• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR DAN PENGESAHAN KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR DAN PENGESAHAN KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

KATA PENGANTAR DAN PENGESAHAN

KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI

Menunjuk Surat Keputusan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai nomor KEP-46/PP.5/2012 tanggal 23 April 2012 hal Pembentukan Tim Penyusunan Modul Pendidikan dan Pelatihan pada Pusdiklat Bea dan Cukai Tahun Anggaran 2012, maka kepada Sdr. Dedi Abdul Hadi, S.H., M.Si telah ditugaskan menyusun Modul Rules of Origin untuk Workshop Rules Of Origin.

Oleh karena modul sebagaimana terlampir telah diseminarkan dan telah dilakukan perbaikan sesuai dengan masukan dan saran hasil seminar, serta mengacu pada peraturan penyusunan modul yang berlaku, maka dengan ini kami nyatakan Modul tersebut sah dan layak untuk menjadi Modul Workshop Rules Of Origin di lingkungan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan.

Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada penyusun dan semua pihak yang telah membantu penyelesaian modul tersebut.

Demikian kata pengantar dan pengesahan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, Desember 2012 Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai

Agus Hermawan  

(4)

Daftar Isi ... i

Petunjuk Penggunaan Modul ... iii

Peta Konsep ... iv

A. Pendahuluan ... 1

1. Deskripsi Singkat ... 1

2. Prasyarat Kompetensi ... 8

3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ... 9

4. Relevansi Modul ... 9

B. Kegiatan Belajar ... 11

Kegiatan Belajar 1 Pengertian Rules of Origin

1.1 Uraian dan Contoh ... 11

A. Pengertian ROO ... 12

B. Fungsi ROO ... 17

1. ROO untuk Tujuan non Preferensi ... 18

2. ROO untuk Tujuan Preferensi ... 22

C. Komponen ROO ... 23

1. Origin Criteria ... 23

2. Direct Consignment Criteria ... 25

3. Procedural Provision ... 26

1.2 Latihan ... 28

1.3 Rangkuman ... 29

1.4 Tes Formatif 1 ... 30

1.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 31

Kegiatan Belajar 2 Wholly Obtained atau Wholly Produced

2.1 Uraian dan Contoh ... 32

1. Tanaman dan produk Tanaman ... 34

2. Binatang Hidup ... 36

DAFTAR ISI

(5)

3. Produk dari Binatang Hidup ... 37

4. Produk hasil berburu atau memancing dan kegiatan lainnya ... 38

5. Produk mineral dari dalam tanah, air, atau dasar laut ... 38

6. produk hasil tangkapan di laut dengan kapal negara yang bersangkutan ... 40

7. produk factory ship atas hasil tangkapan tersebut butir 6 ... 42

8. sisa dan buangan pabrik/sampah, serta barang-barang bekas ... 43

9. barang-barang yang dihasilkan dari produk-produk di atas ... 44

2.2 Latihan ... 45

2.3 Rangkuman ... 47

2.3 Tes Formatif ... 47

2.4 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 49

Kegiatan Belajar 3 Not Wholly Obtained/ Wholly Produced

3.1 Uraian dan Contoh ... 50

A. Regional Value Content ... 55

B. Change Tariff Classification ... 49

C. Product Specific Rules ... 66

3.2 Laatihan ... 69

3.3 Rangkuman ... 70

3.3 Tes Formatif 3 ... 73

3.4 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 75

Penutup ... 76

Tes Sumatif ... 77

Kunci Jawaban ... 78

Daftar Pustaka ... 90

(6)

Untuk dapat memahami modul ini secara benar, maka peserta diklat diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 3.

Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini:

1. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut;

2. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut);

3. Lakukan review materi secara umum, dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini;

4. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari;

5. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini.

6. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut, apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 71, maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya, namun apabila diperoleh angka di bawah 71, maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 71.

7. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan.

8. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini 9. Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif, apabila

ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 71 maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari kegiatan belajar

PETUNJUK PENGGUNAAN

MODUL

(7)

Rules  Of  Origin  

Pengertian ROO  

Fungsi ROO  

1.  PENGERTIAN  ROO  

3.  NOT  WHOLLY   OBTAINED/  

WHOLLY  PRODUCED   2.    WHOLLY  PBTAINED  

ATAU  WHOLLY   PRODUCED  

Komponen ROO  

Binatang Hidup  

Tanaman dan produk Tanaman  

Produk dari Binatang Hidup    

Produk hasil berburu atau memancing dan kegiatan lainnya  

Produk mineral dari dalam tanah, air, atau dasar laut  

sisa dan buangan pabrik/sampah, serta barang-barang bekas  

 

produk hasil tangkapan di laut dengan kapal negara yang bersangkutan  

 

barang-barang yang dihasilkan dari produk-produk di atas  

  RVC   CTC   produk factory ship atas hasil tangkapan tersebut butir 6  

 

PSR  

   

PETA KONSEP

(8)

A.  PENDAHULUAN  

1. Deskripsi Singkat

Sejak ditandatanganinya the Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation tanggal 1 Januari 1992, yang ditindaklanjuti dengan penandatanganan the Agreement On The Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Scheme For The ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tanggal 28 January 1992 di Singapore, mulailah Indonesia memasuki dunia liberalisasi perdagangan, yaitu suatu era yang disebut perdagangan bebas yang meniadakan keberadaan tarif bea masuk, khususnya. Saat ini Indonesia telah terlibat dalam beberapa skema FTA, yaitu :

Ø ASEAN Free Trade Area (AFTA).

Ø ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) Ø ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA)

Ø ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) Ø ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) Ø ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA)

Ø Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA)

Inti dari skema FTA yang diikuti oleh Indonesia di atas, dalam hal ini terkait perdagangan barang (trade in goods), adalah pemberian tarif istimewa atau preferential tariff atas barang yang diperdagangkan antara para pihak dari skema FTA di atas, dengan besaran bea masuk 0% atau lebih kecil dari tarif normal atau Most Favorable Nation (MFN).

Keterlibatan Indonesia dalam skema Free Trade Area (FTA) di atas tentunya tidak semata-mata karena adanya kesepakatan penurunan tarif, tetapi mempertimbangkan banyak hal, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun sosial.

Oleh karena itu apabila kita perhatikan tentang besaran tarif dari masing-masing pos tarif, akan terlihat bahwa tidak semua usulan sektor dari semua negara dapat terakomodasi di dalam skema FTA, hal ini disebabkan adanya proses

(9)

negosiasi dengan seluruh anggota FTA, sehingga untuk beberapa hal masing- masing negara harus ada yang menyesuaikan dengan usulan negara lain.

Sekalipun terdapat beberapa pertimbangan yang menjadikan satu negara terlibat di dalam skema FTA, tidak dapat dipungkiri bahwa yang lebih menonjol sebenarnya adalah terkait keinginan untuk mendapatkan tarif istimewa. Oleh karena itu negosiasi penurunan dan/atau penghapusan (reduction and/or elimination) sangat alot dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Hal ini dapat dimaklumi karena tarif sangat erat hubungannya dengan perhitungan biaya dari produk yang diperdagangkan.

Mengingat bahwa untuk mendapatkan tarif preferensi wajib memenuhi ketentuan ke-asal-an barang (selanjutnya disebut Rules of Origin atau ROO), maka pemahaman ROO menjadi sangat penting bagi setiap pihak yang terlibat di dalam skema FTA, baik pihak pemerintah maupun swasta.

Sebagaimana dimaklumi bahwa ROO meliputi kriteria origin, ketentuan pengiriman langsung (direct consignment), dan ketentuan prosedural. Ada juga beberapa sumber yang menyebutkan bahwa salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah produk yang diperdagangkan harus termasuk di dalam daftar barang-barang yang berhak mendapatkan tarif preferensi. Namun demikian modul ini hanya akan membahas tentang kriteria origin yang ada di dalam skema FTA yang diikuti oleh Indonesia dan berlaku saat ini sebagaimana tersebut di atas, yaitu ROO yang ditujukan untuk mendapatkan tarif preferensi. Adapun materi tentang direct consignment dan ketentuan prosedural akan dibahas di dalam modul yang berbeda. Hal ini semata-mata hanya agar pembelajaran tentang ROO menjadi lebih fokus.

Berdasarkan pengalaman penulis selama mengikuti aktifitas terkait FTA Trade in Goods, baik dalam bentuk pertemuan antar negara, pertemuan teknis antar kementerian, maupun menjadi narasumber untuk beberapa kegiatan sosialisasi yang diadakan oleh beberapa kementerian selaku pembina sektor, terlihat bahwa pengetahuan tentang kriteria origin sangat minim sekali. Hal ini tidak saja dialami oleh para pengusaha, tetapi juga oleh para instansi penerbit surat keterangan asal (ceritficate of origin) dan para petugas pabean di lapangan selaku penerima surat keterangan asal. Padahal aparat dua instansi pemerintah

(10)

ini merupakan issuing dan receiving authority, yaitu institusi yang paling bertanggung jawab atas pemberian tarif preferensi dalam skema FTA-Trade in Goods (TIG).

Khusus untuk DJBC, penulis berpendapat bahwa kurang optimalnya pengetahuan pegawai tentang kriteria origin disebabkan belum adanya unit yang secara khusus menangani implementasi skema FTA, sehingga belum terdapat kejelasan unit mana sebenarnya yang harus bertanggung jawab baik pada saat negosiasi, implementasi, monitoring, sampai dengan evaluasi. Begitu juga kondisi ini menimbulkan kesulitan dalam komunikasi dan koordinasi antara petugas di lapangan dengan unit yang ada di kantor pusat. Sementara di kantor pusat sendiri belum terdapat unit yang secara khusus diberikan tugas untuk permasalahan FTA.

Hal ini sedikit berbeda dengan negara-negara lain yang telah memiliki unit ROO di dalam struktur organisasinya. Sebut saja misalnya Korean Customs Services (KCS) yang memiliki unit FTA, yang menangani masalah FTA sejak negosiasi sampai dengan implementasi. Begitu juga Jepang yang memiliki unit yang sama, serta China Customs. Bahkan beberapa administrasi pabean di negara ASEAN juga telah memiliki unit ini, seperti Singapore, Malaysia, Viet Nam, Thailand, dan sebagainya.

Pada dasarnya memahami ROO untuk mendapatkan tarif preferensi tidak terlalu rumit, karena selain telah diatur di dalam masing-masing perjanjian pembentuk skema FTA itu sendiri, juga secara prinsip kriteria origin ini telah mulai dicoba untuk diselaraskan oleh World Trade Organization (WTO) sebagaimana diatur di dalam WTO agreement on Rules of Origin. World Customs Organization (WCO) juga memiliki concern yang luar biasa terkait ROO sebagaimana secara khusus diatur di dalam Specific Annex K the Revised Kyoto Convention (RKC) yang merupakan guidance utama bagi sistem kepabeanan dunia. Adapun untuk penerapan ROO bagi para anggotanya, selain adanya Technical Committee on ROO, WCO juga memiliki unit baru yang khusus menangani ROO, sebagaimana juga unit lainnya yang menangani nilai pabean (customs valuation) dan Harmonized System (HS).

(11)

Kembali perlu ditekankan di sini bahwa modul ini hanya akan membahas kriteria origin yang berlaku di dalam skema FTA TIG yang saat ini telah ditandatangani oleh Indonesia, sekalipun masih terdapat diantaranya yang belum berlaku secara efektif atau bahkan masih dalam proses perundingan. Beberapa hal sepertinya memerlukan penekanan tersendiri karena adanya penggunaan istilah yang berbeda dalam masing-masing perjanjian pembentuk FTA, walaupun secara prinsip pengertian/maksudnya adalah kurang lebih sama.

Sebagai contoh adalah penggunaan istilah Wholly Obtained/Produced pada beberapa skema FTA disingkat menjadi ‘WO’, tetapi pada skema lain menggunakan kode ‘X’ atau ‘A’ pada skema IJEPA. Tentunya hal ini tidak harus menjadi masalah bagi pemberian tarif preferensi atas importasi suatu barang yang dilindungi surat keterangan asal, karena hal yang harus dipertimbangkan oleh petugas pabean adalah pemenuhan kriteria Wholly Obtained-nya.

Untuk memudahkan pemahaman tentang kriteria origin yang ada di dalam skema FTA yang ditandatangani Indonesia bagi petugas di lapangan, sesuai perannya sebagai instansi penerima (receiving authority) dokumen surat keterangan asal (certificate of origin), tentunya cukup memberikan perhatian atas kriteria origin yang digunakan di dalam masing-masing skema FTA. Hal ini tidak terlalu sulit untuk menemukannya, melainkan cukup dengan melihat apa yang terteta pada overleaf notes (catatan dibalik certificate of origin) masing-masing form FTA. Mengapa demikian? Sebagaimana diketahui bahwa kriteria origin wajib dicantumkan di dalam certificate of origin, dan untuk memudahkan implementasinnya, disepakati seluruh kriteria origin yang digunakan dalam setiap skema FTA akan dicantumkan di dalam overleaf notes masing-masing form FTA yang digunakan. Berikut adalah masing-masing dari kriteria origin untuk masing- masing skema FTA, yaitu :

(12)

Kotak 1 - Kriteria Origin dalam skema ASEAN FTA

Kotak 2 - Kriteria Origin dalam skema ASEAN-Korea FTA

 

(13)

Kotak 3 - Kriteria Origin dalam skema ASEAN-China FTA

Kotak 4 - Kriteria Origin dalam skema ASEAN-India

Kotak 5 - Kriteria Origin dalam skema ASEAN-Japan CEP

 

   

(14)

Kotak 6 - Kriteria Origin dalam skema ASEAN-Australia-New Zealand FTA

Kotak 7 - Kriteria Origin dalam skema Indonesia-Japan EPA

Memperhatikan kotak-kotak di atas sepertinya banyak sekali kriteria origin yang harus dipelajari (atau bahkan dihafal) oleh petugas DJBC, khususnya yang bekerja di lapangan. Namun demikian, sebenarnya yang menjadikan banyaknya kriteria di atas semata-mata karena perbedaan istilah yang digunakan, karena pada dasarnya menurut ROO Agreement yang dikeluarkan oleh World Trade Organization (WTO) maupun WCO hanya terdapat wholly obtained/produced, not wholly obtained, dan specific process saja. Lebih jelasnya akan dibahas pada masing-masing bab modul ini.

A. The good is wholly obtained or produced entirely in the Party, as defined in paragraph 2 of Article 29.

B. The good is produced entirely in the Party exclusively from originating materials of the Party.

C. The good satisfies the product specific rules set out in Annex 2, as well as all other applicable requirements of Chapter 3, when the good is produced entirely in the Party using non-originating materials.

 

 

(15)

2. Prasyarat Kompetensi

Evolusi peran administrasi pabean dari revenue collector menjadi trade facilitator, bagaimanapun tidak lepas dari dinamika sistem perdagangan internasional yang mengarah pada liberalisasi yang terjemahkan diantaranya dengan pembentukan skema perdagangan bebas. Kondisi ini tentunya harus diimbangi dengan kesiapan seluruh administrasi pabean, tidak terkecuali Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), untuk juga mempersiapkan diri menyambut era baru yang telah dimulai beberapa tahun yang lalu.

Mempertimbangkan hal tersebut tentunya setiap petugas DJBC memiliki kewajiban untuk memahami perkembangan tersebut, serta perubahan sistem yang diakibatkannya, termasuk konsekuensi dari keikutsertaan Indonesia di dalam skema FTA yang telah terbukti ‘memaksa’ DJBC untuk membuat aturan khusus tentang hal tersebut.

Menyadari perlunya pemahaman dari seluruh petugas DJBC, maka idealnya modul ini diharapkan dapat tersampaikan kepada seluruh petugas DJBC. Namun demikian tentunya prosesnya tidak dapat dilakukan sekaligus melainkan perlu adanya skala prioritas, dengan mengutamakan petugas di lapangan yang berhubugan langsung dengan masuknya importasi menggunakan skema FTA. Dalam hal ini tentunya yang paling utama adalah Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) dan seksi pabean, mengingat pejabat pada posisi inilah yang menentukan apakah suatu komoditas yang diimpor dapat memperoleh tarif preferensi atau tidak. Petugas lainnya adalah yang berada di unit pengawasan (P2 dan Audit), Client Coordinator, layanan informasi, dan sebagainya. Prasyarat kompetensi untuk mengikuti workshop ini adalah:

1. Pegawai DJBC minimal golongan III 2. Berkemampuan bahasa Inggris 3. Sehat jasmani dan rohani

4. Tidak sedang menjalani atau dalam proses penjatuhan hukuman disiplin

5. Tidak sedang mengikuti diklat atau workshop lain 6. Ditunjuk oleh Sekretaris DJBC

(16)

3. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

a. Standar Kompetensi

Setelah mempelajari mata diklat ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan dan menerapkan ROO

b. Kompetensi Dasar

1. Peserta diharapkan dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan ROO secara garis besar.

2. Peserta dapat memahami origin kriteria wholly obtained/produced untuk mendapatkan tarif preferensi.

3. Peserta dapat memahami origin kriteria not wholly obtained, beserta kriteria yang ada di bawahnya.

4. Peserta dapat mengerti penggunaan kriteria origin di dalam certificate of origin (surat keterangan asal).

4. Relevansi Modul

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa seiring dengan dinamika sistem perdagangan internasional diharapkan agar administrasi pabean dapat lebih fasilitatif dan dapat mengakomodasi kepentingan dunia usaha, sehingga proses pengiriman barang dari satu negara ke negara lainnya dapat terhindar dari segala proses/prosedur yang dianggap sebagai barriers.

Inilah era perdagangan bebas, yang mana keterlibatan dari administrasi pabean sedapat mungkin direduksi dengan dalih liberalisasi, dimana supply chain management tidak boleh dihambat pergerakannya. Oleh karena itu, mengingat bahwa skema FTA merupakan kesepakatan antar pemerintah, maka untuk implementasinya menjadi tanggung jawab dari setiap instansi terkait, termasuk DJBC.

Kondisi inilah yang selanjutnya menjadikan DJBC sebagai salah satu tulang punggung mulusnya kerja sama internasional dalam rangka perdagangan bebas barang, karena posisi dan perannya yang secara langsung menangani

(17)

pergerakan barang baik tujuan ekspor maupun impor. Oleh karena adanya kewajiban bagi DJBC untuk memberikan keputusan apakah suatu barang yang diimpor dapat diberikan preferential tariff atau, menjadikan modul ini sangat penting dan diharapkan dapat memberikan masukan bagi pelaksanaan kerja di lapangan, khususnya terkait penanganan masuknya barang-barang impor yang menggunakan skema FTA.

(18)

B. KEGIATAN BELAJAR

PENGERTIAN RULES OF ORIGIN (ROO)

1.1 Uraian dan Contoh

Siapa sebenarnya yang paling tepat untuk membahas dan/atau menangani ROO? pertanyaan ini telah ada sejak pertama kali muncul ide pembahasan aturan origin (ke-asal-an) dari suatu barang/produk. Paling

tidak kita dapat melihat refleksi dari ketidakjelasan ini, yaitu adanya pembagian forum yang melakukan pembahasan ROO, yaitu Committee on Rules of Origin (CRO) yang ada di WTO, dan Technical Committee on ROO (TCRO) yang ditempatkan di WCO.

Jika melihat pembagian tersebut, maka jelas bahwa secara teknis sebenarnya ROO merupakan tanggung jawab administrasi pabean. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat administrasi pabean merupakan institusi yang menentukan validitas atau kebenaran dari keasalan suatu barang, khususnya yang diimpor. Adapun di beberapa negara, administrasi pabean merupakan institusi yang juga memiliki kewenangan untuk memberikan keterangan bahwa suatu barang yang akan diekspor telah memenuhi ketentuan keasalan yang telah ditentukan (disebut sebagai issuing authority). Dengan demikian semakin jelas bahwa materi ROO merupakan bagian dari tugas dan fungsi administrasi pabean

1  

Indikator Keberhasilan :

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan : 1) Dapat menjelaskan pengertian umum dari ROO;

2) Dapat menjelaskan ROO yang ada di dalam perjanjian pembentukan skema FTA yang diikuti oleh Indonesia;

3) Dapat menjelaskan komponen ROO;

(19)

dimanapun berada. Tetapi faktanya sampai sekarang kesepakatan ini tidak disebutkan secara tertulis di dalam dokumen manapun, selain daripada pembagian forum antara WTO dan WCO, sebagaimana tersebut di atas.

Bagaimanapun pembagian forum tersebut, tentunya yang lebih penting bagi kita adalah pemahaman dari ROO itu sendiri. Adanya beberapa institusi ataupun organisasi yang memiliki kepedulian terhadap ROO tentunya menjadi catatan positif, sehingga akan selalu termonitor dan memberikan ruang evaluasi yang dapat memberikan cukup informasi yang semakin baik bagi siapapun yang berkepentingan nantinya. Tetapi disisi lain, tentunya harus dihindari dualisme pemahaman yang bahkan akan membuka ruang dispute yang dimungkinkan merugikan pihak-pihak terkait.

Pada mulanya isu tentang ROO tidak begitu menarik perhatian dari negara-negara yang waktu itu gencar membicarakan konsep perdagangan bebas untuk memperbaiki kondisi perekonomian negara akibat perang dunia ke- 2. Kita dapat melihat di dalam General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) 1947, sama sekali tidak terdapat istilah ROO kecuali masalah larangan dan pembatasan sebagaimana tersebut pada article XI dan article XII. Namun demikian hal yang cukup mengejutkan adalah bahwa pada saat sesi kedua pertemuan komite persiapan tahun 1947, terdapat pembahasan tentang penerapan tarif normal (Most Favorable Nations) yang diserahkan kepada aturan masing-masing negara pengimpor, dengan memperhatikan keasalan dari barang yang diimpor. Barangkali inilah sejarah pertama kali pembahasan ROO, walaupun tidak cukup sukses pada saat itu. Apalagi waktu itu isu yang muncul adalah tentang adanya upaya harmonisasi ROO, yaitu adanya keseragaman aturan dari setiap negara dalam menerapkan aturan keasalan.

A. Pengertian ROO

Atas ekspor produk-produk yang merupakan hasil bumi suatu negara, tentunya tidak sulit bagi siapapun untuk dapat mengetahui ke-asal-an (origin) dari barang tersebut. Contohnya adalah batubara, kelapa sawit, buah-buahan yang belum diolah, dan sebagainya.

(20)

Tetapi untuk produk yang dibuat melalui proses produksi/manufacturing, dengan menggunakan bahan baku yang diimpor dari negara lain, tentunya diperlukan regulasi khusus agar dapat ditentukan

keasalan dari produk tersebut. Ambil contoh, misalnya apple ipod yang diproduksi dengan menggunakan komponen hasil produksi China, Japan, Korea, Singapore, Taiwan, and Amerika Serikat, dimana perusahaan tersebut berbasis di Japan, Korea, Taiwan, dan Amerika Serikat. Bagaimanakah menentukan keasalan dari apple ipod tersebut?

Berlatar belakang kasus serupa yang menjadi pertanyaan para penggiat ROO terdahulu, maka disepakati tentang perlu adanya peraturan untuk menentukan keasalan dari sebuah produk yang diperjualbelikan dalam rangka perdagangan internasional. Apa sebenarnya ROO? dari beberapa literatur yang penulis temui terdapat ketidakseragaman tentang definisi atau pengertian ROO.

Penulis meyakini bahwa pada dasarnya ROO telah dapat didefinisikan dengan mengacu pada istilah ROO itu sendiri, yaitu aturan tentang keasalan (Rules = aturan/ketentuan; of = tentang/mengenai; origin = keasalan/domisili). Tetapi tentunya definisi tersebut terlalu singkat sehingga kurang memberikan kepastian dalam pemakaiannya.

Dalam pengertian tersebut belum tersirat secara jelas tentang keasalan itu sendiri, apakah yang dimaksud meliputi : negara asal? ataukah pelabuhan muat?

ataukah tempat produksi terakhir? ataukah tempat dimana eksportir berada?

Jelas sekali bahwa kita masih memerlukan sebuah penjelasan yang lebih detil sehingga tercapai sebuah pengertian yang tidak bias, melainkan aplikatif dan mudah jelas serta tegas untuk digunakan.

Disinilah mungkin kita harus berterima kasih kepada para wakil negara yang hadir pada putaran Uruguay (Uruguay Round) yang berakhir pada tahun 1993 dan telah berhasil mendirikan sebuah organisasi perdagangan internasional, yaitu World Trade Organization (WTO), yang bertanggung jawab atas seperangkat perjanjian-perjanjian terkait perdagangan internasional, termasuk diantaranya perjanjian keasalan barang (Agreement on Rules of Origin) yang termuat di dalam Uruguay Round Agreements on Trade in Goods.

(21)

Sebagai negara anggota WTO yang juga tidak terlepas dari prinsip single undertaking, maka perjanjian ini juga termasuk yang harus diterima dan dilaksanakan sebagaimana juga perjanjian lainnya yang termasuk di dalam hasil- hasil putaran Uruguay. Salah satu bukti keberhasilan mereka adalah lahirnya sebuah perjanjian (agreement) tersebut di atas, yang menjadi tolok ukur siapapun yang memiliki kepentingan dengan substansi origin dari sebuah produk.

Kembali pada pengertian ROO, di dalam paragraf 1 artikel 1 agreement on ROO tersebut disebutkan sebagai berikut :

For the purposes of Parts I to IV of this Agreement, rules of origin shall be defined as those laws, regulations and administrative determinations of general application applied by any Member to determine the country of origin of goods provided such rules of origin are not related to contractual or autonomous trade regimes leading to the granting of tariff preferences going beyond the application of paragraph 1 of Article I of GATT 1994.

Secara bebas isi dari artikel 1 di atas dapat diterjemahkan menjadi :

“Untuk tujuan penerapan bagian I sampai dengan IV dari perjanjian ini, ROO hendaknya didefinisikan sebagai segala bentuk perundang-undangan, peraturan-peraturan, dan ketentuan-ketentuan administratif lainnya yang diterapkan oleh masing-masing negara anggota dalam menentukan negara asal dari suatu barang yang mana ROO tersebut tidak merupakan bagian dari regime perdagangan terkait dengan satu perjanjian khusus ataupun ketentuan sepihak yang bertujuan untuk memberikan tarif istimewa melebihi aplikasi paragraf 1 artikel 1 GATT 1994.”

Definisi di atas merupakan harmonisasi dari pengertian tentang ROO, sehingga setiap penggunaan istilah ROO, maka diartikan sebagaimana definisi tersebut. Namun demikian perlu dicatat bahwa pada kalimat terakhir artikel di atas terdapat informasi bahwa ROO yang dimaksud dalam artikel tersebut tidak meliputi ROO yang mengatur tentang pemberian tarif preferensi atau tarif istimewa. Padahal ROO yang diatur di dalam skema FTA adalah ROO dalam rangka pemberian tarif istimewa. Oleh karena itu definisi di atas ditujukan bagi penggunaan ROO bukan untuk tujuan preferensi atau disebut ROO non- preferensi.

(22)

Ketentuan lebih lanjut tentang ROO tujuan non-preferensi diatur di dalam pasal-pasal selanjutnya dari agreement tersebut.

Selanjutnya bagaimana WTO menyikapi ROO tujuan preferensi? Dapat dimaklumi bahwa pembentukan harmonisasi ROO untuk tujuan pemberian tarif istimewa tidaklah mudah, karena harus mempertimbangkan kepentingan dari para pihak yang akan membuat perjanjian pembentukan skema FTA (contractual regimes), khususnya mengingat adanya mekanisme pemberian tarif istimewa yang didasarkan pada pemenuhan ketentuan origin dari suatu produk. Artinya tidak mudah bagi WTO untuk dapat memprediksi kebutuhan dari para pihak yang akan membentuk skema FTA, baik secara bilateral, multilateral, maupun regional.

Penulis meyakini bahwa sepertinya pertanyaan ini telah muncul pada saat pembahasan waktu itu, karena terbukti pada paragraf 2 artikel 1 annex II dari agreement on ROO yang diberi judul common declaration with regard to preferential rules of origin, telah disediakan definisi umum yang dapat dijadikan patokan oleh setiap negara, yang melibatkan diri dalam perjanjian perdagangan bebas yang mengarah pada pemberian tarif istimewa, yang berbunyi :

For the purposes of this Common Declaration, preferential rules of origin shall be defined as those laws, regulations and administrative determinations of general application applied by any Member to determine whether goods qualify for preferential treatment under contractual or autonomous trade regimes leading to the granting of tariff preferences going beyond the application of paragraph 1 of Article I of GATT 1994.

Secara bebas, artikel tersebut dapat diterjemahkan menjadi :

“untuk tujuan yang bersifat umum, preferential ROO hendaknya didefinisikan sebagai segala peraturan perundang-undangan dan ketentuan administratif yang diterapkan oleh para anggota untuk menentukan apakah suatu barang layak mendapatkan tarif istimewa berdasarkan perjanjian atau ketentuan individu dari suatu negara yang bertujuan untuk mendapatkan tarif preferensi melebihi aplikasi dari paragraf 1 artikel 1 GATT 1994.”

(23)

Perlu diperhatikan bahwa definisi yang disediakan sangat umum, yaitu sebatas pada ketentuan untuk menentukan apakah suatu barang berhak atau layak untuk mendapatkan tarif preferensi atau tidak. Apakah ukuran dari layak atau tidaknya suatu barang mendapatkan tarif

preferensi? Hal inilah yang sulit untuk dilakukan harmonisasi, karena untuk implementasinya menyesuaikan dengan kesepakatan-kesepakatan yang dituangkan di dalam masing-masing perjanjian yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Akan tetapi upaya yang telah dilakukan dengan mendefinisikan ROO seperti di atas, patut kita hargai. Bagaimanapun hal ini akan menjadi acuan tidak saja bagi organisasi internasional, tetapi lebih khusus lagi bagi setiap negara yang telah menyadari betapa pentingnya ROO dalam kaitannya dengan aktifitas perdagangan internasional yang dipastikan melekat pada setiap kegiatan setiap negara.

Upaya untuk mendefinisikan ROO tidak berhenti sampai disana. Sebagai anggota dari WCO tentunya setiap administrasi pabean sudah selayaknya untuk juga menjadikan apa yang telah disediakan oleh organisasi induknya sebagai salah satu instrumen dalam setiap gerak dan langkahnya. Dalam specific annex K the Revised Kyoto Convention yang khusus membahas tentang ROO ternyata disinggung tentang pengertian dari ROO, yaitu

"rules of origin" means the specific provisions, developed from principles established by national legislation or international agreements ("origin criteria"), applied by a country to determine the origin of goods.

Definisi di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut :

ROO merupakan ketentuan-ketentuan khusus yang dikembangkan dari prinsip-prinsip yang berasal dari peraturan-peraturan nasional atau perjanjian internasional (kriteria origin), diterapkan oleh sebuah negara untuk menentukan origin dari suatu barang.

Definisi di atas tidak menjelaskan apakah ROO dimaksud ditujukan untuk tujuan preferensi atau non-preferensi. Namun demikian, apabila kita memperhatikan substansi di dalamnya, terdapat kata-kata “... prinsip-prinsip yang berasal dari peraturan nasional atau perjanjian internasional....” maka kita

(24)

akan terhubung dengan artikel 1 WTO agreement on ROO di atas yang menyebutkan “... contractual or autonomous...”.

Apabila keterkaitan tersebut adalah benar, maka seyogyanya definisi di atas ditujukan untuk ROO untuk preferensi. Namun demikian, kita perlu juga untuk melihat seluruh isi dari specific annex K tersebut, dimana diantaranya dalam bagian yang sama terdapat definisi untuk "country of origin of goods"

yang diartikan sebagai negara dimana suatu barang diproduksi atau diproses, berdasarkan kriteria yang ditetapkan untuk tujuan aplikasi tarif bea masuk, pembatasan jumlah atau ketentuan lain terkait dengan perdagangan.

Memperhatikan pengertian di atas yang juga berada di dalam specific annex K, sepertinya ROO yang disampaikan dalam the Revised Kyoto Convention tidak terbatas pada tujuan preferensi, melainkan juga meliputi ROO untuk tujuan non- preferensi.

Selanjutnya kita juga dapat menemukan beberapa definisi lain untuk ROO yang pada intinya adalah ketentuan untuk menentukan origin dari suatu produk.

Bahkan di dalam website milik WCO disebutkan bahwa ROO merupakan sekumpulan kriteria yang diperlukan untuk menentukan origin dari suatu produk.

Berdasarkan kondisi di atas penulis mencoba untuk mencari pengertian yang paling mudah dipahami oleh siapapun yang berminat untuk mendalami ROO, yaitu sebagaimana disebutkan dalam website ROO. Hal ini semata untuk memudahkan pemahaman (flow of understanding) dari kita semua pada saat mempelajari ROO lebih jauh, khususnya pada saat mempelajari persyaratan ROO untuk tujuan preferensi yang meliputi beberapa kriteria.

B. Fungsi ROO

Setelah diperoleh pengertian ROO yang paling sederhana dan lebih mudah untuk diaplikasikan, maka berdasarkan penjelasan di atas juga kita telah dapat menyimpulkan fungsi dari

ROO. Namun sebelum membahas tentang fungsi ROO perlu disepakati terlebih dahulu bahwa tidak-adanya kepastian tentang disiplin ROO yang mengikat secara multilateral menjadi satu alasan dilakukannya perundingan atau

(25)

pembahasan ROO sebagai salah satu kebijakan perdagangan. Dalam hal ini jelas sekali bahwa kebutuhan akan implikasi dari ROO semakin besar seiring dengan dinamika perdagangan internasional yang semakin berkembang.

Apabila dibandingkan dengan perundingan multilateral sebelumnya, WTO agreement on ROO dapat dikatakan telah berhasil mendobrak beberapa aspek dasar dalam perdagangan internasional, dan telah berani memberikan definisi terhadap pengertian ROO, serta aplikasinya. Lebih jelas tentang fungsi ROO sebenarnya telah dapat dilihat pada beberapa pembahasan singkat di atas yang mengacu pada agreement on ROO, dimana fungsi ROO terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :

- ROO untuk tujuan non-preferensi, dan - ROO untuk tujuan preferensi.

Apa saja fungsi dari masing-masing ROO tersebut, sebenarnya juga telah disebutkan di dalam agreement tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat disampaikan masing-masing sebagai berikut :

1. ROO untuk tujuan non-preferensi

Fungsi dari ROO untuk tujuan non-preferensi adalah sebagaimana tersebut pada paragraf 2 artikel perjanjian ini, yang berbunyi :

Rules of origin referred to in paragraph 1 shall include all rules of origin used in non preferential commercial policy instruments, such as in the application of: most-favoured-nation treatment under Articles I, II, III, XI and XIII of GATT 1994; anti-dumping and countervailing duties under Article VI of GATT 1994;

safeguard measures under Article XIX of GATT 1994; origin marking requirements under Article IX of GATT 1994; and any discriminatory quantitative restrictions or tariff quotas. They shall also include rules of origin used for government procurement and trade statistics.

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa paragraf 1 artikel 1 agreement on ROO memberikan definisi tentang ROO untuk tujuan non- preferensi, baik untuk kebutuhan tarif maupun non tarif. Selanjutnya pada paragraf 2 ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tujuan non- preferensi adalah sesuai dengan fungsi-fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan perdagangan internasional. Salah satu ahli ROO dunia, Stefano Inama dalam bukunya yang berjudul Rules of Origin for International

(26)

Trade, mencoba mengelompokan fungsi ROO untuk tujuan non-preferensi menjadi :

a. Most-favored-nation (MFN) tariffs and national treatment

Fungsi ini mengacu pada artikel I, II, III, XI dan XIII GATT 1994 yang mengatur utamanya tentang tarif MFN, yang harus diterapkan secara adil oleh satu negara atas masuknya komoditas yang diimpor ke negaranya.

Namun demikian, dengan alasan tertentu, sebuah negara dimungkinkan untuk menerapkan tarif yang berbeda selain daripada MFN, dengan mengacu pada asal negara (origin) dari komoditas tersebut.

b. Quantitative restrictions

Ketentuan yang mengatur keasalan suatu barang juga dapat diterapkan dalam hal suatu negara akan menerapkan regulasi mengenai pembatasan jumlah (kuota) barang yang dapat diimpor ke negaranya.

Untuk efektifitas penerapannnya, salah satu tools yang digunakan adalah dengan melihat country of origin dari produk yang akan dibatasi tersebut.

c. Anti Dumping dan Countervailing duties

Apabila dapat dibuktikan bahwa suatu negara mengalami defisit neraca perdagangannya atau kerugian lainnya yang disebabkan perilaku un-fair trade yang dilakukan oleh negara lain, maka negara tersebut dapat menerapkan bea masuk untuk mencegah hadirnya kondisi tersebut.

dalam hal ini pemerintah dapat melakukan analisis tentang kemungkinan terjadinya pengelakan anti dumping ataupun bea masuk lain atas komoditas terkait. Pengenaan anti dumping ini tentunya akan mengacu pada suatu negara eksportir yang dianggap produknya tersebut telah membanjiri negara tersebut. Oleh karena itu jelas sekali bahwa ROO sangat diperlukan untuk memastikan apakah memang komoditas asal negara tersebut yang akan dikenakan bea masuk dimaksud. Apabila kebijakan yang akan diterapkan menggunakan tolok ukur lain, maka dikhawatirkan akan memberikan efek negatif yang bahkan dapat merugikan negara yang akan mengajukan kebijakan anti dumping tersebut.

(27)

d. Safeguards measures

Ketentuan safeguard merupakan implementasi dari artikel XIX the General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994 yang diberi judul Emergency Action on Imports of Particular Products. Sedangkan Anti Dumping mengacu pada artikel VI GATT, yang diberi judul Anti-dumping and Countervailing Duties.

Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam rangka perdagangan internasional, terdapat dua kondisi yang tidak dapat dihindari atau kondisi yang sangat besar kemungkinan terjadi, yaitu Defisit dan Surplus.

Tentunya kedua kondisi ini harus diantisipasi, mengingat dapat mempengaruhi perekonomian suatu negara. Kondisi defisit tentunya lebih mendapatkan concern tersendiri, karena efek yang diakibatkan bersifat negatif.

Berbeda dengan kondisi pada anti dumping di atas, defisit dapat juga terjadi karena Fair Trade, yaitu suatu kondisi perdagangan internasional yang normal dan sesuai dengan aturan yang ada, tetapi mengakibatkan efek negatif bagi suatu negara. Contoh dari fair trade adalah membanjirnya suatu komoditas tertentu di negara pengimpor, sehingga dapat mengganggu industri sejenis di negara tersebut.

Atas kondisi ini negara yang dirugikan dapat melakukan trade remedy atau suatu tindakan guna memperbaiki kondisi dimaksud, sehingga dapat kembali normal. Untuk tindakan akibat fair trade, maka dapat dilakukan safeguard, yaitu penetapan suatu kewajiban yang dibebankan atas masuknya komoditas tersebut ke negara yang dirugikan, misalnya berupa Bea Masuk Safeguard.

Penetapan bea masuk safeguard maupun bea masuk anti dumping harus melalui suatu proses yang tidak sederhana, melainkan harus terpenuhinya beberapa persyaratan yang telah ditetapkan oleh WTO, seperti : pengumpulan data, verifikasi, notifikasi, dan sebagainya.

(28)

e. Origin-marking requirement

Adakalanya atas suatu komoditas tertentu perlu dilakukan monitoring khusus karena suatu alasan tertentu. Dalam hal ini maka pemerintah negara importir dapat menetapkan kebijakan yang mewajibkan adanya certificate of origin dari negara asal produk tersebut.

f. Any discriminatory quantitative restriction and tariff quotas

Idealnya sebuah negara yang baik dapat mengetahui seluruh kebutuhan dari masyarakatnya, baik jumlah maupun jenisnya. Mempertimbangkan bahwa negara yang memproduksi produk yang dibutuhkan tersebut dapat bersumber dari berbagai negara dengan segala perbedaan kualitasnya, maka ditetapkan kebjakan pembatasan (kuota) dari setiap negara terkait dalam mengekspor produk sejenis masing-masing. Untuk monitoring jumlah produk dari masing-masing negara tersebut maka ditetapkanlah kuota tertentu yang didasarkan pada origin masing-masing negara.

Faktanya kebijakan ini cukup sering disalahgunakan, seperti misalnya kasus ekspor madu eks China ke Amerika Serikat yang diakui sebagai produk Indonesia. Ternyata madu tersebut adalah benar produk China, tetapi transit di Indonesia. Selanjutnya atas madu tersebut diterbitkan certificate of origin oleh pemerintah Indonesia, dengan alasan agar dapat diterima oleh pihak Amerika Serikat.

Mengapa demikian? Sesuai penjelasan di atas, ternyata kuota yang diberikan kepada China telah habis dipergunakan. Oleh karena itu pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab mencari cara agar China tetap dapat mengekpor madu-nya ke Amerika Serikat. Akhirnya ditempuh jalan lain, yaitu mengirimkan madu tersebut terlebih dahulu ke Indonesia, lalu diekspor ke Amerika Serikat dengan dilindungi certificate of origin eks Indonesia.

g. Government procurement

Dalam rangka pengadaan barang untuk kebutuhan inventaris maupun barang konsumsi, adakalanya pemerintah membuat standar atau kriteria khusus untuk barang yang dibutuhkannya tersebut. Salah satu

(29)

diantaranya adalah mengacu pada produk yang dihasilkan oleh suatu negera tertentu. Mempertimbangkan adanya permintaan khusus tersebut, maka setiap produk yang diimpor harus memenuhi ROO yang ditetapkan oleh negara importir tersebut.

h. Trade statistics

Sebagaimana dimaklumi bahwa salah satu alat pengambil kebijakan adalah data-data dari transaksi perdagangan yang dilakukan oleh suatu negara dengan negara partner-nya. Oleh karena setiap pemerintah berusaha agar data lalu lintas perdagangan dapat tercatat secara akurat dan lengkap, sehingga informasi yang diperoleh serta kebijakan yang akan diambil benar-benar didasarkan pada data yang valid dan akurat tersebut.

Dalam pembentukan perjanjian perdagangan dalam rangka perdagangan bebas, hal ini merupakan materi yang sangat vital dan prioritas keberadaannya, mengingat penentuan modalitas harus bersumber pada kekuatan dan kelemahan sektor usahanya, yang dapat dilihat dari data statistik tersebut.

2. ROO untuk tujuan preferensi

Fungsi dari ROO untuk tujuan preferensi sebenarnya telah tersirat di dalam definisi ROO sebagaimana tersebut pada ayat 2 annex II agreement on ROO yang berbunyi :

For the purposes of this Common Declaration, preferential rules of origin shall be defined as those laws, regulations and administrative determinations of general application applied by any Member to determine whether goods qualify for preferential treatment under contractual or autonomous trade regimes leading to the granting of tariff preferences going beyond the application of paragraph 1 of Article I of GATT 1994.

Berdasarkan substansi dari artikel di atas, jelas sekali bahwa fungsi dari ROO untuk tujuan preferensi adalah sebagai alat dalam menentukan apakah komoditas barang yang diperdagangkan layak untuk mendapatkan tarif preferensi atau tidak. Ukuran layak atau tidaknya untuk mendapatkan tarif preferensi diatur di dalam masing-masing perjanjian pembentuk skema FTA.

(30)

Namun demikian perlu dicatat bahwa sebenarnya beberapa fungsi yang ada di dalam ROO untuk tujuan non-preferensi juga digunakan dalam ROO untuk tujuan preferensi ini. Misalnya fungsi statistik, dimana setiap negara yang terlibat di dalam skema perdagangan bebas tentunya ingin melakukan monitoring dan evaluasi terhadap utilisasi dari ROO yang diterapkannya.

ROO untuk tujuan preferensi merupakan salah satu isu yang paling banyak dibicarakan di dunia, termasuk negara-negara anggota WCO.

Berdasarkan catatan yang dimiliki WCO, sedikitnya tercatat lebih dari 200 skema FTA yang melibatkan 96% anggotanya, dengan rata-rata satu negara turut menandatangani 8 (delapan) buah perjanjian pembentuk skema FTA.

WCO memberikan perhatian sangat besar atas isu ini, mengingat keterlibatan administrasi pabean di dalamnya yang menjadi penentu apakah suatu produk layak atau tidak mendapatkan tarif preferensi.

C. Komponen ROO

Sedikit telah disinggung pada pembukaan modul ini bahwa ROO yang akan dibahas adalah untuk tujuan tarif preferensi, yang dapat dikatakan sebagai

“jantung” dari skema FTA, mengingat ketentuan ini menjadi persyaratan/kriteria utama untuk mendapatkan tarif preferensi. Hal ini berarti bahwa tarif preferensi tidak dapat diberikan sepanjang persyaratan di dalam ROO tidak terpenuhi.

Persyaratan-persyaratan atau kriteria dimaksud meliputi 3 (tiga) hal, yaitu : 1) Origin Criteria; 2) Direct Consignment Criteria; dan 3) Procedural Provisions.

Selanjutnya pembahasan dari masing-masing kriteria akan diuraikan di bawah ini.

1. Origin Criteria

Pemberian tarif preferensi merupakan sebuah fasilitas, baik dalam rangka perjanjian internasional yang bersifat timbal balik (contractual), maupun karena kebijakan sepihak dari suatu negara kepada negara lainnya (autonomous), yang salah satu alasannya diantaranya adalah sebagai sebuah penghargaan atas produk yang dihasilkan oleh satu

(31)

negara. Penghargaan ini diberikan sepanjang dapat dibuktikan bahwa yang diperdagangkan merupakan hasil produksinya.

Dalam hal produk yang dihasilkan bahan bakunya (materi pembentuknya) bersumber dari satu negara (seperti hasil pertanian, hasil tambang, dan sebagainya), tentunya hal ini sangat mudah untuk dibuktikan sebagai origin dari negara tersebut. Namun demikian kondisinya akan berbeda apabila ternyata materi pembentuk dari suatu produk yang dihasilkan oleh satu negara faktanya berasal dari lebih dari satu negara.

Berdasarkan situasi ini maka selanjutnya origin dari suatu barang dikembangkan secara terus menerus, seiring dengan berlangsungnya pertemuan-pertemuan multilateral yang membahas tentang ROO, seperti Putaran Tokyo (Tokyo Round) dan Putaran Uruguay (Urugay Round).

Hasil dari pembahasan tersebut kemudian dimunculkan dalam ROO agreement, yang merupakan produk dari WTO, dan juga the Revised Kyoto Convention, yang merupakan produk dari WCO.

Secara prinsip kedua instrumen tersebut membagi kriteria origin menjadi dua bagian, yaitu : a) Wholly Obtained or Wholly Produced, dimana hanya satu negara yang terlibat dalam memperoleh atau membuat suatu produk; dan b) Substantial Transformation, dimana negara yang melakukan perubahan substansi paling signifikan (lebih tepatnya disebut sebagai negara yang melakukan perubahan terakhir sebelum diekspor) yang dianggap sebagai negara asal dari produk tersebut.

Selanjutnya dalam perjanjian yang diikuti Indonesia juga dalam beberapa skema FTA yang ada, pembagian kriteria origin sedikit dibedakan menjadi sebagaimana dibawah ini, yaitu :

a. Wholly Obtained or Wholly Produced; dan b. Not Wholly Obtained or Wholly Produced.

Untuk memudahkan pembahasan kedua kriteria origin tersebut, penulis membaginya menjadi 2 (dua) bab setelah ini, dengan maksud agar lebih fokus dan memudahkan pemilahan antara keduanya.

(32)

2. Direct Consignment Criteria

Persyaratan untuk disebut sebagai origin   dari suatu negara tidak cukup dengan dibuktikan dari sisi pembuatannya atau proses produksi atau cara perolehannya, melainkan juga harus memenuhi kriteria pengangkutan.

Dalam hal ini harus dapat dibuktikan bahwa barang tersebut diangkut langsung dari negara tempat pembuatannya ke negara pengimpor. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai pengangkutan langsung atau direct consignment.

Contoh dari pengangkutan langsung adalah sebagai berikut :

Sebuah perusahaan di Indonesia memesan 100 unit Air Conditioner (AC) buatan dari sebuah perusahaan di Jepang, dengan merek TOSHOBO. Atas pemesanan ini pihak perusahaan di Jepang menyatakan setuju dan segera mengirimkannya ke Indonesia setelah semua persyaratan adminstratif terkait transaksinya diselesaikan keduabelah pihak. Pada saat pengiriman inilah pihak eksportir harus memastikan bahwa AC diangkut dari Jepang langsung ke Indonesia, tanpa melalui negara lain.

Faktanya prosedur ini tidak mudah untuk dipenuhi untuk setiap transaksi perdagangan internasional. Hal ini disebabkan perusahaan pelayaran bagaimanapun telah memiliki jalur tersendiri sesuai dengan kepentingan bisnisnya serta ijin yang dimilikinya. Misalnya, apabila jalur tercepat adalah melalui sebuah negara lain, tentunya perusahaan pelayaran akan melewati negara tersebut, karena dianggap lebih ekonomis. Begitu juga dalam hal bahwa rute yang harus ditempuh ternyata melalui jalur-jalur tertentu yang secara geografis harus melewati negara yang bukan merupakan tujuan pengiriman barang.

Mempertimbangkan situasi dan kondisi tersebut maka di dalam the Revised Kyoto Convention diberikan rekomendasi atau best practices yang dapat diterapkan dalam perjanjian pembentuk suatu skema FTA-Trade In Goods, berupa fleksibilitas bahwa klausul direct consignment, dapat meliputi :

(33)

a. Pengangkutan langsung dari negara pengekspor ke negara pengimpor, tanpa melakukan penghentian di negara lain; atau

b. Pengangkutan dari negara pengekspor ke negara pengimpor dengan melewati (baik dalam rangka transit maupun transhipment) negara lain (dalam hal skema FTA, maka negara lain disini adalah meliputi negara anggota skema FTA tersebut maupun bukan negara anggota), dengan persyaratan :

Ø Selama melakukan kegiatan transit/transhipment tidak terdapat proses produksi dan/atau proses lainnya yang mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk atas barang tersebut, kecuali hanya bongkar muat.

Ø Tidak terdapat transaksi selama dalam prosedur transit/transhipment.

Maksudnya adalah tidak terjadi perpindahan kepemilikan atas barang tersebut kepada pihak lain selain yang tecantum di dalam dokumen yang melindunginya.

Ø Prosedur transit/transhipment diperlukan hanya karena mempertimbangkan kepentingan logistik, kondisi ekonomis, kondisi geografis, maupun pertimbangan lain yang diperlukan untuk keamanan dan/atau keutuhan barang.

Ø Tidak terjadi proses Customs clearance (pengeluaran barang ke tempat lain diluar daerah pabean), melainkan tetap dalam pengawasan administrasi pabean negara transit tersebut. Artinya tidak terdapat pengajuan Import Declaration (untuk Indonesia disebut PIB).

Tentunya alasan-alasan di atas harus dapat meyakinkan administrasi pabean di negara pengimpor, agar tarif preferensi dapat diberikan. Dalam hal ini, selain dokumen yang telah lazim digunakan dalam perdagangan internasional (seperti : B/L, Invoice, Packing List, dan sebagainya), pihak administrasi pabean di negara pengimpor dapat meminta dokumen- dokumen pendukung lain yang dianggap relevan dengan kegiatan di atas, kepada importir.

(34)

Kegagalan importir dalam memenuhi permintaan dokumen yang dianggap perlu di atas, dapat mengakibatkan tidak diberikannya tarif preferensi atas barang yang diimpornya. Namun demikian hal ini tetap bergantung dari kebijakan nasional masing-masing.

3. Procedural Provisions

Setelah kedua persyaratan di atas dapat dipenuhi, maka persyaratan terakhir adalah terkait pembuktian dari origin dalam bentuk sertifikat (dokumen) yang akan melindungi produk tersebut, yang disebut dengan Certificate of Origin. menurut chapter 2 dari Special Annex K the Revised Kyoto Convention, certificate of origin didefinisikan sebagai :

a specific form identifying the goods, in which the authority or body empowered to issue it certifies expressly that the goods to which the certificate relates originate in a specific country. This certificate may also include a declaration by the manufacturer, producer, supplier, exporter or other competent person.

(sebuah formulir khusus yang diterbitkan oleh pihak yang berwenang, yang mengidentifikasikan bahwa suatu produk telah memenuhi kriteria origin dari negara tersebut. sertifikat ini dapat meliputi pernyataan yang dikeluarkan oleh fabrikan, produsen, pemasok, eksportir, ataupun pihak lain yang berkompeten).

Sepertinya definisi di atas telah menjelaskan secara gamblang tentang pengertian dari sertifikat yang dapat digunakan sebagai documentary evidence of origin (dokumen yang membuktikan origin). Di dalam sertifikat tesebut akan diisi dengan pernyataan dari pihak yang berwenang tentang kriteria origin dari produk yang akan diekspornya. Sertifikat tentang origin dari suatu barang wajib diserahkan kepada adminstrasi pabean, sebagai receiving authority yang diberi kewenangan untuk menentukan apakah suatu barang dapat diberikan tarif preferensi atau tidak di negara pengimpor.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka persyaratan prosedur yang harus ditempuh adalah dimulai saat pengajuan permohonan untuk mendapatkan sertifikat tentang keasalan suatu barang (certificate of origin) di negara pengekspor sampai dengan pengajuannya bersama-sama

(35)

dengan pemberitahuan impor barang (import declaration) di negara pengimpor. Untuk memudahkan pemahaman dari procedures provisions, penulis akan membahas materi ini pada modul tersendiri, yang substansinya merupakan penjelasan dari Operational Certification Procedures (OCP) perjanjian pembentuk skema FTA yang diikuti oleh Indonesia.

1.2 Latihan

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang singkat, dan jelas!

1. ROO pada dasarnya adalah kriteria untuk menentukan negara asal atau origin dari suatu komoditas. Namun demikian ada baiknya definisi yang digunakan mengacu pada dokumen internasional yang telah diakui secara luas. Apa yang dimaksud dengan ROO menurut pengertian dalam WTO Agreement on Rules of Origin ?

2. Atas barang yang telah ditetapkan kriteria originnya tidak serat merta dapat diberikan tarif preferensi, melainkan wajib memenuhi kriteria/persyaratan lain yang melekat pada ROO. Sebutkan 3 (tiga) komponen dari ROO dimaksud sehingga suatu produk berhak mendapatkan tarif preferensi ? jelaskan!

3. Dalam penetapan origin suatu barang yang diekspor antar negara anggota yang terlibat di dalam skema FTA, terdapat 3 (tiga) persyaratan yang harus dipenuhi oleh komoditas dimaksud, termasuk direct consignment. Menurut pemahaman Saudara, apakah yang dimaksud dengan Direct Consignment!

4. Upaya WTO untuk melakukan harmonisasi ROO patut dihargai mempertimbangkan kompleksitas dari substansi terkait di dalamnya. Namun demikian, sampai dengan saat ini manakah yang telah dilakukan harmonisasi oleh WTO ?

5. Dalam skema FTA yang berbasis pemberian tarif preferensi, terdapat otoritas pemerintah ataupun pihak swasta yang ditunjuk menjadi penerbit maupun penerima dari certificate of origin. Siapa yang biasanya dimaksud sebagai receiving authority dalam prosedur untuk mendapatkan tarif preferensi ? sebutkan contohnya.

(36)

1.3 Rangkuman

Lahirnya Agreement on Rules of Origin bersamaan dengan selesainya Uruguay Round (1993) merupakan sumbangan besar dari para wakil negara yang hadir pada sidang tersebut dan berhasil melakukan harmonisasi tentang pengertian dari ROO, sehingga memudahkan pemakaiannya pada saat ini.

Sekalipun ROO yang telah dapat diharmonisasi adalah terkait ROO untuk tujuan non-tarif preferensi, tetapi ROO untuk tujuan tarif preferensi setidaknya telah diawali dengan dibuatnya common declaration sebagai tambahan dari agreement on ROO tersebut.

Berbekal lampiran tambahan ini, para negosiator menjadi termudahkan dalam melakukan perundingan pembentukan skema FTA Trade in Goods, utamanya dalam mendefinisikan ROO sebagai bagian dari perjanjian pembentukan skema FTA.

ROO terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu ROO untuk tujuan non-tarif preferensi, dan ROO untuk tujuan tarif preferensi. Masing-masing dari ROO memiliki fungsi yang sebenarnya memiliki kesamaan, kecuali fungsi yang berkaitan dengan pemberian fasilitas penurunan dan/atau penghapusan tarif bea masuk hanya dimiliki ROO untuk tujuan tarif preferensi.

ROO dapat dikatakan sebagai substansi paling penting di dalam skema FTA, karena merupakan syarat utama dari fasilitas yang disediakan. Tidak terpenuhinya ROO, maka fasilitas tidak dapat diberikan. Persyaratan yang harus dipenuhi tersebut meliputi 3 (tiga) hal, yaitu :

1. Origin Criteria;

2. Direct Consignment Criteria; dan 3. Procedural Provisions.

Origin Criteria berbicara tentang kriteria-kriteria yang disediakan untuk menyatakan origin dari suatu barang, apakah wholly obtained atau not wholly obtained. Cara paling sederhana untuk melihat apakah suatu barang yang perdagangankan termasuk wholly obtained atau not wholly obtained adalah dengan melihat jumlah negara yang terlibat. Apabila hanya satu negara yang terlibat maka dapat dikatakan bahwa barnag tersebut merupakan wholly obtained. Akan tetapi apabila yang terlibat adalah lebih dari satu negara, maka dapat dipastikan bahwa barang tersebut merupakan bagian dari not wholly

(37)

obtained. Namun demikian asumsi ini tetap memerlukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahuinya secara benar.

Direct consignment criteria merupakan syarat kedua dalam ROO, dimana barang yang diajukan untuk mendapatkan tarif preferensi harus dikirim langsung dari negara eksportir ke negera importir. Namun demikian, faktanya terdapat fleksibilitas yang diperbolehkan (atau direkomendasikan) oleh WCO dan WTO, sehingga pengangkutan barang dapat dilakukan melalui negara lain (transit/transhipment) dengan mempertimbangkan alasan ekonomis, logistik, dan geografis, sepanjang tidak terdapat perubahan atas barang yang diangkut baik jumlah, jenis, maupun kepemilikan.

Syarat ketiga menjadi bagian dari ROO adalah procedural provisions, yaitu prosedur yang terkait dengan pembuktian origin dengan menggunakan sebuah dokumen yang disebut Certifikat of Origin dalam format yang telah disepakati.

Prosedur ini terkait dengan penerbitan oleh issuing authority di negara eksportir sampai dengan penerimaan sertifikat oleh administrasi pabean di negara importir.

1.4 Tes Formatif 1

Jawablah pertanyaan dibawah ini secara jelas dan singkat!

1. Sebuah perusahaan A di Jakarta melakukan pemesanan 100 unit mesin diesel dari perusahaan di Jepang. Atas pesanan ini pihak perusahaan Jepang menghubungi perusahaan pelayaran untuk persiapan pengirimannya. Ternyata jalur yang akan dilalui kapal pengangkut milik perusahaan pelayaran tersebut harus melalui beberapa negara, sehingga tidak dapat langsung menuju tempat dimana importir berada. Jelaskan tentang permasalahan ini berdasarkan ketentuan direct consignment ! 2. Memperhatikan definisi ceritificate of origin yang diambil dari the Revised

Kyoto Convention, sepertinya terdapat kemungkinan adanya sertifikat yang tidak diterbitkan oleh instansi pemerintah. Jelaskan !

3. Procedural provisions merupakan salah satu syarat dalam ROO yang harus dipenuhi agar atas barang yang diperdagangkan mendapatkan tarif preferensi. Apa saja yang diatur dalam procedural provisions?

(38)

4. Pada akhir pertemuan Uruguay Round tahun 1993, disepakati tentang pembentukan World Trade Organization (WTO) dengan beberapa agreement pelengkap yang akan menjadi panduan bagi negara anggota dalam membuat sistem dan prosedur terkait perdagangan internasional, termasuk diantaranya adalah Agreement on Rules of Origin. Mengacu pada agreement tersebut, disinggung tentang definisis ROO tujuan tarif preferensi dan non tarif preferensi. Sebutkan perbedaan keduanya !

5. Salah satu kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk melindungi industri dalam negerinya adalah dengan menggunakan mekanisme safeguard dan anti-dumping. Apakah perbedaan dari kedua istilah di atas, dan bagaimana untuk implementasinya? jelaskan !

1.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan materi yang sudah ada pada pembahasan ini. Hitunglah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini.

Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci sebagaimana rumus berikut.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%

Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman (TP) dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai:

91 % s.d 100 % : Sangat Baik 81 % s.d. 90,99 % : Baik

71 % s.d. 80,99 % : Cukup 61 % s.d. 70,99 % : Kurang

0 % s.d. 60,99 % : Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

(39)

Wholly Obtained atau Wholly Produced

2.1 Uraian dan Contoh

Di atas telah disinggung bahwa origin criteria wholly obtained atau wholly produced merupakan salah satu dari origin criteria yang ada, dimana pada intinya adalah bahwa negara yang terlibat dalam pengadaan atau produksi barang tersebut hanya satu negara. Hal ini berbeda dengan not wholly obtained atau wholly produced yang pengadaan atau proses pembuatannya melibatkan lebih dari satu negara, karena adanya sumbangan material/bahan baku yang berasal dari negara lain.

Kriteria wholly obtained lebih banyak diterapkan pada produk-produk alami atau barang-barang tertentu yang dihasilkan dari material alami yang seluruhnya bersumber dari negara yang sama, seperti : hasil pertanian yang dipanen langsung di negara tersebut, binatang ternak, hasil buruan, dan sebagainya, yang benar-benar mengecualikan produk atau material impor. Contoh barang lainnya yang mengalami perubahan substansi dari material/bahan baku dan merupakan kriteria wholly obtained/produced misalnya adalah : minuman yang dikemas dalam botol/kemasan khusus dengan bahan baku dari buah-buahan yang dipanen dan dikumpulkan di satu negara yang sama dengan proses produksinya, sparepart mobil yang bahan bakunya merupakan mineral dari hasil tambang negara yang bersangkutan, dan sebagainya.

Indikator Keberhasilan :

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan :

1. Dapat menjelaskan pengertian umum tentang wholly obtained atau wholly produced;

2. Dapat menjelaskan pembagian origin criteria dalam wholly obtained atau wholly produced;

3. Dapat memberikan contoh-contoh origin criteria dalam wholly obtained atau wholly produced.

2  

(40)

Seluruh skema FTA yang diikuti oleh Indonesia memiliki kriteria wholly obtained atau wholly produced, walaupun dengan istilah yang bervariasi dalam penerapannya di dalam certificate of origin. Dalam bab pendahuluan telah disinggung tentang kriteria wholly obtained atau wholly

produced, yang disingkat “WO” ataupun dengan kode “X”

(untuk skema ASEAN-China FTA). Maksud pemberian kode ini adalah untuk memudahkan para instansi penerbit surat

keterangan asal dalam menuliskan istilah wholly obtained atau wholly produced dalam certificate of origin kolom 8, sebagaimana contoh berikut :

Jenis-jenis produk yang dapat dikategorikan sebagai wholly obtained atau wholly produced, dapat dilihat pada special annex K the Revised Kyoto Convention, yang membagi kategori dari wholly obtained atau wholly produced.

Kategori ini kemudian diadopsi dalam perjanjian pembentukan skema FTA Trade in Goods dengan berbagai modifikasi baik dalam struktur (susunan) maupun tujuan lainnya, seperti untuk memudahkan pemahaman atau barangkali untuk disesuaikan dengan kemampuan dari para pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut.

Berdasarkan analisis penulis, susunan dari origin criteria untuk wholly obtained atau wholly produced yang ada di dalam perjanjian pembentukan skema FTA yang diikuti oleh Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Plant and plant products, grown and harvested, picked or gathered in the exporting member state

(tanaman dan produk tanaman)

2. live animals born and raised in the exporting country (binatang hidup)

3. products obtained from live animals in that country

“WO”  

Gambar

Gambar  berikut  kiranya  dapat  memberikan  pemahaman  tentang  contoh  produk yang termasuk di dalam kategori ini
Gambar  di  atas  menunjukkan  faktor-faktor  yang  terlibat  di  dalam  penghitungan persentase dari RVC, yaitu :

Referensi

Dokumen terkait

Untuk dapat melaksanakan pekerjaan perpipaan dengan baik, maka penyelenggara SPAM harus memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip supervisi pekerjaan konstruksi

Modul ini membekali peserta dengan pengetahuan dan pengertian tentang rekayasa keselamatan jalan yang merupakan serangkaian metoda/ kegiatan perbaikan yang dapat

Definisi lain dari audit keselamatan jalan (road Safety Audit) adalah suatu bentuk pengujian formal dari suatu ruas jalan yang ada dan yang akan datang atau proyek

Modul ini disusun dalam 5 (lima) Bab, meliputi Pendahuluan, Review Peraturan Perundangan terkait Pengelolaan Sampah, Kebijakan dan Strategi Pengelolaan

jalan yang bersangkutan yang terdiri dari unsur penyelenggara jalan, instansi yang menyelenggarakan urusan di bidang lalu lintas dan angkutan jalan dan unsur

Setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan jalan berupa, antara lain: rambu lalu lintas dan marka jalan dalam rangka terjaminnya

Tinjauan kontrak untuk memastikan kontraktor mengerti isi dokumen pengadaan jasa, kontrak dan adendum kontrak. Pihak-pihak yang terlibat dalam penandatanganan kontrak harus

Insinerasi adalah metode yang umum digunakan untuk mengolah sampah kota karena dapat mengurangi volume sampah hingga 90% dan panas yang dihasilkan dapat dikonversi menjadi listrik