DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian...

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

PERSYARATAN GELAR ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR ISTILAH, SINGKATAN KATA, DAN SIMBOL ... xiii

DAFTAR BAGAN ... xiv

DAFTAR TABEL DAN DIAGRAM ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN ... 10

2.1 Kajian Pustaka ... 10 2.2 Konsep ... 16 2.2.1 Perilaku Berbahasa ... 16 2.2.2 Tindak Tutur ... 17 2.2.3 Kesantunan Berbahasa ... 17 2.2.4 Satuan Lingual ... 18 2.3 Landasan Teori ... 18 2.3.1 Teori Pragmatik ... 19 2.3.1.1 Tindak Tutur ... 19 2.3.1.2 Prinsip Kesantunan ... 23 2.3.1.3 Skala Kesantunan ... 29 2.3.2 Teori Sosiolinguistik ... 31 2.3.2.1 Etnografi Komunikasi ... 31

2.3.3 Teori Tata Bahasa Indonesia ... 32

2.3.3.1 Proses Afiksasi Verba ... 33

2.3.3.2 Kalimat Berdasarkan Hubungan Antar Klausa ... 38

2.3.3.3 Kalimat Berdasarkan Bentuk Sintaktis ... 39

2.3.3.4 Unsur Suprasegmental dan Paralinguistik ... 40

(2)

BAB III METODE PENELITIAN ... 45

3.1 Rancangan Penelitian ... 45

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 46

3.3 Instrumen Penelitian ... 48

3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 51

3.5 Metode dan Teknik Analisis Data ... 52

3.6 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data ... 56

BAB IV ANALISIS SATUAN LINGUAL BAHASA FIGUR PUBLIK DALAM TALK SHOW MATA NAJWA “PENCURI PERHATIAN” ... 57 4.1 Analisis Satuan Lingual Pada Tataran Kata ... 57

4.1.1 Verba Asal ... 57

4.1.2 Verba Turunan Berafiks ... 59

4.1.3 Nomina, Adjektiva, dan Adverbia Turunan Berafiks ... 72

4.2 Analisis Satuan Lingual Pada Tataran Kalimat ... 75

4.2.1 Analisis Kalimat berdasarkan Hubungan Antarklausa ... 76

4.2.1.1 Kalimat Koordinasi ... 76

4.2.1.2 Kalimat Subordinasi ... 78

4.2.2 Analisis Kalimat berdasarkan Bentuk Sintaktis ... 80

4.2.2.1 Kalimat Deklaratif ... 81

4.2.2.2 Kalimat Imperatif ... 82

4.2.2.3 Kalimat Interogatif ... 83

4.2.2.4 Kalimat Eksklamatif ... 84

4.3 Kaitan Analisis Satuan Lingual dengan Kesantunan ... 85

BAB V ANALISIS TINDAK TUTUR BAHASA FIGUR PUBLIK DALAM TALK SHOW MATA NAJWA “PENCURI PERHATIAN” ... 89 5.1 Analisis Tindak Tutur Syahrini (FP1) ... 90

5.2 Analisis Tindak Tutur Raditya Dika (FP2) ... 106

5.3 Analisis Tindak Tutur Ahok (FP3) ... 118

BAB VI ANALISIS KESANTUNAN BAHASA FIGUR PUBLIK DALAM TALK SHOW MATA NAJWA “PENCURI PERHATIAN” ... 130 6.1 Analisis Kesantunan Bahasa Syahrini (FP1) ... 130

6.2 Analisis Kesantunan Bahasa Raditya (FP2) ... 158

6.3 Analisis Kesantunan Bahasa Ahok (FP3) ... 167

6.4 Tingkat Kesantunan Figur Publik berdasarkan Mitra Tutur ... 176

6.5 Analisis Suprasegmental dan Paralinguistik ... 179

6.5.1 Kaitan Tekanan, Nada, dan Tempo dengan Kesantunan ... 180

6.5.2 Unsur-unsur Paralinguistik ... 185

6.5.2.1 Illustrators ... 186

(3)

BAB VII ANALISIS FAKTOR PENYEBAB FIGUR PUBLIK MENAATI ATAU MELANGGAR PRINSIP KESANTUNAN ... 190

7.1 Faktor Penyebab Figur Publik Melanggar Prinsip Kesantunan ... 191

7.2 Faktor Penyebab Figur Publik Menaati Prinsip Kesantunan 198

BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN ... 201

8.1 Simpulan ... 201

8.2 Saran ... 209

DAFTAR PUSTAKA ... 210

(4)

ABSTRAK

KARAKTERISTIK BAHASA FIGUR PUBLIK DALAM TALK SHOW MATA NAJWA EPISODE “PENCURI PERHATIAN”

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi ciri-ciri satuan lingual figur publik, ciri-ciri tindak tutur figur publik, mengetahui kesantunan figur publik dalam talk show Mata Najwa “Pencuri Perhatian”, dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab figur publik menaati dan melanggar prinsip kesantunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sederhana. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik catat dan transkripsi. Metode agih dan metode padan digunakan untuk menganalisis data yang sudah dikumpulkan. Penyajian data menggunakan metode formal dan informal.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, 1) figur publik menggunakan tata bahasa baku bahasa Indonesia. Kalimat aktif dan kalimat kompleks cenderung digunakan figur publik dalam berkomunikasi. 2) Figur publik cenderung menggunakan fungsi representatif untuk menegaskan sesuatu, menyatakan fakta, mendeskripsikan sesuatu, dan membuat simpulan. Fungsi ekspresif digunakan untuk mengungkapkan keadaan psikologis. Fungsi direktif digunakan untuk membuat perintah, saran, dan permintaan. Fungsi komisif digunakan untuk menjanjikan sesuatu. Tidak ditemukan fungsi deklarasi yang digunakan oleh figur publik. 3) Figur publik (narasumber) pada talk show Mata Najwa episode “Pencuri Perhatian” dapat dikategorikan sebagai penutur yang santun dengan rata-rata persentase pelanggaran maksim sebesar 21,56%. Unsur suprasegmental yakni tekanan dan nada memengaruhi kadar kesantunan sedangkan tempo tidak memberikan pengaruh signifikan. Illustrators dan Affectives merupakan perilaku kinesik yang memengaruhi kadar kesantunan ujaran figur publik. 4) Faktor-faktor fundamental yang memengaruhi figur publik menaati dan melanggar prinsip kesantunan adalah pencitraan dan status sosial.

(5)

ABSTRACT

LANGUAGE CHARACTERISTICS OF PUBLIC FIGURES IN MATA NAJWA TALK SHOW “PENCURI PERHATIAN”

The aims of this research are to identify public figures’ lingual unit characteristics, public figures’ speech acts characteristics, public figures’ politeness in Mata Najwa talk show “Pencuri Perhatian”, and factors that affect public figures to obey and disobey the politeness principle. This research conducted qualitative and quantitative approaches. Observation method, note taking and transcription technique were applied to collect the data. Distributional method and identity method were used to analyze the collected data. The result of the data presented by using formal and informal method.

Based on the conducted analysis, 1) public figures used the standard grammar in Bahasa. Active sentences and complex sentenced tend to be used by the public figures to communicate. 2) Public figures tend to use representatives act to emphasize, to state a fact, to describe, and to conclude something. Expressives act used to express psychological state. Directives act used to create command, suggestion, and request. Commissives act used to create a promise. There was no declarations act found which was used by public figures. 3)Public figures (guest speakers) in Mata Najwa talk show “Pencuri Perhatian” were categorized as polite speakers with the average percentage of maxim violation as much as 21,56%. Suprasegmental element such as stress and pitch affected public figures’ politeness rate meanwhile the tempo was not giving significant changes. Illustrators and Affectives were classified as kinesic behaviors that affected public figures’ politeness rate in their utterances. 4) The fundamental factors that affected public figur to obey and disobey the politeness principles are self-imagery exposure and social status.

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap individu atau komunitas memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi. Untuk memahami hubungan bahasa dan masyarakat, pengertian terhadap tata cara penggunaan bahasa oleh penutur sangatlah diperlukan. Pengkajian bahasa tanpa mengaitkan dengan masyarakat akan mengenyampingkan beberapa aspek yang penting dan menarik (Levinson, 1983). Bahkan, hal itu mungkin akan menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan melalui berbagai aspek dalam memahami tata cara peserta tutur dalam mengelola informasi yang hendak disampaikan dalam konteks situasi seperti apa, santun atau tidaknnya ujaran dari peserta tutur, dan kepada siapa mereka berbicara.

Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini berada di ranah pragmatik. Pragmatik merupakan studi ilmu bahasa yang dapat menjelaskan keterkaitan bahasa dan konteks situasi. Levinson (1983: 21) mendefinisikan pragmatik sebagai sebuah studi yang menjelaskan hubungan-hubungan bahasa dan konteks yang mendasar pada pemahaman bahasa. Menurut Soeparno (2013: 32), pragmatik merupakan subdisiplin linguistik yang mengkaji makna bahasa dalam kaitannya dengan situasi tutur. Di sisi lain, bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor kemasyarakatan atau faktor sosial dijelaskan oleh subdispilin linguistik yaitu sosiolinguistik (Soeparno, 2013: 29). Oleh karena itu, payung teori atau grand theory kajian ini adalah pragmatik dan ditunjang dengan teori sosiolinguistik.

(7)

Terlebih lagi, teori tata bahasa Indonesia akan digunakan untuk menunjang analisis satuan lingual bahasa figur publik.

Bahasa memiliki berbagai macam fungsi sebagai alat komunikasi seperti dalam proses interaksi sosial, politik, dan kultural, bahasa digunakan untuk mengendalikan masyarakat melalui pengontrolan makna (Santoso, 2003: 6). Apabila diperhatikan, berbagai macam talk show yang ditayangkan di televisi menggunakan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Tayangan tersebut menampilkan figur publik atau kalangan masyarakat biasa sebagai narasumber. Dalam penelitian ini, talk show yang digunakan adalah talk show Mata Najwa episode “Pencuri Perhatian”. Suyanto (2014) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa Mata Najwa merupakan talkshow yang dapat mempertahankan idealisme dalam membahas isu-isu politik dan sosial yang ada di lingkungan masyarakat, tanpa dipengaruhi faktor-faktor kepemilikan media dan kepentingan politik.

Episode “Pencuri Perhatian” dipilih sebagai sumber data karena muatan yang terkandung di dalamnya mengandung ujaran-ujaran yang terkait dengan tindak tutur, dan prinsip kesantunan. Fokus penelitian ini adalah karakteristik bahasa tiga figur publik yakni Ahok sebagai politisi, Syahrini sebagai seniman khususnya penyanyi dan Raditya Dika sebagai komika atau stand up comedian. Karakteristik bahasa yang dimaksud dari masing-masing figur publik meliputi satuan lingual, tindak tutur, dan prinsip kesantunan.

Dari sudut pandang akademis, alasan dipilihnya Syahrini, Raditya Dika, dan Ahok adalah adanya dugaan terkait dengan perilaku berbahasa mereka yang tidak relevan dengan prinsip kesantunan yang diusulkan oleh Leech (1983). Kesenjangan ini menyebabkan proses identifikasi faktor-faktor penyebab menjadi sangat perlu,

(8)

baik satuan lingual maupun tindak tutur masing-masing figur publik tersebut. Terlebih lagi, pelanggaran prinsip kesantunan (yang di dalamnya melibatkan satuan lingual dan tindak tutur) ini mengarah kepada sebuah kekhawatiran terhadap kondisi bahasa Indonesia yang baku. Dengan kata lain, kekhawatiran terhadap lahirnya bentuk-bentuk potensial yang mempengaruhi keberadaan bahasa Indonesia akan semakin kuat.

Secara non-akademis, alasan ketiga tokoh tersebut dipilih dalam penelitian ini adalah popularitas dari masing-masing tokoh. Kemunculan Syahrini, Raditya Dika, dan Ahok adalah hal yang langsung menimbulkan reaksi secara massive atau besar. Di bidang seni hiburan, Syahrini muncul sebagai trendsetter dengan jargon atau istilah unik misalnya “seperti itu”, “sesuatu”, “cetar membahana” dan sebagainya yang mampu menyita banyak perhatian masyarakat umum. Dengan adanya jargon-jargon tersebut, Syahrini mampu meraih penghargaan Indonesian Social Media Awards (Tempo, 2014). Di bidang industri kreatif, Raditya Dika muncul sebagai tokoh muda yang paling berpengaruh terbukti dengan jumlah karyanya yang selalu menjadi best seller dalam setiap produksinya. Hal lain yang membuat Raditya Dika menjadi yang paling berpengaruh adalah jumlah pengikutnya di sosial media. Implikasinya adalah Raditya Dika kerap kali menjadi trending topic di sosial media. Di bidang pejabat publik atau politisi, Ahok muncul sebagai sosok yang paling kontroversial. Di antara banyak pejabat publik, Basuki Tjahaja Purnama adalah pejabat publik yang mampu memberikan warna tersendiri dengan gaya bicara yang tegas dan keras. Kemudian Ahok adalah satu-satunya pejabat publik atau politisi yang memulai kegiatan mengunggah dokumentasi aktivitas pemerintahan ke dalam youtube dengan salurannya yang bernama

(9)

“Pemprov DKI”. Dengan demikian, berdasarkan alasan-alasan di atas, ketiga figur publik tersebut pantas untuk diteliti.

Alasan dilakukannya penelitian ini adalah adanya fenomena “impersonator” atau peniru yang dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia. Fenomena ini merupakan dampak perilaku figur publik yang diidolakan, baik dari gaya hidup maupun perilaku berbahasa figur publik tersebut. Dalam penelitian ini, yang menjadi titik perhatian utama adalah perilaku berbahasa figur publik yang kerap mencuri perhatian masyarakat. Perilaku berbahasa figur publik merupakan alasan empiris penelitian ini. Berawal dari alasan empiris tersebut, karakteristik bahasa figur publik diidentifikasi dengan keadaan kebahasaan yang teoretis untuk mengetahui kesenjangan atau ketepatan yang terjadi antara “das sollen” atau kaidah, norma, dan kenyataan normatif seperti apa yang seharusnya dilakukan dengan “das sein” atau segala sesuatu yang merupakan implementasi ”das sollen”. Kondisi normatif atau ideal yang dimaksud dapat dilihat dari contoh prinsip kesantunan oleh Rahardi (2005) berikut ini.

Guru A : “Ruangannya gelap ya, Bu!” Guru B : “He..eh! Saklarnya mana, ya?” Informasi indeksal:

Dituturkan oleh seorang guru kepada rekannya yang juga seorang guru pada saat mereka berada di ruang guru (Rahardi, 2005).

Contoh oleh Rahardi (2005) di atas merupakan contoh kesantunan yang ideal dalam maksim permufakatan. Dialog di atas menunjukkan masing-masing peserta tutur mampu membina kecocokan satu sama lain sedangkan kesantunan yang ditemukan dalam talk show Mata Najwa episode “Pencuri Perhatian” memiliki ketidaksesuaian terhadap parameter yang dikemukakan Rahardi (2005) dan Leech (1983). Ketidaksesuaian tersebut dapat dilihat pada contoh di bawah ini.

(10)

Najwa :Fatimah Syahrini Jaelani. Menjadi Syahrini itu, yang menciptakan siapa waktu itu?

Syahrini :Mama sih ya....

Najwa :Mama?

Syahrini :He’e. Jadi waktu album pertama keluar itu kan tahun 2008 Najwa :He'eh

Syahrini :Kebetulan aku selesai kuliah tahun 2007 di Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor....

Contoh dialog di atas menunjukkan tidak adanya kecocokan yang dibina oleh masing-masing peserta tutur yang ditunjukkan oleh kalimat yang dicetak tebal. Ketidaksesuaian terjadi karena penutur (Syahrini) melanggar maksim permufakatan. Melalui ujaran yang dicetak tebal, Syahrini tidak menjelaskan informasi yang dibutuhkan mitra tutur melainkan menjelaskan latar belakang pendidikannya yang juga dapat dikatakan melanggar maksim kesederhanaan. Kebiasaan penutur yang mengabaikan prinsip kesantunan cenderung menyebabkan lawan tutur merasa tidak dihargai. Dengan demikian, pendekatan yang dianggap paling tepat berdasarkan pemakaian kelompok pemakai bahasa tertentu (entertainer, standup comedian, dan politisi) dan perilaku berbahasa di tempat tertentudalam penelitian ini adalah pendekatan pragmatik yang membahas tentang tindak tutur, prinsip kesantunan, dan skala kesantunan.

(11)

1.2 Rumusan Masalah

Pemaparan latar belakang di atas menandakan adanya masalah yang harus dibahas dalam penelitian ini terkait dengan bahasa figur publik. Beberapa masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Bagaimanakah ciri-ciri satuan lingual bahasa figur publik yang ditemukan dalam talkshow Mata Najwa?

2. Tindak tutur apa sajakah yang ditemukan dalam talkshow Mata Najwa?

3. Sejauh manakah tingkat kesantunan penggunaan bahasa oleh figur publik pada talkshow Mata Najwa?

4. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan figur publik menaati atau mengabaikan prinsip kesantunan?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum adalah tujuan penelitian yang masih berada dalam kerangka yang umum dan memiliki manfaat kepada orang banyak. Sedangkan, tujuan khusus merupakan tujuan yang meliputi objek penelitian itu sendiri.

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan menganalisis karakteristik bahasa figur publik dalam talkshow Mata Najwa episode “Pencuri Perhatian”. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran kepada masyarakat secara umum terkait dengan penggunaan bahasa yang normatif atau mengacu pada kaidah yang ada.

(12)

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus adalah tujuan yang meliputi objek penelitian itu sendiri. Berikut ini adalah pemaparan tujuan khusus dari penelitian ini.

1. Penulis ingin mengetahui ciri-ciri satuan lingual bahasa figur publik yang sudah ditentukan. Satuan lingual bahasa figur publik ditentukan dengan menjelaskan proses afiksasi, kalimat berdasarkan unsur klausa, dan kalimat berdasarkan bentuk sintaksis.

2. Penulis ingin mengetahui tindak tutur figur publik dalam talkshow Mata Najwa. Jenis-jenis tindak tutur figur publik yang ditemukan akan diidentifikasi untuk mengetahui kekhasan tindak tutur dari masing-masing figur publik melalui kecenderungan dalam kemunculannya.

3. Penulis ingin mengetahui tingkat kesantunan berbahasa figur publik dengan menerapkan prinsip kesantunan. Kesantunan berbahasa masing-masing figur publik akan diidentifikasi sedemikian rupa guna mengetahui ada atau tidaknya kesenjangan antara kondisi normatif dari prinsip kesantunan yang diajukan oleh Leech dan kesantunan berbahasa figur publik dalam talkshow. Kemudian, parameter SPEAKING oleh Hymes (1964) digunakan untuk menentukan kemampuan berkomunikasi penutur. Terlebih lagi, unsur suprasegmental dan paralinguistik dijelaskan untuk menunjang analisis kesantunan.

4. Penulis ingin mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi peserta tutur dalam menaati dan mengabaikan prinsip kesantunan. Satuan lingual bahasa figur publik akan dikaitkan dalam analisis faktor untuk mengetahui implikasi satuan lingual terhadap kesantunan berbahasa figur publik.

(13)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dibagi menjadi dua yakni manfaat akademik dan manfaat praktis. Manfaat akademik merupakan manfaat penelitian yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sedangkan manfaat praktis merupakan manfaat penelitian yang dapat digunakan sebagai solusi untuk permasalahan di masyarakat. Berikut uraian manfaat akademik dan manfaat praktis dalam penelitian ini.

1) Manfaat Akademik

Secara teoretis, penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pemahaman mengenai karakteristik bahasa figur publik seniman, stand up comedian, dan politisi atau pejabat publik. Dengan kata lain, penelitian ini merupakan kontribusi keilmuan dalam bidang pragmatik yang membahas tindak tutur, prinsip kesantunan, dan skala kesantunan.

2) Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini dapat digunakan untuk acuan untuk penelitian terkait dan diharapakan mampu memperkaya wawasan terkait ciri-ciri atau karakteristik bahasa figur publik. Berkaitan dengan maraknya fenomena hate speech atau ujaran kebencian belakangan ini, sopan santun dalam berkomunikasi semakin diabaikan. Hal tersebut muncul karena pemahaman masyarakat yang keliru mengenai kebebasan berpendapat (freedom of speech). Saling menghujat, menghina, dan mencaci maki menjadi perilaku berbahasa yang dianggap biasa di era ini. Bahkan, agama yang seyogianya menjadi unsur yang memulihkan kemuliaan umat manusia dan memperkuat kebhinekaan, seringkali digunakan sebagai alat politik untuk mencapai kepentingan kelompok tertentu.

(14)

Berdasarkan pemaparan di atas, kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi bahasa sebagai sebuah cerminan pola pikir perlu ditingkatkan. Simpen (2008: 8) menyatakan bahwa ditinggalkannya sopan santun dalam berkomunikasi merupakan sinyalemen yang menunjukkan harga diri bangsa Indonesia yang semakin rendah. Oleh karena itu, penelitian karakteristik bahasa figur publik yang sebagian besar membahas tentang kesantunan berbahasa ini diharapkan mampu menjadi pedoman berbahasa yang baik dan benar karena kesantunan berbahasa itu sendiri merupakan salah satu cara yang mampu meningkatkan harga diri bangsa.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :