• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara masyarakat dan lembaga, pemerintah dan non pemerintah.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara masyarakat dan lembaga, pemerintah dan non pemerintah."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Putusan Hakim 1. Pengertian Putusan Hakim

Putusan hakim, merupakan akhir dari proses pidana dalam pengadilan.

Pengadilan sebagai lembaga peradilan dalam struktur ketatanegaraan Indonesia, Pengadilan memiliki fungsi dan peran strategis dalam memeriksa,

“memutuskan dan menyelesaikan perselisihan antar anggota masyarakat, antara masyarakat dan lembaga, pemerintah dan non pemerintah”.

Pengadilan diakhiri dengan suatu Putusan. Putusan atau Vonis pengadilan akan menentukan atau menetapkan hubungan yang sebenarnya antara para pihak yang berperkara.

1

Secara substansial putusan hakim dalam perkara pidana amarnya hanya memiliki tiga sifat yaitu;

2

a. Di dalam pasal 193 ayat (1) KUHAP menjelaskan bahwa apabila hakim/pengadilan berpendapat bahwa terdakwa secara sah dan

1 Kadir Husin dan Budi Rizki Husein, Sistem Peradilan Pidana di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hlm. 115.

2 Lilik Mulyadi, Seraut Wajah Putusan Hakim Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2014, hlm. 194.

(2)

23

meyakinkan menurut hukum terbukti bersalah melakukan tindakan pidana yang didakwakan.

3

b. Di dalam Pasal 191 ayat (1) KUHAP menjelaskan bahwa Putusan bebas (vrijsraak/acquittai) jika hakim berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum atas perbuatan yang didakwakan.

4

c. Di dalam pasal Pasal 191 ayat (2) KUHAP menjelaskan bahwa

Putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum/onslag van alle rechtsvervolging jika hakim berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana.

5

Satjipto Raharjo, menyampaikan bahwa “penegakan hukum adalah proses untuk mewujudakan keinginan-keinginan hukum (yaitu pemikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum) menjadi kenyataan”.

6

Dan juga, kadir dalam merumuskan sebuah penegakan yaitu Kadir Muhamad adalah

“sebagai usaha melaksanakan hukum sebagaimana mestinya, mengawasi pelaksanaanya agar tidak terjadi pelanggaran, dan jika

3 Lihat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

4 Ibid

5 Ibid

6 Satjipto Raharjo, Masalah Penegakan Hukum, Sinar Baru : Bandung. 1983, hal 24

(3)

24

terjadi pelanggaran, memulihkan hukum yang dilanggar itu supaya ditegakkan kembali”.

7

Perlunya di ketahui bahwa seorang hakim dalam memutus sebuah perkara, memerlukan sebuah pertimbangan-pertimbangan yang di maksud dalam hal ini pertimbangan hakim yaitu hal-hal yang menjadi dasar dalam memutus sebuah perkara sebuah tindak pidana. Sebelum memutus perkara seorang hakim harus melihat bagaimana berjalannya sebuah persidangan perkara tersebut. Hakim dalam memeriksa atau menetapkan seseorang dengan memperhatikan syarat subyektif dan obyektif dari kesalahan dari seorang tesebut, memastikan dan membuat pertimbangan berdasarkan hal-hal yang dapat memperiingan dan membertakan pelaku dalam putusannya.

Karena, dalam hal ini penilaian atau pertimbangan seorang hakim sendiri didasarkan pada faktor hukum dan non hukum. Bahwa dari faktor-faktor tersebut yang harus terdapat di dalam putusan, serta faktor hukum termasuk pengulangan tindak pidana atau residive. Dan juga,

7 Abdul Kadir Muhamad dalam Sunardi Danny Tanuwijaya, Abdul Wahid, Republik “Kaum Tikus”;

Refleksi Ketidakberdayaan Hukum dan Penegakan HAM, Cet I, Edsa Mahkota : Jakarta, 2005, hal 15- 16

(4)

25

faktor non-hukum seperti sikap terdakwa di persidangan serta alasan- alasan yang dapat meringkan masa hukuman terdakwa.

8

Seorang hakim di berikan kebebasan dalam memutus sebuah perkara, sehubungan dengan hal tersebut dikatakan oleh sudarto bahwa:

kebebasan hakim dalam menetapkan pidana tidak boleh sedemikian rupa, sehingga memungkinkan terjadinya ketidaksamaan yang menyolok, hal mana akan mendatangkan perasaan tidak sreg (onbehagelijk) bagi masyarakat, maka pedoman memberikan pidana dalam KUHP sangat diperlukan, sebab ini akan mengurangi ketidaksamaan tersebut meskipun tidak dapat menghapuskannya sama sekali.

9

Berdasarkan kutipan di atas tersebut menurut hemat penulis bahwasanya kebebasan yang di berikan oleh seorang hakim dalam memutus sebuah perkara. Dengan hal tersebut banyak terdapat putusan hakim yang tidak sesuai nilai keadilannya di masyarakat yang menyebabkan masyarakat memiliki sudut pandang bahwa tidak semua hakim yang dapat memutus perkara tidak terpenuhi rasa keadilannya di kalangan masyarakat yang kritis akan hal tersebut.

8 https://googleweblight.com/i?u=https://seniorkampus.blogspot.com/2017/09/pertimbangan-hakim- dalam-menjatuhkan.html?m%3D1&hl=id-ID, diakses pada tanggal 01 Mei 2021

9 Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, bandung: Alumni, 1977, hal. 61

(5)

26

2. Pertimbangan Hukum Oleh Hakim dalam Menjatuhkan dan Memutus Perkara

Satjipto Raharjo, menyampaikan bahwa “penegakan hukum adalah proses untuk mewujudakan keinginan-keinginan hukum (yaitu pemikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan- peraturan hukum) menjadi kenyataan”.

10

Di dalam Pasal 1 angka 8 UU No.8 Tahun 1981 tentang KUHAP menyebutkan bahwa Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili dan Berdasarkan pasal 1 angka 9 KUHAP menyebutkan bahwa Hakim merupakan pejabat peradilan negara yang di beri wewenang yang tertuang di dalam undang-undang yaitu mengadili merupakan serangkaian tindakan yang untuk menerima, memeriksa, dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

Di dalam penegakannya Hakim membutuhkan sebuah tempat dalam menegakkan keadilan yaitu Pengadilan yang juga berperan penting bagi seorang hakim dalam menegakkan keadilan, dan memutus sebuah perkara.

Hakim dalam menyelesaikan sebuah perkara harus berkerja secara bersih,

10 Satjipto Raharjo, Masalah Penegakan Hukum, Sinar Baru : Bandung. 1983, hal 24

(6)

27

jujur dan adil. Dimana seorang hakim memiliki cita-cita hukum yaitu mencapai keadilan, kepastian dan kemanfaatan hukum.

Menurut undang-undang nomor 48 tahun 2009 bahwa : “Pertimbangan Hakim adalah pemikiran-pemikiran atau pendapat hakim dalam menjatuhkan putusan dengan melihat hal-hal yang dapat meringankan atau memperberat pelaku. Setiap hakim wajib menyampaikan pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang di periksa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan”.

11

Peran seorang Hakim dalam memutuskan sebuah perkara sangat penting dalam memberikan putusan.

Dalam praktik hukum di pengadilan, biasanya terdapat tiga (tiga) istilah yang biasa digunakan oleh hakim, yaitu penemuan hukum, pembentukan hukum/ciptaan hukum, dan penerapan hukum. Namun istilah penemuan hukum lebih sering digunakan oleh hakim, sedangkan pembentukan hukum biasanya digunakan oleh badan legislatif. Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan kedua istilah ini bercampur, tetapi pada prinsipnya kedua istilah ini dapat merujuk pada situasi dimana tidak ada aturan umum yang mendasari atau sudah ada, tetapi peraturannya tidak jelas. Sehingga memerlukan suatu penemuan hukum/ pembentukan hukum yang di buat oleh hakim.

12

11 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

12 Ahmad Rifai, Penemuan Hukum Oleh Hakim DalamPersfektif HukumProgresif, (Jakarta :SinarGrafika, 2010), Halaman 10.

(7)

28

Putusan merupakan tahap akhir dari sebuah proses persidangan di pengadilan dari suatu hal yang telah di pertimbangkan dalam bentuk tertulis maupun lisan. Dan ada 3 jenis putusan hakim yaitu: putusan bebas, putusan lepas dan putusan pemidanaan.

13

Maka dari hal tersebut adanya pertimbangan hukum merupakan suatu hal yang penting bagi seorang hakim sebelum membuat putusan dari perkara tersebut, bahwa dari pertimbangan hukum tersebut akan menjadi isi di dalam putusan.

Bahwasanya di ketahui, dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara di hadapannya, hakim terlebih dahulu wajib menggunakan hukum perundang-undangan, tetapi apabila hukum perundang-undangan tersebut ternyata tidak cukup atau tidak sesuai dengan perkara. Maka, hakim akan menggunakan sumber hukum lain. (seperti yurisprudensi, doktrin, traktatt, kebiasaan, atau hukum tidak tertulis).

14

Karena Hukum apabila dalam Undang-undang tersebut, tidak lengkap atau tidak jelas, dan hakim harus mencari atau menemukan hukum (rechtsvinding). Menurut Sudikno Mertokusumo, penemuan hukum biasa diartikan sebagai proses dimana hakim atau pejabat hukum lainnya membuat undang-undang, yang bertugas menegakkan hukum atau

13 Lilik Mulyadi, Seraut Wajah Putusan Hakim Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2014, hal. 194.

14 Ibid.,halaman 26.

(8)

29

menerapkan ketentuan hukum yang umum pada peristiwa hukum tertentu.

Selain itu dapat dikatakan bahwa penemuan hukum adalah suatu proses mengkonkretkan dan mengindividualisasikan ketentuan-ketentuan hukum yang bersifat umum (das sollen) dengan mengaitkan peristiwa-peristiwa konkret (das sein).

15

Pada dasarnya hakim akan selalu dihadapkan pada sebuah permasalahan yg wajib diselesaikan atau dicari pemecahannya & buat itulah perlu dicarikan hukumnya. Agar adanya penyelesaian permasalahan atau perselisihan aturan yg dihadapkan kepada hakim, maka hakim wajib menaruh penyelesaian definitif yg hasilnya dirumuskan pada bentuk putusan yg disebut yaitu putusan hakim, yg penerapan aturan yg umum & abstrak pada insiden konkret. Jadi, pada penemuan hukum yg krusial merupakan bagaimana mencarikan atau menemukan hukumnya buat periatiwa konkret (in-concreto).

16

B. Tinjauan tentang Tindak Pidana Pembunuhan 1. Pengertian Tindak Pidana

Pengertian tentang tindak pidana dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal dengan istilah Strafbaarfeit dan dalam kepustakaan tentang hukum pidana sering mempergunakan istilah delik, sedangkan

15 Ibid., Halaman 22.

16 Ibid.

(9)

30

pembuat undang-undang merumuskan suatu undang-undang, mempergunakan istilah peristiwa pidana atau perbuatan pidana atau tindak pidana.

17

Hamel menyampaikan bahwa : ”Strafbaarfeit merupakan kelakuan orang (menselijke gedraging) yg dirumuskan pada wet, yg bersifat melawan hukum, yg patut dipidana (strafwaardig) & dilakukan menggunakan kesalahan”. Sedangkan Pompe mengatakan bahwa di dalam pendapatnya bahwa Strafbaarfeit: ”Strafbaarfeit itu bisa dirumuskan menjadi suatu pelanggaran kebiasaan yg sengaja atau tidak di sengaja dilakukan sang pelaku”

18

Tindak pidana adalah rumusan terkait dari perilaku yang dilarang (dalam peraturan perundang-undangan) dan disertai dengan ancaman pidana terhadap orang yang melanggar larangan tersebut. Kejahatan disini merupakan unsur penyusun utama dari kejahatan.

19

D. Simons mengatakan, tindak pidana adalah tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggung-jawabkan atas tindakannya dan

17 Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana Memahami Tindak Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan (Disertai Teori-Teori Pengantar Dan Beberapa Komentar), Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP-Indonesia : Yogyakarta. 2012. hal. 18

18 Lamintang, 1984. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Sinar Baru. Bandung. hlm. 173-174

19 Tongat, 2012, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia dalam Perspektif Pembaharuan, Malang, UMM Press. Hlm. 91.

(10)

31

oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.

20

Sedangkan Moeljatno mengatkan, perbuatan pidana adalah perbuatan yang diancam dengan pidana, barang siapa melanggar larangan tersebut.

21

Kepentingan, terkait tinjauan Tindak pidana dalam merupakan hal yang terfokus pada pada penelitian untuk mengkaji kejahatan pembunuhan sehingga tinjuan ini akan menjelaskan teori-teori umum terkait tindak pidana pembunuhan.

2. Unsur-unsur Tindak Pidana

Unsur-unsur tindak pidana dapat di bedakan menjadi 2 sudut pandang yaitu, dari sudut teoritis dan dari sudut undang-undang, dimana dalam sudut teoritis yaitu berdasarkan pendapat para ahli hukum sedangkan pada sudut undang-undang adalah terkait dari pelaksanaan tindak pidana yang telah di rumuskan menjadi tindak pidana tertentu dalam pasal-pasal pertaturan perundang-undangan yang ada.

Berikut unsur tindak pidana menurut beberapa pendapat para Ahli Hukum dalam bukunya Roeslan Saleh:

1.

Unsur tindak pidana dikatakan oleh Moeljatno, meliputi unsur perbuatan, yang dilarang (oleh aturan hukum), ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan).

20 Tongat, Op.Cit. Hlm. 95.

21 Ibid. Halaman. 96

(11)

32

2.

Unsur tindak pidana dikatakan R. Tresna, meliputi perbuatan/rangkaian perbuatan, yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, diadakan tindakan penghukuman.

3.

Unsur tindak pidana dikatakan Vos, meliputi kelakuan manusia, diancam dengan pidana, dalam peraturan Perundang-Undangan.

4.

Unsur tindak pidana dikatakan Jonkers (menganut paham monisme), meliputi perbuatan, melawan hukum, kesalahan, dipertanggungjawabkan.

5.

Unsur tindak pidana Schravendijk mengatakan, bahwasanya tindak pidana meliputi kelakuan, bertentangan dengan keinsyafan hukum, diancam dengan hukuman, dilakukan oleh orang dipersalahkan/kesalahan.

22

Menurut Lamintang, perbuatan melawan hukum dalam hukum pidana secara umum dapat dibedakan menjadi dua (dua) jenis, yaitu unsur subjektif dan unsur objektif. Unsur subjektif adalah unsur yang melekat atau berkaitan dengan pelaku, termasuk segala sesuatu yang terkandung di dalam hati seorang pelaku. Pada saat yang sama, arti dari unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaankeadaan mana tindakan dari si pembuat itu harus dilakukan.

23

22 Roeslan Saleh, 1981, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana: Dua Pengertian Dasar dalam Hukum Pidana, Aksara Baru, Jakarta, (Selanjutnya disingkat Roeslan Saleh I), hal.13

23 Amir Ilyas, 2012, Asas-Asas Hukum Pidana, Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP-Indonesia, Yogyakarta, h. 18-19.

(12)

33

3. Tindak Pidana Pembunuhan

a. Pengertian Pembunuhan

Pembunuhan adalah perampasan atau upaya penghilangan nyawa seseorang oleh orang lain yang mengakibatkan tidak berfungsinya seluruh fungsi vital anggota badan karena berpisahnya tubuh dan roh korban.

24

Pembunuhan merupakan perbuatan yang sangat keji dan melanggar nilai- nilai kemanusian di masyarakat.

Pembunuhan oleh pasal 338 dirumuskan sebagai barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun

25

di rumuskan dalam pasal ini yang di tujukan bahwa pembunuhan merupakan bentuk kejahatan yang berat.

Pembunuhan adalah kejahatan yang bisa terjadi lantaran di lakukan dengan di dasari unsusr sengaja ataupun lantaran kelalaian/ kealpaan seseorang, maka menyebabkan korban atau hilangnya nyawa seseorang.

Pembunuhan yang di sengaja adalah pembunuhan yang sebelumnya telah di rencanakan, maksud nya ialah pelaku telah mempunyai rencana dan mengambil keputusan bahwa melanjutkan atau membatalkan rencana tesebut.

24 Mustofa hasan dan Beni Ahmad Saebani, Hukum Pidana Islam, Bandung, Pustaka Setia, 2013. Hlm 273.

25 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

(13)

34

Menurut, Satoichid Kartanegara berikut bentuk kejahatan yang di lakukan dengan sengaja terhadap jiwa orang lain yaitu :

1. Pembunuhan menggunakan unsur sengaja/pembunuhan biasa (Doodslag);

2. Pembunuhan menggunakan unsur sengaja dan yang direncanakan lebih dahulu (Moord);

3. Pembunuhan atas permintaan yang sangat dan tegas dari orang yang dibunuh;

4. Dengan sengaja menganjurkan atau membantu atau memberi sarana pada orang lain untuk membunuh. 5.

5. Geegualificeerderdoodslaag pasal 339.

26

Jadi, pembunuahan yang di lakukan dengan di rencanakan ialah pembunuhan yang di sengaja. Pembunuhan berencana tidak akan pernah terjadi kecuali terjadi karena kelalaian.

b. Tindak Pidana Pembunuhan

Hakekat tindak pidana pembunuhan adalah dengan sengaja merampas nyawa orang lain atau merampas jiwa orang lain. Dasar dari pada semua tindak pidana pembunuhan dalam kitab undang-undang hukum pidana adalah pasal 338, yang unsur pokoknya yaitu :

26 Satochid Kartanegara, Hukum Pidana I, Balai Lektur Mahasiswa, Jakarta, 1999.

(14)

35

a. Barangsiapa ;

b. Dengan sengaja ;

c. Merampas jiwa orang lain ;

Ketentuan pidana di maksud terdapat di dalam pasal 340 kitab undang- undang hukum pidana. Rumusan dari pasal tersebut, yaitu : Barangsiapa yang dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, karena melakukan pembunuhan berencana, di ancam dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup atau sementara maksimum dua puluh tahun

27

c. Jenis-Jenis Tindak Pidana Pembunuhan

Di dalam pasal 338-350 KUHP terdapat jenis-jenis tindak pidana pembunuhan. yang telah mengatur mengenai ketentuan-ketentuan jenis tindak pidana pembunuhan terdapat unsur pembeda nyawa seseorang yaitu;

1. Pembunuhan biasa dalam bentuk pokok yang memiliki pengertian yaitu di tujukan kepada seseorang yang menghilangkan nyawa orang lain, dengan melakukannya dengan tidak di rencanakan atau telah di rencanakan.

2. Kejahatan berupa suatu hal yang di sengaja menghilangkan nyawa anak yang baru di lahirkan oleh ibunya sendiri.

27 S. R. Sianturi, SH : Tindak Pidana di KUHP berikut uraiannya, Alumni AHM. PT. HM. Jakarta, 1983, hal. 489.

(15)

36

3. Kejahatan berupa kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang lain yang ingin bunuh diri.

4. Kejahatan yang di lakukan dengan sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri.

5. Kejahatan berupa suatu hal yang dilakukan dengan kesengajaan menggugurkan kandungan seseorang yaitu khusunya wanita sehingga menyebabkan anak yang berada di dalam kandungan meninggal dunia.

Untuk memahami arti pembunuhan ini dapat dilihat pada paal 338 KUHP yang berbunyi :

“Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang, karena pembunuhan biasa, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun.”

Dari pasal tersebut dapat di pahami bahwa :

1. Pembunuhan merupakan perbuatan yang mengakibatkan kematian orang lain;

2. Pembunuhan itu sengaja, artinya diniatkan untuk membunuh;

3. Pembunuhan itu dilakukan dengan segera sesudah timbul maksud untuk membunuh;

28

28 R. Soesilo, KUHP Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal, Bandung: PT. Karya Nusantara, 1989, hal 207

(16)

37

Ancaman hukuman yang di peroleh oleh pelaku termasuk dalam (KUHP).

Di dalam (KUHP) menetapkan jenis-jenis pidana hukum yang termasuk di dalam pasal 10 KUHP yang terbagi ke dalam dua bagian, yaitu hukum pokok dan hukuman tambahan.

1. Hukuman poko terdiri dari empat macam yaitu:

29

a. Hukuman Mati

Hukuman mati jenis hukuman terberat dari pidana yang di ancamkan, contoh pembunuhan berencana terdapat di dalam pasal 340 KUHP.

b. Hukuman Penjara

Pidana penjara adalah pidana pokok yang dapat dipidana seumur hidup atau jangka waktu tertentu. Pidana penjara untuk jangka waktu tertentu, yaitu dari satu hari sampai dua puluh tahun berturut- turut (Pasal 12 KUHP), dan harus melaksanakan kewajiban kerja selama masa menjalani masa hukuman (Pasal 14 KUHP).

30

Hukum penjara diancam pada berbagai kejahatan, diantaranya adalah pembunuhan biasa (pasal 338 KUHP), pembunuhan terkualiifikasi (pasal 339 KUHP), pembunuhan anak (pasal 341 dan

29 Leden Marpaung, Asas-Teori Praktek Hukum Pidana, hal.107-110

30 https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt54890ad57c011/hukuman-hukuman-yang- dikenal-di-indonesia/, diakses pada tanggal 01 Mei 2021

(17)

38

342 KUHP), pembunuhan atas permintaan korban (pasal 344 KUHP), dan menggugurkan kandungan (pasal 346, 347, 348, dan 349 KUHP).

c. Hukuman Kurungan

Pidana kurungan lebih ringan dari pidana kurungan tetap, karena merupakan tindak pidana atau kejahatan yang dilakukan karena kelalaian. Hukumannya paling sedikit 1 (satu) hari dan paling lama satu tahun.

Pasal 490 KUHP adalah tentang tuduhan membiarkan hewan liar dipelihara, dan Pasal 492 KUHP tentang tuduhan mabuk- mabukan dan kejahatan melanggar keamanan umum.

d. Denda

Merupakan hukuman yang di ancamkan pada pelaku pelanggaran dan dapat di jadikan jalan alernatif.

2. Hukuman tambahan terdiri dari tiga jenis yaitu:

31

a. Pencabutan hak-hak tertentu

Hal ini diatur pada pasal 35 KUHP, yaitu pencabutan hak si bersalah berdasarkan putusan hakim dalam hal yang ditentukan undang-undang. Hak tersebut bisa saja jabatan atau kekuasaan, seperti mencabut haknya sebagai pegawai negeri sipil atau PNS;

31 Ibid hal. 112

(18)

39

b. Perampasan barang tertentu

Karena putusan suatu perkara mengenai diri terpidana, maka barang yang dirampas itu adalah barang hasil kejahatan atau barang milik terpidana yang digunakan untuk melaksanakan kejahatannya;

c. Pengumuman putusan hakim

Hukuman ini dimaksudkan untuk mengumumkan kepada khalayak ramai agar dengan demikian masyarakat umum lebih berhati-hati terhadap si terhukum. Biasanya ditentukan oleh hakim dalam surat kabar yang semuanya atas biaya si terhukum.

Dalam hal ini jenis-jenis tindak pidana Pembunuhan merupakan kejahatan serius yang memiliki masa hukuman yang berat.

C. Teori Aspek Keadilan

Kata keadilan (iustitia) berasal dari kata “adil”, yang berarti keadilan, keadilan, pada sisi hak, kepatutan dan tidak sewenang-wenang.dimana tidak adanya perlakuan tertentu kepada sesorang, tetapi semua orang diperlakukan sama sesuai dengan hak dan kewajibannya. Setiap orang diperlakukan sama sesuai dengan hak dan kewajibannya.

32

Aristoteles mengatakan bahwa beliau merumuskan arti keadilan yaitu;

bahwa keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya atau (fiat justitia bereat mundus). Aristoteles mengatakan bahwa

32 Manullang E.fernando M, menggapai hukum berkeadilan, buku kompas,Jakarta, 2007 Hlm.57

(19)

40

negara harus berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan sipil. Keadilan adalah syarat bagi warga negara untuk memperoleh kehidupan yang bahagia.Sebagai landasan keadilan, moralitas harus diajarkan kepada setiap orang agar ia dapat menjadi warga negara yang baik. Negara yang berkuasa bukanlah orang yang nyata, tetapi jiwa yang benar, dan penguasa yang sebenarnya hanyalah pemegang hukum dan keseimbangan.

33

.keadilan menurut pandangan Aristoteles dibagi kedalam dua macam keadilan, keadilan “distributief” dan keadilan “commutatief”. Keadilan distributief ialah keadilan yang memberikan kepada tiap orang porsi menurut pretasinya. Keadilan commutatief memberikan sama banyaknya kepada setiap orang tanpa membeda-bedakan prestasinya dalam hal ini berkaitan dengan peranan tukar menukar barang dan jasa.

34

Menurut Hans Kelsen menurutnya keadilan tentunya harus di gunakan dalam sebuah hukum karena, dari segi kecocokan dengan undang-undang.

Ia menganggap sesuatu yang adil hanya mengungkapkkan nilai kecocokan relatif dengan sebuah norma “adil” hanya kata lain dari “benar”.

35

Dalam Pasal 5 Amanat Pancasila, Amanat Pancasila berbunyi

“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, yang menyatakan bahwa

33 Moh Kusnardi, dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: PSHTN FH UI dan Sinar Bakti, 1988, hlm. 153.

34 Hyronimus Rhiti, Filsafat Hukum Edisi Lengkap (Dari Klasik ke Postmodernisme) , Ctk. Kelima, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2015, Hal. 241

35 Ansori,Abdul Gafur, filsafat Hukum sejarah,aliran dan pemaknaan, university of gajah mada , Yogyakarta 2006, Hlm, 89

(20)

41

keadilan sangat penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dalam kehidupan bermasyarakat, masyarakat harus dapat merasakan keadilan dalam hidupnya, karena keadilan adalah hak setiap warga negara. Keadilan seseorang harus dijamin oleh negara.

D. Teori Aspek Kepastian Hukum

Dalam pandangan Hans Kelsen, hukum adalah sistem normat. Norma adalah pernyataan yang menekankan apa yang “seharusnya” atau “harus”

dengan mencantumkan beberapa aturan tentang apa yang harus dilakukan.

Norma adalah produk dari perilaku manusia yang bijaksana. Hukum yang berisi aturan-aturan umum berfungsi sebagai pedoman perilaku bagi individu-individu dalam masyarakat, baik itu hubungan dengan orang lain maupun hubungan dengan masyarakat. Aturan-aturan tersebut menjadi batasan sosial bagi individu untuk membebankan atau melakukan tindakan.

Adanya aturan tersebut dan pelaksanaan aturan tersebut menciptakan kepastian hukum.

36

Ajaran kepastian hukum berasal dari ajaran Yuridis-Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivistis di dunia hukum, yang cenderung melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom. Kepastian hukum

36 Peter Mahmud Marzuki, 2008, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Kencana, hlm. 158

(21)

42

itu dapat diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum

37

Menurut Gustav Radbruuch, keadilan dan kepastian hukumm merupakan bagian yang tetap dari hukum. Beliau berpendapat bahwa bahwa keadilan dan kepastian hukum harus di jaga demi keamanan dan ketertiban suatu negara. Berdasarkan hal tersebut hal yang ingin di capai ialah keadilan dan kebahagian.

Beliau, mengemukakan 4 (empat) hal mendasar yang berhubungan dengan makna kepastian hukum, yaitu :

Pertama, bahwa hukum itu positif, artinya bahwa hukum positif itu adalah perundang-undangan. Kedua, bahwa hukum itu didasarkan pada fakta, artinya didasarkan pada kenyataan. Ketiga, bahwa fakta harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, di samping mudah dilaksanakan. Keempat, hukum positif tidak boleh mudah diubah.

38

Kepastian hukum merupakan hal yang sangat penting dalam hukum.

Setelah keadilan hukum tercapai maka hal yang selanjutnya harus terpenuhi adalah kepastian hukum. Dengan adanya suatu kepastian hukum maka lapisan masyarakat memperoleh penjagaan menurut tindakan yg sewenang-

37 Achmad Ali, 2002, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), Jakarta: Toko Gunung Agung, hlm. 82-83

38 https://ngobrolinhukum.wordpress.com/2013/02/05/memahami-kepastian-dalam-hukum, di akses pada 05 Mei 2021

(22)

43

wenang menurut banyak sekali aparat penegak aturan pada menjalankan tugasnya yg terdapat pada warga . Kepastian hukum sebagai tolak ukur pada kejelasan hak & kewajiban mereka pada pada suatu aturan. Kepastian hukum wajib bisa mengedepankan verifikasi sebagai akibatnya hukum bisa pada pertanggungjawabkan.

39

39 Yohanes Suhardin, “Peranan Hukum Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat”, Jurnal Hukum Pro Justitia, Vol. 25, No. 3, Juli 2007, hal. 271.

Referensi

Dokumen terkait

Pasal 1 ayat (1) KUHAP: Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh

Tugas hakim sebagai pengawas dan pengamat, sebagaimana diatur dalam Pasal 277 sampai dengan Pasal 283 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP menghendaki adanya tanggung

Pengertian Penuntutan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

27 Dalam peradilan pidana, Pasal 200 KUHAP memberikan arti bahwa putusan pengadilan merupakan pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan yang

Hakim sebagai pejabat yang diberikan wewenang untuk memeriksa serta memutuskan suatu perkara mempunyai kedudukan yang istemewa, karena hakim selain sebagai pegawai negeri,

Eksekusi dalam praktek tidak selalu didasarkan pada putusan hakim saja, tetapi juga berasal dari putusan oleh badan atau instansi yang diberi wewenang oleh

Undang-undang nomor 8 tahun 1995 pasal 1 ayat 27 tentang Pasar Modal menyebutkan bahwa reksadana merupakan kumpulan dana dari masyarakat pemodal (investor) yang

Pengertian Penyelidikan dan Penyidikan Menurut pasal 1 butir 4 KUHAP penyelidik adalah “pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk