119 Pinisi: Journal of Teacher Professional
https://ojs.unm.ac.id/TPJ
Volume 2, Nomor 2 Agustus 2021 e-ISSN: 2723-1631
DOI.10.26858
PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DALAM MENANGANI PERMASALAHAN SISWA
DI SMP NEGERI 2 BULUKUMBA
Mujnah1
1 SMP Negeri 2 Bulukumba Email: [email protected]
Artikel info Abstrak
Received;2-05-2021 Revised:10-06-2021 Accepted;25-07-2021 Published,16-08-2021
Masalah utama dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana gambaran permasalahan yang dialami siswa, (2) bagaimana gambaran pelaksanaan layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba, dan (3) bagaimana gambaran pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling Dalam Menangani Permasalahan Siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba Tujuan penelitian : (1) untuk mengetahui gambaran permasalahan yang dialami siswa, (2) untuk mengetahui gambaran pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling Dalam Menangani Permasalahan Siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba, dan (3) untuk mengetahui bagaimana gambaran pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling Dalam Menangani Permasalahan Siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Unit anlisis 3 siswa sebagai informan, kepala sekolah, guru pembimbing, guru mata pelajaran dan pengumpulan data dengan observasi,wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan anlisis kualitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa : 1) permasalahan yang dialami siswa berupa : (a) masalah belajar (kesulitan belajar, dan sikap, serta kebiasaan belajar di kelas), (b) masalah social (konflik antara siswa dan kemampuan penyesuaian social siswa), 2) Pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling Dalam Menangani Permasalahan Siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba secara keseluruhan telah dilaksanakan dengan bentuk-bentuk materi seperti : layanan orientasi dengan materi peraturan dan tat tertib sekolah, serta pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik secara individual maupun kelompok.
Layanan penempatan dan penyaluran materinya seperti kegiatan ekstrakurikuler, dan 3) Pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling Dalam Menangani Permasalahan Siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba cukup baik karena semua bentuk layanan sudah dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa serta hasilnya juga dapat dirasakan oleh siswa cukup bermanfaat.
Key words:
Bimbingan konseling,
SMP, layanan artikel pinisi:journal of teacher proffesonal dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY-4.0
120 PENDAHULUAN
Layanan bimbingan konseling merupakan bagian integral dari kegiatan pendidikan di sekolah. Layanan bimbingan konseling merupakan kegiatan yang mengarah kepada upaya pemberian bantuan atau layanan kepada siswa di sekolah dalam rangka meningkatkan kemampuannya mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa sehingga ia sukses dalam belajarnya. Masalah-masalah yang dihadapi siswa terkait dengan masalah pribadi, masalah sosial, masalah belajar maupun masalah karir.
Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tugas dan tanggung jawab guru pembimbing, baik dilakukan secara kelompok maupun individual. Layanan tersebut tidak hanya ditujukan kepada siswa yang mengalami masalah, tetapi juga yang tidak mengalami masalah.
Kegiatan bimbingan konseling berorientasi pada upaya membantu mengatasi masalah- masalah siswa dan pengembangan kemampuan siswa menghadapi setiap masalah.
Layanan bimbingan dan konseling dilakukan secara terarah dan terencana yang bersifat kelompok dan individual yang diharapkan akan dapat membantu siswa sesuai dengan masalah dan kebutuhan siswa. Hal ini memberi konsekuensi pada perlunya profesionalisme guru pembimbing dalam memberikan layanan bimbingan konseling sehingga siswa dapat memperoleh pelayanan sesuai kebutuhannya yang berdampak positif terhadap pengingkatan kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi atau meningkatkan kemampuan siswa. Karena siswa dalam kehidupannya sehari-hari tentu tidak terlepas dari berbagai permasalahan serta bantuan, baik berkaitan dengan masalah pribadi, masalah sosial, masalah belajar maupun masalah karir, dan tugas pembimbing adalah untuk memberikan layanan bimbingan konseling yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya di sekolah.
Pelaksanaan layanan bimbingan konseling di sekolah, meliputi 9 layanan mencakup layanan orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan pembelajaran, layanan konseling perorangan, layanan bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok, layanan mediasi dan layanan konsultasi, (Prayitno, 2001).
Terlaksananya kegiatan layanan bimbingan konseling di sekolah tidak terlepas dari adanya berbagai faktor yang mendukung pelaksanaannya, baik bersumber dari guru pembimbing, siswa dan aspek-aspek lainnya. Fakta lain yang berhasil diperoleh penulis yaitu masalah-masalah yang ditangani bersifat insidentil. Artinya guru pembimbing hanya memberikan layanan bimbingan konseling pada siswa yang teridentifikasi melakukan pelanggaran maupun gejala-gejala seperti bolos sekolah, pelanggaran tata tertib dan siswa yang terlambat.
Guru pembimbing sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan layananan bimbingan konseling, seharusnya mampu secara professional melkasanakan layanan bimbingan konseling, walaupun dengan keterbatasan yang dimiliki, baik bersumber dari dalam dirinya maupun dari luar.
121 METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Di mana penelitian ini akan mengkaji secara mendalam tentang pelaksanaan layanan bimbingan konseling dalam mengatasi permasalahan siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba. dalam penelitian ini, secara teknis penelitian akan berinteraksi langsung dengan sumber data dan mengumpulkan data dan informasi secara intensif dan komprehensif. Pengumpulan data penelitian ini ditempuh dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Guna memperoleh gambaran tentang pelaksanaan layanan bimbingan konseling dalam menangani permasalahan siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba, digunakan analisis kualitatif untuk menganalisis hasil observasi dan wawancara guna menjawab permasalahan penelitian berkaitan dengan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, faktor penghambat dan faktor pendukung pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba. Selanjutnya untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, maka dilakukan triangulasi data yaitu membandingkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara antara informasi dari guru pembimbing, kepala sekolah, guru bidang studi, dan hasil observasi mengenai kondisi ruangan bimbingan dan konseling.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala SMP Negeri 2 Bulukumba mengemukakan bahwa “…..dan masih adanya fasilitas BK yang belum lengkap belum adanya ruangan konselor kelompok, ruangan dokumentasi, ruangan perpustakaan, dan ruang rapat BK”. Hal ini sesuai hasil wawancara dengan guru mata pelajaran bahwa
“masih ada fasilitas BK yang belum lengkap yaitu belum adanya ruangan konselor kelompok, ruangan dokumentasi, ruang perpustakaan, dan ruang rapat BK”.
Berbagai faktor penghambat lainnya yang turut mempengaruhi pelaksanaan layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba, terungkap dari hasil wawancara kedua guru pembimbing. Menurut guru pembimbing IK bahwa Faktor yang dirasakan agak penghambat kegiatan layanan bimbingan konseling, yaitu: adanya sebagian siswa yang kurang merespon secara positif kegiatan layanan BK dengan anggapan bahwa kegiatan layanan BK itu kurang penting, dan hanya sebagai pelengkap saja dari kegiatan yang ada di sekolah. Selain itu, kurang seimbangnya jumlah guru pembimbing dan siswa, masih kurang lengkapnya sarana BK, dan tidak adanya waktu khusus bagi guru pembimbing masuk kelas untuk memberikan layanan bimbingan konseling.
Faktor penghambat lainnya adalah masih kurangnya sosialisasi kegiatan BK kepada siswa sebagai mana terungkap dalam hasil wawancara dengan tiga siswa. Siswa DL mengungkapkan “Sebenarnya saya kurang begitu tahu tentang fasilitas BK tapi kalau saya memperhatikan ruangan BK data-data informasi tentang siswa cukup lengkap”.
Pernyataan yang sama disampaikan oleh RN bahwa “Saya kurang tahu apa saja fasilitas dari BK”. Selanjutnya pernyataan ini diperkuat siswa KR bahwa “Saya kurang mengerti tentang BK Dari ketiga pernyataan di atas mengindikasikan jika bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba masih kurang dikenal fungsinya oleh siswa meskipun para siswa tersebut sering mengikuti berbagai layanan BK yang diberikan
122 guru pembimbing. Dengan kata lain, sosialisasi bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba kepada para siswa masih kurang. Pernyataan guru pembimbing HR mengungkapkan bahwa Faktor yang dinilai menghambat pelaksanaan layanan bimbingan konseling yaitu : jumlah guru pembimbing yang tidak proporsional dengan jumlah siswa, adanya siswa yang senantiasa menghindari guru pembimbing dalam layanan bimbingan konseling, dan tidak adanya waktu khusus untuk layanan bimbingan konseling di kelas.
Mengacu dari hasil wawancara dan observasi di atas, ternyata kegiatan layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba walaupun dinilai telah berlangsung dengan cukup baik, akan tetapi dalam masih dihadapi berbagai kendala dalam pelaksanaannya, baik berkaitan dengan aspek sumber daya manusia (jumlah guru pembimbing) dan persepsi siswa tentang tugas guru pembimbing, juga aspek sarana dan prasarana berupa fasilitas BK yang masih perlu pengadaan yang lebih lengkap, dan tidak adanya waktu khusus bagi guru pembimbing untuk masuk kelas memberikan layanan bimbingan konseling. Selama ini waktu dan kesempatan guru untuk masuk kelas memberikan layanan bimbingan konseling hanya mengisi jam kosong jika guru mata pelajaran tidak masuk mengajar, ataupun jam istirahat meskipun jarang dilakukan untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk istirahat.
Selain terdapat beberapa da keterbatasan sebagai faktor penghambat dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling di sekolah, namun kelancaran dan keberhasilannya juga sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung. Adapun faktor-faktor pendukung tersebut baik berorientasi pada aspek sumber daya manusia maupun adanya fasilitas BK meskipun dinilai masih kurang lengkap, akan tetapi hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi guru pembimbing dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling secara lebih optimal.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala SMP Negeri 2 Bulukumba mengatakan bahwa:Faktor yang dinilai mendukung optimalisasi kegiatan pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah, yaitu: profesionalisasi dan motivasi guru pembimbing cukup tinggi dalam melaksanakan tugas, dan kerjasama antara guru pembimbing dengan semua personil sekolah.
Guru pembimbing SMP Negeri 2 Bulukumba keduanya berlatar belakang psikologi pendidikan dan bimbingan sehingga hal tersebut sangat mendukung pelaksanaan tugas layanan bimbingan konseling, meskipun jumlah guru pembimbing yang kurang seimbang dengan jumlah siswa, yaitu 1 berbanding 396 siswa. Demikian pula kedua guru pembimbing tersebut dinilai telah cukup berpengalaman dalam melaksanakan tugas di bidang layanan bimbingan dan konseling. Selian aspek kemampuan guru pembimbing dalam melaksanakan tugas bimbingan konseling, juga faktor adanya kerjasama yang baik antara guru pembimbng dengan semua personil sekolah dalam membantu tugas guru pembimbing. Kerjasama antara guru pembimbing dan semua personil sekolah dilakukan seperti tukar informasi tentang perkembangan belajar siswa di sekolah, perkembangan perilaku siswa di sekolah, dan berbagai hal yang dilakukan khususnya saat konferensi kasus guna membicarakan permasalahan-permasalahan yang
123 dialami siswa secara umum atau secara khusus. Adanya kerjasama antara guru pembimbng dengan guru mata pelajaran diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru bidang studi bahwa:
Selama ini ada kerjasama yang baik antara wali kelas, guru pembimbing dengan semua mata pelajaran dalam penanganan masalah-masalah siswa. Selain itu, juga diberikan informasi tentang absensi siswa, siswa yang mengalami prestasi belajar rendah, dan siswa yang sering bolos. Sesuai hasil wawancara dengan guru pembimbng MAS diperoleh hasil bahwa Faktor yang dinilai mendukung layanan bimbingan konseling, yaitu: adanya kerjasama yang baik antara semua personil sekolah dalam mendukung kegiatan layanan bimbingan konseling, dan adanya fasilitas BK meskipun masih belum lengkap.
Pernyataan di atas relevan dengan hasil wawancara dengan guru pembimbing HR bahwa Faktor yang dinilai mendukung kegiatan layanan bimbingan konseling di sekolah, yaitu adanya fasilitas BK meskipun belum lengkap, dan adanya kerjasama antara semua personil sekolah dalam mendukung kegiatan layanan BK. Fasilitas BK yang dimiliki SMP Negeri 2 Bulukumba memang belum lengkap, akan tetapi dengan fasilitas BK yang ada saat ini dinilai sudah dapat digunakan secara optimal untuk kegiatan layanan bimbingan konseling. Berbagai sarana BK yang dimiliki sesuai hasil observasi, berupa: ruangan BK, ruangan kerja guru BK, ruangan khusus konseling individual, dan ruangan tamu/tunggu. Perlengkapan BK yang dimiliki berupa : rak untuk menyimpan buku, meja dan kursi untuk tamu, dan papan program kerja BK.
Bahan untuk memperoleh data tentang siswa dan lingkungan sekolah, berupa: angket untuk siswa, angket untuk orang tua siswa, inventori minat, inventori sikap, dan catatan harian BK. Selain itu, untuk keperluan administrasi juga tersedia mesin ketik, komputer, mesin stensil, dan agenda surat.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba dapat berlangsung dengan cukup baik berkat adanya berbagai faktor yang mendukungnya. Faktor-faktor tersebut terkait dengan profesionalisasi dan motivasi guru pembimbing cukup tinggi dalam melaksanakan tugas di bidang layanan bimbingan konseling, adanya kerjasama yang baik antara guru pembimbing dengan semua personil sekolah demi kelancaran pelaksanaan tugas guru pembimbing dengan saling tukar menukar informasi tentang perkembangan siswa di sekolah, dan adanya fasilitas bimbingan konseling meskipun masih ada kekurangan dalam aspek tertentu, tetapi hal tersebut tidak berarti kegiatan layanan bimbingan konseling terganggu. Kondisi tersebut tidak terlepas dari faktor kemampuan guru pembimbing dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam kegiatan layanan bimbingan konseling di sekolah.
Dari hasil wawancara pada ketiga siswa yang menjadi informan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan layanan bimbingan konseling dalam menangani masalah siswa cukup bagus karena hasilnya bermanfaat dirasakan oleh siswa. Walaupun mereka masih kurang mengerti fungsi BK yang sebenarnya. Dari wawancara itu pula terungkap bahwa siswa tidak pernah secara suka rela mau mengungkapkan masalahnya kepada
124 guru pembimbing karena malu jika masalahnya dibeberkan pada orang lain. Menurut KR siswa kelas VII4 menyatakan “Saya tidak pernah membicarakan masalah pribadi saya dengan guru”. Informan RN siswa kelas VIII3 juga menyatakan bahwa “Tidak pernah. Saya rasa tidak punya masalah pribadi”. Pernyataan RN ini sejalan dengan pernyataan SW siswa kelas VIII2 bahwa “Tidak pernah, saya tidak pernah membicarakan masalah pribadi saya kepada guru manapun karena saya malu mengungkapkannya”.. Pernyataan dari ketiga siswa tersebut mengindikasikan jika ikatan kepercayaan dan keterbukaan antara layanan BK asas kepercayaan dan keterbukaan adalah salah satu faktor penting yang menentukan jalannya proses Bimbingan Konseling sehingga dapat berjalan dengan lancar dan dapat membantu siswa menyelesaikan masalahnya.
Secara umum pelaksanaan layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba sudah berlangsung dengan cukup baik, ditinjau dari aspek hasilnya dalam mengatasi masalah siswa, fasilitas BK, siswa, guru pembimbing, waktu layanan BK, dan personil bimbingan dan konseling. Gambaran pelaksanaan layanan bimbingan konseling di atas juga dipertegas oleh kepala sekolah SMP Negeri 2 Bulukumba yang menyatakan bahwa “secara umum pelaksanaan layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba sudah berjalan cukup baik, meskipun belum maksimal seperti yang diharapkan”.
Pernyataan di atas dipertegas lagi oleh guru pembimbing IK yang mneyatakan bahwa:
Wujud nyata pelaksanaannya yaitu tiap layanan memiliki materi-materi tertentu seperti layanan orientasi dengan materi peraturan dan tata tertib memasuki kantor, kelas, perpustakaan, laboratorium, dan fasilitas sekolah lainnya. Layanan Informasi materinya yaitu perlunya pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, baik individual maupun kelompok. Layanan Penempatan dan penyaluran materinya seperti kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan kesiswaan misalnya Osis. Layanan Pembelajaran yaitu peningkatan motivasi belajar siswa dan tentang sarana belajar siswa. Layanan Konseling perorangan seperti pengenalan potensi dan kemampuan berkomunikasi.
Layanan Bimbingan kelompok biasanya materinya penguasaan teknik materi pelajaran.
Layanan Konseling kelompok seperti hubungan dengan teman sebaya yang baik dan kemapuan berhubungan sosial. Layanan Konsultasi misalnya masalah guru dan siswa dalam hal disiplin belajar dan hubungan guru murid. Layanan Mediasi seperti hubungan buruk dengan teman.
Dengan ini setiap orang pasti akan menghadapi berbagai masalah, walaupun tingkat dari masalah dan jenis masalah yang akan berbeda. Akan tetapi, mengingat siswa SMP yang berada dalam situasi sebagai pelajar, maka masalah yang dihadapi lebih cenderung berkaitan dengan masalah-masalah belajar dan masalah-masalah sosial lainnya di sekolah. Di SMP Negeri 2 Bulukumba, dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling sesungguhnya tidak biasa terlepas dari berbagai kendala atau faktor-faktor yang turut mempengaruhi optimalisasi kegiatan layanan bimbingan konseling, seperti:
kurang seimbangnya jumlah guru pembimbing dibandingkan jumlah siswa yaitu 1 : 253 padahal idealnya yaitu 1 : 150 siswa. Selain itu, masih terbatasnya sarana BK berupa belum adanya ruangan konseling kelompok, ruangan dokumentasi, ruang
125 perpustakaan, dan ruang rapat BK; adanya sebagian siswa yang kurang merespon secara positif layanan bimbingan konseling sehingga saat guru pembimbing masuk kelas memberikan layanan bimbingan konseling justru mereka keluar kelas atau bahkan tidak menghadiri layanan bimbingan konseling di ruangan BK jika dipanggil oleh guru pembimbing, dan tidak adanya waktu khusus bagi guru pembimbing untuk masuk kelas dalam memberikan layanan bimbingan konseling.
Meskipun berbagai kendala terdapat dalam proses pelaksanaan layanan bimbingan konseling, namun, pada dasarnya pelaksanaan layanan bimbingan konseling dalam menangani permasalahan siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba dengan cara menanamkan rasa damai terhadap pihak lain atau memupuk rasa kebersamaan. Kondisi tersebut tidak terlepasdari adanya berbagai kerjasama yang baik antara guru pembimbing, wakil kepala sekolah, wakil kelas serta semua personil sekolah dalam ikut membantu guru pembimbing dalam melaksanakan seluruh layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba. Suatu realitas di sekolah seperti halnya yang terjadi pada siswa SMP Negeri 2 Bulukumba, bahwa siswa senantiasa menghadapi berbagai permasalahan.
Permasalahan tersebut terkait dengan masalah sosial, masalah belajar, masalah karir, dan masalah pribadi meskipun hal tersebut senantiasa menimbulkan keraguan masih siswa untuk mengkonsultasikan dengan guru pembimbing karena faktor kepercayaan, keterbukaan dan kerahasiaan.
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa yang muncul dalam kegiatan layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba terungkap dari hasil wawancara dengan guru pembimbing dan siswa itu sendiri. Masalah tersebut terkait dengan;
masalah belajar berupa kesulitan belajar, dan sikap/disiplin belajar di kelas; masalah sosial berupa konflik antara siswa, dan kemampuan penyesuaian sosial siswa.Adanya berbagai permasalahan yang dialami siswa pada hakikatnya merupakan sesuatu yang sangat wajar, mengingat dalam hidup dan kehidupan berlangsung baik dan memberikan manfaat besar bagi siswa dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Hal tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor yang mendukung dalam pelaksanaannya.
Faktor pendukung layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba, seperti:
profesionalisasi dan motivasi guru pembimbing cukup tinggi dalam melaksanakan tugas mengingat kedua guru pembimbing cukup tinggi dalam melaksanakan tugas mengingat kedua guru pembimbing berlatar belakang psikologi pendidikan dan bimbingan dan sudah cukup berpengalaman dalam melaksanakan tugas di bidang bimbingan dan konseling. Selian itu, ada kerjasama yang baik antara guru pembimbing dengan semua personil sekolah demi kelancaran pelaksanaan tugas guru pembimbing, dan adanya fasilitas bimbingan konseling meskipun masih ada kekurangan dalam aspek tertentu, seperti belum adanya ruangan konseling kelompok, ruangan dokumentasi, ruangan perpustakaan BK, dan ruangan rapat BK.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pelaksanaan layanan bimbingan konseling dalam menangani permasalahan siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba, disimpulkan sebagai berikut:
126 1. Gambaran masalah yang dialami siswa SMP Negeri 2 Bulukumba, berupa: a) masalah belajar (kesulitan belajar, dan sikap & kebiasaan belajar), b) masalah sosial (konflik antara siswa), dan c) penyesuaian diri (kemampuan penyesuaian diri/sosial siswa).
2. Gambaran pelaksanaan layanan bimbingan konseling di SMP Negeri 2 Bulukumba secara keseluruhan telah dilaksanakan dengan bentuk-bentuk materi seperti: layanan orientasi dengan materi peraturan dan tata tertib memasuki kantor, kelas, perpustakaan, laboratorium, dan fasilitas sekolah lainnya. Layanan informasi materinya yaitu perlunya pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, baik individual maupun kelompok. Layanan penempatan dan penyaluran materinya seperti kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan kesiswaan misalnya Osis. Layanan pembelajaran yaitu peningkatan motivasi belajar siswa dan tentang sarana belajar siswa. Layanan konseling perorangan seperti pengenalan potensi dan kemampuan berkomunikasi. Layanan bimbingan kelompok biasanya materinya penguasaan teknik materi pelajaran. Layanan konseling kelompok seperti hubungan dengan teman sebaya yang baik dan kemampuan berhubungan sosial, layanan konsultasi misalnya masalah guru dan siswa dalam hal disiplin belajar dan hubungan guru murid, layanan mediasi seperti layanan buruk dengan teman dengan cara menanamkan rasa damai terhadap pihak lain atau memupuk rasa kebersamaan.
3. Pada dasarnya, pelaksanaan layanan bimbingan konseling dalam menangani karena ketujuh bentuk layanan sudah dapat memcahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa baik masalah pribadi, sosial, belajar dan karir dan hasilnya juga dirasakan oleh siswa cukup bermanfaat permasalahan siswa di SMP Negeri 2 Bulukumba berlangsung dengan cukup baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. dan Rohani A. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.
Ali, M. 1990. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Jakarta : Pustaka Amani.
Gunarsa, S. D. 2000. Psikologi untuk Membimbing. Jakarta : Gunung Mulia.
Mappiare, A. 1994. Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Surabaya : Usaha Nasional.
Moleong, L. J. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Muhammad, Hamid. 2004. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan Konseling.
Jakarta : Depatemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Prayitno & Erman Amti. 1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Rineka Cipta.
Prayitno. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Jakarta : Rineka Cipta.
Siswanto, B. 1990. Manajeman Modern, Konsep dan Aplikasi. Bandung : Sinar Baru.
Sucipto, (Eds). 1996. Profesi Keguruan. Diklat. Ujungpandang : FIP IKIP.
Sukardi, D. K. 1984. Organisasi Administrasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Surabaya : Usaha Nasional.
127 . 1988. Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Bina Aksara.
. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.
. 2003. Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung : Alfabeta.
Umar, M. dan Sartono. 1998. Bimbingan dan Penyuluhan. Bandung : Pustaka Setia.