• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Perbandingan Bubur Mentimun dengan Bubur Brokoli dan Persentase Gum Arab Terhadap Mutu Vegetable Leather

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Perbandingan Bubur Mentimun dengan Bubur Brokoli dan Persentase Gum Arab Terhadap Mutu Vegetable Leather"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Mentimun

Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang

sudah populer di seluruh dunia. Buah mentimun muda dapat diolah menjadi acar,

sebagai pencampuran lotek atau gado-gado, asinan, dan lain-lain. Kegunaan

mengkonsumsi buah mentimun selain menambah cita rasa makanan juga

mengandung gizi cukup tinggi untuk kesehatan tubuh (Rukmana, 1994).

Pada umumnya mentimun disajikan dalam bentuk olahan segar. Seperti acar,

asinan, kimchi, salad, dan lalap. Mentimun dapat pula dikonsumsi sebagai

minuman segar berupa jus. Jus mentimun yang diminum secara rutin setiap 2 hari

sekali berkhasiat untuk menghaluskan kulit, menjaga kerusakan kulit dari

sengatan sinar matahari dan dapat menurunkan panas dalam bahkan mentimun

yang dikukus dan disimpan sehari semalam lalu dimakan langsung akan

berkhasiat mengurangi sakit tenggorokan dan batuk-batuk (Sumpena, 2001).

Mentimun diduga memiliki khasiat untuk beberapa penyakit, seperti

hipertensi, sariawan, batu ginjal, dan penyejuk kulit. Sari mentimun banyak

dijumpai di pasaran dalam bentuk pembersih dan penyegar kulit, berguna juga

sebagai rejuvenator sehingga kita tampak lebih segar dan lebih muda

(Soedibyo, 1998).

Mentimun merupakan buah yang rendah kalori, kaya akan air, dan

merupakan sumber vitamin C dengan kandungan yang cukup tinggi, juga

mengandung flavonoid. Diketahui bahwa vitamin C dan flavonoid mempunyai

(2)

cenderung membentuk radikal baru (Noguci dan Niki, 1999). Adapun komposisi

gizi buah mentimun tiap 100 gram bahan segar menurut Rukmana (1994) adalah

seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan gizi buah mentimun tiap 100 gram bahan segar

Komposisi gizi Kandungan gizi

Sumber : *) Direktorat Gizi Depkes R.I. (1981), **) Knott dan Jose (1964).

Brokoli

Brokoli (Brassica oleraceae L. var. italic) merupakan salah satu komoditi

hortikultura yang mudah rusak (perishable) karena memiliki kandungan air yang

tinggi (90%) (Rokhani, 1995). Kondisi paparan suhu 25oC dan RH 96%

menyebabkan kehilangan berat (weight loss) brokoli setelah dipanen semakin

meningkat sampai mencapai 7% selama penyimpanan sekitar 3 hari; sementara

kandungan klorofilnya menurun sampai 30% (Finger, dkk., 1999). Kerusakan

lainnya yang berhubungan dengan brokoli setelah panen adalah perubahan

kandungan pati, gula non reduksi, total gula terlarut dan kandungan gula reduksi

(3)

Brokoli mempunyai daya tahan sangat rendah setelah panen, kuncup

bunganya akan cepat membuka dan berkembang. Warna bunga juga akan cepat

berubah dari hijau ke kuning. Laju respirasi yang cepat menjadi ciri sayuran ini

karena bagian bunga adalah organ yang disusun oleh jaringan muda dan sangat

aktif dalam proses biologis (Sabari, dkk., 1994). Brokoli merupakan jenis sayuran

yang memiliki tingkat laju respirasi yang sangat tinggi. Komoditas dengan laju

respirasi tinggi akan memiliki umur simpan lebih pendek dibanding yang

memiliki laju respirasi rendah (Saltveit, 1996).

Brokoli kaya akan provitamin A dan antioksidan yang tinggi yang dapat

mencegah dan menghambat perkembangan sel kanker. Sayuran ini juga memiliki

kandungan gizi lainnya antara lain vitamin C, D, E, serat alami (Hernani dan

Rahardjo, 2005). Selain vitamin, brokoli juga mengandung mineral yang disebut

kromium yang berfungsi sebagai hormon insulin. Ini merupakan salah satu cara

mengatur kadar gula darah dan brokoli juga mengandung sumber zat besi yang

baik, sehingga dapat digunakan sebagai obat yang efektif untuk anemia

(Sudarminto, 2015). Namun, pemanfaatan sayuran ini masih terbatas dan kurang

diminati jika dikonsumsi langsung. Oleh sebab itu, perlu dilakukan

pengembangan produk dalam pengolahan brokoli sehingga masyarakat dapat

memanfaatkan nilai gizi yang terdapat pada brokoli (Sitorus, dkk., 2010).

Sebagai sayuran antikanker, terbukti bahwa orang yang mengkonsumsi

brokoli rendah kemungkinan terkena kanker esofagus, perut, usus besar,

paru-paru, laring, prostat, mulut dan faring. Rating tertinggi adalah antikanker kolon,

oleh karena itu wanita dianjurkan banyak mengkonsumsi brokoli, selain itu juga

(4)

Brokoli baik dikonsumsi mentah maupun setelah dimasak terlebih dahulu. Cara

memasak brokoli agar nutrisinya tidak banyak berubah adalah dengan cara

dikukus selama 3-4 menit kira-kira 1 inci di atas air mendidih. Memasak brokoli

terlalu matang akan membuat brokoli menjadi berwarna hijau kehitam-hitaman

dan menghilangkan kadar nutrisinya, terutama vitamin C (Inayah, 2007). Adapun

kandungan gizi brokoli tiap 100 gram bahan menurut Lingga (2010) adalah seperti

pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan gizi brokoli per 100 gram bahan

Nutrisi Kandungan Nutrisi Kandungan

Vegetable leather adalah produk berbasis sayuran yang dikeringkan,

dimakan sebagai snack dengan bentuk strip atau lembaran yang fleksibel dan

teksturnya plastis. Tingkat konsumsi sayuran penduduk Indonesia termasuk yang

paling rendah di dunia. Data Riskesdas (Riset kesehatan dasar) menunjukkan

bahwa konsumsi sayuran penduduk Indonesia baru memenuhi 95 kkal/kapita/hari,

(5)

vegetable leather merupakan cara praktis untuk meningkatkan konsumsi sayur

dalam bentuk padat, baik anak-anak maupun dewasa

(Handayani dan Ayustaningwarno, 2014).

Selain manisan basah dan kering, vegetable leather juga termasuk produk

makanan yang tidak mengandung zat pewarna. Hal ini cocok untuk dijadikan

cemilan dan mempunyai aneka ragam bentuk dan warna. Vegetable leather ini

merupakan produk manisan kering dari sayur-sayuran yang diawetkan dengan

gula pada konsentrasi tertentu. Selain itu, biaya penanganan, pengangkutan, dan

penyimpanan relatif rendah karena lebih ringan (Elizabeth, dkk., 2006).

Produk vegetable leather dapat dibuat dari satu jenis buah atau sayuran

yang dicampur dengan beberapa jenis buah-buahan atau sayur-sayuran. Kadar air

vegetable leather berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dari manisan

kering buah-buahan yaitu maksimal 25%, nilai aw kurang dari 0,7, tekstur plastis,

kenampakan seperti kulit, terlihat mengkilap, dapat dikonsumsi secara langsung

serta mempunyai warna, aroma dan cita rasa yang khas dari jenis buah yang

digunakan sebagai bahan baku (Nurlaely, 2002).

Pada pembuatan vegetable leather dilakukan penambahan gula dan

pengeringan sampai kadar air mencapai 10% - 15%. Gula mempunyai daya larut

yang tinggi, menurunkan keseimbangan kelembapan relatif dan mengikat air.

Adanya sifat-sifat tersebut maka gula dapat dipakai dalam pengawetan bahan

pangan (Buckle, dkk., 2009).

Vegetable leather belum memiliki standar mutu secara nasional sehingga

(6)

mutu manisan kering menurut BSN - SNI No.1718, 1996 yang ditunjukkan pada

Tabel 3.

Tabel 3. Syarat mutu manisan kering buah-buahan

No. Uraian Persyaratan

1. Keadaan (Kenampakan, bau, rasa dan jamur) Normal, tidak berjamur

2. Kadar air Maks.25% (b/b)

3. Jumlah gula (dihitung sebagai sukrosa) Min. 40%

4. Pemanis buatan Tidak ada

5. Zat warna Yang diizinkan untuk

makanan 6. Benda asing (daun, tangkai, pasir dan lain-lain) Tidak ada 7. Bahan pengawet (dihitung sebagai SO2) Maks. 50 mg/kg

Cemaran logam :

14. - Bakteri Eschericchia coli Tidak ada

Keterangan: (*) Produk yang dikalengkan. Sumber: BSN - SNI No.1718, 1996.

Kriteria yang diharapkan dari vegetable leather yaitu memiliki warna yang

menarik, juga memiliki plastisitas yang baik sehingga dapat digulung (tidak

mudah patah). Untuk menghasilkan vegetable leather dengan kriteria tersebut

maka ditambahkan gum arab yang diharapkan dapat memperbaiki plastisitas dari

vegetable leather tersebut. Selain itu dilakukan penambahan gula sebagai aplikasi

pengawetan produk (Historiasih, 2010).

Vegetable leather dapat diolah dan dibentuk dari daging atau bunga sayur

berbagai jenis sayuran segar yang telah dihancurkan dan dikeringkan.

Pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran atau bisa juga menggunakan

(7)

memiliki daya simpan sampai 12 bulan, jika disimpan dalam keadaan baik

(Sangihe, 2010).

Gum arab

Gum arab adalah ekstrudat kering dari pohon acacia. Senyawa ini

merupakan garam netral atau sedikit asam polisakarida kompleks yang

mengandung anion kalsium, magnesium, dan kalium. Molekul berbentuk

gulungan dengan banyak rantai samping dan berbobot molekul sekitar 300.000.

Molekul terdiri atas empat gula, L-arabinosa, L-ramnosa, D-galaktosa, dan asam

D-glukoronat. Gum arab merupakan salah satu dari beberapa gum yang

memerlukan konsentrasi tinggi untuk meningkatkan kekentalan dan dipakai

sebagai penghambat pengkristalan dan pengemulsi. Gum arab membentuk

koaservat dengan gelatin dan banyak protein lain (deMan, 1989).

Gum arab merupakan suatu zat yang dapat berfungsi menstabilkan,

mengentalkan atau merekatkan suatu makanan yang dicampur dengan air,

sehingga dapat membentuk cairan dengan kekentalan yang stabil dan homogen

pada waktu yang relatif lama. Adapun pencegahan penggumpalan awal tersebut

dapat dilakukan dengan penambahan bahan penstabil yaitu gum arab 5-10 g/liter

atau setara 1% dari berat bahan. Di samping fungsi gum arab untuk memperbaiki

viskositas, tekstur dan bentuk makanan. Gum arab juga mempertahankan aroma

dari bahan yang akan dikeringkan karena gum arab dapat melapisi senyawa

aroma, sehingga terlindungi dari pengaruh oksidasi, evaporasi, dan absorbsi air

dari udara terbuka terutama untuk produk-produk yang higroskopis

(Gaonkar, 1995). Adapun struktur kimia dari gum arab dapat dilihat pada Gambar

(8)

Gambar 1. Struktur kimia gum arab (Williams dan Phillips, 2004).

Gum arab dapat digunakan untuk bahan pengental, pembentuk lapisan

tipis, pemantap emulsi dan pengikatan air serta flavour. Gum arab dapat

meningkatkan stabilitas dengan peningkatan viskositas. Jenis pengental ini juga

tahan panas pada proses yang menggunakan panas. Namun suhu dan waktu

pemanasannya perlu dikontrol, mengingat gum arab dapat terdegradasi secara

perlahan-lahan dan kekurangan efisiensi emulsifikasi dan viskositas. Begitu juga

dengan viskositasnya akan meningkat sebanding dengan peningkatan konsentrasi.

Gum arab mempunyai gugus Arabino Galactan Protein (AGP) dan glikoprotein

(GP) yang berperan sebagai pengemulsi dan pengental (Alinkolis, 1989). Adapun

kandungan zat gizi gum arab tiap 100 g bahan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan zat gizi gum arab dalam 100 g bahan

No. Kandungan gizi Jumlah

1.

(9)

Asam sitrat

Asam sitrat sering disebut garam asam. Senyawa ini berbentuk kristal

putih seperti gula pasir. Fungsi utama asam sitrat adalah sebagai bahan pengasam.

Namun, sebenarnya bahan ini memiliki fungsi yang baik untuk kesehatan yaitu

sebagai antioksidan yang fungsinya mencegah terjadinya reaksi browning

(pencoklatan) produk akibat efek samping dari pemanasan (Suprapti, 2005).

Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun

dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan

pengawet yang baik dan alami, selain itu asam sitrat juga digunakan sebagai

penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia,

asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di

dalam mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga

dapat digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai

antioksidan. Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun

ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot kering, pada

jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut). Rumus kimia asam

sitrat adalah C6H8O7 (Wikipedia, 2016).

Keasaman dalam minuman ringan atau sari buah selain akan

meningkatkan cita rasa juga bertindak sebagai pengawet karena penambahan

asam akan menurunkan pH sehingga pertumbuhan mikroba pembusuk dapat

terhambat. Asam sitrat adalah asam yang dikenal sebagai rasa asam alamiah yang

terdapat dalam buah-buahan bersama-sama dengan vitamin C (Kusumawati,

(10)

Asam sitrat termasuk dalam golongan flavor-enhancer atau bahan pemacu

rasa. Bahan pemacu rasa ini merupakan bahan tambahan yang dapat diberikan

pada suatu produk pangan untuk memberikan nilai lebih pada rasa, sesuai dengan

karakteristik produk pangan yang dihasilkan. Asam sitrat sebagai pemacu rasa,

banyak digunakan dalam industri, termasuk industri makanan karena memiliki

tingkat kelarutan yang tinggi, memberikan rasa asam yang enak dan tidak bersifat

racun (Fachruddin, 2003).

Penambahan konsentrasi asam sitrat sebesar 0,2%, dapat menimbulkan

rasa yang berbeda pada produk vegetable leather. Winarno (2007) menyatakan

bahwa asam sitrat termasuk ke dalam kelompok asidulan yang dapat digunakan

sebagai penguat rasa, warna dan dapat menyelubungi after taste yang tidak

disukai.

Asam sitrat berfungsi sebagai pemberi rasa asam dan mencegah kristalisasi

gula. Selain itu, asam sitrat juga berfungsi sebagai katalisator hidrolisa sukrosa ke

bentuk gula invert selama penyimpanan serta sebagai penjernih gel yang

dihasilkan. Pembentukan tekstur vegetable leather tergantung dari derajat

keasaman campuran bahan yaitu pada nilai pH tertentu yang diperlukan. Nilai pH

dapat diturunkan dengan penambahan sejumlah kecil asam sitrat. Penambahan

asam sitrat pada produk vegetable leather jumlahnya dapat beragam tergantung

bahan baku buah yang digunakan yang berkisar 0,2-0,3%

(Kwartiningsih dan Mulyati, 2005).

Gula

Sukrosa atau sakarosa disebut juga gula tebu atau gula bit. Secara

(11)

penyulingan dan kristalisasi. Apabila dihidrolisis atau dicerna, maka sukrosa akan

pecah menjadi satu unit glukosa dan satu unit fruktosa (Almatsier, 2004).

Gula disamping berfungsi sebagai pemberi tekstur juga berfungsi untuk

mengawetkan, pemberi penampakan, dan flavour yang ideal (Muchtadi, 1989).

Penambahan gula juga memberi berpengaruh pada kekentalan gel yang terbentuk.

Hal ini disebabkan gula akan memerangkap air. Jika air dalam bahan pangan

terperangkap maka air yang tersedia untuk pertumbuhan mikroba atau aw menjadi

rendah, hal ini yang menjadikan produk awet (Shin, dkk., 2002). Adapun

komposisi kimia gula putih dalam 100 g bahan menurut Gayo (1987) adalah

seperti pada Tabel 5.

Tabel 5. Komposisi kimia gula putih dalam 100 g bahan

Komponen Jumlah

Kalori

Karbohidrat (g) Kalsium (mg) Posfor (mg) Besi (mg)

364 94

5 1 0,1

Sumber : Gayo, (1987).

Gula di dalam vegetable leather ditujukan untuk mengikat air sehingga

akan mempengaruhi tekstur atau kekerasan dari produk vegetable leather yang

dihasilkan. Produk vegetable leather dengan penambahan konsentrasi gula yang

Gambar

Tabel 1. Kandungan gizi buah mentimun tiap 100 gram bahan segar
Tabel 2. Kandungan gizi brokoli per 100 gram bahan
Tabel 3. Syarat mutu manisan kering buah-buahan
Gambar 1. Struktur kimia gum arab (Williams dan Phillips, 2004).
+2

Referensi

Dokumen terkait

Interaksi antara perbandingan bubur buah nenas dan bubur brokoli dengan konsentrasi gum arab memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar vitamin C,

Perbandingan bubur buah sirsak denganbubur buah papaya, dan konsentrasi gum arab memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar serat

nanas dengan daun sirsak dan persentase gum arab yang digunakan sehingga dapat menghasilkan puding dengan mutu yang baik, serta sebagai informasi.. bahwa daun

Fikokoloid yang terdapat pada aga-agar memiliki sifat yang dapat membentuk gel,. sehingga sering dimanfaatkan dalam industri

Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain itu asam sitrat juga digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan.. Dalam

[r]

Jadi untuk menghasilkan fruit leather dengan kriteria tersebut harus dilakukan tahap pencampuran seluruh bahan seperti bubur buah, bubur sayur, gum arab, asam dan penambahan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan bubur buah nenas dan bubur brokoli memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar vitamin C, kadar serat kasar, total