• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi drug related problems pada pengobatan pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas periode Januari Juni 2009 : kajian obat sistem pencernaan dan sistem pernapasan - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Evaluasi drug related problems pada pengobatan pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas periode Januari Juni 2009 : kajian obat sistem pencernaan dan sistem pernapasan - USD Repository"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

LITA SEPTIANA

NIM : 068114150

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

ii SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

LITA SEPTIANA

NIM : 068114150

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

v

“KEGAGALAN BUKANLAH AKHIR DARI

SEGALANYA, KEGAGALAN HANYA

MERUPAKAN SUATU KEBERHASILAN

YANG TERTUNDA”

Ketika ku terjatuh ku tahu bahwa aku tidak sendiri masih banyak

orang-orang yang menyemangati dan mendukungku sehingga aku mampu

bangkit dari kegagalanku.

Thanks to: All my friends, my family, and my love…

Dedicated to:

My Parents,

My Sist and My Bro,

My Friends,

(6)
(7)
(8)

viii

atas segala penyertaan, kekuatan, kesabaran, kebijaksanaan, berkat dan karunia

yang dilimpahkanNya pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul ” Evaluasi Drug Related Problems pada Pengobatan Pasien

Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Periode

Januari Juni 2009 (Kajian Obat Sistem Pencernaan dan Sistem

Pernapasan)” dengan tepat waktu. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu

syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) pada Program Studi Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis telah mendapatkan pendampingan, penyertaan, dukungan dan

segala bentuk bantuan dari berbagai pihak dalam penyusunan skripsi ini. Oleh

karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Rita Suhadi, M. Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta dan dosen pembimbing serta penguji yang selalu

memberikan arahan, saran, kritik, dan dorongan serta selalu sabar dalam

membimbing sehingga penelitian dan penyusunan skripsi ini dapat berjalan

dengan lancar.

2. Dr. Fenty, M.Kes., Sp.PK selaku dosen penguji yang selalu memberikan

arahan, saran, kritik, dan dorongan serta selalu sabar dalam membimbing

sehingga penelitian dan penyusunan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.

3. Ibu Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang selalu

(9)

ix

menggunakan Rumah Sakit Banyumas sebagai tempat untuk menjalankan

penelitian.

6. Seluruh staff RSUD Banyumas, terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya

selama penulis melakukan penelitian.

7. Keluarga Yemima Haryono, terima kasih atas segala bantuan yang diberikan

kepada penulis selama penulis melakukan penelitian di Banyumas.

8. Adik-adikku Liza Yunita dan Riki Guanwan atas semangat dan kasih sayang

selama ini.

9. Gabriel Agus Kadarman, atas segala cinta, kasih sayang, perhatian, motivasi,

dan nasihat untuk belajar tentang hidup pada penulis selama ini.

10. Teman-teman sekelompok penelitian Yemi dan Valida yang telah membantu

dan memberi semangat kepada peneliti dalam menyusun skripsi.

11. Anak-anak Kost Putri Muria Grace, lusi, Hermin, Linda, Ajeng, Noveli, Eva,

Nancy, Rosa, Rosi, Ribud, Novi, Ana, Lia, Reni, Korry, Ratna, dan Rere atas

kebersamaan dan keceriaannya selama ini.

12. Citra Si mbok, Ciput, Fea, Cita, Tiara, Maya, Yustine, Atik, Yensi, Sisca K.D,

Yacob, Jeffry, Ayem, Nana, Galih atas persahabatan dan kebersamaannya

selama ini.

13. Teman-teman kelas C 2006 dan FKK 2006 atas segala kemurahan hati telah

(10)

x

Dengan segenap kerendahan hati penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi

ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan

saran yang bersifat menyempurnakan dan membangun.

Akhirnya penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi

semua pihak.

(11)

xi

obat sekaligus. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya DRPs. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian DRPs pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas pada tahun 2009. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif.

Hasil yang diperoleh adalah 24 kasus stroke. Jenis stroke yang paling banyak diderita pasien adalah stroke hemoragi sebesar 60 % dan stroke iskemik sebesar 40%, prevalensi stroke meningkat pada usia 55 tahun; laki-laki sebesar 28% dan wanita sebesar 72%; rata-rata lama perawatan pada stroke hemoragi adalah selama 11 hari sedangkan pada stroke iskemik adalah 8 hari. Penggunaan obat sistem pencernaan terbanyak pada pasien stroke adalah ranitidin dan penggunaan obat sistem pernapasan yang paling banyak pada pasien stroke adalah ambroksol. Identifikasi DRPs penggunaan obat sistem pencernaan dan sistem pernapasan pada pasien stroke diperoleh 24 kasus, yang terdiri dari 23 kasus dosis kurang, 2 kasus dosis berlebih, dan 1 kasus efek samping dan interaksi obat. Outcome pasien stroke di Unit Stroke di RSUD Banyumas periode Januari-Juni tahun 2009 adalah membaik 20 orang dan meninggal dunia 4 orang.

(12)

xii

function, that’s way stroke disease need two kind or more of drugs to be consumed at the same time. This will cause DRPs. This research purpose’s is to evaluate DRPs Stroke patients at Banyumas Stroke Unit State Hospital in 2009. This research is a non experimental research with retrospective descriptive evaluation design.

The type of stroke that have been suffering by the patient were 60% hemorrhagic stroke and 40% ischemic stroke, stroke prevalence will be elevated in the age of 55th years old; the prevalence for the man and female were 28% and 72%, respectively; the minimum term of treatment was 4 days and the maximum was 19 days. The most gastrointestinal and respiratory drug that used by stroke patient were ranitidine and ambroxol. The result of DRPs identification shows that 24 cases were less of dose, 2 cases of overdose, and 1 case of side effect and drug adverse reaction. The outcome of stroke patient in Stroke Unit of RSUD Banyumas in January-June 2009 periods were 20 patients was getting well and 4 patients is died.

(13)

xiii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………...

HALAMAN PENGESAHAN...…..

HALAMAN PERSEMBAHAN...

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...

PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH………..………

PRAKATA...…..

INTISARI...

ABSTRACT...

DAFTAR ISI...

DAFTARTABEL...

DAFTAR GAMBAR…………...

DAFTAR LAMPIRAN...

BAB I. PENGANTAR...

A. Latar Belakang Penelitian...

1. Permasalahan...

2. Keaslian penelitian...

3. Manfaat penelitian...

B. Tujuan Penelitian...

1. Tujuan Umum……….………..……..……...

2. Tujuan Khusus………..………...………….. iii

iv

v

vi

vii

viii

xi

xii

xiii

xvii

xix

xxi

1

1

3

4

5

5

5

(14)

xiv

1. Definisi...

2. Gejala……….…..………...….………

3. Faktor Resiko………..……….……..………..

4. Klasifikasi……….………….……

5. Penyebab………...….

6. Gambaran klinis….……….……….……….

7. Epidemiologi……….……..……...

8. Patofisiologi………..………..……..

9. Penatalaksanaan Terapi……….……….

C. Anatomi dan Fisiologi Sistem Saluran Pernapasan………..……

1. Saluran Napas Bagian Atas ……….……….

2. Saluran Napas Bagian Bawah………

D.Gangguan Saluran Pernapasan………..

E.Anatomi dan Fisiologi Sistem Saluran Pencernaan………..

F.Gangguan Saluran Pencernaan……….……….

BAB III. METODE PENELITIAN...

A. Jenis dan Rancangan Penelitian...

B. Definisi Operasional...

C. Subyek Penelitian...

D. Bahan Penelitian... 9

9

9

10

11

11

11

12

14

19

19

20

21

21

22

24

24

25

26

(15)

xv

2. Perencanaan……….………..………....

3. Pengambilan data………..…………...

4. Tata cara penelitian dan pengolahan data………..

5.Pembahasan kasus………..

G. Keterbatasan Penelitian……….………...

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...

A. Karakteristik pasien stroke………..…………..

1. Distribusi kelompok umur……….……

2. Jenis kelamin………

3. Jenis stroke……….………..

4. Lama perawatan………...

B. Pemeriksaan Fisik CT scan………..……….

C. Profil Penggunaan Obat Sistem Pencernaan……….…..……

1. Golongan, Kelompok, Zat Aktif, Jenis Obat………...…………

2. Cara Pemberian Obat……….……..

3. Rata-Rata Penggunaan Obat Per Kasus……….…………..

D. Profil Penggunaan Obat Sistem Pernapasan……….………

1. Golongan, Kelompok, Zat Aktif, Jenis Obat………

2. Cara Pemberian Obat………..……….……..

3. Rata-Rata Penggunaan Obat Per Kasus……….. 27

27

28

30

30

31

31

31

32

33

34

35

36

36

38

39

39

39

40

(16)

xvi

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...

A. Kesimpulan...

B. Saran...

DAFTAR PUSTAKA...

LAMPIRAN...

BIOGRAFI PENULIS………. 51

51

52

53

57

(17)

xvii

Tabel II Perbedaan stroke hemoragi dan stroke iskemik...

Tabel III Data variasi lama perawatan pasien stroke di Unit Stroke

Rumah Sakit Banyumas periode Januari Juni 2009

………...

Tabel IV Golongan, Kelompok, Zat Aktif, Jenis Obat Sistem

Pencernaan yang digunakan pada pengobatan stroke

Hemoragi di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas periode

Januari Juni 2009………...………....

Tabel V Golongan, Kelompok, Zat Aktif, Jenis Obat Sistem

Pencernaan yang digunakan pada pengobatan stroke

Iskemik di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas periode

Januari Juni 2009…..……….……….

Tabel VI Golongan, Zat Aktif, Jenis Obat Sistem Pernapasan yang

digunakan pada pengobatan stroke Hemoragi di Unit

Stroke Rumah Sakit Banyumas periode Januari Juni

2009………..………...………

Tabel VII Golongan, Zat Aktif, Jenis Obat Sistem Pernapasan yang

digunakan pada pengobatan stroke Iskemik di Unit Stroke

Rumah Sakit Banyumas periode Januari Juni

2009……….. 12

34

36

36

39

(18)

xviii

Juni 2009...

Tabel IX DRP dosis kurang pada pasien stroke hemoragi di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Tabel X DRP dosis berlebih pada pasien stroke hemoragi di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009……….…

Tabel XI DRP Efek Samping Obat dan adanya interaksi obat pada

pasien stroke hemoragi di unit stroke RSUD Banyumas

periode Januari Juni 2009……..………

Tabel XII Hasil analisis DRPs penggunaan obat sistem pencernaan

dan sistem pernapasan pada pengobatan stroke Iskemik di

Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas periode Januari Juni

2009...

Tabel XIII DRP dosis kurang pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni 2009……...

Tabel XIV DRP dosis berlebih pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni 2009……... 42

43

43

44

44

45

(19)

xix

Gambar 2 Anatomi Sistem Saluran Cerna ……….………..……..

Gambar 3 Cakupan Penelitian Evaluasi DRPs Pasien Stroke di Unit

Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas periode

Januari Juni 2009……….……..………

Gambar 4 Karakteristik pasien berdasarkan kelompok umur di Unit

Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas periode

Januari Juni 2009……….….….

Gambar 5 Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin di Unit

Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas periode

Januari Juni 2009………..….

Gambar 6 Karakteristik pasien berdasarkan jenis stroke di Unit

Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas periode

Januari Juni 2009………..………….

Gambar 7 Presentase pemeriksaan fisik CT scan pada pasien stroke

di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas

periode Januari Juni 2009...

Gambar 8 Cara pemberian Obat Sistem Pencernaan pada Pasien

Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah

Banyumas Periode Januari Juni 2009…...

Gambar 9 Cara pemberian Obat Sistem Pernapasan pada Pasien 22

24

32

33

34

35

(20)

xx

Gambar 10 Outcome pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum

Daerah Banyumas periode Januari Juni

(21)

xxi

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari-Juni

2009………....

Lampiran 2 Data pengobatan penyakit stroke iskemik pada pasien di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………...

Lampiran 3 Evaluasi DRPs kasus 1 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 4 Evaluasi DRPs kasus 2 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni 2009

……….………..

Lampiran 5 Evaluasi DRPs kasus 3 pada pasien stroke hemoragi di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 6 Evaluasi DRPs kasus 4 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari-Juni

2009………...…….

Lampiran 7 Evaluasi DRPs kasus 5 pada pasien stroke hemoragi di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………..……… 57

74

85

86

87

88

(22)

xxii

Lampiran 9 Evaluasi DRPs kasus 7 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………..………

Lampiran 10 Evaluasi DRPs kasus 8 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………..………

Lampiran 11 Evaluasi DRPs kasus 9 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………..………

Lampiran 12 Evaluasi DRPs kasus 10 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………..………

Lampiran 13 Evaluasi DRPs kasus 11 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………..………

Lampiran 14 Evaluasi DRPs kasus 12 pada pasien stroke hemoragi di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………..………

Lampiran 15 Evaluasi DRPs kasus 13 pada pasien stroke hemoragi di 91

92

93

94

95

(23)

xxiii

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 17 Evaluasi DRPs kasus 1 pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 18 Evaluasi DRPs kasus 2 pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 19 Evaluasi DRPs kasus 3 pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 20 Evaluasi DRPs kasus 4 pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 21 Evaluasi DRPs kasus 5 pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 22 Evaluasi DRPs kasus 6 pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009……… 98

99

100

101

102

103

(24)

xxiv

Lampiran 24 Evaluasi DRPs kasus 8 pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 25 Evaluasi DRPs kasus 9 pada pasien stroke iskemik di unit

stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 26 Evaluasi DRPs kasus 10 pada pasien stroke iskemik di

unit stroke RSUD Banyumas periode Januari Juni

2009………

Lampiran 27 Surat Ijin Penelitian dari RSUD Banyumas……..…..……… 106

107

108

(25)

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga di USA selain penyakit

kardiovakular dan penyakit kanker. Diperkirakan 1 dari 3 orang akan mengalami

stroke dan 1 dari 7 orang akan meninggal karena stroke (Junaidi, 2004). Menurut

perhitungan statistik WHO 2006, stroke merupakan peringkat ketiga dari top ten

of causes death di Indonesia pada tahun 2002 (Anonim, 2006).

Gangguan saluran napas pada pasien stroke dapat terjadi karena

ketidakmampuan pasien menelan (dysphagia) yang dapat menyebabkan

akumulasi sputum sebagai akibat dari penurunan kesadaran, penurunan

kemampuan batuk, dan ketidakmampuan mengeluarkan sekret (Aini, 2007).

Kesulitan menelan juga dapat menyebabkan pneumonia aspirasi karena makanan

atau cairan masuk ke dalam paru (Feigin, 2006). Orang dengan pneumonia sering

kali disertai batuk berdahak, disertai nafas yang pendek, nyeri dada seperti pada

pleuritis, nyeri tajam atau seperti ditusuk, dan kesulitan selama bernafas

(Fransiska, 2000). Untuk itu pasien perlu diberikan obat sistem pernapasan seperti

obat batuk dan obat antiasma untuk mengobati gangguan pada saluran napas

(Aini, 2007).

Gangguan saluran cerna pada pasien dapat disebabkan oleh beberapa

faktor, seperti stres, bakteri, penggunaan obat-obat AINS, kurangnya nutrisi dan

pemakaian Nasogastric Tube (NGT). Hampir seluruh pasien stroke yang dirawat

(26)

di rumah sakit mengalami penurunan kesadaran sehingga perlu dipasang NGT

untuk memasukkan makanan, minum, dan obat-obatan pada pasien (Aini, 2007).

Stres pada pasien stroke dapat menyebabakan gangguan saluran cerna karena

sistem persyarafan di otak berhubungan dengan lambung sehingga otak akan

memicu prostaglandin berlebih yang dapat memicu sekresi asam lambung yang

dapat menimbulkan nyeri lambung (Anonim, 2009a). Pasien stroke juga sering

mengalami rasa nyeri yang disebabkan karena rusak atau terganggunya fungsi

normal dari otak (Sutrisno, 2007). Untuk mengurangi rasa nyeri maka pasien

diberikan obat penghilang rasa nyeri seperti AINS. Masalah sistem pencernaan

yang juga ditemukan adalah konstipasi yang disebabkan karena kurangnya

aktifitas fisik, tirah baring lama, asupan kurang serat, kurang air minum

(Mulyatsih, 2008). Konstipasi merupakan pergerakan tidak nyaman di perut serta

buang besar (BAB) kurang dari tiga kali dalam seminggu dengan buangan yang

keras dan kering. Pada rektum terdapat bagian yang membesar (disebut ampulla)

yang menjadi tempat penampungan tinja sementara. Jika tindakan pembuangan

terus ditahan atau dihambat maka tinja dapat kembali ke usus besar yang

menyebabkan air pada tinja kembali diserap, dan tinja menjadi sangat padat

(Anonim, 2009b). Mengejan pada saat konstipasi dapat menyebabkan pasien

mengalami stres sehingga tekanan di dada meningkat dan memperlambat

kembalinya aliran darah ke jantung (Anonim, 2009c).

Penelitian mengenai DRPs dalam pengobatan pasien stroke dilakukan

karena pengobatan stroke membutuhkan kecermatan dan ketepatan. Pemberian

(27)

keberhasilan terapi selain ketepatan diagnosis. Selain itu, pengobatan stroke juga

memerlukan jangka waktu yang panjang sehingga sebagian besar pasien stroke

menjalani pengobatan di instalasi rawat inap. (Anonim 1995) menyebutkan bahwa

DRPs terjadi kira-kira sepertiga bagian yang berkaitan dengan pasien rawat inap.

DRPs dalam pengobatan pasien akan merugikan pasien. DRPs akan

mengakibatkan penurunan kualitas hidup pasien, meningkatkan biaya pengobatan

yang dikeluarkan oleh pasien, serta meningkatkan rata-rata angka kematian pasien

(Nguyen, 2000).

Harian umum Suara Merdeka memberitakan bahwa RSUD Banyumas

adalah institusi kesehatan milik pemerintah kabupaten Banyumas yang merupakan

rumah sakit pertama di Indonesia yang mendapat sertifikat akreditasi penuh

tingkat lengkap dari Departemen Kesehatan RI pada tahun 2004. Selain itu,

RSUD Banyumas memiliki fasilitas Unit Stroke. Di mana unit stroke ini

merupakan tempat untuk khusus merawat pasien stroke, yang tentu saja pelayanan

yang diberikan lebih baik bila dibandingkan dengan pasien stroke yang dirawat di

luar unit stroke. Di RSUD Banyumas kasus stroke masuk dalam ‘Sepuluh Besar

Penyakit Rawat Inap di Tahun 2008’. DRPs pengobatan pasien stroke instalasi

rawat inap pada rumah sakit ini belum pernah dilakukan, hal ini mendorong

peneliti untuk melakuakan penelitian ini (Hartono, 2004).

1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka

(28)

a. Seperti apa karakteristik pasien stroke di Unit Stroke RSUD Banyumas pada

Periode Januari Juni 2009 meliputi umur, jenis kelamin, penyakit penyerta,

jenis stroke , lama perawatan?

b. Berapa persentase pasien stroke di Unit Stroke RSUD Banyumas pada

Periode Januari Juni 2009 yang melakukan CT scan kepala?

c. Seperti apa profil penggunaan obat sistem pencernaan pada penyakit stroke ?

d. Seperti apa profil pengunaan obat sistem pernapasan pada penyakit stroke ?

e. Seperti apa drug related problems yang meliputi:

1) Obat salah (wrong drug) ?

2) dosis kurang (dosage too low) ?

3) dosis berlebih (dosage too high) ?

4) reaksi efek samping obat (adverse drug reaction) dan interaksi obat (drug

interaction) ?

f. Bagaimana outcome pasien stroke di Unit Stroke di RSUD Banyumas pada

Periode Januari Juni 2009?

2. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Pada

Pengobatan Pasien Stroke di Unit Stroke RSUD Banyumas Periode Januari Juni

2009 belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini merupakan penelitian

yang pertama pada tempat tersebut. Penelitian terkait pernah dilakukan oleh Meita

Kriamayanti (2007) dengan judul ”Evaluasi Drug Related Problems pada

(29)

Yogyakarta Tahun 2005. Penelitian ini berbeda dalam hal kondisi subyek

penelitian, tempat penelitian, dan waktu penelitian. Hal ini, mendorong penulis

untuk melakukan penelitian ini.

3. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberi referensi dan informasi

dalam pengobatan pasien stroke di rumah sakit khususnya RSUD Banyumas

terkait dengan penggunaan obat sistem pencernaan dan sistem pernapasan.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui profil penggunaan obat sistem pencernaan dan sistem pernapasan selama rawat inap pada penderita stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas periode Januari Juni 2009.

2. Tujuan Khusus

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:

a. memberikan gambaran karakteristik pasien stroke meliputi umur, jenis

kelamin, penyakit penyerta, jenis stroke , lama perawatan.

b. Mengetahui persentase pasien stroke di Unit Stroke RSUD Banyumas pada

Periode Januari Juni 2009 yang melakukan CT scan kepala

c. Mengetahui profil penggunaan obat sistem pencernaan pada penyakit stroke .

(30)

e. Mengevaluasi adanya DRPs pada obat sistem pencernaan dan sistem

pernapasan yang meliputi adanya dosis kurang, dosis berlebih, reaksi efek

samping obat dan interaksi obat.

f. Mengetahui outcome pasien stroke di Unit Stroke di RSUD Banyumas pada

(31)

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Drug Related Problems

Drug Related Problems didefinisikan sebagai peristiwa tidak diinginkan

yang melibatkan atau dicurigai melibatkan terapi obat yang benar-benar atau

berpotensi bertentangan dengan hasil yang diharapkan oleh pasien. Drug Related

Problems terjadi kira-kira sepertiga bagian pada pasien yang menjalani rawat inap

dan mengakibatkan penurunan kualitas hidup pasien, meningkatkan biaya

pengobatan yang dikeluarkan pasien, serta meningkatkan rata-rata kematian pada

pasien dengan usia 55-65 tahun (Anonim, 1995; Nguyen, 2000; Anonim 2005).

Drug Related Problems terdiri dari aktual DRPs, yaitu masalah yang sedang

terjadi berkaitan dengan terapi yang sedang diberikan pada penderita dan

potensial DRPs, yaitu masalah yang diperkirakan akan terjadi berkaitan dengan

terapi yang sedang diberikan pada penderita (Cipolle et al, 1998).

Masalah-masalah dalam kajian DPRs antara lain:

a. Butuh obat (need for additional drug therapy)

Pasien dengan kondisi yang membutuhkan kombinasi obat, pasien kronis

butuh kelanjutan terapi obat, pasien kondisi baru, dan pasien dengan kondisi

yang beresiko dan membutuhkan obat untuk pencegahan.

b. Tidak perlu obat (unnecessary drug therapy)

Pasien dengan terapi non farmakologi, pasien mendapat obat dalam jumlah

toksis, kondisi pasien akibat drug abuse, tidak ada indikasi, pemakaian

(32)

multiple drug yang seharusnya cukup single drug terapi, dan pasien minum

obat untuk mencegah efek samping obat lain yang seharusnya dihindari.

c. Obat salah (wrong drug)

Obat yang diberikan tidak efektif (kurang sesuai indikasi), obat tersebut

efektif tetapi tidak ekonomis, pasien memilikki alergi terhadap obat tersebut,

obat yang diberikan mempunyai kontraindikasi dengan obat lain yang

dibutuhkan, efektif namun bukan yang paling aman, adanya kombinasi yang

tidak perlu dan pemberian antibiotika yang sudah resisten terhadap infeksi

pasien.

d. Dosis kurang (dosage too low)

Dosis yang digunakan terlalu rendah untuk memberikan respon, konsentrasi

obat dibawah therapeutic range, dan dosis dan interval obat tidak cukup.

e. Dosis berlebih (dosage too high)

Dosis yang digunakan pasien terlalu tinggi untuk memberikan repon,

konsentrasi obat di atas therapeutic range, dan akumulasi obat karena

penyakit kronis.

f. Reaksi efek samping obat (adverse drug reaction) dan interaksi obat (drug

interaction)

Adanya reaksi alergi terhadap obat tertentu, faktor resiko yang membahayakan

pasien, interaksi dengan obat atau makanan dan hasil laboratorium berubah

akibat obat.

(33)

Medication error, pasien tidak taat instruksi, obat tidak diambil karena mahal,

obat tida diambil karena kekurangpahaman pasien dan ketidakpercayaan

dengan produk obat yang dianjurkan (Cipolle et al, 1998).

B. Stroke

1. Definisi

Stroke adalah penurunan sistem saraf utama secara tiba-tiba yang

berlangsung selama 24 jam dan diperkirakan berasal dari pembuluh darah

(Sukandar, 2008). Stroke merupakan kedaruratan medis akibat kerusakan

neurologik karena adanya gangguan akut aliran darah otak akibat terjadinya oklusi

(penyumbatan) atau terjadinya pendarahan pada stroke hemoragik (Wibowo dan

Gofir, 2001). Menurut Junaidi, Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak

fokal maupun global akut dengan gejala dan tanda sesuai bagian otak yang

terkena yang sebelumnya tanpa peringatan dapat sembuh dengan cacat atau

kematian akibat gangguan aliran darah ke otak karena pendarahan ataupun non

pendarahan.

2. Gejala

Gejala yang sering muncul pada pasien stroke adalah merasa lemah di

salah satu sisi tubuh, kesulitan bebicara, gangguan penglihatan, vertigo, atau

terjatuh. Penderita stroke biasanya memiliki tanda tidak berfungsinya system

(34)

3. Faktor Resiko

Faktor resiko stroke dapat dibagi menjadi tidak dapat dimodifikasi dan

dapat dimodifikasi. Faktor resiko yang termasuk dalam tidak dapat dimodifikasi

adalah peningkatan usia, jenis kelamin (biasanya laki-laki beresiko lebih besar

daripada perempuan), ras dan keturunan. Kemudian faktor resiko yang bepotensi

dapat dimodifikasi antara lain hipertensi dan penyakit jantung (PJK, gagal

jantung, hipertropi ventrikel kiri, fibrilasi atrial). Sedangkan faktor resiko lainnya

yang berpengaruh adalah serangan iskemik sementara, diabetes melitus,

hiperkolesterol, merokok, alkohol, penyalahgunaan obat, gaya hidup (obesitas,

kurang aktivitas, diet dan stress), kontrasepsi oral, dan lain-lain (Fagan,2005).

4. Klasifikasi

Stroke diklasifikasikan menjadi dua yaitu iskemik dan hemoragi

(Fagan,2005). Berdasarkan perjalanan klinisnya stroke iskemik dikelompokkan

menjadi:

a. Trancient Ischemic Attack (TIA), serangan stroke sementara yang berlangsung

kurang dari 24 jam,

b. Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND) yaitu gejala neurologis yang

akan menghilang antara >24 jam sampai dengan 21 hari.

c. Progressing Stroke atau stroke in evaluation yaitu kelumpuhan atau defisit

neurologik yang berlangsung secara bertahap dari yang ringan sampai yang

(35)

d. Complete stroke yaitu kelainan neurologis yang sudah menetap dan tidak

berkembang lagi (Junaidi, 2004).

Berdasarkan lokasi pendarahan di otak stroke hemoragi dibedakan

menjadi 2 yaitu Intracerebral Hemorrhage (pendarahan intraserebral), jika terjadi

pendarahan pada pembuluh darah dan masuk ke dalam jaringan otak sehingga,

terjadi hematom. Subarachnoid Hemorrhage, jika darah arteri dari sistem

pembuluh darah masuk ke dalam rongga subarakhnoid (Fagan, 2005).

5. Penyebab

Penyebab stroke dapat dibedakan berdasarkan jenis stroke, yaitu

Tabel I. Penyebab stroke (Rice, 2002; Fagan, 2005)

Jenis stroke Penyebab

Stroke iskemik 1) Penyakit pembuluh darah besar (emboli pada arteri) 2) Emboli pada arteri ke jantung

3) Penyakit pembuluh darah kecil (infark lakuner) 4) Penyebab yang jarang terjadi, misalnya infark vena, vaskhulopati, penggunaan obat, migrain,dll.

Stroke hemoragi 1) Intraserebral primer 2) Hemoragi subarakhnoid

6. Gambaran Klinis

Gambaran klinis yang umum dijumpai pada penderita stroke akut adalah

a. hemiparesis yaitu pasien mengalami kelemahan pada salah satu bagian tubuh

b. aphasia yaitu tidak dapat berbicara

c. hemianopsia yaitu penglihatan terganggu yaitu penglihatan gelap atau ganda

sesaat

(36)

7. Epidemiologi

Stroke merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas ketiga di USA.

Setiap tahunnya diperkirakan kejadian stroke ± 700.000 dan 150.000 orang

diantaranya meninggal karena stroke (Fagan, 2005). Angka kejadian stroke

hemoragi 15-30% dan stroke iskemik 70-85% (Junaidi, 2004). Meskipun angka

kejadian stroke hemoragi lebih rendah daripada stroke iskemik tetapi tingkat

kematian stroke hemoragi 2-6 kali lebih tinggi (Fagan, 2005).

8. Patofisiologi

Patofisiologi stroke dibedakan menurut jenis stroke , yaitu stroke iskemik

dan stroke hemoragik

a. Stroke iskemik

Stroke iskemik disebabkan oleh blokade pada pembuluh darah di otak atau

leher karena tiga keadaan, yaitu trombus, emboli, dan stenosis. Trombosis

merupakan pembentukkan klot yang disebabkan oleh pembentukkan plak

arterosklerotik. Emboli adalah pergerakan klot dari bagian lain ke otak atau leher.

Klot ini menyebabkan artivicial valves di jantung atau menyebabkan atrial

fibrilasi, sehingga atrial fibrilasi merupakan faktor risiko stroke. Stenosis adalah

penyempitan arteri yang menuju otak atau arteri otak. (Fagan, 2005; Kasper et al,

2005).

b.Stroke hemoragi

Stroke hemoragi disebabkan oleh pendarahan pada arteri serebral. Darah

(37)

terjadi hematom. Hematom menyebabkan tekanan tinggi intrakranial. Tekanan

Tinggi Intrakranial (TTIK) menyebabkan terjadinya hipertensi. Jika darah dari

sistem pembuluh darah masuk rongga subarakhnoid terjadi pendarahan

subarakhnoid sekunder. Jika sumber pendarahan berasal dari rongga subarakhnoid

maka terjadi pendarahan subarakhnoid primer (Junaidi, 2004; Fagan, 2005).

Tabel II. Perbedaan stroke hemoragi dan stroke iskemik (Junaidi, 2004)

Pemeriksaan Stroke hemoragi Stroke iskemik intraserebral subarakhnoid trombosis emboli

umur 40-60 tahun Tak tentu 50-70

tahun Semua umur

onset aktivitas aktivitas Bangun

tidur Tak tentu Terjadinya gejala cepat cepat bertahap cepat Gejala penyerta

Hiperlipidemia

(38)

9. Penatalaksanaan Terapi

a. Tujuan terapi

Tujuan terapi stroke akut adalah untuk mengurangi kerusakan neurolgis

secara terus menerus, mengurangi mortalitas, dan kecacatan dalam waktu yang

lama; mencegah komplikasi sekunder pada imobilitas, dan disfungsi neurologis;

mencegah kekambuhan stroke atau stroke ulang (Fagan, 2005).

b. Sasaran terapi

Sasaran terapi pada stroke akut difokuskan pada pernapasan dan fungsi

jantung secara cepat mengetahui kerusakan akibat iskemik maupun hemoragi

berdasarkan CT scan kepala. Gangguan sel otak dibatasi oleh periode waktu

berkisar antara 3-6 jam yang disebut golden periode atau golden hours (Pepe,

2005; Thiruvananthapuram, 2006). Periode waktu bervariasi tergantung kondisi,

usia, gizi dan beratnya penyakit penderita. Daerah yang menjadi target utama

berbagai terapi stroke adalah daerah penumbra iskemik. Terapi farmakologis

yang dapat memberikan hasil optimal apabila stroke iskemik diobati sebelum

golden periode dengan kombinasi neuroproteksi dan trombolitik. Pengobatan

yang tidak melebihi golden periode akan memberikan outcome yang

menguntungkan (Wibowo dan Gofir, 2001; Junaidi, 2004).

Selain itu, perlu diperhatikan peningkatan tekanan darah mencapai

220/120 mmHg, aortic dissection, infark miokard akut, edema pulmo, dan

hipersensitive encephalopathy. Pada pasien dengan stroke hemoragi dilakukan

(39)

komplikasi dan gunakan strategi pencegahan yang sesuai (Fagan, 2005; Wibowo

dan Gofir, 2001).

c. Strategi terapi

Strategi terapi pada stroke akut meliputi terapi farmakologis dan terapi

non farmakologis.

1. Terapi non farmakologis

Terapi non farmakologis pada pasien stroke akut dibedakan berdasarkan

jenis stroke nya yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragi.

a. stroke iskemik

Adanya edema iskemik menyebabkan infark meluas dan meningkatkan

tekanan darah. Pembedahan pada pasien stroke iskemik dapat meningkatkan hasil

terapi (Anonim, 2003a) selain rehabilitasi yang cepat seperti adanya unit stroke

sangat efektif sebagai tahap akhir untuk mengurangi stroke iskemik. Pencegahan

sekunder yang juga efektif adalah carotid endarterectomy pada bagian yang luka

dan steotic carotid artery.Resiko kambuhnya stroke dapat dikurangi hingga

mencapai 48% bila dibandingkan dengan terapi farmakologis dengan penggunaan

aspirin 325 mg per hari. Hal ini diduga karena sekitar 70-90% pasien stroke

mengalami stenosis pada arteri interna karotid ipsilateral. Tetapi penelitian ini

masih kontroversial dan perlu metode yang optimal dalam penanganan pasien

stroke (Fagan, 2005).

b. Stroke hemoragi

Indikasi bedah dilakukan hanya pada pendarahan sebelum dengan volume

(40)

sereblum yang besar dan pendarahan subarakhnoid karena ruptur aneurisma Berry

(jarang terjadi). Tindakan bedah yang dilakukan, misalnya hemicraniectomy dan

cerebral angioplasty (Junaidi, 2004). Pembedahan pada pasien dengan

subarakhnoid dilakukan dengan menjepit atau membuang pembuluh darah yang

abnormal untuk mengurangi ruptur Arteriovenous Malformation (AVM) dan

menurunkan abnormalitas dengan mengurangi kemungkinan pendarahan kembali

(rebleeding). Pada pasien stroke hemoragi intraserebral prosedur pembedahan

belum diuji dengan percobaan klinik. Hal yang paling sering dilakukan pada

pasien ini adalah memasukkan extraventriculair drain (EVD) dan memantau

tekanan intrakranial sedangkan pembedahan masih kontroversial kecuali sebagai

pilihan terakhir pada situasi darurat.

2. Terapi farmakologis

a. Stroke iskemik

Terapi umum pada stroke iskemik adalah terapi pada penyakit komplikasi

yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke dan terapi untuk menstabilkan

keadaan pasien, meliputi:

1. Penyakit sistemik, seperti infark miokard, fibrilasi artial, diabetes melitus dan

gangguan ginjal (Junaidi, 2004).

2. Jalan nafas, oksigenasi dan fungsi jantung

Bagi pasien stroke iskemik, jalan nafas biasanya lebih stabil kecuali pada

infark batang otak atau kejang berulang. Oksigenasi dilakukan dengan

memberikan oksigen 1-2 liter/menit melalui hidung sampai ada analisis gas

(41)

3. Hipertensi

Tekanan darah naik sewaktu serangan stroke iskemik dan dapat bertahan

sampai beberapa hari. Kenaikan tekanan darah dibutuhkan untuk

mempertahankan aliran darah otak setelah serangan stroke dan akan turun

perlahan-lahan dengan sendirinya tanpa pengobatan pada hari ke 3-7.

4. Diabetes Melitus

Pada DM terjadi hiperglikemia. Hiperglikemia terjadi pada 2-3 hari pertama

stroke . Hiperglikemi dapat memperluas area infark karena terbentuknya asam

laktat dari penguraian glukosa secara anaerob sehingga perlu diberikan terapi

insulin (Junaidi, 2004).

5. Jantung

Stroke iskemik dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi jantung,

bersama-sama dengan perubahan gambaran EKG, aritmia jantung,

kadang-kadang dapat menaikkan kadar enzim jantung. Dalam penangganannya

direkomendasikan digitalisasi jantung apabila ada tanda payah jantung

(Anonim, 2003b).

6. Kejang

Kejang biasanya terjadi dalam 2 minggu onset stroke yang biasanya deisebut

dengan early seizure. Untuk mengatasi kejang dapat diberikan injeksi diazepam

(0,2-0,3 mg/kgBB) atau obat lain yang sejenis. Bila kejang belum berhenti,

berikan dilantin secara intravena dengan dosis bolus awal 18 mg/kgBB atau

secara oral 2-3x 100mg/ hari. Apabila masih belum terkontrol perlu diberikan

(42)

7. Demam

Suatu studi meta analisis menyebutkan demam setelah onset stroke kan

meningkatkan morbiditas dan morbilitas sehingga diberikan antipiretik antara

lain parasetamol (Adams, et al, 2003).

8. Hiperlipidemia

Peningkatan lipid dalam darah merupakan faktor resiko terjadinya stroke

iskemik. Pada pasien stroke dengan komplikasi jantung koroner diberikan

terapi statin (Solenski, 2004).

Menurut Junaidi (2004) terapi khusus pada stroke iskemik adalah

reperfusi dan neuroproteksi.

b. Stroke hemoragi

Terapi umum kedaruratan stroke hemoragi sama dengan terapi umum

pada stroke iskemik. Untuk mengatasi nyeri pada stroke iskemik maupun stroke

hemoragi diberikan analgesik non opioid. Jika nyeri berat dapat diberikan

analgesik opioid seperti morfin secara intravena. Pemberian antikoagulan dan

antitrombotik merupakan terapi utama pada stroke iskemik tidak dapat dilakukan

pada stroke hemoragi (Wibowo dan Gofir, 2001; Junaidi, 2004).

Terapi khusus pada stroke hemoragi meliputi:

1. Antifibrinolitik

Obat ini untuk mencegah kemungkinan komplikasi setelah

pembedahan. Obat yang digunakan adalah aminocaproic acid 5 g dan diikuti infus

(43)

2. Obat untuk mencegah vasopasmus

Obat yang digunakan adalah obat antagonis selektif untuk sintesis

tromboksan A2. Selai itu juga, digunakan nimodipin dan nikardipin. Keduanya

berfungsi sebagai profilaksis untuk mencegah spasme dan terbukti bermanfaat

untuk pengobatan akut pendarahan subarakhnoid tetapi tidak dianjurkan untuk

pendarahan intraserebral (Wibowo dan Gofir, 2001).

C.Anatomi dan Fisiologi Sistem Saluran Pernapasan

Sistem saluran pernapasan dapat dibedakan menjadi 2 menurut

letaknya, yaitu sistem saluran napas bagian atas dan sistem saluran napas bagian

bawah.

1. Saluran napas bagian atas

a. rongga hidung

Udara yang dihirup melalui hidung akan mengalami tiga hal, yaitu

dihangatkan, disaring dan dilembabkan. Fungsi utama dari selaput lendir respirasi

adalah menggerakkan partikel-partikel halus ke arah faring sedangkan partikel

besar akan disaring oleh bulu hidung, sel goblet dan kelenjar serous yang

berfungsi melembabkan udara yang masuk, pembuluh darah yang berfungsi

menghangatkan udara)

b. nasofaring ( terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius)

c. orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring, terdapat pangkal

(44)

d. laringofaring (terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)

(Anonim, 2008).

2. Saluran napas bagian bawah

Saluran napas bagian bawah terdiri dari:

a. laring, terdiri dari tiga struktur yang penting seperti tulang rawan krikoid,

selaput/ pita suara, epiglotis, glotis.

b. trakhea, merupakan pipa silinder dengan panjang ± 11 cm, berbentuk ¾ cincin

tulang rawan seperti huruf C.

c. bronkhi, merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Bronchus kanan lebih

pendek, lebar, dan lebih dekat dengan trachea. Bronchus kanan bercabang

menjadi lobus superior, medius inferior. Bronchus kiri terdiri dari lobus

superior dan inferior.

d. alveoli, terdiri dari: membran alveolar dan ruang interstisia (Anonim, 2008).

(45)

D. Gangguan Saluran Pernapasan

Obstruksi paru atau saluran pernapasan didefinisikan sebagai penurunan

kapasitas paru untuk mengeluarkan udara dari dalam paru melalui saluran

bronkus. Penurunan kapasitas paru ini dapat disebabkan oleh pengecilan diameter

saluran bronkus, kehilangan integritas paru (bronchomalacia), atau penurunan

elastisitas (emphysema) sehingga menyebabkan penurunan tekanan dalam saluran

bronkus. Penyalit yang berhubungan dengan obstruksi daluran pernapasan adalah

sama dan infeksi bronkus (bronkhitis kronis) (Beggs et.al., 2007).

Radang paru-paru (pneumonia) adalah sebuah penyakit pada paru-paru di

mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen

dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang paru-paru dapat disebabkan

oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi oleh bakteria, virus, jamur, atau pasilan

(parasite). Radang paru-paru dapat juga disebabkan oleh kepedihan zat-zat kimia

atau cedera jasmani pada paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya,

seperti kanker paru-paru atau berlebihan minum alkohol (Anonim,2010).

E.Anatomi dan Fisiologi Sistem Saluran Pencernaan

Sistem pencernaan berhubungan dengan penerimaan makanan dan

mempersiapkannya untuk diasimilasi oleh tubuh. Saluran pencernaan tediri dari:

mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, dan usus besar. Seluruh saluran

pencernaan dibatasi oleh selaput lendir (membran mukosa). Dalam proses

pencernaan, makanan dihancurkan menjadi zat-zat yang dapat diserap dan

(46)

Proses pencernaan dimulai dari mulut, dalam mulut makanan dikunyah

untuk dihaluskan sambil bercampur dengan ludah yang mengandung enzim

amilase dan ptialin. Selanjutnya oleh gerakan peristaltik, makanan masuk ke

lambung melalui esofagus. Kemudian bercampur dengan getah lambung, yang

terdiri dari asam hidroklorida dan pepsin. Oleh pengaruh asam ini, pilorus

membuka dan menutup secara refleks.

Makanan yang sudah setengah cair (cimus) melewati pilorus masuk

kedalam usus dua belas jari. Di dalam usus, cimus dinetralisir oleh cairan alkalis

dari getah pankreas, karbohidrat dan lemak dibentuk menjadi suatu emulsi cimus

dengan garam kolat untuk memudahkan penyerapan oleh usus. Di dalam usus

besar bagian air dalam cimus dan garam diserap kembali dan sisanya dikeluarkan

melalui dubur sebagai tinja (Heaton dan Lewis, 1997).

(47)

F.Gangguan Saluran Pencernaan

Tukak lambung merupakan gejala penyakit akibat faktor yang merusak

pertahanan mukosa lambung lebih besar daripada faktor yang melindungi

pertahanan mukosa lambung. Tukak lambung dapat terjadi karena pola makan

yang tidak teratur sehingga terjadi produksi asam lambung yang berlebihan,

terdapat mikroorganisme yang merugikan (Helycobacter pylori), mengkonsumsi

obat-obatan tertentu, atau sebab-sebab lainnya misalnya beban pikiran yang berat,

kebiasaan merokok, mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein (Anonim,

2009d)

Konstipasi adalah pergerakan tidak nyaman di perut serta buang besar

(BAB) kurang dari tiga kali dalam seminggu dengan buangan yang keras dan

kering. Konstipasi dapat disebabkan karena jumlah asupan air yang kurang atau

dehidrasi. kurang serat, tidak peduli pada sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh perut

bahkan sering menunda desakan untuk BAB, kurang aktivitas fisik, terutama pada

manula, penggunaan obat pencahar yang terlalu sering atau berlebihan (Anonim,

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai Evaluasi Drug Related Problems pada Pengobatan

pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas pada tahun

2009 periode Januari Juni. Merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan

rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian ini termasuk

penelitian non eksperimental karena tidak ada perlakuan pada subjek uji.

Rancangan deskriptif evaluatif karena data yang digunakan adalah catatan rekam

medik dari pasien stroke rawat inap RSUD Banyumas tahun 2009 yang

dievaluasi dan dideskriptifkan fenomena kesehatan yang ada. Penelitian mengenai

stroke ini dilakukan oleh tiga orang, dengan pembagian kajian sebagai berikut:

Gambar 3. Cakupan Penelitian Evaluasi DRPs Pasien Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas periode Januari Juni 2009

Pada penelitian ini akan dikaji bagian obat Sistem Pencernaan dan Sistem

Pernapasan pada penyakit stroke .

STROKE

OBAT KARDIOVASKULER

OBAT SISTEM PENCERNAAN DAN

SISTEMPERNAPASAN

OBAT SISTEM SARAF PUSAT

(49)

B. Definisi Operasional

1. Stroke dalam penelitian ini adalah hasil diagnosa dokter yang tertulis pada

rekam medik dengan atau tanpa melakukan CT scan.

2. Pasien dalam penelitian ini adalah pasien yang telah terdiagnosis stroke yang

menjalani perawatan inap di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah

Banyumas pada periode Januari Juni 2009.

3. Karakteristik pasien yang dibahas dalam penelitian ini meliputi umur, jenis

kelamin, jenis stroke, lama perawatan.

4. Drug Related Problems adalah suatu peristiwa yang tidak diinginkan yang

melibatkan atau dicurigai melibatkan terapi obat yang benar-benar atau

berpotensi bertentangan dengan hasil yang diharapkan oleh pasien.

5. Drug Related Problems yang dibahas dalam penelitian ini meliputi obat salah,

dosis kurang, dosis berlebih, adanya efek samping dan interaksi obat.

6. Lembar medik merupakan lembar catatan medik dari pasien di Unit Stroke

Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas yang berisi nomor catatan medis,

nama pasien, usia, riwayat penyakit, terapi yang dilakukan dalam

penanggulangan penyakit, jenis obat sistem pencernaan dan pernapasan serta

obat lain yang diberikan, dosage regimen, jumlah obat, bentuk sediaan, cara

pemberian, hasil pemeriksaan laboratorium.

7. Obat Sistem Pencernaan adalah obat yang digunakan pada terapi penyakit

stroke yang masuk dalam kelas terapi sistem pencernaan berdasarkan IONI

(50)

8. Obat Sistem Pernapasan adalah obat yang digunakan pada terapi penyakit

stroke yang masuk dalam kelas terapi sistem pernapasan berdasarkan IONI

2008.

9. Outcome pasien membaik apabila pasien sudah tidak menjalani perawatan di

Unit Stroke. Apabila pasien pindah ke bangsal maka pasien dianggap sudah

membaik.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 24 kasus

yang merupakan pasien stroke di Unit Stroke periode Januari Juni 2009 yang

memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah

pasien stroke yang mendapat obat kardiovaskular, obat sistem pencernaan dan

pernapasan serta obat Sistem Saraf Pusat (SSP).

Selama periode Januari Juni 2009 terdapat 88 kasus (tetapi pihak RS

hanya memberikan 44 rekam medik). Kemudian dilakukan seleksi pada rekam

medik yang ada sehingga yang lolos kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 24

kasus.

D. Bahan penelitian

Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar

rekam medik (RM) atau catatan medik pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit

Umum Daerah Banyumas periode Januari Juni tahun 2009 yang lolos kriteria

(51)

E. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah

Banyumas (Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah).

F. Jalannya Penelitian

Tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Studi Pustaka

Dilakukan studi pustaka terhadap literatur-literatur yang terkait dengan

penelitian. Studi pustaka ini, membantu peneliti untuk mengerti, memahami serta

dapat memecahkan persoalan atau hal-hal yang berkaitan dengan penelitian.

Adanya tahap ini peneliti dapat menyajikan hasil penelitiannya dengan baik.

2. Perencanaan

Tahap ini untuk menentukan masalah yang akan dijadikan bahan

penelitian. Dilakukan pencarian informasi mengenai sepuluh besar penyakit yang

banyak diderita oleh pasien rawat inap RSUD Banyumas pada tahun 2008.

Informasi ini dapat memberi gambaran untuk penelitian yang dilakukan pada

Januari Juni 2009.

3. Pengambilan Data

a. Data berasal dari rekam medik pasien stroke yang ada di Unit Stroke Rumah

Sakit Umum Daerah Banyumas periode Januari Juni 2009. Dari hasil survei

(52)

data pasien. Dari pihak rumah sakit hanya disediakan 44 data pasien untuk

diteliti. Diambil data rekam medik pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan

eksklusi. Data rekam medis yang didapatkan dari hasil penelusuran seluruh

data pasien stroke sebanyak 24 kasus. Pengurangan jumlah kasus yang diteliti

dalam penelitian ini disebabkan karena data yang tidak lengkap, tahun yang

tidak masuk range (2009), kajian obat yang tidak masuk range, dan sebagian

tidak ditemukan rekam medisnya.

b. Dilakukan pencatatan data yang meliputi: nomor rekam medik, jenis kelamin,

umur, pemeriksaan fisik, tanggal masuk dan tanggal keluar, riwayat penyakit,

riwayat alergi, riwayat obat, riwayat penyakit keluarga, keluhan masuk, hasil

laboratorium yang berkaitan, lama rawat inap, catatan perkembangan pasien,

terapi/obat yang diberikan, dosis dan frekuensi pemberian obat serta outcome

pasien saat keluar dari rumah sakit.

4. Tata Cara Penelitian dan Pengolahan Data

a. Karakteristik pasien, meliputi:

1) Presentase jenis kelamin pasien, didapat dengan membagi masing-masing

jumlah laki-laki dan perempuan dengan jumlah total kasus pada jenis stroke

tersebut dikali 100 %.

2) Rata-rata umur pasien, didapat dengan membagi jumlah umur pada

masing-masing jenis stroke dengan jumlah pasien pada kelompok stroke tersebut.

3) Presentase diagnosis, didapat dengan membagi jumlah pasien pada kelompok

(53)

4) Lama tinggal pasien dihitung menurut jumlah lamanya pasien menjalani

perawatan dalam hitungan hari

b. Profil penggunaan obat sistem pencernaan dan sistem pernapasan pada

pengobatan stroke, dihitung dengan cara mengelompokkan obat tersebut

sesuai dengan penggolongan obatnya dibagi dengan jumlah obat dikali 100%.

c. DRPs

Dari sampel yang sudah diperoleh, obat sistem pencernaan dan sistem

pernapasan yang terdapat di resep pasien stroke tersebut dilakukan DRPs yang

dijabarkan menggunakan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan).

Pada analisis kerasionalan dengan parameter DRPs yang digunakan hanya

sebanyak 4 parameter tanpa mengikutsertakan ada obat yang dibutuhkan (need for

additional drug therapy), ada obat yang tidak dibutuhkan (unnecessary drug

therapy), dan kepatuhan pasien. DRPs yang akan dilakukan meliputi obat salah

(wrong drug), dosis kurang (dosage too low), dosis berlebih (dosage too high),

dan reaksi efek samping obat (adverse drug reaction) dan interaksi obat (drug

interaction).

Pada penelitian ini digunakan acuan Drug Information Handbook,

Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, MIMS Indonesia Petunjuk

Konsultasi edisi 2008/2009, Farmakologi dan Terapi edisi 5, Pedoman Diagnosa

(54)

d.outcome, dilakukan dengan membagi pasien dalam kelompok berdasarkan

keadaan pasien setelah keluar dari rumah sakit.

5.Pembahasan Kasus

Kasus yang didapat dibahas dengan metode SOAP (Subjective, Objective,

Assesment, Plan) berdasarkan standar pengobatan stroke dan pustaka yang sesuai.

G. Kesulitan Penelitian

Penulis menemui beberapa kesulitan dalam penelitian ini, antara lain

penggunaan istilah medis yang sulit dimengerti oleh penulis, kesulitan tersebut

diatasi dengan bertanya kepada dokter pembimbing medis, dosen pembimbing

skripsi maupun rekan sejawat yang bersama penulis juga sedang meneliti di Unit

Stroke RSUD Banyumas. Penulis juga mengalami kesulitan pada saat

menganalisis lembar rekam medis karena terdapat tulisan yang tidak jelas pada

lembar rekam medis, data pasien yang tidak lengkap, seperti diagnosis pasien,

waktu pemberian obat, dosis dan jenis obat yang tidak selalu ditulis di lembar

(55)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian mengenai Evaluasi Drug Related Problems pada Pengobatan

Pasien Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas Tahun 2009 ( Kajian Obat

Sistem Pencernaan dan Sistem Pernapasan) dilakukan dengan menelusuri kasus

pasien rawat inap yang terdiagnosis stroke yang menggunakan obat pencernaan

dan pernapasan baik stroke hemoragi maupun stroke iskemik.

Hasil penelitian disajikan dalam 6 bagian yaitu karakteristik pasien stroke,

pemeriksaan fisik CT scan kepala, distribusi pengunaan obat sistem pencernaan

pada pasien stroke, distribusi penggunaan obat sistem pernapasan pada pasien

stroke, evaluasi kejadian DRPs, dan outcome pasien stroke .

A. Karakteristik Pasien Stroke

Karakteristik pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas pada

tahun 2009, meliputi:

1. Distribusi kelompok umur

Umur merupakan salah satu faktor penyebab penyakit stroke. Semakin tua

umur seseorang maka semakin lemah kondisi fisiknya karena banyak organ-organ

penting yang tidak dapat bekerja seacara maksimal sehingga makin besar

kemungkinan terjadinya stroke. Pada penelitian kelompok umur dibagi menjadi

empat kelompok umur yaitu mulai dari 46-55 tahun; 56-65 tahun; 66-75 tahun;

dan 76-85 tahun.

(56)

Gambar 4. Karakteristik stroke berdasarkan kelompok umur pada Pasien Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Periode

Januari Juni 2009

Dari hasil data diketahui bahwa penderita stroke hemoragi rata-rata

berusia 63 tahun sedangkan pada stroke iskemik rata-rata berumur 60 tahun

Berdasarkan dari hasil data tersebut, penderita stroke hemoragi dan stroke

iskemik terbanyak adalah kelompok umur 55 tahun keatas. Hal ini sesuai dengan

teori Fagan dan Hess dalam Dipiro, et al (2005) bahwa prevalensi stroke

meningkat setelah umur 55 tahun.

2. Jenis Kelamin

Pengelompokkan jenis kelamin dimaksudkan untuk mengetahui

perbandingan jumlah pasien laki-laki dan wanita yang menderita penyakit stroke

di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas periode Januari Juni 2009. Distribusi jenis

kelamin pada pasien stroke dapat dilihat pada gambar 5. jumlah

(57)

Gambar 5. Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin pada Pasien Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Periode

Januari Juni 2009

Berdasarkan jenis kelamin, dari 24 pasien yang diteliti prevalensi stroke

hemoragi pada pria sebesar 21% (3 pasien) dan perempuan sebesar 79% (11

pasien) sedangkan pada stroke iskemik pada pria sebesar 40% (4 pasien) dan

perempuan sebesar 60% (6 pasien). Pada tabel dapat terlihat, baik pada stroke

hemoragi maupun stroke iskemik pasien dengan jenis kelamin perempuan lebih

banyak. Pada wanita faktor resiko stroke kemungkinan dipengaruhi oleh adanya

masa menopause. Menurut Hanafiah (1999), usia menopause seorang wanita yaitu

45-55 tahun, dengan usia rata-rata 51 tahun.

3. Jenis stroke

Jenis stroke yang dialami oleh pasien stroke di RSUD Banyumas Periode

Januari Juni 2009 adalah hemoragi sebesar 58% (14 pasien) dan iskemik sebesar

42%. (10 pasien)

Stroke hemoragi stroke iskemik 21%

79%

40%

(58)

Gambar 6. Karakteristik pasien berdasarkan jenis stroke pada Pasien Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Periode Januari Juni

2009

4. Lama Perawatan

Biasanya lama tinggal pasien di rumah sakit tidak tergantung pada tingkat

keparahan penyakit pasien stroke. Pasien penderita stroke yang tinggal minimal

empat hari belum tentu dikarenakan menderita stroke ringan karena hal ini

mungkin disebabkan karena tingginya harga obat dan perawatan mereka di rumah

sakit.

Tabel III. Data variasi lama perawatan pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas periode Januari Juni 2009

Stroke Hemoragi Stroke Iskemik

Lama Perawatan

(hari)

Jumlah Kasus Lama Perawatan

(hari) Jumlah Kasus

4 1 5 1

5 1 6 2

9 1 7 2

11 1 8 2

12 5 10 1

13 3 12 1

14 1 14 1

19 1 - -

(59)

Berdasarkan data yang tercatat lama perawatan pasien stroke hemoragi

adalah selama satu sampai tiga minggu dengan rata-rata lama inap selama 11

hari. Pada stroke iskemik lama perawatan adalah selama satu sampai dua minggu

dengan rata-rata perawatan selama 8 hari. Pada stroke hemoragi menjalani rawat

inap lebih lama dibanding stroke iskemik karena pada stroke hemoragi sering

disertai dengan penurunan kesadaran pada pasien sehingga pasien memerlukan

waktu pemulihan yang lebih lama.

B. Pemerikasaan Fisik CT Scan Kepala

Gambar 7. Presentase pemeriksaan fisik CT scan pada Pasien Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Periode Januari Juni 2009

Pemeriksaan CT scan kepala merupakan teknik pemeriksaan fisik yang

utama untuk deteksi proses patologis di otak secara langsung sehingga dapat

membedakan stroke hemoragi dan stroke iskemik. Sebesar 66,7% pasien

melakukan CT scan kepala dan sebanyak 33,3% pasien pada stroke hemoragi Stroke Hemoragi Stroke Iskemik

66,7%

33,3%

70%

(60)

tidak melakukan CT scan, sedangkan pada stroke iskemik sebanyak 70%

melakukan CT scan sedangkan sebanyak 30% tidak melakukan CT scan. Karena

alasan ekonomis dan alat yang rusak pasien tidak melakukan CT scan kepala.

Pemeriksaan fisik CT scan kepala pada pasien stroke tersaji pada tabel.

C. Profil Penggunaan Obat Sistem Pencernaan pada Pasien Stroke

Pada bab ini akan dibahas mengenai obat-obat sistem pencernaan yang

digunakan oleh pasien stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas periode

Januari Juni 2009.

Gangguan pencernaan dapat terjadi pada pasien stroke akibat gangguan

pada gerakan menelan. Obat sistem pencernaan yang digunakan adalah Antitukak, Antispasmodik, Pencahar. Golongan obat sistem pencernaan yang paling banyak digunakan pada stroke hemoragi maupun stroke iskemik adalah Antitukak. Antitukak digunakan untuk mengatasi atau meringakan nyeri pada lambung. Tukak lambung pada pasien stroke dapat terjadi karena obat-obat lain yang dikonsumsi seperti AINS dan juga karena efek samping dari obat lain. Antitukak yang paling banyak digunakan adalah Radin yang merupakan kelompok Antagonis Reseptor H2. Antagonis Reseptor H2

menyembuhkan tukak lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat hambatan reseptor H2. Senyawa-senyawa antagonis reseptor H2 secara kompetitif dan reversibel berikatan dengan reseptor H2 di sel parietal,

menyebabkan berkurangnya produksi sitosolik siklik AMP dan sekresi histamine

yang menstimulasi sekresi asam lambung. Interaksi antara siklik AMP dan jalur

kalsium menyebabkan inhibisi parsial asetilkolin dan gastrin yang menstimulasi

(61)

1. Golongan, Kelompok, Zat Aktif, Jenis Obat

Tabel IV. Golongan, Kelompok, Zat Aktif, Jenis Obat Sistem Pencernaan yang digunakan pada pengobatan stroke Hemoragi di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas periode Januari Juni 2009

Golongan kelompok Zat Aktif Jenis Obat Jumlah

Antitukak Antasida antasida 2

Penghambat

pompa proton omeprazol OMZ® 2 lansoprazol Prosogan® 1

Antagonis reseptor H2

ranitidin HCl Radin® 15

ranitidin 3 Antispasmodik Stimulan

motilitas domperidon Tilidon® 1

Pencahar Pelunak tinja parafin cair Laxadin 1

Tabel V. Golongan, Kelompok, Zat Aktif, Jenis Obat Sistem Pencernaan yang digunakan pada pengobatan stroke Iskemik di Unit Stroke Rumah Sakit Banyumas periode Januari Juni 2009

Golongan kelompok Zat Aktif Jenis Obat Jumlah

Antitukak Kohelator dan

senyawa kompleks

sukraflat Inpepsa® 1

Analog

prostaglandin misoprostol 1

Antagonis reseptor H2

ranitidin HCl Radin® 9

ranitidin 2

Pencahar Pencahar

stimulan bisakodil Dulcolax® 1

Pelunak tinja parafin cair Laxadin 1

(62)

digunakan adalah pencahar stimulan dan pelunak tinja. Pencahar stimulan bekerja dengan cara meningkatkan gerakan usus sehingga tinja bisa terkumpul dalam rektum dan meningkatkan keluarnya tinja. Pelunak tinja bekerja dengan cara meningkatkan jumlah air yang dapat diserap oleh tinja oleh dokusat (detergen) yang menurunkan

tegangan permukaan dari tinja sehingga memungkinkan air menembus tinja

dengan mudah dan menjadikannya lebih lunak.

2. Cara Pemberian Obat

Pada penelitian ini cara pemberian obat sistem pernapasan pada pasien

stroke dilakukan dengan cara oral maupun rute parenteral, hal ini disesuaikan

dengan kondisi pasien. Seorang pasien bisa mendapatkan dua macam cara

pemberian.

Gambar 8. Cara pemberian Obat Sistem Pencernaan pada Pasien Stroke di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Periode Januari Juni

2009

Dari data dapat diketahui bahwa pasien yang mendapat cara pemberian

obat sistem pencernaan secara oral sebanyak 10 jenis obat pada stroke

hemoragi dan 6 jenis obat pada stroke iskemik sedangkan secara parenteral Stroke Hemoragi Stroke Iskemik

Gambar

Tabel VIII
Tabel I. Penyebab stroke  (Rice, 2002; Fagan, 2005)
Tabel II. Perbedaan stroke  hemoragi dan stroke  iskemik (Junaidi, 2004)
Gambar 1. Anatomi Sistem Saluran Pernapasan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Golongan, kelompok dan jenis obat pada sistem saraf pusat yang digunakan dalam pengobatan pasien stroke di instalasi rawat inap RSPR Yogyakarta tahun 2005 ..... Golongan,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase yang terjadi dari DRPs kategori interaksi obat pada pasien hipertensi di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Soeradji

Penelitian ini diharapkan dapat mengindentifikasi Drug Related Problems (DRPs) terkait penggunaan obat diuretik yang digunakan pada pasien 60 tahun ke atas dengan

Penelitian ini diharapkan dapat mengindentifikasi Drug Related Problems (DRPs) terkait penggunaan obat diuretik yang digunakan pada pasien 60 tahun ke atas dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kejadian DRPs terbanyak adalah indikasi butuh obat sebesar 62,26% dari 53 pasien stroke non hemoragik, kemudian interaksi obat sebesar

Daftar dosis kurang kasus frekuensi kurang selain penggunaan obat kanker pada pasien kanker payudara di Instalasi rawat inap RSUD “X” Tahun 2010.. No Nama obat

Mengetahui pola pengobatan meliputi kelas terapi, golongan, dan jenis obat, pada pengobatan pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta

 Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital