penghubung intarparagraf. Transisi berfungsi sebagai penghubung jalan pikiran dalam sebuah paragraf. Kata-kata transisional dan konjungsi dalam paragraf merupakan petunjuk bagi pembaca dari kalimat yang satu ke kalimat berikutnya. Adapun beberapa contoh transisi (penghubung) adalah, seperti, kemudian, selanjutnya, karena, berikutnya, oleh sebab itu, oleh karena itu. Kata tersebut juga mengingatkan pembaca apakah kalimat baru bergerak searah dengan kalimat sebelumnya.

(38)

20

Bantuan tersebut berupa kata-kata atau frasa-frasa transisi sebagai penghubung atau katalisator antara satu gagasan dengan gagasan lainnya, atau antara kalimat dengan kalimat lainnya (Keraf, 1980: 79).

2.2.2 Kalimat Topik

Kalimat topik adalah kalimat yang berisi ide pokok atau ide utama (Finoza, 2008: 183). Berkaitan dengan hal tersebut, Tampubolon (1986: 86) mengungkapkan bahwa kalimat topik mengandung pikiran pokok paragraf, dan kalimat-kalimat jabaran mengandung isi yang merupakan jabaran pikiran pokok tersebut.

2.2.2.1Ciri Kalimat Topik

Kalimat topik mempunyai ciri sebagai berikut.

1) Merupakan kalimat lengkap yang bisa berdiri sendiri.

2) Mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci dan diuraikan lebih lanjut.

3) Mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat lain.

4) Dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung dan frasa transisi.

2.2.3 Kalimat Pengembang

(39)

untuk kalimat topik dan satu untuk penegas, sisanya sembulan. Itulah kalimat pengembang atau 75%.

2) Bila transisi tidak berupa kalimat pengembanganya berjumlah sepuluh atau 83,3%.

3) Bila paragraf tersebut tanpa transisi dan penegas maka jumlah kalimat pengembang sebelas atau 91,6%.

Dengan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa, sebagian besar kalimat dalam suatu paragraf termasuk kategori kalimat pengembang. Susunan dan urutan kalimat pengembang tidak sembarangan. Urutan kalimat pengembang sebagai perluasan pemaparan ide pokok yang bersifat abstrak menuruti hakikat ide pokok. Pengembangan kalimat topik yang bersifat kronologis biasanya menyangkut hubungan antara benda atau kejadian dengan waktu. Urutannya masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Bila pengembangan kalimat topik berhubungan dengan jarak (psasial), biasanya menyangkut hubungan antara benda, peristiwa, atau hal dengan ukuran jarak. Urutannya dimulai dari jarak yang paling dekat, lebih jauh, dan paling jauh. Selanjutnya, bila kalimat topik berhubungan dengan sebab-akibat, maka kemungkinan urutannya sebab dinyatakan terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan akibatnya ataupun sebaliknya.

2.2.4 Kalimat Penegas

(40)

22

Fungsi kalimat penegas ada dua. Pertama, sebagai pengulang atau penegas kembali kalimat topik, dan kedua sebagai daya penarik bagi para pembaca atau sebagai selingan untuk menghilangkan kejemuan.

Apabila kita bandingkan antara kedudukan kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat penegas, maka ada persamaan dan perbedaan. Jumlah kalimat penagas dalam kalimat topik sama, makna yang terkandung dalam kalimat penegas dan kalimat topik kurang lebih sama, tetapi mungkin diutarakan dengan redaksi yang berbeda (Suyanto, 2011: 71).

2.2.4.1Ciri-ciri Kalimat Penegas

Kalimat penegas memiliki ciri sebagai berikut,

1) sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti); 2) arti kalimat ini kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan

kalimat lain dalam satu alinea;

3) pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung dan frasa transisi;

4) isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lain yang bersifat mendukung kalimat topik (Finoza, 2008: 183).

2.3 Jenis-jenis Paragraf

(41)

paragraf induktif, (3) paragraf campuran, (4) paragraf perbandingan, (5) paragraf pertanyaan, (6) paragraf contoh, (7) sebab-akibat, (8) paragraf perulangan, dan (9) paragraf definisi.

1. Paragraf Deduktif

Kalimat topik dikembangkan dengan pemaparan ataupun deskrpsi sampai bagian-bagian kecil sehingga pengertian kalimat topik yang bersifat umum menjadi jelas (umum-khusus). Paragraf yang cara pengembangannya seperti inilah yang disebut paragraf deduktif (umum-khusus).

Contoh:

Untuk memerangi kemiskinan, berbagai cara dapat ditempuh, berbagai strategi dapat dijalankan bergantung pada teori atau interpretasi dari keadaan yang dihadapi. Para pengambil keputusan biasanya dihadapkan pada berbagai pilihan yang tersedia dengan segala akibatnya, baik yang positif maupun yang negative. Salah satu pilihan ekstrem yang secara teoretis pernah dilontarkan adalah menghilangkan penduduk miskin dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Menurut teori ini, yang paling penting ialah bagaimana menciptakan suatu masyarakat yang bebas dari beban penduduk miskin yang dilihat dari kaca mata ekonomi tidak memiliki produktivitas yang dapat diandalkan.

2. Paragraf Induktif

Berbeda dengan paragraf deduktif, paragraf induktif menempatkan gagasan pokok pada akhir paragraf. Artinya, kalimat topik berada di akhir paragraf. Lahirnya idea tau gagasan pokok ini didahului dengan penjelasan, keterangan, atau data.

Contoh:

(42)

24

sudah habis lupa membelinya kemarin sore. Mau sarapan nasi hangus, mau berpakaian semua baju kotor sehingga terpaksa pakai baju bekas kemarin. Tambah lagi sewaktu menunggu kendaraan umum untuk pergi ke kantor kendaraan selalu penuh. Akhirnya dapat yang kosong, malangnya mogok pula di tengah jalan. Turun dari kendaraan baru melangkah dua-tiga langkah disambut hujan lebat bagai dicurahkan dari langit. Amboi, tidak hanya terlambat dan basah kuyup, tetapi di kantor dapat omelan boss. Sungguh sial benar nasibku pada hari itu.

3. Paragraf Campuran

Paragraf dapat dimulai dengan kalimat topik disusul kalimat pengembangan dan diakhiri kalimat penegas. Sebaliknya, dapat pula kalimat pengembang

dibagi dua ─ sebagian di awal dan sebagian lagi di akhir paragraf, sedangkan

kalimat topiknya di tengah. Paragraf yang terbentuk dengan cara pertama mautun kedua tersebut dinamakan paragraf campuran (kombinasi).

Contoh:

Gengsi irama dangdut semakin meningkat, bila dahulu irama ini dianggap kampungan, peralatan asal ada dan tempat pertunjukannya pun di daerah pinggiran maka kini suasana berubah. Irama dangdut tidak lagi dianggap sebagai kampungan. Peralatannya lengkap, lengkap, megah dan modern tidak kalah dengan peralatan band pop. Biduan dan biduanitanya tidak kalah hebat dari biduan/biduanita band-band terkenal, baik dalam cara berpakaian, bergaya maupun suara. Orkes sudah biasa muncul di pesta-pesta besar, di gedung-gedung megah, bahkan irama dangdut muncul dari tempat-tempat mewah seperti hotel, klub malam, dan mobil-mobil mewah. Jenis irama ini

pun sudah menembus kaum “gedongan” dan kampus.

4. Paragraf Perbandingan

(43)

perbandingan tersebut dalam bentuk yang konkret atau bagian-bagian kecil. Paragraf yang terbentuk dengan cara ini disebut paragraf perbandingan.

Contoh:

Cerpen “Bawang Merah dan Bawang Putih” yang telah dibaca menyiratkan

banyak pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Sifat bawang putih yang begitu penurut, patuh terhadap orang tua, pemaaf dan sabar bagus untuk ditiru terutama pada anak-anak; sedangkan bawang merah tidak sama halnya dengan bawang putih. Bawang merah begitu kejam, serakah, pemarah, dan egois yang tidak baik ditiru pada anak-anak.

5. Paragraf Pertanyaan

Kalimat topik dapat pula dijelaskan dengan kalimat pengembang dalam bentuk kalimat Tanya dan kalimat berita. Paragraf yang terbentuk pada paragraf ini disebut paragraf pertanyaan.

Contoh:

Ibu mulai gelisah, mengapa beliau gelisah? Apakah ada permasalahan yang membebaninya sekarang? Ia sangat gelisah karena adik belum juga pulang dari sekolah, kerena tidak biasanya adik pulang setelat ini.

6. Paragraf Sebab-Akibat

Kalimat topik dikembangkan dengan memberikan sebab atau akibat dari pernyataan pada kalimat topik. Paragraf yang terbentuk dengan cara ini disebut paragraf sebab-akibat.

Contoh:

(44)

26

seperti kumpulan-kumpulan sanjak Taufiq Ismail Tirani, Benteng, kumpulan sanjak-sanjak W. Situmeang Kebangkitan, dan lain-lain. KBI (dalam Keraf, 1980: 95).

7. Paragraf Contoh

Kalimat topik dikembangkan dengan memberikan contoh-contoh sehingga kalimat topik menjadi jelas pengertiannya. Paragraf yang terbentuk dengan cara ini disebut dengan paragraf contoh.

Contoh:

Tes biasanya menilai keterampilan seseorang. Misalnya, kita ingin menilai keterampilan seseorang dalam mengemudikan mobil: maju, mundur, belok, kencang, lambat, dan seterusnya. Contoh lain, menilai kecakapan memotong rambut seseorang, lalu diamati bagaimana caranya memegang gunting, sisir, caranya memotong rambut, menyisirnya dan lain-lain. Selanjutnya, bila ingin mengukur kemampuan menembak bola dari seorang pemain, maka orang tersebut diberikan kesempatan untuk menembakkan bola ke gawang dari berbagai posisi.

8. Paragraf Perulangan

Kalimat topik dapat pula dikembangkan dengan bagian pengulangan kata/kelompok kata atau bagian-bagian kalimat yang penting. Paragraf yang terbentuk dengan cara ini disebut paragraf perulangan.

Contoh:

(45)

9. Paragraf Definisi

Suatu pengertian atau istilah yang terkandung dalam kalimat topik memerlukan penjelasan panjang lebar agar tepat maknanya ditangkap oleh pembaca. Alat untuk memperjernih pengertian tersebut ialah serangkaian kalimat pengembang. Paragraf yang tersusun dengan cara ini disebut paragraf definisi.

Contoh:

(46)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang sesuai dengan tujuan penelitian, yakni untuk mendiskripsikan kemampuan menemukan ide pokok paragraf pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014.

3.2 Populasi

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 287 siswa yang tersebar dalam sembilan kelas.

Tabel 3.1 Jumlah Populasi Siswa Kelas X SMA Negeri Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014

Kelas L P Jumlah

X 1 14 18 32

X 2 12 20 32

X 3 13 18 31

X 4 15 17 32

X 5 12 20 32

X 6 13 19 32

X 7 13 19 32

X 8 9 23 32

X 9 13 19 32

(47)

3.3 Sampel

Dalam menentukan jumlah sampel, penulis berpedoman pada pendapat Sugiyono (2011: 118) yang menyatakan bahwa bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat mengunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif. Dalam pengambilan sampel, peneliti menggunakan teknik sampling sistematis yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu 1 sampai dengan 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu.

Dalam hal ini pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan memilih kelipatan dari bilangan tujuh, dan pengambilan sampel akan dilakukan berdasarkan nomor urut daftar hadir siswa. Maka yang diambil sebagai sampel pada setiap kelas adalah siswa yang mempunyai nomor daftar hadir 1, 7, 14, 21, dan 28.

(48)

30

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik tes objektif. Teknik ini digunakan untuk melihat kemampuan siswa dalam menemukan ide pokok paragraf. Siswa diberi soal berjumlah 40 soal dengan alokasi waktu (2x45 menit), yang terdiri atas soal di awal paragraf berjumlah 10 soal, di tengah paragraf berjumlah 7 soal, di akhir paragraf berjumlah 11 soal, di awal dan akhir berjumlah 6 soal, di seluruh paragraf berjumlah 6 soal. Soal untuk ide pokok di awal paragraf dan di akhir paragraf lebih banyak dari yang lain karena ide pokok di awal paragraf dan di akhir paragraf lebih sering digunakan pengarang dan ditemukan oleh pembaca dibandingkan dengan ide pokok yang lain. Pelaksanan tes dilakukan dengan menyebarkan instrumen tes kepada siswa.

Adapun langkah-langkah dalam mengerjakan soal sebagai berikut. 1. Soal tes dikerjakan secara individu.

2. Waktu yang disediakan adalah dua jam pelajaran (2x45 menit). 3. Tugas dikerjakan pada kertas yang telah disediakan.

Tabel 3.3 Rincian Instrumen Soal Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014

No. Indikator Nomor Soal Jumlah Soal

(49)

paragraf 33, 37, 40 4 Ide pokok di awal dan

akhir paragraf 1, 7, 25, 35, 38, 39 6

5 Ide pokok di seluruh

paragraf 2, 10, 14, 16, 22, 36 6

Jumlah 40 Soal

Instrumen telah diujucobakan pada tanggal 12 November 2013 kepada 27 siswa, dan dari ujicoba tersebut diperoleh data sebagai berikut. Kriteria tingkat kesukaran

≤ 0,24 tergolong sukar berjumlah 15 soal (37,5%), tingkat kesukaran 0,25‒0,75

tergolong sedang berjumlah 20 soal (50%), dan tingkat kesukaran ≥ 0,76

tergolong mudah berjumlah 5 soal (12,5%). Sedangkan kriteria daya pembeda ≤

0,19 harus diganti berjumlah 4 soal, criteria daya pembeda ≥ 0,40 digunakan

berjumlah 33 soal.

Diketahui besar reabilitas tes adalah 1,039. Skor rtt melebihi skor taraf signifikan 1% yaitu 0,403, jadi dapat disimpulkan bahwa instrument layak digunakan sebagai instrument pengumpul data penelitian.

3.5 Teknik Analisis Data

Setelah data diperoleh secara lengkap, data tersebut akan dianalisis dengan cara: 1. membaca setiap jawaban yang dibuat siswa;

2. mengoreksi hasil tes siswa;

3. memberi skor pada hasil tes siswa;

4. menghitung skor yang diperoleh siswa dengan menggunakan rumus sebagai berikut

(50)

32

(51)

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1Simpulan

Berdasarkan pembahasan dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014 dalam menemukan ide pokok paragraf termasuk kategori cukup dengan nilai rata-rata 56.2 dengan rincian sebagai berikut.

1. Kemampuan siswa menemukan ide pokok di awal paragraf tergolong baik dengan nilai rata-rata 69,2.

2. Kemampuan siswa menemukan ide pokok di tengah paragraf tergolong kurang dengan nilai rata-rata 54,5.

3. Kemampuan siswa menemukan ide pokok di akhir paragraf tergolong kurang dengan nilai rata-rata 53,5.

4. Kemampuan siswa menemukan ide pokok di awal dan di akhir paragraf tergolong kurang dengan nilai rata-rata 41,8.

5. Kemampuan siswa menemukan ide pokok di seluruh paragraf tergolong cukup dengan nilai rata-rata 55,9.

(52)

68

5.2 Saran

(53)

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti. Dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Arifin, Zaenal. 2009. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:

Rineka Cipta.

Depdiknas. 2001. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas. 2010. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Bandung: Yrama Widya.

Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia unruk. Jakarta: Diksi Insan Mulia.

Keraf, Gorys. 1980. Komposisi. Flores: Nusa Indah.

Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: CV Sinar Baru.

Soedarso. 2006. Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sugiyono. 2011. Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suyanto, Edi. 2011. Membina, Memelihara, dan Menggunakan Bahasa Indonesia Secara Benar. Yogyakarta: Ardana Media.

(54)

Tampubolon, 1986. Kemampuan Membaca, teknik membaca efektif dan efisien. Bandung: Angkasa Bandung.

Figur

Gambar 2.3 Ide Pokok di Awal Paragraf

Gambar 2.3

Ide Pokok di Awal Paragraf p.29
Gambar 2.4 Ide Pokok di Akhir Paragraf

Gambar 2.4

Ide Pokok di Akhir Paragraf p.30
Gambar 2.5 Ide Pokok di Tengah Paragraf

Gambar 2.5

Ide Pokok di Tengah Paragraf p.31
Gambar 2.6 Ide Pokok di Awal dan Akhir Paragraf

Gambar 2.6

Ide Pokok di Awal dan Akhir Paragraf p.32
Gambar 2.7 Ide Pokok di Seluruh Paragraf

Gambar 2.7

Ide Pokok di Seluruh Paragraf p.33
Gambar 2.2 Menemukan Ide Pokok

Gambar 2.2

Menemukan Ide Pokok p.34
Tabel 3.1 Jumlah Populasi Siswa Kelas X SMA Negeri Pringsewu

Tabel 3.1

Jumlah Populasi Siswa Kelas X SMA Negeri Pringsewu p.46
Tabel 3.2 Jumlah dan Sampel Penelitian Kemampuan Menemukan Ide                  Pokok Paragraf Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu       Tahun Pelajaran 2013/2014

Tabel 3.2

Jumlah dan Sampel Penelitian Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014 p.47
Tabel 3.3 Rincian Instrumen Soal Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014

Tabel 3.3

Rincian Instrumen Soal Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014 p.48
Tabel 3.4 Indikator Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf       pada Siswa Kelas X  SMA Negeri 2 Pringsewu       Tahun Pelajaran 2013/2014

Tabel 3.4

Indikator Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014 p.50

Referensi

Memperbarui...

Outline : Sampel