LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIK
Kenaikan Titik Didih
21 Oktober 2011
Disusun Oleh :
Kelompok 7
Siti Aminah 1110016200021
Qotrun Nada 1110016200027
Acelya Kencana Puri 1110016200030 Leily Damayanti 1110016200046
Agia Ghalby 1110016200049
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
KENAIKAN TITIK DIDIH
Judul percobaaan : Kenaikan Titik Didih
Tanggal percobaan : 21 Oktober 2011
Tujuan percobaan : - Mengukur Kenaikan Titik Didih Suatu Larutan dan Sampel X yang
Belum Diketahui Berat Molekul
Abstrak
Percobaan ini bertujuan untuk mengukur kenaikan titik didih suatu larutan yaitu larutan NaCl, larutan KCl,dan mencari berat molekul sampel X. hasil percobaan
Terdapat empat sifat yang berhubungan dengan larutan encer, atau kira-kira pada larutan yang lebih pekat, yang tergantung pada jumlah partikel terlarut yang ada. Jadi, sifat-sifat tersebut tidak bergantung pada jenis terlarut. Keempat sifat-sifat tersebut adalah :
1. Penurunan Tekanan Uap
2. Kenaikan Titik Didih
3. Penurunan titik Beku
4. Tekanan Osmotik
Keempat sifat-sifat tersebut dinamakan sifat-sifat koligatif. Kegunaan sifat koligatif banyak dan beragam. Juga penelitian sifat-sifat koligatif memainkan peranan pentinng dalam metode penetapan bobot molekul dan pengembangan teori larutan.
Jadi, sifat-sifat larutan tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel terlarutnya disebut sifat koligatif. Istilah koligatif berasal dari bahasa latin yang artinya kolega atau kelompok. Sifat koligatif hanya bergantung pada jumlah partikel atau kelompok partikel zat terlarut di dalam larutan.
Namun, dari keempat sifat koligatif tersebut hanya satu sifat yang berkaitan dengan praktikum kali ini, yaitu kenaikan titik didih.
Hukum Raoult menyatakan bahwa :
“Tekanan uap pelarut di atas suatu larutan (PA) sama dengan hasil kali tekanan uap
Secara matematis dapat ditulis :
PA = XA . P0A
Dalam larutan ideal, semua komponen (pelarut dan zat terlarut) mengikuti hukum Raoult pada seluruh selang konsentrasi. Dalam semua larutan encer yang tidak mempunyai interaksi kimia diantara komponen-komponennya. Hukum Raoult berlaku pada pelarut, baik ideal maupun tidak ideal. Tetapi hukum Raoult tidak berlaku pada zat terlarut dalam larutan tidak ideal encer. Perbedaan ini bersumber dari kenyataan molekul-molekul pelarut mendominasi dalam larutan encer, sehingga perilaku pelarut tidak banyak berbeda dengan pelarut murni.
Karena adanya molekul terlarut yang menyebabkan gaya tarik-menarik inter molekul dengan molekul pelarut, sehingga mengurangi kecenderungan pelarut untuk menguap dan menurunkan tekanan uapanya. Namun hal ini tidak akan terjadi sebab praktikan telah mendefinisikan larutan ideal sebagai larutan yang gaya tarik inter molekul antara molekul sejenis dan tidak sejenis yang sama besar dan memang dalam larutan demikianlah hukum Raoult berlaku.
Untuk larutan ideal, menurut Raoult kenaikan titik didih sebanding dengan jumlah zat terlarut dan dapat ditunjukkan dengan hubungan :
ΔTb = Kb . m atau
Keterangan:
ΔTb : keanaikan titik didih (
Kb : tetapan kenaikan titik didih molal (
m : molalitas larutan
Mb : berat molekul zat terlarut (gram)
WA : massa pelarut (gram)
WB : massa zat terlarut (gram)
Ada satu faktor yang berperan dalam sifat koligatif untuk larutan elektrolit, yaitu faktor Van’t Hoff (i)
i = 1 + (n-1)
Keterangan:
n : jumlah ion yang dapat dihasilkan oleh 1 satuan rumus senyawa elektrolit.
Untuk larutan elektrolit, berlaku persamaan sebagai berikut:
ΔTb = Kb . m. I atau
i, disebut sebgai faktor Van’t Hoff, yaitu perbandingan antara harga sifat koligatif yang terukur dari suatu larutan elektrolit dengan harga sifat koligatif yang diharapkan dari suatu larutan non elektrolit pada konsentrasi yang sama.
Alat dan Bahan:
Alat-Alat:
1. Statif
2. Klem
3. Pembakar spirtus
4. Korek api kayu
5. Kaki tiga
6. Kawat kasa
7. Termometer alkohol
8. Termometer raksa
9. Neraca O Hauss
10.Neraca analitik
11.Labu ukur
12.Corong gelas
13.Batang pengaduk
14.Gelas kimia
15.Kaca arloji
16.Spatula
17.Botol semprot
Bahan-bahan:
2. Spirtus
3. Padatan NaCl (berupa serbuk)sss
4. Padatan KCl (berupa serbuk)
5. Serbuk sampel X
Prosedur Kerja:
A. Mengukur titik didih aquades
1.Mengambil aquades sebanyak 100 mL menggunakan gelas ukur 100, lalu menuangkannya ke dalam gelas kimia 250 mL
2.Memanaskan aquades (pelarut murni) hingga mendidih, lalu catat titik didihnya. Sementara itu, mengukur juga tekanan udara dalam laboratorium dengan menggunakan Barometer.
B. Mengukur titik didih larutan NaCl
1. Menimbang padatan NaCl sebanyak 2 gram dan menggunakan neraca O Hauss atau neraca analitik.
2.Memasukkan padatan NaCl ke dalam gelas kimia, lalu semprotkan aquades pada kaca arloji ke arah gelas kimia
3.Kemudian tambahkan aquades kurang lebih 50 mL dan aduk hingga padatan NaCl larut dan campuran menjadi homogen.
4.Memasukkan larutan ke dalam labu ukur, kemudian bilas gelas kimia, batang pengaduk dan corong menggunakan aquades.
5. Menambahkan aquades hingga batas leher labu ukur.
6. Mengeringkan leher labu ukur bagian dalam di atas garis batas menggunakan tissue dan batang pengaduk. Lalu menutup labu ukur dan melakukan pengocokan atau homogenasi larutan.
7. Menuangkan larutan dari labu ukur ke dalam gelas kimia 250 mL. 8. Memanaskan larutan NaCl hingga mendidih sebanyak 2 kali.
C. Mengukur titik didih KCl
Membuat larutan KCl dengan mengikuti langkah yang sama dari no.1 hingga 8 pada pengukuran titik didih NaCl.
D. Mengukur titik didih sampel X
Pelarut murni (aquades/air): tak berwarna
Suhu awal: 29 0C
Titik didih: 940C
Larutan NaCl (tak berwarna)
Pemanasan I :
Suhu awal: 290C
Titik didih: 970C
Pemanasan II:
Suhu awal: 300C
Titik didih: 950C
Titik didih rata-rata:960C
Pengamatan saat mendidih: terlihat ada gelembung-gelembung udara yang menggolak
Larutan KCl (keruh)
Pemanasan I :
Suhu awal: 290C
Titik didih: 950C
Pemanasan II:
Suhu awal: 300C
Titik didih: 970C
Titik didih rata-rata:960C
Pengamatan saat mendidih: terlihat ada gumpalan-gumpalan putih saat memanaskan yang secara perlahan menjadi lebih kecil ketika mencapai titik didihnya.
Larutan sampel X (tak berwarna)
Pemanasan I :
Suhu awal: 300C
Pemanasan II:
Suhu awal: 290C
Titik didih: 950C
Titik didih rata-rata:950C
Pengamatan saat mendidih: seperti ada minyak di dalam larutan
Analisis Data
Perhitungan Melalui Percobaan
Mencari Kb dari larutan NaCl (larutan elektrolit, i = 2)
Dik : Tbo = 940C
Tb1 = 970C
Tb2 = 950C
Mb = 58,5 g/mol
WA = 100 g
WB = 2 g
ΔTb1 = Tb1- Tb0 = 30C
ΔTb2 = Tb2- Tb1 = 10C
ΔTb rata-rata = 20C
Dit : Kb1 ... ?
Jwb : Kb1 =
Δ
=
= 2, 925 0C/molal
Mencari Kb dari larutan KCl (larutan elektrolit, i = 2)
Dik : Tbo = 940C
Tb1 = 950C
Mb = 74,5 g/mol
WA = 100 g
WB = 2 g
ΔTb1 = Tb1- Tb0 = 10C
ΔTb2 = Tb2- Tb1 = 30C
ΔTb rata-rata = 20C
Dit : Kb2 ... ?
Jwb : Kb2 =
Δ
=
Kb2 = 3, 725 0C/molal
Mencari Mr Sampel X (Mb)
Dik : Tbo = 940C
Tb1 = 950C
Tb2 = 950C
WA = 100 g
WB = 2 g
ΔTb1 = Tb1- Tb0 = 10C
ΔTb2 = Tb2- Tb1 = 10C
ΔTb rata-rata = 10C
Kb1 = 2,925 0C/molal
Kb2 = 3,725 0C/molal
Dit : Mb ... ?
Jwb :
Melalui Kb1
Kb1 = Δ
2,925 =
Mb = 58,5 g/mol
Perhitungan Sesuai Landasan Teori
Mencari ΔTb Larutan NaCl (larutan elektrolit, i = 2)
= 0,2790C
Mencari Mr Sampel X
Dik : Kb = 0,52 0C/molal
ΔTb = 10C
WA = 100 g
WB = 2 g
Dit : Mb ... ?
Jwb : Kb = Δ
0,52 =
Mb = 10,4 g/mol
Mencari % kebenaran
Dik : Mb sampel X teori = 10,4 g/mol
Mb sampel X rata-rata dari percobaan = 66,5 g/mol
Dit : % kebenaran ... ?
Jwb : % kebenaran Mb =
=
x 100 %
= 15,64 %
Pembahasan:
Pada praktikum kali ini akan dibahas mengenai kenaikan titik didih. Dari kenaikan titik didih suatu larutan yang telah diketahui Mr zatnya dan massa zat terlarut serta massa pelarut maka kita dapat menentukan nilai Kb. Kemudian dari nilai Kb itulah dapat ditentukan Mr suatu sampel yang tidak diketahui atau sampel X dengan cara mencari titik didih larutan sampel X tersebut yang telah ditimbang terlebih dahulu massa sampel X yang digunakan.
Nilai Kb yang didapatkan dari percobaan adalah 2,9250C/ molal. Dari larutan NaCl dan 3,7259250C/ molal dari larutan KCl. Lalu dari nilai Kb yang pertama, didapat hasil perhitungan Mr sampel X sebesar 58,5 g/mol. Sedangkan dari nilai Kb yang kedua adalah 74,5 g/mol. Sehingga didapatkan rata-rata sampel X sebesar 66,5 g/mol. Sementara itu, dari teori (Kb air=0,520C/ molal) didapatkan hasil perhitungan Mr sampel X sebesar 10,4 g/mol. Percobaan ini dilakukan pada tekanan udara sebesar 758,5 mmHg, sehingga air mendidih di bawah suhu 1000C.
Lalu berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data itulah diperoleh %kebenaran sebesar 15,64 %. Berarti terdapat beberapa kesalahan praktikan dalam membaca nilai suhu pada termometer, kekurang terampilan praktikan dalam mengatasi api yang sering tertiup angin saat pemanasan berlangsung. Selain itu, juga terdapat kekurang terampilan praktikan untuk menguji coba keelektrolitan dari larutan sampel X.
Berdasarkan hasil pengamatan, saat larutan NaCl mendidih, tampilan fisik larutan itu sama seperti air atau pelarut. Sementara saat larutan KCl mendidih, tampak ada gumpalan-gumpalan putih seperti tissue dalam air yang secara perlahan-lahan mengecil. Larutan NaCl dan KCl merupakan larutan elektrolit yang berupa garam. Sedangkan, saat larutan samel X mendidih, tampak seperti ada minyak dalam air. Dan diduga sampel X merupakan larutan non elektrolit. Sehingga pada perhitungan Kb dari larutan NaCl dan larutan KCl menggunakan faktor Van’t Hoff (i), sementara sampel X tidak.
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, kemudian juga dari analisis data dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Mr sampel X yang telah dirata-ratakan dari percobaan adalah sebesar 66,5 g/mol. Mr sampel X berdasarkan perrhitungan secara teoritis , didapatkan sebesar 10,4
g/mol.
Persen kebenaran yang didapat sebesar 15,64%
Terdapat beberapa faktor kesalahan antara lain sebagai berikut :
1. kekurangtelitian praktikan dalam membaca suhu pada termometer
2. kekurangterampilan praktikan dalam mengatasi masalah api yang sering tertiup angin
3. kekurangterampilan praktikan dalam menguji coba keelektrolitan suatu sampel larutan
DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W. 1997. Kimia Fisika Edisi Keempaat Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara
Dogra, S.K dan S. Dogra. 2009. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Terjemahan Umar Mansyur. Jakarta: UI-Press
Goldberg, David E. 2004. Fundamentals of Chemistry Fourth Edition. New York: Mc Graw-Hill
Petrucci, Ralp H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat Jilid 2. Terjemahan Suminar. Jakarta: Erlangga
http://nugiluph24.blogspot.com/2010/10/Penentuan-berat-molekul-mr-berdasarkan.html
pada Selasa, 11 Oktober 2011. Pukul 19.20 WIB
http://anzar27.blogspot.com/2011/01/laporan-berat-molekul.html
pada Selasa, 11 Oktober 2011. Pukul 19.25 WIB