CATATAN RAPAT PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Teks penuh

(1)

CATATAN RAPAT

PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke Jenis Rapat Deng an Sifat Rapat Hari. Tanggal Pukul Tempat Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara Rapat Hadir

PERADILAN TATA USAHA NEGARA 1986 - 1987

II 12

Rapat Kerja Panitia Khusus ke-9 Menteri Kehakiman

Terbuka

Saptu, 25 Oktober 1986 09.10 s/d 13.10 WIB.

Ruang Rapat Panitia Khusus DPR-RI DR. A.A. Baramuli, S.H.

Drs. Noer Fata

Melanjutkan pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Ussaha Negara antara DPR-RI dan pemerintah PANITIA KHUSUS:

26 dari 38 orang Anggota Tetap; 11 dari 19 orang Anggota Pengganti.

PEMERINTAH :

(2)

ANGGOTA TETAP : 1. DR. A.A. Baramuli, S.H. 2. Damciwar, S.H. 3. Soelaksono, S.H. 4. H.M. Munasir 5. Imam Sukarsono, S.H. 6. M. Said Wijayaatmadja, S.H. 7. . Harry Suwondo, S.H. 8. Ors. F. Harefa, S.H. 9. M.S. Situmorang

10. Mohammad Noer Madjid, S.H. 11. Taufik Hidayat, S.H.

12. Prof. Soehardjo Sastrosoehardjo, S.H. 13. Suhadi Hardjosutamo, S.H.

14. Soeboeh Reksojoedo, S.H. 15. Ors. Rivai siata

16. M. Zainuddin Wasaraka. 17. Muljadi Djajanegara, S.H. 18. Ors. Aloysius Aloy 19. Sugiharsojono, S.H. 20. Drs. Sawidago Wounde 21. Soetomo HR, S.H. 22. H. Adnan Kohar S. 23. H.M. Djohan Burhanuddin A, S.H. 24. TGK. H.M. Saleh. 25. H. Djamaluddin Tarigan 26. Ors. Ruhani Abdul Hakim. ANGGOTA PENGGANTI :

1. Soeharto

2. Amir Yudowinarno 3. Sutjipto, S.H.

4. Ny. A. Roebiono Kertopati, S.H. 5.

A.

Latief, S.H.

6. H.R. Soedarsono

(3)

8. lbnu Saleh.

9. Supannan Adiwidjaja, S.H. 10. Ors. H. Yahya Chumaidi" Hasan 11. Abdul Hay Jayamenggala. PEMERINTAH :

l. Ismail Saleh, S.H. - Menteri Kehakiman

2.

Indroharto, S.H. - Staf

3.

Roeskamdi, S.H. - Staf

4. Anton Soedjadi, S.H. - Staf

5.

Dr.

Paulus Effendie L, S.H. - Staf

6. Marianna Sutadi, S.H. - Staf

7. Setiawan - Staf

8.

Ny. Mariatul Azma Saleh, S.H. - Staf

9.

Amarollah Salim - Staf

10. Wicipto Setiadi. S.H. - Staf

11. Etty Rusmadi Murad - Staf

12. Dewi Maryun - Staf

13. Heriyanto Bakrie - Staf Humas

14. A. Sudjadi - Penghubung Dep. Keh.

KETUA RAPAT (DR. A.A. BARAMULI, S.H.) :

Membuka Rapat Kerja dengan pemerintah dan menyatakan Rapat Kerja ini terbuka untuk umum.

Sebelum memasuki materi rancangan ini, maka perkenankan untuk membaakan surat masuk dan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana MKGR, isinya tanggapan terhadap Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara.

Kemudian perlu diingatkan bahwa notulen yang telah dibuat t~akhir tanggal 23 Oktober 1986 itu dibagikan pada hari ini dan sebagaimana biasa sesuai dengan ketentuan pasal di dalam Tata-Tertib DPR maka apa yang dicantumkan di dalam

#

Tata-tertib ini terlaku bagi Saudara-saudra untuk mengadakan perbaikan dalam waktu 4 hari.

Ada beberapa yang langsung dari Pimpinan memeritahu Sekretaris untuk tidak

dimasukkan.

.f

Dengan demikian sekarang memasuki batang tubuh daripada Rancangan Undang-undang ini yang sekarang telah tiba pada Bab IV Hukum Acara. Dalam Bab ini ada FPDI yang langsung mengenai bagian pertama yang disebut gugatan.

(4)

Dan disini tidak ada perobahan sehingga sama Fraksi dan Pemerintah.

Pasal 53 ada pendapat dari FABRI untuk ayat (2), dan untuk ayat (1) dari FKP dan FPP.

Dipersilakan FPP.

FPP (DRS. H. YAHYA CHUMAIDI HASAN):

Mengemukakan bahwa di dalam membahas Pasal 53 ayat ( 1) FPP menyampaikan DIM dengan tidak bermaksud merobah materi, namun mengusulkan perbaikan redaksi dengan asumsi sering mendengar bahwa bahasa perundang-undangan mamang sangat susah dipahami oleh rakyat pada umumnya. Karena itu FPP mengusulkan kata yang disengketakan itu diganti menjadi kata tersebut.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Mengemukakan bahwa FKP mohon perhatian bahwa Pasal 53 ini penting jadi mohon nanti jangan terlalu cepat.

FKP mengenai Pasal 53 ayat (l), pertama dalam ayat (1) ada beberapa saran mengenai masalah sedikit banyak juga redaksional tetapi juga ada masalah yang ingin disarankan.

Pertama, mengenai gugatan tertulis FKP berpendapat seyogyanya tertulis itu dihapuskan saja, artinya cukup dengan gugatan kepada pengadilan. Alasannya bahwa sipenggugat itu dapat saja maju · kepada pengadilan yang nantinya akan diterima itu dapat saja maju kepada pengadilan yang nantinya akan diterima oleh Panitera dan dengan petunjuk Hakim. Dengan ·sendirinya apa yang ia kemukakan itu · tentunya akan ditulis oleh Panitera.

. .

Jadi untuk mempermudah bagi sipenggugat maka FKP menyarankan agar kata tertulis itu ditiadakan.

Yang kedua, adalah redaksional : Yaitu gugatan diajukan kepada pengadilan tidak perlu Pengadilan Tingkat Pertama karena di dalam Pasal I butir 8 disitu disebut: pengadilan adalah Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dilingkungan Peradilan Tata Usaha Negara. Dengan adanya intepretasi dari Pasal 1 butir 8 maka FKP berpendapat cukup diajukan kepada Pengadilan.

Kemudian mengenai istilah kerugian ini juga bersifat redaksional, karana istilah ini perlu nanti dalam Panja dipikirkan oleh Tim Kecil atau Tim Perumus mengenai peristilahan, apakah ganti rug~ · apakah kerugian, jadi ini bersifat

redaksional. '

Mengenai istilah Badan Hukum Privat yang disengketakan, inipun pada waktu membicarakan Pasal 1 juga sepakat mengenai peristilahan ini untuk ditelaah kembali dalam Panja.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.):

(5)

DIM FPDI tidak mengadakan perubahan yang berarti FPDI bisa menerima Rancangan Undang-undang, namun toh di dalam hal ini masih diperlukan adanya penghalusan bahasa atau redaksional FPDI bisa mendukungnya untuk itu.

FABRI (M.S. SITUMORANG ) :

Mengemukakan bahwa FABRI di dalam ayat (1) ini tidak memberikan pendapat setuju dengan Rancangan Undang-undangnya. Namun jika ada perbaikan redaksional dalam hal ini yang tidak mengganggu daripada inti sari daripada keseluruhan dari pasal yang bersangkutan FABRI senantiasa dapat ikut serta menyetujui.

KETUA RAPAT :

Memang kalau dilihat sepintas lalu dari FKP bukan soal redaksional saja karena · ada pengertian yang mendalam yang dimaksud.

Dipersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Yang pertama dari FPP agar kata yang disengketakan itu diganti dengan kata tersebut. Ini masalah redaksional, tetapi ingin mengingatkan bahwa memang keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu, itu yang menjadi inti. Jadi apabila diganti makna yang menjadi titik berat Pasal 53 ayat (1). Jadi keputusan Tata Usaha Negara yang ... tetapi keputusan Tata Usaha Negara yang disangketakan itu, ada tambahan yang disengketakan itu, -itu-sesungguhnya penting apabila itu diganti dengan tersebut sekedar untuk tata bahasa dan redaksional kami khawatir mengurangi makna dari Pasal 53 ayat (1).

FKP mengenai gugatan kata tertulis dalam ayat (1) diserahkan agar dihapus. Memang ini sesuatu hal mungkin menimbulkan kekurang pengertian dalam memperlajari Pasal 53 ayat (1) Kata tertulis disini adalah penting karena ini merupakan sesuatu bahan untuk pengajuan perkara ke Pengadilan Tata Usaha Negara dan segala sesuatu itu adalah dasamya tertulis. Disadari bahwa ada masyarakat kita yang tidak mampu menyatakan tertulis itu. Dalam hal demikian maka memang orang yang bersangkutan datang ke pengadilan lalu mengemukakan secara lisan dan kewajiban dari Hakim Panitera itu mencatat apa yang digugat itu.

Jadi tidak bisa datang ke pengadilan saya mau menggugat pejabat Tata Usaha Negara A selesai, itu tidak bisa, harus terulis. Oleh karena tidak bisa tertulis maka pejabat pengadilan inilah yang membantu untuk mencatat apa yang digugat itu sehingga ada· gugatan tertulis yang disiapkan oleh pejabat peradilan. Jadi Pemerintah keberatan apabila ini dihapuskan, tetapi Pemerintah ini mengakomudir pendapat dari FKP Kiranya dipandang perlu dan demi kejelasannya dapat dimasukan tambahan suatu ayat ataupun juga suatu penjelasan ini terserah dimana letaknya yang kurang lebih intinya diambil dari HIR dan itupun juga direncanakan dimasukkan nanti di dalam Rancangan Undang-undang Hukum Perdata. Jadi perkenankan dalam kesempatan ini dibacakan ketentuan dalam HIR sekedar untuk mengakomodir pendapat dari FKP dan apabila disepakati ketentuan yang seperi demikianpun dapat juga dimasukan dibatang tubuh, bunyinya Pasal 120 dari HIR : Jika orang

(6)

mengugat tidak pandai menulis maka tuntutan boleh diajukan dengan lisan kepada Ketua Pengadilan Negeri, Ketua itu mencatat tuntutan atau menyuruh mencatatnya. Sampai sekarang masih berlaku. Tetapi ketentuan ini juga di dalam rancangan Hukum Perdata kita dimasukan yang kurang lebih bunyinya sebagai berikut : Apabila penggugat tidak dapat menulis maka dapat mengajukan gugatannya secara lisan

....

langsung kepada Ketua Pengadilan Negeri atau hakim yang ditunjuk olehnya untuk itu. Ketua Penga<Jilan Negeri atau Hakim yang ditunjuk segera membuat catatan tentang gugatan J}san atau memerintahkan kepada Panitera melakukan pencatatan itu. Ini terdiri dari tiga ayat, ayat yang terakhir ialah : Catatan tentang gugatan lisan hams dibubuhi cap jempol oleh penggugat yang disahkan oleh Hakim.

Ketentuan semacam ini ingin mendapatkan kesepakatan dari Fraksi-fraksi kiranya dapat dipertimbangkan untuk dimasukkan di dalam batang tubuh ini apaibla itu dianggap penting dalam rangka memperjelas kata-kata gugatan tertulis. Ini yang kami ajukan untuk mengakomidir pendapat dari FKP Sehingga apabila ini dimasukan maka kata gugatan tertulis itu tetap dipertahankan. Apabila ini belum bisa diputuskan sekarang paling tidak bahan-bahan ini dapat dibahas lebih lanjut di tingkat Panja. Ini yang pertama.

Yang kedua adalah gugatan diajukan kepada Pengadilan Tingkat Pertama ini kata -pertama-dihapus menurut FKP oleh karena dikembalikan kepada pengertian pasal 1. Kata tingkat pertama juga ditemukan di dal8Jll pasal-pasal sebelumnya seperti Pengadilan Tmggi Tingkat Pertama sesungguhnya untuk memperjelas. Jadi dikembalikan lagi untuk memperjelas ini dihilangkan oleh karena sudah ada Pasal 1 Peilgertian itu walaupun Pasal 1 itu yang dimaksud dengan Pengadilan itu adalah Pengadilan Tata Usaha dan atau Pengadilan Tmggi Tata Usaha orang bisa bertanya yang mana ini. Yang Pengadilan Tata Usaha Negara atau pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Untuk menghindari keraguan-keraguan itu maka ayat (1) disebut tingkat pertama.

Yang ketiga kami setuju dengan FKP kata kerugian, ganti kerugian ini redaksional itu supaya dibahas terserah apakah di Timus.

Yang keempat, demikian juga mengenai Badan Hukum Privat yang disengketakan, ini peristilahan-peristilahan ini pun juga Pemerintah setuju untuk ditelaah kembali.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

FKP mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang memang pertama itu agak esensia yaitu mengenai tertulis dengan jawaban Pemerintah FKP bisa menerim~ ada atau tidak adanya gugatan dengan tertulis atau tertulis dihilangkan perlu adanya penjelasan. Jadi dengan demikian FKP bisa menerima mengenai tertulis itu atas penjelasan dari Pemerintah. Dan mengenai Pengadilan Tmgkat Pertama nanti ditinjau secara menyeluruh peristilahan itu apa perlu atau tidak karena ada hubungannya dengan bahasa-bahasa lain yang juga ada istilah tingkat pertama.

Kemudian mengenai peristilahan lain juga ditinjau hubungannya dengan

(7)

pasal yang lain. Dalam hal ini FKP mengusulkan supaya di-Panja-kan, walaupun mengenai peristilahan.

KETUA RAPAT :

Jadi jelas ayat (1) ini masuk dalam Panja oleh karena ada hal yang diusulkan oleh Pemerintah yaitu ayat barn ayat (I) bisa menjadi ayat (2) apa yang dimaksudkan dengan sebenarnya tertulis, yaitu bagaimana memajukan suatu gugatan.

Kedua, arti tetulis bisa ditambahkan dalam penjelasan kalau masih dianggap perlu walaupun sudah ada ayat barn sesuai usul Menteri yang memang diambil nanti untuk Hukum Acara Perdata lalu kemudian kalau masih perlu diberi penjelasan tentang arti tertulis.

Ketiga, mengenai Badan Hukum Privat itu memang hams di-Panja-kan sebab dari semula telah disepakati demikan, sedangkan yang lain sisanya itu rumusan redaksional.

Setujukan rumusan ini di-Panjakan?

FPP (DRS. H. YAHYA CHUMAIDI HASAN) :

FPP ingin menambahkan penjelasan tentang usul FPP yaitu kata yang disengketakan. Pemahaman FPP dari segi redaksi bahwa keputusan tersebut pada saat itu belum disengketakan baru akan disengketakank artinya setelah penggugat menyampaikan gugatannya baru menjadi keputusan itu disengketakan. Di sini menurut pemahaman FPP dari kalimat rangkaian kalimat ini jelas pada keputusan tersebut pada saat itu belum disengketakan, jadi barn akan disengketakan. Oleh karena itu FPP mengusulkan yang disengketakan itu FPP mengusulkan dengan kata tersebut. Namun sekali lagi ini hanya masalah redaksi dengan tidak merubah inti daripada maksud dari pasalnya.

KETUA RAPAT :

Jadi termasuk apa yang dimajukan oleh FPP di Panjakan yaitu arti daripada yang diusulkan tadi yaitu tersebut jadi satu, dua, tiga mengenai soal redaksional. Jadi tetap redaksional tidak mengenai Badan Hukum Privat yang disengketakan 1. usul barn. 2 mengenai Badan Hukum Privat yang disengketakan, 3. apa msih perlu penjelasan tertulis dalam Pasal 53 ini. Sebab di dalam rancangan ini tidak ada pejelasannya.

Sedangkan mengenai redaksinya seperti yang dikemukakan baik FPDI, FPP, FABRI.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : INTERUPSI

Mengenai FPP Pemerintah berpendapat bahwa itu bukan redaksional tetapi itu prinsipiil, tetapi Pemerintah setuju agar itu di-Panja-kan.

KETUA RAPAT :

(8)

dianggap oleh Pemerintah bi:>a merubah isinya. Mengenai ayat (2) dari FAB RI

FABRI (M.S. SITUMORANG):

Di dalam ayat (2) ini FABRI memang mempunyai catatan yaitu perlu diberikan penjelasan dengan disebut contoh-contoh. Disini dinyatakan alasan-alasan yang dapat digunakan dalam gugatan yang dimaksud dalam ayat ( 1) pertama adalah Keputusan Badan Tata Usaha Negara, badan atau pejabat dimaksudkan pada ayat ( 1) bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku badan atau pejabat Tata Usaha Negara daripada watu mengeluarkan keputusan dan kemudian ayat (3) ayat c juga demikian dan FABRI menganggap perlu adanya sesuatu penjelasan untuk ini sehingga lebih jelas, itu maksudnya FABRI. Contoh-contoh diberikan dalam arti memperjelas makna daripada undang-undang ini yaitu ayat (2)

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Memang DIM FKP itu semua ada perobahan. Tetapi dalam hal ini lebih banyak sejalfill dengan FABRI, bawa mengenai alasan-alasan dalam a, b, dan c karena ini masalah-masalah yang baru dan masalah-masalah ini sesungguhnya adalah nantinya menjadi Peradilan Tata Usaha Negara ini perlu ada beberapa contoh. Mungkin cukup beberapa contoh yang nantinya yurisprudensi akan menangani masalah ini. Walaupun demik.ian contoh-contoh itu penting juga dan mengenai contoh ini sekedar untuk memberikan contoh itu tidak mudah, · contoh untuk dimasukan dalam penjelasan, itupun untuk masalah a, b, c, ini perlu ada waktu.

Jadi sama dengan FABRI minta ada penjelasan dengan contoh-contoh dan nantinya di dalam Panja supaya betul-betul rumusan itu adalah mengenai hal-hal yang bisa dipegang.

KETUA RAPAT :

Jadi Pasal 53 ini memang tidak ada contoh dalam penjelasan,jadi minta supaya dibuat contoh dari perbuatan a, perbuatan b, perbuatan c.

Dipersilakan dari FPDI

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Dari FPDI pada kolom DIM tetap namun setelah mendengar usulan dari FABRI maupun FKP dalam hal ini FPDI bisa sejalan artinya mendukung kalau di dalam ayat (2) ini diberikan contoh-contohnya.

FPP (DRS. H. YAHYA CHUMAIDI HASAN ):

FPP menyampaikan dua pendapat 1. Mengenai penambahan kata. Ayat (2) ini mengatakan bahwa alasan-alasan yang dapat digugat dalam gugatan yang dimaksud dalam ayat ( 1) adalah jadi hanya tiga a, b, c, FPP menambahkan kalimat atau kata yaitu kata antara lain adalah. Maksudnya supaya dimungkinkan apabila ada sesuatu alasan-alasan yang dapat digugat yang tidak termasuk di dalam a, b, c, itu bisa dimungkinkan untuk digugat.

(9)

2. Terhadap Pasal 53 ayat (2b) FPP mengusulkan kata maksud-maksud diganti dengan kata tujuan-tujuan.

Pemikirannya karena sering terjadi penafsiran lantas maksud itu kadang-kadang bisa diartikan arti, "maksudnya, artinya" sedangkan tujuan rasanya lebih jelas bahwa tujuannya itu yang harus dicapai.

Kemudian terhadap usul FABRI dan FKP saya sependapat sekali bahwa sebaiknya disampaikan contoh-contoh terhadap hal-hal yang dimaksudkan dalam Pasal 53 ayat (2) ini.

Sekian, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi di sini memang banyak pengertian-pengertian. Saya persilakan Wakil Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) :

Yang pertama dari FABRI, yaitu contoh-contoh yang diminta. Di dalam Pasal 53 ayat (2) ini ada alasan-alasan, yaitu a, b dan c.

Jadi kami mulaidengan contoh yang pertama yaitu a, keputusan badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Jadi misalnya ada ketentuan di dalam undang Agraria. Di dalam Undang-undang Agraria ini ada ketentuan mengenai wewenang Pemerintah Daerah temyata mengeluarkan sertifikat.

Pemerintah Derah temyata mengeluarkan sertifikat tanah lebih dari 5 ha. Ini contoh. Sedangkan menurut ketentuan undang-undang Agraria yang berlafu, pemberian sertifikat tanah diatas 5 Ha. merupakan wewenang dari Departemen Dalam Negeri bukan wewenang dari Daerah, jadi wewenang dari Pusat. lni contoh bahwa badan/ pejabat Tata Usaha Negara di daerah itu mengeluarkan keputusan yang bertentangan dengan peraturan perundang-udangan yang berlaku. Ini saya ambil contoh yang sangat penting oleh karena lazimnya masalah tanah ini adalah masalah yang selalu dijadikan obyek sengketa dan obyek gugatan.

Yang kedua, adalah contoh b. Badan atau Pejabat Tata Usaha !:'legara ·Pada maksud lain dari maksud-maksud diberikannya wewenang tersebut. .

J adi contohnya, adalah ada tanah milik rak.yat yang digusut Dan pada waktu digusur tanah milik rakyat ini dikatakan bahwa itu akan dipergunakan untuk jalur hijau. Tetapi apa kenyataannya kemudian, temyata tanah yang digusur oleh Pemerintah ini, oleh badan atau Peju.bat Tata Usaha Negera temyata tidak dipakai untuk jalur hijau, yaitu diberikan izin usaha kepada pihak lain sehingga tidak sesuai dengan maksud diberikannya wewenang itu. Sehingga di sini ada keputusan yang temyata menyalahgunakan wewenangnya.

Yang ketiga, adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan kt;putusan tersebut pada ayat (1) setelah mempertimbangkan semua

(10)

kepentingan-kepentingan yang tersangkut dengan keputusan itu, seharusnya tidak sampai pada pengambilan keputusan yang telah terjadi. Jadi ini contohnya adalah juga mengenai masalah tanah. Jadi semuanya itu saya ambil contoh tanah saja.Ada permohonan perpanjangan hak guna usaha terhadap sebidang tanah milik dari seseorang dan permohonan perpanjangan hak guna usaha dari seorang pemegang hak ini temyata tidak pemah dijawab oleh Pemerintah, terns menerus tidak pemah dijawab sampai akhimya batas waktu hak tersebut berakhiI: Jadi karena tidak dijawab, tidak dijawab, tidak dijawab kemudian berakhirlah batas waktu hak tersebut. Nab, dengan berakhimya batas waktu hak tersebut kemudian tanah di maksud . dinyatakan sebagai tanah negara, kemudian diserahkan pengelolaannya kepada pihak lain yang menjalankan usaha yang sama. Dus usahanya sama dengan pemegang hak semula. Jadi pemegang hak semula itu mempunyai usaha dan kemudian dengan berakhimya batas waktu karena tidak dijawab oleh pemerintah tanah itu lalu menjadi tanah negara kemudian diserahkan kepada pihak lain pengelolaannya dan menjalankan usaha yang sama dengan pemegang hak semula.

Menurut ketentuan Undang-undang Agraria, seharusnya kepada pemegang hak semula diberikan prioritas untuk meneruskan usahanya. Jadi seharusnya permohonan perpanjangan yang diajukan oleh seorang pemegang hak oleh badan atau Pejabat Tata U saha Negara diberikan keputusan yaitu diterima atau ditolak permohonan terbatas tetapi tidak dibiarkan saja yaitu dibiarkan tidak pemah dijawab. Seharusnya itu dinyatakan dengan keputusan diterima atau ditolak perpanjangannya itu. Andaikata permohonan itu ditolak oleh Badan atau Pejabat Tata U saha Negara, maka terbuka kesempatan bagi pemohon yaitu pemegang hak semula untuk memajukan banding administratif kepada instansi atasan. Di sini kelihatan bahwa badafl atau Pejabat Tata Usaha Negara itu temyata melaksanakan tugasnya itu mengeluarkan keputusan yang tidak mempertimbangkan kepentingan-kepentingan · yang tersangkut dengan keputusan itu dan akhimya sampai kepada pengambilan keputusan yang tidak sesuai.

Ini contoh-contoh yang dapat kami kemukakan untuk asalasan yang tercantum

dalam Pasal 53 ayat (2) ini.

Dari FKP mengusulkan penjelasan arti dan ruang lingkup alasan-alasan yang tersebut dalam a, b, c. Memang alasan-alasan ini sangat penting. Di sini kalimat dalam ayat (2) di mulai dengan alasan-alasan yang dapat digunakan dalam gugatan. Jadi alasan iniadalah kalimat yang sangat penting, yaitu petingnya bagi penggugat. Alasan-alasan itu adalah merupakan suatu dasar gugatan. Penggugat mengajukan gugatan, maka sebagai dasar gugatan itu alasan-alasan itulah yang dicantumkan.

Apakah bertentangan dengan udang-undang yang berlaku, apakah mengeluarkan keputusan yang temyata menggunakan wewenang untuk maksud lain dari maksud yang diberikan wewenang tersebut? Dan alasan-alasan ini bagi penggugat adalah sangat penting sebagai dasar gugatan, sedangkan bagi hakim juga penting, yaitu dalam rangka sebagai suatu alasan mengkaji atau meneliti terhadap peraturan-peraturan yang berlaku. Itu dari FKP.

(11)

Sedangkan dari FPP, Pemerintah berkeberatan apabila kata "antara lain" itu dihapuskan. Ini masalah yang sangat perinsipiil, oleh karena memang sengaja ayat (2) ini dibatasi. Sebab kalau nanti disebut "antara lain" itu adalah panjang, dasar gugatan itu adalah a, b, c, bisa a, bisa b, bisa c. Bagi penggugat itu penting, sebab di sini adalah dasar gugatan dan bagi hakim juga penting untuk bahan toetsing (pengkajian). Sedangkan mengenai redaksional, yaitu huruf b Pemerintah setuju untuk disempumakan, yaitu kata "maksud-maksud" diganti dengan "tujuan", oleh karena memang kata "maksud" di sini kebanyakan. Di sini disebut "untuk maksud lain", jadi sudah ada tiga maksud di sini. Pemerintah setuju untuk disempumakan oleh Tim Perumus dan saran FPP itu bisa disampaikan kepda Tim Perumus, yaitu "maksud-maksud "diganti dengan "tujuan:.

Terima kasih Saudara Pimpinan, KETUA RAPAT :

Apakah masih ada yang hendak dikemukakan oleh FKP? Silakan.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Terima kasih Saudara Ketua, dan terima kasih kepada Pemerintah yang siidah memberikan pejelasan. Yang dimaksud oleh FKP bukan penjelasan pada waktu sidang pleno Pansus ini, tetapi nanti penjelasan-penjelasan itu dimaksudkan dalam penjelasan pasal. Sebab dari Pasal 53 ini penjelasannya adalah "cukup jelas".

Alasan-alasan ini untuk kita adakan begitu penting. Saya kira tidak bisa diserahkan begitu saja kepada jurisprudensi yang akan datang. Sekarangpun saya kira sudah ada jurisprudensi dari Mahkamah Agung dari beberapa perkara yang ada, apakah perkara-perkara itu bisa diambil nanti untuk dijadikan Penjelasan pasal ini.

Demikian maksud dari FKP. Terima kasih Saudara Ketua. KETUA RAPAT :

Jadi kalau boleh saya lebih merumuskan, sebenamya ada beberapa hal : --- kalau perbuatan itu berlawanan dengan undang-undang, kalau perbuatan itu berlawanan dengan hukum, kalau perbuatan itu tidak patut menurut pandangan kemasyarakatan, kalau perbuatan itu sewenang-wenang. Jadi kalau demikian maka ini perlu diperhatikan sungguh-sungguh karena di dalam contoh b itu bisa melampaui wewenang atau menyalahgunakan wewenang atau tidak berwewenang.

Jadi dengan penjelasan ini saya kira apa yang dimaksud Saudara-Saudara termasuk semua di dalamnya, sehingga Panja nanti bisa merumuskannya dengan lebih baik dengan ketentuan hams disebut contoh-contoh di dalam penjelasaii pasal. Apakah ini bisa diterima? Masih ada dari FPP silakan.

(12)

FPP (DRS. H. YAHYA CHUMAIDI HASAN) :

Terima kasih Bapak Pimpinan, usul kakta tadi untuk memasukkan "antara lain" yang oleh Pemerintah dianggap tidak perlu kita batasi bahwa hanya tiga alasan saja yang dimungkinkan untuk dapat dijadikan gugatan. Maksud kami dalam pemikiran begini, karena hukum ini adalah untuk mengayomi seluruh waiga masyarakat. Jadi bila di kemudian hari setelah selesai kita membahas undang-undnag ini ada masalah-masalah yang dimungkinkan masih mengganjal perasaan perorangan maupun badan hukum privat rasanya dimungkinkan diajukan untuk alasan sebagai dasar gugatan. Karena itulah kami berpendapat, adalah tepat kalau kalimat "antara lain" itu dimasukkan. Jadi yang a, b, c jelas, tetapi bila dikemudian hari ada hal-hal di luar a, b, c dan karena maksudnya undang-undang ini adalah untuk mengayomi seluruh warga masyarakat dalam jangka waktu yang panjang, karena itu kmi usulkan kata-kata "antara lain". Namun demikian kami tentunya sependapat bagaimana yang sebaiknya asal tujuan daripada undang-undang ini bisa kita capai.

Sekian, terimakasih. KETUA RAPAT :

Saya ini dengan rumusan tadi sudah masuk "antara lain", karena di dalam ayat a sebenarnya luas sekali wetmatig atau rechtmatig juga masuk, bertentangan dengan undang-undang, dan sebagainya, kepatutan dan tidak sewenang-wenang. Ini sudah luas sekali dan di dalam hoogeraad juga begitu. Jadi saya kira ini sudah jelas sekali.

Silakan dari Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Jadi memang Pemerintah memang sependapat dengan FKP, yaitu apa yang kami uraikan tadi bisa disarikan untuk bahan penjelasan di dalam Rancangan undang-undang.

Terima kasih . KETUA RAPAT :

Jadi intinya tadi sudah kami jelaskan lalu kemudian ditambah di dalam penjelasan, karena pasal ini tidak ada penjelasan. Demikian Saudara-saudara, jadi rumasannya Panja dengan mencakup semua yang kita bicarakan di sini, karena sangat prinsipiil.

Dengan demikian diterima Saudara-saudara? (RAPAT SETUJU)

Sekarang Pasal 54 saya persilakan dari FKP. Tetapi dari FPDI masih ada satu yaitu menambah ayat (3) baru. Silakan FPDI.

(13)

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Saudara Ketua. Saudara Wakil Pemerintah, dan Saudara-saudara Anggota Pansus, dari FPDI ingin menambah satu ayat lagi di dalam Pasal 53 ini, yaitu dengan redaksi yang nanti bisa disempumakan : "Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang di maksud dalam ayat ( 1) telah melampau waktu yang telah ditentukan oleh undang-undang tidak juga mengeluarkan keputusan yang dimohon. "Saudara Ketua, Saudara Anggota Pansus dan Saudara Wakil Pemerintah, mengapa FPDI mengusulkan Ayat (3) barn ini. Ini adalah hakekatnya adalah untuk mengakomidir Pasal 3 Rancangan Undang-undang kita, Rancangan Undang-undang PeradilanTata Usaha Negara bahwa penolakan untuk mengeluarkan satu keputusan yang dilakukan oleh satu badan atau pejabat Tata Usaha Negara menurut Undang-undang ini disamakan dengan satu keputusan. Kalau ayat (3) ini kita cantumkan ini mengandung satu hal yang jauh sekali artinya dan juga bagi para pejabat yang berwenang untuk mengurus sesuatu hal yang diminta oleh pemohon itu lebih berhati-hati dan lebih sigap di dalam menanggapi permohonan-permohonan yang diajukan. Sebab bisa juga permohonan itu disampaikan dengan resmi, sah dan menurut prosedur yang ditentukan, namun tidak juga mendapatkan tanggapan dari Pejabat Tata Usaha Negara yang berwenang, berlarut-larut, tidak saja bulanan sampai juga tahunan. Ini permasalahannya. Sedangkan pasal 3 itu penolakan untuk mengeluarkan satu keputusan yang dilakukan oleh suatu badan atau pejabatTata Usaha Negara ketimdian ayat (2) dan (3) itu jelas, kalau dalam waktu tertentu, kalau menurut peraturan perundangannya itu ada batas waktu, kalau batas waktu sudah terlampaui itu dianggap menolak mengeluarkan keputusan. Sedangkan ayat (3) nya kalau dalam batas waktu 4 bulan andaikata tidak ada pembatasan dalam peraturan perundangannya itu sudah dianggap menolak satu keputusan, tidak mengeluarkan satu keputusan berarti satu penolakan. PaClahal di dalam hal gugatan itu perlu adanya satu pemyataan. Paling tidak penolakan tertulis atau bagaimana. Tetapi inipun di undang-undang tidak perlu disebutkan tertulis atau tidak tertulis dalam Pasal 3, sudah dianggap melakukan penolakan baik Pasal 1, 2 maupun 3. Inilah reasoning pokok dari FPDI, sehinga apabila kita m~ngambil contoh sebagaimana tadi dicontohkan oleh Bapak Menteri mengenai masalah tanah misalnya kita mengajukan perpanjangan misalnya mengenai Hak Guna Bangunan. Itupun juga tidak mesti tepat pada waktunya, akhimya jangka waktu itu lampau kemudian hak guna bangunan itu sudah lewat, sudah kadaluwarsa artinya terlampaui dan kita sudah tidak punya hak lagi atas tanah tersebut misalnya yang bersangkutan mau mengembalikan kredit kepada bank sudah tidak laku, tapi nyatanya tidak ada keputusan, resmi ditolak tidak. Tetapi menurut peraturan ini, kalau peraturan perundangannya itu ada waktu tertentu juga dilampaui, kalau tidak ada waktu 4 bulan ini juga sudah jauh dilampaui ini bagaimana, kalau tidak ada waktu 4 bulan ini juga sudah jauh dilampai ini bagaimana. Inilah maksud FPDI untuk mengakomidir masalah ini di ayat (3). Mingkin alasan-alasannya nanti juga alasan sebagaimana alasan yang nomor 2, 3 dan 4, tetapi ini harus diakomodir. Sebab kita sudah menyusun atau mengesahkan paling tidak pasal yang terdahulu, ayat (3), kalau tidak apa gunanya pasal itu. Sebab dengan adanya

(14)

hal yang kami kemukakan itu minimal Pejabat Tata Usaha Negara akan berhati-hati untuk melaksanakan tindakannya, akan berusaha keras memenuhi apa yang dimohon, ditolak ya ditolak, diterima ya diterima, sehingga betul-betul yang dikehendaki bahwa ini juga termasuk pengawasan Peradilan Tata Usaha Negara terhadap Pemerintah ini ya sudah barang tentu ini bisa tercapai, sehingga efisiensi dan juga kelancaran birokrasi yang ada bisa terjamin.

Demikianlah Saudara Ketua, maksud intinya. Sedangkan redaksinya bagaimana? Ini kita bisa atur. Tetapi inti pokoknya. karena kita telah memutuskan Pasal 3 yang telah kita setujui.

Demikian Saudara Ketua, terima kasih. KETUA RAPAT :

Kami langsung saja kepada Pemerintah, karena apa yang dikemukakan FPDI ini juga bisa masuk di ayat (2) a.

Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Sebenarnya ayat (2) dari Pasal 53 itu a, b dan c itu sudah sedemikian luasnya, sudah mencakup seluruh permasalahan alasan gugatan, bahkan bisa juga merupakan sesuatu kombinasi antara a dan b atau a dan c atau b dan c. Contoh-contoh yang dikemukakan tadi oleh FPDI bisa sesungguhnya kita masukkan di sini. Hanya saja untuk kejelasannya barangkali di dalam penjelasan. Dalam kolom FPDI yang disebut di sini ayat (3) baru, dikatakan di sini "telah melampaui waktu yang telah ditentukan oleh undang-undang itu sebagai sesuatu hal yang bisa dijadikan penjelasan lebih Ianjut. Jadi

a.

b dan c ini uitbuiten, lengkap sekali. Sebab apa yang tadi saya kemukakan mengenai masalah perpanjangan Hak Guna Usaha, jadi perpanjangan hak guna usaha ini temyata tidak dijawab oleh Pemerintah akhimya sampai akhir batas waktu dan kemudian tanah itu menjadi tanah negara diberikan kepada pihak lain dan pihak lain ini menjalankan usahanya sama dengan pemegang hak semula. Sedangkan kalau ditolak itu masih ada kesempatan untuk banding administratif. Jadi kembali lagi kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku apakah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara itu mempunyai wewenang atau tidak. Kalau tidak mempunyai wewenang dia tidak bisa menolak atau tidak bisa memutuskan, tetapi kalau dia mempunyai wewenang maka baru bisa dikatakan pejabat itu menolak atau tidak menolak.

KETUA RAPAT :

Jadi kalau FPDI bisa menerima nanti dalam penjelasan disebut apa yang dimaksud oleh FPDI, tetapi tidak merupakan ayat baru, karena memang sudah implisit, apa yang sudah diuraikan dalam Pasal 53 ayat (2) ini.

Silakan dari FPDI sekali lagi. FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

(15)

ini terutama hubungannya Pasal 3 di dalam penerapan andaikata kita ini menggugat yang memudian juga dibutuhlcim bukti dan sebagainya, itu nantinya, bahwa ini ditolak tetapi geruisloos. Ini kan geruisloos. Tidak ada bukti sama sekali kalau itu ditolak atau diterima. Dalam hal ini bagaimana cara yang hams ditempuh bagi orang yang bersangkutan? Mungkin ini tidak tepat di pasal ini, tetapi saya membutuhkan clearence dari Pemerintah dalam hal ini. Ini mengakomidir bagi mereka ini yang kemudian saya ini ditolak sudah setahun tidak dapat putusan. Ini kemana? Ini permasalahannya. Saya mohon ini mendapatkan penjelasan dari Wakil Pemerintah.

Terima kasih. KETUA RAPAT : Silakan langsung saja.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Jadi dalam Pasal 3,

waktu

itu sudah kita bahas bahwa penolakan disamakan dengan keputusan dan ini bisa dijadikan obyek dari gugatan. Jadi permasalahannya apakah itu bisa dijadikan obyek gugatan atau tidak. Kalau itu dipertanyakan bisa dijawab, itu menjadi obyek gugatan. Penolakan itu bisa juga tertulis. Jadi menolak sesuatu, itu penetapan menolak bisa juga tertulis dan kalau tertulis bisa dijadikan obyek gugatan. Tetapi katakan itu tidak tertulis, katakanlah geruisloos istilahnya, maka si penggugat itupun juga bisa mengajukan dalam gugatannya bahwa selama ini tidak pemah ada keputusan yang dikeluarkan bahwa itu menolak. Jadi penggugat bisa juga mempergunakan istilah "selama ini tidak ada khab~ tidak ada berita apapun juga" itu bisa dimasukkan dalam isi gugatan, dengan tentu menyebut Pasal 3 dari undang-undang ini nanti kalau sudah berlaku. Jadi penggugat itu sesuai dengan Pasal 3, maka mengajukan gugatan, kurang lebih begitu. Jadi Pasal 3 bisa dijadikan juga dasar gugatan.

Terima kasih. KETUA RAPAT- :

Jadi itu jelas sekali, masuk dalam penjelasan dan hal itu disebut, bahwa kalau dia diam atau tidak ada apa-apa (geruisloss), geruisloss fruit de padi. ltu juga masuk tetapi tidak begini, lainnya ..

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Bukan geruisloos istilahnya, steel gruis de padi.

KETUA RAPAT :

Betul, jadi geruisloos lain dengan steel. Jadi FPDI sudah menerima? Dua dimasukkan dalam pe~jelasan saja. Begitu Saudara-saudara ? Dengan demikian jelaslah bahwa Pasal 53 ini dimasukkan dalam Panja sebagai rumusan tadi ditambah dengan usul dari FPDI supaya dimasukkan dalam penjelasan. Setuju

(16)

(~AT SETUJU)

Sekarang kami beralih ke Pasal 54, dengan mengingatkan kepada Saudara-saudara bahwa kita berusaha untuk sampai ke Pasal 67 pada hari ini. dan ini satu pasal memakan waktu 60 menit.

Sekarang Pasal 54 kami persilakan dari FKP. FKP (MUWADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Terima kasih Saudara Pimpinan, Saudara Wakil Pemeimtah dan para Anggota Pansus yang kami hormati, dari FKP menanggapi Pasal 54 ayat (1) Rancangan Undang-undang ini ingin mengusulkan agar supaya kata "tingkat pertama" setelah kata "pengadilan" dapat dihapuskan.

Adapun dasar pemikiran daripada usul ini, mengingat bahwa di dalam Pasal I ayat (8) telah dijelaskan tentang maksud daripada pengadilan, yaitu Pengadilan Tata Usaha Negara dan atau Pangadilan Tmggi Tata Usaha Negara.

Selain daripada itu, FKP juga menginginkan agar supaya tempat kedudukan tergugat kata "tempat kedudukan teigugat" perlu kiranya di pikirkan lagi. Hal ini mengingat bahwa di dalam Hukum Acara Perdata gugatan dimungkinkan juga dilakukan ditempat kedudukan penggugat. Apalagi kalau kita melihat bahwa untuk tahap pertama PERATUN mempunyai tempat kedudukan yang sangat terbatas dan di dalam hal ini FKP juga memikirkan, apakah tidak dapat dipertimbangkan terhadap adanya kemudahan-kemudahan bagi penggugat untuk mengajukan gugatan ditempat kedudukan daripada penggugat.

Kalau kita bahas terhadap ayat (1) saja kiranya demikian DIM dari FKP. KETUA RAPAT :

Pada Tmgkat I tadi dijawab Pemerintah, mengenai Tingkat II soal tingkat kedudukan memang sangat prinsipiil. Silakan FPDI.

FPDI (SUPARMAN ADIWIDJAJA, S.H.) :

Menganggap sesuai dengan Rancangan Undang-undang. KETUA RAPAT :

Bahwa FPP juga sesuai dengan Rancangan Undang-undang namun hanya redaksional saja dan kami persilakan FABRI.

FABRI (M.S. SITUMORANG) :

FABRI berpendapat bahwa apa yang dikemukakan FKP nampaknya perlu kita pikirkan bersama. Pada prinsipnya FABRI telah menyetujui Rancangan Undang-undang ada.

KETUA RAPAT :

Jadi yang penting dari FABRI tempat kedudukan Penggugat. Jadi ini memang prinsipiil bukan hanya redaksional saja.

(17)

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Menanggapi FKP dipikirkan mengenai Tmgkat pertama bisa disesuaikan dengan peristilahan-peristilahan sebelumnya dalam pasal-pasal sebelumnya yaitu Pengadilan Tingkat Pertama.

Mengenai masalah "tempat kedudukan teigugat" FKP mengemukakan perlu dipikirkan lagi apakah tidak diberikan kesempatan juga tempat kedudukan penggugat. Ini menyangkut juga masalah pelaksanaan secara teknis dan juga masih merupakan pemikiran kita bersama.

Pemerintah mengambil contoh sebagai berikut, Penggugatannya di Irian Jaya, tergugatnya itu Pemerintah yaitu Departemen Dalam Negeri Pusat.

Kalau nanti di buka kemungkinan gugatan sengketa di tempat penggugatan berarti di Irian Jaya yang digugat Menteri Dalam ]'Jegeri yaitu Dirjen Agraria, ini ada suatu masalah teknis yang pe~lu kita pikirkan.

Tetai sebaliknya juga memarig bisa terjadi kalau gugatannya hanya ditempat kedudukan tergugat padahal penggugatnya di Irian Jaya, maka bagi penggugat mungkin dirasakan berat, oleh karena menyingkat transport dan sebagainya.

Jadi apapunjuga ini sesuatu hal yang belum bisa dalam kesempatan inidiab.ijui oleh Pemerintah.

Tetapi baiklah ita kaji lebih mendalam ini secara teknis nanti yaitu ditingkat f'llnja. KETUA RAPAT :

Bahwa dengan rumusan ini di-Panjakan. Saudara-saudara setuju? ,Kami persilahkan FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) : ;.•

FKP menbucapkan terima kasih baik kepada Pemerintah maupun FABRI yang telah mendukung FKP.

KETUA RAPAT : ·

Semua mendukung susul FKP masuk di dalam Panja, khususnya tempat kedudukan. Sedangkan mengenai istilah tingkat pertama disesuaikan dengan pasal-pasal yang lain.

Setuju Saudara-sadara?

(RAPAT SETUJU). Ayat (2) kami persilakan ~

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Bahwa dalam ayat (2) DIM FKP hanya ingin mengajukan pertanyaan kepada Pemerintah, apakah gugatan itu diajukan ke pengadilan di tempat kedudukan pengugat atau teigutat.

Di dalam hal ini oleh karena pada penjelasan Pasal 54 ayat (2) Rancangan Undang-undang diuraikan gugatan dapat diajukan kepada Pengadilan tempat tinggal pengugat,

(18)

atau atas permintaan penggugat kepada salah satu pengadilan.

Sehingga oleh karena itu FKP hanya ingin mengajukan pertanyaan untuk mendapat kejelasan dalam hal ini.

KETUA RAPAT :

Dalam pasal ini ada penjelasan dibelakang kalau Saudara-saudara perbatikan halaman 98 ada penjelasan, FPDI sama dengan Pemerintah, FPP sama juga dengan Pemerintah Selanjutnya kami persilakan FABRI.

FADRI (M.S. SITUMORANG) :

FABRI berpendapat sama dengan Rancangan Undang-undang KETUA RAPAT :

Kami persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH

(MENTERI

KEllAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.11.) :

Mengenai ayat (2) sebaiknya kita kaitkan dengan ayat ( 1) jadi teigantung nanti pembahasan di tingkat Panja secara teknis, hasilnya bagaimana mengenai ayat ( 1) dan nanti itu kita jadikan dasar untuk menyempumakan ayat (2) termasuk ayat (2).

KETUA RAPAT :

Rumusannya masuk di dalam Panja dengan dihubungkan ayat ( 1) ditBmbah

penjelasan disempumakan. '

Demikian Saudara-sandara ?

(RAPAT~JU)

Ayat (3) ada usul dari FKP, FPP.

Kami

persilakan FPP.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

FPP ingin menambah, menyisipkan kata-kata atau sesudah kata-kata "dan" saja.

K.emudian karena ini ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya yaitu tentang masalah "tempat kedudukan daripada penggugat dan tergugat" maka FPP. mengusulkan supaya di-Panja-kan.

KETUA RAPAT :

Kami persilakan FKP karena ada usul dari FKP mengenai ayat (3) ini.

F1CP (MULJADI DJAJANEGARA, S.11.) :

Menanggapi di dalam Pasal 54 ayat (3) ini FKP sebenarnya hanya ingin mengajukan suatu pertanyaan mengenai kedudukan di luar negeri, bagaimana prosedur yang ditempuh, oleh karena ini kepada Pemerintah. Jadi pada prinsipnya FKP dapat menyetujui terhadap Pasal 54 ayat (3).

Menanggapi usul FPP, maka FKP sependapat apabila hal itu di bahas lebih lanjut di dalam Panja mengingat usul ini ada kaitan dengan bunyi daripada Pasal

(19)

54 ayat (1) dan ayat (4) nantinya. KETUA RAPAT :

Mengingatkan bahwa di Jakarta itu ada 5 Pengadilan. Jadi memang itu perlu diingat, Jakartanya itu ada macam-macam.

Kami persilakan FABRI.

FADRI (M.S. SITUMORANG) :

FABRI mengatakan bahwa tidak ada masalah sesuai dengan Rancangan Undang-undangnya, namun demikian FABRI dalam rangka musyawarah mufakat tidak menolak untuk di-Panja-kan.

KETUA RAPAT :

FPDI tidak ada masalah. Kami persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) ; Mengenai! ayat (3) usul dari FPP setuju di-Panja-kan, sedangkan pertanyaan dari FKP jawabannya kita temukan dalam Pasal 66.

Dalam Pasal 66 itu bisa kita baca bagaimana prosedumya. KETUA RAPAT :

Bahwa Pasal 66 ada prosedumya. Kami persilakan FPP melihat alau sudah jelas kita masukan kedalam Panja ayat (3).

Dengan memperhatikan istilah Jakarta, Jakarta itu dimana? Jadi supaya jelas nanti, sebab dalam penjelasan sudah jelas, Panja dengan memperhatikan hal itu dan juga dikaitkan dengan ayat sebelumnya. Demikian Saudara? Dan untuk jelasnya dengan Pasal 66 pengertian prosedur.

Begitu Saudara.,.sauclara?

(RAPAT SETU!U)

Ayat (4) tidak ada usul sama sekali dan bilamana tidak ada usul sama sekali bolehkah ini diterima dengan bulat.

Kami persilakan FPP.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

Di dalam DIM FPP itu ada usul supaya ayat (4) dihapus, tetapi sebelumhya itu karena kita belumjelas betul bagaimana pelaksanaan dari ayat (4) itu, maka terebih dahulu kami mohon pihak Pemerintah memberikan keterangan.

KETUA RAPAT :

Baik kalau begitu karena Fraksi lain tidak ada apa-apa. Kami persilakan Pemerintah.

(20)

PEMERINTAH (MENTERI KAHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Apakah yang ditanyakan prosedurnya? Prosedur nanti kita temukan dalam Pasal-pasal berikutnya setelah Pasal 66 ada prosedur-prosedur mengenai hal ini.

Jadi me:nang Pasal ini berurutan satu sama lain. FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) : Kalau begitu usul FPP kami drop.

KETUA RAPAT :

Baiklah kalau demikan ayat (4) diterima secara bulat. Begitu Saudara-saudara? · (RAPAT SETUJU)

Pasal 55, kami persilakan FABRI. FADRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Bahwa kata "atau diumumkaonya" disarankan untuk dihapus. Sebab cukup sudah yang digunakan sebagai pangkal tolak 60 hari itu sejak saat diterimanya putusan itu. Jadi tidak perlu saat diumumkaonya, tetapi saat diterimanya.

KETUA RAPAT : Kami persilakan FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.11.) :

Pasal Pasal 55 Rancangan Undang-undang ini FKP ingin mengharapkan agar

supaya mengenai tenggang waktu ini d8pat dicarikan jangka waktu yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya sesuai pada waktu kita membicarakan Pasal 3 ayat (3).

Selain daripada itu FKP juga ingin mendapat penjelasan, apakah keputusan mengenai individual cukup diumumkan dan selain itu juga perlu mungkin adanya penjelasan mengenai maksud diterima atau diumumkanya.

Disamping itu juga FKP ingin mengingatkan ~aimana dengan gugatan yang akan mempergunakan alasan daripada Pasal 3 dimana pejabat Tata Usaha Negara atau Badan itu apabila tidak meiigeluarkan suatu keputusan setelah ada permohonan yang diajukannya.

Sedang menanggapi mengenai FABRI, FKP berpendapat memang perlu kita pikirkan bersama terhadap usul FABRI.

KETUA RAPAT :

Baiklah kalau demikian, selanjutnya kami persilakan FPDI. FPDI (SOETOMO HR, S.11.) :

Mengenai Pasal 55 memang ada beberapa hal : pertama, sesungguhnya sama dengan FABRI yaitu masalah diumumkan, sebab rupanya keputusan itu apakah sudah lazim. Oleh karena itu kami usulkan itu dihapuskan saja.

Sedangkan kata "saat diterimanya" apakah di dalam hal ini pengiriman tiap-tiap keputusan itu dilakukan per expedisi, misalnya. Lalu apakah tahu persis kapan

(21)

diterimanya.

Sebab bisajuga kalau digunakan itu terlambat. Kelambatan-kelambatan inilah yang biasanya menirnbulkan pennasalahan dalam persidangan.

Kemudian masalah 60 hari, memang dalam hal ini rupanya menurm FPDI terlalu pen~!!k jangka 60 hari. Malahan terpikir pada kami apakah tidak baik dianut sistim\ Verjaaring dalam B.W. saja. Ini dari FPDI, tetapi yang penting kelonggaran. Kalau toh sistim itu tidak dianut kelonggaran dari 60 hari hendaknya diberikanlah kepada mereka pencari keadilan ini. Jadi hendaknya jangan 60 hari dan yang agak longgar. Terserah istilah "longgar" bagi kita yang menetapkan bersama Pemerintah.

KETUA RAPAT :

Menanyakan bahwa Verjaaring dalam B.W. itu berapa lama? Baiklah nanti kita lihat saja.

Kami persilakan kepada FPP.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

Menanggapi apa yang diterangkan oleh FPDI memang kalau hanya 60 hari itu adalah sangat singkat, maka oleh karena itu dari itu FPP mengusulkan supaya 6 bulan.

Dalam hal ini perlu kita ingat bahwa orang yang menggugat itu bukan saja · menggugat saja biasanya, tetapi juga ada biaya-biaya, ada pemikiran dan perundingan diantara keluarga, maka kami mengusulkan kalau dapat diperlonggar sampai 6 bulan.

KETUA RAPAT :

Bahwa memang ada penjelasan pasal ini tetapi penjelasan pasal ini hanya melihat keadaan Pemerintah. Saya persilakan dari FABRI.

FABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Mengomentari pendapat FPDI memang FABRI tidak memandang perlu memuat diumumkannya putusan ada ikatan ada kelaziman mengumumkan juga tidak perlu digunakan sebagai pangkal tolak, yang paling penting adalah saat di terimanya. Lalu berapa lama saat diterimanya. Kalau sampai saat ini kira-kira cukup begitu. artinya pemikiran sampai sekarang ini pertimbangkan pada satu pihak memikirkan kepentingan Pemerintah, pada pihak yang lain juga mementingkan pihak rakyat yang akan mengajukan gugatan itu, sampai detik ini kok rasa-rasanya kalau 60 hari sudah lumayan cukup kira-kira demikian.

KETUA RAPAT :

Dari FPP 6 bulan di sini dan FABRI 60 hari, maka kami persilakan Pemerintah. PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Pertama saran FABRI agar kata-kata atau diumumkannya itu dihapus, ini kita harus hati-hati, kita belum tahu perkembangan peraturan Perundang-undangan Ji negara kita ini.

(22)

Ada kalanya keputusan itu ditentukan di dalam undang-undang yang bersangkutan wajib diumumkan.

Pengumuman ini aclalah sesuatu hal yang merupakan konsekwensi dari peraturan dasar atau basis regelingnya yang bersangkutan. Jadi apa bila demikian dan ini kita harus menghilangkan sesuatu esensial yang penting dalam perundang-undangan yang bersangkutan. ·

Itu pertimbangannya yang pertama, kita harus hati-hati.

Kedua, latar belakang diumumkan adalah juga justeru penting untuk diketahui

pihak ke-3. : '

Di dalam sengketa ini kita jangan saja melihat antara penggugat dan Pemerintah, tetapi juga ada pihak-pihak lain.

Kalau itu (tidak terekam) saat diterima, maka pihak-pihak (tidak terekam) dan tujuan Peradilan Tata Usaha Negara ini tidak hanya merupakan perlindungan kepada Individti, tetapi juga perlindungan kepada masyarakat.

Jadi yang ini banyak dan luar sekali. Sehingga (tidak terekam) mempunyai konotasi yang saat penting (tidak terekam) kata, tetapi hat ini saya rasa baik juga dipelajari lebih lanjut di tingkat Panja.

Tetapi Pemerintah berkewajiban untuk mengemukakan kita belum dihapus. Ini ada akibat-akibat lain yang sekarang kita belum bisa mengetahui dan ~ebih baik kita bertindak arif dan bijaksana hati-hati apa bila nanti acla voorziening-voorziening di dalam perundang-undangan yang bersangkutan, baik undang-undang yang sekarang maupun undang-undang yang akan datang bahwa ada ketentuan kewajiban .mengumumkan itu, bahwa suatu keputusan itu diumumkan.

Katakanlah umpamanya pencabutan sertifikat begitu, itu diumumkan. Katakanl~ ada kewajiban demikian. Ini sesuatu hal yang perlu diperhatikan. ltu yang pertama.

Kedua, mengenai tanggapan waktu, ini sekaligus untuk FKP, FPDI dan juga untuk FPP. Kami berterima kasih pada FABRI, bahwa 60 hari itu sudah wajar dait ini memang ada dasamya, tentu kita bandingkan yaitu salah satu perbandingan tidak lain adalah negeri Belandalah.

Negeri Belanda adalah 30 hari, jadi kalau 6 bulan seperti usul FPP ini ada sesuatu hal secara psikologis perlu kita perhatikan. Jacli seakan-akan mundur negara kita ini 6 bulan, dan ada kepentingan-kepentingan pihak ke-3 yang juga terkait di sini. Sehingga makin lama, makin merugikan pihak ke-3. Dua bulan itu menurut pihak

Pemerintah sudah cukup memadai dan wajw: ·

Mengenai tenggang waktu ini penting untuk menjamin kelan~aran tugas Pemerintahan dan juga memberikan kepastian hukum, bagi para pejabat dan badan Tata Usaha Negara yang bersangkutan yaitu yang mengeluarkan keputusan. Sehingga tidak setiap saat keputusan dari badan atau pejabat Tata U saha itu dapt digugat.

(23)

Jadi masalah tenggang waktu ini penting dan pemerintah berpendapat bahwa 60 hari itu sudah memadai.

Mengenai Pasal 3 sebagimana disarankan oleh FKP ini bisa kita bahas di tingkat Panja kaitannya dengan Pasal 3 yang tidak pada waktu kita membaca Pasal 64 itu sudah kita singgung.

Mengenai

PDI

-~istim :verjaarlng · itu sesungguhnya tidak dapat digunakan karena di sini justeni untuk lebih memberikan suatu kepastian hukum

Pemikiran Saudara Ketua tanggapan dari Pemerintah. KETUA RAPAT :

Apakah kalau demikian Pasal 55 menjadi bidang Panja dengan rumusan : 1. Waktu ditentukan bersama karena mana yang bisa berlaku waktu diterima atau

waktu diumumkan. dan perlu penjelasan.

2. Waktu 60 hari ada perbedaan pendapat, ini harus dipertemukan. 3. Hubungan dengan Pasal 3 itu perlu dikaji.

Dengan demikian maka di Panjakan Pasal 55 dan penjelasannya nanti dibuat lebih jelas lagi.

Begitu Saudara-saudara.

(RAPAT SETUJU)

Pasal 56 dari FPP, mengenai ayat ( 1) hanya mengenai redaksional. FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

Mengenai Pasal 56 ayat ( 1) b, hanya ada masalah redaksional, maka lengkapnya adalah menjadi demikian :

Nama kedudukan tempat kedudukan teigugat, setelah kata "nama" ditambahkan kata "jabatan", "pekerjaan" kemudian ditambah "dan", kemudian pakai apt (1) huruf c kata "supaya" diganti dengan "untuk".

Bunyi lengkapnya "Nama, jabatan atau pekerjaan dan tempat kedudukan lain-lainnya kami dapat menyetujui huruf a dan b itu. Kemudian pada ayat ( 1) huruf c dasar gugatan dan hal yang diminta untuk diputuskan oleh pengadilan.

Ini ada kaitan kata untuk dasar gugatan dan hal yang diminta ini diganti dengna dasar gugatan dan hal yang dirninta untuk diputuskan. Jadi tidak supaya". tetapi "untuk diperlukan:.

KETUA RAPAT :

Kami persilakan dulu kepada FABRI. FADRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Bahwa dari FABRI mengenai ayat (1) tidak menyampaikan apapun juga. hanya saya setuju menyokong usul FPP, artinya baik dipertimbangkan.

(24)

.Mengenai tambahan, Jabatan dan sebagainya ini saya kita masuk tim Perumus. Mengenai usui perubahan kata "supaya" diganti "untuk" tadi.

KETUA RAPAT :

Baile dari FABRI menjelaskan ini masuk Tim Perumus. Dari lain-lain Fraksi tidak ada?

Kami persilakan Pemetintah.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Usul FPP dapat diterima oleh Pemerintah yaitu b dan c.

KETUA RAPAT :

Jadi dengan demilcian Pasal 56 ayat ( 1) diterima secara bulat dengan perubahan seperti diusulkan oleh FPP.

(RAPAT SETUJU)

Berilcutnya dipersilakan FKP untuk menyampailcan pendapatnya mengenai ayat (2).

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

DIM FKP Pasal 56 ayat (2) kemungkinan untuk dibukanya gugatan secara lisan. Akan tetapi dalam kita membahas Pasal 53 maka sudah memperoleh penjelasan dari Pemerintah bahwa dimungkinkan adanya penjelasan mengenai gugatan secara lisan.

Oleh karena itu di dalam ayat (2) FKP sudah memperoleh jawaban sehingga tidak perlu mengajukannya.

KETUA RAPAT :

Dengan demilcian hampir sama dengan semua Fraksi, jadi dapat dinyatakan ayat (2) ini diterima secara bulat.

(RAPAT SETUJU) Untuk ayat (3)dipersilakan FABRI.

FADRI (IMAM SUKARSONO, S.H.):

FABRI untuk ayat (3) diusulkan kata "dilampiri juga" diubah menjadi "disertai". KETUA RAPAT :

Mempersilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Usul FPDI mengenai ayat (3) adalah mengenai penyempumaan ayat, yaitu gugatan harus dilampiri juga yang disengketakan oleh penggugat, kecuali dalam hal tidak dimungkinkan melampirkan keputusan tersebut dengan Pasal 3 ayat (3).

(25)

KETUA RAPAT : Mempersilakan FPP.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

FPP hanya mengusulkan agar kata "juga" dihapus. Jµga FPP mengusulkan lagi "atau penjelasan bagi keputusan yang tidak tertulis", sebab kadang-kadang ada keputusan yang memang tidak ditulis yaitu kalau didiamkan itu tadi yang dulu pernah dibicarakan.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FKP

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Menanggapi Pasal 66 ayat (3) Rancangan Undang-undang FKP sama dengan FPDI yang mengkaitkan terhadap ketentuan Pasal 3 ayat (3). Sedangkan mengenai penghapusan kata "juga" dari usul FPP, menurut FKP ini merupakan masalah redaksional yang perlu nanti dipertimbangkan dalam Timus.

KETUA RAPAT :

Mempersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Yang pertama dari FABRI, itu redaksionaL dapat diterima Petnerintah., Yang kedua, dari FKP yang juga · sama dengan FPDI, ada penyempurnaan kalimat, yaitu berbunyi : Kecuali · dalam hal tidak dimungkinkan melampirkan keputusan. Ini kalau dikaitkrui.dengan Pasal 3 ayat (3) itu Pasal 3 ayat (3) dianggap telah mengeluarkan suatu keputusan penolakan. Kiranya hal ini mungkirl untuk kejelasannya bisa dimasukkan dalam penjelasan. Tetapi kalau kalimat ini dimasukkan di ayat ini, itu dilihat dari segi teknik perundang-undangan mungkin kurang begitu kena. Jadi sebaiknya ini. di-Panja-kan.

Kemudian dari FPP ada tambahan kalimat "atau penjelasanyw:ig tidak tertulis". Ini sama dengan FPDI, sesungguhnya di dalam isi gugatan itu sendiri, itu bisa dicantumkan adariya keputusan yang tidak tertulis. Isi gugatan itu nanti ada sesuatu kalimat yang kurang lebih berbunyi demikian. Jadi ini pun nanti bisa dibahas secara teknis di tingkat Panaja.

KETUA RAPAT :

Rumusan Pasal 56 ayat (3) masuk ke Panja dengan mempertimbangkan maksud Pasal 3 ayat (3).

FABRI (M.S. SITUMORANG) :

Untuk mengurangi tugas Panja, apakah tidak seyog:yanya sebab FABRI lihat yang lain-lain itu sudah kita selesaikan secara bulat kalau ditambah saja di sini. kecuali dalam hal tersebut di atas ;iyat ( 3) Pasal 3 di dalam diktumnya ini ditambahkan, karena Menteri tadj sudah menyetujuinya tingkat sekarang di

(26)

penjelasan atau tidak di penjelasan atau di diktum, itu diputuskan sekarang untuk mengurangi togas Panja.

K.ETUA RAPAT:

Jadi usul FABRI ditambahkan saja kalimat "Gugatan harus dilampiri juga keputusan yang disengketakan oleh penggugat" ditambah "kecuali dalam hal yang tersebut dalam Pasal 3 ayat (3)". Atau tambahan itu masuk dalam penjelasan.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Di sini ada dua pendapat, FPDI dan FPP. Jadi buntut kalimat ini ada dua pendapat. Tentu dua pendapat ini kalau dirumuskan seperti FABRI maka rumusan FABRI lah yang dibawa di tingkat Panja.

KETUA RAPAT :

Jadi rumusan FABRI di bawa ke tingkat Panja. (RAPAT SETUJU)

Pasal 57. Dari Pasal 57 ini ada usul dari FKP. untuk itu dipersilakan FKP menyampaikan usulnya.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Terhadap isi Pasal 57 ayat (1) dan (2) FKPdapat menyetujui rumusan Rancangan Undang-undang. Namun demikian FKP ingin mengusulkan adanya suatu perubahan atau penambahan ayat baru sebagai ayat (3) yang berasal dari isi Pasal 58 ayat ( l ). Karena isi dari Pasal 58 ayat (1) ini mengatur mengenai penertiban surat kuasa yang dibuat di luar negeri.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Bagi FPDI ayat (1) dan (2) tidak ada masalah, tetapi hanya penempatan saja. Penempatan karena di dalam hal ini kita berbicara masalah surat kuasa atau yang dikuasakan, memang antara Pasal 57, 58 itu terkait. Lebih baik ayat ( 1) itu sebagaimana rekan FKP itu juga dimasukkan di Pasal 57, ditambah satu ayat yang diambil dari Pasal 58 ayat ( 1 ).

KETUA RAPAT : Mempersilakan FPP.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

FPP setelah mengkaji kembali, dapat menyetujui Rancangan Undang-undang ayat (1).

KETUA RAPAT : Mempersilakan FABRI.

(27)

FABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.):

Sama dengan Rancangan Undang-undang untuk ayat (1). KETUA RAPAT :

Mempersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) :

Mengenai sistimatika dari FKP dan FPDI, itu nanti bisa disesuaikan dengan sistimatika secara keseluruhan. Oleh karena juga FABRI dalam Pasal 48 ada perubahan Pasal, sehingga sekaligus saja sejarah pasal-pasal sistimatika ini dibenahi di tingkat Panja.

KETUA RAPAT :

Dengan demikian rumusan Pasal 57 dan 58 akan diselesaikan oleh Panja seperti Pasal-Pasal sebelurnnya antara lain Pasal 48.

(RAPAT SETUJU) Sekarang ayat (2), tidak ada usul Fraksi-fraksi. (ayat (2) diterima bulat).

Pasak 58. Pasal 58 ayat (1) hanya dari FPP yang ada usul, untuk itu dipersilakan FPP.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) :

FPP mengusulkan supaya ada perubahan, yaitu tentang surat kuasa, surat kuasa yang dibuat di luar negeri, bentuknya harus memenuhi persyaratan di negara tersebut dan diketahui oleh perwakilan RI di negara tersebut. FPP mengusulkan supaya sederhana, sebab kalau nanti andaikata ada perbedaan cara-cara atau persyaratan negara RI dengan negara yang ditepati oleh mereka yang bersengketa yaitu tentang persyaratan itu, itu akan mempersulit pada kita. Maka FPP mengusulkan supaya disedehanakan yaitu : Surat Kuasa yang dibuat di luar negeri harus diketahui oleh Perwakilan RI di negara tersebut. Jadi kita tidak mempersekutukan dengan negara lain.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FABRI.

FABRI (M.S. SITUMORANG) :

Kalau tadi itu sebenarnya sudah dimasukkan ini di dalam Panja karena usu! dari FKP. Dengan demikian sudah dengan sendirinya ini masuk Panja.

KETUA RAPAT :

Hanya sistimatikanya yang dimasukkan Panja. tetapi kalau isinya belum dimasukkan.

Berikutnya mempersilakan Pemerintah.

(28)

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Mengenai saran FPP untuk dipersingkat, Pemerintah masih merserfeer dan belum bisa menyetujui, dan oleh karena itu bisa dibahas di tingkat Panja.

KETUA RAPAT :

Jadi dari Pemer4ttah mengusulkan ayat (I) dimaksudkan dalam Panja, karena adanya usul

ctari

FPP.. . . :_~-c·.->.-,-, .. '· : ·

(RAPAT SETUJU)

Ayat (2), ini ada dari FABRI dan karenanya dipersilakan untuk menyampaikan pendapatnya.

FABRI (M.S. SITUMORANG) :

FABRI tentang perkataan "apabila dipandang perlu" menganggap k.urang tepat di dalam diktum, oleh karena itu perlu dihapus.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FKP

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

FKP terhadap Pasal 58 ayat (2) ini di dalam DIM memang tidak meyampaikan pendapat. Namun menghadapi terhadap usul FABRI, FKP dapat memahami usul tersebut dan dapat menerima.

KETUA RAPAT :

Asal diingat kalau diterima ini nanti sistimatikanya masuk ke Pasal 57. Selanjutnya mempersilakan FPDI.

FPDI:

Tidak ada apa-apa pemerintah. KETUA RAPAT :

Mempersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Setuju saran reclaksional dari FABRI untuk dibahas lebih lanjut di-Timus. KETUA RAPAT :

Sekarang beralih ke Pasal 59. Pasal 59 ini dari FPP ada pendapat, untuk itu dipersilakan FPP menyampaikan pendapatnya.

FPP (DRS. H. YAHYA CHUMAIDI HASAN) :

Dalam DIM FPP Pasal 59 ayat (1) itu diusulkan agar kata "uang muka" dihilangkan, dan diusulkan supaya biaya tersebut setinggi-tingginya Rp.

5000,-Sehingga bunyi Pasal 59 tersebut berbunyi : Untuk mengatakan gugatan, penggugat membayar perkara yang besarnya ditaksir oleh Panitera Pengadilan setinggi-tingginya Rp.

(29)

5000,-KETUA RAPAT : \1emoersilakan FKP.

FKP !PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Mengenai Pasal 59, FKP menginginkan ini dihubungkan dengan ketentuan dalam Pasal 108, p< sal 60, Pasal 71 dan Pasal 96.

Pasal 108 : Yan,; termasuk dalam biaya perkara ialah : a. Biaya kepaniteraan,

b. Biaya materai, c. Biaya saksi, d. Alih bahasa,

e. Biaya pemeriksaan di lain tempat daripada ruangan sidang, dan biaya lain. f. Biaya untuk petugas yang disuruh melakukan panggilan.

g. Biaya yang harus dibayar pada Panitera atau pegawai lain.

Padal 60 : Pemggugat dapat mengajukan permohonan kepada ketua Pengadilan untuk bersengketa dengan cuma-cuma.

Jadi kalau diperhatikan Pasal 106, penggugat seperti pembicara ini bisa mengajukan dengan cuma-cuma karena tidak mampu.

Pasal 71 ayat (2) : Dalam hal sebagaimana dimaksud ayat ( 1) penggugat berhak untuk memasuki gugatannya sekali lagi sesudah membayar terlebih dahulu.

Pasal 96 : Dalam hal selama pemeriksaan sengketa ada suatu tindakan yang harus dilakukan dan memerlukan biaya, biaya tersebut harus dibayar dahulu oleh pihak yang mengajukan permohonan.

Mengenai ketentuan-ketentuan ini maka mengajukan gugatan, penggugat membayar uang muka. Jadi ini mengenai penaksiran, dari FPP simpati ini Rp. 5000,- saja. Jadi prinsiJ' biaya murah dan sebagainya itu hendaknya nanti diperhatikan dalam penafsiran dari besamya uang muka ini.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Kalau mengamati DIM ini sesungguhnya salah letak, DIM FPDI itu harap dianggap tidak ada Pasal 59 ayat ( 1 ).

Hanya menanggapi apa yang telah dikemukakan oleh FPP maupun FKP, itu kedua-duanya sangat menyentuh hati FPDL dan itu memang benar sekali, dalam hal ini mengenai biaya perkara itu bagaimanapun Pansus ini nanti hendaknya memikirkan secara tuntas bersama Pemerintah. Sebab jangan sampai orang takut berperkara gara-gara biayanya itu melambung itu saja sesungguhnya sudah ngen mengenai biaya saksi. Tadi Menteri mencontohkan yang menggugat di Irian Jaya. kemudian digugat di Jakarta, kemudian saksinya mungkin di Surabaya, yang semuanya

(30)

itu ya saksinya itu harus ditanggung oleh yang menggugat, sudah barang tentu ini sudah klenger dulu sebelum maju perkara, sekali pun kalau menang toh akan kembali. Jadijangan sampai ada kesan bahwa peradilan ini lebih dulu sudah ditakut-takuti perkara biaya, sekali pun biaya itu mesti ada. Ini bagaimana jalan keluru; ini yang penting, kalau Rp. 5000,- kira-kira ya kesetitiken (terlalu sedikit).

Oleh karena itu FPDI dalam hal ini menganggap patut untuk di-Panja-kan untuk paling tidak mengkaitkan rumusan-rumusan yang pantas untuk dijadikan standar jangan sampai orang takut berperkara.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FABRI.

FABRI (M.S. SITUMORANG) :

Memang FABRI setelah membaca dengan teliti, sama dengan Konsep. Hanya mengomentari apa yang dikatakan oleh Fraksi-fraksi tanpa mengurangi maksudnya, sebenarnya FABRI menghendaki supaya orang itu takut berperkara, tetapi jangan sampai takut mencari keadilan, Karena berperkara itu konotasinya sudah jelek. Tetapi untuk mencari keadilan, itu jangan sampai takut. Kalau ada sangkut pautnya dengan biaya hendaknya dibicarakan bersama-sama, dan FABRI setuju di-Panja-kan kalau memang hal ini secara sekaligus di-Panja-di-Panja-kan keseluruhannya.

KETUA RAPAT :

Memang istilah perkara ini memang mejadi soal biaya perkara.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Yang pertama dari FPP, ini tidak lazim di dalam undang-undang itu dicantumkan nilai rupiah dan tidak bijaksana, oleh karena kita tidak tahu karena nilai ini kadang-kadang tidak tetap. Jadi kalau terlanjur nanti ditetapkan di dalam suatu undang-undang fleksibilitas itu tidak terjamin. Pada suatu saat 5.000, 10.000 itu nilai tidak tetap. Jadi tidak lazim di dalam suatu undang itu dicantumkan, dan malahan tarif-tarif itu lebih rendah.

Jadi tidak disetujui oleh pemerintah kalau nilai dicantumkan dalam undang-undang. Pemerintah setuju untuk mengkaitkan ini bagaimana usul dari FKP yaitu di dalam Pasal 59 ini itu penjelasannya kurang lebih bisa dicantumkan bahwa dalam menentukan biaya perkara maka ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Pasal 108 antara lain dan ten tu pasal-pasal lain yang disebut FKP itu perlu diperhatikan.

Memang kalau seluruh prosedur pengajuan perkara ke pangadilan itu cuma-cuma yang artinya ditanggung Pemerintah yaitu sesuatu hal yang barangkali idialistis idealistis tetapi hal ini tidak mungkin dilaksanakan di negara kita. Dan dalam Pasal 108 nanti dikaji kembali apakah Pasal 108 itu nanti unsur-unsur a sampai e itu dikaji kembali. Jadi bukan masalah tinggi atau rendahnya biaya, sebab perhitungan kembali itu nanti akan ada artinya kalau prkara sudah selesai uang yang lebih itu dikembalikan lagi kepada yang menggugat itu.

(31)

Kalau yang menggugat itu tidak membayar biaya sama sekali lalu siapa yang menanggung, di dalam Pasal 60 ada ketentuan yaitu costelos ( cuma-cuma), tapi siapa yang dapat dikatakan cuma-cuma itu, itu hanya orang yang tidak mampu saja. Tapi apakah ada orang yang dikatakan tidak mampu, ada, tetapi ada orang yang tidak mampu tidak mau menatakan.

Jadi sebagai contoh : bantuan hukum yang diberikan oleh Pemerintah disediakan anggaran, yaitu anggaran bantuan hukum. Jadi costeloss proses (cuma-cuma).

Untuk mendapatkan bantuan hokum maka orang tersebut harus menyatakan dirinya rniskin atau tidak mampu.

Hal ini di beberapa daerah tidak jalan, oleh karena menyangkut hru:ga dari, Kenyataan memang tidak mampu tetapi untuk menanda tangani surat keterangan tidak mampu dia keberatan. Jadi ini sesuatu hal yang perlu diperhatikan. Biaya perkara itu memang harus ada, dan komponen-komponen biaya perkara itu tercantum dalam Pasal 108. Marilah nanti ditegaskan disini bahwa membayar uang muka perkara. Tetapi di dalam mengajukan pengajuan uang muka biaya perkara hendaknya memperhatikan juga ketentuan Pasal 108, sehingga tidak sembarangan.

Jadi sekedar suatu jarninan (pegangan) bahwa uang muka itu harus ad8. dasa."11ya. Dasarnya adalah Pasal l 08 karena disitu ada komponen-komponen. Sebagai penggugat mengajukan gugatan itu tentu ada kepentingan sendiri dan kepentingan-kepentingan ini tentu juga diapun juga ikut menanggung, dan tidak seluruhnya dibebankan kepada Pemerintah.

Dernikian.

KETUA RAPAT :

Kalau PPP masih keberatan, dipersilakan. FPP (TGK. H.M. SALEH):

Sesungguhnya bukan soal keberatan tetapi ingin mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah atas penjelasannya.

PPP bisa memaharni atas penjelasan Pemerintah, tapi kalau di dalam undang-undang tidak pernah disebut berapa uangnya itu tidak percaya, di Hukum Pidana itu ada. Oleh karena itu dalam hal ini belum bisa diterima, tetapi masalahnya kalau ini ingin di-Panja-kan tidak hanya Pasal 59 tapi dipaketkan semua yang menyangkut biaya perkara ini. Tapi dipaketkan semua yang meyangkut biaya perkara ini. Tapi pasal-pasal yang cuma-cuma tidak usah dipaketkan (di-Panja-kan) tapi pasal yang lain nanti dibicarakan sekali, sehingga dengan demikian sungguh-sungguh membicarakan masalahnya.

Dengan demikian yang menyangkut dengan biaya-biaya termasuk Pasal 108 di-Panja-kan dan dibicarakan sekaligus seluruh pasal itu. Sehingga dernikian akan benar-benar maksudnya seperti yang dijelaskan oleh Pemerintah. Yang biayanya memang ada, yang patut bayar hams bayar, yang tidak mampu tidak membayar, dan yang membayarpun memang yang benar-benar wajar.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di