• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam

BULETIN

BMKG

EDISI 19, JULI 2015

K A T A P E N G A N T A R

Bumi adalah tempat kita berpijak, berbagai kebutuhan kita disediakan oleh bumi. Yang lahir dan hidup di bumi bukan hanya generasi saat ini, namun berkelanjutan untuk anak cucu di masa depan. Jika mengulas tentang bumi, begitu banyak aspek yang diperhatikan. Mulai dari aspek lingkungan, ekonomi, politik, sampai kegiatan manusia. Semua mempunyai kontribusi besar bagi keadaan bumi nantinya. Salah satu faktor terpenting adalah faktor meteorologi, yang berperan dalam mendorong berbagai program pembangunan di bumi. Dengan meninjau hal itu, serta mengkhususkan pada pembangunan di kawasan Barelang, Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam setiap bulannya menerbitkan BULETIN METEOROLOGI.

Buletin Meteorologi edisi Juli 2015 akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Juni 2015, prakiraan hujan dan gelombang laut, serta prakiraan pasang surut bulan Juli 2015. Buletin ini dibuat sebagai salah satu sarana penunjang penyampaian informasi meteorologi, baik kepada para pengguna jasa informasi meteorologi dan juga kepada masyarakat umum.

Kami menyadari bahwa penulisan buletin ini masih belum sempurna, terdapat banyak keku-rangan dan belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh pembaca. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna peningkatan kualitas dari media informasi ini. Besar harapan kami agar buletin ini dapat terus berkembang dan berkesinambungan, serta dapat menjawab semua pertan-yaan mengenai isu-isu meteorologi di wilayah Kepulauan Riau

. KEPALA STASIUN METEOROLOGI KELAS I

HANG NADIM BATAM

PHILIP MUSTAMU M.Si. NIP. 19590406 198203 1 002

(2)

TIM REDAKSI

PELINDUNG : PHILIP MUSTAMU, M.Si. KEPALA STASIUN METEOROLOGI

KELAS I HANG NADIM BATAM PENANGGUNGJAWAB : TRI AGUS PRAMONO, S.Kom KEPALA SEKSI DATA DAN

INFORMASI

ANGGOTA TIM :

YAYAN HERMAWAN DUDI JUHANDINATA, S.Stat., M.M.

SRI SULISMIYATI, Ah.Mg. DEBORA TRULY MARPAUNG, S.ST.

SABILA RAHMABUDHI, A.Md. PANDE MADE RONY, S.ST.

RIZKI ADZANI, S.ST. NANGSIP CAHYANA, S.SI.

DUATI WARDANI, S.SI. MOHAMMAD TAUFIQ, S.SI.

STASIUN METEOROLOGI HANG NADIM BATAM Jl. Hang Nadim Batu Besar, Batam 29466

Phone : +62-778-761507 ext 1025 Fax. +62-778-761401 E-mail : [email protected] Web: hangnadim.kepri.bmkg.go.id Web: bmkg.bpbatam.go.id

(3)

K A T A P E N G A N T A R

I . R I N G K A S A N 4

I I . P E N G E R T I A N 5

I I I . A N A L I S A C U A C A D A N I K L I M A. KERAGAMAN HUJAN

B. DINAMIKA ATMOSFER & LAUTAN BULAN JUNI 2015 1. Monsun

2. El Nino - Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD)

3. Madden - Julian Oscillation (MJO) 4. IOD (Indian Ocean Dipole) C. ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2015

1. Analisa Unsur Cuaca Signifikan Bulan Juni 2015 Stamet Hang Nadim 5 7 7 9 1 0 1 2 1 2 1 5 I V . P R A K I R A A N B U L A N J U L I 2 0 1 5 A. DINAMIKA ATMOSFIR

1. Tekanan Udara dan Angin

2. ENSO (El Nino - Southern Oscillation) 3. MJO

4. Dipole Mode / IOD (Indian Ocean Dipole) B. PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI 2015

1. Prakiraan Hujan Dasarian 2. Prakiraan Hujan Bulanan

1 7 1 7 1 8 1 9 2 1 2 3 2 4 V . P R A K I R A A N A N G I N , G E L O M B A N G D A N A R U S L A U T B U L A N J U L I 2 0 1 5 2 6 V I . P R E D I K S I P A S A N G S U R U T B U L A N J U L I 2 0 1 5 3 0 V I I . I N F O R M A S I M A T A H A R I T E R B I T / T E R B E N A M D A N B U L A N T E R B I T / T E R B E N A M J U L I 2 0 1 5 3 5 V I I I . D A F T A R I S T I L A H 3 8

(4)

1. Berdasarkan data curah hujan bulan Juni 2015 yang diterima dari stasiun/pos hujan di Barelang yang mewakili daerah-daerah di sekitarnya, maka evaluasi jumlah curah hujan dan sifat hujan bulan Juni 2015 adalah sebagai berikut :

 Bahwa kejadian hujan di Pulau Batam secara umum berada pada kisaran di bawah normal terhadap rata-ratanya, namun untuk wilayah Nongsa curah hujan bersifat normal dan Sei Ladi curah hujan bersifat di atas normal dari rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Batam berkisar antara 0-150 mm. Angin bertiup dengan kecepatan 5 hingga 30 Km/jam. Kondisi angin dengan kecepatan lemah ini mendukung dalam proses pembentukan banyak awan.

 Untuk kondisi atmosfer di bulan Juni 2015 adalah sebagai berikut : MJO pada bulan Juni berada pada fase 5 hingga 1 dengan sifat lemah hingga kuat. Wilayah Indonesia berada fase 3 sampai 4. Pada gambar (9) MJO melewati wilayah Indonesia dengan sifat sedang sehingga pada bulan Juni MJO cukup berpengaruh pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia termasuk Batam. Secara umum nilai OLR rata-rata pada bulan Juni relatif rendah di wilayah Kepulauan Riau, yaitu sekitar -20 sampai 40. Kondisi rata-rata suhu muka laut di wilayah perairan sekitar Indonesia termasuk Kepulauan Riau pada bulan Juni 2015 berkisar antara 27.00C hingga 31.00C. Suhu muka laut yang hangat (>27.00C) mengindikasikan ketersediaan uap air yang lebih banyak. Kondisi yang demikian ini meningkatkan kemungkinan terjadinya pembentukan awan-awan yang menjulang tinggi sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya hujan. Nilai anomali Su-hu Muka Laut di wilayah perairan Indonesia secara umum, termasuk Kepulauan Riau sebesar -0.5 - 1.5. Hal ini menunjukan pada bulan Juni 2015 kondisi suhu muka laut masih berada dalam kisaran normalnya. Keadaan seperti ini mendukung dalam proses pembentukan awan-awan konvektif di wilayah Kepulauan Riau sehingga terjad penam-bahan curah hujan pada bulan tersebut.

II. Berdasarkan keluaran program HyBMG 2.0.7 dengan model prediksi ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) diperoleh prediksi curah hujan tiap dasarian mulai Juli 2015 hingga Juni 2016. Data masukan yang digunakan adalah data series hujan dasarian Hang Nadim periode Juli 1999 s.d Juni 2015 dan dengan membandingkan prediksi hujan model ARIMA dengan normal hujan dasarian periode 1993-2012 diperoleh nilai korelasi 0.96242 dan RMSE (error) 9.288 menunjukkan bahwa curah hujan di bulan Juli 2015 dipra-kirakan pada dasarian I berada di bawah normalnya, sedangkan dasarian II dan III berada pada nilai normalnya.

(5)

A. SIFAT HUJAN

Sifat Hujan adalah Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan nilai rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu tempat.

Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kriteria, yaitu:

1. Di atas normal ( A ), jika nilai perbandingannya lebih besar dari 115 %. 2. Normal ( N ), jika nilai perbandingannya antara 85 % - 115 %.

3. Di bawah normal ( B ), jika nilai perbandingannya kurang dari 85 %.

B. NORMAL CURAH HUJAN

1. RATA-RATA CURAH HUJAN BULANAN:

Nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun. 2. NORMAL CURAH HUJAN BULANAN :

Nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun. 3. STANDARD NORMAL CURAH HUJAN BULANAN :

Nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun dimulai dari 1 Juli 1901 s/d 31 Juli 1930, 1 Juli 1931 s/d 31 Juli 1960, 1 Juli 1961 s/d 31 Juli 1990, dan seterusnya.

C. INTENSITAS CURAH HUJAN (CH)

III. ANALISA CUACA DAN IKLIM

A . K E R A G A M A N H U J A N

Kepulauan Riau merupakan wilayah negara Indonesia yang berbentuk kepulauan dan dilewati garis khatulistiwa. Wilayah negara Indonesia dilewati oleh garis khatulistiwa serta dikelilingi oleh dua Samudra dan dua Benua. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai daerah pertemuan sirkulasi meridional (Utara-Selatan) dikenal sebagai Sirkulasi Hadley dan sirku-lasi zonal (Timur-Barat) dikenal sebagai Sirkusirku-lasi Walker, dua sirkusirku-lasi yang sangat mem-pengaruhi keragaman iklim di Indonesia.

KRITERIA CH CH/hari CH/Jam

Sangat Lebat > 100 mm > 20 mm Lebat 50 - 100 mm 10 - 20 mm Sedang 20 - 50 mm 5 - 10 mm

Ringan 5 - 20 mm 1 - 5 mm

(6)

Pergerakan matahari yang berpindah dari 23.5° Lintang Utara ke 23.5° Lintang Selatan sepanjang tahun mengakibatkan timbulnya aktivitas monsun yang juga ikut berperan dalam mempengaruhi ke-ragaman iklim. Pengaruh lokal terhadap keke-ragaman iklim juga tidak dapat diabaikan, karena Kepri merupakan kepulauan dengan bentuk topografi sangat beragam menyebabkan sistem golakan lokal cukup dominan. Faktor lain yang diperkirakan ikut berpengaruh terhadap keragaman iklim ialah gangguan siklon tropis. Semua aktivitas dan sistem ini berlangsung secara bersamaan sepanjang tahun akan tetapi besar pengaruh dari masing-masing aktivitas atau sistem tersebut tidak sama dan dapat berubah dari tahun ke tahun.

El-Nino dan La-Nina merupakan salah satu akibat dari penyimpangan iklim. Fenomena ini akan menyebabkan penurunan dan peningkatan jumlah curah hujan untuk beberapa daerah di Indonesia. Pengaruh El-Nino kuat pada daerah yang berpola hujan monsun, lemah pada daerah berpola hujan equatorial dan tidak jelas pada daerah dengan pola hujan lokal, sedangkan IOD (Indian Ocean Dipole) hanya berpengaruh jelas pada daerah berpola hujan monsun.

Selain akibat pengaruh fluktuasi suhu permukaan laut di samudera pasifik (El Nino-Southern Osci-llation / ENSO) dan Samudera Hindia (Indian Ocean Dipole / IOD), fenomena fase aktif osilasi

intra-musiman yang dikenal sebagai MJO (Madden-Julian Oscillation) juga mempengaruhi keragaman hujan

di Indonesia. Menurut Geerts and Wheeler (1998) MJO akan menyebabkan terjadinya variasi pada pola angin, SML (Suhu Muka Laut), awan dan hujan. Fase aktif MJO bila bersamaan waktunya dengan

monsun timur laut di Kepulauan Riau (Desember-Juli) dapat menyebabkan terjadinya peningkatan

curah hujan sekitar 200%.

Pergerakan MJO ke timur dari samudra India menuju samudra Pasifik dibagi dalam 8 fase. Fase-1 di Afrika (210° BB - 60° BT), fase-2 di samudera India bagian barat (60° BT – 80° BT), fase-3 di sa-mudra India bagian timur (80° BT – 100° BT) fase-4 & fase-5 di benua maritim Indonesia ( 100° BT – 140° BT), fase-6 di kawasan Pasifik barat (140°BT-160° BT), fase-7 di Pasifik tengah ( 160° BT – 180°

BT) , dan fase-8 daerah konveksi di belahan bumi bagian barat ( 180° – 160° BB). Pada umumnya hujan tropis berasal dari awan konvektif dengan puncak awan sangat dingin (sedikit mengemisi radiasi gelombang panjang), oleh karenanya sangat baik memonitor MJO dengan memperhatikan variasi OLR (Outgoing Longwave Radiation) yang dipantau melalui sensor infra merah pada satelit.

(7)

Gbr.2 Peta Anomali Suhu Muka Laut bulan Juni 2015

B. DINAMIKA ATMOSFER & LAUTAN BULAN JUNI 2015 1. Monsun

Pada bulan Juni matahari mulai berada pada penjalarannya menuju titik bumi paling utara BBU (Belahan Bumi Utara) dengan pergerakan semu sejauh kurang lebih 0.5° yaitu dari 22.5°LU menuju 23.0°LU. Pada tanggal 21 Juni matahari akan berada pada titik paling utara bumi

dengan sudut deklinasi maksimum yaitu 23.5°LU atau biasa disebut ‘summer soltice’ setelah

itu akan bergerak kembali menuju equator. Hal ini berdampak ke peningkatan suhu muka laut di daerah sekitar ekuator dan BBU yang memicu terbentuknya pola-pola tekanan udara ren-dah. Pada bulan Juni 2015 tidak tercatat ada kejadian siklon tropis. Dimana hal ini tidak mempengaruhi atas berkurang atau bertambahnya jumlah curah hujan di wilayah Indonesia bagian utara termasuk Kepulauan Riau.

Gbr.I Peta Rata-rata Suhu Muka Laut bulan Juni 2015

Sumber: http://www.emc.ncep.noaa.gov/research/cmb/ sst_analysis/images/monsstv2.png

Sumber: http://www.emc.ncep.noaa.gov/research/cmb/sst_analysis/ images/monanomv2.png

(8)

Kondisi rata-rata suhu muka laut di wilayah perairan sekitar Indonesia termasuk Kepulauan Riau pada bulan Juni 2015 berkisar antara 27.00C hingga 31.00C (Gbr.1). Suhu muka laut yang hangat (>27.00C) mengindikasikan ketersediaan uap air yang lebih banyak. Kondisi yang demikian ini meningkatkan kemungkinan terjadinya pembentukan awan-awan yang menjulang tinggi sehingga ber-potensi menyebabkan terjadinya hujan. Nilai anomali Suhu Muka Laut (Gbr.2) di wilayah perairan Indonesia secara umum, termasuk Kepulauan Riau sebesar -0.5 - 1.5. Hal ini menunjukan pada bulan Juni 2015 kondisi suhu muka laut masih berada dalam kisaran normalnya.

Pada bulan Juni, tekanan udara di BBS yang secara umum lebih tinggi dari pada BBU me-nyebabkan massa udara bergerak dari BBS (bertekanan tinggi) menuju BBU (bertekanan rendah) sehingga menyebabkan pola angin di sekitar wilayah Kepulauan Riau dominan dari arah selatan serta membentuk daerah pola belokan angin (shearline) dan pola daerah pertemuan angin (konvergensi). Pada daerah belokan angin terjadi perlambatan kecepatan angin yang menyebabkan penumpukkan massa udara sehingga terjadi pengangkatan massa udara, sedangkan pola konvergen menyebabkan daerah-daerah pertemuan massa udara sehingga keduanya menimbulkan potensi pembentukan awan - awan konvektif.

Gbr.3 Rata-rata Tekanan Udara Permukaan Laut bulan Juni 2015

Sumber : : http://www.bom.gov.au/cg-bin/climate/cmb.cgi? page=map&variable=mslp&vstatus=mean&period=month&area=rsmc

(9)

Berdasarkan hasil analisa (Gbr.4), angin bertiup dengan kecepatan 5 hingga 15 knot di dae-rah Kepulauan Riau . Kondisi angin dengan kecepatan lemah ini mendukung dalam proses pemben-tukan banyak awan.

2. El Nino - Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD)

Pada bulan Juni 2015, ENSO berada pada kondisi normal. Hal ini ditunjukkan dengan nilai anomali SST Nino 3.4 pada akhir Juni 2015 sebesar +1.73°C. Sedangkan kondisi SOI (Southern Oscillation Index) pada Juni 2015 berada pada kondisi dibawah normal dengan nilai pada akhir bulan Juni 2015 mencapai -8.2. Hal ini berpengaruh terhadap pengurangan jumlah curah hujan pada bulan Juni 2015 di wilayah Kepulauan Riau.

Gbr.5 Rata-rata Arah dan Kecepatan Angin 850 mb bulan Juni 2015 Gbr.4 Klimatologi Arah Angin 3000 Feet bulan Juni 2015

Sumber: http://www.bom.gov.au/cgi-bin/climate/cmb.cgi?

(10)

3. Madden-Julian Oscillation ( MJO) a. Outgoing Longwave Radiation (OLR)

OLR merupakan suatu radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh bumi ke luar angkasa. Tidak semua radiasi gelombang panjang yang terpancar dari bumi sampai ke luar angkasa. Awan-awan konvektif adalah salah satu faktor yang menghalangi perjalanan gelombang panjang. Jika suatu wilayah tertutup hamparan awan konvektif, maka nilai OLR akan kecil. Secara umum nilai OLR rata-rata pada bulan Juni 2015 relatif rendah, termasuk wilayah Kepulauan Riau, sekitar -20 - 40. Nilai OLR pada pertengahan Juni 2015 negatif menunjukkan tutupan awan konvektif yang tebal. Sedangkan OLR bernilai positif menunjukkan sedikitnya tutupan awan pada akhir bulan Juni 2015 .

Gbr.7 Grafik indeks ENSO / SOI Gbr.6 Grafik indeks SST Nino 3.4

Sumber : http://www.bom.gov.au/climate/enso/indices.shtml

(11)

Gbr.8 Rata-rata OLR bulan Juni 2015

b. Fase MJO (Median Julian Oscillation)

MJO pada bulan Juni 2015 berada pada fase 1 hingga 5 dengan sifat lemah hingga kuat. Wilayah Indonesia berada fase 3 sampai 4. Pada gambar fase MJO (Gbr.9), MJO melewati wila-yah Indonesia dengan sifat sedang sehingga pada bulan Juni 2015 MJO cukup berpengaruh pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia termasuk Batam.

Gbr.9 Fase MJO

Sumber: http://www.cpc.noaa.gov/products/precip/CWlink/MJO/ olra_last30days-3plots.gif

(12)

4. IOD (Indian Ocean Dipole)

Fenomena Dipole Mode di Samudera Hindia atau IOD (Indian Ocean Dipole) berada pada kisaran normal dengan kondisi netral (0,5°C s.d 0,5°C). Pada akhir Juni 2015 IOD bernilai -0.230C. Sehingga bisa diketahui bahwa selama bulan Juni 2015, secara umum IOD cukup signifikan dalam menambah peluang pertumbuhan awan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau.

C. ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2015

Berdasarkan data curah hujan bulan Juni 2015 yang diterima dari stasiun / AWS

(Automatic Weather Station) di Pulau Batam yang mewakili daerah-daerah di sekitarnya, maka

evaluasi jumlah curah hujan dan sifat hujan bulan Juni 2015 adalah sebagai berikut: Gbr.10 Grafik IOD

(13)

Dari tabel di atas tampak bahwa kejadian hujan di Pulau Batam secara umum berada pada kisaran di bawah normal terhadap rata-ratanya, namun untuk wilayah Nongsa curah hujan bersifat normal dan Sei Ladi curah hujan bersifat di atas normal dari rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Batam berkisar antara 0-150 mm.

Tabel.1 Analisis Curah Hujan dan Sifat Hujan Juni 2015

Gbr.11 Evaluasi Curah Hujan Bulan Juni 2015

Lokasi RR Juni 2015 (mm) Rata - rata (mm) Sifat Hujan

Hang Nadim 79.4 166.5 Bawah Normal

Mukakuning 48.4 154.9 Bawah Normal

Nongsa 136.0 159.0 Normal

Tg. Uncang 40.8 157.5 Bawah Normal

Pagoda 114.0 263.3 Bawah Normal

(14)

Gbr.12 Evaluasi Sifat Hujan Bulan Juli 2015

Dari gambar peta isohyet di atas dapat diketahui konsentrasi hujan di Barelang yang terjadi selama bulan Juni 2015. Sebaran hujan cukup merata di wilayah Pulau Batam, Rempang dan Galang

dengan nilai antara 0-100 mm. Konsentrasi jumlah curah hujan tertinggi terdapat di wilayah Tanjung Uncang.

(15)

1. Analisa Unsur Cuaca Signifikan Bulan Juni 2015 Stamet Hang Nadim a. Hujan

Sifat hujan bulan Juni 2015 di Barelang Bawah Normal (B) dengan curah hujan selama sebulan berkisar 4,2 mm - 118,8 mm atau antara 1,7 % - 47,1 %. Curah hujan terendah terjadi di Piayu dan tertinggi di Sengkuang. Khusus di Hang Nadim dalam bulan Juni 2015 terdapat 10 hari hujan terukur dan 6 hari hujan tidak terukur (ttu) dengan total curah hujan sebesar 79,4 mm atau berkisar 31,5% dari rata-rata yang berarti sifat hujan Bawah Normal (B). Pada dasarian I terjadi 7 hari hujan dengan jumlah curah hujan 34,4mm, dasarian II terjadi 7 hari hujan dengan jumlah curah hujan 43,6 mm, dan dasarian III terjadi 2 hari dengan curah hujan 1,4 mm. Curah hujan tertinggi 30,6 mm terjadi pada tanggal 10 Juni 2015 .

(16)

b. Suhu Udara

Suhu udara harian rata-rata berkisar antara 25.8 - 29.7 ° C. Suhu udara ter-endah dalam bulan Juni adalah 24,5 °C terjadi pada tanggal 12 Juni 2015 pagi hari dan suhu udara tertinggi 33,4 °C terjadi pada tanggal 27 Juni 2015 siang hari.

C. Kelembaban Udara

Kelembaban udara harian rata-rata berkisar antara 72 % - 95 %. Kelembaban udara terendah mutlak 57% terjadi pada tanggal 02 Juni 2015 siang hari, sedangkan kelembaban udara tertinggi 97% terjadi tanggal 5,6,8,10,11,12,13,14,16,17, dan 28 Juni 2015 pagi hari. Dengan demikian udara pada bulan Juni 2015 lebih kering dibandingkan bulan Mei 2015.

d. Angin Permukaan

Selama periode dasarian I – III Juni 2015 angin permukaan secara umum didominasi dari arah Tenggara sampai Selatan dengan kecepatan rata-rata 10 km/jam, arah dan kecepatan maximum dari Selatan dengan kecepatan 29 km/jam terjadi pada tanggal 9,25, dan 29 Juni 2015.

Gbr.14 Grafik Suhu Udara bulan Juni 2015 di Hang Nadim

(17)

A. DINAMIKA ATMOSFER 1. Tekanan Udara dan Angin.

Pada bulan Juli, posisi matahari dalam gerak semunya berada di BBU (Belahan Bumi Utara) paling ujung dan akan kembali menuju equator dengan pergerakan semu sejauh ku-rang lebih 4.7° yaitu dari 23.5°LS menuju 18.8°LS (http://www.physicalgeography.net). Se-hingga, dominasi pola-pola daerah bertekanan udara rendah pada Juli 2015 berada pada wila-yah Bumi Bagian Utara (BBU).

Akibatnya, pola angin rata-rata bulan Juli 2015 secara dominan bertiup dari Bumi Bagian Selatan (BBS) menuju Bumi Bagian Utara (BBU). Sedangkan untuk wilayah Kepulauan Riau, pola angin yang terbentuk adalah pola belokan angin (shearline). Pola angin ini cender-ung mendukcender-ung dalam proses pertumbuhan awan-awan hujan. Seperti terlihat pada gambar rata-rata streamline (Gbr.17 ) bulan Juli 2015 dibawah ini:

I V . P R A K I R A A N B U L A N J U L I 2 0 1 5

Prediksi Anomali Suhu Muka Laut periode Juli—Agustus—September 2015

Rata-rata Tekanan Udara Bulan Juli 2015

Gbr.16 Prediksi Anomali Suhu Muka Laut dan Rata-rata Tekanan Udara pada Bulan Juli 2015

Sumber: http://www.esrl.noaa.gov/psd/cgi-bin/data/ composites/

Sumber: http://pred.ldeo.columbia.edu/forecast/sst/12/ glbbld_DJF_nov2012.html

(18)

2. ENSO

(EL Nino-Southern Oscillation)

ENSO merupakan salah satu fenomena cuaca skala global yang mempengaruhi penambahan curah hujan (fase La Nina) maupun pengurangan curah hujan (fase El Nino) di wilayah Indonesia. Prediksi ENSO menurut institusi internasional yaitu NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Sci-ence and Technology), POAMA (Predictive Ocean Atmosphere Model for Australia) dan BMKG menyatakan bahwa terjadi EL Nino Sedang untuk bulan Juli 2015. Dengan demikian, diprediksi tidak akan terjadi perubahan yang signifikan terdapat penambahan ataupun pengu-rangan jumlah curah hujan dari bulan sebelumnya.

Dengan demikian, di Wilayah Indonesia, khususnya di Indonesia bagian Timur diprediksi akan terdapat pengurangan jumlah curah hujan.

Gbr.17 Rata-rata Streamline 3000 feet bulan Juli 2015

(19)

Salah satu parameter ENSO yaitu data SOI (Southern Oscillation Index) dari BoM (Bureau of Meteorology Australia) hingga awal Juli 2015 menunjukkan kondisi dibawah normal dengan nilai mencapai -8.2. Sehingga diprakirakan untuk bulan Juli 2015 di wilayah Indonesia akan terdapat pengurangan jumlah curah hujan.

3. MJO (Madden-Julian Oscillation)

Salah satu fenomena cuaca global yang juga mempengaruhi jumlah curah hujan di Indonesia, khususnya daerah dekat khatulistiwa adalah osilasi gugusan awan atau dise-but MJO. Berdasarkan data dari NOAA, diprakirakan pada tanggal 30 Juni s.d 12 Juli 2015 MJO berada pada fase 6. Kondisi ini kurang mempengaruhi dalam penambahan jumlah curah hujan di wilayah Indonesia. Sedangkan berdasarkan data anomali OLR (Outgoing Longwave Radiation) yang merupakan salah satu indikator MJO di wilayah Indonesia secara umum menunjukkan nilai -10 s.d +10 Wm-2. Sedangkan untuk wilayah Kepulauan Riau data anomali OLR pada 14 hari kedepan diprakirakan pada nilai -10 s.d +5 Wm-2. Hal ini berarti tutupan awan di wilayah Kepulauan Riau pada bulan Juli 2015 cukup banyak.

Gbr.19 Grafik SOI Januari 2013 sampai dengan awal Juli 2015

(20)

Gbr.20 Grafik Fase MJO pada Bulan Juni 2015 dan Prakiraan Bulan Juli 2015

Gbr.21 Anomali OLR sampai dengan 27 Juni 2015 dan prakiraan 14 hari kedepan

Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/precip/CWlink/MJO/foregfs.shtml

(21)

4. Dipole Mode / IOD (Indian Ocean Dipole)

Fenomena cuaca global terakhir yang juga mempengaruhi peluang hujan di Indone-sia, khususnya Indonesia Bagian Barat, adalah Dipole Mode. Menurut data dari BoM, grafik indeks IOD awal Juli 2015 berada pada kisaran. -0,50 C s.d 0,50 C (netral) dengan nilai tera-khir -0.23 (Gbr.22) dan prediksi bulan Juli 2015 bernilai 0.3. Sedangkan BMKG memprediksi nilai indeks dipole mode bulan Juli 2015 bernilai 0.33 (Gbr.23). Secara umum berdasarkan data prakiraan yang didapat dari BMKG dan BoM, keduanya menunjukan bahwa IOD masih dalam kondisi normal sehingga diprakirakan pada bulan Juli 2015 tidak terjadi penambahan jumlah curah hujan yang signifikan dari bulan sebelumnya di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Batam.

Gbr.22 Grafik indeks IOD sampai dengan akhir Juli 2015 dari BoM

Gbr. 23 Prediksi Indeks Dipole Mode dari BoM dan BMKG

Sumber:www.bom.gov.au/climate/enso/indices.shtml

(22)

5. Tinjauan Klimatologis

Kondisi cuaca bulan Juli di Batam berdasarkan data klimatologis selama 22 tahun

(1993-2014) diketahui:

Secara umum curah hujan di Batam terbagi menjadi tiga daerah konsentrasi hujan selama bulan Juli, daerah Rempang dan Galang curah hujannya 150 - 200 mm. Sedangkan Batam bagian Barat curah hujannya sedikit lebih tinggi yaitu 150 - 250 mm, dan Batam bagian Ti-mur curah hujannya lebih rendah yaitu 50 - 200 mm.

Kesimpulan:

Dari uraian di atas diketahui bahwa peluang pertumbuhan awan-awan hujan di Ba-tam pada bulan Juli 2015 lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Juni 2015 dan peluang jumlah intensitas curah hujan juga cenderung lebih tinggi.

(23)

B. PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI 2015 1. Prakiraan Hujan Dasarian

Berdasarkan keluaran program HyBMG 2.0.7 dengan model prediksi ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) diperoleh prediksi curah hujan tiap dasarian mulai Juli 2015 hingga Juni 2016. Data masukan yang digunakan adalah data series hujan dasarian Hang Nadim periode Juli 1999 s.d Juni 2015.

Dengan membandingkan prediksi hujan model ARIMA dengan normal hujan da-sarian periode 1993-2012 diperoleh nilai korelasi 0.96242 dan RMSE (error) 9.288

Hasilnya menunjukkan bahwa curah hujan di bulan Juli 2015 diprakirakan:

Sesuai dengan kriteria sifat hujan dalam dasarian, prakiraan curah hujan pada da-sarian I berada di bawah normalnya, sedangkan dada-sarian II dan III berada pada nilai normal-nya.

(24)

2. Prakiraan Hujan Bulanan

Berdasarkan data-data dan analisis model serta program HyBMG 2.0.7 dapat di-peroleh hasil prakiraan curah hujan satu bulan pada bulan Juli 2015 di wilayah Barelang se-bagai berikut:

Gbr.24 Peta Prakiraan Curah Hujan Bulan Juli 2015 Tabel.2 Prakiraan Curah Hujan Bulan Juli 2015

JUMLAH CURAH

HUJAN

0 mm - 150 mm

-150 mm - 300 mm

Batam, Rempang dan Galang

300 mm - 450 mm

-450 mm - 600 mm

(25)

dan membandingkan dengan normal hujannya maka sifat hujan bulan Juli 2015 di Barelang dapat diprakirakan sebagai berikut:

Tabel.3 Prakiraan Sifat Hujan Bulan Juli 2015

Gbr.25 Peta Prakiraan Sifat Hujan Bulan Juli 2015

SIFAT HUJAN

WILAYAH

Atas Normal

-Normal

Batam

(26)

Berdasarkan peta prakiraan angin dan gelombang laut mingguan di wilayah perairan Kepulauan Riau pada bulan Juli 2015 yang dibuat Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam menggunakan Software Windwave – 05, dapat disampaikan prakiraan angin permukaan dan tinggi gelombang laut serta arus

laut perairan Kepulauan Riau dan sekitarnya sebagai berikut:

V .

P R A K I R A A N A N G I N D A N G E L O M B A N G L A U T

J U L I 2 0 1 5

Tabel.4 Prakiraan Tinggi Gelombang Laut Bulan Juli 2015

WILAYAH PERAIRAN

TINGGI GELOMBANG

( m )

ARAH & KECEP. ANGIN ( km/Jam)

ARUS LAUT ( cm/s )

Batam - Tanjung Pinang 0,75 – 1,25 Tenggara – 15 Timur Laut - 5

Batam - Tarempa 1– 2 Selatan – 30 Tenggara - 40

Batam - Natuna 1 – 2,5 Selatan – 30 Timur - 70

Batam - Karimun 0,75 – 1, 5 Tenggara – 10 Timur Laut - 5

Batam – Lingga 1– 2 Tenggara – 27 Tenggara – 12

Batam - Singapura 0,75 – 1 Tenggara – 10 Timur Laut - 5

Batam - Dumai 1 – 1,5 Tenggara – 15 Utara - 5

(27)

Gbr.26 Peta Prakiraan Angin Minggu I Juli 2015

(28)

Gbr.28 Peta Prakiraan Tinggi Gelombang Laut Minggu I Juli 2015

(29)

Gbr.30 Peta Prakiraan Arus Laut Minggu I Juli 2015

(30)

A. Pendahuluan

Pasang surut air adalah gelombang yang mirip dengan gelombang air yang terjadi akibat tiupan angin. Pasang surut memiliki panjang gelombang yang panjang, seperti yang terdapat pada laut dalam namun terjadi untuk air dangkal, ini berarti pasang surut dibiaskan oleh keadaan topografi kedalaman bawah air. Periodenya pun cukup panjang, dalam orde jam. Pasang surut air terjadi disebabkan oleh gaya gravitasi dan gaya sen-trifugal yang ditimbulkan oleh gerakan bumi, bulan, dan matahari.

B. Pola Pasang Surut

Di seluruh dunia pasang surut berbeda baik ketinggian paras air maupun waktu kejadiannya. Area pantai yang hanya punya satu pasang surut tertinggi dan terendah setiap hari disebut diurnal tide (air pasang harian). Wilayah yang mengalami dua kali

pasang dan dua kali surut dalam sehari disebut mempunyai semi-diurnal tide. Jika semi-diurnal tide mempunyai ketinggian air pasang yang dicapai berbeda dan saat surut juga

level air tidak sama disebut semi-diurnal mixed tide.

Pola pasang surut dapat dijelaskan secara gelombang dengan grafik yang menunjukkan paras air untuk sumbu vertikal dan sumbu horisontal menyatakan waktu hari. Pengamatan pasang surut dalam jangka waktu yang lama digunakan untuk menghitung rata-rata ketinggian pasang. Dengan nilai rata-rata ini dapat dihitung anomali pasang naik dan pasang surut air.

C. Paras Pasang Surut.

Ketinggian air tertinggi yang dicapai permukaan air setiap hari disebut HighWater (HT) / Higt Tide (Ht). Titik terendah dimana permukaan air surut disebut Low Wa-ter (LW) / Low Tide. Mengingat propinsi Kepulauan Riau sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan maka fenomena pasang surut air laut sangat besar pengaruhnya ter-hadap kegiatan yang berhubungan dengan kelautan seperti bongkar muat di Pelabuhan Laut, kegiatan para nelayan dan lain sebagainya. Untuk itu dalam buletin ini kami sajikan prediksi pasang surut di seluruh Propinsi Kepulauan Riau yang meliputi 6 (enam) Kabu-paten Kota sebagai berikut :

(31)

I. KOTA BATAM

1. Batu Ampar, Juli 2015

2. Sekupang, Juli 2015

1 2

(32)

II. KABUPATEN BINTAN 1. Tanjung Uban, Juli 2015

2. Tanjung Pinang, Juli 2015

3 4

(33)

III. KABUPATEN KARIMUN

1. Tanjung Balai Karimun, Juli 2015

IV. KABUPATEN LINGGA 1. Dabo Singkep, Juli 2015

6 5

(34)

IV. KABUPATEN ANAMBAS 1. Selat Peninting, Juli 2015

V. KABUPATEN NATUNA 1. Sedanau, Juli 2015

7

(35)

V I I . I N F O R M A S I M A T A H A R I T E R B I T / T E R B E N A M D A N B U L A N T E R B I T / T E R B E N A M J U L I 2 0 1 5

1. Stasiun Meterorologi Hang Nadim Batam

2. Stasiun Meteorologi Tanjung Pinang Location : E104 07, N01 07, July 2015

DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0602 1813 1732 0500 2 0602 1813 1829 0556 3 0602 1813 1925 0653 4 0602 1813 2021 0750 5 0602 1814 2116 0846 6 0603 1814 2209 0940 7 0603 1814 2301 1033 8 0603 1814 2352 1126 9 0603 1814 000 1218 10 0603 1814 0044 1311 11 0604 1814 0136 1404 12 0604 1814 0229 1458 13 0604 1815 0323 1551 14 0604 1815 0416 1645 15 0604 1815 0509 1737 16 0604 1815 0600 1827 17 0604 1815 0650 1915 18 0604 1815 0737 2001 19 0605 1815 0823 2045 20 0605 1815 0907 2128 21 0605 1815 0949 2210 22 0605 1815 1032 2252 23 0605 1815 1115 2335 24 0605 1815 1159 000 25 0605 1815 1245 0019 26 0605 1815 1333 0105 27 0605 1815 1424 0154 28 0605 1815 1518 0246 29 0605 1815 1614 0341 30 0605 1815 1711 0438 31 0605 1815 1808 0536

Location : E104 32, N00 55, July 2015

DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0600 1811 1730 0459 2 0601 1811 1827 0555 3 0601 1811 1924 0652 4 0601 1811 2019 0748 5 0601 1812 2114 0844 6 0601 1812 2207 0939 7 0602 1812 2259 1032 8 0602 1812 2351 1124 9 0602 1812 000 1216 10 0602 1812 0042 1309 11 0602 1812 0135 1402 12 0602 1813 0228 1456 13 0602 1813 0321 1549 14 0603 1813 0415 1643 15 0603 1813 0508 1735 16 0603 1813 0559 1825 17 0603 1813 0648 1913 18 0603 1813 0736 1959 19 0603 1813 0821 2043 20 0603 1813 0905 2126 21 0603 1813 0948 2208 22 0603 1813 1030 2250 23 0603 1813 1113 2333 24 0604 1813 1157 000 25 0604 1813 1243 0017 26 0604 1813 1331 0104 27 0604 1813 1422 0153 28 0604 1813 1516 0245 29 0604 1813 1612 0340 30 0604 1813 1709 0437 31 0604 1813 1806 0534

(36)

3. Stasiun Meteorologi Ranai Natuna

4. Stasiun Meteorologi Tanjung Balai Karimun Location : E108 24, N03 55, July 2015

DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0540 1801 1718 0438 2 0540 1801 1815 0534 3 0540 1801 1911 0632 4 0540 1801 2006 0729 5 0541 1801 2100 0826 6 0541 1801 2152 0921 7 0541 1801 2243 1015 8 0541 1802 2334 1109 9 0541 1802 000 1202 10 0542 1802 0024 1255 11 0542 1802 0116 1349 12 0542 1802 0208 1443 13 0542 1802 0301 1537 14 0542 1802 0355 1631 15 0543 1802 0447 1723 16 0543 1802 0539 1813 17 0543 1802 0629 1900 18 0543 1802 0717 1946 19 0543 1802 0803 2029 20 0543 1802 0848 2111 21 0543 1802 0931 2152 22 0543 1802 1015 2233 23 0544 1802 1058 2315 24 0544 1802 1143 2359 25 0544 1802 1230 000 26 0544 1802 1319 0045 27 0544 1802 1410 0133 28 0544 1802 1504 0225 29 0544 1802 1600 0320 30 0544 1802 1657 0416 31 0544 1801 1753 0515

Location : E103 23, N01 03, July 2015

DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0605 1816 1735 0503 2 0605 1816 1832 0559 3 0605 1816 1928 0656 4 0605 1816 2024 0753 5 0606 1816 2119 0849 6 0606 1817 2212 0943 7 0606 1817 2304 1036 8 0606 1817 2356 1129 9 0606 1817 000 1221 10 0606 1817 0047 1314 11 0607 1817 0139 1407 12 0607 1817 0232 1500 13 0607 1817 0326 1554 14 0607 1818 0419 1648 15 0607 1818 0512 1740 16 0607 1818 0604 1830 17 0607 1818 0653 1918 18 0607 1818 0740 2004 19 0608 1818 0826 2048 20 0608 1818 0910 2131 21 0608 1818 0952 2213 22 0608 1818 1035 2255 23 0608 1818 1118 2338 24 0608 1818 1202 000 25 0608 1818 1248 0022 26 0608 1818 1336 0108 27 0608 1818 1427 0158 28 0608 1818 1521 0250 29 0608 1818 1617 0344 30 0608 1818 1714 0441 31 0608 1818 1811 0539

(37)

5. Stasiun Meteorologi Dabo Singkep

6. Stasiun Meteorologi Tarempa Location : E104 34, S00 28, July 2015

DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0603 1808 1728 0500 2 0603 1809 1825 0556 3 0603 1809 1922 0653 4 0603 1809 2018 0750 5 0603 1809 2113 0845 6 0604 1809 2207 0939 7 0604 1809 2259 1032 8 0604 1810 2351 1124 9 0604 1810 000 1215 10 0604 1810 0043 1307 11 0604 1810 0136 1400 12 0604 1810 0229 1454 13 0605 1810 0323 1547 14 0605 1810 0417 1641 15 0605 1810 0509 1733 16 0605 1811 0601 1823 17 0605 1811 0650 1912 18 0605 1811 0737 1958 19 0605 1811 0822 2042 20 0605 1811 0905 2126 21 0605 1811 0948 2208 22 0605 1811 1030 2250 23 0605 1811 1112 2334 24 0605 1811 1156 000 25 0605 1811 1241 0018 26 0605 1811 1329 0105 27 0605 1811 1420 0155 28 0605 1811 1514 0247 29 0605 1811 1610 0342 30 0605 1811 1707 0438 31 0605 1811 1805 0536

Location : E106 15, N03 12, July 2015

DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0550 1808 1726 0448 2 0550 1808 1823 0544 3 0550 1808 1919 0642 4 0550 1808 2014 0739 5 0550 1809 2108 0835 6 0551 1809 2201 0930 7 0551 1809 2252 1024 8 0551 1809 2343 1117 9 0551 1809 000 1210 10 0551 1809 0034 1303 11 0552 1809 0125 1357 12 0552 1809 0218 1451 13 0552 1809 0311 1545 14 0552 1809 0404 1639 15 0552 1810 0457 1731 16 0552 1810 0549 1821 17 0553 1810 0639 1908 18 0553 1810 0727 1954 19 0553 1810 0813 2037 20 0553 1810 0857 2120 21 0553 1810 0940 2201 22 0553 1810 1023 2242 23 0553 1810 1107 2325 24 0553 1810 1152 000 25 0553 1810 1238 0008 26 0553 1810 1327 0054 27 0554 1810 1418 0143 28 0554 1809 1512 0235 29 0554 1809 1608 0330 30 0554 1809 1705 0426 31 0554 1809 1802 0524

(38)

Anomali : Penyimpangan suatu variabel dari nilai rata-rata

Awan Konvektif : Awan tebal menjulang tinggi yang terbentuk dari proses

pemanasan vertikal yang membawa uap air. Awan ini

mengakibatkan terjadinya hujan secara tiba-tiba, petir dan angin kencang.

Cold Surge : Aliran udara dingin dari daratan Asia yang menjalar memasuki

wilayah Indonesia bagian barat, cold surge biasa terjadi pada saat Asia memasuki musim dingin.

Cuaca : Kondisi fisis atmosfer pada suatu wilayah yang sempit pada

waktu tertentu

Dasarian : Periode sepuluh harian

Dipole Mode /IOD

(Indian Ocean Dipole) : Tingkat ketersediaan uap air akibat perbedaan suhu muka laut

antara Samudera Hindia dan Perairan Pantai Timur Afrika.

DMI

(Dipole Mode Index) : Indeks yang menunjukkan perkembangan dan intensitas Dipole

Mode. DMI yang bernilai negatif akan menambah kandungan uap air di sekitar wilayah Sumatera, sehingga curah hujannya secara umum meningkat. Sedangkan nilai positif tidak

menambah kandungan uap air, sehingga curah hujan cenderung berkurang.

Divergensi : Beraian angin, yang mengindikasikan daerah cuaca baik

Eddy : Pusaran angin dengan durasi harian dan biasanya jika suatu

daerah terdapat eddy, maka cenderung banyak hujan.

El Nino : Fenomena memanasnya suhu permukaan laut di Pasifik Timur

sehingga secara umum menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang.

ENSO

(El Nino-Shouthern Oscillation)

: Fluktuasi musiman antara fase El Nino dan La Nina.

Gelombang : Pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus

permukaan laut.

Iklim : Kondisi Rata-rata cuaca dalam jangka waktu yang lama dan

wilayah yang luas

ITCZ

(Intertropical Convergence Zone)

: Daerah pertemuan massa udara antar benua dengan cakupan yang luas. Umumnya daerah-daerah yang dilintasi ITCZ berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan hujan lebat dan cukup lama (bisa lebih dari satu hari).

(39)

La Nina : Fenomena yang merupakan kebalikan dari El Nino. Secara umum

menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat.

MJO

(Madden-Novemberan Oscillation)

: Fluktuasi musiman/osilasi/gelombang tekanan (pola tekanan tinggi-tekanan rendah) di kawasan tropik yang terkait dengan penambahan gugusan uap air yang menyuplai pembentukan awan hujan dengan periode lebih kurang 48 hari yang menjalar dari barat ke timur. Biasanya berawal di pantai timur Afrika kemudian menjalar ke timur dan menghilang di bagian tengah Pasifik. MJO ini berkaitan dengan OLR (Outgoing Longwave Radiation)

Monsun : Suatu pola sirkulasi angin yang berhembus secara periodik pada

suatu periode (minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Di Indonesia dikenal dengan 2 istilah monsun yaitu monsun Asia dan Monsun Australia. Monsun Asia berkaitan dengan musim hujan di Indonesia, sedangkan Monsun Australia berkaitan dengan musim kemarau.

Normal : Nilai rata-rata suatu variabel selama 30 tahun, menggunakan

periode waktu yang tidak ditentukan (1971-2000, 1976-2005, 1978-2007, dsb)

OLR

(Outgoing Longwave Radiation).

: Radiasi gelombang panjang (infra merah) yang dipancarakan keluar dari bumi. OLR yang bernilai negatif menunjukkan tutupan awan konvektif yang banyak, sedangkan nilai positif tutupan awan konvektifnya sedikit.

Rata-rata : Nilai rata-rata suatu variabel selama minimal periode 10 tahun (1971

-1980, 1976-1985, 1993-2002, 1995-2010, dsb)

Shearline : Garis atau zona lintasan yang terdapat perubahan arah dan

kecepatan angin secara tiba-tiba.

SOI

(Southern Oscillation Index)

: Indeks yang menunjukkan perkembangan dan intensitas El Nino atau La Nina.

Standar Normal : Nilai rata-rata suatu variabel selama 30 tahun, menggunakan

periode waktu yang sudah ditentukan, dimulai tahun berakhiran 1 diakhiri tahun berakhiran 0 (1961-1990, 1971-2000, 1981-2010, dst)

Konveksi : Pergerakan molekul-molekul pada fluida (cairan atau gas) Updraft : Pergerakan vertikal ke atas dari suatu kolom udara yang

Referensi

Dokumen terkait

Buletin Meteorologi edisi September 2020 ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Agustus 2020, prakiraan hujan serta

 MJO pada bulan April berada pada fase 1 hingga 8 dengan sifat lemah hingga kuat. Dimana MJO melewati wilayah Indonesia dengan sifat kuat sehingga pada bulan April MJO

 Bahwa kejadian hujan di Pulau Batam pada bulan maret 2014 merata. Dimana di seluruh wila- yah Pulau Batam intensitasnya berada pada bawah normal terhadap rata-ratanya. Berdasarkan

Buletin Meteorologi edisi Januari 2016ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Desember 2015, prakiraan hujan

Menurut data dari BoM dan BMKG, bulan Maret 2021 DMI akan berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan dalam pengurangan maupun penambahan

Pada bulan Desember, tekanan udara di BBU secara umum lebih tinggi daripada BBS me- nyebabkan massa udara bergerak dari BBU (bertekanan tinggi) menuju BBS (bertekanan ren- dah)

Buletin Meteorologi edisi September 2016 ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Agustus 2016, prakiraan hujan

Menurut data dari BoM dan BMKG (gambar 19) bulan November 2020 DMI akan berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan dalam