• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP SANTO ALOYSIUS TURI TAHUN PELAJARAN 20102011 DAN IMPLIKASINYA PADA TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "TINGKAT MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP SANTO ALOYSIUS TURI TAHUN PELAJARAN 20102011 DAN IMPLIKASINYA PADA TOPIK BIMBINGAN BELAJAR"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT MOTIVASI BELAJAR

SISWA KELAS VIII SMP SANTO ALOYSIUS TURI

TAHUN PELAJARAN 2010/2011 DAN IMPLIKASINYA PADA

TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh: Suratno NIM : 041114022

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

S K R I P S I

TINGKAT MOTIVASI BELAJAR

SISWA KELAS VIII SMP SANTO ALOYSIUS TURI

TAHUN PELAJARAN 2010/2011 DAN IMPLIKASINYA PADA

TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

Dipersiapkan dan ditulis oleh Suratno

NIM : 041114022

Telah disetujui oleh:

Pembimbing

(3)

S K R I P S I

TINGKAT MOTIVASI BELAJAR

SISWA KELAS VIII SMP SANTO ALOYSIUS TURI

TAHUN PELAJARAN 2010/2011 DAN IMPLIKASINYA PADA

TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

Dipersiapkan dan ditulis oleh: S u r a t n o

NIM : 041114022

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 25 Agustus 2011

dan dinyatakan memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua Dr. Gendon Barus, M.Si. ... Sekretaris A. Setyandari, S.Pd., S.Psi., Psi., M.A. ... Anggota Dra. M.J. Retno Priyani, M.Si. ... Anggota Dr. Gendon Barus, M.Si. ... Anggota A. Setyandari, S.Pd., S.Psi., Psi., M.A. ...

Yogyakarta, ...2011 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma Dekan,

(4)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Aku dilahirkan untuk karya yang lebih besar (Santo Aloysius Gonzaga) Aku belajar bukan untuk diriku sendiri, melainkan untuk mereka yang mau

bekerjasama berkehendak baik.

Kapan lagi kalau bukan saat ini untuk berbuat baik ? Jika besok, maka dunia keburu kiamat dan kita akan menyesalinya.

Karya tulis sederhana ini kupersembahkan untuk :

(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah

Yogyakarta, 20 Agustus 2011 Penulis

(6)

ABSTRAK

TINGKAT MOTIVASI BELAJAR

SISWA KELAS VIII SMP SANTO ALOYSIUS TURI

TAHUN PELAJARAN 2010/2011 DAN IMPLIKASINYA PADA

TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

Suratno

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2011

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei.

Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi berjumlah 46 siswa. Dalam penelitian ini menggunakan alat dalam bentuk kuesioner motivasi belajar. Kuesioner motivasi belajar terdiri dari 58 item yang disusun oleh peneliti. Teknik analisis data yang digunakan adalah Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe I.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011: (1) 3 orang (6,5%) memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar “sangat tinggi”; (2) 6 orang (13,0%) memilki kualifikasi “tinggi”; (3) 27 orang (58,7%) memiliki kualifikasi “cukup tinggi”; (4) 9 orang (19,6%) memiliki kualifikasi “rendah”; (5) 1 orang (2,2%) memiliki kualifikasi “sangat rendah”

(7)

ABSTRACT

A STUDY ON THE MOTIVATION LEVEL OF THE EIGHTH GRADE STUDENTS INSANTO ALOYSIUS TURIJUNIOR HIGH SCHOOL IN 2010/2011 ACADEMIC YEAR AND ITS IMPLICATION FOR

THE STUDY GUIDANCE

Suratno

Sanata Dharma University Yogyakarta

2011

This study aimed to describe the motivation level of the eighth grade students in Santo Aloysius Turi junior high school, in 2010/2011 academic year. This study belongs to a descriptive study using survey methodology.

There were 46 eighth grade students in Santo Aloysius Turi junior high school used as the subject in this study. The instrument used was a quetionnaire form on study motivation enhance. It consisted of 58 items designed by the researcher. The data was analized using criterion-referenced measure type I.

The results showed that 3 students (6,5%) had a very high level of study motivation enhance; 6 students (13,0%) had a high level of study motivation enhance; 27 students (58,7%) had an average level of study motivation enhance; 9 students (19,6%) had a low level of study motivation enhance; and only 1 student (2,2%) had a very low of study motivation enhance.

(8)
(9)

KATA PENGANTAR

Syukur dan terimakasih kepada Tuhan YME atas cinta, berkat dan bimbingan-NYA, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini dibuat dalam ragka untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Bimbingan dan Konseling.

Proses pembuatan skripsi ini berjalan dengan baik berkat bantuan, perhatian dan dukungan dari banyak pihak. Pada kesempatan ini disampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.

2. Ibu Dra. M.J. Retno Priyani, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan perhatian, bimbingan, kesabaran, ide-ide, gagasan yang mengarahkan pada selesainya skripsi ini.

3. Ibu A. Setyandari, S.Pd., S.Psi., Psi., M.A., selaku team penguji yang telah menguji karya tulis ini dengan penuh perhatian.

4. Para Guru dan karyawan/wati di SMP Santo Aloysius Turi yang telah memberi dorongan moral dan perhatian secara langsung dan tidak langsung dalam proses penyelesaian skripsi ini.

5. Seluruh dosen dan karyawan Program Studi Bimbingan dan konseling. 6. Kedua orang tuaku yang dengan setia mendoakan dan memberi inspirasi,

(10)

7. Bruder Pius Suyoto, CSA yang telah banyak memberi motivasi dan teladan hidup selama lima tahun dalam mendidik siswa-siswi di sekolah maupun di asrama.

8. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling atas kebersamaan, bantuan dan proses perkuliahan bersama selama empat setengah tahun.

Dengan penuh kesadaran bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, dengan demikian diharapkan kritik dan saran yang berguna dari siapapun dan pihak manapun. Akhir kata “tak ada gading yang tak retak”, semoga apa yang baik dalam skripsi ini dapat dipergunakan dalam membantu orang lain, khususnya mendidik kaum muda di manapun berada.

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN...ii

HALAMAN PENGESAHAN ...iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN...iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...v

ABSTRAK ...vi

ABSTRACT...vii

KATA PENGANTAR...viii

DAFTAR ISI...x

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Rumusan Masalah ...7

C. Tujuan Penelitian ...8

D. Manfaat Penelitian ...8

E. Batasan Istilah ...9

BAB II KAJIAN TEORI A. Motivasi ...11

1. Motivasi Belajar...11

2. Fungsi Motivasi Belajar ...18

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar ...19

(12)

B. Belajar...24

C. Bimbingan Belajar ...26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian...28

B. Subjek Penelitian ...28

C. Instrumen Penelitian ...28

D. Validitas dan Reliabilitas ...31

E. Prosedur Penyusunan Alat...35

F. Teknik Analisi Data ...36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Tingkat Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011 ...38

B. Pembahasan ...39

BAB V TOPIK BIMBINGAN SEBAGAI USULAN UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR...43

PENUTUP ...48

A. Kesimpulan ...48

B. Saran ...49

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk hidup yang mampu merealisasikan gagasan hidupnya sendiri. Manusia memiliki kegiatan-kegiatan utama yang menyebabkannya menjadi suatu makhluk yang khas dan lebih unggul dibandingkan dengan makhluk lain di dunia ini. Manusia dilengkapi dengan dimensi jiwa yang tidak dapat disamakan dengan dimensi badaniah. Jiwa manusia lebih dari sekedar prinsip penjiwaan dan struktur badan. Manusia mampu mengenal, mengerti, dan memiliki kehendak bebas. Kehendak bebas manusia memungkinkan manusia untuk mencintai, menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar tetap eksis hidup di dunia. Manusia selalu berkembang dan mengembangkan diri dengan mengubah apa yang dikehendakinya menjadi lebih baik (Leahy, 1985 : 151).

(14)

Interaksi manusia dengan sesama, alam lingkungan dan Tuhannya berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan terjadi proses interaksi belajar mengenai kehidupan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Keterbatasan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan mendorong manusia untuk belajar melalui sikap mencoba, bertanya, meniru dan melakukan suatu tindakan yang dianggap mampu memecahkan masalah. Dalam proses belajar, sikap bertanya dan ada jawaban dari hasil interaksi dengan orang lain sebagai pemecahan masalah disebut dengan pendidikan.

Dalam kehidupan manusia, tidak pernah lepas dari peranan pendidikan. Pendidikan menyangkut semua aspek kehidupan dunia yang selalu berubah. Di suatu negara, pendidikan merupakan hal yang penting yang menyangkut kesejahteraan dan kecerdasan bagi setiap warga negaranya. Di Indonesia pendidikan mendapat prioritas utama dalam proses mencerdaskan setiap warga negara yang tercantum dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dan diperkuat dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU Sikdiknas, 2003 : 1).

(15)

yang diberikan oleh pendidik kepada siswa berupa pendampingan, yaitu mendampingi dan menjaga siswa dalam mempelajari materi-materi pelajaran yang diberikan di sekolah. Dengan demikian cara pendidik mengarahkan siswa adalah dengan mendampingi melalui mengajar, melatih, membimbing dengan serius dan memiliki tujuan yang jelas. Tujuan setiap pendidikan dirumuskan dalam suatu rencana secara sistematis dan terukur, sehingga tujuan praktis dapat diamati dan mudah dijangkau setiap peserta didik/siswa dalam jangka waktu tertentu. Hal ini sering disebut kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU Sisdiknas 2003 : 107).

Setiap siswa dalam mengikuti proses pendidikan tidak hanya sekedar menghafal, tetapi harus mengkonstruksikan pengetahuan di dalam pikiran. Ia belajar dari mengalami, mendengar, mencatat pola-pola bermakna dari pengalaman atau pengetahuan baru. Setiap siswa menyimpan dalam pikiran setiap materi pelajaran dalam proses pendidikan di sekolah serta mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

(16)

Setiap siswa masing-masing memiliki motivasi belajar di sekolah. Motivasi bisa berasal dari luar diri siswa, misalnya disuruh orang tua, merasa malu dengan teman, sekolahnya dekat dengan rumah, teman sekolah banyak yang sudah dikenal sebelumnya dan lain sebagainya. Selain itu motivasi siswa juga dapat berasal dari dalam dirinya, misalnya ingin pintar, ingin diajar guru tertentu. Motivasi sebagai daya penggerak siswa dalam proses pendidikan di sekolah sangat penting untuk diperhatikan dalam proses mencapai hasil yang optimal.

Kehidupan siswa sebagai peserta didik sangat menarik dibahas, dicermati dan didampingi oleh pelaku pendidikan yaitu kepala sekolah, guru mata pelajaran, guru pembimbing, dan tenaga kependidikan. Siswa sebagai peserta didik membutuhkan bantuan pendidikan yang disebabkan karena kompleksnya permasalahan-permasalahan kehidupan siswa yang rata-rata masih masa remaja. Siswa mengalami permasalahan yang kompleks, antara lain permasalahan motivasi yang dialami dalam proses pendidikan di sekolah. Motivasi belajar siswa di sekolah merupakan bagian dari permasalahan kehidupan siswa sebagai remaja yang sedang berkembang. Motivasi belajar siswa di sekolah merupakan salah satu hal yang sangat menentukan keberhasilan siswa tersebut untuk mencapai hasil yang optimal. Dengan demikian motivasi belajar siswa di sekolah mendapat perhatian yang serius dalam proses pendidikan di sekolah agar siswa mampu mencapai hasil yang optimal tersebut.

(17)

dan proses pelatihan. Paradigma belajar siswa di sekolah memuat empat unsur pokok, yaitu :

1. Motif belajar siswa. 2. Tujuan belajar siswa.

3. Kegiatan siswa berlatih dan berpraktek dan memecahkan masalah. 4. Hasil belajar siswa.

Motivasi belajar siswa merupakan salah satu dari empat unsur pokok konsep dalam membahas belajar siswa di sekolah (Tanlain, 2000 : 8), sehingga motivasi belajar menjadi bahan pembahasan pada penjabaran-penjabaran selanjutnya.

(18)

Motivasi belajar yang tinggi tidak kalah penting dibandingkan dengan intelegensi yang tinggi bagi pencapaian prestasi belajar di sekolah. Motivasi belajar tinggi jarang mendapat perhatian serius oleh para guru sebagai pelaku pendidikan di sekolah. Perhatian pada motivasi belajar siswa di sekolah sangat minim, karena kurang pahamnya guru dalam melakukan pemantauan motivasi belajar atau metode pengetesan motivasi belajar bagi siswa. Kemampuan yang sangat minim bagi guru dalam memahami motivasi belajar siswa perlu mendapat perhatian yang serius bagi setiap lembaga pendidikan, khususnya sekolah.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, maka perlu mencoba untuk memperhatikan tingkat motivasi belajar siswa di sekolah, khususnya siswa di sekolah menengah. Keprihatinan ini merupakan salah satu bentuk perhatian pada segi motivasi belajar siswa yang berpengaruh pada pencapaian prestasi belajar siswa di sekolah. Dari hasil pengamatan selama ini di sekolah menengah pertama, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa di sekolah sangat penting artinya dalam pencapaian prestasi belajar dan pembentukan kepribadian yang lain. Motivasi belajar siswa di sekolah menyangkut banyak segi yang menyangkut proses pembentukan pribadi siswa menjadi lebih optimal sesuai dengan tujuan pendidikan.

(19)

ditandai dengan malasnya mengerjakan PR, buku tertinggal di rumah, alasan-alasan tidak membawa LKS, tugas kelompok tidak selesai pada waktu yang ditentukan, dan lain sebagainya. Alasan umum memilih siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas VIII merupakan siswa yang telah mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekolah, tidak memiliki beban tanggung jawab menghadapi ujian nasional. Sementara siswa kelas IX lebih berkonsentrasi pada persiapan ujian nasional. Siswa kelas VII masih dalam proses penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah.

Siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar perlu mendapatkan pendampingan secara serius, sehingga mampu memiliki prestasi belajar yang memenuhi target ketuntasan pada beberapa mata pelajaran. Sehubungan dengan hal tersebut akan dikaji tentang Tingkat Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi Tahun Pelajaran 2010/2011 dan Implikasinya Pada Topik Bimbingan Belajar.

A. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011?

(20)

B.Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011.

2. Mengusulkan topik bimbingan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011.

C.Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Secara teoritis, penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat motivasi belajar yang dialami oleh siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011.

2. Manfaat praktis a) Pihak sekolah.

Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan bagi pengelola sekolah, guru pembimbing dan semua pelaku pendidikan di SMP Santo Aloysius Turi dalam memberikan pendampingan kepada siswa kelas VIII, baik secara kelompok ataupun secara individu.

b) Subjek penelitian/siswa.

(21)

c) Bagi peneliti.

Penelitian ini berguna untuk mengembangkan kemampuan, memahami proses pembuatan alat penelitian dan mengembangkan kompetensi yang dimiliki berkaitan dengan profesi penulis sebagai calon konselor/guru pembimbing.

d) Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini berguna untuk penelitian-penelitian yang lain dan dapat dilanjutkan hasil penelitian ini menjadi lebih sempurna.

D.Batasan Istilah 1. Motivasi Belajar

(22)

2. Topik Bimbingan

Topik bimbingan merupakan suatu pokok bahasan yang terdiri dari suatu kumpulan materi bimbingan tertentu yang dijadikan bahan pelayanan bimbingan secara terorganisasi dan terkoordinasi dalam satu atau dua kali pertemuan.

3. Siswa SMP Santo Aloysius Turi Yogyakarta.

(23)

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Motivasi

1. Motivasi Belajar

Banyak ahli yang membahas dan merumuskan secara jelas pengertian arti “motivasi”. Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang berarti menggerakkan. Banyak orang menyebut “motif” untuk menunjuk mengapa seseorang melakukan sesuatu. Kata “motif”, diartikan sebagai daya uapaya untuk mendorong seseorang dalam melakukan sesuatu. Motivasi dapat dikatakan sebagai faktor penggerak, pendorong perilaku makhluk hidup dalam mencapai suatu tujuan. Pendapat beberapa ilmuwan (Locke, Hume, dan Hobbes dalam Handoko, 1992 : 11) mengatakan bahwa:

“segala perbuatan manusia, entah itu disadari ataupun tidak disadari, entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam, pada dasarnya mempunyai tujuan yang satu, yaitu mencari hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan.”

(24)

Menurut Mc. Donald (Sardiman, 2010 : 73), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “rasa/feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian tersebut mengandung tiga unsur penting :

1) Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem “neurophysiological” yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.

2) Motivasi ditandai dengan munculnya rasa/”feeling”, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah-laku manusia.

3) Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.

(25)

Menurut Hull (Handoko, 1992 : 71) motivasi merupakan kesatuan atau kumpulan umum dari energi yang bisa mengaktifkan baik tingkah laku-tingkah laku instingtif maupun laku-tingkah laku-laku-tingkah laku yang dipelajari. Menurut Sri Mulyani (Nasution, 1996) motivasi adalah suatu konstruksi yang potensial dan laten, yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman, yang secara relatif dapat bertahan meskipun kemungkinan berubah masih ada, dan berfungsi menggerakkan serta mengarahkan perilaku ke tujuan tertentu.” Menurut Sumadi Suryabrata (2006 : 70) menguraikan motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan.

Jucius (Sudarmanto, 2004 : 64-65) menunjukkan apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko, selalu ada motivasinya. Ini berarti, apa pun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu. Jadi, setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada motivasinya.

(26)

Sardiman (2001 : 81), disebutkan bahwa motivasi yang ada pada diri siswa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1) Tekun menghadapi tugas 2) Ulet menghadapi kesulitan

3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah 4) Lebih senang bekerja mandiri

5) Cepat bosan pada tugas-tugas rutin 6) Dapat mempertahankan pendapatnya

7) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya. 8) Senang mencari dan memecahkan masalah.

Menurut Hermans (Winkel, 1989 : 21), siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi memiliki rasa tanggungjawab dan berhasrat berprestasi baik, menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :

1) Kecenderungan mengerjakan tugas-tugas belajar yang menantang, namun tidak berada di atas taraf kemampuannya.

2) Keinginan kuat untuk maju dan mencari taraf keberhasilan yang sedikit di atas taraf yang dicapai sebelumnya.

3) Orientasi pada masa depan. Kegiatan belajar dipandang sebagai jalan menuju pada realisasi cita-cita.

4) Pemilihan teman kerja atas dasar kemampuan teman itu untuk menyelesaikan tugas belajar bersama, bukan atas dasar rasa simpati atau perasaan senang terhadap teman itu.

(27)

Motivasi dapat diklasifikasikan menjadi dua : (1) motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal yang timbul dari dalam diri pribadi seseorang itu sendiri, seperti sistem nilai yang dianut, harapan, minat, cita-cita, dan aspek lain yang secara internal melekat pada seseorang; dan (2) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi eksternal yang muncul dari luar diri pribadi seseorang, seperti kondisi lingkungan kelas-sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward) bahkan karena merasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salah satu faktor yang oleh kebanyakan orang sering digunakan dalam mempengaruhi motivasi.

Dari berbagai pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah daya dorongan individu untuk memenuhi kebutuhannya agar tercapai tujuan yang dikehendaki dan berasal dari dalam diri individu maupun dari luar individu tersebut. Motif belajar siswa menyangkut :

(28)

mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis (Schultz, 1991 : 45).

Diri seseorang merupakan pusat evaluasi. Aktualisasi diri seseorang merupakan ekspresi diri yang ingin diakui keberadaanya oleh orang lain. Diri yang aktual membutuhkan pengakuan dari pihak lain sebagai yang ada dan diperhitungkan aktivitasnya secara baik. Kebutuhan akan pengakuan diri mendorong setiap orang untuk terus menerus belajar mencari yang baik dan tidak mau meniru atau tidak mudah mengikuti kemauan orang lain. Dirinya adalah orisinil, apa adanya dan mengembangkan potensi diri melalui pengalaman-pengalaman hidup dan baru.

(29)

pelaku peran-peran sosial bertindak menurut apa yang dituntut oleh kebudayaannya (Zijderveld dalam Tanlain, 2000).

c) Ingin tahu lebih (Maw dan Maw dalam Tanlain, 2006 : 15) menunjukkan bahwa manusia memiliki dorongan ingin tahu lebih untuk bergaul efektif dengan lingkungannya dan mengendalikan lingkungannya. Inilah dasar baginya untuk melakukan kegiatan belajar. Siswa yang ingin tahu lebih dinilai oleh guru lebih cerdas, sebab mereka bertanya dengan kalimat yang tepat, tahu lebih banyak informasi, lebih suka stimulus yang kompleks, sebab di dalamnya memuat banyak informasi. Ingin tahu lebih juga merupakan karakteristik orang yang tidak mudah puas dengan kondisi saat sekarang. Kondisi saat sekarang dirasa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang perlu mendapat jawaban yang memuaskan. Mereka senang melakukan eksperimen, eksplorasi, dan senang dengan tantangan. Menghadapi masalah yang komplek senantiasa membuat dirinya semakin tekun mencari solusinya.

d) Diri sebagai penyebab menurut beberapa peneliti (Heider, 1958; De Charm, 1971; Weiner, 1972 dalam Tanlain, 2006 : 15) menunjukkan dua kelompok yaitu :

(30)

belajarnya menunjukkan tanda-tanda: ia mengetahui tujuan belajar yang akan dicapainya; rajin/giat menentukan sendiri kegiatan belajarnya; memahami kenyataan yang dialaminya dan mengatur sendiri kegiatan belajarnya. Weiner menyatakan bahwa belajar yang sungguh-sungguh dilakukan oleh siswa menandakan bahwa siswa menerima dirinya sebagai penyebab hasil apapun dari kegiatan itu.

2) Mereka cenderung melihat diri mereka ketika belajar sebagai tidak tertolong oleh situasi yang mereka alami. Mereka memandang orang lain sebagai pemicu untuk melakukan kegiatan belajar. Ketidakmampuan menghadapi orang lain menjadikan titik tolak untuk melakukan sesuatu yang disebut kegiatan belajar.

2. Fungsi Motivasi Belajar

Ada tiga fungsi motivasi belajar (Sardiman, 2010 : 85) adalah: a. Mendorong manusia untuk berbuat.

Motivasi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi disini merupakan motor penggerak dari kegiatan belajar yang akan dikerjakan orang atau siswa di sekolah. Motivasi belajar sebagai pendorong memungkinkan orang yang akan melakukan belajar tahu tujuan belajar dan cara mencapainya.

(31)

Motivasi disini memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. Arah yang akan dicapai lebih jelas dan mengikuti proses yang saling berkesinambungan.

c. Menyeleksi perbuatan.

Menyeleksi perbuatan merupakan sikap dalam rangka menentukan perbuatan apa yang harus dikerjakan, yang serasi dalam mencapai tujuan. Penentuan tujuan dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan menyisihkan perubahan-perubahan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006), terdapat beberapa unsur yang mempengaruhi motivasi belajar siswa, antara lain:

a. Cita-cita atau aspirasi siswa.

Keinginan yang tidak terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar, dari segi pembelajaran penguatan dengan hadiah atau hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan dan kemauan menjadi cita-cita. Cita-cita dapat berlangsung dalam waktu sangat lama bahkan sampai sepanjang hayat. Cita-cita seseorang akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar.

(32)

Keinginan siswa perlu diikuti dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas perkembangan.

c. Kondisi siswa.

Kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, lelah atau marah akan mengganggu perhatiannya dalam belajar.

d. Kondisi lingkungan siswa.

Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar.

e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran.

Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan karena pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebaya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan alam, tempat tinggal dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya seperti surat kabar, majalah, radio, televisi semakin menjangkau siswa. Semua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar.

Menurut Wlodkowski dan Jaynes (1990), motivasi belajar dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:

a. Budaya

(33)

Ibu-ibu kebangsaan Jepang lebih menekankan usaha (effort) daripada kemampuan (ability), dibandingkan dengan ibu-ibu kebangsaan Amerika yang mengutamakan penampilan sekolah yang baik. Sistem nilai yang dianut orang tua akan mempengaruhi keterlibatan orang tua secara mendalam dalam upaya-upaya untuk menanamkan energi anak.

b. Keluarga

Faktor keluarga memberikan pengaruh penting terhadap motivasi belajar seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Benjamin Bloom terhadap sejumlah orang muda yang berhasil dalam karirnya dalam berbagai lapangan seperti pakar matematika, neurology, pianis, maupun olah ragawan, menunjukan ciri-ciri yang sama yaitu adanya keterlibatan orang tua mereka. Mereka menunjukan adanya keterlibatan langsung orang tua dalam belajar anak, mereka melihat dorongan orang tua merupakan hal yang utama di dalam mengarahkan tujuan mereka.

c. Sekolah.

Peran guru dalam memotivasi anak juga tidak diragukan. Dibawah ini beberapa kualitas guru yang efektif dalam memotivasi anak, yaitu :

1) Guru selaku manajer yang baik.

2) Guru mengharapkan siswanya untuk menjadi murid yang sukses. 3) Guru memberikan pelajaran yang sesuai dengan kapasitas muridnya. 4) Guru memberikan umpan balik bagi muridnya.

(34)

6) Guru menjelaskan kriteria perilaku penilaiannya. Guru mau merangsang penalaran anak.

7) Guru membantu anak untuk menyadari pertumbuhan dan penguasaan murid.

8) Guru mampu bersikap empati. Guru menilai pengetahuan di atas nilai.

4. Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa di Sekolah

Pentingnya menjaga motivasi belajar dan kebutuhan minat serta keinginan siswa pada proses belajar tak dapat dipungkiri, karena dengan menggerakkan motivasi yang terpendam dan menjaganya dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan siswa akan menjadikan siswa itu lebih giat belajar. Siswa yang bekerja dengan motivasi yang kuat, ia tak akan merasa lelah dan tidak cepat bosan. Oleh karena itu, guru perlu memelihara motivasi belajar dan semua yang berkaitan dengan motivasi seperti kebutuhan dan keinginan. Metode dan cara mengajar yang digunakan harus mampu menimbulkan sikap positif belajar dan gemar membaca. Dengan demikian akan mengakibatkan timbul keinginan yang besar untuk menuntut ilmu di kalangan para siswa.

Nasution (2000 : 78) memiliki pandangan beberapa cara menumbuhkan motivasi belajar siswa yaitu :

a. Memberi angka

(35)

sangat penting artinya sebagai alat motivasi untuk terus meningkatkan prestasi belajarnya.

b. Hadiah

Hadiah memang dapat membangkitkan motivasi bila motivasi setiap orang mempunyai harapan untuk memperolehnya. Bagi siswa, hadiah tidak selalu merupakan motivasi karena hadiah juga dapat merusak sebab dapat menyimpangkan pikiran siswa dari tujuan belajar sesungguhnya. c. Saingan atau kompetisi

Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan baik individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

d. Memberi ulangan.

Siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan, oleh karena itu memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi belajar. e. Mengetahui hasil.

Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Dalam hal ini guru perlu membagikan hasil ulangannya kepada siswa, agar siswa mengetahui perolehan nilai yang diraihnya. Ini penting sebagai upaya untuk terus memacu prestasi belajar siswa.

f. Pujian

(36)

sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu agar pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat.

g. Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar diartikan ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hasrat untuk belajar berarti pada diri siswa itu memang ada motivasi untuk belajar sehingga diharapkan hasil belajarnya akan lebih baik.

h. Minat

Motivasi muncul disebabkan adanya minat. Sehingga minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar akan berjalan dengan lancar bila disertai minat.

B. Belajar

(37)

guru, tetapi keinginan sendiri dari anak agar mendapat ketrampilan naik sepeda.

Belajar dalam arti studying berbeda dengan learning. Belajar dalam arti studying sama artinya dengan siswa mempelajari. Siswa mempelajari berarti suasana belajar dalam sekolah. Kegiatan-kegiatan di sekolah cukup banyak, semakin menarik perhatian siswa dan bahkan menyita banyak waktu bagi siswa. Bahan pelajaran dalam sekolah dirumuskan dalam program sekolah, yang disebut kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah berlangsung dalam kurun waktu 12 bulan atau 11 bulan efektif yang memuat rangkaian materi ajar. Materi ajar atau bahan pelajaran berkaitan dengan kehidupan manusia yang sudah dijalani dan yang sedang dijalani sekarang. Hal ini dapat dikatakan bahwa bahan pelajaran berasal dari kebudayaan yang sudah terbentuk dan kebudayaan yang sedang dibentuk.

Dalam penelitian ini dibahas tentang belajar studying, yang menjadi pokok pembicaraan selanjutnya. Belajar di sekolah yang disebut studying merupakan bidang bahasan dalam kaitannya dengan motivasi belajar siswa. Dengan demikian motivasi belajar yang dimaksud adalah motivasi belajar siswa di sekolah, lebih tepatnya motivasi belajar siswa di sekolah menengah pertama.

(38)

yang sudah dimiliki seperti yang dirumuskan dalam pengajaran kelas dalam rencana pelaksanaan pembelajaran/RPP.

Kompetensi-kompetensi ini terkait dengan dua hal yaitu:

1. Latihan dan praktek merupakan isi ilmu pengetahuan yang diajarkan sebagai materi pengajaran yang diringkas dalam mata pelajaran dan metode-metode penyampaian serta cara menelaahnya.

2. Pemecahan masalah merupakan cara menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa.

Dengan demikian bersekolah adalah untuk mempelajari ilmu pengetahuan, dan mempelajari cara-cara menyelesaikan masalah menurut ilmu pengetahuan itu.

C. Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar adalah interaksi guru pembimbing dan siswa yang bersifat pemberian informasi, latihan mengenai cara berlatih, cara berpraktek, cara memecahkan masalah yang berkaitan dengan program pendidikan sekolah dengan tujuan agar siswa terampil menggunakannya dalam kegiatan belajar (Tanlain, 2006 : 22).

(39)

Setiap siswa membutuhkan ketrampilan dan kebiasaan mempelajari bahan mata pelajaran yang disebut cara belajar. Siswa berusaha mencari cara belajar yang tepat melalui guru pembimbing. Guru pembimbing menunjukkan cara mempelajari dan cara membiasakan diri.

Bimbingan belajar yang digunakan dalam mengatur interaksi guru dengan siswa mengandung unsur-unsur :

1. Tindakan guru pembimbing dan tindakan siswa adalah tindakan personal dalam pelaksanaan bimbingan belajar siswa. Meskipun secara teknis pelaksanaan bimbingan dilakukan secara berkelompok, namun kegiatan yang dilakukan bersifat pribadi.

2. Perkembangan siswa berlangsung secara alamiah menuju pada keadaan lebih baik. Masalah-masalah kehidupan siswa dan masalah belajar siswa tekait dengan perkembangan siswa.

(40)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini akan diuraikan jenis penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini. A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survei. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan (Furchan, 2005 : 447). Penelitian ini disebut deskriptif karena penelitian ingin menggambarkan gejala yang terjadi pada subjek yang diteliti. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran mengenai tingkat motivasi belajar yang dialami oleh siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran tahun 2010/2011. B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian seluruhnya adalah siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011, responden yang akan dijadikan subjek penelitian berjumlah 46 siswa putra dan putri. Penelitian ini disebut penelitian populasi karena melibatkan seluruh individu dalam suatu kelompok (Arikunto : 1991).

C. Instrumen Penelitian

(41)

mengukur seberapa jauh siswa memiliki tingkat motivasi belajar. Struktur kuesioner berisi tentang pernyataan-pernyataan dan pilihan jawaban responden. Kuesioner disusun dalam bentuk rating scale (skala bertingkat) yang mengikuti prinsip-prinsip skala Likert, yaitu suatu ukuran subjektif yang memuat sejumlah pernyataan. Masing-masing pernyataan dilengkapi dengan pilihan jawaban yang menunjukkan tingkatan sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Masing-masing tingkatan diberi nilai angka yang sesuai dengan tingkatan sikap responden. Metode yang digunakan dalam skala penelitian ini adalah metode skoring yang dijumlahkan(Method of Summated Rating).

Kuesioner motivasi belajar ini akan terdiri dari dua bagian yaitu (1) bagian pengantar, identitas responden serta petunjuk pengisian dan (2) bagian pernyataan yang mengungkap motivasi belajar siswa kelas VIII di SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011 menyangkut aspek : a) aktualisasi diri. b) kompetensi. c) ingin tahu lebih dan d) diri sebagai penyebab. Kuesioner dinyatakan dalam dua bentuk pernyataan yaitu pernyataan yang positif(favorable) dan pernyataan yang negatif(unfavorable)

(42)

mengandung skor tiga, sedangkan jawaban sangat tidak setuju (STS) mengandung skor empat. Adapun kisi-kisi kuesioner alat ukur dapa dilihat pada tabel 1 berikut ini :

Tabel 1

Kisi-kisi Kuesioner Motivasi Belajar

No Aspek Indikator No

Item

c. Diri sebagai pusat evaluasi

3 Ingin tahu lebih

a. Banyak bertanya.

(43)

D. Validitas dan Reliabilitas

Untuk memperoleh pengukuran yang akurat, penelitian ini harus memenuhi dua syarat yaitu validitas dan reliabilitas melalui uji coba. Uji coba kuesioner motivasi belajar bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas instrumen/alat ukur, sehingga didapatkan kelayakan penggunaannya sebagai alat ukur yang dapat dihandalkan dan benar-benar mengungkap apa yang diteliti. Rekapitulasi hasil analisis penghitungan validitas uji coba alat ukur disajikan dalam tabel 2.

Validitas berarti sejauh mana tingkat ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurannya. Dalam penelitian ini digunakan jenis validitas isi, yaitu validitas yang menunjuk sejauh mana instrumen mencerminkan isi yang dikehendaki. Dengan demikian hubungan skor tes ditentukan dengan

suatu rumus :

r

=

∑ (∑ )(∑ )

{∑ (∑ ) } { ∑ (∑ )²}

r

=

Koefisien korelasi antara X dan Y

X = Skor item tertentu yang akan diuji validitasnya.

Y = Skor total sub aspek yang memuat item yang diuji validitasnya. N = Jumlah responden.

Tabel 2

Rekapitulasi Hasil Analisis Uji Coba

No Aspek Motivasi Belajar Jumlah Item

1 Aktualisasi diri 20 10 10

2 Kompetensi 20 18 2

3 Ingin tahu lebih 20 17 3

(44)

Penentuan kesahihan item kuesioner menggunakan dasar kriteria Azwar (1999) yang mengatakan bahwa untuk skala psikologi sebaiknya digunakan patokan koefisien korelasi minimal 0,30. Dengan demikian item yang memiliki koefisien korelasi ฀ 0,30 dinyatakan gugur, sedangkan item yang memiliki koefisien korelasi ≥ 0,30 dianggap valid. Dalam penelitian ini yang dijadikan patokan minimal koefisien korelasi bagi item yang dianggap valid adalah ≥ 0,40. Alasan memilih koefisien korelasi diatas 0,40 adalah item-item yang disajikan dalam alat ukur lebih sedikit jumlahnya, sehingga waktu yang digunakan dalam penelitian satu kali pertemuan dalam kelas lebih efektif. Artinya dengan jumlah item 58 akan lebih efektif dari pada 71 pada koefisien korelasi ≥0,30 item yang disajikan.

Proses penghitungan validitas dilakukan dengan cara memberi skor pada masing-masing jawaban item-item dan ditabulasikan dalam data uji coba alat ukur (lampiran 2). Kemudian tabulasi skor dilakukan penghitungan dengan komputer dalam program SPSS PASW Statistics 18 yang dapat dilihat pada lampiran 4. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan terhadap 80 item kuesioner, diperoleh 22 item yang taraf validitasnya฀ 0,40 dan 58 item yang memiliki taraf validitasnya≥0,40.

(45)

Tabel 3

Komposisi Kuesioner Penelitian

Reliabilitas adalah derajat keajegan/konsistensi alat ukur dalam mengukur apa saja yang diukurnya. Jadi reliabilitas menunjukkan apakah instrument secara konsisten memberikan hasil ukur yang sama tentang sesuatu

No Aspek Indikator No Item Pernyataan ฀

+

-c. Diri sebagai pusat evaluasi

3 Ingin Tahu lebih

a. Banyak bertanya.

4 Diri sebagaipenyebab

a. Keterbatasan

(46)

adalah mengetahui sejauh mana pengukuran variabel dapat memberikan hasil yang sama jika dilakukan kembali kepada subjek yang sama. Untuk memperoleh koefisien reliabilitas digunakan metode belah dua (Split-half) berdasarkan belahan item dengan nomor gasal (X) dan belahan item dengan nomor genap (Y). Metode ini digunakan untuk menguji reliabilitas suatu alat ukur dengan satu kali pengukuran pada suatu kelompok. Proses perhitungan reliabilitas dilakukan dengan memberi skor pada masing-masing item dan membuat tabulasi data uji coba. Kemudian skor-skor dari belahan pertama (X) dikorelasikan dengan belahan kedua (Y). Perhitungan koefisien korelasi dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS PASW Statistics 18. Koefisien korelasi yang diperoleh sebesar 0,9190. Selanjutnya untuk memperoleh koefisien korelasi seluruh tes digunakan formulasi korelasi dari Spearman Brown (Masidjo, 1995) dengan rumus dengan suatu rumus :

r

=

2xr

1 + r

Keterangan :

r

= koefisien reliabilitas

r

= koefisien gasal-genap

(47)

koefisien reliabilitas atau

r .

Derajat reliabilitas ditentukan melalui pedoman Klasifikasi Koefiensi Reliabilitas. Garrett (1967 : 176) mengemukakan suatu deskripsi mengenai koefisien sebagai berikut :

Tabel 4

Klasifikasi Koefisien suatu tes

Koefisien Korelasi Klasifikasi ± 0,70 - ± 1,00 Tinggi – Sangat tinggi

± 0, 40 - ± 0,70 Cukup

± 0,20 - ± 0, 40 Rendah

± 0,00 - ± 0,20 Tidak ada – Sangat rendah

Berdasarkan kriteria hasil perhitungan analisis reliabilitas uji coba menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini memenuhi kualitas keterandalan dengan hasil hitung 0,957 yang termasuk dalam koefisien korelasi dengan kriteria ± 0,70 - ± 1,00 sehingga tergolong klasifikasi reliabilitas tinggi – sangat tinggi.

E. Prosedur Penyusunan Alat

1. Tahap Persiapan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Penyusunan Kuesioner

(1) Mengidentifikasi aspek-aspek motivasi belajar yang akan diungkap. (2) Mengidentifikasikan indikator-indikator dari aspek motivasi belajar. (3) Merumuskan kembali item-item yang mengungkap berbagai aspek

(48)

(4) Mengkonsultasikan kuesioner, sehingga mendapat bimbingan seperlunya yang selanjutnya diujicobakan.

b. Uji coba alat

Uji coba kuesioner motovasi belajar bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas instrumen/alat ukur, sehingga didapatkan kelayakan penggunaannya sebagai alat ukur yang dapat dihandalkan dan benar-benar mengungkap apa yang diteliti. Pelaksanaan uji coba alat ukur dibantu oleh Ibu D. Dyah Kwartaningsih, S.Pd guru SMP Negeri 3 Turi pada Rabu, 1 Juni 2011 jam 09.15.

2. Tahap Pelaksanaan Pengambilan Data

Tahap Pelakasanaan pengambilan data dilaksanakan pada hari Rabu, 8 dan 15 Juni 2011 di SMP Santo Aloysius Turi dengan responden sebanyak 46 siswa.

F. Teknik Analisis Data

Berikut ini langkah-langkah yang ditempuh dalam mengolah dan menganalisa data-data yaitu :

1. Menentukan skor dari setiap alternatif jawaban.

2. Menghitung jumlah skor dari masing-masing responden.

3. Mentabulasi skor dan menghitung jumlah skor masing-masing responden, serta menghitung frekuensi setiap nilai berdasarkan skor untuk setiap item. 4. Menggolongkan kualifikasi tingkat motivasi belajar dari seluruh responden

(49)

Penelitian ini bersifat deskriptif yang menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP tipe I) sebagai acuan atau dasar dalam menggolongkan tingkat motivasi belajar (sangat rendah, rendah, cukup tinggi, tinggi, dan sangat tinggi). PAP tipe I adalah suatu penilaian yang membandingkan perolehan skor individu dengan suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya, suatu skor yang seharusnya atau idealnya dicapai oleh individu. PAP tipe I menetapkan batas pencapaian minimum pada persentil 65% (Masidjo, 1995). PAP tipe I dipilih sebagai acuan dalam penggolongan tingkat motivasi belajar dalam penelitian ini, karena peneliti menginginkan yang ideal atau seharusnya.

Tabel 5

Penggolongan Tingkat Motivasi Belajar

PATOKAN KUALIFIKASI

90% - 100% Sangat Tinggi

80% - 89% Tinggi

65% - 79% Cukup Tinggi

55% - 64% Rendah

(50)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini memuat jawaban pada masalah penelitian yang pertama, yaitu Bagaimanakah tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011. Kedua, usulan topik bimbingan macam apa yang sesuai dengan tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloyisus Turi tahun pelajaran 2010/2011.

A. Tingkat Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi

Tahun Pelajaran 2010/2011

Berdasarkan hasil penelitian pada tanggal 1 Mei 2011 kepada siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi, tingkat motivasi belajar dihitung dengan menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP). PAP dibuat dengan mengelompokkan hasil skor motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi. Pengelompokkan tingkat motivasi belajar kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6

Kategori Tingkat Motivasi Belajar Kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi

Rumus PAP Rentangan Skor Frekuensi % Kualifikasi

90% - 100% 208 – 232 3 6,5 Sangat Tinggi

80% - 89% 186 – 207 6 13,0 Tinggi

65% - 79% 151 – 185 27 58,7 Cukup Tinggi

55% - 64% 129 – 150 9 19,6 Rendah

(51)

Tampak dalam tabel 6 bahwa siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011 memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar yang bervariasi mulai dari kualifikasi sangat tinggi, tinggi, cukup tinggi, rendah dan sangat rendah. Siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011 yang memiliki tingkat motivasi belajar kualifikasi sangat tinggi sebanyak 3 orang (6,5%), kualifikasi tinggi 6 orang (13,0%), kualifikasi cukup tinggi 27 orang (58,7%), kualifikasi rendah 9 orang (19,6%) dan kualifikasi sangat rendah 1 orang (2,2%).

Gambaran tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011 dijadikan acuan/dasar untuk usulan topik bimbingan belajar disajikan pada BAB V.

B. Pembahasan

Pembahasan tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011 memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar yang bervariasi mulai dari sangat tinggi, tinggi, cukup tinggi, rendah dan sangat rendah. Siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011 yang memiliki tingkat motivasi belajar kualifikasi sangat tinggi sebanyak 3 orang (6,5%), kualifikasi tinggi 6 orang (13,0%), kualifikasi cukup tinggi 27 orang (58,7%), kualifikasi rendah 9 orang (19,6%) dan kualifikasi sangat rendah 1 orang (2,2%).

(52)

dan lingkungan pergaulan orang terpelajar, sehingga mereka memiliki cita-cita dan suasana belajar yang kondusif. Sebanyak 6 orang siswa memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar tinggi. Ke-6 siswa tersebut rata-rata berasal dari keluarga PNS, wirausaha dan lingkungan sosial heterogen, sehingga mereka memiliki cita-cita dan suasana belajar yang bervariasi pula. Sebanyak 27 siswa memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar cukup tinggi. Mereka berasal dari keluarga PNS golongan rendah, karyawan swasta dan dukungan belajar dari keluarga sangat sedikit. Sebanyak 9 orang siswa memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar rendah. Mereka berasal dari keluarga petani dan buruh tani, secara ekonomi mereka masih dalam taraf kurang, sehingga bermacam-macam kebutuhan sekolah tidak semuanya tercukupi (Data Umum Siswa, 2010). Kondisi lingkungan kurang mendukung dalam belajar karena tuntutan pekerjaan fisik yang menguras banyak energi, sehingga kondisi siswa tidak bisa lemah dalam mengikuti pelajaran. Sebanyak 1 orang siswa memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar sangat rendah. Ia berasal dari keluarga kurang mampu, kondisi salah satu orang tuanya tidak sehat secara rohani. Kemampuan mengikuti pelajaran sangat minim, sehingga siswa tersebut merasa minder (Catatan Perkembangan Siswa VIII, 2010).

(53)

Dengan demikian tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011 sangat bervariasi yang kiranya dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Kehidupan di lingkungan masyarakat sangat besar pengaruhnya bagi motivasi belajar siswa. Banyaknya tawaran rekreasi yang dapat membuat orang merasa puas, walaupun rasa puas itu tidak bertahan lama.

2. Dukungan keluarga yang kurang maksimal pada motivasi belajar. Orang tua sibuk bekerja, sehingga kurang memiliki waktu dalam mengontrol belajar dan pergaulan sang anak. Akibatnya anak terpengaruh dari teman sebaya yang menghargai prestasi-prestasi di bidang lain di luar sekolah jauh lebih dihargai, misalnya bertanding kebut-kebutan motor di jalan, menyelesaikan suatu game berjam-jam di dalam “play station”.

3. Kekaburan mengenai cita-cita hidup sesudah tamat pendidikan sekolah. 4. Keadaan keluarga yang kurang menguntungkan, keadaan sosial ekonomi

tidak mendukung, sejak kecil anak kurang ditantang untuk memberikan prestasi yang patut dibanggakan atas dasar usahanya sendiri; atau karena kehidupan keluarga kurang harmonis, sehingga stabilitas emosional anak terganggu.

5. Budaya instan dari sejumlah masyarakat, sehingga mereka meragukan kegunaan belajar di sekolah yang mempersiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat.

(54)
(55)

BAB V

TOPIK BIMBINGAN

SEBAGAI USULAN UNTUK MENINGKATKAN

MOTIVASI BELAJAR

Dalam bab ini disajikan rancangan topik bimbingan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011. Topik-topik bimbingan ini dibuat berdasarkan kebutuhan siswa yang disesuaikan dengan hasil penelitian.

(56)

Sebanyak 1 orang siswa memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar sangat rendah. Ia berasal dari keluarga kurang mampu, kondisi salah satu orang tuanya tidak sehat secara rohani. Kemampuan mengikuti pelajaran sangat minim, sehingga siswa tersebut merasa minder. Dikatakan bahwa siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011 memiliki kualifikasi tingkat motivasi belajar cukup tinggi berdasarkan perolehan pencapaian minimum pada percentil 65%, sementara pada kualifikasi cukup tinggi mencapai 78%, yang melampaui batas minimum percentil 65%.

Dalam menyampaikan topik bimbingan disertakan pula fungsi bimbingan konseling bagi siswa. Fungsi bimbingan dan konseling ditinjau dari kegunaan atau manfaat, ataupun keuntungan-keuntungan yang diperoleh melalui pelayanan (Prayitno, 1999 : 197). Fungsi bimbingan dan konseling dikelompokkan menjadi lima fungsi pokok, yaitu :

1. Fungsi Pemahaman 2. Fungsi Pencegahan 3. Fungsi Pengentasan 4. Fungsi Pemeliharaan. 5. Fungsi Pengembangan.

(57)

Tabel 7

Daftar Usulan Topik Bimbingan Belajar

Nomor

Bimbingan Topik Bimbingan yang diusulkan

1 112 Pemeliharaan Tekun menghadapi tugas 2 158 Pencegahan Bertahan dalam persaingan.

3 171 Pemahaman Masa depan lebih baik melalui

belajar

4 175 Pemeliharaan Berpacu dalam Prestasi 5 118 Pemeliharaan Belajar itu menyenangkan 6 123 Pengentasan Ulet menghadapi kesulitan. 7 123 Pemahaman Bosan belajar, tak perlu risau 8 132 Pemeliharaan Mempertahankan pendapat. 9 127 Pemahaman Asiknya belajar rajin. 10 122 Pemeliharaan Ulet menghadapi kesulitan.

11 133 Pengentasan Ketekunan.

12 130 Pemeliharaan Teliti itu asik.

13 139 Pengembangan Potensiku berkembang. 14 116 Pengembangan Mencari kompetensi diri. 15 129 Pengentasan Tuntas nilaiku

16 127 Pemeliharaan PR-ku yang kusayang.

17 108 Pengembangan Belajar sebagai aktualisasi diri. 18 124 Pemeliharaan Ulet menghadapi kesulitan. 19 134 Pencegahan Prestasi Yes, Malas No. 20 127 Pencegahan Belajar lebih cermat. 21 140 Pengembangan Aku harus berkembang 22 123 Pengembangan Belajar ingin tahu lebih.

23 148 Pencegahan Melalui semangat bakatku OK. 24 140 Pemahaman Teknologi penting untuk hidup baik. 25 132 Pengentasan Nilaiku harus tuntas.

26 126 Pemahaman PR-ku OK.

27 113 Pengentasan Kreativitas.

28 140 Pencegahan Asiknya serius dalam kelas. 29 135 Pemahaman Bertanya, kenapa malu ? 30 138 Pemahaman Belajar itu mau bertanya.

31 121 Pengentasan Ketelitian

(58)

Nomor

Bimbingan Topik Bimbingan yang diusulkan

39 132 Pengentasan Ketelitian

40 138 Pemahaman Pengetahuan baru, hidup baru

41 146 Pencegahan Menyesuaikan dengan diri

lingkungan

42 125 Pemeliharaan Tekun menghadapi tugas

43 122 Pemahaman Pengetahuanku Wawasanku

44 117 Pemahaman Pengetahuanku Wawasanku. 45 112 Pengentasan Serius dalam belajar.

46 110 Pengembangan Belajar terencana.

47 135 Pengembangan Merencanakan masa depan.

48 112 Pencegahan Persiapkan diri

49 149 Pengembangan Menentukan target nilai. 50 151 Pemeliharaan Remidi, tak perlu malu. 51 131 Pencegahan Prioritas belajar.

52 127 Pemeliharaan Manajemen waktu.

53 133 Pencegahan Persiapan sebelum belajar. 54 110 Pemahaman Salah, kenapa takut ?

55 125 Pengentasan Rendah hati.

56 149 Pengembangan Menentukan target nilai. 57 151 Pemeliharaan Remidi, tak perlu malu. 58 142 Pengentasan Kreativitas.

Tujuan Umum

a. Mengajak siswa agar menyadari bahwa dirinya adalah ada dan perlu mengembangkan dirinya dalam penyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

b. Membantu siswa agar dalam menghadapi perubahan dunia dan lingkungannya perlu kemampuan yang “mumpuni” keahlian khusus supaya bisa hidup.

(59)

d. Menyadarkan siswa bahwa keterbatasan manusia tidak menjadi penghalang dalam menaklukan dunia, semua orang dapat berprestasi walaupun memiliki keterbatasan fisik, psikis dan sudut pandang.

6. Metode

Pemberian informasi, permainan, diskusi, sharing pengalaman, tanya jawab, latihan, refleksi diri.

7. Fasilitator

Guru BK, Alumni, Siswa yang “dianggap bodoh” yang berhasil. 8. Bahan, peralatan, dan perlengkapan.

Handout materi, alat tulis, laptop, proyektor, CD, soundsystem. 9. Evaluasi

a. Evaluasi pada setiap materi dibuat secara berkelompok kecil (3-5 anak) b. Evaluasi seluruh kegiatan dalam bentuk gambar, tulisan, dan laporan setiap

kelompok kecil. 10. Follow up

a. Menyusun Evaluasi secara menyeluruh.

b. Memanggil siswa/siswi yang perlu penanganan khusus.

(60)

PENUTUP

Pada bagian ini disajikan ringkasan, kesimpulan dan saran-saran yang kiranya perlu untuk acuan dalam menentukan bimbingan belajar. Bagian ringkasan memuat masalah, metodologi dan hasil penelitian. Bagian kesimpulan memuat akhir dari penelitian. Kesimpulan yang diambil dalam penelitian ini hanyalah sebatas populasi yang digunakan dalam penelitian di Unit Sekolah SMP Santo Aloysius Turi tahun pelajaran 2010/2011. Saran yang diberikan adalah berdasarkan hasil penelitian, yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait dalam penelitian berikutnya atau guru pembimbing dalam mendampingi siswa-siswinya.

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan penelitian dan pembahasannya adalah bahwa tingkat motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Santo Aloysius Turi tahun 2010/2011 belum setinggi yang diharapkan dan masih perlu mendapatkan bimbingan agar mampu meningkatkan motivasi belajar ke arah yang diharapkan yaitu sangat tinggi. Topik-topik bimbingan di sekolah yang diusulkan dapat membantu siswa seluruhnya dalam meningkatkan motivasi belajarnya.

(61)

Aspek-aspek yang lebih luas dan menyeluruh menjadikan suatu alat ukur menjadi lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Sekiranya kesimpulan ini merupakan hasil penelitian berdasarkan apa yang diukur dari aspek-aspek yang telah dipaparkan sebelumnya.

B. Saran

Ada beberapa hal yang ingin peneliti sampaikan sebagai saran berdasarkan hasil peneltian ini yaitu :

1. Setiap guru pembimbing hendaknya mampu menerapkan hasil penelitian motivasi belajar dengan sebaik-baiknya, agar siswa secara keseluruhan dapat diketahui tingkat motivasi belajarnya sehingga dapat segera ditindaklanjuti dalam penanganan bagi siswa yang bermasalah dalam motivasi belajarnya. 2. Bagi Peneliti lainnya, yang ingin melanjutkan penelitian ini, hendaknya dapat

(62)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. (1991).Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Bumi Aksara.

Azwar, Saifuddin. (2007).Sikap Manusia,Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

_______________. (1999).Penyusunan Skala Psikologi.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Buku Visi-Misi SMP Santo Aloysius Turi. (1998). SMP St. Aloysius Turi. Yogyakarta.

Buku Data Umum Siswa. (2010). SMP St. Aloysius Turi. Donokerto Turi. Yogyakarta.

Buku Catatan Perkembangan Siswa Kelas VIII. (2010). BK SMP St. Aloysius Turi. Yogyakarta.

Dimyati, dan Mudjiono. (2006).Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Furchan, A. (2005). Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Garret, Henry. E. (1967). Statistic in Psychology and Education. London : Longman.

Handoko, Martin. (1992). Motivasi, Daya Penggerak Tingkah Laku.Yogyakarta : Kanisius.

Leahy, Louis. (1985).Manusia Sebuah Misteri. Jakarta : Gramedia.

Masidjo, Ign. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta : Kanisius.

Moekijat. (2002).Dasar-dasar Motivasi.Bandung. CV. Pioner Jaya.

(63)

Nasution. (1996). Fungsi Motivasi Belajar. www.Hackz-Zone.blogspot.com; 11 Maret 2010.

________, (2000).Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta. PT. Bumi Aksara. Prayitno. (1999). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. PT. Rineka

Cipta.

Sardiman, A.M. (2010). Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan - Model-model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Kanisius.

Sudarmanto, Y.B. (1993). Tuntunan Metodologi Belajar. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana.

Sukardi, Dewi Ketut. (1983). Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Surabaya : Usaha Nasional

Suryabrata, Sumadi. (2006).Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pres.

Tanlain, Wens. (2006). Psikologi Belajar dan Pembelajaran (Modul Kuliah). Yogyakarta : USD.

____________. (2000). Metodologi Pengajaran. (Modul Kuliah). Yogyakarta : USD

UU SIKDIKNAS 2003. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Winkel, W.S. (1989).Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia Utama.

Winkel.W.S. dan Sri Hastuti. (2004). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan(Edisi Revisi).Yogyakarta : Media Abadi.

(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)

Lampiran 2

Siswa/No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

1 3 3 1 3 3 4 2 3 3 4 4 3 0 2 4 4 2 3 1 4 3 3 2 3

2 3 1 4 2 3 2 2 2 1 2 2 1 4 1 3 2 3 3 1 3 2 3 3 2

3 2 2 2 2 4 3 3 3 3 4 1 4 4 2 4 4 1 4 4 4 2 2 3 2

4 3 2 4 1 4 4 3 2 3 2 3 2 4 1 4 3 3 3 1 3 2 2 4 3

5 3 3 4 1 4 4 2 1 3 4 4 2 4 2 4 4 2 3 4 4 4 3 4 2

6 2 2 4 2 4 2 1 2 2 2 3 2 4 1 4 2 2 1 2 4 1 1 2 2

7 3 3 4 2 4 4 2 3 3 3 3 1 4 1 4 4 1 4 2 4 4 3 3 3

8 2 1 3 2 3 4 2 3 1 1 2 2 4 1 3 4 2 3 1 3 2 2 2 3

9 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 1 3 4 2 3 3 3 2 2 3 3

10 2 2 3 2 3 3 2 2 2 3 1 1 1 1 3 2 3 1 1 3 3 2 1 1

11 2 4 4 3 3 4 3 2 3 4 3 3 3 0 3 4 1 3 2 4 3 4 2 2

12 3 2 4 2 4 4 3 3 3 4 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3

13 3 2 4 2 4 4 3 3 3 4 4 2 4 3 4 4 2 4 3 4 2 3 4 2

14 4 2 4 2 3 4 1 2 3 3 4 2 4 3 4 4 2 3 3 3 3 3 3 3

15 2 2 2 2 4 4 2 2 3 3 1 3 2 2 3 4 2 2 2 1 2 2 3 2

16 3 2 2 2 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 3 2

17 3 3 4 2 4 4 4 3 4 3 2 4 4 2 4 4 1 3 2 2 3 2 4 3

18 4 3 4 2 4 4 2 4 3 3 3 3 4 2 4 4 2 3 2 4 2 3 4 2

19 3 3 4 3 4 4 3 3 2 2 3 3 4 2 4 4 2 3 2 3 3 2 2 3

20 2 3 4 2 4 3 3 2 3 4 4 2 4 1 4 4 1 3 2 4 4 3 4 3

21 2 2 2 2 3 3 2 3 3 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2

22 2 2 3 1 2 4 2 1 4 4 0 1 2 2 4 2 2 3 1 4 2 3 2 1

Gambar

Tabel 1Kisi-kisi Kuesioner Motivasi Belajar
Tabel 2Rekapitulasi Hasil Analisis Uji Coba
Tabel 3Komposisi Kuesioner Penelitian
Tabel 4Klasifikasi Koefisien suatu tes
+4

Referensi

Dokumen terkait

Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII-A SMP Aloysius Turi tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 26 siswa. Instrumen yang digunakan

Hasil penelitian menunjukkan deskripsi kebiasaan belajar siswa kelas VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta sebagai berikut: (1) 5 siswa memiliki kebiasaan belajar sangat baik, (2) 31

Hasil penelitian ini adalah: (1) tingkat minat para siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta Tahun Pelajaran 2008/2009 terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu: 12%

Tugas utama seorang siswa adalah belajar. Kegiatan siswa mempelajari bahan mata pelajaan dapat dilakukan di sekolah dan luar sekolah. Waktu belajar di sekolah sudah ditentukan oleh

Masalah penelitian ini adalah (1) Permasalahan-permasalahan apa sajakah yang dihadapi para siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2010/2011.. (2)

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang deskripsi motivasi belajar intrinsik siswa kelas VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 dan

“Apakah pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Motivasi Belajar pada Siswa Kelas VIII SMP NEGERI 11 Yogyakarta Tahun Pelajaran.

PENGARUH PROFESIONALISME GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII DI SMP BAPTIS BATAM TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Desma yulia1, Helena nadeak2 Prodi