• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

7

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)

Terdapat beberapa teori yang digunakan untuk memahami bagaimana praktik corporate governance di perusahaan. Salah satu teori tersebut adalah agency theory. Definisi dari teori keagenan (agency theory) yang ada dalam buku The Essence of Good Corporate Governance adalah pemilik perusahaan (pemegang saham) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada para tenaga professional (agents) dengan tujuan agar pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang semaksimal mungkin dan dengan biaya yang efisen dengan dikelolanya oleh para tenaga professional (agents). Para tenaga profesional bertugas untuk memiliki kekuasaan dalam menjalankan manajemen perusahaan.

Semakin besar perusahaan yang dikelola para agents memperoleh laba makan semakin banyak pula keuntungan yang didapatkan oleh para agents.

Menurut Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa teori ini berfokus kepada hubungan antara principal dan agent dan menganalisa mengenai masalah keagenan yang timbul dari pemisahan kepemilikan dan kontrol. Teori keagenan pertama kali muncul dalam penelitian ekonomi dan telah menyebar ke penelitian akuntansi dan manajemen dalam organisasi (Nyberg et al, 2010;. Boyd, 1994; Cerbioni dan Parbonetti, 2007). Pada dasarnya masalah dalam teori agensi ini berbicara mengenai kurangnya kesesuaian tujuan antara pemegang saham (principal) yang memiliki perusahaan, dan manager (agent) yang mengendalikan perusahaan sehingga menimbulkan perilaku oportunistik oleh manager (Jensen dan Meckling, 1976).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Khaihatu (2006), teori keagenan yang dikembangkan oleh Michael Johnson melihat bahwa manajemen perusahaan, sebagai agen bagi para pemegang saham, akan bertindak dengan penuh kesadaran untuk kepentingan mereka sendiri, bukan sebagai pihak yang bertindak bijaksana, hati-hati kepada pemegang saham. Berbagai pemikiran tentang tata kelola perusahaan mengembangkan atas dasar teori keagenan, di

(2)

8

Universitas Kristen Petra

mana manajemen dilakukan dengan kepatuhan penuh terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku.

2.1.2 Corporate Governance

Pengertian Corporate Governance yang ada di dalam buku The Essence of Good Corporate Governance adalah “ Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.”

Menurut Organization for Economic Corporation and Development (2004), corporate governance merupakan tata kelola perusahaan yang melibatkan hubungan antara manajemen perusahaan, dewan, pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Corporate governance juga menyediakan struktur untuk tujuan perusahaan yang telah ditetapkan, cara mencapai tujuan tersebut dan memantau kinerja ditentukan. Corporate governance perusahaan yang baik harus memberikan insentif yang tepat untuk dewan dan manajemen untuk mengejar tujuan demi kepentingan perusahaan dan pemegang saham dan harus memfasilitasi pengawasan yang efektif.

Corporate governance didefinisikan oleh Shleifer dan Vishny (1997) sebagai cara dimana pemasok keuangan untuk perusahaan memastikan diri mendapatkan laba atas investasi mereka. La Porta et al. (2000) menyebut corporate governance perusahaan sebagai seperangkat mekanisme dimana investor luar melindungi diri terhadap pengambilalihan oleh manajer dan pemegang saham pengendali. Good corporate governance yang baik, menurut Muh (2009: 2) secara singkat dapat didefinisikan sebagai seperangkat sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan. Hal ini karena tata kelola perusahaan yang baik dapat mendorong terbentuknya pola kerja manajemen bersih, transparan, dan profesional. Good corporate governance yang baik dapat didefinisikan sebagai struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan dalam upaya untuk memberikan nilai tambah perusahaan secara berkelanjutan dan dalam

(3)

9

Universitas Kristen Petra

jangka panjang, dengan memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berdasarkan hukum dan norma-norma yang berlaku (Corporate Governance Perception Index, 2008). Penerapan good corporate governance yang baik juga memberikan manfaat untuk susunan dan anggota perusahaan dalam mendukung pencapaian kinerja perusahaan dan pemenuhan akuntabilitas, mengurangi biaya agensi, menjaga independensi dan profesionalisme organ perusahaan dan anggota, memenuhi kepatuhan, mengelola risiko dan banyak hal yang mempengaruhi keberlangsungan perusahaan, dan menyadari etika, adil, dan hubungan kerja yang bermartabat.

Pengertian good corporate governance menurut Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor 117/M-MBU/2002 yaitu suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai- nilai etika.

2.1.3 Prinsip-prinsip Corporate Governance

Terdapat prinsip dasar corporate governance menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (2000) yaitu:

1. Memberi informasi yang benar dan tepat waktu kepada para pemegang saham sebagai hak nya dan ikut serta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan-perubahan mendasar atas perusahaan, dan memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan.

2. Memberikan perlakuan yang sama kepada saham minoritas dan pemegang saham asing serta memberikan informasi penting dan melarang pembagian kepada pihak sendiri dan perdagangan saham oleh orang dalam (insider trading).

3. Mengakui peranan para pemegang saham yang sudah ditetapkan oleh hukum dan adanya kerjasama antara perusahaan dan pemegang saham dalam menciptakan kesuksesan perusahaan yang sehat dari aspek keuntungan.

(4)

10

Universitas Kristen Petra

4. Transparansi mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta pemegang saham kepentingan (stakeholder) dengan akurat dan tepat waktu.

5. Adanya tanggung jawab pengurus dalam manajemen yang mencakup pengawasan kepada perusahaan dan para pemegang saham.

Prinsip-prinsip tersebut sebaiknya diimbangi dengan good faith (bertindak atas itikad baik agar visi dan misi perusahaan serta pedoman good corporate goverbabce dapat terwujud.

Prinsip-prinsip tersebut sebaiknya diimbangi dengan good faith (bertindak atas itikad baik agar visi dan misi perusahaan serta pedoman good corporate goverbabce dapat terwujud.

2.1.4 Manfaat dan Tujuan Corporate Governance

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2006) terdapat beberapa manfaat dan tujuan dari corporate governance yaitu:

1. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan.

2. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan, yaitu Dewan Komisaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham.

3. Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuha terhadap peraturan perundang-undangan.

4. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan.

5. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan memeperhatikan pemangku kepentingan lainnya.

6. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat

(5)

11

Universitas Kristen Petra

mendorong arus invesrasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.

2.1.5 Asas Good Corporate Governance

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2006), terdapat lima asas corporate governance yaitu:

1. Transparansi (Transparency)

Perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan untuk menjaga obyektifitas dalam menjalankan bisnis.

Selain itu, perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.

2. Akuntabilitas (Accountability)

Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu, perusahaan harus dikelola dengan benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

3. Responsibilitas (Responsibility)

Perusahaan harus memenuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.

4. Independensi (Independency)

Perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

5. Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)

(6)

12

Universitas Kristen Petra

Perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.

2.1.6 Indikator Corporate Governance

Untuk tujuan penelitian ini, dimana sample yang digunakan adalah dari Negara Indonesia, maka ada beberapa istilah dalam variable yang digunakan akan disesuaikan dengan konteks di Indonesia. Di Indonesia salah satu sistem yang dianut terdiri dari dewan komisaris yang setara dengan board of directors.

Menurut Adams et al, 2010, board of directors dikelompokkan menjadi dua, yaitu board structure dan board ownership. Pada board structure, terdapat empat variabel corporate governance yang terdiri dari CEO duality, board size, board composition, dan board meeting (Mili dan Abid, 2016). Namun dikarenakan sample perusahaan berasal dari Indonesia, dimana peraturan di Indonesia tidak diperbolehkan praktek CEO duality, maka variable yang digunakan adalah board size, board composition, dan board meeting.

2.1.6.1 Board Size

Board size atau ukuran dewan komisaris adalah jumlah personel dewan komisaris dalam suatu perusahaan (Yana, 2011). Terdapat beberapa argumen yang bertentangan antara jumlah board yang besar. Dengan jumlah board yang lebih besar dapat melakukan pemonitoran yang lebih efektif terhadap manajemen dan juga akan memberikan pool of expertise yang lebih banyak dalam board (Adams and Mehran, 2003). Hal tersebut juga didukung oleh Vakilifard et al., (2011) yang menyatakan bahwa dengan adanya large board maka akan membantu perusahaan untuk melakukan koneksi dengan lingkungannya. Board size yang lebih besar juga akan meningkatkan kinerja perusahaan dan pengawasan yang lebih (Klein, 1998; Adams and Mehran, 2003; Coles et al., 2008). Hal ini ditunjukkan dari board size yang besar akan mendukung dan memberi saran kepada manajemen perusahaan sehingga lebih efektif dalam pengambilan keputusan dan memiliki informasi kolektif yang lebih besar karena board yang lebih besar akan mengakibatkan kinerja yang lebih tinggi (Dalton et al., 1999).

(7)

13

Universitas Kristen Petra

Ada pendapat yang mengatakan bahwa board size yang lebih kecil akan memberikan kontribusi lebih bagi keberhasilan perusahaan (Lipton and Lorsch, 1992; Jensen, 1993; Yarmack, 1996). Lipton and Lorsch melanjutkan bahwa dengan adanya board yang besar maka akan menyebabkan kesulitan dalam mengatur dan mengkoordinasikan banyaknya directors. Dalam teori keagenan (agency theory) mengatakan bahwa board yang besar dapat menyebabkan timbulnya agency problem berupa masalah komunikasi dan koordinasi dari para board dan ketidakmampuan board untuk melakukan control atas management (Appuhami and Bhuyan, 2015). Jensen (1993) mengemukakan bahwa mengawasi board size yang lebih kecil dapat meningkatkan kinerja. Apabila board size yang lebih besar, maka pemantauan kepada manajer akan lebih sulit dan menjadi kurang efisien (Mashayekhi, 2008).

Board size diukur dengan skala nominal yaitu melihat jumlah dari anggota dewan komisaris dalam perusahaan. Informasi mengenai board size dapat dilihat pada annual report perusahaan dalam bagian laporan corporate governance.

2.1.6.2 Board Composition

Board of directors umumnya dibagi menjadi dua, yaitu inside directors/

executive directors dan outside directors/ independent non-executive directors (Adams et al., 2010; Hart, 1995). Inside directors atau executive directors merupakan direksi eksekutif dalam suatu perusahaan yang bertugas memberikan bimbingan melalui saran, nasihat, pengarahan, bantuan, yang berkenaan dengan pengurusan pengelolaan suatu perusahaan dan meningkatkan kinerja perusahaan yang bekerja secara full time di perusahaan (Adams et al., 2010). Sedangkan outside directors atau independent non-executive directors merupakan orang- orang yang tidak diperkerjakan secara langsung di perusahaan dan yang tidak memiliki ketergantungan psikologi maupun ekonomi pada manajemen perusahaan dan merupakan direksi yang tidak bekerja secara full time(Baysinger and Butler, 1985).

Pada outside directors atau independent non-executive directors lebih efektif dalam mempresentasikan kepentingan para shareholders dalam melakukan

(8)

14

Universitas Kristen Petra

monitor terhadap manajemen karena outside directors atau independent non executive directors adalah orang independen (Ameer et al. 2010). Dewan komisaris memegang peranan penting dalam mengawasi jalannya perusahaan serta memastikan bahwa para manajer benar-benar meningkatkan kinerja perusahaan sebagai bagian dari pada pencapaian tujuan perusahaan (Fama, 1980;

Fama and Jensen, 1983).

Board composition adalah proporsi atas independent outside directors dalam board of directors di sebuh perusahaan (Appuhami dan Bhuyan, 2015).

Proporsi komisaris independen diukur dengan menggunakan skala rasio sebagai berikut:

Board composition = Jumlah komisaris independen Total jumlah anggota dewan komisaris

2.1.6.3 Board Meeting

Setiap dewan secara efektif melakukan fungsi pengawasan dan memonitor kinerja manajemen, maka dari itu dewan harus mengadakan board meeting secara rutin. Mengukur intensitas, efektivitas pemantauan dan pemakaian perusahaan adalah frekuensi meeting yang dilakukan oleh board of directors (Jensen 1993).

Salah satu yang mendukung adalah bahwa frekuensi board meeting adalah ukuran kegiatan dewan dan efektivitas kemampuan pemantauan (Conger et al. 1998 dan Vefeas 1999). Board meeting merupakan tugas dari dewan komisaris untuk melakukan pengawasan dan juga memberi nasihat atas manajer. Salah satu cara memenuhi tugas sebagai dewan komisaris adalah melakukan pertemuan dewan komisaris. Frekuensi board meeting merupakan suatu mekanisme yang penting untuk memastikan bahwa masalah/isu perusahaan didiskusikan dengan baik, dimana para anggota board memiliki kesempatan yang lebih untuk bertemu dan merundingkan serta menetapkan strategi bagi perusahaan (Vafeas, 1999). Selain itu, akan lebih mudah dan biaya yang dikeluarkan juga lebih kecil jika perusahaan menyesuaikan frekuensi board meeting untuk mendapatkan governance yang lebih baik dibandingkan harus merubah komposisi dari board maupun struktur ownership, serta menerima persetujuan atas perubahan charter (Vafeas, 1999).

(9)

15

Universitas Kristen Petra

Board meeting diukur dengan melihat jumlah rapat yang dilakukan dalam perusahaan selama satu tahun. Informasi mengenai rapat dewan komisaris dapat dilihat pada annual report perusahaan dalam bagian laporan corporate governance.

2.1.7 Intellectual Capital

Menurut Stewart (1997), intellectual capital adalah pembentukan materi pengetahuan, informasi, kekayaan intelektual, dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kemakmuran. Menurut Roos et Al (1997), mengatakan bahwa intellectual capital mencakup semua proses dan aset yang tidak biasanya ditampilkan pada neraca, dan juga semua aset yang tidak berwujud (merek dagang dan paten) yang motode akuntansi modern dipertimbangkan.

Menurut Bontis (1998), mengatakan bahwa intellectual capital sulit dipahami, tetapi setelah itu ditemukan dan dapat dimanfaatkan, maka organisasi akan mendapat sumber daya baru untuk bersaing dan menang.

Para peneliti mengidentifikasi tiga struktur utama dari intellectual capital yaitu human capital (HC), structural capital (SC), dan customer capital (CC).

Menurut Bontis et al (2001), human capital mempresentasikan individual knowledge stock atau suatu organisasi yang nanti akan dipresentasikan oleh karyawannya. Hudson (1993) mengatakan bahwan human capital merupakan kombinasi dari genetic inheritance, education, experience, and attitude tentang kehidupan bisnis. Sedangkan structural capital meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Dalam hal ini meliputi database, organizational charts, process manualsm strategies, routines dan hal lainnya yang membuat nilai sebuah perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya.

Sedangkan customer capital menurut Bontis et al (2000) memiliki tema utama yaitu pengetahuan yang melekat dalam marketing channels dan customer relationship dimana akan dikembangkan nantinya oleh organisasi melalui jalannya sebuah bisnis.

(10)

16

Universitas Kristen Petra

2.1.8 Human Capital

Human capital mengacu kepada karyawan dalam perusahaan (Bontis, 1999). Menurut Bulan dan Kym (2006) human capital adalah hal yang utama dari intellectual capital yang mencakup pengetahuan, pengalaman dan keterampilan khusus karyawan yang digunakan dalam rangka menciptakan nilai ekonomi (Cohen dan Kaimenakis, 2007; Roos et al. 2005). Abeysekera (2007) mengatakan bahwa human capital sebagai pelatihan dan pengembangan, keterampilan kewirausahaan, masalah ekuitas, keselamatan karyawan, hubungan karyawan dan kesejahteraan karyawan. Menurut Schiuma et al. (2008) human capital dapat dianggap sebagai pengetahuan, keterampilan, kecerdasan, hubungan, sikap, bakat dan perilaku karyawan. Dengan demikian, human capital secara holistik menunjukkan sumber daya perusahaan dan aset yang terkait dengan orang-orang perusahaan (Mohammad, 2012).

2.1.9 Structural Capital

Menurut Chu et al. (2006), structural capital adalah sistem umum dan prosedur untuk memecahkan masalah dan inovasi. Hal ini terdiri dari organizational capital dan technolocy capital sesuai dengan model intelektus (CIC 2002) yang dikutip oleh Bueno et al. (2004) dan kadang-kadang disebut sebagai organizational capital (Mouritsen et al., 2001). Menurut Roos et al.

(2005) structural capital termasuk proses, sistem, struktur, brands, properti intelektual dan intangible asset lainnya yang dimiliki oleh perusahaan namun tidak muncul pada neraca perusahaan. Selain itu, structural capital juga mencakup proses-proses atau infrastruktur yang dimiliki oleh perusahaan (Watson dan Stanworth, 2006) dan menggambarkan pengetahuan yang telah ditangkap dan dilembagakan dalam struktur, proses dan budaya organisasi (Mohammad, 2012).

Bontis (1999) mengatakan bahwa structural capital juga mengandung unsur efisiensi, inovasi, terstruktur dan akses informasi yang menjadi pengetahuan yang memfasilitasi karyawan dalam pencarian mereka untuk mencapai kinerja yang optimal.

(11)

17

Universitas Kristen Petra

2.1.10 Relational Capital

Relational capital mengacu pada pengetahuan dalam hubungan eksternal perusahaan. Hal ini mencakup pengetahuan tentang hubungan organisasi dengan saluran pasar, pelanggan, pemasok dan pemerintah dan industri jaringan yang memungkinkan untuk membeli dan menjual barang dan jasa secara efisien dan efektif melalui pengetahuan preferensi pelanggan dan faktor-faktor yang menyebabkan hubungan yang memuaskan dengan mereka, dan seterusnya (Bontis, 1999;. Tayles et al, 2007). Relational capital umumnya terdiri dari hubungan antara organisasi dan masyarakat (Grasenick dan Low, 2004; Chu et al, 2006.). Kualitas hubungan dan kemampuan untuk membuat pelanggan baru merupakan faktor penting bagi keberhasilan suatu perusahaan (Montequin et al., 2006).

2.1.11 Value Added Intellectual Capital (VAIC) Sebagai Indikator Intellectual Capital

Model VAIC dikembangkan oleh Pulic pada tahun 1997 yang dirancang untuk memberikan informasi tentang nilai efisiensi penciptaan aset berwujud dan tidak berwujud dari perusahaan. VAIC merupakan instrumen untuk mengukur kinerja intellectual capital perusahaan. Pendekatan ini relatif mudah dan sangat mungkin untuk dilakukan, karena dibangun dari akun pada laporan keuangan (neraca, laba rugi). Pulic (IBEC, 2003) menyatakan bahwa ada dua sumber kunci untuk menciptakan nilai tambah dalam perusahaan: modal yang digunakan dan IC. IC terdiri dari human capital dan structural capital. Nilai tambah adalah output dikurangi input dari suatu perusahaan. Output adalah hasil penjualan sedangkan input adalah segala sesuatu yang berasal dari luar perusahaan.

Model ini dimulai dengan kemampuan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added / VA). Nilai tambah adalah indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai (value creation). VA dihitung sebagai selisih antara output dan input. Output (OUT) merupakan pendapatan dan mencakup semua produk dan jasa yang dijual di pasar, sedangkan input (IN) mencakup seluruh beban yang digunakan dalam memperoleh pendapatan. Hal ini penting dalam model ini adalah

(12)

18

Universitas Kristen Petra

bahwa beban karyawan (biaya tenaga kerja) tidak termasuk dalam IN. Karena peran aktifnya dalam proses penciptaan nilai, potensi intelektual (yang diwakili oleh biaya tenaga kerja) tidak dihitung sebagai beban (biaya) dan tidak termasuk dalam komponen IN. Oleh karena itu, aspek kunci dari model ini adalah untuk mengobati tenaga kerja. VA dipengaruhi oleh efisiensi dari human capital (HC) dan capital structure (SC).

Hubungan lain dari VA adalah modal yang digunakan (CE), yang dalam hal ini diberi label dengan CEE (capital employed efficiency). CEE merupakan indikator VA yang diciptakan oleh satu unit modal fisik. Pulic (1998) mengasumsikan bahwa jika satu unit dari CE menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari perusahaan lain, berarti perusahaan lebih memanfaatkan CE-nya.

Dengan demikian, pemanfaatan yang lebih baik dari CE adalah bagian dari intellectual capital perusahaan. Hubungan selanjutnya adalah VA dan HC.

Human capital efficiency (HCE) menunjukkan berapa banyak VA dapat diproduksi dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Hubungan antara VA dan HC mengindikasikan kemampuan HC untuk menciptakan nilai dalam perusahaan. Konsisten dengan pandangan penulis lain mengenai intellectual capital, Pulic berpendapat bahwa total gaji dan upah biaya merupakan indikator dari HC perusahaan.

Hubungan ketiga adalah structural capital efficiency (SCE), yang menunjukkan kontribusi structural capital (SC) dalam penciptaan nilai. SCE mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC dalam penciptaan nilai (Tan, Plowman, & Hancock, 2007). Semakin besar kontribusi HC dalam penciptaan nilai, semakin kecil kontribusi SC dalam kasus ini. Pulic lebih lanjut menyatakan bahwa SC adalah VA dikurangi HC, model ini telah diverifikasi melalui penelitian empiris pada sektor industri tradisional (Pulic, 2000b). Keuntungan dari metode VAIC adalah karena data yang dibutuhkan relatif mudah diperoleh dari berbagai sumber dan jenis perusahaan. Data yang dibutuhkan untuk menghitung berbagai rasio adalah tokoh keuangan yang standar umumnya tersedia dari laporan keuangan perusahaan (Tan et al., 2007). Metode VAIC mencakup baik dari bagian financial maupun non financial. Sehingga, metode VAIC mencakup

(13)

19

Universitas Kristen Petra

fisikal, financial dan intellectual capital perusahaan (Murale et al., 2010). Metode VAIC dianggap sangat penting karena dengan VAIC dapat mengukur semua kontribusi dari setiap sumberdaya(human, structural, physical dan financial) untuk menciptakan value added kepada perusahaan (Zéghal and Maaloul, 2010;

Iazzolino and Laise, 2013). Untuk mengukur data financial, diperoleh dari laporan keuangan (Nazari and Herremans, 2007). Sehingga, alasan utama digunakannya VAIC sebagai indikator atas intellectual capital karena VAIC menggunakan data dari laporan keuangan dan hal tersebut akan mengurangi adanya kemungkinan subjektifitas atas data yang diperoleh (Chang and Hsieh, 2011).

VAIC digunakan untuk mengukur efisiensi yang dapat diasosiasikan terhadap masing-masing komponen dari intellectual capital dan capital yang digunakan/capital employed (baik secara fisik maupun keuangan) ((Iazzolino and Laise, 2013). Pulic (2000) yang dikutip dari Chang and Hsieh (2011), berpendapat bahwa terdapat dua key resources yang akan membentuk value added creation bagi perusahaan, yaitu capital employed (terdiri dari physical dan financial capital) dan intellectual capital (terdiri dari human dan structural capital).

Source : Nazari and Herremans (2007)

Menurut Ståhle et al., (2011), terdapat dua asumsi utama VAIC :

 Penciptaan nilai tambah sebuah perusahaan berdasarkan penggunaan physical capital dan intellectual capital,

 Pertambahaan nilai yang dicipatakan sebuah perusahaan berhubungan dengan efisiensinya secara keseluruahan.

Value added merupakan indikator objektif dari keberhasilan perusahaan dan sekaligus menunjukan kemampuan perusahaan untuk menciptakan nilai. Sehingga didalamnya harus termasuk investasi atas sumberdaya, seperti gaji dan bunga atas assest keuangan, dividen kepada investors, pajak kepada Negara dan investasi atas

(14)

20

Universitas Kristen Petra

pengembangan perusahaan dimasa depan. Rumus diatas jika dihitung dari akun- akun yang ada diperusahaan adalah sebagai berikut :

Beberapa langkah yang diperlukan dalam menghitung VAIC (Pulic, 1998;

Pulic 2004), antara lain:

Value Added (VA) – indikator objektif dari keberhasilan perusahaan yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menciptakan nilai. Value added dapat dihitung dengan:

VA = OP + HC + D + A

Dimana: OP = operating; HC = human cost; D = depreciation; A = amortization

Human Capital Efficiency (HCE) – Dalam model VAIC, HC didefinisikan sebagai salary dan wages pada periode tertentu (Pulic, 1998). HC yang tinggi mencerminkan skill karyawan yang tinggi sehingga dapat memberikan nilai tambah dibandingkan dengan karyawan yang memiliki salary dan wages rendah. HCE menunjukkan efisiensi penggunaan HC dalam menciptakan nilai tambah. Jika human capital cost rendah sedangkan VA lebih tinggi maka perusahaan telah menggunakan HC secara efisien.

HCE = VA / HC Dimana: VA = value added; HC = human cost

Structural Capital Efficiency (SCE) – Structural capital yang dikembangkan secara internal, meliputi kebijakan, proses, lingkungan kerja dan inovasi yang diciptakan oleh research & development.

SC = VA – HC

Dimana: VA = value added; HC = human cost

HC dan SC berbanding terbalik, dimana meningkatkan HC akan menurunkan SC. SCE diukur dengan (Pulic, 1998):

SCE = SC / VA

Dimana: SC = structural capital; VA = value added

Total efficiency intellectual capital akan meningkat sejalan dengan peningkatan atas human capital efficiency dan structural capital efficiency.

Sehinga, rumus intellectual capital efficiency adalah sebagai berikut :

(15)

21

Universitas Kristen Petra

ICE = 𝐻𝐶𝐸 + 𝑆𝐶𝐸

Dimana: ICE = intellectual capital efficiency; HCE = human capital efficiency; SCE = structural capital efficiency

Capital Employed Efficiency (CEE) – Capital employed mengukur efisiensi physical dan financial capital.

CEE = VA / CE

Dimana: VA = value added; CE = book value of firm net assets CE mewakili tangible resources sedangkan HC mewakili intangible resources (Chen, Cheng, Hwang, 2005).

Untuk mendapatkan nilai atas efisiensi penciptaan nilai kepada perusahaan, maka ketiga rumus diatas harus dijumlahkan. Semakin tinggi koefisien VAIC menunjukkan bahwa semakin tinggi value creation dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki perusahaan, termasuk di dalamnya adalah capital intellectual. Sehingga, rumus value added intellectual capital (VAIC) adalah sebagai berikut:

VAIC = ICE + CEE

Ket: VAIC = value added intellectual capital coefficient; ICE = intellectual capital coefficient; CEE = capital employed efficiency coeficient

2.1.12 Firm Performance

Kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu adalah konsep kinerja yang dikemukakan oleh Dubrin (2005). Menurut Moorman (1995), firm performance adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi, mengembangkan dan mempertahankan pelanggan dengan menawarkan produk, jasa, dan elemen lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Firm performance adalah kemampuan perusahaan guna mencapai tujuan dengan menggunakan sumber daya dengan efisien dan efektif (Daft, 2010). Dalam firm performance ini, peneliti akan memlilih firm financial performance sebagai salah satu indikator yang digunakan dalam firm performance. Financial performance adalah ukuran seberapa baik perusahaan dapat memanfaatkan aset dari kegiatan utama bisnisnya dan

(16)

22

Universitas Kristen Petra

menghasilkan keuntungan bagi para investor (Stanwick & Stanwick, 2010).

Financial Performance adalah keseluruhan kesehatan keuangan perusahaan selama beberapa periode tertentu (Bhunia, 2011). Financial performance analysis adalah proses penentuan operasi dan karakteristik keuangan perusahaan dari akuntansi dan laporan keuangan pada suatu perusahaan. Melalui analisis yang cermat dari financial performance, organisasi dapat mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan kinerja perusahaan (Bhunia, 2010). Financial performance menjadi salah satu karakteristik utama yang mendefinisikan daya saing, potensi bisnis, kepentingan ekonomi dan manajemen perusahaan (Bhunia, 2011). Tujuan dari analisis financial performance adalah untuk menentukan efisiensi dan kinerja manajemen perusahaan (Bhunia, 2011).

Dalam penelitian ini, financial performance perusahaan diukur dengan menggunakan Return on Asset (ROA) yang diambil dari (Yasser, 2015). Return on Asset (ROA) didefinisikan sebagai laba yang dihasilkan oleh perusahaan dalam kaitannya dengan bisnis asetnya (Yasser, 2015). Selain itu, Return on Asset (ROA) juga merupakan rasio atau ukuran yang digunakan untuk mengevaluasi profitabilitas perusahaan dan juga berguna sebagau indikator dalam kinerja sebuah perusahaan. Return on Asset (ROA) yang tinggi menunjukkan profitabilitas yang tinggi dari sebuah perusahaan. Return on Asset (ROA) dihitung dengan laba bersih dengan total aktiva. Return on Asset (ROA) yang semakin tinggi menunjukkan bahwa perusahaan lebih profit dengan investasi yang sedikit.

Dengan mengukur financial performance menggunakan perhitungan return on asset (ROA) maka dapat menunjukkan jumlah pendapatan yang dihasilkan dari aset modal yang diinvestasikan. Maka return on asset (ROA) memungkinkan pengguna untuk menilai seberapa baik suatu perusahaan dalam memotivasi kinerja manajemen. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Rechman & Shah (2013), Barotini et al (2005) juga menggunakan return on asset (ROA) sebagai ukuran dari financial performance.

Rumus untuk menghitung Return on Asset : 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

(17)

23

Universitas Kristen Petra

2.2 Kajian Penelitian Terdahulu

No Nama & Tahun Variabel Populasi &

Sampel Negara Hasil Penelitian &

Penjelasan X (Independen) Y (Dependen)

1 Appuhami dan Bhuyan (2015)

Board size, board composition

Intellectual Capital (VAIC)

Ada 30 perusahaan yang terdaftar di ASX

Australia

Board size berhubungan positif terhadap

intellectual capital.

Board composition berhubungan positif terhadap intellectual capital.

2 Haji dan Ghazali (2013)

Board size, independent non

executive directors, board

meetings.

Intellectual capital (intellectual

capital disclosure)

51 perusahaan di

Malaysia Bourse Malaysia

Board size, independent non-executive directors dan board meetings berhubungan signifikan dan positif terhadap intellectual capital disclosure.

(18)

24

Universitas Kristen Petra

3 Arifin et al., (2014)

Proporsi Komisaris Independen

Intellectual Capital

Pada 26 bank yang terdaftar di Indonesian Stock

Exchange 2008- 2012

Indonesia

Proporsi komisaris independen tidak

memiliki hubungan yang signifikan terhadap intellectual capital.

4 OBA et al., (2013)

Board independence,

board size

Intellectual capital disclosure index

Pada 10 perusahaan (Top

25 Forbes Africa) tahun

2012

Nigeria

Board size berpengaruh positif terhadap

intellectual capital disclosure.

Board independent berpengaruh positif terhadap intellectual capital disclosure.

5 Abdoli et al., (2013) Non-executive directors

Intellectual capital (VAIC)

Pada 39 perusahaan automaker yang terdaftar di TSE

selama 2009- 2012

Iran

Non-executive directors tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap intellectual capital.

(19)

25

Universitas Kristen Petra

6 Safieddine et al., (2009)

Corporate governance

items

Intellectual capital

Pada 80 responden yang merupakan 20%

dari total populasi American University of Beirut (AUB)

United States of America

Corporate governance berhubungan dengan intellectual capital.

7 Makki dan Lodhi (2014)

Corporate governance

Intellectual Capital

Pada perusahaan yang terdaftar di Karachi Stock Exchange tahun

2005-2009

Pakistan

Corporate governance memiliki hubungan yang signifikan dengan

intellectual capital

8 Adekule & Aghedo (2014)

Composition of board memvers

(board composition),

board size, ownership concentration

Firm Performance

(ROA)

Pada 263 sekuritas Nigerian Stock Exchange tahun

2011

Nigeria

Board composition berpengaruh positif terhadap firm performance (ROA).

Board size berpengaruh positif terhadap firm performance (ROA)

(20)

26

Universitas Kristen Petra

9 Fitriya Fauzi & Stuart Locke (2012)

Board size, board independence, board diversity, audit committee,

managerial ownership and black holders’s

ownership

Financial Performance

(ROA)

Pada 79 perusahaan yang terdaftar di New Zealand Stock Exchange pada tahun 2007-2011

New Zealand

Board size berpengaruh positif signifikan terhadap firm performance (ROA).

Board independence berpengaruh positif terhadap firm performance (ROA).

10 Ebrahim Mohammed Al-Matari (2012)

Board size, board composition, board meeting

Firm performance

(ROA)

Pada 136 perusahaan di Kuwati Stock

Exchange

Malaysia

Board size berpengaruh positif terhadap firm performance (ROA).

Board composition berhubungan signifikan dengan firm performance (ROA).

Board meeting berpengaruh positif terhadap firm

performance (ROA).

(21)

27

Universitas Kristen Petra

11 Oskar Kowalewski (2008)

Corporate Governance

Firm Performance

(ROA)

Pada 361 perusahaan yang terdaftar di WSE

Poland

Corporate governance berhubungan signifikan dengan firm performance (ROA).

12 Tamer Mohamed Shahwan (2015)

Corporate governance

Firm Performance

Pada 86 perusahaan yang

terdaftar di Egyptian Exchange

Egypt

Corporate governance berpengaruh positif terhadap firm performan ce (ROA)

13

Mina Kharal &

Muhammad Zia ur Rechman (2014)

Intellectual capital

Firm Performance

(ROA)

Pada 12 perusahaan minyak dan gas tahun 2005-2013

Pakistan

Intellectual capital berhbungan positif

dengan firm performance (ROA).

14 Zhining Wang &

Jinwei Cao

Intellectual capital

Firm performance

(ROA)

Pada 691 perusahaan teknologi di

China.

China

Intellectual capital berhubungan signifikan dengan firm performance (ROA).

(22)

28

Universitas Kristen Petra

15

Stephen Korutalo Nkundabanyanga

(2016)

Intellectual capital

Firm performance

(ROA)

Responden 128 perusahaan jasa

di Kampala

Kampala

Intellectual capital berhubungan positif signifikan terhadap firm performance.

16

Ramar T. Salman, Dr.

Muzairah Mansor, Adebola Dorcas Babatunde (2012)

Intellectual capital

Firm performance

(ROA)

Pada 20 perusahaan manufaktur tahun

2009-2011

Malaysia

Intellectual capital berhubungan positif signifikan terhadap firm performance (ROA)

(23)

29

Universitas Kristen Petra

2.3 Hipotesa Penelitian

2.3.1 Pengaruh Board Structure Terhadap Intellectual Capital

Banyak penelitian dilakukan untuk menyelidiki dampak dari board size atas organisasi seperti strategi manajemen (Goodstein et al., 1994); kinerja perusahaan (Mak dan Kusnadi, 2005; Coles et al, 2008.); dan intellectual capital (Cerbioni dan Parbonetti, 2007; Abeysekera, 2010;. Hidalgo et al, 2011;. Abdul Rashid et al, 2012). Mereka berpendapat bahwa board size yang besar cukup mengurangi kemampuan dewan untuk melakukan tindakan strategis (Goodstein et al., 1994), memiliki masalah koordinasi (Lipton dan Lorsh, 1992), dan biasanya tidak melekat dalam pengambilan keputusan karena pendapat yang berbeda-beda (Jensen, 1993).

Namun, argumen untuk large board, yang terutama berasal dari resource dependence theory (Pfeffer, 1972, 1973), menekankan bahwa dengan adanya jumlah board yang semakin banyak (larger board) menunjukkan adanya pool of expertise yang tinggi pula. Hal tersebut akan memberikan banyaknya perspektif dalam pengambilan keputusan (Lipton dan Lorsh, 1992). Adanya larger board akan meningkatkan efektifitas pemantauan dalam menangani kegiatan organisasi.

Sejumlah studi menyatakan hasil sesuai dengan resource dependence theory, karena mereka menemukan bahwa large board akan membuat kinerja organisasi menjadi lebih baik (Dalton dan Dalton, 2005; Belkhir, 2009). Hubungan antara board size dengan intellectual capital telah diteliti sebelumnya. Haji and Ghazali, 2013; Hidalgo et al., 2011; OBA et al., 2013 menemukan hubungan signifikan positif antara board size dengan pengungkapan intellectual capital. Diman semakin tinggi board akan melakukan pengungkapan atas intellectual capital yang lebih baik. Lucyanda and Rahmayanti (2012) menemukan hubungan yang signifikan dan positif antara board size dengan intellectual capital.

H1a: Board size berpengaruh positif terhadap intellectual capital.

Fungsi dewan direksi dapat dijelaskan sebagai mekanisme kontrol internal yang berpartisipasi untuk pengambilan keputusan atas nama kepentingan pemegang saham, dan juga untuk memastikan keputusan manajemen konsisten dengan kepentingan pemilik. Menurut Appuhami dan Bhuvan (2015) mengatakan bahwa di dalam agency theory, tujuan independent directors yaitu meningkatkan

(24)

30

Universitas Kristen Petra

efektivitas pemantauan dan pengendalian manajemen yang akan mengurangi agency problem. Independent directors mempunyai kewenangan dalam mengawasi top managers karena mereka dimotivasi untuk meningkatkan reputasi sebagau ahli dalam decision control. Appuhami dan Bhuyan (2015) menambahkan bawa adanya boards yang anggotanya berasal dari independent directors cenderung mengurangi eksploitasi yang dilakukan top management atas kekayaan para shareholders dan menggunakan intellectual capital secara efisien untuk memberi nilai tambah kepada perusahaan.

Ada berbagai penelitian yang dianggap board composition komisaris independen sebagai penentu dalam mempengaruhi tingkat pengungkapan.

Beberapa penelitian menemukan hubungan positif antara board composition dan intellectual capital(. Misalnya Li et al, 2008; Patelli dan Prencipe, 2007).

Appuhami dan Bhuyan juga menemukan bahwa board composition secara signifikan mempengaruhi efisiensi intellectual capital. Oleh karena itu hipotesa dalam penelitian ini adalah:

H1b: Board composition berpengaruh positif terhadap intellectual capital.

Agency theory menunjukkan bahwa meskipun tujuan utama dari seorang agen (manajer) adalah untuk memaksimalkan kepentingan individu mereka, para manajer juga bertindak dengan cara yang untuk menyenangkan para pemegang saham. Salah satu satu cara untuk membangun hubungan yang sehat dengan pemegang saham adalah untuk menunjukkan komitmen anggota dewan melalui board meeting yang tepat waktu untuk membahas masalah organisasi (Vafeas, 1999; Khanchei, 2007). Board meeting yang rutin dilakukan menjadi bukti dari komitmen yang tinggi atas keaktifan anggota dewan (Khanchei, 2007). Hal ini memberikan peningkatan kapasitas pemonitoran dan penyelasaian masalah yang timbul dalam organisasi. Board meeting yang efektif merupakan sebuah peran yang sangat penting dalam mengurangi ketidakuntungan atas board diversity dan akan meningkatkan kinerja intellectual capital (Al-Musali dan Ismail, 2015).

Penelitian Haji and Ghazali (2013) menemukan bahwa adanya hubungan positif antara board meeting dengan level dan kualitas intellectual capital disclosure. Hal ini berarti jika frekuensi board meeting meningkat, maka kualitas dan level pengungkapan atas intellectual capital pun ikut meningkat. Beberapa studi meneliti

(25)

31

Universitas Kristen Petra

hubungan antara tingkat intellectual capital dan frekuensi board meeting seperti komite audit (Li et al, 2008;. Taliyang dan Jusop, 2011). Mereka melaporkan hubungan positif yang signifikan antara frekuensi board meeting dan intellectual capital. Maka dari itu board meeting akan memiliki pengaruh yang positif pada praktik intellectual capital. Oleh karena itu, hipotesa dalam penelitian ini adalah:

H1c: Board Meeting berpengaruh positif terhadap intellectual capital

2.3.2 Pengaruh Board Structure dengan Firm Performance

Board size mengacu pada jumlah direksi di perusahaan. Hal ini merupakan faktor penting untuk menentukan efektivitas pada sebuah perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) berpendapat bahwa board size yang lebih besar (larger board) dapat meningkatkan efektivitas dewan perusahaan dan mendukung manajemen dalam mengurangi biaya agensi yang dihasilkan dari manajemen yang buruk dan mengarah ke hasil keuangan yang lebih baik. Seorang direktur harus diizinkan untuk memberikan perintah kepada semua eksekutif dan direktur non-eksekutif pada perusahaan.

Penelitian sebelumnya mendukung hubungan positif antara board size dan firm performance. Larger board dilihat bahwa mereka mengarah ke kinerja yang lebih baik karena berbagai macam keterampilan hadir untuk pengambilan keputusan yang lebih baik dan memantau kinerja CEO. Adams dan Mehran (2005) menemukan hubungan positif antara board size dan firm performance.

Selain itu, Rechner dan Dalton (1991) juga melaporkan bahwa larger board berkaitan dengan kinerja yang kuat. Hasil ini mendukung kesimpulan yang dibuat oleh Pfeffer (1972) dan Zahra dan Pearce (1989) mengenai hubungan antara board size dan firm performance. Maka hipotesa dalam penelitian ini:

H2a: Board Size berpengaruh positif terhadap firm performance

Board composition sangat diperdebatkan oleh perekonomian, organisasi literatur ilmu pengetahuan, dan keuangan secara teoritis. Hal ini juga telah diperdebatkan cara-cara yang efektif untuk pemantauan yang membantu dewan dalam membuat eksekutif yang efektif dalam mengurus kepentingan pemegang saham (Ramdani & Van, 2009). Menurut teori keagenan (agency theory), proporsi

(26)

32

Universitas Kristen Petra

yang lebih besar dari independent directors umumnya memberikan firm performance yang lebih baik. Secara umum, telah disimpulkan oleh Ramdani dan Van (2009) bahwa proporsi independent directors memiliki efek pada firm performance.

Penelitian sebelumnya meneliti hubungan antara board composition dan firm performance menemukan bahwa perusahaan dengan dewan direksi yang didominasi oleh orang luar dapat menghasilkan firm performance yang lebih baik (Adams & Mehran, 1995; John & Senbet, 1998). Selain itu beberapa peneliti lain (seperti Kosnik, 1987; Kyereboah-Coleman & Biekpe, 2006) menemukan hubungan positif antara board composition dan firm performance. Berdasarkan perspektif tersebut maka hipotesa dalam penelitian ini adalah:

H2b: Board Composition berpengaruh positif terhadap firm performance.

Setiap dewan secara efektif melakukan fungsi pengawasan dan memonitor kinerja manajemen, maka dari itu dewan harus mengadakan board meeting secara rutin. Mengukur intensitas, efektivitas pemantauan dan pemakaian perusahaan adalah frekuensi meeting yang dilakukan oleh board of directors (Jensen 1993). Salah satu yang mendukung adalah bahwa frekuensi board meeting adalah ukuran kegiatan dewan dan efektivitas kemampuan pemantauan (Conger et al. 1998 dan Vefeas 1999). Board meeting yang dilakukan secara rutin dapat menghasilkan kualitas yang tinggi dalam memantau manajemen yang berdampak positif pada firm financial performance (Ntim, 2009). Conger et al. (1998) menunjukkan bahwa board meeting menjadi sumber daya penting dalam meningkatkan efektivitas dewan. Hal ini membantu direksi untuk terus mengikuti perkembangan organisasi (Mangena & Tauringana 2008). Board meeting yang rutin juga memungkinkan direksi untuk menyusun strategi tentang cara untuk menggerakkan organisasi kearah yang lebih maju di masa depan. Menurut Lipton dan Lorsch (1992) board meeting secara rutin memungkinkan direksi untuk berinteraksi dengan dewan perusahaan lain sehingga menciptakan dan memperkuat ikatan kohesif antara mereka. Beberapa peneliti seperti Karamandu dan Vafeas (2005) menemukan hubungan positif antara antara frekuensi board meeting dan firm performance. Maka hipotesa dalam penelitian ini adalah:

H2c: Board Meeting berpengaruh positif terhadap firm performance

(27)

33

Universitas Kristen Petra

2.3.3 Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Firm Performance

Meskipun ada berbagai definisi mengenai intellectual capital namun tetap ada kesepakatan bahwa intellectual capital mencakup tiga komponen utama dalam sebuah perusahaan: Human Capital (HC), Structural Capital (SC) dan Relational Capital (RC) (Bontis, (1998); Verguwen dan Alem , (2005); Yang dan Lin, (2009); Ghosh dan Wu, (2007); Friz-enz (1997);. Rodger, (2003); Edvinsson, (1997); Amir dan Lev, (1996) dan Calisir et al, (2011)).

Human Capital (HC) yang digambarkan sebagai keterampilan, kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh karyawan (Roos dan Roos, 1997). Beberapa keterampilan ini unik untuk setiap individu, sementara beberapa mungkin tidak unik (Ting dan Ramping 2009). Contohnya adalah kreativitas, pengalaman, kemampuan kerja sama tim, kemampuan inovasi, kemampuan belajar, pelatihan dan pendidikan formal, kualifikasi kejuruan, fleksibilitas dan pengetahuan para karyawan. Dari penjelasan tersebut menegaskan bahwa perusahaan yang sukses selalu berinvestasi pada human capital untuk mengembangkan kemampuan kerja mereka secara keseluruhan (Makki et al, 2009). Investasi dalam kemampuan karyawan memiliki dampak langsung pada financial performance (Becker et al, 2001). Sementara Youndt (1998) menyampaikan bahwa pengaruh human capital pada kinerja perusahaan tidak pasti. Oleh karena itu, penting untuk memeriksa secara empiris apakah human capital memiliki hubungan langsung pada return on asset (ROA).

Structural capital (SC) didefinisikan sebagai pengetahuan yang tetap dalam perusahaan (Bontis 1998). Hal ini termasuk proses organisasi, rutinitas, prosedur, sistem, norma-norma, budaya dan database. Misalnya, penggunaan perangkat teknologi informasi dan kemampuan pembelajaran organisasi, filosofi manajemen, budaya perusahaan, proses manajemen, sistem jaringan, paten, merek dagang dan hak cipta. Structural capital yang kuat memiliki lingkungan yang mendukung untuk karyawan dalam meningkatkan produktivitas, keuntungan dan mengurangi total biaya produksi (Bozbura, 2004). Oleh karena itu, secara empiris penting untuk menguji apakah structural capital berpengaruh pada firm performance yang diproksikan dengan return on asset (ROA).

H3: Intellectual Capital berhubungan positif dengan firm performance.

Referensi

Dokumen terkait

Kotler (2003) menyatakan kepuasan pelanggan adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh seseorang yang merupakan hasil dari perbandingan antara hasil yang diharapkan atas layanan

Penemuan tersebut sesuai dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Darwis (2012) yang juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara earnings management

a) Variety adalah kelengkapan dari jenis produk yang dijual dimana dapat mempengaruhi pertimbangan konsumen dalam memilih toko. b) Flexibility adalah produk – produk yang

Metode Simplified Sequential Search Algorithm-Modified atau SSSA-Mod (Angkasaputra, K. & Sebastiano, F., 2018) adalah suatu metode dari modifikasi metode Simplified

XAMPP adalah perangkat lunak gratis, yang mendukung banyak sistem operasi, merupakan kompilasi dari beberapa program untuk menjalankan fungsinya sebagai server yang

Konsep-konsep tersebut mempunyai kaitan yaitu bahwa kepuasan dan kepercayaan yang terbentuk dari kualitas jasa yang dirasakan akan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan

Sehingga salah satu tujuan dari SIA dalam siklus pendapatan adalah untuk mendukung performance dari aktivitas bisnis perusahaan dengan memproses data transaksi secara efisien,

Di dalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku, bahan penolong, dan biaya tenaga kerja (baik yang