i
DUPA DALAM PERSEMBAHYANGAN AGAMA KHONGHUCU
(Studi Kasus Penggunaan Dupa di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe) Skripsi
Diajukan Untuk memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh:
Muhammad Najibbudin NIM: 1113032100067
JURUSAN STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
i Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan guna Memperoleh
Gelar Sarjana Agama (S. Ag.)
Oleh:
Muhammad Najibbudin
Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M. Si NIP. 196511291994031002
JURUSAN STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
ii
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi berjudul ”DUPA DALAM PERSEMBAHYANGAN AGAMA KHONGHUCU (Studi Kasus Penggunaan Dupa di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe)”. Telah diujikan dalam sidang munaqashah Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 17 Juli 2020.
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S. Ag) Program Strata Satu (S-1) pada Jurusan Studi Agama-agama.
Jakarta, 17 Juli 2020 Sidang Munaqasyah
Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota
Syaiful Azmi, MA NIP. 19710310 199703 1 005
Lisfa Sentosa Aisyah, MA NIP. 1975050506 200501 2 003 Anggota,
Penguji I Penguji II
Dra. Halimah,SM. MA NIP. 19751019 200312 01
Siti Nadroh, MA NUPN. 9920112687 Dosen Pembimbing,
Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M. Si NIP. 196511291994031002
iii
LEMBAR PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Muhammad Najibbudin
Fakultas : Ushuluddin
Jurasan/Prodi : Studi Agama-agama
Judul Skripsi : DUPA DALAM PERSEMBAHYANGAN AGAMA KHONGHUCU (Studi Kasus Penggunaan Dupa di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe)
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain maka, saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
iv ABSTRAK
Muhammad Najibbudin.
Dupa dalam Persembahyangan Agama Khonghucu (Studi Kasus Penggunaan Dupa di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe)
Penelitian ini ingin mengetahui apa makna yang tersimpan di balik dupa sebagai sarana atau simbol dalam persembahyangan umat agama Khonghucu terutama di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui bagaimana cara penggunaan dupa ketika digunakan untuk sembahyang dengan cara mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan pokok permasalahan dalam skripsi ini (Library research). Kemudian juga penulis melakukan wawancara langsung ke lapangan, yaitu: mewawancarai narasumber umat Khonghucu di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe untuk bisa menjelaskan mengenai dupa sebagai sarana atau simbol sembahyang dalam agama Khonghucu.
Untuk memahami penelitian ini, penulis menggunakan Pendekatan Antropologi, mengkaji tentang makna dan penggunaan dupa sebagai sarana atau simbol sembahyang sebagai produk manusia yang berhubungan dengan budaya atau keyakinan umat Khonghucu di Lithang Pondok Cabe.
Hasil dari penelitian ini, penggunaan dupa atau hio sebagai sarana simbol sembahyang dalam agama Khonghucu ini mempunyai makna bahwasanya dupa itu ketika dibakar ujungnya akan mengeluarkan asap yang berbau wangi atau harum. Asap dari dupa tersebut, akan menghantarkan doa-doa umat Khonghucu kepada Thian (nama Tuhan dalam agama Khonghucu). Selain bisa berfungsi atau digunakan untuk sembahyang dan berdoa, dupa juga bisa berfungsi untuk menentramkan batin dan fikiran, seperti untuk meditasi. Kemudian dupa juga bisa digunakan untuk mengusir roh-roh jahat. Untuk pembuatan dupa sendiri, itu tidak ada doa khusus maupun orang khusus dalam pembuatannya. Semua orang bisa membuat dupa. Dupa yang sering digunakan oleh umat Khonghucu itu dupa yang berganggang Hijau (digunakan untuk sembahyang kepada jenazah atau leleluhur yang belum melewati masa berkabung tiga tahun) dan dupa yang berganggang merah (untuk sembahyang kepada Tuhan, Nabi, Roh Suci, Leluhur yang sudah melewati masa berkabung tiga tahun, arwah umum).selain dupa tersebut, seperti dupa yang berbentuk kerucut, berbentuk spiral, dan dupa yang panjang lurus dihidupkan kedua ujungnya itu hanya sebagai pelengkap sembahyang dan wangi- wangian saja.
Kata Kunci: Dupa, Agama Khonghucu, Sembahyang
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulilla rabbil al- a’lamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat Iman, Islam, dan melimpahkan rahmat serta hidayah- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk mndapatkan gelar sarjana.
Shalawat serta salam ditujukan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, sebagai suri tauladan yang baik serta manusia paling sempurna yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk memberikan jalan yang lurus kepada umatnya.
Alhamdulillah penulisan skripsi ini dapat terselesaikan denga baik, meskipun banyak kendala dan rintangan yang dihadapi dalam proses penyelesaian penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa selama masa penyelesaian skripsi banyak mendapat bimbingan, bantuan serta motivasi berbagai pihak baik moril maupun materil.
Dengan demikian sudah selayaknya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si., selaku dosen pembimbing penulis yang telah memberikan arahan, saran serta perhatiannya kepada penulis dan dengan
sangat membimbing penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.
2. Kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda Muhlish dan Ibu Insyiah, atas segala kasih sayang, perhatian dan dorongannya. Semoga selalu tenang di sisi-Nya.
vi
3. Bapak Syaiful Azmi, MA ketua Jurusan Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin dan Ibu Lisfa Sentosa Aisyah, MA selaku Sekretaris Jurusan Studi Agama-agama. Serta seluruh dosen dan staf akademik Fakultas Ushuluddin, khususnya Jurusan Studi Agama-agama yang telah membagikan waktu, tenaga dan ilmu pengetahuan juga pengalaman berharga kepada penulis.
4. Bapak Suherman, selaku ketua Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe, para rohaniawan Bapak Ws Saputra, Hendra Suprapto, Wicandra dan terimakasih kepada Bapak Ade Cahyadi, Mas Wiliam serta seluruh Keluarga Besat Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe, yang telah memberikan banyak sumber utama dalam skripsi ini serta meluangkan waktunya kepada penulis untuk dapat berdiskusi secara langsung sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Bapak Wawan selaku penjual dupa atau hio di Pasar Lama Kota Tangerang yang telah membantu mengenai informasi harga-harga dupa.
5. Kakakku Nor Atiqoh, serta Adik-adiku Eling Nur Muhammad, U’un Ni’matul Maulidiyyah, dan Lailatul Izzati.
6. Keluarga Besar SIMAHARAJA (Silaturahmi Mahasiswa Jepara di Jakarta).
7. AFA GRUP International dan CV. Lintang Jaya Perdana.
8. Kepada pihak-pihak yang turut membantu dan berperan dalam proses penyelesaian skripsi ini, namun luput untuk penulis sebutkan, tanpa mengurangi rasa terimakasih penulis.
vii
Penulisan skripsi ini tentunya tidak terlepas dari berbagai kekurangan, baik dalam penulisan maupun penyusunanya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan demi perbaikan penulisan.
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT. Penulis berserah diri, mudah- mudahn bentuk perhatian, bantuan dan partisipasi yang sudah diberikan mendapat pahala yang setimpal dari-Nya. Harapan penulis semoga skripsi ini sedikit banyak dapat memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang Studi Agama-agama.
Jakarta, 3 Juni 2020
Penulis
viii DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN………i
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN………..ii
LEMBAR PERNYATAAN...iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
E. Metodologi Penelitian dan Teknik Penulisan ... 5
F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II. PERSEMBAHYANGAN DALAM AGAMA KHONGHUCU ... 13
A. Pengertian Sembahyang... 13
B. Sembahyang Kepada Tuhan Yang Maha Esa ... 14
C. Sembahyang Kepada Nabi ... 18
D. Sembahyang Kepada Para Suci ... 20
E. Sembahyang Untuk Leluhur ... 21
F. Sembahyang Kepada Kebaktian Masyarakat ... 25
BAB III. GAMBARAN UMUM LITHANG BAKTI MAKIN PONDOK CABE ... 27
A. Letak Geografis Lithang Bhakti MAKIN Pondok Cabe ... 27
B. Pendirian Lithang Bhakti MAKIN Pondok Cabe ... 28
1. Pengertian Lithang ... 28
2. Sejarah dan Perkembangan Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe ... 29
C. Tujuan dan Visi-Misi didirikannya Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe 32 D. Sistem Keorganisasian ... 33
E. Aktifitas Kegiatan di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe ... 36
ix
BAB IV. MAKNA PENGGUNAAN DUPA DALAM PERSENBAHYANGAN AGAMA KHONGHUCU DI LITHANG BAKTI MAKIN PONDOK CABE
... 38
A. Pengertian dupa ... 38
B. Jenis-jenis dupa dan Fungsinya ... 42
C. Tata cara Penggunaan Dupa dalam Persembahyangan Agama Khonghucu ... 46
D. Abu dupa dan Maknanya ... 52
E. Pembuatan dan Pembelian dupa ... 53
BAB V PENUTUP ... 56
A. Kesimpulan ... 56
B. Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
1 A. Latar Belakang Masalah
Setiap agama mempunyai tata cara sendiri dalam bersembahyang kepada Tuhan-Nya masing-masing dan berbeda antara agama yang satu dengan yang lainnya. Setiap gerakan dalam sembahyang mengandung makna dan arti bagi mereka yang menjalaninya. Kata sembayang berasal dari dua kata, yaitu “Sembah”
dan “Hyang”. Kata Sembah berarti menghormat, memuja, atau menyerahkan diri dan memohon kepada yang maha Esa, Dewa, atau kepada yang Suci.1 Dalam Kamus Ilmiah Populer Sembahyang berarti Menyembah Tuhan; Sholat; berdo’a pada Tuhan.2
Dalam agama Khonghucu, sembayang dilakukan pada hari-hari besar seperti sembahyang saat menyambut kedatangan dan penutupan tahun baru Imlek, sembahyang kepada Thian yang dilakukan pada saat pagi, sore dan ketika mendapat rezeki. Kemudian, sembahyang kepada leluhur yang dilakukan setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan, hari wafat leluhur, dan masih banyak lagi yang lainnya.3
1 I Ketut Wiana, Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan (Surabaya: Paramita, 2000), h.
1.
2 Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Gitamedia Press, Cet. Petama, 2006), h. 430.
3 M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia (Jakarta:
Pelita Kebajikan, 2005), h. 170-171.
Untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, umat Khonghucu juga melakukan sembahyang pada hari-hari yang dianggap sebagai kemuliaan Thian (Tuhan), yaitu: Pertama, Sembayang pada malam penutupan tahun/malam menjelang Gwan Tan. Kedua, Sembahyang King Thi Kong, tanggal 8 menjelang tanggal 9 Cia Gwee (bulan pertama). Ketiga, sembahyang saat Siang Gwan atau Cap Gomeh, 15 Cia Gwee (bulan pertama). Ke-empat, sembahyang hari Tangcik (hari di mana letak mata hari tepat diatas garis balik 23,5 Lintang Selatan, yakni tepat tanggal 22 Desember).4
Dalam agama Khonghucu, istilah Tuhan disebut Thian. Untuk melaksankan Sembahyang atau Ibadah, umat Khonghucu menggunakan sarana atau simbol dupa atau bisa disebut dengan hio yang mempunyai arti Harum. Arti lain dari dupa yaitu bahan pembakar yang dapat mengeluarkan asap yang berbau sedap atau harum.
Membakar dupa mengandung makna jalan suci itu berasal dari kesatuan hatiku (Too Yu Siem Hap) dan hatiku dibawa melalui keharuman dupa (Siem Ka Hiang Thwan). Dupa yang dikenal pada zaman nabi Khonghucu berwujud bubuk atau belahan kayu, misalnya: Tiem Hio, Bok Hio (gaharu), Than Hio (Cendana) dan lain- lain.5
Menurut Ws. Saputra (Dewan Rohaniawan di Lithang Bakti Makin Pondok Cabe) bahwasanya selain untuk Wangi-wangian, dupa juga digunakan untuk mengusir roh yang tidak baik, meditasi dan penenang dalam kehidupan sehari-hari.
4 Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia, h. 171-172.
5 MATAKIN, Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu (Solo:
MATAKIN, 1984), h. 30.
Kemudian dupa juga sebagai alat komunikasi pemeluk agama Khonghucu kepada Tuhan atau Thian serta kepada leluhurnya. Karena dari bau semerbak dupa itulah menyampaikan Do’a-do’a umat Khonghucu kepada Tuhan. Selain digunakan sembahyang, dupa pada zaman dahulu juga digunakan sebagai alat pengukur waktu. Contohnya: ketika zaman dahulu orang memasak nasi mungkin membutuhkan waktu satu jam, maka dipasanglah dupa yang bisa hidup satu jam dan waktu dupa itu mati berarti nasi sudah matang.6
Dupa memiliki berbagai jenis macam yaitu: dupa yang bergagang hijau, biasa digunakan untuk sembahyang ke hadapan jenazah bagi keluarga yang sedang berkabung. Kemudian, dupa yang bergagang merah, digunakan untuk hampir semua persembahyangan. Selanjutnya, dupa yang berganggang besar (Gong Xiang atau Kong Hio, Hokian), digunakan untuk upacara besar. Dupa yang berbentuk Spiral atau berbentuk wajik untuk wangi-wangian. Dan terakhir, dupa yang lurus panjang dan tanpa ganggang (Chang Shou Xiang atau Tiang Siu Hio, Hokian), dinyalakan kedua ujungnnya untuk bersembahyang ke hadirat Thian (Tuhan Agama Khonghucu).7 Supaya tidak salah dalam menggunakan dupa dalam sembahyang atau Ibadah, umat Khonghucu harus paham berbagai macam jenis dupa tersebut.
Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam tentang makna, kegunaan dan berbagai jenis dupa yang digunakan sebagai sarana sembahyang dalam agama Khonghucu. Selain itu, penelitian ini penting untuk
6 Wawancara dengan Ws. Saputra (Dewan Rohaniawan di Lithang Bakti Makin Pondok Cabe), Pondok Cabe, 13 Mei 2018.
7 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu (Jakarta: SPOC, 2015), h. 131-132.
dilakukan untuk mengetahu tentang dupa ketika digunakan dalam persembahyangan agama Khonghucu. Maka dari itu, penulis mengangkatnya dalam sebuah Skripsi yang berjudul “Dupa dalam Persembahyangan Agama Khonghucu (Studi Kasus Penggunaan Dupa di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe)”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Untuk menjaga efektivitas agar pembahasan tetap terfokus pada persoalan, maka penulis membatasi pembahasan pada dupa dalam persembahyangan agama Khonghucu. Dengan pembatasan seperti itu maka, permasalahan yang menjadi objek dan fokus penulis adalah:
1. Apa arti, fungsi dan makna dupa bagi umat Khonghucu di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe?
2. Bagaimana penggunaan dupa dalam Persembahyangan agama Khonghucu di Lithang Bakti Makin Pondok Cabe?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan peneliti dalam skripsi ini diantaranya:
1. Untuk mengetahui dan memahami arti, fungsi dan makna dupa bagi umaut Khonghucu di Lithang Bakti MAKIN Pondok cabe
2. Untuk mengetahui penggunaan dupa dalam persembahyangan agama Khonghucu di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaaat Teoritis
Penelitian ini diharapakan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi Ilmu Studi Agama-agama dan sekaligus dapat memberikan penjelasan mengenai Dupa dalam persembahyangan agama Khonghucu. Selain itu, Penelitian ini juga diharapakan dapat memberikan kontribusi berupa bahan bacaan perpusatakaan di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Studi Agama- agama.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan keilmuan tentang makna, fungsi maupun penggunaan dupa sebagai sarana sembahyang dalam agama Khonghucu.
3. Manfaat Akademis
Sebagai salah satu persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Agama (S. Ag.) Jurusan Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
E. Metodologi Penelitian dan Teknik Penulisan 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti ambil adalah penelitian lapangan yang bersifat kualitatif. Penelitain kualitatif menurut Prof. Dr. Sugiono ialah:
metode yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, dimana
peneliti adalah sebagai instrument kunci, tekhnik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif (penyimpul rataan) dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.8 Selain itu juga, penulis menggunakan jenis penelitian Deskripstif Analisis. Penelitian Deskriptif ialah sebuah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan gejala sosial, politik, ekonomi dan Budaya. Dalam penelitian agama, penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu gejala keagamaan.9
2. Metode Penelitian
Penulis memggunakan pendekatan antropologi untuk membantu secara mendalam dalam penelitian tentang dupa yang digunakan sebagai sarana atau simbol persembahyangan dalam agama Khonghucu. Yang menjadi fokus penelitian dengan pendekatan antropologi secara umum adalah mengkaji agama sebagai ungkapan kebutuhan makhluk budaya yang meliputi: (1) pola-pola keberagamaan manusia, dari perilaku bentuk-bentuk agama primitif yang mengedepankan magis, mitis, animisme, totemisme, paganisme pemujaan pada roh, dan politeisme, sampai pola keberagamaan masyarakat industri yang mengedepankan rasionalitas dan keyakinan monoteisme, (2) agama dan pengungkapannya dalam bentuk mitos, simbol- simbol, ritus, tarian ritual, upacara pengorbanan, semedi, selametan, (3)
8 Sugiono.Prof. Dr, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung, CV. Alvabeta, 2000), h. 1.
9 Sayuti Ali, Metodologi Penelitian Agama (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), h.
22.
pengalaman religius, yang meliputi meditasi, do’a, mistisme, sufisme.10 Dupa dalam persembahyangan agama Khonghucu itu sebagai sarana atau simbol yang digunakan untuk sembahyang kepada Tuhan. Maka, dalam hal ini perlu pendekatan Antropologi untuk mengetahui orang-orang Khonghucu dalam memaknai dupa dan bagaimana cara penggunaan dupa ketika digunakan untuk sembahyang.
3. Sumber Data
A. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung oleh peneliti dari hasil penelitian atau observasi lapangan pada lokasi penelitian, serta dokumen-dokumen resmi yang diterbitkan secara resmi oleh orang- orang yang beragama Khonghucu.
B. Data Sekunder adalah data yang dapat dijadikan sebagai pendukung data pokok. Atau dapat pula didefinisikan sebagai sumber yang mampu atau dapat memberikan informasi atau data tambahan yang dapat memperkuat data pokok.11 Pengumpulan data-data bisa berupa dari buku-buku, jurnal, dan karya penelitian yang berhubungan dengan agama Khonghucu.
4. Teknik Pengumpulan Data A. Data Kepustakaan
Data kepustakaan diperoleh penulis dari buku-buku yang ditulis langsung oleh orang beragama Khonghucu dan juga buku-buku yang
10 Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial – Agama (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), h. 62-63.
11 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), h.
85.
lain yang terkait dengan judul skripsi penulis. Selain itu, data kepustakaan juga diperoleh dari artikel, jurnal, maupun dari internet.
B. Observasi
Observasi merupakan suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan penelitian secara teliti, yang diarahkan pada kegiatan memerhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul.12 Dengan ini penulis mendatangi langsung ke tempat ibadah umat Khonghucu di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe untuk mendapatkan data-data mengenai penggunaan dupa dalam persembahyangan Agama Khonghucu.
C. Wawancara (Indepth Interview)
Metode wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan ssecara lisan dan dijawab secara lisan pula.13 Hal ini dilakukan untuk memperoleh data langsung dari sumber-sumber yang dianggap kompeten dan memiliki informasi serta data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Yaitu para Rohaniawan, pengurus, serta pemeluk agama Khonghucu di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe yang nanti diminta keterangan tentang dupa. Diantaranya pengurus, rohaniawan serta pemeluk agama Khonghuchu adalah Bapak Hendra Suprapto (Rohaniawan), Bapak
12 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktek (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 143.
13 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 165.
Wicandra (Rohaniawan), Bapak Suherman (Katua Lithang Pondok Cabe), Bapak Ws. Saputra (Rohaniawan), Mas Wiliam Tibe (Katua Pemuda Lithang Pondok Cabe), Bapak Wawan (Penjual Dupa di Pasar Lama Kota Tangerang), dan Bapak Ade Cahyadi (Mantan Ketua Lithang Pondok Cabe).
D. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah teknik pengumpulan data (informasi) yang berwujud sumber data tertulis atau gambar. Sumber tertulis atau gambar tersebut dapat berbentuk dokumen resmi (berupa dokumen yang menyangkut sejarah tempat ibadah atau lainnya) yang diperoleh dari buku, majalah, arsip, dokumen pribadi dan foto yang terkait dengan permasalahan penelitian.14
E. Analisis Data
Analisis data yang penulis gunakan adalah dengan metode deskriptif analitik yaitu, metode yang dilakukan dengan cara menguraikan sekaligus menganalisis data-data yang menjadi hasil pengkajian dan pendalaman atas bahan-bahan penelitian. Metode deskriptif lebih banyak berkaitan dengan kata-kata, dimana semua data-data hasil penelitian diterjemahkan dalam bentuk bahasa, baik lisan mupun
14 Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h. 71.
tulisan. Kemudian, data-data yang berbentuk bahasa ini dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian sehingga menghasilkan kesimpulan.15
5. Teknik Penulisan
Adapun teknik penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Desertasi) yang diterbitkan oleh Biro Akademik dan Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013-2014.
F. Sistematika Penulisan
Skripsi ini disajikan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Pembahasan dan Perumusan Masalah C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Metodologi Penelitian dan Teknik Penulisan F. Sistematika Penulisan
BAB II. Persembahyang dalam Agama Khonghucu
A. Pengertian Sembahyang
B. Sembahyang Kepada Tuhan Yang Maha Esa
15Nyoman Kutha Ratna, Metodologi Penelitian, Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 337.
C. Sembahyang Kepada Nabi D. Sembahyang Kepada Para Suci E. Sembahyang Untuk Leluhur
F. Sembahyang Kepada Kebaktian Masyarakat
BAB III. Gambaran Umum Lithang Bhakti Makin Pondok Cabe
A. Letak Geografis Lithang Bhakti MAKIN Pondok Cabe B. Pendirian Lithang Bhakti MAKIN Pondok Cabe
1. Pengertian Lithang
2. Sejarah dan Perkembangan Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe C. Tujuan dan Visi-Misi didirikannya Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe D. Sistem Keorganisasian
E. Aktifitas Kegiatan di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe
BAB IV. Makna Penggunaan Dupa dalam Persembahyangan Agama Khonghucu di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe
A. Pengertian dupa
B. Jenis-jenis dupa dan Fungsinya
C. Tata cara Pengunaan Dupa dalam Persembahyangan Agama Khonghucu D. Abu dupa dan Maknanya
E. Pembuatan dan Pembelian dupa
BAB V. Penutup A. Kesimpulan B. Saran
13 A. Pengertian Sembahyang
Salah satu ciri orang beragama adalah melakukan pemujaan pada Tuhan.
Pemujaan itu disebut sembahyang. Meskipun sembahyang merupakan ciri umum dari seorang yang beragama. Tetapi motif orang melakukan sembahyang tidaklah sama, juga acara orang bersembahyang berbeda-beda. Tetapi tujuan tertinggi dari sembahyang adalah sama, yaitu mencapai persamaan dan kesatuan deangan Tuhan.1 Dalam KBBI kata sembah memiliki dua arti: (1) pernyataan hormat dan khidmat (dinyatakan dengan cara menangkupkan kedua belah tangan atau menyusun jari sepuluh, lalu mengangkatnya hingga kebawah dagu atau dengan menyentuhkan ibu jari ke hidung): dan (2) kata atau perkataan yang ditujukan kepada orang yang dimuliakan.2 Sementara kata sembahyang dalam KBBI memiliki dua makna: (1) (dalam Islam) salat, dan (2) permohonan (do’a) kepada Tuhan menunjukkan kata sembahyang dapat berlaku umum, tidak hanya terbatas digunakan oleh orang Islam untuk menggantikan kata salat.
Sedangkan makna dan tujuan sembahyang atau peribadatan dalam agama Khonghucu adalah:
a. Mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha Esa
b. Memohon pertolongan dan perlindungan, ketika manusia merasa bahwa dirinya terancam dan tidak ada lagi yang bisa menolongnya
1 I Ketut Wiana, Sembahyang menurut Hindu (Surabaya: Paramita, 2006), h. 5.
2 Tim Redaksi KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat (Jakarta; Pusat Bahasa, 2008), h. 1259.
c. Bersyukur atas nikmat Tuhan, manusia tidak akan pernah bisa menghitung berapa banyak nikmat yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia.3
Bersembahyang itu sesuatu hal yang penting dalam ibadah bagi setiap manusia yang beragama, terutama dalam rangka pengabdian dan ketakwaannya kepada sang maha pencipta (Tuhan), seperti tercantum di dalam kitab catatan kesusilaan, bahwasanya jalan suci yang mengatur manusia baik-baik tidak ada yang lebih penting daripada menjalankan upacara sembahyang.4
Dalam agama Khonghucu, umatnya diajarkan untuk melakukan sembahyang kepada Tuhan (Thian) dan sembahyang kepada Nabi Khongcu, sembahyang kepada roh suci, leluhur, dan Sembahyang kebaktian kepada Masyarakat (Arwah Umum) dan lain sebagainya. Menurut bapak Wicandra, sembahyang kepada Tuhan itu memuja, sedangkan sembahyang lainnya dalam agama Khonghucu itu hanya untuk memuji tidak memuja.5 Memuji itu hanya ditujukan kepada manusia juga Tuhan. Tetapi, kalau memuja biasanya hanya ditujukan kepada Tuhan.6
B. Sembahyang Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Agama Khonghucu itu agama yang mempercayai adanya satu Tuhan atau bisa disebut dengan Monotheis. Yakni agama yang mempercayai dan meyakini adanya satu Tuhan atau percaya hanya satu Tuhan. Istilah Tuhan dalam agama
3 Khariah, Agama Khonghucu (Riau: CV. Asa Riau, 2002), h. 112.
4 MATAKIN, Kitab Kesusilaan (Jakarta: Pelita Kebijakan, 2001), h. 529.
5 Wawancara denga Wicandra, Depok, 31 Maret 2019.
6https://www.kompasiana.com/edynugraha/552b7b556ea8343b698b458f/pembiasan- makna-kata-puji-dan-puja. Diambil pada tanggal 20 Juli 2020.
Khonghucu dinamakan Thian untuk menunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam ajaran Khonghucu diajarkan bahwa Thian selalu dihormati dan dipuja oleh umat manusia. Thian adalah maha sempurna, dan maha pencipta alam semesta seisinya. Thian tiada diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa, dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang-orang yang beriman.7 Oleh karena itu, sebagai umat Khonghucu mengucap syukur kepada-Nya dengan melaksanakan Ibadah atau sembahyang (Thian Hio) kepada Tuhan baik di rumah ataupun di Lithang atau Khongcu Bio yang ada disekitarnya.
Dalam agama Khonghucu, Tuhan sendiri memiliki 5 (lima) nama atau sifat, yaitu: 1). Thian, yang mengandung makna Maha Besar, Yang Maha Esa. 2).
Tee, yang mengandung makna yang maha besar, yang maha menciptakan, dan menguasai langit dan bumi. 3). Thai Let, yang mengandung makna Tuhan Yang Maha Esa. 4). Khian, yang mengandung makna Tuhan Yang Maha Pencipta Alam Semesta. 5). Kwi Sien, yang mengandung makna Tuhan Yang Maha Roh, Tuhan daripada hukum alam, yang menjadikan hukum.8
Sembahyang kepada Thian (Tuhan) dalam agama Khonghucu memiliki beberapa jenis yaitu, Pertama, sembahyang mengucapakan syukur yang dilakukan setiapa pagi, sore, dan saat menerima rezeki (makanan). Sembahyang ini mereka lakukan di depan meja sembahyang (Altar) yang terdapat di rumahnya. Umumnya
7 Sulaiman, Agama Khonghucu: Sejarah, Ajaran, dan Keorganisasiannya di Pontianak Kalimantan Barat. (Jurnal “Analisa”.Vol.XXVI No.01. Januari-Juni 2009), h. 55-56.
8 Sulaiman, Agama Khonghucu: Sejarah, Ajaran, dan Keorganisasiannya di Pontianak Kalimantan Barat, h. 54-55.
meja sembahyang ini disimpan diruang tamu sehingga bila kita berkunjung ke rumah umat Khonghucu, kita akan dapat melihat bentuk meja sembahyang yang sebenarnya.9 Tetapi, menurut Bapak Wicandra, kebanyakan umat Khonghucu ketika sembahyang kepada Tuhan kebanyakan mengahadap ke luar pintu atau di Luar rumah, karena, lebih Plong (lega).10
Kedua, sembahyang kepada Thian yang dilakukan pada setiap tanggal 1 dan 15 bulan (Imlek). Pada tanggal-tanggal tersebut umat Khonghucu berdatangan menuju ke Klenteng-klenteng atau Khongcu Bio. Hari raya Imlek itu suatu perayaan tahun baru cina yang dirayakan pada tanggal 1 dan bulan 1 menurut penanggalan Imlek. Pada hari raya Imlek ini, umat Khonghucu diwajibkan untuk melakukan sembahyang. Biasanya dilakukan pada saat Cu Si, yakni saat menjelang tahun baru Imlek, sekitar jam 23.00-01.00. Pada saat itu umat Khonghucu berbondong-bondong menuju ke rumah ibadah yang biasa mereka kunjungi untuk melakukan sembahyang syukur malam penutupan tahun dan malam menjelang tahun baru.11
Ketiga, sembahyang besar pada hari-hari kemuliaan Thian (Tuhan). Yaitu : sembahyang malam penutupan tahun/malam menjelang Gwan Tan, sembahyang King Thi Kong, tanggal 8 menjelang tanggal 9 Cia Gwee (bulan pertama), sembahyang saat Siang Gwan atau Cap Gomeh, 15 Cia Gwee (bulan pertama).
9 M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia (Jakarta:
Pelita Kebajikan, 2005), h. 170-171.
10 Wawancara pribadi dengan Wicandra, Depok, 31 Maret 2019.
11 Sulaiman, Agama Khonghucu: Sejarah, Ajaran, dan Keorganisasiannya di Pontianak Kalimantan Barat, h. 58.
Dan sembahyang hari Tangcik (hari dimana letak mata hari tepat diatas garis balik 23,5 Lintang Selatan, yakni tepat tangga 22 Desember.12
Untuk tata cara Sembahyang kepada Tuhan (Thian) adalah sebagai berikut:
1. Hio atau Dupa yang digunakan satu atau tiga batang,
2. Untuk Penaikkan dupa, bila tidak ada Altar Khusus dapat dilaksanakan dengan menghadap keluar pintu atau jendela.
3. Pelaksanaan Tiam Hio di Lithang cukup dengan menghadap ke arah altar (kehadirat Thian dan Nabi).
4. Setelah Dupa ditancapkan kemudian Pai/ Ting-Lee 3 kali (Pai adalah hormat dengan merangkapkan tangan, dilakukan dengan mengepalkan tangan kanan dan ditutup dengan tangan kiri kemudian diangkat antara tangan dan hidung. Sedangkan Ting-Lee adalah menjunjung tangan yang dinaikakn sampai dahi yang bermakna menyampaikan hormat setinggi-tingginya waktu sembahyang).
5. Do’a. Contoh teks isi do’a adalah sebagai berikut: “Kami naikkan puji dan syukur, Thian telah melimpahkan kepada kami berkah karunia bimbingan yang kami terima melalui Ajaran Nabi Khonghucu sebagai Genta Rohani kami. Semoga Thian berkenan meneguhkan Iman kami dan mampu membina diri, menjunjung tinggi kebenaran dan menjalankan
12 Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia, h. 171-172.
kebajikan, sehingga berkah, damai, dan sentosa menyertai kehidupan kami.” Kemudian sembahyang diakhiri dengan pai atau ting-lee 1 kali.13
C. Sembahyang kepada Nabi
Agama Khonghucu bukanlah agama yang diciptakan oleh Nabi Khongzi (Nabi Khonghucu) sendiri, melainkan agama yang diturunkan oleh Thian melalui para nabi purba, raja suci dan para nabi ribuan tahun sebelum kelahiran Nabi Khongzi. Seperti beliau katakan:
“Aku hanya meneruskan, tidak mencipta. Aku sangat menaruh percaya dan suka kepada (Ajaran dan kitab-kitab) yang kuno itu (Mengzi VII B:38, h. 415).”14
Nabi Khongzi sendiri itu utusan Tuhan yang membawakan Firman bagi keselamatan hidup manusia, beliau membawa misi untuk menyelamatkan umat manusia dari berbagai macam ancaman dan kekacauan agar mereka kembali ke Jalan suci sebagaimana Thian Firmankan.15 Seperti apa yang dikatakan oleh Nabi Khongzi:
“Kalau Jalan Suci akan dapat dilaksanakan dan berkembang, itulah Firman: kalau Jalan suci itu harus musnah, itupun Firman.”
Dengan demikian, jelaslah bahwa Nabi Khongzi bukanlah sebagai pencipta agama Khonghucu, beliau adalah penerus dan penyempurna dari ajaran
13 MATAKIN, Tata Agama dan Tata Laksana Upcara Agama Khonghucu (Solo:
MATAKIN, 1984), h. 60.
14 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu (Jakarta: SPOC, 2015), h. 18.
15 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu, h. 13-14.
suci yang sudah ada dan dirintis sejak ribuan tahun sebelumnya oleh para nabi suci purba.16 Nabi-nabi sebelum Nabi Khongzi itu ada Nabi Fu Xi. Nabi ini dikenal sebagai nabi pertama yang hidup pada tahun 30 abad SM. Selain itu ada juga nabi Huang Di, nabi Yao, nabi Sun, nabi Xia Yu, nabi Wen, dan nabi Zhou Gong atau Jidan (Ciu Kong, Hokkian). Sedangkan Nabi Khongzi itu nabi Terakhir dalam agama Khonghucu. Nabi yang besar, lengkap, dan sempurna yang menggenapkan jajaran nabi sebagai Genta Rohani.17
Selain sembahyang kepada Tuhan. Umat Khonghucu juga berkewajiban sembahyang kepada Nabi, Yaitu nabi Khongzi. Persembahyangan kepada Nabi Kongzi dilakukan pada hari-hari berikut ini:
1. Peringatan hari lahir Nabi Khongzi, tiap tanggal 27 bulan 8 Kongzili/Kongyuan. Upacara sembahyang biasanya dilakukan di rumah ibadah seperti Lithang, Kong Miao, Wen Miao, dan Klenteng.
2. Peringatan hari wafat Nabi Khongzi, tiap tanggal 18 bulan 2 Khongzi, tiap tanggal 18 bulan 2 Kongzili/Kongyuan. Upacara sembahyang dilakukan seperti halnya peringatan hari lahir Khongzi.
3. Peringatan hari genta Rohani (Maduo), dilaksanakan setiap tanggal 22 Desember bertepatan dengan hari Dongzi ( Tang Ce ) untuk memperingati dimulainya masa pengembaraan Nabi
16 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu, h. 19.
17 Sulaiman, Agama Khonghucu, h. 55.
Khongzi sebagai Genta Rohani Thian (Thian Zhi Muduo) ke berbagai negeri.18
D. Sembahyang kepada Para Suci
Para suci (Shen Ming) itu merupakan para Malaikat yang membantu tugas Tuhan.19 Sembahyang kepada para Suci atau She Ming dilaksanakan pada hari- hari berikut ini:
1. Sembahyang Yuanxiao atau Capgome, dilaksanakan tiap tanggal 15 bulan 1 sebagai penutup perayaan tahun baru Kongzili/Kongyuan.20
2. Hari Duanyang atau Duanwujie, dilaksanakan setiap tanggal 5 bulan Kongzili/Kongyuan. Duan artinya tegak, lurus, terang. Yang artinya sifat positif atau matahari. Duanyang artinya saat matahari memancarkan cahaya paling keras ke muka bumi ini. Sehingga diyakini pada hari ini daun obat-obatan yang dipetik akan memiliki khasiat yang luar biasa, telur ayam dapat berdiri tegak saat didirikan. Pada Hari ini adalah merupakan hari yang paling baik untuk membersihkan diri dengan cara mandi di sungai atau dari sumber mata air mengalir.21
3. Sembahyang Zhongqiujie, dilaksanakan tiap tanggal 15 bulan 8 Kongzili/Kongyuan adalah saat bulan purnama memancarkan cahayanya yang paling terang, pada pertengahan musim gugur
18 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu, h. 52.
19 Wawancara pribadi dengan Wicandra (Rohaniawan), Depok, 31 Maret 2019.
20 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu, h. 53.
21 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu, h. 53.
dibelahan bumi bagian utara. Pada saat itu para petani merayakan hari panen raya yang melimpah ruah. Maka pada sat itu pula dilakukan sembahyang kepada Fude Zhengshen (malaikat bumi) sebagai uangkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.
4. Sembahyang Xiayuan, tiap tanggal 15 bulan 10 Khongzili/Kongyuan yang mengandung makna sebagai ungkapan pernyataan syukur atas kemurahan Thian dalam satu tahun. Pada saat itu dilaksanakan sembahyang kepada malaikat bumi (Fude Zhengshen) yang melambangkan semesta alam ciptaan Tuhan.22 5. Hari persaudaraan atau hari kenaikan malaikat dapur (Zaojun),
tanggal 24 bulan 12 Kongzili/Kongyuan. Pada hari tersebut umat Khonghucu diwajibkan untuk berdana dan membantu fakir miskin dan bertepatan dengan satu minggu menjelang saat perayaan tahun baru Imlek.23
E. Sembahyang untuk Leluhur
Sembahyang kepada leluhur dalam agama Khonghucu itu untuk mengenang dan menghormati pada leluhurnya, tak lain dan tak bukan adalah untuk menyatakan terima kasihnya yang berkesinambungan hubungan darah yang tak terputuskan ini membekas dalam hati sanubari setiap umat Khonghucu
22 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu, h. 54.
23 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu, h. 54.
sehingga, menjadi kesinambungan sejarah dan keterikatan antar manusia yang non materi yang tulus dan murni.24
Pelaku atau orang-orang yang melakukan upacara sembahyang leluhur adalah orang-orang yang masih terikat dalam suatu keluarga atau marga.
Sembahyang kepada leluhur yang dilakukan keluarga, dipimpin laki-laki tertua dalam keluarga, jika ia sudah terlalu lemah dan sudah tidak sanggup lagi memimpin upacara maka tugas tersebut diserahkan pada anak laki-laki yang sulung. Upacara ini ditujukan terbatas pada leluhur yang terdekat saja dan pelaku upacara juga terbatas pada anggota keluarga yaitu isteri, anak serta cucu- cucu.25
Sembahyang untuk leluhur juga mempunyai makna untuk mewujudkan cita-cita leluhur menjadi roh suci (Shen Ming), kelanjutan laku bakti anak kepada orang tua, kemudian sebagai alat pendorong bagi diri-sendiri untuk berlaku bakti, dan merupakan sujud bakti kepada Tuhan.26
Sembahyang untuk leluhur, dilaksanakan pada:
1. Hari wafat leluhur atau orangtua (Co Ki),
2. Sembahyang pada tutup tahun lama: dilaksanakan pada siang hari (saat Bi Si) antara jam 13.00 -15.00.
3. Sembahyang Ching Bing (Sadranan/ziarah) dilaksanakan sebelum atau sesudah 5 April yaitu ditug 104 hari setelah hari
24 Najibah, Makna Sembahyang Kepada Leluhur dalam Konsep Agama Khonghucu, Skripsi (Jakarta, Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2002), h. 9.
25 Najibah, Makna Sembahyang Kepada Leluhur, h. 29.
26 http://www.kompasiana.com/www.com/www.maxandrew.com/sembahyang-sebagai- tradisi-meghormati-leluhur. Diambil pada tanggal 25 maret 2019.
raya Tangcik (22 Desember atau saat matahari terletak diatas garis balik 231/2 Lintang Selatan. Ching Bing artinya: Terang dan Cerah Gilang Gemilang. Hari Ching Bing: ialah hari suci untuk berziarah atau menyadran ke makam leluhur, maka disebut sebagai hari sadranan.
4. Tiong-gwan atau Tiong Yang: dilaksanakan pada tanggal 15 bulan 7 Imlek.
5. Kig Hoo Ping (Sembahyang bagi Arwah umum atau sahabat).27 Untuk sembahyang kepada leluhur itu dilaksanakan di rumah masing- masing, yakni pada altar keluarga atau di Bio leluhur, kemudian teh dan arak ataupin manisan masing-masing disediakan sejumalah dua yang melambangkan sifat Lem dan Yang, sebagaimana juga dupa yang digunakan 2 atau 4 atau 8 batang. Upacara sembahyang kepada leluhur dapat dilakukan bersama-sama atau perseorangan.28
Tata cara pelaksanaan sembahyang kepada leluhur adalah sebagai berikut:
1. Lebih dahulu, bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa menghadap ke luar pintu/jendela, dengan dupa tiga batang warna merah. Sesudah dupa dinaikkan secara Ting Lee (menaikkan tangan sampai di atas dahi) dan ditancapkan pada tempat dupa yang disediakan, lalu bersikap Pau Siem Pat Tik dan menaikkan do’a sebagai berikut: “Ke hadirat Thian Yang Maha Besar, di tempat yang maha Tinggi, dengan bimbingan
27 MATAKIN, Tata Agama dan Tata Laksana Upcara Agama Khonghucu, h. 91-92.
28 MATAKIN, Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghuchu, h. 90.
Nabi Khonghuchu, dipermuliakanlah. Diperkenan kiranya kami melakukan sujud sebagai pernyataan bakti kepada leluhur kami.
Kami berdo’a’a semoga Tuhan berkenan bagi para arwah beliau itu selalu dalam cahaya kemuliaan kebajikan Thian, sehingga damai dan tenteram yang abadi boleh selalu padanya.
Siancai (Amin).
2. Selesai bersembahyang kepada Thian kemudian menuju ke Althar leluhur. Dupa 2 atau 4 batang dan dinaikkan 2 kali. Lalu ditancapkan. Kemudian dengan bersikap Pau Siem Pat Tik (telapak tangan terbuka diletkka di depan hulu hati, ditutup telpak tangan kiri, kedua ujung jari dipertemukan) memanjatkan do’a:” kehadapan leluhur (atau nama/panggilan kepada beliau yang dihormati), terimalah hormat dan bakti kami. Segenap kasih dan teladan mulia yang telah kami terima, akan tetap kami junjung dan lanjutkan serta kembangkan, sebagaimana Nabi Khongchu telah menyadarkan dan membimbing diri kami.
Kami akan selalu berusaha menjaga keharuman serta keluhuran nama keluarga dan leluhur kami, tidak menodai dan memalukan. Terima hormat dan bakti kami. Siancai (Amiin).
(Susunan do’a kepada Tuhan dan Leluhur tersebut ialah sebagai petunjuk/contoh, tidak harus selalu itu. Dapat disesuaikan menurut keperluan).29
29 MATAKIN, Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghuchu, h. 90-92.
F. Sembahyang Kebaktian Masyarakat
Sembahyang kebaktian masyarakat atau Arwah umum ini biasanya dilakukan bersama-sama di Lithang maupun Klenteng untuk mendo’akan arwah umum yang tidak diurus oleh keluarganya lagi.30 Arwah umum adalah: Orang- orang yang kita ketahui maupun tidak kita ketahui baik itu dari kalangan umat Khonghuchu sendiri maupun dari luar umat Khonghuchu. Jadi arwah umum itu, umat Khonghucu dimana keluarganya tidak lagi menghormati atau sembahyangi lagi karena, bisa jadi keturunannya sudah pada pindah ke Agama lain atau bisa juga sudah pada meninggal, sehingga tidak ada keturunannya lagi yang merawat makamnya. Maka, kewajiban umat Khonghuchu melakukan sembahyang untuk arwah umum dan mendo’akan mereka.31 Lalu yang kita do’akan di luar umat Khonghuchu adalah para Pahlawan bangsa, tokoh agama, tokoh bangsa tanpa harus memandang agamanya. Ini yang sudah kita terapkan seperti saat menjelang kemerdekaan bangsa Indonesia yang banyak pahlawan bangsa yang sudah meninggal. Biasanya kita lakukan sembahyang arwah umum untuk pahlawan bangsa. Atau dalam Khonghuchu ada tokoh yang berjasa kepada agama Khonghuchu di Indonesia, yaitu: Gus Dur maka, umat Khonghuchu membantu do’a.32 Sembahyang ini dilakukan pada:
1. Sembahyang arwah umum/King Ho Ping tanggal 29 -7 Imlek.
30 Wawancara pribadi dengan Hendra Suprapto (Rohaniawan), Pondok Cabe, 31Maret 2019.
31 Wawancara pribadi dengan Wicandra (Rohaniawan), Depok 31 Maret 2019.
32 Wawancara pribadi dengan Wicandra (Rohaniawan), Depok, 31 Maret 2019.
2. Hari persaudaraan atau hari kenaikan malaikat dapur tanggal 24-12 Imlek yaitu kewajiban berdana kepada fakir-miskin menjelang tahun baru Imlek.33
Selain itu, ada juga upacara persembahyangan bagi umat, yaitu: upacara kelahiran, upacara menjelang dewasa, pertunangan, pernikahan, kematian atau perkabungan (Masuk kedalam peti jenazah, malam menjelang pemakaman, pemberangkatan jenazah, penyempurnaan jenazah di makam atau perabuan, sembahyang tiga hari, tujuh hari, satu tahun, dan terakhir sembahyang 3 tahun).34
33 Khariah, Agama Khonghucu (Riau: CV. Asa Riau, 2002), h. 117.
34 Ws. Mulyadi, Mengenal Agama Khonghucu, h. 55-56.
27
A. Letak Geografis Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe
Lokasi Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe atau dulunya dikenal dengan MAKIN Ciputat terletak di Jalan Kemiri nomer 57, RT 05/RW 05, Kelurahan Pondok Cabe Udik, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Dari Kantor Walikota Tangerang Selatan berjarak 9,2 KM, dari Keacamatan Pamulang berjarak 3,8 KM, dan dari Kantor Kelurahan Pondok Cabe Udik berjarak 1,9 KM. kemudian, Jumlah penduduk di Kelurahan Pondok Cabe Udik berjumlah 20.729 Jiwa yang terdiri dari Laki-laki: 10.707 Jiwa dan Perempuan 10.022 Jiwa.1
Masyarakat di Kelurahan Pondok Cabe Udik kehidupannya berjalan dengan baik, meskipun dalam satu kelurahan terdapat berbagai macam agama yang berbeda-beda, ada Kristen, Islam, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu.
Namun hubungan antar umat beragama di kelurahan Pondok Cabe Udik telah menciptakan sebuah harmonisasi yang kuat. Itu dibuktikan dengan kelurahan Pondok Cabe Udik mendapatkan penghargaan dari Kanwil Kemenag Banten sebagai kampung kerukunan terbaik se Provinsi Banten pada tahun 2019.2 Itu menandakan bahawasanya interaksi antar warga di kelurahan Pondok Cabe Udik sangat baik dan rukun walaupun berbeda agama.
1 http//kecpamulang.tangerangselatankota.go.id. Diakses pada tanggal 04 April 2019 pada pukul 13.05 wib.
2 https://banten.kemenag.go.id. Diakses pada tanggal 11 Desember 2019 pada pukul 10.06 Wib.
Jumlah Penganut Agama di Kelurahan Pondok Cabe Udik
NO AGAMA JUMLAH
1. ISLAM 18.323
2. KRISTEN 1.402
3. KATHOLIK 467
4. HINDU 69
5. BUDHA 246
6. KHONGHUCU 6
7. ALIRAN KEPERCAYAAN 0
*Data dari Portal Kecamatan Pamulang.3
B. Pendirian Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe 1. Pengertian Lithang
Tempat ibadah agama Khonghucu itu ada yang disebut Lithang maupun Klenteng, itu sama-sama sebagai tempat Ibadah. Perbedaannya hanya kalau di lithang itu hanya ada satu patung nabi Khong Chu, sedangkan kalau di Klenteng selain ada nabi Khong Chu (bisa disebut juga nabi Khonghucu) juga ada patung leluhur zaman dahulu. Selain itu juga, Lithang lebih kecil daripada Klenteng, setiap Klenteng sudah pasti ada Lithang dan setiap Lithang belum tentu ada Klenteng.4 Itulah sebabnya di Pondok Cabe Udik ada tempat ibadah agama
3 http//kecpamulang.tangerangselatankota.go.id. Diakses pada tanggal 04 April 2019 pada pukul 13.05 WIB.
4 Wawancara pribadi dengan Bapak Hendra Suprapto, Pondok Cabe, 31 Maret 2019.
Khonghucu yang di sebut Lithang Bukan Klenteng, karena hanya ada satu patung yaitu nabi Khong Chu.
Sedangkan menurut Prof. M. Ikhsan Tanggok, Lithang adalah tempat Ibadah umat Khonghucu. Dulu tempat ibadah orang Cina adalah klenteng, namun pada zaman Orde baru klenteng banyak diubah fungsinya menjadi wihara, tempat ibadah umat Buddha. Dibeberapa daerah, seperti Pontianak, Kalimantan Barat, ada juga umat Khonghucu yang menggunakan Klenteng untuk tempat Ibadah.5 Lithang dan Klenteng mempunyai perbedaan. Lithang tidak ubahnya seperti gereja bagi umat Kristen, yang didalamnya terdapat mimbar atau podium tempat imam memberikan Khotbahnya, sederet Kursi yang diatur dengan rapi, meja sembahyang dengan perlengkapannya, patung atau gambar Khonghucu, dan alat music (misalnya gitar dan piano) yang digunakan untuk mengiringi nyanyian-nyanyian yang berisi do’a. Sedangkan Klenteng, lebih bercorak budaya Cina yang didalamnya terdapat altar, gambar dewa- dewa dari kalangan agama Budha, Tao, gambar Khonghucu, Ciam Si (bilah bamboo yang bertuliskan aksara Cina), Po Pai (sebuah alat yang terbuat dari kayu dan menyerupai pinang dibelah dua), patung -patung dewa, dan lain sebagainya.6
2. Sejarah dan Perkembangan Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe
Sejarah Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe atau dulu yang dikenal dengan MAKIN Ciputat didirikan pada hari Minggu tanggal 20 Oktober 1974 oleh Alm. Bapak Law A set, Alm. Bapak Budiman, Alm. Bapak Kwee Nyan Wie, Bapak Kwee Nyan Wah dan Alm. Bapak Ong Tjeng Yam di Pendopo
5 Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia, h. 173.
6 Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia, h. 174.
rumah Bapak Law A set.7 Tahun 1974 itu hanya seperti deklarasi pendirian belum mempunyai bangunan tempat Ibadahnya.
Orang yang memegang peranan penting dalam pembinaan umat Khonghucu di Pondok Cabe saat itu adalah Alm. Bapak Ong Tjeng Yam. Beliau adalah salah seorang umat dari Makin Cibinong, Bogor yang kebetulan bekerja di perkebunan cengkeh di Pondok Cabe. Beliau juga yang mengarahkan dan mendidik umat Khonghucu di Pondok Cabe untuk mengikuti kebaktian, saat itu terdata sekitar 250 Orang umat yang mengikuti kebaktian.8
Pada tahun 1975 Bapak Law A Set mengibahkan tanahnya seluas +/- 400 m2 untuk dibangun Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe, berdasarkan rekomendasi atau izin yang diberikan oleh Bupati Kabupaten Tangerang pada tanggal 28 Oktober 1974. Surat izin itu ditanda tangani oleh H.E Muchdi. Namun masa pembangunan tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan bahkan mengalami hambatan karena kekurangan dana.9
Kemudian pada tahun 1977 sampai 1987 kurang lebih 10 tahun perkembangan agama Khonghucu mengalami pasang surut yang disebabkan oleh tidak adanya pembinaan (Bapak Ong Tjeng Yam Yang telah dipindah tugasakan ke daerah lain) dan belum adanya tenaga rohaniawan setempat yang membuat MAKIN Pondok Cabe hanya bisa mengandalkan rohaniawan dari daerah lain.
Namun demekian, perkembangan kebaktian pemuda, pelayanan umat dan pemberian nilai agama di sekolah-sekolah yang diasuh oleh Dq. Kwee Kian
7 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, (Tangerang Selatan: MAKIN Pondok Cabe, 2017), h.1.
8 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h.1.
9 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h.1.
Tjuan dan Dq. Kwee Ho Tjiang yang sekarang menjadi Ws. Ht Saputra tetap berjalan walaupun kebaktian umum sudah tidak ada.10
Tahun 1987 kebangkitan MAKIN pondok Cabe dengan dipelopori oleh angkatan mudanya seperti, Ws. Ht Saputra, Dq. Edward Selamet, Dq. Lam Kim It, Dq Kwee Bok Seng, Dq dadang dan lain-lain berhasil mengadakan pertemuan dengan tokoh Khonghucu dan mengundang pelopor pendiri MAKIN Pondok Cabe. Pada pertemuan tersebut terpilihlah Bapak Kwee Kim Sam (Encam) yang saat itu menjabat sebagai ketua RW 05, Desa Pondok Cabe sebagai Ketua MAKIN.11
Dengan kepemimpinan baru ini maka perkembangan agama khonghucu di MAKIN Pondok Cabe terus meningkat pesat bahkan setiap kali kebaktian malam Chee It dan malam Cap Go sampai tidak tertampung dan tahun 1990 sudah ada 2 orang rohaniawan yaitu: Js.Ht, Saputra, SH dan Js. Aang Budiman yang kemudian pada 22 Desember 2007 menjadi Wense (guru agama). Berkat dukungan dari pemerintah setempat dan seluruh umat Khonghucu di MAKIN Pondok Cabe dan sekitarnya maka dibangunlah Lithang Bakti yang abru dan peletakan batu pertamanya oleh Bapak Obun Burhanudin tanggal 18 Juni selaku camat Kecamtan Ciputat.12
Hingga saat ini diusianya yang ke- 45 tahun, walaupun terus berganti kepemimpinan disetiap periodenya, MAKIN Pondok Cabe tetap eksis di dalam misinya mengembangkan agama Khonghucu dan memberikan pelayanan dan pembinaan umat di MAKIN Pondok Cabe Pamulang dan sekitarnya yang mana
10 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 2.
11 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 2.
12 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 2.
para umat berdomisili di daerah Pamulang, Bojongsari, Sawangan, Sasak Tinggi, Ciputat, Serpong BSD, hingg saat ini telah terdaftar sekitar 500 umat yang berhimpun di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe. 13
C. Tujuan dan Visi – Misi didirikannya Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe Tujuan dibangunnya Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe adalah untuk memberikan pendidikan rohani pada umat Khonghucu karena sebelumnya umat Khonghucu yang ada di Pondok Cabe hanya menjalankan tradisi upacara sembahyang saja. tetapi tentang keimanan, jalan suci Tuhan, dan pembinaan rohani sendiri tidak ada. Sehingga ini dipandang perlu bagi umat Khonghucu untuk mengerti makna persembahyangan dan keimanan untuk bertakwa terhadap tuhan yang Maha Esa.14
Selain mempunyai tujuan yang telah dijabarkan diatas, Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe juga mempunyai visi dan misi yang akan menjadi landasan dasar bagi pengurus Lithang untuk menjalankan segala kegiatan keagamaan. Adapun visinya adalah terwujudnya umat manusia yang dapat menegakkan Firman Thian, Tuhan dan menggemilangkan kebajikan yang bercahaya yaitu berpericintakasih, selalu teguh dalam menjunjung tinggi keadilan, mempunyai keberanian yang dilandasi kebenaran dan harmoni, mempunyai kepekaan dan kepedulian social yang tinggi, hidup penuh dengan kesusilaan, menjunjung tinggi moral dan etika, bijaksana dan selalu dapat dipercaya dalam kehidupan dan hidup sehari- hari.15
13 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 3.
14 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 1.
15 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 6.
Kemudian Misinya adalah untuk membimbing, membina, dan memberikan penyuluhan kepada umat Khonghucu di MAKIN Pondok Cabe agar selalu dapat hidup dalam jalan suci, Satya kepada Tuhan, kasih tepasalira kepada sesama manusia. Membina umat Khonghucu mengamalkan Si Shu (kitab yang empat) dan Wu Jing (kitab yang lima) agar senantiasa dapat menjadi insan pembaharu yang selalu tanggap, dan senantiasa ikut serta aktif dalam memberikan kontribusi nyata dan positif pada setiap dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Serta dapat membimbing dan membina umat Khonghucu MAKIN Pondok Cabe agar selalu menghormati orang tua, bersikap dapat dipercaya kepada kawan dan sahabat, mencintai dan membimbing generasi muda, dengan senantiasa menjadi warga negara dan masyarakat yang baik dan berwawasan kebangsaan.16
D. Sistem Keorganisasian
Menurut James Money, setiap bentuk perserikatan manusia dalam mencapai suatu tujuan bersama disebut dengan istilah organisasi17. Linthang Bakti MAKIN Pondok Cabe juga mempunyai tujuan bersama yang hendak dicapainya maka, perlu adanya koordinasi yang baik dan terkontrol dengan dibentuknya suatu kepengurusan yang bertanggung jawab.
Kepengurusan Lithang, Kelenteng di seluruh Indonesia dan MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu) dipilih setiap 4 (Empat) tahun sekali, biasanya pemilihannya dibulan Oktober. Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe pada bulan Oktober tahun 2018 telah melakukan pergantian kepengurusan.
16 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 6.
17 Sediyono, Pengantar Ilmu Administrasi, (Yogyakarta: Balai Pembinaan Administrasi Universitas Gajah Mada, 1972), h. 13.
Untuk Ketua Lithang yang baru adalah Bapak Suherman yang menggantikan Bapak Ade Cahyadi. Pergantian kepengurusan juga, dilakukan oleh Lithang dan Klenteng seluruh Indonesia.18 Adapun kepengurusan Lithang Bakti MAKIN maupun PAKIN di Pondok Cabe adalah sebagai berikut:
SUSUNAN BADAN PENGURUS MAKIN PONDOK CABE PERIODE 2018-2022
Ketua : Suherman (Oey Ok Bie)
Wakil Ketua : 1. Rohin Mashuri Tan 2. Heriyanto (Erick) Bendahara : 1. Titin (Gouw Tjun Lan)
2. Nanih
Sekretaris : Yanti Muljadi
Koordinator Perkin : 1. Linda Setiawan 2. Iin
Humas : 1. Lauw Tjun Bih
2. Desi Suprihatin 3. Teddy Kurniawan 4 Tedo
5. Lan Ing Seksi Konsumsi : 1. Novita Sandra
2. Ety Maryati 3. Lauw Omoy Seksi Sosial : 1. Bantong Sutrisno
2. Theno Wiraharta Dinata 3. Souw Sun Yong
4. Han Yun Bak Seksi Umum : 1. Ferry
2. Teddy Kurniawan
18 Wawancara Pribadi dengan Suherman (Ketua Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe), Pondok Cabe, 04 April 2019.
3. Ang Men Nio 4. The Yun Cong Seksi Kesenian : Dedy Selamat.19
SUSUNAN BADAN PENGURUS PAKIN PONDOK CABE PERIODE 2018 – 2022
Ketua : William Tibie
Wakil Ketua : Debyanca Saputra
Bendahara : 1. Frudence Kindness Dy lana Sekretaris : 1. Putri Aprilia
Seksi Acara : 1. Vicky Eka Juliana 2. Yolanda
3. Nicko Seksi Kesenian : 1. Juan
2. Caroline Felycia
Seksi Pubdok : Sendy Jansen
Seksi Humas : 1. Hendrik Songka 2. Ivan Ryandi
3. Virent Vigo Dylana
Seksi Umum : 1. Ine
2. Nana Suryana
Seksi IT : Thendy Suteja
Seksi Sekolah Minggu : 1. Frudence Kindness Dylana 2. Felicia Gunawan
3. Anggelina Seliana. 20
19 Data pengurus Lithang MAKIN Pondok Cabe didapat dari Ketua Lithang yaitu: Bapak Suherman. Pada tanggal 04 April 2019 di Pondok Cabe.
20 Data Pengurus PAKIN Lithang MAKIN Pondok Cabe didapat dari Ketua PAKIN Yaitu: William Tibie, pada tanggal 31 Maret 2019 di Pondok Cabe.
E. Aktifitas Kegiatan di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe
Aktivitas kegiatan Kebaktian yang dilakukan di Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe adalah sebagai berikut:
1. Kebaktian malam Chee It dan Cap Go untuk Umum.
2. Kebaktian malam Jum’at untuk Orang tua.
3. Sekolah Minggu untuk anak-anak dari Pukul: 09.00-10.00 Pagi.
4. Kebaktian Remaja atau Pemuda Agama Khonghucu (PAKIN) dari pukul: 11.00-12.30 siang.
5. Kebaktian sujud syukur bagi umat yang berulang tahun dari pukul:
19.30-21.00 malam setiap akhir bulan.21
Kemudian, untuk aktifitas kegiatan dalam pelayanan umat yang dilakukan oleh pengurus Lithang Bakti MAKIN Pondok Cabe meliputi:
1. Pelayan dan penyuluhan kepada umat mengenai persoalan kehidupan.
2. Pemberian nilai agama untuk anak-anak sekolah dari taman kanak- kanak sampai perguruan tinggi.
3. Pelayanan do’a, membesuk dan mendo’akan umat yang sakit.
4. Pelayanan upacara pernikahan.
5. Pelayanan upacara kematian (Jiep Bok, Moi Song, Pemberangkatan, pemakaman, 3 hari, 7 hari, 49/50 hari, 100 hari, 1 tahun, 3 tahun).
21 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 6.
6. Setiap bulan Chit Gwee (bulan 7 penanggalan Kongzili) mengadakan bakti sosial.
7. Sembahyang hari persaudaraan (bulan 12 Kongzili) 1 minggimenjelang hari raya Imlek.22
22 Ws. Ht. Saputra, Sejarah MAKIN Pondok Cabe, h. 6.
38 BAB IV
MAKNA PENGGUNAAN DUPA DALAM PERSEMBAHYANGAN AGAMA KHONGHUCU DI LITHANG BAKTI MAKIN PONDOK CABE
A. Pengertian Dupa
Dalam setiap agama memiliki ritual atau upacara keagamaan masing- masing. Dalam ritual atau upacara keagaamaan tersebut terdapat simbol-simbol yang digunakan didalamnya. Simbol-simbol dalam ritual atau upacara keagamaan tersebut menjadi pemersatu umat dalam kesadaran beragama. Dengan adanya simbol keagaaman mereka dapat mengungkapkan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan, meskipun kesadaran beragama tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.1
Banyak benda-benda, tindakan penganut suatu agama yang mengandung simbol serta makna yang ada dalam simbol tersebut.2 Maka dalam hal ini simbol mengandung arti dan makna luas yang dipakai untuk apa saja yang memiliki arti lain bagi orang lain. Karena itu simbol dan maknanya kultural sekali.3 Menurut Geertz, simbol adalah segala sesuatu yang memberi seseorang ide-ide. Misalnya, sebuah objek, sebuah peristiwa, atau perbuatan tanpa kata-kata seperti menciptakan perasaan tenang dan kekhusukan.4
1 Elizabeth Nottingham, Agama dan Masyarakat (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), h. 4.
2 Adeng Muchtar Ghazali, Antropologi Agama (Bandung: Alfabeta, 2001), h. 63.
3 Agus Bustanuddin, Agama dalam Kehidupam Manusia Pengantar Antropologi Agama (Jakarata: RajaGrafindo Persada, 2007), h. 145.
4 Daniel L. Pals, Dekontruksi Kebenaran (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), h. 339.