TINGKAT DAYA JUANG SISWA MENGIKUTI SISTEM PENDISIPLINAN DI SEKOLAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP
USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh:
Florencia Valentine Tandirerung
131114066
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
TINGKAT DAYA JUANG SISWA MENGIKUTI SISTEM PENDISIPLINAN DI SEKOLAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP
USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh:
Florencia Valentine Tandirerung
131114066
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN MOTTO
“Never hold onto anything tighter than you’re holding onto God!”
(Jarrid Wilson)
“...before you speak, listen. Before you write, think. Before you spend, earn. Before you pray, forgive. Before you hurt, feel. Before you hate, love. Before you
quit, try. Before you die, live!”
(Shakespeare)
“Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya ilmiah ini saya persembahkan bagi:
Tuhan Yesus Kristus,
Ia lah Tuhanku yang Maha Kasih dan lemah lembut dalam menuntunku menjalani kehidupan ini.
Orangtua tercinta,
Ayahanda Yusuf Tella Palayukan dan Ibunda Dina Gasong yang tak pernah lelah mendoakan, memberi dukungan dan semangat, dan mengasihi saya melalui
kepeduliannya yang luar biasa.
Adik tersayang,
Aletha Clara Tandirerung yang memberikan dukungan dan kritikan yang membangun.
Program Studi Bimbingan dan Konseling USD,
Teman-teman BK angkatan 2013.
viii ABSTRAK
TINGKAT DAYA JUANG SISWA MENGIKUTI SISTEM PENDISIPLINAN DI SEKOLAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP
USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)
Florencia Valentine Tandirerung
Universitas Sanata Dharma
2017
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat daya juang siswa mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017 sebanyak 89 siswa. Tingkat daya juang dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam mengikuti sistem pendisiplinan yang ketat di sekolah dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama menjalankan sistem pendisiplinan tersebut.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Alat pengumpulan data ialah Kuesioner Daya Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah, berjumlah 70 item yang disusun oleh peneliti. Kuesioner disusun berdasarkan 5 aspek Adversity Quotient oleh Stoltz, yaitu (1) Control, (2) Origin, (3) Ownership, (4) Reach, (5) Endurance. Pengukuran validitas menggunakan validitas isi, selanjutnya menguji daya beda item dan menghasilkan 60 item valid Pengukuran reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan koefisien reliabilitas 0,931.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat daya juang siswa kelas X mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah tergolong kategori tinggi yaitu sebanyak 45 siswa (50,56%), sedangkan kategori sangat tinggi sebanyak 25 siswa (28,09%) dan kategori sedang sebanyak 19 siswa (21,35%). Siswa memiliki tingkat daya juang yang tinggi dalam merespons kesulitan-kesulitan yang mereka alami selama mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah. Namun, pada beberapa kondisi tertentu, siswa masih kurang mampu merespons kesulitan dengan baik seperti yang ditunjukkan oleh hasil analisis capaian skor item. Untuk itu, diusulkan topik-topik bimbingan pribadi berdasarkan item-item yang memiliki capaian skor rendah untuk meningkatkan daya juang siswa, seperti keberanian, tanggung jawab, hingga pengelolaan emosi.
ix ABSTRACT
LEVEL OF STUDENTS’ STRUGGLE POWER IN COMPLYING WITH THE DISCIPLINE SYSTEM AT SCHOOL AND ITS IMPLICATION FOR
GUIDANCE TOPICS PROPOSALS
(Descriptive Study on X Graders of SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Batch 2016/2017)
Florencia Valentine Tandirerung
Sanata Dharma University
2017
This research was aimed at finding the level of students’ struggle power in complying with the discipline system at school. The research subjects were 89 X Graders of SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Batch 2016/2017.
The struggle power in this research is students’ ability to comply with the
stringent discipline system at shcool and cope with difficulties faced while carrying out the discipline system.
This research was quantitative descriptive research. Data collection tool was Questionnaire On Struggle Power in Complying With The Discipline System at School with 70 items compiled by the researcher. The questionnaire was compiled based on 5 aspects of Adversity Quotient by Stoltz, i.e. (1) Control, (2) Origin, (3) Ownership, (4) Reach, (5) Endurance. Validity measurement was content validity, followed by item discriminatory power and yielded 60 valid items. Reliability measurement used was Alpha Cronbach equation with reliability coefficient of 0,931.
The result of the research showed that the level of students’ struggle power
of X graders in complying with the discipline system at school was categorized as high, i.e. 45 students (50,56%), while 25 students (28,09%) was categorized as very high, and 19 students (21,35%) was categorized as medium. Those students had a high struggle power in responding to difficulties they underwent while complying with the discipline system at school. However, in certain conditions, the students were not fully capable of responding well to difficulties as shown by the result of the item scoring. For this reason, it was proposed the private guidance
topics based on items with low scores to boost the students’ struggle power, such
as bravery, responsibility, and emotion management.
x
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas
pertolongan dan penyertaanNya dalam persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian
skripsi ini dengan judul “Tingkat Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem
Pendisiplinan di Sekolah dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik
Bimbingan Pribadi (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan
AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)” dapat terselesaikan tepat
waktu.
Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan
Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.
Selama proses menulis skripsi ini, peneliti menyadari bahwa begitu
banyak pihak yang berperan dalam membimbing, mendampingi, mengingatkan
dan mendukung setiap proses yang penulis jalani. Oleh sebab itu, peneliti
mengucapkan terimakasih yang tulus kepada:
1. Bapak Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
2. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan
Konseling Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
3. Bapak Juster Donal Sinaga, M.Pd selaku Wakil Ketua Program Studi
xi
4. Ibu Dr. M.M. Sri Hastuti, M.Si, selaku dosen pembimbing yang sabar dan
tulus memberikan waktu, motivasi, masukan, dan banyak pembelajaran
berharga kepada peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
5. Bapak dan Ibu Dosen atas dampingan, nasihat dan ilmu pengetahuan yang
berguna bagi peneliti selama kuliah di Program Studi Bimbingan dan
Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
6. Kepala SMK Penerbangan AAG Adisutjipto yang telah memberikan izin
kepada peneliti untuk melakukan penelitian di sekolah.
7. Para guru, terkhusus guru BK, dan staff di SMK Penerbangan AAG
Adisutjipto yang telah sabar mendampingi, memberikan waktu, dan
mengarahkan peneliti selama proses pengambilan data.
8. Mas Stefanus Priyatmoko selaku petugas sekretariat Program Studi
Bimbingan dan Konseling yang senantiasa ramah dan penuh kesabaran
melayani administrasi selama peneliti menempuh studi.
9. Orang tua tercinta, Bapak Yusuf Tella Palayukan dan Ibu Dina Gasong atas
seluruh doa, cinta, kasih sayang, kepedulian, dukungan, dampingan, nasehat,
penguatan, bahkan teguran yang diberikan kepada peneliti selama ini.
10.Adik tersayang, Aletha Clara Tandirerung, beserta keluarga atas segala
dukungan, semangat, dan kasih sayang yang diberikan kepada peneliti selama
ini, serta adik sepupu, Eviana, yang bermurah hati meminjamkan laptop
untuk peneliti mengerjakan skripsi.
11.Sahabat, kekasih, sekaligus keluarga keduaku, Restianti, Evita, Ferry,
xiii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 9
C. Batasan Masalah ... 10
D. Rumusan Masalah ... 10
E. Tujuan Penelitian ... 11
F. Manfaat Penelitian ... 11
G. Definisi Istilah ... 12
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Daya Juang ... 13
1. Definisi Daya Juang ... 13
2. Faktor yang Mempengaruhi Daya Juang ... 15
a. Daya Saing... 15
xiv
c. Kreativitas... 16
d. Motivasi ... 16
e. Mengambil Risiko ... 16
f. Perbaikan ... 16
g. Ketekunan ... 17
h. Belajar... 17
i. Merangkul Perubahan ... 17
j. Keuletan, Stres, Tekanan, Kemunduran ... 18
3. Dimensi Daya Juang... 18
a. C = Control (Kendali) ... 18
b. O2 = Origin and Ownership (Asal Usul dan Pengakuan) ... 19
c. R = Reach (Jangkauan) ... 21
d. E = Endurance (Daya Tahan) ... 21
4. Tipe-tipe Daya Juang ... 22
B. Sistem Pendisiplinan ... 24
1. Definisi Sistem Pendisiplinan ... 24
2. Sistem Pendisiplinan di Sekolah ... 26
C. Remaja ... 26
1. Definisi Remaja ... 26
2. Tugas Perkembangan Remaja ... 27
D. Hubungan antara Daya Juang, Sistem Pendisiplinan, dan Remaja . 28 E. Kajian Penelitian Relevan ... 30
F. Kerangka Pikir ... 31
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis atau Desain Penelitian ... 32
B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 33
C. Subjek Penelitian ... 33
D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 34
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 34
xv
1. Validitas ... 37
2. Reliabilitas ... 40
G. Teknik Analisis Data ... 42
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Hasil Data ... 45
B. Pembahasan ... 52
1. Gambaran Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adistutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017 dalam Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah ... 52
2. Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Untuk Menigkatkan Daya Juang Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017 ... 56
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 62
B. Keterbatasan Penelitian ... 63
C. Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 65
xvi
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK
Tabel 3.1. Jumlah Sampel Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG
Adisutjipto Yogyakarta ... 33
Tabel 3.2. Pengukuran Skala Likert ... 35
Tabel 3.3. Kisi-kisi Instrumen Daya Juang Mengikuti Sistem
Pendisiplinan di Sekolah Untuk Uji Coba Terpakai ... 35
Tabel 3.4. Hasil Rekapitulasi Uji Daya Beda Item Instrumen Daya
Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah ... 40
Tabel 3.5. Kriteria Guilford ... 41
Tabel 3.6. Nilai Koefisien Reliabilitas Instrumen ... 41
Tabel 3.7. Norma Kategorisasi Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X
Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah pada Siswa Kelas
X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun
Ajaran 2016/2017 ... 41
Tabel 3.8. Kategorisasi Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X Mengikuti
Sistem Pendisiplinan di Sekolah pada Siswa Kelas X SMK
Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran
2016/2017 ... 43
Tabel 3.9. Kategorisasi Skor Item Daya Juang Kelas X SMK
Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran
2016/2017 ... 44
Tabel 4.1. Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG
Adisutjipto Tahun Ajaran 2016/2017 dalam Mengikuti Sistem
Pendisiplinan di Sekolah ... 45
Tabel 4.2. Distribusi Item Instrumen Penelitian Berdasar Capaian Skor .. 48
Tabel 4.3. Item yang Memiliki Capaian Skor Sedang dan Rendah ... 51
Tabel 4.4. Usulan Topik-topik Bimbingan untuk Meningkatkan Daya
Juang Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto .... 57
Grafik 1.1. Data Jumlah Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG
xvii
Grafik 4.1. Tingkat Daya Juang Siswa Kelas X Mengikuti Sistem
Pendisiplinan di Sekolah ... 46
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I Kisi-kisi Instrumen Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem
Pendisiplinan Sebelum Uji Coba Terpakai... 67
Lampiran II Kuesioner Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem
Pendisiplinan di Sekolah ... 73
Lampiran III Hasil Perhitungan Uji Daya Beda Item Setelah Uji Coba
Terpakai Instrumen Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem
Pendisiplinan di Sekolah ... 81
Lampiran IV Item-item yang Memiliki Capaian Skor Rendah Instrumen
Daya Juang Siswa Mengikuti Sistem Pendisiplinan di
Sekolah ... 85
Lampiran V Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Bagi Siswa Kelas
X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun
Ajaran 2016/2017 untuk Meningkatkan Daya Juang Siswa
dalam Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah ... 86
1 BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini berisi paparan secara berurutan mengenai latar belakang masalah,
identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, dan definisi istilah.
A. Latar Belakang
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan satuan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan kejuruan sebagai lanjutan dari tingkat
SMP/sederajat. SMK berbeda dengan SMA/sederajat karena SMK terfokus pada
satu bidang keahlian. Pembelajaran di SMK menekankan kegiatan praktikum,
seperti melakukan praktikum di sekolah dan program kerja lapangan pada tingkat
kelas tertentu, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa di bidang
keahlian yang diambil. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan sumber daya manusia
yang berkualitas sehingga SMK diharapkan mampu menyediakan lulusan yang
berkualitas sesuai dengan bidangnya.
Ada beragam bidang keahlian yang terdapat di SMK. Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan (2016) memiliki data bidang keahlian pendidikan
menengah kejuruan. Bidang keahlian pendidikan menengah kejuruan dibagi
menjadi delapan, yaitu teknologi dan rekayasa, teknologi informasi dan
2
bisnis dan manajemen, pariwisata, seni rupa dan kriya, serta seni pertunjukan.
Bidang-bidang keahlian tersebut mempunyai program keahlian masing-masing.
Di dalam program keahlian, terdapat beberapa paket keahlian yang lebih terfokus
pada satu bidang dari programnya.
Bidang dan program keahlian yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah
bidang keahlian teknologi dan rekayasa, dan program keahlian teknologi pesawat
udara. Program keahlian ini terbagi ke dalam tujuh paket keahlian, yaitu
pemeliharaan dan perbaikan motor dan rangka pesawat udara, pemesinan pesawat
udara, konstruksi badan pesawat udara, konstruksi rangka pesawat udara,
kelistrikan pesawat udara, elektronika pesawat udara, serta pemeliharaan dan
perbaikan instrument elektronika pesawat udara. Sekolah Menengah Kejuruan
yang memfasilitasi peserta didik dalam program keahlian teknologi pesawat udara
adalah SMK Penerbangan.
Menurut Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia
(2011, dalam http://fp3mki.org/alamat-penerbangan.html/), ada 30 SMK
Penerbangan yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. SMK Penerbangan
muncul karena kebutuhan masyarakat Indonesia akan transportasi udara serta
dunia penerbangan Indonesia yang mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Untuk dapat memperlancar mobilitas masyarakat Indonesia dari kota ke kota
maupun pulau ke pulau, transportasi udara sangat dibutuhkan, terutama jika
mempertimbangkan waktu. Selain itu, setiap maskapai penerbangan
membutuhkan sekurangnya 1.200 teknisi untuk mekanik maupun bengkel pesawat
3
yang berkualitas dengan cara mempersiapkan siswanya untuk mampu bekerja di
dunia penerbangan sehingga nantinya mampu menyumbangkan tenaga teknisi
yang berkualitas bagi maskapai-maskapai penerbangan. Dengan begitu, mobilitas
masyarakat melalui jalur udara menjadi lancar dengan kenyamanan dan keamanan
yang dapat dirasakan diatas pesawat udara yang ditumpangi karena mekanik
pesawat yang dapat ditangani dengan baik.
Yogyakarta sebagai kota pelajar memiliki satu SMK Penerbangan, yaitu
SMK Penerbangan AAG Adisutjipto. SMK Penerbangan AAG Adisutjipto
terletak di kompleks Lanud Adisutjipto. Sekolah ini berada dalam naungan
Yayasan Angkasa Ardhya Garini milik TNI AU. Maka dari itu sekolah ini
menerapkan prinsip-prinsip kemiliteran dalam membina karakter siswa,
khususnya dalam hal kedisiplinan. Walaupun demikian, prinsip kemiliteran yang
diterapkan bukanlah prinsip militer murni seperti pada sekolah kedinasan yang
berorientasi pada bidang kemiliteran. Prinsip kemiliteran tersebut dapat terlihat
dalam tata tertib sekolah yang mengatur siswa sedemikian rupa agar siswa
memiliki sikap disiplin.
Prinsip kemiliteran yang diterapkan SMK Penerbangan AAG Adisutjipto
bertujuan untuk mendisiplinkan siswa. Prinsip kemiliteran ini bersifat tegas dan
mengatur, sehingga komponen sekolah, seperti siswa dan guru menyebut sekolah
mereka bersifat semi militer. Bentuk-bentuk semi militer yang ada di sekolah,
antara lain ketepatan waktu; penggunaan seragam dan atribut yang dirancang
sekolah; kerapihan rambut, cara berpakaian, dan sepatu; pelatihan baris-berbaris
4
keteraturan, kesigapan, kekompakan, dan ketertiban; adanya rasa hormat yang
tinggi dari junior terhadap senior; adanya solidaritas dengan teman; serta padatnya
kegiatan fisik.
Bentuk-bentuk pendisipinan yang dilakukan sekolah dapat dilihat dari tata
tertib yang ketat ditetapkan oleh SMK Penerbangan AAG Adisutjipto. Tata tertib
tersebut, antara lain mewajibkan siswa mengikuti apel pagi dan sore, mengikuti
ekstrakurikuler sepulang sekolah, memberikan sanksi terhadap pelanggar tata
tertib yang mana sanksinya kebanyakan berorientasi pada pembinaan fisik,
maupun mewajibkan siswa menggunakan seragam dan atribut yang dirancang
khusus dengan potongan rambut yang telah ditentukan sekolah.
Dengan sistem pendisiplinan yang ketat di sekolah, siswa yang ingin
melanjutkan pendidikan di sekolah ini perlu mengumpulkan informasi yang
lengkap tentang lingkungan dan peraturan sekolah. Hal ini merupakan tantangan
bagi siswa baru sebelum bersekolah di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto.
Siswa perlu mengetahui kondisi sekolah, khususnya sistem pendisiplinan yang
diterapkan. Mereka dapat mengumpulkan informasi dari teman, guru, maupun
website SMK Penerbangan AAG Adisutjipto. Hal ini bertujuan untuk
memberikan gambaran pada siswa mengenai peraturan yang perlu mereka patuhi
dan laksanakan. Dengan begitu, mereka dapat mempersiapkan diri dan
mengetahui bagaimana menyesuaikan diri dengan sistem pendisiplinan di sekolah.
Sistem pendisiplinan yang ditetapkan di setiap sekolah memiliki pengaruh
5
yang disebabkan oleh sistem pendisiplinan di sekolah antara lain, tingkat
kedisiplinan siswa, motivasi belajar, motivasi mencapai tujuan, maupun daya
juangnya. Salah satu pengaruh yang timbul dari sistem pendisiplinan di sekolah
dan menjadi hal yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah daya juang. Daya
juang muncul ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan oleh berbagai
macam situasi yang sulit dan menemukan cara untuk mengatasinya (Stoltz. 2007).
Demikian pula dalam menjalani sistem pendisiplinan yang ketat di sekolah, daya
juang siswa dapat terlihat bergantung pada cara mereka menyikapinya.
Sejalan dengan isu daya juang, siswa yang menjadi subjek penelitian juga
berada dalam kondisi yang hanya memungkinkan mereka untuk mempunyai dua
pilihan, yaitu melanjutkan perjuangan atau menyerah. Kondisi tersebut
disebabkan oleh sistem pendisiplinan di sekolah yang mengatur siswa. Siswa yang
berasal dari lingkungan yang tidak terbiasa hidup disiplin akan menemukan
kesulitan dalam mengikuti tata tertib di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto.
Akan tetapi, siswa yang mampu menyesuaikan diri tidak merasa tertekan bahkan
tidak berdaya mengikuti tata tertib di sekolah, melainkan berusaha untuk
mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Berikut adalah rekapan data jumlah siswa kelas X semester ganjil menuju
semester genap (Januari, 2016) tahun ajaran 2015/2016 SMK Penerbangan AAG
6
38 38 38 38 39 38 39
40
36 35
28
37 38 37 38 38 37
39 39
36 33
28
X-1 X-2 X-3 X-4 X-5 X-6 X-7 X-8 X-9 X-10 X-11 Data Jumlah Siswa Kelas X Semester Ganjil Tahun
Ajaran 2015/2016
SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta
Awal Semester Ganjil Akhir Semester Ganjil
Gambar 1.1
Data Jumlah Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Tahun Ajaran 2015/2016
Data tersebut menunjukkan adanya ketidakstabilan jumlah siswa selama semester
ganjil menuju semester genap. Ada lima kelas yang mengalami pengurangan satu
orang siswa dan satu kelas mengalami pengurangan dua orang. Berdasarkan
wawancara peneliti dengan guru BK mengenai penurunan jumlah siswa di sekolah
ketika peneliti melaksanakan magang (02/2016), mereka mengatakan bahwa
sebagian besar alasan jumlah siswa kelas X berkurang adalah adanya
pengunduran diri yang dilakukan oleh siswa. Beberapa dari mereka
mengundurkan diri dengan alasan kesulitan untuk mengikuti sistem pendisiplinan
7
Februari 2016 juga serupa dengan hasil wawancara bersama guru di sekolah, yaitu
adanya tiga siswa yang mengundurkan diri dari sekolah dengan alasan sulit
mengikuti tata tertib, seperti sulit bangun pagi untuk melaksanakan apel pagi, sulit
mengikuti instruksi senior, khususnya senior anggota OSIS, maupun lokasi rumah
dan sekolah yang jauh sehingga harus berangkat sangat pagi (subuh) untuk ke
sekolah. Dari observasi yang peneliti lakukan, mereka tetap memilih untuk
mengundurkan diri dari sekolah walaupun dari awal mereka masuk di sekolah,
mereka telah diberitahu tentang tata tertib yang ada dan menyetujuinya pada saat
wawancara penerimaan peserta didik baru.
Peneliti juga mengobservasi berbagai sikap yang ditunjukkan siswa dalam
mengikuti tata tertib ketika peneliti sedang melakukan magang di SMK
Penerbangan AAG Adisutjipto (02/2016). Terkadang mereka menghindar untuk
melaksanakan tata tertib, seperti datang terlambat agar tidak mengikuti apel,
bersembunyi agar tidak mendapat hukuman ketika melakukan pelanggaran,
bahkan tidak datang ke sekolah untuk beberapa hari, hingga mengundurkan diri
dari sekolah. Sikap-sikap tersebut menunjukkan sikap negatif yang dilakukan oleh
siswa dalam mengikuti tata tertib.
Walaupun ada beberapa siswa yang menunjukkan sikap negatif dalam
mengikuti tata tertib, namun ada pula yang tetap mengikuti tata tertib di sekolah
dengan tekun. Pada kenyataannya, lebih banyak yang memilih untuk mengatasi
kondisi yang sulit tersebut dengan cara bertahan dan melanjutkan sekolah hingga
selesai. Meski begitu, mereka juga tidak luput dari keluhan-keluhan terhadap
8
tersebut tidak membuat mereka menyerah untuk menyelesaikan pendidikannya.
Berikut adalah kutipan pernyataan seorang siswa kelas XI yang menunjukkan
keluhan terhadap sistem pendisiplinan di sekolah:
“Peraturan di sekolah ini sangat ketat, seperti lamanya berada di sekolah yang dimulai dari pagi sekali hingga sore hari, pelaksanaan apel setiap hari, hingga hukuman bagi yang melakukan pelanggaran. Lelah rasanya mengikuti tata tertib yang seperti ini tapi jika saya memilih untuk mengundurkan diri, saya kasihan terhadap orang tua saya yang sudah membiayai saya dari awal masuk disini hingga sekarang. Jika saya memilih untuk menyerah, sudah dari dulu saya mengundurkan diri. Lagian, berada
disini juga hanya 3 tahun.” (A, 02/2016)
Pernyataan siswa tersebut menunjukkan bahwa dia juga mengeluhkan sistem
pendisiplinan yang diberlakukan oleh sekolah namun dia tetap memilih untuk
mengatasi kondisi tersebut dengan melanjutkan sekolah hingga selesai. Siswa
tersebut memiliki alasan yang menyebabkan dirinya tetap berjuang, yaitu ingin
membanggakan orang tua. Hal ini berkaitan dengan daya juang yang
menunjukkan bahwa daya juangnya semakin kuat di dalam kondisi yang sulit
karena berpegang pada tujuan atau impiannya (Stoltz. 2007)
Berangkat dari latar belakang yang telah diutarakan dan dipaparkan, peneliti
tertarik untuk melakukan sebuah penelitian tentang kemampuan daya juang siswa
di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto. Penelitian ini akan meneliti tentang
tingkat daya juang siswa dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah,
khususnya terhadap siswa kelas X yang sedang diperkenalkan dengan sistem
pendisiplinan di sekolah dan masih beradaptasi dengan hal tersebut. Dengan
mengetahui tingkat daya juang siswa, pendidik di sekolah, terutama guru
9
tepat untuk digunakan guna meningkatkan daya juang siswa. Maka dari itu,
peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Daya Juang Siswa
Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah dan Implikasinya Terhadap Usulan
Topik-topik Bimbingan Pribadi (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK
Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)”.
B. Identifikasi Masalah
Berangkat dari latar belakang mengenai “Tingkat Daya Juang Siswa
Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah dan Implikasinya Terhadap
Penyusunan Topik-topik Bimbingan Pribadi (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X
SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017)”,
peneliti menemukan beberapa masalah yang teridentifikasi sebagai berikut:
1. Beberapa siswa SMK Penerbangan AAG Adisutjipto memiliki kesulitan
dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah dan memilih untuk
mengundurkan diri.
2. Sebagian besar siswa mengeluhkan sistem pendisiplinan berupa tata tertib
yang ada di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto namun tetap
melanjutkan sekolah hingga selesai.
3. Siswa kelas X yang berasal dari lingkungan yang tidak terbiasa disiplin
mengalami kesulitan dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah.
4. Beberapa siswa tidak mematuhi tata tertib dengan menghindar dari aturan
10
5. Beberapa kelas X mengalami pengurangan siswa sebanyak satu hingga
dua orang dalam satu semester.
6. Ada siswa yang mengundurkan diri dengan alasan tidak mampu mengikuti
instruksi senior (OSIS divisi tata tertib)
7. Beberapa siswa mengundurkan diri karena merasa berat harus bangun dan
berangkat sangat pagi untuk ke sekolah karena lokasi rumahnya yang
jauh.
8. Beberapa siswa tetap memilih untuk mengundurkan diri walaupun sejak
awal masuk sudah menyetujui tata tertib yang diinformasikan sekolah.
C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan untuk mengetahui tingkat daya
juang siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto dalam mengikuti sistem
pendisiplinan di sekolah.
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Seberapa tinggi tingkat daya juang siswa kelas X SMK Penerbangan AAG
Adisutjipto mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah?
2. Item-item mana saja yang memiliki capaian skor rendah sehingga
diusulkan topik-topik bimbingan pribadi untuk meningkatkan daya juang
siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto dalam mengikuti
11 E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan tingkat daya juang siswa kelas X SMK Penerbangan
AAG Adisutjipto mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah.
2. Mendeskripsikan topik-topik bimbingan yang dapat disusun untuk
meningkatkan daya juang siswa kelas X SMK Penerbangan AAG
Adisutjipto dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan informasi
dalam bidang bimbingan dan konseling, khususnya mengenai daya juang.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Penelitian ini memberikan kesempatan bagi peneliti untuk berlatih
melaksanakan penelitian sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dan
belajar berpikir kritis dalam menjawab persoalan yang ada. Selain itu,
penelitian ini juga menjadi bekal bagi peneliti dalam memberikan
pelayanan dan pendampingan kepada siswa tentang daya juang.
b. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini dapat memberikan informasi tambahan bagi peneliti
lain yang memiliki minat lebih jauh untuk mencermati kemampuan
12 G. Definisi Istilah
Untuk menambah pemahaman mengenai beberapa terminologi dalam judul
penelitian ini, peneliti menjelaskan beberapa istilah penting sebagai berikut.
1. Daya Juang
Daya juang merupakan kemampuan seseorang untuk mengarahkan
dirinya agar mampu untuk menghadapi dan mengatasi rintangan dalam
situasi yang sulit dengan berfokus pada sesuatu yang ingin dicapai.
2. Sistem Pendisiplinan
Sistem pendisiplinan merupakan upaya-upaya yang dilakukan
untuk membantu seseorang mengubah perilakunya menjadi lebih teratur
dan bertanggung jawab secara terstruktur demi mencapai tujuan tertentu.
3. SMK Penerbangan
SMK Penerabangan adalah salah satu bentuk satuan pendidikan
formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan bidang penerbangan
pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari tingkat
13 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Bab ini berisi paparan mengenai daya juang, sistem pendisiplinan, remaja,
kaitan daya juang, sistem pendisiplinan, dan remaja, penelitian yang relevan, dan
kerangka pikir.
A. Daya Juang
1. Definisi Daya Juang
Situasi yang sulit dapat membentuk kemampuan seseorang untuk
mengatasi sebuah masalah. Dalam menghadapi situasi yang sulit,
seseorang dapat menentukan bagaimana dirinya bersikap. Seseorang
dapat memilih untuk menghindar dan tidak menyelesaikannya atau
menghadapi dan mengatasi rintangan tersebut. Pilihan untuk menghadapi
dan mengatasi rintangan merupakan daya juang seseorang.
Stoltz (2007) mengistilahkan daya juang sebagai kecerdasan
adversity, yaitu kemampuan individu dalam menghadapi dan mengatasi rintangan atau kesulitan sehari-hari secara tangguh serta tekun tanpa
peduli hambatan yang ada di sekelilingnya dan fokus pada tujuan.
Phoolka & Kaur (2012) menyederhanakan definisi mengenai daya juang
menjadi kemampuan untuk bertahan dalam situasi yang sulit dan
14
merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan dan mencapai
impiannya secara gigih.
Nashori (Noprianti. 2015) berpendapat bahwa daya juang
merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya
untuk mengarahkan diri dan mengubah cara pandang maupun perilakunya
ketika berhadapan dengan situasi yang dapat membuatnya tidak berdaya.
Secara ringkas, Leman (Agusta. 2015) menyebutkan daya juang sebagai
kemampuan seseorang dalam mengatasi rintangan.
Menurut Rahmah (Lestari. 2014) daya juang adalah kemampuan
seseorang untuk mempertahankan dan mencapai tujuan masa depan
secara gigih. Lestari (2014) mengatakan bahwa daya juang merupakan
kecerdasan seseorang dalam menghadapi rintangan atau kemalangan
dalam hidupnya.
Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
daya juang merupakan kemampuan seseorang untuk mengarahkan dirinya
agar mampu untuk menghadapi dan mengatasi rintangan dalam situasi
yang sulit dengan berfokus pada sesuatu yang ingin dicapai. Daya juang
membantu seseorang untuk melewati rintangan yang terjadi dalam
kehidupan. Dengan adanya daya juang, seseorang mampu mencari jalan
15
2. Faktor yang Mempengaruhi Daya Juang
Menurut Stoltz (2007), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan. Faktor-faktor
tersebut membentuk daya juang seseorang.
a) Daya saing
Daya juang seseorang dapat terlihat melalui responsnya terhadap
kesulitan. Orang yang memiliki daya juang tinggi akan menanggapi
kesulitan secara konstruktif, yaitu menggunakan energi, fokus, dan
tenaganya sesuai dengan yang diperlukan agar dapat berhasil dalam
persaingan. Orang yang memiliki daya juang rendah akan lebih
destruktif sehingga mudah berhenti berusaha dalam persaingan.
b) Produktivitas
Respons terhadap kesulitan-kesulitan yang terjadi mempengaruhi
kinerja seseorang. Ketika seseorang menanggapi kesulitan secara
konstruktif, produktivitasnya jauh lebih baik dibandingkan yang
menanggapi secara destruktif. Hal ini dibuktikan dengan penelitian
Seligman (2005) bahwa orang yang merespons kesulitan dengan
senang hati akan memiliki kinerja yang bagus, lebih produktif, dan
lebih lama bertahan dengan berbagai tugas yang diberikan
dibandingkan dengan yang merespons kesulitan dengan tidak senang
16
c) Kreativitas
Kreativitas merupakan inovasi yang dilakukan sebagai bentuk dari
suatu harapan bahwa sesuatu yang sebelumnya tidak ada dapat
diciptakan untuk menjadi ada. Menurut Barker (Stoltz. 2007)
kreativitas dapat muncul dari keputusasaan sehingga kemampuan ini
akan terbentuk ketika seseorang mampu mengatasi kesulitan. Orang
yang tidak mampu mengatasi kesulitan mempunyai kreativitas yang
lebih rendah.
d) Motivasi
Daya juang juga terbentuk dari adanya motivasi. Orang-orang yang
paling memiliki motivasi mempunyai kemampuan daya juang yang
tinggi. Dengan adanya motivasi, seseorang mempunyai alasan untuk
bertahan dan berjuang.
e) Mengambil risiko
Keyakinan bahwa mengambil tindakan atas sesuatu yang belum
diketahui hanya akan membuang-buang energi merupakan tindakan
yang tidak berani mengambil risiko. Daya juang terbentuk ketika
seseorang merespons kesulitan secara konstruktif sehingga ia berani
mengambil risiko.
f) Perbaikan
Seseorang perlu melakukan perbaikan secara terus menerus untuk
dapat bertahan hidup. Perbaikan dilakukan agar tidak ketinggalan
17
pekerjaan. Perbaikan yang dilakukan oleh seseorang akan semakin
mengembangkan kemampuan daya juangnya.
g) Ketekunan
Stoltz (2007:95) mengatakan, “ketekunan adalah kemampuan untuk
terus menerus berusaha, bahkan manakala dihadapkan pada
kemunduran-kemunduran atau kegagalan.” Respons yang baik atas
kesulitan yang dihadapi akan membantu seseorang untuk terus
berusaha sedangkan mereka yang merespons dengan buruk akan
mudah menyerah.
h) Belajar
Daya juang berkaitan dengan teori Seligman mengenai optimisme
dan pesimisme. Menurut penelitian Dweck (Stoltz. 2007), ditemukan
bahwa anak yang merespons kesulitan secara pesimis tidak akan
belajar banyak dibandingkan anak yang merespons secara optimis.
i) Merangkul perubahan
Perubahan akan selalu menyertai kehidupan manusia. Kemampuan
untuk menghadapi dan mengatasi perubahan akan sangat
dibutuhkan. Orang yang menerima perubahan dengan baik akan
menganggap perubahan itu sebagai peluang dan bukan hambatan.
Mereka yang menolak perubahan merasa tidak memiliki kontrol atas
perubahan itu sehingga menganggap perubahan sebagai suatu beban
18
j) Keuletan, stres, tekanan, kemunduran
Kemungkinan munculnya stress dalam hidup seseorang tidak sedikit.
Banyak hal yang dapat memicu stress pada seseorang. Respons
terhadap stres yang dapat membentuk daya juang. Ketika orang
merespons stress dengan baik, maka mereka akan semakin ulet dan
mengurangi stress itu sendiri. Mereka bisa saja mundur untuk
menentukan langkah apa yang akan diambil selanjutnya dan
melanjutkan perjuangan. Sebaliknya, ketika stress direspons dengan
negatif, maka stress tersebut akan terasa menekan dan menimbulkan
kemunduran yang membuat seseorang sulit untuk maju.
3. Dimensi Daya Juang
Daya juang terdiri atas empat dimensi, yaitu CO2RE atau akronim
dari C = Control (Kendali), O2 = Origin and Ownership (Asal-Usul dan Pengakuan), R = Reach (Jangkauan), dan E = Endurance (Daya Tahan) (Stoltz. 2007).
a. C = Control (Kendali)
Menurut Stoltz (2007), kendali diawali dengan keyakinan bahwa
segala sesuatu dapat dilakukan meskipun banyak rintangan yang
harus dilalui sehingga menciptakan tindakan dan pikiran yang
mendukung keyakinan tersebut. Orang yang merespons kesulitan
yang dialami secara optimis mencerminkan dirinya yang merasa
memiliki kendali yang kuat terhadap masalahnya. Mereka akan lebih
19
dikendalikan oleh permasalahan namun sebaliknya mereka yang
mengendalikan dirinya untuk dapat mengatasi masalah. Mereka akan
bersikap tenang dan berpikir tentang bagaimana diri mereka
mengatasi masalah yang dihadapi dengan mengubah cara pandang
menjadi lebih positif dan menyusun strategi untuk menyelesaikan
masalahnya. Orang yang merespons kesulitan dengan baik tidak
langsung menyerah ketika menemui kesulitan melainkan berani untuk
menghadapi dan mengatasinya.
b. O2 = Origin and Ownership (Asal-Usul dan Pengakuan)
Dimensi ini terdiri atas dua aspek, yaitu asal-usul dan
pengakuan. Asal usul menyangkut rasa bersalah yang timbul dari
dalam diri seseorang ketika mengalami kesulitan. Rasa bersalah ini
dapat menjadi suatu pelajaran untuk dapat melakukan perbaikan ke
depannya dan bentuk penyesalan akan tindakan yang mungkin
melukai orang lain. Penyesalan dapat membantu untuk memperbaiki
kerusakan yang mungkin terjadi dalam suatu hubungan. Orang yang
memiliki tingkat daya juang rendah cenderung terlalu menyalahkan
dirinya atas kejadian buruk yang dialami dan menganggap dirinya
sebagai sumber kesulitan sehingga tidak mampu belajar dari
kesalahan. Dengan memiliki rasa bersalah berlebihan, orang akan
berlarut-larut dalam penyesalan, sehingga mudah kehilangan
semangat dan motivasi untuk bertindak dan melakukan perbaikan.
20
kesalahan diri sendiri dengan menyadari bahwa dirinya bukanlah
satu-satunya penyebab kesulitan yang dialami namun ada faktor lain
juga, sehingga dia mampu bangkit dari kegagalan yang dialami. Oleh
karena itu, rasa bersalah yang muncul perlu ditempatkan pada kadar
yang sewajarnya dan digunakan untuk melakukan perbaikan diri
secara terus-menerus.
Aspek yang kedua ialah pengakuan. Dalam hal ini, seseorang
mengakui akibat yang ditimbulkan oleh masalah yang terjadi. Adanya
pengakuan mengenai akibat masalah mencerminkan tanggung jawab.
Orang yang mempunyai rasa bersalah atas suatu masalah dan tidak
mengakui akibat dari masalah, tidak bertanggung jawab atas masalah
itu. Mereka akan menganggap bahwa mereka tidak bertanggung
jawab untuk akibat yang muncul itu Karena mereka merasa tidak
mampu untuk melakukan perbaikan. Sebaliknya, orang yang
mempunyai rasa bersalah dan mengakui akibat dari masalah tersebut
menerima konsekuensi dari kesalahannya. Mereka akan bertanggung
jawab melakukan tindakan-tindakan sebagai ganti atas kesalahannya
dan tidak mengulang kesalahan yang dilakukan. Mereka cenderung
berpikir tentang strategi untuk mengatasi akibat atau kesulitan yang
ditimbulkan oleh kesalahan yang dilakukan. Dengan demikian,
21
c. R = Reach (Jangkauan)
Ada perbedaan antara respons orang yang memiliki daya juang
rendah dan tinggi terhadap suatu kesulitan. Respons orang yang
memiliki daya juang rendah terhadap masalah menganggap bahwa
kesulitan merupakan sebuah musibah. Dengan begitu, mereka
membiarkan kesulitan tersebut meluas dan menjangkau lebih banyak
segi kehidupannya dari yang seharusnya terjadi. Mereka menjadi
destruktif dan dengan demikian mereka membiarkan harapan,
semangat, serta kebahagiannya direnggut oleh kesulitan tersebut.
Berbeda dengan itu, orang yang memiliki daya juang tinggi akan
merespons kesulitan sesuai dengan jangkauannya, yaitu tidak lebih
dan tidak kurang. Mereka membatasi kesulitan tersebut agar tidak
merembes ke dalam segi kehidupan yang lain. Sebagai contoh,
mereka akan menganggap kesalahpahaman hanyalah sebuah
kesalahpahaman dan bukan suatu tanda kehancuran hidup. Mereka
tidak membiarkan satu masalah yang dialami mempengaruhi segi lain
dari kehidupannya, melainkan berusaha melakukan tindakan untuk
mengatasi masalah tanpa mempengaruhi segi kehidupan lainnya.
d. E = Endurance (Daya Tahan)
Daya tahan berkaitan dengan seberapa lama kesulitan akan
berlangsung. Ketika orang menanggapi kesulitan sebagai sesuatu
yang akan berlangsung lama atau bahkan tidak akan pernah berakhir,
22
kalimat yang mengarah pada sesuatu yang permanen atau menempel
pada diri mereka. Stoltz (2007:163) mengatakan, “Kata-kata itu
membuat Anda tidak berdaya untuk melakukan perubahan”. Memberi
cap permanen melalui kata-kata atau kalimat sebagai respons atas
kesulitan yang dihadapi akan membuat orang merasa tidak mampu
untuk melakukan perubahan. Sebagai contoh, orang membuat cap
permanen bahwa kesulitan yang mereka alami tidak akan berakhir,
mereka akan mengulur-ulur waktu untuk menyelesaikan kesulitan
dan membuat kesulitan tersebut berlangsung lebih lama. Hal ini
menunjukkan bahwa mereka berfokus pada masalah dan bukan pada
solusi. Apabila kesulitan ditanggapi sebagai sesuatu yang hanya
berlangsung sementara dan segera berakhir, akan menjadikan orang
tidak mudah menyerah dan tetap semangat untuk mencoba lagi.
Orang-orang yang mempunyai anggapan seperti itu akan berusaha
mengatasi kesulitan agar kesulitan tersebut cepat berakhir.
4. Tipe-tipe Daya Juang
Ada tiga tingkatan daya juang, yaitu Quitter, Camper, dan Climber
(Stoltz, 2007). Daya juang dianalogikan oleh Stoltz sebagai suatu
pendakian gunung. Dalam pendakian tersebut, ada yang memilih untuk
menjadi Quitters, Campers, maupun Climbers.
Quitters merupakan orang yang berhenti. Dalam menghadapi kesulitan, mereka akan memilih untuk menolak, tidak melakukan
23
yaitu perubahan atau rintangan, yang ditawarkan oleh kehidupan
sehingga mereka tidak mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.
Mereka tidak berkontribusi banyak dalam hal-hal yang mereka kerjakan
karena melihat kurangnya alasan untuk menginvestasikan apa yang
mereka miliki untuk berkembang. Sikap ini berdampak pula pada relasi
Quitters dengan orang lain karena mereka akan mencari dan menemukan orang yang sama dengannya, yaitu mereka yang berhenti dalam berjuang,
dan bersama-sama merenungi nasib.
Sedikit mirip dengan Quitters, Campers merupakah orang yang berkemah. Mereka adalah orang yang cepat puas dan memilih untuk
mendirikan kemah di tempat yang aman dan nyaman bagi mereka.
Celakanya, para Campers hanya akan menetap di zona tersebut dan tidak memilih untuk maju sehingga potensi yang mereka miliki lama-kelamaan
merosot dan bahkan bisa hilang. Mereka mungkin menerima perubahan
ataupun memberikan kontribusi sejauh hal tersebut tidak mengancam
posisi aman mereka.
Berbeda dengan kedua tingkat tersebut, tingkatan yang paling
tinggi adalah Climbers. Mereka disebut sebagai para pendaki karena mereka tidak hanya puas dengan sekedar pendakian-pendakian sebelum
mencapai puncak. Climbers berani untuk keluar dari zona amannya dan memilih untuk terus menerus melakukan pendakian demi pengembangan
24
menerima perubahan dan menganggap perubahan itu sebagai suatu
kesempatan untuk semakin maju.
B. Sistem Pendisiplinan
1. Definisi Sistem Pendisiplinan
Disiplin merupakan kata kunci dari sistem pendisiplinan. Untuk
mendefinisikan sistem pendisiplinan maka perlu diuraikan terlebih
dahulu pengertian disiplin. Wiyani (2013:41) mengatakan bahwa disiplin
berasal dari bahasa Latin, yaitu “disciplina” dan “discipulus”. Oleh sebab itu, secara etimologi, disiplin diartikan sebagai perintah yang
diberikan oleh orang tua kepada anak atau guru kepada murid untuk
dilaksanakan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin diartikan
sebagai tata tertib, ketaatan kepada peraturan, dan bidang studi yang
memiliki objek, sistem, dan metode tertentu.Webster’s New World
Dictionary (Wiyani. 2013) mengatakan bahwa disiplin adalah latihan
untuk mengendalikan diri, karakter dan keadaan secara tertib serta
efisien.
Menurut Lickona (2013), disiplin adalah alat untuk membangun
karakter anak, terutama dalam meningkatkan rasa hormat dan tanggung
jawabnya. Djamarah (Suwignyo & Nusantoro. 2015) mengatakan bahwa
disiplin merupakan sikap patuh dan taat pada tata tertib yang ditetapkan
untuk mengatur kehidupan individu maupun kelompok. Khuliyah dkk.
(2014) mendefinisikan disiplin sebagai suatu latihan yang dilakukan
25
diimpikan. Menurut Sari & Na’imah (2012) disiplin adalah sikap
konsistensi dalam mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan oleh diri
sendiri, sosial, kehidupan berbangsa dan bertanah air, serta beragama
Dari definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa disiplin
adalah suatu kondisi yang diciptakan agar orang-orang menjalankan
segala sesuatu yang telah ditetapkan secara berkesinambungan dengan
tertib dan teratur demi tercapainya suatu tujuan. Disiplin membantu
seseorang memperbaiki perilaku menjadi lebih baik, khususnya dalam
bertanggungjawab dan keteraturan.
Pendisiplinan merupakan suatu kata benda yang diambil dari kata
dasar disiplin. Pendisiplinan mengarah pada suatu upaya yang dilakukan
untuk membuat seseorang menjadi disiplin. Dengan begitu, pendisiplinan
merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk membuat seseorang
menjalankan segala peraturan yang telah dibuat.
Menurut Jogiyanto (Jurnal Stikom. 2013), sistem merupakan
pendekatan prosedur dan pendekatan komponen. Dengan prosedur,
sistem dapat didefinisikan sebgai kumpulan dari prosedur-prosedur yang
mempunyai tujuan tertentu. Dari pengertian tersebut, sistem merupakan
sesuatu yang dibuat secara terstruktur untuk mencapai tujuan tertentu
yang dikehendaki bersama.
Dengan pengertian disiplin, pendisiplinan dan sistem diatas, dapat
disimpulkan bahwa sistem pendisiplinan merupakan upaya-upaya yang
26
lebih teratur dan bertanggung jawab secara terstruktur demi mencapai
tujuan tertentu. Sistem pendisiplinan dilakukan sesuai dengan ketetapan
yang berlaku di tempat pelaksanaannya.
2. Sistem Pendisiplinan di Sekolah
Mendisiplinkan siswa di sekolah dapat dilakukan dengan
menetapkan suatu tata tertib. Menurut Kaluge (Fitri & Christiana. 2013),
tata tertib adalah salah satu upaya mendisiplinkan seseorang. Tata tertib
adalah suatu pedoman atau peraturan yang ditetapkan untuk menciptakan
keamanan dan ketertiban (Fitri & Christiana. 2013). Dalam konteks
sekolah, tata tertib bertujuan untuk melatih siswa mempraktekkan sikap
disiplin. Tata tertib dibuat untuk memberikan batasan bagi siswa dalam
berperilaku sehingga mereka melakukan tindakan sesuai dengan yang
dikehendaki atau diharapkan.
C. Remaja
1. Definisi Remaja
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Menurut
Santrock (2007), masa remaja adalah masa transisi dari masa kana-kanak
menuju dewasa yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif,
dan sosioemosional. Rentang usia remaja bervariasi bergantung pada
lingkungan, budaya, dan historisnya. Budaya Amerika dan beberapa
budaya lainnya menyebutkan bahwa masa remaja dimulai dari usia sekitar
27
masa remaja awal (early adolescence) dan masa remaja akhir (late adolescence).
2. Tugas Perkembangan Remaja
Remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai
agar tidak menghambatnya menuju tahap perkembangan selanjutnya.
Hurlock (1990) menyebutkan tugas-tugas perkembangan remaja
meliputi:
a. Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman
sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan
etika moral yang berlaku di masyarakat.
b. Mencapai peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin, selaras
dengan tuntutan sosial dan kultural masyarakatnya.
c. Menerima kesatuan organ-organ tubuh/keadaan fisiknya sebagai
pria/wanita dan menggunakannya secara efektif sesuai dengan
kodratnya masing-masing.
d. Menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang
bertanggung jawab di tengah masyarakatnya.
e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang
dewasa lainnya dan mulai menjadi diri sendiri.
f. Mempersiapkan diri untuk mencapai karir (jabatan dan profesi)
tertentu dalam bidang kehidupan ekonomi.
g. Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan dan
28
h. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman
bertingkah laku dan mengembangkan ideologi untuk keperluan
kehidupan kewarganegaraannya.
D. Hubungan antara Daya Juang, Sistem Pendisiplinan, dan Remaja
Daya juang, sistem pendisiplinan di sekolah, dan remaja sebagai siswa
di sekolah memiliki kaitan. Menurut Stoltz (2007), daya juang dapat terlihat
dari cara seseorang merespons kesulitan. Dalam mengikuti sistem
pendisiplinan di sekolah, daya juang siswa dapat terlihat dari caranya
merespons kesulitan yang ditimbulkan oleh sistem pendisiplinan tersebut.
Ketika siswa merespons sistem pendisiplinan dengan sebuah penolakan atau
penghindaran, maka dapat dikatakan bahwa tingkat daya juangnya rendah.
Stoltz (2007) menyebutkan seseorang yang tidak mau menghadapi kesulitan
merupakan kelompok Quitters, yaitu memiliki tingkat daya juang rendah. Ketika siswa mampu merespons sistem pendisiplinan di sekolah dengan
menghadapinya namun tidak berusaha untuk terus mengembangkan potensi
dirinya, maka dapat dikatakan tingkat daya juangnya sedang atau kelompok
Campers. Sebaliknya, siswa yang merespons sistem pendisiplinan yang ketat dengan keyakinan bahwa ia dapat melaluinya dan menganggap kesulitan
tersebut adalah kesempatan baginya untuk mengembangkan diri, maka dapat
dikatakan siswa tersebut memiliki tingkat daya juang yang tinggi atau
kelompok Climbers.
Pengukuran daya juang seseorang menurut Stoltz (2007) digunakan
29
akronim dari CO2RE, yaitu Control, Origin and Ownership, Reach, dan Endurance.
Dimensi Control menunjukkan respons seseorang terhadap kesulitan, khususnya dalam hal kendali terhadap masalah. Siswa yang merasa tidak
berdaya dalam menghadapi sistem pendisiplinan dan menganggap bahwa dia
tidak dapat berbuat apa-apa akan kesulitan yang dihadapi memiliki kendali
yang rendah terhadap masalah. Dia membiarkan dirinya dikendalikan oleh
kesulitan sehingga dia merasa tidak berdaya. Sebaliknya, jika siswa
mempunyai keyakinan bahwa dia mampu menghadapi dan melalui masalah
tersebut, dia memiliki kendali yang tinggi terhadap masalah.
Dimensi origin and ownership menunjukkan sikap seseorang dalam mengidentifikasi penyebab kesulitan muncul dan mengakui akibat yang
ditimbulkan serta memperbaiki diri dari kesalahan yang dilakukan. Siswa
yang memiliki dimensi origin dan ownership yang tinggi tidak akan berlarut dalam rasa bersalah dan penyesalan ketika melakukan pelanggaran tata tertib
yang membuatnya dihukum. Sebaliknya, dia akan memperbaiki diri dan
berupaya untuk tidak melakukan kesalahan lagi.
Dimensi reach menggambarkan sikap seseorang dalam membatasi ruang lingkup masalah terhadap aspek kehidupannya yang lain. Siswa yang
merasa bahwa hubungan sosial, kesehatan, bahkan prestasi belajar mengalami
penurunan semenjak dia mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah memiliki
30
dalam hidupnya daripada yang seharusya terjadi. Sebaliknya, siswa yang
tidak menganggap kesulitan yang dialaminya mempengaruhi sisi lain
kehidupannya merupakan siswa yang mampu membatasi jangkauan
masalahnya.
Dimensi endurance menunjukkan sikap seseorang tentang
anggapannya mengenai jangka waktu kesulitan itu terjadi. Orang yang
menganggap bahwa kesulitan yang terjadi tidak akan pernah berakhir merasa
tidak perlu melakukan apapun untuk mengatasi situasi tersebut. Siswa yang
beranggapan seperti ini dalam mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah akan
memberikan kontribusi yang sangat kecil dalam upaya mencapai tujuan
bersama. Menurut Seligman (2005), siswa tersebut dapat dikatakan pesimis.
Sebaliknya, siswa yang memiliki pandangan bahwa kesulitan yang
dialaminya hanya akan berlangsung sementara memiliki tingkat daya juang
pada dimensi endurance yang tinggi. E. Kajian Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang
dilakukan oleh Theresia Aprilia Rahmawati tahun 2007 dengan judul “Studi
Deskriptif Mengenai Adversity Quotient Pada Siswa Kelas IX”. Penelitian ini menggambarkan adversity quotient siswa kelas XI dalam menghadapi abad ke-21. Subyek penelitian ini adalah siswa siswi kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu
sebanyak 62 orang. Metode penelitian kuantitatif deskriptif menggunakan skala
31
dengan mengukur korelasi antara item-item dan skor total. Pengujian reliabilitas
menggunakan teknik Alpha Cronbach menghasilkan koefisien korelasi 0,929. Hasil penelitian menunjukkan tingkat adversity quotient siswa adalah tinggi, yaitu sebanyak 55 subjek (88,71%), sedangkan siswa lain memiliki tingkat adversity quotient sedang, yaitu sebanyak 7 orang (11,29%), dan tidak ada siswa yang memiliki tingkat adversity quotient rendah.
F. Kerangka Pikir
DAYA JUANG
Memiliki kendali atas masalah yang
dihadapi
Tingkat Daya Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah
(Tata Tertib) Mengidentifikasi
penyebab masalah dan memperbaiki
kesalahan
Membatasi jangkauan masalah dalam
hidup
Memiliki pandangan bahwa masalah
akan berakhir
Endurance Reach
Origin & Ownership Control
32 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi uraian tentang jenis atau desain penelitian, waktu dan tempat
penelitian, subjek penelitian, variabel penelitian dan definisi operasional, teknik
dan instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas, serta teknik analisis data.
A. Jenis atau Desain Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian ini, maka jenis penelitian
yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan eksplanasi
deskriptif. Sugiyono (2013) mengatakan bahwa penelitian menggunakan metode
kuantitatif merupakan penelitian yang mempunyai data berupa angka-angka dan
analisisnya juga menggunakan statistik, sedangkan eksplanasi deskriptif
merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri,
baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau penghubungan
dengan variabel yang lain. Dalam penelitian ini, hal yang diteliti adalah tingkat
daya juang siswa kelas X mengikuti sistem pendisiplinan di sekolah. Untuk
mengetahui tingkat daya juangnya, diperlukan skor-skor berupa angka yang
menentukan tinggi rendahnya tingkat daya juang siswa kelas X. Skor-skor
tersebut diperoleh dari jawaban siswa pada kuesioner. Eksplanasi deskriptif
digunakan untuk mendeskripsikan tingkat daya juang siswa kelas X tersebut
33 B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini berlangsung pada semester genap tahun ajaran 2016/2017.
Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 29 April dan 8 Mei 2017. Tempat
pengambilan data penelitian ini adalah SMK Penerbangan AAG Adisutjipto
Yogyakarta.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Penerbangan AAG
Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017. Kelas X SMK Penerbangan
AAG Adisutjipto Yogyakarta terdiri atas 13 kelas dengan jumlah siswa
keseluruhan 455. Pada penelitian ini, diambil 89 siswa yang menjadi sampel dari
keseluruhan siswa. Siswa-siswa yang menjadi sampel tersebut diperoleh secara
acak dari tiga kelas X dari 13 kelas yang ada. Pengambilan sampel dilakukan
dengan menggunakan teknik probability sampling, yaitu simple random sampling.
Teknik ini digunakan untuk pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan
[image:52.595.86.519.193.686.2]secara acak. Adapun rincian jumlah sampel adalah sebagai berikut.
Tabel 3.1
Jumlah Sampel Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta
NO Kelas Jumlah
1 X-3 26
2 X-5 29
3 X-7 34
34
D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel penelitian merupakan atribut seseorang atau obyek yang mempunyai
variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain
(Hatch dan Farhady dalam Sugiyono, 2013:60). Adapun variabel yang diukur
pada penelitian ini adalah tingkat daya juang siswa menjalankan tata tertib
sekolah. Daya juang adalah kemampuan siswa dalam menghadapi dan mengatasi
rintangan atau kesulitan sehari-hari secara tangguh serta tekun tanpa peduli
hambatan yang ada di sekelilingnya dan fokus pada tujuan.
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen kuesioner dengan judul
“Daya Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah”. Kuesioner ini disusun
dengan mengacu pada teori Stoltz mengenai Adversity Quotient. Stoltz mengemukakan dimensi adversity quotient, yaitu dimensi control, origin & ownership, reach, dan endurance. Dimensi tersebut merupakan respons-respons seseorang terhadap kesulitan yang dialami dan dijadikan aspek-aspek untuk
mengukur tingkat daya juang siswa pada penelitian ini.
Pada penelitian ini, skala pengukuran kuesioner yang digunakan ialah skala
Likert. Skala Likert terdiri dari pilihan jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S),
Tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Peneliti meniadakan pilihan
jawaban Netral (N) untuk menghindari adanya kecenderungan jawaban ditengah
35 Tabel 3.2
Pengukuran Skala Likert
NO Jawaban Skor
Favorable Unfavorable
1 Sangat Sesuai (SS) 4 1
2 Sesuai (S) 3 2
3 Tidak Sesuai (TS) 2 3
4 Sangat Tidak Sesuai (STS) 1 4
Kuesioner pada penelitian ini terdiri atas 70 item pernyataan, yaitu 35 item
favorable dan 35 item unfavorable. Berikut adalah kisi-kisi instrumen pada penelitian ini:
Tabel 3.3
Kisi-kisi Instrumen Daya Juang Mengikuti Sistem Pendisiplinan di Sekolah Untuk Uji Coba Terpakai
N
O Aspek Indikator
Nomor Item
∑
Favorable Unfavorable
1 Meyakini bahwa kesulitan dapat diatasi dengan sikap optimis dan pikiran positif (Control)
Pantang menyerah 63 5
14
Berani menghadapi tantangan 26 8
Memiliki tekad untuk
menyelesaikan kesulitan yang dihadapi
7 25
Bersikap tenang / tidak
gegabah 3 66
Berpikir realistis 60 30
Berpikir jernih untuk
mengambil tindakan 1 53
Bersemangat 22 58
2
Menggunakan rasa bersalah sebagai perbaikan diri (Origin)
Merasa rasa bersalah
sewajarnya 55, 18 62, 31
14 Tidak berlarut-larut dalam
penyesalan 6, 65 38, 16
Memaafkan kesalahan diri
sendiri dan orang lain 29 49
Memperbaiki tindakan yang
salah 2, 52 39, 23
3 Mengakui akibat atas kesalahan yang dilakukan secara bertanggung
Tidak mengulangi kesalahan
yang telah dilakukan 28, 56 44, 17
14 Mengganti kerugian yang
ditimbulkan oleh kesalahan yang dilakukan
36
jawab (Ownership)
Berjiwa besar menerima
konsekuensi 11, 4 35, 51
Mencari solusi alternatif
untuk menyelesaikan masalah 13, 45 24, 61
4
Membatasi jangkauan masalah terhadap segi-segi lain dari kehidupan (Reach)
Tidak melebih-lebihkan
masalah 32, 15 57, 48
14 Menempatkan masalah pada
posisi yang sepantasnya 67 36
Mengatasi pengaruh
permasalahan 46, 34 4, 9
Berpikir ke depan dalam
mengambil keputusan 68, 41 14, 27
5
Menanggapi kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat sementara (Endurance)
Yakin adanya jalan keluar 40, 20 50, 10
14
Fokus pada solusi 37, 59 70, 19
Cepat tanggap menyelesaikan
masalah 33, 69 42, 54
Mencegah kesulitan
berlangsung lebih lama 43 12
Total 35 35 70
Teknik penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menyusun kisi-kisi instrumen. Dalam kisi-kisi ini termuat aspek-aspek
daya juang yang diukur dengan indikatornya masing-masing.
b. Menyusun item pernyataan kuesioner berdasarkan indikator dari
aspek-aspek yang diukur. Item pernyataan tersebut dibagi menjadi dua bentuk,
yaitu favorable dan unfavorable. Skala pengukuran kuesioner yang digunakan adalah skala Likert.
c. Mengkonsultasikan item kuesioner kepada dosen pembimbing dan
merevisi item, baik dari bahasa yang digunakan maupun kesesuaiannya
dengan aspek yang ingin diukur.
d. Menyebar kuesioner pada siswa kelas X SMK Penerbangan AAG
Adisutjipto sebanyak tiga kelas dengan menjelaskan petunjuk pengisian
37
terpakai digunakan dengan mempertimbangkan efektivitas waktu
pengumpulan data agar lebih singkat dan tidak bertepatan dengan waktu
libur awal bulan ramadhan di sekolah, sehingga data dari uji coba terpakai
tersebut digunakan sebagai data penelitian.
e. Hasil jawaban siswa pada kuesioner ditabulasi dan dilakukan analisis butir
item melalui perhitungan daya diskriminasi item atau daya beda,
selanjutnya menghitung reliabilitas instrumen.
f. Menganalisis dan membahas hasil penelitian kemudian menarik
kesimpulan akhir.
F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Validitas
Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan
untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2013). Pada
penelitian ini, pengujian validitas skala instrumen dilakukan dengan
pengujian validitas isi (content validity) dari pendapat ahli (expert judgement). Dalam penelitian ini, expert judgement dilakukan oleh dosen pembimbing skripsi, yaitu ibu Dr. M.M. Sri Hastuti, M.Si. Peneliti
meminta pendapat kepada dosen pembimbing tentang kesesuaian
aspek-aspek yang diukur dengan teori yang ada, yaitu Adversity Quotient oleh Paul G. Stoltz, sehingga dose