• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat daya juang siswa mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah dan implikasinya terhadap usulan topik topik bimbingan pribadi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tingkat daya juang siswa mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah dan implikasinya terhadap usulan topik topik bimbingan pribadi"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT DAYA JUANG SISWA MENGIKUTI SISTEM PENDISIPLINAN DI SEKOLAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP

USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh:

Florencia Valentine Tandirerung

131114066

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

TINGKAT DAYA JUANG SISWA MENGIKUTI SISTEM PENDISIPLINAN DI SEKOLAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP

USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh:

Florencia Valentine Tandirerung

131114066

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN MOTTO

“Never hold onto anything tighter than you’re holding onto God!”

(Jarrid Wilson)

“...before you speak, listen. Before you write, think. Before you spend, earn. Before you pray, forgive. Before you hurt, feel. Before you hate, love. Before you

quit, try. Before you die, live!”

(Shakespeare)

“Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”

(6)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ilmiah ini saya persembahkan bagi:

Tuhan Yesus Kristus,

Ia lah Tuhanku yang Maha Kasih dan lemah lembut dalam menuntunku menjalani kehidupan ini.

Orangtua tercinta,

Ayahanda Yusuf Tella Palayukan dan Ibunda Dina Gasong yang tak pernah lelah mendoakan, memberi dukungan dan semangat, dan mengasihi saya melalui

kepeduliannya yang luar biasa.

Adik tersayang,

Aletha Clara Tandirerung yang memberikan dukungan dan kritikan yang membangun.

Program Studi Bimbingan dan Konseling USD,

Teman-teman BK angkatan 2013.

(7)
(8)
(9)

viii ABSTRAK

TINGKAT DAYA JUANG SISWA MENGIKUTI SISTEM PENDISIPLINAN DI SEKOLAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP

USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)

Florencia Valentine Tandirerung

Universitas Sanata Dharma

2017

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat daya juang siswa mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017 sebanyak 89 siswa. Tingkat daya juang dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam mengikuti sistem pendisiplinan yang ketat di sekolah dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama menjalankan sistem pendisiplinan tersebut.

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Alat pengumpulan data ialah Kuesioner Daya Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah, berjumlah 70 item yang disusun oleh peneliti. Kuesioner disusun berdasarkan 5 aspek Adversity Quotient oleh Stoltz, yaitu (1) Control, (2) Origin, (3) Ownership, (4) Reach, (5) Endurance. Pengukuran validitas menggunakan validitas isi, selanjutnya menguji daya beda item dan menghasilkan 60 item valid Pengukuran reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan koefisien reliabilitas 0,931.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat daya juang siswa kelas X mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah tergolong kategori tinggi yaitu sebanyak 45 siswa (50,56%), sedangkan kategori sangat tinggi sebanyak 25 siswa (28,09%) dan kategori sedang sebanyak 19 siswa (21,35%). Siswa memiliki tingkat daya juang yang tinggi dalam merespons kesulitan-kesulitan yang mereka alami selama mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah. Namun, pada beberapa kondisi tertentu, siswa masih kurang mampu merespons kesulitan dengan baik seperti yang ditunjukkan oleh hasil analisis capaian skor item. Untuk itu, diusulkan topik-topik bimbingan pribadi berdasarkan item-item yang memiliki capaian skor rendah untuk meningkatkan daya juang siswa, seperti keberanian, tanggung jawab, hingga pengelolaan emosi.

(10)

ix ABSTRACT

LEVEL OF STUDENTS’ STRUGGLE POWER IN COMPLYING WITH THE DISCIPLINE SYSTEM AT SCHOOL AND ITS IMPLICATION FOR

GUIDANCE TOPICS PROPOSALS

(Descriptive Study on X Graders of SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Batch 2016/2017)

Florencia Valentine Tandirerung

Sanata Dharma University

2017

This research was aimed at finding the level of students’ struggle power in complying with the discipline system at school. The research subjects were 89 X Graders of SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Batch 2016/2017.

The struggle power in this research is students’ ability to comply with the

stringent discipline system at shcool and cope with difficulties faced while carrying out the discipline system.

This research was quantitative descriptive research. Data collection tool was Questionnaire On Struggle Power in Complying With The Discipline System at School with 70 items compiled by the researcher. The questionnaire was compiled based on 5 aspects of Adversity Quotient by Stoltz, i.e. (1) Control, (2) Origin, (3) Ownership, (4) Reach, (5) Endurance. Validity measurement was content validity, followed by item discriminatory power and yielded 60 valid items. Reliability measurement used was Alpha Cronbach equation with reliability coefficient of 0,931.

The result of the research showed that the level of students’ struggle power

of X graders in complying with the discipline system at school was categorized as high, i.e. 45 students (50,56%), while 25 students (28,09%) was categorized as very high, and 19 students (21,35%) was categorized as medium. Those students had a high struggle power in responding to difficulties they underwent while complying with the discipline system at school. However, in certain conditions, the students were not fully capable of responding well to difficulties as shown by the result of the item scoring. For this reason, it was proposed the private guidance

topics based on items with low scores to boost the students’ struggle power, such

as bravery, responsibility, and emotion management.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas

pertolongan dan penyertaanNya dalam persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian

skripsi ini dengan judul “Tingkat Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem

Pendisiplinan di Sekolah dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik

Bimbingan Pribadi (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan

AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)” dapat terselesaikan tepat

waktu.

Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan

Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Selama proses menulis skripsi ini, peneliti menyadari bahwa begitu

banyak pihak yang berperan dalam membimbing, mendampingi, mengingatkan

dan mendukung setiap proses yang penulis jalani. Oleh sebab itu, peneliti

mengucapkan terimakasih yang tulus kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

2. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan

Konseling Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

3. Bapak Juster Donal Sinaga, M.Pd selaku Wakil Ketua Program Studi

(12)

xi

4. Ibu Dr. M.M. Sri Hastuti, M.Si, selaku dosen pembimbing yang sabar dan

tulus memberikan waktu, motivasi, masukan, dan banyak pembelajaran

berharga kepada peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

5. Bapak dan Ibu Dosen atas dampingan, nasihat dan ilmu pengetahuan yang

berguna bagi peneliti selama kuliah di Program Studi Bimbingan dan

Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

6. Kepala SMK Penerbangan AAG Adisutjipto yang telah memberikan izin

kepada peneliti untuk melakukan penelitian di sekolah.

7. Para guru, terkhusus guru BK, dan staff di SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto yang telah sabar mendampingi, memberikan waktu, dan

mengarahkan peneliti selama proses pengambilan data.

8. Mas Stefanus Priyatmoko selaku petugas sekretariat Program Studi

Bimbingan dan Konseling yang senantiasa ramah dan penuh kesabaran

melayani administrasi selama peneliti menempuh studi.

9. Orang tua tercinta, Bapak Yusuf Tella Palayukan dan Ibu Dina Gasong atas

seluruh doa, cinta, kasih sayang, kepedulian, dukungan, dampingan, nasehat,

penguatan, bahkan teguran yang diberikan kepada peneliti selama ini.

10.Adik tersayang, Aletha Clara Tandirerung, beserta keluarga atas segala

dukungan, semangat, dan kasih sayang yang diberikan kepada peneliti selama

ini, serta adik sepupu, Eviana, yang bermurah hati meminjamkan laptop

untuk peneliti mengerjakan skripsi.

11.Sahabat, kekasih, sekaligus keluarga keduaku, Restianti, Evita, Ferry,

(13)
(14)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Batasan Masalah ... 10

D. Rumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 11

F. Manfaat Penelitian ... 11

G. Definisi Istilah ... 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Daya Juang ... 13

1. Definisi Daya Juang ... 13

2. Faktor yang Mempengaruhi Daya Juang ... 15

a. Daya Saing... 15

(15)

xiv

c. Kreativitas... 16

d. Motivasi ... 16

e. Mengambil Risiko ... 16

f. Perbaikan ... 16

g. Ketekunan ... 17

h. Belajar... 17

i. Merangkul Perubahan ... 17

j. Keuletan, Stres, Tekanan, Kemunduran ... 18

3. Dimensi Daya Juang... 18

a. C = Control (Kendali) ... 18

b. O2 = Origin and Ownership (Asal Usul dan Pengakuan) ... 19

c. R = Reach (Jangkauan) ... 21

d. E = Endurance (Daya Tahan) ... 21

4. Tipe-tipe Daya Juang ... 22

B. Sistem Pendisiplinan ... 24

1. Definisi Sistem Pendisiplinan ... 24

2. Sistem Pendisiplinan di Sekolah ... 26

C. Remaja ... 26

1. Definisi Remaja ... 26

2. Tugas Perkembangan Remaja ... 27

D. Hubungan antara Daya Juang, Sistem Pendisiplinan, dan Remaja . 28 E. Kajian Penelitian Relevan ... 30

F. Kerangka Pikir ... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis atau Desain Penelitian ... 32

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 33

C. Subjek Penelitian ... 33

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 34

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 34

(16)

xv

1. Validitas ... 37

2. Reliabilitas ... 40

G. Teknik Analisis Data ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Hasil Data ... 45

B. Pembahasan ... 52

1. Gambaran Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adistutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017 dalam Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah ... 52

2. Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Untuk Menigkatkan Daya Juang Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017 ... 56

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 62

B. Keterbatasan Penelitian ... 63

C. Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA ... 65

(17)

xvi

DAFTAR TABEL DAN GRAFIK

Tabel 3.1. Jumlah Sampel Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto Yogyakarta ... 33

Tabel 3.2. Pengukuran Skala Likert ... 35

Tabel 3.3. Kisi-kisi Instrumen Daya Juang Mengikuti Sistem

Pendisiplinan di Sekolah Untuk Uji Coba Terpakai ... 35

Tabel 3.4. Hasil Rekapitulasi Uji Daya Beda Item Instrumen Daya

Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah ... 40

Tabel 3.5. Kriteria Guilford ... 41

Tabel 3.6. Nilai Koefisien Reliabilitas Instrumen ... 41

Tabel 3.7. Norma Kategorisasi Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X

Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah pada Siswa Kelas

X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun

Ajaran 2016/2017 ... 41

Tabel 3.8. Kategorisasi Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X Mengikuti

Sistem Pendisiplinan di Sekolah pada Siswa Kelas X SMK

Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran

2016/2017 ... 43

Tabel 3.9. Kategorisasi Skor Item Daya Juang Kelas X SMK

Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran

2016/2017 ... 44

Tabel 4.1. Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto Tahun Ajaran 2016/2017 dalam Mengikuti Sistem

Pendisiplinan di Sekolah ... 45

Tabel 4.2. Distribusi Item Instrumen Penelitian Berdasar Capaian Skor .. 48

Tabel 4.3. Item yang Memiliki Capaian Skor Sedang dan Rendah ... 51

Tabel 4.4. Usulan Topik-topik Bimbingan untuk Meningkatkan Daya

Juang Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto .... 57

Grafik 1.1. Data Jumlah Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG

(18)

xvii

Grafik 4.1. Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X Mengikuti Sistem

Pendisiplinan di Sekolah ... 46

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Kisi-kisi Instrumen Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem

Pendisiplinan Sebelum Uji Coba Terpakai... 67

Lampiran II Kuesioner Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem

Pendisiplinan di Sekolah ... 73

Lampiran III Hasil Perhitungan Uji Daya Beda Item Setelah Uji Coba

Terpakai Instrumen Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem

Pendisiplinan di Sekolah ... 81

Lampiran IV Item-item yang Memiliki Capaian Skor Rendah Instrumen

Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem Pendisiplinan di

Sekolah ... 85

Lampiran V Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Bagi Siswa Kelas

X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun

Ajaran 2016/2017 untuk Meningkatkan Daya Juang Siswa

dalam Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah ... 86

(20)

1 BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini berisi paparan secara berurutan mengenai latar belakang masalah,

identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, dan definisi istilah.

A. Latar Belakang

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan satuan pendidikan yang

menyelenggarakan pendidikan kejuruan sebagai lanjutan dari tingkat

SMP/sederajat. SMK berbeda dengan SMA/sederajat karena SMK terfokus pada

satu bidang keahlian. Pembelajaran di SMK menekankan kegiatan praktikum,

seperti melakukan praktikum di sekolah dan program kerja lapangan pada tingkat

kelas tertentu, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa di bidang

keahlian yang diambil. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan sumber daya manusia

yang berkualitas sehingga SMK diharapkan mampu menyediakan lulusan yang

berkualitas sesuai dengan bidangnya.

Ada beragam bidang keahlian yang terdapat di SMK. Direktorat Pembinaan

Sekolah Menengah Kejuruan (2016) memiliki data bidang keahlian pendidikan

menengah kejuruan. Bidang keahlian pendidikan menengah kejuruan dibagi

menjadi delapan, yaitu teknologi dan rekayasa, teknologi informasi dan

(21)

2

bisnis dan manajemen, pariwisata, seni rupa dan kriya, serta seni pertunjukan.

Bidang-bidang keahlian tersebut mempunyai program keahlian masing-masing.

Di dalam program keahlian, terdapat beberapa paket keahlian yang lebih terfokus

pada satu bidang dari programnya.

Bidang dan program keahlian yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah

bidang keahlian teknologi dan rekayasa, dan program keahlian teknologi pesawat

udara. Program keahlian ini terbagi ke dalam tujuh paket keahlian, yaitu

pemeliharaan dan perbaikan motor dan rangka pesawat udara, pemesinan pesawat

udara, konstruksi badan pesawat udara, konstruksi rangka pesawat udara,

kelistrikan pesawat udara, elektronika pesawat udara, serta pemeliharaan dan

perbaikan instrument elektronika pesawat udara. Sekolah Menengah Kejuruan

yang memfasilitasi peserta didik dalam program keahlian teknologi pesawat udara

adalah SMK Penerbangan.

Menurut Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia

(2011, dalam http://fp3mki.org/alamat-penerbangan.html/), ada 30 SMK

Penerbangan yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. SMK Penerbangan

muncul karena kebutuhan masyarakat Indonesia akan transportasi udara serta

dunia penerbangan Indonesia yang mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Untuk dapat memperlancar mobilitas masyarakat Indonesia dari kota ke kota

maupun pulau ke pulau, transportasi udara sangat dibutuhkan, terutama jika

mempertimbangkan waktu. Selain itu, setiap maskapai penerbangan

membutuhkan sekurangnya 1.200 teknisi untuk mekanik maupun bengkel pesawat

(22)

3

yang berkualitas dengan cara mempersiapkan siswanya untuk mampu bekerja di

dunia penerbangan sehingga nantinya mampu menyumbangkan tenaga teknisi

yang berkualitas bagi maskapai-maskapai penerbangan. Dengan begitu, mobilitas

masyarakat melalui jalur udara menjadi lancar dengan kenyamanan dan keamanan

yang dapat dirasakan diatas pesawat udara yang ditumpangi karena mekanik

pesawat yang dapat ditangani dengan baik.

Yogyakarta sebagai kota pelajar memiliki satu SMK Penerbangan, yaitu

SMK Penerbangan AAG Adisutjipto. SMK Penerbangan AAG Adisutjipto

terletak di kompleks Lanud Adisutjipto. Sekolah ini berada dalam naungan

Yayasan Angkasa Ardhya Garini milik TNI AU. Maka dari itu sekolah ini

menerapkan prinsip-prinsip kemiliteran dalam membina karakter siswa,

khususnya dalam hal kedisiplinan. Walaupun demikian, prinsip kemiliteran yang

diterapkan bukanlah prinsip militer murni seperti pada sekolah kedinasan yang

berorientasi pada bidang kemiliteran. Prinsip kemiliteran tersebut dapat terlihat

dalam tata tertib sekolah yang mengatur siswa sedemikian rupa agar siswa

memiliki sikap disiplin.

Prinsip kemiliteran yang diterapkan SMK Penerbangan AAG Adisutjipto

bertujuan untuk mendisiplinkan siswa. Prinsip kemiliteran ini bersifat tegas dan

mengatur, sehingga komponen sekolah, seperti siswa dan guru menyebut sekolah

mereka bersifat semi militer. Bentuk-bentuk semi militer yang ada di sekolah,

antara lain ketepatan waktu; penggunaan seragam dan atribut yang dirancang

sekolah; kerapihan rambut, cara berpakaian, dan sepatu; pelatihan baris-berbaris

(23)

4

keteraturan, kesigapan, kekompakan, dan ketertiban; adanya rasa hormat yang

tinggi dari junior terhadap senior; adanya solidaritas dengan teman; serta padatnya

kegiatan fisik.

Bentuk-bentuk pendisipinan yang dilakukan sekolah dapat dilihat dari tata

tertib yang ketat ditetapkan oleh SMK Penerbangan AAG Adisutjipto. Tata tertib

tersebut, antara lain mewajibkan siswa mengikuti apel pagi dan sore, mengikuti

ekstrakurikuler sepulang sekolah, memberikan sanksi terhadap pelanggar tata

tertib yang mana sanksinya kebanyakan berorientasi pada pembinaan fisik,

maupun mewajibkan siswa menggunakan seragam dan atribut yang dirancang

khusus dengan potongan rambut yang telah ditentukan sekolah.

Dengan sistem pendisiplinan yang ketat di sekolah, siswa yang ingin

melanjutkan pendidikan di sekolah ini perlu mengumpulkan informasi yang

lengkap tentang lingkungan dan peraturan sekolah. Hal ini merupakan tantangan

bagi siswa baru sebelum bersekolah di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto.

Siswa perlu mengetahui kondisi sekolah, khususnya sistem pendisiplinan yang

diterapkan. Mereka dapat mengumpulkan informasi dari teman, guru, maupun

website SMK Penerbangan AAG Adisutjipto. Hal ini bertujuan untuk

memberikan gambaran pada siswa mengenai peraturan yang perlu mereka patuhi

dan laksanakan. Dengan begitu, mereka dapat mempersiapkan diri dan

mengetahui bagaimana menyesuaikan diri dengan sistem pendisiplinan di sekolah.

Sistem pendisiplinan yang ditetapkan di setiap sekolah memiliki pengaruh

(24)

5

yang disebabkan oleh sistem pendisiplinan di sekolah antara lain, tingkat

kedisiplinan siswa, motivasi belajar, motivasi mencapai tujuan, maupun daya

juangnya. Salah satu pengaruh yang timbul dari sistem pendisiplinan di sekolah

dan menjadi hal yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah daya juang. Daya

juang muncul ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan oleh berbagai

macam situasi yang sulit dan menemukan cara untuk mengatasinya (Stoltz. 2007).

Demikian pula dalam menjalani sistem pendisiplinan yang ketat di sekolah, daya

juang siswa dapat terlihat bergantung pada cara mereka menyikapinya.

Sejalan dengan isu daya juang, siswa yang menjadi subjek penelitian juga

berada dalam kondisi yang hanya memungkinkan mereka untuk mempunyai dua

pilihan, yaitu melanjutkan perjuangan atau menyerah. Kondisi tersebut

disebabkan oleh sistem pendisiplinan di sekolah yang mengatur siswa. Siswa yang

berasal dari lingkungan yang tidak terbiasa hidup disiplin akan menemukan

kesulitan dalam mengikuti tata tertib di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto.

Akan tetapi, siswa yang mampu menyesuaikan diri tidak merasa tertekan bahkan

tidak berdaya mengikuti tata tertib di sekolah, melainkan berusaha untuk

mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

Berikut adalah rekapan data jumlah siswa kelas X semester ganjil menuju

semester genap (Januari, 2016) tahun ajaran 2015/2016 SMK Penerbangan AAG

(25)

6

38 38 38 38 39 38 39

40

36 35

28

37 38 37 38 38 37

39 39

36 33

28

X-1 X-2 X-3 X-4 X-5 X-6 X-7 X-8 X-9 X-10 X-11 Data Jumlah Siswa Kelas X Semester Ganjil Tahun

Ajaran 2015/2016

SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta

Awal Semester Ganjil Akhir Semester Ganjil

Gambar 1.1

Data Jumlah Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Tahun Ajaran 2015/2016

Data tersebut menunjukkan adanya ketidakstabilan jumlah siswa selama semester

ganjil menuju semester genap. Ada lima kelas yang mengalami pengurangan satu

orang siswa dan satu kelas mengalami pengurangan dua orang. Berdasarkan

wawancara peneliti dengan guru BK mengenai penurunan jumlah siswa di sekolah

ketika peneliti melaksanakan magang (02/2016), mereka mengatakan bahwa

sebagian besar alasan jumlah siswa kelas X berkurang adalah adanya

pengunduran diri yang dilakukan oleh siswa. Beberapa dari mereka

mengundurkan diri dengan alasan kesulitan untuk mengikuti sistem pendisiplinan

(26)

7

Februari 2016 juga serupa dengan hasil wawancara bersama guru di sekolah, yaitu

adanya tiga siswa yang mengundurkan diri dari sekolah dengan alasan sulit

mengikuti tata tertib, seperti sulit bangun pagi untuk melaksanakan apel pagi, sulit

mengikuti instruksi senior, khususnya senior anggota OSIS, maupun lokasi rumah

dan sekolah yang jauh sehingga harus berangkat sangat pagi (subuh) untuk ke

sekolah. Dari observasi yang peneliti lakukan, mereka tetap memilih untuk

mengundurkan diri dari sekolah walaupun dari awal mereka masuk di sekolah,

mereka telah diberitahu tentang tata tertib yang ada dan menyetujuinya pada saat

wawancara penerimaan peserta didik baru.

Peneliti juga mengobservasi berbagai sikap yang ditunjukkan siswa dalam

mengikuti tata tertib ketika peneliti sedang melakukan magang di SMK

Penerbangan AAG Adisutjipto (02/2016). Terkadang mereka menghindar untuk

melaksanakan tata tertib, seperti datang terlambat agar tidak mengikuti apel,

bersembunyi agar tidak mendapat hukuman ketika melakukan pelanggaran,

bahkan tidak datang ke sekolah untuk beberapa hari, hingga mengundurkan diri

dari sekolah. Sikap-sikap tersebut menunjukkan sikap negatif yang dilakukan oleh

siswa dalam mengikuti tata tertib.

Walaupun ada beberapa siswa yang menunjukkan sikap negatif dalam

mengikuti tata tertib, namun ada pula yang tetap mengikuti tata tertib di sekolah

dengan tekun. Pada kenyataannya, lebih banyak yang memilih untuk mengatasi

kondisi yang sulit tersebut dengan cara bertahan dan melanjutkan sekolah hingga

selesai. Meski begitu, mereka juga tidak luput dari keluhan-keluhan terhadap

(27)

8

tersebut tidak membuat mereka menyerah untuk menyelesaikan pendidikannya.

Berikut adalah kutipan pernyataan seorang siswa kelas XI yang menunjukkan

keluhan terhadap sistem pendisiplinan di sekolah:

“Peraturan di sekolah ini sangat ketat, seperti lamanya berada di sekolah yang dimulai dari pagi sekali hingga sore hari, pelaksanaan apel setiap hari, hingga hukuman bagi yang melakukan pelanggaran. Lelah rasanya mengikuti tata tertib yang seperti ini tapi jika saya memilih untuk mengundurkan diri, saya kasihan terhadap orang tua saya yang sudah membiayai saya dari awal masuk disini hingga sekarang. Jika saya memilih untuk menyerah, sudah dari dulu saya mengundurkan diri. Lagian, berada

disini juga hanya 3 tahun.” (A, 02/2016)

Pernyataan siswa tersebut menunjukkan bahwa dia juga mengeluhkan sistem

pendisiplinan yang diberlakukan oleh sekolah namun dia tetap memilih untuk

mengatasi kondisi tersebut dengan melanjutkan sekolah hingga selesai. Siswa

tersebut memiliki alasan yang menyebabkan dirinya tetap berjuang, yaitu ingin

membanggakan orang tua. Hal ini berkaitan dengan daya juang yang

menunjukkan bahwa daya juangnya semakin kuat di dalam kondisi yang sulit

karena berpegang pada tujuan atau impiannya (Stoltz. 2007)

Berangkat dari latar belakang yang telah diutarakan dan dipaparkan, peneliti

tertarik untuk melakukan sebuah penelitian tentang kemampuan daya juang siswa

di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto. Penelitian ini akan meneliti tentang

tingkat daya juang siswa dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah,

khususnya terhadap siswa kelas X yang sedang diperkenalkan dengan sistem

pendisiplinan di sekolah dan masih beradaptasi dengan hal tersebut. Dengan

mengetahui tingkat daya juang siswa, pendidik di sekolah, terutama guru

(28)

9

tepat untuk digunakan guna meningkatkan daya juang siswa. Maka dari itu,

peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Daya Juang Siswa

Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah dan Implikasinya Terhadap Usulan

Topik-topik Bimbingan Pribadi (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK

Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)”.

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang mengenai “Tingkat Daya Juang Siswa

Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah dan Implikasinya Terhadap

Penyusunan Topik-topik Bimbingan Pribadi (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X

SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)”,

peneliti menemukan beberapa masalah yang teridentifikasi sebagai berikut:

1. Beberapa siswa SMK Penerbangan AAG Adisutjipto memiliki kesulitan

dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah dan memilih untuk

mengundurkan diri.

2. Sebagian besar siswa mengeluhkan sistem pendisiplinan berupa tata tertib

yang ada di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto namun tetap

melanjutkan sekolah hingga selesai.

3. Siswa kelas X yang berasal dari lingkungan yang tidak terbiasa disiplin

mengalami kesulitan dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah.

4. Beberapa siswa tidak mematuhi tata tertib dengan menghindar dari aturan

(29)

10

5. Beberapa kelas X mengalami pengurangan siswa sebanyak satu hingga

dua orang dalam satu semester.

6. Ada siswa yang mengundurkan diri dengan alasan tidak mampu mengikuti

instruksi senior (OSIS divisi tata tertib)

7. Beberapa siswa mengundurkan diri karena merasa berat harus bangun dan

berangkat sangat pagi untuk ke sekolah karena lokasi rumahnya yang

jauh.

8. Beberapa siswa tetap memilih untuk mengundurkan diri walaupun sejak

awal masuk sudah menyetujui tata tertib yang diinformasikan sekolah.

C. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan untuk mengetahui tingkat daya

juang siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto dalam mengikuti sistem

pendisiplinan di sekolah.

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Seberapa tinggi tingkat daya juang siswa kelas X SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah?

2. Item-item mana saja yang memiliki capaian skor rendah sehingga

diusulkan topik-topik bimbingan pribadi untuk meningkatkan daya juang

siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto dalam mengikuti

(30)

11 E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan tingkat daya juang siswa kelas X SMK Penerbangan

AAG Adisutjipto mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah.

2. Mendeskripsikan topik-topik bimbingan yang dapat disusun untuk

meningkatkan daya juang siswa kelas X SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah.

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan informasi

dalam bidang bimbingan dan konseling, khususnya mengenai daya juang.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Penelitian ini memberikan kesempatan bagi peneliti untuk berlatih

melaksanakan penelitian sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dan

belajar berpikir kritis dalam menjawab persoalan yang ada. Selain itu,

penelitian ini juga menjadi bekal bagi peneliti dalam memberikan

pelayanan dan pendampingan kepada siswa tentang daya juang.

b. Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini dapat memberikan informasi tambahan bagi peneliti

lain yang memiliki minat lebih jauh untuk mencermati kemampuan

(31)

12 G. Definisi Istilah

Untuk menambah pemahaman mengenai beberapa terminologi dalam judul

penelitian ini, peneliti menjelaskan beberapa istilah penting sebagai berikut.

1. Daya Juang

Daya juang merupakan kemampuan seseorang untuk mengarahkan

dirinya agar mampu untuk menghadapi dan mengatasi rintangan dalam

situasi yang sulit dengan berfokus pada sesuatu yang ingin dicapai.

2. Sistem Pendisiplinan

Sistem pendisiplinan merupakan upaya-upaya yang dilakukan

untuk membantu seseorang mengubah perilakunya menjadi lebih teratur

dan bertanggung jawab secara terstruktur demi mencapai tujuan tertentu.

3. SMK Penerbangan

SMK Penerabangan adalah salah satu bentuk satuan pendidikan

formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan bidang penerbangan

pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari tingkat

(32)

13 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab ini berisi paparan mengenai daya juang, sistem pendisiplinan, remaja,

kaitan daya juang, sistem pendisiplinan, dan remaja, penelitian yang relevan, dan

kerangka pikir.

A. Daya Juang

1. Definisi Daya Juang

Situasi yang sulit dapat membentuk kemampuan seseorang untuk

mengatasi sebuah masalah. Dalam menghadapi situasi yang sulit,

seseorang dapat menentukan bagaimana dirinya bersikap. Seseorang

dapat memilih untuk menghindar dan tidak menyelesaikannya atau

menghadapi dan mengatasi rintangan tersebut. Pilihan untuk menghadapi

dan mengatasi rintangan merupakan daya juang seseorang.

Stoltz (2007) mengistilahkan daya juang sebagai kecerdasan

adversity, yaitu kemampuan individu dalam menghadapi dan mengatasi rintangan atau kesulitan sehari-hari secara tangguh serta tekun tanpa

peduli hambatan yang ada di sekelilingnya dan fokus pada tujuan.

Phoolka & Kaur (2012) menyederhanakan definisi mengenai daya juang

menjadi kemampuan untuk bertahan dalam situasi yang sulit dan

(33)

14

merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan dan mencapai

impiannya secara gigih.

Nashori (Noprianti. 2015) berpendapat bahwa daya juang

merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya

untuk mengarahkan diri dan mengubah cara pandang maupun perilakunya

ketika berhadapan dengan situasi yang dapat membuatnya tidak berdaya.

Secara ringkas, Leman (Agusta. 2015) menyebutkan daya juang sebagai

kemampuan seseorang dalam mengatasi rintangan.

Menurut Rahmah (Lestari. 2014) daya juang adalah kemampuan

seseorang untuk mempertahankan dan mencapai tujuan masa depan

secara gigih. Lestari (2014) mengatakan bahwa daya juang merupakan

kecerdasan seseorang dalam menghadapi rintangan atau kemalangan

dalam hidupnya.

Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa

daya juang merupakan kemampuan seseorang untuk mengarahkan dirinya

agar mampu untuk menghadapi dan mengatasi rintangan dalam situasi

yang sulit dengan berfokus pada sesuatu yang ingin dicapai. Daya juang

membantu seseorang untuk melewati rintangan yang terjadi dalam

kehidupan. Dengan adanya daya juang, seseorang mampu mencari jalan

(34)

15

2. Faktor yang Mempengaruhi Daya Juang

Menurut Stoltz (2007), ada beberapa faktor yang mempengaruhi

kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan. Faktor-faktor

tersebut membentuk daya juang seseorang.

a) Daya saing

Daya juang seseorang dapat terlihat melalui responsnya terhadap

kesulitan. Orang yang memiliki daya juang tinggi akan menanggapi

kesulitan secara konstruktif, yaitu menggunakan energi, fokus, dan

tenaganya sesuai dengan yang diperlukan agar dapat berhasil dalam

persaingan. Orang yang memiliki daya juang rendah akan lebih

destruktif sehingga mudah berhenti berusaha dalam persaingan.

b) Produktivitas

Respons terhadap kesulitan-kesulitan yang terjadi mempengaruhi

kinerja seseorang. Ketika seseorang menanggapi kesulitan secara

konstruktif, produktivitasnya jauh lebih baik dibandingkan yang

menanggapi secara destruktif. Hal ini dibuktikan dengan penelitian

Seligman (2005) bahwa orang yang merespons kesulitan dengan

senang hati akan memiliki kinerja yang bagus, lebih produktif, dan

lebih lama bertahan dengan berbagai tugas yang diberikan

dibandingkan dengan yang merespons kesulitan dengan tidak senang

(35)

16

c) Kreativitas

Kreativitas merupakan inovasi yang dilakukan sebagai bentuk dari

suatu harapan bahwa sesuatu yang sebelumnya tidak ada dapat

diciptakan untuk menjadi ada. Menurut Barker (Stoltz. 2007)

kreativitas dapat muncul dari keputusasaan sehingga kemampuan ini

akan terbentuk ketika seseorang mampu mengatasi kesulitan. Orang

yang tidak mampu mengatasi kesulitan mempunyai kreativitas yang

lebih rendah.

d) Motivasi

Daya juang juga terbentuk dari adanya motivasi. Orang-orang yang

paling memiliki motivasi mempunyai kemampuan daya juang yang

tinggi. Dengan adanya motivasi, seseorang mempunyai alasan untuk

bertahan dan berjuang.

e) Mengambil risiko

Keyakinan bahwa mengambil tindakan atas sesuatu yang belum

diketahui hanya akan membuang-buang energi merupakan tindakan

yang tidak berani mengambil risiko. Daya juang terbentuk ketika

seseorang merespons kesulitan secara konstruktif sehingga ia berani

mengambil risiko.

f) Perbaikan

Seseorang perlu melakukan perbaikan secara terus menerus untuk

dapat bertahan hidup. Perbaikan dilakukan agar tidak ketinggalan

(36)

17

pekerjaan. Perbaikan yang dilakukan oleh seseorang akan semakin

mengembangkan kemampuan daya juangnya.

g) Ketekunan

Stoltz (2007:95) mengatakan, “ketekunan adalah kemampuan untuk

terus menerus berusaha, bahkan manakala dihadapkan pada

kemunduran-kemunduran atau kegagalan.” Respons yang baik atas

kesulitan yang dihadapi akan membantu seseorang untuk terus

berusaha sedangkan mereka yang merespons dengan buruk akan

mudah menyerah.

h) Belajar

Daya juang berkaitan dengan teori Seligman mengenai optimisme

dan pesimisme. Menurut penelitian Dweck (Stoltz. 2007), ditemukan

bahwa anak yang merespons kesulitan secara pesimis tidak akan

belajar banyak dibandingkan anak yang merespons secara optimis.

i) Merangkul perubahan

Perubahan akan selalu menyertai kehidupan manusia. Kemampuan

untuk menghadapi dan mengatasi perubahan akan sangat

dibutuhkan. Orang yang menerima perubahan dengan baik akan

menganggap perubahan itu sebagai peluang dan bukan hambatan.

Mereka yang menolak perubahan merasa tidak memiliki kontrol atas

perubahan itu sehingga menganggap perubahan sebagai suatu beban

(37)

18

j) Keuletan, stres, tekanan, kemunduran

Kemungkinan munculnya stress dalam hidup seseorang tidak sedikit.

Banyak hal yang dapat memicu stress pada seseorang. Respons

terhadap stres yang dapat membentuk daya juang. Ketika orang

merespons stress dengan baik, maka mereka akan semakin ulet dan

mengurangi stress itu sendiri. Mereka bisa saja mundur untuk

menentukan langkah apa yang akan diambil selanjutnya dan

melanjutkan perjuangan. Sebaliknya, ketika stress direspons dengan

negatif, maka stress tersebut akan terasa menekan dan menimbulkan

kemunduran yang membuat seseorang sulit untuk maju.

3. Dimensi Daya Juang

Daya juang terdiri atas empat dimensi, yaitu CO2RE atau akronim

dari C = Control (Kendali), O2 = Origin and Ownership (Asal-Usul dan Pengakuan), R = Reach (Jangkauan), dan E = Endurance (Daya Tahan) (Stoltz. 2007).

a. C = Control (Kendali)

Menurut Stoltz (2007), kendali diawali dengan keyakinan bahwa

segala sesuatu dapat dilakukan meskipun banyak rintangan yang

harus dilalui sehingga menciptakan tindakan dan pikiran yang

mendukung keyakinan tersebut. Orang yang merespons kesulitan

yang dialami secara optimis mencerminkan dirinya yang merasa

memiliki kendali yang kuat terhadap masalahnya. Mereka akan lebih

(38)

19

dikendalikan oleh permasalahan namun sebaliknya mereka yang

mengendalikan dirinya untuk dapat mengatasi masalah. Mereka akan

bersikap tenang dan berpikir tentang bagaimana diri mereka

mengatasi masalah yang dihadapi dengan mengubah cara pandang

menjadi lebih positif dan menyusun strategi untuk menyelesaikan

masalahnya. Orang yang merespons kesulitan dengan baik tidak

langsung menyerah ketika menemui kesulitan melainkan berani untuk

menghadapi dan mengatasinya.

b. O2 = Origin and Ownership (Asal-Usul dan Pengakuan)

Dimensi ini terdiri atas dua aspek, yaitu asal-usul dan

pengakuan. Asal usul menyangkut rasa bersalah yang timbul dari

dalam diri seseorang ketika mengalami kesulitan. Rasa bersalah ini

dapat menjadi suatu pelajaran untuk dapat melakukan perbaikan ke

depannya dan bentuk penyesalan akan tindakan yang mungkin

melukai orang lain. Penyesalan dapat membantu untuk memperbaiki

kerusakan yang mungkin terjadi dalam suatu hubungan. Orang yang

memiliki tingkat daya juang rendah cenderung terlalu menyalahkan

dirinya atas kejadian buruk yang dialami dan menganggap dirinya

sebagai sumber kesulitan sehingga tidak mampu belajar dari

kesalahan. Dengan memiliki rasa bersalah berlebihan, orang akan

berlarut-larut dalam penyesalan, sehingga mudah kehilangan

semangat dan motivasi untuk bertindak dan melakukan perbaikan.

(39)

20

kesalahan diri sendiri dengan menyadari bahwa dirinya bukanlah

satu-satunya penyebab kesulitan yang dialami namun ada faktor lain

juga, sehingga dia mampu bangkit dari kegagalan yang dialami. Oleh

karena itu, rasa bersalah yang muncul perlu ditempatkan pada kadar

yang sewajarnya dan digunakan untuk melakukan perbaikan diri

secara terus-menerus.

Aspek yang kedua ialah pengakuan. Dalam hal ini, seseorang

mengakui akibat yang ditimbulkan oleh masalah yang terjadi. Adanya

pengakuan mengenai akibat masalah mencerminkan tanggung jawab.

Orang yang mempunyai rasa bersalah atas suatu masalah dan tidak

mengakui akibat dari masalah, tidak bertanggung jawab atas masalah

itu. Mereka akan menganggap bahwa mereka tidak bertanggung

jawab untuk akibat yang muncul itu Karena mereka merasa tidak

mampu untuk melakukan perbaikan. Sebaliknya, orang yang

mempunyai rasa bersalah dan mengakui akibat dari masalah tersebut

menerima konsekuensi dari kesalahannya. Mereka akan bertanggung

jawab melakukan tindakan-tindakan sebagai ganti atas kesalahannya

dan tidak mengulang kesalahan yang dilakukan. Mereka cenderung

berpikir tentang strategi untuk mengatasi akibat atau kesulitan yang

ditimbulkan oleh kesalahan yang dilakukan. Dengan demikian,

(40)

21

c. R = Reach (Jangkauan)

Ada perbedaan antara respons orang yang memiliki daya juang

rendah dan tinggi terhadap suatu kesulitan. Respons orang yang

memiliki daya juang rendah terhadap masalah menganggap bahwa

kesulitan merupakan sebuah musibah. Dengan begitu, mereka

membiarkan kesulitan tersebut meluas dan menjangkau lebih banyak

segi kehidupannya dari yang seharusnya terjadi. Mereka menjadi

destruktif dan dengan demikian mereka membiarkan harapan,

semangat, serta kebahagiannya direnggut oleh kesulitan tersebut.

Berbeda dengan itu, orang yang memiliki daya juang tinggi akan

merespons kesulitan sesuai dengan jangkauannya, yaitu tidak lebih

dan tidak kurang. Mereka membatasi kesulitan tersebut agar tidak

merembes ke dalam segi kehidupan yang lain. Sebagai contoh,

mereka akan menganggap kesalahpahaman hanyalah sebuah

kesalahpahaman dan bukan suatu tanda kehancuran hidup. Mereka

tidak membiarkan satu masalah yang dialami mempengaruhi segi lain

dari kehidupannya, melainkan berusaha melakukan tindakan untuk

mengatasi masalah tanpa mempengaruhi segi kehidupan lainnya.

d. E = Endurance (Daya Tahan)

Daya tahan berkaitan dengan seberapa lama kesulitan akan

berlangsung. Ketika orang menanggapi kesulitan sebagai sesuatu

yang akan berlangsung lama atau bahkan tidak akan pernah berakhir,

(41)

22

kalimat yang mengarah pada sesuatu yang permanen atau menempel

pada diri mereka. Stoltz (2007:163) mengatakan, “Kata-kata itu

membuat Anda tidak berdaya untuk melakukan perubahan”. Memberi

cap permanen melalui kata-kata atau kalimat sebagai respons atas

kesulitan yang dihadapi akan membuat orang merasa tidak mampu

untuk melakukan perubahan. Sebagai contoh, orang membuat cap

permanen bahwa kesulitan yang mereka alami tidak akan berakhir,

mereka akan mengulur-ulur waktu untuk menyelesaikan kesulitan

dan membuat kesulitan tersebut berlangsung lebih lama. Hal ini

menunjukkan bahwa mereka berfokus pada masalah dan bukan pada

solusi. Apabila kesulitan ditanggapi sebagai sesuatu yang hanya

berlangsung sementara dan segera berakhir, akan menjadikan orang

tidak mudah menyerah dan tetap semangat untuk mencoba lagi.

Orang-orang yang mempunyai anggapan seperti itu akan berusaha

mengatasi kesulitan agar kesulitan tersebut cepat berakhir.

4. Tipe-tipe Daya Juang

Ada tiga tingkatan daya juang, yaitu Quitter, Camper, dan Climber

(Stoltz, 2007). Daya juang dianalogikan oleh Stoltz sebagai suatu

pendakian gunung. Dalam pendakian tersebut, ada yang memilih untuk

menjadi Quitters, Campers, maupun Climbers.

Quitters merupakan orang yang berhenti. Dalam menghadapi kesulitan, mereka akan memilih untuk menolak, tidak melakukan

(42)

23

yaitu perubahan atau rintangan, yang ditawarkan oleh kehidupan

sehingga mereka tidak mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.

Mereka tidak berkontribusi banyak dalam hal-hal yang mereka kerjakan

karena melihat kurangnya alasan untuk menginvestasikan apa yang

mereka miliki untuk berkembang. Sikap ini berdampak pula pada relasi

Quitters dengan orang lain karena mereka akan mencari dan menemukan orang yang sama dengannya, yaitu mereka yang berhenti dalam berjuang,

dan bersama-sama merenungi nasib.

Sedikit mirip dengan Quitters, Campers merupakah orang yang berkemah. Mereka adalah orang yang cepat puas dan memilih untuk

mendirikan kemah di tempat yang aman dan nyaman bagi mereka.

Celakanya, para Campers hanya akan menetap di zona tersebut dan tidak memilih untuk maju sehingga potensi yang mereka miliki lama-kelamaan

merosot dan bahkan bisa hilang. Mereka mungkin menerima perubahan

ataupun memberikan kontribusi sejauh hal tersebut tidak mengancam

posisi aman mereka.

Berbeda dengan kedua tingkat tersebut, tingkatan yang paling

tinggi adalah Climbers. Mereka disebut sebagai para pendaki karena mereka tidak hanya puas dengan sekedar pendakian-pendakian sebelum

mencapai puncak. Climbers berani untuk keluar dari zona amannya dan memilih untuk terus menerus melakukan pendakian demi pengembangan

(43)

24

menerima perubahan dan menganggap perubahan itu sebagai suatu

kesempatan untuk semakin maju.

B. Sistem Pendisiplinan

1. Definisi Sistem Pendisiplinan

Disiplin merupakan kata kunci dari sistem pendisiplinan. Untuk

mendefinisikan sistem pendisiplinan maka perlu diuraikan terlebih

dahulu pengertian disiplin. Wiyani (2013:41) mengatakan bahwa disiplin

berasal dari bahasa Latin, yaitu “disciplina” dan “discipulus”. Oleh sebab itu, secara etimologi, disiplin diartikan sebagai perintah yang

diberikan oleh orang tua kepada anak atau guru kepada murid untuk

dilaksanakan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin diartikan

sebagai tata tertib, ketaatan kepada peraturan, dan bidang studi yang

memiliki objek, sistem, dan metode tertentu.Webster’s New World

Dictionary (Wiyani. 2013) mengatakan bahwa disiplin adalah latihan

untuk mengendalikan diri, karakter dan keadaan secara tertib serta

efisien.

Menurut Lickona (2013), disiplin adalah alat untuk membangun

karakter anak, terutama dalam meningkatkan rasa hormat dan tanggung

jawabnya. Djamarah (Suwignyo & Nusantoro. 2015) mengatakan bahwa

disiplin merupakan sikap patuh dan taat pada tata tertib yang ditetapkan

untuk mengatur kehidupan individu maupun kelompok. Khuliyah dkk.

(2014) mendefinisikan disiplin sebagai suatu latihan yang dilakukan

(44)

25

diimpikan. Menurut Sari & Na’imah (2012) disiplin adalah sikap

konsistensi dalam mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan oleh diri

sendiri, sosial, kehidupan berbangsa dan bertanah air, serta beragama

Dari definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa disiplin

adalah suatu kondisi yang diciptakan agar orang-orang menjalankan

segala sesuatu yang telah ditetapkan secara berkesinambungan dengan

tertib dan teratur demi tercapainya suatu tujuan. Disiplin membantu

seseorang memperbaiki perilaku menjadi lebih baik, khususnya dalam

bertanggungjawab dan keteraturan.

Pendisiplinan merupakan suatu kata benda yang diambil dari kata

dasar disiplin. Pendisiplinan mengarah pada suatu upaya yang dilakukan

untuk membuat seseorang menjadi disiplin. Dengan begitu, pendisiplinan

merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk membuat seseorang

menjalankan segala peraturan yang telah dibuat.

Menurut Jogiyanto (Jurnal Stikom. 2013), sistem merupakan

pendekatan prosedur dan pendekatan komponen. Dengan prosedur,

sistem dapat didefinisikan sebgai kumpulan dari prosedur-prosedur yang

mempunyai tujuan tertentu. Dari pengertian tersebut, sistem merupakan

sesuatu yang dibuat secara terstruktur untuk mencapai tujuan tertentu

yang dikehendaki bersama.

Dengan pengertian disiplin, pendisiplinan dan sistem diatas, dapat

disimpulkan bahwa sistem pendisiplinan merupakan upaya-upaya yang

(45)

26

lebih teratur dan bertanggung jawab secara terstruktur demi mencapai

tujuan tertentu. Sistem pendisiplinan dilakukan sesuai dengan ketetapan

yang berlaku di tempat pelaksanaannya.

2. Sistem Pendisiplinan di Sekolah

Mendisiplinkan siswa di sekolah dapat dilakukan dengan

menetapkan suatu tata tertib. Menurut Kaluge (Fitri & Christiana. 2013),

tata tertib adalah salah satu upaya mendisiplinkan seseorang. Tata tertib

adalah suatu pedoman atau peraturan yang ditetapkan untuk menciptakan

keamanan dan ketertiban (Fitri & Christiana. 2013). Dalam konteks

sekolah, tata tertib bertujuan untuk melatih siswa mempraktekkan sikap

disiplin. Tata tertib dibuat untuk memberikan batasan bagi siswa dalam

berperilaku sehingga mereka melakukan tindakan sesuai dengan yang

dikehendaki atau diharapkan.

C. Remaja

1. Definisi Remaja

Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Menurut

Santrock (2007), masa remaja adalah masa transisi dari masa kana-kanak

menuju dewasa yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif,

dan sosioemosional. Rentang usia remaja bervariasi bergantung pada

lingkungan, budaya, dan historisnya. Budaya Amerika dan beberapa

budaya lainnya menyebutkan bahwa masa remaja dimulai dari usia sekitar

(46)

27

masa remaja awal (early adolescence) dan masa remaja akhir (late adolescence).

2. Tugas Perkembangan Remaja

Remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai

agar tidak menghambatnya menuju tahap perkembangan selanjutnya.

Hurlock (1990) menyebutkan tugas-tugas perkembangan remaja

meliputi:

a. Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman

sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan

etika moral yang berlaku di masyarakat.

b. Mencapai peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin, selaras

dengan tuntutan sosial dan kultural masyarakatnya.

c. Menerima kesatuan organ-organ tubuh/keadaan fisiknya sebagai

pria/wanita dan menggunakannya secara efektif sesuai dengan

kodratnya masing-masing.

d. Menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang

bertanggung jawab di tengah masyarakatnya.

e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang

dewasa lainnya dan mulai menjadi diri sendiri.

f. Mempersiapkan diri untuk mencapai karir (jabatan dan profesi)

tertentu dalam bidang kehidupan ekonomi.

g. Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan dan

(47)

28

h. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman

bertingkah laku dan mengembangkan ideologi untuk keperluan

kehidupan kewarganegaraannya.

D. Hubungan antara Daya Juang, Sistem Pendisiplinan, dan Remaja

Daya juang, sistem pendisiplinan di sekolah, dan remaja sebagai siswa

di sekolah memiliki kaitan. Menurut Stoltz (2007), daya juang dapat terlihat

dari cara seseorang merespons kesulitan. Dalam mengikuti sistem

pendisiplinan di sekolah, daya juang siswa dapat terlihat dari caranya

merespons kesulitan yang ditimbulkan oleh sistem pendisiplinan tersebut.

Ketika siswa merespons sistem pendisiplinan dengan sebuah penolakan atau

penghindaran, maka dapat dikatakan bahwa tingkat daya juangnya rendah.

Stoltz (2007) menyebutkan seseorang yang tidak mau menghadapi kesulitan

merupakan kelompok Quitters, yaitu memiliki tingkat daya juang rendah. Ketika siswa mampu merespons sistem pendisiplinan di sekolah dengan

menghadapinya namun tidak berusaha untuk terus mengembangkan potensi

dirinya, maka dapat dikatakan tingkat daya juangnya sedang atau kelompok

Campers. Sebaliknya, siswa yang merespons sistem pendisiplinan yang ketat dengan keyakinan bahwa ia dapat melaluinya dan menganggap kesulitan

tersebut adalah kesempatan baginya untuk mengembangkan diri, maka dapat

dikatakan siswa tersebut memiliki tingkat daya juang yang tinggi atau

kelompok Climbers.

Pengukuran daya juang seseorang menurut Stoltz (2007) digunakan

(48)

29

akronim dari CO2RE, yaitu Control, Origin and Ownership, Reach, dan Endurance.

Dimensi Control menunjukkan respons seseorang terhadap kesulitan, khususnya dalam hal kendali terhadap masalah. Siswa yang merasa tidak

berdaya dalam menghadapi sistem pendisiplinan dan menganggap bahwa dia

tidak dapat berbuat apa-apa akan kesulitan yang dihadapi memiliki kendali

yang rendah terhadap masalah. Dia membiarkan dirinya dikendalikan oleh

kesulitan sehingga dia merasa tidak berdaya. Sebaliknya, jika siswa

mempunyai keyakinan bahwa dia mampu menghadapi dan melalui masalah

tersebut, dia memiliki kendali yang tinggi terhadap masalah.

Dimensi origin and ownership menunjukkan sikap seseorang dalam mengidentifikasi penyebab kesulitan muncul dan mengakui akibat yang

ditimbulkan serta memperbaiki diri dari kesalahan yang dilakukan. Siswa

yang memiliki dimensi origin dan ownership yang tinggi tidak akan berlarut dalam rasa bersalah dan penyesalan ketika melakukan pelanggaran tata tertib

yang membuatnya dihukum. Sebaliknya, dia akan memperbaiki diri dan

berupaya untuk tidak melakukan kesalahan lagi.

Dimensi reach menggambarkan sikap seseorang dalam membatasi ruang lingkup masalah terhadap aspek kehidupannya yang lain. Siswa yang

merasa bahwa hubungan sosial, kesehatan, bahkan prestasi belajar mengalami

penurunan semenjak dia mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah memiliki

(49)

30

dalam hidupnya daripada yang seharusya terjadi. Sebaliknya, siswa yang

tidak menganggap kesulitan yang dialaminya mempengaruhi sisi lain

kehidupannya merupakan siswa yang mampu membatasi jangkauan

masalahnya.

Dimensi endurance menunjukkan sikap seseorang tentang

anggapannya mengenai jangka waktu kesulitan itu terjadi. Orang yang

menganggap bahwa kesulitan yang terjadi tidak akan pernah berakhir merasa

tidak perlu melakukan apapun untuk mengatasi situasi tersebut. Siswa yang

beranggapan seperti ini dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah akan

memberikan kontribusi yang sangat kecil dalam upaya mencapai tujuan

bersama. Menurut Seligman (2005), siswa tersebut dapat dikatakan pesimis.

Sebaliknya, siswa yang memiliki pandangan bahwa kesulitan yang

dialaminya hanya akan berlangsung sementara memiliki tingkat daya juang

pada dimensi endurance yang tinggi. E. Kajian Penelitian Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang

dilakukan oleh Theresia Aprilia Rahmawati tahun 2007 dengan judul “Studi

Deskriptif Mengenai Adversity Quotient Pada Siswa Kelas IX”. Penelitian ini menggambarkan adversity quotient siswa kelas XI dalam menghadapi abad ke-21. Subyek penelitian ini adalah siswa siswi kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu

sebanyak 62 orang. Metode penelitian kuantitatif deskriptif menggunakan skala

(50)

31

dengan mengukur korelasi antara item-item dan skor total. Pengujian reliabilitas

menggunakan teknik Alpha Cronbach menghasilkan koefisien korelasi 0,929. Hasil penelitian menunjukkan tingkat adversity quotient siswa adalah tinggi, yaitu sebanyak 55 subjek (88,71%), sedangkan siswa lain memiliki tingkat adversity quotient sedang, yaitu sebanyak 7 orang (11,29%), dan tidak ada siswa yang memiliki tingkat adversity quotient rendah.

F. Kerangka Pikir

DAYA JUANG

Memiliki kendali atas masalah yang

dihadapi

Tingkat Daya Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah

(Tata Tertib) Mengidentifikasi

penyebab masalah dan memperbaiki

kesalahan

Membatasi jangkauan masalah dalam

hidup

Memiliki pandangan bahwa masalah

akan berakhir

Endurance Reach

Origin & Ownership Control

(51)

32 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi uraian tentang jenis atau desain penelitian, waktu dan tempat

penelitian, subjek penelitian, variabel penelitian dan definisi operasional, teknik

dan instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas, serta teknik analisis data.

A. Jenis atau Desain Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian ini, maka jenis penelitian

yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan eksplanasi

deskriptif. Sugiyono (2013) mengatakan bahwa penelitian menggunakan metode

kuantitatif merupakan penelitian yang mempunyai data berupa angka-angka dan

analisisnya juga menggunakan statistik, sedangkan eksplanasi deskriptif

merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri,

baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau penghubungan

dengan variabel yang lain. Dalam penelitian ini, hal yang diteliti adalah tingkat

daya juang siswa kelas X mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah. Untuk

mengetahui tingkat daya juangnya, diperlukan skor-skor berupa angka yang

menentukan tinggi rendahnya tingkat daya juang siswa kelas X. Skor-skor

tersebut diperoleh dari jawaban siswa pada kuesioner. Eksplanasi deskriptif

digunakan untuk mendeskripsikan tingkat daya juang siswa kelas X tersebut

(52)

33 B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini berlangsung pada semester genap tahun ajaran 2016/2017.

Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 29 April dan 8 Mei 2017. Tempat

pengambilan data penelitian ini adalah SMK Penerbangan AAG Adisutjipto

Yogyakarta.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017. Kelas X SMK Penerbangan

AAG Adisutjipto Yogyakarta terdiri atas 13 kelas dengan jumlah siswa

keseluruhan 455. Pada penelitian ini, diambil 89 siswa yang menjadi sampel dari

keseluruhan siswa. Siswa-siswa yang menjadi sampel tersebut diperoleh secara

acak dari tiga kelas X dari 13 kelas yang ada. Pengambilan sampel dilakukan

dengan menggunakan teknik probability sampling, yaitu simple random sampling.

Teknik ini digunakan untuk pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan

[image:52.595.86.519.193.686.2]

secara acak. Adapun rincian jumlah sampel adalah sebagai berikut.

Tabel 3.1

Jumlah Sampel Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta

NO Kelas Jumlah

1 X-3 26

2 X-5 29

3 X-7 34

(53)

34

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel penelitian merupakan atribut seseorang atau obyek yang mempunyai

variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain

(Hatch dan Farhady dalam Sugiyono, 2013:60). Adapun variabel yang diukur

pada penelitian ini adalah tingkat daya juang siswa menjalankan tata tertib

sekolah. Daya juang adalah kemampuan siswa dalam menghadapi dan mengatasi

rintangan atau kesulitan sehari-hari secara tangguh serta tekun tanpa peduli

hambatan yang ada di sekelilingnya dan fokus pada tujuan.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen kuesioner dengan judul

“Daya Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah”. Kuesioner ini disusun

dengan mengacu pada teori Stoltz mengenai Adversity Quotient. Stoltz mengemukakan dimensi adversity quotient, yaitu dimensi control, origin & ownership, reach, dan endurance. Dimensi tersebut merupakan respons-respons seseorang terhadap kesulitan yang dialami dan dijadikan aspek-aspek untuk

mengukur tingkat daya juang siswa pada penelitian ini.

Pada penelitian ini, skala pengukuran kuesioner yang digunakan ialah skala

Likert. Skala Likert terdiri dari pilihan jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S),

Tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Peneliti meniadakan pilihan

jawaban Netral (N) untuk menghindari adanya kecenderungan jawaban ditengah

(54)
[image:54.595.88.540.104.750.2]

35 Tabel 3.2

Pengukuran Skala Likert

NO Jawaban Skor

Favorable Unfavorable

1 Sangat Sesuai (SS) 4 1

2 Sesuai (S) 3 2

3 Tidak Sesuai (TS) 2 3

4 Sangat Tidak Sesuai (STS) 1 4

Kuesioner pada penelitian ini terdiri atas 70 item pernyataan, yaitu 35 item

favorable dan 35 item unfavorable. Berikut adalah kisi-kisi instrumen pada penelitian ini:

Tabel 3.3

Kisi-kisi Instrumen Daya Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah Untuk Uji Coba Terpakai

N

O Aspek Indikator

Nomor Item

Favorable Unfavorable

1 Meyakini bahwa kesulitan dapat diatasi dengan sikap optimis dan pikiran positif (Control)

Pantang menyerah 63 5

14

Berani menghadapi tantangan 26 8

Memiliki tekad untuk

menyelesaikan kesulitan yang dihadapi

7 25

Bersikap tenang / tidak

gegabah 3 66

Berpikir realistis 60 30

Berpikir jernih untuk

mengambil tindakan 1 53

Bersemangat 22 58

2

Menggunakan rasa bersalah sebagai perbaikan diri (Origin)

Merasa rasa bersalah

sewajarnya 55, 18 62, 31

14 Tidak berlarut-larut dalam

penyesalan 6, 65 38, 16

Memaafkan kesalahan diri

sendiri dan orang lain 29 49

Memperbaiki tindakan yang

salah 2, 52 39, 23

3 Mengakui akibat atas kesalahan yang dilakukan secara bertanggung

Tidak mengulangi kesalahan

yang telah dilakukan 28, 56 44, 17

14 Mengganti kerugian yang

ditimbulkan oleh kesalahan yang dilakukan

(55)

36

jawab (Ownership)

Berjiwa besar menerima

konsekuensi 11, 4 35, 51

Mencari solusi alternatif

untuk menyelesaikan masalah 13, 45 24, 61

4

Membatasi jangkauan masalah terhadap segi-segi lain dari kehidupan (Reach)

Tidak melebih-lebihkan

masalah 32, 15 57, 48

14 Menempatkan masalah pada

posisi yang sepantasnya 67 36

Mengatasi pengaruh

permasalahan 46, 34 4, 9

Berpikir ke depan dalam

mengambil keputusan 68, 41 14, 27

5

Menanggapi kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat sementara (Endurance)

Yakin adanya jalan keluar 40, 20 50, 10

14

Fokus pada solusi 37, 59 70, 19

Cepat tanggap menyelesaikan

masalah 33, 69 42, 54

Mencegah kesulitan

berlangsung lebih lama 43 12

Total 35 35 70

Teknik penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menyusun kisi-kisi instrumen. Dalam kisi-kisi ini termuat aspek-aspek

daya juang yang diukur dengan indikatornya masing-masing.

b. Menyusun item pernyataan kuesioner berdasarkan indikator dari

aspek-aspek yang diukur. Item pernyataan tersebut dibagi menjadi dua bentuk,

yaitu favorable dan unfavorable. Skala pengukuran kuesioner yang digunakan adalah skala Likert.

c. Mengkonsultasikan item kuesioner kepada dosen pembimbing dan

merevisi item, baik dari bahasa yang digunakan maupun kesesuaiannya

dengan aspek yang ingin diukur.

d. Menyebar kuesioner pada siswa kelas X SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto sebanyak tiga kelas dengan menjelaskan petunjuk pengisian

(56)

37

terpakai digunakan dengan mempertimbangkan efektivitas waktu

pengumpulan data agar lebih singkat dan tidak bertepatan dengan waktu

libur awal bulan ramadhan di sekolah, sehingga data dari uji coba terpakai

tersebut digunakan sebagai data penelitian.

e. Hasil jawaban siswa pada kuesioner ditabulasi dan dilakukan analisis butir

item melalui perhitungan daya diskriminasi item atau daya beda,

selanjutnya menghitung reliabilitas instrumen.

f. Menganalisis dan membahas hasil penelitian kemudian menarik

kesimpulan akhir.

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1. Validitas

Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan

untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2013). Pada

penelitian ini, pengujian validitas skala instrumen dilakukan dengan

pengujian validitas isi (content validity) dari pendapat ahli (expert judgement). Dalam penelitian ini, expert judgement dilakukan oleh dosen pembimbing skripsi, yaitu ibu Dr. M.M. Sri Hastuti, M.Si. Peneliti

meminta pendapat kepada dosen pembimbing tentang kesesuaian

aspek-aspek yang diukur dengan teori yang ada, yaitu Adversity Quotient oleh Paul G. Stoltz, sehingga dose

Gambar

Grafik 4.2. Distribusi Item Instrumen Penelitian Berdasar Capaian Skor ..  49
Gambar 1.1 Data Jumlah Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Tahun
Tabel 3.1 Jumlah Sampel Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto
Tabel 3.2 Pengukuran Skala Likert
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data pada gambar di atas dapat diuraikan sebagai berikut: aspek-aspek toleransi hidup bersama mahasiswa asrama yang memiliki intensitas paling tinggi berada

Kohesivitas adalah individu saling terikat dalam kelompok, semakin terikat suatu kelompok maka akan semakin kuat kelompok tersebut. Individu yang telah akrab akan cenderung

Pemilihansubjekdalampenelitianini dilakukan dengan menggunakansimple random sampling.Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner penyesuaian diri

Dengan demikian remaja kelas VIII di SMP Karitas Ngaglik tahun ajaran 2016/2017 memiliki kemampuan penerimaan diri baik dan memiliki tingkat kemampuan

Saya mematuhi norma-norma yang ada di lingkungan dimana saya tinggal, terutama dalam hal berhubungan dengan lawan jenis (pacaran). Remaja zaman sekarang mengabaikan norma-norma

Perilaku-perilaku kurang disiplin siswa tersebut antara lain: datang terlambat ke sekolah, terlambat mengumpulkan tugas rumah PR, tidak melaksanakan tugas piket, tidak segera masuk