SUPPLY CHAIN MANAGEMENT PADA INDUSTRI WOOD WORKING DALAM RANGKA MENINGKATKAN COMPETITIVE ADVANTAGES ( STUDI KASUS PADA PT. WIRASTA GUNA MANDIRI )

93  Download (1)

Full text

(1)

i

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT PADA INDUSTRI WOOD WORKING

DALAM RANGKA MENINGKATKAN COMPETITIVE ADVANTAGES ( STUDI KASUS PADA PT. WIRASTA GUNA MANDIRI )

Oleh :

DYAH AYUNDA WARDANI NIM : 212010030

KERTAS KERJA

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian Dari

Persyaratan-persyaratan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2014

(2)
(3)
(4)
(5)

ii

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA Jalan Diponegoro 52 – 60

: (0292) 321212, 311881 Telex 322364 ukswsa ia Salatiga 50711 – Indonesia Fax. (0298) – 3 21433

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Dyah Ayunda Wardani

NIM : 212010030

Program Studi : Manajemen

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi

Judul : Supply Chain Management pada Industri Wood Working dalam Rangka Meningkatkan Competitive Advantages ( Studi Kasus Pada PT. Wirasta Guna Mandiri )

Pembimbing : Yenny Purwati, SE, MBA

Tanggal di uji : 17 Oktober 2014 adalah benar-benar karya saya.

Didalam skripsi ini tidak dapat keseluruhan atau sebagian tulisan atau gagasan orang lain yang diambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang saya aku seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri tanpa memberikan pengakuan kepada penulis aslinya.

Apabila kemudian tebukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, termasuk pencabutan gelar kesarjanaan yang telah saya peroleh.

Salatiga. 18 September 2014 Yang memberi pernyataan

Dyah Ayunda Wardani

(6)

iii

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT PADA INDUSTRI WOOD WORKING

DALAM RANGKA MENINGKATKAN COMPETITIVE ADVANTAGES ( STUDI KASUS PADA PT. WIRASTA GUNA MANDIRI )

Oleh :

DYAH AYUNDA WARDANI NIM : 212010030

KERTAS KERJA

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian Dari

Persyaratan-persyaratan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : MANAJEMEN

Disetujui oleh:

Yenny Purwati, SE, MBA Pembimbing

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2014

(7)

iv

MOTTO

“Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.”

(Imam Syafi’i)

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan

hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

(QS. Al-Insyirah:6-8)

“Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, maka akan Kami berikan hidayah kepada mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah selalu beserta orang-

orang yang berbuat baik.”

(QS. Al-„Ankabuut:69)

(8)

v

Kata Pengantar

Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan ridho dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Supply Chain Management pada Industri Wood Working dalam Rangka Meningkatkan Competitive Advantages ( Studi Kasus Pada PT. Wirasta Guna Mandiri ) sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.

Dalam penulisan skripsi ini tidak akan berhasil dengan lancar dan baik tanpa adanya bimbingan, dorongan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segenap kerendahan dan ketulusan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Allah SWT yang senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran dalam penyusunan skripsi hingga selesai.

2. Keluarga dan saudara-saudara tercinta, terutama Papa Bambang Suwito, Mama Siti Rochmah, dan Adek Galuh Mukti Nugroho yang tak pernah henti memberikan doa, semangat, dan dukungan kepada penulis.

3. Ibu Yenny Purwati, SE., MBA sebagai pembimbing dan wali studi yang sangat luar biasa dalam mengarahkan penulis hingga dapat menyelesaikan kuliah dan skripsi dengan lancar.

4. Yang terhormat Bapak Prof. Daniel Daud Kameo, SE., MA., Ph.D yang telah banyak memberikan saran, semangat, serta dukungan dalam menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi.

5. Ibu Roos Kities Andadari, SE., MBA., Ph.d yang telah banyak memberikan saran kepada penulis dalam menyusun skripsi.

6. Dosen-dosen kebanggan, Ibu Yenny Purwati, SE., MBA; Ibu Linda Ariani Mahastanti, SE., Msc.; Ibu Venny; Bapak Yosepaldo Pasharibu ST., MM; Bapak Eranus Yoga Kundhani, SE.; dan Bapak Yulius Pratomo, SE., M.IDc yang telah memberikan kesempatan dan pengalaman bagi penulis untuk membantu dalam mengajar selama berkuliah di FEB UKSW.

(9)

vi

7. Seluruh dosen dan staff Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan perkuliahan dan penulisan skripsi dengan lancar.

8. Seluruh keluarga besar PT. Wirasta Guna Mandiri, terutama Bapak Irawan Gunadi yang telah bersedia menjadi obyek dalam penelitian, serta membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi.

9. Sahabat terkasih TOP10, seluruh teman-teman kampus di berbagai Fakultas, teman- teman Asisten Dosen FEB UKSW 2012-2014, teman-teman Kelompok Studi Manajemen (KSM) 2012-2013 yang telah menemani dan memberikan banyak pengalaman bagi penulis hingga menyelesaikan kuliah.

10. Dan seluruh pihak yang memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan kepada kita semua.

Penulis menyadari bawha penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karenanya, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna perbaikan dan perbandingan untuk penyusunan penelitian di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Salatiga, 18 September 2014

Penulis

(10)

vii DAFTAR ISI

D Halaman Judul ..………..………… i

Pernyataan Keaslian Karya Tulis Skripsi ………..……. ii

Halaman Pengesahan ………..… iii

Motto ……….. iv

Kata Pengantar ………... v

Daftar Isi ………... vii

Daftar Tabel ……….... ix

Daftar Gambar …………..……….. x

Abstrak/Abstract ………... xi

Pendahuluan ………... 1

Masalah Penelitian ………... 4

Persoalan Penelitian ……… 4

Tujuan Penelitian ……….... 5

Telaah Teori ……….... 5

Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantages) ………... 5

Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management - SCM) ……… 6

Manajemen Hubungan Pemasok (Supplier Relationship Management – SRM) ……... 7

Manajemen Internal Rantai Pasok (Internal Supply Chain Management – ISCM ) …. 9 Manajemen Hubungan Pelanggan (Customer Realationship Management – CRM ) … 11 Metode Penelitian ………... 14

Satuan Pengamatan dan Satuan Analisis ……… 14

Jenis dan Sumber Data ………... 14

(11)

viii

Teknik Analisis ………... 15

Gambaran Obyek Penelitian ………... 16

Hasil Penelitian Dan Pembahasan ……….. 17

Kesimpulan ………. 40

Implikasi Penelitian ……… 42

Keterbatasan Penelitian ……….. 43

Saran ………... 44

Daftar Pustaka ………. 44 Lampiran

(12)

ix

DAFTAR TABEL Tabel 1

Proporsi Penggunaan Bahan Baku Kayu Menurut Jenisnya ... 18 Tabel 2

Daftar Pemasok Bahan Baku ... 18 Tabel 3

Analisis SWOT PT. Witasta Guna Mandiri ... 23 Tabel 4

Total Penjualan per Bulan Tahun 2012 – 2014 ... 27 Tabel 5

Rekap Penggunana Bahan Baku, Hasil Produksi, Hasil Penjualan, dan Persediaan ... 29 Tabel 6

Perhitungan Harga Jual Produk Export (Decking Bangkirai) ... 34 Tabel 7

Penentuan Harga Jual Produk Lokal (Bangkirai) ... 35 Tabel 8

Hasil Penjualan Produk Ekspor dan Lokal ... 35

(13)

x

DAFTAR GAMBAR Gambar 1

Struktur Organisasi PT. Wirasta Guna Mandiri ... 16 Gambar 2

Proses Negosiasi dengan Pemasok Bahan Baku ... 19 Gambar 3

Siklus Penjualan 2012 – 2014 ... 28 Gambar 4

Saluran Distribusi Penjualan ... 36 Gambar 5

Proses Manajemen Pemesanan ... 39

(14)

xi

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT PADA INDUSTRI WOOD WORKING DALAM RANGKA MENINGKATKAN COMPETITIVE ADVANTAGES

( STUDI KASUS PADA PT. WIRASTA GUNA MANDIRI )

Dyah Ayunda Wardani Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana

Abstract

In a getting tighter competition, the companies need to know how to manage their strategies to create value added of product to increase a competitive advantage in local and export markets. One of the strategy is by doing Supply Chain Management (SCM). The objective of the research was knowing how process of Supply Chain Management (SCM) that includes: Supplier Relationship Management (SRM), Internal Supply Chain Management (ISCM), and Customer Relationship Management (CRM) of Wood Working Industry at PT. Wirasta Guna Mandiri as wood working manufacturer in Semarang. This research using a qualitative descriptive of technical analysis. The results showed that there were mutually beneficial relationships among suppliers and PT. Wirasta Guna Mandiri of Supplier Relationship Management (SRM) through key process: source, negotiate, buy, and design collaboration. PT. Wirasta Guna Mandiri implemented Internal Supply Chain Management (ISCM) by doing strategies planning, production process planning, and internal service. To build a good relationships with customers, PT. Wirasta Guna Mandiri doing Customer Relationship Management (CRM) implementation through the establishment of markets, prices, and sales system, as well as providing call center service and management order to customers.

Key words : Supply Chain Management (SCM), Supplier Relationship Management (SRM), Internal Supply Chain Management (ISCM), Customer Relationship Management (CRM), Competitive Advantage

Saripati

Di dalam pesaingan yang semakin ketat, perusahaan perlu mengetahui bagaimana mengatur strategi untuk menciptakan nilai tambah suatu produk dalam rangka meningkatkan keunggulan kompetitif sehingga mampu bersaing di pasar lokal maupun pasar ekspor. Salah satunya adalah dengan menerapkan Supply Chain Management (SCM). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses Supply Chain Management (SCM) yang meliputi: Supplier Relationship Management (SRM), Internal Supply Chain Management (ISCM),

(15)

xii

dan Customer Relationship Management (CRM) pada Industri Wood Working yang diterapkan oleh PT. Wirasta Guna Mandiri sebagai wood working manufacturer di Semarang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang saling menguntungan antara pemasok dan PT. Wirasta Guna Mandiri dalam penerapan Supplier Relationship Management (SRM) melalui proses kunci: sumber daya, negosiasi, pembelian, dan kolaborasi desain. Internal Supply Chain Management (ISCM) diterapkan oleh PT. Wirasta Guna Mandiri dengan melakukan berbagai perencanaan strategis dan perencanaan dalam melakukan proses produksi serta layanan pada internal perusahaan. Untuk membangun hubungan yang baik dengan pelanggan, PT. Wirasta Guna Mandiri melakukan penerapan proses Customer Relationship Management (CRM) melalui penetapan pasar, harga, dan sistem penjualan yang tepat, serta menyediakan layanan pusat informasi dan manajemen pemesanan.

Kata kunci : Manajemen Rantai Pasok, Manajemen Hubungan Pemasok, Manajemen Rantai Pasok Internal, Manajemen Hubungan Pelanggan, Keunggulan Kompetitif

(16)

PENDAHULUAN

Dewasa ini industri pengolahan kayu telah banyak berkembang baik di pasar domestik maupun di pasar global. Data Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mencatat hingga tahun 2013 jumlah industri primer hasil hutan kayu kapasitas produksi diatas 6000 meter kubik per tahun sebanyak 375 unit dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 282.878 orang serta dengan nilai investasi sebesar 54,9 triliun rupiah (http://m.bisnis.com/industri/read/20140121/

99/198607/ hatta-rajasa-industri-kayu-hutan-tanaman-siap-hadapi-mea-2015).

Kelompok industri pengolahan kayu di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu kelompok industri pengolahan kayu hulu sebagai industri pengolahan kayu primer yang mengolah kayu bulat (log) menjadi berbagai bentuk sortimen kayu. Industri pengolahan kayu primer terdiri dari industri penggergajian kayu (saw-mill), industri kayu lapis (plywood-mill), industri papan partikel (particle-board), dan industri MDF (Medium Density Fibre-board), sedangkan kelompok industri pengolahan kayu hilir terdiri dari industri wood working, industri furniture kayu dan barang-barang kerajinan kayu (Departemen Perindustrian, 2009).

Industri wood working yang menghasilkan produk turunan pengolahan kayu sangat potensial untuk diperdagangkan di pasar internasional. Contohnya pada wood working manufacturer yang menciptakan produk jadi seperti komponen arsitektur: interior, eksterior, maupun komponen struktur bangunan lainnya, dengan memberikan nilai tambah lebih tinggi dibandingkan dalam bentuk bahan baku dan barang setengah jadi. Selain itu, merupakan salah satu dari sepuluh klaster industri inti karena memiliki daya saing di pasar internasional, serta menghasilkan produk kehutanan yang memberikan devisa non-migas bagi negara yaitu sebesar 28 triliun rupiah pada tahun 2013 (http://okezone.com/read/2013/06/26/320/827679/ ekspor- produk-kayu-nasional-capai-rp28-t).

(17)

Permasalahan dalam pengembangan industri wood working ini adalah menipisnya sumber daya bahan baku yang mendorong kenaikan biaya dalam proses produksi sehingga menyebabkan keunggulan kompetitif dalam industri ini semakin terkikis (Grant, 2007; David, 2009; Wargadalam, 2009). Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan (2013), menyatakan bahwa selama delapan tahun terakhir (2005-2013) pemenuhan bahan baku dari hutan alam untuk industri kayu berkapasitas produksi 6000 meter kubik per tahun cenderung turun dari angka 20,5 juta meter kubik pada tahun 2005 menjadi 5,54 juta meter kubik pada tahun 2013. Pada saat ini terjadi peralihan dalam pemenuhan bahan baku dari hutan tanaman yang mengalami peningkatan yaitu, dari 11,2 juta meter kubik pada tahun 2005 menjadi 39,80 juta meter kubik pada tahun 2013 (http://m.bisnis.com/industri/read/20140121/99/198607/hatta-rajasa-industri-kayu-hutan-

tanaman siap-hadapi-mea-2015).

Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut maka perusahaan harus menerapkan strategi yang tepat, salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memberikan informasi guna membuat keputusan strategis dalam menghadapi persaingan agar tetap kompetitif dalam bisnis global adalah dengan menerapkan Supply Chain Management (SCM) untuk menciptakan nilai tambah pada produk yang ditawarkan kepada pelanggan (Shank dan Govindarajan, 2000). Isu penting yang menjadi perhatian dalam penerapan Supply Chain Management (SCM) adalah pengendalian persediaan dan pengadaan bahan baku karena dapat mempengaruhi kelancaran proses produksi yang mencakup kegiatan pemenuhan bahan baku sebagai kebutuhan utama selama proses produksi berlangsung ataupun untuk memenuhi kebutuhan persediaan (Daihani, 2012). Selain itu, strategi ini juga dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan profitabilitas serta memaksimalkan kesesuaian antara permintaan pelanggan dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki perusahaan (Sidarto, 2008).

(18)

Abror, dkk (2011) menjelaskan bahwa, penentu utama dan peran kunci pada keberhasilan implementasi Supply Chain Management (SCM) adalah keputusan strategis dalam memilih pemasok yang tepat sebagai sumber pemasok bahan baku yang dibutuhkan perusahaan dalam proses produksi. Aktivitas pemilihan pemasok secara signifikan dapat mengurangi harga barang dan meningkatkan daya saing. Disamping itu, tuntutan aspek kualitas, waktu pengiriman, dan biaya dalam persaingan pasar yang semakin berkembang akan menambah kompleksitas keputusan dalam pemilihan pemasok, karena pada umumnya bahan baku dapat dipasok oleh satu atau beberapa pemasok. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Supply Chain Management (SCM) sangat dibutuhkan untuk membantu perusahaan dalam mengambil keputusan strategis melalui integrasi proses-proses dalam melakukan analisis tersebut yang meliputi: Supplier Relationship Management (SRM), Internal Supply Chain Management (ISCM), dan Customer Relationship Management (CRM).

Penelitian ini merupakan studi kasus pada PT. Wirasta Guna Mandiri, perusahaan ini dipilih sebagai tempat penelitian karena merupakan salah satu wood working manufacturer di Semarang yang telah beroperasi sejak tahun 1986 untuk melayani pasar ekspor dan pasar lokal, serta pada saat ini PT. Wirasta Guna Mandiri semakin berkembang dan mampu menembus ke pasar internasional dengan melakukan ekspor ke negara-negara di Asia (China, Korea, Japan, Australia) dan Eropa (Belanda, Jerman, Polandia, Prancis, Italia, Inggris, Slovakia, Austria) serta mampu menghasilkan jumlah produksi rata-rata 1800 m3 per tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Supply Chain Manajemen (SCM) yang meliputi proses Supplier Relationship Management (SRM), Internal Supply Chain Management (ISCM), dan Customer Relationship Management (CRM). Ketiga proses tersebut akan dianalisis secara kualitatif deskriptif.

(19)

Berdasarkan wawancara awal dengan Bapak Irawan Gunadi sebagai Manager Export And Support Marketing, diketahui saat ini permasalahan yang sedang dihadapi oleh PT. Wirasta Guna Mandiri adalah kesulitan mendapatkan bahan baku kayu yang disebabkan oleh semakin menipisnya sumber daya alam dan meningkatnya harga bahan baku. Sedangkan disisi lain perusahaan harus memenuhi permintaan pasar yang semakin kuat khususnya pada pasar Asia, sehingga PT. Wirasta Guna Mandiri perlu menetapkan Supply Chain Manajemen (SCM) termasuk sistem pengadaan bahan baku dan pengendalian persediaan yang efektif dan efisien yang akan membantu perusahaan dalam menciptakan keunggulan kompetitif sehingga mampu bersaing di pasar lokal maupun pasar ekspor.

Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian tersebut maka masalah penelitian yang dirumuskan adalah analisis Supply Chain Management (SCM) pada industri wood working dalam rangka meningkatkan competitive advantages ( Studi Kasus pada PT. Wirasta Guna Mandiri).

Persoalan Penelitian

Adapun yang menjadi persoalan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Bagaimana penerapan Supplier Relationship Management (SRM) pada PT. Wirasta Guna Mandiri dalam rangka meningkatkan competitive advantage?

2) Bagaimana penerapan Internal Supply Chain Management (ISCM) pada PT. Wirasta Guna Mandiri dalam rangka meningkatkan competitive advantage?

3) Bagaimana penerapan Customer Relationship Management (CRM) pada PT. Wirasta Guna Mandiri dalam rangka meningkatkan competitive advantage?

(20)

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana PT. Wirasta Guna Mandiri melakukan proses-proses dalam Supply Chain Management (SCM) yang meliputi: Supplier Relationship Management (SRM), Internal Supply Chain Management (ISCM), dan Customer Relationship Management (CRM) dalam menentukan pemilihan pemasok yang tepat sebagai kunci utama efisiensi perusahaan yang berkaitan dengan pengadaan bahan baku guna memenuhi permintaan yang dapat menciptakan nilai untuk pelanggan sehingga dapat meningkatkan keunggulan kompetitif agar mampu bersaing di pasar lokal dan pasar ekspor.

TELAAH TEORI

Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantage)

Menurut Purnama, dkk (2003) dan Setiawan (2003), keunggulan kompetitif merupakan kemampuan perusahaan dalam menciptakan suatu produk untuk meraih keuntungan diatas laba yang mampu diraih oleh perusahaan pesaing dalam industri yang sama. Perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif senantiasa memiliki kemampuan dalam memahami perubahan pasar dan mampu menempatkan perusahaan pada suatu posisi yang menguntungkan.

Upaya untuk meningkatkan keunggulan kompetitif suatu perusahaan menurut Setiawan (2003) memerlukan kompetensi inti yaitu suatu perpaduan antara kemampuan sumber daya yang dimiliki perusahaan dengan kapabilitas perusahaan itu sendiri. Sumber daya yang dimaksud meliputi sumber daya keuangan, karyawan, teknologi, dan reputasi perusahaan, sedangkan kapabilitas perusahaan yang dimaksud adalah pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki para pelaku dalam perusahaan.

(21)

Keunggulan kompetitif muncul apabila konsumen merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari produk yang mereka beli dari perusahaan yang menawarkan produk tersebut dibandingkan dengan perusahaan pesaing. Hal tersebut dapat dicapai dengan mengelola aliran informasi, aliran produk, maupun aliran material antara pemasok, perusahaan dan distributor dengan menggunakan konsep Supply Chain Management (SCM) (Setiawan, 2003).

Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management - SCM)

Supply Chain Management (SCM) merupakan metode atau pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan supply chain dengan cara mengintegrasikan pemasok, manufaktur, gudang, distributor, ritel, dan pelanggan yang terlibat dalam kegiatan memasok bahan baku, memproduksi barang, hingga mendistribusikan barang kepada pelanggan atau pengguna akhir (Raharjo, 2013). Di dalam proses kinerja Supply Chain Management (SCM) mencakup aktivitas- aktivitas yang bertujuan untuk membangun rantai pemasok guna memaksimalkan nilai bagi pelanggan dengan mendistribusikan produk yang berkualitas dalam jumlah yang sesuai ke lokasi yang membutuhkan dan pada waktu yang tepat secara efisien, serta memberikan pelayanan yang prima karena menyangkut kepuasan dan menciptakan kepercayaan pelanggan (Sidarto, 2008;

Jarir, dkk, 2011; Wuwung, 2013).

Menurut Suharto dan Devie (2013), dalam Supply Chain Management (SCM) terdapat dimensi penting mengenai hubungan antara pemasok, pelanggan, dan informasi internal perusahaan dalam menciptakan keunggulan kompetitif. Strategi perusahaan yang dilakukan dengan pemasok adalah melakukan perencanaan dan upaya pemecahan masalah bersama, agar perusahaan dapat bekerja secara efektif dengan beberapa pemasok yang bersedia berbagi tanggung jawab dalam menciptakan produk. Sedangkan customer relationship bertujuan untuk mengelola keluhan, membangun hubungan jangka panjang, serta meningkatkan kepuasan

(22)

pelanggan, sehingga dapat meningkatkan loyalitas dan menciptakan nilai kepada pelanggan.

Selain itu, dengan saling melakukan pertukaran informasi antar pelaku dalam supply chain mengenai taktik strategi, kondisi pasar secar umum, dan informasi mengenai pelanggan maka dapat digunakan sebagai sumber keunggulan dalam bersaing.

Menurut Chopra dan Meindl (2007:15), Supply Chain Management (SCM) dibagi menjadi tiga proses, yaitu:

1. Manajemen Hubungan Pemasok (Supplier Relationship Management – SRM)

Supplier Relationship Management (SRM) adalah pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan dan mengelola hubungan antara perusahaan dengan pemasok melalui proses- proses kunci guna memperoleh biaya yang lebih rendah, kualitas yang lebih tinggi, dan peramalan yang lebih baik di dalam suatu kerangka hubungan yang saling menguntungkan sehingga dapat menciptakan keunggulan yang kompetitif (Purnomo, 2007). Proses kunci pada Supplier Relationship Management (SRM) meliputi (Chopra dan Meindl, 2007:15) :

a. Sumber Daya (source)

Sumber daya merupakan bagian dari proses bisnis yang dibutuhkan dalam proses produksi. Perusahaan harus memilih pemasok bahan baku yang kredibel dan sanggup untuk mendukung proses produksi karena kualitas produk akhir yang dihasilkan oleh perusahaan tergantung dari kualitas bahan baku yang dipasok oleh pemasok.

b. Negosiasi (negotiate)

Komitmen yang kuat antara pemasok dan perusahaan juga perlu dijaga untuk mempermudah proses negosiasi yang baik dan saling menguntungkan. Manajer perusahaan harus mampu mengambil keputusan dalam menetapkan harga, mengelola

(23)

pengiriman dan pembayaran bahan baku, serta menjaga dan meningkatkan hubungan bisnis terhadap pemasok.

c. Pembelian (buy)

Kontinuitas dalam pembelian bahan baku sangat penting dalam mendukung kelangsungan proses produksi. Apabila persediaan yang dibutuhkan tidak tersedia maka dapat menyebabkan terhentinya proses produksi atau dapat merubah rencana produksi sehingga dapat mengakibatkan terjadinya biaya tambahan karena perusahaan tidak dapat memenuhi pesanan para pelanggan dengan tepat waktu.

d. Kolaborasi desain (design collaboration)

Kolaborasi desain dilakukan oleh perusahaan dan pemasok dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas, mengurangi biaya, dan mengurangi tingkat kesalahan pada proses produksi dalam menciptakan produk yang diminta oleh pelanggan.

e. Kolaborasi penawaran (supply collaboration)

Kolaborasi penawaran merupakan salah satu kunci untuk bekerjasama melalui aliran material mapun aliran informasi mengenai keadaan pasar, sehingga dapat melakukan perencanaan bersama dalam menentukan jumlah penawaran sesuai dengan permintaan pasar.

Raharjo (2013) menyatakan bahwa, dengan mengelola kerjasama dan kolaborasi dalam proses Supplier Relationship Management (SRM) perusahaan dapat lebih fleksibel, menawarkan produk dengan tingkat kesalahan produk yang lebih rendah, menghilangkan penundaan yang tidak perlu, serta pengelolaan rantai pasok menjadi semakin efektif dan efisien sehingga dapat mendorong perusahaan untuk merespon kebutuhan konsumen dengan lebih baik daripada pesaing. Keberhasilan implementasi pengelolaan Supplier Relationship Management (SRM)

(24)

mensyaratkan berbagai hal yang harus dipenuhi, misalnya ketepatan dalam pemilihan pemasok serta tersedianya berbagai informasi yang dibutuhkan perusahaan agar dapat meminimalisasi resiko-resiko operasional, baik yang timbul dari masalah koordinasi penawaran dan permintaan maupun dari gangguan aktivitas lainnya.

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, Supplier Relationship Management (SRM) menjelaskan tentang interaksi antara perusahaan dengan pemasok yang mampu mendukung proses produksi untuk menghasilkan produk akhir yang berkualitas dengan biaya seefisien mungkin, sehingga diperlukan komitmen yang kuat dalam melakukan negosiasi yang saling menguntungkan agar dapat melakukan pembelian berulang dengan harapan perusahaan mendapatkan harga yang lebih rendah. Selain itu, kolaborasi yang baik antar keduanya dalam mendesain atau menentukan bahan baku yang sesuai dengan permintaan pelanggan akan mendukung kelancaran dalam proses produksi karena dapat meminimalisir tingkat kesalahan yang nantinya akan berkaitan dengan ketepatan jumlah dan waktu dalam pemenuhan permintaan pelanggan. Dengan kata lain, pengelolaan Supplier Relationship Management (SRM) yang baik akan menciptakan keunggulan kompetitif bagi perusahaan, berupa: kemampuan dalam menciptakan produk yang berkualitas, penawaran dengan harga yang relatif rendah, serta ketepatan jumlah dan waktu dalam pemenuhan permintaan pelanggan.

2. Manajemen Internal Rantai Pasok (Internal Supply Chain Management – ISCM ) Internal Supply Chain Management (ISCM) merupakan salah satu proses dalam analisis Supply Chain Management (SCM) yang sangat penting karena melibatkan kebijakan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda pada tiap bagian internal perusahaan, termasuk kebijakan dalam pengendalian persediaan dan pengadaan bahan baku untuk mendapatkan hasil yang optimal dengan biaya yang seefisien mungkin dalam berbagai perencanaan yang akan dilakukan

(25)

perusahaan dan pemenuhan permintaan pelanggan (Permana, 2011). Menurut Chopra dan Meindl (2007:15), proses kunci dalam Internal Supply Chain Management (ISCM) meliputi:

a. Perencanaan Strategis (Strategic Planning)

Perencanaan strategis merupakan proses manajerial untuk menghasilkan dan mempertahankan kesesuaian antara sasaran dan sumber daya yang dimiliki perusahaan dengan peluang pasar yang ada dengan tujuan menghasilkan laba dan partumbuhan jangka panjang.

b. Perencanaan Permintaan (Demand Planning)

Proses ini terdiri dari perhitungan peramalan permintaan dan menganalisis bagaimana pengaruh penerapan manajemen perusahaan terhadap permintaan pelanggan.

c. Perencanaan Penawaran (Supply Planning)

Proses supply planning berperan sebagai input dari peramalan permintaan yang dihasilkan oleh demand planning dan sebagai sumber daya yang disediakan oleh strategic planning, kemudian menghasilkan suatu rencana yang optimal untuk memenuhi permintaan.

d. Pemenuhan Kebutuhan Produksi (Fulfillment)

Ketika perencanaan permintaan dan penawaran telah dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana perusahaan melaksanakan perencanaan tersebut dalam pemenuhan kebutuhan produksi sebagai upaya memenuhi menciptakan produk sesuai keinginan dan harapan pelanggan.

e. Layanan Lapangan (Field Service)

Layanan lapangan adalah bagaimana suatu perusahaan dalam memberikan fasilitas seperti, pemeliharaan yang dilakukan perusahaan untuk persediaan bahan baku maupun

(26)

persediaan produk jadi yang tersimpan digudang, serta fasilitas dalam menanggung biaya yang dikeluarkan perusahaan baik untuk pemeliharaan maupun untuk mengirimkan persediaan dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian Permana (2011), perusahaan perlu menetapkan rencana strategis tergantung dari tipe produk yang tawarkan kepada pelanggan. Salah satunya adalah untuk menciptakan keunggulan bersaing perusahaan perlu menerapkan strategi yang tidak hanya menekankan pada efisiensi dalam proses produksi namun juga responsif terhadap permintaan pelanggan. Selain itu, hal terpenting dalam proses Internal Supply Chain Management (ISCM) adalah pengadaan bahan baku yang akan mendukung perusahaan dalam menetapkan perencanaan kebutuhan bahan baku, status persediaan di gudang, serta berbagai informasi dalam penjadwalan proses produksi.

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, dalam proses Internal Supply Chain Management (ISCM) memfokuskan perusahaan untuk menciptakan komitmen yang kuat pada seluruh bagian internal perusahaan guna menjalin kerjasama yang baik dalam menentukan dan melaksanakan berbagai perencanaan strategis, karena kesuksesan dalam proses internal perusahaan dapat dijadikan sebagai salah satu keunggulan kompetitif. Perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang tepat akan memudahkan perusahaan untuk menciptakan dan memenuhi kebutuhan pelanggan dengan biaya seefisien mungkin dalam menghasilkan produk, serta memberikan pelayanan yang optimal.

3. Manajemen Hubungan Pelanggan (Customer Realationship Management – CRM ) Menurut Suharto dan Devie (2013), Customer Relationship Management (CRM) adalah strategi yang berfokus pada penciptaan kepuasan pelanggan dan hubungan jangka panjang

(27)

dengan mengintegrasikan beberapa area fungsional perusahaan untuk meraih keunggulan bersaing, melalui proses kunci sebagai berikut (Chopra dan Meindl, 2007:15):

a. Pasar (Market)

Perusahaan perlu menentukan siapa saja yang akan menjadi pasarnya serta memastikan bahwa apa yang dipasok oleh pemasok mencerminkan aspirasi dari pelanggan.

Selanjutnya fungsi ini harus mampu mengidentifikasi karakteristik dan seluruh atribut produk yang diharapkan pelanggan tersebut.

b. Harga (Price)

Penetapan harga merupakan proses dimana perusahaan memutuskan seberapa besar membebankan biaya pada pelanggan untuk barang yang dihasilkan perusahaan tersebut.

c. Penjualan (Sell)

Proses ini menjabarkan bagaimana sistem penjualan yang digunakan oleh perusahaan, termasuk dalam menerapkan aktifitas penjualan, pendistribusian produk, dan layanan kepada pelanggan.

d. Pusat Informasi (Call Center)

Sebuah call center digunakan sebagai salah satu sarana antara perusahaan dan pelanggan dalam proses pemesanan, memecahkan masalah dan menyediakan informasi mengenai ketersediaan produk yang dibutuhkan pelanggan. Selain itu dapat memudahkan perusahaan dalam mengakses informasi tentang pelanggan dengan tujuan meningkatkan layanan dan menggunakan informasi kontak pelanggan sebagai target pemasaran.

e. Manajemen Pemesanan (Order Management)

(28)

Proses yang baik dalam mengatur pesanan pelanggan dapat mempermudah pelanggan untuk melacak pesanannya dan dapat membantu perusahaan dalam merencakan dan memenuhi pesanan tersebut.

Kelima proses tersebut melibatkan seluruh sumber daya untuk menjalin, mengelola dan mempertahankan hubungan perusahaan dengan pelanggan, sehingga memiliki hubungan yang lebih dekat dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan sebagai keunggulan dalam bersaing.

Penerapan proses Customer Relationship Management (CRM) dapat membantu perusahaan untuk mengenali kebiasaan dan kebutuhan pelanggan secara lebih detail sehingga perusahaan lebih dimudahkan dalam memberikan pelayanan yang dapat memaksimalkan kepuasan pelanggan (Ariyanti, 2006; Kanaidi dan Ari, 2010).

Perusahaan tentunya tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pelanggan saat ini, tetapi juga harus menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dalam jangka panjang agar pelanggan lebih setia pada perusahaan. Saat ini pelanggan semakin cerdas dalam memilih produk dan sadar terhadap harga serta lebih banyak menuntut sehingga tidak mudah bagi perusahaan untuk memuaskan pelanggan, sehingga perlu melakukan pengelolaan Customer Relationship Management (CRM) yang tepat karena mampu meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuan dalam mempertahankan pelanggan dan mencapai keunggulan kompetitif melebihi pesaing (Kalalo, 2013; Suharto dan Devie, 2013).

Menurut beberapa teori dan hasil penelitian terdahulu (Ariyanti, 2006; Kanaidi dan Ari, 2010; Kalalo, 2013; Suharto dan Devie, 2013) dapat disimpulkan bahwa, dalam Customer Relationship Management (CRM) yang menjadi fokus utamanya adalah bagaimana menciptakan komunikasi yang baik dengan pelanggan dalam jangka panjang, sehingga perusahaan dapat mengetahui tentang siapa pelanggannya, apa yang pelanggan inginkan, dan mengidentifikasi

(29)

bagaimana memenuhi kebutuhan pelanggan. Penerapan proses ini dapat membantu perusahaan untuk mempertahankan pelanggan melalui sistem penjualan yang tepat dalam kondisi pasar yang selalu berubah-ubah, menawarkan harga produk yang relatif lebih rendah dari pesaing, serta dituntut memiliki ketrampilan untuk melayani pelanggan dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan, sehingga perusahaan dapat menciptakan keunggulan kompetitif.

METODE PENELITIAN

Satuan Pengamatan dan Satuan Analisis

Satuan pengamatan dalam penelitian ini adalah Manajer Operasional dan Keuangan;

Manajer Produksi dan Pabrik; dan Manajer Export and Support Marketing, serta pelanggan sebagai narasumber. Dengan adanya berbagai keterbatasan maka tidak memungkinkan peneliti mencari narasumber pelanggan ekspor, sehingga salah satu sales lokal dipilih sebagai narasumber dalam penelitian ini.

Satuan analisis dalam penelitian ini adalah PT. Wirasta Guna Mandiri sebagai perusahaan ekspor yang bergerak dalam industri wood working.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder.

Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung di tempat penelitian. Data primer digunakan untuk mengetahui gambaran umum tentang perusahaan, tentang hubungan perusahaan dengan pemasok dalam mengatur pasokan bahan baku, serta informasi-informasi lain yang dibutuhkan dalam penelitian mengenai proses-proses dalam analisis Supply Chain Management (SCM) untuk mengetahui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh pelaku di sepanjang rantai nilai pada industri wood working dan PT. Wirasta Guna Mandiri sebagai wood working manufacturer.

(30)

Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara secara mendalam dan semi terstruktur kepada pemimpin dan manajer perusahaan, serta melakukan observasi atau pengamatan secara langsung aktivitas proses produksi pada PT.Wirasta Guna Mandiri. Data sekunder diperoleh dari perusahaan yang meliputi: frekuensi pembelian pada bahan baku; jumlah persediaan, perolehan, dan penggunaan bahan baku; jumlah penjualan; dan perhitungan real cost dalam penetapan harga jual.

Teknik Analisis

Untuk menjawab persoalan penelitian mengenai proses Supplier Relationship Management (SRM), Internal Supply Chain Management (ISCM), dan Customer Relationship Management (CRM) yang diterapkan oleh PT. Wirasta Guna Mandiri, digunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu analisis yang menggambarkan informasi berdasarkan fakta-fakta dan fenomena pada obyek penelitian dan selanjutnya diinterpretasikan berdasarkan kemampuan nalar peneliti dalam menghubungkan data dan informasi sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan (Nawawi dan Martini, 1994:73). Data dan informasi dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara secara mendalam (in-depth interview) kepada manajer perusahaan dan beberapa dokumentasi sebagai data pendukung dalam penelitian. Untuk memberikan gambaran data hasil penelitian maka dilakukan tahapan sebagai berikut :

1. Penyajian data, dalam tahapan ini peneliti menyajikan data dalam bentuk deskripsi yang terintegrasi. Data yang diperoleh dari hasil deskripsi akan dibandingkan dan dibahas berdasarkan landasan teori yang dikemukakan pada bab 2.

2. Penyajian hasil penelitian, dalam tahapan ini hasil penyajian data kemudian dirangkum dan diarahkan pada kesimpulan untuk menjawab masalah yang telah dikemukakan peneliti.

(31)

GAMBARAN OBYEK PENELITIAN

PT. Wirasta Guna Mandiri (PT. WGM) Sawmilling and Woodworking Industry yang berdiri pada tahun 1989 di Kawasan Industri Terboyo Blok KK No.11 Semarang ini merupakan perusahaan dalam bidang trading pengolahan kayu dengan memperkerjakan 257 karyawan yang berfokus untuk melayani pasar ekspor dengan penjualan produk berupa decking, fencing, beam, post, flooring, serta produk olahan kayu lainnya ke negara-negara Asia (China, Korea, Japan, Australia) dan Eropa (Belanda, Jerman, Polandia, Prancis, Italia, Inggris, Slovakia, Austria) serta sebagian kecil untuk melayani pasar lokal dengan penjualan berbagai produk ukuran lokal.

Struktur organisasi PT. WGM termasuk jenis struktur organisasi garis, yaitu organisasi PT. WGM dipimpin oleh Direktur Utama yang membawahi General Manager Divisi, Komisaris, dan Manager Divisi yang terbagi ke dalam empat kelompok Departemen. Struktur organisasi PT.

WGM dapat dilihat pada gambar berikut beserta tugas-tugasnya (lihat Lampiran 1) :

Gambar 1. Struktur organisasi PT. WGM Sawmilling and Woodworking Industry Sumber: Data Profil Perusahaan PT.WGM, 2014

DIREKTUR UTAMA Sigit Adjie S

KOMISARIS Punawedyawati

SEKRETARIS KOMISARIS & INTERNAL AUDITOR Rachmanto Laksono AKA

EXPORT & SUPPORT MARKETING Irawan Gunadi MANAGER DIVISI

ADMINISTRASI & UMUM PRODUKSI & PABRIK

Salim OPERASIONAL & KEUANGAN

Doddy Iskandar

GENERAL MANAGER Siswanto

Operasional

Administrasi Accounting

Loging & Sawmill

Sugiono Adm Umum

Adm. Inventory Control

Adm. Kepegawaian &

Kasir Cutting & Moulding

Ahmad Tohir Finishing & Packaging

Ngatno

Adm. Export Andi Wardhana Stok Finish Product &

Gudang Marketing & Product

Knowledge

(32)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Adapun tiga aspek dari hasil penelitian dan pembahasan mengenai Supply Chain Management (SCM) berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Chopra dan Meindl (2007:15) pada industri wood working dalam rangka meningkatkan Competitive Advantages yang diterapkan oleh PT. Wirasta Guna Mandiri (PT. WGM) sebagai perusahaan pengolahan kayu ekspor yang telah beroperasi selama 25 tahun, adalah sebegai berikut:

1. Supplier Relationship Management (SRM)

Penelitian ini mendeskripsikan lima proses kunci dalam menerapkan Supplier Relationship Management (SRM) pada PT. WGM, yang meliputi:

A. Sumber Daya (resource)

Sumber daya berupa bahan baku kayu yang dipasok oleh pemasok merupakan salah satu faktor utama yang dibutuhkan dalam melakukan proses produksi yang didukung dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki oleh PT. WGM, seperti jumlah modal dan mesin (lihat Lampiran 2) yang digunakan dalam berproduksi dengan jumlah tertentu. Kapasitas hasil produksi yang ditetapkan oleh Dinas Perindustrian Kota Semarang dalam Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri (RPBBI) untuk PT. WGM adalah 18.000m3 per tahun, penetapan tersebut didasarkan pada kapasitas pabrik dan sumber daya yang dimiliki perusahaan.

Beberapa pertimbangan yang digunakan PT. WGM dalam melakukan pembelian bahan baku pada pemasok adalah kesanggupan dalam memenuhi kuantitas permintaan pasokan dan spesifikasi bahan baku yang meliputi diameter, kualitas, dan jenis kayu. Jenis bahan baku kayu yang digunakan PT. WGM dalam proses produksinya adalah jenis kayu keras yang terdiri dari kayu bangkirai, merbau, meranti, meranti batu, kruwing, dan kempas. Berikut ini adalah proporsi penggunaan bahan baku dalam berproduksi menurut jenisnya:

(33)

Tabel 1. Proporsi Penggunaan Bahan Baku Menurut Jenisnya

NO JENIS KAYU KAPASITAS (m3) JUMLAH (m3) (%)

1 Bangkirai 19.692,96

37.292,64 75,98%

2 Merbau 17.599,68

3 Meranti 3.768,11

11.791,96 24,08%

4 Meranti Batu 2.869,68

5 Kruwing 2.377,92

6 Kempas 2.786,22

TOTAL 49.084,60 100%

Sumber: Data Penggunaan Bahan Baku Kayu PT. WGM, 2013

Tabel diatas menunjukkan bahwa PT. WGM dalam melakukan proses produksi pada tahun 2013 menggunakan jenis kayu bangkirai dan merbau sebanyak 37.292,64 m3 atau 75,98%, sedangkan penggunaan jenis kayu lainnya sebanyak 11.791,96 m3 atau 24,02% dari total penggunaan bahan baku keseluruhan yaitu 49.084,60 m3. Pemenuhi kebutuhan bahan baku PT.

WGM bersumber dari sejumlah pemasok, seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2. Daftar Pemasok Berdasarkan Jenis Bahan Baku Kayu

No. Jenis Kayu Nama Pemasok Lokasi

1 Bangkirai PT. Mandiri Timber Pratama Jawa Tengah

2 Merbau PT. Multi Wahana Wijaya Papua Barat

3 Meranti PT. Sinar Mas Forestry Jambi

4 Meranti Batu PT. Sinar Mas Forestry Jambi

5 Kruwing PT. Sinar Mas Forestry Jambi

6 Kempas PT. Sinar Mas Forestry Jambi

Sumber: Wawancara Pada PT.WGM, 2014

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa PT. WGM memiliki prosentase ketergantungan terhadap PT. Sinar Mas Forestry yang lebih tinggi dibanding dengan pemasok lainnya karena mampu memasok empat jenis bahan baku kayu yang berbeda, sedangkan dua jenis kayu yang lainnya diperoleh dari dua pemasok yang berbeda pula, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hampir masing-masing jenis kayu hanya diperoleh melalui satu pemasok saja.

Hal ini merupakan kelemahan bagi PT. WGM karena memiliki daya tawar yang lemah dalam mendapatkan bahan baku tersebut.

(34)

B. Negosiasi (negotiate)

Berikut ini adalah diagram yang menggambarkan langkah-langkah PT. WGM dalam melakukan kesepakatan negosiasi dengan pemasok bahan baku :

Gambar 2. Proses Negosiasi PT. WGM dengan Pemasok Sumber: Wawancara pada PT.WGM, 2014

Proses negosiasi dilakukan oleh Bapak Sigit Adjie, yaitu Direktur Utama PT. WGM, karena Bapak Sigit dianggap ahli dalam melakukan negosiasi dan bertanggungjawab penuh terhadap hasil negosiasi sehingga tidak perlu melibatkan manajer lain dalam melakukannya.

Penentuan kesepakatan harga yang berlaku dalam proses negosiasi pada umumnya berdasarkan harga patokan dari dinas kehutanan setempat atau sesuai harga yang ditawarkan pemasok dengan mempertimbangkan diameter, kualitas, kuantitas, dan jenis kayu serta tentunya harus disesuaikan dengan anggaran perusahaan dalam melakukan pembelian. Setelah proses negosiasi menghasilkan kesepakatan bagi kedua belah pihak antara pemasok dan Direktur Utama PT.

WGM, kemudian diserahkan kepada Bapak Doddy Iskandar sebagai Manajer Keuangan untuk mempersiapkan anggaran dalam melakukan pembayaran dengan sistem yang diberlakukan sama untuk seluruh pemasok PT. WGM, yaitu dengan pembayaran uang muka 30% dari total pembelian, 20% pembayaran selanjutnya dilakukan pada saat kayu diatas tongkang dengan full set dokumen pengangkutan, dan kemudian pembayaran 50% sebagai pelunasan dilakukan pada saat tongkang berangkat.

(35)

Salah satu kendala yang pernah terjadi pada PT. WGM dalam melakukan negosiasi dengan pemasok adalah penetapan dalam pembayaran uang muka. Pada dasarnya perubahan harga pokok kayu tidak terlalu signifikan, harga bahan baku menjadi tinggi dikarenakan pembengkakan pada biaya operasional yang digunakan untuk menyelesaikan perijinan dalam penebangan kayu oleh pemasok pada pihak setempat, selain itu juga digunakan dalam pemeliharaan bahan baku yang lokasi penebanganya terlalu jauh dari tongkang sehingga memerlukan waktu yang lebih lama serta transportrasi yang lebih rumit. Menurut Bapak Doddy Iskandar sebagai Manajer Operasional dan Keuangan, “Permasalahan lain yang tidak dapat dihindari adalah kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti permasalahan yang terjadi ketika PT.

WGM melakukan pemesanan bahan baku dari pemasok yang berada di Jambi, terjadi keterlambatan waktu hingga empat bulan, sehingga berdampak pada biaya operasional yang semakin tinggi dan menggangu jalannya proses produksi”.

Penyelesaian yang dilakukan oleh PT.WGM dan pemasok setelah terjadi permasalahan tersebut adalah dengan cara pembayaran ganti rugi sesuai dengan kesepakatan dan melakukan evaluasi bersama sehingga dapat diketahui penyebab utamanya yaitu permasalahan mengenai cuaca dan lokasi penebangan kayu. Hasil evaluasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam melakukan pembelian bahan baku kayu selanjutnya agar tidak menyebabkan permasalahan yang sama.

C. Pembelian (buy)

Dalam proses pembelian bahan baku, PT. WGM melakukan pembelian berulang pada ketiga pemasok yang telah disebutkan pada proses sebelumnya, dan memiliki jumlah pembelian jenis kayu bengkirai dan merbau terbanyak, yaitu pada pemasok PT. Mukti Wahana Wijaya (Papua Barat) dan PT. Mandiri Timber Pratama (Jawa Tengah), karena kedua jenis kayu tersebut

(36)

merupakan bahan baku yang paling banyak digunakan dalam proses produksi, sedangkan PT.

Sinar Mas Forestry merupakan pemasok yang sanggup menyuplai empat jenis bahan baku kayu yang berbeda, yaitu: meranti; meranti batu; kruwing; dan kempas.

Keputusan dalam melakukan pembelian bahan baku didasarkan pada kebutuhan yang digunakan dalam proses produksi dengan melihat permintaan pasar, serta disesuaikan agar kapasitas produksi yang dihasilkan tidak lebih atau tidak kurang 30% dari kapasitas RPBBI yang telah ditetapkan. Pada tahun 2013, PT. WGM menghasilkan total produksi sebanyak 22.710,99 m3 atau 21% diatas angka RPBBI, sehingga PT. WGM tidak perlu melakukan pelaporan ulang dan merubah RPBBI kepada Dinas Perindustrian Kota Semarang.

Menurut Bapak Irawan Gunadi, permasalahan yang pernah terjadi pada PT.WGM dalam proses pembelian bahan baku adalah adanya ketidaksesuaian mengenai kualitas bahan baku, harga, dan ketepatan dalam pengiriman pesanan dengan kesepakatan yang berlaku pada proses pembelian sebelumnya. Permasalahan semacam ini biasanya akan selesaikan dengan melakukan negosiasi ulang sehingga menghasilkan kesepakatan dalam pembayaran ganti rugi oleh pihak pemasok.

Meskipun terjadi permasalahan tersebut, namun PT.WGM tetap melakukan pembelian berulang dan mempercayakan kepada ketiga pemasoknya karena dianggap mampu dan sanggup dalam memenuhi permintaan bahan baku sesuai kebutuhan produksi sehingga PT. WGM dapat memenuhi pesanan pelanggan dengan tepat waktu.

D. Kolaborasi desain (design collaboration)

Kolaborasi desain dilakukan oleh PT. WGM dan pemasok dengan cara menyesuaikan bahan baku yang disuplai berdasarkan karakteristik produk yang diminta oleh pasar khususnya pada pasar ekspor, misalnya karakteristik jenis bahan baku dengan ukuran maupun desain

(37)

tertentu, sedangkan untuk pasar lokal yang dilayani tidak mempunyai karakteristik produk tertentu sehingga tidak memerlukan desain khusus dalam memproduksinya. Selain itu, produk kayu lokal yang dihasilkan merupakan sisa bahan baku yang tidak digunakan dalam memproduksi produk ekspor (lihat Lampiran 3).

Tujuan dilakukannya kolaborasi desain dengan pemasok bahan baku adalah untuk menyesuaikan bahan baku yang diperoleh dengan karakteristik produk yang diminta pelanggan khususnya pada pasar ekspor, sehingga PT. WGM dapat meminimalisasi tingkat kesalahan dalam berproduksi dan menciptakan efisiensi yang pada akhirnya akan berdampak pada penciptaan competitive advantage bagi perusahaan. Sebagai contoh, dalam memenuhi permintaan pasar Eropa, PT. WGM memerlukan jenis kayu yang kuat, tahan lama, dan berkualitas tinggi, sedangkan pasar Asia lebih mudah menerima produk dengan berbagai jenis kayu, sehingga pemasok menyuplai bahan baku sesuai dengan pasar yang dilayani PT. WGM.

E. Kolaborasi penawaran (supply collaboration)

PT. WGM tidak melakukan kolaborasi penawaran dengan pemasok karena hanya dengan melakukan kolaborasi desain sudah cukup untuk mendukung PT. WGM dalam melayani pasar, baik berkaitan dengan karakteristik, kualitas, maupun kuantitas produk yang diminta. Selain itu, dengan tidak melakukan kolaborasi penawaran tidak akan mengurangi efisiensi perusahaan, karena setiap negara mempunyai siklus permintaan yang relatif sama dan musim yang selalu berulang setiap tahunnya atau pada bulan tertentu, seperti yang terlihat pada siklus jumlah hasil produksi bulan januari 2012 hingga juni 2014 yang menggambarkan jumlah permintaan pasar, yaitu terjadi low-season pada bulan Oktober hingga Maret dan high-season pada bulan April hingga September (lihat Lampiran 4). Selain itu, dengan adanya kesepakatan kontrak kerjasama secara parsial dalam melakukan pengiriman pesanan rata-rata dua kontainer untuk masing-

(38)

masing buyer pada pasar ekspor, memudahkan PT. WGM untuk melakukan estimasi jumlah produk yang harus dihasilkan dalam memenuhi permintaan pasar.

2. Internal Supply Chain Management (ISCM)

Penelitian ini mendeskripsikan lima proses kunci dalam menerapkan Internal Supply Chain Management (ISCM) pada PT. WGM, yang meliputi:

A. Perencanaan Strategis (Strategic Planning)

Berbagai perencanaan strategis yang dilakukan oleh PT. WGM didasarkan pada hasil diskusi para manager mengenai analisis SWOT perusahaan yang tertulis pada tabel berikut ini:

Tabel 3. Analisis SWOT PT. Wirasta Guna Mandiri

FAKTOR INTERNAL

STRENGTHS (S) WEAKNESSES (W)

1. Berpengalaman dalam melayani pasar lokal dan ekspor selama +/- 25 tahun

2. Memiliki kekuatan hukum sebagai badan usaha yang jelas sehingga memudahkan perusahaan dalam beroperasi

3. Adanya dukungan mesin yang berkualitas 4. Memiliki produk yang berkualitas tinggi 5. Menjalin hubungan yang baik dengan pemasok dan pelanggan

6. Produk yang ditawarkan memiliki harga yang bersaing

1. Tempat yang kurang luas menyebabkan kapasitas produksi terbatas

2. Jaringan distribusi untuk pasar lokal kurang luas, hanya melayani beberapa kota di Jawa Tengah

3. Kurang memanfaatkan adanya

perkembangan teknologi informasi untuk merancang program khusus dalam mendukung eksistensi perusahaan

FAKTOR EKSTERNAL

OPPORTUNITIES (O) THREATS (T)

1. Terbukanya pasar ekspor

2. Peluang usaha yang semakin lebar karena banyak bisnis dalam industri sejenis yang gulung tikar

3. Kebutuhan masyarakat akan barang dan produk kayu semakin meningkat

4. Selera pelanggan semakin berkembang

1. Banyaknya perusahaan lain yang sudah memanfaatkan perkembangan teknologi informasi

2. Keadaan alam atau cuaca yang tidak

menentu sehingga dapat mengganggu jalannya proses pendistribusian bahan baku dan pesanan 3. Maraknya penebangan liar yang

menyebabkan ketersediaan bahan baku kayu yang berkualitas unggul semakin menipis 4. Kondisi nilai tukar yang tidak stabil Sumber: Wawancara pada PT. WGM, 2014

(39)

Berdasarkan tabel diatas yang menjelaskan tentang faktor internal perusahaan yang meliputi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses), serta faktor eksternal perusahaan yang meliputi peluang (opportunities) dan ancaman (threaths), maka dapat disusun berbagai keputusan perencanaan strategis sebagai berikut:

A. Strategi Strengths – Opportunities (S - O)

1. Dengan adanya kekuatan internal perusahaan, yaitu pengalaman dalam melayani pasar ekspor selama kurang lebih 25 tahun dan memiliki kekuatan hukum usaha yang jelas sehingga dapat memudahkan PT. WGM dalam menjalankan bisnisnya, serta didukung adanya kesempatan dengan terbukanya pasar ekspor, maka PT. WGM saat ini berupaya untuk melayani pasar ekspor yang lebih luas. (S1 , S2 ; O1)

2. Tersedianya faktor produksi berupa mesin yang berkualitas dan sumber daya manusia yang memadai dapat membantu perusahaan dalam menciptakan produk berkualitas tinggi sebagai kekuatan bagi perusahaan untuk menciptakan produk olahan kayu dalam melayani kebutuhan pasar yang semakin meningkat dan selera yang semakin berkembang, sehingga PT.

WGM perlu mempertahankan dan meningkatkan faktor produksi maupun hasil produksinya. (S3 , S5 ; O3 , O4)

3. Keberhasilan PT. WGM dalam menjalin kerjasama yang baik dengan pemasok berdampak pada pencapaian efisiensi, sehingga saat ini PT. WGM dapat menawarkan produk kepada pelanggan dengan harga yang bersaing, maka strategi selanjutnya yang perlu dilakukan oleh PT. WGM adalah berupaya mempertahankan efisiensi dan mengembangkan bisnisnya karena banyak perusahaan dalam industri wood working yang gulung tikar. (S5 , S6 ; O2)

B. Strategi Strengths – Threaths (S – T)

(40)

1. PT. WGM telah berpengalaman dalam melayani pasar ekspor maupun pasar lokal serta mempunyai hubungan baik dengan pemasok dan pelanggan, hal tersebut merupakan kekuatan bagi PT. WGM dalam menghadapi ancaman dalam bisnis berupa keadaan alam yang tidak menentu dan maraknya penebangan liar yang menyebabkan ketersediaan bahan baku kayu berkualitas unggul semakin menipis, sehingga dapat mengganggu jalannya proses produksi. (S1 , S5 ; T2 , T3)

2. Hubungan kerjasama yang baik antara PT. WGM dan pelanggan ekspornya, memudahkan perusahaan dalam membentuk kontrak penjualan, termasuk mengenai kesepakatan nilai tukar yang berlaku dalam proses penjualan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak meskipun kondisi nilai tukar selalu berfluktuatif. (S5 ; T4)

C. Strategi Weaknesses – Opportunities (W – O)

1. Faktor internal perusahaan sebagai kelemahan yang dimiliki PT. WGM adalah pabrik yang kurang luas, namun permintaan pasar yang semakin meningkat, sehingga menyebabkan kapasitas produksi menjadi terbatas. Untuk mengantisispasi permasalahan tersebut, PT. WGM telah menjalankan pembangunan lokasi pabrik (lihat Lampiran 5) sejak beberapa tahun lalu dan direncanakan akan mengoperasikan pabrik untuk menyimpanan persediaan dan menampung kapasitas produksi yang lebih banyak maupun sebagai tempat dalam berproduksi pada akhir tahun 2014 ini, sehingga PT. WGM dapat melayani pasar lebih banyak dengan menyesuaikan kebutuhan dan selera pelanggan yang semakin berkembang. (W1 ; O2 , O3 , O4)

2. Fokus dalam melayani pasar ekspor menyebabkan PT. WGM tidak mengembangkan distribusi pasar lokal karena PT. WGM telah menggunakan seluruh perolehan bahan baku untuk menciptakan produk ekspor, namun dengan adanya pembangunan lokasi pabrik yang baru maka PT. WGM perlu menyusun perencanaan strategis dalam meningkatkan kapasitas produksi dan

(41)

memperluas jaringan distribusi pasar lokal hingga luar Jawa Tengah, mengingat bahwa terbukanya peluang usaha dalam industri wood working yang semakin lebar dan adanya kebutuhan pelanggan yang semakin meningkat. (W2 ; O2 , O3)

D. Strategi Weaknesses – Threaths (W – T)

1. PT. WGM perlu memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dengan pembuatan website dan program-program pendukung lainnya yang dapat memudahkan pelanggan untuk mengakses informasi tentang perusahaan khususnya pelanggan ekspor, karena dengan upaya meningkatkan layanan yang maksimal maka perusahaan akan lebih mudah dalam mempertahankan pelanggan yang potensial seperti yang telah dilakukan banyak perusahaan lain yang telah memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. (W3 ; T1)

2. PT. WGM perlu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan distribusi pasar lokal, sehingga PT. WGM diharapkan tidak hanya mengandalkan hasil penjualan ekspor ketika nilai tukar tidak stabil. (W2 ; T4)

Berdasarkan hasil analisis SWOT diatas dapat diambil kesimpulan bahwa PT. WGM memiliki berbagai kekuatan dan kelemahan sebagai faktor internal perusahaan seperti adanya pengalaman dalam melayani pasar lokal maupun ekspor dan dukungan faktor produksi yang memadai. Selain itu, adanya dukungan dari pemasok bahan baku dalam proses produksi yang memberikan dampak pada pencapaian efisiensi, sehingga dapat mendorong PT. WGM dalam meningkatkan competitive advantage melalui penciptaan produk yang berkualitas dengan penawaran harga yang kompetitif kepada pelanggan.

(42)

B. Perencanaan Permintaan (Demand Planning); Perencanaan Penawaran (Supply Planning); dan Pemenuhan Kebutuhan Produksi (Fulfillment)

Perencanaan permintaan, perencanaan penawaran, dan pemenuhan kebutuhan bahan baku dalam berproduksi merupakan ketiga proses yang saling berkaitan. Seperti yang telah dijelaskan pada proses sebelumnya bahwa PT. WGM tidak melakukan proses penawaran produk kepada pelanggan secara khusus, sehingga untuk melakukan perencanaan strategis dalam menghadapi pasar didasarkan pada kontrak yang telah disepakati antara PT. WGM degan buyer, serta kemampuan PT.WGM dalam mengestimasikan permintaan pelanggan dengan cara melihat siklus permintaan yang cenderung sama pada priode-periode sebelumnya serta melihat hasil penjualan secara ril (lihat Lampiran 4). Berikut ini adalah siklus hasil penjualan secara keseluruhan pada Januari 2012 hingga Juni 2014:

Tabel 4. Total Penjualan per Bulan Tahun

2012 2013 2014

Bulan

Januari 931.85 m3 1,136.22 m3 1039.09 m3 Februari 910.94 m3 1,260.53 m3 980.23 m3 Maret 935.52 m3 1,129.89 m3 1768.32 m3 April 1,520.45 m3 1,495.44 m3 1798.39 m3 Mei 1,993.49 m3 2,635.58 m3 2509.01 m3 Juni 2,008.50 m3 2,703.39 m3 2599.2 m3 Juli 2,293.40 m3 2,761.41 m3 - Agustus 2,332.64 m3 2,620.60 m3 - September 2,131.49 m3 1,860.07 m3 - Oktober 1,128.30 m3 1,565.09 m3 - November 986.34 m3 1,340.91 m3 - Desember 1,017.38 m3 1,218.70 m3 - Sumber: Data Penjualan PT. WGM Tahun 2012-2014

(43)

Gambar 3. Siklus Penjualan Tahun 2012 – 2014

Sumber: Data Penjualan PT. WGM Tahun 2012-2014

Data diatas menunjukkan jumlah penjualan tahun 2012 hingga 2014 memiliki tren up- ward. Berdasarkan siklus diatas dapat dilihat bahwa peningkatan penjualan terjadi pada bulan April dan pada bulan Mei hingga September cenderung stabil dengan rata-rata penjualan 2.334,05 m3, sedangan bulan Oktober mulai mengalami penurunan rata-rata hingga 19,7% dari bulan sebelumnya, hal tersebut dikarenakan pasar Eropa telah memasuki musim dingin dimana jumlah permintaan produk kayu tidak sebanyak pada bulan sebelumnya.

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, jumlah permintaan ekspor mengalami high-season pada bulan April hingga September dan low-season pada bulan Oktober hingga Maret. Menurut Bapak Irawa Gunadi, siklus permintaan tersebut berulang setiap tahunnya, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu dasar bagi perusahaan dalam melakukan perencanaan jumlah produksi, khususnya untuk melayani pasar ekspor, sedangkan pemenuhan permintaan pasar lokal mengikuti dari hasil perencanaan produksi pasar ekspor. Selain itu,

- 500,00 1.000,00 1.500,00 2.000,00 2.500,00 3.000,00

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

2012 2013 2014

Total Penjualan per Bulan

(44)

jumlah permintaan yang dilakukan oleh pasar ekspor juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.

Sebagai contoh, apabila suatu negara tujuan ekspor sedang terjadi krisis ekonomi yang berkaitan dengan melemahnya nilai tukar, menyebabkan daya beli suatu negara mengalami menurun, sehingga informasi tersebut dapat membantu PT. WGM dalam merealisasikan perencanaan meskipun permasalahan mengenai nilai tukar sudah ditentukan dalam kesepakatan kontrak.

Dalam proses pemenuhan kebutuhan produksi (fulfillment) yang telah dilakukan oleh PT.

WGM sebelumnya, perusahaan melakukan pembelian ataupun menyediakan jumlah bahan baku sebanyak dua hingga tiga kali lipat dari perkiraan kapasitas produk yang akan dihasilkan, karena tidak semua bahan baku kayu mentah dapat diproduksi sepenuhnya. Berikut ini adalah contoh ringkasan jumlah persediaan awal, penggunaan bahan baku, hasil produksi, hasil penjualan, dan jumlah persediaan akhir pada PT. WGM tahun 2012 - 2013:

Tabel 5. Rekap Bahan Baku, Hasil Produksi, Hasil Penjualan, dan Jumlah Persediaan

KETERANGAN KAPASITAS

Tahun 2012 Tahun 2013

Persediaan Awal 729,54 m3 755,34 m3

Penggunaan Bahan Baku 40.061,69 m3 49.084,60 m3

Total Produksi 18.945,64 m3 22.710,99 m3

Total Penjualan 18.190,30 m3 21.727,83 m3

Persediaan Akhir 755,34 m3 983,16 m3

Sumber: Data Penggunaan Bahan Baku PT. WGM, 2012 - 2013

Tabel diatas menjelaskan bahwa PT. WGM menggunakan bahan baku kayu rata-rata sebanyak 44.573,15m3 dalam melakukan proses produksi selama satu tahun. Dari sejumlah bahan baku kayu yang digunakan tersebut hanya dapat menghasilkan total produk rata-rata 20.828,32m3 atau 46,7% dari total bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan produk ekspor dan produk lokal dengan total penjualan rata-rata 19.959,06m3 per tahun. Dari hasil produksi yang dilakukan PT.WGM pada tahun 2013 mempunyai sisa produk yang tidak terjual sebanyak 983.156m3. Sisa produk tersebut akan menjadi persediaan awal pada tahun 2014 yang

Figure

Gambar 1. Struktur organisasi PT. WGM  Sawmilling and Woodworking Industry  Sumber: Data Profil Perusahaan PT.WGM, 2014

Gambar 1.

Struktur organisasi PT. WGM Sawmilling and Woodworking Industry Sumber: Data Profil Perusahaan PT.WGM, 2014 p.31
Tabel 1. Proporsi Penggunaan Bahan Baku Menurut Jenisnya

Tabel 1.

Proporsi Penggunaan Bahan Baku Menurut Jenisnya p.33
Gambar 2. Proses Negosiasi PT. WGM dengan Pemasok  Sumber: Wawancara pada PT.WGM, 2014

Gambar 2.

Proses Negosiasi PT. WGM dengan Pemasok Sumber: Wawancara pada PT.WGM, 2014 p.34
Tabel 3. Analisis SWOT  PT. Wirasta Guna Mandiri

Tabel 3.

Analisis SWOT PT. Wirasta Guna Mandiri p.38
Tabel 4. Total Penjualan per Bulan  Tahun  2012  2013  2014  Bulan  Januari            931.85 m 3        1,136.22 m 3 1039.09 m 3 Februari            910.94 m 3           1,260.53 m 3 980.23 m 3 Maret            935.52 m 3        1,129.89 m 3 1768.32 m 3 A

Tabel 4.

Total Penjualan per Bulan Tahun 2012 2013 2014 Bulan Januari 931.85 m 3 1,136.22 m 3 1039.09 m 3 Februari 910.94 m 3 1,260.53 m 3 980.23 m 3 Maret 935.52 m 3 1,129.89 m 3 1768.32 m 3 A p.42
Gambar 3. Siklus Penjualan Tahun 2012 – 2014

Gambar 3.

Siklus Penjualan Tahun 2012 – 2014 p.43
Tabel 5. Rekap Bahan Baku, Hasil Produksi, Hasil Penjualan, dan Jumlah Persediaan

Tabel 5.

Rekap Bahan Baku, Hasil Produksi, Hasil Penjualan, dan Jumlah Persediaan p.44
Tabel 6. Perhitungan Harga Jual Produk Ekspor  Decking 28x145 Bangkirai

Tabel 6.

Perhitungan Harga Jual Produk Ekspor Decking 28x145 Bangkirai p.49
Tabel 7. Penentuan Harga Jual  Produk Olahan Kayu Lokal Jenis Bengkirai

Tabel 7.

Penentuan Harga Jual Produk Olahan Kayu Lokal Jenis Bengkirai p.50
Gambar 4. Diagram Saluran Distribusi Penjualan PT. Wirasta Guna Mandiri  Sumber: Wawancara pada PT

Gambar 4.

Diagram Saluran Distribusi Penjualan PT. Wirasta Guna Mandiri Sumber: Wawancara pada PT p.51
Gambar 5. Proses Manajemen Pemesanan  PT. WGM  Sumber: Wawancara pada PT.WGM, 2014

Gambar 5.

Proses Manajemen Pemesanan PT. WGM Sumber: Wawancara pada PT.WGM, 2014 p.54
Gambar 1. Struktur organisasi PT. WGM  Sawmilling and Woodworking Industry  Sumber: Data Profil Perusahaan PT.WGM, 2014

Gambar 1.

Struktur organisasi PT. WGM Sawmilling and Woodworking Industry Sumber: Data Profil Perusahaan PT.WGM, 2014 p.62

References

Related subjects :