Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia
Tahun 2019
Perubahan Energi
Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013
Perubahan Energi
Buku Guru
SMPLB Tunarungu
KELAS KELAS
VIII
Tema 5
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Tahun 2019
Perubahan Energi
Buku Tematik Terpadu Kurikulum Pendidikan Khusus 2013
Tema 5
Buku Guru SMPLB Tunarungu Kelas VIII
DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN KHUSUS PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
2019
MILIK NEGARA
TIDAK DIPERDAGANGKAN
Disklaimer: Buku ini merupakan buku siswa yang dipersiapkan Pemerintah dalam rangka implementasi Kurikulum 2013. Buku siswa ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan dipergunakan dalam tahun ketiga penerapan Kurikulum 2013. Pada Pendidikan Khusus. Buku ini merupakan “dokumen hidup” yang senantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini.
Hak Cipta © 2019 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Perubahan Energi/Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019. vi, 144 hlm. : ilusitrasi. : 29,7 cm. (Tema; 5) Tematik Terpadu Kurikulum 2013. Untuk SMPLB
Tunarungu Kelas VIII ISBN...
I. Tematik Terpadu -- Studi dan Pengajaran I. Seri II. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Penulis : Sukotjo, M.A
Penelaah : Dr. H Dudi Gunawan, M.Pd Ilustrator : Sofian Giantara Pramadita, S.Ds
Diterbitkan oleh : Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Cetakan Ke-1, 2019
Disusun dengan huruf Baar Metanoia, 12 pt
KATA SAMBUTAN
Kurikulum 2013 pendidikan khusus telah disusun melalui berbagai proses dan tahapan dalam waktu yang relatif panjang. Pengembangan kurikulum pendidikan khusus sejak tahun 2014, dalam perjalanannya mengalami penyesuaian dan perubahan. Harmonisasi kurikulum pendidikan khusus yang dilakukan antara Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus (d/h Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, perguruan tinggi, sekolah luar biasa, praktisi pendidikan, serta pihak lain yang relevan, telah menghasilkan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10/D/
KR/2017 tentang Struktur Kurikulum, Kompetensi Inti-Kompetensi Dasar, dan Pedoman Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Khusus.
Salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran adalah tersedianya buku teks pelajaran yang sesuai dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar serta karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus.
Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus (d/h Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus) dengan persetujuan dan dukungan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan, memiliki program untuk menyusun buku teks pelajaran pendidikan khusus. Penyusunan buku teks pelajaran pendidikan khusus dilakukan secara bertahap sesuai dengan pentahapan pelaksanaan Kurikulum 2013. Buku teks pelajaran pendidikan khusus disusun untuk kelas I s.d. VI jenjang SDLB, kelas VII s.d. IX SMPLB, dan kelas X, XI dan XII SMALB, ditambah beberapa buku mata pelajaran yang tidak tergabung dalam tematik.
Buku yang disusun menggunakan pendekatan tematik dan berbasis aktivitas. Tema-tema yang ada direncanakan sedemikian rupa adalah tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, supaya lebih mendekatkan peserta didik dengan pembelajaran yang nyata dan pada akhirnya materi pembelajaran diharapkan menjadi relatif lebih mudah dipahami oleh peserta didik itu sendiri.
Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara holistik/menyeluruh di mana proses pembelajaran yang menyeluruh tersebut diharapkan dapat melahirkan pribadi peserta didik yang utuh dan berkualitas. Buku ini merupakan buku teks utama dalam pembelajaran dan sebagai salah satu sumber belajar kiranya buku ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pendidik dan peserta didik serta
dapat dipadukan dengan sumber belajar lain yang relevan untuk mendukung pengembangan pribadi peserta didik secara utuh.
Salah satu karakteristik Kurikulum 2013 Pendidikan Khusus adalah bahwa pendidikan keterampilan memiliki porsi yang cukup besar dalam stuktur kurikulum. Porsi pendidikan keterampilan pada jenjang SDLB sebesar 40%, SMPLB sebesar 50% dan pada jenjang SMALB sebesar 70%. Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam rangka Peningkatan Kuailitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia. Dalam rangka revitalisasi pendidikan keterampilan pada pendidikan khusus, dikembangkan 20 jenis keterampilan pilihan SMPLB dan SMALB, serta juga dilakukan penyusunan buku keterampilan.
Buku teks pelajaran dan buku keterampilan pendidikan khusus disusun dengan mempertimbangkan kondisi yang dimiliki peserta didik, sehingga aktivitas pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kekhasan yang dimiliki masing-masing peserta didik. Diharapkan buku keterampilan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh guru dan peserta didik serta dapat dipadukan dengan sumber belajar yang lain untuk mendukung pengembangan pendidikan keterampilan yang relevan. Di samping itu, buku ini juga dapat dimanfaatkan oleh kepala sekolah, pengawas, orangtua, dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka meningkatkan mutu layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus.
Kami menyampaikan terimakasih kepada para penyusun dan penelaah buku serta seluruh pihak yang terlibat untuk setiap kerja keras, curahan ide dan pemikiran yang pasti dilakukan dengan sepenuh hati, sehingga tercipta buku teks pelajaran pendidikan khusus yang akan bermanfaat bagi pengembangan potensi peserta didik berkebutuhan khusus.
Jakarta, 7 Oktober 2019 Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus
Dr. Sanusi, M.Pd NIP. 196204031982031003
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas karunia yang diberikan sehingga dapat selesai penulisan buku guru Tematik Terpadu Kurikulum Pendidikan Khusus 2013 dengan Tema: “Perubahan Energi” untuk Kelas VIII SMPLB Tunarungu. Buku guru ini merupakan pelengkap untuk memberi petunjuk penggunaan Buku Siswa dengan tema “Perubahan Energi”
untuk Kelas VIII SMPLB Tunarungu. Dengan demikian buku ini berfungsi sebagi salah satu pemberi arahan aktifitas yang perlu dilakukan guru ketika siswa menggunakan bukunya dalam tema tersebut.
Diharapkan buku ini dapat menjadi salah satu inspirasi guru dalam melakukan pembelajaran di kelas XII SMALB C, tetaiibuku ini bukan satu-satunya sumber yang harus digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas.
Penyusunan kedua buku ini mengacu pada Kurikulum 2013, yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Di dalamnya dirumuskan secara terpadu kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik, disertai juga saran proses pembelajaran dan penilaian yang diperlukan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diinginkan itu.
Sebagaimana lazimnya buku teks pelajaran yang mengacu pada kurikulum berbasis kompetensi, buku ini memuat rencana pembelajaran berbasis aktivitas. Buku ini memuat urutan pembelajaran yang dinyatakan dalam kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan peserta didik. Buku ini jugamengarahkan hal-hal yang harus dilakukan peserta didik bersama guru dan teman sekelasnya untuk mencapai kompetensi tertentu; bukan buku yang materinya hanya dibaca, diisi, atau dihafal.
Pencapaian kompetensi terpadu sebagaimana rumusan itu menuntut pendekatan pembelajaran tematik terpadu, yaitu mempelajari semua mata pelajaran secara terpadu melalui tema-tema kehidupan yang dijumpai peserta didik sehari-hari. Peserta didik diajak mengikuti proses pembelajaran transdisipliner yang menempatkan kompetensi yang dibelajarkan dikaitkan dengan konteks peserta didik dan lingkungan. Materi-materi berbagai mata pelajaran dikaitkan satu sama lain sebagai satu kesatuan, membentuk pembelajaran multidisipliner dan interdisipliner, agar tidakterjadi ketumpangtindihan dan ketidakselarasan antarmateri mata pelajaran.
Tujuannya, agar tercapai efisiensi materi yang harus dipelajari dan efektivitas penyerapannya oleh peserta didik.
Buku ini memuat penjabaran hal-hal yang harus dilakukan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan Kurikulum 2013, peserta didik diajak berani untuk mencari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru dalam meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersediaan kegiatan pada buku ini sangat penting. Guru dapat memperkaya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan alam, sosial, dan budaya.
Sebagaimana layaknya dokumen hidup, maka buku ini memerlukan penyempurnaan baik dalam konten, tata bahasa maupun kesesuaian dengan peserta didik, untuk itu masukan untuk perbaikan sangat diperlukan untuk penyempurnaan buku ini.
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Sambutan ... iii
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... vii
Daftar Tabel ... viii
Daftar Gambar ... ix
Tentang Buku Guru Pembelajaran Tematik Terpadu Kelas VIII ...1
Bagaimana Menggunakan Buku guru ... 3
Panduan Penilaian ... 7
Tentang Anak Tunarungu ... 23
Petunjuk Penggunaan Buku Guru Tema 5 “Perubahan Energi” untuk Siswa Tunarungu ... 30
Pemetaan Kompetensi Dasar ... 31
Ruang Lingkup Pembelajaran ... 32
Subtema 1 Perubahan Energi Panas ... 44
Subtema 2 Perubahan Energi Gerak ... 72
Subtema 3 Perubahan Energi Listrik ... 91
Subtema 4 Perubahan Energi Alternatif ... 110
Daftar Pustaka ... 129
Profil Penulis ... 131
Profil Penelaah ... 132
Profil Ilustrator ... 133
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Teknik dan Instrumen Penilaian Sikap ... 8
Tabel 1.2 Contoh Format Lembar Observasi SIkap ... 8
Tabel 1.3 Contoh Format Lembar Observasi SIkap ... 8
Tabel 1.4 Contoh Format Jurnal Perkembangan Sikap ... 9
Tabel 1.5 Contoh Format Penilaian Diri ... 9
Tabel 1.6 Contoh Format Penilaian Diri menggunakan skala Likert ... 10
Tabel 1.7 Teknik, Instrumen dan Tujuan Penilaian Pengetahuan ... 11
Tabel 1.8 Teknik dan Instrumen Penilaian Keterampilan ... 12
Tabel 1.9 Contoh Format Jurnal Pengamatan Sikap Spiritual (KI-I) ... 14
Tabel 1.10 Contoh Format Rekap Jurnal Pengamatan Sikap Spiritual (KI-I) ... 15
Tabel 1.11 Contoh Format Jurnal Pengamatan Sikap Sosial (KI-2) ... 16
Tabel 1.12 Contoh Format Rekap Jurnal Pengamatan Sikap Sosial (KI-2) ... 17
Tabel 1.13 Contoh rekap penilaian pengetahuan ... 18
Tabel 1.14 Contoh Rubrik ketrampilan membaca ... 20
Tabel 1.15 Contoh Matrik Penilaian Diskusi ... 20
Tabel 1.16 Penilaian Unjuk Projek ... 21
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Skema Penilaian Sikap ... 7
Gambar 1.2 Skema Penilaian Pengetahuan ... 10
Gambar 2.1 Peta Kompetensi Dasar Tema Perubahan Energi ... 31
Gambar 2.2 Peta Indikator Subtema 1 Pembelajaran 1 ... 41
Gambar 2.3 Bagan Kapal Otok-otok ... 48
Gambar 2.4 Peta Indikator Subtema 1 Pembelajaran 2 ... 54
Gambar 2.5 Cara Menyambung Kaleng ... 60
Gambar 2.6 Peta Indikator Subtema 1 Pembelajaran 3 ... 63
Gambar 2.7 Peta Indikator Subtema 2 Pembelajaran 1 ... 73
Gambar 2.8 Skrup sambungan dudukan pembangkit listrik mini ... 77
Gambar 2.9 Peta Indikator Subtema 2 Pembelajaran 2 ... 79
Gambar 2.10 Peta Indikator Subtema 2 Pembelajaran 3 ... 85
Gambar 2.11 Peta Indikator Subtema 3 Pembelajaran 1 ... 92
Gambar 2.12 Peta Indikator Subtema 3 Pembelajaran 2 ... 99
Gambar 2.13 Peta Indikator Subtema 3 Pembelajaran 3 ... 104
Gambar 2.14 Peta Indikator Subtema 4 Pembelajaran 1 ... 111
Gambar 2.15 Peta Indikator Subtema 4 Pembelajaran 2 ... 116
Gambar 2.16 Peta Indikator Subtema 4 Pembelajaran 3 ... 121
Tentang Buku Guru
Pembelajaran Tematik Terpadu Kelas VIII
Buku Panduan Guru disusun untuk para guru dalam pelaksanakan pembelajaran tematik terpadu. Dengan panduan ini diharapkan guru dapat memahami penggunaan buku siswa terkait. Kreatifitas dan penyesuaian pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik sangat dimungkinkan.
Buku ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Jaringan tema merupakan gambaran tentang suatu tema yang melingkupi beberapa Kompetensi Dasar (KD) dan indikator dari berbagai mata pelajaran dalam Tema 5 Perubahan Energi.
2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada setiap kegiatan pembelajaran.
3. Kegiatan pembelajaran tematik terpadu untuk menggambarkan kegiatan pembelajaran yang menyatu dan mengalir dari beberapa mata pelajaran dalam jaringan.
4. Pengalaman belajar yang bermakna untuk membangun sikap dan perilaku positif, penguasaan konsep, keterampilan berpikir saintifik, berpikir tingkat tinggi, kemampuan menyelesaikan masalah, inkuiri, kreativitas, dan pribadi reflektif.
5. Berbagai teknik penilaian peserta didik, yaitu penilaian sikap, pengetahuan, dan ketrampilan.
6. Informasi yang menjadi acuan kegiatan remedial dan pengayaan.
7. Kegiatan interaksi guru dan orangtua, yang memberikan kesempatan kepada orangtua untuk ikut berpartisipasi aktif melalui kegiatan Interaksi dengan orangtua.
8. Petunjuk penggunaan Buku Siswa.
Kegiatan pembelajaran pada Buku Siswa dirancang untuk mengembangkan kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) peserta didik melalui aktivitas yang bervariasi. Aktivitas tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut.
1. Awali setiap pembelajaran dengan mensituasikan peserta didik agar rilek, yaitu dengan selalu menarik perhatian, seperti menyapa, bersalaman, bertanya jawab dan lanjukan dengan bercakap-cakap. (Manfaat bercakap adalah bagi peserta didik tunarungu selain membuat rilek juga sebagai wahana untuk menambah pemahaman kosakata baru).
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran sehingga peserta didik dapat menerima informasi dari apa yang dilihat, disimak, dirasakan, dan dikerjakan.
3. Menggali pengetahuan peserta didik yang diperoleh sebelumnya agar peserta didik dapat mengaitkan pengetahuan terdahulu dengan yang akan dipelajari.
4. Memberikan tugas yang bertahap guna membantu peserta didik memahami konsep.
5. Memberi tugas yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
6. Memberi kesempatan untuk melatih keterampilan atau konsep yang telah dipelajari.
7. Memberi umpan balik yang akan menguatkan pemahaman peserta didik.
Bagaimana Menggunakan Buku Guru
Buku Panduan Guru memiliki dua fungsi, yaitu sebagai petunjuk penggunaan Buku Siswa dan sebagai salah satu acuan kegiatan pembelajaran di kelas.
Mengingat pentingnya buku ini, disarankan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Paling utama dalam menggunakan Buku Guru adalah membuat peserta didik bahagia selama proses pembelajaran. Oleh karena itu bacalah halaman demi halaman dengan teliti.
2. Pahamilah setiap Kompetensi Dasar dan Indikator yang dikaitkan dengan tema.
3. Upayakan untuk mencakup Kompetensi Inti (KI) I dan (KI) II dalam semua kegiatan pembelajaran khusus untuk mata pelajaran PPKn. Guru diharapkan melakukan penguatan untuk mendukung pembentukan sikap, pengetahuan, dan perilaku positif.
4. Dukunglah ketercapaian Kompetensi Inti (KI) I dan (KI) II dengan kegiatan pembiasaan, keteladanan, dan budaya sekolah.
5. Cocokkanlah setiap langkah kegiatan yang berhubungan dengan buku Peserta didik sesuai dengan halaman yang dimaksud.
6. Mulailah setiap kegiatan pembelajaran dengan memberikan pengantar sesuai tema pembelajaran. Diharapkkan selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan percakapan sesuai kondisi sekolah (dapat dengan oral, komunikasi total atau dengan isyarat), dengan bercakap antara guru dan peserta didik akan membantu pemahaman materi pelajaran yang jauh lebih baik.
7. Hal lain perlu diperhatikan sebelum mengadakan percakapan dengan peserta didik, guru terlebih dahulu menyiapkan ringkasan, kemudian dibuatkan pertanyaan/pernyataan pancingan yang dapat membimbing peserta didik memahami bacaan/materi. Seperti menunjukkan gambar, menunjukkan kalimat, bertanya, memberikan respon dan sebagainya. Jika hal itu sudah dibuat kemudian guru menentukan titik tolak sebagai awal dalam percakapan. Percakapan dilaksanakan sangat tergantung kepada guru, jika peserta didik telah memahami isi bacaan, maka percakapan dapat dihentikan atau disudahi.
8. Harus diingat, karena yang kita hadapi adalah peserta didik tunarungu oleh karena harus diingat prinsip-prinsip pembelajaran bagi peserta didik tunarungu. (Keterarahan wajah, keterarahan suara, kejelasan bicara, keperagaan, melakukan, intersubjektif, kekonkretan, visualisasi, pengalaman menyatu) dengan memperhatikan prinsip khusus tersebut, diharapkan hasil pembelajaran lebih efesien dan efektif.
9. Kembangkan ide-ide kreatif dalam memilih metode pembelajaran termasuk di dalamnya menemukan kegiatan alternatif apabila kondisi yang terjadi kurang sesuai dengan perencanaan (misalnya peserta didik tidak bisa mengamati hewan di luar kelas pada saat hujan) juga dapat disesuaikan dengan kearifan lokal atau sumber daya yang ada di lingkungan sekitar.
10. Pilihlah beragam metode pembelajaran yang akan dikembangkan (misalnya bermain peran, mengamati, bertanya, bercerita, menggambar, dan sebagainya). Penggunaan beragam metode tersebut, selain melibatkan Peserta didik secara langsung, diharapkan juga dapat melibatkan warga sekolah dan lingkungan sekolah. Kembangkanlah keterampilan berikut ini:
a. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM),
b. Keterampilan bertanya yang berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi,
c. Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran, dan Keterampilan mengelola kelas.
d. Gunakanlah media atau sumber belajar alternatif yang tersedia di lingkungan sekolah.
e. Pada I tahun terdapat 8 tema. Tiap tema terdiri atas 4 subtema. Setiap subtema diuraikan ke dalam 3 pembelajaran. Satu pembelajaran dialokasikan untuk satu hari. Dalam buku Tema 1 format pembelajaran:
PB 1 1. Bahasa Indonesia 1 jam pelajaran 2. Ilmu Pengetahuan Alam 1 jam pelajaran 3. Seni Budaya 2 jam pelajaran
PB 2 1. Ilmu Pengetahuan Alam 1 jam pelajaran 2. Ilmu Pengetahuan Sosial 1 jam pelajaran 3. Matematika 2 jam pelajaran
PB 3 1. Bahasa Indonesia 1 jam pelajaran 2. Ilmu Pengetahuan Sosial 2 jam pelajaran 3. PPKn 2 jam pelajaran
Pada buku peserta didik juga dikembangkan nilai karakter yang secara implisit ada dalam proses pembelajaran dan secara eksplisit tergambar dalam teks bacaan. Adapun karakter yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Religius, b. Nasionalis, c. Mandiri,
d. Gotong royong, e. Integritas.
11. Pada setiap pembelajaran selalu diadakan penilaian, dan latihan soal pada akhir subtema, yang sejalan dengan pencapaian kompetensi. Meskipun demikian, guru dianjurkan untuk menambah bahan-bahan latihan bagi peserta didik dari sumber-sumber yang lain.
12. Pada setiap subtema, meskipun demikian, guru dianjurkan untuk menambah bahan-bahan latihan bagi peserta didik dari sumber-sumber yang lain.
13. Hasil unjuk kerja peserta didik yang berupa karya dan bukti penilaian dapat berfungsi sebagai portofolio peserta didik.
14. Buatlah catatan setelah satu pembelajaran selesai, sebagai bahan untuk melakukan perbaikan pada proses pembelajaran selanjutnya. Misalnya faktor-faktor yang menyebabkan pembelajaran berlangsung dengan baik, kendala-kendala yang dihadapi, dan ide-ide kreatif untuk pengembangan lebih lanjut.
15. Libatkan semua peserta didik tanpa terkecuali dan yakini bahwa setiap Peserta didik memiliki kecerdasan dengan keunikan masing-masing.
Dengan demikian, pemahaman tentang kecerdasan majemuk, gaya belajar dan beragam faktor penyebab kesulitan belajar peserta didik, sangat dibutuhkan. Demi pencapaian tujuan pembelajaran, diperlukan komitmen guru untuk mendidik sepenuh hati (antusias, kreatif, penuh cinta, dan kesabaran).
Kegiatan Bersama Orangtua
Secara khusus, di setiap akhir pembelajaran pada Buku Siswa, terdapat kolom untuk orangtua dengan subjudul ‘Interaksi dengan Orangtua’. Kolom ini berisi informasi tentang materi yang dipelajari dan aktivitas belajar yang dapat dilakukan peserta didik bersama orangtua di rumah. Orangtua diharapkan berdiskusi dan terlibat dalam aktivitas belajar peserta didik. Guru perlu membangun komunikasi dengan orangtua sehubungan dengan kegiatan pembelajaran yang akan melibatkan orangtua dan peserta didik di rumah.
Beberapa Singkatan Nama Mata Pelajaran dan Kepanjangannya 1. SBDP : Seni Budaya dan Prakarya
2. PPKn : Pendidikan Pancasila dan Kewargaannegara 3. IPS : Ilmu Pengetahuan Sosial
4. IPA : Ilmu Pengetahuan Alam
Panduan Penilaian
A. Teknik Penilaian
1. Teknik dan Instrumen Penilaian Sikap
Penilaian sikap merupakan kegiatan untuk mengetahui perilaku siswa pada saat pembelajaran dan di luar pembelajaran, yang dilakukan untuk pembinaan perilaku dan karakter siswa seperti jujur, disiplin tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri.
Penilaian sikap dilakukan secara berkelanjutan dan komprehensif oleh guru mata pelajaran, guru bimbingan konseling, dan guru kelas dengan menggunakan observasi dan informasi lain yang valid dan relevan dari berbagai sumber. Informasi tersebut harus ditindak lanjuti oleh pendidik.
Skema penilaian sikap dapat dilihat pada gambar berikut:
Penilaian Sikap
Utama
Penunjang
Observasi oleh wali kelas dan BK selama satu semester
Penilaian antar teman dan
penilaian diri
Dilaksanakan selama proses pembelajaran
Penilaian antar teman dan
penilaian diri Dilaksanakan di luar jam pembelajaran secara
langsung dan berdasarkan informasi yang valid.
Gambar 1.1 Skema Penilaian Sikap
Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Keterangan Observasi Daftar cek
Skala penilaian sikap
Dilakukan selama proses pembelajaran.
Penilaian diri Daftar cek
Skala penilaian sikap
Dilakukan pada akhir semester Penilaian antar
Teman
Daftar cek
Skala penilaian sikap
Dilakukan pada akhir semester, setiap siswa dinilai oleh 3 siswa lainnya.
Jurnal Catatan pendidik tentang sikap dan perilaku positif atau negatif, selama dan di luar proses pembelajaran.
Berupa catatan guru tentang sikap dan perilaku positif atau negatif siswa yang tidak berkaitan dengan mata pelajaran.
Tabel 1.1: Teknik dan Instrumen Penilaian Sikap
Nilai akhir yang diperoleh untuk kompetensi sikap diambil dari nilai modus (nilai yang terbanyak muncul)
Tabel 1.2: Contoh Format Lembar Observasi Sikap
Nama : …
Kelas : …
Pelaksanaan pengamatan : …
No Aspek yang dikembangkan
Tanggal Catatan guru
1 2 3 4
Tabel 1.3 : Contoh Format Jurnal Perkembangan Sikap Nama Satuan Pendidikan : …
Kelas/Semester : … /…
Tahun Ajaran : …
No Waktu Nama Siswa
Ctatan Perilaku
Nilai Utama Karakter
Karakter Operasional
Tindak Lanjut
Hasil
1 2 3 4
Tabel 1.4 : Contoh Format Penilaian Diri Nama Satuan Pendidikan : … Kelas/Semester : … /…
Tahun Ajaran : …
Petunjuk
Berilah tanda (√) pada kolom “Ya” atau “Tidak” sesuai dengan keadaan dirimu yang sebenarnya.
Tabel 1.5: Contoh Format Penilaian Diri menggunakan skala Likert Nama Satuan Pendidikan : …
Kelas/Semester : … /…
Tahun Ajaran : …
Petunjuk
1. Bacalah baik-baik setiap pernyataan
2. Berilah tanda (√) pada kolom yang sesuai dengan keadaan dirimu yang sebenarnya.
Keterangan angka pada setiap kolom sebagai berikut:
4 artinya selalu; 3 = sering; 2 = jarang, dan 1 = tidak pernah.
Tabel 6: Contoh Format Penilaian Antar Teman (Peer Assessment) Nama Satuan Pendidikan : …
Kelas/Semester : … /…
Tahun Ajaran : …
Petunjuk
1. Amatilah perilaku temanmu selama bermain
No Pernyataan Ya Tidak
1 Saya selalu berpamitan kepada orangtua ketika hendak pergi.
2 3 4
No Pernyataan Skor
4 3 2 1
1 2 3 4
No Pernyataan Ya Tidak 1 Teman saya selalu mengembalikan mainan pada tempatnya.
2 3 4
2. Berilah tanda (√) jika pada kolom “Ya” atau “Tidak” sesuai keadaan teman kalian yang sebenarnya.
2. Teknik dan Instrumen Penilaian Pengetahuan
Penilaian Pengetahuan
Tes Tertulis
Tes Lisan
Penugasan
Teknik lain, misalnya:
fortofolio, observasi
Benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, isian/melengkapi/
uraian
Tugas yang dilakukan secara individu atau kelompok di satuan pendidikan dan/atau di luar sekolah
Kuis dan tanya jawab
Gambar 1.2. Skema Penilaian Pengetahuan
Teknik penilaian pengetahuan dapat digambarkan pada skema berikut:
Tabel 1.7: Teknik, Instrumen dan Tujuan Penilaian Pengetahuan
Teknik Bentuk Instrumen Tujuan
Tes Tertulis Benar-Salah, Menjodohkan, Pilihan Ganda, Isian/Melengkapi, Uraian
Mengetahui penguasaan pengetahuan siswa untuk perbaikan proses pembelajaran dan/atau pengambilan nilai
Tes Lisan Tanya Jawab Mengecek pemahaman siswa
untuk perbaikan proses pembelajaran
Penugasan Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau proyek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai
Memfasilitasi penguasaan pengetahuan (bila diberikan selama proses pembelajaran) atau mengetahui penguasaan pengetahuan (bila diberikan pada akhir pembelajaran) Portofolio Sampel pekerjaan siswa terbaik yang
diperoleh dari penugasan dan tes tertulis.
Sebagai bahan bagi guru untuk mendeskripsikan capaian pengetahuan di akhir semester
Nilai akhir untuk kompetensi pengetahuan diambil dari nilai rerata kompetensi pengetahuan.
Tes tertulis dalam bentuk soal
Penilaian dilakukan dengan cara menghitung jumlah jawaban benar dari soal yang tersedia.
Skor maksimal: 100
Penilaian : Skor yang diperoleh x 100 Skor ideal
2. Teknik dan Instrumen Penilaian Pengetahuan
Penilaian kompetensi keterampilan meliputi keterampilan abstrak dan keterampilan konkret.
Keterampilan abstrak cenderung pada keterampilan seperti mengamati, menanya, mengolah, menalar, dan mengomunikasikan yang lebih dominan pada kemampuan mental (berpikir).
Keterampilan konkret cenderung pada kemampuan fisik seperti menggunakan alat, mencoba, membuat, memodifikasi, dan mencipta dengan bantuan alat.
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen Keterangan
Unjuk kerja/
kinerja/praktik
• Daftar cek, dengan
menggunakan daftar cek, siswa mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai.
• Skala Penilaian (Rating Scale). Penilaian kinerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai
memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi
tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua.
Penilaian unjuk kerja/kinerja/
praktik disebut juga penilaian tugas yang dilakukan dengan cara mengamati kegiatan siswa dalam melakukan sesuatu.
Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut siswa melakukan tugas tertentu
Penilaian Tugas adalah penilaian atas proses dan hasil pengerjaan tugas yang dilakukan langsung secara individu atau kelompok.
Proyek • Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pelaporan.
• Untuk menilai setiap tahap perlu disiapkan kriteria penilaian atau rubrik.
Penilaian proyek dapat digunakan untuk
mengetahui pemahaman, mengaplikasi, menyelidiki dan menginformasikan suatu hal secara jelas.
Produk • Daftar cek atau skala penilaian (rubrik)
Penilaian produk menilai kemampuan peserta didik membuat produk-produk/
karya kerajinan, teknologi, dan seni.
Portofolio • Daftar cek atau skala penilaian (rubrik)
Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya peserta didik secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran
Tertulis • Tes tertulis, Daftar cek atau skala penilaian (rubrik)
Penilaian tertulis juga digunakan untuk menilai kompetensi keterampilan, seperti menulis karangan, menulis laporan, dan menulis surat, laporan keuangan dan sebagainya.
Adapun teknik dan bentuk instrument penilaian keterampilan dapat disajikan melalui tabel berikut ini.
Tabel 1.8: Teknik dan Instrumen Penilaian Keterampilan
Nilai akhir untuk kompetensi keterampilan diambil dari rerata nilai optimal kompetensi keterampilan (nilai tertinggi yang dicapai)
Penilaian Portofolio
Portofolio untuk penilaian keterampilan merupakan kumpulan sampel karya terbaik dari KD pada KI-4. Portofolio setiap siswa disimpan dalam suatu folder (map) dan diberi tanggal pengumpulan oleh guru. Portofolio dapat disimpan dalam bentuk cetakan dan/atau elektronik. Pada akhir suatu semester kumpulan sampel karya tersebut digunakan sebagai bahan untuk mendeskripsikan pencapaian keterampilan secara deskriptif. Portofolio keterampilan tidak diskor lagi dengan angka.
Berikut adalah contoh ketentuan dalam penilaian keterampilan dengan portofolio:
a. Karya asli peserta didik;
b. Karya yang dimasukkan dalam portofolio disepakati oleh siswa dan guru;
c. Guru menjaga kerahasiaan portofolio;
d. Guru dan siswa mempunyai rasa memiliki terhadap dokumen portofolio e. Karya yang dikumpulkan sesuai dengan KD.
Setiap pembelajaran KD dari KI-4 berakhir, karya terbaik dari KD tersebut (bila ada) dimasukkan ke dalam portofolio.
B. Pengolahan Nilai 1. Sikap Spiritual (KI-1)
a. Religiusitas, diantaranya: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, taat beribadah, bersyukur, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, dan lain-lain.
b. Integritas, diantaranya: jujur, rendah hati, santun, tanggung jawab, keteladanan, komitmen moral, cinta kebenaran, menepati janji, anti korupsi, dan lain-lain.
Satuan Pendidikan dapat merumuskan dan mengembangkan nilai opeasional dan nilai karakter sikap spiritual tersebut secara bersama-sama.
Tabel 1.9 : Contoh Format Jurnal Pengamatan Sikap Spiritual (KI-I) Nama Satuan Pendidikan : SMPLB Tunarungu
Kelas/Semester : VIII/3 Tahun Ajaran : 2018-2019
No Waktu Nama
Siswa
Catatan Perilaku
Nilai Utama Karakter
Karakter Operasional
Tindak Lanjut Hasil
1 23/8/2018 Nina Selalu tepat waktu dalam menjalankan
ibadah.
Religiusitas Ketaatan Beribadah
2 28/8/2018 Bima Mengobrol pada saat
berdoa
Religiusitas Berdoa Menasehati agar tidak ngobrol lagi
Hari berikutnya diminta untuk
memimpin doa di kelas
Sudah berubah, Tidak terlihat
ngobrol lagi ketika berdoa
3 9/9/ 2018 Nina Menjalankan perintah
agama dengan penuh
kesadaran dan tanggung
jawab.
Religiusitas Ketaatan Beribadah
Mila Selalu mengeluh
dalam menjalankan
ibadah.
Religiusitas Ketaatan Beribadah
Mengajak siswa untuk optimis dan bersyukur
Sudah berubah
4 19/10/2018 Nina Membuang makanan yang
masih layak makan
Religiusitas Bersyukur Membacakan ceritera yang menyentuh
hati
Sudah mampu meningkatkan
perilaku bersyukur.
5. 20/11/2018 Bima Ada atau tidak ada guru selalu membuang sampah pada
tempatnya
Integri tas Tanggung jawab
6. 24/11/18 Nina Menemukan uang di lingkungan sekolah dan menyerahkan
kepada guru kelasnya
Integri tas jujur
dst
Tabel 1.10 : Contoh Format Rekap Jurnal Pengamatan Sikap Spiritual (KI-I) Nama Siswa : Nina
Kelas/Semester : 8 / 3 Tahun Ajaran : 2018-2019
No Waktu Catatan
Perilaku
Nilai Utama Karakter
Karakter Operasional
Tindak Lanjut Hasil
1 23/8/2018 Selalu tepat waktu dalam menjalankan
ibadah.
Religiusitas Ketaatan Beribadah
2 9/9/ 2018 Menjalankan perintah
agama dengan penuh
kesadaran dan tanggung
jawab.
Religiusitas Ketaatan Beribadah
Tidak pernah menyontek saat ulangan
Integritas Jujur
3 20/9/ 2018 Selalu terlibat dalam peringatan
hari besar keagamaan.
Religiusitas Ketaatan Beribadah
Mengajak temannya untuk berdoa
sebelum makan.
Religiusitas Berdoa
4. 6/11/ 2018 Membuang makanan yang
masih layak dimakan
Religiusitas bersyukur Menceriterakan peristiwa yang menyentuh hati
Sudah mampu meningkatkan
perilaku syukur 5 25/11/ 2018 Menemukan
uang di lingkungan sekolah dan menyerahkan
kepada guru kelasnya.
Integritas Jujur
Deskripsi Raport:
Nina taat beribadah, selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, dan sudah mampu meningkatkan perilaku syukur.
2. Sikap Sosial (KI -2)
a. Nasionalisme, diantaranya: cinta tanah air, semangat kebangsaan, menghargai kebhinekaan, menghayati lagu nasional dan lagu daerah,
cinta produk Indonesia, cinta damai, rela berkorban, taat hukum, dan lain-lain.
b. Kemandirian, diantaranya: disiplin, rasa percaya diri, rasa ingin tahu, tangguh, bekerja keras, mandiri, kreatif-Inovatif, pembelajar sepanjang hayat, dan lain-lain.
c. Gotong Royong, diantaranya: suka menolong, bekerja sama, peduli sesama, peduli lingkungan, kebersihan dan kerapian, kekeluargaan, aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, dan lain-lain.
d. Integritas, diantaranya: jujur, rendah hati, santun, tanggung jawab keteladanan, komitmen moral, cinta kebenaran, menepati janji, anti korupsi, dan lain-lain.
Satuan Pendidikan dapat merumuskan dan mengembangkan nilai operasional dan nilai karakter sikap sosial tersebut secara bersama-sama.
Tabel 11 : Contoh Format Jurnal Pengamatan Sikap Sosial (KI-2) Nama Satuan Pendidikan : SMPLB Tunarungu
Kelas/Semester : VIII /3 Tahun Ajaran : 2018
No Waktu Nama Siswa
Catatan Perilaku
Nilai Utama Karakter
Karakter Operasional
Tindak Lanjut Hasil
1 23/8/
2018
Nina Terlambat datang ke sekolah
Kemandirian Disiplin Dinasehati agar datang lebih
awal.
Masih belum berubah
Bima Datang ke sekolah paling
awal
Kemandirian Disiplin
2. 18/10/
2018
Nina Meminta maaf karena lupa
membawa alat untuk menggambar
Integri tas Jujur
3. 23/10/
2018
Bima Terlambat datang ke sekolah.
Kemandirian Disiplin Dinasehati agar datang lebih
awal.
Masih belum berubah
Berbicara dengan lancar
dan lantang saat presentasi
Kemandirian Perca ya diri
4 13/11/
2018
Yosep Berbicara kasar saat temannya
meminta tolong.
Integritas santun Menceriterakan peristiwa yang menyentuh hati
Masih sering lupa untuk
berbicara dengan lembut dan
santun.
5. 13/11/
2018
Nina Terlambat datang ke sekolah
Kemandirian Disiplin Pemanggilan terhadap orang
tua Bita
Masih belum berubah.
6. 24/11/
2018
Yosep Menyanyikan lagu kebangsaan dengan hikmat
Nasionalisme Menghayati lagu nasional
7. 02/12/
2018
Ali Mengembalikan pensil temannya dengan cara di
lempar
Integri tas santun Diajak berbicara dari
hati ke hati
Masih perlu bimbingan dalam sikap
santun
8. 06/12/
2018
Nina Menolong teman yang megalami sakit
Gotong Royong
Suka menolong
9. 11/12/
2018
Nina Datang ke sekolah tepat
waktu
Kemandirian Disiplin
Mengajukan diri untuk mengikuti lomba menyanyi mewakili kelas
Kemandirian Percaya Diri
dst
Tabel 12 : Contoh Format Rekap Jurnal Pengamatan Sikap Sosial (KI-2) Nama Siswa : Mila
Kelas/Semester : VIII/3 Tahun Ajaran : 2018-2019
No Waktu Catatan
Perilaku
Nilai Utama Karakter
Karakter Operasional
Tindak Lanjut Hasil
1 23/8/2018 Terlambat datang ke sekolah
Kemandirian Disiplin Dinasehati agar datang lebih
awal.
Masih belum berubah
2 18/10/ 2018 Meminta maaf karena lupa
membawa alat untuk menggambar
Integri tas Jujur
3 23/10/2018 Terlambat datang ke sekolah
Kemandirian Disiplin Dinasehati agar datang lebih
awal.
Masih belum berubah
Berbicara dengan lancar
dan lantang saat presentasi
Kemandirian Percaya diri
4. 6/11/ 2018 Terlambat datang ke sekolah.
Kemandirian Disiplin Panggilan terhadap orang
tua.
Masih belum berubah
5 25/11/ 2018 Menolong teman yang mengalami
sakit.
Gotong royaong
Suka menolong
6. 11/12/2018 Datang ke sekolah tepat
waktu
Kemandirian Disiplin
Mengajukan diri untuk
lomba bernyanyi.
Kemandirian Percaya diri
Contoh Deskripsi Raport
Nina sangat jujur, percaya diri, suka menolong, dan sudah mampu meningkatkan sikap disiplin.
3. Pengolahan Nilai Kompetensi Pengetahuan Tabel 1.13: Contoh rekap penilaian pengetahuan : Nama : Mila
Muatan pelajaran : Seni Budaya (SBd) Kelas/semester : VIII/3 SMPLB Tunarungu
KD Tema 1 Tema 2 Tema 3 Tema 4 NPH NPTS NPA NILAI
AKHIR
3.1 85 75 65 - 75 60 70 68,3
3.2 80 90 85 - 85 90 80 85
3.3 70 80 - 80 77 80 80 79
3.4 80 90 80 80 82,5 85 90 85,8
3.5 - - 90 90 90 - 8 85
Nilai Rata-rata 80,6
Nilai Akhir (NA) Pengetahuan dalam rapor Mila untuk mata pelajaran Seni Budaya (SBd):
NA = Rata-rata KD 3.1 3.2 3.3 .3 4 3.5 = 68,3 +85+79+85,8+85 = 80,6
5
Contoh perumusan rentang predikat
Untuk muatan pelajaran Seni Budaya (SBd) mengukur pencapaian 2 SNP sebagai berikut:
Standar proses pembelajaran berjalan dengan efektif.
Standar pendidik memiliki kompetensi yang baik.
Jika KKM untuk Seni Budaya (SBd) 70 maka satuan pendidikan menetapkan rentang predikat muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk penilaian pengetahuan sebagai berikut: 86 – 100 : A
71 – 85 : B
56 – 70 : C
≤ 55 : D
Maka nilai pengetahuan mata pelajaran Seni Budaya (SBd) untuk Mila : 80.6 mendapat predikat B
No Mata
Pelajaran
Pengetahuan Keterampilan
Nilai Predikat Deskripsi Nilai Predikat Deskripsi 1 Seni Budaya 80,6 B
Contoh penulisan deskripsi
K D Seni Budaya (SBd) 3.1 Mengenal gambar bentuk fauna
3.2 Mengenal karya bentuk tiga dimensi 3.3 Mengenal dinamika gerak tarI nusantara
3.4 Memahami unsur-unsur tari nusantara (wirama, wirasa, wiraga)
3.5 Mengenal gerak pantomim sesuai tema Hasil penghitungan untuk setiap KD sebagai berikut:
No KD SKOR KD = (2 x NPH) + NUTS + NPAS
4
1 3.1 (2 x 75) + 60 + 70 = 70 (baik) 4
2 3.2 (2 x 85) + 90 + 80 = 85 (sangat baik) 4
3 3.3 (2 x 77) + 80 + 80 = 79 (baik) 4
4 3.4 (2 X 82,5) + 85 + 90 = 85,8 (sangat baik) 4
5 3.5 (2 x 90) + 80 = 87 (sangat baik) 3
Contoh deskripsi pencapaian Kompetensi Pengetahuan Untuk mata pelajaran Seni Budaya (SBd):
Mila, sangat baik dalam mengenal; bentuk kertas dulung, unsur-unsur gerak anggota tubuh dan kerajinan dari bahan alam. Cukup baik dalam mengenal gambar ekspresi dan lagu bertanda birama 3.
Tabel 1.14. Contoh Rubrik ketrampilan membaca
Aspek Baik Sekali (4)
Baik (3)
Cukup (2)
Perlu Bimbingan (1) Sikap:
Ketelitian dan membaca teks bacaan
Sangat teliti dan detail dalam membaca teks bacaan
Teliti dan detil dalam
membaca teks bacaan
Cukup teliti dan detail
dalam membaca teks bacaan
Kurang
Teliti dan kurang detail dalam membaca teks bacaan Sikap ketika
menyebutkan makna kata
Sangat teliti dalam menyebutkan/
menjelaskan makna kata
Teliti dalam menyebutkan/
menjelaskan makna kata
Cukup teliti dalam menyebutkan/
menjelaskan makna kata
Kurang teliti dalam menyebutkan/
menjelaskan makna kata Sikap ketika
mencari padanan kata
Sangat teliti dalam mencari padanan kata
Teliti dalam mencari padanan kata
Cukup teliti dalam mencari padanan kata
Kurang teliti dalam mencari padanan kata
Sikap ketika mencari makna yang tersirat dalam paragraf
Sangat teliti dalam mencari makna yang tersirat dalam paragraf
Teliti dalam mencari makna yang tersirat dalam paragraf
Cukup teliti dalam mencari makna yang tersirat dalam paragraf
Kurang teliti dalam mencari makna yang tersirat
Nilai = Skor Perolehan x 100 Skor Maksimum Contoh = 9 x 100 = 75
12
Tabel 1.15: Contoh Matrik Penilaian Diskusi
Aspek Pengamatan
Kriteria Baik Sekali
(4)
Baik (3)
Cukup (2)
Perlu Bimbingan
(1) Mendengarkan Selalu
mendengarkan teman yang sedang berbicara.
Mendengarkan teman yang berbicara namun sesekali masih perlu diingatkan
Mendengarkan teman yang sedang berbicara, namun seringkali perlu diingatkan
Tidak peduli dengan teman yang sedang berbicara, seringkali beraktifitas sendiri.
Komunikasi non verbal
(kontak mata, bahasa tubuh, ekspresi wajah, suara)
Merespon dan menerapkan komunikasi non verbal dengan tepat.
Merespons dengan tepat terhadap komunikasi non verbal yang ditunjukkan teman.
Merespons namun kurang tepat terhadap komunikasi non verbal yang ditunjukkan teman.
Membutuhkan bantuan dalam memahami bentuk komunikasi non verbal yang ditunjukkan teman.
Catatan : cek (√) pada bagian yang memenuhi kriteria.
Penilaian : total nilai X 10 = 16
Contoh : 3+3+3+3 X10 = 12 X 10 = 7,5 16 16
Partisipasi (menyampaikan ide, perasaan, pikiran).
• Isi gagasan menginspirasi teman.
• Selalu mendukung dan memimpin lainnya saat diskusi.
• Meerespon sesuai dengan topik.
• Isi gagasan kurang
menginspirasi teman
• Selalu mendukung dan memimpin lainnya saat diskusi.
• Meerespon sesuai dengan topik
• Merespon sesuai dengan topik.
• Isi gagasan kurang
menginspirasi teman
• Jarang berbicara selama proses diskusi berlangsung
Keruntutan berbicara
Menyampaikan pendapatnya secara runtut dari awal hingga akhir dan konsisten.
Menyampaikan pendapatnya secara runtut, tetapi belum konsisten.
Menyampaikan pendapatnya kurang runtut, tetapi konsisten.
Masih perlu berlatih untuk berbicara secara runtut, dan belum konsisten.
Tabel 1.16 Penilaian Unjuk Projek
No Aspek skore
1 2 3 4 5
1 Perencanaan Desain
Penjadwalan
2 Proses Pelaksanaan Catatan monitoring Catatan evaluasi 3 Hasil
Bentuk fisik
Isi penyajian kebahasaan Kelengkapan kerangka Estetika
Keterangan :
• Penilaian dilakukan melalui pengamatan dan melihat catatan.
• Skore 1 sangat kurang 2 kurang
3 cukup 4 baik
5 baik sekali
Tentang Anak Tunarungu
A. Pengertian Anak Tunarungu
Anak tunarungu merupakan anak yang memiliki gangguan pada pendengaran, sehingga tidak dapat mendengar bunyi dengan sempurna atau bahkan tidak mendengar sama sekali. Istilah tunarungu diambil dari kata tuna yang berarti kurang dan rungu yang berarti pendengaran.
Apabila ditinjau dari segi fisik, anak tunarungu tidak berbeda dengan anak pada umumnya. Pada saat berkomunikasi barulah diketahui bahwa anak tersebut tunarungu. Gangguan mendengar yang dialami anak tunarungu menyebabkan terhambatnya perkembangan bahasa anak, karena perkembangan tersebut sangat penting untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berkomunikasi dengan orang lain membutuhkan bahasa dengan artikulasi atau ucapan yang jelas sehingga pesan yang akan disampaikan dapat tersampaikan dengan baik dan memiliki satu makna, sehingga tidak ada salah tafsir makna yang dikomunikasikan.
B. Karakteristik Anak Tunarungu
Karakteristik anak tunarungu dari segi fisik tidak memiliki karekteristik yang khas, karena secara fisik anak tunarungu tidak mengalami gangguan yang terlihat. Karakteristik anak tunarungu dapat dilihat dari segi intelegensi, bahasa dan bicara, emosi, dan sosial.
1. Intelegensi Anak Tunarungu
Intelegensi anak tunarungu tidak berbeda dengan anak pada umumnya.
Terdapat anak tunarungu yang memiliki inteligensi tinggi, rata-rata dan rendah. Prestasi anak tunarungu sering kali lebih rendah daripada prestasi anak sebaya yang memiliki potensi kecerdasan yang setara.
Hal tersebut dapat dipengaruhi kemampuan anak tunarungu untuk memahami pelajaran yang disampaikan secara verbal. Dengan demikian anak tunarungu tidak dapat memaksimalkan potensi kecerdasan yang dimilikinya, akibatnya prestasi akademik mereka di bawah rata-rata anak sebayanya (Kirk, Gallagher, Coleman, 2015).
2. Bahasa dan Bicara Anak Tunarungu
Mendengar merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan bicara dan bahasa seseorang. Bicara pada anak terlatih ketika anak tersebut dapat mendengarkan dan mengimitasi (menirukan) ucapan
yang didengarnya. Dengan demikian anak tunarungu yang memiliki keterbatasan dalam mendengarkan bunyi bahasa akan terhambat perkembangan bicara dan bahasanya, jika tidak mendapatkan intervensi yang diperlukan.
Perkembangan berbahasa tunarungu memerlukan dukungan dari lingkungan berbahasa yang intensif. Dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat dalam memberikan kesempatan anak tunarungu berlatih berkomunikasi dengan baik sangat diperlukan. Upaya terus menerus serta latihan dan bimbingan secara profesional dapat membantu perkembangan bahasa tunarungu.
3. Emosi dan Sosial Anak Tunarungu
Hambatan dalam pendengaran dapat menyebabkan anak tunarungu kurang dapat besosialisasi dengan lingkungannya. Keterasingan dapat menimbulkan beberapa efek negatif, seperti egosentrisme, memiliki rasa takut akan lingkungan yang lebih luas, ketergantungan terhadap orang lain, perhatian mereka lebih sukar dialihkan, lebih mudah marah, dan cepat tersinggung.
C. Prinsip Pembelajaran Anak Tunarungu
Pembelajaran yang dilakukan untukanak tunarungu lebih mengandalkan visualnya. Menurut Tati Herawati, Dudi Gunawan & Endang Rusyani;
2012) guru anak tunarungu selayaknya mengembangkan prinsip prinsip pembelajaran sebagai berikut:
1. Prinsip Keterarahan Wajah (face to face)
Sebagian besar informasi bagi anak tunarungu diperoleh secara visual.
Melihat pada sumber informasi merupakan hal yang penting bagi mereka. Membaca ujaran dan menangkap ucapan orang lain lebih mudah dipahami anak tunarungu jika menatap wajah pembicara. Apabila berbicara guru harus selalu berhadapan dengan anak tunarungu (face to face). Keterarahan wajah yang baik merupakan hal utama untuk membaca ujaran atau menangkap ucapan orang lain.
2. Prinsip Keterarahan Suara
Sebagian anak tunarungu memiliki sisa pendengaran. Untuk memperlancar interaksi dengan lingkungannya sisa pendengaran tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Memperhatikan sumber bunyi atau suara yang ada di sekitarnya perlu dikembangkan pada anak
tunarungu. Keterarahan suara merupakan prinsip yang dikembangkan untuk melatih anak tunarungu dengan sisa pendengaran untuk mengenal lingkungannya.
3. Prinsip Tanggap Terhadap Apa Yang Ingin Dikatakan Anak
Mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan merupakan kebutuhan setiap orang. Keterbatasan berkomunikasi dapat menghambat anak untuk mengungkapkan hal tersebut. Mereka akan menggunakan berbagai cara untuk mengungkapkan dirinya antara lain dengan isyarat tangan dan kata-kata. Bila pada situasi tertentu anak tunarungu menggunakan salah satu bentuk ungkapan tersebut, sebaiknya kita segera tanggap apa yang diamatinya lalu kita mencoba menghubungkan dengan apa yang ingin diakatakan sehingga kita dapat membahasakannya dengan tepat.
4. Prinsip Berbicara Dengan Lafal Yang Jelas
Pemahaman ujaran yang diterima anak tunarungu tidak secepat dan sejelas anak yang mendengar. Ucapan yang cepat dan lafal yang kurang jelas dapat menghambat mereka memahami ujaran tersebut dengan benar. Oleh sebab itu ketika berbicara dengan anak tunarungu harus tenang, tidak terlalu cepat, pelafalan huruf jelas, kalimat yang diucapkan simpel dan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami anak. Ketika berbicara dengan anak tunarungu, lafal yang jelas lebih penting dari suara yang keras.
5. Prinsip Penempatan Tempat Duduk Yang Tepat
Posisi tempat duduk siswa tunarungu di dalam kelas harus yang memungkinkan siswa dapat memperoleh informasi dengan jelas. Jika siswa masih memiliki sisa pendengaran, guru disarankan menempatkan siswa agar dapat memanfaatkan sisa pendengarannya. Setiap siswa diusahakan dapat memperhatikan wajah dengan jelas agar dapat membaca ujaran guru.
6. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang dipergunakan untuk kegiatan pembelajaran siswa tunarungu diperlukan agar anak lebih mudah memahami materi, terutama untuk memahami ujaran guru sepenuhnya.
7. Prinsip Meminimalisasi Penggunaan Metode Ceramah
Oleh karena anak tunarungu mengalami kesulitan untuk memahami
ucapan guru, maka dalam proses pembelajaran harus menghindari penggunaan metode ceramah secara dominan tanpa dukungan media pembelajaran yang sesuai. Dalam pembelajaran anak tunarungu, guru hendaknya menerapkan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan materi dengan situasi dunia nyata anak, seperti misalnya dalam pendekatan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).
D. Metode Maternal Reflektif
Metode Maternal Reflektif atau Maternal Reflective Methode adalah sebuah metode yang dikembangkan oleh A. Van Uden (1968). Secara harfiah kata maternal reflektif berasal dari dua suku kata yaitu maternal yang berarti keibuan dan reflektif yang berarti memantulkan atau meninjau ulang kembali adalah metode pengajaran bahasa yang diangkat dari upaya seorang ibu untuk mengajarkan bahasa pada anaknya yang belum berbahasa sampai anak dapat menguasai bahasa, dan metode ini dilakukan seorang ibu dengan kemampuannya merefleksikan kemampuan berbahasa.
Metode Maternal Reflektif menggabungkan aspek-aspek natural dan struktural. Dalam pembelajaran metode MMR mengembangkan kemampuan berbahasa anak tunarungu yang meliputi percakapan, membaca dan menulis, serta pembelajaran tata bahasa (Tati Hernawati, Dudi Gunawan, Endang Rusyani; 2012). Kegiatan yang dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
1) Perdati (Percakapan dari hati ke hati)
Percakapan dari hati ke hati merupakan kegiatan pertukaran pikiran atau gagasan antara anak dengan guru maupun dengan teman sekelas.
Kegiatan ini merupakan percakapan yang spontan, fleksibel untuk mengembangkan empati anak. Guru berupaya agar anak mampu saling memahami isi hati lawan bicara, empati anak juga akan berkembang dengan baik. Materi percakapan dalam perdati merupakan hal-hal yang bersifat konkret yang merupakan pengalaman bersama, maupun hal yang bersifat abstrak dan bukan pengalaman bersama, Prinsip dalam perdati adalah “Apa yang ingin kau katakan katakanlah begini”
Dalam kegiatan ini guru menerapkan metode tangkap dan peran ganda dari seorang guru. Guru berperan sebagai seorang ibu yang
melakukan percakapan dengan anak secara alamiah, yaitu menangkap atau memahami ungkapan anak yang mungkin dalam bentuk isyarat, gestur atau dengan ucapan-ucapan yang tidak sempurna, kemudian membahasakan perkiraan apa yang ada dalam pikiran anak tersebut.
Selanjutnya guru menanggapi ungkapan anak tersebut, sehingga tercipta suatu percakapan berdasarkan ungkapan anak tersebut.
Menurut jenisnya, perdati dibedakan menjadi:
a) Perdati Murni atau Perdati Bebas
Perdati murni atau perdati bebas terjadi pada anak tunarungu yang belum menguasai bahasa dan memerlukan bantuan metode tangkap dan peran ganda. Materi percakapan berasal dari ungkapan perasaan anak yang sifatnya subjektif tanpa pengaruh dari orang lain, dengan demikian materi percakapan juga masih bersifat bebas dan murni yang berasal dari anak.
b) Perdati Melanjutkan Informasi
Percakapan pada tahapan ini diawali dengan adanya informasi, penyampaian berita, pemberitahuan dari anak ataupun guru tentang sesuatu yang dialami terkait dengan pengetahuan untuk dipercakapkan. Pada tahapan ini peran guru dalam tangkap dan peran ganda, dikurangi secara bertahap. Pada fase ini diharapkan bahasa anak telah mendekati masa purna bahasa. Ungkapan anak semakin mudah dipahami, bentuk kalimat dan ungkapan semakin bervariasi dan mendekati sempurna. Materi yang diperbincangkan merupakan pokok-pokok ilmu pengetahuan atau hal yang sudah bersifat keilmuan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada Perdati antara lain adalah;
• Percakapan harus bersikap spontan, wajar dan rileks.
• Percakapan harus berlangsung dalam suasana akrab, dan menyenangkan.
• Percakapan harus menggunakan bahasa penghayatan, atau bahasa percakapan sehari-hari.
• Percakapan harus mengalir, lancar, dan fleksibel.
• Percakapan harus mengandug pemupukan empat 2) Percakapan Membaca Ideovisual
Membaca ideovisual dapat diartikan sebagai membaca gagasan atau pikiran sendiri yang telah dituangkan dalam bentuk yang dapat ditangkap
secara visual. Pada MMR hasil perdati murni atau perdati bebas dibuat bacaan secara tertulis sehingga menjadi visualisasi percakapan yang selanjutnya dapat dibaca anak tunarungu.
Pada tahapan ini belum ada tuntutan agar anak dapat membaca huruf atau kata atau kalimat, anak hanya perlu memahami isi tulisan secara global intuitif. Anak bukan mengenal huruf, melainkan mengenal tulisan kata, kelompok kata dan kalimat yang maknanya dipahami secara global.
Karena visualisasi percakapan tersebut merupakan hasil percakapan anak, diharapkan anak dapat menebak kata-kata dan kalimat pada visualisasi percakapan.
Kata-kata dan kalimat pada setiap pembelajaran memperkaya perbendaharaan bahasa anak. Kekayaan perbendaharaan bahasa tertulis merupakan deposit di dalam gudang ingatan anak. Bacaan- bacaan terbaik dapat dikumpulkan pada setiap semester. Bacaan- bacaan tersebut dapat dijadikan bahan untuk membaca lebih lanjut, yaitu membaca makna. Kumpulan bacaan dapat juga diambil dari kelas lain yang setara. Tahapan membaca idiovisual mempunyai ciri pada dua kegiatan, yaitu:
a) Identifikasi langsung; anak menghubungkan/menyamakan jawaban yang diungkapkan secara lisan dengan lambang tulisan yang ada dalam teks bacaan hari itu.
b) Identifikasi tak langsun; anak memberikan jawaban atas pertanyaan bacaan dengan kata-kata sendiri yang artinya sama dengan kata, kelompok kata, atau kalimat dalam bacaan.
3) Membaca Reseptif
Membaca reseptif merupakan tahapan membaca lanjutan dari membaca permulaan. Pada Metode Maternal Reflektif (MMR),membaca reseptif merupakan istilah pada tahapan membaca pemahaman.
Tujuan membaca reseptif, adalah anak akan mampu memahami isi bacaan, anak dapat menerima ide atau pengalaman baru. A van Uden menyebutkan membaca reseptif sebagai “viso-ideal reading” yang artinya memperoleh ide-ide baru lewat lambang tulisan yang sifatnya visual. Bacaan yang digunakan dalam membaca reseptif merupakan pengalaman orang lain yang mungkin belum pernah dialami oleh anak.
Anak dapat menemukan informasi dan memahami isi bacaan secara