• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Tinjauan Teoritis

Risiko atau kemungkinan terjadinya kerugian artinya adalah tidak sesuai dengan harapan atau tujuan yang kita inginkan. Meskipun kita merasa aman, tapi hanya terbatas pada apa yang terlihat saat ini. Setiap manusia ingin aman dan menghindari kerugian, jadi kita belajar untuk menghadapi kenyataan hidup ini.

Risiko tidak dapat dihindari secara total dan hal itu sudah merupakan bagian dari hidup, maka kita harus mengembangkan suatu cara untuk menghadapinya (Williams, 1984, p.2).

2.1.1. Risiko

Adapun berbagai definisi risiko antara lain sebagai berikut :

o Risiko merupakan suatu variasi kemungkinan kejadian yang akan datang terjadi pada waktu yang akan datang (Silalahi, 1997, p.1).

o Risiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu (Williams & Heins, 1985, p.10).

o Risiko adalah ketidakpastian yang berhubungan dengan perkiraan dari suatu hasil (Lifson & Shaifer, 1982, p.168).

o Risiko adalah probabilitas terjadinya suatu kejadian dan akibat yang ditimbulkan dari kejadian tersebut (Hamilton, 1997, p.277).

o Risiko adalah kemungkinan yang berupa kerugian atau perlakuan yang tidak adil yang akan terjadi (Pride, Hughes, & Kapoor, 1993, p.639)

o Risiko adalah kans kerugian (Darmawi, 1997, p.19).

o Menurut Saling (Thayono, 1999, p.6), risiko adalah ketidakpastian yang mungkin melahirkan kerugian.

o Risiko adalah variasi dari hasil yang dapat terjadi secara alami pada suatu situasi tertentu (Fisk, 1997, p.225).

(2)

Definisi tentang risiko berbeda-beda, akan tetapi pada dasarnya semua definisi risiko tersebut mengarah pada ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa selama selang waktu tertentu yang mana peristiwa tersebut menyebabkan suatu kerugian baik itu kerugian kecil yang tidak begitu berarti maupun kerugian besar yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dari suatu perusahaan.

Beberapa sifat risiko antara lain :

o Langsung, misalnya : risiko berupa kerusakan atau hilangnya benda yang bersangkutan.

o Tidak langsung, misalnya : dalam hal suatu plant yang terbakar, selain kerugian langsung berupa kerusakan barang atau kehilangan barang, diderita pula kerugian tidak langsung, yaitu kerugian karena usaha terganggu akibat kebakaran tersebut.

o Tanggung gugat, misalnya : dalam hal perusahaan readymix concrete salah dalam melakukan mixing dan menimbulkan ketidak sesuaian spesifikasi yang diinginkan oleh perencana proyek, maka produsen (perusahaan readymix concrete) bertanggung jawab atau tergugat untuk akibat-akibat buruk hasil produksinya, walaupun mungkin tidak terjadi suatu perbuatan yang melanggar hukum.

o Risiko yang ditimbulkan dari pihak lain, misalnya : jika seorang kontraktor meninggalkan proyek (tidak menyelesaikannya), atau debitur yang tidak membayar kembali kreditnya, maka dapat menimbulkan suatu kerugian.

Menurut beberapa literatur, terdapat beberapa macam risiko sebagai berikut : o Williams (1984, p.4) membagi risiko menjadi dua macam, yaitu:

¾ Speculative risk, adalah suatu risiko yang dapat memberikan manusia itu suatu keuntungan maupun kerugian apabila terjadi, misalnya : seorang pemain kartu menghadapi suatu risiko saat bermain kartu. Hal yang akan dihadapi olehnya adalah berujung pada kemenangan atau kerugian. hal itu kembali kepada keberuntungan yang dimilikinya.

(3)

¾ Pure risk, adalah suatu risiko yang tidak dapat memberikan keuntungan, hasilnya akan selalu berujung kerugian. Misalnya : kebakaran yang terjadi pada perusahaan “readymix concrete”, kecelakaan kerja, dan lain sebagainya. Risiko inilah yang menjadi inti dari manajemen risiko.

o Kerzner (2004, p.666) menyebutkan risiko dalam konteks bisnis, di mana ada dua tipe risiko sebagai berikut :

¾ Risiko bisnis adalah risiko yang mempunyai kesempatan untung atau rugi.

Contohnya : cuaca yang memburuk, inflasi.

¾ Risiko yang diasuransikan. Risiko yang termasuk di dalamnya adalah risiko yang hanya memberikan kesempatan untuk rugi, seperti kebakaran, kerusakan material dan peralatan, desain yang kurang baik, kesalahan mix design, dan kegagalan dalam pelaksanaan.

o Trieschmann dan Gustavson (1995, p.6) mengemukakan tipe-tipe risiko sebagai berikut :

¾ Risiko Murni dan Risiko Spekulatif

Risiko murni, merupakan risiko di mana terdapat ketidakpastian mengenai kerugian yang akan terjadi dan tidak ada kemungkinan keuntungan.

Risiko spekulatif, merupakan risiko di mana terdapat ketidakpastian tentang kejadian yang menghasilkan kemungkinan keuntungan atau kerugian.

¾ Risiko Statis dan Risiko Dinamis

Risiko statis merupakan risiko yang berasal dari keadaan ekonomi yang tidak mengalami perubahan atau dalam kondisi stabil.

Risiko dinamis merupakan risiko yang dihasilkan karena adanya perubahan keadaan ekonomi, seperti pertumbuhan teknologi baru, perubahan kebijakan pemerintah, perubahan harga, krisis moneter dan sebagainya.

¾ Risiko Subyektif dan Risiko Obyektif

Risiko subyektif adalah ketidakpastian psikologis yang muncul dari sikap

(4)

pengetahuan yang sama terhadap kerugian, tetapi yang satu dapat merasa lebih tidak pasti tentang peristiwa yang sama daripada yang lainnya.

Contoh : dua perusahaan “Readymix concrete” sama-sama menghadapi kemungkinan kerusakan pada material-material yang mereka timbun, tetapi pemilik yang satu tidak menyadari adanya kemungkinan itu, sehingga tidak ada risiko subyektif, sedang pemilik lainnya merasa pasti tentang adanya kemungkinan kerusakan material-material yang mereka timbun, yang dapat merugikan, sehingga bagi perusahaan tersebut merasa ada risiko.

Risiko obyektif adalah variasi kenyataan yang mungkin terjadi dari pengalaman yang diperkirakan. Risiko ini disebabkan karena pengetahuan yang tidak sempurna dari manusia. Contohnya : perkiraan cuaca mengatakan bahwa “besok pagi mungkin turun hujan”. Perkataan

‘mungkin’ menunjukkan ketidakpastian dari pakar cuaca karena ketidaksempurnaan pengetahuannya dalam membuat perkiraan.

Sedangkan pada alam sendiri tidak ada keraguan atau ketidakpastian.

Situasi demikian disebut risiko obyektif.

o Menurut Stephenson (Thayono, 1999, p.15) risiko dapat dikategorikan sebagai berikut :

¾ Risiko Kontrak, merupakan risiko yang berkaitan dengan kontrak atau perjanjian yang dibuat oleh suatu perusahaan dengan perusahaan yang lain sebelum diambil kesepakatan menjalankan suatu pekerjaan.

¾ Risiko Keterlambatan pengambilan keputusan, merupakan risiko yang terjadi bila adanya suatu masalah yang terjadi pada suatu perusahaan tidak segera diketahui, sehingga terlambat dalam mengambil suatu keputusan yang dapat menangani masalah tersebut. Hal ini merupakan suatu risiko, yang akan menimbulkan kerugian pada perusahaan.

¾ Risiko Keuangan, merupakan risiko yang berkaitan dengan uang, baik dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan.

¾ Risiko Personalia, merupakan risiko yang berhubungan dengan faktor pekerja yang terlibat dalam suatu proyek. Masalah yang berhubungan

(5)

dengan pekerja sangatlah kompleks, mulai dari sumber daya manusia, gaji pegawai sampai pada keselamatan kerja yang secara langsung maupun tidak langsung akan mengakibatkan suatu rsiko pada perusahaan.

¾ Risiko Operasional, merupakan risiko yang mungkin timbul pada saat pengoperasian plant atau pada saat plant mulai dijalankan.

¾ Risiko teknis, merupakan risiko yang berkaitan dengan perencanaan desain dan penggunaan teknologi, yang bisa berdampak pada tujuan perusahaan.

¾ Risiko Kejadian tak terduga (force majeure), merupakan risiko yang terjadi di luar keinginan manusia yang tidak terduga sebelumnya.

o Menurut Project Management Institute (Kerzner, 1995, p.887), risiko dapat dikategorikan sebagai berikut :

¾ Risiko Eksternal, merupakan risiko di luar kontrol manajer perusahaan tetapi mungkin berpengaruh terhadap tujuan perusahaan.

¾ Risiko Internal, merupakan risiko yang berada dalam kontrol manajer perusahaan dan menimbulkan ketidakpastian yang berpengaruh pada perusahaan.

¾ Risiko Teknis, merupakan risiko yang berkaitan dengan perencanaan desain dan penggunaan teknologi, yang bisa berdampak pada tujuan perusahaan.

¾ Risiko Legal, merupakan risiko yang berhubungan dengan peraturan atau perundangan yang ada dalam masyarakat.

o Menurut American Society of Civil Engineers (Fisk, 1997, p.226), risiko dapat dikategorikan sebagai berikut:

¾ Risiko Pelaksanaan.

¾ Risiko Fisik, merupakan risiko yang bersumber dari alam ataupun dari kesalahan manusia.

¾ Risiko Kontraktual dan Legal.

¾ Risiko Ekonomi.

¾ Risiko Politik dan Umum.

(6)

o Menurut Roozbeh Kangari (Thayono, 1999, p.17), risiko dapat dikategorikan sebagai berikut:

¾ Risiko Kontrak.

¾ Risiko Keterlambatan pengambilan keputusan.

¾ Risiko Keuangan.

¾ Risiko Teknis.

¾ Risiko Operasional.

¾ Risiko Kejadian tak terduga.

o Menurut Al-Bahar dan Crandall (Thayono, 1999, p.16), risiko dapat dikategorikan sebagai berikut:

¾ Risiko Fisik.

¾ Risiko Politik dan Lingkungan.

¾ Risiko Desain.

¾ Risiko Finansial dan Ekonomi.

¾ Risiko Bencana alam.

2.1.2. Manajemen Risiko

Manajemen risiko merupakan aplikasi dari manajemen umum yang berhubungan dengan berbagai aktifitas yang dapat menimbulkan risiko.

Manajemen risiko bukanlah suatu bidang pekerjaan yang standart seperi akunting atau keuangan; tidak pula seperti manajemen mutu. Tugas dan fungsi khusus bervariasi dalam bidang ini, serta luas karena kategori spesifik dari risiko berbeda pada tiap proyek atau perusahaan, dan hal ini turut meluas sesuai dengan makin besar dan kompleksnya keadaan. Manajemen risiko adalah luas tidak hanya terfokus pada pembelian asuransi tapi juga harus mengelola keseluruhan risiko- risiko organisasi (Ritz, 1994).

Adapun berbagai definisi tentang manajemen risiko yang dikemukakan oleh para ahli dibidangnya, diantaranya adalah :

o Manajemen risiko adalah pengenalan, pengukuran, dan perlakuan terhadap kerugian kecelakaan potensial yang muncul, hampir selalu dalam situasi

(7)

dimana hasil yang mungkin adalah kerugian atau tidak adanya perubahan dalam status quo. Manajemen risiko merupakan usaha yang masuk akal untuk mengurangi atau menghindari akibat dari kehilangan atau cedera (Williams, 1984, p.10).

o Manajemen risiko dapat diartikan sebagai fungsi dari pimpinan pelaksana dalam mengelola risiko-risiko khusus yang dihadapi dalam dunia usaha (Silalahi, 1997, p.17).

o Manajemen risiko adalah suatu pengertian dari adanya ketidakpastian yang penting tentang tingkatan dari penampilan suatu proyek yang dapat diterima (Chapman & Ward, 1997, p.7).

o Manajemen risiko adalah suatu elemen yang sangat penting dan yang perlu dilengkapi dari suatu proyek manajemen (Kezbom & Edward, 2001, p.352).

o Manajemen risiko adalah suatu proses dimana kemungkinan dari risiko atau dampak yang terjadi pada suatu proyek dapat dikurangi (Turner, 1993, p.236).

o Manajemen risiko adalah manajemen dari aktiva dan pasiva (piutang dan utang) untuk memperkecil perbedaan kerugian pada “cash flow” di masa yang akan datang dari serangan dari luar (Claessens, 1999, p.1).

Definisi tentang manajemen risiko memang bermacam-macam, akan tetapi pada dasarnya manajemen risiko bersangkutan dengan cara yang digunakan oleh sebuah perusahaan untuk mencegah ataupun menanggulangi suatu risiko yang dihadapi. Risiko-risiko tersebut kemungkinan dapat diasuransikan pada perusuhaan-perusahaan asuransi komersial dan kemungkinan pula tidak dapat diasuransikan. Pada dasarnya seorang manajer risiko lebih berhubungan dengan risiko-risiko yang dapat diasuransikan. Untuk menjadi manajer risiko, dibutuhkan pendekatan yang rasional dan harus mempertimbangkan segala kemungkinan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dari suatu perusahaan yang dimana manajer itu berada.

Siagian dan Sekarsari (2001, p.42) menjelaskan bahwa proses manajemen risiko hampir sama dengan penilaian risiko yang merupakan aktivitas dasar manajemen risiko. Suatu pendekatan yang sederhana dan sistematik sebagai tahapan dalam proses manajemen risiko dalam sebuah proyek konstruksi .

(8)

Menurut Mark S. Dorfman (2000, p.47), proses dalam manajemen risiko pada intinya dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu

1) Identifikasi dan evaluasi (mengukur frekuensi dan dampak) dari setiap risiko.yang terjadi.

Langkah yang terutama dan yang paling penting dalam menghadapi risiko adalah dengan mengidentifikasinya. Banyak pembuat keputusan meyakini bahwa prinsip yang baik dalam manajemen risiko berasal dari tahap identifikasi daripada tahap analisa. Hal ini dikarenakan identifikasi risiko mencakup perincian pemeriksaan strategi perusahaan, melalui risiko potensial mana yang bisa ditemukan dan kemungkinan disusunnya respon (Uher, 1996).

Mengidentifikasi risiko berdasarkan sumber-sumber risiko yang ada pada suatu perusahaan. Sedangkan menganalisis risiko berdasarkan hasil identifikasi sebelumnya kemudian menganalisis seberapa besar tingkat keseringan dari risiko tersebut dan seberapa jauh risiko tersebut mempengaruhi atau berdampak pada suatu perusahaan.

2) Memilih metode dan mengimplementasikannya.

Berdasarkan hasil analisis maka dapat diambil beberapa alternatif penanganannya antara lain menghindari risiko, mencegah risiko, memperkecil risiko, menghadapi risiko, dan mentransfer risiko. Pemilihan metode tersebut semuanya tergantung dari kebijaksanaan yang digunakan pada perusahaan.

Setelah dilakukan pengembangan dan pemilihan metode dibutuhkan suatu penanganan yang harus dilakukan, yang semuanya itu dapat dinilai dari alokasi biaya yang sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga risiko tersebut dapat ditangani.

3) Mengontrol manajemen risiko dari perbandingan antara rencana dan aktual.

Melakukan kontrol pada keseluruhan tahapan yang sebelumnya, sehingga dapat dilakukan perbaikan lebih lagi. Yang dimaksud dengan kontrol adalah “membandingkan” antara rencana dengan kejadian yang sesungguhnya. Dari sana akan dinilai apakah proses manajemen risiko pada suatu perusahaan telah berjalan dengan baik atau belum.

(9)

2.1.3. Perusahaan Readymix Concrete

Readymix Concrete atau yang dalam bahasa Indonesia-nya sama dengan beton siap pakai adalah beton dimana pencampurannya dilakukan secara otomatis pada satu tempat dan kemudian dikirimkan kepada pemesan dalam bentuk siap pakai (instan), dalam hal ini proyek-proyek konstruksi, dalam satu wilayah atau dengan batasan jarak tertentu. Dibuat di plant (suatu tempat yang khusus digunakan untuk pengolahan beton readymix), pada saat perjalanan ke proyek dan dapat juga tepat di proyek konstruksi (Neville & Brooks, 1989, p.619).

Karena keekonomisan dan kualitasnya, membuat para pembeli beton siap pakai ini merasa nyaman menggunakannya. Pada intinya, untuk benar-benar berguna, Readymix concrete harus berada pada suatu batasan atau jarak yang dekat dari suatu proyek.

Secara umum manajemen (pengelolaan) usaha Readymix Concrete tidak banyak berbeda dengan manajemen jenis usaha produksi yang lain. Secara garis besar pengelolaan usaha bidang operasional ini meliputi beberapa bidang yaitu : (Asmarawitjitra, 1991)

1. Bidang produksi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa jenis usaha readymix concrete mempunyai kekhususan dibandingkan dengan jenis usaha produksi lain yang dilihat dari sifat hasil produksinya antara lain :

o Adanya batasan setting time.

o Tidak bisa dilakukan stock (persediaan).

o Sangat peka terhadap kontaminasi dengan cairan-cairan kimia dan beberapa cairan lain.

Hal-hal yang termasuk dalam bidang produksi adalah :

¾ Peralatan.

Peralatan yang dipakai dalam memproduksi readymix concrete terdiri dari:

o Truk mixer.

o Wheel loader.

o Batching plant unit.

(10)

Gambar 2.1. Gambar batching plant pada perusahaan readymix

Keterangan gambar:

A = Hopper (bak penampung material) B = Alat penimbang

C = Conveyor belt D = Silo kedap air

E = Corong untuk memasukkan campuran beton ke dalam mixer

¾ Bahan Baku dan Penolong.

Bahan baku yang dipergunakan meliputi : o Semen (curah, semen sak).

o Air bersih.

o Agregat (pasir dan batu pecah).

o Concrete Admixture.

¾ Sistem Proses Produksi.

Sistem proses produksi pada usaha readymix concrete ada dua macam yaitu :

a. Proses kering ( dry process).

Pada proses ini batching plant berfungsi sebagai loading dan penimbangan material, sedangkan pancampurannya (mixing) dilakukan pada truk mixer.

(11)

b. Proses basah (wet process).

Dalam proses ini batching plant selain berfungsi sebagai loading dan penimbangan material juga berfungsi sebagai pencampur (mixing), sedangkan mixer truk hanya berfungsi sebagai transporting dan menjaga homogenitas beton.

¾ Pelaksanaan proses produksi.

Secara garis besar proses produksi readymix concrete dapat digambarkan sebagai berikut :

INPUT PROSES OUTPUT

Semen Penyiapan Bahan Baku Readymix Concrete Agregat Penimbangan dan Pencampuran (Beton siap pakai) Air Transportasi

Admixture

2. Bidang logistik.

Hal yang penting dalam bidang logistik adalah penyimpanan (loading) bahan baku dari material-material, yaitu :

¾ Semen.

Pengadaan semen Portland dapat dilakukan dalam bentuk curah menggunakan cement bulk carrier atau dalam bentuk kantong 40 kg.

Semen Portland curah disimpan dalam silo kedap udara, sedangkan semen dalam kantong disimpan dalam gudang yang aman dari pengaruh kelembaban udara.

¾ Air.

Air untuk campuran beton disimpan dalam bak persediaan yang aman dari pencemaran bahan-bahan yang dapat merusak beton. Segera sebelum dipergunakan air untuk campuran beton disiapkan dengan cara memompa kedalam tangki takaran. Analisa mutu cukup dilakukan sekali yaitu pada pertama kali air dari sumbernya yang akan dipergunakan, dan juga apabila terjadi masalah pada mutu beton.

(12)

¾ Agregat.

Pengadaan agregat dapat didatangkan dari sumbernya atau crushing plant melalui para pemasok. Lay out dan sistem penimbunan agregat perlu diatur sebaik-baiknya, berdasarkan hal-hal sebagai berikut :

o Gerakan loader dapat bebas dan efisien.

o Masing-masing timbunan tidak saling tercampur.

o Timbunan tidak terlalu tinggi agar tidak segregasi.

o Agregat dibasahi sebelum dipergunakan untuk mengurangi segregasi dan polusi.

¾ Concrete Admixture.

Untuk melayani pengecoran yang lokasinya jauh, diperlukan concrete admixture jenis retarder agar beton tidak mengeras dalam perjalanan dan slump loss tidak terlalu besar. Untuk memilih admixture yang cocok perlu dilalukan penelitian terlebih dahulu di laboratorium.

3. Bidang finansial.

Sebagaimana diketahui bahwa usaha readymix concrete membutuhkan dana yang cukup besar, diantaranya untuk modal kerja guna pembelian bahan baku dan bahan penolong. Dilain pihak pembayaran yang diterima dari hasil penjualan umumnya dilakukan beberapa minggu setelah pengiriman.

Pengelolaan bidang finansial tidak kalah pentingnya dengan bidang-bidang lain, terutama dalam situasi tight money policy seperti akhir-akhir ini, semua bidang usaha dituntut untuk melaksanakan pengelolaan keuangan secermat mungkin. Untuk bidang usaha readymix concrete kebutuhan dana umumnya diperlukan untuk :

o Investasi penambahan peralatan produksi dan peralatan penunjang produksi (pengembangan).

o Modal kerja untuk pembelian bahan baku, bahan penolong, gaji karyawan, dan biaya operasional lainnya.

o Membayar kewajiban pajak dan deviden untuk pesaham.

(13)

4. Bidang pemasaran.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bidang pemasaran readymix concrete, antara lain :

¾ Perencanaan pemasaran dikaitkan dengan kapasitas produksi.

¾ Perencanaan pengiriman yang disesuaikan dengan jadwal konsumen.

¾ Kebijaksanaan harga.

¾ Promosi / pelayanan.

¾ Diversifikasi produk.

Khusus untuk diversifikasi produk, hal ini perlu ditangani secara lebih terencana dan terintegrasi. Hal ini sangat diperlukan karena dalam perjalanannya permintaan akan readymix concrete sangat berfluktuasi.

2.2. Proses Manajemen Risiko

Proses manajemen risiko terdiri dari tiga langkah, yaitu identifikasi dan evaluasi dari setiap risiko, pemilihan metode dan pengimplementasian dari metode tersebut, dan pengontrolan. Ketiga langkah tersebut akan dijelaskan sebagai berikut : (Dorfman, 2000, p.47)

2.2.1. Identifikasi dan Evaluasi (mengukur frekuensi dan dampak) dari Setiap Risiko

Dari literatur didapat keterkaitan antara kategori risiko yang diambil dengan kategori yang lainnya dalam bidang operasional

1) Bidang Produksi

Kategori risiko di bidang produksi bisa meliputi risiko yang berhubungan dengan risiko pelaksanaan, risiko fisik (ASCE), ataupun risiko internal (PMI) yang berhubungan dengan pengoperasian suatu perusahaan, risiko kejadian tak terduga (Stephenson dan Kangari), dan risiko bencana alam (Al-Bahar dan Crandall).

(14)

Dalam hal ini risiko-risiko yang terindentifikasi, antara lain:

● Sarana dan pelengkap fasilitas, yang dibagi menjadi:

¾ Truk Mixer.

¾ Loader.

¾ Batching Plant.

● Perencanaan dan penjadwalan pekerjaan, yang dibagi menjadi:

¾ Pengaturan Jadwal.

¾ Penundaan dari proyek.

● Ketepatan penggunaan material, yang dibagi menjadi:

¾ Penggunaan material.

¾ Pengetesan.

● Sistem proses produksi.

● Permasalahan cuaca, yang dibagi menjadi:

¾ Musim hujan.

¾ Musim kemarau.

● Bencana tak terduga, yang terdiri dari:

¾ Banjir.

¾ Kebakaran.

2) Bidang Logistik

Material merupakan kategori risiko tambahan, dimana dianggap perlu dijadikan kategori risiko tersendiri. Namun sebenarnya kategori risiko ini dapat dimasukkan kategori risiko internal menurut PMI, kategori risiko yang berhubungan risiko pelaksanaan menurut ASCE, dan kategori risiko kejadian tak terduga menurut Stephenson dan Kangari.

Dalam hal ini risiko-risiko yang terindentifikasi, antara lain:

● Siklus pemakaian material.

● Tempat penyimpanan bahan baku, yang terdiri dari:

¾ Silo kedap air.

¾ Tangki air.

¾ Tangki BBM.

¾ Tempat penyimpanan admixture.

● Kehilangan material, dalam hal ini terdiri dari:

(15)

¾ Semen.

¾ Pasir.

¾ Kerikil.

¾ Admixture.

● Perencanaan pengadaan material, yang dapat dibagi menjadi:

¾ Cara pendatangan material.

¾ Hubungan dengan supplier.

¾ Survey material.

3) Bidang Finansial

Kategori risiko ini sama dengan kategori risiko ekonomi menurut ASCE dan bisa tergolong risiko eksternal / internal menurut PMI.

Dalam hal ini risiko-risiko yang terindentifikasi, antara lain:

● Kontrak, yang dapat dibagi menjadi:

¾ Kesalahan kontrak.

¾ Kegagalan pembayaran.

● Modal.

● Moneter.

● Kebijaksanaan harga.

4) Bidang Pemasaran

Kategori risiko ini meliputi risiko yang berhubungan dengan risiko kejadian tak terduga menurut Stephenson dan Kangari, risiko politik dan lingkungan menurut Al-Bahar dan Crandall dan ASCE, dan risiko eksternal/internal menurut PMI.

Dalam hal ini risiko-risiko yang terindentifikasi, antara lain:

● Lokasi lingkungan plant, yang dapat dibagi menjadi:

¾ Letak plant.

¾ Pengaruh lingkungan sekitar.

● Sistem pemasaran, yang dapat dibagi menjadi:

¾ Cara pemasaran.

¾ Pangsa pasar.

● Perijinan mobilitas.

(16)

Tabel 2.1 Elemen Risiko

KATEGORI RISIKO ELEMEN RISIKO SUMBER

Produksi Sarana dan pelengkap fasilitas 4,5 Perencanaan dan penjadwalan pekerjaan 4,5

Ketepatan penggunaan material 4,5

Sistem proses produksi 4,5

Permasalahan cuaca 2,3

Bencana tak terduga 1

Logistik Siklus pemakaian material 4,5

Tempat penyimpanan bahan baku 2,3

Kehilangan material 2,3

Perencanaan pengadaan material 4,5

Finansial Jenis kontrak 4,5

Modal 4,5

Moneter 4,5

Kebijaksanaan harga 4,5

Pemasaran Lokasi lingkungan plant 1,5

Sistem pemasaran 2,3,5

Perijinan mobilitas 1,5

Lokasi lingkungan proyek 1,5

Keterangan sumber :

1. Al-Bahar dan Crandall, 1990, p.538 2. Kangari, 1995, p.423

3. Stephenson, 1996 (Thayono, 1999, p.15) 4. ASCE (Fisk, 1997, p.226)

5. PMI (Kerzner, 1995, p.887)

FREQUENCY OF LOSS

LOW HIGH

Insurance Risk Avoidance

Also : Also :

HIGH risk transfer, loss prevention and loss reduction, loss reduction, loss prevention. if possible

Risk Assumption Loss Prevention

Also: Also :

loss prevention loss reduction if cost

and can be justified.

SEVERITY OF LOSS

LOW loss reduction Assume risk if cost if the cost of prevention or justifies the reduction cannot

benefits. be justified.

Gambar 2.2. Evaluasi dan Metode Manajemen Risiko (Modifikasi dari Dorfman, 2000, p.61)

(17)

Sedangkan untuk mengevaluasi tingkatan dari risiko yang telah diidentifikasikan diatas, ada dua aspek dari yang harus selalu dipertimbangkan , yaitu:

1. Frekuensi Risiko

Pertanyaan yang akan selalu diajukan adalah frekuensi terjadinya kehilangan / kerugian dan berapa probabilitas kejadian.

Dalam suatu kasus yang berkaitan dengan risiko, probabilitas lebih mudah untuk didapatkan. Misalnya dalam asuransi jiwa, laporan yang berupa statistik yang disebut dengan nama mortality table lebih mudah didapat dari perusahaan asuransi jiwa. Mortality table disini menunjukkan probabilitas kematian untuk semua umur, berdasarkan dari pengalaman manusia.

Perusahaan asuransi tetap menyimpan laporan kejadian kematian yang digunakan sebagai patokan dalam membuat peramalan tentang banyaknya kematian tiap tahun dalam berbagai umur.

Tapi dalam suatu kasus yang lain, suatu probabilitas itu lebih sulit untuk didapatkan. Misalnya adalah “berapa probabilitas terjadinya kecelakaan pada pesawat terbang komersial?” Pengalaman menunjukkan bahwa jarang sekali terjadinya kecelakaan pada pesawat terbang komersial. Meskipun suatu perusahaan asuransi dapat mengestimasi probabilitas kecelekaan tersebut.

Tapi seberapa sering? Per tahun? Sekali dalam 5 atau 10 tahun? Kita memang benar-benar tidak mengetahui hal tersebut.

Mengestimasi probabilitas adalah suatu metode yang dapat digunakan untuk mengukur probabilitas kehilangan/kerugian. Metode ini tidak terlalu kompleks, dimana kita hanya perlu mengetahui obyek yang akan di estimasi dan frekuensi terjadinya kehilangan tersebut (Williams, 1984, p.9).

2. Potential Severity

Aspek risiko yang lain dan yang patut untuk diperhatikan adalah dampak dari risiko. Apabila terjadi kerugian, maka seberapa serius hal tersebut terjadi? Beberapa risiko membuat dampak kerugian yang begitu besar. Contohnya adalah bencana alam yang dapat menyebabkan dampak kerugian yang begitu besar.

(18)

Namun seringkali kita juga menjumpai risiko dimana dengan dampak risiko yang rendah. Banyak dari setiap orang yang membaca buku sedang menggunakan bolpoin atau pensil untuk menggarisbawahi kata-kata yang penting. Kehilangan bolpoin atau pensil, adalah salah satu risiko yang dihadapi oleh seorang mahasiswa. Pada dasarnya, kehilangan itu sering terjadi namun tidak memiliki dampak kerugian yang begitu besar. Kehilangan beberapa ribu rupiah bukanlah suatu bencana finansial. Dampak yang dihasilkan dari risiko ini sangatlah kecil.

Suatu risiko kadangkala memiliki frekuensi terjadi dan dampak kerugian yang rendah. Biasanya untuk risiko tersebut bukanlah problem yang serius, tetapi tetap harus dilakukan analisa. Untuk dapat menganalisa frekuensi dan dampak risiko, dibuatlah matrik yang sederhana seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Setiap risiko diletakkan pada tempat yang tepat dalam matrik tersebut. Dari gambar tersebut ada 4 perletakan, yang menjelaskan hubungan antara frekuensi dan dampak terjadinya risiko (severity).

2.2.2. Memilih metode dan mengimplementasikannya

Gambar 2.3. Kerangka Metode Manajemen Risiko (Dorfman, 2000, p.53-61)

Berdasarkan literatur yang didapatkan, cara untuk menangani risiko-risiko menurut Mark S. Dorfman (2000, p.53-61) dibagi menjadi dua metode yaitu:

1. Loss control, adalah suatu kegiatan untuk mengurangi kerugian biaya yang diharapkan dan mengurangi tingkat keseringan dan dampak kerugian yang terjadi. Loss contol sendiri dibagi menjadi tiga yaitu:

Metode

Loss Control

Risk Financing

Risk Assumption

Retention Risk Transfer

Insurance Risk

Avoidance

Loss Prevention

Loss Reduction

(19)

o Risk avoidance, adalah suatu penerapan metode yang dilakukan dengan cara tidak memproduksi produk-produk yang berbahaya, akan tetapi lebih memberikan perhatian pada produksi yang lebih tidak berbahaya.

Misalnya: kita sudah mengetahui bahwa truk mixer dengan merk A mempunyai risiko rusak yang besar, oleh karena itu kita memutuskan untuk tidak membeli truk mixer merk A tersebut.

o Loss prevention, adalah suatu penerapan metode yang digunakan untuk mencegah terjadinya kerugian atau kehilangan. Misalnya: kita mengetahui bahwa loader adalah alat yang mempunyai peranaan yang cukup beasar pada perusahaan readymix yang mana loader berguna untuk mengangkut material kemudian memasukkannya ke dalam hopper. Jika loader tersebut rusak maka kegiatan pada perusahaan tersebut tidak akan berjalan dengan lancar, oleh karena itu maka dapat digunakan metode loss prevention denagn cara menyediakan cadangan loader satu lagi di plant.

o Loss reduction, adalah suatu penerapan metode yang dilakukan dengan cara memperkecil dampak-dampak kerugian yang terjadi. Misalnya: kita mengetahui bahwa truk mixer adalah salah satu sarana pengangkut yang penting bagi perusahaan readymix dan tidak boleh sering mengalami kerusakan, oleh karena itu kita harus melakukan pencegahan dengan cara membeli truk mixer yang sudah terkenal handal dan awet.

2. Risk financing, adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan kapan dan kepada siapa biaya kerugian ditanggungkan. Risk financing sendiri dibagi menjadi empat yaitu:

o Risk assumption, adalah suatu penerapan metode yang dilakukan dengan cara menerima akibat dari segala kerugian atau risiko yang terjadi.

Misalnya: terjadinya kebocoran pada hopper maka dapat diamil metode risk assumption yaitu dengan cara menerima risiko tersebut dan dilakukan upaya seperti penambalan pada hopper tersebut.

o Self insurance and financed risk retention, adalah suatu metode yang dilakukan dengan menahan obligasi untuk mengganti sebagian atau keseluruhan kerugian. Misalnya: terjadinya kegagalan pembayaran dari

(20)

kemudian dilakukan metode retention dengan cara pihak perusahaan readymix melakukan penyitaan barang-barang berharga milik kontraktor tersebut.

o Risk transfer other than insurance, adalah suatu penerapan metode yang dilakukan dengan memperbolehkan perusahaan untuk mentransfer risiko ke perusahaan lain, selain perusahaan asuransi. Misalnya: adanya orderan dari kontraktor dalam jumlah besar akan tetapi perusahaan readymix tersebut tidak dapat memenuhinya, di lain pihak orderan tersebut sudah diterima oleh pihak perusahaan, oleh karena itu metode risk transfer dapat digunakan dengan cara mengoperkan orderan tersebut ke plant lain maupun ke perusahaan readymix yang lainnya.

o Insurance, adalah suatu penerapan metode yang dilakukan dengan mengasuransikan segala sesuatu yang mempunyai potensi besar untuk terjadi risiko, kepada perusahaan asuransi. Misalnya: risiko kecelakaan pada truk mixer selama diperjalanan dapat ditanggulangai denagn metode nsurance dengan cara mengasuransikan truk mixer dan sopir truk tersebut.

Sedangkan dalam pengimplementasian untuk menerapkan suatu metode, pasti akan mempengaruhi biaya, baik biaya langsung ataupun tidak langsung.

Biaya tersebut digunakan untuk mengontrol kerugian. Untuk contohnya : dalam mencegah terjadinya kebakaran pada kantor perusahaan readymix, maka digunakan sprinkler. Disisi lain sistem sprinkler akan selalu mempunyai biaya tetap dalam proses maupun pemeliharaannya, dan dapat dilihat bahwa pengeluaran biaya tampak lebih besar jika dibandingkan dengan tanpa menggunakan sprinkler.

Permasalahan yang paling utama dalam menerapkan suatu metode manajemen risiko adalah selalu mengidentifikasi biaya secara terus-menerus.

Namun biaya yang dikeluarkan tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya jika terjadinya risiko (Trieschmann & Gustavson, 1995).

2.2.3. Mengontrol manajemen risiko dari perbandingan antara rencana dan aktual Setelah melakukan penerapan metode, maka akan dilakukan pengontrolan.Yang dimaksudkan dengan pengontrolan disini adalah

(21)

membandingkan antara rencana dengan keadaan yang sesungguhnya. Dari perbandingan tersebut dapat diketahui apakah rencana yang ada telah dapat dijalankan dengan baik atau tidak.

Tabel 2.2. Daftar literatur bab 2

Bab Tema Reference Books

2.1. TINJAUAN TEORITIS (Williams,1984)

2.1.1. Risiko (Silalahi,1997)(Williams&Heins,1985) (Williams,1984) (Thayono,1999)(Hamilton,1997) (Fisk,1997)(Al-Bahar&Crandall,1990)(PMI,2000)

(Darmawi,1997) (Kangari,1995)

(Kerzner,2004)(Trieschmann&Gustavson,1995)

(Wang,Dulaimi, Aguira,2004)

2.1.2. Manajemen Risiko (Ritz,1994)(Williams,1984)(Silalahi,1997)

(Turner,1993)(Claessens,1999)(Dorfman,2000)

(Chapman&Ward,1997)(Kezbom&Edward,2001)

(Uher,1996)

2.1.3. Perusahaan readymix concrete (Neville&Brooks,1989)

(Suaeb,1991)

2.2. PROSES MANAJEMEN RISIKO

(Dorfman,2000)

2.2.1.

Identifikasi dan Evaluasi (frekuensi & dampak) dari Risiko

(Asmarawitjitra,1991)(Williams, 1989) (Al-Bahar&Crandall,1990)(Dorfman,2000)

(Kangari,1995)(Thayono,1999)(Fisk,1997)(PMI,2000)

2.2.2.

Pemilihan metode dan

Pengimplementasian (Dorfman, 2000)

(Trieschmann & Gustavson, 1995)

2.2.3.

Pengontrolan Performa dan Kecocokan Manajemen Risiko

(Dorfman, 2000)

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum minat dapat dikatakan sebagai dorongan yang datangnya dari dalam terhadap suatu barang dan jasa karena dia merasa bahwa barang atau jasa itu ada manfaatnya bagi

Hasil dari pengurangan antara PPh di bayar sendiri dengan kredit pajak II. Sebelum menghitung PPh yang harus di bayar tersebut , maka perusahaan harus melakukan koreksi fiscal

Demikian juga dengan laporan keuangan yang akan diterbitkan oleh suatu perusahaan, karena laporan keuangan juga adalah salah satu informasi penting yang akan

Investor dapat mengunci keuntungan dari kenaikan nilai aktiva bersih (NAB) yang disebabkan oleh keuntungan yang belum terealisasi dengan menjual unit yang dimiliki pada

Sebagaimana telah diatur dalam UU No 36 Tahun 2008 pasal 11 bahwa pengeluaran untuk mendapatkan manfaat, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat

Nilai Pasar didefinisikan sebagai estimasi sejumlah uang pada tanggal penilaian, yang dapat diperoleh dari transaksi jual beli atau hasil penukaran suatu

Apabila di kemudian hari karyawan tidak bekerja sesuai dengan harapan perusahaan maka dapat dilakukan penelitian dan pemeriksaan dokumen-dokumen dari karyawan yang

Namun pengertian dari rumah susun mengalami perkembangan, sebagaimana dikutip oleh Kuswahyono (2004, p.6), suatu pemilikan bangunan yang terdiri atas bagian-bagian yang